menu

Cantik Itu Luka Bab 08

Mode Malam
8
Di satu pagi yang berkabut, orang­orang yang berjejalan di peron stasiun Halimunda digemparkan oleh pemandangan fantastis

yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Di depan loket tiket, di bawah pohon ketapang, dua orang kekasih berciuman penuh nafsu tanpa memikirkan tempat dan waktu. Begitu panas ciuman itu, hingga orang­orang yang menjadi saksi peristiwa tersebut kelak bertahun­tahun kemudian akan menceritakannya bahwa mereka melihat api menyala dari bibir keduanya. Hal itu menjadi legenda karena sepasang kekasih tersebut adalah Kliwon dan Alamanda. Baik lelaki maupun perempuan, akan mengenang peristiwa tersebut dengan kecemburuan tanpa ampun.

Penampilan provokatif mereka memang telah dikenal di mingguminggu terakhir sebelum kepergian Kliwon ke ibukota Jakarta untuk belajar di universitas.

Alamanda telah berpacaran dengan Kliwon, dan semua orang berpendapat bahwa itu adalah pasangan terindah yang pernah ada di dunia, kecuali Adinda. Tapi Alamanda akan menyumpal telinganya jika Adinda mengatakan bahwa kau betina murahan yang doyan menyakiti hati lelaki, hentikanlah, paling tidak untuk lelaki ini. Ia rupanya masih ingat betapa Kliwon telah dibuat jatuh cinta pada Alamanda sejak kakaknya berumur delapan tahun, dan ia merasa kasihan jika kakaknya hendak menyakiti cinta sehebat itu. Adinda bahkan bersumpah akan membunuhnya jika Alamanda berani menyakiti lelaki itu. Baginya, menolak cintanya jauh lebih baik bagi Alamanda daripada menerimanya untuk dibuang seperti sepah. Alamanda tak peduli dengan ancaman apa pun yang datang dari mulut adiknya dan ia semakin menampakkan diri sebagai seorang gadis bengal yang tak bisa diatur. ”Katakan saja kau cemburu, gadis kecil,” katanya.

”Jika ada perempuan yang harus kucemburui, maka itu adalah Mama yang telah tidur dengan ratusan lelaki,” kata Adinda.

”Kau pikir aku tak bisa tidur dengan lelaki?”

”Kau bisa tidur dengan semua lelaki sehebat Mama,” kata Adinda, ”tapi kau tak mungkin mencintai semua lelaki.”

Berbeda dari adiknya yang cenderung banyak di rumah, Alamanda menghabiskan hari­harinya dengan melihat konser, bernyanyi dengan iringan gitar bersama kekasih dan teman­temannya di tempat mana pun yang bisa mereka dapatkan. Mereka pergi tamasya dan nonton bioskop, sehingga kadang­kadang ia baru pulang ke rumah larut malam menjelang pagi. Meskipun kedua adiknya telah menunggu di depan pintu dengan wajah cemas, ia akan berlalu ke kamarnya tanpa mengatakan apa pun kecuali menyanyikan sepotong lagu cengeng yang sedang populer di masa itu.

”Kau lebih buruk dari pelacur,” kata Adinda dengan jengkel, ”paling tidak pelacur pulang pagi membawa uang.”

”Katakan saja nona kecil penggerutu,” kata Alamanda dari dalam kamarnya, ”sekali lagi, kau jatuh cinta pada Kliwon.”

”Kalaupun aku jatuh cinta kepadanya, tak akan pernah kukatakan sebab itu akan membuatmu bunuh diri.”

Bukan desas­desus memang jika pemuda itu begitu populer di antara gadis­gadis muda, tak hanya di sekitar rumahnya, tapi bahkan di seluruh Halimunda. Kenyataannya, ia telah demikian populer sejak masih kecil ketika orang­orang dibuat terkejut oleh kemampuan otaknya yang mampu menyelesaikan soal­soal ujian akhir anak kelas enam ketika ia masih kelas lima sehingga kepala sekolah memutuskan untuk langsung menyuruhnya belajar di kelas enam. Di sekolah menengah ia telah menjuarai semua perlombaan matematika dan karena ia juga bisa bermain gitar dan bernyanyi dan wajah tampannya cukup meyakinkan, ia mulai pergi ditemani gerombolan gadis­gadis yang jatuh cinta kepadanya.

Itu masa­masa ketika ia bisa pergi dengan gadis mana pun yang ia inginkan sebelum ia jatuh cinta pada Alamanda yang berumur delapan tahun, menggelandang dan berhubungan dengan seorang gadis gila bernama Isah Betina. Banyak orang mengatakan mereka pasangan yang hebat, seorang pemuda yang cerdas dan tampan memperoleh seorang gadis cantik pewaris pelacur terpandang di kota itu, kecuali Adinda yang menganggap bahwa itu tak lebih dari sebuah malapetaka. Alamanda telah berhubungan dengan banyak lelaki sebelum mencampakkan mereka satu per satu. Itu reputasi buruknya, dan semua orang mengetahuinya termasuk Adinda.

Ia melakukan semua ini pada beberapa teman sekolahnya, sedikit memprovokasi dengan kecantikannya, senyum yang memikat, lirikan genit, langkah yang gemulai, hal­hal seperti itu bisa membuat banyak teman laki­lakinya terserang insomnia mendadak. Tak tahan dengan insomnia tanpa harapan penyembuhan, beberapa anak laki­laki akan mencoba memburunya dan ia akan mulai berubah menjadi merpati jinak, yang melompat­lompat setiap kali hendak ditangkap.

Para pemburu tak akan menyerah hanya karena itu, mereka menguburnya dengan rayuan penarik hati, mereka membenamkannya dalam janji­janji, mereka melemparinya dengan hadiah­hadiah omong kosong, bunga, kartu ucapan, surat, puisi, nyanyian. Ia menerima semua itu dan membalasnya dengan senyum yang lebih memikat, dengan lirikan yang lebih genit, dengan tontonan pada langkahnya yang lebih gemulai, dengan bonus sedikit pujian bahwa kau laki­laki yang baik, pandai, tampan, dengan rambut yang menawan, dan mereka akan merasa tersanjung melambung ke atas bintang­bintang.

Mereka akan semakin percaya diri, merasa diri sebagai laki­laki paling tampan di dunia, sebagai laki­laki paling baik di alam semesta, dengan rambut paling indah, dan yakin dengan semua itu maka pada kesempatan pertama mereka akan berkata, atau mengirimkan surat, memuntahkan keinginan prasejarah mereka yang terpendam bahwa Alamanda, aku mencintaimu. Itu adalah saat terbaik untuk mengempaskan mereka, memorakporandakan hati mereka, menghancurkan seorang laki­laki, satu kesempatan memperlihatkan superioritas perempuan, sehingga Alamanda akan berkata, laki­laki, aku tak mencintaimu.

”Aku menyukai laki­laki,” kata Alamanda suatu ketika, ”tapi aku lebih suka melihat mereka menangis karena cinta.”

Ia telah melakukan permainan tersebut berkali­kali, selalu menyenangkan dari satu permainan ke permainan yang lain meskipun akhirnya selalu sama bahwa ia akan menjadi pemenang dan mereka akan menjadi pecundang. Ia akan tertawa lebar sementara kekasih baru menggantikan kekasih lama.

Bayangkan, ia telah melakukan hal itu sejak berumur tiga belas tahun, dua tahun yang lalu. Tak bisa disangkal, kenyataannya ia mewarisi kecantikan ibunya nyaris begitu sempurna, dengan mata yang tajam warisan orang Jepang yang menyetubuhi ibunya. Kesadaran bahwa ia menarik hati bagi lelaki sesungguhnya telah datang ketika Kliwon jatuh cinta kepadanya, saat ia berumur delapan tahun itu. Tapi pada umur tiga belas, dua anak lelaki berkelahi hanya karena memperdebatkan warna celana dalamnya. Yang satu bersumpah bahwa ia melihat Alamanda mengenakan celana dalam warna merah, sementara yang lain berkeras bahwa gadis itu mengenakan celana dalam warna putih. Mereka berkelahi di belakang kelas, saling menghajar sampai babak­belur tanpa seorang pun berniat melerai, sebaliknya menjadikan itu tontonan gratis sebelum diketahui guru. Ketika perkelahian itu sampai di titik di mana kedua anak itu telah sama bengkak dan berdarah, Alamanda berinisiatif melerai mereka dan berkata pada keduanya:

”Aku mengenakan celana dalam putih, merah karena sedang mens­

truasi.”

Sejak itu ia menyadari bahwa kecantikannya tak hanya merupakan pedang untuk melumpuhkan lelaki, namun juga senjata untuk mengendalikan mereka. Ibunya sempat dibuat khawatir dan mengingatkannya. ”Kau tahu, apa yang dilakukan lelaki pada perempuan di zaman

perang?” tanyanya.

”Tahu sebagaimana sering Mama ceritakan,” jawab Alamanda. ”Kini Mama lihat apa yang dilakukan perempuan di masa damai.”

”Apa maksudmu, Nak?”

”Di masa damai, Mama telah bikin lelaki­lelaki itu mengantri dan membayar untuk meniduri Mama, dan aku membuat banyak lelaki menangis karena patah hati.”

Dewi Ayu telah lama takluk oleh kekeraskepalaan anak gadis pertamanya itu, dan mengikutinya lewat desas­desus yang dibawa orang ke tempat tidurnya tentang jumlah anak­anak lelaki yang dibuat gila oleh kecantikannya. ”Satu­satunya yang harus kusyukuri adalah bahwa ia tak jadi pelacur,” kata Dewi Ayu pada para pelanggannya, ”sebab jika itu terjadi kau mungkin tak akan ada di atas tempat tidur ini bersamaku.” Itulah Alamanda. Bahkan ia berhasil menaklukkan Kliwon, laki­laki yang menjadi pujaan banyak gadis Halimunda itu; apa yang membedakannya dengan laki­laki lain yang ia taklukkan adalah bahwa di akhir permainan ia tak mencampakkan laki­laki itu karena kemudian ia pun dibuat jatuh cinta kepadanya. Alamanda telah mendengar tentang reputasi laki­laki itu bahkan sejak Kliwon masih sekolah dan ia masih seorang gadis di awal belasan tahun karena beberapa gadis tetangganya yang berumur lebih tua darinya sering berbisik satu sama lain tentang

laki­laki paling tampan di dunia dan yang dimaksud adalah Kliwon.

Ada desas­desus tak masuk akal yang mengatakan bahwa ia bukan anak si janda Mina dan almarhum suaminya yang komunis dan mati dieksekusi Jepang, sebab setelah kegagalan pemberontakan orangorang komunis di Madiun, banyak orang jengkel pada apa pun yang dinamakan komunis. Mereka mengarang­ngarang cerita bahwa ia ditemukan pasangan tersebut dari dalam buah semangka besar yang ditemukan di pinggir sungai; ia anak seorang bidadari yang merasa kasihan atas kemalangan mereka dan menitipkan anaknya pada mereka untuk suatu ketika mengentaskan keduanya dari kemurtadan yang seolah abadi tersebut. Gadis yang lain menyebutnya diturunkan begitu saja dari pelangi ketika bayi dan yang lain menyebutnya ditemukan dari dalam bunga kecubung raksasa, padahal demi Tuhan tak ada satu pun dari gadis­gadis penyebar desas­desus itu yang sudah lahir ketika Kliwon dilahirkan.

Tapi desas­desus sesungguhnya tak hanya disebarkan oleh gadis­gadis

yang diam­diam jatuh cinta kepadanya, tapi bahkan para orang tua meyakini bahwa ketika ia lahir bintang­bintang bercahaya lebih terang dari biasanya di kota itu bagaikan dunia tengah menanti kelahiran nabi baru, dan orang­orang Belanda yang di masa itu masih banyak berkeliaran di Halimunda menganggapnya sebagai penanda malapetaka.

Tapi benar atau tidak semua desas­desus itu, Alamanda telah dibuat penasaran oleh laki­laki itu sejak pengakuannya yang tulus ketika ia berumur delapan tahun, dan bertahun­tahun kemudian ia masih mendengar reputasinya meskipun lelaki itu konon menghilang begitu saja. Selama ia menjadi gelandangan yang tak banyak diketahui oleh umum, gadis­gadis masih membicarakannya, dan merindukannya setengah mati. Banyak di antara mereka percaya bahwa ia mungkin diculik gerombolan bersenjata, entah karena apa, dan dibunuh di suatu tempat. Yang lain berpendapat ia menyembunyikan diri karena nyawanya merasa terancam. Cerita mana pun yang mereka percayai, sosok Kliwon kemudian menjadi pahlawan imajiner banyak gadis, nyaris menyaingi kepahlawanan Sang Shodancho bagi kota itu.

Alamanda telah berumur lima belas tahun ketika Kliwon akhirnya muncul kembali. Lelaki itu telah berumur dua puluh empat tahun, dan ia memanggil dirinya sendiri Kamerad Kliwon. Sekembalinya dari kehidupan menggelandang, laki­laki itu sempat menjadi penjahit membantu ibunya di rumah mereka, namun itu tak berarti banyak karena hal demikian tak lebih dari sekadar membagi dua penghasilan yang biasa diterima ibunya kecuali sedikit tambahan dari beberapa gadis yang mencoba mencari perhatiannya dengan memintanya menjahitkan gaun. Ia meninggalkan kariernya sebagai penjahit yang tak gemilang dan mengikuti seorang temannya membuat perahu. Waktu itu fiber masih demikian mahal sehingga untuk menambal kayu perahu, mereka memakai aspal hitam dan itulah pekerjaannya selain mengecat. Ia telah meninggalkan pekerjaannya di bengkel perahu itu dan kini ia berada di kandang jamur milik Abah Kuwu, dengan pekerjaan utama memperhatikan termometer memastikan suhu yang tepat selain mengaduk­aduk jerami dan di waktu lain ia ikut memanen jamur, menyebarkan ragi, membungkusi, mengangkut, dan akhirnya apa pun ia kerjakan di kandang jamur tersebut. Namun yang jelas waktu­waktu itu ia telah menjadi salah satu kader Partai Komunis, yang masuk tiga besar dalam pemilihan di kota itu empat tahun sebelumnya (tampaknya bisa jadi partai mayoritas jika tak ada trauma orang­orang Halimunda pada pemberontakan), dan ia paling mudah ditemui di markas partai tersebut di sudut Jalan Belanda.

Partai Komunis tampaknya memanfaatkan reputasinya untukme­

narik banyak gadis menjadi kader mereka, sebab terbukti dalam rapatrapat umum ketika mereka membawa Kamerad Kliwon untuk bicara di podium, lapangan dipenuhi begitu banyak orang dan gadis­gadis menjerit histeris. Lagipula Kamerad Kliwon memang tampan, dan pandai bicara. Alamanda melihatnya suatu hari, terdorong oleh histeria teman­teman gadisnya, di karnaval hari buruh pada tahun itu juga. Banyak orang berpendapat, jika kelak Partai Komunis memperoleh suara mayoritas di kota mereka, maka itu karena Kamerad Kliwon.

Ketika Alamanda tergoda untuk menaklukkan laki­laki paling tampan di kota tersebut, waktu itu ia telah memperoleh reputasi sebagai satu­satunya gadis yang telah mengecewakan dua puluh tiga laki­laki yang jatuh cinta kepadanya, sementara Kliwon telah berpacaran dengan dua belas gadis dalam waktu­waktu yang singkat serta mengecewakan sisanya. Itu adalah pertarungan para pendekar paling mengerikan dan tak hanya para pekerja di kandang jamur yang menantikan akhir pertarungan itu namun juga seluruh anggota Partai Komunis dan warga kota berdebar­debar menanti apa yang akan terjadi. Beberapa di antaranya bahkan memasang taruhan siapa yang akan mengecewakan siapa, dan para gadis serta para pemuda bersiap untuk dibuat patah hati sebelum waktunya.

Alamanda merayu beberapa temannya untuk magang di kandang jamur milik Abah Kuwu, ketika sekolah menyuruh mereka melakukan kerja praktek. Demikianlah kemudian mereka bertemu di kandang jamur, di tengah ruangan panas yang dikelilingi plastik. Alamanda datang ke kandang itu pura­pura dalam satu usaha membantu memanen jamur yang dilakukan setiap pagi, dan di sana ia bertemu dengan laki­laki itu, menggodanya dengan senyum, menggodanya dengan leher gaun yang sedikit terbuka sementara laki­laki itu memandang padanya dari rak di tingkat keempat sementara ia berdiri di bawah, menggodanya dengan permintaan­permintaan sepele. Laki­laki itu sendiri menghadapinya dengan ketenangan intensional, mengagumi kecantikannya dengan kurang ajar seolah tak peduli bahwa beberapa tahun sebelumnya ia telah dibuat nyaris gila oleh kecantikan yang menyakitkan itu.

Mereka bertemu setiap hari pada minggu­minggu itu, mengaduk­

aduk jerami bersama, memperdebatkan setinggi apa suhu seharusnya dipasang, memperdebatkan jamur sekecil apa yang tak boleh dipetik dan sebanyak apa ragi harus ditaburkan di atas jerami.

”Nona, kau cantik tapi cerewet,” kata Kliwon akhirnya sambil berdiri di bambu penopang rak­rak jamur menghadapinya sebelum pergi meninggalkan Alamanda dan bergabung dengan para pekerja lain yang melepas lelah setelah pekerjaan hari itu usai.

Brengsek, pikir Alamanda, seharusnya laki­laki itu tak pergi meninggalkannya begitu saja, tapi merayunya lebih gila, memburunya, sebelum diempaskan sebagaimana biasa. Alamanda berdiri di pintu kandang, memandang laki­laki itu bersama teman­temannya bergerombol duduk di pojok ladang, membagi­bagikan rokok satu sama lain sebelum membakar dan sama­sama mengembuskan asapnya ke udara terbuka, membicarakan banyak hal dan menertawakan banyak hal.

Itulah yang kemudian membuat keadaan menjadi tak terkendali baginya dan untuk pertama kali ia sendiri yang terserang insomnia cinta, setiap malam menantikan pagi hari datang untuk kembali ke kandang jamur dan bertemu dengan laki­laki itu sambil bertanya­tanya apakah demam cinta masih melanda laki­laki itu atau tidak. Ketika ia mulai menyadari bahwa ia sungguh­sungguh dibuat jatuh cinta, ia merasa ngeri pada kesadaran bahwa ia telah dikalahkan dan mencoba membunuh rasa cinta itu dengan memikirkan cara­cara paling mengerikan untuk membuat laki­laki itu jatuh di kakinya. Dan tanpa peduli apakah ia mencintainya atau tidak, ia akan mencampakkannya begitu rupa, dendam pada kenyataan bahwa ia telah dibuat jatuh cinta pula kepadanya. Namun setiap kali mereka bertemu, laki­laki itu menerima begitu saja anugerah keberadaan gadis cantik di dalam kandang jamur bersama dirinya, tanpa upaya lebih jauh memburunya, mengabaikannya seolah sudah merupakan kesenangan luar biasa telah ditemaninya sedemikian rupa.

Yang terjadi adalah bahwa Alamanda semakin jatuh terperosok pada

rasa cinta yang tak tertahankan, terpesona oleh penemuannya atas laki­laki semacam itu, yang memandangnya dengan penuh kekaguman, menelusuri lekuk tubuhnya dengan kemesuman, tapi tetap bergeming dari urusan jamur dan jerami. Alamanda mulai memimpikannya merayu dirinya, mengiriminya bunga dan surat cinta, ingin melihatnya melakukan kekonyolan sebagaimana dulu ketika ia berumur delapan tahun, dan ia akhirnya menyerah pada kenyataan bahwa ia memang jatuh cinta tanpa perlu menolak perasaan hatinya. Tapi bahkan laki­laki itu tetap tak mengubah sikap apa pun meskipun Alamanda secara terus terang memperlihatkan diri bahwa ia menyukainya, merajuk pada laki­laki itu minta diantar ke mana pun, bekerja dekat­dekat dengannya, sehingga akhirnya takut bahwa ia terperosok lebih jauh dalam kekalahan, Alamanda memutuskan untuk menyerah, mengakui kekalahannya secara tulus dan memastikan diri bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.

Baiklah, katanya pada diri sendiri, aku tak akan mencoba menarik perhatianmu. Laki­laki paling tampan sedunia memang bukan makhluk yang mudah untuk ditaklukkan. Namun ketika ia sudah membuang keinginannya untuk memiliki laki­laki itu dengan sikap putus asa, Kliwon tiba­tiba memetik sekuntum bunga mawar dan memberikan itu untuknya. Alamanda menerjemahkannya dengan berbagai cara, dan bukannya lenyap, cintanya semakin membabi buta.

”Minggu pagi kita tamasya di pantai,” kata laki­laki itu, ”Jika mau ikut kutunggu di belakang kandang jamur.”

Ia bahkan tak menunggu jawabannya, pergi begitu saja menuju kelompok para pekerja untuk memperoleh sebatang rokok. Alamanda pulang, meletakkan bunga mawar di dalam gelas di atas meja, tetap di sana sampai berhari­hari, tak peduli bunga itu telah layu dan membusuk.

Hari Minggu pagi itu ia sempat ragu apakah ia akan ikut tamasya bersama laki­laki itu atau tidak; perang berkecamuk di dalam hatinya di mana egonya sebagai seorang penakluk mengatakan bahwa ia harus sedikit jual mahal, tapi hatinya yang lain yang telah dibakar api cinta menyuruhnya untuk ikut, karena jika tidak, hari itu akan dilaluinya tanpa melihat laki­laki itu. Tanpa berdaya kakinya melangkah menuju ladang tempat kandang jamur dan melihat laki­laki itu sedang memompa ban sepeda. Ia menghampirinya dan bertanya, mana yang lain.

”Hanya kita berdua,” jawab Kliwon tanpa menoleh. ”Aku tak mau kalau tak ada orang lain,” kata Alamanda. ”Kalau begitu aku sendiri.”

Keparat, kata Alamanda di dalam hati, dan ketika Kliwon selesai dengan pompa sepedanya, gadis itu sudah duduk di boncengan seolah tangan­tangan iblis mendudukkannya begitu saja di sana. Kamerad Kliwon tak mengatakan apa pun, naik ke atas sadel, dan dengan berboncengan mereka menuju pantai. Kenyataannya, hari itu menjadi hari yang begitu indah bagi Alamanda. Laki­laki itu menyeret semua kenangannya ke masa kecil yang menyenangkan, dan bagai dua orang bocah kecil, keduanya duduk di pasir membangun candi setinggi mungkin. Lelah dengan candi yang selalu roboh dihantam ombak, mereka berlomba melarikan bunga­bunga bola berduri yang melayang di atas pasir diembuskan angin, lain waktu mereka menangkap siput laut dan membuat pacuan kecil dan keduanya akan berteriak­teriak mendukung siput mereka sendiri, dan lelah dari semua itu mereka menceburkan diri ke air laut dan berenang dengan penuh keriangan. Berbaring di pasir yang basah sementara air laut menghantam dirinya, memandang langit yang kemerahan, Alamanda berharap bahwa hari itu tak akan pernah berakhir, senja yang abadi dengan laki­laki paling tampan di dunia.

Kamerad Kliwon kemudian mengajaknya naik ke atas sebuah pe­

rahu yang berlabuh di pasir. Tak apa, katanya, perahu ini milik seorang kawan, dan ia bisa mengendalikan perahu dari topan badai sejahat apa pun. Di dalam perut perahu terdapat beberapa pancing dan ikan­ikan kecil untuk umpan, kita siap memancing, kata Kamerad Kliwon. Maka mereka pun meluncur menuju tengah laut, di siang hari Minggu yang cerah tersebut, tanpa pernah disadari oleh Alamanda bahwa mereka tak akan pulang di hari yang sama. Kamerad Kliwon mengarahkan perahunya jauh ke lepas pantai, sampai mereka tak melihat satu daratan pun, dan yang ada hanya laut membentuk bulatan sempurna di sekeliling mereka. Alamanda dibuat panik dan bertanya, ”Di manakah kita?”

”Di tempat seorang lelaki menculik seorang gadis yang dicintainya sejak bertahun­tahun lalu,” jawab Kamerad Kliwon.

Apa yang dilakukan Alamanda hanyalah mencoba duduk sejauh mungkin dari lelaki itu, mepet di ujung perahu. Ia tak bisa berkata apa pun, dan mulai menganggapnya sebagai kutukan. Jangan­jangan lelaki ini telah sungguh­sungguh menjadi gila, dan hendak mencelakakannya tanpa ampun, dan jika itu terjadi, ia tahu bahwa ia tak bisa melawan dengan cara apa pun. Namun Kamerad Kliwon sama sekali tak memperlihatkan keberingasan apa pun, sebaliknya, ia berbaring tenang di ujung perahu yang lain, pada sebuah papan yang melintang sambil memandang langit yang biru dengan burung­burung camar tersesat beterbangan sejauh itu: beberapa di antaranya bahkan hinggap di atap perahu. Secepat waktu berlalu, Alamanda yang tak terbiasa berada di tengah laut mulai menggigil kedinginan. Pakaiannya masih basah karena berenang tadi. Kamerad Kliwon menyuruhnya untuk membuka pakaian dan mengeringkannya di atap perahu, mumpung matahari masih bersinar, sebab mereka akan berada di tengah­tengah laut mungkin sampai berbulan­bulan.

”Jangan pikir kau bisa menyuruhku telanjang,” kata Alamanda. ”Terserahmu, Nona,” kata Kamerad Kliwon. Pakaiannya sendiri

sebenarnya basah, dan karena itu ia menanggalkannya satu per satu, menjemurnya di atap perahu, sampai tak sehelai pakaian pun menempel di tubuhnya. Kamerad Kliwon telanjang bulat di depan si gadis yang seketika menjerit histeris.

”Apa yang kau lakukan, lelaki bodoh?” tanya Alamanda. ”Kau tahu apa yang kulakukan.”

Alamanda kini sungguh­sungguh dilanda ketakutan bahwa lelaki itu pada akhirnya akan memerkosa dirinya. Ia mencoba memandang sekeliling, namun ia tak melihat pertolongan apa pun yang bisa diharapkan. Selebihnya, ia tak mungkin melarikan diri, tak percaya dengan kemampuan berenangnya sendiri. Kenyataannya, sekali lagi lelaki itu tak memperlihatkan agresifitas apa pun. Ia masih berbaring di tempat semula, dengan kemaluan terkulai dan tak ada tanda­tanda bahwa ia berahi, membuat Alamanda kebingungan sendiri. Setelah berpikir beberapa saat, ia mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa lelaki itu sama sekali tak berbahaya. Ia harus menanggalkan pakaiannya dan menjemurnya di atap perahu, sebagaimana lelaki itu. Ia harus telanjang, dan jika karena itu lelaki tersebut berahi dan memerkosanya, terjadilah apa yang harus terjadi. Ia tak punya pilihan lain: jika lelaki itu mau menyakitinya, ia bisa melakukannya kapan pun.

”Aku tak akan menyakitimu,” kata Kamerad Kliwon seolah mengerti

apa yang dipikirkannya. ”Aku hanya menculikmu.”

Gadis itu akhirnya menanggalkan seluruh pakaiannya. Duduk membelakangi Kamerad Kliwon sambil mendekap lutut. Jauh di langit, malaikat dan Tuhan mungkin akan menertawakan mereka: manusiamanusia bodoh, telanjang tapi tak melakukan apa pun, hanya diam berjauhan. Bahkan berahi pun tidak. Kemaluan Kamerad Kliwon masih juga terkulai meskipun gadis yang selama bertahun­tahun masih menghantui pikirannya telanjang bulat tak berdaya di depannya. Sementara Alamanda, meskipun di hari­hari terakhir ia mulai menyukai lelaki itu, malahan menggigil oleh ketakutan yang dibuatnya sendiri.

Mereka masih melanjutkan perang dingin itu sampai senja ketika keduanya mulai merasa lapar. Kamerad Kliwon memancing dan menangkap beberapa ekor ikan layang, yang karena tak ada api, itu harus mereka makan mentah­mentah. Kamerad Kliwon yang tampaknya telah dibuat terbiasa selama pergaulannya dengan para nelayan, tak kesulitan mengunyah ikan mentah, tapi Alamanda menolaknya dan memilih kelaparan. Ketika malam datang, nyatalah bahwa ia tak akan sanggup menahan rasa lapar, maka ia ikut mengunyah ikan mentah, dan muntah­muntah karenanya.

”Rasa ikan hanya selebar mulutmu,” kata Kamerad Kliwon, ”setelah masuk perut semuanya sama.”

”Kau hanya akan bersamaku selama kau menculikku,” jawab Alamanda ketus, ”setelah pulang kau akan kembali menjadi lelaki yang menyedihkan itu.”

”Mungkin kita tak akan pulang.”

”Itu lebih menyedihkan,” dan Alamanda melanjutkan memancing, ”sebab kau bahkan tak berani memerkosaku di tempat sesepi ini, tanpa seorang pun menjadi saksi, sementara aku telanjang di depanmu.”

”Aku tak pernah memerkosa siapa pun,” kata Kamerad Kliwon sambil tertawa, dan memakan ikan mentahnya lagi. Tak tahan dengan provokasi semacam itu, Alamanda akhirnya memberanikan diri mengambil seekor ikan dan mencobanya lagi. Menahan mual di mulutnya, mengunyah sesedikit mungkin, dan segera menelannya: begitulah berulangkali ia melakukannya.

Drama itu berlangsung selama dua minggu. Mereka terapung­apung di tengah lautan berdua saja, bahkan tak pernah bertemu dengan nelayan lain, sebab Kliwon memang sengaja menempatkan perahu di daerah dengan palung yang sangat dalam, yang tak seorang nelayan pun menyukainya sebab di tempat seperti itu susah memperoleh ikan. Udara sangat cerah di waktu­waktu itu sehingga tak ada ancaman bahaya badai. Selama itu, perubahan­perubahan terjadi di dalam perahu. Alamanda akhirnya terbiasa memakan ikan mentah, dan ikut memancing di hari kedua. Di hari ketiga mereka mencebur bersama ke laut dan berenang mengelilingi perahu sambil tertawa­tawa dan menjeritjerit. Selepas itu mereka menanggalkan pakaian dan menjemurnya di atap perahu dan duduk di masing­masing ujung perahu: percayalah mereka tak bersetubuh. Di waktu malam Kamerad Kliwon menyelimuti gadis itu dengan tubuhnya sendiri dari serangan angin yang dingin, dan mereka tidur dalam kedamaian. Mereka mulai tampak terbiasa dengan kehidupan yang aneh tersebut, dan bahkan tampak bahagia, sampai di hari keempat belas Kliwon memutuskan untuk mendayung dan pulang ke pantai.

”Kenapa kita harus pulang?” tanya Alamanda, ”kita bisa hidup berbahagia di sini.”

”Sebab aku tak bermaksud menculikmu seumur hidup.”

Sambil mendayung, Kamerad Kliwon duduk di samping gadis itu, namun keduanya sama­sama membisu. Ada yang dipikirkan oleh keduanya, namun hanya berputar­putar di otak belaka, tak juga terkeluarkan selama perjalanan pulang tersebut. Hingga akhirnya ketika mereka berlabuh di pantai, Kamerad Kliwon mengejutkan gadis itu dengan suaranya yang lembut:

”Dengar, Nona,” kata laki­laki itu, ”aku menyukaimu, tapi jika kau tak menyukaiku, itu pun tak apa­apa.”

Ya Tuhan, inilah laki­laki yang selalu membuatku terkejut seolaholah apa yang akan ia lakukan bahkan tak bisa diramalkan oleh kitab takdir sekalipun, pikir Alamanda dengan pandangan tak berdaya. Ia tak mengatakan apa pun meskipun hatinya ingin mengatakan bahwa ya aku pun mencintaimu.

Mereka meneruskan kebisuan itu dalam perjalanan pulang dengan sepeda. Selama itu Alamanda mengartikan kebungkaman si laki­laki sebagai sikap patah hati karena ia tak memberi jawaban apa pun sementara Kliwon menerjemahkan kebungkaman Alamanda sebagai sikap malu­malu seorang gadis untuk menanggapi pernyataan cinta seorang laki­laki. Alamanda khawatir bahwa laki­laki itu sungguh­sungguh berpikir begitu sehingga ketika mereka sampai di rumahnya, Alamanda ingin memastikan laki­laki itu bahwa ia tak perlu merasa patah hati karena ia akan mengatakan bahwa ia juga mencintainya. Tapi sebelum sepatah kata pun keluar dari mulutnya, Kliwon memotong dan berkata:

”Jangan jawab sekarang, Nona. Pikirkanlah!”

Mereka melewatkan minggu itu dengan hari­hari yang menyenangkan. Bekerja di kandang jamur tanpa perdebatan apa pun kecuali membicarakan hal­hal yang menyenangkan untuk mereka berdua. Ke mana pun Kliwon pergi, Alamanda mengikutinya dan demikian pula sebaliknya, sehingga orang­orang yang melihatnya mulai percaya bahwa mereka telah menjadi sepasang kekasih.

Berita tentang hubungan mereka tak hanya dibicarakan di kandang jamur, tapi melompat ke bagian­bagian ladang yang lain, didengar para petani penggarap sawah dan dibicarakan juga oleh para pemetik jagung, dan lebih dari itu hal ini mulai merembet menembus dinding­dinding kota. Tak tahan dengan desas­desus itu sementara hubungan mereka belum sepenuhnya diakui oleh mereka sendiri, suatu hari Alamanda akhirnya berkata pada Kamerad Kliwon, ”Tahukah kau bahwa aku mencintaimu?” dan pada saat itu Kliwon menjawab penuh kepastian, ”Semua orang juga tahu.” Hal itu cukup untuk menghentikan reputasi mereka: Kamerad Kliwon bukan lagi pemburu gadis­gadis dan Alamanda bukan lagi penakluk lelaki.

Mereka menjalin hubungan asmara selama kurang lebih setahun, sampai kemudian Kamerad Kliwon memperoleh beasiswa dari Partai untuk sekolah kembali di universitas. Untuk itu ia harus pergi ke Jakarta. Perpisahan tersebut begitu menyakitkan sehingga Alamanda akhirnya memohon pada Kamerad Kliwon:

”Perkosalah aku sebelum kau pergi.” ”Tidak,” kata Kamerad Kliwon.

”Kenapa? Kau meniduri hampir semua gadis Halimunda tapi kau tak mau memerkosa kekasihmu sendiri?”

”Sebab kau berbeda.”

Itu benar. Kamerad Kliwon tak akan takluk oleh apa pun dan bersikeras tak akan menyentuh kemaluan gadis itu. ”Sampai kita kawin,” katanya, seperti pemuda­pemuda alim. Selama seminggu sebelum kepergiannya, mereka tampil hampir di semua tempat, seolah tak ingin terpisahkan. Siang­malam mereka terlihat berdua­dua saja. Kemudian hari itu datang. Alamanda mengantarkannya ke stasiun kereta api. Ketika masinis telah bersiap dan peluit ditiup, Alamanda yang dibuat tak tahan mencium pemuda itu. Mereka bahkan belum pernah berciuman, dan kini mereka saling berciuman begitu membara di bawah pohon ketapang. Benar kata orang, bahkan api keluar dari bibir keduanya. Itu adalah ciuman perpisahan, perpisahan yang kelak terbukti sangat menyakitkan.

Kereta mulai bergerak, mereka saling melepaskan bibir mereka dengan enggan, sementara pengunjung stasiun masih berdiri mematung memandang keduanya.

”Lima tahun yang akan datang,” kata Kamerad Kliwon, ”kita akan berjumpa di bawah pohon ketapang ini.”

Lalu ia berlari dan naik ke kereta yang mulai bergerak cepat, diiringi lambaian tangan Alamanda yang bahkan dibuat menangis melihat kepergiannya, dan masih berdiri di tempatnya sampai ekor kereta menghilang.

Kini permainan kesekian, dengan calon korban orang paling terkenal di Halimunda, penguasa rayon militer yang pernah memimpin pemberontakan paling celaka melawan Jepang, Sang Shodancho. Ibarat seorang nelayan tua yang menangkap ikan marlin besar di hari yang tenang, perasaan gadis itu demikian haru­biru membayangkan bahwa ia akan memperoleh mangsa yang demikian besar, mungkin yang terbesar sepanjang hidupnya, dan ia akan selalu mengenang saat­saat penaklukannya, tahap demi tahap, bahkan sejak serangan pertama di tempat adu babi. Ia telah tahu bahwa laki­laki itu mulai terjerat kecantikannya sejak malam pertunjukan tersebut, maka sesudah itu apa yang perlu ia lakukan hanyalah menarik jerat untuk mengikat semakin kencang. Setahun telah berlalu sejak Alamanda tak lagi menjadi seorang gadis penakluk yang menggoda banyak laki­laki untuk menghancurkannya, dan demikian pula Kliwon bukan lagi seorang mata keranjang. Mereka saling mencintai satu sama lain dan dari hari ke hari cinta itu semakin dalam tertanam sehingga mereka bertekad untuk tak mengkhianati satu sama lain. Tapi kini Kliwon pergi ke ibukota untuk masuk universitas dan Alamanda mulai merasa bosan dengan kesepiannya; ia sama sekali tak berniat mengkhianati kekasihnya karena bagaimanapun ia masih mencintainya setinggi gunung­gunung dan sedalam samudera, ia hanya sedikit ingin bermain­main sebagaimana dulu ketika ia biasa bermainmain. Menggoda laki­laki tanpa perlu harus mencintai mereka.

Tapi apa yang tak pernah disadarinya adalah bahwa sekarang ia menghadapi laki­laki yang sama sekali lain, seorang laki­laki yang pernah menjadi buronan tentara Jepang selama berbulan­bulan setelah satu pemberontakan di masa perang, laki­laki yang pernah memimpin lima ribu pasukan pada perang melawan Belanda di masa agresi militer dan terlatih di banyak perang, laki­laki yang pernah menjadi Panglima Besar selama waktu yang singkat dan memperoleh tanda­tanda kehormatan jauh lebih banyak daripada yang diperoleh prajurit manapun, serta ia adalah satu­satunya laki­laki yang dipercaya untuk memimpin sebuah kota tempat penyelundupan besar­besaran dilakukan secara diam­diam. Cepat atau lambat, Alamanda mungkin tahu tentang laki­laki itu, tapi sampai waktu ketika ia merasa menyesal, ia tetap tak menyadari bahwa Sang Shodancho bukanlah mangsa yang terlalu mudah untuk dipermainkan.

Sebagaimana diduga Alamanda, beberapa hari setelah pertemuan di

pertunjukan orkes Melayu itu, Sang Shodancho muncul di rumah, ia datang dengan mengemudikan jeep seorang diri, ditemui ibunya yang membuat lelaki itu seperti anak ingusan menghadapi kencan pertama. Mereka terlibat dalam pembicaraan seputar kota, tapi Alamanda tahu dengan pasti bahwa ia datang bukan semata­mata itu, karena ia datang dengan seikat bunga yang diberikannya kepada Alamanda, dibawa Alamanda ke dalam kamar sebelum dilemparkan melalui jendela ke tempat sampah di halaman, lalu bergabung kembali dengan ibunya serta Sang Shodancho dengan senyum memesona, menebar godaan.

Pembicaraan tak berujung­pangkal tersebut memakan waktu berharihari. Pada setiap kedatangan Sang Shodancho membawa bunga yang segera dilemparkan ke tempat sampah meskipun sang pemberi tak mengetahuinya. Bahkan tak hanya bunga, di hari ketiga ia membawa boneka panda yang disebutnya didatangkan langsung dari negeri Cina. Lain waktu ia membawa vas bunga dari keramik dan keesokan harinya Sang Shodancho membawa setumpuk piringan hitam penyanyi pop Amerika yang diterima Alamanda dengan suka cita, tanpa membuang pemberian itu semua. Namun ketika malam datang ia tertawa keraskeras di dalam kamar mandi melihat kedunguan pahlawan kota tersebut. Permainan seperti itu telah ia tinggalkan selama setahun dan ia merasa bangga bahwa kemampuannya untuk membuat laki­laki tampak bodoh dan tolol masih cukup meyakinkan, ia memutar piringan hitam tersebut sambil menari­nari di dalam kamar membayangkan diri bahwa ia berdansa dengan kekasihnya. Menari bersama Kliwon dengan piringan hitam pemberian Sang Shodancho, gagasan tersebut tampak menyenangkan untuk dipikirkan. Ia kembali tertawa sampai ketika malam ia bermimpi Kliwon mengetahui hal itu dan laki­laki tersebut menjadi marah sehingga berniat untuk membunuhnya, membuat ia terbangun dalam selimut keringat dingin dan napas putus­putus. Ia memaki pada mimpi buruk tersebut dan meyakinkan diri bahwa ia sama sekali tak

mengkhianati kekasihnya dan cintanya tak berubah sedikit pun juga.

Esok harinya ia menerima surat dari kekasihnya itu. Alamanda sedikit gugup menerima surat tersebut dan berpikir apakah ada hubungannya antara mimpi buruk itu dengan surat di tangannya. Ia masuk ke kamar dan berbaring masih belum berani membuka sampul surat, khawatir dengan mimpi buruk yang menjadi kenyataan, tapi apa pun yang terjadi ia harus membuka surat tersebut dan mengetahui isinya. Akhirnya ia membukanya juga.

Apa yang ia khawatirkan sama sekali tak beralasan, tak ada hukuman dan tak ada kecurigaan sedikit pun. Kliwon bercerita bahwa ia telah masuk universitas, bahwa pelajarannya tak sesulit yang dibayangkan semula dan bahwa semuanya baik­baik saja. Alamanda percaya bahwa laki­laki itu tak akan kesulitan dengan apa pun, ia bangga memiliki kekasih yang pandai. Ketika Kliwon bercerita bahwa ia menjadi tukang foto keliling serta kerja sambilan di sebuah binatu, air mata keharuan meleleh di pipinya sambil berbisik bahwa masa depan akan menjadi lebih baik bagi mereka. Ia mencium kertas surat itu masih sambil menangis sebelum jatuh tertidur dengan surat masih menutupi wajahnya.

Ketika ia terbangun dua jam kemudian dalam mimpi yang indah pada suatu perkawinan meriah bersama kekasihnya, ia baru menyadari kalau surat itu belum selesai ia baca dan ia kembali membacanya dari awal. Di antara surat itu ada selembar foto sang kekasih, diceritakan di dalam surat bahwa foto itu diambil sendiri oleh kekasihnya jadi jika gambar tersebut tampak miring atau jika wajahnya menjadi tampak menggelikan, maka mohon dimaafkan belaka.

Alamanda tertawa melihat foto tersebut, menciumnya dengan begitu gemas sebanyak delapan kali ditambah tiga kali ciuman bonus sebelum mendekapnya di dada dan meletakkannya terus di sana sementara ia terus melanjutkan surat tersebut. Akhir surat tak begitu menarik karena Kliwon bercerita soal urusan­urusan Partai. Alamanda tak tertarik pada pembicaraan tersebut dan ia bersyukur bahwa Kliwon tak menuliskannya lebih banyak dari satu alinea sebelum segera dipotong keinginannya untuk memperoleh foto dirinya. Alamanda tersenyum kembali, dan berkata seolah­olah laki­laki itu ada di depannya, kau segeramemperolehfotogadispalingcantikdidunia,dibuathanyauntuk laki­laki paling tampan di dunia.

Sore itu Alamanda telah berdandan demikian cantik, bersiap pergi ke tukang foto, ketika didapatinya Sang Shodancho sedang berbincang dengan ibunya seperti biasa di ruang tamu. Naluri penakluknya segera timbul dan ia tersenyum manis pada Sang Shodancho membuat laki­laki itu seketika menghentikan semua pembicaraan dengan Dewi Ayu. Sang Shodancho merasa bahwa gadis itu berdandan untuknya dan ia dengan tulus memanjatkan terima kasih sedalam­dalamnya pada penguasa alam semesta, tapi pada saat itu dengan kejam Alamanda berkata bahwa ia tak bisa menemani mereka berbincang­bincang sebagaimana biasa karena ia akan pergi ke tukang foto.

Gadis itu melihat Sang Shodancho terpuruk dalam kekecewaan (karena berdandan untuk tukang foto dan bukan untuk dirinya), tapi Sang Shodancho segera mengatasi keadaan tersebut, berkata menawarkan diri untuk mengantarnya. Hal itu belum ada di pikiran Alamanda sebelumnya, tapi apa salahnya ia mengantar dirinya ke tukang foto, membuat foto untuk kekasihnya atas kebaikan hati seorang laki­laki pecundang. Alamanda kembali tersenyum dan melirik ke arah ibunya yang khawatir dengan gelagat buruk si anak gadis.

Maka Sang Shodancho pun pergi mengantar Alamanda ke toko foto yang telah ada sejak masa kolonial, dulu milik orang Jepang mata­mata itu tapi sekarang milik sebuah keluarga Cina. Sang Shodancho duduk di ruang tunggu, di hadapan etalase sambil berkata pada istri si tukang foto untuk mencetak foto­foto tersebut masing­masing dua tanpa gadis yang bersamanya tahu. Istri si pemilik toko mengerti dengan benar maksudnya dan mengangguk penuh pengertian.

Sementara itu Alamanda masuk ke ruangan studio dengan si lakilaki Cina, berdiri anggun di depan layar bergambar danau dengan burung­burung bangau berenang di atasnya dan gunung biru ada di latar belakangnya. Ia difoto sambil berdiri, kadang duduk pada sebuah batu yang ada di sana, dan lain waktu layar latar belakang diganti dengan sebuah sungai dengan sebuah jembatan gantung dan pohon­pohon dan lain waktu latar belakangnya adalah musim salju yang aneh di negeri Cina. Si tukang foto memotretnya sebanyak sepuluh kali, dan ketika ia hendak membayar, ia mendapati kenyataan bahwa Sang Shodancho telah membayar semuanya. Ia tak menampakkan keberatan sedikit pun, terpukau oleh kenyataan akan mengirim foto untuk kekasihnya atas biaya orang yang segera akan patah hati jika mengetahui hal itu, dan di lain pihak Sang Shodancho menganggap penerimaannya sebagai pertanda baik dalam hubungan mereka.

Sang Shodancho sendiri yang mengantarkan hasil cetakan foto­foto

itu empat hari kemudian, berpura­pura bahwa ia kebetulan lewat di depan toko foto milik orang Cina tersebut. Alamanda menerimanya dengan sukacita dan segera pergi ke dalam kamarnya, menikmati gambar­gambar dirinya. Ia memilih empat yang paling bagus di mana ia tampak demikian cantik dan mulai menulis surat kepada kekasihnya, bercerita mengenai Sang Shodancho, tentang kedunguannya, dan bicara sejujurnya bahwa Sang Shodancho tampaknya tertarik pada dirinya. Ia meyakinkan kekasihnya bahwa ia sama sekali tak tertarik kepada Sang Shodancho, ia masih seperti sebelum ini bahwa cintanya hanya untuk kekasihnya seorang dan tak punya keinginan sedikit pun untuk berkhianat.

Jika ia membicarakan laki­laki itu di dalam suratnya, bukan untuk membuat kekasihnya cemburu tapi untuk memperlihatkan bahwa tak ada satu pun yang ia sembunyikan dari kekasihnya. Alamanda tahu mungkin Kliwon akan cemburu karena itu, tapi ia percaya Kliwon juga orang yang memercayai dirinya, jadi tak apa­apa untuk menceritakan Sang Shodancho di dalam surat. Ia menaburkan bedak sedikit ke permukaan surat agar sang kekasih bisa menghirup bau harum sebagaimana biasa ia cium dari tubuhnya, dan ia pun memoles bibirnya dengan lipstik tipis, menempelkannya di ujung surat di samping tanda tangannya, sebagai tanda cium kerinduan dari jauh. Surat dan foto ia masukkan ke dalam amplop, dan ia tersenyum membayangkan laki­laki itu akan menerimanya dalam beberapa hari. 

Sementara itu Sang Shodancho yang telah pulang ke rumahnya di samping rayon militer berbaring dalam lamunan dengan foto­foto Alamanda di tangannya, dipandangnya ganti­berganti dengan tatapan yang lekat menembus batas­batas permukaan kertas. Satu per satu fotofoto itu ia letakkan tertelungkup di dadanya yang telanjang sementara kedua tangannya terlipat menjadi pengganjal kepala.

Ia melamunkan gadis itu, kecantikannya, tubuhnya, dan ia terperosok ke dalam berahi yang meledak­ledak dalam ketidaksabaran sehingga tangannya bergerak kembali meraih foto­foto tersebut, melihatnya kembali ganti­berganti, mengelus permukaan kertasnya bagaikan itu adalah tubuh si gadis dan ia semakin larut dalam berahi anjing di musim kawin, matanya mulai memandang dalam kemesuman dan ia berbalik tertelungkup meletakkan foto­foto itu di atas bantal, menelusurinya dengan jari­jari telunjuk dan bibirnya mulai menggumamkan nama gadis tersebut. Setengah jam berlalu dalam kegelisahan tersebut membuat foto­foto si gadis yang ia peroleh secara diam­diam melalui konspirasi dengan istri tukang foto tersebut menjadi tampak lusuh sampai akhirnya ia bangun dan meletakkan semua foto itu di dalam laci dan ia mengenakan kembali pakaian seragamnya, berjalan keluar kamar menghampiri salah seorang prajurit yang bertugas sebagai piket di kandang monyet di samping gerbang masuk Komando Rayon Militer Halimunda. ”Selamat sore, Shodancho,” kata sang prajurit sementara Sang Shodancho masuk dan berdiri bersandar ke tembok meskipun prajurit

berpangkat kopral dua itu memberikan kursi untuknya duduk.

Sang Shodancho bertanya, ”Di mana ada pelacuran di kota ini?” Kopral dua itu tertawa dan berkata bahwa ada banyak pelacur di

Halimunda, tapi hanya ada satu yang baik dan ia menyebutkan rumah pelacuran Mama Kalong. ”Aku bisa antar jika nanti malam mau berkunjung,” kata kopral dua itu lagi.

Sang Shodancho hanya tertawa, tak terkejut dengan kenyataan bahwa anak buahnya telah mengetahui rumah­rumah pelacuran dalam beberapa hari kedatangan mereka di kota itu, dan ia segera berkata, ”Kita pergi nanti malam.”

”Kalau begitu kita akan pergi, Shodancho.”

Itu adalah waktu ketika ia berkunjung ke rumah pelacuran Mama Kalong dan menyetubuhi Dewi Ayu, dan sehari kemudian Maman Gendeng marah serta datang mengancam ke kantornya.

Setelah kedatangan sang preman, ia segera menyadari bahwa kini ia punya seorang musuh di Halimunda. Belakangan hari, ketika anak­anak buahnya menyebar mencari informasi, ia segera mengetahui nama dan reputasi laki­laki itu: Maman Gendeng. Tampaknya tak ada alasan apa pun untuk kembali ke rumah pelacuran itu dan bercinta dengan Dewi Ayu sebagaimana tak ada alasan yang cukup memadai untuk berurusan dengan laki­laki tersebut. Lagipula berkunjung ke rumah pelacuran sungguh­sungguh tindakan bodoh dari seorang laki­laki yang sedang membangun citra baik dan sedang mencari seorang calon istri.

Lebih dari itu, ia justru semakin bertekad untuk memperoleh Alamanda, satu­satunya perempuan yang ia percaya sebagai perempuan yang diciptakan untuknya: perempuan yang hangat di tempat tidur, perempuan yang anggun dalam seremoni, perempuan yang memesona di pertemuan­pertemuan publik, dan cukup angkuh untuk berdiri di sampingnya pada saat upacara militer, seandainya seorang istri diperlukan untuk hadir. Namun ia tak juga luput dari kegelisahan ketika anak buahnya yang melaporkan reputasi Maman Gendeng, juga melaporkan reputasi Alamanda di kota itu: seorang gadis penakluk yang akan tertawa melihat banyak laki­laki patah hati, menderita dalam rasa cinta yang tak berbalas, insomnia berat dirongrong bayangan tentang dirinya. Satu­satunya laki­laki yang pernah menaklukkannya adalah seorang pemuda komunis bernama Kliwon.

”Tapi laki­laki itu pergi ke ibukota untuk masuk universitas, tampak­

nya hubungan mereka sudah berakhir.” Paling tidak informasi yang mengatakan bahwa gadis itu pernah ditaklukkan dan pernah jatuh cinta membuatnya sedikit lega. Lagi pula sulit dipercaya jika gadis itu memiliki keberanian yang kurang ajar mempermainkan seorang laki­laki dengan kekuasaan mutlak di kota, kecuali untuk kedua kalinya ia telah jatuh cinta, dan Sang Shodancho lebih menyukai kemungkinan kedua.

Keyakinan Sang Shodancho semakin bulat ketika pada suatu sore dalam kunjungannya, gadis itu menemukan jahitan yang lepas di pakaian seragamnya. Tanpa malu­malu sementara saat itu Sang Shodancho sedang berbincang dengan Dewi Ayu ibunya, Alamanda berkata, ”Jahitan bajumu lepas, Shodancho. Jika tak keberatan akan aku jahitkan untukmu.”

Kedengarannya sangat manis sekali dan hatinya melambung ke langit ketujuh. Ia segera melepaskan pakaian seragamnya meninggalkan hanya kaus oblong hijau tua dan memberikan seragam itu pada Alamanda yang segera membawanya ke kamar jahit. Terutama memang peristiwa itu yang membuatnya yakin bahwa Alamanda membalas perhatian dengan semestinya. Kini yang perlu ia lakukan hanyalah melakukan pembicaraan yang lebih serius dalam hubungan mereka; Sang Shodancho bahkan berharap bisa melakukan pembicaraan mengenai hari perkawinan dan ia mengeluh dalam hati betapa lambatnya hari berganti.

Kesempatan untuk mengungkapkan perasaan hatinya datang pada satu sore yang cerah ketika mereka berdua berjalan­jalan ke dalam hutan tanjung dalam sebuah tamasya untuk menunjukkan rute gerilyanya di masa lampau. Laki­laki itu memperlihatkan kepadanya gubuk tempat ia tinggal bertahun­tahun, gua­gua tempatnya bermeditasi dan bersembunyi, sisa­sisa senjata, berupa mortir, senapan dan serbuk mesiu. Ia juga memperlihatkan benteng­benteng pertahanan yang pernah dibuat Jepang. Lalu keduanya duduk berdua sambil memandang laut lepas, tepat di halaman depan gubuk gerilya pada kursi dan meja batu tempat dahulu ia melakukan rapat dengan pasukannya. Hari itu udara cukup hangat dan angin timur berembus menyenangkan.

Apakah minum jus buah di pinggir laut seperti itu cukup menyenangkan, tanya Sang Shodancho yang dijawab Alamanda bahwa ya, itu sangat menyenangkan. Ia tak tahu bahwa tempat gerilya tak semengerikan bayangannya. Sang Shodancho kembali ke dalam truk yang mengangkut mereka berdua ke tempat itu dan membawa termos berisi minuman.

Beberapa perahu nelayan yang telah pergi melaut sesore itu, bergerak perlahan di tengah laut, terapung­apung seperti kelopak bunga di atas kolam. Ada dua sampai tiga orang nelayan di atas perahu­perahu tersebut dan mereka semua memandang ke tempat mereka duduk saling berhadapan. Tak ada lambaian tangan dan teriakan, mereka cuma memandang dan berbicara dengan teman­teman mereka sendiri.

Nelayan­nelayan itu mengenakan baju tebal­tebal berlengan panjang, sarung melilit di pundak mereka, penutup kepala kerucut serta kaos tangan dan kaki yang dibalut sepatu kets tua untuk menghindari dinginnya laut malam yang ganas dan merongrong masa tua dengan rematik. Melihat itu Sang Shodancho berkomentar bahwa di masa yang akan datang penangkapan ikan seperti nelayan­nelayan itu sudah seharusnya ditinggalkan perlahan­lahan. Kapal­kapal besar yang bisa menampung puluhan nelayan dengan ikan tangkapan lebih banyak dan risiko rematik yang lebih sedikit akan menggantikan perahu­perahu kecil mereka yang rentan terhadap badai. Para nelayan tak akan lagi banyak berhubungan dengan air laut. Alamanda hanya membalas bahwa nelayan­nelayan itu sudah terlampau bersahabat dengan laut untuk takut pada badai dan rematik, dan mungkin mereka tak berniat menangkap ikan terlalu banyak dari yang mereka butuhkan setiap hari. Ia pernah mendengar soal itu dari Kliwon.

Sang Shodancho tertawa kecil dan kemudian mereka mulai mem­

bicarakan mengenai ikan­ikan yang enak untuk dimakan. Alamanda berkata bahwa ikan kerapu adalah ikan paling enak sementara Sang Shodancho berkata bahwa ia suka cumi­cumi sebelum Alamanda mengungkapkan keberatannya karena cumi­cumi bukan ikan sebab ia tak bersisik dan bersirip. Mendengar itu Sang Shodancho tertawa kembali. Keduanya kemudian terdiam sejenak pada saat yang bersamaan ketika Sang Shodancho menuangkan jus buah pada gelas Alamanda yang telah kosong dari termos dingin yang ia bawa. Pada saat itulah Sang Shodancho mengatakan apa yang ingin ia katakan, atau tepatnya sebuah pertanyaan yang ia ingin tanyakan, ”Alamanda, maukah sekiranya kau jadi istriku?”

Alamanda sama sekali tak dibuat terkejut oleh pertanyaan tersebut. Ia pernah mendengar pertanyaan semacam itu diucapkan banyak lakilaki lain, dengan beragam variasinya, dan hal itu dari waktu ke waktu semakin tak membuatnya terkejut. Bahkan ia bisa menduga kapan seorang laki­laki akhirnya akan mengatakan hal itu. Sejauh yang ia pernah alami, selalu ada tanda­tanda mengiringi seorang laki­laki akan mengatakan cinta kepada seorang perempuan, meskipun tanda­tanda itu selalu berbeda dari satu laki­laki ke laki­laki yang lain. Ia menganggap seorang perempuan bisa merasakan hal seperti itu, terutama jika perempuan itu pernah menolak cinta dua puluh tiga laki­laki dan menerima laki­laki kedua puluh empat seperti dirinya. Kini Alamanda tengah berpikir bagaimana membuat laki­laki kedua puluh lima terperosok dalam demam cinta yang tak terbalas.

Ia berdiri dan melangkah ke arah tepi tebing, melihat dua orang

nelayan tengah mendayung perahu mereka perlahan lalu berkata tanpa menoleh pada Sang Shodancho, ”Seorang laki­laki dan seorang perempuan harus saling mencintai untuk menikah, Shodancho.”

”Apakah kau tidak mencintaiku?” ”Aku sudah punya kekasih.”

Jadi kenapa kau harus berdandan begitu anggun di setiap pertemuan kita kalau bukan untuk menarik hatiku, tanya Sang Shodancho di dalam hati dengan sedikit geram. Dan kenapa kau mau aku antar ke tukang foto dan membiarkan aku melihat gambar tubuhmu di atas kertas, dan kenapa pula kau menjahitkan pakaianku yang lepas jahitan kecuali kau ingin menunjukkan perhatianmu?

Sang Shodancho memikirkan itu semua seolah tengah menyeret waktu­waktu belakangan ke dalam benaknya, dibuat semakin berang oleh kesadaran bahwa gadis itu tengah mempermainkannya secara sungguh­sungguh. Ia mengutuki dirinya sendiri atas ketidakhati­hatiannya menghadapi gadis tersebut, mengabaikan fakta bahwa gadis ini adalah orang yang sama yang pernah menarik hati banyak laki­laki sebelum mencampakkannya bagai sampah tak berguna sebagaimana ia pernah dengar sebelum ini. Ia telah berlaku bodoh dengan menganggap bahwa gadis ini tak akan berani melakukannya pada seorang shodancho pemimpin pemberontakan dan pahlawan sebuah kota, lebih dari itu, ia sangat berani dan tampak sangat menikmatinya.

Ia semakin marah ketika dilihatnya gadis itu hanya diam saja dengan ketenangan yang luar biasa di seberang meja, duduk kembali dan meminum jus buahnya. Semakin marah ketika gadis itu tersenyum kepadanya seolah ia ingin mengatakan permintaan maaf, perasaan menyesal telah membuatnya patah hati, atau kata­kata semacam, kau terlambat, Shodancho. Ia sangat marah namun dengan penuh ketenangan ia akhirnya berkata, ”Cinta itu seperti iblis, lebih sering menakutkan daripada membahagiakan. Jika kau tak mencintaiku, paling tidak bercintalah denganku.”

Betapa menyedihkannya seorang laki­laki, pikir Alamanda. Ia memandang wajah Sang Shodancho, tapi sejenak ia heran kenapa wajah itu tiba­tiba bergoyang­goyang ke sana­kemari, dan belakangan wajah tersebut menjadi dua bagian yang timbul­tenggelam. Ia ingin bertanya kepada Sang Shodancho apa yang terjadi dengan wajahnya, tapi kenapa juga mulutnya terasa tak berdaya untuk bergerak. Sekonyong­konyong ia merasa tubuhnya sendiri goyah, dan berpikir jangan­jangan tubuhnya pun akan terbelah menjadi dua bagian sebagaimana wajah Sang Shodancho. Itulah memang yang terjadi ketika ia melihat tangannya yang masih menggenggam jus buah sisa separuh itu: kini tangannya pun mulai menjadi dua, tiga, bahkan empat.

Ia masih melihatnya meskipun hal itu tampak semakin kabur ketika Sang Shodancho berdiri dari tempatnya duduk, berjalan memutari meja ke arahnya sambil mengatakan sesuatu yang sama sekali tak ia dengar. Tapi ia cukup bisa merasakannya ketika Sang Shodancho berdiri di sampingnya dan mengelus pipinya dengan begitu lembut, menyentuh dagu dan ujung hidungnya. Alamanda ingin berdiri dan menampar laki­laki itu atas kekurangajaran yang ia lakukan, tapi seluruh kekuatan dirinya hilang entah ke mana. Bahkan untuk menoleh pun ia sudah tak sanggup dan lebih dari itu ia bahkan mulai terhuyung dan tubuhnya jatuh membentur tubuh Sang Shodancho.

Tangan laki­laki itu terasa menggenggam erat tubuhnya yang ramping dan mungil, dan tiba­tiba ia merasa melayang di udara sambil bertanya­tanya kemungkinan bahwa ia sudah mati dan jiwanya tengah terbang menuju kerajaan langit. Namun sebagaimana ia lihat dalam pandangan yang semakin samar­samar itu, ia sama sekali tak terbang dan hanya melayang pendek ketika Sang Shodancho mengangkatnya dan meletakkannya di bahunya yang kuat, berjalan memanggul tubuhnya. Hey, ke mana kau akan membawaku, tanyanya keras tapi tak satu suara pun muncul dari mulutnya. Shodancho membawanya masuk ke gubuk gerilya, kemudian Alamanda merasa melayang kembali ketika Sang Shodancho melemparkannya ke atas tempat tidur.

Ia kini berbaring di sana, mulai menyadari apa sebenarnya yang tengah terjadi. Ditakutkan oleh kemungkinan apa yang akan menimpa dirinya, ia mulai memberontak namun kekuatan tubuhnya belum pulih kembali. Dari waktu ke waktu kekuatannya justru semakin lenyap sehingga ia merasa tubuh dan tangan serta kakinya melekat erat ke permukaan tempat tidur dan ia tak mampu menggerakkan mereka barang sedikit pun juga.

Ketika Sang Shodancho mulai melepaskan kancing gaun miliknya, Alamanda sudah tak berdaya sama sekali dan menyerah sepenuhnya dalam kemarahan dan kehancuran. Ia memandang laki­laki itu menanggalkan gaun tersebut dan melemparkannya ke ujung tempat tidur. Sang Shodancho terus bekerja dalam ketenangannya yang mengerikan, dan ketika ia telah telanjang sepenuhnya, ia merasakan jari­jari Sang Shodancho dengan permukaannya yang kasar dibuat keras oleh genggaman senjata selama perang serta luka­luka bekas pecahan mortir di waktu yang sama, mulai merayap di atas tubuhnya, bergerak perlahan­lahan membuat Alamanda merasa mual.

Sang Shodancho mengatakan sesuatu yang tak terdengar juga olehnya, dan kini tak hanya ujung­ujung jarinya yang bergerak, tapi seluruh permukaan tangannya mulai mencengkeram tubuhnya seolah ingin membuatnya hancur. Sang Shodancho meremas dadanya dengan liar membuat Alamanda ingin melolong, menjelajahi seluruh tubuhnya, menyelusup di antara kedua pahanya, dan kini ia pun mulai menciumi Alamanda dengan bibirnya, meninggalkan jejak ludah nyaris di seluruh tubuh gadis tersebut. Ini membuat Alamanda tak hanya ingin melolong, ia bahkan ingin mencekik lehernya sendiri agar mati sebelum laki­laki di depannya berbuat lebih jauh dari itu. Ia tak ingat berapa lama ia dalam keadaan seperti itu, mungkin setengah jam, mungkin satu jam, sehari, tujuh tahun, atau delapan abad, yang ia tahu adalah bahwa kemudian Sang Shodancho mulai menanggalkan pakaiannya sendiri, berdiri telanjang dengan angkuh di samping tempat tidur.

Sejenak laki­laki itu masih meremas dadanya sebelum menjatuhkan tubuh di atas tubuh si gadis, mencium bibirnya dalam gigitan­gigitan kecil, dan tanpa membuang banyak waktu ia mulai menyetubuhinya. Alamanda masih melihat wajahnya yang berupa seberkas warna putih di jarak yang demikian dekat dengan matanya, merasakan kemaluannya dibuat porak­poranda oleh kebiadaban tersebut. Ia mulai menangis meskipun ia tak tahu apakah tubuhnya masih mampu mengeluarkan air mata atau tidak. Hal itu berlangsung terasa demikian lama dan tanpa akhir, seolah ia memperoleh delapan abad yang lain, menyaksikan dirinya diperlakukan begitu kotor karena bahkan ia tak lagi berdaya untuk menutup matanya sendiri. Sampai kemudian ia tak sadarkan diri, atau seperti itulah pikirnya karena ia tak merasakan apa­apa, atau karena ia tak ingin merasakan apa pun lagi. Akhirnya Sang Shodancho melepaskan dirinya sambil berguling ke samping tubuhnya yang bahkan sejak semula masih dalam posisi yang sama: telentang telanjang dengan tubuh bagai lengket ke atas permukaan tempat tidur.

Sang Shodancho berbaring sejajar dengannya dengan napas satu­

satu yang demikian perlahan membuat Alamanda berpikir bahwa laki­laki itu telah jatuh tertidur setelah lelah memerkosa dirinya. Ia bersumpah jika seluruh kekuatannya pulih di saat itu, ia tak segansegan mengambil pisau, menusuk laki­laki yang tertidur itu untuk membunuhnya. Atau meledakkan mortir di dalam mulutnya. Atau melemparkannya ke tengah laut dengan meriam. Namun ternyata dugaan bahwa laki­laki itu sudah jatuh tertidur sama sekali keliru karena kemudian Sang Shodancho bangun dan berkata, kali ini ia mulai bisa mendengarnya, ”Jika kau ingin menaklukkan laki­laki dan mencampakkannya bagai sampah hina, kau salah bertemu denganku, Alamanda. Aku memenangkan semua perang, termasuk perang melawanmu.”

Ia bisa mendengar kata­kata bagai duri yang menusuk itu, dikatakan dengan nada sinis dan mengejek. Ia tak bisa berkata apa pun untuk membalas kata­katanya, kecuali melihat Sang Shodancho dengan pandangan yang masih kabur berdiri dan turun dari tempat tidur, mengambil pakaiannya kembali dan mengenakannya.

Setelah itu Sang Shodancho juga mengambil pakaian gadis itu dan mengenakannya satu per satu pada tubuh Alamanda sambil berkata bahwa sudah saatnya mereka keluar dari hutan dan pulang ke rumah. Kini Alamanda telah berpakaian lengkap kembali seolah tak terjadi apa pun sebelum itu. Tapi ia sama sekali belum pulih sebagaimana semula, masih terbius oleh racun entah apa. Ia hanya teringat bahwa itu terjadi setelah meminum jus buah.

Ia kembali merasa melayang ketika Sang Shodancho mengangkatnya dari tempat tidur. Kali ini tak memanggulnya di atas bahu, tapi memangkunya dengan kedua tangannya yang kuat itu, yang di masa lampau mungkin pernah membopong meriam tangan atau melarikan seorang anak buah yang terluka dalam pertempuran melawan Belanda. Kini Alamanda berbaring di tangannya sementara Sang Shodancho berjalan meninggalkan gubuk gerilya menuju truk. Ia didudukkan di samping Sang Shodancho, sementara lelaki itu mengemudikan truk melalui jalan tanah melintasi hutan yang gelap dan rapat.

Ia langsung membawa gadis itu pulang ke rumahnya. Alamanda mengenang perjalanan itu hanya sebagai deretan cahaya yang redup. Ketika mereka sampai di rumah, Sang Shodancho keluar dari truk membopong tubuh Alamanda, disambut oleh Dewi Ayu yang membantu Sang Shodancho membawa gadis itu ke kamarnya. Ia dibaringkan di atas tempat tidur sementara Dewi Ayu bertanya apa yang terjadi. Sang Shodancho menjawab dengan tenang seolah itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan:

”Ia cuma mabuk perjalanan.”

”Sebab kau mengguncang tubuhnya tanpa izin, Shodancho,” jawab Dewi Ayu, yang perjalanan hidupnya telah membuat ia mengetahui lebih banyak hal tanpa seorang pun mengatakan yang sebenarnya. ”Jangan pikir kau beruntung karena memenangkan perang.”

Alamanda ditinggalkan sendiri di dalam kamar, untuk pertama kalinya merasakan bahwa air mata mulai membasahi pipinya dan semuanya terasa semakin gelap sebelum ia sungguh­sungguh tak sadarkan diri.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊