menu

Corat Coret Di Toilet : Teman Kencan

Mode Malam
Teman Kencan
Presiden yang menyebalkan itu tumbang sudah. Terharu aku dibuatnya, seolah lembar-lembar Tumbangnya Seorang Diktator Gabriel García Márquez menjelma. Bagaimana tidak, berbulan-bulan, bahkan dua atau tiga tahun lamanya, telah banyak yang kukorbankan untuk peristiwa indah ini. Kuliahku terbengkalai, ayah dan ibu dan adik-adikku lama tidak aku jumpai, dan yang lebih menyedihkan: kekasihku minggat.

Aku tengah menyendiri di dalam kamarku ketika kupikirkan hal itu lagi. Oke, kataku, aku harus memulai hidup lagi. Besok aku kembali masuk ruang kuliah, dan kalau sempat berlibur seminggu pulang ke rumah. Nah sekarang, malam Minggu, ada bagusnya cari teman kencan.

Wajah cantik seorang gadis tiba-tiba muncul di otakku, seperti potongan klip iklan yang memotong secara kurang ajar sebuah acara televisi. Ia tersenyum menawarkan diri, ”Kencanilah aku, bebas ketombe dan bisa menghilangkan sakit hati. Jika sakit berlanjut, segera hubungi dokter.”

Aku membalas senyumnya dan keluar dari rumah pondokanku yang sudah sepi, memburu telepon umum terdekat, dengan rokok bertengger di bibir.

Nurul, nama gadis itu. Aku punya nomor teleponnya, dan siapa tahu ia bisa diajak kencan? Aduh, tibatiba aku jadi gugup. Berjalan mondar-mandir, seperti anjing cari tiang buat pipis. Rokok yang baru terbakar setengahnya kubuang, lalu menyalakan yang baru, dan kubuang lagi. Keringat mulai membuat parfumku terasa sia-sia. Tapi antrean telepon sudah lenyap, tinggal aku sendirian.

Nekat.

Aku masuk kotak telepon dan mulai beraksi. 5 ... 8

... 3 ....

”Hallo?”

”Hallo,” kataku. ”Bisa bicara dengan Nurul?” ”Mbak Nurulnya pergi sama Mas Rudi. Mau pesan?” ”Yeah. Bakso satu porsi, tanpa mie, dan es teh!”

umpatku sambil menutup telepon dengan gemas.

Hancur sudah  harapanku untuk  kencan malam Minggu dengan si cantik Nurul. Aku bersandar ke dinding kotak telepon. Tidak! Aku masih ingat nomor telepon gadis lain. Sophia. Tidak betul-betul cantik. Tapi apa peduliku, aku butuh teman kencan. Masih untung kalau dia mau menerima teleponku dan mempersilakan aku datang ke rumahnya. 4 .... Maka kuangkat kembali gagang telepon. 5 ... 6 ...

Tut, tut, tut.

Tanda peringatan, suara perempuan, menyerbu telingaku, ”Telepon yang Anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa menit lagi ”

”Ehm, maaf, Nona. Ngomong-ngomong, kalau begitu bisakah kau kencan denganku?”

”The destination you are calling

Kututup telepon dengan nafsu.

* * *

Kemudian aku terdampar di warung angkringan. Hanya berdua saja dengan si penjual. Katanya, memang selalu sepi di setiap malam Minggu. Baru ramai selewat jam sembilan malam. Aku tersenyum kecut, merasa tersindir.

Aku makan nasi bungkus dan minum teh jahe tanpa banyak omong. Disambung dengan – lagi-lagi – rokok. Kepala menoleh ke kiri-ke kanan, tak tahu mau  berbuat apa. Pulang? Konyol, dan memalukan! Anak-anak pondokan terbang semua, sedang asyik masyuk dengan kekasih mereka. Tak sudi aku pulang hanya bengong dan jadi penjaga rumah. Kau pikir aku Jin Iprit?

Maka kubaca judul berita dari koran lama bekas bungkusan nasi. ”Desy Ratnasari Menikah 20 Februari 1999”. Di sampingnya terpampang foto sang artis, lengkap dengan senyum dan pipi menggemaskan. Aku jadi ingat dengan senyum dan pipi yang seperti itu.

Ayu, kekasihku yang minggat itu, memanglah punya senyum yang bisa bikin kasmaran siang dan malam, tujuh hari tujuh malam, dalam sekali lirik. Gila. Sayang sekali dia minggat sudah, dan aku masih ingat kata-kata terakhirnya di telepon, ”Oke, Boy. Aku punya dunia sendiri, dan kau pun punya dunia sendiri. Kita tidak bisa bersatu. Kau terlampau asyik dengan duniamu. Baiknya kita berhenti saja sampai di sini. Selamat jalan, Anak Manis!”

Yeah, Anak Manis, katanya!

Aku mulai termenung-menung memikirkan dirinya. Kerinduanku muncul lagi tanpa permisi, membuat aku jadi malu sendiri. Hey, siapa tahu dia belum punya kekasih baru. Dan kita, aku dan Ayu, bisa merajut kembali tali kasih yang hilang. Bolehlah dicoba .... 

Teracuni oleh gagasan itu, aku jadi bersemangat kembali. Malam Mingguku masih punya harapan  untuk menjadi meriah. Apalagi membayangkan Ayu bisa menjadi kekasihku lagi. Sumpah, kalau itu terjadi, akan kupasrahkan seluruh cintaku kepadanya. Aku jadi bergairah, bahkan berahi, dan segera kulemparkan uang dua ribu rupiah di depan penjual warung angkringan.

”Selebihnya ambil saja,” kataku, dengan lagak seorang dermawan.

”Lebih apaan? Kurang tiga ratus rupiah, Mas!” Aku nyengir dan kuberi dia logam seratusan tiga

biji.

Di telepon umum, aku mendapat giliran setelah

sepuluh menit antre. Tak mungkin aku lupa nomor telepon pondokan Ayu. Kami sempat berpacaran hampir dua tahun, dan di masa-masa yang paling romantis dalam hubungan kami, aku dan Ayu kadang menelepon satu sama lain sehari sekali. Kuangkat gagang telepon, dan kupijit tuts-nya. 5 ... 8 ... 7 ....

”Hallo?”

”Hallo. Mbak Nunik, kah?” ”Iya. Mau ketemu siapa?” ”Ayu.”

”Ayu? Ayu sudah pindah.”

Brengsek! Aku menatap gagang telepon tak percaya. Apakah Tuhan memang  menginginkan malam Mingguku hancur berantakan, seperti Hiroshima dan Nagasaki?

”Tapi kami punya nomor teleponnya.” Ternyata Tuhan masih mencintaiku!

Maka kuhubungi Ayu di nomor telepon barunya. 5

... 6 ... 3 ....

”Hallo?”

”Hallo Ayu?”

”Iya. Siapa?”

”Kau lupa suaraku?”

”Masya Allah. Apa kabar, Sayang? Kau di Yogya?

Sehat-sehat saja? Masih hidup?” Aku tersenyum mendengar suaranya yang membius. Jantungku bergetar hebat oleh sambutannya yang meriah.

”Aku baik-baik saja.”

”Tidak diculik?” tanyanya lagi. ”Tidak.”

”Tidak ditembak?” ”Tidak.”

”Syukurlah,” katanya. ”Lalu apa sekarang kerjamu?” ”Yeah, beginilah,” kataku, dengan nada yang sung-

guh abstrak. ”Luntang-lantung sendirian, tak punya teman

”Mampirlah sini kalau kau mau.” Jebakanku mengena!

”Aku punya sebotol Coca Cola, sekotak Dunkin’ Donuts

”Aku tak punya alamatmu,” kataku memotong. Maka ia memberiku alamat rumahnya.

* * *

Kutelusuri jalanan yang gelap dan sepi sambil kunyanyikan ”Hymne Darah Juang” dengan kencang, tapi segera kuhentikan karena merasa tidak cocok dengan suasana romantis yang sedang kubangun. Lalu kuganti, menyanyikan ”Dari Sabang sampai Merauke” ....

Rumah pondokan Ayu yang baru tak sulit aku cari. Dalam lima belas menit, aku sudah berdiri di depan gerbang. Di depanku berderet kamar-kamar pondokan – yang dirancang menyerupai paviliun dengan terasteras sendiri. Aku langsung menuju kamar pojok. Kamar Ayu, bekas kekasihku yang sekarang kuharapkan mau kembali menjadi milikku.

Ada topeng hiasan tertempel di pintu. Kuambil dan kukenakan, lalu kuketuk pintu.

Pintu terbuka. ”Trick or treat!”

Ia, si cantik itu, tertawa di hadapanku, dengan kemanjaannya yang tak pernah berlalu.

”Copot topengmu,” katanya.

Aku balas tertawa dan mengembalikan topeng di tempatnya.

”Kubilang copot topengmu.” Ia mengulangi. ”Sudah!” Aku bingung.

Tawanya yang manis kudengar lagi. ”Maaf, aku lupa wajahmu sejelek topeng.”

Aku nyengir sambil duduk di kursi yang ada di teras depan kamarnya.

Ia duduk di seberang meja, pada kursi sejenis. Dengan malu-malu kutatap dirinya. Ia masih cantik seperti dulu juga, walaupun ada perubahan di sana-sini. Dulu rambutnya panjang melewati bahu, sekarang ia memotong pendek. Tanpa bisa kucegah, mulutku berkata membabi-buta:

”Kau tambah cantik, Ayu!”

Ia menoleh padaku, dan ada kulihat pipinya merona merah. Tapi matanya tidak memancarkan citra yang malu-malu, seperti dulu waktu pertama kali kurayu. Matanya melotot gemas. Katanya:

”Kau merayu lagi!” Aku cuma tertawa.

”Tapi ....” kataku. ”Sekarang kau lebih subur. Naik berapa kilo? Tidak diet?”

”Subur katamu?” Aku mengangguk.

”Bodoh! Bukan subur. Aku hamil.” ”Kau hamil?” tanyaku tersentak.

”Iya. Aku sudah kawin. Kau belum tahu itu, ya?” tanyanya sambil memanggil seseorang dari dalam kamarnya.

Aku memandang perutnya yang buncit, dengan mulut terbuka. ”Jadi ” Tenggorokanku terasa kering. ”Kau

sudah kawin?” Aku balas bertanya. Pelan, monoton, dan menyedihkan.
S E L E S A I
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊