menu

Cantik Itu Luka Bab 15 (Tamat)

Mode Malam
15 (Tamat)
Ketika suatu pagi Rengganis Si Cantik melahirkan seorang bayi laki­laki, semua ritual pagi orang­orang Halimunda segera saja dikhianati, dan berbondong­bondong mereka datang ke rumahnya untuk melihat. Banyak alasan bagi mereka untuk meninggalkan kewajiban memberi makan ayam dengan bubur dedak, atau mengisi bak mandi dan mencuci piring kotor. Pertama, Rengganis Si Cantik sangat dikenal penduduk kota, terutama setelah ia terpilih sebagai Putri Pantai Tahun Ini. Kedua, ia anak Maman Gendeng, yang juga sangat dikenal meskipun juga sangat dibenci penduduk kota. Ketiga, dan ini yang terpenting, setelah bertahun­tahun belum pernah dalam sejarah kota itu seorang gadis melahirkan seorang bayi karena diperkosa seekor anjing. Ketika dukun bayi yang mengurusnya memastikan bahwa yang keluar dari rahim Si Cantik sungguh­sungguh seorang bayi, mereka akhirnya harus menerima satu desas­desus lama bahwa Rengganis Si Cantik diperkosa seekor anjing cokelat bermoncong hitam, sejenis anjing yang bisa kau temui ke mana pun kau memandang di Halimunda sebagaimana kau menatap langit dan kau temukan bintang­bintang.

Kurang lebih sembilan bulan yang lalu, peristiwa itu terjadi di toilet

sekolah, tak lama setelah bel istirahat berakhir.

Semuanya berawal dari kebiasaan buruk bertaruh yang diwarisi dari ayahnya. Teman­temannya yang nakal menantangnya meminum lima botol limun, cuma­cuma jika ia bisa menghabiskannya tanpa sisa. Ia melakukannya, dan ketika bel masuk berbunyi ia membayar akibatnya sebab tiba­tiba ia merasa ingin ngompol. Bagaimanapun itu waktu yang buruk untuk kencing, sebab ada banyak anak sekolah pergi ke toilet, satu tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi untuk menambah jam istirahat dan memotong jam belajar. Kau akan terjebak dalam antrian yang kejam, sampai ketika tiba giliranmu, celana atau rokmu mungkin telah basah kuyup bau pesing. Tapi masuk kelas dan mengambil risiko ngompol di kursi juga tindakan yang tak bijaksana, bahkan Rengganis Si Cantik yang lugu itu juga tahu, maka ia segera berlari meninggalkan kantin dan teman­teman gadisnya yang tertawa cekikikan, menuju antrian yang jahat itu.

Ada empat belas toilet berderet dari ujung timur ke ujung barat bagian belakang gedung sekolah, tiga belas di antaranya telah ditunggui anak­anak sekolah yang berada di sana lebih karena ingin mencoba sebatang rokok yang diisap bergantian daripada untuk kencing atau buang tai, bersembunyi dari mata­mata sang kepala sekolah yang akan menghukum mereka berdiri di lapangan upacara bendera bagi siapa pun yang tertangkap basah merokok. Toilet terakhir tak pernah lagi dipergunakan, mungkin telah bertahun­tahun. Satu desas­desus mengatakan bahwa seorang gadis pernah mati bunuh diri di sana, beberapa yang lain mengatakan bahwa seorang gadis mencekik mati bayi haram jadah yang dilahirkannya di toilet tersebut. Tak satu pun dari desas­desus itu bisa dibuktikan, kecuali fakta bahwa toilet tersebut lebih mirip sarang dedemit daripada apa pun.

Sekolah itu sendiri telah ada sejak masa kolonial. Didirikan di sam­

ping perkebunan cokelat dan kelapa, sebelumnya merupakan Sekolah Guru Fransiscan, kedua­duanya milik orang­orang Belanda. Setelah orang­orang Belanda itu pergi, baik perkebunan maupun sekolah kemudian dimiliki pemerintah republik. Hal paling masuk akal mengenai toilet keempat belas adalah bahwa suatu ketika sebutir buah atau dahan pohon kelapa dari perkebunan jatuh menimpa atap toilet dan sekolah kekurangan anggaran untuk segera memperbaikinya. Bersama berlalunya waktu, daun­daun cokelat mulai diterbangkan dan masuk ke dalam ruangan toilet melalui atap yang bolong, diguyur hujan dan dijemur panas matahari. Jamur pertama mulai tumbuh, kadal kemudian bersarang di bawah tumpukan sampah, sarang laba­laba mulai muncul. Air di bak mandi segera saja dipenuhi telur nyamuk dan lumut serta ganggang, dan mungkin saja beberapa orang pernah terpaksa kencing di sana tanpa membanjurnya. Dan toilet itu pun mulai menjadi tempat penuh horor, hingga tak seorang pun bahkan berani berdiri di depan pintunya.

Tak terjamah hampir bertahun­tahun, hingga Rengganis Si Cantik memasukinya. Lima botol limun di dalam lambungnya mulai memberontak, dan ia merasa air itu mulai merembesi batas­batas pertahanannya. Tanpa punya pilihan lain, ia akhirnya menghampiri toilet terkutuk itu di mana ia melihat di dalamnya seekor anjing tersesat dalam perburuannya mengejar seekor kucing, dan tampak sedang mengendusi sampah daun­daun cokelat mencari jejak si kucing yang berhasil meloloskan diri melalui atap yang bolong. Ia seekor anjing kampung peranakan ajak, berwarna cokelat dengan moncong hitam, dan jelas tak ada waktu untuk mengusirnya. Maka Rengganis Si Cantik masuk dan menutup pintu, menguncinya, dan ia terjebak di dalam ruangan kecil tersebut bersama si anjing, hanya bisa diam terpaku ketika air kencingnya, tampaknya lebih banyak dari lima botol limun, mulai tumpah tanpa ia sempat membuka rok dan apalagi celana dalamnya. Hangat menjalar di paha dan betisnya, membasahi kaus kaki dan sepatunya.

Tak lama kemudian ia kembali melakukan kegemparan setelah

banyak kegemparan yang dilakukannya selama enam belas tahun kehidupannya yang lugu, ketika ia muncul di dalam kelas dalam keadaan setelanjang ketika ibunya melahirkannya. Semua anak terpukau di tempatnya, menjatuhkan buku dan kursi, dan bahkan guru matematika tua yang bersiap mengeluh karena papan tulis yang kotor, seketika menyadari bahwa impotensi yang dideritanya bertahun­tahun telah sembuh, menyadari tombaknya berdiri tegak sekukuh pisau belati. Semua orang tahu bahwa ia gadis paling cantik di kota itu, pewaris sejati Mama Rengganis Sang Putri, Dewi Kecantikan Halimunda, namun demi melihat tubuh bagian dalamnya yang secantik paras rupanya, bagaimanapun hal itu membuat semua yang ada di dalam kelas dilanda kesunyian yang menyedihkan.

”Aku diperkosa seekor anjing di toilet sekolah,” kata Si Cantik tanpa menunggu siapa pun bertanya.

Itu benar seandainya kau percaya terhadap apa yang ia ceritakan ketika ia terjebak ngompol di dalam toilet bersama si anjing. Selama lima menit pertama ia hanya diam tak berdaya memandangi rok, kaus kaki dan sepatunya yang basah meninggalkan bau pesing. Bahkan meskipun kemudian suara anak­anak di luar toilet tak lagi terdengar, ia masih di dalam toilet tersebut mengeluhkan kemalangannya. Otaknya yang sedikit menyisakan kebijaksanaan seorang gadis kecil, menyuruhnya membuka semua pakaian basah itu, semuanya termasuk pakaian atas dan kutangnya, didorong oleh ketidaksadaran yang aneh. Ia menggantungkan semuanya di paku­paku berkarat, berharap sinar matahari yang menerobos melalui atap bolong segera mengeringkan sisa­sisa air kencingnya, dan bagaikan para petualang yang menanti pakaian mereka di depan binatu, ia berdiri telanjang di hadapan si anjing yang seketika berahi. Saat itulah, Si Cantik akan bercerita, anjing itu memerkosanya.

”Dan ia bahkan membawa pergi semua pakaianku.”

Bagaimanapun, kecantikannya yang misterius dan keluguannya memberinya semacam roman kebinalan lahiriah. Siapa pun yang menemukannya telanjang dan terjebak bersama­sama di dalam toilet sekolah, bisa dipastikan akan memerkosanya. Ia memiliki semacam sihir yang membuat orang berharap menyetubuhinya, secara baik­baik maupun tidak. Hanya karena ayahnya jahat dan galak dan menakutkan bagi siapa pun yang tinggal di kota itu, ia masih seorang gadis perawan sampai pagi ketika anjing itu memerkosanya.

Maman Gendeng tak akan segan­segan membunuh lelaki mana pun yang berani menyentuh anak satu­satunya itu, tak peduli bahwa kecantikan si gadis selalu merupakan provokasi beracun di mana pun. Sifat kekanak­kanakannya yang tanpa dosa kadang membuatnya berdiri di pinggir jalan, menunggu bis, sambil mengangkat rok dan menggigit ujungnya. Dan jika angin jahat membawa udara panas yang tanpa ampun, ia mungkin membuka sedikit kancing kemejanya. Kau bisa melihat kulit yang lembut yang membungkus betis dan pahanya, semuanya hanya milik para bidadari, dan lekuk dada yang cantik milik seorang gadis enam belas tahun. Tapi jangan terlalu lama menikmati provokasi semacam itu, sebab kau akan dilanda ketakutan bahwa cepat atau lambat ayahnya tahu bahwa kau memandang si gadis dengan berahi, dan Maman Gendeng mungkin datang ke rumahmu untuk memberimu pukulan tenaga dalam yang akan merobohkanmu selama enam bulan di bangsal rumah sakit. Masih beruntung jika ia tak menanam ember di dalam perutmu, sebab ia lebih kuat dari dukun mana pun. Pada saat­saat seperti itu, seorang gadis lain dari kecantikan yang lain, yang telah menjadi sahabat Si Cantik bahkan sejak mereka masih bayi­bayi dalam buaian, akan menjadi pelindung Si Cantik yang sempurna. Gadis itu bernama Nurul Aini, atau orang­orang lebih suka memanggilnya Ai saja. Ia anak Sang Shodancho, begitulah orangorang kota memanggil komandan rayon militer setempat mereka, yang tak pernah menyadari kecantikannya sendiri, dan terjebak dalam kesemrawutan nasib di mana ia merasa bahwa ia memiliki takdir untuk melindungi kecantikan Rengganis Si Cantik dari apa pun yang jahat. Ia akan segera menurunkan rok Si Cantik begitu si gadis lugu mengangkat dan menggigit ujungnya, dan kembali mengancingkan kancing kemeja jika si gadis dilanda kegerahan udara panas.

”Jangan begitu, Sayang,” katanya. ”Itu tidak baik.”

Itu pulalah yang terjadi ketika Rengganis Si Cantik berdiri telanjang di depan kelas. Tingginya seratus enam puluh tujuh sentimeter, dengan bobot lima puluh dua kilogram. Ia berdiri dengan ketenangan alamiahnya, seonggok tubuh yang bercahaya dengan rambut panjangnya yang sehitam sungai tinta. Gadis indo tercantik di Halimunda warisan ibunya, sisa­sisa peninggalan Belanda yang paling memesona. Matanya yang biru cemerlang memandang seisi kelas dengan sedih, bertanya­tanya mengapa tiba­tiba semua orang diam tak bergerak dengan mulut terbuka lebar bagaikan buaya yang menunggu mangsa selama berminggu­minggu. Hanya Ai yang segera terbebas dari kutukan semacam itu, lebih karena nalurinya untuk selalu bersiap menghadapi hal paling aneh yang dilakukan Si Cantik. Ia berdiri dari kursinya, berlari melewati lorong bangku­bangku dan menarik taplak meja guru membuat semua yang ada di atasnya terbang, gelas jatuh dan pecah di lantai, tas hitam kulit buaya si guru matematika membentur papan tulis dan memuntahkan isinya, dan vas bunga berputar bersama buku­buku sebelum berserakan di kolong meja. Ia mempergunakan taplak meja hasil kerajinan siswa itu untuk membalut tubuh Si Cantik, membuatnya tampak seperti gadis­gadis yang bersarung handuk selepas mandi.

Sikapnya yang tanpa ampun mungkin warisan dari ayahnya, Sho­

dancho itu. Warisan dari laki­laki yang pernah memberontak di masa pendudukan Jepang sebelum menjadi buronan selama berbulan­bulan, yang berperang melawan Belanda di masa agresi militer, yang memerintahkan pembunuhan orang­orang komunis di Halimunda delapan belas tahun lalu. Dengan semua warisan semacam itu, ia terpilih menjadi ketua kelas, dan kini, tanpa mengatakan apa pun kecuali memandang mereka, anak­anak lelaki dan si guru tua matematika segera berdiri dan pergi meninggalkan ruang kelas. Terdengar dengusan kecewa di antara mereka, dan kata­kata penyesalan.

”Sialan, seekor anjing! Seolah tak ada di antara kita yang bisa memerkosa Rengganis Si Cantik.”

Beberapa anak­anak perempuan pergi ke ruang olah raga dan menemukan satu setel seragam sepakbola sekolah, sebagai ganti taplak meja yang membalut tubuh Si Cantik.

Pada waktu yang kurang lebih sama, Maya Dewi, ibu Si Cantik dan juga istri Maman Gendeng mengalami kejadian kecil yang dramatik sekaligus mencemaskan: ia tengah membersihkan rumah ketika seekor cicak yang hinggap di caping lampu berak dan tainya terbang jatuh menimpa pundaknya. Bukan karena baunya atau karena bajunya kotor yang membuatnya cemas, tapi karena ia tahu kejatuhan tai cicak selalu merupakan malapetaka. Sebuah pertanda.

Berbeda dari suaminya, Maya Dewi sangat disegani penduduk kota, tak peduli ia anak Dewi Ayu, pelacur Halimunda yang paling dikenang, dan tak peduli bahwa ia anak haram jadah tanpa seorang pun tahu siapa ayahnya. Tenang, ramah, dan bahkan saleh. Orang segera melupakan sifat kekanak­kanakan anak gadisnya yang mencemaskan serta naluri jahat suaminya yang menakutkan begitu mereka teringat pada perempuan ini, yang akan pergi ke perkumpulan ibu­ibu untuk pengajian di malam Jumat dan bertemu di hari Minggu sore untuk arisan. Ia membuat keluarganya tampak sedikit beradab, tampak hidup oleh pekerjaan sehari­harinya membuat roti bersama dua gadis gunung yang membantunya.

Wajahnya yang masih menyisakan warisan Belanda itu kini tampak sepucat mayat berumur dua malam, tak lama setelah ia membersihkan tai cicak dan menyuruh salah satu gadis pemanggang roti itu meneruskan pekerjaannya menyapu ruang tengah. Ia duduk di beranda dan mencemaskan sesuatu terjadi pada suami atau anak gadisnya. Banyak hal­hal kecil yang terjadi atas mereka, begitu seringnya sehingga itu tak lagi mengkhawatirkannya. Namun ia selalu merasa cepat atau lambat sesuatu akan terjadi, dan ia tak tahu. Ia hanya bisa cemas. Tai cicak sialan.

Pada waktu­waktu seperti itu Maman Gendeng tentunya ada di terminal bis, sebagaimana biasa. Ia harus membunuh seorang preman lain untuk memperoleh kursi butut di pojok ruang tunggu penumpang bertahun­tahun lampau. Ia belum pernah membunuh orang lagi setelah itu, kecuali keributan­keributan kecil tak berarti. Tapi Maya Dewi selalu khawatir bahwa suatu hari ada laki­laki lain mengharapkan kursi butut tersebut, dan untuk itu ia harus membunuh Maman Gendeng. Sejahat apa pun lelaki itu, ia mencintainya sebagaimana mereka mencintai anak gadisnya, dan Maya Dewi tak ingin itu terjadi. Ia berharap lelaki itu sungguh­sungguh kebal terhadap senjata apa pun, sebagaimana telah jadi desas­desus abadi di Halimunda.

Kemudian sebuah becak berhenti di depan pintu pagar rumah. Dua orang gadis turun dan ia mengenal keduanya. Mereka pulang terlalu cepat, pikirnya. Yang pertama anak gadis Sang Shodancho itu, dan yang kedua anak gadisnya sendiri. Ia bertanya­tanya kenapa Rengganis Si Cantik tak mengenakan seragam sekolahnya, dan sebaliknya mengenakan seragam tim sepakbola. Ia berdiri dengan kecemasan seekor induk ayam. Kedua gadis itu berdiri di depannya. Maya Dewi memandang Nurul Aini yang wajahnya tampak lebih pucat dari dirinya sendiri, seperti mayat tiga malam, hendak bertanya tapi bahkan gadis itu tampak hendak menangis. Ia belum sempat bertanya ketika Si Cantik akhirnya berkata.

”Mama, aku diperkosa anjing di toilet sekolah,” katanya, tenang dan intensional. ”Sepertinya aku bakalan hamil.”

Maya Dewi terduduk kembali di kursinya, dengan wajah sepucat mayat empat malam. Ia seorang ibu yang tak pernah marah, tidak kepada suami atau anak gadisnya. Maka ia hanya memandang Si Cantik tak berdaya, dan dengan aneh ia bertanya, ”Seperti apa anjing itu?”

Berita buruk datang ke kota itu begitu cepat, bahwa tahun depan gerhana matahari total akan terjadi. Setidaknya, beberapa dukun menganggapnya sebagai tahun penuh kemalangan. Bahkan malapetaka itu sudah datang, seandainya benar bahwa Rengganis Si Cantik diperkosa seekor anjing di toilet sekolah. Dengan cepat peristiwa itu menyebar bagai wabah mematikan hingga semua orang di Halimunda telah mendengarnya, kecuali Maman Gendeng yang malang, ayah Si Cantik. Inilah mungkin kali pertama orang di kota itu memandang sang preman dengan tatapan penuh duka cita.

Tak seorang pun memiliki keberanian memberitahu lelaki itu, bahkan ketika peristiwa tersebut telah lewat selama hampir satu bulan, hingga ia dikejutkan oleh kedatangan seorang anak sekolah berpenampilan semrawut, gempal, kikuk, dan menggelikan bernama Kinkin. Ia seumur dengan anak gadisnya sendiri, mengenakan sweater yang terlampau kecil untuk ukuran tubuhnya tak peduli matahari tropis menyengat, celana korduroi cokelat kusam dengan sepatu kets putih yang belel, dan mengenakan kaca mata bulat membuatnya tampak seperti tokoh komik jenaka. Kemunculannya di terminal dan menghampiri sang preman yang terkantuk­kantuk di kursi butut keramatnya ditemani segelas besar bir rasa tai kuda sedikit membuat keributan. Beberapa orang mengenalnya sebagai anak satu­satunya si penggali kubur Kamino, namun mereka terlambat mencegahnya mengganggu kenyamanan sang preman.

Kursi butut itu tak lebih dari sebuah kursi goyang tua peninggalan

orang Jepang di masa perang, terbuat dari kayu mahoni. Maman Gendeng yang terlena di atasnya meletakkan gelas bir dengan enggan di lantai dan melirik dengan ujung matanya pada si bocah yang berdiri di sampingnya dengan sedikit kejengkelan, sementara beberapa orang menantikan apa pun yang akan terjadi dengan cemas. Bukannya bicara apa maksud kedatangannya, si bocah malahan berdiri kikuk sambil menggulung ujung kemeja yang keluar dari bagian bawah sweater­nya, membuat Maman Gendeng hilang kesabaran.

”Katakan apa maumu dan segera pergi dari sini,” katanya.

Satu menit berlalu dan ia masih juga tak bicara sampai sang preman mengambil gelas birnya dan menumpahkan seluruh isinya ke tubuh si bocah dengan jengkel.

”Ngomong atau kubenamkan kau di kubangan sapi!” ”Aku akan mengawini anakmu, Rengganis Si Cantik,” kata si bocah Kinkin akhirnya.

”Tak ada alasan ia harus kawin denganmu,” kata Maman Gendeng, lebih merasa geli daripada terkejut. ”Ia boleh kawin dengan siapa pun yang ia mau, tapi aku yakin itu bukan denganmu. Lagipula pikirkan hal ini: kalian masih bocah ingusan, terlalu dini bicara kawin.”

Kinkin memberitahunya bahwa mereka, ia dan Rengganis Si Cantik, satu kelas di sekolah yang sama. Ia telah jatuh cinta kepadanya sejak pertemuan pertama. Selalu membuatnya menggigil jika berjumpa dengannya, dan tetap menggigil oleh api kerinduan jika tak melihatnya. Ia menderita demam, insomnia, sesak napas yang semuanya karena cinta. Ia pernah mencoba mengirimkan puisi cinta secara diam­diam di lipatan buku tulis Si Cantik, juga surat yang ditulis di kertas wangi, namun hampir mati ia menunggu balasan yang tak pernah datang itu. Ia meyakinkan sang preman bahwa ia mencintai Si Cantik sebagaimana Romeo mencintai Juliet dan sebagaimana Rama mencintai Shinta.

”Ia akan menyelesaikan sekolah sebelum jadi dokter gigi seperti perempuan kaya di ujung jalan itu,” kata sang preman. ”Bahkan meskipun kalian saling mencintai, tak ada alasan untuk kawin sekarang ini.” ”Anak gadismu hamil dan harus ada yang mengawininya,” kata si

bocah.

Sang preman tersenyum kecil mengejek, ”Seseorang harus memerkosanya sebelum ia hamil, dan seseorang harus membunuhku sebelum memerkosanya.”

”Seekor anjing memerkosanya di toilet sekolah.”

Itu cerita yang lebih menggelikan baginya, dan apa yang terjadi siang itu tak lebih dari gangguan kecil seorang bocah yang dimabuk cinta. Ia mengusirnya pergi sambil berpesan, jika ia sungguh­sungguh mencintai anak gadisnya, berusahalah dengan baik­baik.

Ketika sore datang dan ia pulang ke rumah, dengan cepat ia melupakannya. Rengganis Si Cantik tak pernah mengatakan apa pun mengenai hal itu, dan istrinya juga tidak, jadi ia berpikir segalanya baik­baik saja. Ia tidur sejenak sebagaimana biasa sampai pukul tujuh malam saat Maya Dewi memasang kelambu dan membakar obat nyamuk sekaligus membangunkannya untuk makan malam. Saat itulah ia teringat pada si bocah Kinkin itu dan berkata pada istrinya, agak kebingungan membedakan apakah hal itu sungguh­sungguh terjadi atau sekadar impian tidur senjanya, bahwa ia didatangi seorang bocah yang mengatakan Si Cantik diperkosa seekor anjing di toilet sekolah.

”Itulah yang dikatakannya beberapa minggu lalu,” kata Maya Dewi. ”Mengapa kau tak mengatakannya padaku?”

”Anjing itu harus membunuh kita sebelum berani memerkosanya.” Selama berminggu­minggu kemudian setelah itu, keduanya disibukkan oleh rumor mengenai hal tersebut. Bagaimanapun, peristiwa fantastis ketika ia muncul telanjang di depan kelas telah mengundang kecemburuan banyak orang yang tak sempat melihatnya. Kenyataannya, memang tak seorang pun percaya apa yang dikatakannya, dan sebaliknya mereka lebih percaya bahwa gadis itu, jika tidak sungguh­sungguh idiot, pasti sedang cari sensasi. Dan seandainya benar bahwa ia diperkosa, itu pasti bukan anjing, tapi anak badung yang melakukannya. Terpujilah anak badung itu, oleh keberanian dan keberuntungannya. Hanya keadaannya yang mengibakan yang membuat gadis itu memperoleh permakluman dari orang­orang di kota, bahkan perempuan­perempuan saleh hanya mengusap dada sambil mendoakan

keselamatannya.

”Tak seorang pun akan menyentuhnya,” kata sang preman pendek. ”Selama kita hidup.”

Ia memberi nama anak gadisnya seperti nama Dewi Kecantikan kota itu, Rengganis Sang Putri. Ia berharap gadis itu mewarisi kecantikan sang putri, dan itu sungguh­sungguh terjadi. Ada cerita bahwa di masa lalu sang putri kawin dengan seekor anjing, dan cerita itulah yang sesungguhnya mengganggu sang preman secara tiba­tiba.

”Gadis itu tak akan hamil,” katanya pasti. ”Tapi seandainya itu benar, akan kubunuh semua anjing di kota ini.”

Keluarga tersebut kembali tenggelam dalam rutinitas mereka, mencoba mengabaikan semua rumor. Telanjang di depan kelas bukan hal yang terlalu mengejutkan bagi Si Cantik. Ia pernah memasukkan anak kucing hidup­hidup ke dalam minyak mendidih, dan butuh waktu satu bulan untuk bisa memastikan bahwa ia tak akan melakukan hal itu lagi. Ia juga pernah mengacaukan satu pertunjukan sirkus ketika tiba­tiba turun dari kursi penonton dan didorong rasa penasarannya, ia menanggalkan topeng para badut. Maya Dewi kembali memimpin dua gadis kampungnya dan Maman Gendeng kembali berada di kursi goyang kayu mahoninya dari pagi sampai siang hari, dan bermain truf bersama Sang Shodancho di meja tengah pasar ikan di waktu sore.

Telah bertahun­tahun ia berbagi kebosanan di meja permainan truf bersama Sang Shodancho, ditemani tukang ikan asin dan tukang sayur atau kuli pasar dan tukang becak. Hanya ketika Shodancho pergi ke Timor Timur untuk pergi berperang selama enam bulan sebelum pulang dalam keadaan terluka mereka tak bemain kartu. Shodancho itu mungkin lebih tua satu atau dua tahun darinya. Jika ia memerlukan teman bermain kartu, ia akan datang ke terminal dari markasnya di rayon militer dengan mempergunakan skuter tanpa pelindung mesin, sekitar pukul tiga sore, mengacungkan tangan pada sang preman sebagai isyarat bahwa ia menantikannya di meja mereka. Bunyi skuternya sudah begitu dikenal, bahkan meskipun sang preman tengah tidur siang ia akan segera terbangun, berisik menyerupai mesin penggiling padi. Ia terlalu kurus dan pendek untuk prajurit kebanyakan, namun semuanya tersembunyi di balik seragam militernya yang menimbulkan rasa segan. Sang Shodancho nyaris selalu berseragam lengkap, hijau belang­belang dengan sepatu sekeras kulit buaya, dan pistol serta kayu pemukul bahkan terayun­ayun pula di pinggangnya. Warna kulitnya gelap dan rambut serta kumisnya sedikit beruban. Kebanyakan orang telah lupa nama sesungguhnya, kecuali bahwa ia bekas komandan shodan pemberontak di masa Jepang.

Pada hari Kamis sore, keduanya kembali bertemu di meja kartu.

Ditemani seorang bocah dari kios jagal sapi dan penjual ikan, mereka memulai ritual tersebut. Sang Shodancho melemparkan bungkus rokok putih Amerika di meja bersama korek gas, dan sebelum kartu dikocok keempatnya telah memperebutkannya. Bau asap tembakau cukup untuk mengusir bau amis ikan asin dan sampah sayuran busuk di pojok deretan kios.

”Puji Badut,” kata Shodancho. ”Apa kabar milikmu?”

Persahabatan keduanya yang rapuh terutama lebih banyak ditopang persahabatan kedua anak gadis mereka, Rengganis Si Cantik dan Nurul Aini. Ketika keduanya masih merupakan gadis­gadis kecil pengompol, mereka telah sering bertemu di meja kartu itu. Dengan masing­masing kartu Badut di tangan, gadis­gadis kecil itu tak akan mengganggu permainan ayah mereka, sebab kartu Badut tak pernah dipergunakan dalam permainan truf. Badut bagi mereka berarti anak­anak gadis itu. ”Seorang bocah bau ingus datang padaku untuk mengawininya,”

kata Maman Gendeng.

Shodancho sudah mendengarnya sebagaimana ia sudah mendengar peristiwa heboh di depan kelas. Halimunda dipenuhi orang­orang cerewet dan desas­desus, tak mudah menyembunyikan apa pun dari telinga orang. Tapi tampaknya ia sedikit berhati­hati memberi respons apa pun. ”Tak bisa kubayangkan ia akan kawin dan punya anak dan aku jadi kakek.” Ia memandang ketiga teman main kartunya, terutama Shodan­

cho, untuk melihat reaksi mereka. ”Ia baru enam belas tahun.” ”Begitu pula Badutku,” kata Shodancho.

Orang­orang telah mendengar rencana pensiunnya dari militer, tahun depan. Luka yang ia bawa dari Timor Timur tak pernah sungguh­sungguh sembuh, sebab pelurunya masih tertanam di otot betisnya. Ia akan pensiun dengan pangkat kolonel, dan segera mengakhiri kontroversi kekeraskepalaannya untuk tetap tinggal dan menguasai rayon militer kota itu. Jabatan yang terlampau kecil, sebab selepas memimpin pemberontakan Daidan Halimunda yang menghancurkan tangsi Jepang, enam bulan sebelum kemerdekaan republik, dan ketika tentara nasional didirikan, ia merupakan pilihan pertama untuk jadi Panglima Tentara Nasional. Ia tak pernah keluar dari Halimunda dan tak pernah memimpin tentara nasional. Ia memperoleh pangkat kolonel ketika berhasil mengusir tentara Sekutu di masa agresi militer, namun setelah itu tak pernah lagi menginginkan kenaikan pangkat. Bahkan ketika ia berhasil menghabisi orang­orang komunis di kota itu, ia menolak tawaran jadi ajudan presiden republik. Terutama sekarang ketika ia punya seorang istri dan anak gadis yang sangat ia cintai, tak ada alasan untuk meninggalkan kota itu. Demikianlah kemudian, bahkan ia mengajukan pensiun.

Anak gadisnya sebaya dengan Rengganis Si Cantik, tapi sebenarnya

Nurul Aini lebih muda sekitar enam bulan, anak ketiga dari perkawinannya dengan Alamanda. Kedua anak sebelumnya hilang secara tiba­tiba sejak dalam kandungan, meskipun ia telah memberi nama yang sama untuk mereka. Anak ketiganya lahir sehat, meskipun kemudian si gadis kecil selalu mengeluh bahwa ada biji kedondong di tenggorokannya.

”Kudengar Rengganis Si Cantik diperkosa seekor anjing?” tanyanya. ”Ada banyak anjing di Halimunda,” kata Maman Gendeng.

Hal ini membuat Sang Shodancho terkejut. Memang benar ada banyak anjing di kota itu, tapi tak seorang pun ia dengar mengeluhkannya. ”Jika benar apa yang terjadi di toilet sekolah itu, aku punya cukup banyak racun anjing,” sang preman terus melanjutkan tanpa peduli. ”Seorang pelacur mati karena rabies dua tahun lalu. Tak perlu mengkhawatirkan anak gadisku, ada lebih banyak alasan untuk mengirim

mereka ke rumah orang­orang Batak pemakan anjing.”

Ke mana pun arah bicaranya, ketiga teman bermain kartunya segera menyadari itu ditujukan untuk Sang Shodancho sendiri. Anjing dipelihara hampir di setiap rumah, di kota dan desa­desa di seluruh wilayah Halimunda, dari berbagai ras. Kebanyakan jenis ajak atau peranakannya yang mulai dikembangbiakkan sejak Sang Shodancho memulai kebiasaan berburu babi. Di masa lalu, ketika Mama Rengganis datang ke hutan berkabut yang kelak menjadi kota itu, semua orang tahu bahwa ia ditemani seekor anjing. Tapi tak seorang pun pernah memberi saran untuk memelihara anjing, kecuali Sang Shodancho ketika ia berhasil memberantas babi.

”Kuharap itu hanya desas­desus,” kata Sang Shodancho akhirnya. ”Atau kekonyolan lain anak gadisku,” kata sang preman ironik. Ia

bercerita tentang dukun­dukun yang pernah ia datangi untuk membuat anak gadisnya sebagaimana gadis kebanyakan. Ada yang bilang ia kerasukan roh jahat. Yang lain menunjukkan bahwa rohnya tak lagi mau tumbuh. Ia bocah enam tahun di tubuh gadis enam belas tahun. Apa pun yang mereka katakan, mereka tak bisa berbuat apa­apa. Semuanya sia­sia, ia berkata dengan putus asa. ”Mereka menganggapnya tak waras dan kau tahu, aku harus memukul tiga orang guru agar ia diterima di sekolah.” Lelaki malang itu tampak jadi sedikit cengeng dan sentimentil, dan karena itu ia mulai kehilangan seleranya untuk melanjutkan permainan kartu tersebut. ”Apakah kalian akan menertawakannya pula?” ”Kita hanya menertawakan badut,” kata Shodancho.

Maman Gendeng meninggalkan meja kartu itu dan berjalan pulang sepanjang trotoar. Angin dari bukit mulai turun dan suara air pasang mulai terdengar. Rombongan kalong terbang melawan angin, bagai para pemabuk, di langit yang seoranye buah jeruk. Para nelayan keluar rumah dengan dayung dan jala dan tong­tong es, dan sebaliknya, buruh­buruh perkebunan pulang menenteng sabit dan karung kosong. Ia gelisah oleh udara yang murung itu.

Mereka tinggal di bagian kota yang nyaman, sisa­sisa perumahan orang­orang Belanda pemilik perkebunan. Adalah Dewi Ayu, mertuanya, yang memberinya dan ia sendiri membeli rumah dengan uang yang nyaris tak terpakai selama bertahun­tahun hidupnya sebagai pelacur. Ada pohon belimbing dan sawo kecik yang rindang tumbuh di depan rumah, dan Maya Dewi membuatkannya pagar hidup dari pohon anak nakal. Rumah itu akan menyelamatkannya dari badai kemurungan, namun ketika ia sampai di rumah, ia malahan menemukan istrinya duduk menghadapi seember cucian. Menangis.

”Aku khawatir ia hamil,” kata Maya Dewi tanpa menoleh. ”Telah sebulan berlalu dan tak lagi kutemukan celana dalam yang merah oleh darah.” Dan ia mengatakannya dengan penuh kemarahan, perempuan yang tak pernah marah itu. Ia membanting ember cucian tersebut, menumpahkan isinya di lantai.

Sang Preman terpukau oleh fakta itu, dan merenung. ”Kalaupun ternyata benar, bukanlah anjing yang memerkosanya,” kata Maman Gendeng penuh kepastian. ”Seharusnya anak gadisku yang memerkosa anjing.”

Setelah lamaran yang gagal di terminal bis itu, Kinkin melarutkan diri dalam kebiasaan baru menenteng senapan angin dan menembak mati anjing­anjing yang tersesat ke tempat pemakaman, tempat di mana ia tinggal bersama si penggali kubur Kamino, ayahnya. Ia tampaknya merupakan satu­satunya orang yang percaya bahwa Rengganis Si Cantik diperkosa seekor anjing, dan dibakar kecemburuan yang membabi buta, ia tak membiarkan seekor anjing pun hidup di daerah kekuasaannya, dan bahkan jika tak seekor anjing pun muncul, ia akan membeli poster­poster anjing yang dijual di emperan pasar dan menggantungnya di ranting pohon kamboja sebelum menembakinya hingga terkoyak­koyak. Ayahnya adalah satu­satunya orang yang mengetahui kelakuan buruknya, dan satu­satunya orang yang dibuat khawatir oleh kecenderungan tak waras tersebut.

”Ada apa denganmu, Nak?” tanya ayahnya. ”Anjing tak memiliki dosa apa pun kecuali kebiasaan mereka menggonggong.”

”Anjing adalah anjing, Ayah,” katanya dingin bahkan tanpa menoleh, tetap membidik poster anjing yang terayun­ayun dihantam peluru terakhir. ”Dan salah satunya memerkosa gadis yang kucintai.”

”Aku belum pernah mendengar seekor anjing memerkosa seorang gadis, kecuali kau jatuh cinta pada seekor anjing betina.”

”Tai,” kata Kinkin. ”Pulanglah, ayah, sisa peluru ini benar­benar untuk anjing dan sama sekali bukan untuk ayah.”

Jatuh cinta telah memorakporandakan semua sikap misteriusnya, paling tidak begitulah teman­teman sekolah memandangnya. Tak seorang pun pernah berharap bermain dengannya, sebagaimana ia tak pernah berharap bermain dengan siapa pun. Teman­teman akrabnya adalah segerombolan makhluk yang tak akan disukai anak­anak lain: makhluk­makhluk jailangkung. Ia tak pernah punya seorang pun teman sebangku, sebab baju seragamnya bau kemenyan dan kadang­kadang ia bicara dengan suara bukan miliknya. Dan meskipun anak­anak itu tahu bahwa ia sering curang di saat ulangan karena ia selalu meminta bantuan makhluk jailangkungnya untuk menjawab soal­soal, tak seorang pun berani mengadukannya dan tak berani pula meminta bantuannya. Ia seperti lubang udel: orang tahu bahwa ia ada, tapi mereka tak memperhatikannya. Itu sebelum ia melihat Rengganis Si Cantik.

Ia melihatnya pertama kali di hari pertama masuk sekolah baru,

setelah sembilan tahun sekolah yang membosankan, ketika sebuah keributan terjadi di kantor guru dan anak­anak berlarian untuk mengetahui apa yang terjadi. Si bocah pendiam mungkin orang terakhir yang melihatnya, seorang laki­laki memukul roboh tiga orang guru yang menolak menerima anaknya masuk di sekolah tersebut dan menyarankan sekolah lain, sekolah untuk anak­anak idiot, terbelakang, tak waras dan sejenisnya, yang ditolak oleh laki­laki itu dan menyebut bahwa anaknya baik­baik saja. ”Satu­satunya yang membedakan anakku dengan anak­anak yang lain adalah kenyataan bahwa ia merupakan yang tercantik di kota ini, jika bukan di alam semesta,” kata laki­laki itu sambil memandangi ketiga guru yang bergelimpangan di lantai dan kepala sekolah yang menggigil di balik meja.

Gadis itu berdiri di belakang ayahnya, mengenakan seragam sekolah putih dan abu­abu yang tampaknya masih baru, masih bau minyak mesin jahit, dengan lipatan­lipatan rok yang tajam. Ia menguntai rambutnya yang panjang melewati pinggul dalam dua untaian di kiri dan kanan, dengan pita warna merah dan putih bagaikan satu penghormatan yang berlebihan pada bendera nasional. Ia mengenakan sepatu hitam sebagaimana itu menjadi kewajiban, dan kaus kaki pendek warna putih dengan bunga­bunga kecil mengelilingi ujungnya, betisnya lebih memesona dari apa pun yang ia kenakan. Ia jelas bukan gadis idiot, semua orang tahu, bahkan Kinkin yang melihatnya dari balik kaca jendela kantor guru tahu dengan baik. Ia tak lebih dari seorang bidadari yang tersesat di dunia yang kejam, dan sejak pandangan pertama yang menyala­nyala, ia terseret arus demam cinta yang tak tertahankan. Kinkin tak pernah bicara dengan siapa pun di sekolah, dan bahkan guru­guru tak pernah menanyakan apa pun kepadanya, tapi ketika ia mengetahui bahwa gadis itu satu kelas dengannya, ia yang telah dilumpuhkan oleh sihir cinta menghampirinya dan bertanya apakah ia boleh mengetahui namanya. Si gadis, dengan kebingungan, menunjuk emblem kecil yang dijahitkan di dada sebelah kanan kemejanya, ”Kau bisa membaca: Rengganis.”

Semua anak menempelkan namanya di dada kemeja seragam, tapi

Kinkin tak memperhatikan hal itu ketika si gadis menunjuk dengan ujung jarinya yang ramping, melainkan gelembung dada yang membuatnya menggigil sepanjang hari pertama sekolah, sendirian menderita di pojok ruangan.

Semakin menderita oleh tatapan anak­anak sekelas yang kebingungan melihatnya untuk pertama kali bicara, sebab beberapa di antara mereka telah mengenalnya sejak bertahun­tahun lalu semenjak di sekolah dasar. Mereka tak memiliki keberanian untuk mengolokoloknya, sebab mereka seringkali dilanda kekhawatiran yang mengadaada tentang kemungkinan anak aneh itu mengirimi mereka santet atau ilmu hitam lainnya. Hanya seorang gadis, tampaknya ada di kelas itu lebih sebagai penjaga Rengganis Si Cantik, yang memiliki keberanian menghampirinya dan memandangnya dengan penuh ancaman.

”Dengarkan aku, Tukang Jailangkung,” kata gadis itu, ”jika kau ganggu sahabat kecilku, akan kuiris­iris kemaluanmu seperti wortel.”

Kinkin hanya memandang si gadis Ai yang segera pergi dan duduk di samping Si Cantik, nyaris menangis membayangkan ada begitu banyak rintangan harus ia robohkan untuk memperoleh cinta yang didambakannya. Baginya, gadis bernama Ai itu merupakan satu­satunya makhluk paling menyebalkan di dunia. Ia selalu berharap bisa membuntuti Si Cantik setiap pulang sekolah, berjalan di sampingnya tentunya hal paling indah yang bisa dibayangkan seorang bocah yang sedang jatuh cinta, tapi Ai mengawalnya setiap hari. Begitu jengkelnya, pernah suatu kali ia berkata pada gadis itu, ”Seseorang seharusnya membunuhmu.”

”Lakukanlah sendiri jika kau bukanbanci.”

Bagaimanapun, ia tak berani melakukannya. Maka ia harus kehilangan kesempatan setiap pulang sekolah berjalan bersama Si Cantik. Satu­satunya kebahagiaan yang ia miliki adalah saat berada di dalam kelas, ketika ia bisa menoleh dan memandang wajah cantik itu berlama­lama. Ia jadi orang paling bodoh di kelas itu, hanya karena ia tak lagi mendengar pelajaran apa pun. Satu­satunya yang menolong nilai ujiannya adalah jailangkung, tempat ia bertanya saat ujian. Kesehatannya juga mulai menyedihkan, ia tampak menjadi sedikit kurus, kurang makan dan tidur, semua karena serangan cinta.

”Kau tampak lebih buruk dariku,” bahkan Si Cantik berkomentar. ”Seperti orang idiot.”

Mereka membawanya ke rumah sakit, dan dengan penuh kepastian dokter berkata bahwa gadis itu sungguh­sungguh hamil. Kini sudah tujuh minggu. Baik Maman Gendeng maupun Maya Dewi mencoba tidak memercayai dokter itu, tapi lima dokter lain yang memeriksanya mengatakan hal yang sama. Bahkan juga dukun.

Dengan kepastian semacam itu, tindakan pertama yang diambil secara serampangan oleh ayahnya adalah mengurung si gadis di kamarnya. Hal itu diambil untuk mengurangi rumor yang dibicarakan orang­orang tentang anak gadis mereka yang hamil. Maya Dewi sudah mencoba melepaskan bayang­bayang masa lalu ibunya, seorang pelacur yang semua orang tahu memiliki banyak anak tanpa pernah kawin dengan siapa pun. Tapi apa yang terjadi dengan Rengganis Si Cantik bagaikan menegaskan bahwa kutukan itu abadi dalam darah mereka. Orangorang akan bilang bahwa keluarga bejat selamanya akan melahirkan anak­anak yang sama bejatnya. Mereka berdua akhirnya sepakat bahwa gadis itu harus dikurung, dan berharap cepat atau lambat orang­orang akan lupa bahwa mereka punya seorang anak gadis tengah hamil.

Kamar itu terletak di lantai dua, tak memungkinkan siapa pun untuk meloncat dari jendelanya, dan pintunya dikunci rapat dari luar. Ia hanya ditemani seonggok boneka beruang, setumpuk novel picisan dan radio. Maya Dewi sendiri yang melayani semua kebutuhannya. Ia membawakannya pispot, ember­ember air untuk mandi, sebab kamar tersebut tak dilengkapi kamar mandi. Ia membawakannya sarapan pagi, makan siang dan malam. Meskipun si gadis merengek bahwa ia ingin pergi sekolah kembali, si ibu dengan tegas berkata, tidak. ”Aku berjanji akan lebih berhati­hati pada anjing,” kata Si Cantik memelas. Seketika Maya Dewi menangis dan berkata dengan tersedu­sedan, ”Tidak, Sayang, kecuali kau bilang siapa yang memerkosamu di toilet sekolah?” Berkali­kali mereka mencoba menanyakan itu kepadanya, tapi selalu tak berhasil sebab si gadis dengan kekeraskepalaannya yang mengagumkan akan terus menjawab, seekor anjing dengan kulit cokelat dan moncong hitam. Anjing semacam itu ada di semua pelosok Halimunda, dan jelas tak mungkin menanyai mereka satu per satu. Setelah gagal memperoleh penjelasan masuk akal dari Si Cantik, Maya Dewi akan pergi meninggalkannya setelah menguncinya kembali, lalu Si Cantik akan berteriak­teriak meminta dikeluarkan dan diperbolehkan pergi sekolah. Tangisannya begitu memilukan, dan tentu saja kencang bukan main, seperti tangisan bayi­bayi yang gelisah setelah ngompol dan terlambat diganti popok. Suaranya yang melengking membuat tetangga­tetangga keluar dan menengok ke jendela kamar atas, dan para pejalan kaki berhenti, sebelum saling berbisik di antara mereka. Maman Gendeng mengusulkan untuk mengungsikannya, tapi Maya Dewi menentang gagasan suaminya dan bersikeras mempertahankannya. ”Lebih baik hidup dalam aib daripada harus kehilangan anakku.” Akhirnya mereka menyerah dan mengirimnya kembali ke sekolah.

Itu pun bukan perkara yang mudah, sebab gadis­gadis hamil selalu ditolak sekolah. Mereka berdalih hal tersebut bisa memberi pengaruh buruk bagi anak­anak gadis yang lain. Untuk kedua kalinya, Maman Gendeng akhirnya muncul lagi ke sekolah, masuk ruang kepala sekolah tanpa mengetuk pintu, untuk memastikan bahwa anak gadisnya tak akan dikeluarkan. Bagaimanapun, kepala sekolah yang malang itu sungguh­sungguh dalam keadaan terpojok. Di satu sisi ia harus menghadapi orang­orang tua murid yang akan mencemaskan nasib anak gadis mereka, sebab apa yang terjadi pada Rengganis Si Cantik membuktikan sekolah sama sekali tak aman. Di sisi lain ia harus menghadapi preman satu ini: tak seorang pun berani menentangnya, sebab ia berani melawan siapa pun, bahkan polisi maupun tentara. Ia melap keringat dingin yang bercucuran di dahi dan lehernya.

”Baiklah sahabatku yang baik, selama ia belum menyelesaikan

sekolah ia tetap anak sekolah di sini,” katanya. ”Tapi tolonglah aku, kau harus temukan siapa yang melakukan itu pada anakmu sebab aku harus membuat tenang orang­orang tua anak­anak gadis itu, dan satu lagi, tolong beri ia pakaian yang lebih longgar.”

Hal itu mengingatkan Maman Gendeng pada si bocah bernama Kinkin. Di sore hari, minggat dari meja permainan kartu truf, ia pergi ke rumah penggali kubur Kamino dan mencari bocah itu. Sebagaimana hari­hari sebelumnya, Kinkin disibukkan oleh kebiasaan anehnya menghabiskan peluru untuk menembaki poster­poster anjing. Sejenak Maman Gendeng mengawasinya dan memuji kemampuan menembaknya, meskipun ia bertanya­tanya mengapa ia berbuat begitu jahat menembaki gambar­gambar di karton yang tak berdosa itu. Tadinya ia berpikir bocah itu tak menyadari keberadaannya, tapi setelah beberapa kali ia menembak dan gambar anjing itu terlempar jatuh ke tanah, ia menoleh dan menghampiri sang preman tanpa rasa terkejut sama sekali. ”Kau lihat sendiri apa yang kulakukan, bukan?” tanya si bocah penuh kebanggaan. Sang preman sama sekali tak mengerti dan hanya mengangguk sampai si bocah menjelaskannya sendiri, ”Aku menembaki anjing­anjing dan bahkan gambarnya pula. Aku cemburu kepada mereka sebab salah satu dari anjing­anjing itu telah memerkosa anak gadismu dan kau tahu betapa aku sangat mencintainya.”

Kamino melihatnya dari samping rumah, dan merasa ada sesuatu yang tidak beres jika seorang preman yang paling ditakuti di kota itu sampai datang mencari anaknya. Ia menghampiri mereka dan mencoba bersikap ramah mengundangnya masuk untuk minum segelas kopi. Maman Gendeng dan si bocah Kinkin duduk di ruang tamu yang dipenuhi benda­benda aneh peninggalan orang mati. Setelah kopi datang dan si tua Kamino pergi, ia bertanya pada si bocah, ”Katakan padaku, siapa yang memerkosa Rengganis Si Cantik?”

Bocah itu memandangnya dengan kebingungan yang tak dibuatbuat. ”Kupikir kau sudah tahu: seekor anjing di toilet sekolah,” katanya jelas dan penuh keyakinan. Ia sama sekali tak mengharapkan jawaban tersebut, dan itu malahan membuatnya sedikit geram. Tapi jelas baginya bahwa bocah itu sama tidak tahunya dengan siapa pun, dan hanya Rengganis Si Cantik serta Tuhan yang tahu apa yang terjadi di toilet sekolah. Ia meraih gelas kopi itu, bukan untuk menikmatinya tapi lebih sekadar membuang kegalauannya sendiri.

Hal ini tampaknya akan menjadi misteri yang tak akan terpecahkan. Sesuatu tengah mengusiknya dan ia tak tahu. Bagaimanapun, ia lebih suka menemukan seorang musuh yang menantangnya berkelahi sampai mati daripada seseorang memerkosa anak gadisnya tanpa seorang pun tahu siapa yang melakukannya. Ia duduk di depan si bocah tanpa mengatakan apa pun lagi sampai tiba­tiba ia menyadari waktu telah menjadi begitu sore.

”Kenyataannya itulah yang kita tahu,” katanya membuyarkan kebisuan di antara mereka. Ia kemudian berdiri bersiap untuk pergi, meskipun tampak jelas bahwa ia tak sudi pulang ke rumah tanpa hasil yang memuaskan. Setelah mendengus sejenak, dengan suara seraknya ia berkata, ”Jika memang anjing memerkosanya, ia akan kawin dengan anjing.”

Hal itu membuat Kinkin tak bisa tidur semalaman, jauh lebih buruk dari malam­malam sebelumnya. Ia membuat ayahnya terjaga semalaman dan hantu­hantu pemakaman dibuat tak tenang. Ketika pagi datang, ia tak lagi memikirkan kekurangtidurannya, sebaliknya, ia segera mandi dan sebelum waktunya untuk berangkat sekolah, ia berlari menuju rumah Rengganis Si Cantik dan menemui ayahnya yang tampak sedikit jengkel dibangunkan sepagi itu.

”Tak mungkin ia kawin dengan anjing,” katanya dengan suara bagaikan datang dari mulut orang sekarat. ”Akulah yang akan mengawininya.”

Itu jauh lebih baik dan sang preman tahu. Ia memandang bocah itu, dan teringat pertemuan pertama mereka di terminal bis tempo hari. Ia agak menyesal kenapa lamaran si bocah tidak diterima saat itu juga, sebelum masalahnya berlarut­larut. Lalu ia mengangguk dan bertanya, kenapa.

”Bukan anjing yang memerkosanya, tapi aku.”

Itu alasan yang cukup untuk menyeretnya ke halaman belakang rumah dan menghajarnya tanpa ampun. Anak itu sama sekali tak melawan, dan memang tak akan mampu melawan, bahkan meskipun satu pukulan membuatnya terbanting di sudut pagar dengan wajah berdarah. Maya Dewi lari tergopoh­gopoh menghentikan tindakan brutal suaminya, sebelum bocah itu mati. Ia harus berjuang mati­matian menyeret tubuh suaminya yang masih memburu si bocah, meskipun Kinkin tampaknya telah ambruk sepenuhnya di pinggir kolam ikan kecil. Ia belum mati, bagaimanapun, namun menderita cukup parah sampai ia mengerang kesakitan.

”Tentu saja aku tak akan membunuhmu,” kata Maman Gendeng setelah istrinya berhasil menyeretnya menjauh. ”Sebab kau harus hidup untuk mengawini Rengganis Si Cantik.”

Sore hari, setelah sepanjang pagi mendengar ocehan Kinkin di sekolah tentang rencana perkawinannya dengan Rengganis Si Cantik selepas ia melahirkan anaknya, Ai yang berboncengan di sepeda mini dengan Krisan sepupunya datang ke tempat pemakaman untuk menemui Kinkin.

”Aku tahu kau tak di toilet pada hari itu,” kata si gadis dengan marah. Si bocah, tersenyum atas kunjungan mereka berdua, tak membantahnya dan mempersilakan mereka masuk, dan berterima kasih sebab itulah kali pertama teman sekolahnya mau berkunjung. Rumahnya bukanlah tempat yang menyenangkan, tua dan tak menampakkan sentuhan perempuan. Mungkin hanya disapu seminggu sekali, sehingga benda­benda peninggalan orang mati yang dikumpulkannya tampak berdebu dan mengerikan, bagaikan gudang penggalian mumi.

Selepas membawa dua gelas limun dingin dari dapur ia berkata bahwa ibunya telah lama mati, di waktu yang sama ia dilahirkan. Ia menceritakan hal itu bukan untuk mengenang, namun tampaknya lebih sebagai apologi untuk keadaan rumah yang tak terurus, jika bukan upaya untuk mengalihkan pembicaraan. Selama beberapa waktu, jelaslah bahwa itu sia­sia, sebab wajah si gadis tak juga kunjung tenang, menanti kesempatan untuk menyerangnya kembali.

”Kau banci licik, kau tak mungkin memerkosanya,” kata Ai. ”Tentu saja, aku tak mungkin sejahat itu kepadanya,” kata Kinkin

dengan tenang. ”Jika kau mencintainya, kau tak akan melakukannya, bahkan meskipun kesempatan itu ada. Aku akan mengawininya karena cinta dan aku melamarnya secara baik­baik.”

Ia tampaknya akan mewarisi pekerjaan ayahnya, juga rumah pemakaman itu, sebagaimana hal itu selalu diwariskan turun­temurun selama beberapa generasi. Sebabnya sangat jelas: tak ada orang lain menghendaki pekerjaan tersebut. Semua orang di kota itu percaya kompleks kuburan tersebut dipenuhi setan dan dedemit, hanya keluarga penggali kubur yang bisa tahan hidup di sana selama puluhan tahun. Dan satu hal yang lain, mereka juga mewariskan ilmu magis cara berhubungan dengan roh orang­orang mati yang disebut jailangkung, dan itu alasan lain kenapa pekerjaan penggali kubur tak terganggu selama bergenerasigenerasi. Kinkin adalah pewaris terakhir, tanpa saudara dan famili jauh lebih suka minggat ke daerah­daerah yang lebih beradab. Jika anakanak sebaya takut kepadanya, itu bukan sekadar karena ia anak penggali kubur dan bisa main jailangkung, tapi wajah dinginnya dan bau yang dibawa dari udara lembab tubuhnya cukup untuk membuat bulu kuduk orang merinding, seolah ia membawa jin di pundaknya ke mana pun ia pergi. Itulah yang membuat Krisan lebih banyak diam. Ia sesungguhnya tak memiliki keinginan datang ke rumah si tukang jailangkung tersebut, dan melakukannya lebih karena kekhawatiran pada sepupunya yang memaksa untuk datang mengintrogasi si bocah Kinkin.

”Jangan karena kau punya ilmu hitam maka kau bisa berbuat sesuka hatimu,” kata si gadis lagi.

”Ilmu hitam sangatlah tidak berguna,” Kinkin berkata dengan tangan dikibaskan. ”Mereka memberimu kekuatan semu, palsu, dan artifisial, dan tentu saja jahat. Cinta telah memberiku bukti bahwa cinta merupakan kekuatan yang jauh lebih besar dari apa pun.”

Cinta tampaknya telah membuatnya keras kepala. Si gadis Ai tahu itu, dan sesungguhnya ia tak ingin menghalanginya untuk mencintai Rengganis Si Cantik. Yang membuatnya datang ke rumah itu tak lebih dari naluri dasarnya untuk melindungi Si Cantik dari apa pun, dan ia merasa ada sesuatu yang tak beres dengan rencana perkawinan itu. Ia berdiri dan meraih tangan Krisan untuk segera pergi dari sana, namun sebelum beranjak ia menoleh pada Kinkin dan berkata secara tiba­tiba. ”Cintailah Si Cantik dari hatimu yang terdalam,” katanya sungguhsungguh bagaikan nasihat seorang ibu pada menantu di hari perkawinan.

Kinkin mengangguk penuh keyakinan. ”Tentu.”

”Namun jika terbukti bahwa cintamu bertepuk sebelah tangan dan sahabatku yang cantik tak pernah menginginkanmu, tak akan kubiarkan siapa pun mengawinkan kalian berdua,” kata Ai dengan nada sedikit penuh ancaman. ”Aku telah ditakdirkan untuk menjaganya tetap bahagia.”

Ketegasan suaranya telah sering membuat orang tak berdaya memandang matanya, maka itu pula yang membuat Kinkin menundukkan wajahnya.

”Tapi,” kata si bocah Kinkin. ”Bahkan ayahnya telah menerima lamaranku untuk mengawininya.”

”Bahkan,” kata si gadis. Ia kembali mengulang bahwa ia tak akan membiarkan siapa pun mengawinkan Si Cantik di luar kehendaknya sendiri. ”Bahkan jika ayahnya telah mengizinkan kalian saling mengawini.”

Ai tak memberikan bocah itu kesempatan untuk mengatakan apa pun lagi. Ia menarik tangan Krisan dan anak lelaki itu segera berjalan menuju sepeda mininya. Membonceng gadis itu, mereka pergi meninggalkan rumah penggali kubur. Ai menyuruhnya untuk pergi menengok Rengganis Si Cantik.

Ketika mereka sampai di rumah Si Cantik, mereka menemukan rumah yang tampak berantakan serta suara lolongan Si Cantik dari kamarnya di lantai dua. Di ruang bawah, mereka menemukan Maya Dewi menangis tanpa suara di ujung sofa, dengan dua gadis gunung pembantunya berdiri kikuk di mulut pintu dapur. Krisan duduk di depan perempuan itu sementara Ai duduk di sampingnya, menggapai tangan perempuan itu dengan wajah campuran antara bingung dan khawatir. ”Kenapa, Bibi?”

Maya Dewi menghapus air matanya dengan ujung lengan gaunnya. Ia mencoba tersenyum kepada kedua keponakannya itu seolah berkata tak ada apa­apa yang serius sebelum menjelaskan, ”Ia mengamuk begitu tahu akan dikawinkan dengan si bocah Kinkin.”

”Bocah itu mulai cerewet di sekolah,” kata Ai.

”Bocah yang malang, mau mengawini gadis yang hamil bukan olehnya,” kata Maya Dewi. ”Ia sangat mencintainya.”

”Tak peduli apakah ia mencintainya atau tidak,” Ai berkata. ”Rengganis tak boleh kawin dengan orang yang tidak ia cintai.”

”Sebenarnya terlalu dini bicara kawin. Kalian baru enam belas tahun.”

Mereka dikejutkan oleh menghilangnya suara lolongan Si Cantik. Tampaknya ia telah mengetahui kedatangan sahabatnya itu, dan kini ia tampak tergopoh­gopoh turun dengan wajah bengkak seolah lama direndam di air dingin. Ia hanya mengenakan pakaian tidur siang, dan duduk begitu saja di samping ibunya tanpa upaya menghilangkan sisasisa air mata.

”Katakan padaku, jika kau tak mencintai anak penggali kubur itu dan tak mau kawin dengannya,” ibu yang malang itu berkata, ”lantas siapa lelaki yang kau sukai dan kau inginkan jadi suamimu?”

”Aku tak menyukai siapa pun,” kata Si Cantik. ”Jika aku harus kawin, maka aku kawin dengan pemerkosaku.”

”Katakan padaku, siapa?” tanya ibunya lagi. ”Aku akan kawin dengan anjing.” Bentuk kehamilannya telah mulai tampak dengan sangat jelas, dan sebagaimana perempuan hamil di mana pun, kecantikannya terlihat semakin cemerlang. Rambut hitamnya seperti datang dari kegelapan antah­berantah, lurus jatuh melewati pinggulnya, telah bertahun­tahun tak dipotong. Ia memiliki kulit sewarna permukaan roti, bahkan sejak ia dilahirkan orang telah mengetahuinya bahwa ia gadis paling cantik di kota itu. Kedua orang tuanya sangat bangga dengan anugerah semacam itu, meskipun dibuat khawatir oleh harga yang harus dibayar: keluguannya. Mereka membantunya untuk selalu tampak cantik, bersusah­payah mengelabang rambutnya setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Bahkan ketika rayon militer setempat mengadakan pemilihan Putri Pantai Tahun Ini, ayahnya membawa Si Cantik untuk mengikuti acara tersebut. Sangatlah jelas bahwa ia tak bisa menari dengan baik, menyanyi dengan suara yang memilukan hati, tapi kecantikannya telah memabukkan semua anggota juri sehingga ia terpilih sebagai Putri Pantai.

”Apakah kau tahu anjing yang mana?” tanya Ai.

Dengan penuh penyesalan, Rengganis Si Cantik menggeleng. ”Semua anjing tampak sama untukku,” katanya. ”Mungkin ia akan datang jika anaknya sudah lahir.”

”Bagaimana ia tahu anaknya lahir?”

”Anakku akan menggonggong dan ia akan mendengarnya.”

Tak seorang pun tahu dari mana ia memperoleh fantasi yang begitu ajaib, tapi ia terlihat begitu senang membayangkannya, membuat yang lain hanya terdiam menyetujui apa pun yang ia katakan. Wajahnya tampak mulai cerah dengan semburat merah muda di pipinya. Tanpa tertahankan, ibunya mendekap gadis itu sambil mengelus rambut panjangnya, dan wajahnya tampak menahan emosi yang sulit ditebak.

”Kau tahu, Mama hamil kau saat seumur denganmu,” kata Maya Dewi.

Ketika malam datang, ia menceritakan apa yang terjadi sepanjang siang itu pada suaminya, sambil menunjukkan sedikit sisa­sisa keributan yang diciptakannya. Maman Gendeng duduk di ujung tangga dengan wajah menyedihkan.

”Semua orang tahu Kinkin tak di toilet pada hari itu,” katanya. ”Dan Rengganis tak mau kawin dengannya.” ”Kalau begitu kita harus memaksa anak itu mengatakan siapa yang melakukannya,” kata Maman Gendeng.

”Jika ia tetap bungkam?”

”Jika ia tetap bungkam, anak itu akan kita kawinkan dengan lelaki mana pun yang mau jadi suaminya,” kata suaminya. ”Asal tidak dengan anjing.”

Kenyataannya, ia tetap bungkam. Tentu saja ada banyak lelaki yang berhasrat mengawininya, tapi hanya seorang yang memiliki keberanian melamarnya, dan itu adalah Kinkin. Maka tanpa peduli dengan penolakan Rengganis Si Cantik, mereka mulai mempersiapkan perkawinan itu, sementara waktu melahirkan semakin dekat. Rengganis Si Cantik bukannya tak tahu rencana tersebut, tapi di luar yang diduga orang, ia begitu tenang menghadapinya, dan berkata bocah itu hanya akan merasa sakit hati.

Si gadis Ai adalah satu­satunya orang yang terjebak di tengah keadaan yang serba kacau itu. ”Jika kita memaksanya, ia akan melakukan sesuatu yang mengerikan,” katanya. Ia telah mengenal dengan baik seperti apa Rengganis Si Cantik, sebagaimana ibu dan ayahnya sendiri, tapi mereka tampaknya telah dibuat tak peduli. Cukup fakta bahwa Maya Dewi merupakan anak haram jadah Dewi Ayu tanpa ia tahu siapa ayahnya, sebagaimana kakak­kakak perempuannya yang lain, dan kenyataan itu tak perlu berlanjut menjadi nasib bagi Si Cantik. Bahkan Maman Gendeng yang nyaris tak pernah hidup dalam kebajikan, dibuat sedih selama berbulan­bulan oleh kejadian tersebut. Seseorang telah memerkosa anak gadisnya, dan ia yang paling ditakuti di kota itu tak tahu apa pun mengenai apa yang terjadi. Ia merasa tengah menghadapi musuh yang paling mengerikan seumur hidupnya.

”Aku telah memberinya nama Rengganis,” katanya dengan sedih.

”Sebagaimana semua orang tahu, Rengganis kawin dengan seekor anjing bertahun­tahun lalu ketika Halimunda masih segumpal hutan.” Ketika hari perkawinan semakin dekat, ia menghubungi perusahaan properti untuk meminjam kursi bagi sebuah pesta yang meriah. Ia akan menggelar orkes Melayu di ujung jalan depan rumahnya. Semuanya ia

lakukan, tampaknya lebih karena dorongan orang yang putus asa. ”Sesuatu yang tak beres sedang terjadi, Paman,” kata si gadis Ai yang semakin kebingungan. ”Ia tak menginginkan perkawinan ini. Katakan padaku, kenapa gadis hamil harus selalu kawin?”

Ia tak mau meladeni kecerewetan gadis itu dan terus mempersiapkan pesta tersebut seolah itu pesta miliknya sendiri. Dokter telah memastikan hari kelahiran bocah di perut Si Cantik, dan sehari kemudian mereka akan mengawinkannya. Namun ketika bayi itu sungguh­sungguh lahir lewat bantuan seorang dukun bayi, Rengganis Si Cantik kembali menegaskan bahwa bayi itu anak seekor anjing. Mereka memaksanya untuk bersiap naik ke kursi pengantin. Sebagai balasan atas itu, malam sebelum mereka kawin ia menghilang bersama bayinya.

”Ia pergi ke rumah si gadis Ai,” kata ayahnya. Dan orang­orang mencarinya ke sana. Tapi bahkan gadis itu tak tahu apa yang terjadi. Kepanikan mulai melanda, dan mereka kembali untuk berharap menemukannya masih ada di rumah. Yang mereka temukan hanyalah pesan pendek pada secarik kertas, ”Aku pergi dan kawin dengan anjing.”
16
Pengakuan: Krisanlah yang menggali kuburan Ai dan menyembunyikan mayatnya di bawah tempat tidur.

Di hari­hari yang lalu, jika ia berdiri di balik jendela kamarnya, sesuatu yang selalu ia lakukan sesaat setelah bangun tidur di pagi hari, ia biasa melihat beranda belakang rumah Sang Shodancho. Waktu itu tentu saja Ai masih hidup, dan ia berdiri di balik jendela hanya untuk melihatnya muncul terhuyung­huyung menuju kran air yang mengucur langsung ke kolam ikan untuk mencuci muka. Sore itu ia juga berdiri di tempat yang sama, memandang beranda belakang rumah yang sama, biasanya Ai sedang berbincang­bincang dengan ibunya sambil memotongi bayam atau kangkung untuk makan malam mereka, tapi sore itu Ai tak ada di sana, sebab Ai sudah mati dan mayatnya ada di bawah tempat tidur Krisan.

Ia membayangkan mereka tentunya sudah mengetahui bahwa kuburan itu telah dibongkar seseorang dan ia juga membayangkan seorang lelaki berkata pada Sang Shodancho bahwa kuburan itu diaduk­aduk seekor anjing. Sang Shodancho akan duduk lemas di tempat biasanya ia duduk di hari Minggu yang panas, kini ia tampak semakin tua namun tetap bertahan menjadi penguasa rayon militer Halimunda seolah jabatan tersebut akan dipegangnya seumur hidup tanpa seorang pun bisa menggantikannya. Ia tentu saja tak akan percaya kuburan anaknya yang ketiga itu, yang akhirnya bisa lahir setelah kedua anak sebelumnya menghilang secara ajaib, dibongkar seekor anjing. Kuburan itu dibuat begitu dalam dengan palang­palang kayu yang kuat, meskipun anjing bisa mencium bau mayatnya, mereka tak bisa menggalinya.

”Hanya manusia yang bisa melakukannya, dan satu­satunya orang yang mungkin melakukan itu hanyalah Maman Gendeng.” Mungkin begitu kata Sang Shodancho.

Krisan tampaknya senang membayangkan bahwa ia bisa mengecoh banyak orang. Ia tahu betapa bencinya Sang Shodancho pada preman itu. Ia tahu persis Sang Shodancho masih memendam sakit hati yang lama ketika sang preman datang tiba­tiba ke kantor dan mengancamnya, meskipun peristiwa itu terjadi sebelum ia sendiri lahir. Tentu saja itu tak benar: Maman Gendeng tak mungkin menggali kuburan Ai, sebab itu tak ada gunanya, sebab yang ia inginkan hanyalah bertemu kembali dengan anaknya, Rengganis Si Cantik yang melarikan diri. Sekali lagi, Krisanlah yang menggali kuburan itu dan kini mayatnya tersimpan baik di bawah tempat tidurnya, dan ia jadi dibuat heran kenapa orang­orang tak mencurigainya sebagai pelaku.

Ia memang telah melakukannya sebagaimana mungkin seekor anjing akan melakukannya. Ia pikir dengan cara itu Ai tak akan marah dan sebaliknya senang belaka dengan apa yang ia lakukan. Krisan menggali kuburan Ai dengan tangan dan kakinya sendiri, mengacak­acak tumpukan tanah kuburannya yang masih lunak meskipun telah seminggu yang lalu tubuh Ai dibenamkan di sana. Ia bekerja hampir sepanjang malam, menggali tanpa henti. Untuk membuat Ai senang, ia bahkan membawa pula seekor anjing kampung, meskipun tampak jelas bahwa ia sama sekali tak berguna. Anjing itu hanya diam menonton, diikat dengan rantai ke batang pohon kamboja. Jejak­jejak anjing itu akan membuat orang terkecoh bahwa kuburan anak Sang Shodancho digali seekor anjing padahal Krisanlah yang melakukannya, dan ia berbuat sangat manis dengan menghilangkan jejaknya sendiri.

Ia mengakui betapa sulit menggali kuburan dengan tangan dan

kaki. Tapi bukankah begitu memang jika seekor anjing melakukannya, meskipun Krisan bukan seekor anjing, namun ia tengah berpura­pura sebagai seekor anjing. Ia bahkan melakukannya sambil memeletkan lidah segala, bergerak­gerak keluar­masuk, percaya Ai akan senang melihatnya dari langit. Dan ketika ia diserang haus di tengah­tengah kerja gilanya, ia akan melompat dengan berjalan mempergunakan tangan dan kakinya, menuju selokan yang mengalir di pinggir kuburan, dan meminum airnya langsung dengan mulut. Dengan kerja seperti itu, ia baru bisa mencapai kayu penopang pada pukul tiga dini hari setelah menggali sejak pukul setengah delapan senja.

Kayu­kayu penopangnya dipasang miring berderet. Jika kau mengangkat kayu­kayu tersebut, kau akan melihat tubuh Ai yang terbalut kain kafan tergolek di sebuah ceruk tanah. Krisan hanya perlu membongkar beberapa kayu penopang sebelum bisa mengangkat tubuh Ai. Tubuhnya sangat ringan dan Krisan terlonjak dalam kebahagiaan yang begitu misterius. Untuk pertama kali ia bisa memeluk tubuhnya demikian erat tak peduli bahwa ia sudah mati. Dari dalam kain kafan itu berembus harum yang aneh, serupa berada di taman bunga, namun tentu saja itu bukan harum bunga melainkan harum tubuh gadis itu sendiri. Krisan memanggul mayat Ai di bahunya setelah melepaskan si anjing kampung agar pergi ke mana ia suka. Ia bergegas pulang dengan langkah hati­hati karena pada saat seperti itu orang­orang biasanya sudah terbangun, bersiap­siap pergi ke masjid dan beberapa penjual sayur bersiap­siap pergi ke pasar membuka kios­kios mereka di pasar dan beberapa orang mungkin keluar hanya untuk buang tai di kolamkolam yang berderet di pinggiran kota tak jauh dari tempat pemakaman. Ia sampai di rumah dengan selamat tanpa seorang pun memergokinya membawa mayat Ai. Baik nenek maupun ibunya (setelah kematian ayahnya, Mina neneknya tinggal bersama mereka mengurus usaha jahitan bersama Adinda), keduanya belum terbangun meskipun ia tahu mereka tukang bangun pagi. Ia masuk lewat pintu dapur, melangkah dengan berjinjit masuk ke kamar dan menyembunyikan mayat Ai di bawah tempat tidurnya. Pekerjaan berikutnya adalah memeriksa jalan dari dapur ke kamar tidur, memastikan bahwa ia telah membersihkan semua tanah liat yang mungkin tercecer dan membangkitkan kecurigaan ibunya seandainya ia menyapu lantai nanti di pagi hari. Krisan telah membersihkannya secepat tukang sapu di sekolahnya, dan kini saatnya ia kembali ke tempat tidur dan memeriksa mayat itu. Ia menarik tubuh

Ai dari kolong tempat tidur dan membuka kain kafannya.

Dengan serta­merta bau harum itu menyeruak semakin kuat dan Krisan bisa melihat tubuh Ai yang begitu segar. Gadis itu tampak seperti berbaring di lantai, beralaskan kain kafan, seolah ia sebenarnya tak mati tapi sekadar tidur sejenak untuk kemudian terbangun lagi. Krisan tak terlampau dibuat terkejut, sebab ia telah cukup yakin bahwa tubuh Ai tak akan membusuk meskipun ia dikubur bertahun­tahun dan bahkan berabad­abad, apalagi jika hanya seminggu. Pagi itu ia membuktikan keyakinannya sambil menyaksikan pipinya yang kemerahan sebagaimana pipinya ketika ia masih hidup.

Tiba­tiba ia merasa malu melihatnya dalam keadaan telanjang. Ia segera menutup tubuh itu dengan kain kafan kembali, kecuali bagian mukanya yang dibiarkan terbuka, tempat ia bisa terus memandang kecantikannya. Tiba­tiba ia telah menangis, betapa cengengnya bocah ini, sedih karena ia telah mati dan kini ia merasa ditinggalkan sendiri di dunia yang sunyi. Tapi kemudian tangisannya sedikit bernada lain, tangisan keharuan, berterima kasih pada Ai karena bahkan ketika ia mati pun ia tak membusukkan dirinya sendiri. Ia tetap abadi dalam kecantikannya, dan ia percaya itu dilakukan untuknya seorang. Tanpa sadar ia telah mencium pipi mayat gadis itu.

Krisan telah jatuh cinta pada Ai sejak lama, mungkin sejak mereka masih orok, dan ia yakin gadis itu jatuh cinta kepadanya sejak lama pula, sejak mereka masih sering tidur di buaian yang sama. Mereka itu saudara sepupu, sebagaimana mereka pada Rengganis Si Cantik. Ibu mereka, Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi itu kakak­beradik, semuanya anak Dewi Ayu, jadi anak­anak itu memang sepupuan. Rengganis Si Cantik lahir enam bulan sebelum Ai, dan Ai lahir dua belas hari sebelum Krisan. Mereka telah hidup bersama­sama bahkan sejak masih orok, menangis bersama, ngompol bersama, masuk taman kanak­kanak yang sama, sekolah yang sama, hingga Krisan menyadari bahwa ia jatuh cinta pada Ai. Atau mungkin ia telah jatuh cinta sejak pertama kali dilahirkan, sebab wajah pertama yang ia lihat adalah wajah gadis itu, masih berumur dua belas hari dalam pelukan ibunya. Waktu itu Alamanda dan Sang Shodancho dan ayahnya sendiri tengah menungguinya lahir, dan ketika ia lahir ia melihat gadis kecil itu di pelukan ibunya. Siapa tahu cinta pada pandangan pertama juga berlaku buat para bayi. Dan lagipula setelah itu Sang Shodancho mengatakan kata­kata semacam, semoga anakmu dan anakku berjodoh. Krisan seharusnya mendengar itu, tak peduli ia baru muncul di dunia, dan ia kemudian menganggap 

perjodohan mereka memang telah ditakdirkan oleh alam semesta. Tapi bukan perkara yang gampang untuk bikin pengakuan pada gadis itu bahwa ia mencintainya, terutama karena Ai adalah sepupunya dan mereka berteman begitu dekatnya. Bisa­bisa pengakuan semacam itu akan membuat hubungan manis mereka jadi berantakan. Tapi jika ia tak mengatakannya, seumur hidup si gadis mungkin tak akan menyadari bahwa ia mencintainya, sampai kemudian ia akan menyesal setelah gadis itu diambil orang lain. Itulah hal yang paling ia takuti: suatu hari ada seorang lelaki mendekati Ai dan akhirnya mereka berkencan. Tampaknya ia lebih suka gantung diri daripada patah hati.

Masalah lain yang lebih serius: Krisan tak punya teman selain Rengganis Si Cantik dan Ai untuk sekadar bagi cerita. Ia juga tak mungkin bicara soal itu pada nenek dan ibunya, dan apalagi pada kedua paman dan bibinya. Ia juga tak mungkin menulis buku harian sebagaimana kebiasaan konyol banyak anak sekolah, sebab Ai pasti akan membacanya di mana pun ia bisa menyembunyikan. Masalahnya menjadi gampang jika ia tahu bahwa Ai juga mencintainya, namun selama ini ia cuma beranggapan, dan ia takut bahwa harapannya terlalu berlebihan. Akan sangat menyakitkan jika Ai tahu bahwa ia mencintai gadis itu, sementara gadis itu ternyata tak mencintainya. Segala sesuatunya tampak begitu merepotkan, hingga seringkali ia mengutuki nasib kenapa harus lahir sebagai sepupu gadis itu.

Ketika si tukang main jailangkung Kinkin melamar Rengganis Si Cantik di terminal bis pada Maman Gendeng, tiba­tiba satu teror baru melanda dirinya. Seseorang telah mengumumkan pada dunia bahwa ia mencintai Rengganis Si Cantik, dan tak lama kemudian seseorang yang lain akan datang pada Sang Shodancho untuk melamar Nurul Aini. Krisan bertekad untuk memperoleh cinta gadis itu sebelum orang lain memperolehnya.

Ia merencanakan ungkapan cintanya nyaris berminggu­minggu, masa­masa yang paling membuatnya menderita.

Krisan mulai menulis beberapa surat cinta, dan pada setiap kata Ai, ia sengaja mengosongkannya dengan tidak menulis dua huruf tersebut, sebab Ai sering tiba­tiba muncul di kamarnya dan akan menjadi malapetaka jika ia memergokinya menulis surat cinta untuk gadis tersebut. Nyaris sepuluh buah surat cinta yang panjang menyerupai sebuah cerita pendek ia tulis, namun semuanya tak pernah dikirimkan. Lewat pos pun tidak, apalagi memberikannya langsung. Surat­surat itu hanya disimpan di bawah tumpukan celana dalamnya di dalam lemari. Bukan karena ia punya selera yang jorok, tapi di situlah tempat paling aman, sebab tak ada rahasia bagi gadis itu di kamar Krisan. Ia sering datang dan mengaduk apa pun, mencuri apa pun yang ia sukai, dan terutama mengambil novel­novel silat peninggalan Kamerad Kliwon. Telah menjadi kesepakatan tak tertulis di antara mereka bertiga, Krisan, Ai, dan Rengganis Si Cantik, bahwa semua milik salah satu dari mereka adalah milik bersama. Kecuali celana dalam. Ai tak pernah mau menyentuh barang itu, maka surat­surat cinta Krisan aman di baliknya. Bukti cintanya yang tak pernah terungkapkan.

Setelah merasa konyol menulis surat, si bocah laki­laki sering berpikir untuk berkata terus­terang bahwa ia mencintainya. Mencintainya lebih dari sekadar saudara sepupu, tapi sebagai seorang laki­laki dan seorang perempuan. Tertekan oleh satu perasaan bahwa meskipun keduanya hidup begitu dekat, demikian hangat, dan bahkan meskipun nasib telah memutuskan bahwa kelak mereka akan saling mengawini satu sama lain, ia merasa hidup begitu tawar tanpa pernah mengatakan perasaan yang sesungguhnya pada gadis itu.

Ia pernah melewatkan beberapa hari hanya untuk berlatih mengatakan kata cinta. Ia berdiri di depan cermin membayangkan gadis itu berdiri di sampingnya, mungkin tengah memandang burung camar menyambar permukaan air laut pada satu tamasya di pantai, dan ia akan berkata, ”Ai …” kata­kata itu ia putus dengan sengaja, percaya pada waktunya nanti ia memang perlu berhenti sejenak menunggu reaksi si gadis, paling tidak jika si gadis tidak menoleh ia akan memasang telinganya dengan baik. Kemudian ia akan melanjutkan dengan suara jernih mengalahkan keributan yang diakibatkan debur ombak dan suara angin menggoyang daun pohon kelapa serta semak pandan, ”Tahukah kau bahwa aku mencintaimu?”

Hanya sebaris kalimat pendek. Krisan percaya ia bisa mengatakannya, dan ia akan membayangkan gadis itu kemudian merona merah pada pipinya, akan begitu meskipun ia telah tahu sejak lama bahwa Krisan diam­diam mencintainya. Tentu saja Ai mungkin tak akan menoleh, gadis seperti Ai cenderung pemalu, dan ia akan menunduk karena malu terlihat begitu bahagia. Tapi tanpa menoleh ia akan berkata bahwa ia pun mencintainya.

Apa yang terjadi kemudian jauh lebih mudah dipikirkan Krisan. Ia akan menggenggam tangan si gadis dan segala sesuatunya akan beres selama bertahun­tahun ketika mereka kawin dan melahirkan anakanak dan melihat cucu­cucu dan mati bersama berpuluh­puluh tahun kemudian. Bayangan itu begitu indah membuat Krisan merasa tak yakin sendiri, maka ia berlatih lebih keras mengucapkan sebaris kalimat pendek tersebut berkali­kali: di kamar mandi, di tempat tidur, di mana pun. Bahkan ia mencoba mempraktikkannya dengan menunjuk si nenek sebagai kelinci percobaan ketika suatu sore Mina tengah menyulam di beranda depan dan ia duduk di sampingnya.

Ia berkata secara tiba­tiba, ”Nenek…” Sebagaimana telah ia latih, ia berhenti pada bagian itu.

Mina berhenti memainkan jarum sulam, lalu menoleh memandangnya dari balik kaca mata tebal dengan tatapan bertanya, curiga bahwa bocah itu memanggilnya hanya untuk meminta uang bagi keperluankeperluan tak masuk akal sebagaimana sering terjadi. Tapi betapa terkejutnya Mina ketika Krisan melanjutkan:

”Tahukah Nenek bahwa aku sangat mencintaimu?”

Mendengar itu mata Mina jadi berkaca­kaca dan dengan serta­merta ia meletakkan alat­alat sulamnya, menggeser tempat duduknya dan memeluk Krisan sambil berkata, dengan air mata keharuan semakin deras mengalir, ”Betapa manisnya kau. Bahkan Kamerad gila yang adalah anakku sendiri tak pernah mengatakan yang seperti itu.”

Tapi ketika Krisan bertemu Ai, bahkan dalam kesempatan ketika mereka hanya berdua tanpa Rengganis Si Cantik sebagaimana terlalu sering hal itu terjadi, apa yang telah ia ingat seketika menguap. Dan meskipun ia telah berjanji untuk mengatakannya pada kesempatan yang lain, tetap saja kata­kata itu selalu lenyap dari otaknya setiap kali berada di depan gadis itu. Ai selalu membuatnya terbungkam, sebab ia seperti membuatnya luruh dalam badai cinta yang tak terkatakan.

Hingga kemudian datang peristiwa tersebut: Rengganis Si Cantik melahirkan bayi dan ia menghilang dari rumah. Orang yang paling terguncang, bahkan lebih terguncang dari Maya Dewi dan Maman Gendeng orang tua Rengganis Si Cantik, adalah Ai. Telah lama semua orang tahu bahwa Ai menganggap dirinya sebagai pelindung Rengganis Si Cantik, dan kini ketika gadis itu hamil tanpa tahu siapa yang menghamilinya (kecuali pengakuan Rengganis: anjing), dan kemudian melahirkan bayi, dan pergi menghilang, itu membuat si gadis Ai terguncang hebat. Ia jatuh sakit pada hari itu juga, demam tinggi dan mengigaukan nama Rengganis. Itu memang masuk akal. Krisan tahu bahwa kedua gadis itu sangat dekat satu sama lain, jauh lebih dekat daripada mereka dengannya. Mungkin karena alasan­alasan khusus bahwa keduanya sama­sama perempuan (meskipun begitu Krisan seringkali cemburu karenanya).

Demamnya berlangsung berhari­hari, dan dokter tak ada yang tahu apa jenis penyakitnya, sebab setelah beberapa pemeriksaan terbukti tubuhnya dalam kondisi yang sangat baik.

”Ia kesurupan hantu komunis,” kata Shodancho. ”Tutup mulutmu!” teriak Alamanda.

Krisan adalah satu­satunya penunggu setia jika siang hari sepulang sekolah, hanya memandangnya berbaring lemah dengan tatapan mata kosong dan badan panas menggigil. Jelas itu bukan waktu yang tepat untuk mengatakan bahwa ia mencintainya. Sebagai seorang lelaki pada seorang gadis: waktu itu mereka berumur sekitar tujuh belas tahun.

Ai sering muncul tiba­tiba di kamar Krisan. Kadang­kadang lewat pintu, namun tak jarang ia melompat melalui jendela terbuka. Bahkan ketika mereka telah berumur tujuh belas tahun sebelum Ai sakit. Suatu malam sekitar pukul tujuh ia muncul lagi di kamar Krisan, melompat lewat jendela dengan senyum nakal seolah ia punya rencana sedikit agak jahat untuk menjahili Krisan. Ia tampak begitu cantik, manis, dan sehat. Ia mengenakan pakaian serba putih, berenda­renda, begitu bersih dan seolah ini hari Lebaran dengan pakaian baru, dan bagaikan ada cahaya dari tubuh gadis itu. Krisan akan selalu mengenang kunjungan tiba­tiba tersebut. Wajahnya begitu berseri­seri, seolah tak tahan menahan senyum nakalnya, dan tak tahan menyembunyikan rahasia kejahilannya, semakin cantik karena rambutnya yang hitam gelap dan lurus sepinggul dibiarkan jatuh terurai tanpa ikatan. Matanya yang tajam begitu berbinar, di atas ujung kiri dan kanan hidung yang lembut, dan senyum nakal itu memperlihatkan bibirnya yang indah menggoda, dengan pipi kemerahan menggemaskan. Krisan baru saja berbaring selepas makan malam bersama ibu dan neneknya, dan dibuat terkejut oleh kunjungan mendadak itu, dan ia menyadari pada jam tujuh ia belum juga menutup jendela.

”Kau,” katanya pendek sambil duduk di tepi ranjang, ”telah sembuh?” ”Sesehat gadis olimpiade,” kata Ai sambil tertawa kecil dan mem­

peragakan gaya binaragawati mengangkat kedua tangannya.

Lalu, seolah didera kerinduan yang demikian besar, tanpa sadar, keduanya saling menghampiri dan saling memeluk begitu erat, lebih erat dari pelukan Adinda dan Kamerad Kliwon dalam peristiwa dikejar anjing di masa lalu. Dan entah siapa yang memulai, keduanya telah saling mencium, lebih panas daripada ciuman Kamerad Kliwon dan Alamanda di bawah pohon ketapang atau ketika mereka berselingkuh, dan kemudian mereka jatuh ke atas tempat tidur.

”Ai,” kata Krisan akhirnya, ”tahukah kau bahwa aku mencintaimu?” Ai menjawab dengan senyumnya yang memesona itu, yang membuat Krisan mabuk kepayang dan kembali menciumnya. Dalam waktu yang tak lama keduanya telah melucuti pakaian mereka masing­masing dalam dorongan berahi anak­anak remaja yang tak terkendali, bercinta lebih liar daripada Alamanda dan Sang Shodancho pada subuh ketika mereka tak jadi mengeksekusi Kamerad Kliwon, bercinta lebih liar dari Maman Gendeng dan Maya Dewi ketika mereka bercinta pertama kali setelah penantian selama lima tahun, melewatkan sepanjang malam dalam permainan cinta dua orang bocah belasan tahun dengan semangat yang sangat menyala serta keinginan mencoba yang luar biasa.

Usai bercinta Ai mengenakan kembali pakaiannya yang serba putih itu, melompat jendela kembali, dan melambaikan tangan.

”Aku harus pulang,” katanya, ”pulang.”

Bagian terakhir itu telah menjadi samar­samar ketika Krisan terguncang oleh satu guncangan di selangkangannya dan terbangun tak mendapati Ai. Bahkan jendela kamarnya tertutup rapat. Itu hanya mimpi. Itu bukan mimpi basahnya yang pertama, tapi bagaimanapun itu yang terindah. Ia belum pernah bermimpi seperti itu bersama Ai, meskipun lama ia berharap demikian, dan mimpi itu membuatnya sangat bahagia.

Ketika samar­samar dilihatnya cahaya matahari menerobos kisikisi jendela, ia membukanya dan melihat beranda belakang rumah Shodancho. Ada begitu banyak kerumunan orang, bahkan ia melihat ibunya ada di sana. Sesuatu menghentak di jantungnya. Ia melompat jendela, tanpa cuci muka sama sekali, dan bahkan tanpa alas kaki, berlari menuju rumah Shodancho dan menerobos kerumunan. Ia masuk ke kamar tempat Ai selama itu berbaring, melihat Alamanda duduk di tepi tempat tidur menangis. Demi melihat Krisan muncul, Alamanda segera berdiri dan memeluk anak laki­laki itu tanpa berhenti menangis, mengacak­acak rambutnya, dan sebelum Krisan bertanya apa yang terjadi, Alamanda telah berkata:

”Kekasih cantikmu telah pergi.”

Kini setelah ia menggali kuburan dan membawa mayatnya ke rumah, Krisan menangis di samping tubuh tersebut demi mengingat mimpi terakhir sebelum Ai mati. Apa yang disedihkannya, mungkin fakta bahwa sampai kematiannya ia bahkan belum pernah mengatakan kata cinta itu pada si gadis. Kalaupun ia pernah mengatakannya, itu ada di dalam mimpi. Atau ia menangis oleh rasa haru bahwa, bahkan sebelum kepergiannya, gadis itu telah menyempatkan diri datang kepadanya, tak peduli itu hanya di dalam mimpi. Gadis itu datang untuk mendengarnya mengatakan cinta, datang untuk memberikan keperawanannya, datang untuk bercinta dengannya, sebelum ia pulang, pulang yang tak datang lagi. Mungkin itulah yang membuatnya menangis, merasa kehilangan, merindukan dan menderita setengah mati. Sebab tubuh mati yang secantik apa pun tetaplah berbeda dengan gadis hidup.

Pengakuan kedua: Krisanlah yang membunuh Rengganis Si Cantik dan membuang mayatnya ke tengah laut.

Seminggu setelah Krisan menggali kuburan Ai, seseorang mengetuk daun jendela kamarnya dengan lembut di tengah malam. Krisan terbangun dan membuka jendela, di sana berdiri Rengganis Si Cantik, tampak menyedihkan. Rambutnya acak­acakan dan pakaiannya sedikit basah, tapi itu tetap tak menutupi kecantikannya yang mengagumkan itu. Bahkan Krisan mengakuinya, mengakui bahwa Rengganis Si Cantik memang lebih cantik dari Ai, sebagaimana Ai juga sering mengatakannya.

”Ya, ampun, apa yang kau lakukan?” tanya Krisan. ”Aku kedinginan.”

”Bodoh, itu sudah sangat jelas.”

Krisan melongok keluar jendela berharap tak ada siapa pun yang melihat mereka, dan menarik tangan Rengganis Si Cantik membantunya masuk melompati jendela. Ia tampaknya telah kehujanan, atau terperosok ke dalam parit, atau semacamnya, dan jelas tampak sangat kelaparan pula.

”Ganti pakaianmu,” kata Krisan sambil memastikan pintu kamarnya terkunci.

Rengganis Si Cantik membuka lemari pakaian Krisan, mengambil kaus oblong dan celana jeans, bahkan celana dalam Krisan. Kemudian, di depan bocah lelaki itu, tanpa merasa segan ia membuka pakaiannya, satu per satu, sampai tak tersisa. Tubuhnya begitu bagus, mengilau oleh basah dan lampu, membuat Krisan nyaris tersedak. Ia, bocah lelaki itu, duduk bersila di tempat tidurnya, ngaceng, namun tak beranjak meskipun ia ingin melompat dan memerkosa gadis di depannya. Selalu ada hawa nafsu berahi dari tubuh Rengganis Si Cantik, sebab tubuhnya begitu menakjubkan untuk diajak bercinta. Ia masih di atas tempat tidurnya, sementara Rengganis Si Cantik, dalam ketidakpeduliannya yang menakjubkan, mengeringkan tubuhnya dengan handuk kecil yang ia temukan menggantung di balik pintu.

Buah dadanya sesempurna perempuan dewasa, Krisan memandangnya cukup lama, membayangkan ia menyentuhnya, meremasnya, menciumnya, dan menyentuh putingnya dalam sentuhan nakal. Ada lengkungan indah dari dada ke pinggulnya, seperti dibuat dengan jangka, begitu simetris di kiri­kanan. Dan di tengah selangkangannya, di balik rimbun rambutnya, sesuatu sedikit menggelembung, seperti buah kelapa muda, namun pasti lembut. Krisan semakin ngaceng, semakin ingin melompat dan menyeret gadis sepupunya itu ke atas tempat tidur dan memerkosanya. Tapi ia tak melakukannya. Tidak dengan mayat Ai tergeletak di bawah tempat tidurnya. Siksaan itu berakhir perlahan­lahan. Rengganis Si Cantik mengenakan celana dalam Krisan, tak peduli itu celana dalam lelaki. Lalu mengenakan celana jeansnya, dan buah dadanya segera lenyap di balik kaus oblong. Tapi Krisan tetap ngaceng sebab ia tahu, di balik kaus oblong itu buah dada gadis itu tak terlindung kutang.

”Bagaimana aku kelihatan, Anjing?” tanya Rengganis Si Cantik. ”Jangan panggil aku Anjing, namaku Krisan.”

”Baiklah Krisan,” dan Rengganis Si Cantik duduk di tepi tempat tidur di samping anak lelaki itu. ”Aku lapar.”

Krisan pergi ke dapur dan mengambil sepiring nasi, dengan sayur bayam dan sepotong goreng ikan. Hanya itu yang ia temukan di lemari makan. Ia memberikannya pada si gadis beserta segelas air putih, dan gadis itu memakannya demikian lahap, meminta tambah ketika habis. Krisan kembali ke dapur, mengambil porsi makan yang sama, dan gadis itu memakannya dengan kerakusan yang tak berubah, seolah ia tak pernah diajari bagaimana makan dengan cara yang benar. Krisan bersyukur setelah porsi kedua gadis itu tak meminta tambah lagi, sebab besok pagi ibunya akan bingung dan tak akan percaya jika ia berkata makan sebanyak tiga porsi di malam hari.

”Dan sekarang,” kata Krisan, sementara Rengganis Si Cantik mulai mengeringkan rambutnya, ”di mana anak bayi itu?”

”Mati dimakan ajak.”

”Tai,” kata Krisan, ”tapi syukurlah. Katakan apa yang terjadi.” Rengganis Si Cantik menceritakannya. Malam itu ia pergi dari ru­

mah membawa bayinya, dengan tujuan yang telah pasti: gubuk gerilya Sang Shodancho di tengah hutan tanjung. Lama hal itu telah menjadi rahasia mereka bertiga: Rengganis Si Cantik, Ai, dan Krisan. Mereka pernah mendengar tentang gubuk tersebut, dan pernah mencarinya sebelum menemukannya. Dua atau tiga kali mereka pernah mendatanginya lagi, dalam satu tamasya. Malam itu Rengganis Si Cantik pergi ke sana bersama bayinya, tahu pasti itu sebagai tempat persembunyian paling hebat, yang bahkan Ai sendiri tak pernah menduga bahwa ia pergi ke sana. Bayi itu sangat rewel, katanya, dan ia mencoba menyusuinya, tapi tetap rewel. Ia tak mengenakan apa pun, bayi itu, hanya dibelit selimut dan dihangatkan pelukan ibunya. Gubuk gerilya sesungguhnya bisa ditempuh selama delapan jam perjalanan jalan kaki, sebagaimana pernah mereka buktikan. Tapi Rengganis Si Cantik yang lari dengan bayinya membutuhkan waktu sehari semalam, tepatnya semalam sehari. Ia sedikit tersesat ke sanakemari, dan ia berjalan sangat lambat. Ia telah berlaku sangat bodoh tidak membawa bekal apa pun. Maka mereka sampai ke gubuk gerilya dalam keadaan yang sangat kelaparan.

”Tak ada apa pun yang bisa dimakan,” kata Rengganis Si Cantik.

Bagaimanapun ia anak kota, tak mengenal apa pun di hutan yang bisa dimakan. Tapi lama­kelamaan ia dipaksa untuk mencoba memakan apa pun yang ditemukannya. Ia menemukan buah­buah kenari yang berjatuhan dari pohonnya, terpukau oleh tempurungnya yang keras, mencoba memecahkannya dengan batu, mencicipi rasa bagian dalamnya. Ketika ternyata rasanya cukup enak, ia mengumpulkan banyak buah kenari dan itulah makan malamnya yang pertama. Air tidak terlalu menjadi masalah, sebab di samping gubuk gerilya mengalir sebuah sungai kecil dengan airnya yang jernih.

Yang bermasalah adalah bayinya. Ia terus rewel. Sepanjang jalan ia telah menyumpal mulutnya dengan ujung selimut, agar pelariannya tak diketahui orang. Ia harus berlari di balik bayang­bayang pepohonan, tidak melalui jalan umum, melainkan menerobos kebun pisang dan ketela. Itu pun harus berhati­hati sebab banyak petani berkeliaran di malam hari untuk menengok sawahnya, atau para peronda, atau orang­orang yang mencari belut dan belalang. Ujung selimut cukup berhasil membungkam kerewelan bayinya, namun nyaris membunuhnya. Ketika ia telah masuk hutan tanjung, ia kemudian berani membuka sumpal itu dan berlari masuk ke dalam hutan dengan si bayi menangis terus­menerus, percaya tak ada orang lain berkeliaran di hutan tersebut malam­malam. Di gubuk gerilya bayi itu masih tetap rewel meskipun ibunya telah menyusuinya. Bahkan di saat­saat akhir ia mulai menolak disusui. Ia ngompol dan selimut yang membungkusnya basah, tapi Rengganis Si Cantik tak punya apa pun lagi untuk menggantinya, maka ia hanya menggeser­geser selimut tersebut, memindahkan daerah basah ke bagian luar. Namun dengan cara itu pun si bayi tetap menangis, dengan suaranya yang makin lama makin lemah. Baru kemudian Rengganis Si Cantik menyadari bahwa bayinya terserang demam. Hawa panas keluar mengambang dari tubuhnya, dan bayi itu menggigil kedinginan. Ia tak tahu apa yang mesti dikerjakan, maka ia hanya melihat bagaimana bayi itu menderita dalam demam.

”Ia kemudian mati pada hari ketiga,” kata Rengganis Si Cantik.

Dan ia pun tak tahu apa yang mesti ia lakukan. Ia membawa mayat bayi itu setelah membuka selimutnya keluar gubuk gerilya, meletakkannya pada sebuah batu tempat bertahun­tahun lalu dipergunakan Sang Shodancho dan anak buahnya sebagai meja makan, dan selama seharian ia hanya memandangi mayat bayinya tanpa bisa berpikir apa yang harus ia lakukan. Baru ketika sore hari ia memperoleh gagasan untuk melemparkannya ke laut, tapi ia tak melakukannya karena kemudian segerombolan ajak datang dan mengelilingi ia dan bayinya, terpanggil oleh bau mayat. Rengganis Si Cantik menatap ajak­ajak tersebut, dan melihat betapa mereka begitu bernafsu memperoleh mayat bayi tersebut, maka ia melemparkan bayinya ke arah ajak­ajak itu. Mereka berebutan seketika, namun kemudian salah satu dari mereka menyeretnya jauh ke hutan diikuti ajak­ajak yang lain.

”Kau lebih mengerikan dari setan,” kata Krisan bergidik memandang

Rengganis Si Cantik.

”Tapi itu lebih mudah daripada menggali kuburan,” kata Rengganis Si Cantik.

Keduanya terdiam, mungkin sama­sama membayangkan bagaimana ajak­ajak itu mencincang mayat bayi kecil tersebut. Bayi yang malang. Krisan tak tahu apa yang akan dilakukan Maman Gendeng jika tahu itulah nasib cucunya. Ia mungkin akan menjadi gila, mungkin membakar seluruh kota, atau membunuh semua orang, terutama membunuh semua ajak. Bahkan sekarang akan menjadi sia­sia untuk menemukan sisa­sisanya. Ajak­ajak itu mungkin tidak akan menyisakan apa pun, sebab bahkan tulangnya pun masih begitu lunak untuk dimakan. Krisan nyaris muntah membayangkan seekor ajak menelan mentah­mentah kepala bayi itu.

”Dan kau tak datang,” kata Rengganis Si Cantik sambil memandang Krisan, satu pandangan antara marah dan kecewa, ”aku menunggu sampai tadi sore, hanya makan buah keras itu.” ”Aku tak bisa datang.” ”Kau jahat.”

”Aku tak bisa datang,” kata Krisan dan memberi isyarat pada Rengganis Si Cantik untuk tidak bersuara terlalu keras, khawatir ibu dan neneknya memergoki mereka. ”Sebab Ai sakit dan kemudian ia mati.”

”Apa?”

”Ai sakit dan kemudian mati.”

”Itu tak mungkin.” Rengganis Si Cantik tampak sedih, dan tampak mencoba tak percaya.

Krisan melompat dari tempat tidurnya, merogoh mayat itu dari bawah ranjangnya, menariknya dan memperlihatkannya pada Rengganis Si Cantik. Mayat Ai terbaring di lantai berselimutkan kain kafan, masih sama keadaannya seperti ketika Krisan pertama kali membawanya. Begitu segar, cantik, dan serasa bukan mayat.

”Ia hanya tidur,” kata Rengganis Si Cantik, turun dari tempat tidur dan memeriksa wajah Ai.

”Bangunkan jika kau bisa.”

Rengganis Si Cantik mencoba membangunkan Ai, tapi jelas itu sia­sia. Ia mengguncang­guncangnya, membuka paksa matanya, memijit hidungnya, dan akhirnya ia duduk terisak­isak sendiri menangisi kematian gadis paling dekat dalam hidupnya. Gadis yang selalu ada kapan pun ia membutuhkannya. Rengganis Si Cantik tiba­tiba menyesal kenapa ia tak melibatkan gadis itu dalam usaha pelariannya, mengajaknya ikut serta ke gubuk gerilya. Ia akan jauh merasa sedih jika tahu bahwa gadis itu sakit setelah mengetahui ia lari dari rumah, dan kemudian mati karena itu. Sementara itu Krisan hanya berdiri mematung, hanya khawatir Rengganis Si Cantik menangis semakin keras membangunkan ibu dan neneknya, hingga kemudian gadis itu bertanya:

”Kenapa ia ada di sini?”

”Aku menggali kuburannya,” kata Krisan. ”Kenapa kau menggali kuburannya?”

Ia tak tahu jawabannya, atau tak tahu harus menjawab apa pada Rengganis Si Cantik. Maka ia hanya diam memandang gadis itu, sedikit salah tingkah, sebelum gagasan cemerlangnya muncul di saat­saat paling dibutuhkan. ”Untuk melihat kita kawin.” Alasan itu tampaknya menenangkan Rengganis Si Cantik. ”Jadi kapan kita kawin?”

Pertanyaan itu agak mengganggu Krisan, dan ia duduk di ujung tempat tidur, tampak sebagaimana kebanyakan orang tengah berpikir. Ia memandang Rengganis Si Cantik, kemudian memandang wajah mayat Ai di bawahnya, lalu memandang pakaian yang menggantung di balik pintu, memandang tumpukan novel­novel silatnya, memandang bantal, dan memandang Rengganis Si Cantik kembali. Gadis itu masih menatapnya, menunggunya menjawab.

”Malam ini juga,” kata Krisan. ”Di mana?”

”Aku sedang memikirkannya.”

Dan ketika gagasan itu muncul, ia segera mengatakannya pada Rengganis Si Cantik. Mereka segera melucuti kain kafan yang menyelimuti tubuh Ai, dan memberinya pakaian dari lemari Krisan. Pakaian lelaki sebagaimana yang dikenakan Rengganis Si Cantik, berupa celana dalam lelaki, celana jeans dan kaus oblong. Setelah mayat itu tampak bagaikan gadis hidup biasa yang tengah berbaring, Krisan membuka pintu kamar memeriksa kamar ibu dan neneknya, memastikan kedua orang itu tertidur dengan lelap. Ia mengeluarkan sepeda mininya secara diam­diam melalui pintu belakang, tanpa menimbulkan suara. Lalu ia kembali lagi membopong mayat Ai, berjalan keluar kamar diikuti Rengganis Si Cantik setelah mengunci pintu kamar. Mereka melangkah dengan langkah berjinjit, melalui dapur, dan ke halaman belakang tempat sepeda itu menunggu. Rengganis Si Cantik duduk di boncengan, mengapit mayat Ai yang ia peluk erat­erat agar tidak jauh, dan Krisan duduk di depan. Dalam satu kali kayuh sepeda itu telah meninggalkan halaman rumah menuju jalan, di tengah malam di bawah lampu jalanan. Melesat menuju laut.

Mereka beruntung tak banyak orang memergoki mereka. Kalaupun

ada satu dua orang berpapasan, mereka tak terlampau curiga pada seorang anak laki­laki tujuh belas tahunan membonceng dua gadis, dan berpikir paling­paling mereka kemalaman dari tempat hiburan. Tak seorang pun mengira bahwa mereka adalah Krisan, bahwa yang di tengah adalah sesosok mayat yang ketika hidup bernama Ai, dan yang duduk paling belakang adalah Rengganis Si Cantik yang tengah dicari ayahnya selama hari­hari terakhir.

Krisan berhenti di tepi pantai, pada sebuah tembok beton pembatas laut dan darat. Hari telah menjelang dini hari, dan ia melihat beberapa perahu telah berlabuh. Warna kemerahan mulai tampak di langit timur. Waktu yang sangat menguntungkan pikirnya.

”Tunggu di sini, aku akan mencuri perahu,” kata Krisan.

Masih dengan mendekap mayat Ai agar tidak roboh, Rengganis Si Cantik duduk di tembok itu, di samping sepeda, menunggu Krisan. Anak itu muncul dengan sebuah perahu entah milik siapa. Mungkin sudah bukan milik siapa­siapa, sebab perahunya tampak begitu jelek, meskipun tak ada lubang satu pun. Krisan mendayung mendekati tempat Rengganis Si Cantik menunggu, dan mepet ke arah dinding tembok. ”Lemparkan mayat itu,” katanya. Rengganis Si Cantik melemparkan mayat Ai ke dalam lambung perahu, membuat perahu sedikit terayun­ayun, dan mayat itu kini berbaring di sana. Rengganis Si Cantik melompat ke salah satu ujung dan duduk di sana, sementara di ujung lain Krisan mulai mendayung meninggalkan pantai, menuju tengah laut, tempat yang ia janjikan untuk kawin dengan Rengganis Si Cantik. Krisan mencoba untuk tidak berpapasan dengan perahu­perahu nelayan yang mulai pulang ke pantai, dan tak khawatir pada kapalkapal penangkap ikan yang jauh di tengah. Pagi mulai datang dengan sinar matahari muncul di balik bukit Ma Iyang, sinarnya serupa garisgaris lurus yang dipendarkan permukaan air laut. Warna kemerahan di langit mulai memudar dan burung­burung camar, dan mungkin juga walet, mulai tampak berterbangan di angkasa. Itu memudahkan Krisan untuk melihat arah perahu­perahu nelayan, dan berbelok jika sekiranya

mereka akan berpapasan.

Lama ia mencari daerah laut yang sepi, yang sekiranya tak pernah dikunjungi perahu mana pun. Ia berputar­putar, selain menghindari perahu­perahu nelayan, juga mencari tempat seperti itu. Hingga ia menemukannya, di laut yang berwarna biru gelap. Ia tahu pasti bagian tersebut pasti sangat dalam, dan itulah alasan mengapa tempat itu sepi dari perahu nelayan, sebab tak banyak ikan di tempat seperti itu. Tentu saja tak ada yang tahu di antara mereka, Rengganis Si Cantik dan Krisan, bahwa bertahun­tahun lalu Kamerad Kliwon pernah menculik Alamanda juga ke tempat tersebut.

Pagi datang dengan sempurna. ”Jadi kapan kita kawin?”

”Jangan tergesa­gesa, berjemurlah sebentar,” jawab Krisan.

Krisan berbaring di ujung perahu tersebut, memandang langit. Rengganis Si Cantik mencoba menirunya di ujung lain. Wajah Krisan tampak murung dengan dahi berkerut, sama sekali tak terpesona oleh langit yang demikian cerah. Sementara wajah Rengganis Si Cantik begitu gelisah, menunggu perkawinan mereka. Akhirnya gadis itu terbangun kembali, sungguh­sungguh tak sabar, dan bertanya:

”Dengan cara apa kita akan kawin?” ”Aku akan membuat kejutan.”

Krisan menghampiri gadis itu, melangkahi mayat Ai. ”Berbaliklah,” katanya.

Rengganis Si Cantik berbalik, memandang ujung langit, memunggungi Krisan. Lama ia menunggu sampai ia melihat tangan Krisan melingkar begitu cepat, dan sebelum sadar ia telah tercekik. Lehernya dililit sapu tangan kecil yang di setiap ujungnya ditarik tangan Krisan yang begitu kuat. Rengganis Si Cantik mencoba meronta, kakinya menendang ke sana­kemari, dan tangannya mencoba mengendorkan sapu tangan tersebut. Tapi Krisan jauh lebih kuat. Mereka bertarung sekitar lima menit, sebelum Rengganis Si Cantik kalah, mati dan tergeletak di lambung perahu, di samping mayat gadis yang lain.

Krisan memandangnya, dan matanya jadi berkaca­kaca. Napasnya tersengal­sengal.

Dengan tangan yang bergetar hebat, ia mengangkat mayat Rengganis Si Cantik dan melemparkannya ke laut, membiarkannya tenggelam. Lalu ia menangis di bibir perahu, menangis seperti gadis­gadis cengeng, menangis seperti orok­orok, menangis dengan air mata yang banjir. Di tengah isaknya ia berkata, entah kepada siapa.

”Aku membunuhmu,” katanya, terisak lagi, dan melanjutkan, ”karena aku hanya mencintai Ai.” Ia masih menangis selama setengah jam setelah itu.

***

Pengakuan ketiga: Krisanlah yang memerkosa Rengganis Si Cantik di toilet sekolah dan tak bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

Ini bagian cerita yang paling sulit, tapi begitulah kenyataannya. Suatu hari, ketika ia dan Ai berkunjung ke rumah Rengganis Si

Cantik sepulang sekolah, ia duduk di sofa membaca majalah bekas. Kedua gadis itu ada di lantai atas, di kamar Rengganis Si Cantik. Namun tiba­tiba ia mendengar langkah kaki menuruni tangga. Krisan menurunkan majalah bekas itu, dan tampak di depannya Rengganis Si Cantik menuruni tangga hanya mengenakan celana dalam dan kutang. Ia mungkin pernah melihatnya seperti itu, bahkan mungkin telanjang bulat, tapi itu pasti dulu sekali ketika mereka masih anak­anak. Tapi saat ini mereka berumur lima belasan tahun, dan Krisan telah lama mengalami mimpi basah.

Sebagaimana kebanyakan lelaki, Krisan mengagumi tubuh Rengganis Si Cantik. Tubuhnya tak semata­mata indah, namun mengundang berahi. Lezat, itu kosa katanya sendiri. Ia sering membayangkan buah dadanya yang bulat padat, pinggulnya yang melengkung lembut, dan kini ia nyaris melihat semuanya. Kutang yang dikenakannya tak sungguh­sungguh menutupi seluruh buah dadanya, maka Krisan bisa melihat warna kemilaunya, dan celana dalamnya yang berenda­renda tampak membukit di bagian depan. Itu membuat kemaluannya hidup, sangat hidup, dan keras seperti baja. Ia harus merogoh celananya untuk membetulkan posisi kemaluannya yang miring dan terjepit celana. Sementara itu, Rengganis Si Cantik tampak tak terganggu bahwa Krisan ada di ruangan itu dan memandang ke arahnya, ia bahkan tampak senang bahwa lelaki itu memandangnya. Ia turun dalam langkah yang begitu tenang, menghampiri meja setrikaan dan mengambil pakaian, mengenakannya, dan Krisan kehilangan momen penuh berahi itu, tapi ia tak pernah melupakannya.

Ada dua jenis perempuan yang bisa dicintai seorang lelaki: pertama

perempuan yang dicintai untuk disayangi, kedua perempuan yang dicintai untuk disetubuhi. Krisan merasa memiliki keduanya. Ai adalah gadis pertama, dan Rengganis Si Cantik gadis kedua. Ia ingin kawin dengan Ai, tapi ia selalu membayangkan suatu hari menyetubuhi Rengganis Si Cantik. Namun ia tak pernah berhasil mengungkapkan cintanya pada si gadis Ai, dan belum juga punya ide bagaimana cara menyetubuhi Rengganis Si Cantik dengan cara yang aman.

Sewaktu kecil mereka bertiga punya tempat persembunyian yang menyenangkan: di ladang yang dulu dibeli Kamerad Kliwon. Sang Shodancho membuatkan mereka rumah pohon pada sebatang beringin tua di pojok kebun. Ibu dan ayah mereka tak pernah khawatir ketiganya berkeliaran di ladang, sebab mereka bisa saling mengawasi satu sama lain. Mereka bermain bersama, sebagaimana selalu sejak sebelum ada rumah pohon maupun jauh setelahnya. Tapi ketika mereka masih sering berkunjung ke rumah pohon, permainan yang paling sering mereka mainkan adalah pesta perkawinan. Rengganis Si Cantik selalu ingin jadi pengantin, dan karena Krisan satu­satunya lelaki di antara mereka, maka ia selalu jadi pengantin lelaki. Ai akan memerankan peran yang sama sepanjang waktu: sebagai saksi perkawinan merangkap penghulu merangkap tamu undangan. Mereka selalu bahagia dengan permainan itu, kecuali Krisan yang selalu merasa terpaksa memainkan perannya, sebab ia hanya ingin menjadi pengantin bersama Ai.

Rengganis Si Cantik akan dihiasi mahkota dari rangkaian daun

nangka, dan begitu pula Krisan. Mereka akan duduk di bawah pohon beringin, berdampingan, sementara Ai berjongkok dengan lutut tertekan ke tanah di depannya dan berkata:

”Apakah kalian siap untuk saling mengawini?” ”Ya,” kata Krisan dan Rengganis Si Cantik selalu. ”Maka kalian kawin,” kata Ai, ”berciumanlah.”

Rengganis Si Cantik akan mencium bibir Krisan, selama beberapa detik, dan hanya momen itulah yang paling disukai Krisan.

Lebih dari itu, di luar permainannya sendiri, Rengganis Si Cantik selalu menganggap Krisan sebagai pengantinnya.

Itu membuat Krisan agak jengkel dengan Rengganis Si Cantik, tapi ia tak bisa berbuat apa pun, sebab sebagaimana Ai, ia tahu seperti apa Rengganis Si Cantik. Ia manja, tak terkendali, kekanak­kanakan, lugu, labil, rapuh, dan sederet kosa kata yang menunjukkan bahwa ia tak bisa dimarahi dengan cara apa pun. Dan yang lebih menjengkelkan dari semuanya adalah sikap Ai. Krisan sebenarnya berharap mereka memperlakukan Rengganis Si Cantik sedikit agak kasar, agar membuatnya sedikit waras, tapi sebaliknya Ai selalu merupakan pembela bagi setiap tindakan mengejutkan Si Cantik, dan bahkan menjadi pelindungnya yang sejati.

Waktu itu Krisan belum begitu bernafsu pada Rengganis Si Cantik, meskipun ia tahu bahwa gadis itu sangat cantik dan mengundang berahi. Sebab yang ia sukai adalah gadis­gadis yang cenderung pendiam, dengan wajah yang sendu, tenang menghanyutkan namun bisa menjadi sangat galak, dan gadis seperti itu adalah Ai. Jangankan bernafsu, ia bahkan cenderung menganggap Rengganis Si Cantik sebagai pengganggu hubungannya dengan gadis Ai. Dan sikap Ai yang melindungi Rengganis Si Cantik membuatnya sangat cemburu pada gadis tersebut. Tapi kecemburuan Krisan terhadap Rengganis Si Cantik mungkin tak seberapa, sejauh ia bisa memahami keadaan Rengganis Si Cantik dan memahami pula alasan­alasan Ai. Ada satu hal lain yang jauh membuatnya cemburu: anjing. Sang Shodancho sangat menyukai anjing, dan itu menular pada anaknya. Jika Ai tidak sedang bersama mereka, maka bisa dipastikan ia sedang bermain­main dengan anjing. Tadinya Krisan selalu berharap, jika Ai lepas dari Rengganis Si Cantik, ia bisa berdua saja dengan Ai. Tapi kesempatan­kesempatan itu sangatlah langka, karena kemudian Ai akan bermain dengan anjing­anjingnya. Bahkan ia akan tetap bermain dengan anjing­anjing itu meskipun Krisan kemudian

datang dan mencoba bermain bersamanya.

”Apakah aku harus jadi anjing agar kau mau menemaniku?” tanya Krisan suatu ketika, di puncak kejengkelannya.

”Tak perlu,” kata Ai, ”jadilah lelaki sejati, maka aku menyukaimu.” Kalimatnya penuh teka­teki dan sulit dicerna secara langsung, maka

Krisan mengeluh pada Rengganis Si Cantik. ”Aku ingin jadi anjing,” katanya.

”Itu bagus,” kata Rengganis Si Cantik, ”aku sering membayangkan anjing tanpa ekor.”

Rengganis Si Cantik tak mungkin diajak serius.

Tapi ia kemudian sungguh­sungguh sering memerankan dirinya sendiri sebagai anjing. Bukan karena gila, tapi sebagian besar sebagai upaya untuk mencari perhatian Ai. Jika mereka tengah berjalan bertiga, mungkin pulang sekolah atau sekadar jalan­jalan sore, dan ia melihat seekor anjing di kejauhan, Krisan akan menggonggong. ”Guk, guk, guk!” teriaknya. Atau kadangkala ia jadi anjing kecil yang kesakitan, ”Kaing, kaing,” dan lain kali jadi ajak yang tengah melolong di malam hari, ”Auuuunnnggg …”

”Paling tidak suaramu telah mirip anjing,” komentar Rengganis Si Cantik. ”Suara ajak itu membuat bulu romaku berdiri.”

”Tapi tak bikin anjing betina jatuh cinta,” kata Ai.

Itu seperti meledek sikap kekanak­kanakannya, tapi Krisan tak peduli dan terus memerankan peran anjing itu dengan baik, ada atau tidak ada kedua gadis tersebut. Ia akan pipis mengangkang di kamar mandi, sebagaimana ia mulai sering menjulurkan lidahnya.

”Bahkan meskipun kau jalan merangkak tubuhmu tak akan jadi tubuh anjing,” kata Ai yang menganggap Krisan begitu konyolnya, ”kecuali mungkin otakmu.”

Mungkin benar: otaknyalah yang telah jadi otak anjing. Ketika Ai mati, ia menggali kuburannya dengan cara sebagaimana anjing akan menggali harta karun tulang yang disembunyikannya. Ia mengeruki tanah kuburan itu dengan tangannya, jika haus ia pergi ke parit dan minum langsung dengan mulutnya. Ia telah jadi anjing sesungguhnya, tapi cuma di otak, tapi ia tak peduli. Ketika ia menggali kuburan si gadis dengan cara seperti itu, Krisan bahkan percaya Ai, tentu saja rohnya, pasti menyukai apa yang ia lakukan. Sebab Ai sangat suka anjing, dan ia telah jadi anjing. Paling tidak ia bisa menggonggong, menjulurkan lidah, dan menggali kuburan dengan tangan.

Dan sebelum itu, ia memerankan anjing pula ketika memerkosa Rengganis Si Cantik di toilet sekolah.

Peristiwa ketika ia duduk di sofa dan melihat Rengganis Si Cantik menuruni tangga hanya mengenakan celana dalam dan kutang adalah momen pertama yang membuat ia berpikir ingin menyetubuhinya. Ia mulai berahi pada Rengganis Si Cantik, dan melupakan masalah­masalah yang ditimbulkan oleh sikap kekanak­kanakannya. Ia akan diam saja jika Rengganis Si Cantik tiba­tiba memeluknya dari belakang dan menutup matanya. Ia tahu bahwa itu Rengganis Si Cantik, sebab orang lain tak akan melakukannya serekat itu. Ia merasakan dengan pasti tekanan buah dada di punggungnya, dan bertahan begitu lama seolah berpikir menebak siapa yang telah menutup matanya, untuk menikmati kehangatan tersebut, dan menikmati sentuhan lembut kulit tangan di pipinya.

Jika mereka berjalan bertiga, Rengganis Si Cantik hampir selalu berjalan di tengah. Ai pasti memegang tangan gadis itu. Belakangan Krisan juga menggenggam tangan Rengganis Si Cantik, untuk merasakan lembut tangannya.

Ai dan Krisan selalu mengantarkan Rengganis Si Cantik pulang terlebih dahulu, sebab rumah mereka berdekatan. Sebagai salam perpisahan, Rengganis Si Cantik selalu mencium pipi Ai dan Ai akan membalasnya. Ia melakukannya juga pada Krisan. Pada awalnya Krisan paling malas pada adegan tersebut, sebab terlihat kekanak­kanakan, namun setelah kasus sofa dan tangga itu ia begitu menikmatinya. Merasakan kehangatan bibir si gadis menempel di pipinya, dan mengecup pipi si gadis yang hangat dengan bibirnya.

Dan jika malam datang, ia tak lagi mengkhayal tentang perkawinan masa datang dengan Ai, tapi juga berfantasi melakukan persetubuhan hebat dengan Rengganis Si Cantik.

Ia hanya memerlukan sebuah cara, dan sebuah kesempatan untuk melakukannya.

Suatu ketika, saat Ai lengah dan hanya Krisan dan Rengganis Si Cantik duduk di halaman depan rumah Sang Shodancho, Krisan memeluk gadis itu dan si gadis balik memeluk. Siapa pun tak akan terganggu dengan pemandangan semacam itu, bahkan meskipun Ai memergokinya. Ketiganya bersaudara, bahkan lebih menyerupai anak kembar daripada saudara sepupu. Lagipula Rengganis Si Cantik senang memeluk dan dipeluk. Saat itu Krisan merayunya:

”Maukah kau kawin sungguhan denganku kelak?” tanyanya. Pertanyaan itu ia tanyakan dalam nada bercanda.

Tapi Rengganis Si Cantik menjawabnya serius. ”Ya,” katanya. ”Tak ada lelaki lain dalam hidupku selain Krisan, maka kau harus mengawiniku.”

”Orang kawin harus bersetubuh.” ”Maka kita akan bersetubuh.”

”Kita akan melakukannya kapan­kapan.” ”Ya, kapan­kapan.” Krisan melepaskan pelukannya dan hanya tertinggal Rengganis Si Cantik yang masih melingkarkan tangannya di bahu anak itu ketika Ai muncul dengan sekeranjang kecil jambu air, dengan pisau, dan cobek berisi sambal lutis. Mereka akan pesta kebun, memanaskan lidah dengan cabai, dan Krisan bahkan hangat sampai ke hatinya membayangkan kesempatan persetubuhan itu akan datang.

Kesempatan itu datang di hari ketika Rengganis Si Cantik memenangkan taruhan minum limun tanpa sepengetahuan Ai. Krisan tengah mengisap rokok di ujung toilet ketika ia melihat gadis itu. Ketika Rengganis Si Cantik masuk ke toilet ujung yang telah jadi sarang dedemit, tiba­tiba Krisan tahu itulah kesempatannya. Ia segera pergi meninggalkan teman­temannya, dan di salah satu pojok sekolah yang sepi ia melompati benteng setinggi dua meter ke arah perkebunan cokelat. Ia tahu toilet itu atapnya berlubang, maka sebelum Rengganis pergi meninggalkannya, ia segera mengendap mendekati toilet tersebut, menaiki benteng kembali melalui dahan pohon cokelat, dan melongok melalui atap yang bolong, memergoki Rengganis Si Cantik tengah berjongkok ngompol.

”Hey,” panggilnya pelan.

Rengganis Si Cantik mendongak dan terkejut bahwa Krisan ada di atasnya. ”Sedang apa kau?” ia bertanya. ”Hati­hati kau bisa jatuh dan mati.”

”Aku sedang menunggumu.” ”Menungguku naik?”

”Tidak. Bukankah kita akan bersetubuh?”

”Apakah kau tak bisa turun?” tanya Rengganis Si Cantik lagi. ”Tentu saja aku akan turun.”

Dengan berpegangan pada palang kayu yang nyaris rapuh Krisan bergelantungan dan turun masuk ke dalam toilet. Kini mereka terkurung di dalam dengan Rengganis Si Cantik masih dengan celana dalam melorot sampai lutut. Toilet itu sangat bau, dan jelas sangat tidak menyenangkan karena kotornya. Tapi Krisan tak peduli, ia dalam puncak berahi.

”Ayo kita bersetubuh,” bisiknya.

”Aku tak tahu bagaimana caranya,” Rengganis Si Cantik balas berbisik. ”Aku bisa mengajarimu.”

Perlahan­lahan Krisan mulai menurunkan celana dalam gadis itu yang masih menggantung di lutut, dan menggantungnya di paku berkarat yang tertempel di dinding. Lalu dengan ketenangan yang sama ia membuka kancing seragam sekolah Rengganis Si Cantik, satu per satu, sehingga ia bisa menikmati sensasi melihat tubuhnya terbuka perlahanlahan. Kemeja itu juga digantungkan di paku berkarat. Ia kemudian membuka roknya, dan terpesona melihat warna hitam di selangkangan si gadis. Itu membuat tangannya sedikit bergetar, dan ia menjadi sedikit terburu­buru ketika membuka kutang gadis tersebut. Namun saat menemukan buah dada yang sangat dirindukannya, ia menjadi tenang kembali. Kini ia membuka pakaiannya sendiri. Kemejanya telah lepas, lalu celananya, dan kemudian celana dalamnya. Kemaluannya teracung keras ke atas, ia memeganginya dan memperlihatkannya pada Rengganis Si Cantik. Gadis itu tertawa kecil melihat bentuknya.

Setelah itu tak ada lagi ketenangan. Ia meraih buah dada itu, meng­

elusnya dan meremasnya begitu nafsu, membuat si gadis menggeliat dan tersengal­sengal. Rengganis Si Cantik memeluk tubuh lelaki itu dengan sangat erat. Krisan mendorong si gadis ke dinding toilet, dan menekan tubuh si gadis dengan tubuhnya. Ia mulai mencium bibirnya, yang telah didambakannya sejak lama, sejak mereka tak lagi memainkan permainan pesta perkawinan itu. Tangannya tetap berada di antara dada mereka, dengan jari­jarinya terus bermain, sementara tangan si gadis mencakar dengan lembut punggungnya. Kemaluannya mulai mencoba mendesak maju, menerobos selangkangan si gadis. Tapi ia hanya bisa membentur kulit lembut paha gadis itu, membuatnya melengkung, dan paling jauh berhasil menggosokkannya pada ruang antara kedua paha si gadis. ”Angkat sebelah kakimu ke bak kecil itu,” bisik Krisan. Rengganis Si Cantik melakukannya, dan ruang vaginanya kemudian terbuka lebar. Krisan sangat leluasa menyetubuhinya, sebab ruang itu telah begitu basah, dan hangat, dan memberikan suara ribut dari gerakan­gerakan mereka yang mengguncangkan seolah­olah tengah berjalan melalui jalan yang penuh berbatu. Mereka begitu menikmatinya, meskipun sebagaimana semua pemula, persetubuhan itu berlangsung dengan sangat cepat.

Itulah yang sesungguhnya terjadi. ”Tapi bagaimana jika aku hamil?” tanya Rengganis Si Cantik setelah percintaan yang singkat itu.

Krisan agak sedikit terkejut bahwa gadis itu tahu persetubuhan bisa membuatnya hamil. Tiba­tiba hal itu membuatnya takut juga, sampai gagasan gila itu muncul di otaknya.

”Kau bilang bahwa kau diperkosa seekor anjing.” ”Aku tidak diperkosa anjing.”

”Bukankah aku anjing?” tanya Krisan. ”Kau sering lihat aku menggonggong dan menjulurkan lidah.”

”Memang.”

”Maka katakan kau diperkosa seekor anjing. Anjing cokelat dengan moncong hitam.”

”Anjing cokelat dengan moncong hitam.”

”Jangan sekali­kali kau sebut namaku dalam urusan ini.” ”Kenapa?”

”Sebab aku anjing.”

”Tapi kau akan mengawiniku, kan?”

”Ya. Kita akan bikin rencana jika kau sungguh­sungguh hamil.” Krisan segera berpakaian kembali, naik ke lubang di atap sebagai­

mana ia datang, dan atas idenya sendiri ia membawa pakaian Rengganis Si Cantik dan membuangnya ke suatu tempat yang tak akan ditemukan orang sampai kapan pun. Sementara itu, Rengganis Si Cantik, telanjang bulat, bahkan tak mengenakan sepatu dan kaus kakinya, keluar dari toilet itu dan kembali ke kelasnya. Krisan tak pernah melihat kehebohan yang diakibatkan oleh kemunculannya dengan cara seperti itu, sebab ia tak satu kelas dengan Rengganis Si Cantik maupun Ai.

Ketika kemudian Rengganis Si Cantik sungguh­sungguh hamil, rencana pelarian itu dibuat. Mereka akan bersembunyi di gubuk gerilya dan melakukan pesta perkawinan sungguhan di sana. Tapi sesungguhnya tidak begitu. Selama sembilan bulan Krisan diteror rasa takut bahwa orang, terutama Maman Gendeng dan Maya Dewi, dan juga ibunya, tahu bahwa Krisanlah yang menyetubuhi Rengganis Si Cantik. Ia merencanakan membunuh gadis itu di gubuk gerilya, untuk mengubur semua cerita tersebut, tapi kemudian ia membunuhnya di atas perahu, dan membuang mayatnya ke laut.
17
Maman Gendeng bangkit kembali di hari ketiga setelah ia moksa. Ia datang untuk mengucapkan selamat tinggal, tentu saja.

Kepada Maya Dewi, siapa lagi.

Padahal tiga hari yang lalu Maya Dewi baru saja menguburkan mayatnya, yang nyaris tak bisa dikenali lagi setelah diacak­acak ajak, digerogoti belatung dan dikerubungi lalat yang bahkan ketika mayat itu dibawa dari tempatnya ditemukan, lalat­lalat itu masih mengikutinya menyerupai bintang berekor. ”Itu bukan aku,” kata Maman Gendeng meyakinkan. Telah tiga hari Maya Dewi berkabung, sangat berkabung, sebab ia kehilangan Maman Gendeng setelah sebelumnya kehilangan anak perempuan mereka, Rengganis Si Cantik. Ia tak pernah mengira bahwa bencana itu datang demikian tiba­tiba, maka selama tiga hari itu ia terus­menerus membohongi dirinya sendiri, menganggap mereka masih hidup, meskipun ia mengenakan pakaian serba hitam tanda berkabung.

Ia tetap tak bisa terhibur, meskipun mencoba mengingat bahwa nasib yang diterima kedua kakaknya juga tak jauh berbeda. Alamanda telah kehilangan Nurul Aini, dan Sang Shodancho menghilang mencari mayat anaknya yang dicuri dari kuburan. Adinda telah kehilangan Kamerad Kliwon yang mati bunuh diri, meskipun ia masih memiliki Krisan.

Setiap pagi ia masih menyediakan sarapan pagi untuk mereka bertiga, sebagaimana setiap pagi sebelumnya ia makan bersama Maman Gendeng dan anak mereka Rengganis Si Cantik. Piring­piring disediakan untuk kedua orang itu, juga nasi dan sayur dan lauknya. Yang makan tentu saja hanya Maya Dewi sendiri, dan di setiap akhir ritual semacam itu, ia harus membuang dua porsi makan yang tak tersentuh oleh siapa pun. Ia melakukan hal itu juga di waktu makan malam, begitu selama tiga hari.

Sebelumnya, ketika Maman Gendeng masih hidup, mereka berdua memerankan kebohongan itu, mendustai diri sendiri bahwa Rengganis Si Cantik masih hidup. Itu sebelum Maman Gendeng pergi. Mereka berdua akan bertemu di meja makan, menyediakan porsi makan sebagaimana biasa untuk Rengganis Si Cantik, dan membuangnya ketika acara makan mereka usai. Kini Maya Dewi harus melakukannya sendirian.

Sendirian saja.

Tapi di hari ketiga kematian Maman Gendeng ia tidak sendirian. Ia makan malam berdua. Seperti dua malam sebelumnya dan seperti tiga kali ia menyiapkan sarapan pagi, ia telah duduk di meja makan dengan dua porsi lain untuk suami dan anak perempuannya. Ia masih mengenakan pakaian­pakaian gelap itu, dan masih percaya mereka duduk di kursinya masing­masing, makan seperti dirinya. Ia belum juga menyuap nasinya sendiri ketika pintu kamarnya terbuka dan laki­laki itu muncul, langsung duduk di kursinya sebagaimana biasa. Maya Dewi menyuap nasinya dan laki­laki itu mulai mengaduk kuah. Keduanya makan selahap hari­hari yang lalu, tanpa bicara satu sama lain. Hanya satu porsi tak tersentuh sebagaimana satu kursi tak terduduki. Tapi Maya Dewi tetap percaya Rengganis Si Cantik ada di tempatnya, sebagaimana ia melihat Maman Gendeng duduk di kursi dan memakan porsi makannya. Ia baru menyadari kehadiran lelaki itu secara sesungguhnya ketika makan malam telah berakhir. Ia menemukan piring suaminya kosong dan piring Rengganis Si Cantik masih penuh oleh nasi yang disediakannya. Itu tidak seperti biasa dan ia memandang Maman Gendeng tak percaya. Lama mereka saling memandang sebelum perempuan itu bertanya dengan suara berbisik nyaris tak terdengar.

”Kaukah itu?”

”Aku datang untuk pamit.”

Maya Dewi menghampiri suaminya, menyentuhnya dengan sangat hati­hati, seolah sosok itu patung lilin yang mudah meleleh. Jari­jarinya merayap, menyentuh dahi lelaki itu, kemudian turun ke hidungnya, ke bibirnya, ke dagunya, dengan mata si penyentuh memandang dengan tatapan keingintahuan seorang bocah. Ketika ia merasakan kehangatannya, merasakan bahwa ia hidup, ia semakin mendekat dan mendekapnya. Maman Gendeng memeluknya, membiarkan perempuan berkabung itu menangis di bahunya, membelai rambutnya, dan mencium pucuk kepalanya.

”Kau datang untuk pamit?” tanya perempuan itu tiba­tiba, sambil mendongak menatap wajah Maman Gendeng.

”Datang untuk pamit.” ”Kau akan pergi lagi?”

”Sebab aku sudah mati. Aku sudah moksa.” ”Bagaimana dengannya?”

”Aku pergi untuk menjaganya. Di sana.”

Setelah menyentuh sebelah pipi istrinya dan mencium sebelah pipi yang lain, Maman Gendeng melangkah masuk ke kamar tempatnya tadi datang, menutup pintunya kembali. Maya Dewi menatap pintu itu dalam perasaan bingung, kemudian menatap piring kosong bekas dipergunakan Maman Gendeng, kemudian menatap piring yang masih terisi nasi yang seharusnya dimakan Rengganis Si Cantik, lalu memandang kembali ke pintu kamar yang tertutup. Setelah kegugupan yang sejenak itu, ia berlari menuju pintu tersebut, membukanya dan tak menemukan siapa pun di sana.

Kenyataannya ia masih mencoba mencarinya. Memastikan bahwa jendela kamar telah terkunci sejak sore. Menengok ke bawah tempat tidur dan ia hanya menemukan sampah sisa obat nyamuk bakar dan sandal rumah yang biasanya ia pakai sebelum salat. Tak ada tempat lain yang memungkinkan lelaki itu bersembunyi di kamar tersebut. Ia tak mungkin bersembunyi di dalam lemari dengan cermin besarnya itu, yang bersekat­sekat dan dipenuhi pakaian mereka, tapi Maya Dewi membukanya juga dan segera menutupnya kembali. Ia memeriksa permukaan tempat tidur, permukaan meja riasnya, berharap menemukan sesuatu semacam jejak, tapi pencariannya sangat sia­sia. Ia meninggalkan kamar tersebut dan berdiri kembali memandangi meja makannya. Kemudian ia kembali pada pekerjaannya. Ia membereskan meja makan, memasukkan nasi dan sayur dan lauk yang tersisa ke lemari makan. Setelah mereka, kedua gadis gunung yang membantunya membuat kue­kue akan mengambilnya untuk makan mereka. Ia membawa piring­piring bekas makan ke bak cucian, dan membuang nasi yang tak dimakan Rengganis Si Cantik ke tempat sampah. Ia hanya mencuci tangannya, tidak berniat untuk mencuci piring­piring kotor tersebut sebagaimana biasa, dan kembali ke kamarnya, memandang ruangan kosong tersebut, lalu bertanya seolah Maman Gendeng ada di sana.

”Jika kau moksa,” katanya, ”lantas siapa yang aku kubur tiga hari lalu?”

Itu adalah sebuah kisah pengkhianatan, berawal jauh ke belakang, ketika mereka masih di awal perkawinan, sebelum malam pengantin yang terlambat lima tahun dan Rengganis Si Cantik dilahirkan.

Seorang lelaki bertubuh besar dengan kepala plontos dan sebelah telinganya sobek tercabik­cabik datang ke terminal bis pada siang yang terik di hari Minggu, menyeruak di antara para penumpang bis yang sebagian besar para pelancong yang tengah berebut bis selepas menghabiskan akhir pekan mereka di kota itu. Ia menabrak siapa pun yang menghalangi jalannya, membuat seorang penjual rokok nyaris menumpahkan jualannya, datang untuk menemui Maman Gendeng. Ia menginginkan kursi goyang butut kayu mahoni yang dimiliki lelaki itu, yang direbut Maman Gendeng sebelumnya dengan membunuh Edi Idiot.

Sejak ia berkuasa, Maman Gendeng telah banyak menghadapi lelaki­lelaki yang menginginkan kursi butut tersebut, lambang kekuasaannya, mengalahkan mereka tanpa perlu membunuhnya, namun selalu saja ada lelaki­lelaki baru yang mencoba merebut kursi itu. Kini seorang lagi tengah menghampirinya. Beberapa orang sahabatnya telah melihat lelaki asing itu sejak ia masuk terminal, telah mengetahui apa yang ia inginkan tanpa harus bertanya kepadanya. Maman Gendeng juga tahu. Tapi ia hanya diam, duduk dengan menyilangkan kakinya, mengayunayunkan dirinya sendiri, sambil mengisap rokok. Waktu itu tak seorang pun tahu nama lelaki itu, dari mana ia datang, dan bagaimana ia tahu bahwa yang berkuasa di tempat tersebut adalah Maman Gendeng. Jelas ia bukan dari kota ini, sebab jika ia bukan orang asing dan berminat pada kursi itu, ia telah menantang Maman Gendeng sejak dulu. Itu masa­masa ketika Maman Gendeng masih sering menitipkan uangnya dalam pundi­pundi yang disimpan seorang perempuan buruk rupa bernama Moyang. Ia, perempuan itu, merupakan orang yang sangat ia percaya selain istrinya sendiri. Ia menyimpan uang­uangnya untuk membeli sesuatu, ia belum tahu, suatu waktu, untuk mengejutkan istrinya (belakangan uang itu tak dibelikan apa pun dan dijadikan modal istrinya membuka usaha bikin kue­kue). Moyang tiap hari selalu ada di terminal bis, sebagaimana dirinya. Ia menjual minum dan rokok di siang hari, dan jika malam ia disetubuhi beberapa lelaki yang tak peduli pada wajah buruknya (sebab apa bedanya wajah cantik dan buruk rupa di balik semak yang gelap?) dan tak berniat mengeluarkan uang di tempat pelacuran. Sebab Moyang tak pernah minta uang untuk persetubuhan. Maman Gendeng belum pernah menyetubuhinya, dan tak berniat melakukannya, tapi ia memercayakan pundi­pundi uangnya di tangan perempuan itu. Di kolong tempat tidur di gubuk tempat tinggalnya. Semua teman­teman Maman Gendeng tahu belaka soal itu, tapi tak seorang pun berani mencurinya, bahkan tidak untuk melihatnya.

Adalah hal biasa terjadi perkelahian di terminal bis, sebab anak­

anak sekolah sering mempergunakan tempat itu untuk perkelahianperkelahian mereka. Tapi tidak jika yang berkelahi adalah Maman Gendeng. Dan kini semua orang menantikan apa yang akan terjadi, atau bagaimana akan terjadi, ketika lelaki plontos itu menghampiri sang preman dan semua orang tahu ia akan menantangnya. Tak seorang pun yakin lelaki asing itu bisa memperoleh apa yang ia inginkan. Setelah beberapa tahun, orang­orang di terminal bis telah dibuat yakin tak seorang pun bisa mengalahkan Maman Gendeng, kecuali mungkin jika ia dikeroyok semua tentara yang dimiliki pemerintah republik, dan itu pun masih banyak yang menyangsikan jika desas­desus bahwa ia kebal senjata adalah benar. Meskipun begitu, perkelahiannya selalu menjadi satu hal yang ditunggu orang.

Pagi­pagi sekali, sebelum berangkat sekolah dan ketika ia meletakkan pakaian ganti suaminya di atas tempat tidur, Maya Dewi telah berpesan agar ia pulang tidak dalam keadaan pakaian penuh kotoran. Masalahnya, sebelum itu meskipun ia mengenakan pakaian bersih dan bahkan tersetrika dengan rapi yang semuanya disediakan Maya Dewi, ia sering pulang dalam keadaan sedikit berlepotan. Kadang­kadang karena percikan oli atau minyak gemuk saat ia membantu kenek bis yang menghadapi kendaraan mereka mogok, lain kali mungkin kotor karena jelaga yang tertempel di dinding bis dan berasal dari semprotan asap knalpot. Bukan semata­mata baju kotor lebih menyusahkan untuk dicuci, tapi Maya Dewi berkomentar bahwa suaminya tampak lebih jelek dengan pakaian yang kotor. Hari itu ia mengenakan kemeja warna krem, yang akan segera terlihat jika kena kotor, tapi ia telah berjanji hari itu tak akan mengotori pakaiannya, bahkan meskipun hari itu ia harus berkelahi.

Ia tengah bersantai di kursi itu di siang terik tersebut, mengisap rokoknya perlahan­lahan dan mengembuskan asapnya perlahan­lahan pula, ketika ia melihat laki­laki itu sejak masuk pintu terminal. Sebagaimana semua orang yang melihatnya, ia tahu ia akan menemuinya. Kini lelaki plontos itu telah ada di depannya, dan bagaimanapun Maman Gendeng tak ingin mengotori pakaiannya, maka ia berkata sebelum laki­laki di depannya berkata, sambil berdiri, ”Jika kau menginginkan kursi itu, silakan duduk, atau kau ambil,” katanya. Semua orang nyaris tak percaya, bahkan si plontos juga tak percaya, dan hanya diam memandangi kursi kosong itu.

”Maksudku tak sesederhana itu,” kata si plontos, ”aku menginginkan kursi itu dengan segala akibat darinya.”

”Aku mengerti dengan baik, maka duduklah dan kau akan memperoleh semuanya,” Maman Gendeng mengangguk, membuang puntung rokoknya.

”Seorang preman yang tak terkalahkan dalam semua perkelahian tiba­tiba menyerahkan kekuasaannya tanpa melakukan apa pun,” kata si plontos. ”Tak seorang pun mengerti kecuali karena ia ingin mengundurkan diri dan menjadi suami yang baik.”

Maman Gendeng menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, dan gerakan tangannya menyuruh orang itu untuk duduk di kursi goyang kayu mahoni tersebut. Si laki­laki plontos segera saja menghampiri kursi tersebut, lambang seluruh kekuasaan, keberanian, dan kemenangan. Namun sebelum ia sungguh­sungguh mendudukinya, Maman Gendeng telah menghantam laki­laki itu persis di tengkuknya, dengan bagian bawah kepalan tangannya, begitu keras sehingga orang bagaikan mendengar tulang­belulangnya patah, dan si lelaki plontos ambruk di samping kursi. Maman Gendeng tak mengotori pakaiannya, bagaimanapun. Seseorang menyeret si plontos ke trotoar di pinggir terminal, sementara Maman Gendeng kembali duduk di kursinya, merokok.

Sejak hari itu si plontos sering berkeliaran di terminal, menjadi anak buah yang baik bagi sang preman. Ia menamakan dirinya Romeo. Mungkin ia pernah baca Shakespeare, mungkin tidak. Tapi ia menamakan dirinya Romeo, dan semua orang memanggilnya Romeo, meskipun semua orang merasa aneh nama itu dipakai untuk menyebut lelaki plontos yang besar dengan sebelah telinga sobek tercabik­cabik. Romeo menjadi bagian dari komunitas itu, hidup bersama mereka, mengakui kekuasaan Maman Gendeng, meskipun orang tetap tak tahu dari mana asal­usulnya, sebagaimana banyak di antara mereka juga tak memiliki asal­usul yang terang. Dan sebagaimana yang lainnya, ia juga meniduri Moyang sekali dua kali, hingga suatu ketika ia berkata pada Maman Gendeng, ”Aku mau mengawininya.”

”Tanya sendiri perempuan itu,” kata sang preman, ”apakah ia mau jadi istrimu.”

Moyang mau kawin dengannya, dan semua orang segera tahu mereka akan saling mengawini. Maka mereka kawin sebulan setelah itu, atas biaya Maman Gendeng, lengkap dengan pesta kecil cara mereka. Keduanya tinggal di gubuk tempat Moyang tinggal selama ini.

”Demi Tuhan,” kata Maman Gendeng, ”Romeo mengawini perempuan yang akan tetap ditiduri banyak lelaki di malam hari.”

Mereka melakukan bulan madu yang mengundang kecemburuan banyak orang. Mereka terlambat datang ke terminal bis setelah bercinta semalaman, dan di siang hari mereka kadang menghilang dari kios jualan Moyang dan bercinta di balik semak­semak tak jauh dari terminal bis, di dekat perkebunan cokelat. Namun sebulan setelah itu, jelas apa yang dikatakan Maman Gendeng adalah benar. Di malam hari, jika suaminya pergi dan ia baru saja menutup kiosnya, Moyang akan bercinta dengan lelaki lain. Kadang­kadang dengan seorang tukang becak, lain kali dengan kenek bis, waktu lain dua orang lelaki menyetubuhinya bersama­sama. ”Kita tak bisa menghalangi seorang perempuan dari kesenangannya,” kata Romeo, ”tak peduli itu istri sendiri.”

”Kau seharusnya jadi filsuf,” kata Maman Gendeng, ”jika tidak gila.” ”Sebab ia sendiri memberiku uang,” kata Romeo lagi, sambil duduk

di samping kursi kayu mahoni yang pernah diinginkannya, ”untuk mencoba perempuan di tempat pelacuran.”

Terminal bis tersebut telah menjadi kebanggaan komunitas mereka selama bertahun­tahun, bahkan sejak Edi Idiot masih menguasai kota, hingga masa ketika Maman Gendeng menggantikannya. Terminalnya tak terlampau besar, sebab dari kota itu hanya ada dua arah jalan keluar, ke timur dan ke utara. Ke barat ada ruas jalan kecil yang buntu setelah melewati dua kota kecil. Tak semua preman kota itu berkumpul di terminal bis, bahkan cenderung minoritas, namun disebabkan Maman Gendeng selalu berada di sana sebab ia suka melihat orang lalu­lalang dan terutama menikmati kursi goyang kayu mahoni itu, terminal bis menjadi tempat penting bagi mereka. Semua orang tampak berbahagia, komunitas tersebut, bahkan meskipun Moyang yang bisa mereka tiduri tanpa membayar kemudian kawin dengan Romeo, sebab mereka masih tetap bisa menidurinya kapan pun mereka mau, terutama jika Moyang sedang mau.

Namun kebahagiaan itu terganggu pada suatu hari yang damai yang

seharusnya mereka lalui tanpa masalah apa pun. Moyang membuka kiosnya namun tak bersemangat menjual apa pun, sebaliknya ia menunggu Maman Gendeng yang mungkin masih tertidur di rumahnya dan belum muncul ke terminal. Ketika ia muncul, dengan penampilannya yang nyaris necis seolah ia bukan begundal kota, penampilan yang telah dikenal teman­temannya sejak ia kawin, Moyang segera menghampirinya dan menangis keras di hadapannya. Tangisan seperti itu seperti tangisan seorang istri yang ditinggal suami, dan Maman Gendeng berpikir Romeo meninggalkan Moyang. Tapi tak ada alasan bagi perempuan itu untuk menangis, sejauh Maman Gendeng tak begitu yakin dengan cinta dan kesetiaan perempuan itu pada Romeo, maka ia bertanya.

”Kenapa?” ”Romeo pergi.”

Tebakannya benar, tapi justru membingungkan. ”Kupikir kau tak terlalu mencintainya,” kata Maman Gendeng.

Setelah menghapus air mata dengan ujung baju yang membuat perutnya yang berlipat­lipat tampak, ia berkata, ”Masalahnya, ia pergi dengan pundi­pundi uang milikmu.”

Romeo tak mungkin kabur melalui terminal bis, dan sepagi itu belum ada kereta yang berangkat dari kota. Maka kemungkinan besar ia lari ke hutan, atau jika apes, seseorang membantunya melarikan diri dengan kendaraan. Apa pun yang terjadi, Maman Gendeng sangat marah dan bertekad untuk menangkapnya, hidup atau mati. Maka ia mengumpulkan semua anak buahnya, memanggil mereka semua. Semua. Dan menyuruh mereka menyebar ke semua tempat yang mungkin, bahkan ke kota­kota sekitar, berhubungan dengan begundal­begundal setempat. Sebelum tertangkap, tak seorang pun diperkenankan kembali kecuali ia akan menghajarnya. Maka semua preman di kota itu pergi, satu­satunya waktu ketika kota itu demikian damainya, hanya tertinggal Maman Gendeng yang tak bisa diam menahan kemarahannya. Ia telah lama memimpikan satu kehidupan keluarga yang damai, dan memakan sesuatu dari uang yang dihasilkan secara halal. Ia menginginkan keluarga sebagaimana keluarga yang lain. Ia mengumpulkan uang­uang tersebut demi mimpi indahnya. Ia akan membeli sesuatu, mungkin kapal ikan dan ia jadi nelayan. Atau mobil bak dan ia jadi pengangkut sayur. Atau tanah beberapa hektar dan ia jadi petani. Ia belum memutuskan apa yang akan ia beli, tapi uang tersebut kini dibawa orang. Ia sungguh­sungguh marah. Selama tiga hari ia menunggu dalam ketidaksabaran, tak menjawab pertanyaan istrinya yang heran dengan semua kegelisahannya, dan menjadi pemarah luar biasa di terminal bis membuat semua kenek dan sopir bis menghindarinya sebisa mungkin.

Namun pada hari keempat dua orang anak buahnya berhasil mem­

bawa Romeo kembali. Ia ditemukan di kota kecil paling ujung, di tepi hutan raya tempat perang gerilya pernah meletus paling hebat di kota itu, di sebelah barat Halimunda. Maman Gendeng cukup beruntung uangnya masih selamat, hanya berkurang untuk segelas tuak, limun dingin dan sebungkus rokok, dan kedua teman itu telah menangkapnya sebelum ia membelanjakannya lebih banyak. Meskipun begitu, kemarahannya adalah soal lain. Ketika ia datang, Romeo bahkan telah babak belur dihajar kedua anak buah Maman Gendeng, tapi Maman Gendeng telah dibuat marah tanpa ampun hingga ia menghajarnya lagi, nyaris mati, sementara orang­orang menontonnya secara melingkar bagaikan tengah melihat sabung ayam. Romeo melolong begitu memilukan, meminta ampun dan berkata bahwa ia tak akan pernah mengulangi kelakuan buruk tersebut, tapi pengalaman telah mengajari Maman Gendeng bahwa pengkhianat tak sebaiknya dipercaya. Maka ia terus menghajarnya, dan Romeo terus melolong minta ampun. Semakin banyak orang yang berkerumun, paling depan duduk dan yang di belakang berdiri, tanpa ada yang bisa mereka perbuat kecuali menonton kebrutalan tersebut. Tontonan yang seolah mengatakan kepada mereka semua bahwa tak baik melakukan kecurangan kepada Maman Gendeng. Bahkan polisi yang lalu­lalang di depan terminal bis tutup mata soal itu, dan tetap berada di tempatnya. Burung­burung elang pemakan bangkai mulai berdatangan ketika bau kematian orang itu mulai mengambang dan diembuskan angin laut ke mana­mana. Tapi Romeo belum juga mati, bukan karena ia demikian kuatnya, tapi karena Maman Gendeng sengaja membuat kematiannya begitu lama, begitu menyakitkan, sebagai pelajaran berharga bagi siapa pun bahwa begitulah nasib bagi para pengkhianat. Dan ia sangat menyesal pada para burung elang pemakan bangkai itu, bukan sekadar pada kematian korbannya yang begitu lama sebab ia merontokkan gigi­giginya begitu perlahan, mematahkan dua atau tiga jari tangannya, mencabuti kuku­kuku jari kakinya, menelanjanginya dan mulai mencabuti bulu kemaluannya. Ia bahkan menghiasi seluruh tubuhnya yang telah babak belur dengan hiasan puntung rokok yang masih menyala. Bukan sekadar itu. Ia menyesal pada burung­burung elang pemakan bangkai sebab tampaknya ia tak berniat membagi kebahagiaannya dengan mereka. Karena ia tak akan memberikan bangkai itu untuk siapa pun, tapi berniat untuk membakarnya hidup­hidup sebagai wujud

kemarahannya yang terakhir.

Namun ketika ia tengah mempersiapkan bensin dan pemantik api, mendadak perempuan buruk rupa itu menghambur ke tengah­tengah kerumunan orang dan berdiri di depannya. Ia memohonkan ampun bagi suaminya, dan jika Maman Gendeng membiarkannya hidup, ia berjanji akan merawatnya dan menjadikannya sebagai seorang lelaki yang layak dipercaya.

”Berilah kesempatan, Sahabatku,” kata Moyang, ”sebab bagaimanapun ia suamiku.”

Maman Gendeng menjadi begitu terharu dibuatnya, sehingga hatinya dengan serta merta mencair. Ia membuang kaleng bensinnya ke tempat sampah dan berkata pada semua orang bahwa ia memberi kesempatan kedua untuk lelaki tersebut, tapi tak akan ada kesempatan semacam itu lagi bagi laki­laki lain yang mencoba mengkhianatinya. Demikianlah Romeo yang kawin dengan Moyang tak jadi santapan api atau burung elang pemakan bangkai, dan sebaliknya hidup menjadi sahabat dan pengikut Maman Gendeng yang paling setia. Sementara itu Maman Gendeng mengambil semua uangnya dan memberikannya pada Maya Dewi yang beberapa waktu kemudian menjadi modal membuka usaha pembuatan kue setelah ia mengambil dua gadis gunung yatim piatu tersebut.

”Lelaki itulah,” kata Maman Gendeng, ”yang kau kuburkan. Romeo.” Tentu saja Maya Dewi tak mendengarnya. Tak mengetahuinya.

Semua peristiwa itu berawal ketika Rengganis Si Cantik melarikan diri dari rumah dengan anak yang baru dilahirkannya, ”untuk kawin dengan anjing.”

Waktu itu awal bulan Desember dengan cuaca yang sering tak menentu, dengan kota yang dipenuhi para pelancong untuk menghabiskan akhir tahun di sana, dan sangatlah mudah menghilang di tengah kerumunan banyak orang seperti itu. Kota menjadi demikian ribut dan semua orang mulai tak peduli satu sama lain sebab bisnis tengah berputar lebih kencang di saat­saat seperti itu. Kios­kios souvenir bertebaran, masih tetap bertahan sejak masa Kamerad Kliwon membela mereka dari penggusuran. Selalu ada banyak anak hilang, bahkan orang tua hilang, gadis­gadis hilang, di tengah keramaian seperti itu, dan para petugas menempelkan pengumuman di sana­sini, serta mengumumkannya pula melalui speaker yang menggema sepanjang pantai.

Tapi Rengganis Si Cantik bukan hilang seperti itu. Pengunjung yang hilang pasti hanya tersesat, dan setelah bertanya sebentar ia akan sampai ke rombongannya kembali. Rengganis Si Cantik bukan pengunjung yang tersesat, ia pergi meninggalkan rumah dan seluruh keluarga mencarinya. Maman Gendeng dan Maya Dewi bertanya ke sana­kemari, dan anak buahnya menyebar sebagaimana dulu mereka mencari Romeo, tapi gadis itu tak juga ditemukan. Sang Shodancho, terutama dibuat khawatir oleh anaknya, Nurul Aini, yang menjadi demam tak terkendali sejak hilangnya Rengganis Si Cantik, mengerahkan pasukanpasukan perintis mencari gadis tersebut, namun ia melupakan gubuk gerilya karena tak pernah mengira anak­anak tersebut mengetahuinya. Selama berhari­hari pencarian itu dilakukan siang dan malam, sementara persiapan pesta perkawinan yang sedianya akan dilakukan dibereskan kembali dan semua properti sewaan dikembalikan ke perusahaan masing­masing. Si bocah Kinkin menjadi sedikit gila karena peristiwa itu, mencari seorang diri ke segenap pelosok, sambil menenteng senapannya dan membunuh semua anjing yang ditemuinya di perjalanan. Ia bertanya pada roh­roh orang mati dengan jailangkungnya,

namun tak satu pun di antara mereka mengetahuinya.

”Satu kekuatan roh jahat melindunginya,” ia berkata seperti pada diri sendiri.

”Ia akan mati dalam beberapa hari,” kata Maya Dewi sambil menangis, ”ia tak akan tahu apa yang harus ia makan di jalanan seperti itu padahal ia tak membawa sepeser pun uang.”

”Aku tak melihat alasan bahwa ia harus mati,” kata Maman Gendeng mencoba menenangkan istrinya. ”Jika ia kelaparan, paling tidak ia membawa bayi itu untuk dimakannya.”

Para pencari mulai kembali satu per satu tanpa membawa hasil, bahkan tak seorang pun melihat jejaknya. ”Tak mungkin ia moksa,” kata Maman Gendeng, ”semedi saja belum pernah ia lakukan.” Maka para pencari berangkat lagi, menelusuri semak demi semak, lorong­lorong kota, permukiman­permukiman kumuh, dan tetap tak menemukannya. Maya Dewi mencoba mengunjungi satu per satu teman sekolah anak gadisnya, tapi jelas itu sia­sia sebab selama ini hanya Ai dan Krisan yang menjadi temannya bermain. Ia tampak menjadi yang paling gelisah, dan menyesal malam itu ia tak menungguinya.

Melewati tahun baru, kota semakin banyak dipadati para pelancong. Ada beberapa orang yang mati tenggelam, sebagaimana diumumkan para petugas, dan Maman Gendeng serta Maya Dewi memeriksa semua mayat itu satu per satu. Sebagian besar para pelancong yang melanggar daerah larangan berenang, namun akhirnya mereka menemukannya. Ia sangat mudah dikenali, sebab air laut bahkan tak menghancurkan kecantikannya. Entah telah berapa lama ia tenggelam, dan kemudian dibawa ombak ke tepi pantai dan orang­orang menemukannya. Semua orang segera mengenalinya, sebagaimana Maman Gendeng dan Maya Dewi yang segera diberitahu atas penemuan tersebut. Ia berbaring telentang dengan pakaian nyaris hancur. Wajahnya masih wajah cantik itu, dengan rambut mengembang dipermainkan air. Perutnya tak kembung sebagaimana kebanyakan orang tenggelam. Mereka segera mengetahuinya. Ada warna kehitaman di lehernya. Seseorang telah membunuhnya sebelum melemparkannya ke laut. Maya Dewi meledak dalam tangisan hebat.

”Apa pun yang terjadi ia harus dikuburkan,” kata Maman Gendeng

menahan geram, ”dan kemudian kita temukan anjing pembunuh itu.” ”Tak mungkin anjing mencekik lehernya,” kata Maya Dewi yang

nyaris tak sadarkan diri di bahu suaminya.

Maman Gendeng membopong sendiri mayat Rengganis Si Cantik, ditemukan di ujung barat pantai Halimunda, hampir sebulan setelah ia menghilang dari rumah. Maya Dewi mengikutinya dari belakang, dengan mata bengkak dan air mata tak terhentikan, dan orang­orang yang bersimpati mengekor di belakang keduanya.

Sore itu, bagaimanapun, setelah semua ritual kematian dijalankan, keranda berisi tubuh Rengganis Si Cantik membelah kota menuju pemakaman Budi Dharma. Kinkin yang segera mengetahui bahwa pemakaman hari itu adalah pemakaman bagi gadis yang sungguh­sungguh dicintainya nyaris dibuat tak sadarkan diri, ikut menggali kuburan bersama ayahnya dalam kesedihan yang tak terbayarkan oleh apa pun. Ia bahkan ikut menurunkan mayat tersebut, bersama Maman Gendeng dan Kamino. Dan setelah Maman Gendeng menaburkan tanah pertama di atas kain kafannya, Kinkin ikut pula menutup kembali kuburan kekasihnya, dan memasang kayu nisan dengan penuh cinta.

”Akan kutemukan siapa pembunuhnya,” kata Kinkin dengan penuh dendam, ”dan aku akan membalas kematiannya.” ”Lakukanlah,” kata Maman Gendeng, ”jika kau bisa akan kuberikan kesempatan membunuhnya kepadamu.”

Malam hari mereka berdua bertemu di kuburan Rengganis Si Cantik dan memanggil arwahnya. Kinkinlah yang melakukan, sementara Maman Gendeng hanya menunggu. Permainan jailangkung dimulai, tapi arwah Rengganis Si Cantik tak pernah juga muncul. Kinkin mencoba memanggil arwah lain, mencoba bertanya siapa yang membunuh gadis itu, namun tak satu pun dari mereka mengetahui jawabannya, sebagaimana sebelumnya mereka tak tahu di mana Rengganis Si Cantik berada.

”Kita tak bisa melakukannya,” kata Kinkin putus asa sambil mengakhiri permainan jailangkung tersebut. ”Roh jahat yang sangat kuat sekali menghalangi segala usahaku sejak awal.”

”Jika diperlukan aku akan moksa untuk melawannya,” kata Maman Gendeng, ”tapi aku masih ingin tahu siapa yang membunuhnya.”

Itulah waktu ketika ia dan istrinya mulai membohongi diri mereka sendiri dengan menganggap Rengganis Si Cantik masih hidup. Mereka menyediakan kursi untuknya di waktu sarapan pagi dan makan malam, dan menghidangkan porsi makan untuknya, meskipun setelah itu Maya Dewi harus membuangnya. Sementara itu polisi membongkar kembali kuburan Rengganis Si Cantik untuk melakukan pemeriksaan sebelum menguburnya lagi. Maman Gendeng tak keberatan soal itu, dan mencoba percaya bahwa polisi­polisi itu akan menemukan siapa pembunuhnya. Entah apa yang mereka lakukan, tapi selama seminggu, kemudian sebulan, tak ada kejelasan apa pun, tak menemukan titik terang apa pun. Hanya ada wawancara­wawancara dengan banyak orang, semua orang dipanggil ke kantor polisi dan ditanyai, Maman Gendeng dan Maya Dewi datang sebanyak lima kali, dan orang lain sejumlah yang sama, tapi semuanya semakin menjauhkan orang dari ditemukannya pembunuh Rengganis Si Cantik. Segalanya tampak mulai melelahkan, dan Maman Gendeng mulai tak lagi percaya pada polisi­polisi itu. Ia menghardik polisi terakhir yang datang ke rumahnya untuk melakukan pemeriksaan.

”Kalian tak akan mungkin menemukan pembunuhnya di rumah ini,”

katanya jengkel, ”kalian telah bodoh sejak dalam pikiran.” Pada saat itu, bagaikan menerima wahyu penuh kebenaran dari langit, sang preman mengerti dengan baik apa yang harus dilakukannya. ”Jika tak seorang pun membunuhnya,” ia berkata penuh kepastian,

”maka berarti seluruh kota ini adalah pembunuhnya.”

Pada hari Senin berikutnya, bersama sekitar tiga puluhan anak buahnya ia melakukan aksi paling brutal yang akan diingat penduduk kota sebagai saat­saat paling mengerikan. Ia memulainya dengan mendatangi kantor polisi, menghancurkan apa pun yang mereka temukan di sana, melawan semua polisi yang mencoba menghalangi apa yang mereka ingin lakukan. Beberapa polisi harus berakhir di rumah sakit dalam perkelahian yang tak seimbang, dan di akhir kunjungan mereka ke kantor polisi, Maman Gendeng membakar tempat itu sebagai pelampiasan sikap marahnya atas kerja mereka yang tak berguna dalam menemukan siapa pembunuh anak gadisnya.

Kota itu seketika terhenyak mendengar kantor pusat kepolisian dibakar para preman yang dipimpin langsung oleh Maman Gendeng. Asapnya membubung tinggi ke langit yang bahkan pemadam kebakaran tak sanggup menghentikannya. Tak seorang pun berani datang untuk melihat kantor itu terbakar, sebagaimana sering terjadi pada kebakarankebakaran lain, begitu tahu Maman Gendeng dan teman­teman begundalnya dalam keadaan marah tak terkendali. Mereka hanya diam, saling menceritakan hal itu dari mulut ke mulut, sambil menggigil membayangkan apa yang akan dilakukan laki­laki paling menakutkan itu, terutama setelah mereka mendengar Maman Gendeng mengatakan bahwa semua orang di kota itu ikut bertanggung jawab atas kematian Rengganis Si Cantik.

Padahal kini ia seorang lelaki tua yang telah hidup lebih dari setengah abad, Maman Gendeng itu, namun kekuatannya semua orang tahu tak berkurang sedikit pun sejak pertama kali ia datang dan membuat keributan di pantai sebelum membunuh Edi Idiot. Ia telah memiliki apa yang telah lama ia mimpikan: keluarga. Ia memiliki istri yang cantik, yang paling cantik di antara saudara­saudaranya sebagaimana sering dikatakan orang­orang, dan mereka berdua diberi seorang gadis cantik yang paling cantik jika semua perempuan cantik di kota itu dikumpulkan. Ia masih bisa mengenang saat ia membawa anaknya mengikuti pemilihan Putri Pantai Tahun Ini yang diselenggarakan rayon militernya Sang Shodancho, dan memenangkan mahkotanya dengan sangat membanggakan.

Tapi kini ia kehilangan gadis itu dengan cara yang paling pahit untuk diterima: seseorang membunuhnya, membuang mayatnya ke laut, dan ia tak tahu siapa. Ia menyesal tidak melakukan sesuatu sejak gadis itu berkata bahwa ia diperkosa anjing di toilet sekolah. Ia seharusnya melakukan sesuatu. Paling tidak datang ke sekolah itu, melihat toilet itu, tapi kenyataannya ia tak melakukan apa pun. Ia seharusnya menanyai semua anak lelaki di sekolah, karena Rengganis Si Cantik bisa salah menyebut anak­anak itu sebagai anjing. Atau kenapa ia tidak sejak awal mencari anjing tersebut, jika memang anjing yang memerkosa anaknya, dan jika tidak ia temukan, kenapa tidak ia bantai semua anjing yang hidup di kota ini sebagaimana telah dilakukan si bocah Kinkin dengan cara yang sangat amatiran.

”Mijn hond is weggelopen,” katanya tak jelas apa maksud.

Selepas membakar kantor polisi, dan ia menemukan anjing pertama, anjing kampung, tengah mengais­ngais sampah, ia menangkap dan membunuhnya. Semua orang terkejut dengan cara bagaimana dia melakukannya. Ia memelintir leher anjing itu hingga putus dan tergeletak mati dengan tubuh dan kepala terpisah.

”Apa gunanya aku memiliki kekuatan jika aku bahkan tak bisa melindungi anak gadisku dari seekor anjing,” katanya. ”Mari kita bunuh semua anjing di kota ini.”

Para begundal anak buahnya mulai menyebar dalam gerombolangerombolan besar, membawa senjata­senjata pembunuh yang mengerikan. Beberapa di antara mereka menenteng senapan angin, yang lain mengayun­ayunkan golok dan pedang telanjang.

”Kulakukan bahkan meskipun tak membuat jiwaku tenang,” Maman Gendeng mendesah.

”Apakah kau tak bisa membuat seorang anak lagi?” Itu pertanyaan konyol Romeo.

Maman Gendeng sama sekali tak dibuat terhibur. ”Bahkan meskipun aku punya sepuluh anak yang lain, seseorang telah membunuh yang satu dan aku tak mungkin diam karena itu.” Matanya menatap lorong­lorong jalan berharap menemukan anjing lain, dan menambahkan dengan sedih, ”Ia baru berumur tujuh belas tahun.” ”Anak Sang Shodancho juga mati,” kata Romeo. ”Itu tak membuatku terhibur,” kata sang preman.

Maka pembantaian anjing paling mengerikan di kota itu mulai terjadi, hampir seperti pembantaian orang komunis delapan belas tahun sebelumnya. Entah apa yang akan terjadi jika Sang Shodancho tahu, sebab ia sangat menyukai anjing, dan banyak anjing di kota itu merupakan peranakan ajak­ajak yang dilatihnya sewaktu penyerbuan terhadap gangguan babi bertahun­tahun lalu. Sang Shodancho tak pernah tampak sejak kuburan anaknya digali orang, dan seperti Maman Gendeng, ia menjelajahi pelosok kota dan desa­desa serta kampungkampung untuk mencari di mana mayat anaknya berada. Begundalbegundal itu dengan mudah membacok anjing­anjing yang berkeliaran di jalanan, mencincangnya seolah mereka hendak menjadikannya sebagai daging­daging sate. Kepalanya digantung di pojok­pojok jalan, seolah sebagai penanda bagi semua anjing untuk merasa takut hidup di kota itu, dengan darah masih menetes­netes dari pangkal lehernya. Setelah anjing­anjing liar terbunuh tak tersisa, baik yang ditemukan di tempat­tempat sampah maupun berkeliaran di pantai, mereka mulai mengincar anjing­anjing piaraan. Ada perlawanan­perlawanan dari para pemilik anjing, tapi begundal­begundal itu tak mungkin terkalahkan. Mereka menghancurkan pagar rumah dan membunuh anjing di kandangnya, dan terutama anjing­anjing yang dirantai tampak tak berdaya menghadapi para pembunuhnya. Mereka juga masuk ke rumah­rumah, menghancurkan jendela dan mengincar anjing­anjing yang dipelihara di atas tempat tidur, hingga bahkan mereka membunuhnya di sana dan melemparkannya ke wajan penggorengan di dapur.

Beberapa orang mulai keberatan atas cara­cara kasar para preman

memburu anjing sampai rumah­rumah, namun Maman Gendeng tak peduli. ”Bahkan jika benar anjing memerkosa anak gadisku,” katanya, ”maka ia sesungguhnya mewarisi pikiran jahat manusia.” Ia bahkan menyuruh anak buahnya merusak apa pun yang dimiliki orang­orang yang memelihara anjing.

”Kita bisa berhadapan dengan tentara jika kau membuat kekacauan sampai sejauh itu,” kata Romeo dengan nada ketakutan yang tak dapat disangsikan. ”Kami pernah menghadapi tentara­tentara itu,” kata Maman Gendeng.

Romeo memandangnya, seolah tak percaya.

”Kau pikir apalagi yang akan dilakukan oleh seorang laki­laki yang marah karena anak gadisnya dibunuh?” tanya Maman Gendeng. ”Aku tahu orang­orang itu sama sekali tak berdosa, tapi aku sedang marah.” Itu seperti alibinya, tapi sesungguhnya ia memang marah pada semua orang­orang kota selain para begundal sahabatnya. Ia telah menahan dendam yang sangat lama, tahu dengan pasti bahwa semua orang memandang rendah pada dirinya, seorang begundal pengangguran yang hanya menghabiskan waktu dengan berkelahi dan minum bir, memandang rendah pada sahabat­sahabatnya. Ia juga dendam pada orang­orang kota yang memandang Rengganis Si Cantik bagaikan memandang gadis tak waras dan idiot, dan hanya memandangnya dengan tatapan berahi

pada kecantikannya. Ia punya alasan untuk marah.

”Mereka percaya bahwa kita adalah sampah­sampah masyarakat yang tidak berguna,” Maman Gendeng menyimpulkan. ”Itu benar, tapi banyak di antara kita kekurangan pendidikan untuk menjadi apa pun dan mereka menutup pintu. Apa yang kita lakukan pada akhirnya menjadi garong, menjadi pencopet, dan hanya menunggu waktu untuk melampiaskan dendam pada orang­orang yang telah membuat mereka cemburu. Aku cemburu melihat orang baik­baik memiliki keluarga yang bahagia. Aku menginginkan hal seperti itu. Aku akhirnya memperoleh semua itu, tapi mungkin tidak sahabat­sahabatku. Dan kini, setelah aku memperolehnya, seseorang merampas kembali kebahagiaan itu dariku. Dendam lama terbuka kembali, seperti sebuah luka.”

Apa yang ditakutkan Romeo sungguh­sungguh terjadi. Kerusuhan melanda kota dengan cepat. Beberapa pemilik anjing mencoba melawan, dan para begundal semakin beringas, mereka merusak apa pun kemudian selain anjing. Mobil­mobil bertumbangan di jalanan, rambu­rambu lalu lintas tercerabut dari akarnya, sebagaimana pohon­pohon pelindung jalan. Kaca­kaca toko pecah berantakan, sebagaimana kaca­kaca etalase mereka. Beberapa pos polisi dibakar, dan beberapa orang mulai terluka dalam perkelahian­perkelahian yang tak imbang. Penduduk kota dilanda ketakutan yang amat sangat, sehingga segera datang perintah militer dari komando pusat untuk penguasa militer kota itu. Penguasa militer kota menunjuk Sang Shodancho untuk melakukan tugas tersebut: bereskan para begundal, bantai mereka jika tak bisa dibereskan.

”Aku telah yakin sejak lama begundal­begundal itu harus dihabisi sebagaimana orang­orang komunis,” kata Sang Shodancho kepada istrinya setelah pulang dari pencarian sia­sia mayat anaknya.

”Setelah membuang Kamerad Kliwon kau akan membunuh Maman Gendeng?” tanya istrinya (ia tak pernah menceritakan perselingkuhannya dengan Kamerad itu sehari sebelum ia ditemukan mati bunuh diri). ”Apakah kau akan menjadikan adik­adikku semua janda?”

Sang Shodancho memandang istrinya, terkejut.

”Jika ia tak dibunuh, ia akan membunuh semua orang di kota ini, apalagi yang harus aku lakukan?” tanya Sang Shodancho. ”Lagipula pikirkan hal ini: ia tak menjaga anaknya dengan baik sehingga gadis itu bunting, dan ia memaksa gadis bunting itu untuk kawin dengan bocah yang tak diinginkan si gadis, maka si gadis melarikan diri pada malam ia melahirkan bayi itu. Karena si gadis melarikan diri, anak kita yang telah lama bersahabat dengannya jatuh sakit, dan karena ia jatuh sakit kemudian ia mati. Bahkan setelah mati seseorang mencurinya dari kuburan. Tak bisakah kau menyimpulkan pemimpin para begundal itu adalah pembunuh anak kita, Nurul Aini yang ketiga itu?”

”Sekalian saja kau salahkan Hawa yang merayu Adam memakan buah apel itu dan membuat kita harus hidup di bumi yang terlaknat ini,” kata istrinya jengkel.

Kenyataannya Sang Shodancho tak memedulikan istrinya. Selain urusan para begundal itu adalah perintah dari komando pusat militer, dengan logikanya sendiri ia memiliki dendam atas kematian Nurul Aini, dan terutama ia masih terluka oleh dendam lama terhadap Maman Gendeng ketika suatu hari datang ke kantornya di rayon militer dan mengancamnya, tak lama setelah ia meniduri Dewi Ayu. Tak seorang pun pernah mengancamnya di depan mata, tidak Jepang dan tidak Belanda, tapi begundal satu itu telah melakukannya. Ia tak peduli pada kenyataan bahwa lelaki itu kebal terhadap senjata, bahkan ia telah membuktikannya. Ia percaya ada satu atau dua cara untuk membunuhnya, dan ia akan mempergunakan cara apa pun untuk menghabisi nyawanya. Ia pernah menjadi sahabat lelaki itu, terutama selama di meja kartu truf, tapi bagaimanapun ia bernafsu membunuhnya suatu ketika. Sekaranglah waktunya, dan tutup telinga atas apa pun yang dikatakan Alamanda.

”Lakukanlah dan tak usah kembali,” kata Alamanda akhirnya, ”kami bertiga akan menjadi janda dan segala sesuatunya menjadi lebih adil.”

”Adinda masih memiliki Krisan.” ”Bunuh anak itu jika kau cemburu.”

Sang Shodancho memimpin sendiri operasi pemberantasan para preman begundal itu. Ia mengumpulkan semua prajurit, dan memperoleh pasukan tambahan dari pos­pos militer terdekat. Ia memimpin rapat darurat dan membuat peta di mana kini begundal­begundal itu membuat kerusuhan, serta bagaimana cara mereka akan dihabisi. Sang Shodancho sendiri kini sesungguhnya sudah cukup tua untuk beroperasi di lapangan, ia tengah menunggu surat keputusan pensiunnya, namun ia tampak bersemangat, meskipun juga sedikit bijak. ”Kita tak akan melakukannya seperti ketika membantai orang­orang komunis,” ia berkata, ”semua yang terbunuh harus dimasukkan karung.”

Maka satu buah truk datang dengan muatan penuh karung kosong. Operasi itu dilakukan pada malam hari, untuk tidak menimbulkan kepanikan massal penduduk kota. Para prajurit menyebar dalam pakaian sipil bersenjata, juga para penembak gelap, menuju kantong­kantong para begundal. Mereka mengidentifikasikan setiap preman sebagai orang­orang bertato, peminum, dan terutama yang tertangkap basah sedang membuat keonaran maupun membunuh anjing, dan mereka semua akan ditembak di tempat sebelum dimasukkan ke dalam karung dan melemparkannya ke selokan atau digeletakkan begitu saja di pinggir jalan. Penduduk yang menemukannya akan mengubur mereka bersama karung­karungnya: itu jauh lebih praktis daripada membalut mereka

dengan kain kafan.

”Mereka terlalu laknat untuk memperoleh kain kafan,” kata Sang Shodancho, ”apalagi tanah pemakaman.”

Secepat pagi datang, pada hari pertama, separuh preman yang dimiliki kota itu telah lenyap, ditelan karung­karung yang diikat dengan tali plastik. Mereka bergeletakan di sepanjang jalan, terapung di sungai, dipermainkan ombak di pesisir, teronggok di semak­semak, dan bergelimpangan di selokan. Beberapa mulai dipermainkan anjing, dan beberapa yang lain mulai didatangi lalat. Tak seorang pun penduduk menyentuhnya sebelum sore datang, mereka terlampau bahagia bahwa ada pertolongan datang, entah siapa, yang akan menghabisi para perusuh itu tanpa sisa. Tentu saja mereka masih ingat kasus pembantaian orangorang komunis, dan bagaimana mereka diteror hantu­hantunya selama bertahun­tahun. Tapi apa peduli, begundal­begundal itu lebih baik mati dan menjadi hantu daripada hidup dan menyusahkan banyak orang. Maka mereka mendiamkan mayat­mayat dalam karung itu, berharap belatung dan burung elang pemakan bangkai menghabisinya sampai sumsum tulang. Namun ketika serangan bau busuk mulai menyergap, dan mereka dibuat tak tahan, orang­orang itu akhirnya menguburkan mayat­mayat dalam karung yang terdekat dengan permukiman mereka.

Tidak seperti mengubur mayat, tapi seperti mengubur tai selepas

berak di kebun pisang.

Pembantaian berlangsung di malam kedua, dan malam ketiga, serta malam keempat, kelima, dan keenam serta ketujuh. Operasi itu berlangsung sangat cepat, nyaris menghabiskan seluruh persediaan begundal di Halimunda. Sang Shodancho sama sekali tak terpuaskan, sebab Maman Gendeng tak ada di antara mayat­mayat itu.

Selama seminggu tersebut Maman Gendeng tak pernah pulang ke rumah. Maya Dewi sangat mengkhawatirkannya, terutama setelah ia mendengar bahwa begundal­begundal kota mulai terbunuh satu per satu selama tujuh malam tersebut. Tak seorang pun tahu siapa yang membunuh mereka, orang­orang hanya tahu bahwa semua begundal mati ditembak, di kepala atau dada. Tapi semua orang bisa menebak siapa yang melakukannya, sebab tak semua orang memegang senjata. Maka Maya Dewi pergi menemui Sang Shodancho.

”Apakah kau telah membunuh suamiku?” tanyanya.

”Belum,” jawab Sang Shodancho sedih, ”tanyakan pada prajuritprajurit itu.”

Ia menanyai mereka satu per satu, nyaris semua, dan mereka menjawab sebagaimana jawaban Sang Shodancho.

”Belum.” Tapi ia cenderung tak memercayai mereka. Sang Shodancho pernah membuang Kamerad Kliwon ke Pulau Buru, maka ia bisa membunuh Maman Gendeng suaminya. Ia hanya berharap suaminya sungguh­sungguh kebal senjata, tapi demi melihat banyak mayat di jalanan, ia tak tahan untuk mencari siapa tahu di antara mereka adalah mayatnya.

Maka perempuan cantik itu, dengan kerudung merah pelindungnya dari cahaya matahari, mulai berjalan dari satu mayat ke mayat lain. Ia membuka tali yang mengikat karung itu satu per satu, tak peduli bau busuknya begitu menyengat hidung, dan tak peduli bahwa ia berebutan dengan lalat yang mencoba masuk, dan memeriksa mayat di dalamnya, mencocokkan wajahnya dengan kenangan wajah suami di otaknya. Mayat itu bukan mayat Maman Gendeng, tapi semakin banyak mayat yang ia temukan dan sebagian besar ia kenali sungguh­sungguh para sahabat suaminya, ia sampai pada satu keyakinan bahwa suaminya telah sungguh­sungguh mati pula. Mungkin ilmu kebal senjata itu hanya omong kosong, dan seorang prajurit telah berhasil menembaknya mati. Ia harus menemukannya, dan jika memang sudah mati, ia harus menguburkannya secara terhormat.

Untuk mayat­mayat yang telah dikubur orang karena tak tahan de­

ngan baunya, ia menemui para pengubur mayat tersebut dan bertanya, apakah yang mereka kuburkan adalah suaminya? ”Aku tak melihatnya,” kata mereka, ”tapi dari baunya kupikir bukan.” Kalian pikir seperti apa bau suamiku? Perempuan itu akan bertanya lagi. ”Ia pasti lebih bau dari semua begundal ini, sebab ia begundal dari para begundal.” Maya Dewi sama sekali tak sakit hati dengan kata­kata itu, menyadari semua kebenarannya, dan meneruskan pencariannya. Beberapa mayat harus ia kejar karena mengapung di sungai dan dibawa air, namun setelah lelah mengejar dan menangkapnya, terbuktilah bahwa itu bukan suaminya. Ia juga memeriksa mayat­mayat yang bertebaran di sepanjang pantai, membuat waktu itu Halimunda dibuat sepi dari para pelancong. Namun seharian itu semua pekerjaannya sia­sia, dan ia kembali ke rumah ketika malam datang, berharap bahwa tak ada pembantaian malam itu, dan berharap tiba­tiba suaminya pulang. Harapannya tak terkabul, dan ketika pagi datang ia memulai pencariannya kembali, memeriksa karung­karung yang belum ia periksa. Hingga beberapa orang memberitahunya bahwa mereka melihatnya melarikan diri ke hutan tanjung bersama Romeo di hari ketujuh pembantaian. Tapi tentara­tentara itu juga telah mendengarnya. Maka ia berburu dengan waktu, berharap tentara­tentara itu belum berhasil menembaknya. Ia masuk ke hutan itu sendirian, hanya beralaskan sandal jepit, dan dilindungi kerudung merah yang dikenakan sehari sebelumnya, tersaruk­saruk menapaki jalan setapak yang dipenuhi belukar. Hutan tersebut telah jadi hutan lindung sejak masa kolonial, tak hanya dihuni monyet dan rusa jinak, namun juga dihuni banteng liar dan bahkan macan pohon, tapi Maya Dewi tak menakutkan apa pun dan yang ia inginkan adalah bertemu suaminya, hidup atau mati. Ia berpapasan dengan rombongan prajurit berjumlah empat orang,

dan ia menghentikan mereka.

”Apakah kalian telah membunuh suamiku?” tanyanya kembali. ”Kali ini sudah, Nyonya,” kata pemimpin di antara mereka, ”dan

kami ikut berduka cita.”

”Di mana kalian tinggalkan mayatnya?”

”Jalan lurus sejauh seratus meter, dan di sanalah mayat itu, telah dikerubungi lalat. Tadinya akan kami salibkan di pohon mangga, tapi lalat dengan cepat menyerbunya.”

”Ia di dalam karung?”

”Di dalam karung,” jawab si prajurit, ”meringkuk seperti bayi.” ”Sampai berjumpa.”

”Sampai berjumpa.”

Maya Dewi melanjutkan perjalanan lurus sejauh seratus meter, sebagaimana dikatakan prajurit tadi, dan di sana ia memang menemukan karung, telah dipenuhi lalat. Bahkan burung gagak pemakan bangkai telah mematuki karungnya, dan dua ekor ajak baru saja mencincangnya. Maya Dewi mengusir mereka semua, membuka tali karung, dan memastikan bahwa yang ”meringkuk seperti bayi” di dalamnya memang lelaki itu, suaminya, meskipun wajahnya nyaris tak lagi bisa dikenali, tapi itu memang suaminya. Ia tak menangis waktu itu, bagaimanapun. Dengan ketenangannya yang mengagumkan, ia mengikat kembali karung tersebut dengan tali plastiknya. Dan disebabkan ia tak mungkin kuat membopongnya, maka ia menyeret karung tersebut sepanjang tempatnya ditemukan sampai pemakaman umum Budi Dharma tempat ia meminta suaminya dikuburkan secara terhormat. Sepanjang jalan tersebut, lalat­lalat masih menyerbu karungnya, memanjang bagaikan bintang berekor.

Lalat­lalat baru pergi setelah Kamino memandikannya, dan memberinya wewangian. Kini mayat itu terbujur kaku dengan luka tembak di dahi dan dadanya, dua tembakan saja, tapi pasti membunuhnya seketika. Yang di dada tepat pada bagian jantungnya. Barulah ketika melihat pemandangan tersebut Maya Dewi menangis, dan menghindari kesedihan perempuan itu lebih lanjut, Kamino segera membungkusnya dengan kain kafan. Melakukan salat jenazah untuknya, diikuti Kinkin yang bersimpati atas kematian orang yang seharusnya menjadi mertuanya. Mayat Maman Gendeng dikuburkan persis di samping kuburan anak gadisnya, dan di sana hampir selama satu jam Maya Dewi bersimpuh di antara kedua kuburan tersebut. Merasa kesepian, terasing dan ditinggalkan. Ia memulai hari berkabungnya sebelum di hari ketiga Maman Gendeng bangkit dari moksa.

Sebagaimana sudah terbukti, laki­laki itu sesungguhnya memang

kebal senjata. Ia tak takut dengan pembantaian itu. Tapi demi melihat sahabat­sahabatnya mulai bergelimpangan mati di jalan­jalan, ia tak tahan melihat itu semua dan berkata pada Romeo yang terus mengikutinya:

”Mari kita melarikan diri ke hutan.”

Mereka melarikan diri ke hutan pada hari ketujuh pembantaian, setelah berhasil bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain. Itu benar: kota itu tak lagi menyenangkan sang preman. Ia tak bisa berdiri dengan semua kebanggaannya tentang kekuatan dan tentang kekebalan tubuhnya sementara teman­temannya mati di depan mata.

”Sebentar lagi mereka akan jadi hantu­hantu,” katanya dalam pelarian itu, ”jikapun kita tetap hidup, kita akan menderita melihat penderitaan mereka.”

Ia teringat pada hari­hari terakhir kehidupan Kamerad Kliwon. Laki­laki itu didera kesedihan yang mendalam melihat hantu temantemannya dalam keadaan yang begitu menderita. Hidup jauh lebih menyakitkan dengan cara seperti itu, dan Maman Gendeng ingin menghindarinya. ”Kita tak mungkin lari dari hantu­hantu,” kata Romeo.

”Itu benar,” katanya, ”kecuali kita bergabung dengan mereka, seperti Kamerad Kliwon akhirnya memilih bunuh diri.”

”Aku tak berani bunuh diri,” kata Romeo.

”Aku juga tak ingin,” kata sang preman, ”tapi aku memikirkan cara lain.”

Ia memilih lari ke hutan tanjung karena hutan itu jarang dijamah manusia. Itu hutan lindung, karenanya tak ada petani yang menggarap tanahnya, kecuali petugas kehutanan yang sebagian besar adalah para pemalas. Ia berharap dengan lari ke tempat itu, ia bisa mengulur waktu sebelum ditemukan prajurit­prajurit tersebut. Mereka mungkin tak akan bisa membunuhnya, tapi bagaimanapun mereka sangat mengganggu. Ia tengah memikirkan suatu keputusan.

”Aku tak mungkin hidup sementara aku tahu seluruh sahabatku telah mati dalam pembantaian,” katanya dengan nada yang demikian sedih.

”Aku tak mungkin mati sementara banyak orang masih menikmati hidup dengan begitu indahnya,” kata Romeo ironik.

”Tapi aku juga masih memikirkan istriku,” kata Maman Gendeng, ”ia akan sangat bersedih terutama setelah kami kehilangan Rengganis Si Cantik.”

”Aku tak peduli dengan istriku, ia masih bisa menemukan banyak lelaki untuk menyetubuhinya tak peduli begitu buruk rupanya,” kata Romeo, ”tapi bagaimanapun aku lebih suka hidup.”

Mereka sampai di sebuah bukit kecil dengan sebuah gua Jepang (gua buatan yang dibangun Jepang untuk pertahanan selama masa perang) di salah satu lerengnya. Keduanya beristirahat di puncak bukit itu, sementara Maman Gendeng masih terus memikirkan keinginannya untuk pergi dari kehidupan dan keberaniannya untuk meninggalkan Maya Dewi seorang diri di dunia. Ia menatap gua Jepang itu, tampak gelap dan lembab, dengan dinding­dindingnya yang membentuk sebuah kotak, lebih menyerupai sel tahanan daripada benteng pertahanan. Tapi tempat seperti itu sangat memadai untuk sebuah meditasi. Maman Gendeng ingin bermeditasi, sampai moksa, tapi ia masih memikirkan istrinya sebelum kemudian ia akhirnya berkata: ”Bagaimanapun, cepat atau lambat kematian akan datang,” dan melanjutkan, ”ia perempuan kuat sejauh yang aku tahu.”

Ia akhirnya memutuskan untuk bermeditasi di gua Jepang tersebut. Ia berkata pada Romeo agar menunggu di puncak bukit itu sementara ia akan bermeditasi di gua. Ia memerintahkan lelaki itu untuk berjagajaga, siapa tahu para prajurit mencium pelarian mereka dan mengejarnya sampai tempat itu. ”Bangunkan aku jika prajurit­prajurit itu datang,” katanya.

”Mereka akan mati kubunuh sebelum datang,” kata Romeo. ”Suaramu terdengar tak meyakinkan,” kata Maman Gendeng, ”tapi

aku percaya padamu.”

Maman Gendeng turun ke gua Jepang tersebut dan masuk ke dalamnya. Apa yang ia duga sungguh benar, itu mirip sel tahanan daripada sebuah benteng pertahanan. Dinding­dindingnya seperti dipahat dengan cara sembrono, dan masuk ke dalam hanya menemukan ruanganruangan dalam bentuk kotak­kotak yang sama. Tak banyak ruangan di dalamnya, hanya empat buah selain ruangan utama. Maman Gendeng duduk di lantai ruangan utama yang lembab, dan memulai meditasinya. Tak lama ia melakukan itu, sampai kemudian ia moksa. Menghilang menjadi butir­butir cahaya. Ia tak bunuh diri, tapi ia pergi meninggalkan dunia ini dengan membuang semua tubuhnya, semua materi yang mengungkung jiwanya, dan kini ia berbaur dengan segala cahaya, berkilauan seperti kristal dan naik ke atas menuju langit. Tapi sebelum mencapai langit ia melihat empat orang prajurit menodongkan senjata pada Si Romeo di atas bukit. Ia hendak menolong lelaki itu, dengan mengaburkan pandangan para prajurit, sebelum mendengar Romeo berkata:

”Jangan bunuh aku,” katanya pada para prajurit, ”akan kuberitahu

di mana Maman Gendeng berada.”

”Baiklah dan katakan,” kata salah satu prajurit. ”Ia melakukan meditasi di dalam gua Jepang itu.”

Keempat prajurit itu turun dan memeriksa gua Jepang tersebut. Jelas mereka tak akan menemukan Maman Gendeng. Kesempatan itu dipergunakan Romeo untuk melarikan diri, tapi Maman Gendeng tak membiarkan itu terjadi, menahannya sedemikian rupa, hingga Romeo menemukan dirinya berlari tapi tak pernah beranjak dari tempatnya. ”Pengkhianat tetaplah pengkhianat,” kata Maman Gendeng yang didengar Romeo tanpa lelaki itu bisa melihat wujudnya, mengingatkannya pada pengkhianatan masa lampau ketika mencuri uang­uang sang preman.

Maman Gendeng kemudian mengubah wajah Romeo menjadi wajahnya sendiri, tepat ketika keempat prajurit kembali dalam keadaan marah tak menemukan Maman Gendeng di sana. Tapi kini mereka melihat lelaki itu: Maman Gendeng, di puncak bukit.

”Akhirnya kau kami temukan, Maman Gendeng,” kata mereka sambil menodongkan senjata.

”Aku Romeo,” kata lelaki itu, ”dan bukan Maman Gendeng.”

Tapi dua letusan senapan telah menghentikan hidupnya. Satu peluru di dahi dan peluru lain di dadanya. Mayat itulah yang ditemukan Maya Dewi, sementara Maman Gendeng naik ke langit dan mengunjunginya di hari ketiga setelah moksa.
18 (Tamat)
Roh jahat yang sangat kuat sekali itu kini sedang sangat berbahagia, melihat kemenangan­kemenangannya, melihat semua den­

damnya terbalaskan, meskipun ia harus begitu lama menunggu. ”Telah kupisahkan mereka dari orang­orang yang mereka cintai,”

katanya pada Dewi Ayu, ”sebagaimana ia memisahkanku dari orang yang aku cintai.”

Telah kupisahkan mereka dari orang­orang yang mereka cintai, sebagaimana ia memisahkanku dari orang yang aku cintai, suaranya menggema.

”Tapi aku mencintaimu,” kata Dewi Ayu, ”cinta yang keluar jauh

dari usus­ususku.”

”Maka aku bahkan melarikan diri darimu, cucu Stammler!”

Maka aku bahkan melarikan diri darimu, cucu Stammler!

Dewi Ayu nyaris tak percaya sebesar itu dendam roh jahat tersebut demikian berakar. Ia tak pernah menduganya, sebab selama ini ia hanya hantu pengganggu yang tak terlalu merepotkan. Ia tahu bahwa hantu itu memiliki rencana jahat suatu ketika di masa mendatang, tapi nyaris tak mengira begitu jahatnya ia berbuat, dan begitu dalam dendam itu tertanam di hatinya.

”Lihatlah anak­anakmu,” kata roh jahat itu, ”mereka kini menjadi janda­janda menyedihkan, dan yang keempat janda tanpa pernah kawin.”

Lihatlah anak­anakmu, mereka kini menjadi janda­janda menyedihkan, dan yang keempat janda tanpa pernah kawin.

Itu setelah ia membunuh Sang Shodancho dengan begitu mengerikan, di gubuk gerilya, yang adalah daerah kekuasaannya sendiri. Sewaktu Sang Shodancho muncul tiba­tiba di waktu dini hari dan jongkok di depan tungku, Dewi Ayu yang telah mati bertahun­tahun, bahkan ketika hidup lama tak berhubungan dengannya, sungguh­sungguh telah melupakan bahwa Shodancho itu adalah anak menantunya. Ia, Shodancho itu, berkata bahwa ia telah menjelajahi kota­kota, hutan­hutan, selama bertahun­tahun sejak ia membantai para begundal kota, untuk mencari mayat anaknya yang dicuri seseorang. Ia lelah dan kembali ke kota ini tanpa hasil, tapi ia tak punya keberanian kembali pada istrinya, Alamanda, maka ia datang ke rumah mertuanya, Dewi Ayu.

”Aku tak memperoleh tokoh yang baik untuk memerankan pembunuh Shodancho,” kata si roh jahat, ”maka biar kulakukan sendiri.” Aku tak memperoleh tokoh yang baik untuk memerankan pembunuh

Shodancho, maka biar kulakukan sendiri.

”Aku telah tahu sejak awal,” kata Dewi Ayu, ”kau pembuat komedi amatiran.”

Tidak, ia sesungguhnya tidak melakukan sendiri, dengan tangannya. Tapi memang bukan manusia yang membunuh Sang Shodancho. Kesepian di hari tua yang menyedihkan, tak punya keberanian bertemu istri yang telah mengusirnya setelah ia membuat adik­adiknya menjadi janda, dan kehilangan anak gadis yang paling dicintainya, Sang Shodancho menghibur diri dengan sekali­kali pergi ke gubuk gerilyanya di tengah hutan tanjung. Gubuk itu masih seperti dulu, namun tak sekukuh semula, tapi masih cukup untuk membawanya pada nostalgia­nostalgia lama dan mencoba menghibur hatinya dengan kenangan­kenangan tersebut.

Ia juga mencoba menghibur diri dengan menjinakkan kembali ajakajak liar di sekitar gubuk gerilya. Kemampuannya sudah jauh berkurang, ia sudah begitu sangat tua bagaimanapun, dan ia sangat kerepotan menaklukkan ajak­ajak liar tersebut. Tapi ia tetap mencoba memelihara beberapa di antara mereka, terutama menangkap anak­anak ajak dari sarang­sarang mereka, mencoba menjinakkannya sejak kecil. Namun suatu hari induk anak­anak ajak itu datang mencarinya.

Ia tengah berbaring di batu tempat dulu ia biasanya makan bersama anak buahnya, batu yang pernah dipakai Rengganis Si Cantik membaringkan mayat anaknya sebelum melemparkannya pada ajak­ajak, ketika ajak betina itu datang bersama gerombolannya. Si ajak betina tak menunggu terlalu lama demi melihat musuhnya dalam keadaan lengah seperti itu, menyerangnya dan mencabik­cabik otot pahanya. Sang Shodancho, sekali lagi ia sudah begitu tua, gerak refleksnya telah sangat meragukan, dan perlawanannya juga bukan cara melawan seorang lelaki yang kuat. Ia belum sempat melakukan perlawanan ketika ajak­ajak yang lain mulai berdatangan, yang satu menerkam tangannya dan yang lain merenggut betisnya. Luka menganga mulai muncul di sekujur tubuhnya, dengan darah tua membanjiri batu tersebut. Sang Shodancho masih sempat menggerak­gerakkan seluruh anggota tubuhnya, mengejang dan menendang ke sana­kemari, berharap mengusir ajak­ajak tersebut, tapi luka yang dideritanya begitu dalam, dan ia kelelahan sendiri. Ia mulai terdiam, menatap langit, menyadari kematiannya segera tiba, di tangan ajak­ajak yang bahkan sangat ia sukai sepanjang masa. Ia mati dengan tubuh tercabik­cabik ajak, dimakan hidup­hidup: sadarilah, bahkan sesungguhnya ajak itu binatang pemalas, mereka biasanya memakan bangkai. Hanya Sang Shodancho dan mungkin sedikit kasus lain, bahwa ia dimakan hidup­hidup. Kematiannya telah ditakdirkan tampak begitu menyedihkan.

Dewi Ayu, seminggu setelah Sang Shodancho tak pulang, sebab

biasanya ia tak pergi ke gubuk gerilya selama itu, mulai mencemaskannya. Dengan bantuan dua orang pensiunan tentara yang dulu pernah jadi anak buah Sang Shodancho, ia menerobos hutan tanjung mencari laki­laki itu, dan mereka menemukannya telah menjadi mayat yang mengenaskan. Burung elang pemakan bangkai tengah mematuki daging­daging sisa yang ditinggalkan ajak­ajak. Wajahnya nyaris telah hancur, hanya pakaiannya yang segera dikenali, selebihnya hanya tulang­belulang yang tersusun rapi masih berbaring di atas batu, terlihat bahwa ia tak melakukan perlawanan yang berarti. Bahkan ajak­ajak itu tak menyeretnya dari tempat tersebut, memakannya secara hangat di tempat. Hanya sedikit otot yang menahan tulang­belulang tersebut, namun Dewi Ayu datang tepat waktu sebelum ia membusuk.

Mereka membawanya dengan tas plastik hitam, sejenis dengan plastik­plastik yang dipergunakan petugas pemadam kebakaran untuk membawa mayat­mayat orang tenggelam ke rumah sakit. Mereka membawanya langsung ke rumah Alamanda, dan kepadanya, setelah meletakkan plastik hitam di depan kakinya, Dewi Ayu berkata: ”Nak, aku membawa tulang­belulang lelakimu,” katanya, ”ia mati dimakan ajak.”

”Itu sudah kuduga, Mama, sejak ia datang dengan sembilan puluh enam ekor ajak untuk berburu babi,” kata Alamanda, tak tampak sedih sama sekali.

”Bersedihlah sedikit,” katanya, ”paling tidak karena ia tak mewariskan apa pun kepadamu.”

Alamanda menguburkan tulang­belulang tersebut, dengan daging tercabik­cabik, mirip tulang­tulang sapi yang dijual potongan untuk sop. Untuknya dilakukan upacara militer dan Sang Shodancho dikuburkan di taman makam pahlawan. Paling tidak itu disyukuri Alamanda, sebab jika lelaki itu dikubur di pemakaman umum, ia khawatir hantunya akan berkelahi dengan hantu Kamerad Kliwon. Ia akan damai di sana, di taman makam pahlawan, dengan peti mati dan bendera nasional menyelimutinya. Ada tembakan meriam untuk memberinya penghormatan terakhir, tapi bagi Alamanda itu terlihat seolah penembakan terhadap hantu suaminya agar mampus semampus­mampusnya, dan itu membuatnya sedikit bahagia juga.

Kini ia sungguh­sungguh seorang janda, sebagaimana kedua adiknya. ”Aku menyadari dendammu sejak mereka membantai orang­orang komunis dan Kamerad itu harus menghadapi regu tembak untuk diek­

sekusi,” kata Dewi Ayu, kembali pada si roh jahat.

”Ia seharusnya mati saat itu dengan cara yang sangat menyakitkan.” Ia seharusnya mati saat itu dengan cara yang sangat menyakitkan. ”Tapi cinta memperlihatkan kekuatannya,” kata Dewi Ayu. ”Ala­

manda menghentikannya tepat pada waktu seharusnya ia mati.”

Si roh jahat tertawa mengejek, ”Dan …” katanya, ”Dan kemudian ia bersetubuh dengannya lebih dari sepuluh tahun kemudian, sejenak sebelum ia bunuh diri. Bunuh diri. Bunuh diri. Ia mati. Ha. Ha. Ha.”

Dan … Dan kemudian ia bersetubuh dengannya lebih dari sepuluh tahun kemudian, sejenak sebelum ia bunuh diri. Bunuh diri. Bunuh diri. Ia mati. Ha. Ha. Ha.

”Tapi aku telah menyadarinya.”

Itu benar. Dewi Ayu telah menyadari bahwa roh jahat itu akan melakukan pembalasan dendam. Waktu itu ia tak mengira akan sekejam ini, tapi ia telah mengira bahwa ia akan menghancurkan cinta keluarganya, anak keturunan Ted Stammler yang tersisa, sebagaimana Ted Stammler telah menghancurkan cintanya pada Ma Iyang. Bahkan ketika hantu roh jahat itu masih hidup, jauh di dalam hatinya, Dewi Ayu telah merasakan kepedihan yang begitu dalam, tak peduli ia tak mengenal lelaki itu. Ini membawanya pada cinta buta, dan memaksanya untuk kawin dengannya. Ia ingin memberinya cinta, cinta yang tak ia peroleh dari Ma Iyang neneknya setelah itu dirampas Ted Stammler kakeknya, namun lelaki itu bahkan menolak untuk menerima cintanya. Cinta yang begitu tulus, yang datang dari dalam usus­ususnya sendiri. Saat itulah Dewi Ayu menyadari bahwa cinta lelaki itu pada Ma Iyang tak tergantikan oleh apa pun, dan merasakan semakin dalam betapa menderita lelaki itu setelah satu­satunya cinta yang ia miliki dicerabut dari akarnya. Maka ketika ia mati, Dewi Ayu bahkan telah menyadari samar­samar sejak itu, ia pasti akan menjadi hantu yang menyedihkan, yang penasaran, dan tak akan damai di dunia orang­orang mati. Itu benar. Hantu itu selalu mengikutinya ke mana pun. Ia telah merasakannya sejak di Bloedenkamp, di tempat pelacuran, dan di kedua rumahnya. Tapi ia belum tahu bahwa ia merencanakan dendam yang jahat sampai pagi ketika ia mendengar Kamerad Kliwon akan dieksekusi, lelaki yang dicintai Alamanda dan sekaligus Adinda.

”Lagipula ia belum kawin ketika itu, ia tak boleh mati sebelum

mengawini salah satu anakmu. Ha. Ha. Ha.”

Lagipula ia belum kawin ketika itu, ia tak boleh mati sebelum mengawini salah satu anakmu. Ha. Ha. Ha.

Tak lama setelah kematian Sang Shodancho, dan keyakinan Dewi Ayu tak lagi tergoyahkan, akhirnya ia memanggil roh jahat itu dengan bantuan si tukang jailangkung Kinkin. Kini roh jahat itu berdiri di depannya, sekali­kali tertawa, menampakkan kebahagiaannya yang tak terbendung.

”Ia roh jahat yang menghalangiku beberapa kali untuk mengetahui siapa pembunuh Rengganis Si Cantik,” kata Kinkin.

”Aku bahkan memisahkanmu dari orang yang kau cintai. Ha. Ha.

Ha.”

Aku bahkan memisahkanmu dari orang yang kau cintai. Ha. Ha. Ha. Ketika ia mengetahui, dari angin yang berbisik dan lolongan ajak di tengah hutan, bahwa Kamerad Kliwon tak jadi dieksekusi disebabkan permintaan Alamanda, Dewi Ayu percaya cinta masih bisa mengalahkan dendam hantu suaminya, tapi bagaimanapun ia tak yakin. Sepanjang hidupnya ia memikirkan hal itu, berpikir bagaimana menyelamatkan anak­anaknya dan membuat mereka bahagia, terlepas dari kutukan dan dendam hantu roh jahat yang menjadi pendampingnya seumur hidup. Maka ketika anak­anaknya mengawini suami­suami mereka, ia mengusir pasangan­pasangan itu dan berpesan untuk tak pernah datang ke rumahnya. Hanya Maman Gendeng dan Maya Dewi yang tidak ia usir, tapi sebaliknya ia pindah ke rumah baru. Ia ingin menjauhkan mereka dari hantu tersebut, meskipun waktu itu ia belum menyadari akan sejahat ini dendamnya dilampiaskan.

Kekhawatirannya meledak setelah sekitar sepuluh tahun selepas anak

terakhirnya kawin, ia hamil lagi. Ia tengah membesarkan mangsa baru roh jahat itu di dalam rahimnya. Ia harus menyelamatkannya, bagaimanapun, tapi ia tak tahu caranya. Ia mencoba menggugurkannya dengan berbagai cara, agar anak itu tak pernah lahir ke dunia, dan terbebas dari kutukan apa pun, dari dendam apa pun. Tapi anak tersebut begitu kuat, ia tak bisa membunuhnya, dan ia terus tumbuh di dalam rahimnya. Jika ia perempuan, ia akan secantik kakak­kakaknya, dan jika ia lelaki, ia akan menjadi lelaki paling tampan di permukaan bumi. Makhluk seperti itu akan menjadi makhluk dengan penuh cinta dihamburkan kepadanya, sementara ia merasakan, roh jahat itu tengah mengincar cinta­cinta tersebut. Ia akan menghancurkannya, dengan cara apa pun, sebagaimana Ted Stammler menghancurkan cintanya pada Ma Iyang.

Maka ia berkata pada Rosinah, ”Aku bosan punya anak cantik.” ”Kalau begitu berdoalah minta bayi buruk rupa.”

Ia harus berterima kasih pada perempuan bisu itu, sebab doanya terkabul dan untuk pertama kali ia memiliki anak perempuan buruk rupa. Lebih buruk rupa dari perempuan mana pun yang bisa kau temui, meskipun secara ironik ia memberinya nama Si Cantik. Dengan wajah dan tubuh seperti itu, tak akan ada siapa pun yang mencintainya, lelaki maupun perempuan. Ia akan terbebas dari kutukan roh jahat tersebut. Ia harus berterima kasih pada Rosinah. ”Tapi bahkan ia kini bunting!” teriak roh jahat itu. ”Bukankah itu membuktikan bahwa seseorang mencintainya?”

Tapi bahkan ia kini bunting! Bukankah itu membuktikan bahwa seseorang mencintainya?

Roh jahat itu benar.

”Tapi kau belum membunuhnya.” ”Aku belum membunuhnya.” Aku belum membunuhnya.

Suatu malam, ketika ia kembali mendengar keributan, semacam suara dengusan dan erangan orang yang tengah bercinta, ia akhirnya mendobrak pintu kamar tersebut dengan kapak sekuat tenaga. Ia telah dibuat kecewa, bagaimanapun, demi mengetahui bahwa seseorang bercinta dengan Si Cantik yang buruk rupa itu. Seseorang mencintainya, dan itu hal yang tak ia inginkan, bahkan sejak gadis itu belum ia lahirkan. Ia begitu sakit hati, dan ingin mengetahui siapa laki­laki bodoh yang mencintai gadis seperti itu. Tapi ia tak melihat siapa pun di kamar tersebut, kecuali Si Cantik dalam keadaan telanjang bulat, terkejut dan meringkuk di pojok ruangan.

”Dengan siapa kau bercinta?” tanyanya, antara marah, kecewa, dan panik.

”Tak akan pernah kukatakan, ia Pangeranku.”

Tapi ia melihat sesuatu bergerak, tanpa wujud, seolah turun dari tempat tidur. Lalu melangkah melingkari meja, ia hanya bisa melihat jejak kakinya yang sedikit basah oleh keringat di lantai, di bawah cahaya lampu kamar. Sosok tak tampak itu membuka jendela, begitu tergesagesa, membuka tirainya, dan tentunya kemudian ia melompat. Waktu itu ia berpikir, hantu tersebut telah datang untuk bercinta dengan Si Cantik, dengan satu maksud yang tak bisa ia tebak.

”Tidak, itu bukan aku,” kata si roh jahat tersinggung.

Tidak, itu bukan aku.

”Kau menghalangiku untuk melihatnya.” ”Itu benar. Ha. Ha. Ha.”

Itu benar. Ha. Ha. Ha.

Dendamnya tampak berjalan sempurna, nyaris tanpa cela, dan kutukan itu terus berjalan menghancurkan apa pun yang tersisa dari keluarganya. Alamanda telah kehilangan Sang Shodancho, tak peduli betapa ia pernah tak begitu mencintainya, bahkan cenderung membencinya, tapi pernah ada saat­saat ketika ia akhirnya mencintainya dengan penuh ketulusan. Dan setelah tak memperoleh dua anak sebelumnya, ia bahkan harus kehilangan Nurul Aini yang ketiga itu, mati pada umur yang begitu belia. Dan Maya Dewi bahkan harus kehilangan Rengganis Si Cantik dengan lebih tragis: seseorang membunuhnya dan melemparkannya ke laut, dan tak seorang pun tahu. Sementara itu suaminya kemudian moksa, setelah kehilangan hampir seluruh sahabatnya. Anaknya yang kedua, Adinda, harus melihat suaminya, Kamerad Kliwon itu, mati menggantung diri di dalam kamar. Ia masih punya Krisan. Dan Si Cantik ternyata bahkan memiliki kekasih. Ia harus menyelamatkan apa yang tersisa dari kutukan roh jahat itu. Ia tak akan membiarkan Krisan akhirnya diambil pula dari Adinda, dan Si Cantik kehilangan kekasihnya, siapa pun ia. Dewi Ayu akan mempertaruhkan apa pun untuk melawan roh jahat di depannya.

”Aku harus menghentikanmu,” katanya kemudian.

”Dari apa?” tanya si roh jahat.

Dari apa?

”Dari menghancurkan keluargaku.”

”Ha. Ha. Ha. Kehancuran keluargamu bahkan telah ditakdirkan.

Dendamku tak akan tertahankan oleh apa pun.”

Ha. Ha. Ha. Kehancuran keluargamu bahkan telah ditakdirkan. Dendamku tak akan tertahankan oleh apa pun.

”Kau tak berhasil memisahkan Henri dan Aneu Stammler,” kata Dewi Ayu.

”Sebab salah satunya darah daging kekasihku.” Sebab salah satunya darah daging kekasihku. ”Dan aku cucu Ma Iyang.”

”Itu sudah terlalu jauh.”

Itu sudah terlalu jauh.

Dewi Ayu mengeluarkan pisau belati dari kantung gaun yang ia kenakan. Pisau itu serupa pisau yang dipergunakan para prajurit, begitu mengilap dan kukuh. ”Aku menemukannya di kamar Sang Shodancho,” katanya entah kepada siapa. Kinkin hanya melihatnya dengan ngeri (seorang perempuan yang marah memegang pisau belati!), namun si roh jahat hanya tersenyum mengejek. ”Dan aku akan membunuhmu dengan belati ini.”

”Ha. Ha. Ha. Tak ada manusia yang bisa membunuhku,” kata si roh jahat.

Ha. Ha. Ha. Tak ada manusia yang bisa membunuhku.

”Boleh kucoba?” tanya Dewi Ayu. ”Silakan.”

Silakan.

Dewi Ayu menghampirinya sementara si roh jahat hanya tersenyum, dengan cara yang jauh lebih menjijikkan, seolah mengatakan betapa bodohnya kau melakukan tindakan sia­sia. Kinkin memalingkan mukanya, takut bahwa belati itu sungguh­sungguh bisa membunuh si roh jahat, dan ia tak sanggup melihat pembunuhan di depan matanya. Setelah beberapa detik saling memandang, dengan sekuat tenaga, tenaga seorang perempuan yang memendam kemarahan yang begitu mendalam, mungkin pada akhirnya sekuat dendam si roh jahat, ia menikam bekas suaminya itu. Darah muncrat, dan ia menikamnya lagi, darah keluar lagi, ia menikam lagi, lima tikaman dengan kekuatan yang bertambah dari satu tikaman ke tikaman yang lain.

Si roh jahat ambruk ke lantai, mengerang dan memegangi dadanya. ”Bagaimana mungkin,” katanya, ”kau bisa membunuhku?” Bagaimana mungkin, kau bisa membunuhku?

”Aku mati pada umur lima puluh dua tahun, atas kehendakku sendiri, dengan harapan aku bisa menahan kekuatan roh jahatmu,” kata Dewi Ayu. ”Dan hari ini aku datang. Apakah kau percaya pada manusia yang bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun mati? Aku bukan manusia, maka aku bisa membunuhmu.”

”Kau berhasil membunuhku, tapi kutukanku akan terus berjalan.”

Kau berhasil membunuhku, tapi kutukanku akan terus berjalan.

Roh jahat itu kemudian mati, menjadi asap yang begitu pekat dan lenyap ditelan udara. Dewi Ayu memandang si bocah Kinkin.

”Tugasku telah berakhir, aku akan kembali ke dunia orang mati,” katanya, ”Selamat tinggal, Nak, terima kasih atas bantuanmu.”

Lalu ia menghilang, berubah menjadi kupu­kupu yang demikian cantik, yang terbang melalui jendela dan lenyap di halaman. * * *

Laki­laki itu sering muncul tiba­tiba, tapi karena begitu seringnya, Si Cantik tak pernah lagi terkejut oleh kehadirannya. Ia telah muncul bahkan sejak ia masih begitu kecil, mengajaknya bicara. Rosinah sering ada di sampingnya, tapi Rosinah tak pernah melihat laki­laki itu, sementara ia melihatnya. Rosinah tak pernah mendengar suara lakilaki itu, sementara ia mendengarnya. Ia belajar bicara dari lelaki itu. Seorang lelaki tua, begitu tua bahkan alisnya sudah memutih semua, berkulit gelap terbakar matahari, dengan otot­otot yang telah ditempa kerja bertahun­tahun. Ia belajar segala hal dari lelaki tersebut. Bahkan ketika masa Rosinah hendak memasukkannya ke sekolah dan kepala sekolah tak mau menerimanya, dan lagipula ia tak mau ke sekolah, lelaki itu berkata padanya:

”Aku akan ajari kau menulis, meskipun aku tak pernah belajar menulis.”

Aku akan ajari kau menulis, meskipun aku tak pernah belajar menulis.

Melanjutkan:

”Dan kuajari kau membaca, meskipun aku tak pernah belajar membaca.”

Dan kuajari kau membaca, meskipun aku tak pernah belajar membaca. Ia tak pernah membutuhkan apa pun lagi, tampaknya, sebab ia telah merasa begitu bahagia berteman dengannya. Orang­orang tak mau berteman dengannya, sebab ia buruk rupa. Tapi lelaki itu berteman dengannya, tak peduli ia buruk rupa. Orang­orang tak mau menemuinya, tapi lelaki itu menemuinya. Mereka sering bermain bersama, dan Rosinah sering dibuat terkejut oleh kegembiraannya yang tiba­tiba

dan tanpa sebab.

Si Cantik kecil begitu bahagia bisa menulis dan membaca. Ia menemukan banyak buku peninggalan ibunya, dan membaca hampir semuanya dengan kegembiraan yang meluap­luap, menyalin sebagian dalam usahanya mencoba menulis dan memperoleh kegembiraan yang sama. Hanya Rosinah yang memandangnya dengan penuh kebingungan.

”Bagaikan malaikat mengajarimu,” tulis Rosinah pada Si Cantik. ”Ya, malaikat mengajariku.”

Malaikat itu tidak mesti selalu datang setiap hari, tapi Si Cantik yakin ia selalu datang di waktu­waktu tertentu, sesuka hati, dan mengajarinya apa pun. Ia tak membutuhkan teman­teman lain, yang tak membutuhkannya karena buruk rupa. Ia tak perlu pergi ke luar rumah untuk bermain, sebab ia bisa bermain di dalam rumah. Ia tak ingin mengganggu siapa pun dengan menampilkan dirinya yang mengerikan di hadapan seseorang, maka dirinya pun tak terganggu oleh siapa pun di dalam rumahnya. Rumah yang membuatnya senang dan bahagia, sebab ada malaikat yang baik hati tinggal di sana, dan menjadi sahabatnya.

”Aku bahkan bisa mengajarimu masak, meskipun aku tak pernah belajar masak.”

Aku bahkan bisa mengajarimu masak, meskipun aku tak pernah belajar masak.

Maka ia pun belajar masak dan segera mahir meramu bumbu untuk jenis masakan apa pun. Tidak sampai di sana, ia mulai bisa merajut, menjahit, menyulam, dan mungkin bisa memperbaiki mobil dan membajak sawah jika ia diberi kesempatan. Semuanya ia peroleh dari malaikatnya yang baik hati itu, yang mengajarinya dengan begitu telaten.

”Jika kau tak pernah belajar itu semua, dari mana kau tahu dan bisa mengajarku?” tanya Si Cantik.

”Kucuri dari orang­orang yang bisa.”

Kucuri dari orang­orang yang bisa.

”Apa yang bisa kau lakukan tanpa mencurinya dari orang lain?” ”Menarik cikar.”

Menarik cikar.

Dengan cara demikianlah ia kemudian tumbuh di rumah itu, bersama Rosinah, yang tak peduli lagi pada segala keanehan dan keajaiban yang diperlihatkan gadis tersebut. Si Cantik memperoleh warisan yang sangat memadai dari ibunya, ia hanya mengurus bagaimana itu bisa tetap mencukupi bagi hidup mereka berdua. Rosinah pergi ke pasar setiap hari untuk berbelanja urusan dapur, sementara Si Cantik tinggal di rumah, tanpa perlu mengkhawatirkan apa pun. Ada hantu di rumah ini, sebagaimana dikatakan Dewi Ayu suatu ketika, tapi ia tak mengganggu. Bahkan jika benar ia yang mengajari Si Cantik segala sesuatu, hantu itu cenderung baik. Rosinah tak perlu merisaukan apa pun, meninggalkan Si Cantik di rumah sendirian.

Bahkan anak­anak yang kadang penasaran dan mengintip dari balik pagar dengan perasaan takut tak akan merisaukannya. Si Cantik tak akan menampakkan diri untuk mereka, sebab ia tahu itu akan membuat mereka ketakutan, ketakutan yang amat sangat. Si Cantik gadis yang baik, ia tak mungkin menakuti orang dengan menampilkan dirinya kecuali di hadapan Rosinah yang telah mengenalnya sejak ia dilahirkan. Ia begitu baik, sehingga ia bahkan mengorbankan dirinya untuk tidak memperoleh kehidupan yang dinikmati lebih banyak orang: hidupnya hanya seputar rumah itu, kamarnya, kamar makan, kamar mandi, dapur, dan kadang­kadang ia turun ke halaman yang gelap di malam hari. Ia begitu baik untuk mengorbankan dirinya, atau menghukum dirinya, menjalani kehidupan monoton yang demikian membosankan itu, dan sebaliknya ia tampak begitu berbahagia.

”Kini aku bahkan akan menghadiahimu seorang Pangeran,” kata malaikat baiknya.

Kini aku bahkan akan menghadiahimu seorang Pangeran.

Ia telah tumbuh menjadi seorang gadis, dan tentu saja mengharapkan seorang lelaki yang akan jatuh cinta kepadanya, dan ia jatuh cinta kepada lelaki itu. Hal ini sempat membuatnya begitu murung, sebab ia yakin tak akan ada seorang lelaki pun mau mencintainya. Ia bukan gadis untuk dicintai. Ia gadis buruk rupa dengan lubang hidung menyerupai colokan listrik dan kulit hitam legam seperti jelaga. Ia gadis yang menakutkan, yang akan membuat orang mual dan muntahmuntah, membuat orang tak sadarkan diri dalam teror, membuat orang kencing di celana, membuat orang lari kesetanan, dan tidak membuat orang jatuh cinta.

”Itu tak benar, kau akan memperoleh Pangeranmu sendiri.”

Itu tak benar, kau akan memperoleh Pangeranmu sendiri.

Itu tak mungkin. Bahkan tak seorang pun pernah melihatnya, bahkan tak seorang pun mengenalnya, maka tak mungkin seseorang jatuh cinta kepadanya secara tiba­tiba.

”Apakah aku pernah berbohong kepadamu?”

Apakah aku pernah berbohong kepadamu?

Tidak.

”Tunggulah di beranda selepas senja, Pangeranmu akan datang.”

Tunggulah di beranda selepas senja, Pangeranmu akan datang. Ia sering duduk­duduk di beranda jika malam datang, untuk menghirup udara segar, tanpa rasa takut bahwa wajah monsternya dilihat dan mengganggu orang. Di dalam kegelapan ia merasa begitu aman, dan malam adalah teman terbaiknya di beranda. Bahkan di waktu dini hari, sebelum matahari membuat segalanya terang­benderang, ia sering bangun begitu cepat untuk duduk­duduk dan melihat bintang kemerahan yang disebut si malaikat sebagai Venus. Ia menyukainya, sebab ia begitu cantik. Seperti namanya.

Kini ia duduk di beranda untuk menunggu Pangeran yang dijanjikan. Ia tak tahu dengan cara apa ia akan datang. Mungkin dengan ular naga yang datang dari Venus, mungkin datang dari dalam tanah secara mengejutkan. Ia tak tahu, tapi ia menunggu. Dan malam itu berlalu tanpa ada seorang pun Pangeran lewat di depan rumahnya. Bahkan gelandangan pun tidak ada.

Tapi ia percaya malaikatnya tak akan berbohong, maka ia menunggunya kembali di malam kedua. Ada satu iring­iringan pemakaman, namun tak ada Pangeran. Juga ada penjual bajigur lewat namun tak mampir, menoleh pun tidak. Tak ada Pangeran hingga akhirnya ia tertidur di kursi kelelahan dan Rosinah datang membopongnya, menidurkannya di kamar.

Di malam ketiga juga tak ada siapa pun yang datang. Rosinah bertanya mengapa ia duduk di beranda setiap malam seperti menunggu sesuatu, dan Si Cantik akan menjawab, ”Menunggu Pangeranku datang.” Rosinah mulai memahaminya bahwa gadis itu kini telah memasuki masa puber. Ia telah tahu sebelumnya gadis itu telah menstruasi, dan kini ia menginginkan seorang kekasih. Ia duduk di beranda berharap seseorang melihat dan jatuh cinta kepadanya. Memikirkan hal itu Rosinah menjadi sedih dan masuk ke kamarnya, menangisi kemalangan Si Cantik yang buruk rupa, yang bahkan tak pernah menyadari, mungkin seumur hidup ia tak mungkin memperoleh siapa pun yang akan mencintainya. Tak ada Pangeran untuknya.

Tapi Si Cantik tetap menunggu di malam keempat, dan kelima dan keenam. Di malam ketujuh seorang lelaki muncul dari semak­semak pojok halaman rumah, mengejutkannya. Ia begitu tampan dan ia segera merasa yakin, itu Pangerannya. Umurnya sekitar tiga puluh tahun, dengan tatapan yang demikian lembut, dengan rambut yang tersisir rapi ke belakang, dan ia mengenakan pakaian serba gelap yang sendu. Ia menggenggam sekuntum bunga mawar, berjalan ke arahnya, dan memberikan bunga mawar itu kepadanya dengan sangat hati­hati, seolah takut ditolak.

”Untukmu,” kata laki­laki itu, ”Si Cantik.”

Si Cantik menerimanya dengan hati berbunga­bunga, dan lelaki itu kemudian menghilang. Ia muncul kembali di malam berikutnya, dengan bunga mawar yang diberikan kepadanya pula, dan menghilang lagi. Baru pada hari ketiga sejak kedatangannya, ia memberikan bunga mawar yang lain, dan Si Cantik menerimanya, kemudian lelaki itu berkata:

”Besok malam aku akan mengetuk jendela kamarmu.”

Seharian itu ia menunggu malam datang dan Sang Pangeran muncul di jendela kamarnya, seperti gadis­gadis yang menanti kencan pertama. Ia bertanya­tanya tentang gaun apa yang akan ia pakai, dan dibuat repot soal itu di depan cerminnya. Ia lupa pada wajah buruknya, dan mencoba merias diri dengan segala yang ada di bekas meja rias ibunya maupun di meja rias Rosinah. Rosinah sendiri tak pernah tahu kedatangan lelaki itu, dan hanya mengira Si Cantik memetik bunga mawar di halaman rumah setiap kali ia masuk dengan sekuntum bunga mawar. Namun ia mulai kebingungan, atau dibuat sedih, ketika melihat kelakuan Si Cantik yang berdandan dengan ribut sepanjang hari.

”Seperti kodok yang mencoba berdandan menjadi putri,” katanya pada diri sendiri sambil menggosok mata yang basah.

Si Cantik berharap bertemu dengan lelaki tua itu, yang suka muncul mendadak, malaikatnya yang baik hati, tapi ia tak pernah muncul lagi sejak datangnya Sang Pangeran. Padahal ia berharap bertanya banyak hal, seperti apa yang harus dilakukan seorang gadis menghadapi kencan pertamanya. Apa yang harus dikatakan dan dilakukan jika Pangeran itu merayu dirinya. Apa yang harus diperbuat ketika ia mengetuk jendela dan ia telah membukanya. Jika mereka harus ngobrol, apa yang harus mereka bicarakan. Ia ingin bertemu malaikat baik hatinya, tapi si tua itu tak pernah muncul lagi sejak Sang Pangeran datang.

Akhirnya ia hanya mengenakan gaun yang biasa ia kenakan seharihari dan mulai menunggu ketika malam akhirnya datang. Tidak di beranda tapi di dalam kamarnya sendiri. Duduk di tepi tempat tidur, tampak sekali ia begitu gelisah, memasang telinga dengan baik, cemas bahwa ia akan melewatkan bunyi ketukan yang mungkin akan terdengar begitu pelan dan halus, seperti para pencari kerja yang cemas menanti namanya dipanggil. Sesekali ia berdiri dan mengintip melalui tirai jendela, yang ada hanya pemandangan halaman dengan tanamantanaman serba hitam oleh kegelapan, dan ia duduk kembali di tepi tempat tidur, masih segelisah semula.

Kemudian ia mendengar ketukan itu, begitu lembut sehingga ia harus memasang telinganya dengan lebih baik, dan ketukan itu terdengar kembali sampai tiga kali. Dengan perasaan yang campur­aduk, setengah berlari Si Cantik melangkah menuju jendela dan membukanya.

Di sana berdiri Pangerannya, dengan bunga mawar sebagaimana biasa.

”Bolehkah aku masuk?” tanya Sang Pangeran. Si Cantik mengangguk dengan malu­malu.

Setelah menyerahkan bunga mawar itu pada Si Cantik, Sang Pangeran melompati jendela memasuki kamar. Ia berdiri sejenak memandang isi kamar itu sekelilingnya, berjalan begitu perlahan dari satu sudut ke sudut lain, kemudian berbalik memandang Si Cantik yang baru saja menutup jendela tanpa menguncinya. Sang Pangeran duduk di tepi tempat tidur, dan dengan isyarat tangannya menyuruh Si Cantik duduk pula di sampingnya. Gadis itu menurut, dan selama beberapa saat mereka saling membisu.

”Telah lama aku ingin berjumpa denganmu,” kata Sang Pangeran. Si Cantik begitu tersanjung sehingga ia bahkan tak mampu menga­

takan, atau tepatnya bertanya, dari mana ia mengenal dirinya.

”Telah lama aku ingin mengenalmu,” kata Sang Pangeran lagi, ”dan telah lama aku ingin menyentuhmu.”

Itu membuat jantung Si Cantik berdegup kencang. Ia tak berani menoleh pada lelaki itu, dan sekujur tubuhnya tiba­tiba terasa dingin ketika lelaki itu menyentuh tangannya, dan menggenggamnya begitu lembut.

”Bolehkah aku mencium punggung tanganmu?” tanya Sang Pangeran. Si Cantik belum juga menjawab, atau ia semakin tak sanggup menjawab, ketika Sang Pangeran telah mencium punggung tangan kanannya.

Kencan pertama mereka hanya didominasi kata­kata Sang Pangeran, sementara Si Cantik lebih banyak membisu, tersipu malu, mengangguk atau menggeleng, dan tersipu malu lagi. Mereka menghabiskan satu jam setengah dengan cara seperti itu, hingga waktunya bagi Sang Pangeran untuk pulang. Ia meninggalkan rumah itu sebagaimana ia datang: melompati jendela. Namun sebelum ia pergi, ia membuat janji kencan lagi.

”Tunggu aku seperti tadi kau menungguku, di akhir pekan.”

Di akhir pekan, bagaimanapun, Si Cantik berjanji untuk bicara. Ia tak akan lagi membisu, atau hanya tersipu malu, mengangguk dan menggeleng. Ia harus bicara dan membuat apa pun yang memungkinkan agar Sang Pangeran tidak menjadi bosan kemudian. Lelaki tua itu tak pernah datang lagi, tapi Si Cantik mulai tak peduli. Ia telah menemukan seorang pengganti, yang lebih tampan, lebih baik hati, memuja dirinya, sering merayu dirinya, dan bahkan mungkin mencintainya. Ia berdebar­debar menantikan akhir pekan datang.

Sebagaimana janjinya, laki­laki itu datang di akhir pekan, masih dengan bunga mawar. Masuk melalui jendela dan duduk di pinggir tempat tidur ditemani Si Cantik. Mengambil inisiatif pertama, Si Cantik bertanya, dengan nada malu­malu yang tak kunjung padam:

”Darimana kau petik mawar­mawar itu?” ”Dari halaman rumahmu.”

”Oh?”

”Aku kurang modal.” Mereka tertawa kecil.

Kemudian Sang Pangeran menggenggam kembali tangan Si Cantik, dan kali ini Si Cantik ikut balas menggenggam. Tanpa memintanya, Sang Pangeran mencium punggung tangannya, membuat Si Cantik kembali pada kebiasaan lama. Tersipu malu­malu. Lalu ia mulai merasakan bagaimana lelaki itu mengelus dengan lembut tangannya, sentuhan yang begitu membuai, yang membuatnya melayang seperti ketika seseorang jatuh dalam ketidaksadaran tidur. Lalu tiba­tiba ia telah mendapati lelaki itu persis di hadapannya, wajah lelaki itu di depan wajahnya, dan itu membuat detak jantungnya berdegup semakin keras. Sebelum menyadari apa pun, wajah itu telah mendekat, dan ia merasakan bibirnya disentuh bibir Sang Pangeran, merasakan Sang Pangeran melumat bibirnya, membuatnya begitu basah. Ia mencoba balas mencium, dan mulai merasakan tak hanya bibir, namun lidah yang bermain­main kasar. Lalu mereka berciuman lama, nyaris setengah jam, sampai waktunya Sang Pangeran pamit untuk pulang.

”Kutunggu kau akhir pekan depan,” kali ini Si Cantik yang berkata, dan Sang Pangeran mengangguk dengan senyumnya yang memesona. Ciuman itu begitu mengesankan Si Cantik, dan ia berharap akhir pekan datang secepat lalat datang dan pergi. Ia masih merasakan kehangatannya sampai keesokan hari, dan tetap merasakannya keesokan harinya lagi. Ia mengenang tahap demi tahap bagaimana mereka akhirnya sampai pada momen berciuman, dan itu menggetarkan hati­

nya. Setiap kali ia mengenangnya.

Begitulah, pada pertemuan berikutnya, ciuman adalah kata­kata pertama mereka. Mereka melakukannya bahkan sejak di ambang jendela, dengan Si Cantik berdiri di dalam kamar dan Sang Pangeran masih berdiri di luar kamar. Tapi akhirnya Sang Pangeran menaiki jendela dan masuk ke kamar, Si Cantik menutup daun jendela, namun mereka tak pernah melepaskan bibir mereka satu sama lain. Ciuman itu terus berlanjut di dalam kamar, dengan Si Cantik bersandar ke dinding dan Sang Pangeran menekan tubuhnya, begitu liar dan penuh nafsu.

Perlahan namun pasti tangan­tangan nakal Sang Pangeran mulai menerobos gaun Si Cantik, dan itu membuat udara kamar tiba­tiba menjadi demikian panas. Mereka menanggalkan pakaian satu demi satu, luruh ke lantai, hingga telanjang dan Sang Pangeran mendekap tubuh Si Cantik dan membopongnya ke atas tempat tidur.

”Aku akan mengajarimu bercinta,” kata Sang Pangeran. ”Maka ajari aku bercinta,” kata Si Cantik.

Maka mereka mulai bercinta. Si Cantik masih perawan maka ia merintih antara rasa sakit dan riang, menciptakan keributan membuat Rosinah di luar kamar kebingungan atas gangguan suara tersebut. Ia membuka pintu (yang lupa dikunci) dan hanya melihat tubuh telanjang Si Cantik yang tengah menggelinjang di atas tempat tidur. Ia hanya menggeleng dalam sikap sedihnya yang khidmat, menutup pintu perlahan, dan meninggalkannya, sementara Sang Pangeran terus mencoba merusak selangkangan Si Cantik, membuatnya berdarah, namun juga membuatnya berteriak dalam kebahagiaan yang begitu indah.

Kemudian Si Cantik selalu menunggu Pangerannya di beranda, meskipun Sang Pangeran selalu masuk melalui jendela, sebab ia ingin melihat kemunculannya, didorong rasa rindu yang tak tertahankan. Mereka bercinta setiap kali bertemu, kadang­kadang sampai dua kali, dan merasa sebagai pasangan paling bahagia di dunia. Si Cantik tak perlu merasa heran mengapa Rosinah tak pernah bisa melihat Sang Pangeran. Begitu pula ketika Dewi Ayu akhirnya bangkit dari kuburan dan kembali ke rumah tersebut, dan suatu kali ia membongkar paksa pintu, ia tak melihat Pangerannya. Keajaiban telah menjadi makanan sehari­hari, dan ia tak perlu merasa heran, sebab Rosinah pun tak pernah melihat si lelaki tua malaikatnya, meskipun ia melihatnya.

Kemudian Si Cantik bunting.

Bahkan ketika sudah mengetahui bahwa ia hamil, ia masih menunggu Sang Pangeran untuk bercinta, dan mereka bercinta. Ia tak pernah memberitahu Sang Pangeran soal kehamilan, sebab ia takut itu mengubah semua kebahagiaan mereka.

Hingga suatu malam, tak lama setelah Dewi Ayu kembali menghilang ke dunia orang­orang mati, dan Si Cantik tengah berbaring telanjang dengan Sang Pangeran di atas tempat tidur, melepas lelah setelah bercinta, seorang lelaki mendobrak pintu kamar dengan senapan angin di tangan. Kedatangannya sangat mengejutkan. Ia seorang lelaki dengan perawakan agak pendek, gemuk, dan tampak memiliki roman sedih. Lelaki itu sedikit bergidik dalam teror ketakutan ketika ia melihat wajah Si Cantik, namun pandangannya segera beralih pada Sang Pangeran dengan penuh kemarahan.

”Kau,” katanya, ”pembunuh Rengganis Si Cantik, aku datang untuk membalaskan kematiannya.”

Sang Pangeran belum sempat menyelamatkan diri ketika senapan angin itu meletus dan pelurunya tepat bersarang di dahi. Ia terkapar di tempat tidur, sekarat. Si lelaki bersenapan memompa angin lagi, mengisi peluru lagi, dan menembak Sang Pangeran lagi. Ia menembak sebanyak lima kali dengan penuh dendam, sementara Si Cantik berteriak­teriak.

***

Semua orang hanya tahu bahwa ia mati ditembak ketika tengah berkunjung ke rumah neneknya.

Pemakaman Krisan dihadiri seluruh kerabatnya tanpa tersisa, dengan Adinda tampak begitu berduka. Kini semuanya lengkap: Alamanda kehilangan Sang Shodancho dan Nurul Aini, Maya Dewi kehilangan Maman Gendeng dan Rengganis Si Cantik, dan kini Adinda kehilangan Krisan setelah sebelumnya kehilangan Kamerad Kliwon. Mereka kehilangan orang­orang yang mereka cintai.

Ketiganya mengiringi keranda kematian Krisan menuju pemakaman Budi Dharma, dan sepanjang jalan Alamanda serta Maya Dewi mencoba menghibur Adinda.

”Kita seperti keluarga yang dikutuk,” kata Adinda di tengah isak tangisnya.

”Tidak seperti,” kata Alamanda, ”tapi sungguh­sungguh dikutuk.”

Si tua Kamino telah menggali kuburan untuknya, tepat di samping kuburan ayahnya sebagaimana permintaan Adinda, dan ia bahkan memesan tempat di sampingnya lagi untuk kuburannya sendiri kelak jika ia mati.

Biasanya, tak ada perempuan datang pada pemakaman. Hanya pada kasus­kasus tertentu perempuan datang ke tempat pemakaman, terutama jika perempuan itu sungguh­sungguh tak bisa berpisah dengan si orang mati, sebagaimana pernah terjadi pada Farida bertahun­tahun lalu. Tapi pada pemakaman Krisan, seluruh pengiringnya adalah tiga orang perempuan kakak­beradik, ditambah enam orang lelaki kampung pengusung keranda dan seorang imam masjid yang akan memberikan doa bagi si orang mati.

Tak ada lagi selain mereka, yang berdiri mengenakan pakaian gelap di bawah payung­payung yang melindungi mereka entah dari apa, sebab matahari tak memancarkan terik sinarnya di sore hari dan hujan tak juga turun. Hanya mereka bertiga, hingga kemudian dua titik gelap datang dari kejauhan. Mereka semakin mendekat dan titik­titik itu menjadi sosok­sosok, dan ketika semakin dekat ternyata dua orang perempuan lain dengan pakaian berkabung.

Yang lebih mengejutkan adalah bahwa kedua perempuan itu juga datang untuk melepas kepergian Krisan, tepat ketika mayatnya diturunkan dan tanah pertama mulai menguburnya. Ketiga perempuan kakak beradik itu dibuat terkejut, tak hanya oleh kehadiran mereka, tapi oleh wajah buruk rupa salah satu di antara mereka, yang mereka pikir itu hantu kuburan. Namun segera mereka ingat, tentang desas­desus anak Dewi Ayu yang keempat, yang tak pernah mereka temui, yang buruk rupa menyerupai monster. Perempuan itu, si buruk rupa, bahkan tampak sangat bersedih atas kematian Krisan. Ia menangis dan memandang tak rela pada tubuh terbalut kain kafan yang mulai menghilang di balik tanah. Ia bahkan tampak lebih berduka dari Adinda sendiri.

Adalah Alamanda yang memberanikan diri bertanya kepadanya, ”Apakah kau Si Cantik?”

Si Cantik mengangguk. ”Dan aku tahu kalian adalah Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi.”

”Kita semua anak Dewi Ayu,” kata Alamanda. Ia memeluk Si Cantik tanpa peduli dengan wajah monsternya.

”Aku ikut berduka atas kematian satu yang tersisa dari yang kalian miliki,” kata Si Cantik lagi.

Ketika upacara pemakaman itu selesai, mereka semua pergi ke rumah Dewi Ayu, yang ditinggali Si Cantik bersama Rosinah. Hanya Adinda yang pernah tinggal di sana, yang lainnya hanya pernah melihat sejenak pada perkawinan Adinda dan Kamerad Kliwon. Mereka berkeliling rumah, melihat foto­foto mereka di masa kecil, melihat foto Dewi Ayu dan menangis mengenang masa­masa lalu yang begitu sulit. Dan kini mereka adalah segerombolan yatim piatu yang kesepian dan menyedihkan. Apa yang mereka miliki sekarang adalah diri mereka sendiri, dan usaha untuk saling memiliki satu sama lain.

”Mama datang belum lama, dan pergi lagi sebelum Krisan mati,” kata Si Cantik.

”Begitulah orang­orang mati,” kata Maya Dewi. ”Suamiku datang lagi di hari ketiga setelah kematiannya.”

Setelah itu, mereka masih tinggal di rumah mereka masing­masing, melanjutkan kehidupan mereka yang sunyi. Untuk menghibur diri, mereka selalu berkunjung satu sama lain. Bahkan Si Cantik, sejak penampilan pertamanya di pemakaman, mulai berani keluar rumah dan mengunjungi rumah kakak­kakaknya. Ia tak peduli lagi pada pandangan orang. Ia mengenakan gaun­gaun yang panjang, dan kain yang nyaris menutupi wajahnya. Mereka begitu menikmati kehidupan seperti itu, mencoba melupakan kemalangan­kemalangan yang menimpa mereka. Saling mencintai satu sama lain, dan berbahagia dengan cinta tersebut. Demikian sampai tua, hingga orang­orang sering bergunjing, atau menyebut mereka, gerombolan janda­janda, jika mereka tengah berkumpul.

Tapi mereka sangat bahagia, dan saling mencintai.

Pada umur keenam bulan kehamilannya, Si Cantik melahirkan secara prematur dan bayinya mati tanpa pernah sempat menangis dan apalagi berteriak. Kakak­kakaknya menguburkan bayi itu di kebun belakang rumahnya, dibantu si perempuan bisu Rosinah.

”Tidakkah kau memberinya nama sebelum dikuburkan?” tanya Alamanda.

”Nama hanya akan membuatku sakit hati.”

”Jika aku boleh tahu, anak siapa sebenarnya bayi itu?” tanya Adinda. ”Aku dan Sang Pangeran.”

Tentu saja ada banyak rahasia di antara mereka sebagaimana Alamanda tak pernah menceritakan perselingkuhannya dengan Kamerad Kliwon meskipun Adinda mengetahuinya belaka. Maka mereka tak memaksa Si Cantik untuk menunjukkan lelaki mana yang ia sebut sebagai Sang Pangeran.

Bayi itu dikuburkan dan mereka terus menjalani hidup. Saling mencintai dan menjaga rahasia masing­masing.

Ketika mayat Rengganis Si Cantik ditemukan, Krisan menderita teror yang amat sangat, oleh satu ketakutan bahwa pada akhirnya orang akan mengetahui bahwa Krisanlah yang membunuh gadis itu. Ketakutan itu semakin menjadi­jadi atas fakta bahwa ia juga menyembunyikan mayat Nurul Aini di bawah tempat tidurnya, sementara Sang Shodancho mencarinya ke mana­mana dengan penuh kemarahan.

Ia berpikir­pikir untuk mengembalikan mayat itu ke kuburannya, tapi ia takut seseorang memergokinya, sebab setelah Sang Shodancho mengetahui bahwa seseorang menggali kuburan itu dan mengambil mayat anaknya, semua orang pasti memperhatikan kuburan tersebut. Mengembalikan Nurul Aini ke kuburannya sama sekali bukan tindakan bijaksana, dan ia dibuat nyaris gila bagaimana ia harus melenyapkan mayat itu dari tempat tidurnya sebelum seseorang mengetahuinya.

Ia nyaris mengurung diri terus di dalam kamar, dengan pintu nyaris selalu terkunci, khawatir bahwa ibu dan neneknya akan masuk ke kamar dan mengetahui mayat tersebut, sebab ada bau harum yang samar­samar datang dari kolong tempat tidur. Ia bahkan menyapu sendiri kamarnya, agar ibu dan neneknya tak berusaha untuk masuk dan membersihkan tempat tersebut.

Krisan pernah mencoba untuk mencincang tubuh gadis yang dicintainya itu, bermaksud membagi­bagi tubuhnya menjadi potonganpotongan kecil sehingga ia akan dengan mudah membuangnya. Mungkin menjadi makanan anjing jauh lebih aman dan tak mungkin ditemukan kembali daripada dikembalikan ke kuburannya. Tapi demi melihat wajah cantik itu, wajah yang tak membusuk oleh kematiannya, wajah yang seolah ia hanya sedang tidur dan pada waktunya ia akan bangun dan mengucek­ucek mata, Krisan tak sanggup melakukannya. Ia begitu mencintai gadis itu, dan membayangkan bahwa ia akan mencincangnya bahkan membuatnya menangis. Lebih dari itu ia tak memiliki kekuatan lagi mengangkat golok yang telah disiapkan, dan mengembalikan Nurul Aini yang berselimut kain kafan ke kolong tempat tidur.

Ia nyaris akan membuat pengakuan atas semua dosa­dosanya, di ujung rasa putus asa, ketika ia menemukan ide cemerlang itu. Ia akan melakukannya, dan mengucapkan selamat tinggal pada Ai.

Sebagaimana ketika ia pergi ke laut bersama Rengganis Si Cantik dan mayat Ai, ia mendandani mayat itu dengan pakaiannya sendiri. Di malam hari, menjelang dini hari, ia mengikat mayat itu ke punggungnya dan melaju dengan sepeda ke pesisir. Ia mencuri perahu sebagaimana sebelumnya ia lakukan, bahkan perahu yang sama, sebab tampaknya memang telah dibuang pemiliknya. Ia membawa mayat Ai ke tengah laut, tidak hanya mayat, tapi juga dua buah batu besar, nyaris dua kali besar kepalanya.

Ia mencapai tempat ia membunuh Rengganis Si Cantik tepat ketika hari baru datang. Tempat itu sangat dalam, bahkan ikan hiu pun tak akan menemukannya. Ia mengikat tubuh gadis itu, dengan air mata bercucuran, dengan ketidaktegaan, tapi ia harus melakukannya, mengikat tubuh mati itu pada kedua batu, sangat erat bahkan gigitan ikan gergaji tak akan memutuskannya. Dengan batu seberat itu, ketika dilemparkan, dengan cepat tubuh mati Ai meluncur ke kedalaman samudera, lenyap dan tak berbekas. Sang Shodancho tak akan pernah menemukannya, berapa ratus tahun pun ia mencarinya.

Krisan pulang dengan hati sedih, namun tenang. Ia berpapasan dengan seorang nelayan yang berperahu seorang diri, dan nelayan itu bertanya kepadanya.

”Apa yang kau lakukan seorang diri di laut, tanpa seekor ikan pun di perahumu?”

Apayangkaulakukanseorangdiridilaut,tanpaseekorikanpundi perahumu?

”Membuang mayat,” kata Krisan, bergidik mendengar suara lelaki itu bergema entah dipantulkan oleh apa.

”Patah hati oleh kekasih yang cantik? Ha. Ha. Ha. Kuberi kau saran, Nak, carilah kekasih yang buruk rupa. Mereka cenderung tak akan membuatmu terluka.”

Patah hati oleh kekasih yang cantik? Ha. Ha. Ha. Kuberi kau saran, Nak, carilah kekasih yang buruk rupa. Mereka cenderung tak akan membuatmu terluka.

Nelayan itu pergi kemudian, ke arah yang berlawanan, tapi ia memikirkan sarannya. Dan ketika ia sampai di tempat sepedanya diparkir, ia berkata pada diri sendiri, ”Mungkin benar, aku harus mencari kekasih yang buruk rupa. Yang paling buruk rupa di dunia.”

Tak lama setelah roh jahat yang kuat itu berhasil dibunuh oleh Dewi Ayu, Kinkin memainkan permainan jailangkungnya di kuburan Rengganis Si Cantik. Ia yakin kali ini ia akan berhasil, sebab penghalang yang jahat itu telah dikalahkan. Ia memasang sebuah boneka kayu yang ditancapkan di atas kuburan, yang akan jadi medium roh Rengganis Si Cantik, dan ia mulai membaca mantra­mantra. Boneka itu seketika bergoyang, tanda bahwa roh itu telah terpanggil, namun terguncangguncang tanda marah dan nyaris roboh. Kinkin mencoba menenangkannya, namun roh Rengganis Si Cantik malah menghardiknya. ”Idiot, apa yang kau lakukan?” ”Memanggil rohmu.”

”Itu aku tahu,” kata Rengganis Si Cantik, ”tapi dengar, kau tetap tak akan bisa mengawiniku.”

”Aku hanya ingin mengetahui siapa yang membunuhmu, dan izinkanlah aku membalaskan dendam untukmu, dan untuk cintaku,” kata Kinkin sambil membungkukkan badan, seolah sungguh­sungguh memohon di hadapan boneka kayu tersebut.

Si boneka kayu, Rengganis Si Cantik, berkata, ”Bahkan seribu tahun kau hidup aku tak akan mengatakan siapa yang membunuhku.”

”Kenapa? Tidakkah kau ingin aku membalaskan dendam?” ”Sebab aku begitu mencintainya.”

”Kubunuh ia dan kalian akan bertemu di dunia orang mati.” ”Bujukan murahan.” Dan Rengganis Si Cantik menghilang.

Tapi pada akhirnya ia mengetahuinya juga, bukan dari roh Rengganis Si Cantik, tapi dari roh yang tak ia ketahui. Ia melakukan pilihan secara acak, percaya bahwa tak seorang pun kini menghalangi roh­roh itu bicara sejujurnya, dan percaya roh­roh mengetahui apa yang tak diketahui manusia. Ia memanggil salah satu roh, yang tampaknya tua dan rintih, namun suaranya begitu tegas.

”Ha. Ha. Ha. Aku tak sekuat dulu, tapi aku datang lagi, Nak.” Ha. Ha. Ha. Aku tak sekuat dulu, tapi aku datang lagi, Nak. ”Apakah kau tahu siapa pembunuh Rengganis Si Cantik?” tanya

Kinkin.

”Yap. Krisanlah yang membunuh Rengganis Si Cantik. Bunuhlah bocah itu, jika kau sungguh­sungguh mencintai gadis tersebut, dan jika kau punya nyali. Ha. Ha. Ha.”

Yap. Krisanlah yang membunuh Rengganis Si Cantik. Bunuhlah bocah itu, jika kau sungguh­sungguh mencintai gadis tersebut, dan jika kau punya nyali. Ha. Ha. Ha.

Demikianlah ia membunuh Krisan, di kamar Si Cantik, dengan lima tembakan senapan angin yang sangat terlatih.

Kemudian selama tujuh tahun ia mendekam di dalam penjara, menjadi bulan­bulanan banyak penjahat di sana. Ia disodomi hampir seminggu sekali, dipukuli nyaris tiap hari, membagi separuh jatah makannya di setiap waktu makan, dan kehilangan semua milik pribadi yang diberikan Kamino untuknya selama di penjara. Namun dengan semua penderitaan di dalam penjara yang seperti itu, ia tetap bahagia, sebab ia berada di sana dalam misi suci cintanya, membalas dendam atas kematian gadis yang dicintainya sejak pandangan pertama.

Ia dibebaskan setelah memperoleh pengampunan satu tahun atas kelakuan baiknya selama di dalam penjara. Ia muncul di dunia orangorang bebas dalam keadaan kurus kerempeng, dengan rambut panjang tak terurus, dengan wajah menjadi tirus dan tulang­belulang dahi serta rahangnya demikian tampak. Ia seperti tengkorak hidup namun menghirup udara kebebasannya dengan penuh kemerdekaan.

Ia berjalan kaki dari penjara kota, meskipun ia memperoleh uang dan pakaian untuk kendaraan dan makan. Ia tak berganti pakaian, dan masih mengenakan pakaian gembel menyerupai gelandangan kota. Baju pembagiannya hanya diapit di tangan, dan uang pemberian aman di dalam sakunya. Ia tak ingin mampir ke mana pun dan membuang waktu. Ia ingin sampai di rumahnya dan memastikan bahwa lelaki itu sungguh­sungguh telah dikuburkan.

AkhirnyaiamenemukankuburanKrisan,disampingkuburan Kamerad Kliwon. Pada nisannya jelas tertera nama itu, sehingga ia tak mungkin salah. Ia membuat nisan baru dan membuang nisan bernama Krisan, menggantinya dengan nisan yang baru ia bikin. Di sana kini tertulis: ANJING (1966–1997).

Selama bertahun­tahun, Krisan memikirkan terus ide itu, tentang memiliki kekasih yang buruk rupa. ”Apa yang salah dengan perempuan buruk rupa?” katanya pada diri sendiri, ”Mereka bisa dientot sebagaimana perempuan cantik.” Dan ia teringat pada desas­desus tentang anak Dewi Ayu yang konon buruk rupa, mungkin yang paling menakutkan di muka bumi, dan meskipun ia tahu bahwa Dewi Ayu adalah neneknya, dan itu berarti si buruk rupa yang konon bernama Si Cantik itu bibinya, ia tak peduli. Ia pernah menyetubuhi sepupunya sendiri, apa salahnya menyetubuhi bibi sendiri.

Maka pada suatu malam ia pergi ke rumah neneknya, melihat bahwa gadis itu duduk di beranda seperti menanti seseorang. Ia agak ragu bagaimana ia harus memulai berkenalan dengannya, maka selama beberapa hari ia hanya mengamatinya dari kegelapan, sebelum pulang karena lelah. Baru pada hari ketujuh ia memberanikan diri menerobos pagar hidup di pojok halaman, memetik bunga mawar yang tumbuh di sana, dan menghampiri Si Cantik, dan memberikan bunga mawarnya.

”Untukmu,” ia berkata, ”Si Cantik.”

Setelah itu semuanya berjalan dengan baik, hingga mereka akhirnya bersetubuh. Bersetubuh. Bersetubuh. Dan terus bersetubuh. Apa bedanya sekarang, semuanya terasa sama. Bersetubuh dengan Rengganis Si Cantik maupun Si Cantik yang buruk rupa tak jauh berbeda. Semuanya sama, semuanya membuat ia punya kemaluan muntah­muntah. Ia terus menyetubuhi perempuan itu. ”Mengentotnya,” ia menjelaskan. Dan kemudian ia tahu bahwa gadis itu bunting, tapi ia tak peduli, ”dan terus mengentotnya.”

Hingga suatu ketika Si Cantik bertanya, ”kenapa kau menginginkan aku?”

Ia menjawab, tanpa tahu apakah ia jujur atau tidak, ”Sebab aku mencintaimu.”

”Mencintai seorang perempuan buruk rupa?” ”Ya.”

”Kenapa?”

Sebab ”kenapa” selalu sulit untuk dijawab, maka ia tak menjawab. Ia hanya bisa menjawab ”bagaimana” dan itu mudah. Untuk menunjukkan cintanya, maka ia terus mencumbunya, tak peduli betapa buruk rupa dirinya, betapa menjijikkan, betapa menakutkan. Semuanya terasa baik­baik saja, dan ia memperoleh kebahagiaan yang nyaris tak pernah diperolehnya selama masa hidupnya. Si Cantik selalu terus mengejarnya, setiap kali mereka bertemu dan bercinta, dengan pertanyaan, ”Kenapa?” Krisan tetap membungkam, bahkan meskipun ia tahu jawabannya, ia tak mau menjawab. Tapi di malam sebelum ia terbunuh, ia akhirnya menjawab.

Pengakuan keempat: ”Sebab cantik itu luka.”

Sebab cantik itu luka.

T A M A T
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊