menu

Cantik Itu Luka Bab 06

Mode Malam
6
Ia sedang bermeditasi ketika salah satu anak buahnya, prajurit Tino Sidiq, menemukannya berendam di pasir hangat hanya menyisakan kepala. Si prajurit tak berani mengganggunya, dan tak yakin ia bisa mengganggu. Meskipun mata Sang Shodancho terbuka lebar seperti orang yang mati dicekik, ia tak akan melihat siapa pun yang lewat di depannya. Jiwanya tengah mengembara di dunia cahaya, begitulah Sang Shodancho sering menceritakan keadaan ekstasinya sendiri. ”Meditasi menyelamatkanku dari melihat dunia yang busuk,” katanya dan melanjutkan, ”paling tidak aku tak melihat wajahmu.” Tak lama kemudian tubuhnya bergerak perlahan, matanya berkedip, satu hal yang diketahui prajurit Tino Sidiq sebagai akhir meditasinya. Ia keluar dari pasir dalam satu gerakan yang anggun, seolah melayang menghamburkan butir­butir pasir sebelum duduk di samping sang prajurit. Tubuhnya kurus dan telanjang, ia memiliki disiplin tubuh yang ketat, melakukan puasa Daud meskipun semua orang tahu ia bukan penganut

agama yang taat.

”Ini pakaianmu, Shodancho,” kata Tino Sidiq sambil memberikan seragam hijau tua.

”Setiap pakaian memberimu peran badut yang berbeda bagi jiwamu,” kata Sang Shodancho sambil mengenakan seragamnya. ”Kini aku Shodancho, sang pemburu babi.”

Tino Sidiq segera mengetahui peran itu sangat tak disukai Sang Shodancho, namun sekaligus isyarat bahwa ia akan mengambil peran tersebut. Beberapa hari lalu mereka menerima pesan langsung dari Mayor Sadrah, komandan militer Kota Halimunda, agar ia keluar dari hutan dan membantu penduduk memberantas babi. Dalam keadaan apa pun, Shodancho tak suka menerima perintah dari si bodoh Sadrah, begitulah ia selalu memanggilnya. Tapi pesan itu bagaimanapun penuh dengan pujian. Sadrah dengan kerendahatian yang sewajarnya mengatakan, hanya Shodancho yang mengetahui dengan baik Halimunda sebagaimana ia mengenal telapak tangannya sendiri, dan hanya kepadanya penduduk pinggiran kota mengharapkan bantuannya berburu babi. ”Beginilah jika dunia tanpa perang, tentara turun gunung untuk berburu babi,” kata Sang Shodancho lagi. ”Sadrah bodoh, ia bahkan

tak pernah tahu lubang pantatnya sendiri.”

Hutan itu adalah hutan yang sama tempat bertahun­tahun yang lalu Rengganis Sang Putri melarikan diri. Letaknya persis di daerah yang membentuk tanjung luas menyerupai telinga gajah, dikelilingi pantai yang berbatu karang dan berjurang terjal, hanya beberapa bagian merupakan pantai landai berpasir. Daerah tersebut nyaris tak terjamah manusia, sebab sejak masa kolonial telah ditetapkan sebagai hutan lindung dengan macan pohon dan gerombolan ajak masih hidup. Di sanalah Sang Shodancho telah tinggal lebih dari sepuluh tahun, di sebuah gubuk kecil sebagaimana yang pernah ia bangun di masa gerilya, bersama tiga puluh dua prajurit bawahannya. Mereka bergantian pergi ke kota dengan truk untuk semua urusan, bersama beberapa orang sipil yang datang membantu, tapi tidak Sang Shodancho. Penjelajahannya yang paling jauh selama sepuluh tahun tersebut hanyalah gua­gua, tempatnya bermeditasi, dan kembali ke gubuk hanya untuk memancing dan mempersiapkan makan bagi prajurit­prajuritnya, serta mengurus ajakajak yang telah dijinakkan. Hidupnya yang damai terganggu oleh pesan Sadrah yang memintanya membantu memberantas babi. Bagaimanapun, di hutan itu tak ada babi. Babi hidup di bukit­bukit sebelah utara Halimunda, dan itu berarti ia harus turun ke kota. Baginya, menerima perintah itu seperti mengkhianati kesetiaan pada kesunyian.

”Negara yang menyedihkan,” katanya, ”bahkan tentaranya tak bisa

memburu babi.”

Kunjungan terakhirnya ke kota nyaris sebelas tahun lalu. Setelah bertahun­tahun dalam gerilya, ia muncul ke kota setelah mendengar tentara­tentara KNIL akan dibubarkan. Semuanya telah selesai di meja perundingan, dan ia bahkan ikut mengantarkan sebagian besar tentara KNIL naik kapal untuk pulang. ”Sayonara,” katanya dengan kecewa. ”Bagaikan pemancing yang menanti dengan penuh kesabaran diberi kado sekeranjang ikan segar oleh seseorang.” Saat itu juga ia memutuskan untuk kembali ke hutan, diikuti tiga puluh dua prajuritnya yang setia, dan memulai pekerjaan mereka yang membosankan selama lebih dari sepuluh tahun tanpa perang. Bagaimanapun, mereka memiliki kesibukan. Ada truk­truk penyelundupan yang diurus oleh seorang pedagang yang ia kenal bahkan sejak masa pemberontakan pada Jepang, semua keamanan truk­truk itu ada di tangannya. Tentu saja ia tak pernah sungguh­sungguh mengawal mereka, semuanya bisa dibereskan ketiga puluh dua prajuritnya. Sebagaimana yang dikenal orang­orang dekatnya, ia lebih banyak menjelajah hutan untuk mencari gua­gua dan bermeditasi di sana, jika tidak memancing ikan caroang dan terus melatih kemampuan geraknya dalam pertempuran sungguhan. Ia selalu menghilang secara tiba­tiba dan muncul sama mengejutkannya, suatu teknik gerilya yang dikembangkannya sendiri.

Ia mengembangkan teknik tersebut setelah dipaksa untuk bergerilya

bertahun­tahun lampau. Itu waktu ketika ia masih sungguh­sungguh seorang Shodancho di Daidan Halimunda, di masa Jepang masih menduduki pulau Jawa dengan Tentara Keenam Belasnya. Waktu itu ia berumur dua puluh tahun, dan sebuah ide cemerlang tiba­tiba muncul di otaknya: memberontak. Orang pertama yang diajaknya adalah Sadrah, seorang shodancho di Daidan yang sama, sahabatnya sejak masih kecil. Mereka memulai karier militer secara bersama­sama ketika keduanya masuk Seinendan, barisan pemuda semi militer yang dibentuk Jepang. Mereka juga pergi bersama­sama ke Bogor untuk mengikuti pendidikan militer setelah Peta didirikan, dan lulus bersamaan sebagai shodancho sebelum kembali ke Halimunda memimpin shodan masing­masing. Kini ia berharap mengajak sahabatnya untuk memberontak bersamasama pula.

”Itu artinya kau mencari liang kubur,” kata Sadrah.

”Orang­orang Jepang datang dari jauh hanya untuk menguburku,” katanya dengan tawa kecil, ”cerita bagus untuk anak cucu.”

Ia shodancho paling muda di Halimunda, dengan perawakan yang paling kurus. Namun hanya ia sendiri yang memperoleh panggilan shodancho, dan ketika rencana pemberontakan akhirnya ditetapkan, ia memimpin sendiri gerakan tersebut. Ada delapan shodancho dengan anggota­anggota bundanchonya masing­masing menyatakan bergabung, serta dua chudancho menjadi penasihat gerilya. Daidanchonya mengetahui rencana tersebut, namun memilih angkat tangan dan tak ikut campur. ”Aku bukan penggali kubur,” kata Sang Daidancho, ”terutama untukku sendiri.”

”Kugalikan kuburan untukmu, Daidanchodono,” kata Sang Shodancho sebelum mempersilakannya meninggalkan rapat rahasia mereka. ”Ia lebih suka membusuk di balik meja,” katanya pada anggota rapat setelah Sang Daidancho pergi.

Ia membentangkan sebuah peta Halimunda sederhana, dan memulai rencana besar mereka. Di tempat­tempat tertentu, di mana orangorang Jepang bermarkas, ia memberi tanda dengan sandi­sandi pasukan Kurawa, dan untuk pasukannya sendiri, ia memberi sandi Pandawa. Mereka menyukai gagasan tersebut, meskipun Sang Shodancho segera mengingatkan, ”Tak ada Bhisma yang tak bisa mati dan tak ada Yudistira yang tak bisa berbohong: semua orang bisa mati dan harus hidup meskipun dengan cara berbohong.” Ketika kecil kakeknya mendongengi lelaki itu dengan kisah­kisah pahlawan Mahabharata, dan hidup dengan semangat perang yang meletup­letup hingga banyak orang sering berkomentar, ”Ia seharusnya jadi Komandan Tentara Keenam Belas.”

Kenyataannya, rapat­rapat rahasia itu membutuhkan waktu enam

bulan sebelum mereka cukup yakin bisa melakukan pemberontakan. Mereka menghitung berapa senjata dan sebanyak apa amunisi yang dimiliki, rencana­rencana pelarian jika gagal, dan target­target jika kota Halimunda berhasil dikuasai. Beberapa kurir dikirim untuk memperoleh dukungan dari beberapa Daidan lain, sebab tanpa mereka, keberhasilan pemberontakan hanya akan bertahan dalam beberapa hari. Ketika segalanya telah matang, rangkaian pertemuan gelap itu berakhir di awal bulan Februari: pemberontakan sendiri akan dilaksanakan pada pertengahan bulan itu juga, tanggal empat belas.

”Mungkin aku tak akan pernah kembali,” katanya ketika ia harus berpamitan pada kakeknya. ”Atau pulang sebagai bangkai.”

Mendekati hari pemberontakan ia mengumpulkan senapan dan mesiu secukupnya, dan memastikan obat­obatan telah disebar di kantong­kantong pelarian seandainya mereka harus jadi buronan. Ia menghubungi seorang pedagang bernama Bendo, yang telah dibantunya dalam penyelundupan kayu jati, untuk menyediakan bahan makanan bagi keperluan gerilya, seandainya perang gerilya dibutuhkan. Ia juga menemui secara langsung bupati, walikota dan kepala polisi, mengatakan bahwa tanggal 14 Februari ada latihan perang, diikuti semua prajurit Peta di Halimunda, dan tak seorang pun boleh mengganggu. Itu pesan secara tak langsung bahwa mereka akan memberontak. Mata dan telinganya dipasang dengan baik terhadap kemungkinan adanya pengkhianatan.

”Dan hari ini,” katanya pada pukul setengah tiga hari pemberontakan, ”adalah hari tersibuk bagi para penggali kubur.”

Pembukaan pemberontakan berjalan begitu cepat, diawali penembakan ke markas Kenpetai, tentara Jepang, di Hotel Sakura. Tiga puluh orang dieksekusi di lapangan bola, terdiri dari dua puluh satu orang tentara dan pegawai sipil Jepang, lima orang Indo­Belanda dan empat orang Cina yang dicurigai membantu orang­orang Jepang. Mayat­mayat itu diseret cepat menuju tempat pemakaman, dan dilemparkan begitu saja di depan rumah penggali kubur.

Sambutan publik sangatlah tidak menggembirakan. Mereka lebih suka mengurung diri di dalam rumah, mengetahui dengan pasti itu awal dari satu teror yang lebih menakutkan: bantuan tentara Jepang akan segera berdatangan ke kota itu dan menghabisi para pemberontak tanpa sisa. Sebaliknya, para pemberontak menganggap itulah kemenangan mereka, dan tampak bersuka ria. Mereka menurunkan Hinomaru, bendera Jepang, dan menggantinya dengan bendera mereka sendiri. Mereka berkeliling kota dengan truk dan meneriakkan slogan­slogan kemerdekaan, diikuti nyanyian lagu­lagu perjuangan. Ketika senja datang, tiba­tiba mereka menghilang seperti ditelan malam. Mereka tahu, orang­orang Jepang telah mendengar pemberontakan itu, dan bahkan seluruh Jawa mungkin telah mengetahuinya, dan secepat pagi datang, tentara bantuan sudah tiba. Itu malam terakhir mereka berkeliaran, dan selanjutnya adalah gerilya.

”Setelah segalanya,” kata Sang Shodancho, ”Kita harus meninggal­

kan Halimunda sampai Jepang kalah.” Mereka membagi pasukan pemberontak dalam tiga kelompok dan memecahnya. Kelompok pertama di bawah komando Shodancho Bagong dengan seorang chodancho penasihat, akan bergerak ke wilayah barat untuk menghadang laju tentara Jepang maupun Peta yang masuk Halimunda dari arah tersebut. Mereka akan memasuki daerah tak bertuan di perbatasan distrik di mana ancaman terbesar untuk bertahan adalah gerombolan perampok. Kelompok kedua dipimpin oleh Shodancho Sadrah dengan seorang chodancho sebagai penasihat, bergerak untuk menghadang di pintu masuk utara, akan menempati hutan lebat berbukit­bukit. Kelompok terakhir bergerak ke arah timur, menguasai jalan masuk sungai dan harus bersiap dalam pertempuran di atas rawarawa serta serangan disentri dan malaria, dipimpin langsung oleh Sang Shodancho. Perbatasan selatan mereka abaikan, sebab alam telah membantu mereka: laut selatan yang ganas. Mereka bergerak sebelum tengah malam, ketika ajak­ajak mulai melolong di kejauhan.

Bagaimanapun, itu perang sungguhan mereka yang pertama. Ada

gelora dan ada ketakutan. Dua orang prajurit masih menangis merindukan ibu mereka, namun ketika komandan akan memulangkan mereka, semangat keduanya muncul kembali, bertekad memenangkan semua peperangan atau mati. Mereka terus bergerak ke tempat­tempat yang telah direncanakan dalam rapat­rapat terakhir, menenteng senapan­senapan yang mereka peroleh secara serampangan dari pelucutan senjata KNIL beberapa waktu lalu, sebagian besar senapan pendek karabin dan beberapa senapan panjang steyer. Ada mortir kecil dan mortir ukuran 8 milimeter yang mereka curi dari daidan. Hanya para shodancho dan bundancho menenteng senapan, sementara para tamtama, orang Jepang menyebutnya giyukei, diperkenankan membawa sangkur atau sekadar bambu runcing. Dua orang prajurit pengintai berjalan sedikit di depan, sementara dua prajurit penjaga berjalan sedikit di belakang. Dengan senjata seadanya, mereka bertekad memenangkan perang melawan pasukan paling hebat di Asia, pasukan yang pernah memenangkan perang di Rusia dan Cina, pasukan yang mengusir Prancis, Inggris dan Belanda dari koloni mereka, pasukan yang kini berperang di laut Pasifik melawan hampir separuh dunia, pasukan yang bahkan mengajari mereka bagaimana menenteng senapan dengan benar. ”Pahlawan akan menang,” kata Sang Shodancho membesarkan hati. ”Meskipun selalu terlambat.”

Pada hari pertama gerilya, rombongan Sang Shodancho menyerang truk berisi beberapa prajurit Jepang yang tengah menuju delta, tempat penjara Bloedenkamp berada. Sebuah mortir diledakkan persis di bawah tanki bensinnya, dan truk meledak membunuh semua penumpang. Itu aksi mereka yang paling dahsyat, sebelum menerima berita dari seorang kurir bahwa pasukan barat melakukan perang terbuka dengan tentara Jepang di hutan perbatasan distrik dalam satu pertempuran yang sengit. Bagong dan semua anak buahnya berhasil meloloskan diri dari kepungan musuh dan bersembunyi di dalam hutan sementara tentara Jepang tampaknya enggan mengejar. Rombongan utara menyerang orang­orang Jepang sepanjang jalan utama sebelum dihadang pasukan besar tentara Jepang yang mulai berdatangan. Mereka memperoleh perintah untuk kembali ke daidan, dan demikianlah: Shodancho Sadrah dan semua prajuritnya kembali ke kota dalam keadaan menyerah.

”Bahkan keledai tak pernah ingat jalan pulang,” kata Sang Shodan­

cho. ”Ia lebih bodoh dari keledai.”

Pada hari kedua mereka bertemu dengan pasukan Jepang yang menghadang dan pecah pertarungan di sepanjang tepian sungai. Mereka berhasil membunuh dua prajurit Jepang, tapi harga yang harus dibayar terlalu mahal. Lima orang prajurit pemberontak tewas dalam sekali serangan, dan tiba­tiba mereka telah dikepung. Dalam satu penyelamatan yang sia­sia, sisa pasukan melarikan diri melalui sungai dan menjadi bulan­bulanan senjata musuh. Sang Shodancho selamat bersama sedikit pengikutnya, setelah melakukan penyelaman yang berakhir dengan kematian salah seorang di antara mereka, dan segera melarikan diri. Orang­orang Jepang menganggapnya mati tenggelam: itu membuatnya aman sementara waktu.

Ia segera mengubah rute gerilya yang telah ditetapkannya: mereka akan kembali, tapi tidak untuk menyerah. Ada hutan lindung di bagian selatan kota, pada sebuah tanjung. Itu taktiknya yang paling hebat yang pernah didengar anak buahnya. Mereka berjalan memutar melalui rawarawa bakau, sebelum dilanjutkan dengan naik rakit sepanjang pantai dan masuk hutan melalui pantai bertebing karang. Sementara itu, tentara Jepang dan Peta yang mengejar mereka terkecoh, menganggap mereka akan terus melakukan perjalanan ke arah timur dan bergabung dengan pemberontak dari daidan lain, sebagaimana yang telah direncanakan. Sang Shodancho telah memperhitungkan dengan cepat: pemberontakan gagal. Jepang telah mendengarnya begitu cepat, sementara daidandaidan lain urung membantu. Cara terbaik adalah lari ke hutan terdekat dengan kota, mempersiapkan perang gerilya yang sesungguhnya.

Mereka bersembunyi di sebuah gua, selama beberapa hari tanpa mencoba menampakkan diri di daerah terbuka, sebab para nelayan bisa melihatnya dari tengah laut. Seorang kurir telah dikirim untuk mengetahui keadaan pasukan barat, dan situasi kota secara umum. Ia kembali dengan berita buruk: tentara Jepang dan Peta mengurung pertahanan mereka dan mengobrak­abrik hutan persembunyian itu. Hanya para perampok yang dibiarkan melarikan diri, sementara semua pemberontak ditangkap hidup­hidup setelah pertempuran hebat selama satu hari satu malam. Mereka bahkan tetap tak menyerah meskipun mesiu telah habis dan yang tersisa hanya sangkur dan bambu runcing. Atas kekeraskepalaan mereka, enam puluh orang prajurit yang tersisa, termasuk Shodancho Bagong dan chudancho penasihatnya, akan dieksekusi pada tanggal 24 Februari di halaman depan daidan.

Sang Shodancho turun gunung menyamar sebagai kere, pengemis

kurus dengan pakaian gombal dan dipenuhi kudis. Penyamaran itu tidaklah begitu sulit, setelah hampir sepuluh hari bergerilya, ia tak jauh beda dengan kere sesungguhnya. Dengan rambut yang kaku, ia masuk ke kota dan tak seorang pun mengenalinya. Ia berjalan sepanjang trotoar, dengan tangan menggenggam kaleng bekas berisi sebutir batu yang ia goncangkan perlahan. Di depan markas daidan, ia berhenti di bawah pohon flamboyan di seberang jalan, dan melihat eksekusi tersebut. Satu per satu, enam puluh orang tanpa sisa, ditembak mati. Mayat­mayat itu kemudian dilemparkan ke dalam truk dan mereka ditinggalkan begitu saja di depan rumah penggali kubur.

”Jangan pernah berniat mati untuk dilupakan,” katanya pada prajurit tersisa yang masih menemani, ketika mereka mengibarkan bendera dalam duka cita di kubu gerilya. ”Meskipun percayalah, tak banyak orang bersedia mengingat apa pun yang bukan urusannya.” Ia merencanakan satu pembalasan dendam yang sangat kejam. Suatu malam, ia memimpin sendiri satu penyergapan terhadap sebuah pos militer dan mencuri mesiu sebelum membunuh enam prajurit Jepang dan melemparkan mayatnya begitu saja di jalanan. Sebelum pulang mereka meledakkan sebuah truk dan segera menghilang sebelum ayam jago terbangun. Enam mayat tentara Jepang di jalanan segera membuat gempar kota itu keesokan harinya, dan mereka bertanya­tanya siapa yang melakukannya. Tapi orang­orang Jepang dan orang­orang daidan, termasuk Sadrah, segera menyadari hal ini: Sang Shodancho masih hidup, dan ia telah mengumumkan perang tanpa akhir.

Orang­orang Jepang dari Kenpetai, yang marah dengan lelucon tak lucu itu, segera melakukan pengejaran yang membabi buta, namun mereka segera kehilangan jejak. Orang­orang itu menggeledah rumahrumah penduduk, menanyai setiap orang apakah mereka melihat Sang Shodancho dan anak buahnya, dan tak memperoleh apa pun. Pada hari ketiga setelah pembunuhan enam orang Jepang, gudang makanan dan sebuah truk dicuri, setelah membunuh dua orang Jepang penjaganya. Truk ditemukan terperosok ke dalam sungai namun karung­karung beras telah menghilang. Prajurit Jepang segera menyisir sepanjang garis sungai dan tak menemukan apa pun.

Seorang kurir datang suatu malam ke gubuk tempat Sang Shodancho tinggal selama gerilya, dua bulan setelah hari pemberontakan, dan memberitahu bahwa pemberontakan mereka telah terdengar hampir seluruh orang Jawa. Pemberontakan mereka telah memancing beberapa pemberontakan kecil di beberapa daidan, meskipun semuanya gagal, tapi itu telah membuat Jepang sungguh­sungguh khawatir sehingga terdengar desas­desus bahwa Peta akan dibubarkan dan semua senjata akan dilucuti.

”Itulah risiko memelihara anak harimau lapar,” kata Sang Shodancho.

Mereka merobohkan sebuah jembatan dengan lima truk Jepang sarat prajurit berada di atasnya, empat hari kemudian. Itu membuat Halimunda terisolasi selama beberapa bulan, dan para gerilyawan aman di tempat mereka.

***

Di suatu pagi yang cerah, yang tak terlupakan sebab hari itu mereka akan berpesta, Sang Shodancho yang habis buang hajat di sebuah batu karang menemukan sebongkah mayat lelaki, terdampar dilemparkan ombak. Mayat itu sudah sedemikian bengkaknya seolah hendak meletus, meskipun tak memberikan bau yang menyengat. Ia hanya mengenakan cawat. Bersama beberapa prajurit, ia menariknya ke pantai dan mengamati si mayat orang tenggelam. Ada bekas luka dalam di perutnya.

”Itu sabetan sangkur,” kata Sang Shodancho. ”Ia dibunuh Jepang.” ”Ia pemberontak dari daidan lain,” kata seorang prajurit.

”Atau ia meniduri gundik Kaisar Hirohito.”

Tiba­tiba Sang Shodancho terdiam dan memandangi wajah mayat itu. Jelas ia pribumi. Wajahnya tirus seperti kurang makan, sebagaimana kebanyakan pribumi, licin tanpa janggut dan kumis. Tapi bukan itu yang membuatnya tertarik, melainkan bentuk mulutnya yang aneh. Ia akhirnya segera menyimpulkan, ”Lelaki ini mengulum sesuatu.” Dengan jari tangannya, ia mencoba membuka rahang mayat tersebut, dibantu seorang prajurit. Rahangnya sangat kaku sehingga agak menyulitkan, sebelum akhirnya terbuka.

”Tak ada apa­apa,” kata si prajurit.

”Tidak,” jawab Sang Shodancho. Ia merogoh mulut mayat tersebut dan mengeluarkan secarik kertas yang nyaris terkoyak­koyak oleh rembesan air. ”Ia dibunuh karena ini,” kata Sang Shodancho lagi. Ia menghamparkan kertas tersebut di atas batu karang yang hangat. Tampaknya itu sebuah selebaran, dicetak dengan mesin stensil. Rembesan air laut yang masuk ke mulut si mayat membuat tintanya sedikit luntur, tapi Sang Shodancho masih bisa membacanya dengan jalas, sebab tulisan itu sendiri begitu pendek dan teramat terang. Semua orang tampak berdebar­debar, berharap itu pesan besar, sebab tak mungkin seseorang dibunuh karena membawa segepok selebaran tanpa arti. Dengan jarijemari yang bergetar, bukan karena hawa dingin atau kelaparan, Sang Shodancho mengangkat kertas tersebut dengan air mata bercucuran menambah kebingungan para prajuritnya. Mereka belum juga bertanya ketika ia berkata lebih dahulu, ”Tanggal berapakah sekarang?” tanyanya.

”23 September.” ”Kita terlambat lebih dari sebulan.” ”Untuk apa?”

”Untukpesta,”katanya.Laluuntukmerekaiamembacakanapa yangtercetakdiselebaranmiliksiorangmati.”PRoklAMAsI:KAMI BANGsA INDoNEsIA DENGAN INI MENYATAkAN kEMERDEkAANNYA … 17 AGUSTUS 1945, ATAS NAMA BANGSA INDONESIA, SOEKARNO­HATTA.”

Ada keheningan sejenak, sebelum pecah menjadi keributan yang berasal dari pekik teriakan. Kecuali Sang Shodancho, mereka berlarian ke arah bukit dan menari­nari kesetanan di depan gubuk gerilya, sambil menyanyikan lagu­lagu. Tanpa seorang pun memerintahkannya, mereka berkemas mengumpulkan barang­barang, seolah segalanya telah berakhir. Mereka bahkan bersiap untuk lari keluar hutan dan menghambur ke kota untuk membawa kabar gembira tersebut, namun Sang Shodancho segera menghadang sebelum kegilaan tersebut berlanjut lebih jauh. ”Kita harus rapat sekarang juga,” katanya.

Mereka menurut dan berkumpul di depan gubuk.

”Masih ada banyak Jepang di Halimunda,” kata Sang Shodancho, ”Mereka pasti telah tahu tapi bungkam.” Ia segera membuat strategi. Separuh dari mereka harus melakukan serangan cepat ke kantor pos, dan melakukan penyanderaan jika diperlukan. Itu tak terlalu membahayakan, sebab semua pegawai pos adalah pribumi. Di sana ada mesin stensil dan mereka harus menyalin naskah orang mati itu, mencetaknya dan sesegera mungkin menyebarkannya ke seluruh kota. ”Pakai tukang pos!” katanya yakin. Separuh yang lain akan menyusup ke daidan dan mengatakan apa yang terjadi, melakukan pelucutan senjata orangorang Jepang, memobilisasi massa dan mengadakan pertemuan besar di lapangan bola. Rapat tersebut berjalan cepat dan ringkas, dan dipimpin Sang Shodancho sendiri, mereka keluar dari hutan.

Bahkan kedatangan mereka di kota telah membuat gempar semua orang, belum lagi dengan selebaran yang segera dibagi­bagikan begitu selesai dicetak di kantor pos. Sang Shodancho berhasil merampas sebuah truk dan dengan beberapa orang, mereka berkeliling kota sambil berteriak, ”Indonesia merdeka 17 Agustus, Halimunda menyusul 23 September.” Semua orang yang berdiri di pinggir jalan terdiam mematung. Tukang cukur bahkan nyaris menggunting telinga pelanggannya, dan orang Cina penjual bakpau melaju dengan sepeda tak terkendali sebelum terguling menabrak pintu toko. Mereka memandang truk yang lewat itu dengan tak percaya, kemudian memunguti kertas­kertas yang bertebaran dan membacanya. Kegembiraan mulai pecah ketika anakanak sekolah mulai menari­nari di pinggir jalan, dan orang­orang dewasa kemudian mengikuti mereka.

Orang­orang Jepang keluar dari kantor­kantor mereka, termasuk komandan tentara, Sang Sidokan. Mereka dibuat tak berdaya mengetahui apa yang terjadi, dan tak melakukan perlawanan apa pun ketika para prajurit Peta dari daidan muncul melucuti senjata mereka. Tanpa upacara yang semestinya, sebagaimana sebelumnya sering dilakukan, mereka menurunkan Hinomaru sambil membantingnya ke muka orang­orang Jepang, ”Makan bendera celaka ini!” lalu menggantinya dengan Merah Putih dalam upacara yang khidmat, sambil menyanyikan Indonesia Raya. Orang­orang mulai berkerumun di lapangan bola, kurus­kerempeng dengan pakaian gombal, tapi tampak berbinar­binar. Tak pernah dalam hidup mereka, juga tak pernah diceritakan oleh nenek moyang mereka, bahwa ada yang namanya merdeka. Tapi hari itu mereka mendengarnya: Indonesia merdeka, dan tentu juga Halimunda. Sang Shodancho memimpin upacara pengibaran bendera di sore hari, sambil membacakan ulang teks proklamasi, sementara para penduduk itu duduk bersila di atas rumput dan hanya anggota militer mengikuti upacara dengan sikap berdiri tegak. Sejak tahun itu hingga bertahun­tahun kemudian, hanya anak sekolah dan tentara melaksanakan upacara peringatan proklamasi setiap tanggal 17 Agustus, namun para penduduk melakukan upacara mereka sendiri, dan anak­anak sekolah serta tentara akhirnya ikut juga, pada tanggal 23 September. Di hari itu mereka tak hanya menghormati bendera dan membacakan teks proklamasi serta menyanyikan Indonesia Raya, tapi saling mengirim rantang makanan dan mengadakan pasar malam. Dan jika ada orang asing bertanya, bahkan kemudian jika guru bertanya pada anak sekolah, kapan Indonesia merdeka, mereka akan bilang, ”23 September.” Beberapa usaha pernah dilakukan oleh pemerintah pusat untuk mengatasi kekeliruan tersebut dan menjelaskan soal keterlambatan informasi di tahun 1945, tapi penduduk Halimunda bahkan rela mati untuk tetap berpegang teguh merayakan hari kemerdekaan tanggal 23 September. Akhirnya tak seorang pun mempermasalahkannya lagi.

Keributan muncul ketika segerombolan penduduk menyeret Sang Daidancho, dan tampaknya akan dieksekusi secara kejam dengan tuduhan melakukan pengkhianatan pada saat pemberontakan. Mereka bersiap menggantungnya di bawah pohon ketapang yang tumbuh di pojok lapangan bola, sebelum Sang Shodancho menghentikan tindakan tersebut. Ia melepaskan Sang Daidancho dan membawanya ke tengah lapangan. Ia telah mengetahui pengkhianatannya, dan untuk itu ia memberikan sepucuk pistol kepadanya. Didengarkan semua orang yang mengerubungi mereka, ia berkata:

”Kita sama­sama dididik orang Jepang, kau tahu apa yang harus dilakukan seorang pengkhianat.”

Sang Daidancho menempelkan pistol di kepalanya dan mengakhiri hidupnya sendiri. Meskipun begitu, Sang Shodancho memerintahkan semua prajurit untuk melakukan upacara penghormatan terakhir, dan mayat Daidancho diselimuti bendera, dikuburkan di sebidang tanah kosong tak jauh dari rumah sakit kota, cikal bakal taman makam pahlawan mereka. Itu satu­satunya peristiwa kematian di hari itu. Sang Shodancho mengambil alih seluruh kekuasaan daidan dan segera mengirim beberapa kurir untuk memperoleh lebih banyak informasi, dan bersama penduduk kota mereka memperbaiki jembatan yang pernah dihancurkannya. Kurir­kurir tersebut telah berdatangan dua hari kemudian, mengatakan bahwa Peta telah dibubarkan dan di semua daidan telah didirikan Badan Keamanan Rakyat.

Mereka mendirikan Badan Keamanan Rakyat. Tapi dua hari kemudian datang kurir lain dan mengatakan, Badan Keamanan Rakyat telah dibubarkan dan diganti Tentara Keamanan Rakyat.

”Jika itu diganti lagi,” katanya jengkel, ”Halimunda akan berperang melawan Indonesia.”

Ada beberapa keputusan pemerintah yang dibawa beberapa kurir, yang memberikan pengarahan tentang pendistribusian pangkat. Sang Shodancho, melebihi teman­teman komandan shodan lainnya, memperoleh pangkat letnan kolonel dan sahabatnya yang bodoh itu, Sadrah, sudah merasa puas sebagai Mayor Sadrah. Namun Sang Shodancho tak begitu memperhatikan soal­soal seperti itu, dan berkata pada semua orang, ”Aku lebih suka tetap sebagai Shodancho.” Beberapa minggu setelah itu, kurir lain datang membawa sepucuk surat yang tampaknya telah ditulis lama sekali dan baru datang ke alamat penerima berbulanbulan kemudian. Surat itu datang dari Presiden Republik Indonesia, ditujukan untuk Sang Shodancho. Isi surat tersebut dengan segera diketahui seluruh penduduk kota, bahwa Presiden Republik Indonesia, telah menunjuk Sang Shodancho sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat dengan pangkat jenderal, atas kepahlawanannya memimpin pemberontakan 14 Februari.

Sementara penduduk kota merayakan penunjukannya sebagai Panglima Besar, Sang Shodancho menghilang ke tempat persembunyiannya selama gerilya melawan tentara Jepang. Sepanjang hari itu ia seorang diri memancing dan berenang di laut, bermeditasi sambil mengapung di permukaan air seolah ia mayat tenggelam. Ia tak ingin memikirkan mimpi buruk menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat. Sebelum kepergiannya, ia sempat bilang pada Mayor Sadrah, ”Betapa menyedihkan mengetahui bahwa akulah yang pertama melakukan pemberontakan dan karena itu terpilih menjadi Panglima Besar. Aku bertanya­tanya tentara seperti apa yang kita miliki, memilih seorang lelaki yang bahkan belum mengenal kemaluan perempuan sebagai Panglima Besar.” Ia segera ditemukan beberapa sahabatnya menjelang malam dan mereka membawanya pulang.

Seminggu setelah itu, ia memperoleh berita melegakan yang dibawa

kurir lain. Mengingat kursi Panglima Besar tak juga pernah diduduki Sang Shodancho selama berbulan­bulan, para panglima divisi dan komandan resimen seluruh Jawa dan Sumatera bermusyawarah untuk mencari pengganti dirinya. ”Presiden Republik telah mengangkat Kolonel Sudirman sebagai Panglima Tentara Keamanan Rakyat dengan pangkat jenderal,” kata sang kurir.

”Puji Tuhan,” katanya, ”Jabatan itu hanya cocok bagi orang yang menginginkannya.”

Sementara seluruh penduduk Halimunda bersedih atas penggantian tersebut, Sang Shodancho sendirian larut dalam kebahagiaan yang tak tergambarkan oleh siapa pun. Tentara Keamanan Rakyat kemudian diganti menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Mereka baru mengganti papan nama ketika berita baru muncul: Tentara Keselamatan Rakyat diganti menjadi Tentara Republik Indonesia.

”Apakah kita akan berperang melawan Indonesia?” tanya Mayor Sadrah.

Sang Shodancho tertawa dan menggeleng. ”Tak perlu,” katanya menenangkan. ”Sebagai sebuah negara, kita bahkan baru belajar membuat nama.”

Tentara­tentara Jepang belum juga angkat kaki dan mereka tak juga sempat merasakan masa damai ketika kapal­kapal Sekutu mulai beterbangan di udara Halimunda. Hanya dalam beberapa hari, tentaratentara Inggris dan Belanda berdatangan. Tawanan­tawanan KNIL dibebaskan dan kembali dipersenjatai, dan mereka mulai melucuti senjata­senjata tentara pribumi. Sang Shodancho segera mengambil tindakan darurat, membawa seluruh prajuritnya kembali masuk ke hutan. Kali ini ia menyebar mereka ke empat penjuru mata angin, dengan ia sendiri memimpin pasukan yang akan bertahan di hutan tanjung daerah selatan. Ia memutuskan untuk bergerilya kembali melawan tentaratentara Sekutu yang membawa orang­orang Belanda NICA, Netherlands Indies Civil Administration. Ternyata mereka tak sendirian pergi ke hutan. Penduduk sipil, kebanyakan lelaki muda, mengikuti mereka di belakang, bersumpah setia pada Sang Shodancho dan meminta dipimpin untuk ikut bergerilya. Ia terpaksa memecah semua prajuritnya untuk memimpin unit­unit kecil tentara gerilya yang sebagian besar merupakan penduduk sipil tersebut. Beberapa di antara mereka adalah orang­orang yang sama dengan pembunuh beberapa prajurit Belanda dan memerkosa Dewi Ayu bersama teman­temannya sebelum tentara Inggris datang dan melindungi gadis­gadis itu.

Perang gerilya itu menghabiskan waktu selama dua tahun, lebih

banyak menderita kekalahan daripada kemenangan. Namun tentara KNIL tak pernah mendapatkan orang yang selalu mereka cari: Sang Shodancho, meskipun mereka tahu ia berada di hutan tanjung. Pintu masuk hutan itu dipenuhi gerilyawan, yang berlindung di bentengbenteng pertahanan buatan orang­orang Jepang, dan terutama karena mereka mengenal daerah tersebut lebih dari siapa pun. Tentara KNIL dibantu tentara Inggris tak pernah punya keberanian masuk ke dalam hutan dan memilih bertahan di kota, sementara tentara gerilya kesulitan untuk masuk kota. Tentara KNIL mencoba untuk memblokir arus bahan makanan dan amunisi, tapi itu tampaknya sia­sia sebab tentara gerilya menanam sendiri padi di tengah hutan dan mereka telah terbiasa berperang tanpa amunisi. Beberapa kali dicoba dengan pengeboman udara, tapi tentara Jepang telah mendidik mereka menghindarinya dengan benar.

Itu adalah waktu ketika Sang Shodancho mengembangkan teknikteknik gerilyanya. Ia menemukan cara­cara terbaik melakukan penyamaran, dan penyusupan dalam gerakan cepat. Ia bisa muncul tiba­tiba dan menghilang secepat ia datang, dan dicari­cari para pengikutnya hanya karena ia menyamar menjadi salah seorang dari mereka.

”Berbeda dengan petak umpet,” katanya, ”sekali ditemukan gerilyawan mati.”

Hingga kemudian ia memperoleh berita yang menghentikan semua perang: Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia di meja perundingan. Itu terasa menyebalkan baginya: republik ini telah merdeka empat tahun lalu, tapi Belanda baru mengakuinya sekarang, dan pemerintahan sipil menerimanya begitu saja, asalkan mereka pergi.

”Seolah perang selama ini tak ada artinya sama sekali,” katanya kecewa.

Meskipun begitu, bersama pasukan inti gerilyanya, Sang Shodancho keluar dari hutan. Kemunculan mereka disambut meriah penduduk kota, sebab bagaimanapun ia masih pahlawan mereka. Bendera warnawarni dikibarkan orang di sepanjang jalan, sementara penduduk kota yang sebagian besar juga baru keluar dari hutan berdiri sepanjang jalan. Sang Shodancho duduk di atas keledai, tak memedulikan sambutan yang berlebihan itu, dan langsung menuju pelabuhan. Di sana para prajurit dan orang­orang Belanda sipil tengah bersiap­siap naik ke atas kapal yang akan mengangkut mereka semua pulang. Ia menghampiri komandan tentara KNIL, yang terpesona di akhir tugasnya ia bisa melihat musuh yang paling dicarinya itu. Mereka berjabat tangan dalam keadaan yang sangat akrab, dan bahkan berpelukan.

”Kapan­kapan kita perang lagi,” kata komandan itu. ”Ya,” balas Sang Shodancho, ”Jika Ratu Belanda dan Presiden Republik Indonesia mengizinkan.”

Mereka kemudian berpisah di tangga kapal. Sang Shodancho masih berdiri di bibir dok sementara tangga telah diangkat, dan sang komandan berdiri di pagar kapal yang tengah mengangkat jangkar. Ketika gemuruh mesin mulai terdengar dan kapal mulai bergoyang, keduanya saling melambaikan tangan.

”Sayonara,” kata Shodancho akhirnya.

Akhir perang ternyata memberi kesunyian tertentu seperti orangorang yang tiba­tiba pensiun. Selama beberapa hari itu Sang Shodancho menghabiskan waktu di bekas markas shodannya sendiri, di daerah sepanjang pantai Halimunda. Sehari­hari ia hanya menyabit rumput memberi makan keledai yang ditungganginya saat menuju pelabuhan, atau memancing ikan di sungai kecil tak jauh dari markas shodan. Sampai akhirnya ia mengumpulkan para sahabatnya, dan berkata pada mereka bahwa ia akan kembali ke hutan, sampai batas waktu yang tak ditentukan.

”Apa yang akan kau lakukan?” tanya Mayor Sadrah, kini ia penguasa militer kota, ”Tak ada lagi gerilya.”

Dengan tenang Sang Shodancho menjawab, ”Tak ada yang harus dikerjakan tentara di masa damai. Maka aku akan berdagang saja di tengah hutan.”

Kenyataannya, itulah memang yang ia lakukan. Ia menghubungi Bendo, pedagang yang pernah dilindunginya menyelundupkan kayu jati dan sebagai balasannya membantu logistik selama gerilya. Bersama seorang pedagang Cina yang dibawa Bendo, Sang Shodancho memulai bisnis penyelundupan lebih banyak barang melalui hutan tanjung. Setelah kesepakatan dicapai, ia bersiap untuk kembali ke hutan, bersama tiga puluh dua prajurit paling setia yang akan menemaninya dalam urusan yang baru.

”Kini, musuh kita satu­satunya adalah para perampok,” katanya pada ketiga puluh dua prajurit tersebut.

Itu benar. Semua orang di kota itu, sipil maupun militer, mengetahui belaka semua aktivitas penyelundupan mereka. Segala hal keluar masuk melalui pelabuhan kecil yang dibangun di ujung tanjung: tivi, jam tangan, kopra, bahkan sandal jepit. Penduduk kota tak pernah mengeluhkan apa pun, sebab Sang Shodancho masih pahlawan mereka, dan barang­barang itu kadang tercecer di Halimunda dengan harga sangat murah sebelum dikirim ke banyak kota. Dan pejabat militer pun bungkam, bukan karena Mayor Sadrah sahabat belaka dari Sang Shodancho, tapi Sang Shodancho memotong separuh penghasilannya untuk para jenderal di ibukota. Semua orang segera menyadari, di luar bakat alaminya untuk berperang, ia punya naluri bisnis yang luar biasa. ”Tak ada bedanya perang maupun bisnis,” kata Sang Shodancho

membuka rahasia, ”Keduanya dikerjakan dengan sangat licik.”

Sebenarnya Sang Shodancho tak terlalu banyak terlibat dengan urusan bisnis itu, sebab semuanya telah ditangani dengan baik ketiga puluh dua prajuritnya. Ia menghabiskan waktu lebih dari sepuluh tahunnya hanya untuk tinggal di gubuk gerilya, memancing, meditasi, dan memelihara ajak. Bahkan ia menyuruh para prajuritnya untuk memiliki rumah dan tinggal di kota, dan juga kawin, hanya saja secara bergantian mereka menemani Sang Shodancho di hutannya yang sunyi. Ketika para prajuritnya mulai kehilangan semua insting berperang, yang diawali membengkaknya tubuh mereka disebabkan konsumsi yang berlebihan, dan gaya hidup yang menyenangkan, Sang Shodancho masihlah seperti dulu juga. Tubuhnya masih kurus, dan kemampuan geraknya tak pernah merosot sedikit pun. Ia memaksakan dirinya untuk terus bekerja, bahkan termasuk menyiapkan makanan bagi para prajurit, meskipun ia makan paling sedikit. Ia tampak mulai menikmati pola hidupnya yang damai, hingga Mayor Sadrah memintanya keluar hutan untuk memberantas babi di lereng bukit Ma Iyang dan Ma Gedik.

”Aku tak tahu, apakah para prajurit masih bisa diajak berburu babi,” kata Tino Sidiq pada Sang Shodancho. ”Selama sepuluh tahun mereka hanya duduk di belakang kemudi truk.”

”Tak apa, aku telah merekrut prajurit­prajurit baru yang siap tempur,” kata Sang Shodancho. Lalu ia bersiul begitu nyaring, dan sesaat kemudian ajak­ajak peliharaannya berdatangan, berwarna kelabu, tangkas, dan siap bertarung. Jumlahnya nyaris mencapai seratus ekor, semuanya berdesakan di bawah kakinya. ”Jumlah yang cukup untuk serbuan babi,” jawab prajurit Tino Sidiq sambil membelai seekor ajak.

”Minggu depan kita langsung bergerak ke front,” kata Shodancho. Kasus serangan babi itu telah berawal sekitar empat atau lima tahun sebelumnya, ketika seorang petani bernama Sahudi dan lima orang temannya berburu babi. Sawah dan ladang mereka persis di kaki bukit Ma Iyang dan telah sebulan itu diserang oleh babi hutan. Mendekati panen, khawatir serangan babi itu semakin ganas, Sahudi segera mengumpulkan teman­temannya dan bersiap melakukan penyergapan. Terutama ketika anak kecilnya yang baru berumur tujuh tahun memergoki seekor babi telah sampai ke halaman belakang rumah, kesabarannya sungguh­

sungguh lenyap.

Mereka memilih satu malam bulan purnama, dengan senapan angin masing­masing di tangan, enam orang itu duduk berpasangan di pohon jambu air, sawo, dan kedondong, masing­masing di sebuah sudut. Ditemani rokok yang menyala kecil, mereka menanti dengan penuh kesabaran tanpa bicara satu sama lain dengan satu instruksi tembak di tempat bagi babi pertama yang terlihat oleh siapa pun. Meskipun mereka harus menanti sampai waktu mendekati dini hari, akhirnya suara dengusan binatang itu terdengar juga. Dalam waktu beberapa menit si tikus besar telah menampakkan diri di bawah cahaya bulan purnama, bukan cuma seekor, ternyata sepasang. Keduanya tampak hendak menuju perkampungan, namun melihat ladang subur tempat keenam orang itu bersembunyi, babi­babi itu tak melewatkan waktu untuk menyerang tanaman kacang dan jagung yang ditanam di sana.

Senapan telah diisi angin sampai penuh, dan Sahudi segera meng­

angkat senapannya. Ia membidik salah seekor babi, yang paling tampak oleh cahaya bulan, dan dalam waktu bersamaan tiga senapan meletus pada babi yang sama. Babi itu tersungkur rebah di tanah dengan kepala berhiaskan tiga lubang peluru, tepat pada batok otaknya, sementara tiga yang lain mencoba menembak babi yang satu namun luput. Babi itu segera lari menerjang apa pun demi melihat pasangannya roboh dan demi mendengar suara letusan senapan.

Keenam orang tersebut segera berlompatan dari pohon masingmasing, dan ketika melihat babi itu belum mati sepenuhnya, Sahudi menancapkan tombak kayu ke dadanya dengan sekuat tenaga, membuat si babi berkelojotan sebelum membuang nyawa. Tapi sesuatu terjadi membuat keenam lelaki itu memandang tak percaya pada bangkai di bawah bulan purnama tersebut: tubuh hitam berbulu yang penuh lumpur itu tiba­tiba berubah menjadi sosok mayat manusia dengan tiga peluru memporakporandakan kepalanya dan tombak tertancap di dada, jelas sudah mati sama sekali.

”Tai!” kata Sahudi, ”babi ini berubah jadi manusia.”

Berita itu dengan cepat tersebar dari desa satu ke desa lain, hingga seluruh Halimunda mendengarnya. Tak seorang pun mengenali mayat lelaki tersebut, dan tak ada orang mengambil mayatnya hingga membusuk di rumah sakit kota, sebelum dikuburkan di pemakaman umum. Namun sejak saat itu tak seorang pun punya keberanian untuk membunuh babi, sebab mereka takut kutukan sebagaimana terjadi pada Sahudi dan kelima temannya: menjadi gila. Empat tahun berlalu tanpa seorang pun membunuh babi, bahkan meskipun kini babi telah menjadi perusak paling ganas sawah dan ladang petani. Satu­satunya harapan para petani itu, karena mereka sendiri takut melakukannya, adalah mendatangi markas militer. Mayor Sadrah telah mengirim beberapa prajurit ke hutan, dan hasilnya selalu menjadi cemoohan di mana mereka lebih banyak pulang membawa ayam hutan dan kelinci daripada babi. Mayor Sadrah akhirnya mengirim seorang kurir, meminta bantuan dari Sang Shodancho, mengetahui dengan baik hanya orang itulah yang bisa diandalkan.

Kedatangan Sang Shodancho rupanya telah diketahui oleh selu­

ruh penduduk kota. Sebagaimana pernah mereka lakukan sepuluh tahun sebelumnya, mereka berbaris di sepanjang jalan melambaikan saputangan dan bendera kecil, berharap melihat sendiri pahlawan mereka yang menghilang begitu lama. Anak­anak kecil berdiri paling depan, penasaran oleh sosok yang diceritakan ayah dan kakek serta ibu dan nenek mereka secara berulang­ulang. Dan para veteran perang revolusi, mengenakan seragam mereka secara lengkap seolah ini hari kemerdekaan. Para prajurit reguler memberi sambutan penghormatan dengan menembakkan meriam ke lepas pantai, dan anak­anak sekolah memeriahkannya dengan drum band. Akhirnya Sang Shodancho muncul, kali ini tak menunggang keledai, tapi berjalan kaki. Ia mengenakan pakaian longgar dengan rambut yang sangat pendek; tubuhnya masih sekurus dulu membuatnya lebih tampak seperti pendeta Buddha daripada seorang tentara. Ia dikawal tiga puluh dua prajuritnya yang setia itu, yang selama seminggu terakhir ia siksa kembali dalam latihan fisik yang berat untuk mengecilkan tubuh mereka. Masih ada sembilan puluh enam prajurit tambahan: gerombolan ajak jinak yang berwarna kelabu, beberapa putih dan kecokelatan, mengekor di belakangnya, tampak kegirangan memperoleh sambutan luar biasa masyarakat kota. Mayor Sadrah menyambut sendiri sahabatnya tersebut.

Di depan banyak orang itu, sambil memeluk Sadrah yang secara mengejutkan telah memiliki perut buncit bagai perempuan hamil, humor kejam Sang Shodancho timbul kembali. ”Aku telah menangkap seekor…,” katanya, ”babi.”

”Itulah satu­satunya alasan kami tak bisa berperang melawan yang sesungguhnya,” kata Mayor Sadrah yang segera disetujui Sang Shodancho.

”Percayalah, ajak­ajak ini akan berguna.”

Rombongan itu tinggal di markas Sang Shodancho yang lama, sejak zaman Jepang, yang tetap dibiarkan tanpa diisi untuk menghormatinya. Sebagaimana ia janjikan, tanpa banyak beristirahat, keesokan harinya bersama pasukan tempurnya itu ia mulai menggelar perburuan besar­besaran. Satu prajurit menggiring tiga ekor ajak, sementara Sang Shodancho memimpin dengan senapan serta belati. Perburuan babi mereka tak dilakukan dengan cara menunggu sebagaimana Sahudi dan teman­temannya, tapi langsung membuat keributan di semak­semak hutan tempat babi bersarang. Si tikus besar yang mungkin tengah tidur siang mulai berlarian ke sana­kemari.

Hari itu mereka berhasil menangkap dua puluh enam ekor babi, keesokan harinya dua puluh satu ekor, dan pada hari ketiga menangkap tujuh belas ekor. Itu cukup banyak untuk membuat populasi babi yang membuat kekacauan turun drastis sehingga penduduk menyambut mereka dengan suka cita. Sebagian babi­babi itu mati terbunuh oleh tombak dan senapan, beberapa lagi mereka kumpulkan di lapangan bola dekat markas shodan pada kandang darurat yang besar sekali. Ada hal yang aneh bahwa babi­babi yang terbunuh tak satu pun berubah menjadi manusia. Mereka sungguh­sungguh babi, dengan kulit berbulu hitam penuh lumpur, dengan taring dan moncong. Keajaiban itu membuat para petani akhirnya mulai ikut berburu babi di hari keempat, dan terus berburu babi di masa antara setelah panen dan sebelum masa tanam menjadikan itu tradisi.

Babi­babi yang mati terbunuh mereka lemparkan ke dapur restoranrestoran milik orang Cina, sementara yang hidup dipersiapkan untuk adu babi dalam rangka merayakan kemenangan mereka yang gemilang. Babi­babi itu akan diadu dengan ajak dalam satu arena, merupakan yang pertama di Halimunda membuat penduduk kota yang haus tontonan antusias menantikannya. Sang Shodancho dan para prajurit mempersiapkan sebuah arena di lapangan bola. Arena itu merupakan dinding papan yang dibuat melingkar setinggi tiga meter. Di bagian luar dinding pada ketinggian dua meter terdapat papan kukuh tempat para penonton akan berdiri, ditopang bambu yang malang­melintang. Untuk mencapai papan tersebut, orang harus melalui tangga yang dijaga dua tentara sebagai petugas penyobek tiket, sementara tiket bisa diperoleh dengan membelinya pada seorang gadis cantik di belakang meja.

Pertunjukan berlangsung di sore hari Minggu, dua minggusetelah

kedatangan Sang Shodancho. Akan dilaksanakan sepanjang enam hari, sampai semua babi mati dan dilemparkan ke dapur restoran. Para penonton berdatangan dari seluruh pelosok kota, beberapa bahkan datang dari luar kota, dan mereka segera antri di depan gadis cantik penjual tiket. Sementara itu, orang­orang yang mau menonton tapi tak mau membayar atau tak mampu membayar, berebut naik pohon kelapa yang tumbuh di sekeliling lapangan bola dan duduk di dahan­dahannya. Pakaian mereka yang berwarna­warni akan membuat terasa aneh jika dilihat dari kejauhan, seolah buah kelapa tak lagi berwarna hijau dan cokelat. Adu babi itu sendiri berlangsung sangat menarik. Ajak­ajak yang dipelihara Sang Shodancho, meskipun telah dijinakkan, masih memperlihatkan keliarannya mengeroyok babi hutan. Seekor babi melawan lima atau enam ajak, tentu saja tak adil, tapi semua orang berharap babi itu memang mati. Mereka tidak sedang melihat pertarungan, tapi pembantaian. Jika si babi mencoba menyerang seekor ajak, ajak­ajak yang lain menyerbu bagian tubuhnya dan menggigit dagingnya hingga terkoyak­koyak, sementara ajak yang diserangnya menghindar jauh lebih gesit daripada si babi sendiri. Kadang­kadang babi itu mulai tampak kepayahan, dan seorang prajurit akan membanjurnya dengan air seember, memaksanya kembali segar, dan bersiap bertahan dari serangan ajak berikutnya. Akhir pertunjukan kemudian selalu jelas: babi itu mati, dan seekor atau dua ajak mungkin terluka ringan. Babi baru dimasukkan ke arena, dan enam ajak segar siap mengoyak­ngoyaknya. Semua penonton tampak puas dengan pembantaian tersebut, kecuali Sang Shodancho yang tiba­tiba dibuat terpukau oleh satu pemandangan lain. Di antara para penonton ia melihat seorang gadis muda yang begitu cantik, tampak tak peduli pada kenyataan bahwa sebagian besar penonton adalah laki­laki. Umurnya mungkin baru enam belas tahun, seperti seorang bidadari yang tersesat. Rambutnya diikat dalam satu ikatan pita warna hijau tua, bahkan dari kejauhan Sang Shodancho bisa melihat mata mungilnya yang tajam, hidungnya yang mencuat, dan senyumnya yang terasa sangat kejam. Kulitnya putih seperti mengeluarkan cahaya, diselimuti gaun warna gading yang menawan di sore yang penuh angin laut. Gadis itu mengeluarkan sigaret dari saku gaunnya, dan dengan ketenangan yang luar biasa, ia merokok, sementara matanya terus menatap ajak dan babi yang tengah berkelahi. Sang Shodancho telah melihatnya sejak ia naik tangga penonton, dan tampaknya ia datang seorang diri saja. Merasa penasaran pada sang bidadari, ia bertanya pada

Mayor Sadrah yang menemani di sampingnya, ”Siapakah gadis itu?”

Mayor Sadrah mengikuti telunjuknya dan menjawab, ”Namanya Alamanda, anak pelacur Dewi Ayu.”

Selepas urusan berburu babi tersebut, ia membagikan seluruh ajakajak peliharaannya kepada penduduk Halimunda. Orang­orang yang dibuat gemas dengan ajak­ajak jinak tersebut mencoba berebutan, namun mereka harus kecewa sebab ajak­ajak itu hanya sembilan puluh enam ekor. Sebagian besar dibagikan kepada para petani untuk membantu mereka menjaga sawah dan ladang, dan sisanya dibagikan pada beberapa penduduk kota secara acak. Bagi yang belum sempat memperolehnya pada kesempatan pertama Sang Shodancho menyuruh mereka untuk sabar menunggu, sebab tak lama kemudian ajak­ajak itu akan berkembang biak dan mereka bisa memperoleh anak­anaknya. Itulah kali pertama Halimunda kemudian dipenuhi oleh anjing, yang berasal dari ajak­ajak tersebut.

Seharusnya Sang Shodancho sudah kembali ke hutan, sebagaimana ia niatkan sejak semula. Ketika ia datang, ia berkata pada Mayor Sadrah, bahwa ia akan berada di kota sampai urusan babi selesai. Tapi sejak melihat Alamanda yang hanya sekali di arena adu babi itu, ia sungguhsungguh tak bisa tidur dibuatnya. Ia tak berani pulang ke gubuk gerilya, sebab ia tahu di sana ia akan menderita merindukan gadis itu. ”Ini pasti cinta,” katanya pada diri sendiri. Dan cinta itulah yang membuatnya menggigil mencari alasan agar ia bisa tinggal lebih lama di kota, dan jika perlu tak usah meninggalkannya lagi.

Pertolongan datang ketika Mayor Sadrah muncul dan berkata, ”Jangan segera pergi, kita masih akan merayakan kemenangan: orkes Melayu.”

”Demi cintaku pada kota ini, aku tak segera pulang,” katanya lekas. Ia melihatnya lagi, gadis itu, di malam ketika penguasa militer kota meneruskan perayaan kemenangan dengan pertunjukan orkes Melayu. Tempatnya masih di lapangan bola yang sama, namun kali ini tak ada tiket untuk penonton sehingga makin banyak orang berdatangan. Orkes Melayu selalu merupakan pertunjukan favorit bagi banyak pemuda dan pemudi Halimunda, di mana mereka bisa bergoyang, entah karena mabuk atau karena musiknya. Grup musiknya datang dari ibukota, membawa segerombolan penyanyi yang tak seorang pun mengenalnya,

tapi tak seorang pun peduli.

Musiknya selalu enak untuk bergoyang. Maka begitu pertunjukan dimulai, penonton bergoyang perlahan, melenggok seolah penuh penghayatan. Lagunya selalu berlirik cengeng tentang patah hati, tentang cinta bertepuk sebelah tangan, tentang suami yang selingkuh. Tak ada musik Melayu yang tak cengeng, terutama dalam pertunjukan tersebut, namun sang penyanyi tak perlu menangis karena itu. Sebaliknya, penyanyi­penyanyi perempuan dengan dandanan seronok malah mengumbar senyum dan tawa, tak peduli betapa sedihnya lagu yang dinyanyikan, membelakangi penonton sambil memutar bokong mereka. Setelah memperoleh tepuk tangan dari penonton atas aksi bokongnya, mereka kemudian akan berputar dan menghadapi penonton sambil sedikit berjongkok. Orang­orang kembali bertepuk tangan karena ia mengenakan rok mini sehingga terlihat apa yang ingin ia perlihatkan. Paduan antara musik yang mendayu, kemesuman, kecengengan, itulah yang membuat banyak orang bergembira malam tersebut.

Sang Shodancho melihat Alamanda kembali, berjalan seorang diri. Ia mengenakan jeans dan jaket kulit, dengan rokok kembali bertengger di bibirnya yang manis. Sang Shodancho sungguh­sungguh bersyukur telah keluar dari hutan dan menemukan seorang bidadari hidup di kotanya tercinta. Gadis itu tak ikut bergoyang di depan panggung, melainkan hanya berdiri menonton di samping seorang penjual makanan yang bertebaran di sekeliling lapangan bola. Tak tahan dengan provokasi kecantikannya, Sang Shodancho yang dilanda cinta membabi­buta menghampirinya. Kepopulerannya membuat perjalanan ke tempat si gadis sungguh­sungguh penuh gangguan, sebab ia harus meladeni sapaan ramah orang­orang. Akhirnya gadis itu ada di hadapannya, atau ia berdiri di hadapan si gadis, dan menyaksikan sendiri kecantikan alami yang mengagumkan itu di depan matanya sendiri. Ia mencoba tersenyum, tapi Alamanda hanya meliriknya acuh.

”Tak baik seorang gadis berkeliaran seorang diri di malam hari,” kata

Sang Shodancho membuka basa­basi.

Alamanda menatap lurus ke arah mata Shodancho masih dengan tatapan seolah acuhnya dan berkata, ”Jangan bodoh, Shodancho, aku berkeliaran dengan ratusan orang malam ini.”

Selepas mengatakan itu, Alamanda pergi meninggalkannya begitu saja tanpa pamit. Itu membuat Sang Shodancho berdiri terpaku tak percaya. Serangan gila itu bagaimanapun jauh lebih mengerikan dari semua pertempuran yang pernah dialaminya. Ia berbalik dan melangkah dengan tubuh dan jiwa yang sungguh tak berdaya.

”Adakah strategi gerilya untuk mengalahkan cinta?” tanyanya dalam satu keluhan pendek pada diri sendiri.

Ia mencoba melupakan bayangan tentang gadis itu, namun semakin ia mencoba melupakan, wajah setengah Jepang setengah Belanda dan sedikit Indonesia itu semakin menghantuinya. Ia mencoba mencari alasan bahwa tak mungkin ia mencintai gadis itu. Pikirkanlah, katanya sejenak sebelum tidur yang tak pernah bisa dilakukannya lagi, gadis itu mungkin baru lahir di tahun yang sama ketika aku jadi shodancho dan merencanakan pemberontakan. Ada rentang waktu dua puluh tahun dalam umur mereka. Dan kini, seorang lelaki yang pernah jadi Panglima Besar dan memperoleh pangkat jenderal dari Presiden Pertama Republik Indonesia harus menyerah oleh gadis enam belas tahun. Memikirkan hal itu semakin jauh membuatnya jadi lebih menyakitkan, dan ia semakin terperosok pada cinta yang tak berujung.

Suatu pagi akhirnya ia terbangun dan mengakui sejujurnya bahwa ia jatuh cinta pada gadis itu dan berjanji atas nama prajurit bahwa Alamanda akan menjadi istrinya.

”Aku tak akan kembali ke hutan,” ia berkata.

Tapi ia tak mengatakannya pada siapa pun, membuat ketiga puluh dua prajuritnya yang setia itu kebingungan kenapa Sang Shodancho tak lagi kembali ke hutan. Mereka masih juga menunggu perintah, sampai akhirnya Tino Sidiq, yang paling dekat dengannya, bertanya, ”Kapan kita kembali, Shodancho?”

”Kembali ke mana?” tanyanya.

”Hutan,” jawab Tino Sidiq, ”sebagaimana sepuluh tahun telah kita jalani.”

”Pergi ke hutan bukanlah suatu perjalanan kembali,” kata Sang Shodancho. ”Aku dan kau dan semua orang dilahirkan di sini, di kota ini, Halimunda. Ke sinilah justru kita kembali.”

”Apakah kau tak ingin pergi ke hutan lagi?” tanya Tino Sidiq akhirnya.

”Tidak.”

Itu ia buktikan dengan memasang papan nama di depan bekas markas shodannya: Rayon Militer Halimunda. Kepada Mayor Sadrah yang muncul secara tiba­tiba setelah mendengar keputusannya untuk tinggal di kota dan terutama pendirian rayon militer yang sesuka hati, ia berkata pendek, ”Kini aku Komandan Rayon Militer, setia pada sumpah prajurit, dan menunggu perintah.”

”Jangan membuat lelucon. Kau seorang jenderal dan tempatmu di samping presiden,” kata Mayor Sadrah. ”Aku akan menjadi apa pun asalkan tetap di kota ini, di samping gadis yang namanya kau sebutkan untukku,” katanya dalam nada yang begitu menyedihkan, ”Bahkan seandainya aku harus menjadi seekor anjing sekalipun.”

Sadrah memandang sahabatnya dengan tatapan iba yang begitu dalam. ”Gadis itu sudah punya kekasih,” kata Mayor Sadrah setelah kebimbangan sejenak. Ia tak sanggup memandang wajah Sang Shodancho, maka sambil memandang ke arah lain, ia melanjutkan, ”Seorang pemuda bernama Kliwon.”

Ia tahu bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang menyakitkan hati.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊