menu

Corat Coret Di Toilet : Dongeng Sebelum Bercinta

Mode Malam
Dongeng Sebelum Bercinta

Beberapa saat sebelum pernikahannya, Alamanda meminta kepada calon suaminya untuk mendengarkan dongeng sebelum mereka bercinta di malam pertama. Dan karena begitu jatuh cinta kepada Alamanda, sang calon suami mengabulkan permintaan itu. Ia bahkan menambahkan permohonan aneh tersebut sebagai mas kawinnya.

”Kita akan bercinta begitu dongengnya selesai,” kata Alamanda dengan kemanjaan yang dibuat-buat.

”Ya,” kata si calon suami dengan penuh nafsu. ”Kau pasti akan memberiku dongeng tentang siluman mesum.”

Alamanda tersenyum dan berkata, ”Aku akan dongengi kau Alice’s Adventures in Wonderland.”

Upacara pernikahan mereka pun kemudian berlangsung. Sebuah pesta yang agak menjemukan bagi Alamanda. Si calon suami sebenarnya bukan orang asing baginya. Ia kakak sepupunya dan ketika kecil mereka bahkan bermain bersama. Itulah mengapa ia menganggap upacara pernikahan itu agak menjemukan: pernikahannya hanya dihadiri kerabat-kerabat mereka yang melimpah seperti pasukan perang, tapi tak satu pun sahabat dekatnya yang tampak. Ini bisa dimaklumi. Upacara pernikahannya berlangsung tanpa rencana yang panjang dan agak mendadak, serta dilaksanakan bukan di kota yang ditinggalinya selama tiga tahun terakhir, di mana kebanyakan sahabatnya berada.

Dan di malam pertama setelah hiruk-pikuk yang menyebalkan, mereka kemudian berbaring di atas tempat tidur mereka yang menawan dengan warna kuning menggoda, warna kegemaran Alamanda. Kamar pengantinnya dihias sedemikian rupa, dengan udara semerbak aroma mawar yang sepenuhnya memancing hasrat si suami. Tapi ia sudah berjanji untuk bersabar sementara Alamanda mulai mendongeng.

”Alice anak badung yang malas membaca ” Be-

gitu dongeng itu berawal.

Sebenarnya Alamanda tak mahir mendongeng. Tapi setidaknya ia pernah mendengar dongeng dan mencoba meniru cara seseorang mendongeng. Satu jam lebih ia mendongeng hingga berhenti setelah napasnya tersengal-sengal. Ia minum air putih dari gelas yang tergeletak di samping tempat tidur, lalu menoleh ke sang suami yang tengah berbaring menatap langit-langit dengan jemu dan bahkan gemas. ”Kau boleh peluk aku, Sayang!” kata Alamanda merasa kasihan.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, si suami merengkuh tubuh Alamanda yang dibalut pakaian tidur.

”Tapi kita tak akan bercinta sebelum dongengku selesai.” Alamanda mengingatkan.

”Kalau begitu cepatlah selesaikan,” kata si suami tak sabar.

”Kau mendengarkan tidak?” ”Tentu saja, Sayang.” ”Sampai di mana barusan?”

”Alice minum sesuatu dari botol.”

”Oh ya,” kata Alamanda sambil memejamkan matanya. ”Tapi aku lelah, Sayang,” katanya kemudian. ”Dongengnya kita lanjutkan besok saja. Bersambung.”

Ia hanya mendengarkan gerutuan kecil suaminya.

Keesokan harinya mereka berkemas, siap pergi berbulan madu yang diharapkan si suami sebagai saat terindah bagi mereka. Bersenang-senang di Pulau Bali, berbaur dengan orang-orang dari penjuru dunia seperti anak-anak hilang. Bahkan hal ini sudah dijanjikan si suami beberapa waktu sebelum mereka menikah.

Yah, suaminya cukup banyak uang untuk janji seperti itu. Ini yang agak menghibur Alamanda. Ia punya sebuah toko, warisan dari ayahnya yang cukup memberinya banyak keuntungan. Lagipula si suami sebenarnya cukup tampan juga: putih dan tinggi serta agak bisa berpikir. Cuma sayang saja Alamanda tak begitu mencintainya. Tapi kenapa ia begitu  nekat  mempertaruhkan hidupnya menikah dengan lelaki itu?

”Ibu dan ayahku tak pernah saling mencintai sebelumnya. Tapi nyatanya mereka bisa sampai memiliki lima anak. Begitulah, kuharap aku bisa mencintainya sedikit demi sedikit,” kata Alamanda kepada Mei ketika  ia naik kapal di Pelabuhan Semarang, siap pulang dan memutuskan menikah di kampung halamannya.

Kenyataannya ia dalam keadaan tak berdaya. Ia seolah sudah ditakdirkan untuk bersanding dengan si orang menyebalkan itu sejak ia berusia sepuluh tahun. Ia sampai sekarang tak habis pikir kenapa ayahnya sesinting itu menjodohkan dirinya dengan sepupunya sendiri bahkan sejak ia masih bau ingus. Pada awalnya Alamanda mencoba bersekongkol dengan sepupunya agar perjodohan sial itu bisa gagal. Tapi brengsek, si sepupu malah jatuh cinta kepadanya dan serius ingin menjadikannya sebagai isteri. Alamanda sampai curiga jangan-jangan lelaki ini tak benar-benar cinta kepadanya, tapi memang tak mampu mencari perempuan lain.

Tapi apa pun yang terjadi, ia akhirnya jadi isterinya. Ia ternyata bukan gadis kuat yang mampu memberontak terhadap kutukan indah si ayah. Ia pun bukan gadis yang keras kepala ketika menghadapi sepupunya yang hampir menangis memohon kepadanya agar mau menjadi isteri.

Begitulah akhirnya di sini, di Bali, Alamanda mencoba mencintainya. Sedikit demi sedikit. Mereka menghabiskan pagi hari yang semarak dengan menelusuri Pantai Kuta, duduk di pasir yang basah dan mencoba tampak romantis. Kemudian mereka berjalan menelusuri trotoar berebut dengan para turis, belanja kaus oblong dan suvenir di Toko Joger, makan di restoran seafood, diantar taksi untuk keliling sampai Denpasar dan kembali ke hotel mereka yang terletak di jalan menuju Bandara Ngurah Rai menjelang malam.

Dengan tubuh yang kelelahan akhirnya mereka masuk kamar dan terkapar di atas tempat tidur. Meskipun begitu, si suami menatap Alamanda pada wajah cantiknya yang menggoda. Ia belai rambutnya, ia cium pipinya dan juga bibirnya yang tipis memerah, serta lehernya yang jenjang. Tangannya menggapai kancing baju dan jari-jarinya dengan lincah mencoba membuka blus yang dikenakan sang isteri. Alamanda segera berbisik lembut:

”Kita akan melanjutkan dongeng itu.”

Si suami berguling menjauh, memeluk guling dan menggigit ujung bantal. Ia lebih memilih tidur bahkan sebelum Alamanda melanjutkan dongeng Alice’s Adventures in Wonderland tersebut.

Alamanda bangkit dan duduk di tepian tempat tidur, memandang si suami yang ngorok tanpa malu. Kasihan juga sebenarnya. Tapi bagaimana lagi, dongengnya sebelum bercinta ia anggap sebagai perlawanan terhadap kekolotan tradisi keluarganya.

Sebenarnya, bukan tak pernah Alamanda memberontak terhadap perampasan haknya untuk menentukan sendiri pendamping hidup. Sewaktu  ia  masih di sekolah menengah, ia kencan dengan teman sekelasnya. Favorit jago olahraga, tampan meskipun selera humornya agak parah. Ia merasa tersanjung bisa mendapatkannya karena seluruh anak gadis di sekolah mendambakan lelaki ini.

Pernah ia ingin berbuat nekat agar si ayah tahu benar bahwa ia tak mencintai dan tak ingin menikah dengan sepupunya. Suatu waktu ketika ia dan kekasihnya serta beberapa teman pergi tamasya, ia menculik sang kekasih ke sebuah hutan kecil dan merajuk:

”Sayang, perkosalah aku!”

Sang kekasih hanya diam mematung. Bahkan memegang tangannya pun tidak. Ya ampun, belum pernah  ia membayangkan ada lelaki menolak tawaran indah macam begitu.

Dan ketika suatu waktu mereka tengah berduaan kembali, Alamanda merajuk sekali lagi:

”Culiklah aku, Sayang, dan kita akan kawin lari ”

”Jangan bodoh!” kata si kekasih. Gemetar.

Begitulah. Sesungguhnya sang kekasih memang bukan orang yang pantas untuk diharapkan menjadi seorang pembebas: tak lama sejak peristiwa konyol itu mereka kemudian lulus dari sekolah menengah dan kisah cinta mereka pun berakhir begitu saja. Sang kekasih konon melanjutkan karier masuk ke Angkatan Laut. Ingin sekali waktu itu Alamanda menulis surat kepada Yang Terhormat Tuan Panglima, memberi tahu bahwa  tentara telah melakukan kesalahan besar menerima seorang pengecut macam itu! Ya, pengecut yang telah mencampakkannya lagi ke dalam totalitarianisme sang ayah yang kaku. Uh, brengsek!

Tak sadar, Alamanda benar-benar mengumpat sehingga suaminya terbangun. Ia berbalik dan memeluk Alamanda, mencumbu dan merayunya:

”Sayang, mari kita bercinta.”

”Dongengnya belum selesai,” kata Alamanda. ”Tapi aku ingin bercinta.”

”Diam!” kata Alamanda marah. ”Kau kan sudah janji mau mendengarkan dongeng sebelum kita bercinta!”

Mendengar nada suara Alamanda yang meninggi, nyali si suami menjadi ciut. Ia berbalik lagi, mendekap guling lagi, menggigit ujung bantal lagi dan  ngorok lagi.

Alamanda melanjutkan lamunannya.

Pemberontakannya yang kedua ia lakukan ketika menjadi mahasiswi di Yogyakarta. Jauh dari  keluarga, ia seolah memperoleh kebebasannya. Ia kencan dengan seorang gembel. Seorang mahasiswa dengan prestasi agak buruk: miskin, pemabuk dan hidup hanya untuk bermain musik bersama teman-temannya. Tapi ia sangat romantis, dan di matanya ia melihat suatu keberanian hidup. Si gembel suatu ketika pernah berkata:

”Orangtuaku tuan tanah licik, borjuis menyebalkan. Walaupun miskin, aku telah terbebas dari mereka dan tak ada kesulitan kalau harus membebaskan seorang lagi. Apalagi gadis secantikmu, Alamanda.”

Mereka kemudian  melalui  empat  belas  bulan yang indah sampai pemberontakan ini tercium hingga seberang pulau. Ayahnya berang dan mengancam tak akan membiayai hidupnya lagi jika masih bersama si gembel. Dan sepupunya: ia bahkan menyempatkan diri datang ke Yogya.

”Sayang,” kata sepupunya. ”Aku sudah melamar kepada ayahmu.”

”Begitu?” Alamanda berkata acuh tak acuh. ”Kapan kau akan menikah dengan ayahku?”

”Denganmu, Sayang.”

”Uh.” Alamanda hanya bisa memonyongkan mulutnya. Lalu ia berdiri dan menoleh. ”Dengar, Sepupu. Kau rugi besar kawin denganku karena aku gadis yang urakan, tak bisa mengurus rumah.”

”Kita akan punya pembantu.” ”Aku tak bisa memasak.”

”Kita akan makan di restoran.”

”Kau ini tolol atau goblok, sih?” tanya Alamanda kesal.

”Ayahmu dan aku sudah memutuskan pernikahan kita tanggal dua belas bulan depan.”

”Apa?”

”Kau mau mas kawin apa?”

Alamanda nyaris pingsan ketika  itu.  Seperginya  si sepupu, ia menghabiskan hari-harinya yang terasa bergerak cepat dengan mencoba mabuk sebagaimana kebiasaan si gembel sampai ia tak bisa menahan diri untuk tidak bercerita kepadanya.

Di luar dugaan, si gembel hanya  berkata: ”Sekarang terserahmu, Alamanda. Kalau kau kawin

dengan sepupumu itu, kau mungkin hidup  enak. Kau  tak akan dikucilkan ayah, ibu dan saudara-saudaramu. Kau punya rumah besar, kendaraan, bisa nonton MTV, makan di kafe dan hidupmu indah. Atau kau memilih kawin denganku? Ayahmu tak akan menganggapmu anak lagi dan kau terpaksa tinggal di pondokanku yang cuma tiga kali tiga meter dan kalau hujan deras agak sedikit basah di pojok sebelah kiri. Juga harus mencuci bajumu sendiri, juga harus makan yang tak enak, karena kita tak akan punya banyak uang. Tapi kau punya bonus: suami yang romantis dan cerdas, hahaha  ”

Alamanda tak berani mengambil suami yang romantis dan cerdas serta memutuskan pulang sebagai gadis yang kalah.

”Nah, kan!” Tiba-tiba suara suaminya membuyarkan semua lamunannya.

”Kenapa?” tanya Alamanda. ”Aku ngompol,” jawab si suami. ”Sebesar ini kau ngompol?”

”Bukan ngompol anak-anak, Sayang.”

Ingin sekali Alamanda tertawa dengan kekonyolan itu, tapi ia tahan. Ia hanya melotot, membuat si suami menciut kembali nyalinya. Ketika malam telah benar-benar hening, kecuali nada monoton dari laut, Alamanda kemudian ikut berbaring kembali. Menarik selimutnya dan tertidur dengan harapan mimpi indah bercinta dengan si gembel yang telah ditinggalkannya.

Bulan madu mereka yang ternyata tak begitu indah karena dongeng Alamanda tak kunjung selesai berakhir seminggu kemudian. Mereka harus kembali dan memulai hidup sosial mereka sebagai pasangan yang pura-pura serasi.

Hingga suatu hari, tepatnya di hari keempat puluh dua pernikahannya, Mei sahabatnya menelepon di tengah malam ketika tarif telepon sedang murah meriah. Mereka mengobrol dan membicarakan banyak hal sampai kemudian Mei menjerit terkejut.

”Apa? Kau belum bercinta dengan suamimu?” ”Ya.”

”Lebih dari sebulan? Kau gila?”

”Aku sudah berjanji untuk mendongeng Alice’s Adventures in Wonderland. Setiap malam aku mendongeng dan sampai sekarang dongengnya belum selesai. Bahkan aku belum masuk bagian Through the Looking Glass.”

”Kau ini gila atau sinting? Selesaikan dongengmu malam ini juga dan kau rasakan bagaimana rasanya bercinta. Dengar, kau bukan Syahrazad yang lihai membual. Pada saatnya, suamimu akan bosan dan mungkin ia memutuskan memenggal kepalamu dengan golok.”

”Tapi aku takut.” ”Takut apa?”

”Takut ia tahu kalau aku tidak perawan.”

Alamanda kemudian  teringat malam-malamnya bersama si gembel dalam permainan cinta yang indah. Pada malam-malam seperti itu si gembel akan mendongeng, sebuah dongeng pendek yang tidak bersambung, sebelum mereka dengan liar bercinta.

S E L E S A I
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊