menu

Cantik Itu Luka Bab 07

Mode Malam
7
Tak seorang pun tahu bagaimana Kamerad Kliwon akhirnya menjadi seorang pemuda komunis, padahal meskipun ia bukan pemudayang cukup kaya, ia menjalani hidupnya dengan cara yang sangat menyenangkan. Ayahnya memang seorang komunis, seorang jago pidato, berhasil selamat dan tidak dikirim ke Digoel oleh pemerintah kolonial, namun akhirnya mati dieksekusi Jepang setelah ia terus­menerus usil bicara dan menulis selebaran sampai Kenpetai akhirnya tahu ia seorang komunis. Tapi sebelum ini tak ada tanda­tanda bahwa Kliwon akan mengikuti jejaknya. Ia anak yang pandai di sekolah, pernah dua kali lompat kelas, dan tampaknya ia bisa menjadi apa pun yang ia inginkan. Bagaimanapun, Kliwon lebih menampakkan sebagai anak badung daripada sebagai bocah komunis yang disiplin. Ia tumbuh menjadi pemimpin anak­anak kampung untuk menyatroni perkebunan dan mencuri apa pun yang bisa ditemukan di sana untuk kesenangan mereka sendiri: kelapa, gelondongan kayu, atau sekadar buah cokelat untuk dimakan di tempat. Mereka tak pernah terlalu mengganggu sehingga seringkali dibiarkan begitu saja, meskipun satu atau dua orang memang mengomelkannya. Di malam Lebaran, mereka akan memanggang ayam curian, dan esok harinya, mereka menemui pemilik ayam untuk minta maaf. Pada awal umur belasan tahun, semua orang tahu bahwa mereka bahkan telah pergi ke rumah pelacuran. Mereka akan pergi melaut atau sekadar membantu menarik jaring untuk memperoleh upah, dan setelah memperoleh uang, anak­anak itu akan mencari pelacur untuk ditiduri bersama­sama. Tapi kadang­kadang mereka sungguh­sungguh tak punya uang dan tempat pelacuran telah membuat mereka tak ter­

biasa menahan berahi. Kliwon seorang yang cerdas dan kadang­kadang pikirannya cenderung mengejutkan jika tidak bisa dianggap gila. Ia pernah membawa tiga orang temannya ke tempat pelacuran, meniduri seorang pelacur secara bergiliran. Awalnya pelacur itu menyuruh mereka naik tempat tidur dua­dua, sebab katanya, ia punya lubang di depan dan belakang. Tapi tak seorang pun mau berbagi lubang dengan tai, maka mereka menidurinya satu per satu. Kliwon menampakkan dirinya sebagai seorang pemimpin sejati, mempersilakan ketiga teman­temannya menyetubuhi perempuan itu lebih dahulu, lalu ia memperoleh giliran terakhir. Ketika percintaan itu selesai, si pelacur harus melihat pemandangan menyedihkan di mana anak­anak itu menerjang pintu dan kabur tanpa membayar.

”Aku tanya padanya, apakah ia suka bersetubuh dengan kami,” kata Kliwon tak lama setelah itu, bercerita pada orang­orang di kedai minum, ”dan ia jawab suka.” Orang­orang sering bergerombol di sekitarnya untuk mendengarkan ia bercerita dan ia melanjutkan: ”Karena ia suka dan kami juga suka, jadi kenapa kami harus membayarnya?”

Ibunya, yang tak ingin mengulang apa pun yang terjadi pada suaminya, telah mencoba menjauhkannya dari ide­ide gila Marxis dan sejenisnya, dan cenderung tak peduli dengan apa pun yang ia lakukan asalkan ia tak jadi seorang komunis. Ia bahkan mengirimnya untuk pergi ke bioskop, ke konser musik, membiarkannya mabuk di kedai minum, membiarkannya membeli piringan hitam, dan senang belaka ia bisa bergaul dengan banyak gadis. Ia tahu banyak di antara gadis­gadis itu ditiduri anaknya, atau minta ditiduri, tapi ia tak peduli. Baginya itu lebih baik daripada suatu ketika ia harus melihatnya berdiri di depan sederet regu tembak yang akan mengeksekusinya. ”Kalaupun ia jadi komunis, ia harus jadi komunis yang berbahagia,” kata si ibu. Perkawinannya selama beberapa tahun dengan seorang komunis, serta pergaulannya dengan kamerad­kamerad lain, telah memberinya kesimpulan bahwa orang komunis selalu murung dan tak berbahagia. Melewati zaman yang susah, selama pendudukan Jepang dan perang revolusi, ia membiarkannya hidup dalam hura­hura yang nyaris tanpa ampun.

Di umurnya yang ketujuh belas, hidupnya sungguh­sungguh cemer­

lang untuk ukuran kota itu. Ia mengenakan pantalon dengan ujung pipa melebar serta kemeja warna gelap dengan pantovel mengilap oleh semir. Gadis­gadis keluar dari rumah mereka untuk mengikutinya ke mana pun ia pergi, mengekor seperti ujung gaun pengantin, dan para pemuda akan mengekor pula gadis­gadis itu di belakangnya. Gadis­gadis dibuat jatuh cinta kepadanya, dan mereka menghujaninya dengan hadiah­hadiah, yang mulai menumpuk di rumahnya menyerupai barang rongsokan. Tanpa memedulikan apa pun, mereka menggelar pesta nyaris setiap malam, di rumah siapa pun atau di tempat mana pun. Teman­teman lelaki juga menyayanginya belaka, sebab ia tak pernah mengambil gadisgadis itu hanya untuk dirinya sendiri. Begitulah cara mereka menjalani hidup. Di tahun­tahun itu, mungkin gerombolan Kliwon dan temantemannyalah yang hidup paling bahagia di kota tersebut.

Waktu itu ia sudah mendengar kemashyuran pelacur bernama Dewi Ayu, dan jika ada satu hal yang membuatnya tidak berbahagia, maka itu adalah fakta bahwa sampai umurnya yang ketujuh belas ia belum pernah menyetubuhi pelacur yang terus dibicarakan orang tersebut. Ia pernah mencobanya beberapa kali, tapi selalu terlambat sebab Dewi Ayu hanya mau tidur dengan seorang lelaki dalam satu malam dan para lelaki selalu berderet dalam antrian. Atau kalaupun ia berhasil untuk tidak datang terlambat, seseorang akan menyingkirkannya dengan bayaran yang lebih besar: Mama Kalong selalu memberikan kesempatan pada lelaki yang bisa membayar lebih banyak. Selama itu, ia selalu terobsesi untuk bisa masuk ke kamarnya, berbaring di atas tempat tidurnya, dan begitu jahatnya khayalan tersebut, beberapa kali ia meniduri seorang gadis sambil membayangkannya sebagai Dewi Ayu yang pernah ia lihat beberapa kali di tempat umum.

Paling tidak, Dewi Ayu membuatnya insyaf bahwa tak semua

perempuan tergila­gila kepadanya. Memang benar bahwa perempuanperempuan kawin dan janda­janda, meskipun tak berbuat segila para gadis sampai mengikutinya ke mana pun ia pergi, tapi ia tahu mereka sering mencuri pandang belaka kepadanya dan jauh di dalam hati mereka, ada keinginan untuk membawanya masuk ke kamar. Ia pernah tidur dengan sedikit di antara mereka, dan tampaknya bisa tidur dengan semuanya asal ia mau, kecuali Dewi Ayu. Hanya perempuan itu yang ia yakini tak akan tergila­gila kepadanya, dan sebaliknya, ia harus mengeluarkan uang jika menginginkannya. Selama beberapa hari terakhir, ia mencoba memikirkan satu cara agar ia bisa memperoleh kesempatan menidurinya, tak usah lama, kurang dari lima menit sudah cukup untuknya. Atau sekadar menyentuh tubuhnya. Sampai kemudian ia memutuskan untuk mendatangi sendiri rumah perempuan itu, satu hal yang tak pernah dilakukan lelaki mana pun.

Kliwon menyukai musik dan pandai bermain gitar, paling tidak memiliki banyak repertoar lagu­lagu cengeng dan keroncong yang bisa dinyanyikan di samping teman­temannya. Ia mendatangi rumah Dewi Ayu di suatu hari Minggu seorang diri dengan menenteng sebuah gitar, mendandani dirinya sebagai seorang pengamen, dan berniat menaklukan perempuan itu dengan lagu dan rayuan gombalnya. Ia telah melakukannya beberapa kali, merayu beberapa gadis yang digila­gilainya dengan menyanyikan lagu di bawah jendela kamar mereka, maka kini berdiri di depan pintu rumah Dewi Ayu, ia mulai memetik senar gitar dan bernyanyi dengan suara falsetonya.

Sang pelacur tampaknya tak tergoda sama sekali hingga untuk beberapa saat ia harus berdiri di sana menyanyikan lima lagu tanpa seorang pun membuka pintu. Ia telah mendengar dari orang­orang bahwa perempuan itu tinggal bersama tiga anak gadisnya serta dua orang pembantu, dan mereka orang­orang yang ramah belaka. Dengan penuh prasangka baik, ia terus berdiri di sana hingga sepuluh lagu dinyanyikan dan tenggorokannya terasa kering. Ketika satu jam berlalu ia mulai mengeluarkan saputangan dan melap keringat yang berbintik­bintik di sekitar leher dan dahinya, sementara kedua kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Tak ada tanda­tanda bahwa tuan rumah akan muncul. Ia akhirnya meletakkan gitar di atas meja dan duduk di kursi, pandangannya nyaris berkunang­kunang tapi ia bertekad tak akan menyerah.

Musik yang berhenti ternyata lebih menarik perhatian tuan rumah daripada musik yang dinyanyikan. Tanpa ia duga sama sekali, pintu terbuka dan seorang gadis kecil berumur delapan tahun muncul dengan segelas limun dingin, meletakkannya di atas meja di samping gitar.

”Kau boleh bernyanyi di halaman rumah kami selama kau suka,” katanya, ”tapi tentunya kau sangat haus.”

Kliwon berdiri kaku. Bukan oleh kata­kata si gadis kecil atau limun dingin yang disuguhkannya, tapi demi melihat seorang bidadari mungil berdiri di depannya. Ia belum pernah melihat gadis secantik itu seumur hidupnya, bahkan meskipun ia pernah melihat Dewi Ayu yang dikatakan orang sebagai perempuan tercantik di kota itu. Ia tak tahu dengan bahan macam apakah Tuhan menciptakan makhluk seperti ini, sebab dari seluruh tubuhnya ia serasa melihat cahaya berpijaran. Pemandangan seperti itu jauh lebih membuatnya menggigil daripada berdiri sambil bernyanyi selama satu jam tanpa seorang pun memberinya perhatian. Dengan bibir yang menggigil, ia bertanya terbata­bata, ”Siapa namamu?”

”Alamanda, anak Dewi Ayu.”

Nama itu menyerang otaknya seperti palu. Ia melangkah menenteng gitarnya seperti orang kehilangan arah. Beberapa kali ia menoleh memandang si kecil yang cantik itu, beberapa kali pula ia memalingkan muka seolah tak tahan oleh cahaya yang berpijaran dari tubuhnya. Ia baru sampai di pintu pagar rumah ketika gadis itu memanggil dan berkata padanya.

”Minumlah dulu sebelum pergi, kau pasti haus.”

Seperti lelaki yang terhipnotis, Kliwon berbalik dan kembali ke beranda rumah, mengambil gelas berisi limun dingin itu dan meminumnya sementara si gadis berdiri sambil tersenyum penuh kehangatan. ”Hanya karena kau yang buat, Nona Kecil, aku meminumnya,” kata

Kliwon sambil meletakkan gelas kosong kembali di atas meja. ”Kau salah,” kata Alamanda, ”yang buat pembantu kami.”

Sejak itu Kliwon lupa pada keinginannya untuk meniduri pelacur bernama Dewi Ayu, dan sampai bertahun­tahun kemudian ia tak pernah menidurinya. Si kecil yang cantik itu telah menghancurkan segala­galanya, termasuk hari­hari dan mungkin masa depannya. Dalam beberapa hari setelah pertemuan singkat itu, segalanya tiba­tiba menjadi berubah. Ia mengusir semua gadis yang mencoba mendekatinya, menolak semua ajakan pesta, dan lebih banyak tinggal di rumah merenungi nasib cintanya yang tampak menyedihkan: seorang penakluk gadis­gadis dibuat tak berdaya oleh gadis delapan tahun. Tapi itulah kenyataannya, meskipun tak seorang pun tahu apa yang telah terjadi. Tak satu pun di antara teman­temannya mengetahui kepergiannya di hari Minggu itu ke rumah Dewi Ayu, sehingga tak seorang pun berani mengambil spekulasi mengenai kemurungannya akhir­akhir ini. Bagaimanapun, itu membuat ibunya sangat khawatir, sebab selama bertahun­tahun memeliharanya, ia belum pernah melihat Kliwon semurung hari­hari tersebut.

”Apakah kau telah jadi seorang komunis?” tanya ibunya, cemas dan tampak putus asa. ”Hanya orang komunis yang murung.”

”Aku jatuh cinta,” kata Kliwon pada ibunya.

”Itu lebih menyedihkan.” Mina, ibunya, duduk di samping Kliwon dan mengelus rambutnya yang ikal dan dibiarkan memanjang. ”Pergilah dan mainkan gitar di bawah jendela kamarnya sebagaimana biasa.”

”Aku pergi untuk merayu ibunya,” kata Kliwon nyaris menangis. ”Ibunya tak kuperoleh dan tiba­tiba aku jatuh cinta pada anaknya, dan tampaknya juga tak akan kuperoleh.”

”Kenapa tidak? Adakah gadis yang tak menginginkanmu?” ”Mungkin gadis ini,” kata Kliwon pendek dan merebahkan dirinya di

pangkuan Mina, seperti anak kucing yang manja. ”Namanya Alamanda. Seandainya aku harus jadi komunis dan memberontak dan menghadapi sederet regu tembak sebagaimana pernah terjadi pada ayah dan Kamerad Salim untuk memperoleh gadis ini, aku akan melakukannya.”

”Ceritakan padaku seperti apa gadis itu?” tanya Mina, merinding oleh janji anaknya.

”Tak seorang pun di kota ini, dan mungkin di seluruh alam semesta, lebih cantik darinya. Ia lebih cantik daripada Rengganis Sang Putri yang kawin dengan anjing, paling tidak menurutku. Ia lebih cantik dari Ratu Laut Kidul. Ia lebih cantik daripada Helena yang membuat perang Troya meletus. Ia lebih cantik dari Diah Pitaloka yang menyebabkan perang Majapahit dan Pajajaran. Ia lebih cantik daripada Juliet yang membuat Romeo nekat bunuh diri. Ia lebih cantik dari siapa pun. Seluruh tubuhnya seperti mengeluarkan cahaya, rambutnya lebih mengilau dari sepatu yang baru disemir, wajahnya begitu lembut seolah ia dibuat dari lilin, dan senyumnya seperti mengisap segala yang ada di sekitarnya.”

”Kau akan cocok untuk gadis seperti itu,” kata ibunya menghibur. ”Masalahnya, dadanya belum juga tumbuh, dan bahkan bulu ke­

maluannya belum muncul pula. Ia baru delapan tahun, Mama.”

Tertekan oleh penderitaannya, Kliwon menemukan pembebasannya melalui surat­surat cinta yang tak pernah disampaikannya. Berhari­hari ia mencoba menulis surat cinta, yang sekiranya cocok untuk seorang gadis delapan tahun, tapi usahanya selalu tampak sia­sia. Surat­surat itu selalu berakhir di tempat sampah dalam keadaan tercabik­cabik. Tapi ia selalu bersemangat untuk mengulangnya kembali, dan memperoleh kegagalan yang sama. Ia telah mencoba membuat surat cinta yang kekanak­kanakan, namun ia membuangnya karena tak terlihat satu upaya serius mengungkapkan rasa cintanya. Ia juga mencoba menumpahkan seluruh isi hatinya, tapi kemudian bertanya­tanya apakah gadis sekecil itu mengerti apa yang ditulisnya. Namun akhirnya ia berhasil menulis sebuah surat, bukan karena ia sungguh­sungguh berhasil sebenarnya, tapi karena ia putus asa.

Waktu itu Kliwon telah menyelesaikan sekolahnya, dua tahun lebih cepat dari teman­teman sebayanya. Sementara semua orang berangkat sekolah atau pergi ke tempat kerja, ia menemukan hiburan atas perburuan cintanya. Setiap pagi, ia menyelinap dari rumah dan berjalan kaki menuju rumah Dewi Ayu, tapi tak pernah menginjakkan kakinya di halaman. Ia menunggu sampai Alamanda, dengan seragam serta tas sekolah, muncul bersama adiknya, Adinda. Ia akan berjalan menghampiri mereka, dan menawarkan diri untuk berjalan bersama keduanya, mengantarkan sampai sekolah.

”Silakan,” kata Alamanda. ”Aku tak akan tanggung jawab jika kau capek.”

Ia melakukannya setiap pagi. Di saat jam istirahat sekolah, ia berdiri di bawah pohon sawo di depan kelas, hanya untuk melihatnya bermainmain dengan teman­temannya. Ketika waktu pulang tiba, ia telah menunggunya di gerbang, dan menemaninya kembali pulang ke rumah. Jika anak itu ada di dalam kelas, atau telah kembali ke rumah, Kliwon menampakkan kemurungannya lagi. Tubuhnya tiba­tiba menyusut, dan ia lebih sering jalan kehilangan arah.

”Apakah kau tak punya kerjaan lain selain berjalan mengiringi kami?” tanya Alamanda suatu hari.

”Itu karena kau belum mengenal arti jatuh cinta,” jawabnya. ”Penjual mainan mengikuti anak­anak ke mana pun ia pergi,” kata

Alamanda, ”aku baru tahu jika itu namanya jatuh cinta.”

Gadis itu telah sungguh­sungguh menjadi teror baginya, jauh lebih membuatnya menggigil daripada seandainya ia bertemu setan dedemit. Di malam hari ia memimpikannya bagaikan mimpi buruk, sebab Kliwon akan terbangun secara tiba­tiba dengan tubuh kaku, keringat bercucuran dan napas tersengal­sengal. Lama kelamaan, hubungan mereka yang dingin dan sebatas berjalan­jalan pergi dan pulang sekolah mencapai krisis. Kliwon sungguh­sungguh tak tahan menghadapi kenyataan bahwa hidupnya akan dihabiskan hanya dengan cara seperti itu. Suatu hari akhirnya ia ambruk dalam demam, hari pertama ia tak mengantar gadis itu: ia sebenarnya mencoba untuk pergi tapi ia hanya mampu bergerak sampai pintu depan rumah. Mina menyeret anaknya ke tempat tidur, membaringkannya di sana, mengompres dahinya dengan air dingin, sambil menyanyikan kidung­kidung pemberi semangat sebagaimana ia nyanyikan jika Kliwon demam di waktu kecil.

”Bersabarlah,” kata ibunya, ”tujuh tahun lagi ia telah cukup besar untuk mencintaimu.”

”Masalahnya,” Kliwon menyahut pelan, ”aku keburu mati karena demam cinta sebelum hari itu datang.”

Ibunya mencoba mendatangi beberapa dukun dan mereka menawarkan berbagai ramuan, dan mantera, yang sanggup membuat seseorang jatuh pada cinta buta. Ibunya tak menginginkan ramuan atau mantera seperti itu. Kliwon akan mengamuk jika mengetahui bahwa ia memperoleh cinta seorang gadis karena bantuan dukun. Ia hanya mencari ramuan, atau mantera, yang sanggup membendung hasrat cinta meledak­ledak anaknya.

”Yang seperti itu tak pernah ada,” kata dukun terakhir, setelah semua dukun mengatakan hal yang sama.

”Jadi apa yang harus kulakukan?”

”Menunggu sampai segalanya jelas: ia memperoleh cintanya atau pulang dengan sakit hati di dada.”

Ketika Kliwon telah hampir sembuh dari demamnya, Mina membawa Kliwon pada suatu tamasya kecil. Ia mencoba resep tradisional pengobatan: membuatnya bahagia. Mina mengajaknya berjalan­jalan sepanjang pantai, duduk­duduk di taman wisata sambil memberi makan rusa dan monyet­monyet. Ia mencoba mengajaknya bicara segala hal, kecuali tentang gadis kecil bernama Alamanda itu, memanjakannya seolah Kliwon bocah enam tahun. Sementara itu, teman­temannya yang baik, lama­kelamaan akhirnya tahu juga mengenai apa yang terjadi. Mina telah menceritakannya pada mereka, berharap mereka bisa membantunya mengatasi masalah rumit tersebut. Mereka kembali mengajaknya ke pesta­pesta, menyuruhnya memetik gitar dan bernyanyi. Mereka mengajaknya mencuri ayam dan ikan di kolam, bermain ke gunung, dan berkemah dalam pesta api unggun yang meriah. Beberapa gadis, bahkan mencoba merayunya kembali. Hati maupun berahinya. Beberapa di antaranya bahkan menyeret Kliwon ke dalam tenda, menelanjanginya, membangunkan kemaluannya. Ia mau bercinta dengan mereka, tapi itu tak mengembalikan Kliwon yang dulu. Ia kehilangan selera humornya yang meluap­luap, kehilangan roman muka yang periang, dan bahkan kehilangan nafsu yang menggelora di atas tempat tidur.

Semua usaha tampaknya tak akan berhasil, bahkan Kliwon sendiri

tahu hal itu. Ia telah dikutuk untuk menderita dengan cara demikian, dan hanya cinta si gadis kecil mungkin bisa menyembuhkannya dari segala hal. Ia berharap bisa menculiknya, membawanya kabur ke suatu tempat, mungkin di tengah hutan. Mereka akan hidup berdua di gua, atau di lembah menggembalakan kambing liar. Ia akan merawatnya sendiri, memeliharanya, membuatnya tumbuh menjadi seorang gadis, sampai tiba waktunya ia bisa memperoleh cinta. Ia pergi meninggalkan teman­temannya, dan kembali menunggu gadis kecil tersebut di depan rumahnya, di pagi hari. Si gadis kecil terkejut melihat kemunculannya setelah lama menghilang, dan berkata padanya, ”Apa kabar? Aku dengar kau sakit.”

”Ya, sakit karena cinta.” ”Apakah cinta sejenis malaria?” ”Lebih mengerikan.”

Si gadis tampak bergidik, lalu sambil menuntun adiknya, ia melangkah berjalan menuju sekolah. Kliwon menyusul dan berjalan di sampingnya, tampak menderita sebelum akhirnya berkata.

”Dengar gadis kecil,” katanya. ”Maukah kau mencintaiku?” Alamanda berhenti dan menoleh kepadanya, lalu menggeleng. ”Kenapa?” tanya Kliwon kecewa.

”Kau sendiri yang bilang, cinta lebih mengerikan dari malaria.” Alamanda menggandeng kembali tangan adiknya, melangkah melanjutkan perjalanan. Ia meninggalkan Kliwon yang untuk kedua kalinya, ambruk dalam demam yang lebih membuatnya menderita.

Ketika ia berumur tiga belas tahun, seorang lelaki datang ke rumah mereka dengan permintaan yang aneh, ”Izinkanlah aku mati di sini.” Ibunya tak bisa menolak permintaan seperti itu, sehingga mengizinkannya masuk dan menyuguhinya minum. Kliwon tak tahu, dengan cara apa lelaki itu akan mati di rumahnya. Mungkin ia akan mati kelaparan, sebab tampaknya ia belum makan selama berhari­hari. Namun ketika ibunya mengajak si tamu makan malam, tamu itu makan dengan lahapnya seolah ia sendiri belum sudi untuk mati. Ia memakan segala sesuatu yang disodorkan kepadanya, bahkan tulang ikan asin ia gigit­gigit tak berbekas. Ia habis bersendawa penuh kepuasan ketika ia akhirnya membuka mulut lagi, ”Di mana Kamerad?”

”Mati ditembak Jepang,” jawab ibunya pendek. ”Dan bocah itu,” kata sang tamu, ”anak kalian?”

”Tentu saja,” jawab si ibu lagi sedikit ketus, ”tak mungkin anak babi.” Tamu itu bernama Salim. Meskipun tampak bahwa Mina, ibunya, tak menyukai kedatangan lelaki itu, sang tamu bersikeras untuk tinggal bersama mereka. ”Biar aku tinggal di kamar mandi dan makan bubur dedak ayam, tapi izinkanlah aku mati di sini,” katanya. Kliwon mencoba meyakinkan ibunya, mungkin lebih baik membiarkan lelaki itu mati di rumah daripada di selokan. Akhirnya Salim diberi ruang depan, kamar tamu yang tak seorang pun pernah mempergunakannya, dan Kliwon

berjanji akan mengiriminya makan, sampai saatnya ia akan mati.

Ia bukan pengembara. Kliwon melihatnya, kulit kakinya lecet­lecet begitu ia membuka sepatu.

”Kau seperti buronan,” kata Kliwon.

”Ya, besok mereka akan datang untuk mengeksekusiku.” ”Apa yang kau rampok?” tanya Kliwon lagi.

”Republik Indonesia.”

Percakapan itu menggiring mereka pada satu persahabatan. Salim memberikan topi petnya pada si bocah sambil berkata, ia memperolehnya ketika masih di Rusia, dan menambahkan, semua buruh Rusia mempergunakan topi pet semacam itu. Ia telah mengunjungi banyak negara, katanya, sejak tahun 1926.

”Tak seperti sebuah tamasya,” kata Kliwon. ”Kau benar, aku buronan.”

”Apa yang kau rampok waktu itu?” tanya Kliwon lagi. ”Hindia Belanda.”

Jadi lelaki itu pemberontak. Dan komunis, sebab nama panggilannya adalah Kamerad Salim. Jenis komunis lama, segelintir orang yang pernah secara langsung memperoleh ide­ide seperti itu dari komunis Belanda bernama Sneevliet. Ia mengaku kenal baik Semaun dan telah bergabung dengan Partai Komunis Indonesia sejak partai tersebut berdiri pertama kali. Ia bahkan menyeduhkan susu setiap pagi buat Tan Malaka yang menderita TBC sewaktu mereka di Semarang. PKI adalah organisasi pertama yang pakai nama Indonesia, katanya bangga. Dan yang pertama memberontak pada pemerintah kolonial, ia menambahkan. Hindia Belanda sudah membencinya bahkan sebelum mereka memberontak. Sneevliet telah diusir sejak 1919, dan Semaun sahabatnya, dibuang empat tahun kemudian, setahun setelah Tan Malaka. Tokoh lain, termasuk dirinya, berkemas untuk bersiap dibuang atau masuk penjara.

Kenyataannya,pemerintahkolonialakhirnyamemutuskan untuk

menangkapnya pada bulan Januari 1926. Tampaknya mereka telah mendengar gagasan pemberontakan yang dibicarakan di Prambanan sebulan sebelumnya. Salim tak pernah sungguh­sungguh dipenjara, sebab ia telah melarikan diri ke Singapura, bersama beberapa yang lainnya. Itu kali pertama ia berkelana, meskipun ia bukan pengembara. ”Jika seorang komunis tak punya niat memberontak,” katanya pada

Kliwon, ”Jangan percaya ia seorang komunis.”

Ia berbaring di atas tempat tidur dengan cara yang aneh: sepenuhnya telanjang bulat. Ia membuka semua pakaiannya yang kotor dan bau lumpur, dan meskipun Kliwon berbaik hati mau meminjami pakaian bekas ayahnya, Salim menolak. Awalnya Kliwon dibuat kebingungan melihat lelaki tua telanjang di depannya, tapi lama­kelamaan ia mencoba duduk di kursi dekat pintu menghadapinya dengan cara senyaman mungkin. ”Aku ingin mati tanpa punya apa­apa,” kata Kamerad Salim dan melanjutkan, ”Aku khawatir mereka menembakku sebelum aku bangun.” ”Kalau begitu jangan tidur,” kata Kliwon, ”setelah mati kau bisa

tidur lama. Selama­lamanya.”

Itu benar. Maka ia berusaha membuat matanya selalu terbuka, meskipun Kliwon tahu lelaki itu pasti sangat lelah. Untuk membuatnya tidak jatuh tertidur, Kamerad Salim terus­menerus bicara, kadang­kadang tak jelas terdengar, selebihnya tampak seperti keluhan. Kliwon berpikir ia mengigau. Ia bilang, tidak secara khusus ditujukan pada Kliwon, bahwa ia kenal begitu dekat dengan Presiden Republik. Dulu mereka tinggal di pondokan yang sama di Surabaya, belajar pada orang yang sama, dan kadang­kadang jatuh cinta pada gadis yang sama. Bahkan beberapa waktu lalu, ketika ia datang untuk pertama kalinya setelah lama melarikan diri dan tinggal di Moskow, ia telah berjumpa kembali dengan Presiden Republik. Mereka berpelukan dengan mata berlinang penuh kegembiraan.

”Jika kau tak percaya, suatu ketika kau bisa mengetahuinya di koran,” katanya, kali ini jelas pada Kliwon. ”Tapi kini orang yang sama mengirimkan prajurit untuk membunuhku.”

”Kenapa?” tanya Kliwon.

”Itulah yang akan terjadi jika kau merampok milik seseorang,” jawab Kamerad Salim.

”Apa lagi yang telah kau rampok?”

”Telah kukatakan padamu: Republik Indonesia.”

Keragu­raguan, katanya, merupakan sumber kegagalan pemberontakan Partai Komunis tahun 1926. Ia bertemu dengan Tan Malaka di Singapura, setelah pelariannya yang pertama itu, untuk membicarakan rencana pemberontakan mereka. Tan Malaka adalah orang yang paling menentang ide tentang pemberontakan, dengan alasan kaum komunis tidak siap. Ia pergi ke Moskow untuk memperoleh pertimbangan Komintern, namun Komintern bahkan menolaknya lebih sengit.

”Aku bahkan ditahan Stalin selama tiga bulan,” kata Kamerad Salim, ”untuk direindoktrinasi.”

Tapi ide tentang pemberontakan itu sungguh­sungguh telah mengganggu kepalanya. Setelah ia bisa pergi dari Moskow, ia kembali ke Singapura dan bertekad akan melakukannya tanpa dukungan siapa pun. Bahkan meskipun harus bergerilya. Namun pemberontakan ternyata telah meletus di dalam negeri, dan gagal. Pemerintah kolonial membubarkan Partai dan semua aktivitasnya dilarang. Kebanyakan pengurusnya menjadi tahanan jika tidak dibuang ke Boven Digoel. Yang menyebalkan, Komintern kini mendukung pemberontakan tersebut, sebuah kekonyolan yang datang terlambat.

”Aku ditarik kembali ke Moskow,” katanya, ”untuk sekolah.”

Ia menerangkan bahwa tetap ada waktu untuk melakukan pemberontakan yang lain, di waktu yang lebih memungkinkan. Ia mendengar beberapa kabar buruk, bahwa orang­orang komunis yang dibuang ke Boven Digoel, beberapa di antaranya menyerah dan memilih bekerjasama dengan pemerintah kolonial. Yang tetap bersikeras dibuang lebih jauh, ke tempat malaria bisa membunuh tanpa ampun. Ia berdiri karena ia ingin pergi ke toilet, dan Kliwon buru­buru menyelimuti tubuh lelaki itu dengan kain sarung sambil berkata: ”Ibuku akan menjerit tanpa ampun jika ia melihatmu melintasi rumah dalam keadaan telanjang bulat.” Meskipun membiarkan tubuhnya diselimuti sarung, Kamerad Kliwon membantah, ”Apa bedanya, besok ia akan melihatku mati dalam

keadaan telanjang.”

Mereka meneruskan bincang­bincang itu, kali ini di beranda rumah, dengan Kamerad Salim masih sekadar berselimut sarung. Dari tempat mereka duduk, terlihat laut gelap membentang dengan bintik­bintik lampu nelayan, serta suara debur ombak yang tenang. Si bocah bertanya, apa yang dicari oleh orang­orang komunis, dan Kamerad Salim menjawab, ”Surga.” Tepat tengah malam, mereka melihat sebuah truk lewat di jalanan, dipenuhi prajurit KNIL, namun mereka tak melihat keduanya yang duduk di beranda yang gelap.

Dunia tengah berubah, kata Kamerad Salim. Jerman dan Jepang memiliki kekuatan yang sepadan dengan negara maju mana pun, dan mereka tengah menuntut bagian mereka sendiri. Selama ratusan tahun, lebih dari separuh permukaan bumi dikuasai oleh negara­negara Eropa, menjadikannya koloni, mengisap apa pun yang mereka temukan untuk dibawa pulang dan menjadikan mereka kaya. Tapi tidak Jerman dan Jepang. Mereka tak kebagian, dan sekarang mereka menuntut bagian. Itulah awal mula semua perang ini, perang di antara negara­negara serakah. (Kamerad Salim bertanya apakah ada sigaret, lalu Kliwon mengambilkan tembakau miliknya di kamar). Kaum pribumi adalah orang­orang paling malang, semalang­malangnya. Setelah bertahuntahun hidup dibohongin raja­raja, tiba­tiba datang orang­orang Eropa. Mereka yang bahkan tak mengenal rasa gila hormat menjadi berlebihan di tanah Jawa. Petani­petani, setelah harus kerja paksa dan memberikan sebagian hasil panennya pada pemerintah kolonial, mereka bahkan harus pula berjongkok di jalan hanya karena seorang noni Belanda lewat. Komunis lahir oleh satu mimpi indah bahwa tak akan ada lagi yang seperti itu di muka bumi, tak ada lagi orang malas yang makan enak sementara yang lain kerja keras dan kelaparan. Kliwon bertanya, apakah revolusi merupakan jalan menuju mimpi indah tersebut.

”Itu benar,” jawab Kamerad Salim, ”orang­orang tertindas hanya

memiliki satu alat untuk melawan: amuk, dan jika aku harus memberitahumu, revolusi tak lebih amuk bersama­sama, diorganisir oleh sebuah partai.”

Itu adalah satu­satunya alasan mengapa orang komunis akhirnya harus memberontak. Sebab kaum borjuasi tak mungkin diajak berdamai. Mereka tak mungkin menyerahkan kekuasaannya begitu saja, juga tak mungkin menyerahkan kekayaannya secara sukarela, dan tak mungkin rela kehilangan hidup yang nyaman. Mereka tak suka berbagi, sebab jika itu terjadi, tak akan ada lagi orang yang menyeduhkan kopi untuk mereka, tak ada lagi yang mencucikan baju mereka, tak ada lagi orang yang memutarkan mesin untuk mereka, tak akan ada lagi yang memetikkan buah cokelat untuk mereka. Di dunia komunis, semua orang harus bisa malas dan semua orang harus bisa sama bekerja. ”Borjuasi tak akan mau, maka satu­satunya cara adalah memberontak.”

Ia pulang dari luar negeri beberapa hari sebelum perayaan kemerdekaan. Tiga tahun Republik berdiri, tapi Belanda masih ada di manamana. Lebih menyedihkan, Republik ini harus kalah di semua perang dan semua meja perundingan, hingga hanya menguasai sedikit wilayah pedalaman. Ia bertemu dengan Presiden Republik, sahabat lamanya, yang segera berkata kepadanya, ”Bantulah kami memperkuat negara melancarkan revolusi.” ”Itu memang kewajibanku. Ik kom hier om orde te scheppen,” katanya.

Aku datang untuk membereskan.

Ia datang memang untuk membereskan kekacauan ini, dan ia percaya, sumber kekacauan pertama­tama datang dari Presiden Republik sendiri, dan Wakil Presiden, dan para menteri dan orang­orang partai. ”Mereka menjual rakyat untuk romusha di zaman Jepang, kini mereka menjual wilayah pada Belanda,” katanya. Satu­satunya kelompok yang masih ia percaya adalah Partai Komunis Indonesia. Ia diterima Partai secara terbuka, meskipun ia segera membeberkan bahwa PKI telah melakukan kesalahan­kesalahan prinsipil dalam arah perjuangan mereka. Ia ingin merombaknya, dan mereka menyerahkan semua kepadanya, sang juru selamat yang baru datang dari Moskow ini. Sebulan setelah kedatangannya, pemberontakan akhirnya meletus di Madiun. Ya, tentu saja orang­orang komunis. Ia sendiri tak ada di sana waktu itu, tapi ia akhirnya pergi ke sana untuk memberi dukungan moral. Pemberontakan hanya berjalan seminggu dan ia jadi buron.

”Jadi di sinilah aku sekarang, menunggu liang kuburku selesai di­

gali.”

”Kau telah menempuh jalan yang tidak pendek,” kata Kliwon, ”masih ada waktu jika kau masih mau lari.”

”Aku telah mengalami dua kali pemberontakan, dan dua­duanya gagal, itu cukup untuk membuatku tahu diri,” kata lelaki itu dengan kegetiran yang menyedihkan. ”Telah tiba waktunya bagiku untuk mati, bahkan meskipun aku melarikan diri lagi, dengan cara apa pun mungkin aku akan mati juga besok pagi.”

Kliwon sama sekali tak mengerti jalan pikirannya. ”Jika kau mati, segalanya berakhir,” kata bocah itu.

Kamerad Salim memejamkan mata dibuai angin malam yang menerpa wajahnya. ”Telah datang giliranmu, Kamerad.”

Kamerad Salim mengakui bahwa ia bukan Marxis yang baik, bahwa ia belum memahami semua teori kelasnya, tapi ia cukup yakin bahwa ketidakadilan harus dilawan dengan cara apa pun. Tak ada Marxis di negeri ini, katanya, yang ada adalah rakyat jelata yang kelaparan, bekerja lebih banyak daripada penghasilan yang diperolehnya, yang harus membungkuk setiap muncul orang­orang gede, yang hanya tahu bahwa satusatunya cara terbebas dari semua itu hanyalah melawan. Pikirkanlah, katanya, ada ribuan buruh di pabrik­pabrik gula sepanjang daerah­daerah penghasil tebu. Mereka bekerja sepanjang tahun, sementara para pemilik tinggal dengan penuh kenyamanan di rumah­rumah peristirahatan mereka di kaki bukit. Para buruh hanya memperoleh upah yang cukup untuk hidup sampai hari pembayaran upah berikutnya tiba, sementara para pemilik perkebunan menangguk untung besar­besaran. Hal yang sama terjadi di perkebunan teh. Juga di tempat lain. Itulah satu­satunya alasan kenapa kita harus melawan, dan satu­satunya ucapan Marx yang membekas di hatinya adalah: kaum buruh sedunia, bersatulah!

Ketika suara ayam jago mulai terdengar di kejauhan, percakapan mereka mereda, seolah bau kematian sungguh­sungguh mulai terasa. Kamerad Salim diam di kursinya, bagaikan mati sebelum waktunya. Ia tidak tidur bagaimanapun, sebaliknya, ia terjaga sepenuhnya, menanti dengan penuh kesabaran paginya yang terakhir akan datang. Seperti orang­orang saleh yang percaya akan masuk surga, seorang komunis sejati tak akan takut mati, katanya kecil nyaris tak terdengar.

”Apakah kau percaya Tuhan?” tanya Kliwon hati­hati.

”Itu tidak relevan,” jawabnya. ”Bukan urusan manusia memikirkan Tuhan itu ada atau tidak, terutama jika kau tahu di depanmu manusia satu menginjak manusia yang lain.”

”Kau akan masuk neraka.”

”Aku lebih suka masuk neraka karena menghabiskan seluruh hidupku untuk menghilangkan penindasan manusia oleh manusia.” Kemudian ia melanjutkan: ”Jika aku boleh berpendapat, dunia inilah neraka, dan menjadi tugas kita menciptakan surga.”

Pagi akhirnya datang, dan sebagaimana dikatakan Kamerad Salim, tiba­tiba satu pasukan tentara Republik muncul dipimpin seorang kapten, untuk mengeksekusinya. Mereka datang secara diam­diam, mengenakan pakaian sipil, sebab Halimunda merupakan daerah pendudukan KNIL. Mereka mengepungnya sementara ia masih duduk dengan tenang di beranda ditemani Kliwon.

”Ia ingin mati telanjang, polos seperti bayi yang dilahirkan,” kata Kliwon.

”Itu tak mungkin,” kata Sang Kapten. ”Tak ada orang yang suka melihat kemaluannya tergantung ke mana­mana, terutama jika ia orang komunis.”

”Itu permintaannya yang terakhir.” ”Tak mungkin.”

”Kalau begitu lakukanlah di kamar mandi,” kata Kliwon. ”Biarkan ia telanjang, mungkin ia ingin buang tai dulu, dan tembaklah.”

”Seorang komunis nomor satu mati di kamar mandi,” kata Sang Kapten sambil menganggukkan kepala. ”Cerita bagus untuk buku sejarah kelak.”

Begitulah akhirnya. Kamerad Salim menanggalkan sarungnya, melumuri dirinya dengan tanah sambil sesekali menghirup udara dalamdalam, seolah mengucapkan selamat tinggal. Kliwon dan Sang Kapten serta beberapa prajurit mengikutinya ke kamar mandi, sementara Kliwon berharap ibunya tak bangun oleh keributan pagi hari tersebut. Di kamar mandi, sebelum ditembak mati, seperti gadis­gadis yang tengah dilanda jatuh cinta, ia menyanyikan lagu Darah Rakyat dan Internationale, yang bahkan membuat Kliwon menangis mendengarnya. Begitu lagu kedua selesai, Sang Kapten menodongkan pistol melalui celah pintu yang terbuka, menembaknya tiga kali berturut­turut. Kamerad Salim mati telanjang di kamar mandi: ketika ia lahir ia tak punya apa­apa, dan ketika ia mati ia juga tak memiliki apa pun. Mina terbangun demi mendengar suara letusan pistol itu, dan berlari untuk melihat apa yang terjadi dan menemukan beberapa prajurit tengah menyeret mayat lelaki itu sementara anaknya memandang semua adegan tersebut.

”Kau telah melihat ayahmu mati dieksekusi Jepang,” katanya. ”Kini

kau lihat orang ini mati di tangan tentara Republik. Pikirkanlah, jangan sekali­kali berharap jadi orang komunis.”

”Banyak raja telah digantung,” kata Kliwon, ”itu tak menyurutkan orang untuk ingin jadi seorang raja.”

”Apakah semalaman ia berhasil mempengaruhimu?” tanya Mina sedikit khawatir.

”Paling tidak ia telah membuatku masuk angin.”

Para prajurit itu membawa mayat tersebut ke perempatan jalan. Mereka tak cemas oleh patroli tentara KNIL, sebab sepagi itu tentunya belum bangun. Kliwon mengikutinya, dan melihat mayat Kamerad Salim digeletakkan di tengah jalan. Ia masih mengenakan topi pet pemberiannya itu, yang kelak bertahun­tahun kemudian ia pergunakan juga di hari tentara hendak mengeksekusinya, berdiri di antara orang­orang yang berdatangan melihat mayat berhias tiga lubang peluru. Darahnya masih tercecer di mana­mana. Seorang prajurit membanjurnya dengan minyak tanah, dan prajurit yang lain melemparkan api. Seketika mayat itu terbakar, baunya seperti rusa panggang.

”Siapa orang itu?” tanya seorang lelaki. ”Yang jelas bukan babi,” kata Kliwon.

Bocah itu menungguinya sampai api padam dan prajurit­prajurit itu menghilang. Ia mengumpulkan abunya, memasukkannya ke dalam kotak kecil dan membawanya pulang. Ibunya dibuat khawatir oleh perlakuan berlebihan yang diperlihatkan Kliwon, dan berkomentar abu mayat itu akan membawa malapetaka.

”Dan lepaskan topi pet itu.”

Ia melepaskan topi pet tersebut dan meletakkannya di atas meja, sementara ia sendiri naik ke tempat tidur.

”Puji Tuhan,” kata ibunya, ”Kau anak yang manis.”

”Jangan salah sangka, Mama,” kata Kliwon. ”Aku melepaskan topi itu karena semalaman aku melek dan sekarang ingin tidur.”

Ia duduk di trotoar depan sebuah toko tutup, mencabik­cabik poster iklan rokok yang dirobeknya secara serampangan dari dinding toko. Sambil merenungkan kemalangan cintanya, ia memandang mobil­mobil yang lewat, bertanya pada diri sendiri apakah ada orang yang lebih malang daripada dirinya. Ibu dan sahabat­sahabatnya telah menyuruhnya untuk menghibur diri sendiri, dan ia menampik dengan mengatakan bahwa tak satu hal pun bisa menghiburnya, kecuali ia memperoleh cinta gadis kecil itu.

”Pergilah mencari orang­orang yang lebih malang darimu,” kata Mina akhirnya, ”Mungkin dengan cara begitu kau akan sedikit berbahagia.”

Hal pertama yang ia ingat adalah ayahnya dan Kamerad Salim, keduanya mati dieksekusi. Itu kecerobohan Mina, yang tak berpikir perintahnya akan membuat Kliwon teringat pada kedua orang itu. Sepanjang minggu ia duduk di trotoar untuk melihat orang­orang malang yang diceritakan Kamerad Salim, dan juga ayahnya ketika ia masih kecil. Ia ingin melihat orang­orang lewat dengan mobil dari Jerman atau Amerika, sementara di sampingnya duduk seorang pengemis dengan tubuh dipenuhi borok dan bisul. Ia ingin melihat seorang gadis pergi ke pasar diiringi pembantu yang memegang keranjang serta payung yang menaunginya. Ia ingin membuktikan semua kontradiksi­kontradiksi sosial tersebut, lebih untuk menghibur dirinya sendiri dengan mengatakan, betapa menyedihkan seorang lelaki dibuat hancur oleh cinta sementara orang lain sekarat mati karena terlalu keras bekerja atau kelaparan.

Ia telah meninggalkan rumah selama lebih dari satu bulan, menjadi kere dan hidup bersama gelandangan serta para pengemis. Tubuhnya yang dulu bagus kini hanya seperti tumpukan tulang, dan rambutnya mulai kemerahan, tampak sekaku ujung sapu. Ia sama sekali tak sedang menyamar, ia hanya mencoba menghilangkan penderitaannya dengan penderitaan yang lain. Ia makan dari pemberian orang lain, dan jika tak seorang pun memberi makan, ia akan mengais­ngais tong sampah berebut dengan gelandangan lain dan anjing­anjing serta tikus.

Tak ada lagi gadis­gadis yang mengikutinya ke sana­kemari. Sebaliknya, jika seorang gadis bertemu dengannya, tanpa menyadari bahwa itu adalah Kliwon yang pernah mereka gilai dan mungkin pernah menidurinya, gadis­gadis itu akan menutup hidung, meludah ke sanakemari, sambil membuang muka dan berjalan lebih cepat. Anak­anak kecil bahkan melemparinya dengan batu, hingga ia sering mendapati dirinya dipenuhi luka, dan anjing bahkan mengejar­ngejarnya seolah ia landak yang siap disantap. Bahkan ketika ia mendatangi rumahnya, Mina sama sekali tak mengenalinya, sebaliknya ia malahan berkata:

”Jika kau jumpa kere bernama Kliwon, suruh pulang, ibunya tengah sekarat dan ingin ketemu.”

Kliwon menerima sepiring nasi dari ibunya dan membalas, ”Kau sama sekali tak tampak hendak sekarat.”

”Berbohong sedikit tak apalah.”

Setelah lama berlalu, ia mulai menjalani kehidupan seperti itu dengan cara seolah itu merupakan kehidupan yang biasa­biasa saja. Ia mulai bisa melupakan banyak hal: ibu dan rumahnya, gadis­gadis dan temantemannya, dan terutama Alamanda (meskipun yang terakhir ini masih sering mengganggu pikirannya di waktu­waktu tertentu), semuanya dihancurkan oleh rutinitas gelandangannya. Daripada memikirkan halhal seperti itu, mencari sesuap nasi dan tempat berbaring yang nyaman kemudian menjadi jauh lebih penting. Kebebasannya dari segala pikiran yang rumit membuatnya tampak seperti kere yang berbahagia, sampai kemudian datang gangguan dari seorang gadis kere bernama Isah Betina. Ia melihatnya kedua kali tengah diperkosa beramai­ramai oleh lima gelandangan di pinggir tempat pembuangan sampah, mengamuk sedemikian rupa namun jelas bahwa ia tak berdaya melawan para penyerangnya. Sebelumnya ia telah melihatnya lewat sebelum dihadang kelima gelandangan itu, tampak cantik meskipun juga tampak bau busuk setelah berminggu­minggu tak tersentuh air. Raungannya sangat memilukan hati, terutama mengganggu tidur siangnya di dalam pondok kardus, maka ia keluar sambil menenteng golok menghampiri mereka. Dua orang lelaki baru saja selesai menyetubuhinya, keduanya cengengesan sambil melap kemaluan dengan ujung kemeja. Seorang yang lain sedang menusukkan tombaknya, keluar­masuk dan tampak ngos­ngosan, sementara gadis itu tak lagi melawan. Seorang yang lain tengah meremas­remas kedua buah dadanya, sementara lelaki terakhir menunggu dengan tak sabar sambil

menggosok kemaluannya sendiri dengan tangan.

”Berikan gadis itu padaku,” kata Kliwon, jelas dan tegas.

Salah satu dari lelaki yang telah selesai menyetubuhi si gadis, tampaknya pemimpin gerombolan gelandangan itu, berdiri menghadangnya sambil mengangkat ujung lengan kemeja.

”Apa yang kukatakan adalah berikan gadis itu padaku,” kata Kliwon lagi.

”Kau harus lewati dulu mayatku sebelum kau bisa ikut ngentot,” kata lelaki penghadang.

”Baiklah.” Dan sebelum siapa pun di antara mereka menyadari golok yang disembunyikan di balik punggungnya, ia telah mengibaskan senjata itu ke leher si lelaki penghadang. Darahnya muncrat bersama terkulainya kepala lelaki itu, lehernya nyaris putus, dan dalam beberapa detik ia telah ambruk di tanah. Tentu saja mati. Kliwon menginjak mayat tersebut, menghampiri empat lelaki tersisa. ”Berikan gadis itu padaku, telah kulewati mayatnya.”

Lelaki yang tengah menyetubuhi si gadis segera mencabut kemaluannya, meninggalkan bunyi ”splosh” yang menjijikkan, dan berlari dengan wajah sepucat roti busuk, diikuti ketiga temannya. Gadis itu mereka tinggalkan begitu saja, tergeletak di atas sebuah meja tanpa kaki, telanjang dan tak sadarkan diri. Setelah menyelimuti si gadis dengan pakaiannya sendiri, Kliwon membawa gadis itu di pundaknya, ke gubuknya. Ia membaringkannya di atas tempat tidur, berupa sofa bekas, memperhatikannya sejenak, sebelum ia sendiri berbaring di atas tumpukan koran dan tidur terlelap.

Ketika ia terbangun, hari sudah malam, ia menemukan gadis itu tengah duduk di sofa mendekap lutut menggigil karena lapar. Ia masih setelanjang ketika ditidurkan, hanya sedikit tertutup pakaian yang disampirkan begitu saja ke pundaknya. Kliwon memberinya bubur jagung dari panci, dingin dan nyaris basi sisa pagi hari, tapi gadis itu memakannya dengan sangat lahap. Selama itu Kliwon duduk di sampingnya, memperhatikannya dengan ketelitian seorang anak kecil. Gadis itu makan tanpa menghiraukan keberadaannya. Bahkan tak tampak trauma sedikit pun, atau ia mungkin telah lupa, bahwa beberapa waktu sebelumnya segerombolan gelandangan telah memerkosanya. Kini Kliwon bisa melihat rambutnya yang kemerahan, serupa rambut jagung, matanya yang tajam, hidungnya yang ramping, bibirnya yang tipis.

”Siapa namamu?” tanya Kliwon.

Ia tidak menjawab sama sekali, hanya meletakkan panci sisa bubur jagung di kolong sofa bekas dan duduk kembali memandang Kliwon dengan sikap malu­malu seorang gadis perawan. Tangannya menggapai tangan Kliwon, menyentuhnya dengan kelembutan tangan seorang kekasih. Kliwon menggigil sejenak, dan sebelum menyadari apa pun, gadis itu telah melompat ke arahnya membuat lelaki itu terjengkang di atas sofa dengan si gadis di atas tubuhnya, memeluk erat serta menciuminya dalam serangan yang nyaris ganas. Semula Kliwon hendak mendorongnya kuat­kuat, namun seketika ia menjadi ragu, dan hanya terdiam dengan tangan serupa orang­orang menyerah di depan regu tembak. Terutama ketika gadis itu memprotoli kemejanya, dan ia merasakan sentuhan ganas buah dada yang bulat padat menyentuh di dadanya sendiri, segalanya berakhir dalam kehangatan yang memesona. Ia menemukan kembali darah pencintanya, balas mendekap gadis itu, balas menciumnya, dan menanggalkan celananya.

Setelah mengamuk sedemikian rupa diperkosa lima orang berandalan, gadis itu kini menampakkan dirinya sebagai seorang kekasih yang binal. Bahkan Kliwon dibuat lupa oleh kenyataan tersebut, mendekap erat tubuh si gadis dan membalikkan posisi mereka, membuat Kliwon kini berada di atasnya, sama­sama telanjang dan sama­sama berahi. Mereka mengatasi keterbatasan ruang sofa bekas yang sempit, dan bercinta dengan gerakan monoton namun penuh nafsu, meledak­ledak dan mengguncangkan, seperti perahu yang diempas­empaskan badai.

Kemudian ketika percintaan itu selesai, Kliwon segera menyadari bahwa ia tak mengenal gadis itu sama sekali, sebagaimana gadis itu tak mengenal dirinya. Mereka masih berbaring berbagi tempat di atas sofa, saling mendekap dan kelelahan. Kliwon kembali bertanya, ”Siapa namamu?” Namun gadis itu, sebagaimana semula, tak juga menjawab. Ia hanya tersenyum, menggerutu (atau mengigau), sebelum memejamkan mata dan sungguh­sungguh tertidur, dengan dengkur halus menjadi pengiringnya.

”Namanya Isah Betina,” kata seorang gelandangan kepadanya, tak lama setelah itu, ”Sebab demikianlah orang­orang menyebutnya.”

”Dari mana ia datang?” Kliwon memburunya dengan pertanyaan. ”Mereka menemukannya seminggu lalu di trotoar, memerkosanya

beramai­ramai nyaris setiap hari sebelum kau membunuh satu di antara mereka,” kata si gelandangan. ”Otaknya miring,” dan ia menambahkan: ”Gadis itu.”

Begitulah kenyataannya. Kliwon tak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan teman­temannya, terutama teman­teman gadisnya, jika mereka tahu bahwa ia tidur dengan seorang gadis gila. Tak sembarang gila: keluarganya mungkin telah sungguh­sungguh membuang gadis itu hingga ia tersaruk­saruk jadi gelandangan.

Namun di luar akal sehatnya sendiri, atau karena dorongan hal lain, tindakan pertamanya adalah membawa gadis itu ke pantai dan membersihkan tubuhnya, dan memberinya pakaian yang lebih baik yang ia curi dari tempat jemuran ibunya. Mereka tinggal di gubuk kardus itu, dengan sofa bekas tempat mereka duduk bersantai sambil memakan buah kenari yang dipukul­pukul dengan batu, lain kali itu tempat mereka tidur dan bercinta; dengan tungku dari tumpukan batu­bata dan panci untuk memasak. Sementara itu tak pernah lagi terdengar kabar gelandangangelandangan pemerkosa Isah Betina, yang sebelumnya sempat membuat khawatir Kliwon bahwa mereka akan datang kembali untuk membalas dendam. Sejak peristiwa itu, tak seorang pun berani mengganggu si gadis, para penghuni tempat pembuangan sampah menguburkan mayat gelandangan itu secara diam­diam. Terutama sejak Isah Betina tinggal serumah dengan Kliwon, mereka memberikan kesepakatan bahwa keduanya telah menjadi sepasang kekasih, dan karenanya tak ada alasan untuk mengganggu gadis gila itu.

Kliwon sendiri tampaknya mulai lupa niat awalnya menjadi kere

gelandangan. Bukannya mencari orang­orang malang untuk menghibur diri sendiri atau menyengsarakan diri untuk melupakan kesedihan atas penolakan cinta si gadis kecil Alamanda, ia malahan menemukan cara terbaik melupakan gadis itu dengan datangnya gadis lain. Dan bukannya menderita oleh kehidupan yang semrawut, tanpa makanan dan tempat tinggal yang semestinya, ia malahan begitu berbahagia oleh keadaannya sekarang ini. Ia menemukan kembali hasrat cinta yang berbunga­bunga, terutama karena Isah Betina menerima cintanya dengan kehangatan yang sama, membuat keduanya sesegera mungkin melupakan keadaan mereka sendiri. Bahkan dalam keadaan mabuk asmara, tak seorang pun akan mengira bahwa Isah Betina ternyata seorang gadis gila. Kliwon tak peduli apa pun, juga pada kenyataan bahwa ia tak tahu asal­usul gadis tersebut, dan bahkan ia berjanji kepadanya, ”Aku akan mengawinimu, dengan cara apa pun.” Tak banyak yang mereka lakukan setiap hari sebagai kekasih, kecuali bercumbu nyaris sepanjang siang dan malam, berhenti hanya ketika mereka lapar dan lelah untuk tidur. Sofa adalah tempat favorit mereka untuk bercinta, satu pertarungan yang semakin hari semakin tampak ganas, dengan jeritan­jeritan tengah malam yang membuat tetangga terbangun dan ikut berahi. Kelakuan yang menerbitkan iri hati itu dimaklumi belaka sebagai bulan madu sepasang kekasih baru, meskipun kenyataannya itu nyaris berlangsung berminggu­minggu tanpa henti. Ketika suatu malam di tengah percintaan yang sebagaimana biasa seekor ular keluar dari tumpukan sampah dan masuk ke gubuk mereka dan menggigit ujung jari kaki Isah Betina yang mengganggu jalannya, gadis itu bahkan tak menjerit oleh rasa sakit dan meneruskan percintaannya dengan lelaki itu. Mereka masih menikmati persetubuhan tersebut sampai puncak­puncak tertinggi yang pernah mereka raih, namun tak selamanya keberuntungan menjadi milik mereka. Di akhir ejakulasinya, Kliwon terlempar ke samping dan mendengar gadis itu mengerang dan menggeliat. Ia pikir gadis itu masih menginginkannya, namun ketika dilihatnya kaki si gadis membiru, ia segera menyadari sesuatu telah terjadi. Segalanya telah terlambat, ular yang menggigitnya jenis kobra yang paling berbisa, dan gadis itu mati masih di sofa yang sama, telanjang dan masih basah oleh keringat persetubuhan.

Para tetangga yang tak tahan oleh gangguan jeritan setiap malam

menafsirkan tragedi tersebut sebagai kutukan atas hubungan percintaan mereka yang sembrono. Kliwon membawa mayat gadis itu pada Kamino si penggali kubur, dan meminta satu penguburan sebagaimana biasa dilakukan untuk orang­orang saleh. Hanya Kliwon ditemani si penggali kubur mengikuti prosesi tersebut, dan untuk itu Kliwon datang dengan pakaian terbaiknya, dicuri dari rumah seseorang. ”Ia hidup hanya untuk membuatku bahagia,” katanya sambil meneteskan air mata.

Ia meledak di hari ketujuh masa berkabung dengan membakar gubuk mereka tanpa sisa, apinya nyaris merembet melahap gubuk­gubuk kardus tetangga sebelum para pemilik berhamburan keluar dan memadamkan api dengan air comberan secepat mungkin. Ia mengamuk melempari orang­orang dengan tai anjing dan melempari beberapa lampu jalan dengan batu. Kesedihannya tak tertanggulangi oleh apa pun. Ia melempari kaca etalase toko roti di Jalan Merdeka dengan batu­batu sebesar kepalan tangan membuat gadis­gadis penjaga toko menjerit­jerit histeris. Ia melukai seorang petugas pos setelah merampas sepedanya begitu saja membuat tukang pos itu terguling dengan surat­surat berhamburan di jalan. Ia membunuh tiga ekor anjing yang muncul dari rumah orang­orang kaya, membacok roda mobil yang tengah diparkir di depan bioskop, dan membakar satu pos polisi. Semua tindakannya memancing polisi menjadi agresif, dan dengan cepat ia ditangkap tanpa perlawanan ketika ia tengah berusaha merobohkan batas kota. Ia ditahan tanpa seorang pun peduli apakah ia dibawa ke pengadilan atau tidak. Di dalam sel yang terisolasi sebab ia akan berkelahi dengan tahanan lain tanpa berpikir salah satu di antara mereka akan mati saling membacok, Kliwon menemukan ketenangannya kembali, berasal dari kemurungan yang semakin mengerak. Satu­satunya gangguan yang berasal darinya hanyalah bahwa jika malam hari tiba ia akan mengigau memanggil nama Isah Betina dalam teriakan­teriakan yang memekakkan telinga, mengalahkan lolongan anjing dan suara kucing kawin. Berita tentang seorang lelaki yang ditahan karena menderita oleh cinta segera tersebar dan sampai di telinga ibunya. Kliwon ditahan selama tujuh bulan, sampai Mina kemudian datang dan mengeluarkannya dengan jaminan. Ia membawa Kliwon pulang dengan cara menyeretnya, seperti ibu yang marah mendapati bocah kecilnya main di kubangan sapi. ”Tak adakah yang lebih berarti bagimu daripada cinta gadis­gadis itu?” tanyanya dalam kejengkelan, sambil memandikannya tanpa peduli bahwa anak lelakinya kini telah berumur dua puluh empat tahun.

Rumah itu masih seperti sediakala ketika ia meninggalkannya. Se­

mua barang­barangnya masih tergeletak di tempatnya, pada posisi terakhir ia meletakkannya. Ia membacai novel­novel picisan, yang dahulu dihadiahkan gadis­gadis kepadanya, tentang kisah cinta yang berakhir menyenangkan, dalam usaha sia­sia menghibur diri. Ia juga membacai puluhan surat cinta yang ditulis gadis­gadis yang sama untuknya, jelas tak terhibur sama sekali, kecuali menambah­nambah kemurungannya belaka. Segalanya tiba­tiba seperti kembali ke awal yang sama, pada kesedihan yang sama, pada rasa patah hati yang sama. Ia mencoba menemui kembali teman­temannya, beberapa di antara mereka telah kawin dan punya anak, meminta sedikit kebahagiaan mereka. Ia juga mengunjungi kembali teman­teman gadisnya, beberapa di antara mereka juga sudah kawin, bahkan ada yang janda, mencoba kembali bercinta dengan tiga atau empat dari mereka, sekadar untuk memperoleh kembali kehangatan cinta. Namun itu semua hanya membuatnya kembali terkenang pada Isah Betina.

”Pergilah kembali menggelandang,” kata ibunya. ”Mungkin bisa kau

temukan cinta yang lain.”

”Itulah yang akan kulakukan,” katanya. Ia telah mengemas semua barang­barangnya, dengan harapan jika ia pergi meninggalkannya, semua dalam keadaan rapi. Buku­buku yang semula berserakan di atas tempat tidur, meja dan lantai ia masukkan ke dalam kotak kardus dan menumpuknya rapi di sudut kamar. Ia juga merapikan semua pakaiannya di lemari, membungkus gitar lamanya, menyimpan piringan­piringan hitam yang pernah dimilikinya. Bahkan ia menyimpan baik­baik pisau cukur dan sikat giginya di laci. Hanya satu yang masih tergeletak di atas meja, dan tampaknya tak akan ia simpan di mana pun, sebab ia segera mengenakannya. Benda itu adalah topi pet pemberian Kamerad Salim. Ia berdiri di depan cermin, memandangi dirinya sendiri di sana. Tubuhnya telah menjadi begitu langsing oleh penderitaan selama bertahun­tahun, dengan wajah tirus dan mata yang redup. Rambutnya masih ikal sepanjang satu jengkal. Lama ia berdiri di sana, sambil sesekali memegangi topi pet tersebut, dan bertanya­tanya benarkah semua buruh di Rusia mengenakan topi semacam itu, sebagaimana dikatakan si orang komunis.

”Lihatlah orang murung itu,” katanya pada diri sendiri, ”cukup mu­

rung untuk mengenakan topi ini.”

Mina kemudian muncul dan berdiri di ambang pintu, melihat anaknya masih berdiri di depan cermin. Dengan pantalon yang tersetrika rapi, kemeja katun, dan bahkan topi pet, Mina mencoba menduga­duga ke mana Kliwon akan pergi. Tak mungkin jika ia hendak menggelandang kembali dengan cara seperti itu, maka ia kemudian bertanya:

”Kau tak tampak seperti gelandangan, Nak.”

”Sekarang dan mulai hari ini,” kata Kliwon sambil membalikkan badan menghadapi ibunya, ”Panggil aku Kamerad Kliwon, Mama.”
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊