menu

Corat Coret Di Toilet : Dewi Amor

Mode Malam
Dewi Amor

Aku mengenal Laura pada  hari Senin yang lalu. Wak tu itu aku menemani seorang teman menemui adiknya  di kelas satu, dan sang adik tengah berbincang dengan Laura ketika ia kami temukan. Saat pertama itu saja aku sudah begitu tertegun. Betapa cantiknya! Ia begitu pendiam, bicara hanya sepatah-dua patah, seolah seluruh hidupnya diliputi satu misteri. Ingin sekali aku mengajaknya bicara, kalau bisa bercanda, tapi sungguh mati itu pekerjaan sulit. Ia sulit diajak tertawa dan dari menit ke menit ia lebih banyak menunduk atau memandangi adik sahabatku.

Saat itu sudah siang. Matahari sudah begitu sangat terik sebagaimana seharusnya di negeri kita yang tropis ini. Ketika bel berbunyi yang menandakan jam istirahat sudah habis, aku dan sahabatku masuk kelas. Di tengah udara panas seperti ini, dua jam pelajaran ke depan sungguh-sungguh merupakan saat penuh godaan untuk jatuh tertidur di atas meja. Aku tidak ngantuk sebagaimana biasa. Anganku telah sepenuhnya melesat kepada sosok pemilik wajah cantik itu. Aku teringat rambut hitamnya yang dipotong pendek sebahu, meliuk bak air terjun. Dan matanya yang sesekali kuintip, begitu sayu dan teduh, dengan alis mata yang menerawang tipis. Ketika kami tertawa, ia cuma tersenyum sedikit. Sedikit saja seolah ia cuma menggeser garis bibirnya ke samping. Ya ampun, ia bagaikan teka-teki yang menawan! Bagaikan bulan purnama yang cemerlang namun penuh misteri. Bagaikan senja merah yang meriah namun menyimpan kesedihan.

Waktu dengan cepat berlalu. Bel terakhir akhirnya berbunyi. Saat itu aku sudah tahu bahwa aku, laki-laki tak tahu diri ini, telah jatuh cinta kepada Laura.

* * *

Perasaan ini sungguh-sungguh membuatku kacau luar biasa. Sepanjang sore itu, segalanya terasa serba salah. Jantungku  berdebar-debar  tak  kunjung  henti,  dan aku begitu inginnya hari segera menjadi malam dan malam menjadi pagi. Aku ingin segera berada di sekolah dan berjumpa dengan si cantik itu. Berkali-kali aku mendapati diriku sendiri tengah duduk menyendiri. Di kamar, beranda, toilet, dapur, di mana saja! Kubayangkan suatu hari Laura sunguh-sungguh menjadi kekasihku. Aku ingin berjalan berdua bersamanya, mungkin di suatu malam Minggu, dengan tangan bergandengan tangan dan kaki telanjang terbenam ke pasir basah di pantai. Kami akan kelelahan dan berhenti, membeli es krim, lalu menikmati hujan bintang yang gegap-gempita. Atau mungkin kami pergi ke bioskop; aku ingin mendekapnya dan membiarkan kepalanya jatuh di bahuku. Dari semua kemungkinan itu, yang paling kuinginkan adalah duduk berdua dengannya di suatu malam, ditemani sebatang lilin, kami makan kue tart (mungkin dalam rangka perayaan ulang tahun, atau bahkan hari bukan ulang tahun), serta diiringi lagu-lagu Elton John dari tape.

Ketika aku sedang mengkhayalkan itu semua, ti-

ba-tiba aku didera satu rasa takut yang mengerikan: bagaimana jika si cantik itu sudah memiliki kekasih? Memikirkan hal itu, aku merasa patah hati dan jantungku berdetak semakin kencang. Aku harus memastikan bahwa ia tak punya kekasih, dan sebelum ia sungguh-sungguh punya kekasih, aku harus dengan segera bertindak. Didorong oleh hasrat yang menggelora seperti itu, aku menelepon adik sahabatku. Tapi sungguh mati, ternyata aku tak berani menanyakan soal Laura kepadanya. Aku tak ingin orang lain tahu isi hatiku, dan dengan putus asa, aku hanya bilang ”Salah sambung!” tanpa memberi kesempatan adik sahabatku bertanya lebih banyak.

* * *

Namun suatu hari akhirnya aku tahu nomor telepon rumahnya melalui suatu penyelidikan yang saksama. Aku sudah merencanakan untuk meneleponnya, tapi sudah dua hari tak juga kulakukan. Demi Tuhan, apa jadinya kalau aku menelepon dan ia segera saja tahu bahwa aku tengah jatuh cinta secara menggebu-gebu kepadanya? Harus kuatur sedemikian rupa seolah-olah aku memperoleh nomor telepon itu secara kebetulan saja, dan aku pun harus merencanakan suatu percakapan yang sedikit memutar-mutar agar tak langsung diketahui bahwa aku tengah dimabuk cinta. Aku khawatir jika ia tahu aku jatuh cinta kepadanya, ia akan bilang-bilang kepada seseorang dan hal ini akan menjadi pergunjingan hebat di antara teman-temanku; jika itu terjadi, hancur sudah rencanaku memperoleh cintanya. Bagaimanapun juga aku harus memastikan dulu bahwa ia pun tertarik kepadaku sebelum kuperlihatkan bahwa aku tergila-gila kepada si cantik itu.

Sudah kuputuskan malam ini aku akan meneleponnya. Akan kukatakan kepadanya bahwa aku memperoleh nomor telepon rumahnya dari seorang teman. ”Aku dengar,” kataku, ”kau suka buat puisi. Kenapa kau tidak kirim ke majalah dinding? Ya betul, aku pemimpin redaksinya dan minggu-minggu ini kami kekurangan naskah.” Ia mungkin akan bilang bahwa ia malu mengirimkan puisinya. Ya, cuma puisi jelek. Tapi aku akan terus menyemangatinya. ”Atau bagaimana kalau kau membuat liputan teater? Aku dengar ada satu kelompok teater hendak mementaskan naskah Ibsen.” Aku tahu  apa  yang akan dikatakannya. Laura akan bilang, ”Aku tak berani nonton teater sendirian. Pentasnya pasti malam hari.” Dan aku akan segera memotong, ”Aku temani kau. Jangan khawatir, tiketnya aku tanggung, cuma kau harus tulis laporannya.” Ia akan terdiam sejenak, lalu setuju dengan syarat pulangnya aku antar.

Yap! Rencanaku begitu gemilang dan aku begitu berbunga-bunga. Sore itu segala sesuatu tampak begitu indah. Aku memandangi deretan kelelawar dengan latar langit yang kemerahan, memandangnya dengan sukacita yang gaib. Satu per satu cahaya lampu dari rumah menyala, begitu pula lampu jalanan, dan udara menjadi semakin gelap. Angin dingin menyergap, namun semua itu terasa indah belaka buatku. Dunia serasa sebuah puisi dan aku diselubungi kata-kata penuh kerinduan. Kuhabiskan waktu dengan berjalan ke sana berjalan ke sini, berbaring-baring, hingga akhirnya aku merasa sudah waktunya untuk menelepon. Kuangkat gagangnya dan kupijit tombol-tombolnya. Sesaat telepon berdering di sana dan seseorang, seorang perempuan (dari suaranya kuanggap setengah baya), mengangkat gagangnya seraya bertanya, ”Cari siapa?” Dengan jantung berdegup keras aku bertanya, ”Ada Laura?” Perempuan itu menyuruhku menunggu sejenak. Telingaku sayup-sayup mendengar suara langkah kecil mendekat dan berhenti di dekat telepon. Gagang diangkat kembali dan suara Laura yang lirih, mendayu, serta menggemparkan tanpa ampun menyerbu telingaku, ”Halo? Siapa?” Tapi aku sudah menutup telepon. Sambil berdiri bersandar ke dinding, keringat dingin mengucur di tubuhku. Aku tak sanggup! * * *

Kupikir aku harus sedikit mengakrabkan diri dulu dengannya sebelum aku melakukan pendekatan secara serius. Katakanlah secara kebetulan aku bertemu dengannya di suatu tempat dan kemudian aku akan mengajaknya bicara hal remeh-temeh. Aku mulai rencana itu pada keesokan harinya. Kutemui ia di kantin sekolah dan duduk di depannya seolah hal itu kebetulan belaka. Oh Tuhan, lihatlah betapa kau menciptakan makhluk cantik ini di depanku!

”Kudengar ada anak di kelasmu yang dijewer kepala sekolah?” tanyaku berbasa-basi sambil makan soto ayam penuh sopan-santun.

”Ya, betul! Dia memang kurang ajar. Naik ke bangku ketika ibu guru sedang tidak ada. Menari-nari dan mencoba melawak. Ia berjalan dari satu bangku ke bangku yang lain, menirukan cara tentara Jerman berbaris.  Ia bilang semua film yang menampilkan tentara Jerman sepakat cara mereka berbaris memang begitu.  Lihat  saja Seven Years in Tibet, atau Indiana Jones, atau Life is

Beautiful. Tahu tidak, ia pidato kepada seluruh anak di

dalam kelas, masih di atas meja, betapa berbahayanya orang-orang fasis itu! Kalau kita mendukung tim kita di olimpiade dengan suka cita, dia bilang itu nasionalisme sejati. Tapi kalau sampai membenci bangsa lain demi kejayaan bangsa sendiri, itu nasionalisme fasis! Begitu juga solidaritas kelas, jangan sampai jadi solidaritas gaya fasis! Tak tahu dari mana ia dapat bahan pidato seperti itu hingga tiba-tiba kepala sekolah datang dan ia langsung dijewer karena kekurangajarannya!”

Sayang sekali, jawaban panjang dan nyerocos itu tak datang dari mulut Laura. Itu suara temannya yang tibatiba datang dan duduk di samping kami. Hancur harapanku untuk sedikit merayunya.

* * *

Alam semesta mulai terbangun pada dini hari. Ayam jago berkotek di sana, burung bercicit di sini. Piring dan gelas beradu-adu di tempat cucian rumah tetangga dan di garasi mereka para lelaki tua memanasi mesin mobil atau motor. Nun jauh di sana seorang tetangga menyalakan radio dan terdengarlah siaran khotbah pagi hari. Saat itu cahaya matahari belum sepenuhnya  muncul, tapi butir-butir embun di dedaunan telah berkilap-kilap dan kupu-kupu terbang ke sana-kemari berkejaran. Aku sendiri sudah bangun sepagi itu, berjumpa dengan kucing kami yang masih menggeliat-geliat di atas keset.

Sekarang aku sudah lumayan sering berjumpa dengan Laura. Ya betul, aku telah mengetahui satu rahasia: ia ternyata berangkat sekolah pagi-pagi sekali! Seringkali lebih pagi dari petugas piket membersihkan ruangan kelas. Karena itulah, selama beberapa hari aku bangun pagi-pagi sekali, demi Laura. Setelah kukerjakan semua tugasku (yakni menyapu halaman dan mengisi bak mandi), aku mandi meskipun air masih sedingin es, dan pada jam setengah enam aku sudah meninggalkan rumah. Berdiri di pinggir jalan siap menyetop bus.

Sebagaimana kemarin-kemarin, aku bertemu Laura dalam perjalanan ke sekolah. Di atas bus. Aku duduk di sampingnya dan ia masih juga gadis misterius itu. Wajahnya sering menunduk, atau menoleh ke luar jendela dengan ekspresi malu-malu. Kalau kuajak ngobrol, jawabannya pendek-pendek saja. Kalau tersenyum, ia hanya memperlebar garis bibirnya. Ya, ampun! Padahal aku ingin bicara banyak, ingin bercanda dengannya, ingin merayu dirinya, dan pada akhirnya aku ingin bilang bahwa aku mencintainya. Bagaimana caranya?

Aku lihat ia mendekap  dua  buah  buku  pelajaran di atas pangkuannya. ”Boleh pinjam bukumu?” tanyaku. ”Untuk apa?” ia bertanya. ”Yah, pinjam saja.” Ia raguragu tapi aku terus memaksa sampai akhirnya ia menyodorkan salah satu buku itu kepadaku. Dengan penuh kepura-puraan aku membolak-balik halamannya, kemudian dengan gaya seorang pesulap amatir aku menyelipkan satu surat berwarna merah muda dengan parfum yang semerbak ke dalamnya. Itu surat cintaku untuk Laura. Kubuat hampir semalam suntuk. Kuberikan kembali buku itu dan jantungku berdegup semakin kencang.

* * *

”Sudah kau baca belum?” tanyaku kepadanya setelah beberapa hari berlalu saat  berimpitan di dalam bus sepulang sekolah. Tentunya dengan cara berbisik agar tidak terdengar anak yang lain.

”Sudah.” ”Bagaimana?” ”Apanya?”

Ya ampun!

Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, kemudian berbisik lagi di dekat telinganya. ”Kau terima tidak?”

”Tidak tahu.” ”Tidak tahu?” ”Iya, tidak tahu.”

”Suratnya balas, ya!” ”Nanti.”

Begitu sulitkah memiliki seorang kekasih? Terusterang aku jadi putus asa. Kegairahanku yang muncul belakangan ini menguap bagai tetes air di padang pa sir. Dini hari bukan merupakan rutinitas bangun pagiku lagi, dan aku berangkat sekolah agak siang, malu bertemu Laura. Ya, jangan-jangan ia menolak cintaku. Ia rupanya tak begitu antusias. Kalau ia membalas cintaku, seharusnya ia menjawabnya dengan segera. Aku jadi tak doyan makan, tak doyan main, tak doyan  mandi, dan  tak doyan apa pun kecuali mengurung diri sendiri. Aku tampaknya patah hati.

* * *

Puncak dari kehancuranku adalah saat kusaksikan dengan mata  kepalaku sendiri Laura tengah berjalan dengan seorang pemuda yang, apa boleh buat, sangat tampan. Mungkin tak menjadi persoalan seandainya mereka cuma sekadar berjalan bersama; lebih dari itu, mereka berjalan bergandengan tangan dengan kemesraan yang tak dibuat-buat. Betapa hancur hatiku! Alam raya seolah menjelang kiamat, udara terasa penuh polusi, dan ke mana pun memandang segala-sesuatu seolah kering-kerontang. Menahan kegeraman, kutendangi kaleng-kaleng rombeng di jalanan yang berdebu, melempari anjing-anjing kampung yang lewat dengan cara menyebalkan, atau menyobeki poster-poster iklan yang menempel di dinding toko dengan kasar.

Desas-desus ia memang kekasih Laura yang tak banyak dikenal orang. Katanya ia bersekolah di  tempat yang lain, atau mungkin sudah di universitas, siapa tahu? Yang jelas aku sangat cemburu, marah, dan merasa terlecehkan. Puncaknya terjadi ketika akhirnya aku bertemu dengan laki-laki itu. Tanpa bisa kukendalikan, didorong oleh amarah yang menggelegak di dadaku, aku melayangkan tinjuku kepadanya. Ia tampaknya tak begitu bersiap diri sehingga beberapa pukulanku mendarat di wajah dan  tubuhnya  tanpa  perlawanan, dan  ketika ia mulai hendak melawan, dirinya sudah begitu babakbelur. Orang-orang berlarian melerai sementara Laura berteriak-teriak menjerit histeris. Aku berlari saat lakilaki itu akhirnya tergolek di tanah.

* * *

Apa boleh buat, seluruh temanku – laki-laki atau perempuan – semuanya mencemoohku, mencibirku, dan menertawaiku; lihat laki-laki itu, berkelahi karena patah hati! Aku semakin hancur terpuruk. Aku tak memperoleh Laura dan sebaliknya, aku kehilangan banyak sahabat. Di tengah kemerosotan diriku yang tanpa ampun, satu kesadaran baru hinggap di kepalaku yang bebal ini.

Oh cinta, betapa ia bisa membuat orang melakukan apa saja, bahkan membuatnya gila sekali pun!
S E L E S A I
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊