menu

Corat Coret Di Toilet : Kisah dari Seorang Kawan

Mode Malam
Kisah dari Seorang Kawan

Senja selalu jatuh lebih cepat di dalam kampus, karena pohon-pohon flamboyan rindang menaungi, dan sinar matahari menghilang lebih dini ditolak daun-daun dan bunga-bunga. Lampu-lampu jalan,  lampu pelataran, lampu taman, dan lampu di pos satpam mulai menyala. Malam terasa meluncur lebih cepat lagi.

Di kala itulah, para gelandangan kampus mulai menggeliat. Merekalah para mahasiswa, nyawa kampus, para aktivis gerakan, para pecinta alam, seniman-seniman, jurnalis-jurnalis, yang sebagian memanglah tidak memiliki pondokan. Ruang-ruang kumuh yang penuh rongsokan menjadi tempat tinggal mereka, dan loronglorong, tangga, serta kursi menjadi teman tidur yang indah.

Di pojok sebuah taman, duduk berkerumun  em pat orang mahasiswa. Itu  bukanlah  pemandangan  yang teramat aneh.  Rencana-rencana besar, semisal rencana-rencana subversif,  kadangkala tercetus dari kumpul-kumpul seperti itu. Dengarlah obrolan mereka: ”Yah, ayahku seorang tentara,” kata salah satu dari mereka. Mahasiswa  berpostur  tinggi, dengan baret  hi-

tam berbintang merah kecil meniru Che Guevara. ”Ayahmu  bajingan  tentunya?” kawannya,  Si Kaki

Pincang mengomentari, sambil  menggulung kertas bekas, membakar ujungnya dan mengisapnya. Tak ada yang punya sigaret di antara mereka.

”Betullah itu,” kata Si Baret Guevara. ”Setelah ia tahu aktivitas politikku di sini, tak lagi ia kirim uang saku untukku.”

Di depan Si Kaki Pincang, duduk mahasiswa kurus berwajah melankolis. Katanya, ”Ayahku cuma seorang petani kecil. Orang kalah pertama yang aku kenal.”

Ketiga kawannya terdiam, bersimpati. Beberapa saat keheningan itu mengambang di udara sekitar mereka, hingga Si Kaki Pincang kemudian memecahkannya. Ia berkata:

”Yeah, kalau ayahku, ia seorang guru sekolah dasar.” ”Antek pemerintah!” Si Baret Guevara memotong,

menuduh.

”Pejuang, Goblok! Tak pernah ia korupsi, tak pernah ia kolusi. Ia guru, dan kerja sebagaimana guru.”

Si Baret Guevara tertawa melihat si kaki pincang naik pitam. Yang lain memberikan tawa mereka tanpa bersuara. Si Kaki Pincang membuang sigaret kertas bekasnya ke tanah, karena asapnya terasa membakar di bibirnya.

”Dan kau?” tanya Si Baret Guevara kepada mahasiswa terakhir, yang sejak tadi hanya diam menjadi pendengar. ”Bagaimana dengan ayahmu?”

Kawan kita yang satu ini tersenyum, seorang mahasiswa berambut gondrong, dengan muka kotor tak bercukur. Ia membuka mulut:

”Dua bulan ke depan ayahku bebas dari penjara,” katanya.

”Hebat!” Si Kaki Pincang tak dapat menahan mulutnya. ”Tahanan politikkah?”

”Kalau dipikir-pikir sekarang, seharusnya iya,” kata Si Gondrong. ”Tapi tidak. Ia tahanan kriminal.”

”Bagaimana kejadiannya?” ”Ceritalah.”

Maka ia pun berkisah.

* * *

Musik dangdut yang samar-samar melayang dari arah sebuah ruang yang ditinggali para mahasiswa pecinta alam, keluar dari sebuah pesawat radio. Dari arah berlawanan, nyaring terdengar beberapa anak menyanyikan lagu-lagu reggae diiringi kocokan gitar yang kasar dan tak berselera.

Gerombolan empat mahasiswa itu duduk semakin mendekat, bersiap mendengar kisah salah satu dari mereka. Mahasiswa gondrong bersiap:

”Itu cerita beberapa tahun yang lalu,” katanya memulai. ”Ayah punya sepetak kios di pasar dan ia berdagang beras kecil-kecilan.”

Ketiga kawannya khusyuk mendengarkan. Melipat kaki dan mendekap lutut mereka, mengusir dingin yang mulai menyerang. Bunyi berkerokot datang dari perut Si Muka Melankolis, tanda ia kelaparan.

”Waktu itu harga beras masih lima ratus rupiah,” Si Gondrong berkata.

”Lima ratus rupiah?” ”Ya.”

”Itu murah.”

”Dulu … semua murah. Kau tahu sendiri!” Beberapa waktu keempatnya terdiam, mencoba me-

lawan rasa lapar yang mulai menyerang, diperparah oleh udara yang mendingin. Nyamuk beterbangan, hinggap dari satu kulit tangan ke kulit tangan yang lain, mengisap sejentik darah mereka, dan meninggalkan bentolbentol. Tamparan-tamparan kecil datang menyambar ketika nyamuk sudah terbang; terlambat.

”Hidup kami ditopang oleh usaha ayah itu. Ia jual beras, jagung, kacang-kacangan, dan yang semacamnya. Aku ingat, kiosnya tepat di ujung pasar, di sebuah blok yang memang khusus untuk para penjual beras dan sayur-mayur. Ada belasan pedagang beras kecil seperti ayah, berbisnis dengan penuh kesederhanaan khas kota kecil kami. Hingga suatu ketika ….” ”Pasarnya dibakar?” ”Bukan.” ”Pencurian?” ”Bukan.”

”Lalu?”

Si Gondrong menggaruki ujung hidungnya yang  tak gatal, penuh ekspresi, dan melanjutkan:

”Kemudian datang seorang saudagar kaya entah dari mana. Ia membeli delapan kios sekaligus, tepat di tengah-tengah gerombolan pedagang-pedagang beras kecil itu.”

Ia masih menggaruki ujung hidungnya, mencari kesibukan agar terlupa pada kondisi perutnya yang merongrong minta diisi makan. Keempatnya dalam kondisi kelaparan yang mengibakan. Tapi cerita harus segera dilanjutkan:

”Ia … saudagar kaya itu …  juga  berjualan  be ras. Melimpah-limpah. Kiosnya yang delapan buah itu penuh dengan beras. Bahkan setahuku, di rumahnya ia bangun pula semacam gudang, tempat persediaan beras bisa ditimbun.

Para pedagang kecil seperti ayahku, sebelumnya tidak risau benar dengan kedatangannya, karena pada umumnya, mereka punya pelanggan sendiri. Terutama ibu-ibu rumah tangga yang telah mereka kenal.

Ketenteraman pasar kami yang mungil masih terasa sampai suatu ketika, si saudagar kaya mulai menjual beras seharga empat ratus rupiah.” ”Setan kapitalisnya mulai muncul,” Si Kaki Pincang berkomentar.

”Begitulah,” kata Si Gondrong.

”Apa yang terjadi kemudian?” tanya Si Wajah Melankolis.

”Kau tahu,” kata Si Gondrong. ”Kalau beras dijual empat ratus rupiah per kilogram, itu berarti kau dapat untung yang sedikit benar. Tak adalah artinya untuk bisa menghidupi keluarga. Tapi tidak menjadi soal buat si saudagar besar itu. Ia punya banyak uang, dan sekarang, karena menjual lebih murah, ia bisa menjual lebih banyak.

Ibu-ibu rumah tangga, penginapan-penginapan, warung-warung makan, yang semula menjadi pelanggan di kios-kios kecil seperti milik ayahku, mulai berpaling dan berbelanja di tempat saudagar kaya. Akhirnya, ayahku dan pedagang kecil lain bersepakat untuk menurunkan harga sampai empat ratus rupiah juga. Tak apalah dapat sedikit untung, daripada tak terjual sama sekali, begitu mereka pikir.”

”Aku sudah yakin dari dulu, kapitalisme tak memiliki sisi kemanusiaan sama sekali,” kata Si Baret Guevara. ”Kalau ada orang berkata kapitalisme telah jadi humanis, ia tak kenal kapitalisme dengan sungguh-sungguh.” ”Teruskanlah ceritanya,” kata Si Wajah Melankolis

kepada Si Gondrong.

Si Gondrong menuruti:

”Begitulah. Beras dijual empat ratus rupiah per kilogram, ketika harga seharusnya lima ratus rupiah. Para pelanggan kembali lagi, dan karena dianggap murah, banyak yang memborong, hingga persediaan beras para pedagang kecil itu habis sebelum pemasok datang. Mereka tak berjualan hingga pemasok muncul di kota kecil kami beberapa hari kemudian.

Tapi ternyata ayahku dan para pedagang kecil lainnya tidaklah bisa mendapatkan beras sebagaimana biasa. Beras yang dimiliki pemasok diborong saudagar kaya yang berani bayar lebih mahal. Para pedagang kecil mulai ribut, dan kebangkrutan mulai membayang di depan mata. Mewakili kawan-kawannya, ayahku menemui si saudagar kaya untuk merelakan sebagian berasnya dibeli para pedagang kecil. Si saudagar kaya setuju, asal harganya memuaskan. Berapa? tanya ayahku. Enam ratus rupiah, jawab si saudagar. Kau gila! kata ayah. Terserah, kalau kau mau jualan, beli berasku seharga enam ratus rupiah, si saudagar bersikeras.

Ayah hanya berdiri menahan marah yang memba-

kar kepalanya. Katanya, baiklah. Ia kemudian pulang, mengambil golok, dan datang kembali, membunuh si saudagar kaya. Itulah kenapa ia kemudian ditangkap dan dipenjara.”

Kesunyian yang mengerikan tiba-tiba melanda, diisi oleh helaan napas berat keempat kawanan itu.

* * *

Ketika malam  semakin  bergerak, mereka  beranjak dari tempat duduknya yang berupa balok-balok beton penghias taman. Tersaruk-saruk mereka menelusuri koridor ruang-ruang kuliah, menuju ruang kantin.

Meja-meja dan kursi-kursi berderet tak teratur, sebagaimana terakhir kali ditinggalkan para mahasiswa siang tadi, ketika kantin tutup. Keempatnya tak pernah mampir di kantin tersebut kalau siang karena harganya mahal. Hanya mahasiswa-mahasiswa asing dan mahasiswa-mahasiswa borjuis biasa makan di situ, memisahkan diri dari gerombolan mahasiswa lain yang makan di kantin kumuh di samping tempat parkir.

Keempatnya menemukan kotak makanan tergeletak di meja makan. Seporsi makanan yang nyaris masih utuh, hanya bekas sedikit dicicipi. Tampaknya si pelanggan keburu tak berselera. Si Gondrong menciumi makanan itu dan berkata:

”Tidak basi!”

Keempat kawanan itu lalu memakannya bersamasama. Mengobati rasa lapar untuk malam hari mereka yang tak begitu indah, yang segera akan mereka lalui.

S E L E S A I
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊