menu

Corat Coret Di Toilet : Siapa Kirim Aku Bunga?

Mode Malam
Siapa Kirim Aku Bunga?

Ini adalah kisah tentang Kontrolir Henri yang terjadi di Hindia Belanda pada akhir tahun 20-an. Kisah cintanya yang menyedihkan, menjadi dongeng turun-temurun dan membuatku tergerak untuk menceritakannya kembali, karena ini adalah sejarah dunia yang hilang dan dunia baru yang datang. Kisah itu sendiri berawal dari bungabunga misterius yang dikirim seseorang kepadanya.

Bunga-bunga mawar misterius itu pertama kali ia dapatkan di meja langganannya di restoran milik sahabatnya. Sebagaimana biasa, di sore hari sepulang dari kantor, setelah mandi sore dan mengenakan jas bukaan warna putih, ia mampir  di  restoran  tersebut.  Tempat itu merupakan tempat favoritnya selain rumah bola, di mana ia bisa berjumpa dengan para sahabatnya, sinyosinyo, noni-noni, dan para raden yang sama menghabiskan waktu dengan sekadar ngobrol atau minum limun.

Buket yang terdiri dari beberapa tangkai bunga mawar itu terletak begitu saja di atas meja. Pada awalnya tak begitu menarik perhatian, karena ia lebih banyak menatap pintu menunggu para sahabatnya datang. Lagu ”Unfinished Symphony” karya Schuberts keluar dari gramofon, memberikan sedikit kebosanan kepadanya dan mendorongnya mengambil ikatan bunga mawar merah tersebut.

Ada secarik kertas terselip di antara tangkai-tangkai bunga itu, bertuliskan satu kalimat pendek yang kemudian banyak mengubah hidupnya: ”Untuk Henri”.

Laki-laki itu melemparkan kembali buket tersebut ke atas meja dengan penuh rasa terkejut, seolah ia baru saja menggenggam bara api. Ia menoleh ke sana-kemari dan mendapati seorang gadis penjual bunga di muka restoran.

Gadis penjual bunga, pemandangan itu sendiri sebenarnya cukup aneh. Gadis itu berumur sekitar empat belas atau lima belas tahun. Mengenakan pakaian Eropa yang dekil dan tampak tak terurus, tapi jelas ia bukan Eropa. Indo pun tidak. Ia gadis bumiputera, asli Jawa. Sosoknya yang kecil ramping dan dekil tak menarik perhatian Henri pada pandangan pertama, tapi ia tertarik kepada bunga-bunga yang dijualnya.

Ia berdiri, berjalan keluar dan menghampirinya. ”Gadis penjual bunga,” katanya. ”Siapa saja yang

telah membeli bunga-bungamu?”

”Banyak, Meneer,” jawab si gadis penjual bunga sambil menatap laki-laki itu. ”Perempuan?”

”Ada, Meneer. Sinyo-sinyo dan noni-noni banyak yang membeli.”

”Noni-noni, ya?”

”Ya, noni-noni ...”

Ia berbalik kembali masuk ke dalam restoran setelah merasa menemukan jawabannya. Pasti salah satu gadis sahabatku, ia berpikir. Salah satu gadis itu, telah mengiriminya bunga secara diam-diam. Pasti salah satu gadis sahabatku, ia terus meyakinkan diri. Karena, si pengirim bunga itu tahu benar di mana ia biasa duduk di restoran. Mungkin salah satu gadis itu telah jatuh cinta kepadanya, dan ia hanya berani mengirim bunga secara diam-diam.

Demikianlah, ketika para sahabatnya berdatangan yang dilanjutkan dengan pesta minum limun, ia mulai menduga-duga gadis yang mana di antara gadis-gadis teman ngobrolnya bisa diduga sebagai pengirim bunga misterius. Ia tak menceritakan kepada siapa pun soal bunga aneh itu. Tapi ia memegangnya erat agar siapa pun bisa melihatnya.

Sebagaimana biasa, mereka mulai membicarakan banyak hal. Salah satu sahabatnya bercerita tentang film baru yang akan diputar di bioskop. Kemudian obrolan berlanjut kepada kisah-kisah cerita bersambung di surat kabar harian yang ceritanya semakin seru. Setengah jam berlalu hingga akhirnya mereka bicara juga soal politik. ”Hiruk-pikuk yang menyebalkan itu sudah berakhir,” kata salah seorang gadis indo. Mimik wajahnya menampilkan kekhawatiran apa yang diucapkannya tidak benar.

”Betul. Pemerintah sudah bisa menegakkan kembali

... apa namanya, Henri?” ”Rust en orde.”

”Ya, rust en orde. Berapa yang jij sudah kirim ke

penjara?”

Henri tertawa kecil dan menjawab: ”Bukan cuma ke penjara, tapi juga ke Boven Digoel.”

”Jij kirim orang ke Boven Digoel juga?”

”Ya, satu-dua penghasut aku laporkan dan minta kirim ke Boven Digoel.”

Kemudian gadis penjual bunga itu berkelebat, dan Henri teringat kembali kepada bunga mawar misterius yang didapatnya. Ia mengamati gadis-gadis teman ngobrolnya dengan diam-diam, tapi tak satu pun patut dicurigai telah mengirim bunga itu.

Hingga ketika malam datang, ia akhirnya pulang membawa rasa ingin tahunya terhadap teka-teki tersebut. Di rumah, babunya sudah menyiapkan makan malam, tapi ia langsung masuk ke kamar dan berbaring di atas tempat tidurnya. Peristiwa sore itu sungguh mengganggu isi kepalanya. Ia mencoba tidur, menganggap hal itu sebagai lelucon teman-temannya. Tidak, rasanya semua temannya bersikap wajar dan tak ada tanda-tanda ada persengkongkolan di antara mereka untuk memper mainkan dirinya. Dengan putus asa ia meletakkan bunga mawar itu  di atas meja di samping tempat tidurnya. Angin malam yang dingin menerpa wajahnya. Ia lupa menutup jendela. Dengan sedikit enggan ia bangkit dan berjalan ke arah jendela kamarnya. Ia hendak menutup tirai ketika ia menemukan benda itu terselip di kisi-kisi daun jendela: seikat bunga mawar merah dengan secarik kertas bertuliskan ”Untuk Henri”.

Ia nyaris gila dibuatnya. Seseorang, secara diamdiam tengah membuntutinya ke mana pun ia bergerak dan mengiriminya bunga-bunga mawar merah. Siapa gerangan yang ingin menyengsarakan diriku dengan bunga-bunga sialan itu? pikirnya.

Rasa jengkelnya tak hilang sampai keesokan harinya, yang mana membuatnya memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Ia mengajak Piet, temannya, untuk main tenis di lapangan yang biasa ia pakai. Untuk sementara, ia ingin lepas dari teror bunga-bunga mawar itu. Ia kini tak lagi menganggap buket tersebut sebagai gambaran cinta seorang gadis malu-malu terhadap dirinya, tetapi mulai menganggapnya sebagai racun jahat yang akan membunuhnya perlahan-lahan. Ia ingin menghindarinya. Ia membayangkan, di meja kerjanya di kantor, seikat bunga mawar misterius dengan secarik kertas yang sama tergeletak manis di sana. Tidak, ia tidak ingin menemukan bunga terkutuk itu. Biarlah jongos kantor menemukan dan membuangnya ke keranjang kotoran.

Ia bermain tenis tiga set dan untuk sesaat bisa melupakan soal bunga-bunganya, meskipun sebagaimana biasa Piet mengalahkannya dalam permainan itu. Mereka berjalan ke ruang ganti pakaian sambil bicara soal rencana akhir pekan. Piet mengusulkan untuk pergi ke tempat pemandian air panas, atau berburu. Ketika mereka sedang memperbincangkan hal itu, Henri dikejutkan oleh seikat mawar di atas tas pakaiannya.

Begitulah, ia diteror selama beberapa hari dengan bunga-bunga mawar merah yang dikirim kepadanya dengan disertai secarik kertas. Aku sendiri tak bisa membayangkan, bagaimana jengkelnya ia atas peristiwaperistiwa itu. Hingga akhirnya, ia mulai mengamati si gadis penjual bunga, yang pada kenyataannya hampir selalu ia lihat di sekitar waktu ia memperoleh bungabunga misteriusnya.

Ia mencoba mengamati siapa-siapa saja yang membeli bunga kepada si gadis. Kebanyakan orang-orang muda, tapi tak satu pun bisa dicurigai telah membeli bunga berulang-ulang dan mengirimkannya kepada dirinya. Sesekali ada juga orang-orang tua. Sinkeh-sinkeh dan juga nyai-nyai, entah untuk apa mereka membeli bunga.

Lama-kelamaan Henri menjadi akrab kepada wajah gadis penjual bunga itu. Orangnya sedikit agak tak terurus, memang. Tapi ia mampu melihat kecantikan tersembunyi pada si gadis penjual bunga. Rambutnya lurus dan dibiarkan tergerai, tak pernah ia melihatnya disanggul. Ia suka pada hidungnya yang mungil, dan tatapan matanya yang bersemangat. Ia kadang mengenakan pakaian Jawa, berupa kain dan kebaya, tapi kadang mengenakan pakaian Eropa, baju terusan dengan rendarenda, yang semuanya dikenakan dengan kesembronoan yang menggoda. Akhirnya Henri jadi sering mengawasi si gadis penjual bunga itu, bukan untuk melihat-lihat siapa saja yang membeli bunga-bunganya, tapi justru untuk melihat si penjual bunga itu sendiri.

Serangan demam menjangkitinya sejak saat itu, demam cinta yang tak terelakkan. Beruntunglah, ia mulai bisa melupakan bunga-bunga misterius itu, meskipun bunga-bunga tersebut masih terus datang di waktuwaktu yang tak pernah diduganya. Angannya telah sepenuhnya menjadi milik si gadis penjual bunga. Bahkan, ia begitu keranjingan saat menemukan bunga-bunga misterius yang masih disisipi secarik kertas bertuliskan ”Untuk Henri”, karena saat-saat seperti itu, wajah penuh pesona si gadis penjual bunga segera membayang di depan matanya.

Dan ketika ia merasa tak sanggup lagi menahan wabah cintanya, ia memutuskan untuk mendekati gadis itu, di depan restoran di sore hari, tepat seperti pertama kali ia berjumpa. Ia membeli seikat bunga mawar yang indah darinya.

”Untuk Meneer, tak usah bayar,” kata si gadis.

Henri tersenyum. ”Jangan panggil aku meneer, aku belum tua.”

”Ya, Sinyo.” ”Panggil saja Henri.” Ia kini bisa menatap wajah yang dirindukannya itu dari dekat, pada hidungnya yang mungil dan pada matanya yang bersemangat. ”Kenapa aku tak boleh membayar?”

”Bunga itu lambang cinta, dan kau manusia yang kering akan cinta. Sudah selayaknya kau peroleh banyak-banyak bunga.”

Henri teringat kembali dengan bunga-bunga yang diterimanya dan menjadi curiga jangan-jangan si penjual bunga sendiri yang mengiriminya bunga selama ini. Tapi ia segera menepiskan dugaan itu dan mencoba terus berbincang dengannya.

”Mengapa kau menjual bunga?” Ia bertanya. ”Untuk Republik,” jawab si gadis penjual bunga, te-

nang dan datar. ”Republik?” ”Ya, Republik.”

Henri mencemooh  sikap  politik  semacam  itu. Pemerintah Hindia Belanda telah memberikan yang terbaik bagi rakyat negeri ini. Sekolah, volksraad, surat kabar, untuk apa pula memikirkan sebuah republik? Memang ia mendengar desas-desus tentang itu di kalangan bumiputera. Konon ada seorang pelarian politik di luar negeri yang menyebarkan pamflet Menuju Republik  In-

donesia, dan hal itu menjadi populer luar biasa. Ia  terse-

nyum, bersedih pada para pemimpi itu, tapi mencoba tak berkomentar demi si gadis penjual bunga.

Henri menemuinya setiap hari di tempat yang sama. Membeli bunganya yang tak pernah mau dibayar, kemudian berbincang-bincang dengannya. Pada hari kedelapan belas sejak rayuan pertamanya, ia akhirnya berkata bahwa ia mencintai si gadis penjual bunga dan bertanya maukah ia menjadi kekasihnya.

”Jangan mengatakan hal itu di sini,” kata si gadis penjual bunga. ”Itu tidak sopan.”

”Tapi ... tapi kau juga mencintaiku, kan? Kau kirimi aku bunga terus-menerus sampai aku hampir gila, aku yakin itu,” kata Henri.

”Itu tidak penting apakah aku yang kirimi kau bunga atau bukan. Kau memang perlu banyak bunga karena rasa cintamu yang kering.”

”Ayolah, Sayang. Tak benar rasa cintaku kering.

Mari tinggal di rumahku.”

”Kau laki-laki yang tak sopan. Kalau kau ingin aku jadi isterimu, minta izin kepada ayah dan ibuku. Aku tak ingin jadi nyai, apalagi gundik.”

”Mari temui kedua orang tuamu,” kata Henri dengan gemas. Matanya lekat pada wajah cantik itu. ”Di mana mereka?”

”Digoel.”

”Digoel?”

”Ya, Boven Digoel.”

”Kenapa di sana?” tanya Henri.

”Kau sendiri yang kirim mereka ke sana.”

Hatinya porak-poranda, dan ia tak mampu memandang wajah cantik itu kembali. Sebuah selaput kokoh seolah membentang di antara nasib keduanya. Beberapa waktu setelah itu, ia pulang ke negeri Belanda membawa luka cintanya yang menyedihkan. Ia mengakhiri hidupnya dengan meminta sebuah toko bunga mengiriminya seikat mawar merah di pagi dan sore hari dan dengan keputusan dokter yang mengatakan bahwa ia menderita skizofrenia.
S E L E S A I
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊