menu

Cantik Itu Luka Bab 05

Mode Malam
5
Orang­orang masih mengingat dengan baik bagaimana lelaki itu datang ke Halimunda di suatu pagi yang ribut, ketika ia berkelahi dengan beberapa nelayan di pantai. Waktu itu Dewi Ayu masih hidup, dan mereka mengenang semua cerita tentang si preman tersebut sama baiknya dengan pengetahuan mereka mengenai kisah­kisah dalam kitab suci. Ketika ia masih sangat muda, Maman Gendeng merupakan seorang pendekar dari generasi terakhir, murid satu­satunya Empu Sepak dari Gunung Gede. Di akhir masa kolonial, dengan sia­sia ia mencoba mengembara namun tak menemukan musuh maupun kawan. Ketika Jepang datang dan selama masa perang revolusi, ia masuk tentara rakyat dan memberi dirinya sendiri pangkat Kolonel. Tapi ketika terjadi restrukturisasi tentara, ia salah satu dari ribuan orang yang dipecat, tak memperoleh apa pun kecuali ia boleh membanggakan diri sebagai seorang pejuang. Maman Gendeng sama sekali tak sakit hati, dan ia kembali mengembara. Selama masa akhir perang, ia memper­

oleh reputasinya yang paling baru: seorang bandit perampok.

Nalurinya untuk merampok datang dari kebenciannya pada orangorang kaya, dan kebenciannya pada orang kaya sama sekali bisa dimaklumi. Ia anak haram jadah seorang bupati. Sebagaimana telah terjadi selama beberapa generasi, ibunya bekerja di rumah bupati itu, sebagai jongos dapur. Tak ada yang tahu sejak kapan mereka melakukan hubungan gelap, namun yang pasti, sang bupati memiliki nafsu berahi melimpah­limpah sehingga seorang istri dan banyak selir dan gundik sama sekali kurang baginya. Di malam­malam tertentu, ia masih suka menyeret salah satu jongosnya masuk ke kamar tidur, dan bukan sekali dua kali perempuan jongos dapur dipaksa untuk tidur dengannya. Ibunya merupakan satu­satunya perempuan yang memperoleh kemalangan itu: ia akhirnya bunting. Istri sang bupati mengetahui hal tersebut, dan demi nama baik ia mengusirnya tanpa peduli bahwa ibu dan bapaknya dan kedua nenek dari kedua pihak dan ibu serta ayah dari neneknya telah mengabdi di keluarga tersebut selama bertahun­tahun. Tanpa bekal apa pun kecuali jabang bayi di dalam perutnya, perempuan malang itu menerobos hutan dan tersesat di Gunung Gede. Ia ditemukan oleh Empu Sepak, seorang pendekar tua yang membantunya melahirkan, dalam keadaan sekarat di bawah pohon enau.

”Beri ia nama Maman sebagaimana ayahnya,” kata perempuan itu, ”ia anak haram jadah bupati itu.” Si perempuan mati sebelum melihat anaknya lebih lama. Si pendekar tua yang dibuat sedih oleh zaman yang berubah, membawa pulang anak tersebut.

”Kau akan jadi pendekar penghabisan,” katanya pada si bayi.

Ia merawatnya dengan baik, memberinya makan sama cukup dengan memberinya latihan. Ia bahkan telah menggembleng bocah itu sebelum ia bisa berjalan, dengan merendamnya di air dingin dan memanggangnya di bawah matahari siang. Ketika ia masih tertatih­tatih berjalan, ia telah melemparkannya ke sungai dan memaksanya untuk bisa berenang. Pada umur lima tahun, percayalah, ia merupakan bocah paling kuat di seluruh permukaan bumi. Maman Gendeng, begitulah kemudian namanya, telah mampu menghancurkan sebongkah batu menjadi butiran pasir yang lembut dengan tangan kosong. Berbeda dari tradisi semua guru, Empu Sepak mengajarkan semua ilmu yang ia miliki pada bocah itu, tanpa sisa. Ia mengajarinya semua jurus, memberikan semua jimat, dan bahkan mengajarinya menulis dan membaca bahasa Sunda kuno sama baiknya dengan bahasa Belanda dan Melayu serta tulisan Latin. Ia bahkan mengajarinya memasak, seserius mengajarinya meditasi.

Ketika ia berumur dua belas tahun, Empu Sepak mati. Kini waktu­

nya untuk membalas dendam terhadap ayah kandungnya itu. Setelah menguburkan si lelaki tua dan berkabung selama seminggu, ia turun gunung dan memulai pengembaraannya. Itu waktu yang hampir bersamaan dengan datangnya tentara­tentara Jepang dan permulaan perang. Ia tak menemukan si ayah di rumahnya, sebab keluarga tersebut telah porak­poranda dimakan perang. Bupati itu melarikan diri setelah satu tuduhan yang tak terbantah bahwa ia merupakan seorang antek orang­orang Belanda. Maman Gendeng harus menunda pembalasan dendamnya selama tiga tahun, dan selama penantian tersebut ia masuk tentara, sambil terus mencari keberadaan musuh utamanya, orang yang telah mengusir dan membunuh ibunya. Bagaimanapun ia tak pernah bisa melampiaskan dendamnya, sebab ia menemukan ayahnya telah mati dieksekusi oleh sederet regu tembak dari tentara rakyat. Ia hanya melihat mayatnya, dan tak pernah sudi untuk menguburkannya.

Selepas Jepang pergi dan republik berdiri, dan ketika perang revolusi dimulai, ia bergabung dengan salah satu gerilyawan tentara rakyat, dan tinggal di kota­kota kecil pesisir utara. Mereka tinggal di rumah­rumah nelayan pada siang hari, dan pergi ke front pada malam hari. Tak ada yang menarik dari masa­masa itu, sebab pertempuran tak selalu hebat dan tentara­tentara KNIL milik orang­orang Belanda itu lebih sering memenangkan pertempuran dan mendesak para gerilyawan ke daerah pedalaman, kecuali satu saja: kenangannya pada seorang gadis nelayan bernama Nasiah. Ia seorang gadis mungil, dengan lesung pipit di pipinya, berkulit hitam manis. Lelaki itu telah sering melihatnya jika ia berjalan­jalan sepanjang pantai guna mengumpulkan sisa­sisa ikan untuk makan sore. Ia gadis yang ramah, tersenyum pada para gerilyawan itu dengan senyumnya yang paling manis, dan kadang ia datang secara diam­diam untuk membawa makanan apa pun yang dimilikinya.

Takbanyak yang ia ketahui tentang gadis itu, kecuali namanya.

Tapi ia telah membuatnya begitu hidup, bertekad untuk menghentikan semua ambisi pengembaraannya untuk sekadar bisa bersama dengannya, dan ia bahkan berjanji akan memenangkan semua perang agar bisa hidup bersamanya. Teman­temannya mulai menyadari kisah cinta yang terpendam itu, dan mulai menghasutnya agar memintanya secara baik­baik pada gadis tersebut. Maman Gendeng tak pernah bicara dengan perempuan mana pun, terutama untuk urusan seserius itu, kecuali dengan perempuan­perempuan pelacur waktu zaman Jepang. Tiba­tiba ia menyadari bahwa menghadapi si gadis mungil Nasiah jauh lebih mengerikan daripada menghadapi sederet regu tembak Belanda. Namun ketika satu kesempatan baik tiba, waktu itu ia melihat Nasiah berjalan seorang diri mendekap bakul berisi ikan segar pulang ke rumahnya, Maman Gendeng menjejerinya. Ia mencoba memberanikan diri, setelah melihat senyum manis si gadis yang membuat lesung pipitnya muncul, untuk mengatakan isi hatinya dan bertanya, apakah ia mau jadi istrinya. Nasiah baru berumur tiga belas tahun. Entah usia belianya atauhal lain yang kemudian membuatnya secara tiba­tiba tercekat, menjatuhkan bakulnya dan lari tanpa pamit ke rumahnya seperti gadis kecil yang ketakutan lihat orang gila. Hanya Maman Gendeng yang memandang kepergiannya, serta ikan layang yang berserakan, dan menyesal setengah mati telah mengatakan cintanya. Tapi itu sama sekali tak membuat langkahnya mundur. Cinta telah memberinya dorongan yang tak diberikan oleh apa pun. Maka ia memunguti ikan­ikan itu dan membawa bakulnya, berjalan dengan langkah penuh kepastian, menuju

rumah si gadis. Ia akan melamarnya secara baik­baik pada ayahnya.

Di depan rumah si gadis, ia mendapati Nasiah berdiri dengan seorang lelaki kurus kecil dengan sebelah kaki invalid. Ia tak mengenal pemuda itu. Ia hanya tahu sedikit desas­desus bahwa kedua kakak lelakinya mati dalam gerilya, dan ayahnya seorang nelayan tua. Tak pernah ia dengar tentang pemuda satu kaki yang kurus bagaikan kelaparan selama berbulan­bulan. Ia berdiri di depan mereka, mencoba tersenyum dan meletakkan bakul di dekat kaki Nasiah. Dadanya bergemuruh, bagaimanapun, oleh api cemburu yang tak juga tenang. Hanya keberanian atau ketololannyalah yang kemudian membuatnya mengatakan hal yang sama.

”Nasiah, maukah kau jadi istriku?” tanyanya dengan wajah penuh permohonan. ”Jika perang selesai, aku akan mengawinimu.”

Gadis kecil itu malahan menangis dan menggeleng.

”Tuan Gerilya,” kata si gadis terbata­bata. ”Tidakkah kau lihat lelaki di sampingku? Ia begitu lemah, memang. Ia tak mungkin pergi ke laut buat cari ikan, dan apalagi pergi berperang seperti Tuan. Tuan bisa membunuhnya dengan sangat mudah, dan Tuan bisa dapatkan aku semudah Tuan menenteng seekor ikan layang. Tapi jika itu terjadi, izinkanlah aku mati bersamanya, sebab kami saling mencintai dan tak ingin dipisahkan.” Pemuda kurus itu hanya diam saja, menunduk dan tak pernah mengangkat wajahnya. Maman Gendeng dibuat patah hati dalam seketika. Ia mengangguk pelan, dan berjalan pergi meninggalkan rumah tersebut, tanpa pamit dan tanpa menoleh. Ia telah melihatnya: mereka memang begitu saling mencintai. Ia tak mau menghancurkan kebahagiaan mereka, meskipun ia harus mengobati luka hatinya yang lama tak kunjung sembuh. Selama perang, ia terus­menerus diserang halusinasi menakutkan yang diakibatkan oleh penolakan cinta yang begitu tragis itu. Beberapa kali mencoba membiarkan dirinya berada di ruang tembak musuh, menjadi sasaran tak hanya senapan namun juga meriam, dan hanya nasib yang membuatnya masih hidup. Selama itu ia tak pernah menemui si gadis lagi, dan selalu menghindar setiap kali akan berjumpa. Hanya ketika perang berakhir dan ia mendengar tentang perkawinan gadis itu dengan kekasihnya, ia mengiriminya hadiah selendang merah yang sangat indah, yang dibelinya dari seorang penenun.

Kantong­kantong gerilyawan dibubarkan, dan terjadi pemecatanpemecatan. Maman Gendeng jauh lebih merasa senang daripada sedih, dan memulai awal kebebasannya, ia mengawali kembali pengembaraannya, meskipun masih membawa luka cintanya yang lalu. Ia berkelana sepanjang pesisir utara, mengenangi rute­rute gerilya, yang tak lebih merupakan rute pelarian dikejar­kejar musuh. Ia mempertahankan hidup dengan merampok rumah orang­orang kaya, dan berkata kepada mereka, ”Jika bukan antek Belanda, tentunya antek Jepang, yang kaya di zaman revolusi.”

Dengan belasan pengikut, ia menjadi teror kota­kota sepanjang pantai. Polisi dan tentara mencari­carinya. Bersama gerombolannya, ia hidup menyerupai Robin Hood, mencuri dari orang kaya dan membagibagikannya di pintu rumah orang­orang miskin, menghidupi jandajanda yang ditinggal mati suami di masa perang, dan anak­anak yatim mereka. Nama besarnya yang menakutkan, baik bagi musuh maupun kawan, bagaimanapun tak juga membuatnya merasa bahagia. Ke mana pun ia pergi, ia masih membawa luka lama, dan tak pernah tersembuhkan oleh gadis mana pun yang ia lihat, dan apalagi oleh pelacur­pelacur di gubuk­gubuk arak. Bahkan ketika malam­malam yang gila datang, ia menyuruh semua pengikutnya untuk mencari gadis mungil berkulit hitam manis dengan lesung pipit di pipi. Ia mendeskripsikannya secara cermat menyerupai Nasiah, dan gadis­gadis itu akhirnya berdatangan ke tempat persembunyiannya bagaikan gadis­gadis kembar yang tak bisa dibedakan satu sama lain. Ia bercinta dengan mereka selama bermalammalam, namun Nasiah tak pernah tergantikan sama sekali.

Gairah hidupnya yang baru muncul lama setelah itu, ketika ia mendengar secara samar­samar sebuah legenda yang sering diceritakan anak­anak nelayan tentang seorang putri bernama Rengganis. Ada yang bilang perempuan itu begitu cantiknya, membuat semua orang bersedia mati untuknya, dan perang pernah meletus hanya karena orang­orang memperebutkan dirinya. Maman Gendeng terbangun di suatu malam, berpikir ia akan berperang kembali dengan siapa pun, demi memperoleh perempuan seperti dalam kisah tersebut. Ia membangunkan anak buahnya satu per satu, dan bertanya di manakah Rengganis Sang Putri tinggal. Mereka menjawab, tentu saja di Halimunda. Maman Gendeng belum pernah mendengar nama itu, tapi salah seorang sahabatnya berkata, jika ia bersampan sepanjang pantai ke arah barat, ia akan sampai di Halimunda. Dengan penuh keyakinan dan terutama dalam upayanya menyembuhkan luka, malam itu ia memberikan kekuasaan daerah perampokannya pada beberapa sahabatnya, dan berkata kepada mereka bahwa ia akan berlayar dengan sampan untuk menemukan cinta sejati. Ia telah dibuat jatuh cinta pada perempuan bernama Rengganis, yang kedua kali, meskipun mengetahui tentangnya hanya melalui cerita­cerita anak nelayan.

Putri itu konon cantik sekali, keturunan terakhir dari raja­raja Pa­

jajaran, pewaris kecantikan putri­putri Istana Pakuan. Banyak orang mengatakan, bahkan Sang Putri sendiri telah menyadarinya, bahwa kecantikannya membawa banyak malapetaka. Ketika ia masih kecil, saat itu ia masih bebas berkeliaran, bahkan sampai keluar benteng istana, ia telah membuat kekacauan­kekacauan, yang kecil maupun besar. Di mana pun ia lewat, orang­orang akan memandang wajahnya yang seolah dilindungi kabut tipis penuh kesenduan itu, memandang wajahnya dengan pandangan idiot sesosok manusia yang tiba­tiba menjadi patung menggelikan. Kecuali bola mata yang bergerak ke mana ia melangkah. Bahkan kemunculannya sempat membuat banyak pamong praja diserang halusinasi yang membuat mereka lalai mengurus negeri, dan separuh kerajaan sempat dikuasai gerombolan penyamun sebelum direbut kembali dengan susah­payah mengorbankan separuh prajurit yang dimiliki. ”Perempuan seperti itu layak untuk dicari,” kata Maman Gendeng. ”Kuharap itu tak membuatmu terluka untuk kedua kali,” balas

temannya.

Bahkan ayahnya, ayah Sang Putri itu yang konon raja terakhir sebelum kerajaan itu runtuh diserang Demak, dibuat begitu cepat tua oleh pesona kecantikan anak perempuannya. Meskipun merupakan hal yang tak patut mengawini anaknya sendiri, jatuh cinta adalah jatuh cinta. Rasa cinta dan ketidakpatutan berperang menggerogoti segala hal di dirinya, hingga tampaknya satu­satunya yang bisa membebaskan penderitaan itu hanyalah kematian. Dan Sang Ratu, yang tentu saja dibuat cemburu karena itu, selalu berpikir bahwa satu­satunya jalan keluar adalah dengan membunuh gadis kecil itu. Maka di setiap kesempatan ia akan pergi ke dapur dan mengambil pisau, berjinjit menuju kamar anaknya, bersiap menikamkannya tepat di tempat jantung berdetak. Tapi bahkan ketika ia menemukan anak gadisnya, ia pun dibuat terpesona serta jatuh cinta, dan lupa keinginan untuk menikamnya. Sebaliknya ia akan menjatuhkan pisau, melangkah menghampirinya, menyentuh kulit, dan menciumnya, sebelum sadar dan merasa malu dan pergi meninggalkan anak gadisnya tanpa berkata apa pun kecuali merasa menderita. Maman Gendeng sungguh­sungguh terpesona oleh bayangannya sendiri mengenai Rengganis Sang Putri, terutama sepanjang perjalanan nelayan­nelayan menceritakan kisah tersebut tanpa henti. Ia berlayar terus ke barat dengan sampan kecil, namun jika senja datang, ia berlabuh untuk istirahat di kampung­kampung nelayan. Ia akan bertanya berapa lama lagi sampai di Halimunda, dan mereka akan menunjukkan jalan. Menyuruhnya terus ke barat sebelum memutar ke selatan dan berbelok kembali ke arah timur. Mereka berpesan untuk berhati­hati dengan ombak laut selatan. Di luar itu mereka akan menceritakan kisah mengenai Sang Putri yang membuat pengembara kesepian itu

semakin terlena.

”Aku akan kawin dengannya,” ia berjanji.

Padahal, Rengganis Sang Putri sendiri tampaknya begitu menderita dengan kecantikan yang dimilikinya. Ketika ia mulai menyadari hal itu, Sang Putri mulai mengurung dirinya di dalam kamar. Hubungannya dengan dunia luar hanyalah lubang kecil di pintu, tempat gadis­gadis memasukkan dan mengeluarkan piring makan dan pakaian. Ia telah berjanji untuk tak mempertontonkan kecantikannya, dan berharap memperoleh lelaki yang akan mengawininya tanpa memedulikan hal itu. Maka selama masa penyembunyian dirinya, satu­satunya hal yang ia lakukan adalah menjahit pakaian pengantinnya sendiri. Namun penyembunyian diri tersebut sama sekali tak cukup untuk menyembunyikan kabar kecantikannya yang telanjur menyebar dibawa para pengelana dan tukang cerita. Ayahnya yang menderita dirongrong rasa cinta penuh nafsu yang tak patut itu, dan ibunya yang dilanda kecemburuan buta, bersepakat bahwa satu­satunya cara untuk menghentikan malapetaka ini hanyalah dengan cara mengawinkannya. Mereka kemudian mengirim sembilan puluh sembilan pembawa kabar ke seluruh pelosok kerajaan, ke negeri­negeri tetangga, yang mengumumkan sayembara bagi para pangeran dan ksatria, atau siapa pun, dengan hadiah pertama dan satu­satunya kawin dengan perempuan paling cantik di dunia, Rengganis Sang Putri.

Lelaki­lelaki tampan mulai berdatangan dan sayembara pun dimulai.

Mereka tak berlomba dalam pertandingan memanah sebagaimana Arjuna memperoleh Drupadi. Mereka hanya ditanya gadis seperti apa yang mereka inginkan, berapa tinggi badannya, beratnya, makanan kesukaannya, cara menyisir rambutnya, warna pakaiannya, harum baunya, segala hal semacam itu, dan setelahnya mereka disuruh duduk di depan pintu kamar Sang Putri untuk menanyakan sendiri seperti apa gadis itu. Raja berjanji jika keinginan seorang lelaki persis sebagaimana keadaan Sang Putri dan keinginan Sang Putri sama dengan keadaan lelaki itu, mereka boleh kawin. Jarang orang berhasil memperoleh jodoh dengan cara seperti itu, sebagaimana akhirnya sayembara itu tak memperoleh seorang lelaki pun untuk menjadi kekasih Sang Putri.

Kenyataannya, untuk memperoleh perempuan semacam itu bukanlah hal gampang. Ketika ia melewati selat Sunda, segerombolan bajak laut yang beminggu­minggu tak memperoleh mangsa menghadangnya hanya sekadar untuk merampas sedikit kekayaannya. Maman Gendeng yang lama tak bertarung, melampiaskan hasrat tubuhnya dengan menenggelamkan mereka, namun itu bukan halangan yang pertama. Memasuki laut selatan, ia tak hanya dihadang badai ganas, namun juga sepasang hiu yang mengelilingi perahunya. Ia harus berburu seekor kijang selama pendaratannya di balik rawa­rawa, dan memberikannya pada sepasang hiu tersebut untuk persahabatan mereka selama perjalanan.

Semuanya untuk seorang gadis bernama Rengganis: selepas sayembara yang tak menghasilkan apa pun, segalanya kembali pada kesedihan yang sama, pada teror kecantikan yang sama. Hingga akhirnya, pada suatu hari seorang pangeran yang tak puas memutuskan untuk datang dengan tiga ratus pasukan perang berkuda, datang dengan maksud buruk memperoleh Sang Putri secara paksa. Sang Raja sesungguhnya begitu penuh suka cita membayangkan seseorang menculik Sang Putri dan mengawininya, namun demi kehormatan, ia dipaksa untuk melepas prajurit­prajuritnya pergi berperang melawan perusuh itu. Kemudian pangeran lain dari kerajaan yang lain, datang juga dengan tiga ratus pasukan berkuda untuk membantunya, dengan harapan memperoleh Sang Putri sebagai ucapan terima kasih, dan perang pecah semakin besar. Ksatria­ksatria lain dan pangeran­pangeran lain cepat atau lambat mulai terseret arus perang besar itu, yang di akhir tahun tak lagi jelas siapa lawan siapa kecuali semua lawan semua memperebutkan perempuan yang bertahun­tahun menjadi Dewi Kecantikan Halimunda. Kecantikannya bagai kutukan, dan kutukan itu bekerja semakin gila: ribuan prajurit terluka sebelum mati, seluruh negeri porak­poranda, penyakit dan kelaparan menyerang tanpa ampun, semua karena kecantikan yang mengutuk tersebut.

”Itu masa yang paling mengerikan,” kata seorang nelayan tua tempat

Maman Gendeng menginap. ”Lebih mengerikan dari Perang Bubat ketika Majapahit menyerang kami dengan licik, padahal kau tahu, kami tak suka berperang.”

”Aku veteran perang revolusi,” kata Maman Gendeng.

”Itu tak ada apa­apanya daripada perang memperebutkan Rengganis Sang Putri.”

Si gadis sendiri bukannya tak tahu. Ia mendengar semua kabar perang tersebut dari gadis­gadis pelayan yang membisikkannya dari lubang kunci seperti Destarata yang buta mendengar nasib anak­anaknya di medan perang Kurusetra. Si Cantik Kecil itu tampak begitu menderita, tak bisa tidur dan tak bisa makan, menderita pada kenyataan bahwa segala sumber bencana berawal dari dirinya. Kesedihannya tak terbayar hanya dengan sedu sedan, bahkan tampaknya tidak dengan kematian. Ia teringat dengan gaun pengantin itu, dan tiba­tiba berpikir bahwa satu­satunya cara membebaskan dirinya dari semua itu adalah mengawini seseorang, dan perang harus segera berakhir.

Bagaimanapun kini berarti ia telah bertahun­tahun mengurung diri di kamar tersebut, di dalam kegelapan hanya ditemani pelita dan gaun pengantinnya. Ia telah menjahitnya selama itu dengan tangan sendiri, rumit dan bakalan menjadi gaun pengantin yang terindah di muka bumi dan tak seorang penjahit pun akan pernah menyamainya. Ketika akhirnya gaun tersebut selesai, pada suatu pagi, ia pun mencoba membesarkan hati untuk mengucapkan janji bahwa ia akan kawin demi menghentikan perang dan semua malapetaka itu. Sang Putri tak tahu dengan siapa ia akan kawin, dan ia tak mengenal seorang lelaki pun yang sekiranya patut menjadi kekasih. Maka ia berkata pada dirinya sendiri, bahwa ia akan membuka jendela, dan siapa pun yang tampak di balik jendela, ia akan memilihnya menjadi teman hidup.

Sebelum melaksanakan janjinya, ia membersihkan dirinya dengan air bunga selama seratus malam, lalu mengenakan gaun pengantinnya di suatu pagi yang tak terlupakan. Ia bukanlah seorang gadis yang suka ingkar janji: ia akan bersetia pada apa pun yang telah dikatakannya. Ia akan membuka jendela itu, untuk pertama kalinya selama bertahuntahun, dan akan mengawini siapa pun lelaki yang tampak olehnya. Jika ada banyak orang terlihat, ia akan mengambil yang terdekat. Ia berjanji tak akan mengambil lelaki beristri, atau yang telah punya kekasih, sebab ia tak ingin menyakiti siapa pun.

Di balik gaun pengantin tersebut, kecantikannya semakin menjadijadi. Begitu cemerlang bahkan di kamar yang demikian gelap, membuat gadis­gadis dayang yang mengintipnya terpesona, dan bertanya­tanya apa yang akan dilakukannya. Dengan langkah anggun, Rengganis Sang Putri menghampiri jendela, berdiri sejenak di depannya, membuang napas kerisauan hati. Tekad telah bulat dan janji telah diucapkan. Tangannya bergetar hebat begitu menyentuh daun jendela, dan secara tiba­tiba ia menangis, antara kesedihan yang dalam dan kegembiraan yang meluapluap. Kunci dibukanya, dan dengan sentuhan ringan ujung jarinya, ia membuka jendela dengan sekali sentak. Daun jendela berkeriut dan terbuka lebar. Katanya: ”Siapa pun di sana, kawinlah denganku.”

”Malangnya, kita tak berada di sana ketika itu,” kata Maman Gendeng pada nelayan lain di pagi yang juga lain. ”Katakan padaku, seberapa jauh lagi aku sampai di Halimunda?”

”Tak akan lama.”

Telah banyak orang mengatakan kata itu, tak akan lama, dan itu sama sekali tak menghiburnya sebab kenyataannya ia tak juga sampai. Ia terus berlayar dan berhenti di setiap perkampungan nelayan serta pelabuhan dan bertanya, apakah ini Halimunda. O bukan, teruslah ke timur, kata mereka. Semua berkata begitu dan ini membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Tiba­tiba ia merasa semua orang tengah membohongi dirinya dalam satu persekongkolan dan sesungguhnya kota itu mungkin tak pernah ada. Halimunda tak lebih dari sebuah nama fiktif. Ia bertekad jika sekali lagi ia bertanya dan mereka mengatakan untuk terus ke timur, ia akan menonjok orang­orang itu dan menghentikan lelucon serta persekongkolan mereka.

Saat itulah ia melihat sebuah pelabuhan ikan dan deretan perkampungan nelayan. Ia segera berbelok menuju darat, dan mengucapkan salam perpisahan kecil dengan pasangan ikan hiu yang terus menemaninya dalam persahabatan yang ganjil. Ia menggigil dalam keadaan lelah dan putus asa, dan mulai kehilangan harapannya akan pertemuan dengan Rengganis Sang Putri yang mengagumkan itu. Ia turun dan menemui seorang nelayan yang tampak sedang menarik­narik jala sepanjang pantai. Tangannya telah terkepal dan bersiap menonjoknya, lalu bertanya, apakah ini Halimunda?

”Ya, ini Halimunda.”

Nelayan itu sungguh beruntung, sebab jika Maman Gendeng sampai melampiaskan semua kemarahan kepadanya, ia sama sekali tak akan pernah mampu melawan lelaki itu, yang oleh gurunya sendiri dipanggil sebagai pendekar penghabisan. Sementara itu Maman Gendeng senang bukan main, betapa perjalanan panjang itu kemudian membawanya ke kota itu. Halimunda sama sekali bukan nama omong kosong, ia kini telah sampai, mencium bau amisnya, dan bertemu dengan salah seorang penduduknya. Ia menjatuhkan lutut di lantai, tampak begitu penuh rasa syukur, dipandangi sang nelayan dengan tatapan kebingungan. Segalanya tampak cantik di sini, katanya bergumam. ”Bahkan tai pun selalu cantik di sini,” kata nelayan itu dan bersiap meninggalkannya. Tapi Maman Gendeng segera menahannya.

”Di mana aku bisa bertemu Rengganis?” tanyanya.

”Rengganis yang mana?” si nelayan balik bertanya. ”Ada puluhan gadis bernama seperti itu. Bahkan jalan dan sungai pun bernama Rengganis.”

”Tentu saja Rengganis Sang Putri.” ”Ia telah mati ratusan tahun lalu.” ”Apa kau bilang?”

”Ia telah mati ratusan tahun lalu.”

Tiba­tiba segalanya terasa berakhir. Ini hanya sebuah cerita, katanya pada diri sendiri. Tapi itu tak cukup untuk menghiburnya, dan kemarahannya tiba­tiba meluap tak terkendali. Ia menghajar nelayan malang tersebut, dan meneriakinya sebagai pembohong. Beberapa nelayan datang menolong dengan kayu­kayu dayung di tangan mereka, langsung mengeroyok lelaki itu tanpa seorang pun memerintah. Maman Gendeng sama sekali bukan lawan mereka. Ia menghancurkan dayung­dayung tersebut, dan membuat para pemiliknya bergelimpangan tak sadarkan diri di pasir yang basah. Kemudian tiga orang lelaki, tampaknya segerombolan preman, datang menghampirinya. Mereka menyuruhnya minggat, sebab pantai itu daerah kekuasaan mereka. Bukannya pergi, Maman Gendeng malahan menghajar mereka tanpa ampun, membenamkan ketiganya sekaligus nyaris sekarat, sebelum bergelimpangan di atas tubuh­tubuh nelayan tersebut.

Itulah pagi yang ribut ketika Maman Gendeng datang ke Halimunda

dan membuat kekacauan. Lima orang nelayan dan tiga orang preman adalah korban pertamanya. Korban berikutnya adalah seorang veteran tua yang datang dengan senapan dan menembaknya dari kejauhan. Ia tak tahu bahwa lelaki asing itu kebal terhadap peluru, dan ketika ia menyadarinya, ia lari namun Maman Gendeng mengejarnya. Lelaki itu merampas senapan sang veteran, dan menembak betis veteran itu membuatnya bergelimpang di jalan. ”Siapa lagi yang akan melawanku?” katanya.

Ia harus menghajar beberapa penduduk kota itu, yang telah menipunya habis­habisan dengan kisah ratusan tahun lampau. Ada beberapa pertarungan lagi pada hari itu, semuanya ia menangkan, hingga semua orang di pantai tersebut tak lagi yakin bisa mengalahkannya. Lagi pula ia sendiri tampak kelelahan. Ia masuk warung dan dengan muka pucat, pemilik warung menjamunya dengan apa pun yang ia miliki. Orang­orang bahkan datang dengan arak untuknya, berharap ia mabuk dan tak lagi membuat keributan. Kenyang dan lelah membuatnya mengantuk. Berjalan sempoyongan ia kembali ke pantai dan berbaring di atas perahunya yang berlabuh di atas pasir. Ia merenungkan semua perjalanan dan kekecewaannya, dan sebelum tidur, cukup jelas didengar orang­orang yang mengerubunginya, ia berkata, ”Jika aku punya anak, ia akan bernama Rengganis.” Lalu ia tertidur.

Bertahun­tahun yang lalu, Rengganis Sang Putri memang telah

mati. Namun itu setelah ia kawin dan mengasingkan diri di Halimunda. Ketika ia membuka jendela setelah bertahun­tahun menutupnya, cahaya matahari pagi yang hangat menerobos masuk menyilaukan mata Sang Putri sehingga selama beberapa waktu ia terserang kebutaan putih. Dunia seolah berhenti menyaksikan peristiwa itu, ketika kecantikan yang mengagumkan tersebut kembali ke dunia dari kegelapannya yang tertutup. Burung­burung berhenti berkicau, angin berhenti berhembus, dan Sang Putri berdiri di sana bagaikan satu lukisan, dengan jendela sebagai bingkainya. Lama ia harus mengatasi kebutaan putih itu, namun akhirnya terbiasa juga, dan mulai memandang ke luar jendela. Pandangannya tampak ragu dan pipinya merona kemerahan, sebab saat itu ia akan berjumpa dengan seseorang yang akan menjadi kekasihnya. Tapi tak ada siapa­siapa sejauh mata memandang, kecuali seekor anjing yang juga memandang ke arahnya setelah mendengar bunyi engsel jendela terbuka. Sang Putri tertegun sejenak, tapi sekali lagi ia tak pernah mengingkari janji, maka ia berkata dengan sungguh­sungguh bahwa ia akan mengawini anjing itu.

Tak seorang pun akan menerima perkawinan tersebut, maka tak lama

kemudian mereka mengasingkan diri di hutan berkabut di pinggir laut selatan. Ia sendirilah yang kemudian memberinya nama Halimunda, negeri kabut. Mereka tinggal di sana bertahun­tahun, dan tentu saja beranakpinak. Kebanyakan orang­orang yang tinggal di Halimunda, percaya belaka bahwa mereka anak keturunan Sang Putri dengan anjing yang tak pernah seorang pun tahu siapa namanya. Bahkan Sang Putri sendiri tampaknya tak pernah tahu dan tak pernah memberinya nama. Ketika ia melihatnya pertama kali di jendela, yang ia tahu hanyalah bahwa ia harus turun kawin dengannya. Maka ia segera turun untuk menjemput mempelainya, tak peduli dengan apa pun yang akan dikatakan orang. ”Sebab anjing tak akan peduli apakah aku cantik atau tidak,” katanya.

Kedatangannya di Halimunda didengar orang dengan cepat. Malam itu Maman Gendeng terdampar di tempat pelacuran Mama Kalong, yang terbaik di kota itu, di daerah muara. Ia masuk ke kedai minum tempat perempuan tua itu sendiri ada di sana, bersama beberapa pelacur dan preman­premannya. Setelah tidur yang sejenak, ia telah memutuskan untuk tinggal di sana, menjadi bagian kota itu, menjadi salah satu dari anak keturunan Rengganis Sang Putri. Ia tampaknya senang dengan perkampungan nelayan yang cukup ramai, mengingatkannya pada masa lampau. Juga kedai­kedai minum yang berderet sepanjang pantai, toko­toko di sepanjang Jalan Merdeka, dan tentu saja tempat pelacuran Mama Kalong.

Maman Gendeng datang ke sana atas rekomendasi seseorang yang ditanyainya secara serampangan. Ia berpikir, jika ia ingin tinggal di kota itu, maka ia harus menguasainya. Cara terbaik adalah pergi ke tempat pelacuran dan memulai segala sesuatunya dari sana. Maka setelah minum segelas bir yang dilayani khusus oleh Mama Kalong yang telah mendengar secara samar­samar reputasinya selama di pantai, ia berdiri di tengah kedai dan bertanya siapa lelaki paling kuat di kota ini. Beberapa preman penunggu rumah pelacuran tampak terganggu dengan pertanyaan tersebut, dan perkelahian untuk keberapa kali terjadi di halaman kedai. Maman Gendeng tak perlu waktu lama untuk membuat mereka babak belur, tak peduli mereka bersenjata golok, clurit dan bahkan samurai peninggalan komandan tentara Jepang.

Sambil menepuk­nepukkan tangannya, ia kembali masuk ke dalam kedai berharap menemukan lelaki lain yang bisa dihajar. Namun yang ia lihat adalah seorang perempuan cantik di sebuah sudut dengan rokok di bibir. ”Perempuan itu, pelacur atau bukan, aku ingin tidur dengannya,” ia berbisik pada Mama Kalong.

”Ia pelacur terbaik di sini, namanya Dewi Ayu,” kata Mama Kalong. ”Seperti maskot,” kata Maman Gendeng.

”Seperti maskot.”

”Aku akan tinggal di kota ini,” kata Maman Gendeng lagi. ”Aku akan mengencingi kemaluannya seperti harimau menandai daerah kekuasaannya.”

Ia duduk di sudut itu tampak acuh tak acuh. Di bawah cahaya lampu, kulitnya sangat bersih, menandai warisan yang nyata orang­orang Belanda. Ia peranakan campuran, dengan mata yang agak kebiruan. Rambutnya hitam gelap, disanggul memanjang seperti sanggul perempuan­perempuan Prancis. Ia masih merokok, dengan sigaret yang diapit jari­jemari ramping panjang, kuku­kukunya dikutek merah darah. Dewi Ayu mengenakan gaun warna gading dengan tali mengikat pinggangnya yang ramping. Ia mendengar apa yang dikatakan lelaki itu pada Mama Kalong, lalu ia mendongak menoleh padanya. Sejenak mereka saling memandang dan Dewi Ayu tersenyum menggoda tanpa beranjak.

”Segeralah, Sayang, sebelum kau ngompol di celana,” katanya. Dewi Ayu memberitahunya bahwa ia memiliki kamar khusus, se­

buah paviliun persis di belakang kedai tersebut. Tapi ia tak pernah ke sana dengan kakinya sendiri, sebab siapa pun yang menginginkannya harus membopongnya seperti sepasang pengantin baru. Maman Gendeng sama sekali tak keberatan untuk pelacur secantik itu, maka ia datang menghampirinya dan berdiri di depannya, membungkuk. Berat tubuhnya sekitar enam puluh kilo, Maman Gendeng memperkirakan saat mengangkatnya, lalu melangkah menuju bagian belakang kedai melalui sebuah pintu, menerobos kebun jeruk yang harum semerbak, menuju sebuah bangunan kecil yang remang­remang, di antara beberapa bangunan lainnya. Maman Gendeng berkata kepadanya: ”Aku datang ke sini untuk mengawini Rengganis Sang Putri, tapi datang terlambat lebih dari seratus tahun. Maukah kau menggantikannya?”

Dewi Ayu mencium pipi pembopongnya dan berkata, ”Pelacur itu

penjaja seks komersial, sementara seorang istri menjajakan seks secara sukarela. Masalahnya, aku tak suka bercinta tanpa dibayar.” Mereka bercinta malam itu dan bercumbu nyaris semalaman. Keduanya tampak begitu hangat bagaikan sepasang kekasih yang lama tak berjumpa. Ketika pagi datang, masih telanjang bulat dan hanya dibalut selimut satu untuk berdua, mereka duduk di depan paviliun menikmati udara yang dingin. Burung pipit tampak berisik berloncatan di dahandahan pohon jeruk, dan burung gereja terbang pendek di ujung atap. Matahari muncul bersama kehangatannya dari celah bukit Ma Iyang dan Ma Gedik di utara kota.

Halimunda mulai terbangun. Sepasang kekasih itu mulai bersiap, menanggalkan selimut mereka, berendam di air hangat pada sebuah bak mandi besar peninggalan orang Jepang, dan berpakaian. Sebagaimana pagi­pagi sebelumnya, Dewi Ayu akan pulang ke rumahnya sendiri. Ia punya anak, tiga orang gadis, katanya, tapi ia tak akan menawarkan mereka kepadanya, sebab tak satu pun di antara mereka merupakan pelacur. Maman Gendeng berkata padanya, bahwa ia tak akan pernah meniduri perempuan yang bukan pelacur, kecuali pernah di waktu perang dan ia dalam keadaan patah hati. Dewi Ayu pulang diantar becak dan Maman Gendeng bersiap memulai hari barunya di kota itu.

Mama Kalong menjamunya sarapan pagi, berupa nasi kuning dengan sayur jamur merang dan telur ayam puyuh yang dipesannya pagi­pagi sekali dari pasar. Maman Gendeng kembali bertanya tentang lelaki terkuat, sungguh­sungguh yang paling kuat, di kota itu. ”Sebab tak mungkin ada dua jagoan di satu tempat,” katanya. Itu benar, kata Mama Kalong. Ia menyebut nama seorang lelaki, Edi Idiot, preman terminal paling ditakuti. Mama Kalong menyebutkan reputasinya: tentara dan polisi takut belaka kepadanya, dan ia membunuh lebih banyak orang daripada seorang prajurit di masa perang lalu, dan semua bandit dan perampok dan bajak laut di kota itu anak buahnya belaka. Kemungkinan terbesar ia telah mendengar namanya, sebab preman­preman tempat pelacuran tentunya telah melapor. Begitu siang datang, Maman Gendeng segera beranjak menuju terminal bis, menemui lelaki yang tengah bergoyang­goyang di kursi ayun kayu mahoni.

”Berikan kekuasaanmu padaku,” kata Maman Gendeng kepadanya,

”atau kita bertarung sampai seseorang mati.”

Edi Idiot telah menunggunya, bagaimanapun. Ia menerima tantangannya, dan kabar baik itu dengan cepat tersebar. Penduduk kota yang telah bertahun­tahun tak pernah melihat tontonan yang cukup fantastis, dengan penuh antusias berbondong­bondong menuju pantai tempat mereka akan bertarung. Tak seorang pun berani meramalkan, siapa yang akan membunuh siapa. Komandan militer dari kota mengirimkan satu kompi pasukan yang dipimpin seorang lelaki kurus yang dikenal penduduk kota dengan panggilan Shodancho, tapi jelas bahwa ia tak mungkin menghentikan pertarungan tersebut. 

Sang Shodancho masih menguasai seruas kecil wilayah kota itu, dari markasnya di mana ia memasang papan nama Komandan Rayon Militer Halimunda. Karena perkelahian brutal tersebut ada di wilayahnya, ia telah mengajukan dirinya sendiri ke penguasa militer kota untuk menyelesaikannya. Kenyataannya, satu kompi pasukan bersenjata itu tak berbuat banyak, kecuali menyuruh penduduk kota yang bergerombol sepanjang pantai sedikit tertib. Ia sebenarnya berharap kedua orang itu mati bersama­sama, sebab ia pun berpikir tak mungkin ada tiga penguasa wilayah tersebut, dan ia harus merupakan satu­satunya. Sebagaimana yang lain, ia menunggu dan tak bisa meramalkan apa pun. Mereka harus menunggu seminggu untuk melihat akhir dari pertarungan selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti tersebut.

Sang Shodancho berkata pada salah satu prajurit, ”Tampaknya jelas, Edi Idiot akan mati.”

”Tak ada bedanya bagi kita,” kata sang prajurit dengan kegetiran yang menyedihkan. ”Kota ini dipenuhi bandit dan penyamun, dan veteran gerilyawan tentara revolusioner, dan sisa­sisa orang Komunis. Kita menghadapi semua keributan yang diciptakan mereka, dan kita tak bisa berbuat apa­apa.”

Sang Shodancho mengangguk.

”Kita hanya mengganti nama Edi Idiot dengan Maman Gendeng,” katanya.

Sang prajurit tersenyum pahit dan berbisik. ”Kita hanya berharap ia tak ikut campur dengan bisnis militer.”

Meskipun hanya menguasai rayon militer setempat, di satu sudut Kota Halimunda, Sang Shodancho sangatlah disegani seluruh kota. Bahkan beberapa komandan atasannya memberi hormat secara resmi kepadanya, sebab semua orang tahu ia adalah pemimpin pemberontakan Daidan Halimunda di masa pendudukan Jepang, dan tak seorang pun mengalahkan keberaniannya dalam hal itu. Bahkan orang­orang kota itu cukup yakin, seandainya Soekarno dan Hatta tak memproklamirkan kemerdekaan, lelaki itulah yang akan melakukannya. Orang­orang sangat menyukainya, meskipun mereka juga tahu ia bukan tentara yang baik. Rayon militer kota itu bergerak lebih banyak dalam urusan penyelundupan tekstil ke Australia dan memasukkan kendaraan dan barang­barang elektronik. Itu bisnis yang luar biasa bagus di tahuntahun tersebut, dan para komandan di atas tak satu pun mau mengganggunya, sebab ia memasok terlalu banyak untuk keuangan para jenderal. Mengamankan sebuah perkelahian hanyalah urusan kecil mereka.

Tak lama kemudian, kepastian itu diperoleh. Edi Idiot akhirnya memang mati setelah ditenggelamkan ke dalam air laut dan ia telah kehilangan banyak tenaga untuk terus melawan. Mayatnya dilemparkan lelaki itu ke tengah laut, tempat sepasang hiu sahabatnya terus menanti, bersuka ria atas kiriman santapan sore yang tak diduga­duga itu. Maman Gendeng kembali ke pantai, menghadapi hampir seluruh penduduk kota yang menyaksikan pertarungannya, tampak begitu segar seolah ia masih bisa melanjutkan tujuh perkelahian serupa. Kepada orang­orang itu ia memberi maklumat, ”Semua kekuasaannya beralih kepadaku.” Dan menambahkan hal yang sangat penting baginya: ”Tak seorang pun boleh meniduri Dewi Ayu di tempat pelacuran Mama Kalong kecuali aku.”

Dewi Ayu, pelacur itu, terkejut mendengar maklumat yang dikatakan Maman Gendeng, namun tetap bersikap waspada terhadap apa pun yang diinginkannya, sebab kedudukannya sekarang sangatlah jelas setelah berhasil membunuh Edi Idiot, maka ia hanya mengirim seorang kurir untuk mengundang sang preman yang baru. Maman Gendeng menerima dengan baik undangan tersebut, dan berjanji akan datang sesegera mungkin.

Bagaimanapun, ia pelacur terbaik di kota itu. Kurang lebih seluruh lelaki dewasa pernah menidurinya selama rentang waktu kariernya, dan kehendak monopoli yang diinginkan sang preman haruslah memperoleh penjelasan. Ia seorang perempuan cantik, waktu itu masih berumur tiga puluh lima tahun, dengan kegemaran merawat tubuhnya dengan baik. Ia memiliki kebiasaan berendam di air hangat setiap pagi, menggosok tubuhnya dengan sabun bersulfur, dan sebulan sekali berendam di air larutan rempah­rempah yang hangat. Legenda kecantikannya nyaris menyamai reputasi leluhur kota itu, dan satu­satunya alasan kenapa tak ada perang memperebutkannya, adalah karena ia seorang pelacur dan semua orang bisa menidurinya asalkan ada uang untuk itu.

Sang pelacur nyaris tak pernah muncul di tempat umum, kecuali selewatan ketika ia duduk di dalam becak saat senja hari pergi ke rumah pelacuran Mama Kalong dan di pagi hari ketika ia pulang ke rumah. Selain itu, mungkin waktu­waktu sejenak ketika ia membawa anakanak gadisnya melihat bioskop, pasar malam, dan tentu saja ketika ia harus memasukkan mereka ke sekolah. Kadang­kadang ia pergi ke pasar, dan itu sangat langka sekali. Di tempat umum, orang asing tak akan mengenalinya sebagai pelacur, sebab ia akan mengenakan gaun yang jauh lebih sopan dari siapa pun, melangkah seanggun gadis­gadis istana, dengan keranjang belanjaan dan payung di tangan yang lain. Bahkan ia mengenakan gaun tebal yang hangat dan tertutup di rumah pelacuran, dan lebih banyak duduk membaca buku­buku wisata kegemarannya di sudut kedai minum daripada menggoda lelaki di pinggir jalan: itu bukan bagiannya.

Rumahnya berada di bagian kota lama, di masa kolonial merupakan

daerah permukiman orang­orang Belanda pegawai perkebunan, merupakan warisan dari keluarganya sendiri yang melarikan diri ketika Jepang datang. Letaknya persis di kaki bukit kecil yang menghadap ke laut, di belakangnya perkebunan cokelat dan kelapa yang masih tetap ada. Ia memperolehnya kembali setelah orang­orang Jepang merampasnya dengan membelinya dari seseorang yang memperolehnya entah dengan cara apa, dan merenovasinya setelah satu pasukan gerilyawan tentara revolusioner menghancurkannya. Ia sebenarnya tak suka tinggal di sana, membelinya lebih karena kenangan masa lalu, namun juga tersiksa oleh nostalgia tersebut. Ada perumahan baru sedang dibangun di pinggir Sungai Rengganis, dan ia telah memesannya dan berharap tahun depan bisa pindah ke sana. Sang preman datang berkunjung ke rumahnya di sore hari, tak lama setelah tuan rumah bangun tidur dan selesai mandi, disambut oleh gadis kecil umur sebelas tahun. Ia memperkenalkan dirinya sebagai anak bungsu Dewi Ayu, bernama Maya Dewi, dan ia menyuruh Maman Gendeng menunggu di ruang tamu sebab ibunya tengah mengeringkan rambut. Anak itu secantik ibunya, bahkan pada umurnya hal itu sudah tampak jelas, dan selama ia menunggu, anak itulah yang memberinya segelas limun dengan balok es kecil mengapung di dalamnya, tampak menggairahkan di udara panas sore hari. Ketika sang preman mengeluarkan rokok, gadis itu terburu­buru mengeluarkan asbak dan meletakkannya di meja. Maman Gendeng menoleh sekilas memandang isi rumah tersebut, dan percaya bentuknya yang rapi dan teratur tentunya lahir dari tangan gadis kecil itu. Ia telah mendengar dari Mama Kalong, Dewi Ayu punya tiga anak, dan ia dibuat penasaran secantik apa kedua kakak gadis kecil itu. Tapi Alamanda dan Adinda tampaknya tak ada di rumah.

Dewi Ayu muncul dengan rambut yang dibiarkan lepas, tampak

kemilau diterpa cahaya matahari sore. Ia menyuruh anak gadisnya pergi, lalu membangunkan seekor kucing yang tidur melingkar di atas kursi yang kemudian didudukinya. Semua gerakannya tampak begitu perlahan, tenang, dan lembut. Ia duduk bersandar dengan satu kaki menopang kaki yang lain, mengenakan gaun panjang dengan kantongkantong besar di kedua sisinya, serta seuntai tali di lubang leher. Dari tempatnya duduk, Maman Gendeng bisa menghirup harum bau tubuhnya, lavender yang lembut, dengan aroma lidah buaya dari rambutnya. Bahkan meskipun ia telah menidurinya dan melihatnya telanjang, cara berpakaiannya tetap memberikan fantasi kecantikan yang mengagumkan. Tangannya yang ramping seputih susu, meraih sebungkus rokok dari salah satu saku bajunya, dan sesaat kemudian ia ikut merokok. Sejenak Maman Gendeng dibuat kikuk oleh penampilan yang membius itu, membuatnya hanya memandang kaki perempuan tersebut, pada sepasang selop beludru warna hijau tua yang bergoyang­goyang perlahan. ”Terima kasih telah datang,” kata Dewi Ayu. ”Inilah rumahku.”

Sang preman telah mengetahui alasan undangan ini, atau paling

tidak ia bisa menduganya. Ia menyadari apa yang dikatakannya sama sekali tak bisa dibenarkan. Tapi sejak pertemuan mereka dan setelah melewati malam yang hangat itu, ia telah dibuat jatuh cinta pada perempuan itu. Untuk pertama kalinya, ia bisa melupakan semua lukaluka sebelumnya, melupakan Nasiah dan Rengganis Sang Putri, dan terpesona pada seorang pelacur yang begitu mengagumkan. Ia tak ingin terluka kembali, maka jika ia tak bisa mengawininya, paling tidak hanya ia dan tidak orang lain yang akan menidurinya.

Ketenangan pelacur itu sungguh luar biasa, tentunya lahir dari kecerdasan alami. Ia membuang asap rokok secara teratur, dan matanya memandang asap yang terbang bagaikan seorang pemikir tengah merenung. Aroma rokoknya sangat jelas tanpa cengkih, ringan, sebagaimana rokok impor kebanyakan. Tadi ia muncul dengan gelas limunnya sendiri, dan selepas satu batang rokok habis, ia meminum bagiannya. Dengan gerakan tangan ia memberi isyarat pada sang preman untuk meminum limun dingin di depannya, dan dengan canggung sang preman melakukannya. Di kejauhan seorang anak menabuh beduk dari sebuah masjid, sore itu sekitar pukul tiga.

”Menyedihkan,” kata sang pelacur. ”Kau lelaki ketiga puluh dua yang mencoba memilikiku.”

Itu tak membuat sang preman terkejut, sebab ia telah menduganya dengan sangat tepat. Hal ini memberinya sedikit keberanian untuk bicara. ”Jika aku tak bisa mengawinimu,” katanya, ”paling tidak aku membayarmu setiap hari sebagai pelacur.”

”Masalahnya lelaki tak setiap hari bisa meniduriku, dan aku akan sering menerima uang buta,” kata Dewi Ayu sambil tertawa kecil. ”Tapi aku suka, paling tidak, jika aku hamil kini aku tahu siapa ayahnya.”

”Jadi kau sepakat bahwa kau jadi pelacurku seumur hidupmu?” tanya Maman Gendeng.

Dewi Ayu menggeleng. ”Tak selama itu,” katanya, ”tapi selama kau mampu, terutama uang dan kemaluanmu.”

”Aku bisa mengganti kemaluanku dengan ujung jari, atau kaki sapi jika kau merasa kurang.”

”Ujung jari telah cukup, asal tahu cara memakainya,” kata Dewi Ayu tergelak, dan kemudian ia tiba­tiba terdiam sebelum berkata kembali, ”Jadi inilah akhir karierku sebagai pelacur umum.” Ia mengatakan itu dengan roman penuh nostalgia terhadap tahun­tahun yang telah lewat, sebab ia telah menjadi pelacur sejak masa pendudukan Jepang. Banyak hal yang sedih telah ia alami, namun ia juga mengalami masa­masa yang menyenangkan, meskipun tak banyak. ”Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik­baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada,” katanya.

”Aku bukannya tak percaya bahwa cinta itu ada dan sebaliknya aku melakukan semua ini dengan penuh cinta,” ia masih melanjutkan. ”Aku lahir dari keluarga Katolik Belanda dan jadi orang Katolik sebelum membaca syahadat dan jadi orang Islam di hari perkawinan pertamaku. Aku pernah kawin sekali dan pernah jadi orang beragama, tapi kini aku kehilangan semuanya. Namun bukan berarti aku kehilangan cinta. Menjadi seorang pelacur kau harus mencintai segalanya, semua orang, semua benda: kemaluan, ujung jari, atau kaki sapi. Aku merasa jadi seorang santa sekaligus sufi.”

”Sebaliknya, cinta membuatku sangat menderita,” kata sang preman. ”Kau bisa mencintaiku,” kata Dewi Ayu lagi. ”Tapi kau jangan berharap terlalu banyak dariku, sebab itu tak ada hubungannya dengan

cinta.”

”Bagaimana mungkin aku mencintai seseorang yang tak mencintaiku?”

”Kau harus belajar, Preman.”

Menandai kesepakatan di antara mereka, Dewi Ayu mengulurkan tangannya dan Maman Gendeng mencium ujung jarinya. Kesepakatan itu membuat senang keduanya, dan meskipun mereka tak tinggal serumah, hal itu membuat mereka tampak seperti sepasang pengantin. Bahkan ketika Maman Gendeng mengenal anak­anak gadis pelacur itu, yang mewarisi kecantikan ibunya secara sempurna, ia bergeming untuk tetap mencintai ibu mereka. Juga usia muda mereka tak memberi apa pun baginya: Alamanda berumur enam belas tahun dan Adinda berumur empat belas tahun, itu hanya sekadar angka­angka. Bahkan ia akan berkata pada semua orang: ”Akan kubunuh siapa pun yang mengganggu gadis­gadis itu.”

Bahkan, bagaikan sebuah keluarga, mereka mulai sering terlihat di tempat­tempat umum. Menonton bioskop bersama­sama dan menghabiskan hari Minggu di pantai sambil memancing atau berenang. Selebihnya mereka akan bertemu di malam hari di paviliun belakang kedai minum Mama Kalong, dan ketika pagi datang, Dewi Ayu tak lagi tergesa­gesa harus pulang, sebab mereka bisa duduk­duduk bersantai di kebun jeruk sambil berbincang­bincang.

Namun kemesraan mereka terganggu pada suatu malam ketika Maman Gendeng tak berkunjung ke rumah pelacuran Mama Kalong dan Dewi Ayu menghabiskan waktu dengan membaca buku panduan wisata. Itu telah beberapa minggu sejak kedatangan Maman Gendeng dan tak seorang lelaki pun berani menyentuh sang pelacur, kecuali satu saja yang datang malam itu: Sang Shodancho. Ia datang bersama prajurit pengawalnya.

Sesungguhnya ia belum pernah muncul di tempat pelacuran tersebut, dan sesungguhnya selama ini ia hanya dikenal namanya saja. Tak lama sebelum kedatangan sang preman, ia muncul dan membuka markas rayon militer. Orang­orang bilang sebelum itu ia terus di dalam hutan sejak pemberontakannya terhadap orang­orang Jepang dan menjadi pelarian tentara Sekutu di masa agresi militer. Kini ia muncul di tempat pelacuran tersebut dan Mama Kalong dibuat gembira sehingga ia datang tergopoh­gopoh untuk menyambutnya sendiri, dan bersedia melayani apa pun yang ia inginkan. Sang Shodancho tak menginginkan banyak hal kecuali pelacur paling cantik di tempat itu. Ia menoleh ke arah sudut dan menemukan Dewi Ayu di sana, tanpa keraguan ia langsung menunjuknya. Orang­orang dibuat menggigil oleh pilihannya, dan tak seorang pun berani mengeluarkan suara ketika Dewi Ayu menggeleng. Itu kali pertama Dewi Ayu menolak seorang pelanggan, namun Sang Shodancho tak akan menyerah hanya oleh sebuah gelengan kepala. Ia melangkah menghampiri sang pelacur, menodongkan pistolnya dan menyuruh pelacur itu membuang buku panduan wisatanya dan berjalan ke tempat tidur. Itu membuatnya sangat sakit hati, sebab setelah bertahun­tahun, untuk pertama kalinya ia harus berjalan kaki menuju kamarnya, dan tidak dimanjakan dengan dibopong. Sang Shodancho mengikutinya ke paviliun sementara pengawalnya duduk di kedai menunggu. ”Kau menodongkan pistol seperti seorang pengecut,” kata sang pelacur dengan jengkel.

”Itu kebiasaan buruk, maafkan aku, Nyonya,” kata Shodancho. ”Aku hanya ingin tanya, apakah aku bisa mengawini anak sulungmu, Alamanda?”

Dewi Ayu mencibir dengan penuh ejekan, dan mengingatkannya bahwa perlakuan buruk terhadap ibunya akan berakibat buruk pada keinginannya. Tapi kemudian ia berkata dengan sedikit rasional: ”Alamanda punya otak dan tubuh sendiri, tanyakan langsung padanya apakah ia mau kawin denganmu atau tidak.” Di dalam hati ia berkata, tentara kurus ini sangatlah menyedihkan, melamar dengan cara itu.

”Semua orang di kota ini tahu ia telah mengecewakan banyak lelaki, dan aku takut itu terjadi padaku,” kata Shodancho.

Dewi Ayu mengetahui hal itu. Lelaki muda dan orang tua jompo tergila­gila pada Alamanda. Mereka mencoba memperoleh cintanya dan tak pernah memperoleh apa pun, sebab ia tahu Alamanda hanya mencintai seorang lelaki yang pergi dan ia menunggunya.

”Tak ada bedanya, kau harus tanya Alamanda,” kata Dewi Ayu lagi. ”Jika ia mau kawin denganmu akan kubuatkan pesta yang meriah, jika ia tak ingin kawin denganmu, kusarankan untuk bunuh diri.”

Suara burung hantu di kebun jeruk mulai terdengar, mengincar tikus­tikus tanah. Dewi Ayu mencoba terus mengulur­ulur waktu dan berharap sang preman akhirnya datang, dan selebihnya urusan kedua lelaki itu. Shodancho menghampirinya, menyentuh kulit dagunya yang sehalus permukaan lilin, dan bertanya, ”Jadi apa saranmu, Nyonya?”

Dewi Ayu tak menyarankan untuk terus memburu cinta Alamanda, sebab tampaknya itu sia­sia. Ia bilang, ada banyak gadis cantik di kota ini, semuanya keturunan Rengganis Sang Putri yang kecantikannya telah mereka kenal.

”Carilah gadis lain,” ia menyarankan. ”Semua kemaluan perempuan rasanya sama.”

Ia tak pulang bagaimanapun, namun dengan kasar membuka pakaian Dewi Ayu dan mendorongnya ke tempat tidur. Ia membuka pakaiannya dengan tergesa­gesa, dan naik ke atas tempat tidur menyetubuhi pelacur itu dengan ketergesa­gesaan yang sama. Setelah kemaluannya muntah­muntah, ia tergeletak sejenak sebelum turun dan berpakaian, lalu pergi meninggalkannya tanpa berkata apa­apa lagi.

Dewi Ayu masih berbaring tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Bukan sekadar bahwa seseorang menidurinya sementara Maman Gendeng telah memberitahu semua orang bahwa hanya lelaki itu yang boleh menidurinya. Ia tak percaya sebab inilah kali pertama ia ditiduri dengan cara yang begitu kurang ajar. Bahkan prajurit­prajurit Jepang memperlakukannya dengan sangat sopan, dan semua orang memperlakukannya jauh lebih manis daripada yang mereka lakukan terhadap istri­istri mereka. Ia memandang gaunnya yang kehilangan dua kancing karena dibuka paksa, dan sakit hati karenanya, berdoa semoga lelaki itu mati dipanggang halilintar. Sakit hatinya bertambah­tambah jika ia mengingat betapa lelaki itu menyetubuhinya hanya dalam beberapa menit yang pendek, seolah ia bukan tubuh perempuan cantik yang dikagumi seluruh kota, seolah ia hanya seonggok daging dan lelaki itu hanya menyetubuhi lubang toilet. Semuanya cukup untuk membuatnya sedikit menangis dan memaki­maki, dan pulang lebih cepat dari biasanya.

Maman Gendeng mendengarnya secepat hari baru datang. Waktu

itu ia belum mengenal Sang Shodancho, tapi ia tahu di mana harus menemukannya. Dari terminal bis tempat tinggalnya, ia berjalan menelusuri Jalan Merdeka melewati lapangan bola menuju markas Komando Rayon Militer Halimunda untuk menemuinya. Di gerbang masuk, di dalam kandang monyet, seorang prajurit jaga menghentikannya. Maman Gendeng menggertaknya dan berkata bahwa ia ingin bertemu dengan Sang Shodancho. Prajurit itu tak bersenjata, kecuali sebilah belati dan sebuah pentungan, dan ia tahu ia tak akan bisa melawannya, maka ia hanya menujukkan arah dan pintu tempat Sang Shodancho bisa ditemui. Prajurit itu memberi hormat namun Maman Gendeng berlalu tanpa membalasnya.

Ia hanya mengenakan kaus oblong lengan pendek dan celana jeans, mempertontonkan tatto ular naga di pangkal lengan kanannya yang ia miliki di masa gerilya, dan masuk ke kantor Sang Shodancho begitu saja tanpa mengetuk pintu. Sang Komandan ada di dalam kantor, tengah melakukan pembicaraan radio dengan komando pusat dan sedikit terkejut oleh masuknya seseorang tanpa mengetuk pintu. Ketika dilihatnya seorang lelaki yang berdiri begitu angkuh, ia segera menghentikan pembicaraannya dan ikut berdiri menghadapi lelaki yang memandangnya dengan kemarahan yang tersimpan baik di dalam sorot matanya. Shodancho segera mengenalinya sebagai petarung di pantai itu, namun sebelum ia mengatakan apa pun, Maman Gendeng mendahuluinya, ”Dengar, Shodancho.” Dan menambahkan dengan segera: ”Tak seorang pun boleh tidur dengan Dewi Ayu kecuali aku, dan kukatakan jika kau berani kembali ke tempat tidurnya, aku akan memporakporandakan tempat ini tanpa ampun.”

Betapa marahnya Shodancho itu mendengar seseorang yang belum dikenalnya mengancam begitu rupa: di sini, di kantornya sendiri. Ia bertanya­tanya apakah lelaki ini belum mengetahui siapa dirinya. Negara bisa menggantungnya hanya dengan membiarkan mulutnya mengatakan bahwa lelaki itu harus digantung. Lagipula ia tahu Dewi Ayu seorang pelacur, jika masalahnya ia meniduri pelacur itu tanpa membayar, ia akan membayar lebih banyak dari yang telah dibayarkan orang lain. Jengkel dengan sikap angkuh preman di hadapannya, dan didorong kemarahan yang datang tiba­tiba, Sang Shodancho mencabut pistol yang tergantung di pinggangnya. Pengait dilepaskan dan ia menodongkannya pada lelaki itu seolah ia ingin mengatakan bahwa ia tak takut ancaman apa pun dan sebaiknya kau segera angkat kaki dari sini kecuali kau ingin aku menembakmu.

”Baiklah, rupanya kau tak tahu siapa diriku,” kata sang preman.

Waktu itu Shodancho sama sekali tak bermaksud menembaknya kecuali untuk sedikit membuat lelaki itu takut. Tapi ketika dilihatnya Maman Gendeng mengeluarkan pisau belati dari balik pinggangnya, ia tak punya pilihan lain kecuali menarik pelatuk dan peluru melesat bersamaan dengan suara letusan. Ia melihat Maman Gendeng terdorong ke arah dinding, tapi betapa terkejutnya menyaksikan betapa lelaki itu sama sekali tak menderita luka apa pun. Pelurunya berpusing di lantai, padahal ia yakin tak meleset sedikit pun karena ia telah terbiasa menembak tepat pada jarak lima puluh meter. Keterkejutannya bertambah­tambah ketika dilihatnya Maman Gendeng hanya tersenyum ke arahnya.

”Dengar, Shodancho,” katanya. ”Aku mengeluarkan belati ini bukan untuk menyerangmu, tapi untuk memperlihatkan bahwa aku tak takut kepadamu karena aku kebal terhadap apa pun, baik pelurumu maupun pisau belatiku.” Pada saat yang sama Maman Gendeng menikamkan belati ke perutnya dengan sangat keras. Belati tersebut patah dan potongan ujungnya terpelanting ke lantai tanpa meninggalkan luka apa pun di tubuh sang preman. Ia meraih peluru dan potongan belati dari lantai, menggenggamnya dan memperlihatkan benda­benda itu di telapak tangan pada Sang Shodancho.

Shodancho pernah mendengar orang­orang seperti itu, tapi melihatnya secara langsung baru sekarang ini. Itu membuat wajahnya pucat pasi seketika.

Sebelum pergi meninggalkan Shodancho yang diam mematung dengan pistol tergantung di tangan yang lemas tak berdaya, Maman Gendeng berkata untuk terakhir kalinya, ”Sekali lagi Shodancho, jangan sentuh Dewi Ayu karena jika kau lakukan itu, aku tak hanya akan memorakporandakan tempat ini tapi bahkan membunuhmu.”
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊