menu

Cantik Itu Luka Bab 13

Mode Malam
13
Musim penghujan merupakan bulan­bulan di mana banyak orang kawin. Hampir di setiap ruas jalan ada janur kuning tertancap

di pinggir pagar, dan rombongan orang­orang yang pergi ke undangan nyaris tanpa henti dari minggu ke minggu. Sementara itu, para lelaki yang belum sempat kawin akan pergi ke tempat pelacuran, mencoba menghangatkan tubuh dengan tubuh para perempuan, dan para kekasih semakin sering berjumpa dan secara diam­diam bercinta. Orangorang yang telah kawin bagaikan memperoleh kembali bulan madu mereka di bulan­bulan penghujan. Di masa­masa itu banyak sel telur dibuahi, dan banyak bakal anak diciptakan Tuhan di rahim para perempuan.

Bahkan di tengah pembantaian orang­orang komunis, orang­orang tetap bercinta ketika kesempatan tiba dan terutama ketika hujan turun dengan deras. Tapi hal ini, untuk sementara, tak berlaku untuk Sang Shodancho dan Alamanda. Juga tak berlaku untuk Maman Gendeng dan Maya Dewi.

Maman Gendeng dan Maya Dewi masih memainkan drama yang sama sejak perkawinan mereka nyaris lima tahun lalu.

Namun paling tidak, satu hal jelas membuat Maman Gendeng sangat berbahagia: bahwa kini ia punya tempat yang disebut rumah untuk pulang. Ia telah memimpikan hal itu, terutama ketika ia jatuh cinta pada Nasiah dan melihat binar cinta gadis itu pada kekasihnya. Ia memimpikan tatapan penuh cinta seperti itu, sebuah keluarga, sebuah rumah, selama bertahun­tahun yang penuh rasa putus asa dan ketidakyakinan bahwa ia akan memperoleh hal semacam itu, terutama karena semua orang melihatnya sebagai begundal biang masalah. Jika ia pulang dari terminal bis tempatnya nongkrong sepanjang siang, atau dari meja kartu truf setelah bermain dengan Sang Shodancho, ia akan berjumpa kembali dengan istrinya yang telah menunggu di meja makan malam dan bergegas mempersiapkan handuk serta air hangat untuknya mandi. Setiap malam ia melambung dalam kebahagiaan yang tak bisa ia ungkapkan. Paling tidak sekarang ia merasa cukup beradab, sebab ia memiliki pakaian­pakaian bersih sebagaimana tetangga, makan di meja makan sebagaimana tetangga, dan tidur di atas kasur dengan lindungan selimut sebagaimana tetangga.

Di sela­sela kesibukannya sekolah dan mengerjakan pekerjaan rumah yang dibebankan guru­gurunya, Maya Dewi dengan tekun terus mengurus suaminya. Sebagaimana janjinya pada Dewi Ayu, Maman Gendeng tak pernah menyentuh perempuan mana pun lagi, meskipun ia belum juga menyentuh istrinya. Tahun demi tahun memang terus berlalu, dan gadis kecil itu mulai tumbuh menjadi seorang gadis remaja. Tubuhnya telah menjadi jauh lebih tinggi dalam lima tahun terakhir itu, beberapa waktu sebelum pembantaian orang­orang komunis, dan tubuhnya semakin padat berisi pula. Dadanya mengembang begitu sempurna. Tapi Maman Gendeng masih juga melihatnya sebagai anak kecil yang dulu itu, anak sekolah yang ia tunggui sambil mengisap rokok ketika ia mengerjakan pekerjaan rumahnya, dan ia selimuti ketika waktunya tidur. Mereka bahkan belum pernah tidur seranjang sekali pun. Ia melakukan puasa seksual yang begitu mengagumkan. Namun jika waktu­waktu ketika berahinya datang, ia akan melakukan beberapa eksperimen untuk menyenangkan dirinya sendiri di kamar mandi. Dalam hal ini, Sang Shodancho merupakan teman terbaik untuk saling berbagi masalah. Nasib telah menyatukan mereka dalam persahabatan yang semakin erat, meskipun latar belakang masalah mereka jelas berbeda. Kini Sang Shodancho tak hanya mengeluhkan kemungkinan istrinya masih mencintai lelaki bernama Kamerad Kliwon itu, namun bagaikan pada teman yang begitu bisa dipercaya, ia mulai menceritakan masalah­

masalah keluarganya.

Selepas bermain truf dan teman­teman bermain mereka telah menghilang serta masalah­masalah umum telah terselesaikan, mereka biasanya mulai membicarakan masalah­masalah pribadi mereka dengan istri masing­masing. Dalam hal ini mereka tak lagi tampak bagai dua orang sahabat, mungkin lebih tepat dua kakak­beradik yang saling berkeluh­kesah. Suatu hari Sang Shodancho berterus­terang kepadanya mengenai apa yang terjadi antara ia dan istrinya. Selama tahun pertama perkawinannya, ia tak pernah bisa menyetubuhi istrinya. Bukan sekadar bahwa Alamanda melindungi kemaluannya dengan celana dalam besi, namun bahkan mereka tidur di kamar yang terpisah.

”Kuncinya sebuah mantra yang tak seorang pun tahu kecuali istriku.”

”Tapi kudengar ia hamil?”

Waktu itu Sang Shodancho tanpa bisa diduga tiba­tiba menangis sesenggukan, dan berkata, ”Ia hamil dua kali, dan kedua anak itu menghilang secara tiba­tiba.” Dan melanjutkan, ”padahal aku telah memberi mereka nama Nurul Aini.”

”Tak ada perempuan hamil tanpa disetubuhi, kecuali kau percaya Maria melahirkan Yesus tanpa disentuh siapa pun.”

Dan tangisan Sang Shodancho semakin deras. Di tengah isak tangis itu, pendek namun tegas ia berkata, ”aku memerkosanya ketika ia lengah dengan pelindung kemaluan itu.”

Maman Gendeng menghiburnya dengan mengatakan bahwa ia pun belum pernah menyentuh istrinya, membiarkan dirinya masih perawan sebagaimana gadis itu ketika dilahirkan. ”Dan kukatakan saja, Shodancho, aku tak pernah pergi ke tempat pelacuran lagi kecuali menyenangkan diri sendiri di kamar mandi, maka lakukanlah sebagaimana aku melakukannya.” Maman Gendeng melanjutkan, ”Karena itu cukup baik untuk melepaskan dirimu dari kemurkaan dan kejengkelan, karena isi buah pelirmu memang harus dibuang secara rutin. Dan karena lelaki setua kita sudah jarang mengalami mimpi basah, maka itu harus dikeluarkan dengan cara sengaja bagaimanapun caranya.”

”Aku telah melakukannya,” kata Sang Shodancho, ”bahkan nyaris dengan lubang bokong anjing segala.”

”Asal tidak dengan lubang botol.”

Keduanya kemudian bersepakat bahwa kunci jawaban kebahagiaan perkawinan mereka terletak pada waktu dan kesabaran mereka menerimanya meskipun waktu begitu lambat bergerak. Paling tidak Maman Gendeng harus hidup dalam penantian sampai istrinya telah cukup dewasa untuk disetubuhi. Aku belum tahu kapan, Shodancho, kata Maman Gendeng, dan bukankah yang kau perlukan juga adalah waktu yang merangkak, karena cepat atau lambat seorang perempuan biasanya bertekuk lutut pada kesabaran. Setidaknya itulah yang sering diceritakan orang­orang bijak yang telah bergaul dengan banyak perempuan dan telah menaklukkan banyak di antara mereka. Maka jika kau bersabar, mungkin kau akan memperoleh buah kesabaranmu. Pada akhirnya istrimu, perlahan­lahan bagai lubang di batu yang dibuat oleh tetesan air, menyerah pada kekeraskepalaannya sendiri dan sebaliknya mulai jatuh cinta kepadamu. Kau tak perlu membujuk­rayu dirinya untuk membuka pelindung kemaluan itu karena ia akan membukanya sendiri untukmu pada suatu malam. Percayalah itu akan terjadi, Shodancho, karena tak ada perempuan yang begitu keras kepalanya sampai mati sebagaimana tak ada lelaki seperti itu.

Kata­kata bijak Maman Gendeng yang aneh tersebut, yang diam­

diam masih ia benci karena dendam lama yang menyakitkan, sungguhsungguh telah menghibur hati Sang Shodancho, sehingga sejenak ia bisa melupakan bagaimana kenikmatan tidur bersama istri sendiri, kecuali pada satu kenangan manis ketika ia memerkosanya di gubuk tempat markas gerilya.

Berbeda dari Sang Shodancho, Maman Gendeng sama sekali tak terpikirkan olehnya untuk memerkosa istrinya sendiri. Mungkin jika ia memintanya, Maya Dewi akan membuka pakaiannya dan berbaring di atas tempat tidur menunggunya melompat dalam keadaan telanjang. Tapi tidak, ia tak bisa melakukan kejahatan seperti itu pada seorang gadis yang di matanya masih terus terlihat begitu mungil. Si bungsu yang manis, begitu biasanya ia menyebut Maya Dewi ketika ia dulu masih merupakan kekasih Dewi Ayu. Ia berpikir, satu­satunya tugas terpenting sebagai seorang suami sekarang ini adalah memastikan bahwa istrinya hidup berbahagia, membiarkan dirinya melatih diri sendiri bagaimana menjadi seorang istri yang baik. Dan lihatlah betapa aku bangga pada istri kecilku, katanya selalu pada para sahabatnya, karena pada umur dua belas tahun ketika aku mengawininya ia telah pandai memasak dan menjahit dan membereskan rumah dan pekarangan, sehingga ketika kedua pembantu itu minggat untuk kawin kami tak merasa perlu dibuat repot. Bagaimanapun Dewi Ayu memang telah melatih anak­anaknya sejak bertahun­tahun sebelumnya, mungkin sejak orok. Maka lihatlah, sepulang sekolah, kini ia semakin sibuk menerima pesanan kue­kue dari tetangga untuk pesta ulang tahun anak mereka. Ia membuat kue­kue demikian indah dan cantik dan manis dan enak, itu diakui Maman Gendeng yang diam­diam sering mencuri cicip di dapur.

Desas­desus bahwa ia pandai membuat kue dengan cepat menyebar di antara tetangga, sehingga di akhir empat tahun perkawinan mereka, Maya Dewi telah memiliki dua pekerja: dua orang gadis dua belasan tahun yang ia bawa karena mereka yatim piatu. Dari hari ke hari mereka akan sibuk dengan adonan tepung dan oven dan cetakan kue.

Kesibukannya tak pernah membuatnya lalai memperhatikan segala yang dibutuhkan suaminya, itulah yang membuat Maman Gendeng demikian bahagia. Tapi ia tetap tak juga menyentuhnya. Ia tak mau merampas kebahagiaan masa kecil istrinya dengan menyuruh Maya Dewi telanjang di atas tempat tidur. Sebab meskipun sejak kecil ia tinggal bersama seorang pelacur paling terkenal di kota itu, ia bahkan mungkin belum pernah memikirkan persetubuhan macam apa pun. Terutama setelah ia mendengar apa yang terjadi pada kedua anak pertama Sang Shodancho, ia merasa yakin memang tak pantas melakukan pemaksaan apa pun pada seorang perempuan. Bahkan meskipun itu adalah istrinya. Demikianlah Maman Gendeng begitu bangga pada kesabaran hatinya, bertahun­tahun tak bercinta dengan perempuan mana pun kecuali dengan tangannya sendiri di kamar mandi, sekitar sekali seminggu pada hari­hari yang tak tertahankan, atau sebulan sekali pada hari­hari yang penuh pertahanan diri. Sentuhan pada istrinya mungkin hanya sebatas ciuman di dahi menjelang ia tidur atau saat ia akan pergi ke sekolah, kadang­kadang duduk saling berpelukan waktu mereka nonton di bioskop, dan membopongnya ke tempat tidur jika istrinya tertidur di sofa. Bahkan ia belum pernah melihatnya telanjang bulat. Tetap bertahan dalam kesabaran misterius seorang lelaki yang dahulu adalah pendekar pengembara yang memandang musim berganti musim dengan

ketenangan seorang penanti. ”Aku akan berhenti sekolah,” kata Maya Dewi suatu ketika, mengejutkan Maman Gendeng. Waktu itu Maya Dewi telah menjelang berumur tujuh belas tahun. Alasannya sangat tegas dikatakan Maya Dewi, bahwa ia ingin mengurus rumah dan suaminya dengan lebih baik.

Meskipun Maman Gendeng bisa membantah bahwa selama ini rumah dan dirinya telah terurus dengan baik, bahkan mungkin jauh lebih baik daripada yang pernah dilakukan perempuan­perempuan lain di seluruh kota sebab terbukti banyak suami melarikan diri ke rumah pelacuran Mama Kalong, Maman Gendeng menerima saja apa yang diputuskan istrinya dan tidak melihat hal itu sebagai hal buruk. Terutama karena di mata istrinya ia melihat keyakinan yang tak tergoyahkan tentang gagasannya berhenti sekolah.

Hingga ketika malam datang, sebagaimana biasa Maman Gendeng masuk ke kamar istrinya untuk mengucapkan selamat malam dan mengecup dahinya serta menyelimutinya. Ia menemukannya tengah berbaring di atas tempat tidur dengan seprei berwarna merah muda dengan wangi bunga mawar di udara kamar. Maya Dewi telanjang bulat di sana, di bawah lampu yang berpendar muram, tersenyum padanya dan berkata:

”Sayang, aku adalah istrimu dan aku sudah cukup dewasa untuk menerimamu di atas tempat tidur,” katanya sebelum melanjutkan, ”peluk dan bercintalah denganku malam ini, sebab ini malam terindah yang akan kita miliki, malam pertama setelah lima tahun terlambat.”

Pada umurnya, ia sungguh­sungguh demikian cantik, warisan kecantikan ibunya, dengan rambut yang mengembang di atas bantal, dengan buah dada yang mencuat terang­gelap di bawah temaram lampu, sementara kedua tangannya jatuh di atas tempat tidur di samping tubuhnya. Pinggulnya begitu indah dan kuat, dengan sebelah kaki sedikit terangkat tertekuk. Maman Gendeng tergagap sejenak melihat pemandangan yang demikian memukau itu. Demi Tuhan ia tak pernah menyadari penantiannya selama lima tahun akan menghadiahinya anugerah yang luar biasa seperti ini, seolah­olah ia telah melakukan perjalanan jauh dan memperoleh permata paling indah di dunia.

Lalu bagaikan didorong oleh kekuatan gaib yang tak kuasa ditolak, ia bergerak mendekat, menjulurkan tangannya menjelajahi petak demi petak tubuh istrinya dalam elusan yang demikian lembut membuat sang istri menggeliat dalam desahan berbisik. Lelaki itu kemudian naik ke atas tempat tidur, tampak tak tergesa­gesa setelah ditempa bertahuntahun penantian, mencium dahi istrinya sebelum mencium pipi dan bibirnya dalam ciuman panjang yang panas membara. Maya Dewi membuka pakaian lelaki itu dalam gerakan halus membuat lelaki itu tak menyadari bahwa kemudian mereka telah sama­sama telanjang.

Mereka larut dalam malam pertama yang meriah dan nyaris tanpa akhir, berlalu hingga berminggu­minggu setelah itu. Mereka nyaris tak pernah keluar rumah bagaikan pengantin baru sesungguhnya, bercinta dari senja sampai pagi dan dari pagi hingga senja. Hanya keluar kamar untuk makan dan minum dan ke kamar mandi dan menghirup udara segar sebelum kembali ke tempat tidur. Mereka masih menjalani bulan madu yang hebat itu di awal bulan Oktober yang hujan dan berdarah di Halimunda, sehingga bahkan mereka tak pernah tahu apa yang telah terjadi.

Alamanda adalah orang terakhir yang mendengar berita tertangkapnya Kamerad Kliwon dan rencana eksekusinya pada pukul lima dini hari. Berita tersebut diembuskan angin yang menerobos melalui jendela sementara ia berbaring di kamar menanti suaminya pulang. Ia nyaris tak pernah keluar rumah sejak suaminya, Sang Shodancho itu, disibukkan oleh urusan awal Oktober yang aneh dan begitu tiba­tiba. Alamanda telah dibuat menggigil membayangkan bahwa laki­laki yang diam­diam masih dicintainya itu akan mati pada dini hari, mungkin di depan sederet regu tembak, mungkin digantung, mungkin ditenggelamkan dengan pemberat batu. Atau mati diadu dengan ajak.

Ia duduk di ujung tempat tidur dengan selimut melilit, sementara matanya menatap tajam pada jam di dinding, melihat jarumnya bergerak perlahan­lahan namun pasti suatu waktu akan mengakhiri hidup bekas kekasihnya, mati atas perintah laki­laki yang kini menjadi suaminya. Mungkin bahkan Sang Shodancho sendiri yang akan melakukan eksekusi tersebut.

Deretan­deretan nostalgia seketika bermain di dalam benaknya, dan ia mulai menangis pada perasaan terasing seperti itu. Seorang diri di dalam kamar dan ia tiba­tiba begitu merindukan dekapan seorang lelaki: tapi sebaliknya, ia bahkan ditinggalkan laki­laki yang selama ini selalu mendekapnya (dan ia menerimanya dengan cara dingin) karena disibukkan oleh huru­hara paling melelahkan setelah perburuan babi. Sementara laki­laki lain yang jauh lebih ia harapkan berada di atas tempat tidurnya untuk mendekapnya mengusir udara dingin yang menggigilkan, bahkan tak berdaya menentang kematiannya sendiri.

Bagaimanapun, ia adalah salah satu dari banyak orang yang tak akan menerima eksekusi dilakukan terhadap lelaki itu: Kamerad Kliwon. Tak peduli bahwa ia pernah membakar tiga buah kapal penangkap ikan suaminya, memasukkan banyak remaja yang tergila­gila rock and roll ke dalam tahanan kota, sebab baginya dan bagi banyak orang, lelaki itu mungkin Halimunda dan begitu pula sebaliknya. Pada suatu masa ia telah membuat citra yang baik untuk kota ini daripada sekadar reputasinya sebagai gudang tempat pelacuran dan kota tempat para bandit dan veteran berkumpul. Itu masa­masa ketika lelaki itu masih sekolah, ia menjuarai berbagai lomba ilmu hitung dan ilmu alam. Ia bahkan secara aneh pernah menjuarai lomba puisi di tingkat provinsi.

Dan setiap gadis di Halimunda, juga termasuk Alamanda, akan membawa benaknya ke bayangan laki­laki itu setiap kali mereka mengenang kota ini. Mengenang peristiwa­peristiwa indah yang pernah terjadi. Dan selama kariernya sebagai seorang komunis, Alamanda yakin tak seorang pemimpin Partai Komunis pun lebih populer di kota­kota kelahiran mereka daripada Kamerad Kliwon di Halimunda. Tapi dini hari ini ia akan mati, mungkin di depan sederet regu tembak, dan doa mulai mengambang di udara kota dari mulut­mulut orang­orang yang berharap bisa menghentikan hukuman tersebut, namun mereka tak berdaya melakukannya. Hanya Alamanda yang tampaknya masih memiliki kekuatan untuk menghentikan pembunuhan laki­laki tersebut: perempuan itu memegang kuncinya.

Pukul setengah lima dini hari, Sang Shodancho akhirnya muncul di rumah. Ia tampaknya hendak beristirahat sebentar sebelum menyaksikan eksekusi terhadap musuh paling menjengkelkannya dijalankan. Namun bagaimanapun ada perasaan tertentu di mana ia merasa menyesal harus membunuh lelaki sekuat itu. Diam­diam ia harus mengakui kekagumannya kepada orang tersebut, satu kekaguman tulus dari seorang musuh sebagaimana ia menaruh hormat pada Maman Gendeng, dan kembali ia menyesal harus kehilangan orang seperti itu. Ia melemparkan revolver ke atas tempat tidurnya, senjata yang sedianya hendak ia pakai untuk ikut membunuh komunis gila satu itu, lalu membaringkan diri di atas tempat tidur dalam kepenatan tanpa menyadari bahwa Alamanda masih duduk menggigil di sudut tempat tidur.

”Katakan, Shodancho, ia akan mati pukul lima dini hari ini, kan?” tanya Alamanda tiba­tiba dari kegelapan.

”Ya,” jawab Sang Shodancho tanpa menoleh.

”Akan kubuka mantra itu dan kuberikan cintaku untukmu jika kau menjamin bahwa laki­laki itu akan hidup,” kata Alamanda lagi, dengan suara nyaring dan penuh kepastian.

Sang Shodancho tiba­tiba bangun dan duduk memandang istrinya dalam kegelapan kamar. Keduanya saling memandang sejenak dalam satu transaksi paling aneh antara sepasang suami istri.

”Aku serius, Shodancho.”

”Transaksi yang cukup adil,” kata Sang Shodancho, ”meskipun itu membuatku sangat cemburu.”

Demikianlah Kamerad Kliwon melewati malam itu tanpa sebutir peluru pun bersarang di tubuhnya. Sang Shodancho tak berkata apa pun lagi pada istrinya. Ia hanya berdiri mengambil revolvernya kembali, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah tegap seolah ia memperoleh pasokan energi luar biasa. Ia pergi ke markas rayon militer tempat Kamerad Kliwon ditahan dan menemui regu tembak yang tampak sedang mengelap senapan­senapan mereka dalam satu kebanggaan bahwa setengah jam lagi mereka akan membunuh mangsa paling besar dalam sejarah karier militer mereka, jika bukan sepanjang hidup mereka. Sang Shodancho menemui pemimpin regu tembak tersebut dan mengatakan apa maunya.

Yang terjadi adalah bahwa Sang Shodancho mengejutkan seluruh anak buahnya, baik yang sedang berjaga­jaga dan terutama para anggota regu tembak yang telah dibuat tak sabar oleh jadwal ketat. Ia berkata bahwa tak seorang pun boleh membunuh lelaki itu: Kamerad Kliwon, dan tak seorang pun boleh bertanya apa alasannya. Hal­hal pertanggungjawaban pada para jenderal di komando pusat adalah tanggung jawabnya, dan jika ada salah seorang saja berani membunuh laki­laki itu, ia tak akan segan­segan membunuh pembunuh tersebut dengan revolvernya sendiri (sambil memperlihatkan senjata itu). Ia akan membunuh keluarga pembunuh tersebut tanpa sisa: anak, istri, dan orang tua dan mertua, kakak serta bahkan keponakan, sepupu, paman dan bibi mereka.

Perintahnya demikian tegas dan tak seorang pun berani membantah meskipun otak mereka masih sempat bertanya­tanya apa yang terjadi. Tapi ketika Sang Shodancho hendak pulang kembali ke rumah, ia berdiri di gerbang dan menoleh pada para prajurit yang telah tak tidur sepanjang malam untuk menanti kesempatan eksekusi tersebut. Lama Sang Shodancho memandang mereka sebelum berkata:

”Kalian boleh menghajarnya, namun sekali lagi, jangan sampai mati.

Pukul tujuh pagi ia sudah harus dibebaskan.” Dan ia segera pulang.

Di rumah ia mendapati istrinya berbaring telanjang di atas tempat tidur mereka, persis sebagaimana Maman Gendeng menemukan Maya Dewi beberapa waktu sebelumnya. Udara terasa begitu hangat dan menyegarkan meskipun di luar musim hujan membuat segalanya membeku. Melalui lampu tidur yang berpendar ia melihat lekuk tubuh perempuan yang telah begitu ia kenal, lekuk demi lekuk. Kini perempuan itu berumur dua puluh satu tahun, sangat matang dan menggoda.

Dan Sang Shodancho segera menyadari kamar itu telah dihias menyerupai kamar pengantin. Segalanya menampilkan warna kuning kegemaran Alamanda: dari seprei, selimut hingga kelambu. Ada bunga anggrek dan sedap malam pada vas bunga di meja pojok dan wanginya begitu menyegarkan di hidung. Ini seperti sajian hebat malam pengantin, dengan kamar pengantin, bagaikan pesta yang terlambat lima tahun.

Sang Shodancho dengan sikap malu­malu seorang pengantin baru, berbeda dari kebiasaannya yang serba tergesa­gesa, membuka pakaiannya perlahan­lahan. Kemudian malam pengantin yang terlambat lima tahun itu pun dimulai, diikuti bulan madu yang romantis dan hangat luar biasa. Mereka bercinta malam itu dengan begitu liar dan dahsyat, bermula di atas tempat tidur warna kuning tersebut, lalu bergeser ke lantai saat mereka terguling tanpa sadar, lalu berlanjut di kamar mandi, dan melakukannya di sofa pada saat matahari telah menyorot tajam.

Mereka menutup semua pintu rumah, mengurung para pembantu di dapur, dan melakukannya lagi di ruang tamu diselingi membaca buku­buku porno, kembali lagi ke kamar mandi, dan semuanya dilakukan dalam kejutan­kejutan untuk tetangga dan para pembantu yang bertanya­tanya di dapur karena teriakan­teriakan pendek Alamanda serta dengusan Sang Shodancho. Mereka melakukannya hingga tiga kali ejakulasi di malam yang sempit itu, tapi memuaskannya menjadi sebelas kali sepanjang siang: sungguh­sungguh sepasang petarung yang telah dibuat lapar selama lima tahun.

Sebagaimana Maman Gendeng dan Maya Dewi, mereka nyaris tak keluar rumah selama minggu­minggu setelah itu. Tak lagi peduli tentang apa yang terjadi di luar rumah mereka.

Hingga berbulan­bulan kemudian Sang Shodancho mendengar kabar bahwa istri Maman Gendeng tengah hamil tua. Seseorang melaporkan bahwa para preman anak buah Maman Gendeng telah datang ke rumah sahabatnya itu dengan hadiah­hadiah kecil untuk ikut berbahagia bersama keluarga tersebut. Pesta kecil digelar, para preman itu mabuk di halaman belakang, tak peduli pada teriakan Maman Gendeng yang melarang siapa pun mabuk di rumahnya. Mereka bahkan mulai bergelimpangan di lantai hingga Maman Gendeng harus menyeretnya satu per satu dan melemparkannya ke pinggir jalan.

Pada saat itulah Maman Gendeng duduk di kursi beranda memandangi sahabat­sahabatnya yang bergelimpangan di pinggir jalan tersebut dan beberapa di antaranya terhuyung­huyung kembali ke pangkalan mereka di terminal bis. Ia memandang semua itu dalam pandangan gamang antara seorang lelaki yang ingin memiliki satu kehidupan sebiasa mungkin sebagaimana laki­laki berkeluarga yang lain yang pernah ia lihat, dan seorang lelaki yang telah hidup bertahun­tahun dalam keliaran udara terbuka dengan solidaritas para sahabat.

Ia masih laki­laki penuh ambiguitas itu: lelaki jahat di luar rumah, namun lelaki yang begitu baik di dalam rumah, ketika anak mereka akhirnya lahir. Sebagaimana janjinya, ia memberi nama bayi itu Rengganis. Kelak orang lebih banyak memanggilnya sebagai Rengganis Si Cantik karena kecantikannya yang luar biasa. Pada waktu itulah Sang Shodancho muncul untuk ikut berbahagia bersamanya. Shodancho itu berkata dengan penuh ketulusan bahwa ia sungguh­sungguh merasa bahagia melihat sahabatnya kemudian memperoleh seorang anak perempuan yang begitu cantik seperti ibu dan neneknya. Tentu saja ia sempat mengolok­oloknya dengan mengatakan bahwa laki­laki itu akhirnya memperoleh kesempatan malam pertama setelah lima tahun menanti dan terbukti tombaknya masih berfungsi dengan baik. Tak peduli harus beristirahat selama itu kecuali kesempatan­kesempatan konyol di kamar mandi.

Mendengar itu Maman Gendeng yang bengis dan kasar jadi tersipu malu dan bertanya dengan hati­hati bagaimana keadaan Sang Shodancho sendiri.

Sang Shodancho menampakkan senyumnya yang lebar dan berkata, lihatlah aku wahai sahabatku. Kita bernasib mujur dan segala kesabaran ini akhirnya berbuah dengan baik. Istriku tengah hamil tua pula, begitu bulat. Wahai sahabatku, jangan perlihatkan pandangan bertanya­tanya seperti itu sebab aku tak melakukannya sebagaimana dua kehamilan terdahulu. Dua anak telah hilang padahal mereka harusnya lahir sebagai anak­anak yang manis, tapi kuharap kesedihanku akan lenyap kini. Istriku akan melahirkan sesungguh­sungguhnya anak, dan aku bersumpah ia tak akan kalah cantik dari anak perempuanmu ini. Sebab aku telah melakukannya dengan benar, tidak dalam perbuatan terkutuk memerkosa istriku sendiri. Kami melakukannya sebagaimana pengantin­pengantin muda lainnya, meskipun agak malu­malu tapi hangat dan bergelora dan tulus dan penuh cinta.

Ia masih melanjutkan: kau pasti terkejut mendengar itu, wahai

sahabatku. Begitu pula aku, soal keterkejutan ini, ketika suatu malam menjelang pagi menemukan istriku telanjang dan berkata bahwa ia bersedia ditiduri tanpa paksaan apa pun dan selama berhari­hari setelah itu kami menikmati malam­malam bulan madu yang begitu indah. Cerita ini mungkin tak jauh berbeda dengan apa yang kau alami, sahabatku, sebab mungkin dunia telah memberi takdir agar kita bernasib sama.

Kedua lelaki itu tertawa kecil.

Sang Shodancho sama sekali tak mengatakan dan ia menganggap tak ada perlunya Maman Gendeng tahu, bahwa ia memperoleh cinta istrinya dengan cara membayarnya dengan nyawa seorang komunis bernama Kamerad Kliwon.

Untuk kebahagiaan mereka yang melimpah­limpah itu, Maman Gendeng dan Sang Shodancho kemudian bersulang di halaman belakang tempat Maman Gendeng memelihara ikan sambil bercakap­cakap tentang banyak hal, tentang strategi­strategi bermain truf dengan janji bahwa mereka akan bertemu kembali di meja permainan kartu di tengah pasar setelah berbulan­bulan keduanya absen disebabkan bulan madu yang nyaris tanpa akhir itu.

Enam bulan setelah Rengganis dilahirkan, Maman Gendeng membawa anak dan istrinya ke rumah Sang Shodancho setelah ia mendengar bahwa Alamanda hendak melahirkan. Mereka datang tepat pada waktu anak itu muncul dan menangis. Saat itulah Maman Gendeng menjabat tangan Sang Shodancho yang berbahagia melihat anak bayi yang sungguh­sungguh terdiri dari tulang dan daging dan darah dan kulit dan sempurna sebagaimana kebanyakan bayi lain di dunia. Bayi itu seorang perempuan, dan kenyataannya memang tak kalah cantik dari anak musuh sekaligus sahabatnya itu.

Maman Gendeng berkata, ”Selamat, Shodancho, kuharap tidak sebagaimana kita, sebagai sepupu kedua anak gadis ini akan menjadi sahabat baik.”

”Tentu saja,” kata Sang Shodancho.

”Apakah kau telah mempersiapkan sebuah nama?”

”Sebagaimana kedua kakaknya yang lenyap,” kata Sang Shodancho, ”ia kuberi nama Nurul Aini.” Kelak orang lebih suka menyebutnya pendek saja, Ai.

Demikianlah kisah tentang dua orang ayah yang menanti bertahuntahun sejak hari perkawinan mereka untuk memperoleh buah hati masing­masing. Demikian pulalah mengapa keduanya kemudian menjadi dua orang laki­laki yang begitu mencintai anak­anak perempuan mereka sehingga jika mereka kembali bertemu di meja permainan kartu truf bersama pedagang ikan asin dan pemotong daging, keduanya kadang datang dengan anak­anak tersebut, dan di sanalah mereka kemudian tumbuh bersama­sama. Mereka akan membiarkan anak­anak itu mengacak­acak kartu di tengah permainan atau membuang begitu saja uang­uang logam taruhan mereka. Dan dengan semakin aneh, persahabatan Maman Gendeng dan Sang Shodancho semakin erat dengan kehadiran dua gadis tersebut.

Sementara itu, dua belas hari setelah kelahiran Nurul Aini, sepupu yang lain dilahirkan. Ia seorang bayi laki­laki, anak Adinda, dan ayah bocah itu memberi si bayi nama Krisan. Ini adalah kisah yang lain, keluarga yang lain, nasib yang lain. Berawal jauh berbulan­bulan ke belakang, kembali ke hari ketika Kamerad Kliwon hendak dieksekusi di waktu dini hari. Jika eksekusi itu sungguh­sungguh dilakukan, Krisan tak mungkin dilahirkan. Tapi demikianlah nasib, Kamerad Kliwon tak pernah sungguh­sungguh dieksekusi, sebagaimana kemudian diketahui banyak orang, setelah Alamanda membeli nyawanya dengan penyerahan diri pada Sang Shodancho. Waktu itu tak seorang pun tahu bahwa ketiga sepupu yang dilahirkan tersebut, cucu­cucu Dewi Ayu, akan membawa pada tragedi paling menyakitkan bertahun­tahun kelak.

Mereka melalui kehidupan yang sunyi itu dengan sangat berbahagia: Kamino dan Farida. Kamino berbahagia karena setelah bertahun­tahun ia akhirnya memperoleh seorang gadis yang mau menjadi istrinya, dan tinggal di tengah pemakaman sebagai penunggu dan penggali kuburan. Ia bahkan tak pernah cemburu meskipun istrinya berkali­kali mengatakan, bahwa ia mau kawin dengannya karena ia ingin tinggal dekat dengan kuburan ayahnya.

”Sia­sia cemburu pada orang mati,” kata Kamino, ”kau tak bisa membuat mereka mati dua kali.”

Mereka masih sering memainkan permainan jailangkung itu, memanggil roh Mualimin untuk menemui anak gadisnya. Orang mati itu tampaknya bahagia bahwa Farida memperoleh suami seorang penggali kubur.

”Tak ada yang lebih baik dari penggali kubur,” kata si orang mati, ”mereka melayani orang­orang yang tak lagi butuh dilayani.”

Perkawinan mereka semakin bahagia ketika tak lama setelah perkawinan keduanya, Farida hamil. ”Jika ia lelaki, generasi baru penggali kubur segera tiba,” kata Farida kepada suaminya, ”dan jika ia perempuan, kota ini terancam tak ada seorang pun mau menguburkan mayat.” Begitulah kehidupan mereka berdua. Sehari­hari, kebanyakan mereka hanya berbincang­bincang berdua. Selebihnya berbicara dengan roh­roh orang mati. Sisanya mungkin bicara dengan para peziarah, atau rombongan pengantar jenazah, atau kesempatan­kesempatan langka bertemu tetangga yang jaraknya terhalang perkebunan cokelat dan kelapa.

Selain itu kehidupan mereka juga bisa dikatakan cukup makmur. Selain rumah yang telah disediakan kota untuk mereka, keluarga itu tak pernah kekurangan uang. Setiap hari hampir selalu ada peziarah, dan mereka selalu menyelipkan selembar dua lembar uang ke tangan Kamino. Orang berziarah pada hari ketujuh kematian seseorang, dan berziarah kembali pada hari keempat puluh, berziarah lagi pada hari keseratus kematian, dan pada hari keseribu kematian. Di awal bulan puasa mereka juga melakukan ziarah, dan setelah Lebaran orang­orang kadang berziarah juga. Karena banyak orang dimakamkan di sana, tak akan mengherankan jika setiap hari ada orang berziarah ke sana. Itu membuat kehidupan keluarga itu sesungguhnya tak terlampau sunyi sama sekali. Mereka suka terhibur oleh kedatangan para peziarah tersebut.

Yang agak menjengkelkan mungkin gangguan hantu­hantu penghuni kuburan. Mereka sama sekali tak jahat, tapi nakal. Mereka sering menggoda para pejalan kaki yang terpaksa lewat di tepi kuburan, dengan sekadar suara atau penampakan diri sebagai penjual ubi tanpa muka. Itu sering terjadi, hingga tak banyak orang mau lewat di sekitar tempat itu di malam hari, disebabkan godaan hantu tanpa muka yang mengerikan. Kamino dan Farida sering melihatnya, tapi mereka sudah sangat terbiasa, dan hanya mengusirnya seperti orang mengusir ayam yang masuk ke dapur. Tentu saja ada hantu­hantu jenis lain, namun seperti apa pun bentuknya, Kamino dan Farida telah dibuat kebal oleh godaan mereka. Bahkan kadangkala mereka balik menggoda.

Siang hari, jika tak banyak kesibukan, Farida masih sering duduk sendirian di samping kuburan ayahnya. Ia menempatkan sebuah kursi di sana tempat ia bisa duduk. Namun ketika usia kehamilannya semakin bertambah, duduk sedikit melelahkan, maka ia menggelar tikar dan berbaring di bawah naungan daun­daun kamboja. Ternyata itu tak bertahan lama, sebab angin laut yang sering menerbangkan pasir cukup mengganggu siapa pun yang berbaring di tanah. Maka Kamino membuatkannya ayunan dari anyaman tali yang diikatkan dari satu pohon kamboja ke pohon kamboja lainnya, dan istrinya bisa berbaring di sana sambil memejamkan mata dibuai angin sementara tubuhnya terayun­ayun ringan.

Suatu ketika hal itu menjadi malapetaka. Ketika usia kehamilannya mencapai enam bulan, ia tertidur di ayunan tersebut. Dalam satu mimpi buruk yang mengguncangkan, ia terlonjak dan terpelanting jatuh. Perempuan itu mengalami pendarahan, dan sebelum Kamino yang mendengar suara bergedebuk sampai di tempatnya, ia telah mati. Betapa sedihnya lelaki itu: ia kehilangan istri sekaligus bakal anaknya. Ia akan melalui hari­hari sepi yang sama sebagaimana telah ia lalui bertahun­tahun. Tapi ini akan berbeda, kesepiannya akan jauh lebih menyedihkan, sebab ia pernah memiliki hari­hari penuh kebahagiaan dengan harapan akan punya anak. Ia mengurus sendiri pemakaman istrinya, hanya memberitahu satu dua tetangga disebabkan rasa sedihnya sehingga ia tak sanggup memberitahu lebih banyak orang. Ia memandikan istrinya dengan penuh kasih sayang, dalam kesedihan yang menyayat, dan menyalahkan dirinya karena telah membuat ayunan tali tersebut. Ia bahkan menyalatkan jenazah itu sendirian pula. Rumah penggali kubur itu memiliki cukup banyak stok kain kafan, maka ia mulai membungkus sendiri istrinya dengan kain kafan. Di sore hari ia mulai mencangkul kuburan istrinya, persis di samping kuburan Mualimin sebab ia tahu itulah yang tentunya diinginkan Farida. Ketika malam datang, penggalian itu selesai. Dengan air mata bercucuran, ia membopong mayat istrinya dan meletakkannya di ceruk kecil di dasar galian. Mulai menutupinya dengan papan­papan kecil. Ketika ia mulai menguruk kembali lubang tersebut dengan tanah, tangisannya semakin

pecah dalam ledakan yang memilukan.

Ia tak tidur malam itu, bagaimanapun. Seperti Farida ketika menghadapi kematian ayahnya, Kamino hanya duduk di samping kuburan istrinya tanpa beranjak sedikit pun. Tubuhnya masih berlepotan tanah galian, dan cangkul bahkan masih berdiri di sampingnya. Sampai tiba­tiba ia mendengar tangisan kecil. Tangisan seorang bocah, tidak, seorang bayi. Ia menoleh ke sana­kemari, tapi tak melihat seorang pun. Ia mulai berpikir bahwa itu gangguan dari hantu­hantu kuburan. Tapi ketika suara tangisan itu makin nyata, ia tahu arahnya berasal dari dalam kuburan istrinya.

Bagai orang kesurupan, ia menggali kembali kuburan istrinya. Mengangkat kembali papan­papan pelindung. Mayat itu masih berbaring kaku diselimuti kain kafan, namun di bagian selangkangan ia melihat sesuatu bergerak­gerak. Kamino segera membuka kain kafan tersebut, dan melihat seorang bayi setengah keluar dari kemaluan istrinya, terjepit kedua paha mayat tersebut. Ia menarik si bayi, yang jelas­jelas hidup dan menangis keras, memotong tali pusarnya dengan gigitan.

Itulah anak laki­lakinya. Lahir di dalam kuburan, prematur, namun tampak sangat sehat. Itu seperti anugerah bagi kesedihannya, seperti bingkisan yang manis dari kekasihnya. Ia membesarkan anak itu sendiri, mencintainya, dan memberinya nama Kinkin.

Di hari ketika ia seharusnya telah mati dieksekusi, Kamerad Kliwon ditemukan babak belur di belakang markas rayon militer di pagi hari oleh Adinda yang sengaja datang untuk memastikan jika ia mati paling tidak ia bisa melihat mayatnya. Laki­laki itu, sebagaimana harapan Adinda, telah mengenakan pakaian bersih dan baik (meskipun kini dihiasi percikan darah di sana­sini) yang ia kirim untuknya, karena pada pukul setengah lima dini hari, selepas kepergian Sang Shodancho, ia memang telah mempersiapkan kematiannya dengan tenang. Ia bahkan sempat mandi dan mematut diri di depan cermin yang diberikan seorang prajurit penjaga, dan ia berharap malaikat maut menyukai penampilannya.

”Apakah kau takut menghadapi kematianmu, Kamerad?” tanya

salah satu dari prajurit penjaga sesaat sebelum waktu eksekusinya tiba. ”Hanya tentara yang dipenuhi rasa takut,” kata Kamerad Kliwon,

”sebab jika tidak, mereka tak akan membutuhkan senjata apa pun.”

Pada pukul lima segerombolan prajurit menjemputnya, prajurit yang sedikit marah karena hasrat mereka untuk menembaknya mati terbuang begitu saja disebabkan perintah Sang Shodancho. Dan kemarahan mereka semakin membuncah melihat sikap tenang lelaki itu menghadapi kematian.

”Aku bisa berjalan sendiri menuju kuburanku,” kata Kamerad Kliwon. ”Izinkanlah kami bersusah­payah membawamu ke sana,” kata salah satu dari prajurit­prajurit itu.

Maka mereka menyeretnya pada kedua tangan dengan kaki terjulur ke lantai dalam satu sikap kurang ajar. Prajurit yang lain menendanginya sepanjang lorong tanpa memberinya kesempatan bicara sepatah kata pun. Mereka melemparkannya ke tengah lapangan kecil. Di sanalah ia seharusnya dieksekusi. Jika ia harus mati di depan sederet regu tembak, ia harus berdiri di dekat pagar tembok setinggi tiga meter setengah sementara para penembak akan berdiri berderet di depannya pada jarak sekitar sepuluh meter. Tapi pagi itu tak ada penembakan. Yang ada adalah lampu spot yang menerangi lapangan kecil tersebut, membuat Kamerad Kliwon yang terbaring di tanah dan mencoba bangun silau karenanya. Tubuhnya terasa sakit di semua tempat akibat tendangan sepanjang lorong tadi. Bahkan di ambang kematiannya, ia masih berharap tak ada tulang yang patah.

Ia berdiri dan mulai merasakan bahwa ada darah meleleh di pung­

gungnya, berjalan sedikit sempoyongan menuju dinding tempat ia harus berdiri untuk ditembak mati. Tapi para prajurit itu tak tinggal diam, dengan ganas mereka menghantamnya dengan tinju terlatih, menendangnya kembali dengan sepatu yang terbungkus sepatu lars, dan memukulnya dengan gagang senapan.

”Kalian tak mungkin membunuhku dengan cara seperti ini,” kata Kamerad Kliwon.

Satu tendangan lagi dan ia tak sadarkan diri. Itu mengakhiri semua penyiksaan terhadap dirinya. Prajurit­prajurit itu hanya menjungkirbalikkannya dengan ujung sepatu, dan tak seorang pun berani memukulnya lagi, terutama dalam keadaan tak sadar seperti itu, didorong kekhawatiran ia akan mati. Sang Shodancho telah mengizinkan mereka menyiksanya, tapi tidak membunuhnya, dan mereka tak berani mengambil risiko menentang Sang Shodancho. Akhirnya mereka menyeret tubuh tak sadar itu ke halaman belakang rayon militer. Jika ia mati dicabik­cabik anjing, itu sudah di luar tanggung jawab mereka.

Ketika ia sadar, Kamerad Kliwon menemukan dirinya di atas tempat tidur rumah sakit, dengan tubuh kaku diselimuti pembalut malang melintang di sana­sini. Di sampingnya duduk menanti Adinda, wajahnya demikian cantik dengan senyum begitu tulus, senang melihatnya sadar dan masih hidup.

”Nona ini menyeretmu sampai jalan raya sebelum membawanya ke sini dengan becak, dan kau tak sadarkan diri selama dua hari dua malam, dan nona ini menungguimu terus di sini selama itu,” kata dokter yang berdiri di sampingnya.

Kamerad Kliwon mengatakan terima kasih yang tak terdengar karena mulutnya juga dibungkam pembalut, tapi dari sorot matanya Adinda bisa melihat ia mengatakan demikian, dan ia mengangguk berkata berharap ia bisa sembuh secepatnya.

Itulah laki­laki yang memimpin belasan pemogokan, memimpin lebih dari seribu orang komunis di Halimunda dan ia kehilangan semuanya: lebih dari seribu orang, jumlahnya tak pasti, anggota maupun simpatisan Partai akhirnya mati dan sisanya yang tak begitu banyak masuk ke dalam tahanan, sebagian besar masih di Bloedenkamp. Ia adalah satu­satunya komunis yang masih tersisa bebas di kota itu, kehilangan kontak dengan sahabat­sahabat seperjuangannya, terasing di kota sendiri yang tengah bergerak menuju dunia baru, dunia tanpa orang­orang komunis.

Ia berbaring terasing di rumah sakit itu selama seminggu, ditunggui Adinda dan setiap pagi ditengok Mina. Kadang­kadang kesadarannya yang masih labil membuatnya mengigau memanggil nama temantemannya, semuanya tentu saja kemungkinan besar sudah mati, dan mungkin masuk neraka. Dan di lain waktu ia masih menanyakan korankoran yang tak pernah terbit di awal bulan Oktober, masih terobsesi untuk menerima dan membacanya. Ia masih berpikir semua kekacauan ini berawal dari tak munculnya koran­koran yang ia biasa baca.

Adinda berkali­kali mencoba menjelaskan kepadanya bahwa korankoran itu memang tak terbit pada 1 Oktober, dan tidak juga pada harihari berikutnya. Tapi Kamerad Kliwon bersikeras bahwa koran­koran tersebut terbit, dicetak di percetakan sebagaimana biasa. ”Tapi tentaratentara sialan itu merampas mereka semua.” Jika igauannya sudah mulai melantur, Adinda segera mengompres dahinya yang terserang demam, dan laki­laki itu akan segera terlelap.

”Apakah aku perlu memberi rekomendasi ke rumah sakit jiwa?” tanya si dokter pada Adinda. ”Tak perlu,” kata Adinda. ”Ia sebenarnya waras bukan main, yang gila adalah dunia yang dihadapinya.”

Sepulang dari rumah sakit, secara fisik ia telah cukup pulih, Kamerad Kliwon kembali ke rumah ibunya, menjadi orang yang tak peduli pada siapa pun. Ia mengambil banyak pekerjaan ibunya dan bekerja seorang diri menjahit pakaian­pakaian pesanan. Pekerjaannya serapi pekerjaan ibunya, namun itu ia lakukan lebih karena ia tak mau berhubungan dengan orang lain. Matanya yang cekung terus menunduk memandangi gerakan jarum. Ia telah menjadi laki­laki yang kehilangan kontak dengan realitas kotanya, hanya menyibukkan diri dengan jahitan­jahitan. Dan bahkan jika tak ada kain pelanggan yang harus dijahit, ia akan menjahit apa pun, mulai dari sapu tangan, sarung bantal sampai ketika tak ada lagi kain perca besar, ia mulai mengumpulkan sobekan­sobekan kain perca kecil dan membuatnya menjadi apa pun yang tiba­tiba terpikirkan oleh otaknya.

Karena ia tak mau lagi bicara dengan siapa pun, bahkan tak lagi

keluar rumah, semua orang mulai menganggapnya tak ada sama sekali, mengabaikannya dan kadang­kadang seseorang menggerutu, ”Ada baiknya jika waktu itu ia sungguh­sungguh dieksekusi mati.”

”Kau bahkan mati tanpa dieksekusi,” kata Adinda, yang beberapa kali mencoba menghidupkannya lagi. ”Mungkin benar bahwa kau harusnya dikirim ke rumah sakit jiwa.”

Bahkan ia tak mengatakan apa pun pada Adinda, membuat gadis itu menyerah untuk tidak menemuinya kembali.

Namun suatu pagi tiba­tiba ia keluar dari rumah dengan pakaian rapi, membuat ibunya terkejut dan memandangnya dengan cara aneh ketika ia keluar dari pintu dan melangkah menuju jalan. Dan itu membuat penduduk kota secepat air bah langsung memenuhi jalanan, demi mendengar kabar angin bahwa Kamerad Kliwon yang itu menampakkan dirinya kembali di jalan­jalan kota. Mereka melihatnya melintasi Jalan Pramuka, Jalan Rengganis, Jalan Kidang, Jalan Belanda, Jalan Merdeka dan banyak jalan lainnya. Itu mengingatkan banyak orang pada kerumunan orang­orang yang melihatnya beberapa waktu lalu digiring para prajurit untuk dijebloskan ke dalam tahanan.

Dan sebagaimana ketika ia digiring para prajurit, ia berjalan dengan keacuhan yang luar biasa. Menganggap para penonton yang berjejalan itu tak lebih sedang melihat karnaval kota yang secara imajiner ia bayangkan mengiringinya di belakang. Kenyataannya memang ada orang­orang, dan jumlahnya semakin banyak, mengikutinya di belakang didorong rasa penasaran ke mana ia akan pergi. Beberapa yang lain hanya berdiri di jendela­jendela mereka jika rumahnya di pinggir jalan.

”Jika boleh tahu, ke mana kau akan pergi?” tanya seseorang. ”Ujung jalan,” jawabnya pendek.

Itu kalimat pertamanya setelah ia keluar dari rumah sakit, dan orang­orang mendengarnya dalam satu sensasi seolah mendengar seekor orangutan bicara. Banyak di antara mereka berpikir bahwa ia akan menuju markas Partai Komunis lama yang telah menjadi puing­puing sisa pembakaran dan ia akan memproklamasikan kembali berdirinya Partai Komunis. Beberapa orang menduga ia akan bunuh diri menenggelamkan diri ke laut, tapi semuanya serba tak pasti maka mereka terus mengikutinya. Sungguh­sungguh seperti iring­iringan karnaval.

Ketika ia melewati alun­alun kota, orang dibuat terpukau ketika ia tiba­tiba memetik setangkai bunga mawar dan menciumi harumnya demikian syahdu, membuat banyak gadis nyaris tak sadarkan diri melihat pemandangan tersebut.

Setelah satu bulan mengurung diri di dalam rumah, kini ia tampak lebih gemuk daripada ketika ia memimpin Partai Komunis, dan tentu saja tampak sangat sehat. Meskipun sebelum ini mereka melihat matanya di relung yang cekung tampak lelah dan depresi, namun ketika mereka melihatnya mencium bunga mawar tersebut tampak sekilas mata yang berbinar, yang dahulu kala membuat banyak gadis mabuk kepayang. Gadis­gadis itu kini mulai berharap bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju rumah mereka dalam satu usaha rekonsiliasi, nostalgia, atau apa pun namanya. Menjalin kembali kisah cinta mereka yang dahulu pernah terjadi, atau yang belum sempat terjadi. Dan kini semakin banyak orang berjalan di belakangnya dalam satu kepenasaran yang sama.

”Jika boleh tahu, untuk siapakah bunga itu, Kamerad?” tanya seorang gadis dengan bibir bergetar menahan gejolak di hatinya.

”Untuk anjing.” Dan ia melemparkan bunga mawar itu pada seekor anjing kampung yang secara kebetulan lewat.

Banyak gadis patah hati, dan semakin patah hati ketika ia ternyata pergi ke rumah Adinda yang waktu itu telah berumur dua puluh tahun, dengan kecantikan yang diwariskan ibunya sebagaimana diperoleh kedua saudaranya yang lain. Dewi Ayu yang terkejut dengan kemunculannya mempersilakan laki­laki itu masuk, sementara ratusan orang yang dibuat penasaran berjubel di halaman depan rumah, berdesakan di balik kaca­kaca jendela untuk mendengar dan mengetahui apa yang akan terjadi. Bahkan Sang Shodancho dan Alamanda yang telah lima tahun tak bertemu mertua dan ibu mereka menyempatkan datang dan berdesakan dengan orang­orang tersebut, melupakan sejenak bulan madu mereka yang hangat bergelora, demi mendengar kabar bahwa Kamerad Kliwon datang ke rumah Dewi Ayu. Orang­orang masih bertanya­tanya apakah ia datang untuk Adinda atau Dewi Ayu, tak seorang pun bisa memastikan. Ia tampaknya masih orang paling populer yang sama sebagaimana tahun­tahun sebelumnya, dan orang menantikan drama apa lagi yang akan ia mainkan. Paling tidak ia telah memerankan lelaki paling dicintai di kota itu, sekaligus paling dibenci.

”Selamat siang, Nyonya,” kata Kamerad Kliwon.

”Selamat siang. Aku bertanya­tanya kenapa kau tidak mati dieksekusi,” kata Dewi Ayu.

”Sebab mereka tahu kematian terlalu menyenangkan untukku.” Dewi Ayu tertawa kecil mendengar nada ironi dalam kalimatnya.

”Apakah kau ingin segelas kopi buatan anak gadisku, Kamerad? Kudengar kalian begitu akrab di tahun­tahun terakhir.”

”Anak gadis yang mana, Nyonya?” ”Hanya tertinggal satu. Adinda.”

”Ya, terima kasih, Nyonya. Aku datang untuk melamar Adinda.” Gemuruh keributan mengambang di atas orang­orang yang berkeru­

mun itu, terkejut oleh lamaran tersebut, dan tentu saja ada lebih banyak gadis yang patah hati. Bahkan Alamanda dibuat menangis mendengar hal itu, antara rasa haru seolah dirinya yang dilamar, dan rasa cemburu menyadari kenyataan bahwa adiknyalah yang memperoleh anugerah tersebut. Lebih dari siapa pun, Adinda yang diam­diam mendengarnya dari balik dinding ruangan merupakan yang paling terkejut mendengar lamaran mendadak Kamerad Kliwon, dan ia yang sesungguhnya dalam perjalanan dengan nampan di tangan berisi dua gelas kopi terpaksa berhenti di belakang dinding tersebut, beruntung bahwa gelas­gelas kopinya tak jatuh ke lantai.

Ia duduk di sana, bingung dalam kebahagiaan dan keterkejutan. Dewi Ayu yang telah mengalami hidup paling pahit di antara mereka tampak lebih bisa menguasai diri, tersenyum dalam sikapnya yang manis.

”Aku harus menanyakan hal itu pada anakku sendiri.”

Lalu Dewi Ayu pergi ke belakang. Karena rasa malu, Adinda tak mau muncul terutama ketika ia menyadari ada banyak orang berkerumun di luar rumah. Namun ia mengangguk pada ibunya dengan penuh kepastian. Dewi Ayu kembali menemui Kamerad Kliwon dan duduk di depannya, membawa nampan berisi kopi yang tadi dibawa Adinda. ”Ia mengangguk,” katanya pada Kamerad Kliwon, dan tertawa kecil melanjutkan, ”Kau akan jadi menantuku. Satu­satunya menantu yang

belum pernah meniduriku.”

”Aku nyaris berharap, Nyonya,” kata Kamerad Kliwon dengan sedikit rona malu.

”Sudah kuduga.”

Kamerad Kliwon akhirnya mengawini Adinda pada akhir bulan November tahun itu juga dalam satu pesta perkawinan meriah yang semuanya ditanggung atas biaya Dewi Ayu. Mereka memotong dua ekor sapi gemuk, empat ekor kambing, entah berapa ratus kilo beras, kentang, buncis, mie, telor dan ratusan ekor ayam. Pada awalnya Kamerad Kliwon berharap mengadakan pesta perkawinan sesederhana mungkin karena ia tak memiliki banyak uang kecuali sedikit tabungan yang ia peroleh di masa­masa masih sering menangkap ikan. Tapi Dewi Ayu menginginkan satu perkawinan yang meriah karena Adinda adalah anaknya yang tersisa.

Sebagai mas kawin Kamerad Kliwon memberi Adinda sebuah cincin yang dulu dibelinya di Jakarta dari hasil kerja sebagai tukang foto keliling dan sesungguhnya direncanakan sebagai mas kawin jika ia kawin dengan Alamanda. Adinda mengetahui belaka asal­usul mas kawin itu, tapi ia bukanlah seorang gadis yang demikian pencemburu, sebagaimana sering dituduhkan Alamanda dahulu kala. Bahkan ia memperlihatkan kebanggaan yang tak dibuat­buat bahwa akhirnya mas kawin itu melingkar di jari manisnya. Mereka menghabiskan bulan madu di sebuah penginapan di daerah teluk yang disewa Dewi Ayu untuk mereka.

Bahkan Dewi Ayu membelikan pengantin baru tersebut rumah di kompleks perumahan yang sama dengan Sang Shodancho. Begitu dekat rumah mereka hanya terpisah oleh satu rumah. Sementara itu Kamerad Kliwon membeli sepetak sawah dan ladang, dan ia mulai menggarap tanah itu seorang diri. Ia membuat kolam di ujung ladangnya, dan menaburinya dengan benih ikan, memberinya dedak setiap pagi sebagaimana ia melempari ikan­ikan itu dengan daun singkong dan daun pepaya. Di sawah ia menanam padi sebagaimana orang lain. Adinda harus belajar agak banyak untuk hidup sebagai petani, karena ia tak pernah bersentuhan dengan lumpur sawah sekalipun, namun jelas ia sangat bahagia.

Biasanya Kamerad Kliwon akan pergi pagi­pagi sekali, sebagaimana para petani, ke sawah mereka. Ia menengok saluran air, mencabuti rumput­rumput liar, memberi makan ikan, dan menanam kacang­kacangan di pematang sawah. Adinda mengurusi semua urusan rumah, dan menjelang siang, setelah semua urusan itu selesai, Adinda akan menyusul pula ke ladang sambil menenteng keranjang berisi sarapan pagi. Mereka akan makan bersama di gubuk tanpa dinding yang dibangun Kamerad Kliwon di pinggir sawah, dan sepulangnya keranjang itu akan berisi daun singkong muda dan ubi.

Pada bulan Januari tahun berikutnya, Adinda yang memeriksakan dirinya ke rumah sakit memperoleh kepastian bahwa ia hamil. Berita itu tak hanya membuat keduanya berbahagia, namun semua yang mengenal mereka ikut berbahagia. Alamanda adalah orang pertama yang secara langsung menemui mereka untuk mengucapkan selamat. Waktu itu ia pun sedang hamil, dan Nurul Aini belum lahir. Ia datang ketika pasangan itu tengah bersantai di beranda rumah melihat bunga­bunga yang ditanam Adinda bermekaran demikian indah. Keduanya sedikit terkejut oleh kedatangannya, sebab meskipun mereka bertetangga, Alamanda tak pernah mampir dan begitu pula sebaliknya. Kamerad Kliwon agak dibuat salah tingkah, namun Adinda segera memeluk kakaknya dan saling mencium pipi.

”Apa kata dokter?” tanya Alamanda.

”Ia bilang, semoga tak jadi pelacur seperti neneknya, dan seorang komunis seperti ayahnya.”

Alamanda tertawa oleh humor Adinda.

”Dan apa kata dokter untuk perutmu?” tanya Adinda.

”Kau tahu, perutku telah menipu dua kali, aku tak terlalu yakin.” ”Alamanda,” kata Kamerad Kliwon tiba­tiba, membuat kedua

perempuan itu sama­sama berpaling memandang ke arahnya dan mendapati laki­laki itu tengah memandang perut Alamanda. Itu membuat wajah Alamanda memucat, ia masih ingat bagaimana dulu Kamerad Kliwon mengatakan bahwa perutnya hanya berisi angin dan angin, seperti panci kosong. Ia khawatir laki­laki itu akan mengatakan hal yang sama, tapi ternyata tidak. ”Aku bersumpah itu bukan panci kosong sebagaimana anak­anakmu yang terdahulu itu,” kata Kamerad Kliwon lagi.

Alamanda memandangnya seolah ia ingin mendengar laki­laki itu mengulang kembali apa yang dikatakannya, dan Kamerad Kliwon mengangguk meyakinkan.

”Ia gadis kecil yang cantik, mungkin lebih cantik dari ibunya, sempurna dan tanpa cacat, dengan rambut hitam legam, serta mata tajam warisan ayahnya. Ia akan lahir dua belas hari sebelum anakku. Kalian bisa memberinya nama Nurul Aini sebagaimana kakak­kakaknya, tapi percayalah ia akan lahir dan hidup dan bahkan menjadi besar.”

Baik Alamanda maupun Sang Shodancho telah dipaksa oleh pengalaman untuk selalu memercayai apa saja kata Kamerad Kliwon, dan betapa berbahagianya mereka mendengar bahwa Alamanda akhirnya sungguh­sungguh hamil dengan jabang bayi meringkuk di rahimnya. Apalagi Kamerad Kliwon mengatakan bahwa bayi itu adalah seorang gadis kecil yang cantik, tanpa cacat, dan yang penting ia sungguh­sungguh akan dilahirkan dan hidup. Meskipun begitu, pengalaman juga mengajari mereka untuk tak memperlakukannya secara berlebihan.

”Demi Tuhan, sebagaimana kata Kamerad itu, ia akan kuberi nama Nurul Aini,” kata Sang Shodancho. Sebagaimana janjinya ketika ia meminta Kamerad Kliwon dibebaskan dari eksekusi itu, Alamanda telah memberikan cintanya dengan tulus pada Sang Shodancho. Cinta itu kini sungguh­sungguh berbuah menjadi jabang bayi di rahim. Mereka, Sang Shodancho dan Alamanda, tampaknya harus segera menghilangkan kecurigaan dua anak yang terdahulu hilang karena dikutuk, dan mulai melihatnya sebagai produk­produk gagal ketidakadaan cinta, karena kini tampaknya akan terbukti, cinta bisa memberi apa yang mereka inginkan.

Sementara itu Kamerad Kliwon yang menyadari tanggung jawabnya semakin bertambah dengan kehadiran jabang bayi di perut istrinya, mulai memikirkan pekerjaan lain selain di sawah dan ladang. Dulu ketika ia masih memimpin Partai Komunis, ia mengumpulkan begitu banyak buku untuk dibaca anak­anak yang mengikuti sekolah hari Minggu selain bacaan bagi anggota Partai. Sebagian besar buku­buku itu tak selamat, dibakar oleh anak buah Sang Shodancho dan orang­orang anti­komunis yang membakar markas mereka. Tapi Sang Shodancho telah menyelamatkan novel­novel silat dan sedikit picisan yang bersih dari kecenderungan ideologi komunis, membawanya ke markas rayon militer untuk bacaannya sendiri dan para prajurit. Suatu hari tak lama setelah kunjungan Alamanda, Sang Shodancho mengembalikan novelnovel silat yang jumlahnya dua kardus itu. Kini dengan buku­buku itu Kamerad Kliwon memulai usaha pertamanya dengan membuka sebuah taman bacaan di depan rumah, sebuah usaha kecil dengan pelanggan kebanyakan anak­anak sekolah tapi membuat Adinda sedikit punya kesibukan dan cukup membuat mereka senang.

Kemudian Nurul Aini akhirnya lahir. Sang Shodancho sedikit terke­

san ketika Maman Gendeng yang mengunjunginya berkata, ”Selamat, Shodancho, kuharap tidak sebagaimana kita, sebagai sepupu kedua anak gadis ini akan menjadi sahabat baik.”

Itu gagasan yang sungguh­sungguh orisinal, membiarkan anak­anak itu tumbuh dalam persahabatan sebagai satu cara menghindarkan perkelahian di antara ayah mereka, permusuhan diam­diam yang berawal jauh ke belakang. Gagasan itu diterima baik Sang Shodancho yang berkata bahwa ada baiknya memasukkan kedua gadis itu, Rengganis Si Cantik dan Nurul Aini, ke taman kanak­kanak dan sekolah yang sama pada waktunya. Dan terpengaruh oleh gagasan seperti itu, ketika akhirnya Adinda melahirkan anak laki­lakinya dua belas hari setelah kelahiran Nurul Aini sebagaimana telah diramalkan Kamerad Kliwon, Sang Shodancho mengatakan kalimat yang dikatakan Maman Gendeng kepadanya meskipun tak sama persis pada Kamerad Kliwon, ”Selamat, Kamerad, semoga tak sebagaimana kita, anakmu dan anakku bisa bersahabat baik dan mungkin berjodoh.”

Anak laki­laki itu diberi nama Krisan oleh ayahnya. Ia mungkin memang telah ditakdirkan berjodoh dengan Nurul Aini, tapi kehidupan selalu bicara lain: ada Rengganis Si Cantik di antara mereka.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊