menu

Corat Coret Di Toilet : Hikayat Si Orang Gila

Mode Malam
Hikayat Si Orang Gila

Orang gila itu tidak bernama, sedang duduk di pojok jalan. Di  atasnya, selembar  kain  koyak  dengan  kata ’referendum’ yang nyaris tak terbaca masih membentang. Ia berdiam di situ, di sudutnya yang paling aman, menatap nanar pada hal-hal yang baginya sendiri terasa ajaib.

Jauh di luar sana, salak senapan bersahutan seperti serigala di malam purnama. Orang-orang, para penghuni kota mungil itu, ribut berlarian dengan teriakanteriakan yang tidak mungkin dipahami Si Orang Gila. Mereka menjinjing barang-barang yang dikemas dalam buntalan-buntalan kecil, dan keluar rumah dalam gerakan-gerakan bergegas. Berebutan naik ke atas truk-truk yang seketika sudah dijejali manusia.

”Orang Gila!” teriak seseorang tiba-tiba di sampingnya.

Si Orang Gila menoleh. Seorang gadis  tengah berdiri di depannya, menatapnya dengan cemas.

”Ayo pergi! Kau bisa mati di sini!” Ia memperingat-

kan. Si Orang Gila hanya memandangnya tanpa reaksi. Ia mengenalinya sebagai gadis yang hampir tiap pagi memberinya makanan, tak lebih dari itu. Sampai sejauh ini, ia pun hanya menduga si gadis akan memberinya sesuatu yang dapat dimakan.

”Ayo, tinggalkan kota!” kata si gadis lagi. Masih tak ada reaksi.

Kemudian rentetan senjata mulai terdengar kembali. Bergemuruh dan bersahutan. Bergerak semakin mendekat.

”Cut Diah! Cepat kau! Berangkat kita!” seorang perempuan tua berteriak dari atas truk.

Si gadis masih menatap Si Orang Gila dengan cemas, dan perlahan mundur berlari menuju truk.

* * *

Setelah beberapa hari berlalu, kini ia merasa lapar. Di kota kecil yang mati itu ia terseok sendirian, mencoba mengais sampah. Tiada juga ada makanan. Ia telah kalah gesit dengan tikus-tikus dan kucing liar. Tak ada lagi Cut Diah yang berbaik hati memberinya makanan. Juga tak ada Wak Haji yang kerap memberinya roti dari toko.

Ia terdampar kemudian di sebuah bangunan sekolah yang separuh hangus terbakar. Papan tulis, kursi dan meja telah menjadi arang. Foto presiden (presiden lama yang sudah terguling, bukan karena penguasa sekolah tidak tahu keberadaan presiden yang baru, tapi hal sepele mengganti foto tidak sempat mampir di ingatannya), masih tergantung sebelum dilalap api.

Asap hitam membumbung di mana-mana dan Si Orang Gila masih tidak menemukan sesuatu untuk dimakan.

Ia mulai asing dengan dunia dan dengan apa yang terjadi. Ketika siang datang dan pemberontakan di dalam perutnya semakin menjadi-jadi, ia mencoba masuk ke dalam rumah-rumah yang tersisa melalui pintu atau jendela yang telah dibongkar secara paksa oleh seseorang. Tapi ia tetap tak menemukan apa-apa.

Akhirnya ia mengulum potongan kayu dan duduk lemas di trotoar.

Dari arah selatan berjalan perlahan sebuah truk tentara yang memuat sekelompok prajurit. Suara mesinnya yang meraung-raung masih terkalahkan oleh teriak nyanyian kelompok prajurit itu. Mereka berdendang, berjingkrak-jingkrak, sampai truk kadang oleng dibuatnya. Menyanyikan lagu-lagu kemenangan yang mirip nada orang-orang mabuk daripada nada patriotik para pahlawan.

Makhluk-makhluk seperti itulah, manusia  yang hidup, yang kadang muncul di atas truk-truk di hadapan Si Orang Gila di hari-hari belakangan ini. Selebihnya hanya kesunyian. Dan mereka bukanlah orang-orang yang boleh diharapkan bagi Si Orang Gila. Kelakuan mereka menyebalkan, kadang melemparinya dengan benda macam apa pun atau menggertaknya dengan tembakan. Naluri Si Orang Gila seolah mengatakan bahwa mereka bukanlah malaikat penolong bagi perutnya yang kelaparan.

Para prajurit di atas truk semakin ribut ketika mereka melewati Si Orang Gila. Lagu semakin keras berbaur dengan teriakan-teriakan yang lucu menurut mereka.

Si Orang Gila,  sebagaimana seharusnya, tidak peduli.

”Teman-teman,” kata seorang prajurit. ”Aku yakin ia salah satu anggota gerombolan itu.”

”Betul!”

”Ayo bunuh!”

Dan meletuslah senjata-senjata, melemparkan peluru-peluru ke arah Si Orang Gila. Tapi semuanya luput. Mungkin Tuhan melindungi si orang kelaparan itu, atau mungkin juga karena tololnya para penembak. Siapa yang tahu? Hingga kemudian truk sudah menjauh meninggalkan sisa-sisa lagu dan tawa yang sumbang.

* * *

Dini hari yang beku datang tanpa diiringi nyanyian burung-burung sebagaimana biasa, karena burung-burung pun pergi mengungsi, bermigrasi ke kantung-kantung yang lebih bersahabat. Bahkan burung gereja yang hanya terbang sepuluh-dua puluh meter pun, telah menghilang tanpa jejak.

Embun menetes-netes membasahi puing-puing kota, membasuh bara api yang masih memerah di sana-sini. bau karbon terhirup di mana-mana, membubung di udara bercampur dengan bau mesiu.

Si Orang Gila terbangun karena perasaan dingin yang menggigilkan tubuhnya, ditambah rasa lapar yang tak kunjung pergi. Ia belum juga makan sejak serangan lapar itu menyerang pertama kali. Lemah, gemetar dan merana, ia duduk di trotoar. Mulai terbiasa dengan kesunyian yang menyapanya.

Nalurinya yang terus bekerja memaksanya berdiri ketika matahari muncul dan mulai menghangatkan kota mungilnya. Ia mulai memeriksa tong-tong sampah lagi, sesuatu yang sudah dilakukannya berkali-kali dan tetap tak menemukan makanan. Matanya mulai menatap sayu, sedih dan menderita. Tubuhnya yang kotor dan dekil, yang dibalut celana pendek dan oblong terkoyak-koyak, tak dapat menyembunyikan kepucatan kulitnya.

Dan ia mulai menjilati daun-daun basah. Meminum airnya dan mengunyah daunnya. Pahit. Ia lepahkan lagi. Ia ingin makan. Ia lapar.

Nun jauh di sana, di suatu tempat, bunyi mesin perang mulai terdengar lagi. Mulanya perlahan, lalu mulai bersahutan. Terseok-seok menopang tubuhnya yang hanya meninggalkan belulang, kaki Si Orang Gila mulai melangkah menelusuri jalan menuju sumber bunyi itu. Mungkin ia hanya menduga salakan senapan pembunuh itu bisa memberinya makan. Memberi sesuatu untuk perutnya yang menyedihkan itu. Maka ia tinggalkan kota  kecilnya  yang  telah demikian ia akrabi. Tak ada orang yang melepas kepergiannya, pun tak ada orang yang menangis untuknya.

Ia mulai masuk jalanan berbatu dengan tanah liat yang mengering pecah-pecah. Di sana-sini banyak bekas jejak roda truk yang besar, membentuk jalur-jalur semrawut tanah liat. Debu beterbangan diterpa kakinya yang diseret-seret. Kehadiran Si Orang Gila disambut kesuraman lain bebukitan, yang semak-semaknya merengut pilu.

Bahkan bangkai cacing pun tak ia temukan untuk dimakan. Si Orang Gila terus berjalan di tengah rasa laparnya.

* * *

Ia sudah terkapar tak berdaya ketika sampai di pinggiran sebuah desa. Amblas bersama tanah, debu dan belukar. Tak jauh darinya, bunyi senapan nyaring terdengar. Menderu membabi-buta melemparkan bau mesiu.

Matanya nanar menatap perkampungan dan bibirnya bergetaran hebat. Di sanalah, di sanalah, otaknya bekerja dengan susah-payah, di sanalah kau bisa temukan makanan untuk menunaikan tugas besar kehidupan: berperang melawan kematian.

Lalu mesin perang semakin galak terdengar, disusul oleh deru telapak kaki dari arah desa. Sekonyong-konyong ia saksikan orang-orang berhamburan, berlarian. Teriakan nyaring, ribut, ketakutan, berbaur membentuk harmoni yang mengibakan, dilatari bunyi letusan senjata.

Si Orang Gila hanya menatap kosong dan mengerang tanpa makna, kecuali hasrat membunuh rasa laparnya, pada orang-orang itu. Perempuan-perempuan menggendongi anak-anak mereka yang masih kecil sambil menangis dan mencoba menghentikan anak mereka yang menjerit-jerit. Yang laki-laki, kebanyakan tua, membawa apa saja yang bisa mereka bawa.

Seseorang sempat mendengar erangan Si Orang Gila. Ia berhenti dan menatapnya.

”Orang Gila, kau bisa mati di sini!”

Kemudian ia berlalu lagi, mengikuti rombongan penduduk yang terbirit-birit. Lari ketakutan dari moncong-moncong senjata.

Dengan tenaganya yang tersisa, Si Orang Gila merangkak menelusuri jalan setapak menuju perkampungan. Rombongan yang bergegas itu telah hilang, hanya meninggalkan jejak-jejak kaki di jalanan berdebu. Juga darah yang tercecer-cecer. Pergi jauh, meninggalkan suara jeritan pilu pengungsi yang tak berdosa.

Tinggallah Si Orang Gila yang tengah memperjuangkan hidupnya pula dari kelaparan. Sekarang, apa bedanya mereka dengan Si Orang Gila? Sama-sama korban perang-perangan konyol yang menyedihkan. Bermenit-menit berlalu dan Si Orang Gila terus menyeret tubuhnya. Seperti binatang korban perburuan.

Usahanya yang demikian itu nyatalah tidak sia-sia. Namun serombongan prajurit kemudian muncul dari lubang-lubang gelap hutan rimba, menyerbu desa yang telah ditinggalkan penghuninya itu. Si Orang Gila hanya bisa menatap bagaimana mereka menembak membabi-buta, lalu tertawa penuh kemenangan disambung lagu-lagu monoton yang membosankan.

Orang-orang itu mulai masuk menggeledah setiap rumah sambil berteriak-teriak, dan setelahnya rumahrumah itu mereka bakar, menyisakan puing-puing dan bara dan abu. Memang bagi seorang prajurit tiada yang menyenangkan daripada memperoleh rampasan perang dan itu mereka perlihatkan tanpa malu-malu.

Secepat mereka datang, secepat itu pula mereka pergi. Membawa apa pun yang dapat mereka bawa. Pergi mencari ladang perburuan yang baru.

Si Orang Gila akhirnya sampai pula di desa itu, desa yang telah menjadi sampah, hancur-lebur tanpa berdaya. Ia hanya menemukan rumah-rumah yang telah  men jadi arang; tak dapat diharapkan. Meskipun begitu ia seharusnya cukup bersyukur ketika menemukan sebuah rumah yang tampaknya masih utuh, walau di sana-sini jelas begitu porak-poranda, serta pada kenyataan bahwa ia masih hidup.

Dengan tulang, daging dan darah yang tersisa, Si Orang Gila memasuki rumah tersebut. Sebagaimana di luar, ia saksikan kehancuran itu di dalam. Porak-poranda ditebas sangkur dan peluru.

Tapi ia tak menemukan apa-apa untuk dimakan. Apa pun isi rumah tersebut, tentunya telah dibawa oleh si pemilik. Dan kalau saja ada satu hal yang tersisa, tentu telah digondol oleh para prajurit yang menjarah. Tak ia temukan apa-apa. Bahkan remah-remah nasi pun tidak ada. Ia lapar dan tergeletaklah ia mulai mengerang.

Tanpa makan berhari-hari dan kemudian demam, Si Orang Gila akhirnya mati di situ. Terkapar tak bernyawa.
S E L E S A I
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊