menu

Cantik Itu Luka Bab 11

Mode Malam
11
Selepas ia mengantarkan potongan­potongan kayu bakar dari pohon ketapang ke rumah Alamanda, Kamerad Kliwon kembali bergabung dengan teman­temannya di pantai. Sejak kecil pantai telah akrab dengannya. Ia anak nelayan, meskipun ayahnya mati tidak sebagai nelayan, dan ia hidup bersama nelayan. Pergi ke laut sama sering dengan anak­anak nelayan lainnya. Nyaris mati tenggelam sama seringnya dengan petani tertebas golok. Ia tak ingin kembali ke kandang jamur, tempatnya terakhir kali bekerja, sebab tempat itu terlalu banyak mengingatkannya pada Alamanda, dan ia tak mau mengenang

hal­hal yang pahit.

Bersama dua teman lamanya, ia membangun sendiri gubuk kecil mereka di pinggir pantai, di balik belukar pandan. Bersama Karmin dan Samiran, mereka pergi melaut di malam hari dan hasilnya dibagi dua dengan pemilik perahu. Di siang hari, setelah tidur pendek, ia mempelajari buku­buku Marxis dan mengajarkan apa yang diketahuinya pada kedua sahabatnya itu. Ia masih pergi ke markas Partai di Jalan Belanda, dan kini ia bahkan melakukan korespondensi dengan banyak orang komunis, terutama di ibukota. Selama masa­masa singkatnya di Jakarta, ia sempat mengikuti sekolah partai, dan memperoleh banyak kenalan dari sana.

Teman­teman korespondensinya mengirimi banyak terbitan berkala, majalah, dan Partai kemudian mengirimkan koran pula secara teratur ke gubuk tersebut. Buku­buku mulai menumpuk di salah satu sudut gubuk mereka, membuatnya bisa mempelajari langsung apa yang dikatakan Marx dan Engels dan Lenin dan Trotsky dan Ketua Mao, serta pamflet­pamflet yang ditulis orang lokal semacam Semaun dan Tan Malaka. Beberapa dari penulis­penulis itu, seperti Trotsky dan Tan Malaka, sesungguhnya agak sedikit terlarang, namun seseorang di Partai mengusahakan buku­buku mereka khusus untuknya.

Waktu itu ia belum sungguh­sungguh anggota Partai, sekadar calon anggota. Ia mempelajari semua yang diperlukan seorang diri, melalui buku­buku dan terbitan­terbitan berkala tersebut. Ia juga mengikuti kursus­kursus politik yang diadakan Partai dengan rajin, tampil di podium jika diberi kesempatan. Ia mengorganisir para nelayan dan buruh perkebunan. Enam bulan setelah perkawinan Alamanda, ia telah diterima sebagai anggota penuh Partai Komunis, setelah para ketua di markas Partai menyimpulkan bahwa ia kader terbaik di wilayah tersebut. Ia memperoleh tugas pertamanya untuk mengumpulkan prajurit­prajurit sisa gerilyawan tentara revolusioner, sebagian besar merupakan orangorang komunis. Mereka pernah bertempur di masa perang, bersama dengan prajurit­prajurit Sang Shodancho, tercerai­berai setelah pemberontakan yang gagal bertahun­tahun lalu, dan kini bergabung kembali dengan Partai dalam satu romantisme dan nostalgia terhadap revolusi. Serikat Nelayan berdiri di sekitar waktu itu, dengan Samiran serta Karmin sebagai anggota pertama dan Kamerad Kliwon sebagai ketua. Dalam waktu dua minggu jumlah anggotanya mencapai lima puluh tiga orang, dan dengan cepat hampir seluruh nelayan telah tergabung dalam Serikat Nelayan. Setiap hari Minggu, di saat semua nelayan tak melakukan aktivitas yang berarti, mereka berkumpul di pelataran pelelangan, persis di samping pelabuhan. Pada saat seperti itu, Kamerad Kliwon akan memberikan propaganda partai dan terutama menjelaskan apa ancaman yang datang dari kapal­kapal penangkap ikan besar bagi

kehidupan mereka.

Propaganda partai tak hanya diberikan Kamerad Kliwon pada kesempatan seperti itu saja, sebab kini semua upacara nelayan diurus oleh Serikat. Kamerad Kliwon akan berpidato sejenak dengan mengutip beberapa kalimat dari Manifesto sebelum kepala sapi dilemparkan ke tengah laut untuk persembahan kepada Ratu Laut Kidul. Ia melakukannya juga pada upacara pemakaman seorang nelayan yang mati dihantam ombak, melakukannya juga ketika para nelayan mengadakan syukuran atas cuaca yang baik dengan menanggap pertunjukan sintren. Semua tembang diganti belaka dengan lagu Internationale, dan semua doa penutup diganti dengan, ”Kaum buruh sedunia, bersatulah!”

”Aku seperti seorang misionaris yang tengah menyebarkan agama baru,” kata Kamerad Kliwon, tertawa kecil kepada teman­temannya di markas Partai. ”Dengan Manifesto sebagai kitab sucinya.”

”Itulah pokok soal pertentangan komunis dan semua agama di dunia: berebut umat.”

Itu waktu­waktu yang sangat sibuk untuk Kamerad Kliwon. Selain pengorganisiran dan propaganda, ia juga mulai mengajar di sekolah partai, memberi kursus­kursus politik untuk kader­kader baru, sementara ia juga masih pergi ke laut dan mengurusi Serikat Nelayan. Tapi tampaknya ia begitu menikmati semua aktivitasnya, hingga ketika Partai kembali menawarinya sekolah, kali ini ke Moskow, ia menolaknya dan memilih untuk tetap berada di Halimunda.

Satu­satunya saat ia bersantai adalah pagi hari selepas pulang dari laut. Ia akan duduk di depan gubuk mereka membaca tiga buah koran, ketiga­tiganya telah membanggakan diri bisa datang ke Halimunda sepagi sebelum sarapan. Ia membaca Harian Rakyat, koran milik Partai Komunis; Bintang Timur, koran milik partai lain yang mereka sebutsebut sebagai ”kawan”, dan satu koran lokal Partai Komunis yang terbit di Bandung. Ia membaca koran­koran tersebut sambil minum kopi, sebelum pergi mandi di sumur belakang gubuk yang hanya berdinding belukar pandan, sarapan pagi dan kemudian tidur sampai siang hari.

Ia sedang melakukan rutinitas paginya ketika suatu hari melihat serombongan anak­anak sekolah, semuanya anak­anak gadis berjumlah tujuh orang, berjalan di atas pasir ke arah timur. Kamerad Kliwon hanya menoleh sekilas ke arah mereka sambil menyebut gadis­gadis itu sebagai anak­anak nakal yang berkeliaran di jam sekolah. Adalah hal biasa melihat banyak anak sekolah yang bosan pada guru atau pelajaran sekolah melarikan diri ke pantai, maka Kamerad Kliwon tak ambil peduli dengan gadis­gadis itu dan kembali pada kopi serta koran­korannya. Tapi belum juga ia menyelesaikan satu berita di halaman satu yang bersambung ke halaman delapan, ia mendengar keributan yang berasal dari arah anak­anak gadis itu (tak mungkin dari tempat lain karena pada pukul sembilan pagi pantai biasanya sepi), mendengar mereka menjerit­jerit demikian melengking, bukan jeritan akan kenakalan atau keisengan, tapi satu jeritan ketakutan.

Kamerad Kliwon meletakkan koran yang sedang dibacanya di atas meja tempat kopinya berada bersama dua koran lainnya. Ia berdiri berjalan satu langkah ke depan memandang ke arah gadis­gadis itu di kejauhan. Mereka tercerai­berai, berlari ke sana­kemari, dan tiba­tiba seorang gadis berlari terlalu jauh. Sumber keributan itu adalah seekor anjing dan anjing itu mengejar si gadis tersebut. Ada banyak anjing di Halimunda, pikir Kamerad Kliwon, bahkan meskipun anjing­anjing liar yang berkeliaran di pantai tak dihitung, sejak Sang Shodancho mengembangbiakkan anjing­anjing, Halimunda mulai dipenuhi anjing secara perlahan­lahan.

Ia ingin menolong gadis itu, tapi jaraknya terlalu jauh sementara anjing itu hanya empat meter mengejar di belakangnya. Ketika gadis itu melihat dirinya, melihat ada seorang laki­laki di pantai tengah memandang teror tesebut, si gadis berlari ke arahnya sementara si anjing terus berlari di belakangnya sambil menyalak galak dan Kamerad Kliwon akhirnya berlari ke arah si gadis dan si anjing. Gadis itu masih menjerit­jerit dalam kepanikan, meneriakkan sepatah kata semacam ”Tolong!” sementara teman­temannya berteriak jauh di belakang, memanggil siapa pun yang sekiranya bisa menolong gadis tersebut. Kamerad Kliwon mempercepat ayunan kakinya memperpendek jarak. Tapi yang luar biasa dan baru belakangan ia sadari adalah betapa cepatnya gadis itu berlari. Ia tak tahu apakah gadis tersebut sungguh­sungguh memiliki darah seorang pelari hebat atau sekadar kencang karena dorongan rasa takut, karena bahkan ia bisa terus mempertahankan jarak empat meter dari moncong ganas si anjing dalam harmoni jeritan dan gonggongan, dan ketika jarak antara dirinya dan gadis itu telah lenyap, Kamerad Kliwon bisa membuktikan bahwa jarak yang ditempuh gadis itu dua kali lebih jauh dari jarak yang ditempuhnya sendiri padahal ia sudah berlari begitu kencang menyongsongnya. Ketika jarak semakin mendekat, ia bisa melihat teror tergambar jelas di wajah gadis tersebut, dan dari jarak dua meter gadis itu langsung melompat ke arahnya, mendekap Kamerad Kliwon begitu erat sementara si anjing akhirnya ikut juga melompat sambil berpikir bahwa inilah saat yang tepat untuk menggigitnya. Tapi kaki Kliwon bergerak lebih cepat dan tepat serta juga keras terayun menendang menghantam rahang si anjing, membuatnya terpelanting sejauh satu setengah meter, kemudian ia meronta sejenak sebelum tergeletak tak bergerak dengan buih di mulutnya. Tampaknya mati dan rabies.

Kini ia harus menghadapi gadis anak sekolah itu yang masih mendekapnya demikian erat. Sejak ia berpelukan dengan mesra dan bahkan berciuman begitu liar di depan stasiun kereta api bersama Alamanda di bawah pohon ketapang, ia belum pernah memeluk gadis mana pun lagi. Saat itu ia memang telah menanggalkan segala reputasinya sebagai seorang penakluk perempuan meskipun beberapa gadis dan ibu­ibu muda masih mengerlingkan matanya menanti rayuan dan godaannya. Ia telah mencurahkan banyak waktunya untuk Partai dan bekerja dan ia tak lagi punya waktu untuk gadis­gadis cantik tersebut. Tapi kini gadis itu memeluk erat dirinya dan tanpa sadar entah sejak kapan ia pun melingkarkan tangannya balas memeluk, meskipun ia berani bersumpah itu ia lakukan sebagai usaha tanpa sadar melindungi dirinya dari serangan anjing rabies itu.

Betapa dekat dan rapatnya mereka sehingga Kamerad Kliwon bisa

merasakan dada gadis itu tertekan kuat di dadanya, begitu lembut dan hangat, dan ujung­ujung rambutnya terayun­ayun dipermainkan angin menampar wajahnya, dan ia bisa memandang dahi gadis yang membenamkan mukanya di bahu laki­laki itu. Ketika teman­teman si gadis berdatangan dengan penuh kelegaan, secara hati­hati Kamerad Kliwon mendorong gadis itu menjauhkannya dari dirinya, dan pada saat itulah ia bisa melihat satu kecantikan yang unik, satu kecantikan para putri dan bidadari yang lembut dan mistis, tradisional, kuno, alami, dengan rambut yang dikepang dua, dengan mata yang terpejam itu dihiasi bulu mata lentik, dengan hidung mencuat ramping berhiaskan dua cuping bagai dipahat demikian halus, dengan bibir yang merengut kecil, dengan pipi berisi, dan pada saat itulah ia segera menyadari gadis tersebut telah tak sadarkan diri, mungkin sejak pertama ia mendekap erat dirinya.

Bersama teman­teman si gadis ia mendudukkan gadis semaput itu

di kursi dan mencoba membuatnya tersadar. Tapi usaha mereka tampaknya bukan usaha yang mudah. Kamerad Kliwon menghentikan sebuah dokar yang melintas di jalan yang tak jauh di belakang gubuk itu, terhalang oleh tanah kosong penuh ilalang dan sumur tempat mandi. Gadis­gadis itu kemudian berdesakan di atas dokar membawa gadis yang tak sadarkan diri itu untuk membawanya pulang sebagaimana disuruh Kamerad Kliwon karena bagaimanapun istirahat adalah satu­satunya cara terbaik untuk mengembalikan kesadaran orang yang semaput disebabkan ketakutan.

Bahkan meskipun gadis­gadis itu telah menghilang di tikungan jalan bersama berlalunya suara langkah kaki kuda penarik, Kamerad Kliwon masih merasakan kehangatan tubuh gadis itu mendekap dirinya. Ia masih merasakan sentuhan buah dada yang lembut itu, dengan harum rambutnya, dengan kecantikannya yang mistis, dan meskipun ia berkalikali mengusir perasaan tersebut dengan mengatakan bahwa ia harus bekerja keras demi hari esok dan bekerja keras untuk Partai, kehangatan tubuh si gadis tak juga bisa hilang. Termasuk ketika ia mencoba mengabaikannya dengan cara mencari kesibukan menguburkan si anjing rabies yang mati di tengah belukar dan setelah itu ia membangunkan temantemannya karena nasi sudah matang dan mereka makan pagi sebelum melanjutkan kembali tidur siang mereka.

Waktu tidur adalah masa yang lebih membuatnya menderita. Peristiwa pagi itu telah menghantuinya. Tiba­tiba ia menyadari bahwa semua itu karena ia mengenal gadis anak sekolah itu secara samar­samar. Ia pernah melihat wajah itu, mungkin telah mengenal namanya pula. Ia masih merasakan kehangatan tubuhnya sambil berpikir di mana sekiranya ia mengenalnya. Gadis itu kurang lebih berumur lima belas tahun, jelas bukan salah satu dari gadis­gadis yang pernah diajaknya kencan. Ia bukan salah satu dari gadis­gadis tersebut, ia salah satu gadis yang ditemuinya di tempat lain.

Hari itu ia tak bisa tidur, sebab tak lama kemudian ia segera menyadari siapa gadis itu. Menyadari siapa dirinya, ternyata sama sekali tak membebaskannya dari apa pun, sebaliknya ia menjadi jauh lebih menderita. Ia memang pernah melihat wajahnya, dan mengenal namanya, bahkan sejak si gadis berumur enam tahun. Selama setahun sebelum ia pergi ke Jakarta, ia bahkan nyaris melihatnya setiap hari. Ia mencoba mengusir kenangan atas peristiwa pagi tersebut, membuang kehangatan tubuh gadis itu di tubuhnya, menghapus sentuhan buah dada yang lembut, namun tampaknya akan berakhir dengan kesia­siaan.

”Namanya Adinda,” katanya begitu menyedihkan, ”adik Alamanda.” Teror tersebut berlangsung sampai siang, ketika akhirnya ia memutuskan untuk bangun dan pergi mandi. Para nelayan telah keluar pula dari rumah­rumah mereka, memeriksa jaring, membetulkan yang rusak diamuk ikan­ikan galak, dan beberapa yang lain tampak berjalan­jalan ke arah kota mencari hiburan. Setelah memastikan bahwa jaring mereka yang direntangkan dijemur di samping gubuk dalam keadaan baik, Kamerad Kliwon mandi di sumur. Tempat mandi itu hanya dilindungi belukar pandan, berupa sumur tanpa dinding, gentong besar dengan lubang kecil yang disumbat karet bekas sandal jepit terletak di salah satu sudutnya. Tapi Kamerad Kliwon tak suka mandi di pancuran yang mirip kencing itu, dan lebih suka menimba dan membanjurkan airnya

langsung ke tubuh.

Ternyata ia tak bisa melepaskan diri dari gadis kecil bernama Adinda itu, seolah keluarga tersebut telah ditakdirkan akan merongrongnya seumur hidup. Belum selesai ia mandi, Karmin telah berteriak bahwa dua orang gadis mencarinya. Ketika ia telah selesai mandi dan berpakaian, dengan rambut basah, ia menemui kedua gadis tersebut di ruang tamu mereka, tengah memandangi potret Marx dan Lenin dan gambar palu arit di dinding. Gadis itu Adinda bersama salah satu teman gadisnya yang tadi pagi.

”Terima kasih telah menolongku,” kata Adinda, sambil membungkuk kecil dan wajah tersipu­sipu malu.

Gadis itu sangat berbeda dengan Alamanda. Roman mukanya tenang dan tanpa dosa.

”Kau berlari lebih kencang dari anjing itu,” kata Kamerad Kliwon. ”Tanpa siapa pun menolong, kau bisa membunuhnya karena kecapekan.”

”Ia akan menggigitku,” kata Adinda, ”sebab aku semaput sebelum ia mati.”

Gangguan dari gadis itu untuk sementara bisa diatasinya oleh kerjakerja Partai yang menyita waktu. Ia harus memperhatikan keluhan­keluhan anggota Serikat Nelayan dengan beroperasinya kapal­kapal milik Sang Shodancho. Kamerad Kliwon mencoba memimpin gerombolan nelayan yang tumpah­ruah melakukan aksi pada suatu pagi di waktu yang sama ketika kapal­kapal itu merapat di pelabuhan pelelangan. Mereka hendak menurunkan ikan­ikan hasil tangkapan, namun Kamerad Kliwon beserta gerombolannya berdiri menghadang. Ia berkata pada salah satu nahkoda bahwa mereka akan tetap berdiri di sana sampai ada jaminan kapal­kapal itu tak beroperasi di wilayah tradisional nelayan perahu.

”Tak peduli ikan­ikan itu harus membusuk,” katanya, dan tentu saja diakhiri dengan, ”Kaum buruh sedunia, bersatulah!”

Para buruh kapal hanya berdiri santai di pagar geladak kapal, tak berniat bentrok dengan teman­teman sekampung mereka, dan tak peduli seandainya ikan­ikan itu harus membusuk, sebab mereka tak dibayar dengan ikan. Sementara itu para pemborong di pelelangan yang seharusnya merasa rugi karena hari itu mereka terancam tak memperoleh ikan, hanya diam melihat begitu banyak kerumunan nelayan dengan tubuh sekuat anak­anak ikan paus. Yang sungguh­sungguh terganggu dan dibuat geram tentu saja para nahkoda dan pejabat kapal­kapal milik Sang Shodancho, namun jelas mereka pun tak berkutik menghadapi orang­orang Serikat Nelayan. Satu jam berlalu dalam ketegangan seperti itu, dengan agitasi­agitasi, koor yang menyanyikan Internationale, serta para nelayan yang berbaris bergandengan tangan menghadang siapa pun keluar dari kapal, baik manusia maupun ikan.

Kamerad Kliwon cukup yakin, kemenangan telah di tangan mereka.

Ikan­ikan itu segera membusuk, dan jika kapal­kapal itu tak memenuhi tuntutan mereka, setiap hari mereka hanya akan menangkap ikan­ikan busuk. Tapi sebelum balok­balok es di kapal mencair dan ikan­ikan itu sungguh­sungguh membusuk, satu pasukan tentara dan polisi datang. Sejenak terjadi ketegangan ketika banyak di antara nelayan memutuskan untuk melawan mereka. Namun ketika tentara­tentara itu mulai menembakkan senapan ke udara, mereka berlarian dalam gerakan kacau. Kamerad Kliwon terpaksa menarik mereka semua untuk mundur. Kesibukan semacam itu seharusnya cukup untuk membuatnya melupakan Adinda, tapi ternyata tidak. Gadis itu ada di antara kerumunan

nelayan dan ia melihatnya. Gubuk tempatnya tinggal bersama Karmin dan Samiran sebenarnya berfungsi sebagai markas Serikat Nelayan pula, maka gubuk itu sangat terbuka bagi siapa pun. Mereka membahas kegagalan aksi mereka di sana, sesering mereka melakukan rapat atau hanya sekadar bicara tak ada ujung­pangkal. Maka ia tak bisa mengusir gadis itu jika sepulang sekolah, bersama beberapa teman gadisnya, Adinda akan muncul di sana. Adinda pandai berbahasa Inggris, hal yang tak aneh terjadi di Halimunda sejak banyak pelancong datang ke tempat itu. Kamerad Kliwon memiliki perpustakaan yang menyenangkan bagi orang yang tergila­gila buku, sebagian besar merupakan buku­buku filsafat dan politik, tapi ada juga buku­buku cerita yang disukai Adinda, meskipun berbahasa Inggris. Jika Kamerad Kliwon terbangun dari tidur siangnya, sering sekali ia telah menemukan gadis itu duduk di belakang meja besar, tepat di bawah foto Lenin, tengah membaca buku begitu khidmat. Ia akan menoleh sejenak, tersenyum seolah mengatakan, maaf aku masuk tanpa permisi, sebelum Kliwon memberinya segelas teh dengan sedikit gugup, dan gadis itu berkata, terima kasih, bisa kuambil sendiri, tapi Kamerad

Kliwon segera berlalu ke sumur dan menggigil di sana.

Adinda telah membaca begitu banyak buku di sana. Seluruh novel Gorki, Dostoyevsky, dan Tolstoy yang tersedia rasanya telah ia baca. Semua diterbitkan dan dikirim oleh Foreign Languages Publishing House, Moskow, melalui Partai. Selebihnya ia membaca pula novel­novel lokal, atau terjemahan, yang diterbitkan Yayasan Pembaruan, penerbit milik Partai Komunis, atau buku­buku Balai Pustaka milik pemerintah.

Sekali lagi, Kamerad Kliwon tak mengusirnya, namun sebisa mungkin ia menghindarinya. Dua hal jelas­jelas membuatnya menderita di samping gadis itu: yang pertama Adinda membuatnya terkenang pada nostalgia menyakitkan dengan Alamanda, yang kedua Adinda membawanya pada kenangan pertemuan mereka yang hangat dan membuatnya mabuk. Ia menyibukkan dirinya semakin dalam pada urusan Serikat Nelayan, membahas kegagalan aksi pertama mereka menghadapi kapal­kapal Sang Shodancho. Ia mengorganisir langsung beberapa kader Serikat untuk diselundupkan masuk ke dalam kapal, bekerja di sana untuk kemudian mengorganisir buruh­buruhnya. Itu membutuhkan waktu, tapi ia percaya orang­orang Komunis adalah makhluk­makhluk paling sabar di dunia. Tak mudah memasukkan orang ke dalam kapal, meskipun akhirnya berhasil memasukkan dua orang di masing­masing kapal. Itu sangat tidak memadai, tapi cukup daripada tidak sama sekali. Sementara menunggu mereka berhasil memprovokasi buruh­buruh kapal, kebanyakan nelayan dibuat tak sabar dan mendesak Kamerad Kliwon untuk membakar kapal­kapal itu. Kamerad Kliwon mencoba menenangkan mereka.

”Beri aku waktu bicara dengan Sang Shodancho,” katanya.

Itu adalah negosiasi pertama Kamerad Kliwon dengan Sang Shodancho, yang gagal menghasilkan apa pun. Lebih dari itu, Sang Shodancho bahkan menambah kapal penangkap ikannya. Para nelayan mendesaknya kembali untuk mengambil jalan pintas, membakar kapal. Untuk kedua kali, Kliwon meminta izin untuk bicara kembali dengan Sang Shodancho. Itu waktu ia datang ke rumahnya dan melihat perut Alamanda kosong tanpa isi. Bukan hanya Sang Shodancho yang menganggapnya sebagai kutukan seorang lelaki pencemburu, tapi bahkan Adinda berpikir demikian pula.

Ia datang di suatu sore, memohon dengan sangat kepadanya. ”Jangan kau sakiti kakakku,” katanya, nyaris menangis, ”ia telah

cukup menderita kawin dengan Shodancho itu.” ”Aku tak melakukan apa pun.”

”Kau mengutuknya agar kehilangan anak.”

”Itu tidak benar,” kata Kamerad Kliwon membela diri, ”aku hanya melihat perut kakakmu dan aku mengatakan apa yang aku lihat.”

Gadis itu sama sekali tak percaya. Ia duduk di tempat biasanya ia membaca buku, campur­aduk antara marah dan kebingungan. Biasanya Kamerad Kliwon akan pergi meninggalkannya, namun kali ini ia dengan tak berdaya menarik kursi dan duduk di depannya. Tak ada siapa pun sore itu kecuali mereka berdua, bersama cicak di dinding, dan laba­laba yang bergelantungan membangun jerat.

”Kumohon, Kamerad, lupakanlah Alamanda.” ”Aku bahkan telah lupa itulah namanya.”

Adinda mengabaikan humor yang tak lucu tersebut. ”Jika kau marah padanya,” ia berkata, ”lampiaskan dendammu padaku.”

”Baiklah, kau akan kuiris­iris seperti tomat,” kata Kamerad Kliwon dalam usaha sia­sia menenangkan gadis itu. ”Kau boleh membunuhku jika mau, sebagaimana kau boleh memerkosaku kapan pun dan aku tak akan memberikan perlawanan sedikit pun,” kata Adinda tak tergoda oleh gurauannya. ”Kau boleh jadikan aku budak, atau apa pun.” Ia mengambil sapu tangan dari saku roknya, dan menghapus banjir air mata di pipinya. ”Bahkan kau boleh mengawiniku.”

Seekor tokek berbunyi tujuh kali di kejauhan, pertanda ia mencari teman berahi.

Jika bayi itu sungguh­sungguh hilang dari perut istrinya, Sang Shodancho yakin itu pasti karena kutukan Kamerad Kliwon. Kutukan dari seorang kekasih yang cemburu. Hal­hal seperti ini tak bisa dihadapi dengan senjata dan bahkan tidak juga dengan perang tujuh turunan, ia harus mencari penyelesaian damai dengan laki­laki itu demi menyelamatkan anak pertamanya. Ia akhirnya berkata pada Kamerad Kliwon bahwa ia akan memerintahkan nahkoda­nahkoda kapal ikannya untuk beroperasi jauh di lepas pantai dan tidak di daerah tradisional milik nelayan berperahu.

Tapi tolong, katanya, jauhkan kutukan itu dari perut istrinya. Ia sangat menginginkan anak untuk membuktikan kepada dunia bahwa ia dan istrinya saling mencintai satu sama lain, bahwa perkawinan mereka adalah perkawinan yang membahagiakan. Kamerad Kliwon tersenyum mendengar itu, bukan karena tahu bahwa apa yang dikatakannya bohong belaka karena ia tahu bahwa Alamanda hanya mencintai dirinya dan sama sekali tak mencintai Shodancho itu, tapi karena, ”Tak ada hubungannya antara panci kosong dan kapal­kapal itu, Shodancho.”

Seolah tak memedulikan apa yang dikatakan Kamerad Kliwon, Sang Shodancho tetap menyingkirkan kapal­kapal penangkap ikannya jauh ke tengah laut. Para nelayan mulai bersuka ria menganggap itu sebagai kemenangan mereka karena kapal­kapal itu tak hanya tidak menangkap ikan di daerah jelajah mereka, namun kapal­kapal itu juga tak menjual ikan­ikannya di pelelangan mereka. Kapal Sang Shodancho berlabuh di pelelangan­pelelangan kota lain yang lebih besar dan membutuhkan lebih banyak ikan.

Kamerad Kliwon mencoba memberitahu apa yang terjadi dengan menghilangnya ikan dan dengan usahanya kini kapal­kapal itu telah dibuat menjauh dan ikan­ikan datang kembali. Menerangkannya sematerial mungkin sebagaimana diajarkan para guru Marxisnya. Tapi pada kenyataannya ketika para nelayan mempunyai banyak uang, orangorang itu membeli seekor sapi dan melakukan pesta di pesisir ditemani berbotol­botol tuak dan kepala sapinya mereka lemparkan ke laut untuk persembahan kepada Ratu Laut Kidul. Tetap dengan tahayul mereka sendiri. Kamerad Kliwon sama sekali tak bisa berbuat banyak untuk hal itu, merasa yakin tak akan begitu mudah menjejalkan logika paling sederhana apa pun kepada mereka, apalagi pikiran­pikiran Marxis yang ia sendiri terima secara sepotong­sepotong selama keberadaannya yang singkat di ibukota. Kamerad Kliwon sudah cukup senang bahwa mereka memiliki keberanian untuk melawan terhadap apa pun yang mengancam kebersamaan dan kehidupan mereka, dan berkali­kali Kamerad Kliwon memberitahu para sahabatnya bahwa kehidupan tak semudah itu, bahwa jangan larut dalam kemenangan yang semu, bahwa ikatan persaudaraan harus dijalin lebih erat karena musuh yang besar belum juga datang.

Pesta syukuran yang meriah tidak hanya dilakukan oleh para nela­

yan itu, tapi juga oleh Sang Shodancho yang kini begitu senang bisa selalu melakukan pesta syukuran. Terutama karena didorong ketakutan terbuktinya kutukan yang ia khawatirkan datang dari Kamerad Kliwon, ia meminta satu upacara tradisional dilaksanakan untuk istrinya demi keselamatan Alamanda dan jabang bayi di dalam perutnya. Upacara itu berupa mandi tengah malam dengan air beraneka jenis bunga dengan mantra­mantra yang dibacakan seorang dukun bayi. Si dukun memastikan Sang Shodancho bahwa perut istrinya bunting dengan demikian indah dan karena itu ia yakin bahwa anaknya baik­baik saja di dalam sana, seorang gadis kecil yang sangat cantik sebagaimana ibunya.

Sang Shodancho tak pernah memedulikan apakah anaknya akan laki­laki atau perempuan, memikirkan bahwa ia akan punya anak saja sudah sangat cukup baginya. Ketika ia mendengar ramalan si dukun bayi bahwa anaknya perempuan, ia terlonjak gembira dan merasa yakin kutukan itu hanyalah omong­kosong, tak lebih dari sekadar kata­kata yang keluar dari mulut seorang laki­laki yang dibakar api cemburu. Ia langsung memikirkan nama anaknya dan memutuskan untuk memberinya nama Nurul Aini tanpa tahu apa artinya hanya karena nama itu tiba­tiba muncul di kepalanya. Namun dengan begitu ia merasa yakin nama itu diturunkan Tuhan begitu saja agar ia memberi nama anaknya seperti itu, semacam wahyu yang harus ia turuti. Sementara itu istrinya dibanjur air bunga gayung demi gayung di tengah malam dingin ditemani sang dukun, membuatnya menggigil kedinginan dan berpikir bahwa besok hari ia akan masuk angin.

Di tempat lain di tengah laut, Kamerad Kliwon berharap bahwa apa yang ia lihat salah sama sekali dan mengharapkan mereka punya anak sesungguh­sungguhnya. Bukan sekadar panci kosong.

Nurul Aini yang itu tak pernah lahir sebagaimana harapan orangorang itu tak pernah dikabulkan: Alamanda tak pernah melahirkan anaknya yang seharusnya muncul pada tahun kedua kedatangan Sang Shodancho kembali ke kota dari hutan gerilyanya. Bukan karena Sang Shodancho melanggar janji sendiri dan Alamanda menggugurkannya, namun bayi itu lenyap begitu saja dari dalam perut Alamanda. Hal itu terjadi beberapa hari menjelang hari yang diramalkan baik oleh dokter maupun dukun bayi sebagai hari kelahiran anaknya. 

Alamanda sendiri tak tahu apa yang terjadi karena ketika bangun tidur tiba­tiba ia bersendawa begitu keras seolah mengeluarkan begitu banyak angin dan tiba­tiba ia menemukan dirinya bagai seorang perawan bertubuh langsing tanpa bobot di dalam rahimnya. Kenyataannya ia begitu terkejut melihat itu semua meskipun dua bulan sebelum itu Kamerad Kliwon sudah mengatakan kepadanya bahwa perutnya bagai panci kosong, hanya angin dan angin. Meskipun ia bisa mengingat dengan jelas bagaimana Kamerad Kliwon mengatakannya, ia tetap terkejut dan menjerit di pagi yang tenang dan segar itu. Sang Shodancho yang tidur di kamar lain datang tergopoh­gopoh hanya mengenakan celana kolor dan kaus dalam dengan wajah banyak dihiasi jiplakan lipatan bantal dan tangan bekas gigitan nyamuk. Ia menghambur ke kamar istrinya dan ikut terpana melihat perut istrinya telah langsing kembali. Semula ia menganggap bahwa istrinya telah melahirkan dan ia mencoba mencari anak kecil itu serta genangan darah yang mungkin ada, di atas tempat tidur dan bahkan di kolongnya. Ia tak menemukan seorang bayi kecil, tidak pula tangisannya. Ia memandang istrinya yang juga memandang dirinya dengan wajah pucat pasi, ingin mengatakan sesuatu dengan mulut yang sudah terbuka dan bergetar bagai orang menggigil, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Sang Shodancho mulai teringat pada kata­kata Kamerad Kliwon dan mulai khawatir bahwa apa yang dikatakannya sungguh­sungguh benar. Kemudian didorong oleh rasa panik ia melompat ke arah istrinya dan mengguncang­guncangkan tubuhnya begitu keras menuntut Alamanda mengatakan apa yang terjadi. Tapi bukannya mengatakan apa pun, Alamanda kemudian terkulai lemas dan tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Tepat bersamaan dengan kedatangan si dukun bayi yang sengaja disuruh menginap menunggu kelahiran Nurul Aini yang ditunggu­tunggu itu, dan si dukun bayi yang telah mengalami hal­hal aneh seperti itu menghampiri mereka berdua, membaringkan tubuh Alamanda dengan benar dan menyelimutinya, lalu berkata pada Sang Shodancho, ”Hal seperti ini kadang­kadang terjadi, Shodancho, tak ada anak bayi kecuali hanya angin dan angin.”

”Kau sendiri yang bilang bahwa anakku perempuan!” teriak Sang

Shodancho tak menerima dengan nada tinggi penuh kemarahan. Ketika ia melihat ketenangan sikap si dukun bayi, ia mulai duduk di tepi tempat tidur menangis sejadi­jadinya tak memedulikan bahwa dirinya bukan anak kecil yang kehilangan mainan melainkan seorang laki­laki berumur tiga puluh tahun lebih. Tapi ia memang kehilangan Nurul Aini, gadis kecil impiannya yang telah ia nantikan bukan saja sejak istrinya hamil bahkan sejak ia pertama kali melihat Alamanda di pertarungan adu babi. Itu waktu ia untuk pertama kali dibuat jatuh cinta kepadanya dan ia berharap gadis itu bisa menjadi istrinya, ibu dari anakanaknya. Saat itu ia mulai membayangkan Alamanda melahirkan anak yang ditanam di rahimnya, dan salah satu anak yang hendak ia beri nama Nurul Aini itu telah dirampok oleh entah siapa kecuali kutukan itu jika memang benar. Dengan serta­merta Sang Shodancho teringat kembali pada Kamerad Kliwon; kali ini bukan dengan sedikit kekhawatiran bahwa kutukan itu benar­benar akan terjadi, tapi dalam badai kemarahan karena kutukan itu sungguh­sungguh telah terjadi. Kamerad Kliwon telah merampok anaknya dan ia harus membalas dendam. Anak itu kemudian diumumkan mati dan sebisa mungkin disembunyikan dari umum mengenai apa yang terjadi. Hanya Kamerad Kliwon yang menyadari bahwa apa yang ia lihat dua bulan lalu di dalam rahim Alamanda memang benar. Setelah satu minggu masa berkabung, Sang Shodancho mulai memerintahkan kapal­kapalnya datang kembali, mencari ikan di tempat yang sebelumnya lagi dan menjual ikan di pelelangan yang sama lagi, dalam satu upaya membalas dendam terhadap Kamerad Kliwon dan teman­temannya. Para buruh di kapal penangkap ikan memprotes rencana tersebut karena mereka merasa takut terhadap ancaman para nelayan yang akan membakar kapal dan tak memedulikan orang­orang di dalamnya jika kapal­kapal itu berani muncul lagi di daerah tradisional mereka. Sang Shodancho tak peduli dan memecat siapa pun yang tak sepakat dengannya.

Kamerad Kliwon mencoba bicara kepadanya bahwa Sang Shodan­

cho telah melanggar janji yang telah dikatakannya sendiri, tapi Sang Shodancho balik menuduh bahwa Kamerad Kliwon telah melanggar janji. Kamerad Kliwon sama sekali tak pernah menjanjikan apa pun kecuali keamanan kapal dari kemarahan para nelayan tapi Sang Shodancho menyebut­nyebut mengenai kutukan itu dan ia merasa yakin bahwa itu kutukannya, kutukan seorang laki­laki yang cemburu. Bahkan dengan penuh kemarahan Sang Shodancho berkata bahwa tak layak bagi seorang laki­laki melakukan hal bodoh seperti itu hanya karena ditinggal kekasihnya karena setiap perempuan di dunia memiliki hak untuk memilih dengan siapa ia ingin kawin.

Kamerad Kliwon sungguh merasa tersinggung dikatakan telah mengutuk anaknya yang hilang sebelum dilahirkan tersebut hanya karena ia cemburu. Namun ia mencoba tenang dan berkata bahwa kutukan itu bukan datang dari siapa­siapa, kemungkinan besar datang dari istrinya sendiri. ”Hanya ada satu kemungkinan, Shodancho,” katanya tenang, ”Kau bercinta dengan istrimu tanpa landasan cinta sama sekali; anak dari persetubuhan seperti itu tak akan pernah dilahirkan, dan kalaupun dilahirkan ia hanya akan menjadi anak gila dengan ekor tikus di pantatnya.” Sang Shodancho nyaris saja hendak menonjoknya mendengar kata­kata yang memang ada benarnya itu seolah­olah rahasianya dibuka demikian lebar. Kamerad Kliwon menghindar dengan cepat dan berkata lagi padanya, ”Bawa pergi kapal­kapal itu segera, Shodancho, sebelum kami kehilangan kesabaran.”

Sang Shodancho mengacuhkan tuntutannya dan tetap memerintahkan kapal­kapal itu tetap beroperasi sebagaimana biasa, kecuali kali ini dikawal para prajurit dari rayon militer dengan senjata lengkap. Prajurit­prajurit itu berdiri di pagar­pagar pembatas geladak mengawasi para nelayan yang memandang marah kepada mereka. Sang Shodancho tersenyum penuh kelicikan memandang orang­orang itu sementara senja mulai turun dan Kliwon naik ke arah perahu dengan mesin tempel bersama tiga orang lain diikuti perahu­perahu lain. Mereka mencoba mencari kemungkinan memperoleh tempat di laut luas di mana ikan masih berkeliaran, paling tidak untuk mengisi dapur mereka sendiri.

Tak berbeda dari Sang Shodancho, Alamanda sangat terguncang oleh kehilangan anak yang seharusnya kini sudah lahir itu, karena bagaimanapun itu anaknya, tak peduli dengan siapa dan bagaimana ia bercinta. Ketika satu minggu masa berkabung habis dan Sang Shodancho telah kembali mengerjakan tugas­tugasnya dan menyelesaikan urusan dengan kapal­kapalnya, Alamanda masih mengurung diri di dalam kamar dalam kesedihan yang khidmat. Kadang­kadang ia menggumam membuat Sang Shodancho khawatir bahwa istrinya telah menjadi gila karena gumamannya selalu saja menyebut dan memanggil nama Nurul Aini, anak mereka yang tak pernah dilahirkan itu.

Tapi ketika Sang Shodancho mencoba membujuknya untuk tenang dan berkata bahwa semua itu takdir Tuhan dan bahwa mereka masih memiliki kesempatan kedua dan ketiga dan keempat dan kesempatan yang mungkin tanpa batas untuk memiliki anak, Alamanda dengan serta­merta menggeleng. ”Ayolah, Sayang,” kata Sang Shodancho, ”Kita bisa bercinta dengan baik­baik dan kita memiliki anak­anak sebanyak yang kita inginkan.” Dengan tegas Alamanda menggeleng dan berkata bahwa tak pernah terpikir olehnya menyerahkan diri begitu saja kepada Sang Shodancho. Ia mengingatkan perjanjian itu saat mereka memutuskan untuk saling mengawini bahwa ia hanya akan kawin tanpa memberi cinta. Sang Shodancho mencoba membujuknya lagi, berkata tentang kemungkinan memiliki Nurul Aini yang lain, seorang gadis kecil yang sungguh­sungguh nyata dan dilahirkan, namun Alamanda kembali memperoleh kekeraskepalaannya, tak peduli pada kondisi kesedihannya sendiri.

”Kehilangan anak lebih mengerikan daripada bertemu dengan iblis, dan memberikan cinta kepadamu lebih mengerikan daripada kehilangan dua puluh anak,” katanya tajam.

Pada saat itulah Sang Shodancho ingat bahwa istrinya tak pernah lagi mengenakan celana dalam besi itu lagi. Seketika ide busuknya menari­nari di dalam otak, lalu sebelum Alamanda menyadari apa yang dipikirkannya, Sang Shodancho berbalik dan menutup pintu: menguncinya. Ketika Sang Shodancho berbalik menghadap dirinya yang masih berbaring di tempat tidur sejak ia kehilangan Nurul Aini, Alamanda seketika tahu apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan serta­merta ia bangun dan memandang Sang Shodancho dalam pandangan penuh kebencian dan satu kuda­kuda seorang perempuan yang siap bertarung serta berkata pendek, ”Apakah kau berahi, Shodancho? Lubang telingaku masih rapat jika kau suka.”

Suaminya hanya tertawa sebelum berkata, ”Aku masih suka lubang kemaluanmu, Sayang.”

Alamanda belum sempat berbuat apa pun lagi ketika Sang Shodancho melompat ke arahnya, mendekap erat tubuhnya dan membantingnya ke atas tempat tidur kembali. Dalam kesadaran yang pulih sepenuhnya dan kekuatan yang apa adanya, Alamanda mencoba kembali mempertahankan diri, sadar sepenuhnya bahwa ia tak mengenakan celana dalam besi itu serta diam­diam ia merasa menyesal tak lagi mengenakan pelindung tersebut. Sang Shodancho yang telah melalui berbagai perang melawan Jepang dan Belanda dan pemberontakanpemberontakan bukanlah lawan yang sepadan untuk seorang perempuan seperti Alamanda. Dalam sekejap perempuan itu telah dibuat telanjang bulat dengan pakaian terkoyak­koyak bagaikan dicerabut oleh taring­taring serigala yang memperebutkannya, sebelum tubuh Sang Shodancho jatuh di atas dirinya dan menyapu habis seluruh tubuhnya. Selama percintaan itu Alamanda tak lagi mencoba memberontak karena tahu pasti bahwa ia hanya akan melakukan sesuatu yang sia­sia, tapi ia akan menggigit begitu bibir Sang Shodancho mendekat bibirnya. Sang Shodancho akhirnya cuma menusuk dan terus menusuk dirinya tanpa lelah, membentuk harmoni kesedihan dan keriangan yang ganjil. Alamanda sungguh­sungguh merasa hancur hatinya karena untuk kesekian kalinya ia gagal mempertahankan diri, merasa diri begitu hina dan kotor dan ia sangat menyesal. Ketika Sang Shodancho selesai membuang berahinya dan tergolek di samping tubuhnya, tanpa segan Alamanda menendangnya membuat Sang Shodancho terguling jatuh ke lantai sambil berkata, ”Pemerkosa busuk, kau tak hanya memerkosa istrimu bahkan mungkin memerkosa ibumu juga!” Ia melempari Sang Shodancho dengan bantal dan menambahi, ”Aku curiga kemaluanmu begitu panjangnya sehingga kau bahkan memerkosa lubang anusmu sendiri.”

Apa yang sedikit membuatnya lega adalah bahwa suaminya tak memperlakukannya sebagaimana satu tahun yang lalu. Ia tak lagi disekap di dalam kamar telanjang bulat di atas tempat tidur dengan kedua tangan dan kaki diikat ke empat sudut ranjang. Begitu ia dijatuhkan dari lantai, Sang Shodancho segera berdiri dan mengenakan pakaiannya sebelum pergi meninggalkannya seorang diri di dalam kamar. Keesokan harinya, tanpa pengawasan Sang Shodancho, dengan leluasa Alamanda menghilang dari rumah. Hal ini membuat Sang Shodancho diterpa rasa panik, tak membayangkan bahwa istrinya telah dibuat tak tahan oleh apa yang dilakukannya dan memutuskan untuk melarikan diri.

Ia mencoba menyuruh orang untuk mencarinya ke rumah Dewi Ayu, tapi orang itu tak menemukan Alamanda di sana. Ia juga mengirim seseorang untuk pergi ke rumah Kliwon secara diam­diam, dibakar api cemburu dan ia menduga bahwa istrinya pergi ke tempat kekasih lamanya itu, tapi sama sekali tak terbukti bahwa Alamanda ada di sana. Ia mulai mengirim orang ke setiap pelosok kota dan Alamanda tak juga ditemukan. Mengirim orang ke stasiun dan terminal bis untuk mencari tahu seandainya Alamanda pergi meninggalkan kota, tapi tak seorang pun pernah melihatnya naik bis maupun kereta. Sang Shodancho mulai terempas di kursi beranda dalam keputusasaan, menangisi nasib malangnya telah kawin dengan perempuan yang sangat dicintainya tapi tak pernah mencintainya, sehingga orang lewat yang menyapanya tak satu pun dibalasnya.

Senja membuatnya merasa semakin kosong dan sunyi, dan sesegera mungkin ia mulai menyadari betapa sunyi hidupnya, dengan atau tanpa Alamanda, dan inilah yang membuat dirinya semakin terasa menyedihkan. Ia tahu bahwa ia tak memiliki keberanian apa pun hidup tanpa perempuan yang begitu dipujanya sejak pertemuan pertama itu, bahkan yang kemudian membuatnya melakukan pemerkosaan. Tapi ia juga tak melihat kebahagiaan apa pun untuk meneruskan hidup dengannya, sejauh Alamanda tak memiliki tanda­tanda untuk membalas cintanya, walau sedikit.

Ia mulai bertanya­tanya kembali apakah ia sungguh­sungguh mencintai istrinya, dan jawabannya selalu ya bahwa ia mencintai Alamanda. Ia mungkin harus berpikir sebagai seorang lelaki ksatria, lelaki sejati, prajurit yang sesungguhnya, untuk menawarkan perceraian kepadanya dan mungkin dengan itu Alamanda bisa menjadi makhluk yang bahagia meskipun Sang Shodancho tetap akan menjadi makhluk yang menyedihkan. Tapi bahkan memikirkan perceraian saja membuatnya mengucurkan air mata lebih deras dalam kesedihan yang dalam. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa jika istrinya ditemukan, ia berjanji tak akan pernah menyakitinya lagi dan sepenuhnya akan menghamba kepada apa pun yang diinginkannya. Ia akan melakukan semuanya asalkan Alamanda tak akan pernah meninggalkan dirinya. Bahkan meskipun mereka harus mengubur impian memiliki anak keturunan karena bisa saja mereka memungut anak­anak orang lain untuk mereka besarkan bersama­sama. Saat itu senja sudah semakin jatuh dan kegelapan malam mulai merayap menyentuh beranda rumahnya sementara lampu belum juga dinyalakan. Alamanda belum juga pulang membuat kesedihan Sang Shodancho semakin mendalam. Karena itu ketika bayangan Alamanda tampak di gerbang pagar ia segera bisa melihatnya, pertama sedikit ragu jangan­jangan itu hanya sekadar halusinasi, tapi setelah bayangan itu semakin mendekat ia semakin yakin bahwa yang berjalan ke arahnya adalah sosok istrinya. Sang Shodancho segera menjatuhkan diri dan berlutut di depan Alamanda yang mengernyitkan dahi melihat tingkahnya. Lalu Sang Shodancho berkata bahwa ia sangat menyesal telah

melanggar janjinya sendiri dan ia minta maaf untuk itu.

”Tak perlu minta maaf, Shodancho,” kata Alamanda, ”Karena aku sudah mengenakan pelindung terbaru dengan mantra yang lebih sulit. Bukan terbuat dari besi, bahkan meskipun telanjang kau tak akan bisa menembus kemaluanku.”

Sang Shodancho hanya memandang istrinya dengan ketakjuban yang tak dibuat­buat, terpukau oleh kenyataan bahwa istrinya tak memperlihatkan permusuhan sama sekali.

”Angin malam, Shodancho, mari masuk.”

Pemecatan kembali terjadi di kapal karena banyak buruh kapal yang mogok kerja, bukan karena mereka anggota Serikat Nelayan, tapi karena mereka takut pada ancaman para nelayan yang berniat membakar kapal­kapal itu jika terbukti berani kembali. Kenyataannya kapal­kapal itu kembali lagi, mencari ikan lagi di perairan dangkal dan menjual ikan di pelelangan mereka. Tak tergoyahkan oleh ancaman semacam itu, seorang nelayan berkata pada Kamerad Kliwon, ”Tak ada cara lain, Kamerad, kita harus membakar kapal­kapal Shodancho.”

Itu adalah waktu­waktu yang paling membuat Kamerad Kliwon tertekan dan depresi sebelum akhirnya ia mengikuti juga apa yang diinginkan para nelayan. Kenyataannya butuh waktu berbulan­bulan sampai mereka memperoleh kesempatan membakar ketiga kapal Sang Shodancho. Jauh sebelum hal itu terjadi, Kamerad Kliwon mencoba mencari jalan lain untuk menjauhkan kemungkinan pembakaran, sebab ia bukan seorang laki­laki galak yang bisa memutuskan membakar kapal tanpa perasaan bersalah. Sebaliknya, ia bahkan cenderung cengeng, begitu teman­temannya akan berkata, suka berkaca­kaca matanya jika menonton film yang sedikit mengharukan.

Diam­diam ia mencoba bicara kembali dengan Sang Shodancho, tapi pembicaraan mereka berakhir dengan pertengkaran. Bahkan ketika Sang Shodancho menyeret­nyeret masalah itu menjadi masalah dua orang laki­laki yang memperebutkan seorang perempuan bernama Alamanda, Kamerad Kliwon merasa sakit hati dan pergi dengan satu ancaman. Sebagaimana para nelayan itu, ia akhirnya berpikir memang tak ada cara lain kecuali berbuat sedikit anarkis dengan membakar kapal­kapal sialan itu. Bagaimanapun revolusi Rusia mungkin tak terjadi jika Lenin tak menyuruh Stalin merampok bank: membakar tiga buah kapal pengisap darah nelayan sama sekali boleh dimaafkan. Bahkan ketika Sang Shodancho memasang banyak prajurit di geladak kapalnya, itu membuat para nelayan semakin berbulat hati untuk menuntaskan dendam mereka. Tapi karena para prajurit yang kemudian membuat kapal penangkap ikan seolah itu adalah kapal tempur, tidaklah menjadi mudah bagi para nelayan melakukan niatnya, paling tidak harus menunggu selama enam bulan berlalu sejak kembalinya kapal­kapal tersebut. Itu adalah penantian yang melelahkan bagi Serikat Nelayan. Kamerad Kliwon memimpin semua rencana pembakaran dalam rapat­rapat rahasia yang selalu menemui jalan buntu bagaimana melakukannya dan dibuat pusing oleh keluhan­keluhan nelayan yang semakin miskin dan semakin marah dari hari ke hari.

Di masa lalu, jika ia menghadapi masalah­masalah yang membuat kepalanya serasa meledak, perempuan merupakan tempat pelariannya yang paling ampuh. Tapi kali ini ia tak punya teman perempuan kecuali Adinda adiknya Alamanda yang sudah dikenalnya selama satu tahun. Maka seolah tak punya pilihan lain, ia meninggalkan gubuknya dan orang­orang yang terus membicarakan sulitnya mendekati kapal yang dijaga siang dan malam oleh tentara­tentara bersenjata. Melangkah pergi ke rumah Dewi Ayu, rumah yang dahulu kala sering ia kunjungi untuk menemui Alamanda, tapi kini ia datang untuk Adinda.

Adinda senang belaka dengan kunjungan itu, tapi Adinda bukanlah semacam gadis yang hanya didatangi jika seorang laki­laki dalam kesumpekan. Salah besar jika Kamerad Kliwon menganggapnya begitu, menganggapnya sebagaimana kebanyakan gadis yang ia kenal sebelum ini yang dengan mudah ia bawa kencan setiap kali ia menginginkannya. ”Bicaralah pada ibuku jika kau ingin membawaku,” kata Adinda jika Kamerad Kliwon mengajaknya jalan setelah itu. Pada hari ketika ia berkunjung pertama kali ia memang tak berniat mengajak Adinda pergi, hanya ingin berjumpa dan berbincang­bincang dalam rangka melupakan sejenak urusan para nelayan dan serikat.

Waktu itu Kamerad Kliwon tampak bagai seorang pengungsi yang menyedihkan, lelah digerogoti perjuangan revolusioner yang entah sampai kapan akan berakhir. Ia ingin berbagi apa yang ia rasakan, apa yang ia inginkan, tapi Partai telah menegaskan bahwa hal itu tak bisa dikatakan pada siapa pun, ada terlalu banyak rahasia dalam organisasi, seolah mereka berada dalam lautan gerilya. Ia menghabiskan satu jam berbincang­bincang dengan Adinda hanya dalam pembicaraan yang membosankan, tak mengobati apa pun bagi jiwanya yang lelah, dan ketika ia pulang ia terperosok di kursi di depan gubuk, menatap langit senja di atas permukaan air laut.

”Seseorang mesti menodongkan senjata ke dahimu,” kata Adinda sebelum ia pulang. ”Agar kau mau memikirkan dirimu sendiri.”

Itu adalah langit senja yang sama sebagaimana biasanya ia lihat, tapi hari itu ia merasakannya lain. Di masa lalu ia selalu mengenangnya sebagai senja yang indah sementara ia duduk di pasir bersama Alamanda, dan akan selalu tampak indah bersama gadis mana pun yang berkencan dengannya. Namun langit di senja hari itu begitu dingin menusuk, sunyi dan menyedihkan, seolah cermin bagi hatinya yang mendadak terasa kerontang. Ia semakin larut ditemani sebatang rokok kretek, bertanya­tanya apakah revolusi sungguh­sungguh bisa terjadi, apakah ada kemungkinan bahwa tak ada manusia yang menindas manusia lain. Ia pernah mendengar di masa lalu yang jauh seorang guru agama di surau samping rumahnya bercerita tentang sorga, tentang sungai susu yang mengalir di bawah kaki, tentang bidadari­bidadari cantik yang selalu perawan dan boleh ditiduri siapa pun, tentang segala hal yang boleh diminta tanpa satu larangan. Semua itu tampak begitu indah, sampai­sampai ia merasa terlalu indah untuk dipercayai. Ia merasa tak membutuhkan keadaan yang terlampau muluk­muluk seperti itu, cukup bahwa semua orang memperoleh jumlah beras yang sama, atau

keinginan terakhir mungkin jauh lebih muluk­muluk lagi, pikirnya.

Ia membutuhkan Alamanda, atau kekasih semacam itu, tempat di mana ia ingin berbagi semua yang ia pikirkan tanpa takut bahwa ia mengatakan hal yang paling rahasia sekalipun, karena kekasih paling setia adalah kotak rahasia yang paling aman. Tapi ia telah kehilangan gadis itu, gadis yang telah membuat senja yang monoton dan sendu selalu menjadi tampak menyenangkan seolah itu adalah kartu pos yang dikirim seseorang dari negeri jauh entah siapa. Ia kadang bertanya­tanya juga apakah sudah merupakan nasib para revolusioner untuk menjalani kehidupan yang sunyi dengan kepala yang melulu dijejali gagasangagasan tentang revolusi. Beginilah mungkin ia akan menjalani hidup: ia bercinta sambil memikirkan revolusi, memimpikan revolusi, mabuk revolusi, makan revolusi, dan bahkan buang tai revolusi.

Memikirkan hal itu selalu membuatnya kembali pada nostalgia, mengenang masa lalu ketika ia tak tahu bahwa ia memerlukan revolusi. Masa lalu yang sesungguhnya tak jauh berbeda karena dulu dan sekarang ia masih laki­laki yang miskin itu juga, tapi dulu ia memiliki cara sederhana menghadapi orang kaya: cukup mencuri apa pun di kebun mereka, rayu gadis­gadisnya dan biarkan mereka yang membayarinya makan di kedai dan nonton bioskop. Atau terima undangan pesta­pesta mereka dan minum bir secara cuma­cuma, semua itu tak memerlukan Partai maupun propaganda maupun Manifesto Komunis. Tapi ia telah berkenalan dengan Partai dan impian tentang revolusi, dan itu membuatnya tak lagi berpikir sesederhana itu. Dan berpikir lebih rumit selalu membuatnya lelah. Ia bahkan lelah memandang senja yang merah menyala itu karena pikirannya tak lagi mau beristirahat, membuatnya tanpa sadar terperosok semakin dalam dan tertidur di kursi. Begitulah ia selalu di masa­masa penantian pembakaran kapal selama enam bulan. Suatu malam ia dibangunkan dalam keadaan tertidur seperti itu oleh beberapa nelayan. Telah dua minggu prajurit­prajurit itu tak lagi menjaga kapal­kapal penangkap ikan. Mereka rupanya merasa lelah dan bosan juga dan menganggap nelayan­nelayan itu hanya omong­kosong belaka dalam usaha mereka membakar kapal. Para nahkoda kapal memutuskan untuk memulangkan mereka semua daripada harus selalu memberi makan, rokok dan beberapa botol bir tanpa mengerjakan apa pun. Mereka dengan sembrono telah menganggap bahwa nelayan­nelayan itu sudah menyerah untuk mengganggu mereka. Prajurit­prajurit itu mulai dikurangi sejak sebulan sebelumnya, dan ketika para nahkoda kapal merasa yakin para nelayan tak lagi merasa peduli pada kapal­kapal tersebut, dua minggu lalu mereka mulai melaut tanpa pengawalan dan hanya dijaga sedikit prajurit bersenjata ketika berlabuh dan menurunkan ikan. Serikat Nelayan telah merencanakan menyerang kapalkapal itu di tengah malam pada saat bulan mati. Itulah malam ketika Kamerad Kliwon dibangunkan setelah mereka bersepakat bahwa malam itu adalah malam ketika mereka akan menyelesaikan perhitungan yang

tertunda selama enam bulan. ”Bangun, Kamerad,” kata seorang temannya, ”Revolusi tak terjadi di tempat tidur.”

Dengan dipimpin Kamerad Kliwon sendiri yang telah membuang semua rasa kantuknya dan dibuat keras hati oleh rencana itu, tiga puluh perahu kecil bergerak di bawah langit cerah yang hanya berhiaskan bintang­bintang. Itu adalah malam titik balik bagi Kamerad Kliwon, malam ketika ia mulai menganggap bahwa menjadi seorang revolusioner harus memiliki hati dingin tak tergoyahkan, campur aduk antara kekeraskepalaan yang datang dari keyakinan, dan keberanian yang datang dari kepercayaan bahwa ia melakukan hal yang benar. Kapal­kapal itu tampak di kejauhan di kegelapan laut karena mereka memendarkan cahaya yang samar­samar dari kabin­kabinnya, sementara perahuperahu itu tak dibekali cahaya apa pun, bergerak berdasarkan naluri nelayan­nelayan yang mengemudikannya, yang telah mengenal laut sebagai kampung halaman mereka. ”Anggap ini sebagai pembakaran penjara Bastile,” kata sang pemimpin pada dirinya sendiri, menguatkan hatinya, ”demi revolusi dan orang­orang malang terkutuk.”

Kapal­kapal itu beroperasi sedikit berjauhan, dan setiap kapal dituju

oleh sepuluh perahu kecil dengan masing­masing tiga sampai lima orang nelayan di atasnya. Mereka bergerak perlahan bagai tiga puluh ekor ular sawah merangkak mengincar seekor tikus bebal yang tak menyadari datangnya bahaya. Melalui pendar­pendar cahaya yang muncul dari kapal tersebut, mereka bisa melihat buruh­buruh kapal sedang menarik jaring dan menumpahkan ikan­ikan ke dalam lambung kapal yang dipenuhi es­es balok pendingin.

Kamerad Kliwon memimpin sepuluh perahu yang bergerak mengepung kapal tengah, dan ketika menurut perkiraannya dua kapal lain telah terkepung pula, ia meniup sebuah peluit yang biasa ia pergunakan untuk mengusir para pelancong yang tengah berenang sementara perahu hendak mendarat. Bunyi peluit melengking keras membuat orang­orang di atas geladak kapal terkejut dan menghentikan pekerjaan mereka. Tapi belum juga rasa terkejut itu hilang dan mereka tersadar kembali, peluit itu telah menjadi tanda agar orang­orang di atas tiga puluh perahu itu menyalakan obor. Laut seketika dipenuhi cahaya bagaikan kunang­kunang beterbangan mengelilingi kapal­kapal. Kamerad Kliwon berdiri di ujung perahu, berkata lantang pada orangorang di geladak kapal dengan suara yang menggema di keheningan laut: ”Para sahabatku, melompatlah dan naik ke perahu kami, kapal segera terbakar.”

Meskipun si nahkoda kapal berteriak­teriak marah pada ancaman tersebut dan menyuruh buruh­buruhnya untuk melawan, namun dalam kepanikan justru ia sendiri yang melompat terjun ke laut pertama kali dan berenang menuju perahu terdekat. Ia memarahi orang di atas perahu, dan terkapar tak sadarkan diri setelah seseorang menghajarnya. Sementara para buruh kapal berlomba­lomba melompat ke laut dan berenang menuju perahu­perahu mereka, para nelayan mulai bersoraksorai penuh kegembiraan seolah tengah merayakan satu pengorbanan suci. Seseorang bahkan mulai menyanyikan Internationale dengan cara yang aneh dan beberapa yang lain mengikutinya. Itu merupakan pesta mereka yang paling indah.

Kantong­kantong plastik berisi bensin mulai melayang menghunjam geladak kapal yang kosong, dan setelah kapal banjir bensin, obor mulai melayang dan api menjilat bensin. Perahu­perahu itu segera menyingkir sementara tiga api unggun menyala hebat di tengah laut, lalu ketika ketiganya meledak dahsyat, para nelayan yang telah menyingkir jauh bersorak gembira sambil berseru, ”Hidup Serikat Nelayan! Hidup Partai Komunis! Kaum buruh sedunia, bersatulah!”

”Jika revolusi berhasil,” kata Kamerad Kliwon pada para sahabatnya, ”semua orang akan buang tai dengan cara yang sama.”

Sang Shodancho telah mendengar semua itu. Seseorang melaporkan bahwa pemimpin kerusuhan itu adalah Kamerad Kliwon. Mereka melakukannya pada tengah malam buta ketika penjagaan telah melonggar karena dianggap mereka tak akan melakukan itu setelah berbulan­bulan tak terlihat kecurigaan apa pun. Tak ada korban karena para buruh kapal telah menyelamatkan diri dengan meloncat ke dalam air, tapi ketiga kapal itu telah hancur meledak dalam puing­puing sebelum ditenggelamkan.

Mendengar laporan itu Sang Shodancho hanya membuang napas pendek dan berpikir bahwa ia masih bisa memperoleh kapal penangkap ikan baru dengan pengamanan yang lebih ketat. Ia sama sekali tak terlihat marah. Jawaban mengenai ketidakmarahannya hanya bisa diketahui oleh kenyataan bahwa pada saat itu Alamanda tengah hamil enam bulan dan ia sedang dalam keadaan demikian bahagia akan memperoleh Nurul Aini pengganti, sehingga kehilangan tiga buah kapal tak membuatnya menjadi begitu khawatir. Ia bersyukur bahwa persetubuhan mereka yang cuma sekali sebelum Alamanda memasang mantra pelindung di kemaluannya kembali, ternyata berbuah. Ia tak mau pikirannya diganggu oleh hal apa pun kecuali persiapan kelahiran anaknya yang kedua itu. Ia membawa istrinya ke rumah sakit yang lebih besar di ibukota provinsi sebanyak dua kali untuk memastikan bahwa ada bayi di dalam perut Alamanda, mengundang dukun­dukun sakti untuk memastikan anaknya tak dirampok kutukan macam apa pun.

Tapi ketika usia kehamilan Alamanda mencapai umur sembilan bulan, sebagaimana anaknya yang pertama, bayi itu tiba­tiba menghilang dari perutnya. Sang Shodancho dengan serta­merta meledak dalam kemarahan yang tak tertahankan sehingga ia mengambil senapannya dan menghambur ke halaman menembak ke sana­kemari membuat orang­orang berlarian kalang­kabut menghindarkan diri dari kemungkinan menjadi korban sasaran tembak. Orang mulai menganggapnya telah menjadi gila, dan ia mulai meneriakkan nama Kliwon dalam nada kebencian dan berteriak bahwa anak­anaknya yang hilang sebelum dilahirkan telah dirampok oleh kutukan laki­laki itu. Ketika Sang Shodancho puas menembaki apa pun, ia akhirnya berlari ke arah pantai dengan satu tujuan: menemukan dan membunuh Kamerad Kliwon dengan senapannya sendiri, dan pada saat itu tak seorang pun berani mencegahnya.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊