menu

Corat Coret Di Toilet : Rayuan Dusta untuk Marietje

Mode Malam
Rayuan Dusta untuk Marietje

Aku datang ke Batavia pada tahun 1869 sebagai prajurit bayaran. Aku sebenarnya tidak ahli perang, tapi aku membual kepada orang yang merekrutku bahwa aku di Belanda sempat jadi tukang pukul. Bayangkan, tukang pukul! Betapa kagumnya komandanku hingga ia mempekerjakanku dan menempatkanku di sebuah benteng kecil di Ancol. Yeah, aku memang pembual. Pendusta nomor satu di Belanda, bahkan mungkin se-Eropa.

Kenekatanku mengarungi samudra ke daerah asing ini harap dimaklumi: aku miskin dan yatim piatu. Kata orang, yang kudengar dari mulut ke mulut, Hindia  Belanda menjanjikan segalanya. Tanah menghampar, tak ada bandingannya dengan Belanda yang cuma sepijakan kaki. Juga emas, belum ada yang menggali. Juga permatapermatanya. Terutama rempah-rempahnya. Aku tergiur benar untuk  datang  demi  mengubah nasibku. Dan begitulah hingga akhirnya kakiku menjejak tanah Hindia Belanda. Di sini, segalanya cukup menyenangkan, kecuali satu: aku tak punya pacar!

Susah sekali cari pacar. Aku ingin punya kekasih bule, dengan rambut pirang, hidung mancung dan mata biru. Wuah, itu jenis langka di Hindia Belanda! Padahal umurku sendiri ... dua puluh dua pada tiga bulan yang akan datang. Kawan-kawanku di benteng, beberapa ada yang nekat mengambil kekasih gadis-gadis pribumi. Huh! Hitam, dekil, bodoh, ... aku sendiri tak berselera. Memang, tak semua gadis pribumi seperti itu. Ada juga yang cantik luar biasa, lebih cantik dari gadis Spanyol yang pernah aku lihat (apalagi gadis Belanda): kulit kuning langsat, hidungnya mencuat ramping, rambut hitam panjang, dan matanya begitu jernih. Tapi kawan, jangan harap prajurit bayaran seperti aku bisa dapat gadis pribumi macam begitu. Jenis yang seperti ini, hanya ada di keraton. Ya betul, puteri-puteri keraton! Bahkan Gubernur Jenderal sendiri belum tentu bisa kawin dengan mereka.

Karena itu, kalau tak ada kerusuhan-kerusuhan yang membuat kami harus pergi perang, aku lebih banyak tidur melamun. Kawan-kawanku sering meledek keegoisanku untuk memiliki kekasih bule, tapi dengan terusterang kukatakan pada mereka bahwa aku ingin menjaga kemurnian darahku. Darah Eropa dengan keluhuran peradaban, pengetahuan, filsafat dan tetek-bengeknya! Dengan alasan  seperti itu, kawan-kawanku akhirnya tutup mulut dan beberapa di antaranya jadi malu sudah berkasih-kasih dengan gadis pribumi. Rasain!

Setelah perdebatan kecil seperti itu kami lalu ngobrol  ke  sana-kemari  untuk  menghilangkan  kejenuhan. Beberapa  orang  yang  sudah  tua  bercerita  tentang  pertempuran-pertempuran hebat yang mereka ikuti. Misalnya Perang Diponegoro tahun 1825 sampai tahun 1830. Atau  Perang  Jagaraga  di  Bali  tahun  1846  sampai  1849. Asyik  sekali  mendengar  cerita  seperti  itu, terutama  kalau yang bercerita si August tua, pensiunan prajurit asal Perancis yang mengaku pernah berhadapan secara langsung dengan Pangeran Diponegoro.

”Tuan Diponegoro menghadiahi aku bekas luka di punggung,” katanya bangga. ”Dan Gubernur de Kock kasih aku penghargaan juga.”

Ingin rasanya aku dapat kesempatan seperti itu. Tapi sayang, tak ada lagi perang-perang hebat sekarang ini, dan aku jadi lebih banyak nganggur. Kalau sudah nganggur, aku jadi lebih suka tidur dan melamun. Dan kalau sudah tidur dan melamun, aku jadi teringat dengan gadis berkulit bule, berhidung mancung, bermata biru dan berambut pirang. Oh ...

Ngomong-ngomong aku jadi teringat Marietje. Dulu kami sama-sama pernah bekerja di sebuah toko roti di Delft. Ia yang dua tahun lebih muda dari aku,  jadi pelayan toko dan aku sendiri penjaga. Kami sempat saling suka (aku yakin!), sebelum aku kemudian memutuskan buat pergi ke Hindia Belanda. Oh Tuhan, kenapa orang-orang bule hanya ada di Eropa saja? Aku mulai ngomel-ngomel sendiri dan ... lagi-lagi teringat Marietje. Kau tahu kawan, dia sebenarnya tak cantik benar. Mukanya sedikit berjerawat, dan dia agak cerewet. Juga sebenarnya tak terlalu cerdas, terbukti tak tahu di mana letak negeri Perancis (kebodohan macam begini hanya bisa disaingi suku barbar Hindia Belanda!). Tapi aku suka, dan jatuh cinta kepadanya. Matanya itu lho, genitnya minta ampun. Ia suka melirik aku sekali-kali.

Sayang sekali Marietje tak bisa datang ke Hindia Belanda.

”Kenapa tidak kau kirim surat saja kepadanya, dan suruh ia datang ke sini?” tanya seorang kawan yang mendengar kisah cintaku yang menyedihkan ini.

”Jangan belagak dungu,” kataku. ”Kau tahu kenapa ia tak bisa datang.”

Ya benar, dia seharusnya tahu Marietje tak mungkin bisa datang ke Hindia Belanda. Seperti kau tahu, jarak Belanda sampai negeri barbar ini jauh sekali. Kata orang, itu sama artinya menjelajahi separuh bumi! Bayangkan, gadis-gadis Eropa yang manis dan cantik itu harus mengarungi petualangan gila macam begitu. Ya, waktu aku berlayar, kami sempat mau tenggelam dihantam badai di tengah samudra (entah samudra apa namanya, aku sendiri sedang mabuk laut ketika itu). Dan ketika kami singgah di Marseille sebelumnya, penumpang kapal sempat bentrok dengan buruh pelabuhan sebelum dilerai pasukan kerajaan. Bayangkan jika gadis-gadis Belanda ikut perjalanan kami dan jadi korban petualangan gilagilaan itu.

Dan  kenyataannya,  memang  sudah  jadi  peraturan untuk tidak membawa gadis Belanda ke Hindia, karena sulitnya perjalanan seperti yang aku ceritakan. Huh, tapi kalau  dipikir-pikir,  peraturan  itu  konyol.  Ambil  Marietje  sebagai  contoh:  ia  gadis  yang  tangguh  dan  perjalanan  separuh  bumi  tak  akan  menyulitkannya.  Tapi mau  bagaimana  lagi,  aturan  itu  bahkan  sudah  ada  sejak  gerombolan  hebat  Jan  Pieterzoon  Coen  datang  di Batavia  tahun  1619. Waktu  itu  si  Coen  sendiri  hendak bawa gadis-gadis Belanda, demi terjaganya darah murni Eropa (Coen memang cerdas, kuakui!). Tapi rencananya gagal, gara-gara ditolak Heeren sialan! (Maaf, maksudku gerombolan Yang Mulia Heeren xvII).

Begitulah, hingga sekarang peraturan konyol  itu tak juga dicabut, dan meranalah aku si prajurit bayaran karena Marietje-ku tercinta tak dapat datang temui aku di Hindia Belanda. Menyebalkan!

Kemudian terdengarlah suara seorang temanku, dengan nada putus asa: ”Lupakan semua itu, memang beginilah nasib prajurit bayaran macam kita.”

”Ngomong apa kau?” bentakku. Orang ini, bukannya menghibur, malah terasa meledek.

”Kau tahu, sejak zaman VOC masih jabang bayi hingga sekarang, para pejabat tinggi boleh bawa isteri dan anak-anak gadisnya. Peraturan konyol itu hanya berlaku buat kita ...” Kuakui ia benar. Tapi mana mungkin aku berani melawan Gubernur Jenderal? Apalagi melawan Kerajaan, biar jaraknya setengah bumi sekalipun?

Sampai titik ini aku jadi putus asa. Sungguh! Malah sudah dipikir-pikir untuk pulang saja ke Belanda. Tapi ternyata itu bukan perkara gampang. Aku sudah tak punya sanak keluarga di sana, sementara aku tak punya keahlian apa pun. Aku tak yakin masih bisa membual ke sana-kemari. Dengar-dengar di Belanda dan bahkan di Eropa sudah makin banyak pembual. Tak mungkin aku bisa bertahan jadi pendusta. Paling-paling jadi penjaga toko roti lagi. Dan lagi pula, kehidupanku di Hindia Belanda cukup makmur dan menyenangkan, asal persoalan kesepianku kepada seorang gadis bule terobati. Wuah, pusing!

Atau aku ambil gadis pribumi sebagai kekasih?  Hiii ... aku bergidik ngeri. Kalau dipikir-pikir, mungkin sebenarnya ada gadis-gadis anak petani atau nelayan di pedalaman yang cantik. Memang tak bermata biru, berkulit bule, berambut pirang dan berhidung mancung, tapi pokoknya cantik. Ah, tapi yang begitu pasti sudah diambil pejabat buat simpanan. Oh Tuhan, masa aku akan dijadikan bujang lapuk? Brengsek!

Namun ketika aku sudah begitu putus asanya, dan bahkan dengan setengah gila hendak menceburkan diri ke laut, aku memperoleh berita luar biasa itu. Keajaiban dunia, Kawan! Demi dewa-dewa takhayul para penduduk pribumi yang barbar, aku berterima kasih kepada peristiwa hebat ini: Terusan Suez dibuka tahun  1869 dan pemerintah Kerajaan Belanda memperbolehkan gadis-gadisnya yang cantik dan manis berlayar ke Hindia karena jarak sudah lebih dekat. Aku berteriak-teriak di sepanjang pantai, berloncat-loncat kegirangan dan bermimpi Marietje datang menemuiku. Marietje, kekasihku yang kutunggu-tunggu. Seperti apa sekarang? Apakah jerawatnya sudah hilang? Apakah sudah lebih cerdas? Ah, peduli amat dengan jerawat dan kecerdasan. Ia mau datang dan jadi kekasihku, bagiku sudah cukup.

Maka segera saja aku kirim surat buat Marietje, menyuruhnya datang ke Hindia Belanda mempergunakan kapal pertama yang bakal lewat di Terusan Suez. Kutambahkan juga bahwa aku masih sayang kepadanya dan tiap malam selalu memimpikannya (oh ya, kalimat yang terakhir itu sungguh-sungguh bukan dusta!).

Banyak temanku yang juga mengirim surat untuk kekasih-kekasih mereka di Eropa. Yang lebih tua, tentu saja memanggil isteri dan anak-anaknya. Bahkan para prajurit yang sudah punya kekasih pribumi tanpa malumalu kirim surat juga ke Belanda, membujuk agar kekasih bulenya berkenan datang ke Hindia: negeri perawan yang indah. Aku tersenyum mengejek kepada merekamereka itu. Huh, dasar laki-laki mata-ke-ranjang, kataku dalam hati.

Kapal pertama yang melayari Belanda-Hindia melalui Terusan Suez akhirnya datang. Hiruk-pikuk sekali keadaannya. Kami semua menunggu di pelabuhan. Kapal, sungguh mati, memang penuh dengan gadis-gadis. Jantungku berdegup kencang melihat wajah-wajah cantik berambut pirang itu. Gadis-gadis sewarna dan  seda rah denganku! Para suami menjemput isteri dan anakanaknya, dan para bujangan menjemput gadis-gadis kekasihnya. Aku menerobos mencari Marietje. Di mana Marietje? Marietje-ku sayang?

Kawan, aku hanya memperoleh sepucuk surat, dan bukannya Marietje. Di surat itu Marietje bilang bahwa ia baru saja memperoleh kenaikan upah di toko roti tempatnya bekerja, dan sayang rasanya untuk meninggalkan itu semua demi Hindia Belanda.

”Marietje bodoh!”  pekikku jengkel, membuat kawan-kawan di sampingku terloncat karena terkejut. ”Apa artinya upah beberapa gulden di toko roti dibandingkan kemakmuran di Hindia Belanda?” Geram sekali aku dibuatnya.

Tapi beberapa temanku  mencoba menenangkan aku. Salah satunya berkata dengan lemah-lembut, ”Cobalah kau kirimi lagi dia surat. Mungkin kau perlu lebih merayu. Bukankah kau perayu ulung? Pembual? Pendusta? Yakinkan Marietje-mu sehingga ia rela tinggalkan toko roti terkutuk itu demi kau.”

Aku menganggung-angguk.

”Katakan kepadanya bahwa Hindia Belanda begitu kaya,” temanku yang lain mengompori. ”Katakan juga bahwa kita, pemuda-pemuda  Belanda, akan  menaklukkan seluruh daratan dan lautan Hindia Belanda. Mengambil harta karunnya, dan berkuasa atasnya. Itu yang kami katakan kepada kekasih-kekasih kami sehingga mereka mau datang. Kau kan tahu sendiri, gadisgadis Eropa mata duitan.”

Aku mengangguk lagi setuju, dan segera saja kutulis kembali surat. Marietje sayang, kataku, akan kutaklukkan negeri barbar ini demi kau. Kupersembahkan alamnya yang indah, emas, intan, permata yang melimpah, dan semuanya demi kau. Aku bergairah kembali dengan rayuan gombalku. Kukatakan pula, aku rela mengangkat senjata untuk itu semua.

Dan memang Marietje akhirnya datang.

Ia tersenyum kepadaku. Kawan-kawanku, ia tampak lebih dewasa sekarang. Jerawatnya sudah agak hilang, dan itu membuatnya jadi lebih cantik. Ia pun tampaknya tak lagi bodoh. Ia bilang, ia tahu di mana negeri Perancis. Ia bahkan dengan bangga berkata bahwa ia tahu juga di mana Inggris dan Spanyol.

Bahagia sekali aku.

Kemudian, Marietje kekasihku berkata: ”Sayangku, mana negeri yang akan kau taklukkan demi aku?”

Maka bersama pemuda-pemuda Belanda yang gagah berani, aku mengangkat senjata. Berperang di barat dan di timur, menaklukkan seluruh negeri antah berantah ini. Memang ada perlawanan-perlawanan hebat, tapi kami selalu menang! Sejarah kemudian mencatat, kami berjaya di tanah barbar tersebut. Bendera Kerajaan Belanda berkibar di seluruh pelosok, merah, putih, biru. Kami persembahkan negeri kaya raya ini untuk raja dan ratu kami yang mulia. Oh tidak, tentu saja untuk kekasih-kekasih kami tercinta. Dan bagiku sendiri, terutama untuk Marietje tersayang, yang sudah tak berjerawat dan sedikit agak pintar.

Begitulah cerita penaklukan kami yang gilang-gemilang. Penaklukan di atas kebodohan makhluk-makhluk negeri tak bernama ini – kami sendiri yang kemudian memberinya nama Hindia Belanda.
S E L E S A I
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊