menu

Cantik Itu Luka Bab 14

Mode Malam
14
Tahun 1976 Halimunda dipenuhi dendam. Dipenuhi hantu yang penasaran. Semua penduduk merasakannya, begitu pula dua turis Belanda yang baru turun dari kereta di stasiun. Mereka tampaknya sepasang suami istri. Yang lelaki berumur sekitar tujuh puluh dua tahun, istrinya tak jauh berbeda, paling banter dua tahun lebih muda. Pada umur seperti itu, si lelaki masih sanggup menenteng ransel seratus liter yang tampak penuh dijejali benda­benda, sementara istrinya menenteng tas kecil dan payung. Begitu keluar dari peron stasiun, mereka tersentak oleh udara yang pekat, penuh bau busuk yang anyir, dan penuh bayangan timbul tenggelam serta cahaya kemerahan bagaikan

lampu­lampu teater yang disorotkan entah dari mana.

”Seperti masuk ke rumah hantu,” komentar istrinya sambil menggelengkan kepala.

”Tidak,” kata suaminya, ”seperti pernah ada pembantaian manusia di kota ini.”

Pengemudi becak yang mengantarkan mereka ke penginapan menceritakan tentang hantu­hantu itu. Mereka sangat kuat, katanya, dan berdoalah mereka tak menggulingkan becak ini di tengah jalan. ”Apakah yang seperti itu sering terjadi?” tanya sang suami. ”Sangat jarang tidak terjadi,” jawab tukang becak. Ia menceritakan tentang mobil yang terbang menabrak pembatas jalan dan masuk ke laut. Semua penumpangnya mati dan seluruh orang di kota itu percaya bahwa semua itu dilakukan oleh hantu­hantu penasaran. Juga tentang kebakaran hebat pasar dua tahun yang lalu. Tak seorang pun tahu apa penyebabnya, dan semua yakin bahwa hantu­hantu itulah yang melakukannya.

”Ada berapa banyak hantu?” tanya si istri. ”Kau tahu, Nyonya, tak pernah ada orang konyol menghitung berapa banyak hantu.”

Mereka kemudian tahu beberapa tahun sebelumnya lebih dari seribu orang komunis telah mati dalam pembantaian paling mengerikan di kota itu. Orang akan mengatakan, bahkan meskipun mereka membenci orang­orang komunis itu, bahwa tak ada pembantaian yang lebih mengerikan sebelum ini di kota mereka, dan semoga tak akan ada lagi di masa yang akan datang. Lebih dari seribu orang mati. Sebagian dikubur bersama­sama dalam satu lubang besar di pemakaman umum Budi Dharma, yang lainnya dibiarkan membusuk di pinggir­pinggir jalan, sampai orang­orang yang tak tahan akhirnya menguburkannya. Tidak seperti mengubur mayat, tapi seperti mengubur tai setelah berak di kebun pisang.

Kedua turis Belanda itu memperoleh penginapan yang cukup baik di daerah teluk. Sang istri berbisik pada suaminya, ”Kita pernah bercinta di sini dan Papa memergokinya, itulah terakhir kali kita melihatnya.” Suaminya mengangguk. Mereka berjalan menuju meja resepsionis yang ditunggui seorang pemuda berseragam putih dengan dasi kupu­kupu yang terpasang demikian simetris membuatnya terasa begitu kaku dan tak alami. Ia menyambut kedua turis itu dengan senyum sambil menyodorkan buku tamu. Si turis laki­laki mendaftarkan nama mereka di sana, menulis dengan gaya tulisan lama yang sambung­menyambung begitu rapi: Henri dan Aneu Stammler.

Sepanjang hari itu mereka beristirahat di kamar penginapan tersebut, yang kata Aneu Stammler telah mengalami begitu banyak perubahan sejak masa kolonial. ”Aku berani bertaruh, pemiliknya kini pasti pribumi,” katanya. Mereka baru merencanakan sedikit jalan­jalan esok hari. Tak terlihat bahwa mereka begitu tergesa­gesa, sebab mereka tampaknya akan tinggal di kota itu cukup lama. Mungkin berbulan­bulan, mungkin sampai tiga tahun. Banyak turis asing, terutama Belanda, melakukan hal seperti itu, mencoba bernostalgia pada masa lalu yang jauh ketika mereka masih tinggal di sini sebelum terusir oleh perang.

Seorang pesuruh datang membawakan mereka makan malam sebab mereka ingin makan di kamar, dan bocah itu berpesan, ”Berhati­hatilah pada hantu komunis, Tuan dan Nyonya.” ”Karl Marx sudah mengingatkannya di paragraf pertama Manifesto,” kata Henri Stammler sambil tertawa, dan keduanya menyantap makan malam yang memberi mereka sensasi selera tropis yang nyaris terlupakan.

Namun sebelum mereka makan, dan sebelum pesuruh pergi, Henri sempat bertanya:

”Apakah kau mengenal seorang perempuan bernama Dewi Ayu?

Umurnya mungkin sekarang lima puluh dua tahun.”

”Tentu saja,” kata bocah itu, ”tak ada orang Halimunda yang tak mengenalnya.”

Henri Stammler dan istrinya terlonjak oleh rasa girang yang tak terkirakan. Setengah lingkaran bumi telah mereka terbangi untuk sampai di kota ini, hanya untuk bertemu dengan anak gadis mereka yang dulu diletakkan di depan pintu rumah kakeknya. Keduanya menatap si bocah dalam tatapan ternganga seolah tak percaya bahwa begitu mudahnya mereka menemukan Dewi Ayu.

”Apakah ia setengah bule?”

”Ya, tak ada nama Dewi Ayu yang lain di kota ini.”

”Jadi ia masih hidup?” tanya Aneu Stammler dengan mata berkaca­kaca.

”Tidak, Nyonya,” kata si bocah. ”Ia sudah mati belum lama ini.” ”Karena apa ia mati?”

”Karena ia ingin mati.” Si bocah bersiap­siap meninggalkan mereka, namun sebelum menghilang di depan pintu, ia sempat berkata, ”Tapi masih ada banyak pelacur lain jika kalian mau.”

Jadi mereka tahu bahwa Dewi Ayu telah hidup sebagai pelacur. Itu mereka pastikan setelah makan malam dan memanggil kembali bocah itu untuk menceritakan tentang anak perempuan mereka. Si bocah mengatakan bahwa Dewi Ayu merupakan legenda di kota ini, pelacur paling dipuja, meskipun itu sama sekali tak mengesankan Henri maupun Aneu Stammler. ”Semua lelaki berharap menidurinya. Bahkan dua dari tiga menantunya pernah menidurinya pula. Ia pelacur hebat.”

”Jadi ia punya tiga anak perempuan?” tanya Aneu Stammler. ”Empat. Yang bungsu lahir dua belas hari sebelum Dewi Ayu mati.” Mereka memperoleh alamat di mana kedua orang itu bisa menemui anak Dewi Ayu yang bungsu. Informasinya sangat jelas. Cucu mereka yang satu itu tinggal dan diurus pembantu bisu Rosinah, dan Dewi Ayu memberi nama anaknya Si Cantik.

”Tapi ia jelek mengerikan menyerupai monster,” kata si bocah.

Mereka membuktikannya ketika mengunjungi rumah itu keesokan harinya. Keduanya nyaris dibuat pingsan, tak percaya bahwa mereka memiliki cucu seperti itu. ”Seperti kue gosong,” kata Aneu Stammler sambil duduk di kursi.

Rosinah membaringkan bayi Si Cantik di ayunan kain yang terpasang di palang pintu kamar, dan memberi tamunya dua gelas limun dingin. ”Dewi Ayu bosan punya anak­anak yang cantik, maka ia minta anak yang buruk rupa, dan itulah hasilnya,” ia berkata dengan bahasa isyarat.

Henri dan Aneu Stammler sama sekali tak mengerti bahasanya. Rosinah paling jengkel jika harus berkomunikasi dengan orang yang tak mengerti bahasa isyaratnya. Tapi pada dasarnya ia gadis yang baik. Maka ia mengambil buku tulis, dan menuliskan apa yang telah dikatakannya pada mereka.

”Bagaimana dengan anak­anak yang lain?” tanya Henri.

”Mereka tak pernah datang lagi sejak mengenal kemaluan lelaki,” tulis Rosinah mengulang apa yang pernah dikatakan Dewi Ayu kepadanya.

Kedua orang tua itu melakukan sedikit tamasya kecil di rumah tersebut, melihat foto­foto yang tertempel di dinding. Ada foto Ted dan Marietje Stammler, yang membuat mereka meledak dalam tangis yang membuat Rosinah menggeleng­gelengkan kepala, sambil berpikir betapa cengengnya dua orang tua itu. Dan setelah menangis, kini mereka tertawa­tawa melihat foto mereka ketika masih berumur belasan tergantung pula di ruang tamu. ”Aku berani bertaruh, mereka baru keluar dari rumah sakit jiwa,” kata Rosinah dalam bahasa isyarat pada bayi dalam ayunan. Henri dan Aneu Stammler dibuat terpukau melihat beberapa foto Dewi Ayu. Ada fotonya ketika ia masih kecil, dan ketika ia remaja, masa­masa umur dua puluhan tak ditemukan fotonya disebabkan perang, tapi ketika ia beranjak dewasa mereka kembali menemukan foto­fotonya, bahkan sampai foto ketika ia telah berumur sekitar lima puluh tahunan. Mereka terpukau oleh kenyataan bahwa pada umur berapa pun, anak perempuan mereka masih menampakkan kecantikan yang sama memesona. Tak akan mengherankan jika ia jadi pelacur, ia menjadi pujaan banyak lelaki.

Ada foto­foto gadis­gadis cantik lain, yang jelas bukan Dewi Ayu. Yang berwajah putih dengan mata mungil seperti orang Jepang namanya Alamanda, Rosinah menerangkan. Ia telah kawin dengan Sang Shodancho, seorang tentara, dan punya anak bernama Nurul Aini. Rosinah menjalankan perannya dengan baik bagaikan seorang pemandu wisata. Gadis yang paling menyerupai Dewi Ayu adalah anaknya yang kedua, Rosinah menulis di buku tulis yang dibaca mereka, namanya Adinda. Ia kawin dengan seorang veteran komunis bernama Kamerad Kliwon, dan punya seorang anak laki­laki bernama Krisan. Anak ketiganya tampak lebih menyerupai indo daripada wajah pribumi. Yang paling cantik di antara ketiganya. Dewi Ayu memberinya nama Maya Dewi. Ia kawin pada umur dua belas tahun dengan seorang preman paling menyebalkan di kota ini, namanya Maman Gendeng, dan telah punya anak setelah lima tahun perkawinan tanpa disetubuhi, bernama Rengganis Si Cantik. Rosinah belum pernah berjumpa dengan ketiga anak Dewi Ayu tersebut, tapi ia telah mendengar semua kisah tentang mereka dari Dewi Ayu, yang meskipun tak pernah berhubungan pula dengan mereka, tapi ia terus mendengar apa yang terjadi atas anak­anaknya.

Tiba­tiba mereka merasakan satu tekanan hebat seolah udara tiba­

tiba menggumpal dan membuat bulu kuduk berdiri.

”Sialan,” kata Henri, ”kekuatan jahat macam apakah ini?”

”Aku tak tahu, tapi memang ada hantu di sini. Tak terlalu jahat, tapi mungkin memang punya dendam.”

”Hantu komunis?” tanya Aneu Stammler sambil mendekap suaminya.

”Mereka di jalanan, dan tidak di rumah ini.”

Foto­foto di dinding itu mulai bergoyang­goyang, tak hebat, hanya ayunan kecil seperti diembuskan angin. Buku di tangan Rosinah terbuka­tertutup. Ayunan Si Cantik kecil bergerak terayun­ayun pelan. Lalu terdengar piring pecah di dapur dan panci berkelontang di lantai.

”Hantu Dewi Ayu?” tanya Aneu lagi. ”Aku tak yakin,” tulis Rosinah. ”Dewi Ayu pernah bilang, hantu Ma Gedik selalu mengikutinya ke mana pun, bahkan meskipun ia telah pindah rumah. Ia bilang hantu itu punya rencana jahat, meskipun sejauh ini ia tak pernah menjahati kami.”

”Siapa Ma Gedik?” tanya Henri.

”Dewi Ayu bilang, itu bekas suaminya.”

”Kota ini dihuni terlalu banyak hantu,” kata Henri Stammler ketika gangguan gaib itu menghilang dan foto­foto kembali tergantung kaku pada pakunya masing­masing. Mereka lalu meminum limun dingin itu, mencoba menenangkan diri. ”Aku tak lihat ada foto laki­laki yang menunjukkan seseorang bernama Ma Gedik.”

”Aku juga tidak melihatnya sejak pertama kali datang kemari,” balas Rosinah.

Ketika Si Cantik belum lahir, mereka berdua, Rosinah dan Dewi Ayu, sering saling berbagi cerita sambil duduk di bangku kecil di depan tungku dapur. Saat­saat seperti itulah Dewi Ayu pernah menceritakan tentang Ma Gedik. Ia mengawininya, kata Dewi Ayu, dengan cara paksa, sebab ia begitu mencintainya. Tak ada lelaki yang pernah begitu ia cintai selain lelaki tua bernama Ma Gedik. ”Meskipun jelas cintaku tak terbalas sama sekali, sebaliknya, ia melihatku seperti penyihir jahat,” kata Dewi Ayu sambil tertawa. Ia mencintainya meskipun tak pernah melihat lelaki itu sebelumnya. Ia mencintainya karena ia tahu nenek dari ibunya begitu mencintainya. ”Cinta mereka dihancurkan, sebagaimana hidup mereka dihancurkan, sepasang kekasih itu: Ma Gedik dan nenekku Ma Iyang, hanya karena kerakusan dan berahi tak terkendali seorang Belanda,” kata Dewi Ayu. ”Dan yang lebih menyedihkan dari itu semua, orang Belanda rakus dan penuh berahi itu adalah kakekku sendiri.” Dewi Ayu mencintai Ma Gedik sejak ia mendengar kisah tersebut. Mungkin dari para jongos atau tetangga menceritakannya. Ia mengaku, mungkin ia tak akan bisa hidup, atau bunuh diri, jika tak bisa mengawini lelaki itu. Maka suatu malam ia menyuruh seorang jawara dan sopir keluarganya untuk mengambil lelaki tua itu secara paksa, mengawininya secara paksa pula, meskipun kenyataannya mereka bahkan belum pernah bersetubuh. ”Ia lari ke puncak bukit dan menjatuhkan diri dari sana. Tubuhnya hanya tersisa seperti daging cincang di kios daging,” kata Dewi Ayu. Namun setelah itu, hantunya selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi.

Baik Henri maupun Aneu Stammler tentu saja mengetahui kisah tentang Ma Iyang dan Ma Gedik, tapi mereka tak tahu jika Dewi Ayu kemudian kawin dengan Ma Gedik yang itu.

”Demikianlah mengapa Dewi Ayu bertahan hidup sampai umur lima puluh dua,” tulis Rosinah, ”hantu itu terus menemaninya.”

”Tapi kenapa ia jadi pelacur?” tanya Aneu.

Rosinah menceritakan apa yang terjadi atas Dewi Ayu semasa perang, bagaimana ia dipaksa menjadi pelacur oleh tentara Jepang. Suatu ketika, di saat­saat yang sama di depan tungku, Dewi Ayu pernah pula berkata pada Rosinah, ”Aku mempelajari sesuatu setelah aku jadi pelacur,” katanya, ”bahwa pelacur yang baik adalah perempuan­perempuan tanpa kekasih.” Dewi Ayu mengatakan bahwa setelah perang selesai, ia menjadi pelacur bukan semata­mata membayar hutang pada Mama Kalong, tapi karena ia tak mau apa yang terjadi atas Ma Iyang dan Ma Gedik terulang pada pasangan­pasangan kekasih penuh cinta yang lain. ”Pelacur paling tidak tak membuat orang harus punya gundik, sebab setiap kau mengambil gundik, kau mungkin menyakiti hati seseorang yang adalah kekasih gundik itu. Sebuah cinta dihancurkan dan sebuah kehidupan diporakporandakan setiap kali seorang lelaki menyimpan seorang gundik. Tapi seorang pelacur paling banter menyakiti seorang istri yang jelas­jelas sudah dikawin, dan adalah kesalahannya membuat suami harus pergi ke tempat pelacuran.”

”Begitulah ia kemudian jadi pelacur Halimunda yang dipuja banyak

orang,” tulis Rosinah. ”Aku seperti tengah menulis biografi majikanku sendiri.” Dan ia tertawa kecil.

”Kenapa kita punya anak yang berpikir begitu menjijikkan?” tanya Aneu Stammler dengan kebingungan pada suaminya.

”Jangan berpikir buruk tentang anak itu,” kata Henri. ”Kita tak lebih tidak berdosa darinya. Kita kakak­beradik sedarah yang memutuskan kawin, kau tak boleh melupakan itu.”

Tak seorang pun melupakannya, bahkan Rosinah yang hanya mendengar cerita itu dari Dewi Ayu juga tak lupa.

Hantu itu kemudian datang lagi, kali ini lebih ramah, menumpahkan meja tempat limun dingin mereka ada di atasnya. * * *

Serangan hantu­hantu itu, hantu­hantu orang komunis, paling dahsyat dirasakan oleh Sang Shodancho. Selama bertahun­tahun sejak peristiwa pembantaian tersebut, ia menderita insomnia yang parah, dan kalaupun tidur ia menderita tidur berjalan. Hantu­hantu itu terus­menerus merongrongnya, bahkan di meja kartu truf mereka sering mengganggunya dan membuat ia kalah terus­menerus. Gangguan­gangguan paling sepele dari mereka pun bahkan telah membuatnya nyaris gila. Ia sering memasang baju terbalik, keluar rumah dan tersadar bahwa ia hanya mengenakan celana dalam, atau ia pikir ia sedang menyetubuhi istrinya tapi ternyata menyetubuhi lubang kakus. Ia sering menemukan air di bak mandi tiba­tiba berubah jadi genangan darah yang begitu kental, dan menemukan semua air di rumah itu, termasuk air minum di teko dan termos, juga mengental dan memerah menjadi darah.

Semua orang di kota itu merasakan hantu­hantu tersebut, mengenali dan takut oleh mereka, tapi barangkali yang dibuat paling takut dan merasa paling terteror hanyalah Sang Shodancho.

Mereka kadang muncul di jendela kamarnya, dengan jidat dihiasi lubang bekas peluru. Dari lubang itu terus­menerus keluar darah, dan dari mulutnya terdengar erangan, seperti sesuatu yang hendak dikatakan, tapi tampaknya mereka telah kehilangan semua kata­kata, jadi hanya mengerang. Jika Sang Shodancho melihatnya, ia akan menjerit dengan wajah pucat, mepet ke dinding terjauh dari jendela kamar. Mendengar jeritan itu Alamanda akan datang dan mencoba menenangkannya.

”Pikirkanlah, itu cuma hantu orang komunis,” kata Alamanda. ”Ia hendak membunuhku.”

”Mati sekarang atau sepuluh tahun lagi apa bedanya, Shodancho?” Tapi Sang Shodancho tak pernah bisa terhibur oleh kata­kata semacam itu, hingga Alamanda harus mengusir hantu tersebut dari jendela kamar mereka. Kadang­kadang hantu itu tak mau pergi, dan terus mengerang seolah ia minta sesuatu. Mencoba menebak­nebak, Alamanda kadang memberi hantu itu minum atau makan, dan mereka minum bagaikan telah melintasi padang pasir luas, atau makan bagaikan telah berpuasa selama tiga tahun, sebelum menghilang dari jendela dan

Sang Shodancho bisa ditenangkan. Pada awalnya ia sesungguhnya tak setakut itu. Jika ada hantu komunis muncul dengan luka tembak di sekujur tubuhnya dan mulut menggeramkan sesuatu, mungkin lagu Internationale, ia akan mengeluarkan pistol dan menembaknya. Awalnya hantu­hantu itu akan lenyap oleh satu tembakan, namun lama­kelamaan mereka menjadi kebal. Sang Shodancho telah menembak begitu banyak hantu di seluruh pelosok kota, dan hantu­hantu itu menjadi sangat resisten terhadap tembakan. Mereka akan tertembak, meninggalkan bekas luka peluru di tubuhnya, dan bahkan memuncratkan darah, tapi tak pernah mati. Mereka akan tetap berdiri di sana, berapa kali pun ditembak, dan bahkan berusaha mendekat, membuat Sang Shodancho akhirnya lari dan sejak itulah ia mulai ketakutan terhadap munculnya hantu­hantu tersebut.

Semua gejala­gejala penderitaan Sang Shodancho nyaris menyerupai orang scizoprenia. Tapi jelas ia tidak gila. Ia tidak mengalami halusinasi apa pun. Apa yang ia lihat bisa dilihat orang lain, dan apa yang ia takutkan juga ditakutkan orang lain. Perbedaannya, ia takut lebih hebat dari siapa pun, terutama jika dibandingkan istrinya yang lama­kelamaan mulai terbiasa dengan kemunculan hantu­hantu tersebut.

Hidupnya sungguh­sungguh tampak menyedihkan. Ke mana­mana ia selalu berpikir bahwa hantu­hantu itu selalu menguntitnya, menunggunya lengah sebelum membalaskan dendam mereka. Harus diakui ia telah membunuh banyak orang komunis di masa pembantaian, meskipun mungkin bukan yang terbanyak. Beberapa orang penting Partai bahkan ia eksekusi sendiri dengan pistolnya. Ia tak merasa heran bahwa mereka merencanakan pembalasan dendam, dan menjadi hantu­hantu gentayangan. Ia harus berhati­hati terhadap mereka, dan itulah yang membuat semua orang berpikir ia mungkin gila, sebab tanpa kemunculan hantu­hantu itu pun ia sering dirongrong rasa takut. Hal ini membuat segala yang ia kerjakan tampak berantakan, tak hanya permainan kartu yang selalu kalah, namun bahkan ia sering keliru memasuki rumah orang lain. Alamanda sesungguhnya tak terlalu risau oleh kekacauan tersebut, dan berpikir bahwa hantu­hantu itu mungkin pada waktunya akan lelah sendiri mengganggu kehidupan orang­orang kota. Tapi tidak begitu dengan anak gadis mereka yang kini berumur sepuluh tahun. Ai, atau Nurul Aini, selalu mengeluh pada ibunya, terutama pada ayahnya, bahwa ada biji kedondong di tenggorokannya. Tentu saja tak ada orang yang memercayainya, meskipun ia seringkali terus mengejar ayahnya dan meminta tolong mengeluarkan biji kedondong itu. Ayahnya hanya berkomentar bahwa itu perbuatan hantu­hantu tersebut, dan Ai percaya itu karena ia lalai telah menelan biji kedondong sungguhan. Hanya ibunya yang mengerti apa yang terjadi: anak gadis itu sedang mencari perhatian ayahnya yang tak peduli pada apa pun kecuali pada ketakutannya sendiri atas hantu­hantu orang komunis.

Jika Sang Shodancho hanya ribut sendiri oleh ketakutannya seperti orang gila, mungkin tak akan menjadi masalah bagi siapa pun. Namun kenyataannya hal itu membuat ia jadi banyak melakukan tindakantindakan irasional. Ia pernah melihat seorang gelandangan gila yang memukuli anjing. Semua orang tahu Sang Shodancho sangat menyukai anjing. Ia memelihara banyak anjing di rumah, dan ketika masa gerilya, ia banyak menjinakkan anjing­anjing jenis ajak. Ia mengamuk demi melihat gelandangan gila itu memukuli seekor anjing, tak peduli itu anjing kampung tanpa pemilik. Ia menyeretnya ke tepi jalan dan memukulinya tanpa ampun, dan menjebloskannya ke dalam tahanan militer. Seorang gelandangan gila dijebloskan ke tahanan militer untuk waktu yang tak tentu, dan tanpa proses pengadilan pula, hanya karena memukuli anjing, tentu saja membuat siapa pun kebingungan. Bahkan Alamanda dibuat terguncang oleh hal itu, dan bertanya pada suaminya:

”Apa yang sesungguhnya terjadi?”

”Gelandangan gila itu kerasukan hantu komunis.”

Ini tak hanya terjadi sekali, tapi bahkan beberapa kali. Ia menyalahkan siapa pun yang berlaku tidak menyenangkannya, mengasarinya sebelum melemparkannya ke tahanan militer. Ia menjadi seorang temperamental, sama sekali telah hilang sisa­sisa Sang Shodancho lama yang gemar bermeditasi dan selalu berpenampilan tenang. Ada peristiwa lain: seorang nelayan yang mabuk dan menyanyikan lagu secara kencang di tengah malam membuat semua orang terbangun dan menengok melalui jendela. Salah satu dari mereka adalah Sang Shodancho, yang terbangun seketika padahal ia baru saja berhasil tidur di tengah demam insomnianya. Ia langsung keluar membawa pistol, menembak kaki nelayan mabuk itu hingga ambruk di jalan, dan menyeretnya jauh dan menjebloskannya pula ke tahanan militer. ”Apa kau gila, menjebloskan orang ke tahanan hanya karena mabuk?” tanya Alamanda.

”Ia kerasukan hantu komunis.”

Itu kemudian cukup untuk membawanya ke rumah sakit jiwa. Di tahun 1976 belum ada rumah sakit jiwa di Halimunda, maka Alamanda membawanya ke Jakarta. Untuk beberapa lama Sang Shodancho menghilang dari Halimunda. Alamanda kembali lagi setelah seminggu, memercayakan sepenuhnya Sang Shodancho pada para perawat di rumah sakit, sebab bagaimanapun ia punya anak gadis yang harus diurus.

Hantu­hantu itu tak menghilang dengan kepergian Sang Shodancho. Tapi paling tidak mereka tidak membuat takut penduduk kota jika mereka tak menampilkan diri, baik utuh sekujur tubuh atau sekadar suara­suara kesakitan. Dengan apa yang dilakukan Sang Shodancho, bagi penduduk kota laki­laki itu tiba­tiba jadi lebih menakutkan daripada hantu­hantu itu sendiri, sebab ia bisa dengan asal menuduh siapa pun yang tidak disukainya telah kesurupan hantu­hantu komunis. Jika seseorang memperoleh nasib buruk semacam itu, masih untung jika hanya dijebloskan ke tahanan tanpa batas waktu, sebab bisa jadi akan ada penyiksaan­penyiksaan dulu. Seperti penyucian jiwa orang­orang kesurupan setan di biara­biara kuno Katolik zaman dulu. Demikianlah, kepergian Sang Shodancho membuat semua orang lega, tak peduli hantu­hantu itu kenyataannya masih ada di kota mereka.

Tapi tak lama kemudian Sang Shodancho pulang kembali ke kota

itu. Muncul sendirian, mengejutkan semua orang, bahkan istrinya. ”Sialan,” itulah kata­kata pertamanya, ”dokter­dokter itu mengira

aku gila, maka kutembak salah satunya dan aku pulang.”

”Kau memang tidak gila,” kata Alamanda, ”hanya sedikit tidak waras.”

”Ada biji kedondong di tenggorokanku, Papa,” kata Ai. ”Buka mulutmu, biar kutembak komunis kecil itu.”

”Akan kubunuh kau jika itu dilakukan,” ancam Alamanda.

Sang Shodancho tak pernah menembak biji kedondong di tenggorokan anak gadisnya, meskipun Ai telah membuka mulutnya lebarlebar.

Datang ke Halimunda berarti datang kembali ke sumber segala ketakutannya. Ia mencoba memelihara banyak anjing di rumahnya untuk mengusir hantu­hantu itu mendekat, dan tampaknya cukup berhasil untuk mengurangi serangan hantu­hantu tersebut. Anjing­anjing itu akan menyerang siapa pun yang asing bagi mereka di halaman rumah Sang Shodancho, tapi beberapa hantu berlaku lebih cerdik. Mereka terbang ke atap dan muncul melalui lubang langit­langit dan Sang Shodancho akan menjerit­jerit di atas tempat tidur. Alamanda selalu berhasil mengusir hantu­hantu tersebut dengan metode paling sederhana: memberi mereka makan atau minum, karena tampaknya itulah yang mereka inginkan.

”Hanya Kamerad Kliwon yang bisa mengendalikan mereka,” keluh Sang Shodancho.

”Kau telah mengirimnya ke Pulau Buru tak lama setelah ia punya Krisan,” jawab Alamanda.

Itu benar, dan Sang Shodancho sangat menyesalinya. Ia menyesalinya bukan karena istrinya pernah marah besar soal keputusan itu karena bagaimanapun ia dibuat tak berdaya oleh keputusan para jenderal di komando pusat bahwa Kamerad Kliwon adalah golongan komunis keras kepala yang paling penting untuk dibuang ke Buru. Ia tak menyesal karena serasa mengkhianati perjanjian dengan istrinya karena kenyataannya Kamerad Kliwon tidak mati, bahkan sampai saat ini tak terdengar bahwa ia mati, dan perjanjiannya dengan Alamanda adalah membiarkannya tetap hidup. Ia menyesal karena tanpa Kamerad Kliwon tak ada yang mampu mengendalikan hantu­hantu komunis di kota mereka. Ia membutuhkan lelaki itu dan berpikir bagaimana membuatnya pulang, atau ia harus melarikan diri dari kota ini.

Ia memilih yang terakhir.

Ia telah mendengar laporan­laporan militer bahwa ada pendudukan di wilayah Timor Timur. Tentara Republik agak dibuat kerepotan menghadapi tentara lokal yang bergerilya, dan mengenang masa­masanya ketika ia sendiri bergerilya, ia mendaftarkan diri untuk diberangkatkan ke Timor Timur. Ia memberi laporan semua reputasinya, dan tak satu pun meragukan karena semua jenderal mengenal dirinya belaka, dan tahu persis bahwa mungkin pengetahuan gerilyanya sangat dibutuhkan di daerah pendudukan. Ia akan mengatakan sayonara pada hantu­hantu itu dan pergi ke Timor Timur, tampak bahagia bahwa ia akan meninggalkan kota tersebut, tak peduli bahwa itu berarti ia meninggalkan istri dan anak perempuannya.

Rencana keberangkatannya segera didengar seluruh orang kota, sebagaimana setiap berita dengan cepat menjadi perbincangan publik. Pada hari keberangkatan, marching band militer menyemarakkan acara perpisahannya dengan warga kota (dan hantu­hantunya) di Lapangan Merdeka, dan mereka mengelilingi kota dengan Sang Shodancho berdiri dalam pakaian militer lengkap di atas jeep terbuka. Ia melambaikan tangan pada semua penduduk kota yang berdiri di pinggir jalan, dan tersenyum mengejek pada hantu­hantu yang menampakkan diri dengan rasa penasaran.

”Kuharap kalian bertahan dengan hantu­hantu sialan itu,” katanya. ”Kami telah bertahan selama lebih sepuluh tahun, Shodancho.” Rombongan itu akhirnya pergi hanya meninggalkan marching band,

sementara Sang Shodancho dan beberapa prajurit yang akan mengikutinya ke Timor Timur menghilang di batas kota. Ia lupa pamit pada istri dan anaknya, yang membuat Ai mengeluh.

”Ia bahkan belum mengambil biji kedondong itu,” katanya. ”Percayalah, ia tak akan bertahan lama di sana,” kata Alamanda me­

nenangkan anaknya. ”Ia melakukan gerilya yang hebat di Halimunda, tapi Timor Timur jelas bukan Halimunda.”

Itulah memang yang terjadi. Dalam enam bulan, Sang Shodancho telah dikirim pulang setelah tertembak betisnya dengan peluru masih bersarang di sana. Penduduk kota itu tampaknya harus menerima nasib untuk tak pernah kehilangan dirinya. Kepada istrinya ia mengeluhkan tentang sulitnya melakukan peperangan di tempat brengsek itu.

”Aku tak tahu apa yang dicari di tempat tandus seperti itu,” katanya mencoba menghibur diri atas kepulangannya, dan senang memperoleh penjelasan yang sangat memadai. ”Sehebat apa pun kau menguasai teknik gerilya, itu omong kosong jika menghadapi musuh yang mengenal dengan baik medan peperangan.”

Istrinya mencoba mengajaknya ke rumah sakit untuk melakukan pembedahan kecil mengeluarkan peluru yang bersarang di betisnya, tapi Sang Shodancho menolaknya. Ia berkata itu tak terasa sakit lagi sekarang, hanya membuat jalannya sedikit pincang. Ia ingin peluru itu tetap bersarang di sana, sebagai oleh­oleh yang menyakitkan hati. ”Karena penembakku bahkan menodongkan senapannya sambil menyanyikan Internationale,” katanya dengan mimik sedih. ”Begundal

komunis itu ternyata ada di mana­mana.”

Taman bacaan Kamerad Kliwon akhirnya harus ditutup. Diam­diam ada sedikit orang yang mengembuskan angin busuk tak enak yang mengatakan bahwa ia meracuni anak­anak sekolah dengan bacaan tak bermutu, mesum, dan tak mendidik. Orang­orang itu mulai menghubungkannya dengan aktivitasnya di masa lalu sebagai seorang komunis legendaris. Kamerad Kliwon sempat berang dengan omong kosong itu, namun Adinda dibantu Alamanda dan Sang Shodancho berhasil menenangkannya. Ia akhirnya menutup taman bacaan tersebut, menyimpan buku­bukunya sambil berjanji bahwa jika anaknya besar ia akan menyuruh anak itu melahap semua buku tersebut, untuk menunjukkan pada semua orang apakah anak itu akan rusak moral atau tidak dengan membaca buku­buku itu.

”Bukannya aku tak mau menyediakan buku­buku bermutu, masalahnya mereka telah membakar semua buku seperti itu,” katanya.

Sang Shodancho baru saja mendirikan pabrik es, sebuah persekutuan modal entah dengan siapa. Mengetahui bahwa Kamerad Kliwon dalam kesulitan setelah ia harus menutup taman bacaannya, ia menawari lelaki itu untuk mengurus pabrik es tersebut, dengan kekuasaan nyaris mutlak menyerupai pemilik. Jelas pabrik es itu sangat prospektif, terutama dengan meningkatnya kebutuhan para nelayan. Dan harap dicatat, setelah keruntuhan Partai Komunis (dan berarti bubarnya Serikat Nelayan), kini ada lebih banyak kapal besar beroperasi di laut Halimunda, dan mereka semua membutuhkan es.

Namun Kamerad Kliwon sama sekali tak tertarik dengan tawaran tersebut. Tak ada yang tahu apa alasannya. Mungkin sangat ideologis, atau sekadar rasa tak enak karena Sang Shodancho dan istrinya telah banyak membantu bahkan sejak pagi eksekusi itu. Secara mengejutkan, ia lebih memilih menjadi seorang pemburu sarang burung walet.

Ia memiliki sahabat­sahabat baru, semuanya pemburu sarang burung walet. Tim mereka biasanya empat orang. Sarang­sarang itu bisa dijual dengan sangat mahal pada orang­orang Cina yang akan menjualnya kembali ke kota­kota besar, bahkan konon menjualnya ke luar negeri. Kamerad Kliwon tak peduli siapa kemudian yang akan memakan sarangsarang burung walet tersebut, yang menurutnya tak lebih enak dari makaroni. Yang ia pikirkan adalah bahwa ia memperoleh benda­benda itu dan menjualnya pada orang­orang Cina penadah.

Ada banyak tebing­tebing curam di sepanjang hutan tanjung, di daerah­daerah yang nyaris tak terjamah oleh manusia, bahkan tidak pula oleh pasukan gerilya Sang Shodancho di masa perang. Di tebingtebing semacam itu terdapat gua­gua, kecil dan besar, jauh di atas tebing atau bahkan tertutup permukaan air laut (hanya tampak ketika air surut), dan di sanalah burung­burung hitam cantik itu bersarang, keluar masuk mulut gua dan beterbangan di atas permukaan air laut, menyambar buih­buih ombak. Konon sarangnya dibuat dari air liurnya, Kamerad Kliwon tak peduli, bahkan meskipun sarang itu dibuat dari tainya.

Mereka biasanya pergi malam hari, dengan berbekal karung dan sedikit makanan, dan terutama lampu baterai kering, sebab burung walet tak menyukai bau minyak jenis apa pun. Ada obat­obat darurat gigitan ular, sebab banyak ular berbagi gua dengan burung­burung tersebut. Untuk menuju tebing­tebing tersebut, keempat orang itu harus menggunakan perahu tanpa mesin, hanya dikayuh dayung untuk tidak membuat keributan. Mereka juga harus cukup bersabar bermain dengan ombak yang kadang tak begitu ramah menutupi mulut gua, atau kalaupun ombak menyurut mereka harus selalu waspada air pasang datang tiba­tiba dan mereka bisa menemukan diri terjebak di dalam gua. Atau mereka harus berlabuh secara darurat pada batu karang yang menonjol, dan mendaki tebing itu dengan risiko hidup­mati, untuk mencapai mulut­mulut gua yang lebih tinggi. Untuk itu mereka juga berbekal tali tambang pembantu pendakian, yang tentu saja sangat darurat.

Pekerjaan seperti itu sangat melelahkan, dan karena keadaan cuaca

kadang tak terlalu ramah, mereka bisa terjebak atau menanti selama berhari­hari. Tapi hasil dari perburuan semacam itu jauh lebih membuat keempatnya hidup makmur. Bagi Kamerad Kliwon sendiri, penghasilannya jauh lebih memadai daripada apa yang dihasilkan sawah dan ladangnya, dan apalagi taman bacaannya. Ia menjalani kehidupan pemburu seperti itu selama sekitar satu bulan, dengan Adinda menunggu penuh rasa khawatir di rumah ditemani si kecil Krisan yang baru lahir.

Namun suatu malam salah satu dari mereka terpeleset di tebing dan jatuh meluncur ke bawah menghantam batu karang. Ia mati seketika, tak membutuhkan pertolongan dan apalagi rumah sakit. Mereka telah memperoleh banyak sarang burung walet, tapi rasanya sia­sia jika pulang juga dengan sebongkah mayat seorang teman. Semua hasil penjualan sarang burung walet terakhir itu diberikan pada keluarga si orang mati, dan sejak itu Kamerad Kliwon serta dua orang temannya yang lain berhenti berburu sarang burung walet. Tentu saja ada pemburu­pemburu yang lain, orang­orang mati yang lain, sebab sarang­sarang itu terus dibuat burung­burung, tapi Kamerad Kliwon telah bertekad melupakan bisnis mengerikan tersebut. Ia tak hanya berhenti sebagai solidaritas pada seorang sahabat, tapi ia berpikir, seandainya ia yang mati, ia akan meninggalkan seorang istri dengan bayi yang baru dilahirkannya. Ia tak ingin melakukan itu.

Ia mencoba memutar kembali otaknya, mencari celah­celah bisnis

yang lain. Waktu itu Halimunda telah menjadi tempat pelancongan. Sesungguhnya sejak masa kolonial kota itu telah menjadi tempat pelesiran, disebabkan kedua teluk yang dibentuk oleh hutan tanjungnya sangat indah, namun di tahun­tahun awal pemerintahan baru, kota itu tengah mempromosikan dirinya sendiri sebagai tempat pelancongan. Ada hotel­hotel baru di beberapa sudut, dan kios­kios oleh­oleh. Warung makan sederhana berubah menjadi restoran­restoran sea food, dan lubang­lubang di jalanan telah ditambal dengan aspal­aspal baru. Para pelancong berdatangan nyaris dari segala pelosok, asing maupun domestik, sebagian besar datang untuk berenang di pantainya yang indah itu. Teluk bagian barat adalah tempat paling favorit, sementara teluk bagian timur menjadi tempat pelabuhan dan pelelangan ikan. Kamerad Kliwon berpikir keras apa yang paling dibutuhkan para pelancong yang datang untuk berenang, dan menggabungkannya dengan apa yang mungkin bisa ia lakukan. Ia menemukan jawabannya.

”Aku akan membuat kolor,” katanya pada Adinda. Gagasan itu tampak konyol, bahkan bagi Adinda sekalipun. Tapi ia tak peduli. Kamerad Kliwon membeli sebuah mesin jahit Singer. Ia menginginkan kolor­kolornya bisa dijual semurah mungkin, sebab kemungkinan besar para pelancong hanya membutuhkannya untuk berenang, sebelum mungkin membuangnya. Untuk itu ia harus menemukan kain paling murah. Untuk hal tersebut ia pergi menemui ibunya, yang masih menjahit, dan bertanya kain apa yang paling murah.

”Kain terigu,” kata Mina, ”aku biasa memakainya untuk lapisan saku celana.”

Maksudnya kain pembungkus terigu. Tentu saja kain semacam itu telah dicap dengan nama dagang terigunya. Atau kadang­kadang sesungguhnya bukan pembungkus terigu tapi pembungkus beras pula. Kamerad Kliwon harus mempelajari teknik pemutihan sehingga cap dagangnya bisa dilenyapkan dan kain­kain yang ia beli secara murah dari pedagang terigu itu pun menjadi kain­kain polos yang siap ia potong mengikuti pola sebuah kolor.

Bagaimanapun, ia tak membuat kolor­kolor polos. Di kiri­kanannya, ia memberi gambar yang disablon sebelum dijahit. Ia mendesain sendiri gambar­gambar tersebut, dengan keahlian pas­pasan seorang pelukis. Tapi gambar­gambar yang disablon di kolor itu sangat bagus. Pilihan warnanya sangat cerah dan meriah, serta menyenangkan. Ia mendesain beberapa gambar ikan, yang kadang ia tak tahu namanya. Lain kali desainnya bisa berupa pohon kelapa dengan daunnya yang melengkung tak tentu arah dan latar belakang matahari tenggelam berwarna oranye. Kolor­kolor itu sesungguhnya tak jauh berbeda dengan kolor­kolor yang dipakai para petani ke sawah, tapi desain­desainnya telah membuat ia tampak berbeda. Dan di semua gambar, ia menuliskan kata Halimunda besar­besar di bagian bawahnya. Para pelancong bisa membawa itu sebagai oleh­oleh bahwa mereka pernah pergi ke kota ini.

Ia mengedarkannya ke kios­kios di sepanjang pantai, yang dibangun

secara sederhana dari bambu dan beratap terpal. Para pelancong ternyata menyukai kolor­kolor tersebut. Mungkin karena harganya yang murah, mungkin karena desainnya yang menarik, yang jelas mereka memang membutuhkannya untuk berenang di laut. Kios­kios itu meminta pasokan kolor­kolor lebih banyak, dan Kamerad Kliwon harus bekerja lebih keras. Adinda bisa menjahit sedikit, tapi ia lebih banyak membantu pencatatan dan urusan uang, sebab ia harus mengurus si kecil Krisan. Ketika pesanan tampak tak lagi tertampung, Kamerad Kliwon mulai melemparkan sebagian pesanan itu kepada ibunya, dan ibunya harus bekerja lebih keras daripada biasanya.

Dalam waktu satu bulan, setelah Mina juga kewalahan, ia membeli tiga mesin jahit baru, mempekerjakan tiga orang penjahit dan seorang tukang sablon. Semua pola dan pembuatan desain masih ia lakukan sendiri. Tampaknya bisnis itu sangat menjanjikan, tak peduli dengan cara seperti itu ia telah menjadi seorang kapitalis kecil­kecilan. Kamerad Kliwon mungkin telah lupa apa pun tentang masa lalunya, atau memaksakan diri untuk melupakannya. Ia menikmati hari­harinya yang menyenangkan, dengan pekerjaan yang berjalan baik, istri yang cantik, dan seorang bayi laki­laki yang sehat.

Pesaing­pesaing tentu saja akhirnya bermunculan. Terutama dari orang­orang Cina dan Padang perantauan. Dan dengan modal yang lebih banyak. Tapi kolor Kamerad Kliwon tetap yang paling disukai dan menjadi pembicaraan bisnis orang­orang Halimunda.

Namun kehidupan yang menyenangkan itu jadi berantakan oleh sebuah rencana walikota. Kamerad Kliwon kembali menjadi Kamerad Kliwon yang itu, Kamerad Kliwon yang dulu.

Halimunda telah berkembang sedemikian rupa menjadi tempat pelancongan. Walikota serakah tersebut mulai berharap bisa memberikan tanah­tanah sepanjang pantai untuk hotel­hotel besar, dan restoran dan bar dan diskotik dan tempat perjudian dan mungkin tempat pelacuran yang lebih menyenangkan daripada milik Mama Kalong. Tanah­tanah itu kebanyakan milik para nelayan, dan sebagian lagi tanah tak bertuan di pinggir pantai yang berbatasan dengan jalan namun dipenuhi oleh kios­kios sederhana para penjual souvenir. Ada pendekatan baik­baik terhadap para nelayan agar mereka menjual tanah­tanah tempat mereka tinggal selama bertahun­tahun, dan bujuk rayu pada para pemilik kios agar mereka mau pindah ke sebuah pasar seni yang segera akan dibangun.

Sebagian besar nelayan menolak meninggalkan tanah yang bahkan telah ditinggali sejak nenek moyang mereka. Orang­orang itu tak mungkin pindah ke daerah pedalaman, sebab mereka harus selalu bau laut. Dan begitu pula para pemilik kios tak mau pindah, sebab pasar seni yang dijanjikan terletak jauh dari tempat keramaian.

Akhirnya datang pemaksaan­pemaksaan. Prajurit­prajurit datang dibantu para preman. Mereka menakut­nakuti orang­orang itu. Tapi jangan harap para nelayan ketakutan, sebab mereka telah terbiasa berhadapan dengan maut setiap malam, sebab di laut badai kadang­kadang datang tak terduga. Dan melihat kekeraskepalaan para nelayan, para pemilik kios pun bertahan. Tak berhasil dengan intimidasi, mereka akhirnya sungguh­sungguh bertindak kasar. Tanah antara laut dan jalan bukanlah tanah liar, kata sang walikota yang datang ke pantai dan berpidato, tapi tanah itu milik negara. Buldozer mulai didatangkan untuk meruntuhkan semua kios­kios souvenir tersebut.

Kamerad Kliwon, sekali lagi, kembali menjadi Kamerad Kliwon yang dulu. Ia tak bisa melihat hal itu terjadi di depan matanya. Maka ia mengumpulkan para nelayan dan para pemilik kios. Tak ada yang tahu apakah Kamerad Kliwon bergerak karena solidaritas dan ideologi atau karena kepentingan ekonominya terganggu sebab kolor­kolornya dijual di kios­kios tersebut. Ia mengorganisir demonstrasi besar­besaran yang diikuti banyak nelayan dan pemilik kios, serta banyak orang yang bersimpati terhadap nasib mereka. Itu adalah demonstrasi terbesar sejak runtuhnya Partai Komunis. Mereka bergerak melawan buldozer yang akan meratakan kios­kios rapuh mereka, memblokir jalan­jalan, hingga akhirnya tentara berdatangan. Kamerad Kliwon tetap bertahan memimpin di depan, dan tak terganggu oleh kemunculan prajuritprajurit tersebut.

Beberapa intelejen mulai mencium sisa­sisa komunis di antara ge­

rombolan pembangkang tersebut, dan segera mengenali Kamerad Kliwon. Beberapa laporan segera dicocokkan, dan segera diketahui bahwa lelaki itu sungguh­sungguh seorang komunis asli.

Atas desakan para jenderal, Sang Shodancho akhirnya menangkap Kamerad Kliwon, dan mengomeli lelaki itu mengapa melakukan tindakan sekonyol itu.

”Aku seorang komunis, dan semua orang komunis akan melakukan itu,” kata Kamerad Kliwon. Ia akhirnya dikirim ke Bloedenkamp, tempat banyak orang komunis menjalani tahanan yang entah sampai kapan. Banyak para sahabatnya ada di sana, dan terkejut bahwa ia belum mati, lebih terkejut lagi bahwa ia datang begitu terlambat ke Bloedenkamp. Paling tidak ia cukup terhibur bahwa di sana ada begitu banyak orang yang dikenalnya, meskipun semua orang dalam keadaan menyedihkan. Mereka kekurangan makan, tak ada pakaian, dan tak ada seorang pun yang menengok. Harihari mereka dipenuhi introgasi­introgasi, dan penyiksaan­penyiksaan dari para prajurit penjaga. Bahkan Kamerad Kliwon, sebesar apa pun reputasinya, juga mengalami hal yang sama, secara kasar dan sadis.

”Percayalah ia akan bertahan hidup,” kata Sang Shodancho menenangkan istrinya yang marah atas penangkapan Kamerad Kliwon dan pengirimannya ke Bloedenkamp. ”Bahkan meskipun mati, orang komunis akan hidup lagi jadi hantu, sebagaimana kita tahu.”

”Katakan hal itu pada Adinda dan anaknya,” kata Alamanda.

Tak lama setelah itu, semua tahanan di Bloedenkamp, seluruhnya tahanan politik orang­orang komunis, segera dipindahkan ke Pulau Buru. Seluruhnya tanpa sisa. Tak seorang pun tahu apa yang akan mereka lakukan di sana. Mungkin semacam Boven Digoel di masa kolonial, mungkin semacam kamp­kamp konsentrasi Nazi di waktu perang. Semua tahanan mulai membayangkan kerja paksa yang mengerikan. Beberapa mulai menjadi gila, beberapa yang lain mati karena terguncang bahwa mereka akan memperoleh hukuman yang lebih mengerikan daripada di Bloedenkamp. Dan salah satu dari mereka adalah Kamerad Kliwon. Ia tak sempat pamit pada ibu, istri dan anaknya. Ia hanya sempat pamit pada Sang Shodancho yang menyempatkan diri mengunjunginya sesaat sebelum kapal laut milik tentara membawa semua tahanan itu ke sebuah pulau jauh di Indonesia bagian timur.

”Aku akan memastikan istri dan anak­anakmu baik­baik saja,” kata

Sang Shodancho pada Kamerad Kliwon.

”Dan lihatlah kini, ia bahkan dikirim ke Pulau Buru,” kata Alamanda setibanya Shodancho di rumah, ”mereka akan menyuruhnya menebangi kayu­kayu tanpa memberinya makan dan ia akan mati dengan cara seperti itu.”

”Pikirkanlah, ia sendiri yang memulai semua kekacauan ini. Seorang komunis tetap seorang komunis, dan mereka biang rusuh. Aku bukan seorang presiden yang bisa mengampuni seseorang, juga bukan Panglima Besar, aku hanya seorang Shodancho dengan sebuah markas rayon militer.”

”Kau bahkan belum pergi dan mengatakan hal itu pada Adinda dan anaknya.”

Bagaimanapun, Sang Shodancho akhirnya pergi menemui Adinda di rumahnya yang hanya terhalang satu rumah dengan rumahnya sendiri. Kepada Adinda, ia sungguh­sungguh menyesal soal apa yang terjadi, dan mengatakan bahwa ia tak punya kekuasaan apa pun untuk mencegah Kamerad Kliwon tak dikirim ke Bloedenkamp, dan kemudian ke Pulau Buru. Ini kasus politik yang rumit, katanya.

”Paling tidak, katakan padaku, Shodancho, sampai kapan ia akan ditahan di sana?” tanya Adinda.

”Aku tak tahu,” jawab Shodancho, ”mungkin sampai pemerintahan baru dikudeta kembali.”

Krisan tak pernah sungguh­sungguh mengenal ayahnya. Ia hanya tahu tentang Kamerad Kliwon melalui apa yang diceritakan ibunya, atau apa yang diceritakan Alamanda dan Sang Shodancho. Bibi dan pamannya yang lain, Maya Dewi dan Maman Gendeng, tak begitu mengenal Kamerad Kliwon. Ketika tahun 1979 ayahnya pulang, dalam rombongan terakhir tahanan Pulau Buru yang dipulangkan, dan waktu itu Krisan telah berumur tiga belas tahun, ia memandang ayahnya seperti orang asing yang tiba­tiba saja tinggal di rumah mereka. Adinda sangat berbahagia dengan kedatangan kembali lelaki itu, tapi Krisan sama sekali tak bisa berbagi kebahagiaan tersebut. Ia tak pernah sungguh­sungguh mengenal ayahnya, sebab ketika Kamerad Kliwon pergi ke Bloedenkamp dan kemudian ke Pulau Buru, Krisan masihlah seorang bayi.

Maka ia memperhatikannya begitu mendalam, terutama jika mereka berada bersama­sama di meja makan dan ayahnya duduk di seberang meja. Sosoknya jauh lebih kurus daripada yang ia kenal melalui fotofoto lama yang diperlihatkan ibunya. Dulu wajahnya selalu bersih, tapi kini ia membiarkan kumis dan janggut dan jambangnya tumbuh, dan rambutnya agak panjang bergelombang menutupi tengkuknya. Ia begitu terkejut ketika pertama kali datang, hal pertama yang dicari ayahnya di dalam lemari adalah topi pet usang yang warnanya tak lagi karuan, apakah hitam, cokelat, atau kelabu. Ia menepuk­nepuk topi pet tersebut, tapi tak pernah memakainya dan mengembalikannya ke dalam lemari. Dengan rambut lebat seperti itu ia tak pantas mengenakan topi pet.

Kamerad Kliwon tak banyak bicara sepulang dari pembuangannya. Itu membuat Krisan bertanya­tanya, apakah benar laki­laki ini di masa lalu adalah tukang bicara paling cerewet di rapat­rapat raksasa. Tapi mungkin ia bicara banyak pada ibunya jika malam datang dan mereka tidur bersama di kamar keduanya. Tapi ia tak banyak bicara pada Krisan. Ia hanya bicara, apa kabar, Nak, atau berapa umurmu sekarang. Pertanyaan­pertanyaan itu begitu seringnya ditanyakan hingga Krisan berpikir ayahnya telah kehilangan kewarasan. Mungkin ia telah pikun, pada umurnya yang bahkan belum juga lima puluh tahun. Ia tak pernah tahu umur ayahnya. Mungkin empat puluh. Tapi ia tampak begitu tua, ringkih, dan murung.

Mungkin Kamerad Kliwon sendiri merasakan hal aneh yang sama kepada anaknya, sebab ia pun tak mengenal baik anak itu. Sebagaimana Krisan kepadanya, lelaki itu sering memandangnya lama­lama, seolaholah ingin mengetahui apa yang dipikirkannya. Krisan tak pernah mencoba menebak apa yang dipikirkan ayahnya, ia lebih tertarik mencoba mengenalinya secara fisik. Ayahnya mengenakan pakaian­pakaian lamanya, dan semua kedombrangan. Itu tampak menyedihkan bagi Krisan. Selama beberapa hari ia tak pernah keluar rumah, dan tak seorang pun mengunjunginya sebab ia datang secara diam­diam. Adinda dan Krisan juga tak mengatakannya pada siapa pun. Mereka ingin menjaga kedamaian lelaki itu, dan membiarkannya tak diketahui siapa pun, kecuali Kamerad Kliwon sendiri telah siap. Bahkan Sang Shodancho

dan istrinya belum juga tahu. Demikian pula Mina.

”Seperti apakah di sana?” tanya Krisan suatu ketika di meja makan, ”Pulau Buru itu.”

”Makanan terbaik di sana adalah apa yang biasa kau temukan di toilet,” jawabnya.

Itu membuat suasana makan jadi terasa tak enak. Adinda memandang Krisan dan memberi isyarat untuk tak bertanya apa pun lagi. Maka sejak itu tak ada perbincangan apa pun. Kamerad Kliwon tak pernah ingin menceritakan apa pun tentang Pulau Buru, bahkan tidak pada istrinya sendiri ketika mereka tidur di ranjang yang sama. Dan Adinda serta Krisan tak lagi berani bertanya soal itu, membiarkannya menjadi rahasia pribadi di mulutnya.

Tanpa percakapan, dan tanpa keluar rumah, Kamerad Kliwon sungguh­sungguh tampak semakin murung. Mungkin ia merasa terasing dengan rumah yang ia tinggalkan selama bertahun­tahun, atau mungkin ia merasakan sendiri bahwa ada banyak hantu­hantu komunis di kota itu, dan ini membuatnya sedih. Paling tidak itu diketahui sendiri oleh Krisan. Suatu ketika seseorang mengetuk pintu dan Krisan membukanya. Di depannya berdiri seorang lelaki dengan pakaian lusuh, di dadanya tampak luka peluru dengan darah mengalir tanpa henti. Krisan nyaris menjerit dan berlari, sebelum ayahnya muncul dan berkata:

”Apa kabar, Karmin?”

”Buruk, Kamerad,” jawab si orang luka, ”aku telah mati.”

Krisan mundur ke belakang dengan wajah pucat dan bersandar ke dinding. Kamerad Kliwon menghampiri hantu itu, setelah mengambil seember air dengan lap. Ia membersihkan luka itu dengan penuh perhatian, sampai darah tak lagi mengalir.

”Apakah kau mau segelas kopi?” tanya Kamerad Kliwon, ”tapi tanpa koran.”

”Kopi tanpa koran.”

Mereka minum kopi bersama sementara Krisan memandang tak percaya bahwa ayahnya bisa begitu akrab dengan hantu yang begitu menakutkan tersebut. Mereka bercerita soal tahun­tahun yang hilang, dan mereka tertawa­tawa kecil. Hingga ketika kopi telah habis, hantu itu pamit.

”Ke mana kau akan pergi?” tanya Kamerad Kliwon. ”Ke tempat orang­orang mati.”

Dan hantu itu menghilang, bersamaan dengan Krisan yang jatuh pingsan di lantai.

Sejak itu Kamerad Kliwon tampak semakin murung, dan bertambah murung setiap kali hantu­hantu komunis itu menampakkan diri di hadapannya. Ia mungkin bersedih atas mereka, atau mungkin karena sebab lain. Krisan yang telah kehilangan tiga belas tahun untuk mengenal ayahnya dibuat cemburu oleh hantu­hantu tersebut. Ia ingin mendengar ayahnya berkata untuknya, tapi bahkan ia tak berani menanyakan apa pun pada ayahnya sejak peristiwa meja makan tersebut.

Suatu hari ia bertanya pada Adinda, ”Bagaimana kabar Sang Shodancho?”

”Ia nyaris gila karena hantu­hantu komunis itu,” jawab Adinda. ”Aku akan mengunjunginya.”

”Lakukanlah,” kata Adinda, ”mungkin itu baik buatmu.”

Waktu itu sore yang hangat, dengan angin yang pelan berembus dari arah bebukitan. Ia berjalan kaki dan beberapa tetangga mulai melihatnya, terpana bahwa lelaki itu sudah kembali. Rumah Sang Shodancho bisa terlihat dari rumahnya, maka ia hanya membutuhkan dua menit perjalanan sebelum mengetuk pintu. Yang membuka adalah Alamanda, sebagaimana para tetangga itu, ia terkejut bukan main melihat laki­laki tersebut.

”Kau bukan hantu, kan?” itulah yang ditanyakan Alamanda.

”Aku hantu menakutkan,” jawab Kamerad Kliwon, ”jika kau takut pada komunis hidup.”

”Jadi kau pulang.”

”Mereka membawaku pulang.” ”Masuklah.”

Kamerad Kliwon duduk di kursi ruang tamu sementara Alamanda pergi membawa minuman untuknya. Ketika ia datang kembali, Kamerad Kliwon menanyakan Sang Shodancho.

”Ia pergi ke seluruh pelosok kota untuk menembaki hantu­hantu komunis itu,” kata Alamanda, ”atau mungkin main kartu di tengah pasar.” Setelah itu mereka tak berkata apa pun lagi. Kamerad Kliwon ingin menanyakan tentang Nurul Aini, tapi suasana tiba­tiba membuatnya tak ingin menanyakan apa pun. Alamanda duduk persis di depannya. Tatapannya begitu lembut, mungkin tatapan kasihan, atau tatapan jenis lain. Ia lupa, tapi ia pernah melihat tatapan seperti itu, dan ini membuatnya segera lupa untuk menanyakan anak gadis itu. Mungkin Ai pergi bermain entah ke mana, mungkin ke rumah Rengganis Si Cantik. Tak ada yang perlu ditanyakan soal itu, tapi lihatlah tatapan mata perempuan di depan tersebut. Tatapan yang bertahun­tahun lalu pernah begitu ia kenal.

Otaknya yang telah dibuat sakit selama pembuangan menjadi lambat untuk memahami segala sesuatunya. Namun kemudian ia segera teringat, dan mengerti. Ya benar, ia mengenal tatapan itu. Hanya Alamanda yang memilikinya, dengan matanya yang kecil, tatapan penuh cinta yang pernah diperlihatkannya bertahun­tahun lalu. Tatapan tersebut begitu lembut, seperti belaian halus seorang perempuan di kulit seekor kucing, penuh cinta, dan api kerinduan. Ia mengenalinya dan ia begitu bodoh telah melupakannya. Maka ia membalas tatapan itu, dengan tatapan yang penuh gelora, membuatnya tiba­tiba berubah dari seorang pemurung menjadi seorang lelaki yang menemukan kembali kekasih lama yang hilang.

Dan demikianlah hal itu kemudian terjadi:

Keduanya berdiri dan tanpa seorang pun menyuruh yang lainnya, keduanya melompat dan saling berpelukan, menangis, namun tak lama sebab mereka telah tenggelam dalam ciuman panjang yang membara, sebagaimana pernah mereka lakukan di bawah pohon ketapang di depan stasiun kereta api. Ciuman itu membawa mereka ke atas sofa, dengan Alamanda berbaring telentang dan Kamerad Kliwon berada di atasnya. Mereka membuka pakaian dengan cepat, dan bercinta dalam satu episode yang begitu gila dan liar.

Ketika itu usai, mereka tak pernah menyesalinya sedikit pun.

Namun ketika pulang, Kamerad Kliwon telah ditunggui istrinya di pintu rumah. Ia mencoba menyembunyikan ekspresi kebahagiaan yang memancar dari roman mukanya, dan menampakkan kembali wajahnya yang murung. Tapi Adinda sama sekali tak bisa dibohongi.

”Hantu­hantu itu memberitahuku, maka aku tahu apa yang kau lakukan di rumah Shodancho,” kata Adinda, ”tapi tak apa jika itu membuatmu bahagia.”

Itu membuatnya terguncang. Ia tak menyesali apa yang dilakukannya, tapi ia malu bahwa istrinya tahu hal itu. Tiba­tiba ia merasa begitu najis, menghadapi seorang istri yang mengatakan, tapi tak apa jika itu membuatmu bahagia. Seorang istri yang telah bertahun­tahun menantikannya, dan tiba­tiba ketika ia datang ia mengkhianatinya. Kamerad Kliwon tak mengatakan sepatah kata pun, dan masuk ke kamar tamu, mengunci dirinya dari dalam dan tak keluar kamar sampai esok paginya meskipun Adinda dan Krisan telah mengetuk pintu kamar berkali­kali mengajaknya makan malam. Ketika pagi datang dan sarapan pagi telah siap, Adinda dan Krisan kembali mengetuk pintu kamar tersebut bergantian, tapi bahkan Kamerad Kliwon sama sekali tak menyahut, apalagi membuka pintu. Keduanya mulai curiga sesuatu telah terjadi pada lelaki itu, maka mereka menggedor pintu tersebut semakin keras, namun tetap tak ada jawaban.

Krisan akhirnya pergi ke dapur mengambil kapak yang biasa ia pakai untuk membelah kayu membuat sarang merpati, datang lagi dan menghantam pintu itu dengannya tanpa basa­basi. Pintu retak di bagian tengah, Adinda hanya memandang apa yang dilakukan anaknya. Dengan beberapa pukulan, pintu itu akhirnya meninggalkan lubang yang cukup bagi tangan Krisan untuk masuk dan membuka kunci. Mereka membuka pintu dan melihat Kamerad Kliwon mati menggantung diri dengan seprei yang digulung dan diikatkan pada palang kayu di langitlangit yang dilubangi. Krisan harus memeluk ibunya sebelum perempuan itu tak sadar.

Kemunculan Kamerad Kliwon yang sejenak dan dilihat tetangga telah membuat berita kedatangannya tersebar dengan cepat. Tapi semua orang terlambat. Yang mereka lihat kini hanya iring­iringan keranda kematian lelaki itu menuju tempat pemakaman. Sama terlambatnya dengan Krisan yang tak pernah dan tak akan pernah lagi memiliki kesempatan untuk mengenal ayahnya sebagai ayah dan anak. Mereka hanya bertemu dalam waktu yang begitu singkat, mungkin seminggu, dan itu sama sekali tak cukup untuk saling mengenal. Di antara siapa pun, Krisan adalah orang paling sedih atas kematian Kamerad Kliwon. Dan ia mengklaim mewarisi topi pet usang yang sering ia lihat dikenakan ayahnya di foto­foto lama. Ia sering mengenakannya, hanya untuk menghibur diri dan merasa dekat dengan ayahnya.

Hantu komunis kini bertambah satu di kota tersebut, tapi bersyukurlah ia tak pernah menampakkan diri untuk siapa pun.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊