menu

Cantik Itu Luka Bab 12

Mode Malam
12
Kamerad Kliwon menenteng cangkir kopinya ke beranda dan duduk menanti koran­korannya datang sebagaimana biasa. Ia tak tinggal lagi di gubuk markas Serikat Nelayan. Ia pindah ke markas Partai Komunis di ujung Jalan Belanda sehari sebelum Sang Shodancho berniat membunuhnya. Waktu itu, ia, Sang Shodancho muncul ke gubuk tersebut dan ia tak menemukan siapa pun, bahkan apa pun. Maka ia mengamuk sejadi­jadinya menembak ke segala arah di dalam gubuk tersebut sebelum membakarnya. Itu berakhir dengan tersungkurnya ia di pasir pantai dalam keadaan lelah dan menangis sebelum orang­orang menemukannya dalam keadaan tak sadarkan diri. Kepindahan Kamerad Kliwon bagaimanapun mungkin merupakan nasib baiknya: setelah bertahun­tahun mengabdikan dirinya pada Partai,

kini ia orang nomor satu Partai Komunis di Halimunda.

Itu tanggal 1 Oktober dan ia dibuat gelisah sebab seharusnya koran­koran itu telah datang ketika ia muncul di beranda (ia tinggal di markas Partai). Dengan tangan yang bergetar menahan ketidaksabaran, ia memunguti koran­koran hari kemarin di bawah meja dan membaca bagian iklan sebab di luar itu ia telah membaca semuanya. Tak ada apa pun yang menarik kecuali iklan penumbuh kumis dan bulu cambang serta kredit untuk pembelian mobil buatan Jerman. Ia membuang kembali koran­koran tersebut ke bawah meja dan meminum kopinya sedikit. Ia melongok ke jalan berharap bocah pengantar koran itu akan muncul dengan sepedanya, tapi yang datang ternyata seorang gadis. Itu Adinda.

”Apa kabar, Kamerad?” tanya gadis itu.

”Buruk,” jawab Kamerad Kliwon. ”Koran­koranku belum datang.” Si gadis mengernyitkan dahi. ”Apakah kau belum mendengar sesuatu yang berdarah terjadi di Jakarta?”

”Bagaimana aku bisa tahu jika koran­koran itu tak juga muncul?”

Adinda duduk di sampingnya, meminum kopi Kamerad Kliwon seteguk tanpa memintanya, dan berkata, ”Radio terus­menerus menyiarkan berita yang sama. Partai Komunis melakukan kup dan mereka telah membunuh beberapa Jenderal.”

”Jika koran­koran itu datang, mereka pasti menuliskannya.” Kemudian beberapa orang mulai berdatangan, sebagian besar orang­

orang Partai terpenting. Yang tua maupun muda, kader atau veteran. Kamerad Yono, ia orang nomor satu Partai sebelum Kamerad Kliwon, muncul pertama kali, disusul Karmin dan yang lain­lain. Mereka semua melaporkan hal yang sama, sebagaimana Adinda, dari radio yang mengulang­ulang berita yang sama, bahwa sesuatu yang berdarah telah terjadi di Jakarta.

”Segalanya tampak akan berjalan sangat buruk,” kata Karmin.

”Itu benar,” jawab Kamerad Kliwon, ”kita telah membayar lunas semua langganan koran­koran tersebut, tapi sampai sekarang mereka belum juga datang. Aku harus menempeleng bocah pengantar koran itu karena keterlambatannya yang kurang ajar.”

”Ada apa denganmu, Kamerad?” tanya Kamerad Yono, ”Apakah yang ada di pikiranmu cuma koran­koran itu?”

Kamerad Kliwon balas menatap dengan jengkel. ”Selama bertahuntahun koran­koran itu tak pernah tidak datang, dan sekarang mereka menghilang. Adakah yang lebih buruk dari itu?”

”Dengar, Kamerad,” kata Adinda. ”Tak seorang pun menerima koran hari ini.”

”Tapi aku harus menerima koranku pagi ini.”

”Masalahnya,” kata Adinda lagi. ”Tak ada koran terbit hari ini.” ”Kenapa? Hari ini bukan Lebaran, bukan pula Natal, juga bukan

Tahun Baru.”

Karmin muncul dari dalam markas setelah menghilang sejenak. ”Aku bisa menjelaskan,” katanya. ”Tentara­tentara itu telah menduduki semua kantor koran. Jadi maaf, Kamerad, hari ini kita tak baca koran.” ”Ini lebih buruk dari kudeta,” keluh Kamerad Kliwon, dan meneguk

kopinya sampai habis. Pagi itu bagaimanapun tidak diawali dengan membaca koran. Puluhan orang­orang penting Partai berkumpul dan mengawali pagi dengan rapat darurat. Beberapa laporan datang dari berbagai kota, terutama dari Jakarta. Ada desas­desus bahwa semua pemimpin Partai Komunis pusat akan ditangkap, dan beberapa pembunuhan bahkan telah terjadi terhadap kader­kader Partai. Rapat darurat memutuskan bahwa mereka akan memobilisasi massa dan melakukan demonstrasi besar­besaran. Jika pemimpin­pemimpin Partai di Jakarta sungguh­sungguh telah ditangkap, mereka akan menuntut pembebasan orang­orang itu tanpa syarat. Namun semua informasi masih simpang­siur. Beberapa laporan mengatakan DN Aidit telah dieksekusi mati, yang lain bilang ia hanya ditangkap, beberapa laporan mengatakan ia baik­baik saja. Laporan yang sama kurang jelasnya juga menimpa Nyoto dan nama­nama lain. Tapi apa pun yang terjadi, mereka akan mengumpulkan semua kader dan simpatisan partai. Mereka akan mengumpulkan para nelayan, buruh­buruh perkebunan dan buruh kereta api, para petani, dan para pelajar. Hari itu dan seterusnya akan menjadi hari paling ribut di kota itu di mana mereka akan melakukan mogok massal dan melakukan pertemuan raksasa di jalan­jalan.

Pembagian tugas mulai dijalankan. Beberapa orang segera menyebar

menghubungi sel­sel Partai dan mempersiapkan segala keadaan darurat tersebut. Poster­poster mulai dibuat, bendera­bendera dipersiapkan. Sementara itu Kamerad Kliwon memimpin tim kecil yang terdiri dari lima orang dalam satu rapat tertutup untuk mempersiapkan pasukan bersenjata jika keadaan menjadi sangat buruk. Mereka menginventaris apa yang mereka punya. Masih ada banyak senjata bekas para prajurit gerilyawan revolusioner, dan beberapa anggota mereka terlatih dalam perang sesungguhnya bertahun­tahun lalu. Karmin memperoleh tugas untuk mengorganisir sayap bersenjata ini, dan ia segera menghilang untuk mengumpulkan senjata dan para veteran itu kembali. Kamerad Kliwon dibekali mereka dengan sepucuk pistol, untuk menjaga dirinya sendiri, sebab ia terlalu berharga untuk mati konyol.

Pada pukul sepuluh, massa telah memenuhi sepotong ruas Jalan

Belanda. Mereka adalah para nelayan dan buruh perkebunan. Para petani dan buruh kereta api serta buruh pelabuhan dan para pelajar masih dalam perjalanan. ”Mari kita turun ke jalan,” kata Kamerad Yono.

”Pergilah,” kata Kamerad Kliwon. ”Aku tetap di sini, menunggu koran­koranku datang.”

Tak seorang pun memprotesnya. Mereka mencoba memakluminya sebagai sikap depresi pemimpin Partai yang menghadapi situasi serba darurat ini. Mereka kemudian meninggalkannya, duduk di kursi beranda menunggu koran­koran yang tak akan pernah datang, hanya ditemani si gadis Adinda.

Telah dua tahun ia memimpin Partai di kota itu, dan dua tahun juga menempati markas di ujung Jalan Belanda tersebut. Markas tersebut sebenarnya sebuah rumah besar berlantai dua, dengan bendera Partai berkibar di halamannya bersama bendera Merah Putih. Hampir seluruh dindingnya dicat merah menyala, dengan ornamen palu dan arit dari tembaga tertempel di pintu masuk. Di ruang utama, persis jika seseorang memasuki tempat tersebut, akan tampak foto besar Karl Marx dalam lukisan cat minyak, serta lukisan lain di dinding kiri dalam gaya realisme sosialis Sovyet masa­masa Zdanovisme. Kamerad Kliwon tinggal di salah satu kamar, dan ada beberapa penjaga markas juga tinggal di rumah tersebut. Mereka sesungguhnya memiliki radio serta telepon. Tapi Kamerad Kliown tak suka mendengarkan radio, itulah alasan kenapa ia begitu terlambat mendengar kabar penting tersebut, dan sebaliknya ia lebih menikmati membaca koran.

Sebuah kantor baru dan ia tak lagi pergi melaut di malam hari

karena waktu­waktunya yang semakin sibuk, meskipun ia tak kehilangan kebiasaan untuk bangun pagi­pagi dan duduk di beranda membaca tiga buah koran sambil minum kopi. Tapi koran­koran itu tak datang hari ini dan ia masih mengeluhkannya, meskipun semua orang telah menjelaskan bahwa kantor­kantor koran diduduki tentara dan tinta cetak telah diganti dengan darah orang­orang komunis.

Selama dua tahun memimpin Partai Komunis di kota itu, Kamerad Kliwon berhasil mengorganisir para buruh perkebunan dan para petani dalam serikat­serikat buruh dan tani, dan ia mengorganisir belasan pemogokan yang gemilang. Partai Komunis kota itu mencatat seribu enam puluh tujuh anggota yang aktif membayar iuran, ribuan simpatisan, separuhnya selalu rutin datang pada setiap rapat raksasa di lapangan bola. Mereka memberi kontribusi positif pada setiap pemogokan, dan sebagian lagi datang pada sekolah­sekolah partai yang terus diadakan. Bentrokan terbuka bukannya tak pernah ada; Kamerad Kliwon mengaktifkan kembali para veteran gerilyawan revolusioner di masa perang dan kali ini mereka menyebutnya sebagai Tentara Rakyat. Mereka memiliki senjata dan giat melakukan latihan militer. Memang tak cukup untuk berperang melawan tentara reguler tapi cukup memadai untuk menjaga diri dari segala hal, termasuk tekanan dari perusahaan kereta

api, perkebunan, tuan tanah maupun juragan perahu.

Dua anggota dipecat selama masa itu karena mereka kawin dengan perempuan lain meninggalkan istri dan anak mereka: itu larangan keras dalam disiplin partai, dan tiga yang lain dipecat karena dianggap sebagai pengikut Trostkyis. Dengan sikap­sikap tegasnya, Kamerad Kliwon memperoleh puncak reputasinya. Orang akan selalu mengenang ia sebagai pemimpin Partai Komunis paling kharismatik di kota itu.

”Ini musim hujan,” kata Kamerad Kliwon tiba­tiba.

Adinda menyepakatinya sambil menengok langit: pagi itu cuaca sangat baik, tapi siapa pun tahu hujan bisa tiba­tiba muncul di bulan Oktober. Gadis itu akhirnya berkata, ”Tapi mereka tak akan mundur karena hujan. Kupikir kita dicurangi tentara­tentara itu di Jakarta.”

”Aku khawatir mobil pengantar koran terjebak banjir.”

”Koran tak terbit hari ini, Kamerad,” kata Adinda. ”Dan aku berani bertaruh, koran­koran itu tak akan terbit sampai tujuh hari mendatang, atau bahkan selamanya.”

”Kita kembali ke zaman batu tanpa koran.” ”Kubuatkan lagi kopi agar kepalamu sedikit waras.”

Adinda pergi ke dapur dan membuat dua cangkir kopi termasuk untuk dirinya sendiri. Ketika ia kembali membawa dua cangkir kopi tersebut, ia melihat Kamerad Kliwon berdiri di gerbang depan memandang ujung jalan. Tampaknya ia masih tetap berharap bocah pengantar koran itu akan muncul dengan sepedanya. Ia telah kecanduan membaca koran, dan menjadi sedikit tak waras ketika benda­benda itu tak diperolehnya. Adinda meletakkan cangkir­cangkir kopi tersebut di meja dan duduk kembali di kursinya.

”Kembalilah duduk di tempatmu,” katanya pada Kamerad Kliwon.”Jika kau sudah waras.” ”Yang tidak waras adalah jika kau menemukan satu hari tanpa koran.”

”Lupakanlah koran­koran sialan itu, Kamerad,” kata Adinda mulai kehilangan kesabaran. ”Partaimu dalam masalah besar, dan ia membutuhkan seorang pemimpin yang waras.”

Bagaimanapun sangatlah mengherankan bahwa Partai Komunis bisa menghadapi masalah seserius sebuah kudeta. Di waktu­waktu itu Partai Komunis memperoleh reputasinya yang paling gemilang dalam sejarah kota Halimunda. Itu terjadi terutama sejak nyaris pecahnya perang saudara antara para preman dan prajurit kota, dan terutama sejak Kamerad Kliwon naik memimpin Partai di kota tersebut. Daya tariknya demikian luar biasa untuk menarik begitu banyak kader, dan bahkan simpatisan. Dengan jumlah anggota aktif sebanyak yang dimiliki Partai di waktu­waktu belakangan, itu merupakan angka mayoritas bagi kota sekecil Halimunda. Jika pemilu dilaksanakan kembali di tahun­tahun tersebut, semua orang bahkan percaya Partai Komunis akan memperoleh kemenangan mutlak di kota itu. Mereka bisa menghiasi kota itu dengan segala atribut warna merah, yang bahkan wali kota dan pihak militer tak bisa berbuat apa pun kecuali membiarkan apa pun yang mereka inginkan.

Bisa dikatakan, masa dua tahun di bawah pimpinan Kamerad Kli­

won merupakan masa keemasan Partai Komunis. Mereka bahkan bisa memaksa sekolah­sekolah, termasuk taman kanak­kanak dan sekolah untuk orang­orang cacat, untuk mengajarkan lagu Internationale pada murid­murid. Dan tentu saja juga menempel foto­foto Marx dan Lenin di dinding­dinding kelas, berjejer dengan lukisan pahlawan­pahlawan nasional di masa lalu. Dan pada hari kemerdekaan, harap diingat bahwa di Halimunda itu berarti tanggal 23 September, mereka berparade paling meriah dalam acara serupa karnaval. Penduduk kota itu akan turun tumpah­ruah berdesakan di sepanjang jalan, sementara orangorang komunis itu meneriakkan yel­yel revolusioner. Beberapa orang membacakan sajak ”sama rata sama rasa” yang pernah ditulis Marco Kartodikromo bertahun­tahun lalu, dan yang lainnya mengacungkan poster­poster anti imperialis serta puja­puji bagi Pemimpin Besar Revolusi. ”Ini seperti penyihir kehilangan sapunya,” kata Kamerad Kliwon tiba­tiba.

”Siapa dan apa?” tanya Adinda sedikit terkejut. ”Aku,” jawab Kamerad Kliwon, ”dan koran.”

Itu benar­benar menyebalkan bagi Adinda. Ia tengah berpikir tentang demonstrasi besar­besaran yang tengah dilakukan orang­orang komunis di jalan­jalan Halimunda, sementara mereka berdua masih duduk di beranda markas menunggu koran yang tak mungkin datang. Ia membayangkan demonstrasi itu menyerupai karnaval, sebab arak­arakan orang komunis selalu menyerupai karnaval. Kelak bertahun­tahun kemudian, ia akan segera menyadari, sejak Partai Komunis dilarang ia tak pernah lagi melihat arak­arakan yang menyerupai karnaval itu di jalan­jalan, kalaupun ada tak akan pernah semeriah yang dilakukan orang­orang komunis. Semua kendaraan akan dihias dan semua ruas jalan akan dilalui. Biasanya Kamerad Kliwon ada di tengah­tengah mereka, pada sebuah mobil terbuka dengan topi pet buruh yang diperolehnya dari Kamerad Salim, melambai­lambaikan tangan dan gadisgadis menjerit histeris di pinggir jalan.

Keberhasilan yang dicapai dalam dua tahun terakhir tidaklah diper­

oleh dengan sangat mudah. Partai­partai yang menjadi musuh mereka dibuat bungkam oleh fenomena mereka yang fantastis, dan berdoa semoga pemilihan umum tak akan pernah dilaksanakan dalam waktu dekat. Beberapa partai mencoba berdiri di belakang mereka, mengaku sebagai sesama revolusioner sambil mencoba menunggu orang­orang komunis lengah untuk menikamnya dari belakang. Semuanya tidaklah dicapai dengan begitu mudah, tapi melalui dua tahun kerja yang melelahkan. Ada desas­desus bahwa Kamerad Kliwon telah mengalami dua kali usaha pembunuhan yang misterius. Di suatu malam ia tiba­tiba ditikam oleh seseorang yang segera menghilang tanpa jejak. Seseorang yang lain sempat melemparkan granat tangan ke jendela kamarnya. Tapi ia sehat­sehat saja, dan berkata dalam rapat umum di lapangan bola yang dipenuhi para simpatisan bahwa ia memaafkan siapa pun calon pembunuh tersebut. Ia menyebut mereka sebagai orang yang tak mengerti cita­cita komunisme yang anti penindasan manusia satu atas manusia lainnya. Itu membuat reputasi dirinya, dan juga Partai, semakin meningkat hingga anak­anak kecil pun memuji­mujinya. Yang paling cemas terhadap aktivitas politiknya yang gila­gilaan, bagaimanapun adalah Mina ibunya. Ia melihat propaganda­propaganda dan karnaval­karnaval itu tak lebih dari sekadar hura­hura konyol yang tak jelas maknanya. Ia tentu saja masih teringat pada suaminya yang harus mati dieksekusi Jepang. Mina memang kadang melihat anaknya berpidato di hadapan ribuan massa, meneriakkan ”Ganyang tuan tanah!” yang diulang kerumunan orang­orang dengan semangat, dan ia mulai mengutuk tak hanya tuan tanah, tapi juga rentenir, pemilik pabrik dan juragan perahu dan pejabat­pejabat perkebunan serta perusahaan kereta api. Tentu saja ia juga mengutuk Amerika dan Belanda dan neokolonialisme dengan begitu fasih seolah Tuhan mengatakan itu semua di telinganya dan ia hanya perlu mengulangnya.

Mina akan berkata pada anaknya, setiap kali Kamerad Kliwon pulang ke rumah, bahwa tak baik mengumpulkan terlalu banyak musuh. ”Seorang sahabat sangatlah kurang, tapi seorang musuh adalah terlalu banyak dan kau membuat banyak orang membencimu,” kata Mina dengan penuh rasa khawatir. Kamerad Kliwon hanya akan menenangkan perempuan itu dengan janji bahwa ia tak akan mengalami apa yang telah dialami ayahnya, tersenyum dan meminum teh yang dibuatkan ibunya, sebelum pergi berbaring.

Kekhawatiran Mina meledak dalam kemarahan ketika suatu hari sekelompok anak­anak muda dijebloskan ke dalam tahanan militer atas desakan Partai Komunis. Sang Shodancho menuruti semua desakan tersebut karena itu juga merupakan kebijakan nasional. Mina pergi ke markas Partai dan meledak dalam kemarahan pada anaknya. Waktu itu sekelompok anak­anak muda mengadakan pesta di sekolah dan satu­satunya kesalahan mereka adalah naik ke atas panggung dan memainkan musik serta menyanyikan lagu rock and roll. ”Aku tak bisa membiarkan ini terjadi!” teriaknya di tengah­tengah kantor yang dipenuhi orang. ”Bukankah di masa lalu kau juga menyanyikan lagu­lagu itu dengan gitarmu, dan kalian juga (pada orang­orang yang berkerumun), dan sekarang kalian menyuruh mereka masuk ke dalam tahanan militer kota hanya karena menyanyikan lagu anak­anak itu?”

Tapi disiplin partai telah membuat Kamerad Kliwon tak tergoyahkan

dan sikapnya begitu dingin menghadapi ibunya. Ia hanya membujuk perempuan itu sebelum mengantarnya ke tepi jalan raya, dan meminta seorang tukang becak untuk mengantarnya pulang.

Ia tak berhenti hanya sampai di sana, tapi juga semakin menekan dewan kota, militer dan polisi, untuk mulai merampas piringan­piringan hitam lagu­lagu Barat perusak mental itu dan menjebloskan ke dalam tahanan siapa pun yang memutarnya di rumah. ”Ganyang Amerika dan terkutuklah budayanya yang palsu itu!” teriaknya setiap kali. Sebagai gantinya, Partai mulai mengadakan kesenian­kesenian rakyat secara masif, dan tentu saja dengan selingan propaganda­propaganda Partai sebagaimana biasa. Maka kesenian rakyat yang dahulu di masa kerajaan dan kolonial merupakan kesenian subversif mulai meramaikan Halimunda. Pada ulang tahun Partai mereka memainkan sintren dengan gadis cantik yang bisa menghilang di dalam kurungan ayam dan ketika ia muncul lagi ia telah berdandan semakin cantik sambil memegang palu dan arit (dan penonton bertepuk tangan). Kuda lumping juga dimainkan tak hanya aksi memakan pecahan kaca dan batok kelapa, tapi juga menelan bendera Amerika serta piringan hitam rock and roll yang mesti dimusnahkan, ditelan bulat­bulat.

Keberhasilannya membangun Partai begitu pesat hanya dalam

dua tahun terakhir membuat orang­orang Partai di ibukota menaruh perhatian pada Kamerad Kliwon. Ada terdengar desas­desus bahwa ia diminta untuk masuk menjadi anggota polit biro dan desas­desus yang lain ia adalah calon kuat untuk masuk menjadi anggota Komite Sentral Partai Komunis Indonesia. Karier politiknya tampak cemerlang meskipun ia bukannya tanpa kelemahan. Satu­satunya kelemahan yang disebut­sebut orang adalah bahwa ia tak mempublikasikan tulisan apa pun yang bisa membuatnya dikenal banyak orang meskipun siapa pun yang mengenalnya tahu penguasaan teori dan praksis Marxismenya tak perlu diragukan, terutama di tahun­tahun terakhir. Tapi jelas meskipun tawaran­tawaran itu benar, termasuk satu tawaran gila yang akan membuatnya menjadi anggota Komintern, Kamerad Kliwon tampaknya menolak itu semua dalam satu sikap pembangkangan yang tak terpahami. Ia berjuang bukan untuk karier politik yang cemerlang, katanya, ia berjuang untuk membuat komunisme tumbuh di muka bumi Halimunda, dan karena itu ia tak berharap meninggalkan kota tersebut. Sementara itu telah dua jam ia menunggu koran paginya di beranda ditemani Adinda. ”Awal Oktober yang aneh,” keluhnya seperti tak ditujukan pada siapa­siapa. Dan seperti orang gila, ia mulai menceracau, ”Mungkin bocah itu menabrak pohon.” Ia benar­benar dibuat gelisah oleh ketidakmunculan koran­koran tersebut, seolah ia mengetahui sesuatu yang jauh lebih buruk akan tiba menyusul menghilangnya korankoran pagi tersebut. Ia berdiri dan mulai mondar­mandir, menjelajahi beranda berkali­kali diikuti pandangan Adinda yang ikut menjadi cemas atas keadaan dirinya, lalu mulai melangkah ke halaman kembali dan menengok jalan raya melalui pintu gerbang. Ia masih mengharapkan bocah pengantar koran datang meskipun hari sudah siang.

Beberapa orang mulai berdatangan kembali dan melaporkan keadaan demonstrasi di jalan­jalan. Pihak militer tampaknya telah bersiapsiap di segala penjuru, seluruh prajurit kota itu turun ke jalan yang sama meskipun mereka belum melakukan apa pun, dipimpin langsung oleh Sang Shodancho yang memperoleh kepercayaan begitu besar, serta didorong kebencian pribadinya terhadap Kamerad Kliwon.

”DN Aidit telah ditangkap,” seseorang yang lain melaporkan. ”Nyoto dieksekusi,” laporan lain datang.

”DN Aidit bertemu presiden.”

Semua laporan tampaknya begitu simpang­siur, dan satu­satunya informasi yang bisa didapat hanyalah radio yang sama sekali tak bisa dipercaya, sebab sejak pagi hari mereka melaporkan hal yang sama seolah itu telah direkam dan kasetnya diputar berulang­ulang: telah terjadi kudeta yang gagal dari Partai Komunis karena tentara segera menyelamatkan negara dan mengambil­alih kekuasaan untuk sementara. Laporan baru datang: presiden berada dalam tahanan rumah. Semuanya serba membingungkan.

”Berbuatlah sesuatu,” kata Adinda.

”Apa?” tanya Kamerad Kliwon. ”Bahkan Sovyet dan Cina tak membantu apa pun.”

”Lalu apa yang akan kau lakukan?”

”Aku akan terus menunggu koran­koran itu.”

Keadaan yang simpang­siur membuat aksi demonstrasi dan pemogokan itu direncanakan akan diperpanjang sampai malam, dan siang, dan malam lagi, sampai waktu yang tak ditentukan. Kamerad menerima laporan itu, dan juga memimpin rapat­rapat darurat tentang apa yang harus dilakukan. Tapi sementara orang­orang sibuk menyiapkan dapurdapur umum, dan para veteran yang tergabung dengan Tentara Rakyat bersiap untuk berperang melawan tentara reguler, Kamerad Kliwon tetap tidak turun ke jalan. Ia masih di beranda yang sama, menunggu koran, sampai sore kemudian datang.

”Mungkin besok mereka akan datang,” kata Kamerad Kliwon akhirnya ketika malam telah mulai larut, seperti doa sebelum tidur, atau semacam salam perpisahan pada Adinda. Ia masuk ke kamarnya dan berbaring, sementara Adinda pergi menengok para pemogok di jalanan sebelum pulang ke rumahnya. Ia makan malam sendirian sebab Dewi Ayu telah pergi ke rumah pelacuran Mama Kalong, dan tiba­tiba ia tersadar bahwa sepanjang hari Kamerad Kliwon tak menyentuh makanan apa pun, sebagaimana dirinya, kecuali beberapa cangkir kopi yang terus mereka buat. Ia agak mengkhawatirkan hal itu, dan hampir saja pergi kembali ke markas Partai Komunis di ujung Jalan Belanda untuk mengantarkan makanan, tapi kemudian ia ingat Kamerad Kliwon telah tertidur. Maka ia masuk ke kamarnya, naik ke tempat tidur namun tak juga bisa memejamkan mata. Ia masih mengkhawatirkan keadaan Kamerad satu itu.

Keesokan paginya ia bangun sebagaimana biasa, dan setelah me­

nyiapkan sarapan pagi untuk ibunya yang bahkan belum pulang, ia pergi melihat para pemogok. Lalu dengan tergesa­gesa, membawa sarapan pagi dalam rantang, ia pergi ke markas Partai dan mendapati Kamerad Kliwon telah duduk di beranda dengan secangkir kopi.

”Apa kabar, Kamerad?”

”Buruk,” jawab Kamerad Kliwon, ”mereka belum juga datang.” ”Makanlah, seharian kemarin kau tak makan.” Adinda meletakkan

rantang sarapan pagi di meja di antara mereka berdua. ”Ketidakdatangan koran­koran itu membuatku tak bisa makan.” ”Mereka tak akan datang, aku bersumpah,” kata Adinda. ”Aku telah

dengar sejak kemarin banyak orang melaporkan, koran­koran dilarang terbit oleh tentara­tentara itu.”

”Koran­koran itu bukan milik tentara.” ”Tapi mereka punya senjata,” kata Adinda. ”Kenapa kau mulai berpikir sebodoh itu?”

”Mereka akan muncul dari bawah tanah,” kata Kamerad Kliwon bersikeras. ”Begitulah biasanya.”

Rapat­rapat darurat kembali dilakukan di pagi itu. Ada laporan bahwa gelombang orang­orang anti­komunis mulai mendatangi jalan­jalan pula dan bergerombol di sudut­sudut yang berlawanan. Perang saudara yang dahulu dikhawatirkan akan terjadi karena bentrokan prajurit melawan para preman tampaknya akan terjadi: tapi kini pemerannya adalah orang­orang komunis menghadapi orang­orang anti­komunis. Tentara dan polisi mencoba menjaga kedua kelompok besar itu agar perang saudara tak pecah, meskipun perkelahian kecil dan lemparan­lemparan bom molotov tak juga terhindari. Orang­orang mulai melemparkan batu dari satu sudut ke sudut lain, dan rapat­rapat darurat kembali digelar.

”Semua kekacauan ini berawal dari tidak munculnya koran­koranku,” kata Kamerad Kliwon mengeluh.

”Jangan konyol,” kata Karmin. ”Semuanya terjadi karena pembunuhan tujuh jenderal dini hari dua hari lalu.”

”Dan kemudian koran tak datang keesokan harinya.”

”Kenapa kau begitu peduli dengan koran?” Kamerad Yono akhirnya tak tahan untuk bertanya pula.

”Sebab revolusi Rusia tak akan berhasil tanpa Bolshevik memiliki koran.”

Sejauh ini, itulah keterangannya yang paling masuk akal mengenai koran­koran yang ditunggu Kamerad Kliwon, maka mereka membiarkannya kembali duduk di beranda ditemani Adinda menunggu korankoran tersebut.

Gelombang orang­orang anti­komunis semakin membesar ketika siang datang. Itu sangat mencemaskan orang­orang Partai, kecuali Kamerad Kliwon yang tampak lebih mencemaskan benda­benda bernama koran. Orang­orang itu, gerombolan anti­komunis, mendengungkan apa yang telah dilaporkan radio sejak kemarin bahwa orang­orang komunis telah melakukan kudeta.

Kamerad Kliwon yang masih tak kehilangan selera humornya segera berkomentar, ”Melakukan kudeta dan membreidel sendiri koran mereka.” Bentrokan pertama akhirnya terjadi pada pukul satu. Lemparan batu berubah menjadi perkelahian hebat dengan senjata di tangan. Orangorang itu, dari kedua belah pihak, membawa golok, arit, belati, pedang, samurai, dan apa pun yang bisa melukai serta membunuh bahkan. Rumah sakit segera dipenuhi orang­orang yang terluka, kehilangan tangan dan kaki, dan mulai kewalahan menampung orang­orang. Partai akhirnya membuka posko kesehatan, yang membuat Adinda sibuk bersama paramedis dadakan, tapi tidak membuat Kamerad Kliwon tak bergeming dari tempatnya.

Orang­orang terluka mulai berdatangan ke markas Partai, dan tempat itu menjadi ribut bukan main. Setiap kali seseorang datang, Kamerad Kliwon akan berdiri, bukan untuk menyambutnya, tapi menengok apakah orang itu membawakan korannya atau tidak. Sampai sejauh ini tak ada orang mati, baik orang komunis maupun anti­komunis. Tapi beberapa laporan telah masuk melalui telepon dan kurir­kurir rahasia yang cepat bahwa telah terjadi pembantaian hebat orang­orang komunis di Jakarta. Ada seratus orang mati dibunuh dan sisanya mulai ditangkapi serta dijebloskan ke tahanan. Ratusan orang komunis lainnya mati dan dikejar­kejar di Jawa Timur, dan pembantaian mulai terjadi di Jawa Tengah. Semua orang di markas Partai mulai berfirasat buruk bahwa semua itu akan menjalar sampai Halimunda, dan bertanya­tanya sejauh mana mereka bisa bertahan.

Belum ada kepastian mengenai nasib ketua partai DN Aidit, se­

bagaimana belum ada kepastian apakah Kamerad Kliwon akan memperoleh koran­korannya sebelum seseorang mungkin kemudian membunuhnya.

Tapi akhirnya seseorang terbunuh di sore hari. Orang komunis pertama yang mati di Halimunda. Ia seorang veteran gerilyawan revolusioner bernama Mualimin. Ia salah seorang yang sangat bersetia pada Partai, menguasai ideologi secara teori dan praktek. Seorang pejuang sejati yang berperang dan terus berjuang sejak masa kolonial hingga masa neoliberal. Itulah yang diucapkan Kamerad Kliwon dalam pidato singkat penguburan jenazahnya yang dilakukan saat itu juga. Kamerad Kliwon akhirnya mau keluar dari beranda demi seorang kawan, dan melupakan sejenak urusan koran­korannya. Bagaimanapun, Mualimim seorang komunis muslim. Ia telah lama ingin mati dalam perjuangan, sebab ia menganggap hal itu sebagai jihad. Ia telah menulis wasiat sejak bertahun­tahun lalu bahwa jika ia mati dalam perjuangan, ia ingin dikuburkan sebagai syuhada. Maka ia tak dimandikan, hanya disalatkan dan langsung dikuburkan masih dengan pakaiannya yang lengkap berlumuran darah. Ia tertembak salah seorang prajurit tentara reguler dalam salah satu bentrokan bersenjata di tepi pantai, dan ia satu­satunya orang yang mati sore itu. Mualimin hanya meninggalkan seorang anak gadis dua puluh satu tahun bernama Farida. Mereka sangat dekat satu sama lain sejak matinya ibu si gadis bertahun­tahun lampau. Maka sementara orang­orang mulai meninggalkan tempat pemakaman, Farida masih tinggal di samping kuburan ayahnya. Diam di sana meskipun semua orang membujuknya untuk pulang. Mereka meninggalkannya sendirian, kemudian.

Ini sebuah romansa: ada kisah cinta sementara keadaan kota sedang

dalam keadaan darurat perang.

Penggali kubur sekaligus penunggu pemakaman umum di distrik nelayan adalah seorang pemuda berumur tiga puluh dua tahun bernama Kamino. Ia telah menjadi penggali kubur dan penunggu pemakaman bernama Budi Dharma itu sejak umur enam belas tahun ketika ayahnya mati karena malaria. Tanpa saudara dan sanak famili entah di mana, ia mewarisi pekerjaan ayahnya. Profesi itu merupakan pekerjaan turuntemurun, mungkin sejak kakek dari kakeknya, sebab tak ada orang lain yang menyukai pekerjaan tersebut, dan keluarga tersebut telah terlalu akrab dengan kuburan. Terbiasa dengan kesunyian tempat tersebut sejak kecil, Kamino tak memperoleh kesulitan ketika mengambil alih pekerjaan tersebut dari ayahnya. Ia menggali kubur secepat kucing mempersiapkan lubang untuk buang tai di pasir. Tapi pekerjaan itu memberinya kesulitan lain yang cukup serius: tak ada gadis yang ia kenal dan mau berkenalan dengannya. Dengan begitu tak ada gadis pula yang mau kawin dengannya sebab ia penggali kubur, dan mereka tak mau tinggal di tengah­tengah pemakaman.

Kenyataannya sebagian besar orang Halimunda masih memercayai

tahayul. Mereka masih percaya bahwa setan dan dedemit dan apa pun yang gaib berkeliaran di tempat pemakaman, hidup bersama roh­roh orang mati. Lebih jauh lagi mereka percaya para penggali kubur hidup akrab dengan mereka. Menyadari keadaannya yang sulit, Kamino tak pernah mencoba melamar seorang gadis pun. Hubungannya dengan orang terjadi hanya pada hari-hari pemakaman, dan selebihnya urusanurusan kecil yang biasa dilakukan orang. Ia lebih banyak berada di rumahnya, sebuah rumah beton tua yang lembab dinaungi pohon beringin besar. Satu-satunya kesukaan, dan itu merupakan hiburan untuk hidupnya yang sepi, adalah bermain jailangkung. Ia memanggil roh-roh orang mati, keahlian yang juga diwariskan turun-temurun oleh keluarga tersebut, dan berbincang-bincang dengan mereka tentang banyak hal. Tapi kini, untuk pertama kali, hatinya bergetar melihat seorang gadis yang bergeming duduk bersimpuh di tepi kuburan ayahnya. Gadis itu adalah Farida. Ia telah membujuknya setelah semua orang gagal melakukannya, mengatakan bahwa udara di tempat itu akan menjadi yang paling dingin di kota tersebut jika malam datang, dan sebaiknya ia pulang saja ke rumah. Gadis itu sama sekali tak terlihat takut oleh udara dingin. Maka Kamino mencoba menjelaskan tentang gangguan jin dan dedemit penghuni tempat pemakaman, dan terbukti bahwa si gadis sama sekali tak tergoyahkan. Itu membuat hatinya meluap-luap, dan dalam hati Kamino justru berdoa agar gadis itu sungguh-sungguh keras kepala dan tak akan pulang ke rumahnya, agar setelah bertahuntahun akhirnya ia punya seorang gadis sebagai teman di tempat tersebut. Pemakaman umum Budi Dharma luasnya sekitar sepuluh hektar, memanjang di sepanjang tepian pantai, terlindung oleh perkebunan cokelat dari permukiman penduduk. Dibangun sejak masa kolonial, ia masih menyisakan begitu banyak tempat kosong, hanya ditumbuhi ilalang membuat angin laut kencang berembus ke tempat itu. Ketika malam datang, Kamino kembali menghampiri gadis itu dengan sebuah

lentera menyala yang diletakkannya di atas batu nisan.

”Jika memang tak ingin pulang,” kata Kamino tanpa berani memandang wajah si gadis. ”Kau boleh tinggal di rumahku sebagai tamu.” ”Terima kasih, aku tak pernah bertamu malam-malam seorang diri.”

Jadi gadis itu tetap di sana sementara malam semakin beku, duduk di tanah yang sedikit berpasir tanpa beralaskan apa pun. Merasa kehadirannya sebagai gangguan, Kamino akhirnya meninggalkan Farida kembali, masuk ke rumahnya dan mempersiapkan makan malam. Ia muncul kembali dengan seporsi makan malam untuk gadis itu.

”Kau begitu baik,” kata si gadis.

”Ini pekerjaan tambahan penggali kubur.”

”Tak banyak orang menunggui kuburan untuk kau beri makan malam.”

”Tapi banyak roh orang mati yang kelaparan.” ”Kau berhubungan dengan orang mati?”

Kamino memperoleh celah kecil untuk masuk ke dalam kehidupan gadis itu. Ia berkata, ”Ya, aku bisa memanggilkan roh ayahmu.” Maka itulah yang terjadi. Dengan permainan jailangkung yang diwarisinya turun­temurun, Kamino memanggil kembali roh Mualimin dan membiarkan veteran tua itu masuk merasuk ke dalam dirinya. Kini ia menjadi Mualimin, bicara dengan suara Mualimin, atas nama Mualimin, yang berhadapan dengan anak gadisnya, Farida. Gadis itu tampak senang luar biasa bisa mendengar kembali suara ayahnya, seolah malam itu bagaikan malam­malam yang lain. Mereka terbiasa bercakap­cakap sebentar setelah makan malam sebelum masuk kamar masing­masing untuk tidur. Dan setelah menyelesaikan makan malam yang disodori Kamino, kini Farida mendapati dirinya dalam satu perbincangan dengan ayahnya kembali, bagaikan kematian itu sungguh­sungguh tak pernah ada, hingga ia menyadarinya dan berkata:

”Bagaimanapun kau sudah mati, Ayah.”

”Jangan terlalu dicemburui,” kata si ayah, ”kau akan memperoleh bagianmu kelak.”

Percakapan itu cukup melelahkan si gadis, terutama karena ia telah berada di sana sejak sore, dan itu membuatnya tertidur di pinggir kuburan. Kamino menghentikan permainan jailangkungnya dan masuk ke rumah membawa selimut. Ia menyelimuti gadis itu dengan sangat hati­hati, dalam gerakan­gerakan seorang kekasih yang dimabuk cinta, berdiri memandangi wajahnya yang timbul tenggelam oleh cahaya lentera yang bergoyang­goyang dipermainkan angin melalui celahcelah kecil dinding kacanya. Setelah memastikan gadis itu terlindung dengan baik di bawah selimut dan lentera itu bisa bertahan sampai pagi, Kamino kembali ke rumahnya dan mencoba tidur yang tak pernah bisa. Ia memikirkan gadis itu sepanjang malam, dan tertidur ketika cahaya fajar pertama menerobos celah daun kamboja.

Ia terbangun pada pukul setengah sebelas oleh aroma rempah­rempah dari dapur. Antara sadar dan tidak, ia turun dari tempat tidurnya, keluar kamar dan berjalan ke arah belakang. Penglihatannya belum juga jelas, namun ia melihat seorang gadis menenteng mangkuk dengan uap hangat mengapung ke udara dan meletakkannya di meja makan.

”Aku memasak untukmu,” kata gadis itu.

Ia segera mengenalinya: Farida. Ia terlalu terpukau oleh kenyataan tersebut.

”Mandilah dulu,” kata Farida, ”atau cuci muka. Kita makan bersama.”

Ia seperti seorang lelaki di bawah kendali hipnotis, berjalan masih dalam keadaan setengah sadar ke kamar mandi, hampir lupa mengambil handuk, dan mandi dengan sangat cepat. Ketika selesai, ia telah menemukan gadis itu duduk di meja makan menunggu. Nasinya masih tampak hangat. Di mangkuk yang tadi ia melihat sop kol dan wortel serta makaroni. Di piring ia melihat goreng tempe, dan di piring lain ia melihat ikan layang yang digoreng begitu kering, diiris­iris kecil.

”Aku menemukan semuanya di dapur.”

Kamino mengangguk. Segalanya terasa terlalu ajaib baginya hari itu. Ia belum pernah makan bersama­sama seperti itu sejak bertahun­tahun lalu ketika ia masih kecil dan ayah serta ibunya masih hidup. Kini ia bersama seorang gadis, yang sejak kemarin sore secara diam­diam telah membuatnya jatuh cinta. Hatinya melayang tak karuan, membuatnya makan tanpa berani memandang wajah gadis itu. Hanya sesekali mereka saling melirik, dan jika mata mereka beradu, mereka tersenyum malu bagaikan para pendosa yang tertangkap basah. Mereka duduk saling berseberangan, terhalang meja makan, namun jelas keduanya tampak bagaikan sepasang suami istri, atau pengantin baru yang bahagia.

Kisah cinta itu sedikit terganggu pada siang hari yang sibuk. Lima orang terbunuh pada bentrokan orang­orang komunis dan anti­komunis. Kamino harus menguburkan semuanya. Empat orang komunis dan seorang anti­komunis. Ia segera menyadari mayat­mayat yang akan tiba ke tempat pemakaman itu akan semakin banyak, dan menyadari pula hari­hari kejatuhan Partai Komunis yang tampaknya tak akan terelakkan lagi. Hanya dengan melihat jumlah mereka yang mati. Ia menggali lima kuburan baru, empat di satu pojok untuk orang­orang komunis, dan satu di pojok lain tempat penduduk biasa dikuburkan. Lima orang mati, dengan kerabat mereka masing­masing menangisi kuburan, dan pidato­pidato singkat dari para pemimpin Partai, cukup menyita waktunya hingga sore. Namun sementara ia dibuat sibuk, Farida tidak pergi ke mana­mana. Ia duduk seharian itu di samping kuburan ayahnya, sebagaimana yang ia lakukan kemarin.

”Aku berani bertaruh,” kata Kamino pada Farida setelah pekerjaan selesai dan ia dalam perjalanan ke rumah untuk mandi, ”besok sepuluh orang komunis mati.”

”Jika jumlahnya mulai terlalu banyak,” kata Farida, ”kubur saja mereka dalam satu lubang. Di hari ketujuh mungkin ada sembilan ratus orang komunis mati dan kau tak mungkin menggali kubur sebanyak itu.”

”Aku hanya berharap anak­anak mereka tak sekonyol dirimu,” kata Kamino. ”Untuk memberinya makan aku harus mengadakan perjamuan malam yang meriah.”

”Malam ini, bolehkah aku jadi tamumu?”

Pertanyaan mendadak tersebut begitu mengejutkan Kamino, sehingga ia menjawab hanya dengan anggukan kepala. Farida mempersiapkan makan malam mereka, dan selepas makan malam mereka melakukan permainan pemanggilan roh kembali: tentu saja roh Mualimin dan Farida kembali bisa berbincang dengan ayahnya. Permainan tersebut berlangsung sampai pukul sembilan malam, dan kini waktunya tidur. Farida memperoleh kamar dalam tempat dulu merupakan kamar ayah dan ibu Kamino, sementara lelaki itu menempati kamar yang telah ia huni sejak masa kanak­kanaknya.

Keesokan harinya, dugaan Kamino meleset, meskipun tak terlalu jauh. Pagi­pagi sekali dua belas orang komunis mati. Kali ini tak ada pidato­pidato para pemimpin Partai, sebab keadaan semakin genting. Ada desas­desus bahwa DN Aidit dan para pemimpin Partai Komunis di ibukota telah sungguh­sungguh ditangkap dan dieksekusi. Ramalan Kamino yang terakhir mungkin benar: hari­hari kejatuhan Partai Komunis telah digariskan. Kedua belas mayat orang­orang komunis tersebut dilemparkan begitu saja ke tempat pemakaman. Tak ada sanak famili, dan hanya ada satu pesan dari seorang prajurit yang membawa mayat­mayat itu dengan truk untuk menguburnya dalam satu lubang saja. Nama­nama mereka tak diketahui. Bahkan meskipun ia hanya menggali lubang untuk dua belas mayat, kenyataannya hari itu tetap merupakan hari sibuk bagi Kamino. Ini disebabkan pada siang hari muncul kembali truk militer dan mereka melemparkan delapan mayat lain. Pada sore hari, ia memperoleh tujuh mayat.

Farida masih menunggui makam ayahnya, dan ketika malam ia menjadi tamu Kamino, sementara lelaki itu disibukkan oleh mayat­mayat yang berdatangan. Begitulah selama berhari­hari sampai puncaknya di hari ketujuh sejak Kamerad Kliwon tak memperoleh korannya sebagaimana biasa.

Ramalan Farida mungkin benar.

Sementara sebagian besar simpatisan Partai Komunis telah kocarkacir melarikan diri oleh desakan tentara dan gerombolan anti­komunis, sekitar seribu orang lebih orang komunis masih bertahan di ujung Jalan Merdeka. Sebagian dari mereka masih memanggul senjata bekas perang masa lalu, dengan amunisi yang sangat terbatas. Mereka telah terkepung selama sehari­semalam, tampak kelaparan namun tak pantang menyerah. Toko­toko di sekitar tempat itu telah hancur, jika tak pecah jendela mungkin terbakar hebat. Penduduk di sekitar tempat itu telah mengungsi. Para prajurit tentara reguler mengepung mereka dari kedua arah jalan, dengan senjata lengkap dan amunisi memadai. Komandan mereka telah memerintahkan orang­orang komunis itu untuk membubarkan diri, memberitahukan dengan suara lantang bahwa Partai Komunis telah dihabisi di mana­mana setelah kudeta mereka yang gagal. Tapi seribu orang lebih komunis itu tetap bertahan.

Menjelang sore, beberapa di antara mereka bahkan mulai me­

lepaskan tembakan pada prajurit­prajurit tersebut. Semua pelurunya melukai tak seorang prajurit pun. Komandan para prajurit itu akhirnya kehilangan kesabaran, menyuruh semua anak buahnya bersiap dalam posisi siap tempur, dan setelah beberapa saat ia akhirnya memerintahkan penembakan. Dikepung peluru dari dua arah, orang­orang itu mulai bergelimpangan di jalan. Beberapa yang belum terbunuh berlarian kalang­kabut saling menginjak dan saling menjatuhkan, sebelum peluru membunuh mereka satu per satu. Sore itu seribu dua ratus tiga puluh dua orang komunis mati dalam satu pembantaian yang singkat, mengakhiri sejarah Partai Komunis di kota itu, dan bahkan di negeri ini.

Mayat­mayat itu dilemparkan ke atas truk hingga berjejalan seperti truk penjagalan. Iringan­iringan truk berisi mayat tersebut dengan pasti menuju rumah Kamino. Akhirnya, itulah puncak hari paling sibuk bagi lelaki tersebut. Ia harus menggali liang kubur yang begitu besarnya, sehingga ia bahkan belum selesai sampai tengah malam, dan baru selesai menjelang pagi dengan bantuan para prajurit. Ia berharap orang­orang komunis akan menyerah, hingga ia bisa beristirahat tanpa ada mayat muncul lagi di tempat pemakaman. Selama itu, Farida masih tetap menemaninya, menyiapkan makannya, dan menunggui kuburan ayahnya. Pagi itu, ketika tentara­tentara telah pergi bersama truk­truk mereka dan seribu dua ratus tiga puluh dua mayat orang komunis telah dikuburkan dalam satu kuburan raksasa, Kamino yang kurang tidur namun tampak penuh semangat menghampiri Farida yang masih bertahan

nyaris selama seminggu itu, berkata padanya:

”Nona, maukah kau menjadi istriku dan tinggal bersamaku?” Farida tahu bahwa nasibnya telah digariskan untuk menerima lama­

ran lelaki tersebut. Maka pagi itu juga mereka, setelah mandi dan mengenakan pakaian yang rapi, pergi ke penghulu dan minta dikawinkan. Dan hari itu juga mereka telah menjadi suami istri, pergi berbulan madu di rumah lama Farida. Itu berarti tak ada penggali kubur hari itu.

Tapi ini tak menjadi soal. Tentara­tentara itu juga telah malas membawa mayat­mayat orang komunis ke tempat pemakaman dan harus membantu penggali kubur membuat lubang raksasa. Mereka dibunuh, baik oleh tentara reguler dan terutama oleh orang­orang antikomunis yang bersenjata golok dan pedang dan arit dan apa pun yang bisa membunuh, di tepi jalan dan membiarkan mayat mereka di sana sampai membusuk. Kota Halimunda seketika dipenuhi mayat­mayat seperti itu, tergeletak di selokan dan kebanyakan di pinggiran kota, di kaki bukit dan di tepi sungai, di tengah jembatan dan di semak belukar. Mereka kebanyakan terbunuh ketika mencoba melarikan diri setelah menyadari Partai Komunis hanya meninggalkan sisa­sisa reputasinya yang telah usang.

Bagaimanapun, tak semua dari mereka terbunuh. Beberapa di antara mereka pada akhirnya menyerah dan dijebloskan ke dalam tahanan. Baik di penjara­penjara kriminal maupun di tahanan militer. Sebagian besar dibawa ke Bloedenkamp, penjara paling mengerikan di tengah delta yang telah berdiri sejak masa kolonial. Entah apa yang akan terjadi di antara mereka. Ada introgasi­introgasi yang memakan waktu sampai berjam­jam dengan janji akan dilanjutkan keesokan harinya. Sebagian dari mereka ternyata akhirnya harus mati juga di dalam tahanan, oleh kelaparan atau pukulan popor senapan yang membuat kepala mereka retak dan pemiliknya mati seketika. Mereka terus memburu orang­orang komunis yang tersisa, untuk dibunuh maupun ditahan, bahkan meskipun mereka telah melarikan diri ke hutan atau tengah laut.

Di atas segalanya, Kamerad Kliwon merupakan orang yang paling

dicari.

Sang Shodancho membentuk pasukan khusus untuk menangkapnya hidup atau mati. Kamerad Kliwon masih duduk di beranda menunggu koran­korannya penuh kesabaran, masih ditemani Adinda dan secangkir kopi. Tak ada siapa pun lagi di markas Partai Komunis kecuali mereka. Ketika pasukan khusus itu datang, demi Tuhan, mereka tak melihat kedua orang itu. Mereka masuk dan mengobrak­abrik segala sesuatu, diikuti gerombolan orang­orang anti­komunis yang melempari markas Partai dengan batu. Mereka menurunkan foto Karl Marx dan membakarnya di pinggir jalan bersamaan dengan dibakarnya bendera Partai. Mereka juga mencopot ornamen palu dan arit. Dari perpustakaan mereka mengeluarkan semua buku­buku dan membakarnya pula di pinggir jalan, kecuali buku­buku silat yang diselamatkan Sang Shodancho, ia memimpin sendiri pasukan tersebut, untuk kesenangan sendiri. Buku­buku silat itu mencapai dua kardus dan langsung dimasukkan ke dalam jeep. Semuanya terjadi di depan mata Kamerad Kliwon dan Adinda yang kebingungan mengapa mereka tak melihat keduanya. Kemudian mereka memburunya ke kuburan umum karena ada orang yang melaporkan ia bersembunyi di sana. Tapi ketika didatangi ia tak ada di sana. ”Ia telah melarikan diri,” kata seorang prajurit. Kuburan itu sepi, sebab bahkan penggali kubur sedang tak ada di tempatnya. Pasukan yang sama, dengan gerakan yang serba cepat, segera pergi ke rumah Mina sebagaimana laporan lain datang ke telinga Sang Shodancho. Tapi tentu saja Kamerad Kliwon tak ada di sana. Mina memperoleh introgasi panjang dan dipaksa untuk mengatakan di mana ia menyembunyikan lelaki itu. Mina bersikeras bahwa ia tak melihat Kamerad Kliwon sejak seminggu lalu.

Ketika pasukan itu telah pergi, Mina mulai bicara pada diri sendiri: ”Anak bodoh, ia seharusnya tahu semua orang komunis akan ber­

akhir di depan regu tembak.”

Seorang lelaki berlari tergopoh­gopoh menemui Sang Shodancho dan mengaku melihat Kamerad Kliwon pergi melarikan diri bersama seorang gadis ke tengah laut menggunakan sebuah perahu. Didorong kejengkelan karena tak juga bisa segera menangkap lelaki itu, atau mungkin juga karena dendam lama yang tak kunjung sembuh, Sang Shodancho segera menyuruh para prajuritnya melakukan perburuan ke tengah laut. Mereka mengejarnya dengan perahu bermesin tempel dengan kecepatan penuh. Tapi yang mereka temukan hanyalah sebuah perahu kosong yang terapung­apung dipermainkan ombak dan angin tanpa jejak apa pun. Sang Shodancho yang dibuat penasaran menyuruh tiga orang prajurit untuk menyelam, berharap mereka menemukan mayatnya, sebab bahkan Kamerad Kliwon yang mati tetap cukup berharga daripada apa pun. Mereka tak menemukan lelaki itu, bahkan tidak pula harta karun.

Mereka pulang dengan kekecewaan mendalam. Melampiaskan

dendam atas ketidakberhasilan mereka, Sang Shodancho mengintrogasi kembali beberapa orang penting Partai yang berhasil mereka tangkap. Semua dari mereka mengaku melihatnya terakhir kali masih menunggu koran­koran paginya di beranda. Bagi Sang Shodancho, melihat pengakuan yang seragam seperti itu, serasa seperti sebuah lelucon yang mengejek. Maka tanpa menyia­nyiakan kemarahannya, ia membawa orang­orang penting Partai itu ke belakang gedung tahanan militer dan mengeksekusi mereka semua dengan pistolnya sendiri.

Desas­desus mulai muncul bahwa Kamerad Kliwon bisa muncul serentak di banyak tempat dalam waktu yang bersamaan, sementara orang yang sesungguhnya mungkin aman di tempat persembunyian. Orangorang percaya bahwa ia memiliki kesaktian semacam itu, membelah dirinya menjadi begitu banyak dan menipu semua orang.

Tapi akhirnya ia tertangkap juga. Sang Shodancho yang mulai putus asa membawa pasukannya kembali ke markas Partai di ujung jalan Belanda itu, untuk menyisir jejaknya sedikit demi sedikit, dan tiba­tiba ia melihatnya masih duduk di beranda ditemani adik iparnya sendiri, persis sebagaimana dikatakan orang­orang yang baru saja dieksekusinya, tengah menunggu koran. Waktu itu hari sudah sore, dan hujan gerimis memenuhi kota. Sang Shodancho merasa malu untuk bertanya ke mana saja ia sepanjang hari, karena tampaknya Kamerad Kliwon, melihat sikapnya, telah duduk di sana sepanjang hari tanpa pernah beranjak ke mana pun.

”Kau ditangkap, Kamerad,” kata Sang Shodancho, ”dan adik iparku yang baik, sebaiknya kau pulang,” ia melanjutkan untuk Adinda.

”Atas dasar apa aku ditangkap?” tanya Kamerad Kliwon. ”Disebabkan kau menunggu koran yang tak akan pernah datang,”

kata Sang Shodancho, mencoba selera humornya yang pahit, ”itu kejahatan paling berat di kota ini.”

Ia menyodorkan tangannya dan Sang Shodancho memborgolnya. ”Shodancho,” kata Adinda sambil berdiri dengan air mata tiba­tiba

mengalir di pipinya. ”Izinkanlah aku mengucapkan selamat jalan, karena mungkin saja kau mengeksekusi lelaki ini begitu sampai di tahanan.”

”Lakukanlah,” kata Sang Shodancho.

Ucapan selamat jalan itu adalah ciuman panjang di bibir Kamerad Kliwon.

Berita penangkapannya dengan cepat didengar hampir semua orang di kota itu, mereka yang berhasil lolos dari kematian perang saudara. Setelah berhasil membunuh komunis­komunis kelas teri yang mencoba melarikan diri, masih dengan tangan berlepotan darah, orang­orang ini segera bergerombol dan memenuhi ruas jalan antara markas Partai Komunis dan kantor rayon militer. Seolah semua di antara mereka memiliki kenangan khusus terhadap Kamerad Kliwon, mereka menanti dengan sangat sabar lelaki itu lewat. Akhirnya Kamerad Kliwon muncul, berjalan dengan sisa­sisa kebanggaan. Ia tak mau naik ke atas mobil jeep militer, maka sepasukan prajurit mengawalnya selama perjalanan itu. Adinda berada di dalam jeep bersama Sang Shodancho, bergerak sangat pelan di belakang iringiringan kecil tersebut, sementara orang­orang berjejalan di kiri­kanan jalan dalam keheningan yang khidmat. Mereka memandang lelaki yang di saat­saat seperti itu bahkan masih mengenakan topi pet kebanggaannya dengan perasaan campur­aduk.

Banyak di antara penontonnya adalah teman­temannya belaka semasa di sekolah, dan mereka bertanya­tanya bagaimana mungkin lelaki paling pandai dan paling tampan di kota itu memilih hidup sebagai seorang komunis yang sesat. Di antara para penonton itu ada juga berdesakan para gadis yang pernah kencan dengannya, atau paling tidak pernah memimpikan kencan dengannya, dan mereka memandang laki­laki itu dengan mata berkaca­kaca bagaikan kekasih sejati hendak pergi meninggalkan mereka.

Kemarahan orang­orang itu seketika menguap secepat mereka melihatnya berjalan penuh ketetapan hati. Ia berjalan lurus dan tegak, tak menampakkan diri sedikit pun sebagai orang yang dikalahkan. Seolah ia seorang panglima perang musuh yang tertangkap namun yakin segera akan bebas kembali untuk memenangkan peperangan­peperangan berikutnya. Dan orang­orang yang melihatnya itu hanya mengingat kebaikan­kebaikannya belaka di masa lalu dan melupakan segala hal keburukannya. Ia seorang pemuda pandai, ramah, rajin bekerja, sopan terhadap orang lain, dan tiba­tiba tak ada lagi yang ingat apakah ia pernah berbuat keonaran, tak ada yang ingat bahwa ia pernah tak membayar pelacur, dan bahkan tidak teringat pula pembakaran ketiga kapal Sang Shodancho.

Pada topi petnya kini tertempel bintang kecil berwarna merah. Di hadapan orang­orang yang larut dalam perasaannya sendiri­sendiri itu, Kamerad Kliwon masih terus berjalan. Ia mengenakan kemeja yang pernah dijahit ibunya, dengan pantalon yang ia beli ketika ia masih belajar di universitas di ibukota yang singkat, dan dengan sepatu kulit yang ia lupa kapan ia beli (atau seseorang meminjamkannya).

Ia menengok berharap melihat Adinda, tapi ia tak tampak di dalam jeep. Ia juga mencoba melihat Alamanda di antara kerumunan orang, namun perempuan itu tak ada di sana. Tanpa melihat keduanya, ia berjalan dengan tenang, menganggap tak ada siapa pun di pinggir jalan. Sang Shodancho menjebloskannya ke dalam ruang tahanan di belakang kantor rayon militer, dan pengadilan yang tak pernah dilaksanakan memutuskan ia akan dieksekusi besok pagi pukul lima dini hari. Sang Shodancho segera pergi setelah memberitahu keputusan hal itu, mengantar pulang Adinda ke rumah Dewi Ayu.

Tapi bahkan Adinda muncul kembali tak lama kemudian, satu­satunya orang yang berharap bisa mengunjunginya meskipun banyak orang juga berharap demikian. Tapi Sang Shodancho telah memberi perintah pada sipir­sipir penjaga untuk tak mengizinkan siapa pun mengunjungi tahanan­tahanan yang akan dijatuhi hukuman mati. Akhirnya Adinda hanya meninggalkan satu setel pakaian besar yang ia minta pada Sang Shodancho agar memberikannya pada lelaki itu dan menyuruhnya agar mengenakannya jika laki­laki itu memang akan dieksekusi mati pada waktu dini hari. Selain satu setel pakaian, ada rantang berisi makanan. ”Berjanjilah padaku, Shodancho,” kata Adinda, ”Bahwa ia akan memakannya. Sejak ia tak memperoleh koran­koran paginya, ia tak

memakan apa pun kecuali kopi dan air putih.”

Sang Shodancho mengantarkan semua barang­barang itu seorang diri. Di dalam sel ia menemukan Kamerad Kliwon tengah berbaring di atas dipan dengan kedua tangan ditekuk di bawah kepala sementara matanya memandang langit­langit.

”Reputasimu belum habis di mata para gadis, Kamerad,” kata Sang Shodancho. ”Seorang dari mereka mengirimimu satu setel pakaian dan serantang makanan.”

”Aku tahu siapa gadis itu,” kata Kamerad Kliwon, ”ia adik iparmu sendiri.”

Setelah itu Kamerad Kliwon hanya diam saja dengan sikap tubuh yang tak berubah sebagaimana sebelumnya. Namun di keremangan ruangan dan malam yang telah datang, Sang Shodancho tersenyum menikmati sedikit dendam dan merasa telah datang waktunya untuk diselesaikan. Inilah lelaki yang telah merampas cinta istriku, katanya pada diri sendiri, dan mengutuk kedua anakku untuk tak pernah dilahirkan. ”Besok pagi aku akan melihatmu mati dieksekusi.”

Ia merencanakan tidak dalam satu kali tembakan eksekusi. Ia ingin melihatnya mati perlahan­lahan, dengan kuku jari dipreteli, dengan kulit kepala dikelupas, mata dicungkil, lidah dipotong. Lelaki itu akan sangat menderita, dan Sang Shodancho yang dirasuki dendam membusuk tersenyum jahat.

Tapi bahkan Kamerad Kliwon tetap tak bereaksi dalam satu kenyataan yang ajaib seolah ia tak peduli tengah menghadapi maut yang demikian mengerikan, dan itu menjengkelkan Sang Shodancho. Di atas dipan, mayat hidup itu tampak demikian penuh wibawa, penuh kekaguman diri bagaikan ia akan mati sebagai syuhada, dan penuh kekaguman terhadap jalan hidup yang pernah dipilihnya serta tak pernah menyesal meskipun ia memperoleh akhir yang tak menyenangkan seperti ini.

Ada jarak yang demikian lebar antara kedua orang itu. Antara seseorang yang memiliki kekuasaan untuk membuat yang lain mati, dengan seorang lelaki yang menantikan jam demi jam kematiannya. Yang pertama dibuat gelisah oleh kekuasaannya, sementara yang kedua dibuat tenang oleh nasibnya.

Kenyataannya Kamerad Kliwon memang tak memikirkan Sang Shodancho yang masih berdiri di dekat pintu, yang perlahan­lahan meletakkan apa yang dibawanya di atas kursi di pojok ruangan. Kamerad Kliwon larut dalam nostalgia­nostalgia yang membawanya pada segala kenangan atas kota yang akan segera ditinggalkan. Betapa melelahkannya revolusi, ia berkata pada diri sendiri, dan satu­satunya hal yang menyenangkan adalah bahwa aku akan meninggalkan itu semua, meninggalkan seluruh tugas tanpa harus menjadi seorang reaksioner atau kontrarevolusi. Memang benar bahwa ia sendiri telah mengecap banyak orang­orang pengecut sebagai reaksioner, sebagai para kontrarevolusioner, tapi kadang­kadang ia merasa selelah orang­orang itu dan bertahan dalam kegilaan revolusi hanya karena ia tak ingin menjadi bagian dari orang­orang busuk seperti mereka. Dan demikianlah, di saat­saat penuh keputusasaan, ia sering berharap bisa mati.

Siapa pun yang melakukan kudeta, Kamerad Kliwon layak berterima

kasih kepada mereka. Sebab besok pagi ia akan mati di depan sederet regu tembak, dan segala yang melelahkan itu akan segera ia tinggalkan. Ia tak begitu mengkhawatirkan ibunya: perempuan itu pernah melihat bagaimana suaminya (juga seorang komunis) mati dieksekusi tentara Jepang. Ia yakin tak akan menjadi soal jika ia harus mendengar bahwa anaknya dieksekusi mati pula sebagai seorang komunis. Mina terlalu kuat untuk dikhawatirkan. Itu membuatnya semakin siap untuk mati dan ia bahagia memikirkannya membuat senyum kecil tersungging di bibirnya, membuat Sang Shodancho yang sekilas melihatnya semakin jengkel.

”Kau akan dijemput pukul lima kurang sepuluh menit, dan tepat pukul lima proses kematianmu segera berlangsung. Katakan apa permintaan terakhirmu,” kata Sang Shodancho akhirnya.

”Inilah permintaan terakhirku: kaum buruh sedunia, bersatulah!” jawab Kamerad Kliwon.

Sang Shodancho meninggalkan lelaki itu seorang diri, dan pintu berdebam.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊