menu

Corat Coret Di Toilet : Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam

Mode Malam
Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam

Pada ulang tahunnya yang ketujuh belas, Si Cantik kembali meminta diizinkan keluar malam, sebagai hadiah terindah yang paling layak untuknya.

”Baiklah,” kata si ayah. ”Mari kita keluar bersama Ibu.”

Maka mereka menghabiskan malam itu dengan belanja di super market, makan di kafe, nonton bioskop, dan berakhir ketika Si Cantik sudah tertidur di kursi belakang mobil mereka.

Itu benar-benar mimpi  buruk bagi  Si Cantik. Ulang tahunnya yang ketujuh belas berlalu begitu saja tanpa satu harapan untuk bisa menghadiri pesta temantemannya, atau berkemah di pinggir pantai, atau nonton konser, atau apapun menghabiskan malam di luar rumah bersama para sahabatnya.

Hingga malam-malam selanjutnya ia lewatkan dengan rutinitas yang mulai menyebalkan. Ia memutar ulang beberapa seri Tom & Jerry sampai ia beranggapan telah menontonnya lebih sering dari siapa pun, bahkan lebih sering dari Hanna-Barbera sendiri. Atau membacai novel-novel sampai ia menjadi tukang dongeng termashyur di kelasnya. Dan kadang ia lewatkan malam hanya dengan mendengar siaran radio sampai kenal siapa orang yang paling rajin menelepon meminta lagu dan kirim salam.

Ketika kebosanan mulai menyumbat semua seleranya, ia akhirnya memberanikan diri bicara kepada ayahnya kembali.

”Dengar, Ayah,” katanya. ”Aku sudah besar sekarang. Kenapa tidak boleh juga keluar malam? Aku … yah, kadang-kadang ingin ngobrol dengan teman-temanku.”

”Kau bisa ngobrol di sekolah, kan?”

”Ibu guru melarang kami ngobrol di kelas, Ayah,” kata Si Cantik.

”Atau sore. Kau kan bisa bertemu teman-temanmu.” ”Di kota yang mengibakan ini?” tanya Si Cantik sambil duduk dengan anggun di depan ayahnya. ”Pikirkanlah hal ini, Ayah: Nita pergi  les  piano, Yuri pergi les tari, juga Adinda, juga Arina, dan aku sendiri … les

bahasa dari Senin sampai Sabtu.” ”Kau bebas di hari Minggu.”

”Kadang-kadang aku ingin ngobrol di malam Rabu atau malam Jumat,” kata Si Cantik cemberut.

Satu minggu kemudian, ia menemukan sebuah pesawat telepon di samping tempat tidurnya. Dan ayahnya berdiri di pintu dan berkata: ”Kau punya nomor telepon sendiri, dan kau boleh ngobrol sepuasnya tanpa harus keluar malam.”

Dengan penuh dendam, ia berkenalan dengan seorang negro dari Perancis. Ia sering meneleponnya, bahkan nyaris tiap malam. Namun bulan berikutnya, sang ayah sudah menutup teleponnya lagi, karena gajinya bulan lalu habis untuk membayar tagihan rekening telepon.

Si Cantik tersenyum puas. Tapi si ayah tetap tidak bermurah hati mengizinkan Si Cantik untuk keluar malam.

Beberapa hari setelah itu, ia kemudian mengundang teman-temannya dan membuat keributan sampai pagi. Tapi itu tak berarti sama sekali untuk menggoyang pendirian si ayah. Si Cantik tampak mulai putus asa.

Suatu malam, pasangan itu masuk ke kamar mereka: ayah dan ibunya. Mereka tampak serasi sepenuhnya, seperti Beauty and the Beast. Si ibu yang anggun kurus dan tinggi seperti setangkai lilin, dan si ayah yang besar berewokan dan kumis menyeramkan. Mereka duduk di tepian tempat tidur dan si ibu dengan lemah-lembut bicara:

”Ayolah, Sayang,” katanya. ”Anak itu sudah cukup besar untuk menjaga dirinya.”

”Memang benar,” kata si ayah. ”Tapi apa kau ingin anakmu dirampok  dan mayatnya  ditemukan   pagipagi sudah membeku di pinggir selokan? Atau hancur diperkosa teman kencannya hingga gila dan hilang ingatan dan tak tahu jalan pulang? Atau mungkin pertama kali ia mengenal rokok dari teman-temannya, lalu mencoba mabuk, lalu mencoba drug, dan lalu kau harus meluangkan waktu untuk menengok dia di pusat rehabilitasi … Atau kalau tidak kau harus menemuinya di tahanan khusus perempuan?”

Si ibu menghela napas dan tak menyerah. ”Kau ingat. Sayang. Kita dulu kadang-kadang keluar malam. Nonton konser atau ikut pesta. Tak ada orang merampokku. Dan kau tak memerkosaku juga. Dan tahu tidak, aku hanya minum obat flu, tak lebih.”

”Yeah …” kata si ayah sambil menguap. ”Itu karena dulu kau pacaran denganku.” Kalimat itu berakhir dengan sebuah dengkuran halus.

Sang istri cuma mengangkat bahu, ikut masuk ke dalam selimut sebelum tertidur sambil memeluk suaminya.

Tak jauh dari kamar mereka, Si Cantik belum juga tidur ketika waktu telah lewat tengah malam. Ia duduk di balik jendela kamarnya. Tirainya dibuka lebar sehingga ia bisa memandang bulan yang hampir purnama, menggantung di langit yang gelap berbintik-bintik oleh bintang yang pucat. Ia duduk termenung, membayangkan seorang pangeran datang dengan pedang dan kuda putih membebaskan dirinya, persis seperti dalam cerita Cinderella. Atau Count Dracula sebagaimana diceritakan Bram Stoker, datang untuk membawanya ke kerajaan malam. Tanpa sadar ia berharap jadi vampir, hidup abadi dengan malam-malamnya. Hidup indah hanya untuk tidur, minum dan bercinta. Tapi ketika ia mulai menyadari kalau semua khayalannya tak lebih dari dongeng omongkosong, ia mulai menangis tersedu-sedan, hingga ia tertidur dalam penderitaannya.

Si Cantik terbangun di pagi hari oleh mimpi buruk olok-olok temannya. Karena semua orang tahu belaka kalau ia tak boleh keluar malam. Kalaupun bisa keluar, Si Cantik akan dikawal oleh pasangan penjaga yang aneh: si ayah yang galak dan si ibu yang tak berdaya. Keluarga macam itu seperti lumbung lelucon bagi teman-teman sekolahnya, dan itu membuat Si Cantik tambah menderita.

Penderitaan itu semakin menjadi-jadi ketika menjelang hari kenaikan kelas, ia jatuh cinta kepada seorang pemain teater  sekolah. Sebagaimana tahuntahun sebelumnya, acara kenaikan kelas selalu dihiasi berbagai macam acara kesenian murid. Dan laki-laki itu, konon akan memerankan Romeo dalam salah satu drama termashyur Shakespeare yang diadaptasi total oleh kelompok teater anak-anak kelas dua menjadi tontonan yang penuh lelucon dan banyolan serta akhir yang tidak terlalu tragis. Setiap usai sekolah, sebelum ia berangkat ke tempat les, Si Cantik menyempatkan diri melihat kelompok itu berlatih di belakang aula, dan menjadi tergila-gila kepada si Romeo (sebaiknya ia disebut Romeo saja karena toh ia akan memerankan Romeo). Rayuan-rayuannya yang gombal, seluruhnya seolah ditujukan kepada Si Cantik sampai ia merasa yakin rela minum racun asal bisa menjadi kekasih abadi si Romeo. Lagipula si Romeo ternyata mengambil les Inggris pada hari Selasa dan Kamis serta Belanda di hari Sabtu, pada jadwal dan kelas yang sama dengan Si Cantik. Hanya saja sebelumnya Si Cantik memang tak begitu memperhatikan hal itu. Dan pada minggu kedua sejak latihan pertama Romeo and Juliet, mereka sudah begitu akrabnya, dan sekonyong-konyong si Romeo mengumbar rayuannya kepada Si Cantik. Tanpa basa-basi yang terlalu bertele-tele, ia bilang kalau ia  jatuh cinta kepada Si Cantik. Itu waktu mereka bertemu di bangku paling belakang kantin sekolah.

Si Cantik dengan gugup dan muka pucat berkata,

”Beri aku waktu memikirkannya.”

Memikirkan apa? Tentu saja bukan soal ya atau tidak. Hal itu sudah sangat pasti, Si Cantik jatuh cinta kepada si Romeo. Cuma ia tak dapat membayangkan kencan macam apa yang bisa ia jalani bersama Romeo, selama pingitan di rumahnya tak juga berakhir.

Berhari-hari semenjak itu, si Romeo terus menanyakan apakah cintanya dibalas atau tidak. Setiap kali itu terjadi, Si Cantik dengan penuh keterpaksaan harus mengatakan, ”Tunggulah.” Tunggulah: suatu penantian yang entah berapa lama yang Si Cantik sendiri tak dapat memperkirakannya.

Kenyataan itu menjadi beban sendiri bagi Si Cantik. Itu cinta pertamanya, dan semua orang tahu jatuh cinta seringkali membuat orang menderita. Cinta membuat orang begitu tolol, dungu dan bodoh. Tapi kadang cinta membuat seseorang juga menjadi pemberani.

Si Cantik memutuskan untuk sedikit memberon-

tak.

Pada malam pentas seni kenaikan kelas sekolahnya,

Si Cantik diam-diam membuat suatu rencana. Ketika kedua orang tuanya sedang melihat obrolan politik di televisi, Si Cantik mengunci pintu kamarnya. Kemudian, ia menyalakan radio dan memilih stasiun yang menyiarkan lagu-lagu ringan pengantar  tidur. Dua menit kemudian ia sudah melompat dari jendela, berdiri di pinggir jalan dan menghirup udara malamnya yang penuh kebebasan. Ia hendak menemui Romeonya dan membalas cin-

tanya.

Pentas Romeo and Juliet yang sederhana itu ditonton hampir  seluruh teman-temannya. Pasangan-pasangan muda duduk saling merapat, menikmati suasana romantis yang mereka miliki. Si Cantik duduk seorang diri tanpa peduli dengan sekitarnya. Matanya tak lepas dari sosok Romeo yang mendominasi panggung. Ikut khawatir ketika Romeo berkelahi, dan menangis ketika Romeo dipisahkan dari Juliet, tapi cemburu ketika mereka bertemu kembali.

Dadanya bergetar hebat. Jika pentas itu berakhir, ia akan segera berlari ke belakang panggung menemui Romeo yang dirindukannya. Romeo akan bertanya: ”Cantik, apakah kau terima cintaku?”

Ia akan menatap pujaan hatinya dengan tatapan yang sangat mesra. Memberinya senyum terindah dan berkata, ”Aku mau menjadi kekasihmu, Sayang.”

Setelah itu ia tak peduli. Jika malam ini ia bisa keluar malam tanpa pengawalan Beauty and the Beast, malam-malam lain ia bisa kencan dengan si Romeo seindah yang bisa diimpikan. Khayalan ini membuat Si Cantik mabuk kepayang sehingga ia tak menyadari pentas sudah berakhir. Saat ia sadar, itu membuatnya kacau luar biasa.

Sementara aula dipenuhi suara tepuk tangan dan jeritan histeris gadis-gadis, Si Cantik tergopoh-gopoh berlari keluar dan memutar ke balik panggung. Pada ruangan itu ia dapati para pemain bergeletakan me lepas lelah, tapi ia tidak mendapati yang dicarinya. Baru setelah ia berjalan dan mencari-cari, ia temukan Romeo keluar dari sebuah bilik bersama Juliet. Keduanya berjalan bergandengan tangan dan masih mengenakan kostum panggung mereka.

Si Cantik berlari menyongsong dan menghadang mereka.

”Hey,” katanya.

Romeo dan Juliet berhenti dan memandang diri-

nya.

”Halo, Cantik!” sapa Romeo.

Si  Cantik, sungguh  mati, tak  mampu memandang-

nya dengan pandangan mesra sebagaimana ia rencanakan. Juga tak ada senyum manis yang indah. Wajahnya terlalu pucat dan gugup untuk melakukannya. Ia sendiri mulai agak goyah.

Tidak, pikirnya. Jika  ia  berani  melompat  jendela  pada jam delapan lewat dan menerjang malam un tuk menemukan kekasihnya, kenapa ia tak berani pula mengatakan bahwa ia ingin membalas cinta si Romeo. Maka dengan keberanian dan tenaga yang tersisa, ia berkata pelan tapi nyaring terdengar:

”Sayang, aku mencintaimu.”

Kesunyian menyergap mereka bertiga sesaat. Si Cantik bertahan agar tidak  jatuh. Romeo  memandang Si Cantik, lalu memandang Juliet. Juliet memandang Si Cantik dengan pandangan bingung.

Akhirnya setelah beberapa waktu, Romeo berkata: ”Sayang sekali, Cantik. Kau terlambat. Aku dan Ju-

liet telah memutuskan untuk melanjutkan kisah cinta kami di luar panggung.”

Suara itu nyaris tak terdengar di telinga Si Cantik. ”Sekali lagi, maaf Cantik, dan … ehm … kami pergi

dulu.” Suara Romeo semakin samar.

Romeo dan Juliet kemudian berlalu, saling berdekapan. Si Cantik menatapnya dalam pandangan yang kabur karena air mata yang tumpah tak tertahankan sampai kemudian semuanya terasa gelap dan kosong.

Sejak malam itu, konon Si Cantik tak pernah pulang kembali ke rumahnya. Apakah Si Cantik telah memutuskan untuk menjadi kekasih malam sebagaimana yang diharapkannya? Beberapa orang masih sering melihatnya malam-malam di pub dan diskotek, atau di lobi sebuah hotel. Beberapa orang yang lain melihatnya di pinggir jalan di bawah cahaya bulan purnama sedang menghentikan taksi atau berjalan dengan seorang lakilaki tua berperut buncit. Ada desas-desus ia menjadi kupu-kupu malam. Tapi sebagian besar orang lebih percaya kalau ia mati bunuh diri dan yang sering terlihat itu konon hantunya yang masih penasaran ….
S E L E S A I
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊