menu

Cantik Itu Luka Bab 10

Mode Malam
10
Pada suatu masa, penduduk Halimunda digemparkan oleh seorang bayi di tempat pembuangan sampah. Ia seorang bayi laki­laki, masih hidup meskipun telah diseret anjing ke sana­kemari. Orang segera menyadari ia akan tumbuh menjadi lelaki kuat. Selama berharihari mereka mencoba mencari siapa ibunya, dan karena ibunya tak pernah diketahui, maka tak seorang pun juga tahu siapa ayahnya. Ibunya mungkin seorang pelancong yang datang hanya untuk membuang

bayi, dan ayahnya seorang kekasih yang tak bertanggung jawab.

Ia dipelihara seorang perawan tua bernama Makojah, nenek tua paling dibenci di kota itu namun sekaligus juga paling dibutuhkan. Ia hidup dengan meminjamkan uang pada penduduk kota yang harus mengembalikannya dengan bunga mencekik, sebab hanya itulah yang bisa ia kerjakan. Ia tak bisa bertani sebab tak seorang pun mau menjual tanah kepadanya, kecuali sepetak tanah warisan yang menjadi tempatnya tinggal. Ia juga tak bisa bekerja jadi apa pun karena tak seorang pun memberinya pekerjaan. Ia bahkan tak bisa memperoleh seorang pun suami seumur hidupnya, meskipun ia telah melamar sekitar enam belas lelaki. Hidup kesepian dan disia­siakan, ia membalas dendam pada penduduk kota yang jatuh miskin dengan pura­pura bersikap dermawan, memberinya pinjaman sebelum mencekiknya dengan bunga pengembalian.

Sekali lagi, nyaris semua orang membencinya, terutama orang­orang

yang pernah terbelit hutang nyaris tanpa akhir. Semua orang menghindarinya, tak mau bicara dengannya, menganggapnya lebih buruk dari iblis pendosa. Tapi jika kebutuhan mendesak datang, dan cara lain telah ditempuh namun tak membuahkan hasil, mereka akan mengetuk pintu rumahnya sebab mereka tahu pertolongan sementara ada di balik pintu itu. Mereka akan datang dengan membungkuk, tersenyum dalam keramahan yang dibuat­buat, dan wajah memelas yang sesungguhnya. Makojah mengetahui belaka semua sandiwara tersebut, namun tak peduli, lagipula itu bagian dari bisnisnya belaka.

Pernah orang bertanya­tanya, ke mana perginya uang yang ia kumpulkan. Sebab mereka tak melihat kekayaannya bertambah sedikit pun. Rumahnya masih sebagaimana bertahun­tahun sebelumnya, kecuali kadang­kadang seorang tukang mengecat dan memperbaiki kerusakan di sana­sini. Kehidupan sehari­harinya tidaklah boros. Ia tak punya sanak famili. Dan terutama ia tak pernah terlihat pergi ke bank untuk menyimpan uang yang diperas dari para penduduk. Mereka mulai berpikir perawan tua itu pasti menyimpan uang­uangnya di bawah kasur. Maka dalam satu operasi yang mendadak, pernah suatu malam empat orang lelaki datang ke rumahnya untuk merampok. Tetangga yang mengetahui perampokan itu hanya diam saja, dan bahkan mencoba menonton dari balik tirai jendela. Namun Makojah juga tak menjadi histeris, sebaliknya ia diam dan melihat para perampok itu memeriksa semua tempat di rumahnya. Bagaimanapun mereka tak menemukan uang itu. Tak ada apa­apa di balik kasur, juga di timbunan abu tungku, tak ada juga di dalam tong air. Lemari pakaian hanya berisi baju, lemari makan hanya berisi sepiring nasi dengan kuah wortel. Menyerah sepenuhnya, keempat perampok bertopeng itu menghentikan pencarian mereka dan menemui Makojah yang masih berdiri di pintu kamarnya.

”Mana uangmu?” tanya salah satu dari mereka dengan jengkel.

”Dengan senang hati kuberikan padamu,” kata Makojah sambil tersenyum. ”Bunga empat puluh persen dan kembali dalam seminggu.”

Mereka pergi meninggalkannya tanpa berkata apa pun lagi.

Sejak itu tak seorang pun mencoba kembali merampoknya, terutama sejak kehadiran bayi di rumahnya. Makojah memelihara bayi itu, sebab lama ia mengangankan bisa mengurus seorang anak, dan terutama karena tak ada penduduk kota yang lain mau mengambil anak dari pembuangan sampah. Di sanalah anak itu akhirnya tumbuh. Makojah memberi nama yang bagus untuknya, Bhisma, tapi semua orang kemudian memanggilnya Idiot, dan melengkapinya menjadi Edi Idiot, sebab kelakukannya yang mencemaskan sekaligus menjengkelkan. Dan orangorang kemudian lupa bahwa namanya Bhisma, termasuk Makojah dan si bocah sendiri juga lupa, dan kini namanya Edi Idiot.

Orang­orang segera meramalkan nasib sial akan mendatangi bocah itu, sebab si perawan tua selalu membawa kesialan pada siapa pun yang hidup bersamanya. Ketika ia dilahirkan, ibunya mati. Itu hal biasa sesungguhnya. Ia hidup bersama ayahnya sampai umur lima tahun ketika si ayah akhirnya mati juga, disengat kalajengking yang masuk ke dapur. Makojah kemudian diurus bibinya, yang datang dan tinggal bersamanya. Si bibi seorang janda tanpa anak, dan ketika Makojah berumur tujuh tahun, ia mati juga setelah batok kepalanya tertimpa kelapa kering yang jatuh dari pohon di halaman belakang rumah mereka. Bagaimanapun, ia memperoleh warisan yang cukup memadai. Ayahnya seorang pegawai pegadaian dan mereka punya banyak uang. Itu cukup bagi Makojah menggaji seorang pembantu untuk mengurusi kebutuhan hidupnya. Si pembantu mati karena panas demam yang kelewat tinggi ketika Makojah berumur dua belas tahun. Sejak itu tak seorang pun mau tinggal bersamanya, dan menganggapnya sebagai gadis pembawa kesialan.

Ketika ia masih muda, ia sesungguhnya seorang gadis cantik belaka.

Banyak lelaki secara diam­diam jatuh cinta kepadanya. Tapi kematian beruntun orang­orang yang tinggal serumah dengannya membuat tak seorang lelaki pun punya keberanian mengambil risiko hidup bersamanya. Mereka lebih suka mengawini gadis yang lebih buruk darinya namun bisa hidup lebih lama daripada kawin dengannya untuk kemudian segera mati. Dalam hal ini, tak seorang pun tahu dari mana asal­usul kesialannya, dan tak seorang pun mencoba melihat kematian orang­orang yang pernah tinggal bersamanya sebagai kematian yang biasa­biasa saja. Semua orang berprasangka buruk, dan ia masih tak tersentuh lelaki bahkan sampai kelak kemudian ia mati.

Umurnya mulai beranjak tua. Waktu itu ia telah memulai bisnis meminjamkan uang ke beberapa tetangga. Ia yakin ia tak bisa bertahan hidup sendirian. Ia mencoba melamar seorang lelaki baik­baik, namun mereka menolaknya. Ia mencoba melamar lelaki berkelakuan buruk, para penjudi dan pemabuk, namun mereka pun menolak. Ia bahkan pernah melamar gelandangan dan pengemis, dan mereka lebih suka hidup miskin daripada hidup kaya bersamanya. Ia menghentikan usahanya untuk memperoleh suami ketika telah berumur empat puluh dua tahun, dan mencoba memungut anak, namun ini pun selalu memperoleh kegagalan yang berulang­ulang, sampai hari ketika ia memperoleh bayi dari tempat pembuangan sampah tersebut.

Edi Idiot tumbuh dalam asuhannya dan tak tampak tanda­tanda kesialan akan menimpa dirinya. Jika ada hal sial pada dirinya, maka itu adalah bahwa tak ada anak lain mau bermain dengannya. Bahkan anak­anak telah tertulari prasangka buruk orang tua mereka terhadap keluarga tersebut, dan sementara orang tua mereka menghindari Makojah kecuali saat­saat mereka membutuhkannya, anak­anak menghindari Edi Idiot. Hal ini membuat si bocah menjadi anak yang sulit, menjadi pemberang dan selalu mengganggu anak­anak sebayanya. Mengamuk jika tak diikutsertakan dalam apa pun, dan tak segan­segan menghajar siapa pun yang bersikap kurang ramah padanya. Itu membuat anak­anak semakin menghindar jauh darinya.

Ia membangun persahabatan dengan menebar ketakutan. Tak seorang pun berani melawannya, sebab ia anak terkuat di kota itu.

Namun pada akhirnya ia memperoleh teman­teman senasibnya. Ia sendiri yang pertama melihatnya. Beberapa teman sekolahnya juga merupakan anak­anak yang tersingkirkan. Ia melihat dua anak pincang jadi permainan anak­anak lainnya. Ia melihat anak kurus­kerempeng kurang makan menjadi olok­olokan. Ia juga melihat anak lain, tak memiliki kekurangan fisik apa pun kecuali ketololan yang tak dibuatbuat, dijauhi anak­anak lain hanya karena orang tuanya tukang angkut sampah sekaligus pencopet. Edi Idiot selalu ada untuk mereka. Ia datang ketika anak­anak pincang itu diganggu, menghajar tanpa ampun siapa pun yang mengolok­olok kemiskinan anak lain. Ia menjadi pelindung anak­anak itu kemudian, dan memulai persahabatan yang akrab di antara mereka, sehingga anak­anak sekolah di akhir tahun telah terpecah menjadi dua: anak­anak baik dan anak­anak badung yang dipimpin Edi Idiot.

Mereka mulai tumbuh menjadi musuh utama masyarakat kota. Ber­

beda dari anak­anak lain yang hanya melakukan keonaran­keonaran kecil, Edi Idiot tak segan­segan menghabiskan kandang ayam milik seseorang untuk melakukan pesta di pinggir pantai. Pada umur sebelas tahun, ia telah merampok kedai minum dan melumpuhkan pemiliknya, membawa berbotol­botol arak dan bir dan mabuk bersama temantemannya di kebun cokelat. Mereka juga telah mencoba hampir semua pelacur di kota itu. Dan hanya mereka yang pernah mencoba merasakan kamar tahanan pada awal umur belasan tahun. Untuk kasus­kasus semacam itu, Makojah akan menyelamatkan mereka dengan menyogok orang­orang di kantor polisi. Tak ada sedikit pun kejengkelan perawan tua itu terhadap apa pun yang dilakukan Edi Idiot. Sebaliknya, ia tampak bangga kepadanya.

”Ia akan menjadi gangguan serius kota ini,” kata Makojah suatu ketika pada polisi penjaga, ”sebagaimana mereka selalu jadi gangguan serius untukku selama bertahun­tahun.”

Itu benar. Orang­orang tua mulai mengancam kepala sekolah bahwa mereka akan menarik anak­anak mereka semua atau sekolah harus mengeluarkan Edi Idiot. Kepala sekolah yang tak berdaya akhirnya mengeluarkan anak tersebut dari sekolah, dan sebagai balasannya suatu pagi ia menemukan semua kaca jendela dan pintu sekolah telah pecah berantakan, meja dan kursi patah kakinya, dan tiang bendera tumbang. Demikianlah, pada umur dua belas tahun, sementara teman­teman sebayanya berada di sekolah, ia telah berkeliaran di jalanan. Ia mendatangi toko­toko dan memintai uang dari para pemiliknya, jika mereka tak memberi, maka kaca etalase atau pintu akan pecah berantakan dilempar batu atau ditendang kakinya. Ia pergi ke tempat pelacuran tanpa membayar, nonton bioskop tanpa membeli tiket, dan jika ada seseorang mempermasalahkan itu semua ia akan berkelahi dengannya,

sebelum memenangkan perkelahian tersebut.

Beberapa pemilik toko akhirnya menyewa seorang preman untuk menghadapi bocah itu, dan suatu hari Edi Idiot harus menghadapi preman tersebut dalam perkelahian yang berakhir dengan pembunuhan. Edi Idiot masuk tahanan kembali, namun segera dilepaskan karena membuat keributan di dalam tahanan, menghancurkan sel dan membuat babak­belur beberapa sipir. Ia kembali ke jalanan, membunuh dua atau tiga orang lainnya yang mencoba berkelahi dengannya, namun kali ini polisi tak tertarik untuk memborgol dan menahannya kembali. Ia berada di jalanan kembali, membangun posnya yang abadi di sudut terminal dengan kursi goyang dari kayu mahoni peninggalan orang Jepang tempatnya duduk. Ia mengumpulkan para pengikutnya satu demi satu. Beberapa di antara mereka ia kalahkan dalam perkelahian, sebagian besar yang lain menjadi pengikut atas kesediaan mereka sendiri. Mereka menarik pajak yang lebih menyesakkan para pemilik toko daripada kewajiban mereka pada petugas pajak kota. Hal yang sama diberlakukan untuk semua bis yang masuk maupun tidak ke terminal bis, untuk semua kios di pasar, untuk semua perahu yang mencari ikan ke laut, untuk semua tempat pelacuran dan kedai minum, untuk pabrik es dan minyak kelapa, dan bahkan untuk setiap becak dan dokar. Mereka juga mengantongi sendiri uang parkir.

Dengan cepat Edi Idiot dan teman­temannya menjadi teror bagi kota itu. Gerombolan tersebut bisa melakukan apa pun dalam keadaan mabuk maupun waras: merampok ayam, melempari kaca jendela, mengganggu gadis­gadis yang berjalan seorang diri maupun dikawal seluruh keluarga, dan bahkan nyolong sandal di masjid pada setiap waktu salat berjamaah. Burung­burung perkutut kelangenan orang­orang tua lebih sering hilang di waktu­waktu tersebut daripada waktu­waktu yang lain, sebagaimana mereka kehilangan ayam­ayam aduan dan pakaian di tali jemuran.

Mereka juga menjadi gangguan serius untuk pemuda­pemuda baik­baik, sebab gerombolan itu bisa tiba­tiba merampas apa pun dari mereka. Mereka telah mengambil banyak gitar milik pemuda­pemuda itu, tak terhitung pencopotan sepatu secara paksa di tengah jalan, dan jangan tanya berapa bungkus rokok yang mereka minta dalam sehari. Beberapa pemuda mungkin mencoba melawan, dan perkelahian akan pecah kembali. Namun gerombolan itu tampak semakin jelas tak pernah terkalahkan, terutama jika Edi Idiot telah turun tangan sendiri. Beberapa pembunuhan bahkan akhirnya terjadi kembali. Kejengkelan penduduk kota ditambah oleh sikap polisi yang menganggap hal itu sekadar kenakalan anak­anak.

”Ia pasti mati,” kata seseorang mencoba menghibur diri, ”bagaimanapun ia tinggal dengan Makojah.”

”Masalahnya adalah, kapan ia mati,” yang lain membalas. Kematian tak datang sampai tiga tahun kemudian. Sebaliknya, justru Makojah yang kemudian mati tak lama kemudian. Ia mati begitu saja di suatu pagi, sedang buang tai di kamar mandi rumahnya. Adalah Edi Idiot sendiri yang menemukannya. Ia terbangun pada pukul sembilan dan tak menemukan sarapan pagi sebagaimana biasa. Ia mencari si perawan tua itu ke mana­mana, namun tak menemukannya sampai kemudian ia menaruh curiga pada pintu kamar mandi yang tertutup. Ia mencoba membukanya. Terkunci dari dalam. Ia mendobraknya, dan menemukan perawan tua itu masih jongkok di atas kakus, telanjang, sama sekali tak mengundang berahi.

”Mama, apakah kau sudah mati?” tanya Edi Idiot. Makojah tak menjawab.

Edi Idiot mendorong dahi Makojah dengan ujung telunjuknya, dan seketika tubuh itu terjengkang. Sudah pasti mati.

Kematiannya dengan cepat menjadi kabar gembira penduduk kota: sebagian besar masih memiliki hutang yang belum terbayar. Tak ada satu tetangga pun mau mengurus jenazahnya, hingga Edi Idiot membopong mayat tersebut langsung ke rumah penggali kubur Kamino. Waktu itu Kamino masih bujangan, disebabkan tak banyak perempuan mau tinggal di tengah kuburan bersamanya, maka hanya mereka berdua yang mengurus mayat Makojah sebelum seorang kyai yang merasa prihatin datang. Sang kyai menyuruh mayat itu dimandikan, dan kemudian ia bersama si penggali kubur melakukan salat sementara Edi Idiot menunggu di luar rumah dengan gelisah. Demikianlah, Makojah yang begitu banyak dikenal penduduk kota dan bahkan merupakan satusatunya orang yang selalu siap­sedia untuk segala pertolongan darurat, penguburan mayatnya hanya disaksikan tiga orang.

Makojah tak meninggalkan warisan apa pun untuk Edi Idiot kecuali

rumah dengan pekarangannya tempat mereka tinggal selama ini. Tak ada yang tahu ke mana perginya uang­uang hasil bunga pinjaman itu. Edi Idiot sama sekali tak peduli dengan uang­uang tersebut, tapi penduduk kota yang lain peduli, sebab mereka merasa itu uang milik mereka. Maka orang­orang, sampai bertahun­tahun kemudian, masih sering mencoba mencari dan memburu keberadaan uang­uang Makojah. Ada desas­desus bahwa ia memiliki ruang bawah tanah, maka beberapa orang mencoba menggali terowongan dari rumah tetangga, tapi mereka tak menemukan apa pun. Sebaliknya, salah satu dari anggota ekspedisi harus mati karena mengisap uap belerang, dan mereka segera menutup kembali terowongan tersebut.

Kebahagiaan penduduk kota tak bertahan lama. Mereka pikir, jika Makojah mati, Edi Idiot akan berubah menjadi anak yang baik. Paling tidak ia akan mengasingkan diri selama beberapa bulan untuk berkabung. Ternyata tidak. Ia membawa pulang gadis­gadis untuk ditidurinya di rumah sementara ayah gadis­gadis itu putus asa mencari mereka ke sana­kemari. Ia meminta makan dari dapur mana pun yang tampak terbuka, seringkali tanpa meminta, langsung duduk di meja makan dan melahap apa pun bahkan sebelum tuan rumah mencicipi hidangannya. Itu belum termasuk tindakan­tindakan kriminal yang lebih berat, selain pembunuhan yang terjadi beberapa kali, sebab ia juga merampok dan mengorganisir pencurian penumpang bis.

Ketika Sang Shodancho turun dari hutan gerilyanya, banyak penduduk kota berharap ia tak hanya membereskan serangan babi, namun juga membereskan preman­preman kota itu. Namun bahkan Sang Shodancho kewalahan menghadapinya.

”Mereka seperti tai,” kata Sang Shodancho, ”semakin diaduk semakin bau.” Ia tak menjelaskan apa maksudnya, tapi orang segera menyimpulkan: jika Edi Idiot dan gerombolannya diganggu, mereka akan semakin menjadi gangguan kota.

Itu masa­masa di mana banyak orang Halimunda duduk­duduk di beranda rumah dengan wajah lelah. Para pelancong iseng mungkin saja akan bertanya, apa yang kalian lakukan. Dan mereka akan menjawab:

”Menunggu keranda kematian Edi Idiot lewat.”

Doa mereka tak pernah terkabul. Bukan karena Edi Idiot tak pernah sungguh­sungguh mati, tapi karena Edi Idiot tak pernah diusung oleh keranda, dan tak pernah dikuburkan di mana pun. Ia mati karena ditenggelamkan, dan tubuhnya habis dimakan sepasang ikan hiu.

Adalah seorang lelaki asing yang datang suatu pagi dengan keributan itu yang membunuhnya: Maman Gendeng. Ia membunuhnya setelah perkelahian tujuh hari tujuh malam yang penuh legenda itu. Awalnya tak seorang pun percaya bahwa anak bengal itu sungguh­sungguh mati, tapi kemudian mereka harus segera terbangun dari mimpi buruk. Edi Idiot, sebagaimana siapa pun, bisa mati dan bisa dibunuh. Mereka sangat berterima kasih pada orang asing itu, dan Maman Gendeng dengan cepat diterima sebagai warga kota.

Untuk merayakan hal itu, orang­orang larut dalam pesta yang nyaris tanpa akhir, yang bahkan tak pernah terkalahkan oleh pesta setelah atau sebelum peristiwa tersebut. Bahkan pesta 23 September sebagai hari kemerdekaan di Halimunda tak pernah semeriah itu. Pasar malam dibuka selama sebulan penuh, dengan rombongan sirkus yang dipenuhi gajah, harimau, singa, monyet, ular, dan gadis­gadis kecil penari plastik serta tentu saja badut­badut kate. Di sudut­sudut kota orang bisa menyaksikan pertunjukan sintren secara cuma­cuma sebagaimana pertunjukan kuda lumping. Pemuda­pemuda dan gadis­gadis keluar dalam romansa tanpa rasa takut gerombolan Edi Idiot akan mengganggu mereka. Ayam dan segala jenis ternak dibiarkan berkeliaran di halaman dan pintu dapur kembali tak terkunci sebagaimana sedia kala selalu begitu. Bahkan ketika Maman Gendeng memberikan maklumat bahwa tak seorang lelaki pun kecuali dirinya sendiri boleh meniduri pelacur Dewi Ayu, mereka tak peduli meskipun jelas itu suatu kerugian tak terampuni.

Mereka menganggap hal itu sebagai hadiah yang cukup layak bagi sang pahlawan pembunuh Edi Idiot anak Makojah yang menyebalkan.

Namun suatu hari, di tengah udara panas tropis dengan suara sssh berdengung­dengung di telinga, Maman Gendeng beranjak dari kursi goyang kayu mahoni yang diwarisinya dari Edi Idiot di terminal bis dan berjalan ke toko terdekat di ujung pasar. Ia meminta satu krat bir dingin, demi udara panas keparat, tapi si penjual hanya memberinya satu botol. Maman Gendeng mengamuk dan memukul etalase toko hingga pecah berantakan, dan mengambil paksa satu krat bir, itu setelah menghajar pemilik toko yang menurutnya sama sekali tak beradab. Ia kembali ke kursi goyangnya, membunuh rasa kering di sekujur tubuhnya dengan bir rampasan tersebut.

Peristiwa tersebut menghentakkan kesadaran penduduk Halimunda bahwa segalanya sama sekali tak berubah bagi mereka. Edi Idiot telah mati, tapi begundal baru telah datang. Namanya Maman Gendeng.

***

Setelah pesta perkawinan Alamanda yang meriah, Dewi Ayu segera mengusir pengantin baru tersebut ke rumah mereka yang baru. Ia terlalu dibuat jengkel oleh peristiwa­peristiwa mendadak seperti itu, terutama pada anak sulungnya. Bagaimanapun ia telah mengingatkannya lama sekali soal kebiasaannya memperlakukan lelaki dengan cara yang sangat buruk. Tapi Alamanda mewarisi kekeraskepalaan entah dari siapa, dan kini ia memperoleh batunya.

Ia tak pernah mengira bahwa ia melahirkan gadis­gadis cantik yang binal. Mereka mengejar laki­laki dan mencampakkannya begitu saja. Ia telah mengetahui kelakuan buruk Alamanda bahkan sejak gadis itu mulai mengenal lelaki. Dan tampaknya, perangai buruk itu diwariskan sepenuhnya pada Adinda. Sebelum ini sebenarnya ia gadis yang sangat lugu, lebih banyak di rumah daripada berkeliaran. Namun sejak perkawinan Alamanda yang mendadak, ia jadi lebih sering menghilang. Lihatlah gadis itu, kini ia selalu ada di mana pun Partai Komunis melakukan perayaan mereka yang meriah. Adinda mulai mengejar lelaki yang pernah dimiliki Alamanda: Kamerad Kliwon. Dewi Ayu tak pernah tahu apa yang ada di pikiran Adinda. Ia pikir gadis itu akan membalaskan semua sakit hati kakaknya pada lelaki itu. Segalanya menyebalkan untuk dipikirkan.

”Orang­orang memburu kemaluanku,” katanya pada diri sendiri,

”dan aku melahirkan gadis­gadis pemburu kemaluan lelaki.”

Satu hal yang sangat ia khawatirkan kemudian adalah Maya Dewi si bungsu. Ia takut anak itu mengikuti kebadungan kedua kakaknya. Kini ia berumur dua belas tahun. Ia anak yang baik, penurut, dan tak menampakkan sikap badung sedikit pun. Tangannya jauh lebih banyak bergerak daripada tangan siapa pun di rumah itu untuk membuat segalanya menyenangkan. Ia memetik bunga mawar dan anggrek untuk dipajang pada vas bunga dan diletakkan di meja tamu setiap pagi. Gadis itu jugalah yang setiap hari Minggu membasmi sarang laba­laba di langit­langit rumah. Guru­guru di sekolah melaporkan perilaku baiknya, dan ia membuka buku­buku pelajarannya setiap malam sebelum tidur, mengerjakan semua pekerjaan rumah. Tapi semuanya bisa berubah sebagaimana terjadi pada Adinda, dan itulah yang sangat dikhawatirkan Dewi Ayu. ”Kawin dengan orang yang tak pernah dicintai jauh lebih buruk dari hidup sebagai pelacur,” katanya suatu ketika pada si bungsu itu.

Dewi Ayu berpikir untuk mengawinkan Maya Dewi secepatnya, sebelum ia tumbuh dewasa dan menjadi binal. Selama bertahun­tahun ia selalu memecahkan masalah­masalahnya dengan pikiran cepat, dan gagasan pertama yang muncul di otaknya selalu merupakan hal yang kemudian ia lakukan. Ia tak ingin melihat Maya Dewi tumbuh menjadi gadis dewasa dan menerima nasibnya yang tragis sebagaimana dialami Alamanda, dan mungkin akan dialami pula oleh Adinda. Tapi ia tak tahu dengan siapa ia akan mengawinkan gadis dua belas tahun itu, sebab ia pun tak ingin memberikan si bungsu pada sembarang orang.

Ia ingin membicarakan hal itu dengan kekasihnya, Maman Gendeng. Suatu hari Minggu, mereka bertiga (sejak beberapa waktu lalu, Alamanda dan Adinda tak pernah lagi ikut tamasya bersama mereka) pergi ke taman wisata. Di sana mereka bisa bersantai sepanjang hari, jajan sepuasnya dan memberi makan rusa­rusa jinak serta berakhir dengan main ayunan. Dewi Ayu melihat Maman Gendeng menggandeng tangan Maya Dewi ke sana­kemari, sambil menunjuk burung­burung merak yang bersembunyi di belukar, dan melemparkan kacang polong pada monyet­monyet yang bergerombol. Dewi Ayu tak peduli pada kenyataan bahwa ia seolah mereka abaikan keberadaannya. Keduanya berlari ke pinggir tebing laut dan mencoba menghitung burung­burung camar yang beterbangan.

Ketika mereka akhirnya pulang dan Maya Dewi menghilang bersama teman­teman tetangganya, Dewi Ayu akhirnya berkata pada Maman Gendeng.

”Kawinlah kalian berdua,” katanya.

”Siapa?” tanya Maman Gendeng. ”Aku dan siapa?” ”Kau dan Maya Dewi.”

”Kau gila,” kata Maman Gendeng. ”Jika ada perempuan yang ingin aku kawin, maka itu adalah dirimu.”

Dewi Ayu menjelaskan kecemasannya, di udara siang yang hangat dengan segelas limun dingin. Mereka duduk berdua di beranda. Debur ombak terdengar di kejauhan, dan burung gereja ribut di nok atap rumah. Telah berbulan­bulan mereka menjadi sepasang kekasih, tepatnya yang satu pelacur dan yang lain pelanggan yang memonopolinya. Dewi Ayu tetap bersikukuh bahwa Maya Dewi harus dikawinkan dengan seseorang. Karena tak ada lelaki lain yang dekat dengannya, maka satu­satunya orang yang mungkin kawin dengannya adalah Maman Gendeng.

”Itu seolah kau tak mau lagi tidur denganku,” kata Maman Gendeng. ”Jangan salah kira,” kata Dewi Ayu. ”Kau boleh mendatangiku di rumah pelacuran Mama Kalong sebagaimana suami­suami yang lain.

Itu jika kau tak malu pada istrimu.”

”Aku harus memikirkan hal seperti ini bertahun­tahun,” kata Maman Gendeng bersungut­sungut.

”Cobalah memikirkan orang lain. Orang­orang Halimunda nyaris mati dan gila mendapati diri mereka tak lagi bisa menyentuh tubuhku hanya karena seorang jagoan sepertimu. Dengan melepaskanku, kau jadi pahlawan bagi mereka. Dan kau memperoleh pengganti yang tak akan pernah mengecewakan, seorang gadis anak pelacur paling cantik di kota ini.”

”Ia masih dua belas tahun.”

”Anjing kawin di umur dua tahun dan ayam di umur delapan bulan.” ”Ia bukan anjing dan apalagi ayam.”

”Itu karena kau tak pernah pergi sekolah. Semua manusia mamalia seperti anjing, dan berjalan dengan dua kaki seperti ayam.”

Maman Gendeng telah mengenal karakter perempuan itu, paling tidak ia menganggapnya demikian. Ia tahu Dewi Ayu tak akan mundur dari gagasannya, segila apa pun hal itu. Ia meminum limun dinginnya dan merasakan tubuhnya menggigil, seolah ia diharuskan berjalan di jembatan selebar rambut dibelah tujuh dengan neraka terhampar di bawahnya.

”Aku tak akan pernah menjadi suami yang baik,” keluhnya. ”Jadilah suami yang buruk kalau kau mau.”

”Lagipula belum tentu ia mau,” kata Maman Gendeng.

”Ia gadis penurut,” kata Dewi Ayu. ”Ia mendengarkan semua yang aku katakan, dan terutama aku percaya ia tak keberatan kawin denganmu.”

”Aku tak mungkin menyetubuhi gadis sekecil itu,” kata Maman Gendeng lagi. ”Kau hanya perlu menunggu lima tahun lagi untuk menyetubuhinya.”

Segalanya seolah telah sampai pada titik kesimpulan bahwa ia harus mengawini bocah dua belas tahun. Itu benar­benar membuat Maman Gendeng menggigil hebat. Ia bisa membayangkan orang­orang berdesas­desus tentang perkawinan aneh semacam itu. Mereka akan berprasangka buruk bahwa ia telah memerkosanya dan karena itu ia harus mengawininya. Tak peduli bahwa ia seorang preman begundal, pikiran jahat semacam itu kenyataannya membuat tubuhnya semakin menggigil.

”Paling tidak, kawinlah dengannya demi cintamu padaku,” kata Dewi Ayu akhirnya.

Itu seperti vonis bagi Maman Gendeng. Seperti ada lebah di dalam tempurung kepalanya, dan capung terbang di dalam perutnya. Ia meminum habis limun dinginnya, dan tak berhasil menghilangkan semua binatang di dalam tubuhnya. Ia bahkan mulai merasa ada belukar tumbuh di dadanya, semrawut dengan duri menusuk di segala tempat. Ia seperti pecundang yang tak berdaya, bersandar ke sandaran kursi dengan mata setengah terpejam.

”Mengapa kau mengatakannya begitu mendadak?” tanya Maman Gendeng.

”Kapan pun aku mengatakannya,” kata Dewi Ayu, ”akan sama mendadaknya.”

”Berilah aku tempat tidur, aku ingin tidur sejenak,” kata Maman Gendeng.

”Tempat tidurku selalu merupakan milikmu.”

Maman Gendeng tidur nyaris selama empat jam dalam tidur yang lelap dengan dengkur halus. Begitulah caranya melewatkan segala yang membuat kepalanya diserang lebah dan belukar tumbuh di dadanya sementara capung terbang di dalam perut. Dewi Ayu melewatkan sore dengan menyegarkan diri di kamar mandi, dan duduk di ruang tamu dengan sebatang sigaret dan secangkir kopi menunggu lelaki itu terbangun dari tidurnya. Saat itulah Maya Dewi muncul, berkata bahwa ia hendak pergi mandi, tapi ibunya menahan dan menyuruhnya duduk di hadapannya. ”Nak, kau segera akan kawin sebagaimana kakakmu Alamanda,” kata Dewi Ayu.

”Terdengar seolah kawin merupakan hal yang mudah,” kata Maya Dewi.

”Itu benar. Yang sulit adalah bercerai.”

Kemudian Maman Gendeng muncul dari dalam kamar dengan wajah pucat seorang pejalan tidur, duduk di kursi dan seketika muncul rasa segan memandang gadis kecil di samping ibunya itu. ”Aku bermimpi,” katanya. Tak seorang pun merespons apa yang ia ucapkan. Baik Dewi Ayu maupun Maya Dewi, keduanya menunggu lelaki itu berkata lebih lanjut. ”Aku bermimpi digigit ular.”

”Itu pertanda baik,” kata Dewi Ayu. ”Kalian akan kawin dan aku akan segera pergi mencari penghulu.”

Demikianlah kemudian Maman Gendeng, kira­kira berumur tiga puluh tahun, kawin dengan Maya Dewi yang berumur dua belas tahun, di tahun yang sama dengan perkawinan Alamanda dengan Sang Shodancho. Perkawinan itu dilaksanakan dalam satu upacara singkat yang sederhana, namun dimeriahkan oleh pergunjingan orang­orang sekota tentang apa yang sesungguhnya terjadi dalam perkawinan aneh tersebut dan mengapa gadis semuda itu harus kawin. Tapi paling tidak perkawinan itu membuat banyak penduduk Halimunda, yang lelaki tentu saja, berbahagia sebab kini mereka bisa memperoleh Dewi Ayu kembali di rumah pelacuran Mama Kalong.

Dewi Ayu mewariskan rumah dan kedua pembantunya pada pengantin baru tersebut, sementara ia dan Adinda pindah ke rumah lain. Mereka membeli rumah di satu perumahan baru dengan rumah­rumah lama peninggalan orang­orang Jepang yang direnovasi. Dewi Ayu menyukai rumah­rumah peninggalan orang Jepang, terutama karena bak mandinya yang besar nyaris menyerupai kolam renang.

”Jika kau pun ingin kawin, katakan saja,” katanya pada Adinda. ”Aku tak setergesa­gesa itu,” kata Adinda. ”Kiamat masih jauh.”

Sementara itu, sebelum mereka sungguh­sungguh pindah, Dewi Ayu mempersiapkan kamar pengantin yang megah dengan aroma melati dan anggrek mengambang di udara. Tempat tidurnya baru datang siang tadi dipesan langsung dari toko, kasur terbaik di kota itu dengan teknologi kawat per, dan kelambu nyamuk warna merah muda terpasang berlipatlipat. Dinding kamar dipenuhi hiasan kertas krep dan bunga­bunga tiruan. Tapi sesungguhnya itu semua sia­sia sebab pasangan pengantin itu tak pernah sungguh­sungguh memperoleh malam pertama mereka saat itu.

Maya Dewi telah mengenakan pakaian tidurnya dan melompat ke atas tempat tidur baru tersebut dengan keriangan kekanak­kanakannya. Ia nyaris melompat­lompat di atas kasur untuk menguji pernya, persis sebagaimana dilakukan ibunya bertahun­tahun lalu di tempat pelacuran orang­orang Jepang. Ketika ia sudah lelah mengagumi kasur dan kamarnya yang semarak, ia berbaring memeluk guling menanti pengantinnya datang. Maman Gendeng muncul dalam kekikukan yang tak dapat ditafsirkan. Ia tidak langsung melompat ke atas tempat tidur, merengkuh tubuh istrinya dan memerkosanya tanpa ampun sebagaimana kebanyakan pengantin baru akan melakukannya secara sembrono, sebaliknya ia justru menarik kursi ke samping tempat tidur dan duduk di atasnya. Ia memandang wajah gadis kecil itu dengan tatapan seorang lelaki yang melihat kekasihnya mati, mengakui kecantikan kecilnya begitu memesona, satu hal yang tak pernah ia perhatikan sebelumnya. Rambutnya hitam mengilau, mengembang di bawah kepalanya di atas permukaan bantal. Matanya yang balas menatap dirinya begitu jernih dan kekanak­kanakan. Hidung dan bibirnya dan segalanya begitu menakjubkan. Tapi lihatlah, semuanya masih begitu mungil. Tangannya masihlah tangan seorang gadis kecil, begitu pula betisnya. Bahkan ia bisa melihat di balik pakaian tidur itu dadanya belum juga tumbuh secara sempurna. Ia tak mungkin menyetubuhi gadis kecil yang tampak tak berdosa seperti itu.

”Kenapa kau diam saja?” tanya Maya Dewi.

”Lalu apa yang harus aku lakukan?” Maman Gendeng balik bertanya, dalam nada mengeluh.

”Paling tidak dongengilah aku.”

Maman Gendeng tak pandai mendongeng, dan ia tak bisa merekareka sebuah cerita, maka ia mendongeng apa yang pernah ia dengar: tentang Putri Rengganis.

”Jika kita punya anak perempuan, berilah ia nama Rengganis,” kata Maya Dewi. ”Itulah yang kupikirkan.”

Demikianlah setiap malam berlalu dengan cara yang sama: Maya Dewi akan berbaring terlebih dahulu dengan pakaian tidurnya, kemudian Maman Gendeng muncul dengan tatapan kebingungan yang sama. Ia menarik kursi dan menatap pengantinnya dalam wajah sendu yang terulang dan Maya Dewi kemudian memintanya mendongeng. Bahkan dongeng yang ia ceritakan selalu sama pula, tentang Putri Rengganis yang kawin dengan anjing. Nyaris sama persis kalimat per kalimat. Tapi tampak keduanya melewati malam­malam seperti itu sebahagia banyak pengantin, dan meskipun mereka mengulang terus kekonyolan yang sama tersebut, tak tampak kebosanan sedikit pun di wajah mereka. Sebelum dongeng selesai, biasanya Maya Dewi telah jatuh tertidur dengan pulas. Maman Gendeng kemudian akan menyelimutinya, menutup kelambu nyamuk, mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur. Setelah memandang sejenak wajah tidur yang penuh kedamaian itu, ia segera beranjak keluar kamar, menutup pintunya perlahan, dan naik ke lantai dua tidur di kamar kosong sendirian sampai pagi hari istrinya datang membangunkannya dengan secangkir kopi hangat. Itu terus berlanjut bahkan sampai Dewi Ayu dan Adinda pindah dan keduanya menertawakan kekonyolan itu di rumah baru mereka.

Maman Gendeng memulai kebiasaan barunya. Ia bangun pagi dan

meminum kopi dari istrinya. Setengah jam kemudian Mirah telah menghidangkan sarapan pagi, dan mereka berdua akan duduk di meja makan sebagaimana kebanyakan keluarga bahagia. Awalnya itu merupakan gangguan yang menyedihkan bagi Maman Gendeng, sebab sang preman punya kebiasaan untuk bangun agak siang. Tapi setelah sarapan pagi, istrinya membebaskan ia untuk kembali ke tempat tidur, maka ia melanjutkan tidur paginya yang terganggu. Lebih lelap dengan perut kenyang. Maman Gendeng akan terbangun sekitar pukul sepuluh, dan ia akan menemukan pakaian yang tersetrika rapi di samping tempat tidurnya. Maka ia harus pergi ke kamar mandi, sesuatu yang jarang ia lakukan, dan mengenakan pakaian itu. Terasa aneh baginya sendiri melihat ia memakai kemeja dengan pantalon yang dihiasi lipatan lurus hasil setrika di depan cermin. Namun demi menjaga perasaan istrinya, ia mengenakan pakaian tersebut dan segera pergi ke terminal bis tempatnya yang paling sejati setelah mencium dahi istrinya di muka pintu. Namun lama­kelamaan semua itu tak lagi menjadi gangguan meskipun teman­temannya di terminal bis melihat penampilannya dengan cara yang aneh. Ia mulai sering merindukan rumahnya, merindukan istrinya, dan jika sore hari datang, ia tak pernah menunggu malam segera muncul, dan segera pulang ke rumah.

Setelah satu bulan perkawinan mereka berlalu, suatu malam Maya Dewi bertanya kepadanya:

”Bolehkah aku kembali ke sekolah?”

Pertanyaan itu mengejutkannya. Tentu saja, bagaimanapun ia masih anak sekolah. Semua gadis dua belas tahun seharusnya ada di sekolah dari pagi sampai siang. Tapi bagaimanapun ia telah jadi istri orang. Ia belum pernah mendengar seorang perempuan bersuami masih duduk di bangku sekolah. Hal itu membuatnya berpikir lama, hingga kemudian ia menyadari perkawinan mereka belumlah sungguh­sungguh sebagaimana perkawinan semua orang. Ia belum pernah menyetubuhi istrinya, dan tak ada niat untuk itu. Mungkin ada baiknya memang mengembalikan ia ke sekolah.

”Tentu saja, kau harus kembali ke sekolah.”

Itu kemudian menjadi masalah dengan sekolah. Mereka tak mau menerima perempuan bersuami duduk di bangku sekolah, sebab mereka khawatir itu berpengaruh buruk pada anak­anak yang lain. Maman Gendeng dipaksa untuk datang ke sekolah, bernegosiasi dengan kepala sekolah agar istrinya diperkenankan kembali belajar. Negosiasi itu berakhir dengan cara yang sangat buruk, di mana ia harus menyeret sang kepala sekolah ke dinding ruangan, dan ia merobohkan dua guru yang mencoba membantu sang kepala sekolah. Kelak bertahun­tahun kemudian ia harus melakukan hal yang sama ketika sekolah menolak menerima anak gadisnya, Rengganis Si Cantik.

Setelah pemaksaan yang tanpa ampun itu, sekolah akhirnya menerima kembali Maya Dewi.

Perkawinan mereka berjalan damai sebagaimana sebelumnya. Di pagi hari, sebagaimana biasa, Maman Gendeng akan dibangunkan Maya Dewi dengan secangkir kopi dengan keharuman kopi Lampung yang ditumbuk langsung begitu kering. Perbedaannya, kini Maya Dewi telah mengenakan seragam sekolahnya. Di meja makan, mereka akan sarapan pagi dan tampak bagi kedua pembantu mereka seperti seorang ayah tanpa istri dan seorang gadis tanpa ibu. Pada pukul tujuh kurang seperempat, Maya Dewi telah bersiap dengan tas sekolahnya. Ia berangkat setelah Maman Gendeng mencium dahinya, dan sementara ia menuju sekolah, Maman Gendeng kembali melanjutkan tidurnya.

Siang hari sepulang sekolah Maman Gendeng tak akan ada di rumah, maka Maya Dewi membereskan segala sesuatu yang bisa diperbuatnya. Di malam hari, ketika mereka berkumpul kembali selepas makan malam, Maya Dewi akan menghadapi meja belajarnya dan suntuk dengan pekerjaan­pekerjaan rumah yang dibebankan guru­guru sekolahnya. Maman Gendeng sama sekali tak bisa membantu dalam hal itu, kecuali duduk menemaninya dengan kesabaran seorang kekasih sejati. Rutinitas tersebut akan berakhir sekitar pukul sembilan malam. Itu waktunya tidur, maka tak ada lagi dongeng tentang Rengganis Sang Putri yang kawin dengan anjing. Maya Dewi mengenakan pakaian tidurnya dan berbaring di atas tempat tidur. Maman Gendeng datang untuk menyelimutinya, menurunkan kelambu, mematikan lampu ruangan dan menyalakan lampu tidur, lalu berkata, ”Selamat malam.”

”Selamat malam,” Maya Dewi membalas sebelum memejamkan

mata.

Sejauh itu tetap tak ada persetubuhan. Bahkan hingga satu tahun berlalu.

Hari itu Maman Gendeng menemui Dewi Ayu di rumah pelacuran Mama Kalong. Ia datang ke kamarnya sebagaimana dahulu kala sering ia lakukan. Satu­satunya tamu Dewi Ayu telah pergi.

”Kenapa kau datang kemari?” tanya Dewi Ayu. ”Aku tak bisa menahan berahiku.”

”Kau punya istri.”

”Ia begitu mungil untuk dicelakai. Begitu tanpa dosa untuk disentuh.

Aku ingin meniduri mertuaku sendiri.” ”Kau benar­benar menantu celaka.”

Malam itu mereka bercinta sampai pagi datang.

Persahabatan aneh antara Maman Gendeng dan Sang Shodancho terjadi di meja permainan kartu truf di tengah pasar. Persahabatan aneh sebab sejak Sang Shodancho meniduri Dewi Ayu dan Maman Gendeng datang ke kantor rayon militer, permusuhan telah tertanam begitu abadi jauh di dalam diri mereka. Hal ini diperparah oleh kenyataan bahwa para preman anak buah Maman Gendeng selalu memiliki banyak masalah dengan para prajurit, terutama prajurit­prajurit anak buah Sang Shodancho.

Prajurit­prajurit itu tak suka membayar di tempat pelacuran, padahal para preman ada di sana untuk menghadang siapa saja yang meniduri pelacur tanpa membayar. Mereka, para prajurit itu, juga tak suka bayar di kedai­kedai minum. Sebenarnya pemilik kedai minum tak terlalu menjadikan hal itu masalah, sebab mereka tak pernah minum terlalu banyak, tapi para preman penghuni kedai minum merasa itu menampar pipi mereka. Belum lagi urusan­urusan di mana rayon militer kadang menangkap salah satu dari mereka, hanya karena kedapatan mabuk dan melempar kaca toko, dan memukuli orang itu di belakang kantor mereka sebelum melepaskannya dalam keadaan babak belur. Itu semua memancing perkelahian­perkelahian kecil di antara prajurit­prajurit Sang Shodancho dengan gerombolan Maman Gendeng.

Namun sejauh ini masalah­masalah tersebut selalu bisa diselesaikan. Jika seorang preman ditangkap prajurit dan dihajar hingga babak belur, gerombolan itu akan menangkap seorang prajurit yang lewat di jalan dan menghajarnya beramai­ramai di kebun cokelat. Jika salah satu preman ditangkap dan ditahan, Maman Gendeng akan datang untuk membebaskannya dengan sedikit tebusan uang untuk menyogok mulut prajurit­prajurit tersebut. Di antara perselisihan tersebut, adalah para polisi yang lebih suka duduk di pos mereka masing­masing dan angkat tangan untuk semua urusan itu.

Banyak penduduk kota berharap Sang Shodancho bisa menyelesaikan musuh masyarakat itu dengan segera, namun sebagaimana terjadi pada Edi Idiot beberapa waktu lalu, harapan mereka hanyalah omong kosong. Terutama di hari­hari belakangan ketika Sang Shodancho harus menghadapi keadaan keluarganya sendiri yang bermasalah, serta tuntutan­tuntutan Serikat Nelayan atas bisnis penangkapan ikannya. Ia sama sekali tak ada waktu untuk memikirkan Maman Gendeng dan teman­temannya. Itu adalah waktu­waktu di mana popularitas Sang Shodancho sebagai pahlawan kota anjlok sampai tingkat ketidakpercayaan orang kepadanya, dan sebaliknya, mereka mulai curiga bahwa pihak militer justru bersekongkol dengan para preman itu untuk membuat segala kekacauan ini. Terutama jika mengingat kedua orang tersebut, Sang Shodancho dan Maman Gendeng, keduanya menantu Dewi Ayu belaka.

Keadaan sedikit kacau ketika suatu hari seorang prajurit dari rayon militer terlibat perkelahian dengan seorang penjaga rumah pelacuran Mama Kalong. Perselisihan itu berawal dari seorang gadis kampung yang diperebutkan oleh keduanya. Mereka berkelahi di jalanan, dan perkelahian itu berakhir dengan datangnya teman­teman kedua orang itu. Perkelahian dua orang meningkat menjadi tawuran hebat sekelompok prajurit melawan segerombolan preman.

Entah bagaimana hal itu bermula, namun satu jam perkelahian massal itu mengakibatkan tumbangnya belasan pohon­pohon pelindung jalan, hancurnya jendela­jendela kaca etalase toko, dua mobil terbalik rusak parah. Sementara itu batu­batu besar dan ban mobil bekas yang dibakar bergeletakan di jalanan, dan gardu polisi hangus terbakar.

Penduduk kota dilanda teror menakutkan membuat tak seorang pun berani menampakkan diri keluar dari rumah mereka. Perkelahian itu berlangsung di sepanjang Jalan Merdeka yang ramai. Di satu sudut, gerombolan para preman tampak berjaga­jaga dengan pedang dan samurai peninggalan orang­orang Jepang. Juga kelewang, pentungan besi, golok, batu, bensin, dan botol­botol molotov. Mereka bahkan menguasai granat tangan dan senapan peninggalan para veteran gerilyawan tentara revolusioner. Sementara itu di sudut jalan yang lain, para prajurit, tak hanya dari rayon militer Sang Shodancho tapi bahkan mereka memperoleh bantuan dari semua pos militer di kota itu, juga berjaga­jaga dengan senapan penuh berisi peluru.

Hari itu keadaan begitu sunyi seolah kota telah ditinggalkan penduduknya selama bertahun­tahun. Kesunyian yang mencekam itu merembet ke seluruh kota dalam ketakutan bahwa perang saudara pada akhirnya akan pecah di kota itu, yang bahkan belum memperoleh masa damainya sejak perang bertahun­tahun lalu. Banyak penduduk muak dengan para preman dan jika perang pecah mereka pasti akan bergabung dengan prajurit­prajurit itu. Namun banyak juga penduduk yang muak dengan prajurit­prajurit yang sering jual tampang itu dan jika perang pecah mereka pasti akan membantu para preman. Mereka pada akhirnya akan saling membunuh tanpa sisa.

Sepanjang sore bunyi letusan granat dan molotov serta tembakan senapan terdengar berdesing­desing di atas jalan, di antara toko­toko dan rumah­rumah. Orang tak ada yang tahu apakah pertempuran tersebut telah memakan korban nyawa atau belum. Sang Shodancho tampaknya terlambat mengetahui keadaan darurat tersebut disebabkan urusanurusan rumah tangga yang tak terselesaikan, dan merasa jengkel pada kenyataan bahwa seorang gadis kampung bisa menimbulkan kehancuran sebuah kota. Ia bertekad akan mengurung prajurit celaka itu selama tujuh hari tujuh malam tanpa makan dan minum, tak peduli ia akan mampus karenanya. Tapi sebelum itu ia harus menghindari kekacauan yang lebih luas dan lebih mengerikan. Maka ia segera mengirim prajuritnya yang paling dipercaya, Tino Sidiq untuk bicara dengan Maman Gendeng dalam satu upaya gencatan senjata dan perjanjian damai.

Maman Gendeng yang tengah menikmati masa­masa bahagia

perkawinannya yang aneh, juga baru mendengar soal pertempuran di Jalan Merdeka tersebut, namun tampaknya ia tak peduli. Sebaliknya, ia merasa jengkel bahwa orang masih mengganggunya dalam satu upaya membangun kehidupan yang bahagia, membayar tahun­tahunnya yang sunyi dan tanpa tujuan. Ia percaya sepenuh hati keributan itu pasti berawal dari kekurangajaran prajurit­prajurit itu, paling tidak menurutnya. Tapi istrinya yang baru berumur dua belas tahun itu, meyakinkan dirinya bahwa ia bisa menyelesaikan kerusuhan yang melanda kota. Mendengar saran istrinya, Maman Gendeng akhirnya pergi setelah ia dan Tino Sidiq memperoleh kesepakatan ia dan Sang Shodancho akan bertemu di satu tempat netral, di antara terminal bis dan rayon militer.

Tempat itu adalah pasar.

Mereka mengusir empat orang laki­laki yang terdiri dari pedagang ikan asin, penarik becak, kuli angkut dan seorang suami dari pedagang pakaian, yang tengah mengelilingi sebuah meja di tengah pasar memainkan kartu dengan taruhan uang­uang logam yang bergemerincing dari sudut ke sudut meja. Para pemain kartu menyingkir berdiri menonton di tempat penjual daging ayam, begitu Sang Shodancho akhirnya muncul pula. Aktivitas pasar di sekitar itu tiba­tiba berhenti karena baik pedagang maupun pembeli sama­sama berhenti, menunggu apa yang akan disepakati kedua orang yang menjadi kunci apakah perang saudara yang mengerikan itu akan pecah sore ini atau ditunda sampai tahun­tahun atau bahkan berabad­abad yang akan datang.

Sang Shodancho meminta para preman itu segera mundur dan menyerahkan semua senjata karena hanya tentara yang berhak mempergunakan senjata. Tapi Maman Gendeng keberatan karena menurutnya terbukti bahwa para prajurit itu kemudian mempergunakan senjata mereka secara sewenang­wenang. Sang Shodancho akhirnya berkata lagi:

”Wahai sahabatku, kita tak bisa menyelesaikan masalah ini dengan cara pertengkaran anak­anak semacam itu,” katanya dan melanjutkan, ”Baiklah untuk sementara tak akan ada pelucutan senjata, tapi suruh mereka segera menyingkir dari jalan­jalan dan tak boleh ada kerumunan­kerumunan dan pemecahan kaca­kaca jendela toko lagi.”

”Wahai Shodancho,” kata Maman Gendeng, ”juga tak ada perebutan gadis orang oleh seorang prajurit bersenjata tak peduli itu gadis kampung sekalipun. Dan para prajurit sebagaimana semua laki­laki di kota ini juga harus membayar sebagaimana biasa di rumah pelacuran setiap kali mereka bercinta, dan membayar pula di kedai minum setiap kali mereka minum, dan membayar bis setiap kali mereka bepergian. Di sini tak ada anak emas, Shodancho.”

Sang Shodancho menarik napas berat, mengeluhkan soal kekurangan pendapatan para prajurit yang dibayarkan pemerintah republik, sementara bisnis yang ia jalankan dan juga dijalankan oleh rayon militer serta militer kota itu, keuntungannya lebih banyak diambil para jenderal di ibukota. ”Jadi sahabatku, aku akan memberi tawaran yang mungkin tidak menarik tapi kita bisa keluar dari masalah rumit ini,” kata Sang Shodancho akhirnya.

”Katakanlah.”

”Jadi sahabatku,” kata Sang Shodancho. ”Ini mungkin bisa disepakati bahwa kalian, orang­orang gembel, itu menyerahkan sebagian yang kalian peroleh dengan cara apa pun itu untuk para prajurit, supaya mereka bisa membayar pelacur dan mabuk sampai puas.” Maman Gendeng berpikir sejenak dan tampaknya ia tak keberatan memotong sedikit apa yang diperoleh anak buahnya dengan janji bahwa para prajurit itu tak akan mengganggu mereka apa pun yang terjadi, bersepakat hidup damai saling menguntungkan.

Kesepakatan itu akhirnya dicapai setelah bisik­bisik yang tak didengar orang­orang seluruh pasar yang hanya melihat mulut mereka bergerak­gerak. Mereka memandang dengan penuh rasa penasaran, namun semuanya tiba­tiba selesai dan orang­orang terdekat Maman Gendeng serta Sang Shodancho segera menyebar memberitahukan bahwa gencatan senjata mulai berlaku sejak pukul empat sore itu juga. Para prajurit harus kembali ke pos mereka masing­masing dan begitu pula para preman kembali ke tempat tongkrongan mereka. Yang tertinggal kini hanyalah Maman Gendeng dan Sang Shodancho yang masih duduk di kursi mereka di tengah pasar, sama­sama menarik napas lega seolah telah terbebas dari mulut harimau, bersandar ke sandaran kursi sampai Sang Shodancho bertanya:

”Apakah kau bisa bermain truf?”

”Aku sering memainkan truf bersama sahabat­sahabatku di kursi tunggu penumpang terminal bis,” jawab Maman Gendeng.

Maka mereka mengundang si penjual ikan asin dan si kuli angkut untuk menemani mereka bermain truf dan itulah awal persahabatan mereka yang aneh di meja permainan kartu. Banyak persoalan yang melanda para prajurit dan preman diselesaikan keduanya di sana secara diam­diam. Bayarannya tak terlampau mahal: mereka hanya kehilangan beberapa uang logam jika kalah dan tak seberapa menyenangkan jika memenangkan permainan. Selepas itu mereka memulai kebiasaan baru untuk bertemu di meja yang sama sekitar tiga kali dalam seminggu bahkan sampai bertahun­tahun kemudian. Bukan rahasia bagi mereka jika keduanya selalu berusaha saling mencurangi dan saling mengalahkan. Kadang­kadang mereka bermain dengan suami si pedagang pakaian, dengan tukang obat, kuli angkut, tukang becak, tukang jagal daging, pedagang ikan asin, pengantar barang, atau siapa pun yang bisa ditemui di pasar dan tahu bagaimana memainkan permainan kartu truf. Tapi jika Sang Shodancho ada di sana maka Maman Gendeng juga ada di sana, dan begitu pula sebaliknya. Satu persahabatan yang aneh, sekali lagi, karena jauh di dalam hati keduanya, mereka tetap tak saling menyukai satu sama lain. Maman Gendeng masih dendam pada kelancangan Sang Shodancho untuk meniduri pelacur Dewi Ayu yang dicintainya dan Sang Shodancho masih menyimpan dendam karena laki­laki di depannya itu sungguh lancang berani mengancam di kantornya sendiri tanpa memedulikan bahwa ia adalah penguasa di rayon militer setempat, orang yang bahkan pernah ditunjuk presiden republik sebagai Panglima Besar.

Namun persahabatan itu diterima penduduk kota dalam satu kegamangan. Mereka bersyukur bahwa segala persoalan di kota itu bisa diselesaikan di meja permainan kartu dengan demikian mudah, tapi menjadi cukup menjengkelkan sebab kemudian mereka mulai menyadari bahwa telah terjadi konspirasi licik antara para prajurit dan para preman untuk menikmati uang yang diperas dari sebagian besar warga kota. Kesadaran yang sama muncul bahwa kini mereka tak punya siapa pun kepada siapa mereka akan mengadu. Jangan harap mereka memohon pada polisi yang kerjanya hanya meniup peluit di perempatan jalan. Itu adalah waktu ketika Partai Komunis kemudian menjadi satusatunya tempat mereka berpaling, terutama kepada Kamerad Kliwon. Keduanya, Kamerad Kliwon dan Partai Komunis, memperoleh puncak reputasinya yang paling mengguncangkan semua partai yang ada di

masa itu di Halimunda.

Sementara itu persahabatan Sang Shodancho dan Maman Gendeng terus berlanjut. Bahkan di hari­hari belakangan pertemuan di meja kartu truf tak lagi dipergunakan untuk membicarakan perkelahian antara prajurit dan preman atau pembagian yang adil dari pendapatan mereka, tapi Sang Shodancho mulai mengeluhkan masalah­masalahnya bagaikan mencurahkan isi hati pada seorang sahabat lama. Itu biasanya mereka lakukan dalam perbincangan berdua saja setelah usai permainan kartu dan para pedagang di pasar telah mulai menutup pintu­pintu kios mereka serta pulang ke rumah masing­masing. Begitulah kadang mereka membicarakan Kamerad Kliwon. Sang Shodancho hampir selalu percaya bahwa laki­laki itu tak sungguh­sungguh seorang komunis tapi hanya melampiaskan dendam karena kekasihnya Alamanda kini kawin dengan Sang Shodancho. Hal ini membuat Maman Gendeng tertawa mendengar drama semacam itu (meskipun sesungguhnya ia telah tahu peristiwa tersebut) dan mengajukan pendapat bahwa tak seharusnya memang merebut kekasih orang lain. Sebab ia pun pernah merasa begitu sakit hati ketika mendengar Sang Shodancho meniduri Dewi Ayu. Mendengar hal itu Sang Shodancho memerah mukanya, lalu matanya berkaca­kaca bagaikan anak kecil kehilangan ibunya.

”Aku orang sial yang kesepian di dunia yang hiruk­pikuk ini,” katanya. ”Aku masuk latihan militer Jepang di pasukan Seinendan pada umur belasan tahun sebelum jadi shodancho. Memberontak melawan mereka dalam satu gerilya berbulan­bulan sebelum mendengar mereka menyerah. Hidupku dihabiskan dari satu perang ke perang lain, bahkan perang melawan babi. Aku lelah dengan semua itu.” Maman Gendeng memberikan saputangan yang selalu diselipkan Maya Dewi ke saku celananya pada Sang Shodancho, dan Sang Shodancho mengeringkan matanya yang basah. ”Aku ingin hidup sebagaimana orang lain. Mencintai dan dicintai.”

”Kau begitu dicintai anak buahmu,” kata Maman Gendeng. ”Dan kau tahu aku tak mungkin mengawini mereka.”

”Paling tidak sekarang kita sama­sama punya istri yang begitu cantik.”

”Tapi malang bagiku, aku kawin dengan seorang perempuan yang pernah mencintai lelaki lain, dan cinta seperti itu mungkin tak mudah untuk hilang.”

”Mungkin benar,” kata Maman Gendeng. ”Aku pernah lihat lelaki itu, Kamerad Kliwon, di depan gerombolan nelayan. Ia sangat simpatik dan bersusah­payah memikirkan nasib buruk orang lain. Aku kadang merasa iri hati kepadanya, dan kadang berpikir ia adalah satu­satunya orang di kota ini yang memandang masa depan dengan penuh harapan.”

”Begitulah orang komunis,” kata Sang Shodancho. ”Orang­orang malang yang tak tahu bahwa dunia telah ditakdirkan menjadi tempat sebusuk­busuknya. Itulah satu­satunya alasan kenapa Tuhan menjanjikan sorga sebagai penghibur manusia­manusia yang malang.”

Lalu pembicaraan itu kemudian membuat mereka lupa bahwa hari telah menjadi gelap. Ketika mereka menyadarinya mereka segera berdiri dan saling memeluk dan mengucapkan sampai jumpa sebelum pulang ke arah yang berlawanan. Ke rumah dan istri mereka masing­masing.

Suatu hari berita buruk datang: Mirah dan Sapri memutuskan berhenti bekerja dari rumah mereka sebab setelah bertahun­tahun tibatiba mereka menyadari bahwa mereka saling jatuh cinta satu sama lain dan kini mereka akan saling mengawini dan hidup di kampung sebagai petani. Maman Gendeng agak kelabakan bagaimana ia harus memperoleh pembantu yang baru sebab istrinya masihlah bocah ingusan. Tapi kenyataannya jauh dari yang ia duga. Hari pertama tanpa kedua pembantu itu, ketika ia pulang selepas permainan kartu truf dengan Sang Shodancho dan hari telah menjadi gelap, ia mendapati istrinya telah menyiapkan makan malam mereka.

”Siapa yang memasak ini semua?” tanyanya kebingungan. ”Aku.”

Tak lama setelah itu ia baru menyadari bakat luar biasa istrinya sebagai ibu rumah tangga. Ia tak hanya menyediakan pakaian­pakaian yang rapi tersetrika dan bahkan wangi untuk ia kenakan, ia bahkan memasak semua masakan yang mereka makan dan ia rasakan begitu nikmat di lidah. Dewi Ayu telah mengajarinya sejak ia masih kecil, begitu Maya Dewi menjelaskan. Ia bahkan pandai membuat roti. Ia melakukan beberapa eksperimen kecil dengan kue­kue kering dan membagikannya pada tetangga. Maya Dewi menjadi satu­satunya duta keluarga itu untuk berhubungan dengan orang­orang di sekitar rumah mereka sebab Maman Gendeng sama sekali tak bisa diharapkan mengingat reputasi buruknya di telinga setiap orang. Kue­kue itu sungguh memberi banyak keberuntungan, sebab tak lama kemudian seorang tetangga memesan kue­kue kering bikinannya untuk hajatan sunat anak lelaki mereka. Sejak itu pesanan­pesanan baru datang. Maya Dewi melakukannya sepulang sekolah dan perekonomian keluarga itu tampaknya tak bakalan mencemaskan.

Melihat semua itu, tiba­tiba Maman Gendeng begitu menyesal telah

pergi ke rumah pelacuran Mama Kalong untuk tidur dengan mertuanya sementara ia memiliki istri yang begitu mengagumkan.

Suatu malam ia kembali ke rumah pelacuran Mama Kalong dan menemui Dewi Ayu, yang tak terkejut dengan kedatangannya dan bertanya dengan tawa kecil, ”Apakah kau belum menyentuh istrimu dan menginginkan tubuh mertuamu?”

”Aku datang hanya untuk mengatakan bahwa aku tak akan lagi menyentuhmu.”

Itu baru mengejutkan Dewi Ayu, dan ia bertanya, ”Kenapa?” ”Dengan memiliki istri seperti anak bungsumu, aku tak ingin me­

nyentuh perempuan mana pun lagi.”

Maman Gendeng segera pergi meninggalkan Dewi Ayu, rindu pada rumah dan istrinya.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊