menu

Cantik Itu Luka Bab 09

Mode Malam
9
Ketika Alamanda tersadar keesokan harinya, yang pertama kali ia ingat adalah Kliwon dan tiba­tiba ia merasa bahwa segalanya su­

dah berakhir baginya dan bagi kekasihnya.

Saat itu, Alamanda merasa telah jadi seorang perempuan terkutuk dan ia malu pada diri sendiri; ia mungkin tak perlu menyesal tentang apa pun yang pernah ia lakukan dan ia mungkin menerima apa pun yang terjadi karena itu, tapi tetap saja ia merasa telah menjadi perempuan terkutuk. Ia ingin menulis surat untuk kekasihnya, menyusul fotofoto itu, mengatakan apa yang terjadi, tapi bukan kenyataan bahwa ia telah berada di luar kendali untuk mempermainkan seorang laki­laki yang seharusnya tak dipermainkan, juga bukan kenyataan bahwa Sang Shodancho telah memerkosanya, ia hanya akan mengatakan bahwa ia telah tidur dengan Sang Shodancho. Ia malu pada dirinya dan satu­satunya hal yang sangat ia sesali adalah bahwa ia akan kehilangan kekasihnya, bahkan meskipun Kliwon akan menerima dirinya dalam keadaan apa pun, ia sama sekali tak lagi ingin bertemu dengannya. Ia mungkin masih mencintainya, tapi ia akan berbohong bahwa ia mencintai Sang Shodancho dan ia akan meninggalkan kekasihnya untuk menikah dengan kekasih yang baru. Ia akan mengatakan bahwa ia minta maaf karena itu, dan surat itu akhirnya sungguh­sungguh ia tulis di siang hari dan dimasukkan ke dalam kotak pos secepat ia memasukkannya ke dalam amplop dan memberinya prangko.

Kini apa yang harus ia lakukan adalah membuat perhitungan dengan

Shodancho itu, melampiaskan dendam dan kemarahan, memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk memenuhi seluruh hasratnya selain menusukkan belati ke tubuh laki­laki itu. Maka setelah ia memasukkan surat ke dalam amplop yang akan dibaca Kliwon beberapa hari setelah itu, ia pergi ke kantor rayon militer, memperoleh penghormatan yang tak semestinya dari prajurit penjaga kandang monyet di gerbang, dan sebagaimana Maman Gendeng pernah datang ke sana, ia masuk ke kantor Sang Shodancho tanpa mengetuk pintu. Sang Shodancho tengah duduk di belakang meja memandangi dua buah foto Alamanda yang ada di tangannya dan delapan foto lainnya bergeletakkan di atas meja. Ketika Alamanda masuk secara tiba­tiba, Sang Shodancho begitu terkejut dan mencoba menyembunyikan foto­foto tersebut tapi Alamanda memberi isyarat untuk tak melakukan itu, dan kemudian gadis tersebut berdiri di depan Sang Shodancho dengan sebelah tangan tertekan di meja dan sebelah tangan yang lain bertolak pinggang.

”Aku baru tahu itulah yang dilakukan lelaki waktu gerilya,” kata Alamanda sementara Sang Shodancho memandangnya dengan tatapan seorang pendosa yang tampak menderita karena rasa cinta, ”Kau harus mengawiniku tanpa aku pernah mencintaimu, atau aku akan bunuh diri setelah kukatakan kepada semua orang di kota apa yang telah kau lakukan terhadapku.”

”Aku akan mengawinimu, Alamanda,” kata Sang Shodancho. ”Baik dan urus sendiri pesta perkawinannya.” Setelah itu Alamanda

pergi lagi tanpa mengatakan apa pun.

Seminggu setelah hari itu, pesta perkawinan mereka telah menjadi pembicaraan publik di setiap kesempatan mereka bertemu dan bicara, membicarakannya dalam spekulasi­spekulasi, yang tulus maupun sembrono. Meskipun begitu, penduduk Halimunda yang telah menjadi terbiasa pada apa pun tak terlampau terkejut dengan berita tersebut dan beberapa orang bahkan mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa Alamanda dan Sang Shodancho adalah pasangan paling serasi yang pernah dibayangkan manusia di muka bumi; seorang gadis cantik anak pelacur paling disegani kawin dengan seorang mantan pemberontak yang pernah diangkat jadi Panglima Besar, tak ada yang lebih pantas daripada itu. Beberapa di antara yang lain berkata bahwa Sang Shodancho kenyataannya memang lebih pantas daripada si tukang onar Kliwon, dan Alamanda bukan orang bodoh untuk mengetahuinya.

Tapi ada banyak sahabat Kliwon di kota itu; mereka adalah para nelayan karena ketika ia masih tinggal di sana, Kliwon sering pergi melaut bersama mereka atau membantu menarik jaring di pantai dengan upah satu plastik ikan tangkapan, juga karena Kliwon telah banyak membantu membetulkan perahu yang bocor dan mesin tempel yang rewel ketika ia masih bekerja di bengkel perahu; mereka adalah para buruh tani yang sebagaimana Kliwon, banyak petani di pinggiran kota itu bekerja di tanah milik orang dan di sela­sela waktu Kliwon adalah teman yang menyenangkan yang akan membicarakan banyak hal dari otaknya yang cerdas yang tak pernah diketahui oleh teman­temannya dan bahkan dipikirkan pun tidak; mereka adalah para gadis yang pernah jatuh cinta atau tetap masih jatuh cinta kepadanya dan meskipun beberapa gadis itu pernah ditinggalkan Kliwon untuk memperoleh gadis lain, mereka sama sekali tak sakit hati kecuali tetap mencintainya sampai kapan pun; mereka adalah para pemuda teman sepermainan Kliwon, teman berenang dan mencari kayu bakar dan mencari rumput untuk dijual pada orang kaya dan teman berburu burung di masa kecil; mereka semua agak bersedih hati kenapa Alamanda memutuskan untuk kawin dengan Sang Shodancho dan meninggalkan laki­laki itu. Tapi apa pun yang terjadi, mereka sama sekali tak memiliki urusan apa pun untuk mencampuri keputusan Alamanda, dan demikian pula urusan sakit hati atau tidak itu sepenuhnya adalah urusan Kliwon.

Segera menyebar pula dari satu pojok ke pojok lain, melewati geo­

grafi desa­desa di Halimunda, berita tentang pesta perkawinan yang disebut­sebut orang sebagai pesta perkawinan paling meriah yang pernah terjadi dalam sejarah kota itu dan mungkin tak akan pernah terjadi lagi di masa yang akan datang. Dipastikan bahwa pesta perkawinan itu akan diramaikan oleh tujuh rombongan dalang yang akan mementaskan Mahabharata secara lengkap selama tujuh malam, bahwa seluruh penduduk kota semuanya diundang untuk datang sampai dikatakan bahwa makanan yang tersedia akan mencukupi untuk seluruh kota selama tujuh turunan. Juga ada pertunjukan sintren, kuda lumping, orkes Melayu, film layar tancap, dan tentu saja adu babi.

Akhirnya berita tersebut juga didengar oleh Kliwon selain menerima surat yang dikirim oleh Alamanda. Satu hari menjelang perkawinan itu ketika tenda telah didirikan di depan rumah Dewi Ayu dan Alamanda menjalani perawatan dari beberapa dukun perkawinan, Kliwon pulang ke Halimunda dengan kereta api dalam kemarahan yang membakar seluruh tubuhnya, bukan semata­mata bahwa ia belum pernah ditinggalkan dan disakiti seorang perempuan, tapi setulus hati karena ia sangat mencintai Alamanda.

Di depan stasiun tempat terakhir kali mereka bertemu dan berciuman, Kliwon menebang pohon ketapang itu ditonton banyak orang yang bertanya­tanya apa yang akan ia lakukan terhadap pohon itu. Mereka tak berani mengganggu terlalu banyak melihat mata yang marah di wajahnya, terutama karena ia menggenggam golok, dan bahkan seorang polisi yang kebetulan ada di sana juga tak berani melarangnya untuk tidak menebang pohon ketapang yang rencananya akan dipakai sebagai pohon pelindung di muka stasiun. Ketika pohon itu roboh, mereka hanya mundur beberapa langkah untuk menghindarkan diri dari terkena dahan dan rantingnya, sambil terus bertanya­tanya mengapa laki­laki itu melampiaskan kemarahan cintanya pada sebatang pohon ketapang kecil yang tak berdosa.

Sementara itu Kliwon sendiri tampaknya tak merasa terganggu dengan orang­orang yang bergerombol di muka stasiun yang menonton dirinya, dan mulai memotongi dahan dan ranting serta memangkasi daun­daunnya sehingga memenuhi jalan masuk ke peron dan ketika angin bertiup daun­daun itu tersebar dalam pusaran sampah yang mengerikan, tapi bahkan tukang sapu pun tak berani mencegah perbuatannya kecuali tetap melihatnya sambil menduga­duga kemungkinan laki­laki itu telah menjadi gila.

Hanya ada seorang laki­laki teman Kliwon di masa kecil berani bertanya, apa yang sedang ia lakukan dengan pohon ketapang itu, dan Kliwon menjawab pendek, ”Menebangnya,” dan orang­orang tak ada lagi yang berani bertanya dan Kliwon melanjutkan pekerjaannya. 

Setelah pohon itu bersih dari ranting­ranting dan daun­daunnya, ia mulai memotong­motongnya seukuran kayu bakar. Batang yang besar ia bagi dua atau empat sehingga dalam beberapa saat kayu­kayu tersebut mulai menumpuk di pinggir jalan. Kliwon berjalan ke arah kantor urusan bagasi dan di sana ia mengambil seutas tali tambang dadung tanpa permisi (tapi tetap tak ada orang yang melarang) dan mengikat kayu­kayu itu dengannya. Setelah semuanya selesai, tanpa bicara kepada satu pun di antara orang­orang yang masih bersetia mengerumuninya, ia memasukkan goloknya ke dalam sarung dan mengangkat ikatan kayu tersebut lalu berjalan meninggalkan stasiun.

Semula orang­orang itu hendak mengikuti ke mana ia akan pergi, tapi temannya yang tadi bicara yang tiba­tiba mengerti apa yang akan terjadi, segera berkata pada orang­orang tersebut, ”Biarkan ia pergi sendiri.” Tampaknya apa yang dipikirkan sang teman benar adanya: Kliwon pergi ke rumah Alamanda dan menemui gadis itu yang tengah melihat persiapan pesta dengan sambil lalu. Alamanda dibuat terkejut oleh kedatangannya, dan lebih terkejut ketika melihat laki­laki yang masih dicintainya itu memanggul kayu entah untuk apa.

Sejenak Alamanda berpikir untuk melompat ke arahnya, memeluknya dan berciuman sebagaimana pernah mereka lakukan di stasiun, berkata padanya bahwa ini pesta perkawinan mereka dan adalah bohong belaka ia akan kawin dengan Sang Shodancho. Tapi segera saja kesadarannya pulih dan ia mencoba menampakkan dirinya seolah­olah bangga menghadapi pesta perkawinan bersama Sang Shodancho tersebut, menjadi gadis yang seangkuh­angkuhnya. Pada saat itu Kliwon segera menjatuhkan kayu di pundaknya ke tanah, membuat Alamanda sedikit terlompat karena jika tidak jari­jari kakinya mungkin tertimpa, dan Kliwon akhirnya membuka mulut, ”Ini pohon ketapang menyedihkan itu, tempat kita berjanji akan bertemu kembali, kupersembahkan untuk kayu bakar pesta perkawinanmu.”

Alamanda mengangkat tangannya dan membuat gerakan melambai

terbalik dalam isyarat untuk membuatnya pergi, dan Kliwon akhirnya pergi tanpa berkata bagaikan disapu oleh gerak isyarat tangan itu, bagai dilemparkan oleh badai kebencian yang menyapu segala hal. Ia mungkin tak tahu bahwa ketika ia telah pergi dan tak tampak batang hidungnya, Alamanda berlari ke kamarnya, menangis sambil membakar fotonya yang masih tersisa. Ketika ia bertemu Sang Shodancho di kursi pengantin, segala usaha telah dicoba untuk menyembunyikan sisa­sisa tangisannya sepanjang malam namun itu sama sekali tak berhasil, dan selama berbulan­bulan atau bahkan bertahun­tahun itu menjadi gunjingan orang sekota. Kliwon menghilang setelah itu, atau Alamanda tak mengetahui kabar beritanya lagi sejak itu selama berbulan­bulan, atau mungkin karena Alamanda tak berharap tahu apa pun lagi tentangnya. Ia hanya menduga­duga bahwa laki­laki itu telah berangkat kembali ke ibukota, menyelesaikan kembali sekolahnya di universitas atau bergabung dengan pemuda komunis, siapa tahu? Tapi sesungguhnya Kliwon tak pergi ke mana­mana, ia masih tinggal di Halimunda, tidur dari rumah teman yang satu ke rumah teman yang lain, atau bersembunyi di rumah ibunya. Di hari perkawinan Alamanda keesokan hari ia bahkan datang secara diam­diam, menyamar sedemikian rupa untuk bersalaman dengan Sang Shodancho serta Alamanda tanpa keduanya tahu, tapi Kliwon tahu bahwa semalaman Alamanda menangis. Bukti tak terbantah bahwa ia menjalani perkawinan yang tak dikehendakinya sendiri, bukti tak terbantah bahwa ia memilih suami yang tak dicintainya sendiri, dan pada gilirannya Kliwon tak lagi merasa marah pada Alamanda kecuali rasa sedih pada nasib malang yang menimpa orang yang dicintainya itu. Tapi ia bertanya­tanya di dalam hati apa yang telah terjadi sehingga Alamanda memutuskan untuk kawin dengan Sang Shodancho yang baru dikenalnya berminggu­minggu itu, sampai akhirnya ia mendengar seorang nelayan berkata bahwa suatu senja ia melihat Sang Shodancho mengendarai truk keluar dari hutan sementara Alamanda tampak tak sadar di sampingnya. Seorang nelayan lain bersumpah kepadanya bahwa ia melihat dari tengah laut Sang Shodancho membopong Alamanda masuk ke gubuk gerilyanya. ”Aku ikut bersedih dengan apa yang terjadi antara kau dan Alamanda,” kata nelayan itu, ”tapi jangan berbuat dungu terhadap Sang Shodancho, paling tidak jika kau berpikir untuk

melakukan balas dendam, libatkan kami bersama dirimu.”

”Tak akan ada balas dendam,” kata Kliwon. ”Ia terbiasa memenangkan semua perang.”

Sementara Kliwon kembali ke laut bersama teman­temannya sebagaimana dulu ia pernah melakukannya, Alamanda melalui komedi malam pertamanya yang penuh ketegangan. Ia telah membius Sang Shodancho dengan obat tidur sehingga laki­laki itu langsung jatuh di kasur pengantin yang berwarna kuning kemilau dengan wangi bunga­bungaan segar dalam dengkuran teratur. Dan menderita karena lelah, Alamanda menggelar matras di lantai dan tidur di sana tak memiliki sedikit pun niat untuk tidur berdampingan dengan suaminya sebagaimana pengantin kebanyakan. Tapi di luar yang diduganya, Sang Shodancho terbangun pada dini hari dan dengan serta­merta terkejut mendapati dirinya melewatkan malam pengantin begitu saja. Lebih terkejut lagi mendapati pengantin perempuan tergeletak di lantai beralaskan matras tipis, dan sambil mengutuki dirinya sendiri atas pandangan tak termaafkan itu, Sang Shodancho segera turun dan mengangkat tubuh istrinya. Menidurkannya di atas tempat tidur.

Saat itu Alamanda terbangun dan melihat Sang Shodancho tersenyum sambil berkata betapa konyolnya mereka melewatkan malam pengantin tanpa berbuat apa pun, dan saat Sang Shodancho menanggalkan seluruh pakaiannya sendiri sehingga kini ia telanjang bulat di depan istrinya, Alamanda berbalik membelakanginya sambil berkata, ”Bagaimana jika aku mendongeng sebelum kita bercinta?”

Sang Shodancho tertawa sambil berkata bahwa itu tampaknya usul yang menarik, lalu ia naik ke atas tempat tidur berbaring di belakang Alamanda sambil memeluk tubuh istrinya yang masih berpakaian lengkap, menciumi rambutnya sambil berkata lagi, ”Mulailah mendongeng, aku telah begitu ingin bercinta.”

Maka Alamanda mulai mendongeng, tentang apa saja yang bisa ia ceritakan, sebisa mungkin sebuah cerita yang tak pernah ada ujungnya, yang melingkar­lingkar hanya agar tak pernah ada waktu bagi mereka untuk bercinta. Tak pernah bercinta bahkan sampai mereka mati atau sampai akhir dunia. Sementara Alamanda terus mendongeng, Sang Shodancho menjelajahi seluruh tubuh Alamanda dengan kedua tangannya, dan tak sabar menanti akhir cerita yang bahkan entah sampai di mana. Ia mulai meraba­raba kancing gaun malam yang dikenakan Alamanda dan satu per satu dibukanya. Saat itu Alamanda mencoba bertahan dengan merapatkan tubuhnya menekuk, tapi dengan kekuatan tangannya Sang Shodancho berhasil membuatnya telentang kembali dan bahkan membalikkannya dengan sangat mudah. Kini laki­laki telanjang itu berguling ke atas tubuh istrinya. Alamanda mendorong Sang Shodancho hingga ia terguling ke samping, lalu ia berkata pada suaminya, ”Dengar Shodancho, kita akan bercinta setelah dongengku selesai.”

Sang Shodancho menatap jengkel ke arahnya, mencium bau permusuhan dalam permainan itu, dan ia berkata bahwa ia bisa mendengar dongeng sambil bercinta.

”Kita sudah berjanji Shodancho,” kata Alamanda lagi, ”bahwa kau bisa mengawini aku tapi aku tak akan bercinta denganmu.”

Hal itu membuat Sang Shodancho marah dan ia menjadi tak peduli lagi terhadap apa pun, lalu dengan kasar ia menarik paksa gaun malam yang dikenakan sang pengantin perempuan hingga robek. Alamanda menjerit kecil namun Sang Shodancho segera membungkamnya sambil terus menanggalkan pakaian yang melekat di tubuh istrinya. Terakhir ia menarik roknya sementara Alamanda tampaknya tak lagi melakukan perlawanan berarti, namun kini setelah Sang Shodancho merasa telah menanggalkan seluruhnya, ia memandang selangkangan istrinya dengan wajah terkejut. ”Brengsek, apa yang kau lakukan dengan selangkanganmu?” tanyanya demi melihat celana dalam terbuat dari logam dengan kunci gembok yang tampaknya tak memiliki lubang anak kunci untuk membukanya.

Alamanda berkata dalam satu ketenangan misterius, ”Pakaian anti teror, Shodancho, kupesan langsung pada seorang pandai besi dan seorang dukun. Hanya bisa dibuka dengan mantra yang hanya aku yang bisa tapi tak akan kubuka untukmu meskipun langit telah runtuh.”

Malam itu Sang Shodancho mencoba untuk memecahkan kunci gembok tersebut dengan berbagai alat, mencoba mendongkelnya dengan obeng, dipukul dengan palu dan kapak dan bahkan dengan tembakan pistol yang nyaris membuat Alamanda semaput karena takut. Namun semuanya gagal membuka kunci pengikat celana dalam logam tersebut dan akhirnya ia hanya bisa menggauli istrinya antara nafsu berahi dan kemarahan tanpa bisa menyetubuhinya. Di pagi hari ia mengiris sedikit ujung jarinya dan melelehkan darahnya di atas seprei hanya sekadar sebagai tanda terhormat sepasang pengantin baru yang perlu diperlihatkan kepada para tukang cuci.

Seminggu selepas perkawinan itu ketika segala pesta kini tinggal sampah dan desas­desusnya, pengantin baru itu pindah ke rumah yang dibeli Sang Shodancho untuk tempat tinggal mereka, sebuah rumah peninggalan masa kolonial dengan dua orang pembantu yang mengurus rumah dan seorang tukang kebun. Dewi Ayu yang menyuruh mereka pindah, dan berpesan sebisa mungkin tak perlu mengunjunginya lagi. ”Perempuan kawin tak bergaul dengan pelacur,” katanya pada Alamanda. Ibunya nyaris selalu benar, dan dengan sedih Alamanda akhirnya pindah.

Pada saat itu, sebagaimana janjinya, Alamanda tetap tak menanggalkan celana dalam besi itu seolah­olah ia seorang prajurit abad pertengahan yang selalu curiga musuh akan datang menyergap kapan saja, menusuk dengan pedang yang lembek namun cukup mematikan. Sang Shodancho sendiri tampaknya sudah putus asa untuk mencoba membukanya, terutama setelah berkonsultasi dengan banyak dukun. Mereka semua, dukun­dukun itu, angkat bahu sambil mengatakan bahwa tak ada kekuatan setan macam apa pun yang bisa meluluhkan kekuatan hati seorang perempuan yang teraniaya. Ia harus mengeluarkan banyak uang untuk konsultasi penuh kesia­siaan tersebut, bukan untuk jawaban dukun­dukun yang tak berguna itu, tapi untuk membungkam mulut mereka agar aib keluarga yang memalukan itu tak tersebar ke mana­mana. Dan karena itu pula ia tak bisa bertanya pada siapa pun lagi mengenai masalahnya di atas tempat tidur.

Ia sudah mencoba membujuk istrinya agar mengendorkan kekeras­

kepalaannya yang tak terpuji itu, tapi jangankan menyerah untuk membuka celana dalam besinya, Alamanda bahkan memutuskan untuk tidur terpisah dengan Sang Shodancho bagaikan sepasang suami istri yang tengah menunggu keputusan cerai dari pengadilan. Ini membuat Sang Shodancho seringkali harus tidur dalam pendaman berahi yang menyedihkan, memeluk bantal dan guling membayangkan itu adalah tubuh istrinya. Pernah suatu ketika Alamanda berkata kepadanya, entah karena merasa kasihan atau sekadar ingin menunjukkan kebesaran hatinya, ”Jika kau tak tahan untuk menumpahkan isi buah pelirmu, pergilah ke rumah pelacuran. Aku tak akan marah karena itu, dan sebaliknya aku akan ikut bersenang hati untukmu.”

Tapi Sang Shodancho sama sekali tak melakukan apa yang disarankan istrinya. Bukan karena ia merasa yakin bisa mengendalikan nafsunya, juga bukan karena ia tak tertarik dengan perempuan­perempuan pelacur, tapi karena ia ingin memperlihatkan kesetiaannya yang demikian dalam dan cintanya yang tanpa pamrih terhadap istrinya. Paling tidak dengan cara itu ia bisa berharap bahwa hati istrinya lamakelamaan akan luluh oleh sikapnya yang manis dan terpuji itu.

Tapi Alamanda sama sekali tak menunjukkan tanda­tanda akan menyerah, hanya membuka celana dalam besinya sejenak saja di dalam kamar mandi yang terkunci untuk kencing dan membersihkan vaginanya, selebihnya ia tetap memasangnya rapat dengan mantra rahasia aman tersembunyi di dalam mulutnya, ke mana pun ia pergi dan kapan pun, ada atau tidak ada Sang Shodancho.

Kadang­kadang Sang Shodancho berharap suatu waktu istrinya lupa mengatakan mantra itu dan ia mendengarnya, tapi ternyata sia­sia saja menantikan hal itu karena bahkan dalam tidur pun ia tak pernah memimpikannya. Satu­satunya yang bisa dilakukan Sang Shodancho sekarang adalah menyerah pada nasib untuk tak pernah merasakan rasanya bercinta dengan perempuan, kecuali kesempatan­kesempatan darurat bercinta dengan bantal dan guling di atas tempat tidur. Sementara di lain waktu ketika ia tak tahan dengan segala permainan gila tersebut, ia akan lari tergopoh­gopoh masuk kamar mandi dan membuang isi buah pelirnya ke dalam lubang kakus.

Di waktu­waktu itu, ia mencoba mencari kesibukan dengan mengurusi kembali bisnis penyelundupan yang telah ia lakukan bersama Bendo sejak bertahun­tahun lampau. Kini mereka bahkan memiliki kapal penangkap ikan besar, usaha mereka yang legal. Ia juga kembali pada hobi lamanya mengembangbiakkan ajak­ajak menjadi anjinganjing rumahan. Satu tahun telah berlalu ketika anjing­anjing itu sudah cukup berguna bagi para petani untuk mengusir babi­babi pengganggu. Satu tahun pula telah berlalu tanpa pernah bercinta bagi pasangan pengantin itu hingga desas­desus mulai dibisikkan orang­orang. Mereka berani bersumpah dengan penuh keyakinan bahwa Sang Shodancho dan Alamanda belum pernah tidur bersama sekali pun karena terbukti satu tahun telah berlalu dan Alamanda tak menampakkan kehamilan. Beberapa anak kecil bahkan mulai berspekulasi bahwa Sang Shodancho jika tidak impoten mungkin ia mandul, dan beberapa di antara mereka bahkan berani bersumpah Sang Shodancho dikebiri oleh Jepang di masa perang yang lalu. Cerita miring itu mulai menyebar dari mulut anak­anak ke telinga anak­anak lain dan dengan cepat terdengar pula oleh orang­orang dewasa, memercayainya dan menyebarkannya lagi.

Tak ada yang berani berspekulasi lain, misalnya mengatakan bahwa perkawinan mereka prematur dan sama sekali tak dilandasi oleh cinta. Sebab di luar masalah tempat tidur yang tak seorang pun tahu, keduanya selalu tampak serasi di muka umum selayaknya sepasang suami­istri yang saling mencintai. Mereka sering terlihat berjalan­jalan sore sambil bergandengan tangan, menonton bioskop di Sabtu malam, mendatangi undangan­undangan pesta dan orang tak akan salah paham melihat keharmonisan keluarga semacam itu. Alamanda tampak selalu ceria dan Sang Shodancho begitu memanjakannya, maka satu­satunya alasan mengapa satu tahun berlalu dan Alamanda belum menampakkan kehamilan hanyalah kemungkinan satu atau dua­duanya mandul. ”Sayang sekali, padahal perkawinan mereka tampak begitu sempurna,” kata seseorang akhirnya.

Satu­satunya orang yang belakangan mendengar desas­desus terse­

but dan tak merasa terganggu adalah justru Alamanda sendiri. Seolah mengabaikan hal tersebut atau menganggap desas­desus semacam itu sebagai sebuah hiburan yang menyenangkan, ia banyak melewati harihari luangnya di luar acara mendampingi Sang Shodancho dengan membaca buku­buku roman. Buku­buku tersebutlah yang tampaknya banyak mengajarkan Alamanda bagaimana caranya bersandiwara di muka umum sebagai sepasang suami­istri yang berbahagia. Tak hanya untuk kepentingan citra suaminya namun juga kepentingan citra dirinya sendiri, karena bagaimanapun ia tak mau orang lain tahu bahwa ia kawin dengan orang yang tidak ia cintai. Ia tak ingin orang lain menganggapnya sebagai perempuan malang yang menyedihkan.

Rupanya Sang Shodancho merupakan telinga terakhir yang mendengar pergunjingan tak enak mengenai dirinya tersebut, yang berawal dari mulut anak­anak kecil usil yang mengatakan tentang impotensi dan kemungkinan pengebirian. Itu membuat tak ada anak­anak yang berniat bermain perang­perangan karena asumsi salah bahwa seorang prajurit mungkin dikebiri. Betapa kacaunya Sang Shodancho demi mendengar hal itu akhirnya, bergejolak dalam rasa malu dan kemarahan yang dicampur dengan ketidakberdayaan. Di luar urusan tempat tidur dengan istrinya, ia akui bahwa perkawinannya sangat membahagiakan sejauh Alamanda bisa menempatkan diri menjadi istri yang mesra sebagaimana seharusnya, tak peduli apakah ia bersandiwara atau tidak. Tapi bagaimanapun tak selamanya ia bisa membuang bakal­bakal bayi mereka ke lubang toilet dan ia sungguh­sungguh mulai menyadari betapa satu tahun telah berlalu dan ia belum berhasil membobol pelindung besi sialan itu.

Akhirnya suatu malam setelah berbulan­bulan tak pernah tidur di ranjang yang sama, Sang Shodancho masuk ke kamar tempat biasanya Alamanda tidur dan menemukan istrinya tengah mengenakan pakaian tidur. Sang Shodancho menutup pintu dan menguncinya, lalu menghampiri Alamanda yang menatapnya dengan penuh kecurigaan sambil meraba selangkangannya memastikan bahwa pelindung besinya masih terpasang dengan baik. Sang Shodancho kemudian berkata pada istrinya, ”Bercintalah denganku, Sayang.” Suaranya tampak memelas. 

Alamanda menggeleng dan membelakanginya untuk bersiap naik ke atas tempat tidur. Sang Shodancho tiba­tiba menangkap tubuhnya dari belakang, menarik pakaian tidur istrinya begitu kuat hingga sobek terkoyak dan menanggalkannya. Sebelum Alamanda melakukan reaksi apa pun, Sang Shodancho telah mendorongnya ke atas tempat tidur membuatnya tersungkur dan telentang di atas kasur. Ketika ia melihat suaminya, Sang Shodancho telah menelanjangi dirinya sendiri dan segera melompat ke atas tubuhnya. Alamanda mencoba melawan, menolak tubuh suaminya dengan cara mendorongnya sekuat tenaga tapi Sang Shodancho begitu erat mendekap, menciuminya begitu liar dan meremas buah dadanya dengan penuh nafsu. ”Kau memerkosaku, Shodancho!” jerit Alamanda saat mencoba berguling ke samping menghindar. Tapi Sang Shodancho terus memburunya, menghimpitnya dan menjelajahi setiap wilayah tubuhnya. ”Shodancho setan, iblis, brengsek, terkutuk, perkosalah aku dan tombakmu akan patah menghantam perisai besiku!” kata Alamanda akhirnya. Ia tak lagi mencoba melawan dan membiarkan Sang Shodancho berusaha sia­sia mencumbu dirinya. Kini Sang Shodancho bisa bergerak lebih leluasa, mendustai dirinya sendiri bahwa ia tengah bercinta dengan istrinya, sampai tombaknya memuntahkan cairan sperma ke permukaan lempengan besi pelindung vagina istrinya. Sang Shodancho terguling ke sampingnya dengan napas satu­satu dan bintik­bintik keringat menghiasi seluruh tubuhnya. Ia diam membisu selama beberapa saat sementara Alamanda menikmati sendiri kekonyolan itu, berbahagia dalam kemenangan dan balas dendam sebelum Sang Shodancho berdiri dan dengan penuh kemarahan menendang selangkangan istrinya. Alamanda terkejut sejenak dibuatnya, tapi Sang Shodancho lebih terkejut karena kakinya terasa demikian sakit membentur besi. Sambil meringis ia duduk di tepi tempat tidur, mulai menangis menyedihkan, tangisan seorang laki­laki malang yang patah hati sambil berkata, ”Berapa kali pun kulakukan itu terhadapmu, kau tak akan pernah bunting. Terkutuklah kemaluan dan rahimmu,” katanya sambil berlalu, berpakaian dan pergi meninggalkan kamar istrinya.

Alamanda salah menduganya ketika ia kemudian menganggap Sang Shodancho akan mengakhiri segala usahanya setelah peristiwa itu, dan menyerah sepenuhnya pada hukuman yang ia timpakan untuknya. Pada suatu hari ketika ia sedang di dalam kamar mandi yang terkunci rapat dan ia telanjang sepenuhnya sementara celana dalam besi itu tergeletak begitu saja di bibir bak mandi, tiba­tiba sesuatu menghantam pintu yang tampaknya begitu kuat. Seketika pintu tersebut hancur menjadi puing­puing meninggalkan lubang yang sangat besar.

Kesadarannya belum begitu pulih dari keterkejutan ketika dilihatnya Sang Shodancho menyerbu ke dalam melalui lubang itu. Alamanda tak punya waktu untuk meraih celana dalam besinya dan apalagi mengenakannya karena sekonyong­konyong Sang Shodancho telah mendekapnya dalam cengkeraman. Ia menjerit keras bagai harimau betina terluka, namun Sang Shodancho tampaknya tak peduli, mengangkatnya ke atas bahunya sebagaimana dulu ia mengangkat tubuh yang tak berdaya itu di hutan tempatnya bergerilya. Ia membawanya keluar dari kamar mandi sementara Alamanda terus meronta­ronta sambil memukuli bagian punggung Sang Shodancho. Dua orang pembantu mengintip adegan tersebut secara diam­diam melalui celah pintu dapur dengan tubuh bergetar menahan kengerian. Sang Shodancho membawa Alamanda ke kamarnya sendiri, kamar yang sejak semula telah direncanakannya sebagai kamar mereka berdua, dan melemparkannya ke atas tempat tidur sebelum ia berbalik dan mengunci pintu. ”Terkutuklah kau, Shodancho,” kata Alamanda sambil berdiri di atas tempat tidur serta menyingkir ke arah dinding. ”Berani­beraninya kau memerkosa istrimu sendiri.”

Sang Shodancho tak menjawab, bahkan tak tersenyum sedikit pun kecuali membuka pakaiannya sendiri dan memandang Alamanda dengan pandangan seekor anjing mesum. Demi melihat wajah seperti itu, nalurinya segera memberi tahu mengenai bahaya dan Alamanda semakin merapat ke arah dinding. Tampaknya itu sia­sia saja karena Sang Shodancho cepat menangkap tubuhnya dan membantingnya ke atas tempat tidur sambil menjatuhkan dirinya di atas tubuh Alamanda. Mereka melalui menit demi menit dalam pertarungan, perkelahian seorang laki­laki yang ingin melampiaskan nafsu berahinya dan seorang perempuan yang berusaha mencakar dan menjerit mempertahankan dirinya dari cinta yang tak ingin ia lakukan. Alamanda menutup rapat kemaluannya dengan kedua pahanya, namun Sang Shodancho membongkar paksa pertahanan terakhir tersebut dengan lututnya yang perkasa, dan apa yang terjadi maka terjadilah. Sang Shodancho memerkosa istrinya sendiri sehingga di akhir pertarungan yang melelahkan, Alamanda berkata, ”Terkutuklah kau setan pemerkosa!” sebelum ia menangis dan tak sadarkan diri. Sang Shodancho mengakhirinya dengan dua luka cakaran di wajah dan Alamanda merasakan sakit yang luar

biasa di selangkangannya.

Ia tak tahu berapa lama terbius karena guncangan seperti itu, namun ketika ia bangun dan tersadar, ia menemukan dirinya masih telentang telanjang di atas tempat tidur. Kedua tangan dan kedua kakinya terikat ke empat sudut tempat tidur. Alamanda mencoba bangun dan menarik tali pengikat, namun rupanya ikatan itu begitu kencang sehingga apa yang terjadi hanya membuat pergelangan tangan maupun kakinya terasa sakit.

”Setan pemerkosa, apa yang kau lakukan?” tanyanya dalam kemarahan ketika ia melihat Sang Shodancho masih berdiri di samping tempat tidur dengan pakaian telah lengkap ia kenakan kembali. ”Dengar, jika kau hanya butuh lubang untuk kemaluanmu, semua sapi dan kambing punya lubang.”

Untuk pertama kali sejak ia diculik dari kamar mandi, Sang Shodancho tersenyum dan kemudian berkata, ”Kini aku bisa menyetubuhimu kapan pun aku mau!” Mendengar itu Alamanda menjerit keras, memaki dan menyemburkan sumpah­serapah sambil mencoba memberontak terhadap tali­tali pengikat tubuhnya. Semua usahanya sia­sia belaka dan Sang Shodancho segera meninggalkan dirinya.

Pada hari itu juga Sang Shodancho memanggil seorang tukang untuk memperbaiki pintu kamar mandi yang hancur dan melemparkan celana dalam besi Alamanda ke dalam sumur. Ia mengancam dua pembantunya dengan sorot mata yang seolah mengatakan jangan mengatakan apa pun yang telah mereka lihat pada orang lain. Sementara Alamanda mulai lemas tak berdaya setelah berusaha keras melepaskan diri dan menangis tanpa henti dengan suara yang memilukan. Selain itu, bagaikan sepasang pengantin baru yang sesungguhnya, Sang Shodancho selalu kembali dan kembali ke kamarnya tempat Alamanda disekap, bercinta dengan istrinya dalam rentang waktu setiap dua jam setengah sekali tanpa lelah. Ia menampilkan keriangan seorang anak kecil yang memperoleh mainan baru, dan sementara itu perlawanan Alamanda semakin lama semakin tak berarti apa­apa.

”Bahkan jika aku mati,” kata Alamanda dengan putus asa, ”Percaya­

lah, lelaki ini akan menyetubuhi kuburanku.”

Demikianlah sepanjang hari itu Alamanda diikat di atas tempat tidur, disetubuhi berkali­kali. Lalu ketika sore datang Sang Shodancho datang membawa ember berisi air hangat dan kain basah dan ia melap tubuh istrinya demikian penuh kasih sayang serta begitu berhati­hati seolah tengah menyentuh keramik mahal yang mudah pecah. Setelah itu ia menyetubuhinya lagi dan memandikannya lagi dan begitulah beberapa kali. Alamanda sama sekali tak tersentuh hatinya pada sikap Sang Shodancho yang penuh perhatian tersebut, dan bahkan ketika Sang Shodancho membawakannya seporsi makan siang, ia menolaknya dengan tegas sambil mengatupkan mulutnya dengan rapat. Alamanda hanya bersedia minum dan ketika Sang Shodancho memaksanya membuka mulut dan menjejalkan nasi ke dalamnya, Alamanda langsung menyemburkan nasi tersebut sehingga menyerbu wajah Sang Shodancho. ”Makanlah, sebab tak akan menyenangkan bersetubuh dengan sebongkah mayat,” kata Sang Shodancho. Atas bujuk rayu tersebut Alamanda menjawab dengan ketus, ”Lebih tak menyenangkan bersetubuh dengan manusia hidup sepertimu.”

Ini gila, pikir Sang Shodancho yang dengan sabar terus membujuknya. Alamanda tetap bersikeras untuk tidak makan kecuali ia dilepaskan dari ikatan dan celana dalam besi itu dikembalikan kepadanya, tapi Sang Shodancho tak mau memenuhi permintaan tersebut. Sang Shodancho berkata pada diri sendiri bahwa pada akhirnya kekuatan Alamanda akan ada batasnya, mencoba menghibur diri. Paling jauh ia hanya bisa bertahan satu malam sehingga esok pagi ia akan bersedia diberi makan setelah diserang rasa sakit lilitan lambungnya yang tanpa kompromi.

Dengan anggapan seperti itu, Sang Shodancho kemudian mengembalikan makan siang istrinya ke dapur dan ia melewatkan makan siang seorang diri di meja makan. Ketika senja datang, ia menghabiskan waktu duduk di beranda menikmati angin malam yang mulai berembus dan burung­burung perkutut hadiah perkawinan. Mereka melompatlompat di dalam kandangnya yang menggantung di langit­langit beranda. Ia juga menikmati lampu­lampu yang mulai menyala dan rokok kretek yang diisapnya penuh kenikmatan, mengenang satu hari yang penuh kemenangan tersebut. Akhirnya ia bisa merasakan bagaimana rasanya bercinta dengan istrinya sendiri karena meskipun kenyataannya ia pernah memerkosa Alamanda sebelum ini, waktu itu Alamanda belum menjadi istrinya.

Senja­senja seperti itu biasanya ia duduk berdua dengan Alamanda di teras depan tersebut. Orang­orang sudah banyak yang tahu kebiasaan mereka, sehingga ketika ada orang lewat dan menyapa selamat petang, Shodancho, mereka bertanya, ”Ke mana Nyonya?” Sang Shodancho membalas mengatakan selamat petang dan menjawab bahwa istrinya sedang tak enak badan dan tengah berbaring di atas tempat tidur. Hal itu membuatnya teringat kembali pada Alamanda sehingga ketika rokok kretek yang ia isap hanya menyisakan sedikit saja ujung yang tak terbakar, ia pergi menemui istrinya itu setelah membuang puntung rokok ke halaman. Ia menemukan Alamanda masih sebagaimana sepanjang hari itu: terikat telentang, telanjang, namun sekarang ia tampaknya telah tertidur. Apakah Sang Shodancho kemudian kembali berubah menjadi seorang suami yang baik sebab saat itu ia segera menyelimuti tubuh istrinya untuk menangkal udara dingin dan nyamuk, hanya Tuhan dan ia sendiri yang tahu. Sebab kemudian ternyata ia tak bisa melewatkan malam itu tanpa memerkosa istrinya lagi, dua kali pada pukul sebelas empat puluh menit dan pukul tiga dini hari sebelum ayam pertama berkokok.

Lalu pagi akhirnya datang dan Sang Shodancho muncul kembali di kamar tempat istrinya masih terkapar di balik selimut dengan tali pengikat masih terentang ke sudut­sudut tempat tidur. Ia membawa sarapan pagi berupa nasi goreng dengan telur mata sapi dan irisanirisan tomat dan segelas susu cokelat. Alamanda sudah bangun dan menatap sendu ke arahnya, campur aduk antara mual dan kebencian. ”Mari kusuapi kau,” kata Sang Shodancho dengan keramahan yang tak dibuat­buat, sungguh­sungguh tulus dengan senyum seorang suami kepada istrinya, ”bercinta selalu membuat orang lapar.”

Alamanda membalas senyumnya, bukan senyum yang memesona itu, tetapi lebih menyerupai cibiran penuh ejekan. Ia memandang Sang Shodancho seolah memandang wujud iblis yang telah menjelma, iblis yang sejak masa kecil seringkali ia bayangkan seperti apa wujudnya, dan kini ia rasanya bisa melihat itu di wajah suaminya. Tanpa tanduk, tanpa taring dan tanpa mata yang merah kecuali karena kurang tidur, tapi yakin itulah iblis.

”Pergilah ke neraka dengan sarapan pagi terkutukmu itu,” kata Alamanda.

”Ayolah, Sayang, kau bisa mati tanpa makan,” kata Sang Shodancho.

”Itu lebih bagus.”

Dan memang begitulah kejadiannya: Alamanda jatuh demam di sore hari dengan wajah pucat pasi dan suhu meninggi dan tubuh menggigil. Hari itu Sang Shodancho sama sekali tak memerkosanya lagi setelah percintaan sehari semalam. Mungkin karena lelah atau kepuasan yang telah melewati ambang batas, atau sebagai satu usaha memperbaiki hubungan dengan istrinya agar ia bisa membujuknya untuk makan. Alamanda kini menolak apa pun sepenuhnya, tak hanya nasi tapi bahkan menolak untuk minum, dan itulah ia akhirnya terserang demam di sore hari serta mulai mengigau dalam umpatan­umpatan.

Sang Shodancho mulai panik dengan keadaan istrinya yang memburuk, masih mencoba membujuknya makan, kali ini semangkuk bubur, dan masih memperoleh penolakan. Lebih dari itu, tubuh Alamanda yang menggigil itu mulai bergetar hebat seolah ia tengah sekarat, tapi Alamanda sendiri melalui saat­saat mengerikan seperti itu dengan ketenangan yang luar biasa, seolah ia telah siap menghadapi maut yang paling buruk sekali pun. Sang Shodancho mencoba mengurangi demamnya dengan memberi kain basah pengompres di dahi Alamanda, membuat uap air seketika mengapung membentuk kabut, tapi panas demamnya sama sekali tak memperlihatkan kehendak untuk turun.

Dalam keputusasaan, Sang Shodancho akhirnya membuka semua ikatan tubuh istrinya namun Alamanda masih berbaring tanpa pemberontakan meskipun kebebasannya memungkinkan ia untuk bangkit dan melarikan diri. Ia tak memberontak pula ketika suaminya memasangkan pakaian ke tubuhnya dan lalu membopongnya pergi. Alamanda waktu itu tak lagi mampu memahami apa yang terjadi sehingga tak bertanya apa­apa kecuali terkulai di bahu Sang Shodancho. Tapi lakilaki itu segera memberitahunya meskipun ia tak mendengar apa pun, ”Aku sungguh­sungguh tak menginginkan kau jadi sebongkah mayat, kita akan ke rumah sakit.”

Di luar yang diduga Sang Shodancho yang menganggap istrinya hanya memerlukan satu suntikan vitamin dan sedikit infus, Alamanda menghabiskan waktu dua minggu untuk perawatan di rumah sakit. Setiap hari ia menyempatkan datang ke kamar tempat istrinya menginap sambil mengatakan betapa menyesalnya pada apa yang telah ia lakukan sebelum ini. Alamanda sama sekali tak percaya pada penyesalannya, namun kini ia tak lagi memperlihatkan sikap permusuhan. Ia menerima bubur yang disuapkan para perawat ke mulutnya (meskipun ia tetap menolak bubur dari Sang Shodancho), dan hanya mengangguk ketika Sang Shodancho berkata bahwa ia berjanji tak akan mengulang perbuatan itu lagi. Bagaimanapun, Alamanda sama sekali tak memercayainya. Adalah pada hari keempat belas ketika ia datang untuk menjenguk istrinya. Itu setelah ditelepon dokter yang merawat istrinya yang mengatakan bahwa Alamanda sudah boleh dibawa pulang. Ia bertemu dengan dokter tersebut di koridor rumah sakit: si dokter menyapanya dengan basa­basi selamat siang, Shodancho, dan Sang Shodancho membalas mengatakan selamat siang, Dokter. Lalu si dokter mengajaknya duduk di kedai rumah sakit untuk bicara mengenai Alamanda. ”Apakah ada yang serius dengan kesehatan istriku, Dokter?” tanya Sang Shodancho sementara si dokter memesan makan siang yang sederhana. Baru ketika pesanan itu datang si dokter menggeleng dan berkata, ”Tak ada penyakit serius jika tahu bagaimana mengobatinya.”

Lalu ia mulai makan seolah mengulur­ulur drama apa pun yang akan

ia bicarakan mengenai Alamanda, sementara Sang Shodancho menunggunya dengan penuh kesabaran. Ditemani sigaret karena hanya di kedai itulah ia bisa merokok di rumah sakit, ia masih mengkhawatirkan istrinya dan kembali menyesal telah menjadi penyebab itu semua. Sejak hari pertama si dokter telah memberi diagnosa tentang luka di lambung, dehidrasi dan Alamanda telah terserang gejala typus. Dokter berkata untuk tak perlu khawatir, Alamanda hanya perlu istirahat selama sekitar satu atau dua minggu, menghindarkan diri dari segala makanan asam kecuali bubur tawar, banyak minum dan menelan antibiotik dan virus di tubuhnya akan mati dengan sendirinya dalam waktu tak lebih dari dua minggu. Meskipun si dokter mengatakan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan, Sang Shodancho tetap merasa khawatir karena ia tak akan sanggup ditinggal mati Alamanda meskipun ia tahu Alamanda tak pernah dan mungkin tak akan pernah mencintainya.

”Jika kukatakan kabar gembira ini, apakah kau akan membayar

makan siangku, Shodancho?” tanya si dokter selepas menyelesaikan makan siangnya.

”Katakan saja, Dokter, apa yang terjadi dengan istriku?”

”Aku telah berpengalaman melakukan diagnosa ini dan aku bersumpah kau akan segera punya anak, Shodancho. Istrimu hamil.”

Ia terdiam sejenak. ”Masalahnya, siapa yang membuatnya hamil?” Ia tak mengatakan itu, tentu saja. ”Berapa bulan?” tanya Sang Shodancho dan ia sama sekali tak terlihat gembira kecuali wajah pucat pasi dan tangan yang menggigil di atas meja. Bayangan­bayangan buruk melesat di benaknya, membayangkan Alamanda secara diam­diam bercinta dengan siapa pun yang ia inginkan, dendam terhadap nasibnya untuk kawin dengan orang yang dicintainya. Laki­laki itu, bisa jadi adalah kekasih lamanya, atau kekasih baru yang ia tidak tahu.

”Kenapa, Shodancho?”

”Berapa bulan istriku sudah hamil, Dokter?” ”Dua minggu.”

Sang Shodancho bersandar ke sandaran kursi sambil membuang napas, tampak lega sekarang. Ia mengambil sapu tangan dan membersihkan butir­butir keringat dingin yang baru saja menghiasi dahinya. Setelah lama terdiam ia mulai tersenyum, kini tampak begitu bahagia sebelum berkata, ”Kubayar makan siangmu, Dokter.”

Jadi ia akan segera punya anak, membuktikan bahwa desas­desus ia tak pernah bercinta dengan istrinya dan bahwa ia impoten dan bahwa ia dikebiri sama sekali tak beralasan, karena ia akan punya anak. Mereka berdua segera menemui Alamanda yang tampak telah cukup sehat untuk dibawa pulang. Dokter telah mengizinkannya memakan apa pun yang sedikit lebih keras dari nasi bubur dan wajahnya perlahan­lahan mulai tampak segar. Ia sesekali mulai berguling ke sana­kemari di atas tempat tidur.

Ketika si dokter meninggalkan mereka berdua untuk mengurusi kepulangan Alamanda, Sang Shodancho berkata kepada istrinya, ”Kau sudah sembuh, Sayang.”

Alamanda membalasnya tanpa ekspresi, ”Cukup segar untuk memancing berahimu.”

Tak terpengaruh oleh keketusan hatinya, Sang Shodancho duduk di tepi tempat tidur menyentuh kaki istrinya sementara Alamanda diam saja sambil memandang langit­langit. ”Dokter memberi tahu bahwa kita akan punya anak. Kau hamil, Sayang,” kata Sang Shodancho lagi berharap bisa membagi kebahagiaan.

Tapi Alamanda segera berkata membuatnya terkejut, ”Aku tahu dan aku akan menggugurkannya.”

”Jangan lakukan itu, Sayang,” kata Sang Shodancho memohon. ”Selamatkan anak itu dan aku berjanji tak akan pernah melakukan hal itu lagi.” ”Baiklah, Shodancho,” kata Alamanda, ”jika kau berani­beraninya menyentuhku lagi aku tak akan ragu­ragu untuk mengugurkannya.”

Secepat kilat Sang Shodancho menarik tangannya dari kaki Alamanda membuat perempuan itu ingin tertawa karena kekonyolannya. Sang Shodancho kembali menegaskan janjinya untuk tak melakukan pemerkosaan apa pun lagi meskipun Alamanda tak mengenakan celana dalam besi lagi. Memang begitulah kenyataannya: Alamanda tak lagi mengenakan celana dalam besi, selain karena celana dalam besi itu telah dibuang Sang Shodancho ke dalam sumur, ia cukup percaya diri dan yakin Sang Shodancho tak akan melanggar janjinya sejauh ia tetap bisa menggugurkan kandungannya. Memiliki seorang anak jauh lebih penting dari apa pun bagi ego seorang laki­laki semacam Sang Shodancho. Alamanda bahkan berkata, meskipun kelak ia telah hamil tujuh bulan atau delapan atau sembilan bulan, ia tetap akan menggugurkannya apa pun yang terjadi, jika Sang Shodancho kembali memaksanya melayani nafsu berahi. Bahkan meskipun ia sendiri mati karena itu. Tapi jelas ia tak lagi mengenakan celana dalam besi bukan karena ia telah berubah, telah memberikan dirinya kepada Sang Shodancho, karena ia sudah berjanji untuk tak pernah mencintainya dan karena itu ia tak ingin bercinta dengannya. Dan demi Tuhan ia memang tak

mencintainya.

Kepulangannya ke rumah disambut gembira beberapa sahabat dan kerabat mereka secepat berita gembira bahwa Alamanda hamil tersebar ke seluruh pelosok kota dan Sang Shodancho mengadakan pesta syukuran kecil untuk itu. Orang­orang di kota membicarakannya dari kedai ke kedai seolah mereka menantikan lahirnya seorang putra mahkota, dan banyak di antara mereka membicarakannya dalam nada gembira kecuali Kliwon dan beberapa sahabat nelayannya.

Bahkan dengan ketus Kliwon berkata, ”Ia seorang pelacur.” Betapa terkejutnya para sahabat mendengar ia mengatakan itu untuk perempuan yang pernah demikian ia cintai, tapi dengan tenang ia berkata lagi, ”Seorang pelacur bercinta karena uang, apa yang akan kita sebut pada seorang perempuan yang kawin juga karena uang dan status sosial? Ia lebih dari seorang pelacur, ia dewi para pelacur.” Tak ada kekesalan hati di dalam nada suaranya, seolah ia sedang mengatakan kenyataan yang sudah diketahui banyak orang.Jika pun ada kekesalan hati Kliwon pada keluarga tersebut, terutama kepada Sang Shodancho, tentunya bukan karena kekasihnya direbut begitu saja. Sebagai seorang laki­laki sejati ia telah dibuat siap pada kemungkinan apa pun ditinggalkan perempuan yang paling ia cintai. Apa yang membuatnya kesal belakangan ini terhadap Sang Shodancho adalah kapal penangkap ikannya yang dua buah itu. Bagaimanapun kedua kapal itu telah membuat wajah pantai Halimunda berubah. Keduanya kini terapung­apung di lautnya, dengan kesibukan menurunkan ikan­ikan yang diperolehnya. Para pekerjanya hilir­mudik di atas geladak, dan para tukang yang mengangkuti ikan­ikan tangkapannya ke pelelangan. Tapi kedua kapal itu juga mengubah wajah para nelayan yang menjadi kusut karena ikan tak mudah lagi didapat dan kenyataan tak mudah pula bersaing dengan alat­alat yang dimiliki kapal tersebut. Jika pun ikan mereka peroleh, harga ikan telah jatuh oleh melimpahnya ikan di pelelangan yang berasal dari kapal.

Itu adalah waktu ketika Kliwon, atas instruksi Partai Komunis, me­

mutuskan untuk mendirikan Serikat Nelayan dan mulai menjelaskan kepada para sahabatnya mengenai apa yang terjadi dengan kapal­kapal dan perahu mereka. ”Tak hanya sekadar persaingan yang tak sehat, tapi mereka telah sungguh­sungguh merampok ikan­ikan kita.” Banyak para sahabatnya berharap bisa melakukan perlawanan dengan cara membakar kapal­kapal itu, tapi Kamerad Kliwon (begitulah kemudian ia dipanggil) mencoba menenangkan mereka, berkata bahwa tak ada yang lebih buruk dari sebuah tindakan anarkis, dan sebaliknya ia berkata pada mereka, ”Beri aku waktu untuk bicara dengan Sang Shodancho, pemilik kapal­kapal itu.”

Kamerad Kliwon memilih waktu ketika berita tentang kehamilan Alamanda telah menjadi rahasia umum orang di kota itu. Ia berharap Sang Shodancho dalam keadaan yang cukup senang hatinya untuk diajak bernegosiasi mengenai urusan para nelayan tersebut. Ia bertemu pada suatu siang di kantor rayon militer, sengaja tak datang ke rumahnya karena ia sama sekali tak berharap bertemu dengan Alamanda kecuali mengacaukan kebahagiaan mereka menyambut anak pertama. ”Selamat siang, Shodancho,” kata Kamerad Kliwon begitu berjumpa dan mereka bersalaman. Sang Shodancho menyuguhkan secangkir kopi untuknya dan memang benarlah bahwa Sang Shodancho tampak begitu bahagia sehingga keramahannya begitu tampak jelas.

”Selamat siang, Kamerad, kudengar kau sekarang memimpin Serikat Nelayan dan desas­desus mengatakan bahwa nelayan­nelayan itu mengeluhkan kapal­kapalku.”

Ya, begitulah, Shodancho, dan Kamerad Kliwon akhirnya menceritakan keluhan para nelayan itu mengenai ikan yang berkurang dan harga yang jatuh. Sang Shodancho bercerita mengenai kemajuan zaman, bahwa penggunaan kapal sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Hanya dengan kapal para nelayan tak dirongrong oleh penyakit rematik di hari tua. Hanya dengan kapal para istri nelayan bisa memastikan bahwa suaminya tak akan lenyap ditelan badai. Hanya dengan kapal ikan bisa ditangkap lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan orang, tak sebatas yang dibutuhkan oleh orang­orang Halimunda.

”Selama bertahun­tahun, Shodancho, kami menangkap ikan sebanyak yang kami butuhkan hari itu, dan sedikit sisa untuk tabungan di masa badai yang besar. Bertahun­tahun kami hidup dengan cara seperti itu, tak pernah menjadi sungguh­sungguh kaya sebagaimana kami juga tak pernah menjadi sungguh­sungguh miskin. Tapi kini kau sedang mencoba melemparkan nelayan­nelayan itu ke dalam kemiskinan yang tanpa ampun; ikan­ikan yang biasa mereka tangkap telah kau rampok dengan kapal­kapal itu dan kalau pun mereka memperoleh ikan, tak ada lagi harganya di pelelangan kecuali menjadi ikan asin untuk dimakan sendiri.”

”Tentunya kalian lupa melemparkan kepala sapi sehingga Ratu Kidul penguasa laut enggan membagi ikan untuk kalian lagi,” kata Sang Shodancho sambil tertawa kecil, meminum kopinya dan mengisap rokok kreteknya.

”Itu benar, Shodancho, karena kami tak lagi punya uang untuk membeli seekor sapi. Jangan biarkan orang­orang miskin ini menjadi marah, orang lapar yang marah tak akan ada yang sanggup menghadapinya.”

”Kau mengancam, Kamerad,” kata Sang Shodancho sambil tertawa lagi. ”Baiklah, aku akan membiayai pesta laut melemparkan kepala sapi untuk ratu yang pelit itu sebagai syukuran anak pertamaku, tapi soal nelayan­nelayan itu aku hanya punya satu jalan keluar: aku akan menambah satu kapal lagi dan terbuka bagi kalian para nelayan untuk bergabung di atasnya, dengan upah dan jaminan tak ada rematik serta ancaman badai. Bagaimana, Kamerad?”

”Sebaiknya kau berbuat bijaksana, Shodancho,” kata Kamerad Kliwon. Ia segera meninggalkan Sang Shodancho yang tampaknya hanya bicara berputar­putar tak memperlihatkan minat untuk menyingkirkan kapal­kapalnya sama sekali.

Kapal penangkap ikan baru itu sungguh­sungguh datang pada bulan ketujuh kehamilan Alamanda, tapi tak satu pun nelayan yang berniat mengikuti upacara membuang kepala sapi yang dilakukan segelintir orang­orang Sang Shodancho. Kamerad Kliwon bahkan mulai menjadi berang dan berkata pada Sang Shodancho bahwa ia tak lagi bisa menjamin kapal­kapal itu aman dari kemarahan para nelayan, tapi dengan tenang Sang Shodancho berkata bahwa tak sebaiknya mereka bertindak gegabah. Sang Shodancho tampaknya tak begitu peduli dengan urusanurusan tersebut karena kemudian ia tak mau ditemui siapa pun kecuali tinggal di rumah menanti kelahiran anak pertamanya. Itu akan menjadi anak kebanggaannya, masa depannya yang kelak jika ia sudah lahir ia akan meluangkan waktu­waktu sore untuk berjalan bersamanya. Ia akan mengantarnya pergi sekolah jika ia sudah sedikit besar, memberikan apa pun yang ia inginkan.

Karena itu ia sesungguhnya tak tahu menahu tentang pemogokan

buruh kapal­kapal penangkap ikannya yang sebagian besar adalah nelayan­nelayan kampung sepanjang pesisir. Mereka dihadapi sepasukan polisi dan tentara dari rayon militer dengan pemukulan tapi orang­orang itu tetap bergeming. Tanpa berkonsultasi dengan Sang Shodancho, para nahkoda kapal memecat para buruh itu satu per satu, dan menggantinya dengan buruh­buruh baru yang bersedia mengikuti aturan main dan kontrak mereka. Serikat Nelayan berhasil memasukkan orang­orangnya untuk bekerja di kapal, namun kini mereka semua telah dipecat.

Hal ini memancing kemarahan umum di antara para nelayan dan mereka tampaknya telah sungguh­sungguh merencanakan untuk membakar kapal­kapal itu dalam satu keputusasaan. Namun kembali Kamerad Kliwon mencoba mencegah mereka dan berjanji sekali lagi untuk bicara dengan Sang Shodancho. Kali ini tampaknya ia benar­benar harus pergi ke rumahnya, karena Sang Shodancho tampak jarang masuk ke kantor dalam dua bulan terakhir penantian anak pertamanya itu. Mau tidak mau tampaknya Kamerad Kliwon harus kembali bertemu dengan Alamanda. Dan begitulah, karena Alamandalah yang kemudian membukakan pintu untuknya, dengan jalan yang tertatih menahan beban perutnya yang tampak kembung di balik daster putih berbunga­bunga. Sejenak keduanya saling memandang dalam kerinduan yang serta­merta memuncak, dalam satu kehendak bawah sadar untuk menghambur dan saling memeluk, mencium dan menangis bersama­sama dalam kesedihan berdua. Tapi itu tak mereka lakukan kecuali diam saling mematung, bahkan tak ada senyum dan sapaan, kecuali Kamerad Kliwon yang memandang Alamanda dan mengaguminya sebagai perempuan yang demikian cantik. Ia bahkan jauh lebih cantik dengan kandungannya itu, seolah ia tengah berhadapan dengan sosok cantik puteri duyung yang menjadi dongeng mitologis para nelayan, atau Ratu Laut Selatan

yang tak terkira memesona itu.

Namun ia sedikit terkejut ketika ia melihat kandungan Alamanda seolah ia bisa melihat anak yang meringkuk di dalamnya. Ini membuat Alamanda menjadi tak enak hati, berpikir bahwa laki­laki itu tengah membayangkan bahwa seharusnya anak di dalam kandungannya adalah anak­nya. Alamanda ingin sekali meminta maaf atas semua ini, berkata bahwa ia mungkin masih mencintainya, tapi nasib buruk telah membuat mereka terpisah. Mungkin suatu ketika jika aku telah menjadi janda, kau bisa mengawiniku. Tapi apa yang dipikirkan Kamerad Kliwon bukanlah hal itu, karena kemudian ia berkata pendek pada Alamanda, ”Perutmu seperti panci kosong.”

”Apa maksudmu?” tanya Alamanda merasa tersinggung dan seketika keinginannya untuk mengatakan semua yang ia pikirkan menjadi lenyap.

”Tak ada anak laki­laki maupun anak perempuan di dalamnya, sepenuhnya hanya angin dan angin, seperti panci kosong.”

Alamanda sungguh­sungguh kesal dengan komentarnya, menganggapnya sebagai satu hinaan dari seorang laki­laki yang patah hati dan menyadari semakin lama ia berdiri di depannya, ia hanya akan mendengar lebih banyak kata­kata yang menyakitkan. Lalu tanpa berkata apa­apa lagi ia membalikkan badan dan nyaris saja bertabrakan dengan Sang Shodancho yang muncul di ambang pintu dan juga dibuat terkejut oleh apa yang dikatakan oleh Kamerad Kliwon. Alamanda masuk ke dalam rumah menyingkir sementara kedua laki­laki yang ditinggalkannya duduk di kursi beranda tempat sepasang suami istri itu sering melewatkan senja bersama.

Berbeda dengan Alamanda, Sang Shodancho menanggapi serius apa yang didengarnya dari mulut Kamerad Kliwon dan menjadi khawatir dibuatnya sehingga ia bertanya pada laki­laki itu apa yang ia maksud dengan panci kosong. Sebagaimana sudah dikatakan pada Alamanda, Kamerad Kliwon mengatakan apa yang telah ia katakan itu: seperti panci kosong, tak ada anak laki­laki maupun anak perempuan di dalam rahim Alamanda kecuali angin dan angin. ”Itu tak mungkin, dokter sudah memastikan bahwa istriku hamil dan kau lihat sendiri perutnya!” kata Sang Shodancho dengan sedikit kekhawatiran.

”Aku sudah lihat perutnya,” kata Kamerad Kliwon. ”Mungkin itu sekadar gumaman seorang lelaki yang cemburu.”
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊