menu

Cantik Itu Luka Bab 04

Mode Malam
4
Tempat pelacuran Mama Kalong telah ada sejak masa pembukaan barak­barak tentara kolonial secara besar­besaran. Sebelum itu ia sebenarnya hanya seorang gadis yang ikut membantu di kedai minum milik bibinya yang jahat. Mereka menjual tuak tebu dan beras, dan prajurit­prajurit itu pelanggan mereka yang baik. Meskipun kedatangan tentara­tentara di kota itu membuat kedai minum tersebut semakin meriah, namun sama sekali tak membuat si gadis hidup berkecukupan. Sebaliknya, ia disuruh bekerja dari pukul lima dini hari sampai jam sebelas malam hanya untuk memperoleh jatah makan dua kali sehari. Tapi kemudian ia mampu memanfaatkan waktu luangnya yang

sedikit itu untuk memperoleh uang sendiri.

Selepas menutup kedai, ia akan pergi ke barak tentara tersebut. Ia tahu apa yang mereka butuhkan dan mereka tahu apa yang ia inginkan. Tentara­tentara itu membayarnya untuk telanjang mengangkang di depan kemaluan mereka. Tiga atau empat prajurit akan menggilir menyetubuhinya sebelum ia pulang membawa uang. Lama­kelamaan, penghasilannya jauh melampaui apa pun yang diperoleh bibinya. Ia punya naluri bisnis yang baik. Suatu hari, setelah memperoleh omelan karena bekerja sambil setengah mengantuk, ia meninggalkan bibinya dan membuka kedai sendiri di ujung dermaga. Ia menjual tuak tebu dan beras, dan juga tubuhnya. Ia tak pernah pergi lagi ke barak, tapi prajurit­prajurit itu datang ke kedainya. Di akhir bulan pertama ia telah memperoleh dua orang gadis dua belas tahunan untuk menemaninya di kedai minum, sebagai pelayan dan pelacur. Ia telah memulai kariernya sebagai germo.

Setelah tiga bulan, ada enam pelacur di tempat itu, tidak termasuk dirinya. Itu cukup baginya untuk memperluas kedai dengan kamarkamar dari anyaman bambu. Suatu hari seorang kolonel datang untuk melihat pos militer mereka dan mengunjungi tempat pelacuran tersebut, bukan untuk mencari pelacur, tapi untuk melihat apakah tempat tersebut cukup baik bagi prajurit­prajuritnya.

”Seperti kandang babi,” katanya, ”mereka akan mati karena hidup jorok sebelum bertemu musuh.”

Mama Kalong, memberi hormat yang selayaknya pada Sang Kolonel, segera menjawab, ”Mereka akan mati sebelum memperoleh tempat pelacuran yang lebih baik, oleh berahi.”

Sang Kolonel percaya tempat pelacuran itu memberi moral yang cukup baik bagi semangat tempur para prajurit, maka ia membuat satu laporan bagus dan sebulan setengah setelah kunjungannya, pos militer memutuskan untuk membangun tempat pelacuran yang lebih permanen. Mereka membuang dinding­dinding bambu dengan atap daun aren, dan menggantinya dengan tembok­tembok sekuat benteng pertahanan, dengan lantai plester. Hampir semua ranjangnya merupakan kayu jati dengan kasur berisi kapuk­kapuk pilihan. Mama Kalong, yang memperoleh semua itu secara cuma­cuma, tampak senang dan berkata pada setiap prajurit yang datang:

”Bercintalah serasa di rumah sendiri.”

”Omong kosong,” kata seorang prajurit. ”Di rumahku hanya ada ibu dan nenekku.”

Kenyataannya, tempat itu sangat memanjakan siapa pun. Para pelacur berdandan melebihi perempuan­perempuan Belanda terhormat, dan bahkan lebih cantik dari ratu.

Ketika penyakit sifilis berjangkit, ia bersama prajurit­prajurit itu mendesak didirikannya rumah sakit. Sebenarnya rumah sakit militer, namun orang­orang sipil juga mulai berdatangan. Tempat pelacurannya sedikit terancam bangkrut, namun ia segera memperoleh beberapa pemecahan yang baik. Ia berusaha membujuk beberapa prajurit untuk memelihara gundik­gundiknya sendiri, dan jika mereka mau membayarnya, ia bisa mencarikan perempuan­perempuan seperti itu untuk mereka. Ia keluar masuk desa, bahkan sampai ke gunung­gunung, untuk menemukan gadis­gadis yang bersedia menjadi gundik tentara Belanda. Ia memelihara mereka semua di rumah pelacurannya, namun mereka hanya dipergunakan oleh seorang prajurit masing­masing. Dengan jaminan bahwa mereka tak menyebarkan penyakit kotor, ia cepat kaya dengan cara itu. Bahkan jika prajurit­prajurit itu, yang merasa tercekik oleh tarif Mama Kalong yang tanpa ampun, memutuskan untuk mengawini gundik­gundik mereka, Mama Kalong akan meminta ganti rugi yang berlipat­lipat. Sementara itu, pelacur­pelacurnya yang lama, masih ia berikan untuk siapa pun. Kini ia bahkan memperoleh pelangganpelanggan baru menggantikan para prajurit untuk pelacur­pelacur itu: nelayan dan buruh pelabuhan.

Di masa­masa akhir kekuasaan kolonial, ia boleh dikatakan sebagai perempuan paling kaya di Halimunda. Ia membeli tanah­tanah yang dijual para petani setelah kegagalan mereka di meja judi, dan menyewakannya kembali pada mereka, sehingga tanahnya membentang hampir sepanjang kaki­kaki bukit. Kepemilikannya atas tanah mungkin hanya kalah oleh perkebunan­perkebunan milik orang­orang Belanda.

Ia seperti ratu kecil di kota itu: semua orang menghormatinya, tak peduli pribumi maupun Belanda. Ke mana­mana ia pergi dengan kereta kuda, mengurusi beberapa bisnisnya, yang paling utama tetap perempuan­perempuan yang menjajakan kemaluan mereka. Di muka umum ia berpenampilan dengan cara yang sangat sopan, dengan sarung ketat serta kebaya dan rambut disanggul. Tentu saja ia tak lagi sekurus dulu. Pada saat itulah orang­orang, mengikuti kebiasaan gadis­gadis pelacurnya, mulai memanggilnya Mama. Entah siapa yang memulai, namanya kemudian bertambah menjadi Mama Kalong. Ia suka dengan nama itu, dan orang­orang, bahkan tampaknya ia sendiri, mulai melupakan nama sesungguhnya.

”Ketika kerajaan­kerajaan lain ambruk, di Halimunda berdiri kerajaan baru,” kata seorang prajurit Belanda yang mabuk di kedai minumnya, ”Itu adalah Kerajaan Mama Kalong.”

Meskipun jelas ia sangat rakus, ia tak pernah berusaha membuat gadis­gadis pelacurnya menderita. Sebaliknya, ia cenderung memanjakan mereka, seperti seorang nenek yang memelihara puluhan cucu. Ia memiliki beberapa jongos yang akan memasak air hangat agar mereka bisa mandi selepas percintaan yang melelahkan. Pada hari­hari tertentu, ia meliburkan mereka dan mengajaknya berjalan­jalan untuk tamasya di air terjun. Ia juga mendatangkan penjahit­penjahit terbaik untuk pakaian mereka. Dan terutama, kesehatan mereka merupakan yang terpenting di atas segalanya.

”Sebab,” katanya, ”di dalam tubuh yang sehat, terdapat kenikmatan tertinggi.”

Kemudian tentara­tentara Belanda pergi dan tentara­tentara Jepang datang: tempat pelacuran Mama Kalong tetap berdiri di zaman yang berubah. Ia melayani prajurit­prajurit Jepang sama baik dengan pelanggannya terdahulu, dan bahkan mencarikan mereka gadis­gadis yang lebih segar. Hingga suatu hari ia dipanggil oleh penguasa sipil dan militer kota, dalam suatu interogasi pendek yang tak begitu mengkhawatirkan. Kesimpulannya, beberapa pejabat tinggi militer Jepang di kota itu menginginkan pelacurnya sendiri, terpisah dari pelacur prajurit rendahan dan apalagi buruh­buruh pelabuhan serta nelayan. Pelacur­pelacur baru yang sungguh­sungguh segar, dengan perawatan yang baik, dan Mama Kalong harus menemukan gadis­gadis itu secepat mungkin, sebab sebagaimana kata­katanya sendiri, mereka sedang sekarat karena berahi.

”Gampang, Tuan,” katanya, ”memperoleh gadis­gadis seperti itu.” ”Katakan, di mana?”

”Tahanan perang,” jawab Mama Kalong pendek.

Gadis­gadis itu mulai berlarian kalang­kabut begitu sore datang dan beberapa orang Jepang berdatangan. Mereka mencoba menemukan celah untuk melarikan diri, namun semua tempat telah dijaga. Halaman rumah itu cukup besar dikelilingi benteng tinggi, hanya memiliki satu pintu gerbang di depan dan pintu kecil di belakang, semuanya tak mungkin diterobos. Beberapa gadis bahkan mencoba naik ke atas rumah, seolah mereka bisa terbang atau menemukan tali yang akan membawa mereka ke langit.

”Aku sudah memeriksa semuanya,” kata Dewi Ayu. ”Tak ada tempat untuk meloloskan diri.”

”Kita akan jadi pelacur!” teriak Ola sambil duduk dan menangis. ”Lebih buruk dari itu,” kata Dewi Ayu lagi. ”Tampaknya kita tak

akan dibayar.” Seorang gadis lain, bernama Helena, langsung menghadang seorang perwira Jepang yang muncul dan menudingnya telah melanggar hak asasi manusia, dan terutama Konvensi Genewa. Jangankan orang­orang Jepang, Dewi Ayu bahkan dibuat tertawa terbahak­bahak.

”Tak ada konvensi apa pun selama perang, Nona,” katanya.

Gadis itu, Helena, tampaknya merupakan satu­satunya yang paling terguncang oleh pengetahuan bahwa mereka akan menjadi pelacur. Konon ia telah berniat mengabdikan dirinya menjadi biarawati, sebelum perang datang dan semuanya berantakan. Ia satu­satunya gadis yang membawa buku doa ke tempat tersebut, dan kini ia mulai membaca salah satu Mazmur dengan suara keras, di hadapan orang­orang Jepang, berharap tentara­tentara itu akan lari ketakutan sambil melolong­lolong seperti iblis. Di luar dugaannya, tentara­tentara Jepang itu bersikap sangat baik kepadanya, sebab di setiap akhir doa, mereka akan membalas:

”Amin.” Kemudian tertawa, tentu saja.

”Amin,” ia pun membalas, sebelum terkulai lemas di kursi. Perwira itu membawa beberapa potongan kertas, memberikan se­

carik masing­masing untuk gadis­gadis itu. Ada tulisan dalam bahasa Melayu di permukaannya, ternyata nama­nama bunga. ”Itu nama kalian yang baru,” kata sang perwira. Dewi Ayu tampak bersemangat melihat namanya: Mawar. ”Hati­hati,” katanya, ”mawar selalu melukai.” Seorang gadis memperoleh nama Anggrek, yang lain Dahlia. Ola memperoleh namanya sendiri: Alamanda.

Mereka diperintah untuk masuk kamar masing­masing, sementara beberapa orang Jepang antri di meja beranda membeli tiket. Malam pertama harganya sangat mahal, sebab mereka percaya gadis­gadis itu masih perawan, bahkan mereka tak tahu Dewi Ayu tak lagi perawan. Bukannya pergi ke kamar masing­masing, gadis­gadis itu malahan bergerombol di kamar Dewi Ayu, yang masih memeriksa kekuatan tempat tidurnya sebelum berkomentar, ”Akhirnya seseorang akan membuat gempa di atasnya.”

Kemudian tentara­tentara itu mulai mengambil gadis­gadis tersebut satu per satu, dalam satu perkelahian yang dengan mudah mereka menangkan. Mereka membawa gadis­gadis itu dalam jepitan tangan, bagaikan membawa kucing sakit, dan mereka meronta­ronta penuh kesia­siaan. Malam itu Dewi Ayu mendengar dari kamar­kamar mereka, jeritan­jeritan histeris, perkelahian yang masih berlanjut, beberapa bahkan berhasil meloloskan diri dari kamar dalam keadaan telanjang sebelum tentara­tentara berhasil menangkap dan melemparkannya kembali ke atas tempat tidur. Mereka melolong selama persetubuhan yang mengerikan itu, dan ia bahkan mendengar Helena meneriakkan beberapa baris Mazmur sementara seorang lelaki Jepang membobol kemaluannya. Di beranda, pada saat yang sama ia mendengar orang­orang Jepang tertawa mendengar semua kegaduhan tersebut.

Hanya Dewi Ayu yang tak mengeluarkan kegaduhan apa pun. Ia memperoleh seorang perwira Jepang tinggi besar, cenderung gempal serupa pegulat sumo, dengan samurai di pinggangnya. Dewi Ayu berbaring di atas tempat tidur, menatap langit­langit, tak menoleh apalagi tersenyum. Ia tampaknya lebih banyak mendengarkan suara­suara gaduh di luar kamarnya daripada memperhatikan apa yang ada di dalam kamar itu. Ia berbaring seperti sebongkah mayat yang siap dikubur. Bahkan ketika perwira Jepang itu berteriak agar ia membuka pakaiannya, ia tetap diam saja, seolah ia bahkan tak bernapas.

Dengan jengkel orang Jepang itu mengeluarkan samurai dan mengacungkannya, hingga ujungnya menempel di pipi Dewi Ayu dan mengulang kembali perintahnya. Tapi Dewi Ayu bergeming, tetap begitu meskipun ujung samurai kemudian menggoreskan luka di wajah. Matanya masih menatap langit­langit dan telinganya berada jauh di luar kamar. Dengan jengkel si Jepang melemparkan samurai, dan menampar wajah Dewi Ayu dua kali, yang hanya meninggalkan memar merah serta tubuh yang bergoyang sejenak, namun setelahnya ia kembali pada sikap tak peduli yang menjengkelkan itu.

Menyerah pada nasib buruknya, si tentara gempal akhirnya mencabik­cabik pakaian perempuan di depannya, melemparkannya ke lantai, kini perempuan itu telanjang. Ia merenggangkan kedua kaki perempuan itu hingga mengangkang, dan begitu pula kedua tangannya. Setelah memandangi bongkahan daging yang tetap diam tersebut, ia segera menelanjangi dirinya sendiri, dan melompat ke atas tempat tidur, berbaring telungkup di atas tubuh Dewi Ayu, menyerangnya. Bahkan selama persetubuhan yang dingin itu Dewi Ayu tetap pada posisinya semula sebagaimana diatur si tentara Jepang, tak meresponsnya dengan kehangatan percintaan apa pun, dan apalagi dengan pemberontakan yang tak perlu. Ia tak memejamkan mata, tak tersenyum, hanya menatap langit­langit.

Sikap dinginnya membuahkan hasil yang mengagumkan: orang Jepang itu menyetubuhinya tak lebih dari tiga menit. Dua menit dua puluh tiga detik, sebagaimana ia menghitungnya dengan melirik jam bandul di sudut kamar. Si Jepang tergeletak ke samping dan segera berdiri sambil bersungut­sungut. Mengenakan pakaiannya dengan cepat, dan segera pergi tanpa mengatakan apa pun lagi, kecuali membanting pintu. Saat itulah Dewi Ayu baru bergerak, bahkan tersenyum begitu manis, menggeliatkan badan sambil berkata:

”Malam yang membosankan.”

Ia mengenakan pakaiannya dan pergi ke kamar mandi. Di sana ia menemukan gadis­gadis itu tengah mandi, seolah bisa membersihkan semua kotoran, rasa malu, dan mungkin dosa dengan beberapa gayung air. Mereka tak bicara satu sama lain. Itu bukan yang pertama malam itu, sebab malam masihlah sangat senja dan beberapa orang Jepang masih menunggu. Setelah mandi, mereka kembali dipaksa masuk kembali ke kamar, ada pemberontakan lagi, lolongan lagi, kecuali Dewi Ayu yang kembali mengulang sikap dinginnya.

Malam itu mereka mungkin disetubuhi empat atau lima lelaki. Itu malam yang sungguh­sungguh gila. Apa yang membuat Dewi Ayu menderita bukanlah percintaan liar yang tak mengenal lelah itu, yang nyaris membekukan tubuhnya dalam sikap diam yang misterius, tapi jeritanjeritan histeris serta tangisan teman­temannya. Gadis­gadis malang, katanya, menolak sesuatu yang tak bisa ditolak adalah hal yang lebih menyakitkan dari apa pun. Lalu hari baru datang.

Pagi itu ia punya pekerjaan tambahan. Dalam keadaan putus asa, Helena mencukur rambutnya dalam potongan­potongan tak karuan, dan ia harus meratakannya kembali. Di malam ketiga, teror yang lebih mengerikan datang. Mereka menemukan Ola nyaris sekarat di kamar mandi, setelah mencoba mengiris pergelangan tangannya. Dewi Ayu segera membawanya ke kamar tidur dalam keadaan tak sadarkan diri dan basah kuyup, sementara Mama Kalong mencarikan dokter untuknya. Ia tak mati, bagaimanapun, namun Dewi Ayu segera menyadari bahwa apa yang mereka alami jauh lebih mengerikan daripada apa yang dipikirkannya. Ketika Ola telah melewati masa­masa krisis, ia kemudian berkata kepadanya:

”Kau diperkosa dan kau mati. Itu bukan oleh­oleh yang ingin kubawa untuk Gerda.”

Bahkan meskipun kehidupan seperti itu telah berlalu berhari­hari, beberapa gadis masih belum menerima nasib buruk mereka, dan Dewi Ayu masih mendengar suara­suara menjerit histeris di malam hari. Dua orang gadis bahkan masih sering bersembunyi, di loteng rumah atau naik ke pohon sawo di belakang rumah. Ia kemudian menasihati mereka untuk melakukan apa yang selalu dilakukannya setiap malam. ”Berbaring seperti mayat, sampai mereka bosan,” katanya. Tapi bahkan gadis­gadis itu menganggapnya jauh lebih mengerikan. Diam membisu sementara seseorang menggeranyang tubuh dan menyetubuhi mereka, tak seorang pun di antara mereka bisa membayangkannya. ”Atau cobalah melayani salah seorang yang kalian sukai dengan penuh perhatian, bikin ia ketagihan hingga datang tiap malam dan membayar kalian untuk sepanjang malam. Melayani orang yang sama jauh lebih baik daripada terus­menerus tidur dengan orang berbeda, sambil ber­

harap kalian dibawa untuk dijadikan gundik.”

Idenya tampak bagus, tapi terlalu mengerikan untuk dibayangkan teman­temannya.

”Atau mendongenglah seperti Scheherazade,” katanya. Tak seorang pun punya kemampuan mendongeng. ”Ajak mereka main kartu.”

Tak seorang pun bisa main kartu.

”Kalau begitu, berbuatlah sebaliknya,” kata Dewi Ayu, menyerah. ”Perkosalah mereka.”

Meskipun begitu, di siang hari mereka sesungguhnya bisa menjadi sangat bahagia, tanpa gangguan apa pun. Di satu minggu pertama, mereka menghabiskan siang hari dengan mengurung diri di dalam kamar, malu untuk bertemu satu sama lain, dan menangis sendirian di sana. Tapi begitu lewat satu minggu, setelah sarapan pagi mereka mulai bertemu satu sama lain, mencoba saling menghibur dan membicarakan hal lain yang tak ada hubungannya dengan malam­malam penuh tragedi mereka.

Dewi Ayu beberapa kali bertemu dengan perempuan pribumi setengah baya itu: Mama Kalong, dan membangun persahabatan yang aneh. Hal itu disebabkan oleh sikap Dewi Ayu yang tenang dan tak menunjukkan sikap memberontak, sehingga tak menyulitkan Mama Kalong sendiri dalam hubungannya dengan orang­orang Jepang. Pada Dewi Ayu ia berkata sejujurnya bahwa ia seorang pemilik tempat pelacuran di ujung dermaga. Kini banyak di antaranya didatangkan ke sana dengan paksaan, untuk memenuhi nafsu berahi prajurit Jepang rendahan. Semuanya pribumi, kecuali di rumah ini.

”Kalian beruntung tidak melakukannya siang dan malam,” kata Mama Kalong. ”Prajurit rendahan jauh lebih brengsek.”

”Tak ada bedanya prajurit rendahan atau kaisar Jepang,” kata Dewi Ayu. ”Mereka semua sama mengincar selangkangan betina.”

Mama Kalong menyediakan seorang perempuan tua setengah buta, pribumi, sebagai pemijat. Setiap pagi gadis­gadis itu mengikuti ritual pemijatan, percaya pada kata­kata Mama Kalong bahwa hanya dengan cara itulah mereka akan terbebas dari kemungkinan hamil. Kecuali Dewi Ayu yang kadang­kadang mau karena lelah, tapi seringkali lebih sering melewatkan pagi untuk tidur sebelum sarapan pagi.

”Seseorang hamil karena disetubuhi, bukan karena tidak dipijat,” katanya enteng.

Ia menerima risikonya. Sebulan berada di tempat pelacuran itu, ia menjadi perempuan pertama yang hamil. Mama Kalong menyarankannya untuk menggugurkan kandungan. ”Pikirkanlah keluargamu,” kata perempuan itu. Dewi Ayu kemudian berkata, ”Sebagaimana saranmu, Mama, aku memikirkan keluargaku, dan satu­satunya yang kumiliki hanya bocah di dalam perut ini.” Maka Dewi Ayu membiarkan perutnya bunting, semakin besar dari hari ke hari. Kehamilan memberinya keberuntungan: Mama Kalong menyuruhnya tinggal di kamar belakang dan mengumumkan pada semua orang Jepang bahwa gadis itu hamil dan tak seorang pun boleh menidurinya. Tak ada orang Jepang mau menidurinya, dan itu mendorongnya untuk menyarankan gadis­gadis lain melakukan hal yang sama. ”Benar kata orang, anak membawa rejekinya sendiri­sendiri!”

Tapi tak seorang pun berani mengambil risiko yang sama seperti Dewi Ayu.

Bahkan, setelah tiga bulan kemudian, tak seorang pun meninggalkan rutinitas pemijatan di setiap pagi, dan bergeming untuk hamil. Mereka harus menghadapi teror yang sama setiap malam, dan lebih memilih itu daripada kelak pulang ke hadapan ibu mereka dengan perut bunting. ”Apa yang akan kukatakan pada Gerda?” kata Ola.

”Katakan saja, Gerda, oleh­olehnya ada di dalam perutku.”

Sebagaimana telah berlangsung sebelumnya, jika siang hari mereka memiliki banyak waktu luang. Gadis­gadis itu akan berkumpul sambil berbincang­bincang. Beberapa bermain kartu dan yang lainnya membantu Dewi Ayu menjahit baju­baju kecil bagi anak bayinya. Bagaimanapun, mereka dibuat terpesona bahwa salah satu di antara mereka akan segera punya bayi, dan berdebar­debar menunggu kapan bayi itu akan lahir ke dunianya yang kejam.

Mereka juga kadang kembali membicarakan perang. Ada desasdesus bahwa tentara Sekutu akan menyerang kantong­kantong militer Jepang dan gadis­gadis itu mulai berharap bahwa Halimunda adalah salah satunya.

”Kuharap semua Jepang mati terbunuh dengan usus memburai,” kata Helena.

”Jangan terlalu keras, anakku bisa mendengarnya,” kata Dewi Ayu. ”Kenapa?”

”Ia anak seorang Jepang.”

Mereka tertawa oleh humornya yang menyakitkan.

Tapi harapan tentang akan datangnya tentara Sekutu sungguh­sungguh membangkitkan semangat mereka. Hingga ketika seekor merpati pos terbang tersesat ke rumah mereka dan salah satu dari gadis­gadis itu menangkapnya, mereka mengirimkan pesan­pesan untuk tentara Sekutu dalam surat­surat pendek. Tolonglah kami, atau kami dipaksa menjadi pelacur, atau dua puluh orang gadis menunggu ksatria penolong. Ide itu tampak konyol, dan tak bisa dibayangkan bagaimana burung merpati tersebut bisa menemukan tentara Sekutu. Mereka menerbangkannya di suatu sore. Tak ada tanda­tanda sang merpati bertemu tentara Sekutu. Namun ketika burung itu muncul kembali tanpa surat­surat mereka, gadis­gadis itu percaya, paling tidak seseorang entah di mana membacanya. Maka dengan penuh semangat mereka mengirimkan surat­surat baru. Terusmenerus melakukannya selama hampir tiga minggu.

Tak ada tentara Sekutu datang, yang ada kunjungan seorang jenderal tentara Jepang yang tak seorang pun dari gadis­gadis itu pernah melihatnya. Kedatangannya yang tiba­tiba membuat para prajurit yang berjaga terpojok ke sudut­sudut halaman, mencoba menghindari dirinya sebisa mungkin. Satu­dua orang prajurit yang ditanyainya tampak menggigil dengan lutut bergemelutuk.

”Tempat apakah ini?” tanya Sang Jenderal.

”Tempat pelacuran,” jawab Dewi Ayu sebelum salah satu prajurit Jepang menjawabnya.

Ia seorang tentara bertubuh tinggi besar, mungkin warisan para samurai dari masa lampau, dengan dua samurai tergantung di kedua sisi pinggangnya, seperti Musashi. Ia memelihara cambang lebat, dengan wajah dingin dan serius.

”Apakah kalian pelacur?” tanyanya.

Dewi Ayu menggeleng. ”Kami merawat jiwa­jiwa tentara yang sakit,” katanya. ”Demikianlah kami jadi pelacur, dipaksa dan tak dibayar.”

”Kau hamil?”

”Nadamu seolah tak percaya bahwa orang Jepang tak bisa bikin seorang gadis jadi hamil, Jenderal.”

Ia mengacuhkan komentar Dewi Ayu dan mulai memarahi semua Jepang yang ada di rumah, dan ketika senja datang dan beberapa pelanggan muncul, kemarahannya semakin meledak­ledak. Ia memanggil beberapa perwira, melakukan rapat tertutup di salah satu ruangan. Tampak jelas tak seorang pun berani kepadanya.

Sementara itu para gadis di rumah tersebut menanggapinya dengan penuh kebahagiaan, seolah itu kemenangan gemilang atas surat­surat tak kenal lelah yang telah mereka kirimkan. Mereka memandang Sang Jenderal dengan sikap penuh terima kasih, menganggapnya sebagai penolong. ”Aku hampir tak percaya, malaikat bisa berwajah orang Jepang,” kata Helena. Sebelum ia kembali ke markasnya, ia menghampiri gadis­gadis yang berkerumun di pojok ruang makan. Ia berdiri di hadapan mereka, membuka topinya dan membungkuk, sampai setinggi pinggang.

”Naore!” kata Dewi Ayu.

Sang Jenderal kembali berdiri tegak dan untuk pertama kalinya mereka melihatnya tersenyum. ”Kirimi aku surat lagi jika orang­orang gila ini menyentuh tubuh kalian,” katanya.

”Kenapa kau datang begitu terlambat, Jenderal?”

”Jika aku datang terlalu cepat,” katanya, dengan suara yang berat yang lembut, ”aku hanya menemukan rumah kosong belum berpenghuni.”

”Bolehkah aku tahu namamu, Jenderal?” tanya Dewi Ayu. ”Musashi.”

”Jika anakku lelaki, akan kuberi nama Musashi.”

”Berdoalah punya anak perempuan,” kata sang Jenderal. ”Tak pernah kudengar seorang perempuan memerkosa lelaki.” Ia kemudian pergi, masuk ke dalam truk yang menunggu di halaman depan, diiringi lambaian tangan gadis­gadis itu. Seiring dengan kepergiannya, para perwira yang sedari tadi berdiri kikuk sambil melap keringat dingin dengan sapu tangan, juga segera bergegas pergi mengikutinya. Itu malam pertama tak seorang pun tamu datang untuk memerkosa mereka, begitu sepi, dan gadis­gadis itu segera merayakannya dengan sedikit pesta. Mama Kalong memberi mereka tiga botol anggur dan Helena menuangkannya ke dalam gelas­gelas kecil bagaikan pendeta pada perjamuan suci.

”Untuk keselamatan Sang Jenderal,” katanya. ”Ia begitu tampan.” ”Jika ia memerkosaku, aku tak akan melawan,” kata Ola.

”Jika anakku perempuan,” kata Dewi Ayu. ”Namanya Alamanda, seperti Ola.”

Semuanya tiba­tiba berhenti begitu saja, tak ada lagi pelacuran dan tak ada lagi pelacur, juga tak ada perwira­perwira Jepang yang berdatangan menjelang malam untuk membeli tubuh mereka. Satu hal yang membuat cemas beberapa gadis adalah bahwa mereka akan bertemu dengan ibu­ibu mereka, dan mereka tak tahu bagaimana mengatakan apa yang telah mereka alami. Beberapa orang mencoba berdiri di depan cermin, melatih keberanian mereka, berkata pada bayangan mereka sendiri, ”Mama, kini aku seorang pelacur.” Tentu saja tidak begitu, dan mereka akan mengulang, ”Mama, aku bekas pelacur.” Itu pun tampaknya salah dan mengulang, ”Mama, aku dipaksa menjadi pelacur.”

Tapi mereka tahu kenyataannya mengatakan hal itu di depan ibu mereka jauh lebih sulit daripada di depan cermin. Satu­satunya hal yang tampaknya sedikit menguntungkan adalah, orang­orang Jepang itu tak bermaksud segera mengembalikan mereka ke Bloedenkamp, dan sebaliknya, tetap menahan mereka di sana. Memang bukan sebagai pelacur, namun sebagai tahanan perang sebagaimana semula. Prajuritprajurit masih menjaga mereka dengan ketat, dan Mama Kalong masih mengunjungi mereka untuk memastikan gadis­gadis itu dalam perawatan yang baik.

”Aku memperlakukan pelacur­pelacurku seperti para ratu,” katanya bangga, ”tak peduli mereka telah pensiun.”

Mereka mengisi hari­hari, minggu­minggu dan bulan­bulan dengan cara menghibur diri di sekeliling Dewi Ayu yang terus menjahit baju­baju kecil untuk bayinya. Kini, dibantu teman­temannya, ia telah memiliki nyaris sekeranjang pakaian, berasal dari kain­kain yang mereka temukan dari lemari pemilik rumah. Paling tidak itu menyelamatkan mereka dari rasa bosan menunggu perang selesai sampai akhirnya Mama Kalong datang dengan seorang dukun bayi.

”Semua pelacurku yang hamil melahirkan dengan bantuannya,” kata Mama Kalong.

”Semoga tidak semua yang ia bantu adalah pelacur,” kata Dewi Ayu. Pada hari Selasa, masih di tahun yang sama ketika ia pergi dari Bloedenkamp dan masuk rumah pelacuran di awal tahun, ia melahirkan seorang bayi perempuan yang segera ia beri nama Alamanda, sebagaimana janjinya. Anak itu begitu cantik, sepenuhnya mewarisi kecantikan ibunya, dan satu­satunya yang menandakan bahwa ayahnya adalah orang Jepang terletak pada matanya yang mungil. ”Seorang gadis

bule dengan mata sipit,” kata Ola, ”hanya ada di Hindia Belanda.” ”Satu­satunya nasib buruk adalah ia bukan anak Sang Jenderal,”

kata Helena.

Bayi kecil itu segera menjadi hiburan yang mewah bagi penghuni rumah, bahkan prajurit­prajurit Jepang membelikannya boneka dan mengadakan pesta untuk nasib baiknya. ”Mereka harus menghormatinya,” kata Ola lagi, ”Bagaimanapun Alamanda anak atasan mereka.” Dewi Ayu senang bahwa Ola tampak perlahan­lahan bisa melupakan masa lewat yang buruk, dan kembali menjadi gadis yang menyenangkan. Hariharinya disibukkan dengan membantu mengurus bayi kecil itu, bersama yang lain, yang menyebut diri mereka sebagai tante.

Seorang prajurit Jepang, pada satu dinihari, memasuki kamar Helena dan mencoba memerkosanya. Helena berteriak begitu nyaring, membangunkan semua orang, dan itu membuat prajurit itu lari ke dalam kegelapan. Mereka tak tahu prajurit yang mana telah melakukan percobaan pemerkosaan tersebut, sampai pagi datang dan Sang Jenderal kemudian muncul. Ia menyeret salah seorang prajurit, menjemurnya di tengah halaman dan memberinya sepucuk pistol. Prajurit itu mati menembak dirinya sendiri melalui mulut menembus otak. Sejak itu tak seorang pun berani mendekati gadis­gadis tersebut.

Sementara itu, perang belum juga berakhir. Mereka mendengar kabar­kabar burung, beberapa dibawa Mama Kalong dan yang lain oleh beberapa pelayan yang datang membantunya, bahwa tentaratentara Jepang telah selesai membangun gua­gua pertahanan sepanjang pantai selatan. Mama Kalong memberi mereka radio secara diam­diam, hingga mereka mendengar dua bom jatuh di Jepang, bom ketiga urung dijatuhkan, tapi itu cukup untuk menggemparkan rumah tersebut. Prajurit­prajurit Jepang itu tampaknya mengetahui juga berita tersebut. Hari­hari kemudian mereka tampak duduk­duduk di bawah pohon tanpa gairah, dan satu per satu mulai menghilang entah dikirim ke mana. Ketika kapal­kapal Sekutu akhirnya mulai beterbangan di langit Halimunda sambil menerbangkan pamflet­pamflet kecil yang mengatakan perang segera berakhir, rumah tersebut hanya dijaga dua prajurit Jepang saja.

Jika gadis­gadis itu tak mencoba melarikan diri meskipun hanya

dijaga dua orang prajurit, itu karena keadaan begitu tak menentu. Lagi pula mereka telah mendengar dari radio bahwa tentara­tentara Inggris telah menguasai kota­kota, dan tinggal di rumah tersebut tampaknya jauh lebih aman daripada di jalanan. Jepang sudah kalah, dan mereka menunggu pasukan Sekutu menyelamatkan mereka. Tapi ternyata tentara­tentara itu datang begitu terlambat ke Halimunda, seolah lupa bahwa ada kota tersebut di atas permukaan bumi. Itu sebelum kapalkapal kembali berdatangan, melemparkan biskuit dan penisilin, dan pasukan darat bermunculan. Yang datang adalah pasukan lapis kedua, seluruhnya terdiri dari pasukan Belanda yang menamakan diri mereka KNIL, yang segera mengganti bendera Jepang di depan rumah tersebut dengan bendera mereka sendiri. Kedua prajurit Jepang menyerah tak berdaya.

Namun yang mengejutkan bagi Dewi Ayu adalah, Mr. Willie terdapat di antara salah satu pasukan itu.

”Aku bergabung dengan KNIL,” katanya.

”Itu lebih baik daripada gabung dengan tentara Jepang,” kata Dewi Ayu. Ia memperlihatkan bayi perempuannya pada lelaki itu. ”Inilah yang kemudian tersisa dari orang­orang Jepang,” sambil mengatakan itu ia tertawa kecil.

Keluarga kedua puluh orang gadis itu kemudian didatangkan dari Bloedenkamp. Gerda tampak sangat kurus, dan ketika ia menanyakan apa yang terjadi selama pergi, Ola hanya menjawab pendek, ”Tamasya.” Tapi Gerda segera mengetahuinya begitu ia melihat si kecil Alamanda. Mereka tinggal di sana ditemani prajurit­prajurit Belanda yang menjaga mereka secara bergantian. Itu adalah waktu­waktu yang sangat sulit bagi Dewi Ayu sebab Mr. Willie masih memperlihatkan cintanya yang dalam, meskipun ia pernah menghadapi penolakan dan tampaknya akan menghadapi penolakan lagi.

Nasib yang buruk kembali menyelamatkan Dewi Ayu.

Suatu malam, Mr. Willie dan tiga orang prajurit lain memperoleh giliran untuk menjaga rumah tersebut, ketika satu serangan gerilya tentara pribumi menyerang mereka. Mereka bersenjatakan senjata rampasan dari tentara Jepang, golok dan pisau, dan granat tangan. Serangan mereka yang mendadak bekerja sangat efektif, mereka membunuh keempat tentara Belanda itu. Mr. Willie dipancung dari belakang saat tengah berbincang dengan Dewi Ayu di ruang tamu, hingga kepalanya terlempar ke arah meja dan darahnya membasahi si kecil Alamanda. Satu prajurit lain ditembak di toilet saat buang air, dan dua yang lainnya terbunuh di halaman. Jumlahnya lebih dari sepuluh orang, dan kini mereka mengumpulkan semua tawanan tersebut. Ketika diketahui semua perempuan dan semua orang­orang Belanda, mereka bertambah beringas. Beberapa di antara mereka diikat di dapur dan sebagian lagi diseret ke kamar tidur untuk diperkosa. Teriakan­teriakan mereka jauh lebih memilukan daripada ketika orang­orang Jepang menjadikan mereka pelacur, dan bahkan Dewi Ayu harus berkelahi terlebih dahulu dengan seorang gerilyawan yang merampas bayi dan melukai tangannya dengan pisau. Bantuan datang dengan sangat terlambat dan gerilyawan itu lenyap begitu cepat. Mereka menguburkan keempat mayat prajurit di halaman

belakang rumah.

”Jika kau gabung dengan gerilyawan,” kata Dewi Ayu sambil meletakkan bunga di atas kuburan Mr. Willie, ”paling tidak kau bisa memerkosaku.” Dan ia menangis untuknya.

Tapi peristiwa itu terjadi beberapa kali. Empat prajurit yang menjaga rumah tersebut selalu kurang dibandingkan belasan gerilyawan yang muncul mendadak dengan senjata lengkap. Komandan setempat tak bisa memberi lebih banyak penjaga sebab mereka sendiri masih kekurangan personil. Mereka baru merasa aman ketika pasukan Inggris datang memperkuat keamanan seluruh kota. Pasukan itu merupakan bagian dari Divisi India kedua puluh tiga yang datang ke Jawa, beberapa di antaranya orang­orang Gurkha. Mereka memasang senjata­senjata mesin di banyak tempat, beberapa di antaranya membuat pos di halaman rumah mereka. Ketika gerilyawan pribumi datang lagi, mereka menghadapinya dengan sangat sengit. Gerilyawan tak bisa masuk ke halaman rumah, dan sebaliknya mereka berhasil membunuh satu di antara mereka. Sejak itu tentara gerilya tak pernah menjadikan rumah tersebut sebagai sasaran.

Kehidupan selama dijaga tentara­tentara Inggris berlangsung sangat

damai dan menyenangkan. Mereka membuat pesta­pesta kecil untuk melupakan hari­hari buruk yang telah berlalu. Kadang­kadang gadisgadis itu bepergian ke pantai dengan jip militer, dikawal beberapa tentara bersenjata lengkap. Beberapa prajurit kemudian bahkan jatuh cinta pada gadis­gadis itu, dan gadis­gadis itu jatuh cinta pada mereka. Ada masa­masa yang sulit bagi gadis­gadis itu untuk menceritakan apa yang telah terjadi atas mereka, namun ketika segalanya telah terlewati, segalanya berjalan semakin menyenangkan. Sebuah grup musik pribumi diundang dan mereka mengadakan pesta kecil lagi, dengan anggur dan biskuit.

Penyelamatan tahanan terus berlangsung: tim palang merah internasional kemudian datang dan semua tahanan segera akan diterbangkan ke Eropa. Negeri ini bagaimanapun tak cukup aman bagi orang­orang sipil, apalagi setelah selama tiga tahun di dalam tahanan. Orang­orang pribumi telah memerdekakan diri, dan milisi­milisi bersenjata berdiri di mana­mana. Beberapa mengaku sebagai tentara nasional, yang lainnya menyebut diri mereka sebagai tentara rakyat, semuanya bergerilya dari luar kota. Sebagian besar dari milisi­milisi itu dididik Jepang selama pendudukan, dan mereka menghadapi juga orang­orang pribumi yang dididik militer Belanda dan bergabung dengan KNIL dalam perang yang kacau. Perang belum berakhir, bahkan baru dimulai, dan dinamakan oleh orang­orang pribumi sebagai perang revolusi.

Semua gadis dan keluarga di rumah tahanan itu bersiap untuk berangkat dalam satu penerbangan yang diatur palang merah, kecuali gadis yang secara tiba­tiba selalu memiliki gagasannya sendiri: Dewi Ayu. ”Aku tak punya siapa­siapa di Eropa,” katanya. ”Aku hanya punya Alamanda dan seorang jabang bayi yang kini telah ada di dalam perutku lagi.”

”Paling tidak kau punya aku dan Gerda,” kata Ola. ”Tapi di sinilah rumahku.”

Ia telah berkata pada Mama Kalong bahwa ia tak ingin pergi dari Halimunda. Ia akan tetap tinggal di kota itu, tak peduli bahkan seandainya ia harus jadi pelacur. Mama Kalong berkata padanya, ”Tinggallah di rumah itu sebagaimana sebelumnya. Ia milikku sekarang dan orang Belanda itu tak mungkin menuntutnya balik.”

Maka sementara yang lainnya pergi, Dewi Ayu tinggal di sana ditemani Mama Kalong dan beberapa pelayan. Ia menantikan kelahiran bayinya yang kedua, yang ia pastikan berasal dari salah satu gerilyawan itu, sambil membaca Max Havelaar yang ditinggalkan Ola. Ia pernah membacanya, tapi ia membacanya kembali, sebab tak ada hal lain yang bisa ia kerjakan, dan Mama Kalong melarang ia mengerjakan apa pun. Bayi itu akhirnya lahir ketika Alamanda nyaris berumur dua tahun, dan Dewi Ayu memberinya nama Adinda, seperti nama gadis dalam novel yang ia baca.

Setelah beberapa bulan tinggal di rumah Mama Kalong, ia mulai memikirkan harta karunnya, yang kini tertimbun tai di dalam tabung pembuangan toilet rumah lamanya, dan terutama ia harus memiliki kembali rumah itu. Rumah tempatnya kini tinggal telah menjadi tempat pelacuran baru, dengan gadis­gadis bekas pelacur Jepang di zaman perang. Mama Kalong berhasil menemukan gadis­gadis yang tak berani pulang ke rumah dan memutuskan untuk tetap bersamanya, menjadi putri­putri dalam Kerajaan Mama Kalong, dan bergerombol mengisi kamar­kamar di rumah itu. Beberapa tentara KNIL merupakan pelanggan setia mereka. Mama Kalong masih mengizinkan Dewi Ayu dengan kedua anaknya menempati salah satu kamar, tanpa harus melacurkan dirinya kembali, sampai kapan pun. Dewi Ayu menerima baik kebaikan hati Mama Kalong, namun bagaimanapun, ia tetap berkeyakinan rumah pelacuran bukanlah tempat yang baik bagi pertumbuhan anak­anak kecilnya, dan ia bersikeras harus kembali ke rumahnya yang dulu.

Ia tak perlu menjadi pelacur, sebab ia masih punya enam cincin

yang ditelannya selama perang. Ia menjual salah satunya pada Mama Kalong, yang berhias batu giok, dan hidup dengan uang itu. Bahkan ia bisa membeli kereta bayi bekas yang dijual di toko rongsokan. Dengan kereta bayi itulah, untuk pertama kali Dewi Ayu membawa kedua anaknya menelusuri jalanan Halimunda kembali. Si kecil Adinda berbaring di bawah tudungnya, sementara Alamanda duduk di belakang adiknya mengenakan sweater dan penutup kepala. Dewi Ayu dengan rambut disanggul ke atas, mengenakan gaun panjang dengan tali di pinggang, kedua kantong pakaiannya dipenuhi botol susu si kecil Adinda dan sapu tangan serta popok, dengan tenang berjalan mendorong kereta bayi.

Jalanan sangat lengang, tak banyak orang berkeliaran. Ia mendengar desas­desus sebagian besar lelaki dewasa pergi ke hutan untuk bergerilya. Ia hanya melihat seorang tukang cukur tua di pojok jalan, tampaknya bakalan mati karena bosan menunggu pelanggan. Selebihnya ia hanya melihat prajurit­prajurit KNIL menjaga kota sambil membaca koran bekas, mengantuk dan sama bosannya. Mereka duduk di balik kemudi truk dan jip dan beberapa yang lain bahkan di ujung moncong tank. Mereka menyapanya dengan ramah, setelah menyadari yang lewat seorang perempuan putih, dan menawarkan diri untuk mengantarkan sebab tidaklah aman bagi perempuan Belanda untuk berjalan seorang diri. Gerilyawan bisa muncul kapan pun, kata mereka.

”Terima kasih,” katanya. ”Aku sedang berburu harta karun dan tak ingin berbagi.”

Ia menuju arah yang tak mungkin dilupakannya, ke daerah perumahan orang­orang Belanda pemilik perkebunan. Daerah tersebut persis di pinggir pantai, dengan beranda menghadap jalan kecil yang membentang sepanjang pesisir, dan beranda belakang menghadapi dua bukit cadas di kejauhan, di balik kehijauan perkebunan dan daerah pertanian. Ia sampai di tempat itu dalam satu perjalanan yang tenang, menelusuri jalan pantai dan yakin tak akan pernah ada gerilya muncul dari laut. Segala sesuatunya tampak masih sama. Pagarnya masih dipenuhi bunga krisan, dan pohon belimbing masih berdiri di samping rumah dengan ayunan yang tergantung di dahannya yang paling rendah. Pot­pot yang dideretkan neneknya sepanjang beranda juga masih ada, meskipun semua lidah buaya telah mati kekurangan air dan kuping gajah tumbuh semrawut, bahkan anggrek di tiang depan menjuntai sampai ke lantai. Rumput tumbuh tak terkendali menandakan tak seorang pun memedulikannya. Ia segera menyadari para jongos dan jawara telah meninggalkan rumah tersebut, bahkan anjing­anjing Borzoi tampaknya tak lagi tinggal di sana.

Ia mendorong kereta bayi memasuki halaman rumah, dan dibuat

bingung oleh lantai beranda yang bersih. Seseorang membersihkan debu­debunya, ia segera berpikir. Ketika ia mencoba membuka pintu, ternyata itu tak terkunci. Ia masuk masih sambil mendorong kereta bayi, meskipun anak­anaknya mulai rewel. Ruang tamu tampak gelap dan ia menyalakan lampu: listriknya masih berfungsi, dan segera cahaya memperlihatkan semuanya. Benda­benda itu masih di tempatnya: meja, kursi, lemari, kecuali gramofon yang dibawa pergi Muin. Ia menemukan potret dirinya masih tergantung di dinding, seorang gadis lima belas tahun yang tengah bersiap masuk ke Sekolah Guru Fransiscan. ”Lihat, itu Mama,” katanya pada Alamanda. ”Difoto orang Jepang, beberapa waktu kemudian diperkosa Jepang pula, dan bisa jadi itu Jepang ayahmu.”

Mereka bertiga masih melanjutkan tur mengelilingi rumah tersebut, bahkan sampai naik ke lantai dua. Dewi Ayu menceritakan semua kenangannya atas rumah tersebut, menunjukkan di mana kakek dan nenek tidur, dan memperlihatkan foto Henri dan Aneu Stammler sewaktu mereka masih sangat muda dan belum jatuh cinta satu sama lain. Bocah­bocah itu tentu saja belum mengerti apa pun, tapi Dewi Ayu tampak menikmati perannya sebagai pemandu wisata hingga ia teringat pada harta karunnya di tabung pembuangan toilet. Ia mengajak kedua anaknya memeriksa toilet tersebut, dan ia dibuat lega bahwa toilet itu sungguh­sungguh masih ada. Ia hanya perlu membongkar tabung pembuangan dan menemukan harta karunnya.

”Orang Belanda masih berkeliaran di zaman republik,” tiba­tiba ia mendengar seseorang berkata dari balik punggungnya. ”Apa yang kau lakukan di sini, Nyonya?”

Ia berbalik dan itulah pemilik suara tersebut: seorang perempuan tua pribumi yang tampaknya galak. Ia mengenakan sarung dan kebaya kumal, dengan tongkat penopang kakinya. Mulutnya dipenuhi gumpalan daun sirih. Ia berdiri memandang Dewi Ayu dengan tatapan penuh dendam. Tampaknya bahkan ia tak ragu untuk memukul Dewi Ayu dengan tongkatnya seperti ia memukul seekor anjing.

”Kau bisa lihat bahkan fotoku masih digantung di dinding,” kata Dewi Ayu sambil menunjuk potret gadis lima belas tahun itu. ”Aku pemilik rumah ini.”

”Itu karena aku belum mengganti fotomu dengan fotoku.”

Perempuan tua itu dengan segera mengusirnya, meskipun Dewi Ayu bersikeras bahwa ia memiliki surat­surat kepemilikan rumah. Sebagai balasannya, perempuan itu hanya terkekeh sambil melambai­lambaikan tangannya. ”Rumahmu dikapitulasi, Nyonya,” katanya. Jelas, sebagaimana cerita perempuan tua itu yang mengatakannya selama mengantar si tamu tak diundang pergi, rumah itu telah dirampas oleh orang­orang Jepang. Di akhir perang, sebuah keluarga gerilya merampasnya kembali dari orang­orang Jepang. Itu keluarga si perempuan tua: suaminya harus kehilangan sebelah tangan ditebas samurai sebelum pergi ke hutan bersama lima anak lelakinya, dan tak lama kemudian mati ditembak tentara KNIL sebagaimana dua anak lelakinya. ”Kini aku pewaris rumah ini. Foto­fotomu boleh kau ambil tanpa bayar.”

Dewi Ayu segera menyadari, tak mungkin melawan perempuan itu dengan omongan apa pun. Ia segera pergi meninggalkan rumah tersebut, mendorong kereta bayinya, namun tetap bertekad untuk memperoleh rumahnya. Ia pergi ke kantor sementara pemerintahan sipil dan militer kota, bertemu seorang komandan KNIL dan meminta nasihatnya mengenai rumah tersebut. Nasihatnya sangat mengecewakan, sebab ia menyarankan untuk mengurungkan niat memiliki kembali rumah tersebut dalam waktu dekat. Keadaan belum memungkinkan, katanya, sebab gerilyawan­gerilyawan masih berkeliaran. Jika rumah itu dimiliki keluarga gerilya, sebaiknya dilepaskan, kecuali kau punya uang untuk membelinya kembali.

Ia tak punya uang, bagaimanapun. Kelima cincinnya yang tersisa tak akan mencukupi untuk membeli rumah. Satu­satunya harapan terletak di dalam lubang toilet, harta karunnya, dan ia tak mungkin mengambilnya tanpa memiliki rumah tersebut. Ia segera menemui Mama Kalong, tahu dengan pasti perempuan itu akan selalu menjadi penolong bagi siapa pun, dan berkata sejujurnya. ”Mama, pinjami aku uang. Aku mau membeli rumahku kembali,” katanya.

Bagaimanapun, Mama Kalong selalu memperhitungkan uang dari segi bisnisnya yang paling baik. ”Dari mana kau bisa membayar?” tanyanya. ”Aku punya harta karun,” jawab Dewi Ayu. ”Sebelum perang aku menimbun seluruh perhiasan nenekku di tempat yang tak seorang pun

akan mengetahuinya kecuali aku dan Tuhan.” ”Jika Tuhan mencurinya?”

”Aku akan kembali padamu jadi pelacur, untuk bayar hutangku.”

Itulah kesepakatan terbaik yang mereka dapatkan. Mama Kalong bahkan menyediakan dirinya untuk jadi perantara pembelian kembali rumah tersebut, sebab jika Dewi Ayu sendiri yang melakukannya, bisa jadi perempuan keluarga gerilya itu akan bersikeras tak akan menjual-nya. Warisan tubuh Belandanya tak mungkin untuk meyakinkan orang sebagai pribumi, sementara Mama Kalong lebih berpengalaman dalam membeli properti­properti dari orang­orang butuh uang seperti mereka. Ia akan menawar dengan harga serendah mungkin, katanya berjanji pada Dewi Ayu.

Urusan itu memakan waktu nyaris seminggu. Mama Kalong bolakbalik setiap hari menemui si perempuan galak sebelum menyelesaikan transaksi. Perempuan tua keluarga gerilya itu mau melepaskan rumah tersebut, jika ia memperoleh rumah lain sebagai pengganti, dan sejumlah uang. Mama Kalong mengusahakannya dengan baik, hingga ia bisa mengusir perempuan itu dari rumah dan mengancamnya untuk tak menginjakkan kaki kembali di sana. Diantar Mama Kalong, Dewi Ayu segera pindah bersama kedua anak kecilnya, mempergunakan jip militer tentara KNIL pelanggan tempat pelacuran Mama Kalong. Betapa senang sekali Dewi Ayu kembali ke rumahnya, dalam keyakinan bahwa semua itu kini miliknya.

”Berapa lama kau akan membayar?” tanya Mama Kalong akhirnya. ”Beri aku waktu sebulan.”

”Yah, itu cukup untuk sebuah penggalian,” katanya. ”Jika seseorang mengganggu rumahmu, kau hanya perlu datang padaku. Aku mengenal baik gerilyawan sebagaimana aku mengenal prajurit KNIL. Mereka sama­sama pelangganku.”

Ia tak segera melakukan penggalian. Yang ia lakukan pertama kali adalah mencari seorang pengurus bayi, dan menemukannya dari perkampungan di kaki bukit, seorang perempuan tua bernama Mirah. Ia bekas seorang jongos Belanda di masa sebelum perang, tapi kepadanya Dewi Ayu berkata dengan tegas bahwa ia bukan orang Belanda, melainkan pribumi bernama Dewi Ayu. Melalui Mirah, ia mencari seorang tukang kebun yang bisa membereskan halaman yang berantakan. Butuh waktu seminggu sebelum ia bisa bersantai melihat segalanya kembali sebagaimana semula, dengan halaman yang bersih dan tanaman tampak segar.

”Kita beruntung, baik Jepang maupun Sekutu tak membuatnya hancur,” katanya pada diri sendiri.

Itu adalah waktu­waktu ketika ia memperoleh kabar dari Ola dan Gerda. Mereka telah bertemu dengan kakek dan nenek mereka, dan ayah mereka bahkan ternyata selamat setelah ditawan tentara Jepang di Sumatera. Ola masih melanjutkan kencannya dengan salah seorang prajurit Inggris, dan mereka bahkan telah bertunangan. Mereka akan kawin tahun ini juga, tanggal 17 Maret, di gereja St. Mary. Dewi Ayu sama sekali tak bisa datang untuk menghadiri pesta mereka, ia hanya mengirimkan beberapa foto kedua anak kecilnya, dan hanya menerima foto­foto perkawinan mereka. Ia memajang foto itu di dinding rumah, agar Ola bisa melihatnya jika suatu ketika berkunjung.

Setelah sebagian besar urusan rumah selesai, ia mulai memikirkan penggalian harta karun tersebut. Ia telah memercayai tukang kebunnya yang bernama Sapri, maka ia memanggilnya dan menceritakan rencana penggalian lubang toilet. Sebab tanpa itu ia tak akan bisa membayar Mirah dan Sapri, katanya. Pada hari itu juga si tukang kebun mendatangkan linggis dan cangkul, dan Dewi Ayu ikut menyingsingkan lengan kemejanya, mengenakan pantalon kakeknya, dan ikut membantu Sapri membongkar lantai dan tanah sepanjang saluran air menuju tabung pembuangan. Satu­satunya yang membuat pekerjaan mereka tak terganggu, toilet tersebut tampaknya tak lagi dipergunakan selama perang. Mereka tak akan bertemu tai hangat yang masih bau, kecuali tanah penuh cacing yang sangat gembur.

Mereka bekerja seharian sementara Mirah menemani kedua anaknya. Mereka hanya berhenti di waktu­waktu sejenak untuk makan dan melepas lelah, sebelum terus membongkar beton dan mengaduk­aduk sisa tai yang telah menjadi tanah. Tapi mereka tampaknya tak akan menemukan apa pun, kecuali cacing tanah yang menggeliat­geliat marah. Dewi Ayu percaya bahwa mereka telah mengeluarkan semua kotoran dari tabung pembuangan, namun tetap saja ia tak menemukan semua perhiasan yang pernah dibuangnya. Tak ada kalung dan gelang emas, yang ada hanya gundukan tanah membusuk, cokelat dan bau lembab. Ia tak percaya semua perhiasan itu ikut membusuk bersama tai, maka ia segera meninggalkan pekerjaannya dengan putus asa, sambil menggerutu:

”Tuhan telah mencurinya.”

Di zaman revolusi, banyak semboyan gagah berani diserukan orang atau ditulis di dinding­dinding di sepanjang jalan, pada spanduk­spanduk yang membentang, atau bahkan sekadar di buku catatan anak sekolah. Hal ini memberi Mama Kalong gagasan untuk memberi nama tempat pelacurannya dengan semangat yang sama, yang tampaknya mewakili jiwanya sendiri. Beberapa nama pernah ia pergunakan, seperti ”Bercinta atau Mati”, sebelum diganti menjadi ”Sekali Bercinta tetap Bercinta”, namun akhirnya disepakati bahwa nama tempat pelacurannya adalah ”Bercinta Sampai Mati”.

Nama itu seringkali terbukti kebenarannya. Seorang prajurit KNIL mati saat bercinta, dipenggal seorang tentara gerilya. Lalu seorang gerilyawan mati saat bercinta, ditembak tentara KNIL. Dan seorang pelacur juga mati di tengah percintaan, setelah dicium lama dan kesulitan bernapas.

Di sanalah Dewi Ayu menjadi pelacur. Ia tak tinggal di ”Bercinta Sampai Mati”, bagaimanapun, sebab ia punya rumah. Ia hanya pergi waktu senja datang dan kembali ke rumah ketika pagi tiba. Lagi pula ia punya tiga anak gadis yang harus diurus: Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi yang lahir tiga tahun setelah Adinda. Jika malam hari, anak­anak itu ditemani oleh Mirah, namun di siang hari ia mengurus anak­anak itu sebagaimana seorang ibu umumnya. Ia mengirimkan anak­anak itu ke sekolah terbaik, bahkan mengirimkannya pula ke surau untuk belajar mengaji pada Kyai Jahro.

”Mereka tak boleh jadi pelacur,” katanya pada Mirah, ”kecuali atas keinginan mereka.”

Ia sendiri tak pernah sungguh­sungguh mengaku bahwa ia menjadi pelacur karena keinginannya sendiri, sebaliknya, ia selalu mengatakan bahwa ia menjadi pelacur karena sejarah.

”Sebagaimana sejarah menciptakan seseorang jadi nabi atau kaisar,” yang ini ia katakan pada ketiga anaknya.

Ia adalah pelacur paling favorit di kota itu. Hampir semua lelaki yang pernah ke tempat pelacuran, menyempatkan tidur paling tidak sekali bersamanya, tak peduli berapa pun uang yang harus mereka bayarkan. Bukan karena mereka telah terobsesi lama untuk meniduri perempuan Belanda, tapi karena mereka tahu Dewi Ayu seorang pencinta yang baik. Tak seorang pun memperlakukannya secara kasar sebagaimana biasa mereka lakukan pada pelacur lain, sebab jika itu dilakukan, lelaki­lelaki lain akan mengamuk bagaikan perempuan itu istri mereka. Tak pernah semalam pun ia tak memperoleh tamu, meskipun ia sangat membatasi hanya tidur dengan seorang lelaki dalam semalam. Untuk sikap eksklusifnya, Mama Kalong memberi tarif mahal bagi siapa pun yang menginginkan tubuhnya. Itu memberi keuntungan tambahan bagi perempuan tua yang tak tidur di malam hari tersebut.

Jika Mama Kalong bagaikan ratu di kota itu, maka Dewi Ayu adalah putri. Keduanya memiliki selera yang nyaris sama dalam berpenampilan. Mereka jenis perempuan­perempuan yang merawat tubuh dengan baik, dan berpakaian bahkan jauh lebih sopan daripada perempuan­perempuan saleh mana pun. Mama Kalong suka mengenakan jarik batik tulis yang didatangkannya langsung dari daerah Solo dan Yogyakarta serta Pekalongan, dengan kebaya dan rambut disanggul. Bahkan demikianlah penampilannya di tempat pelacuran, kecuali di saat santai ia hanya mengenakan semacam daster longgar. Sementara Dewi Ayu menyukai gaun­gaun bermotif, yang dipesan dari seorang penjahit langganan, yang menjiplaknya persis dari halaman mode majalah perempuan. Bahkan perempuan­perempuan saleh secara diam­diam banyak belajar kepadanya bagaimana merawat tubuh dan berpakaian.

Mereka adalah sumber kebahagiaan kota. Tak ada satu pun acara

penting di kota itu yang tak mengundang mereka. Bahkan pada setiap peringatan hari kemerdekaan, ia duduk bersama Mayor Sadrah, walikota, bupati, dan tentu saja Sang Shodancho ketika ia telah keluar dari hutan. Bahkan meskipun perempuan­perempuan saleh sangat membenci keduanya karena mereka tahu suami­suami mereka ada di ”Bercinta Sampai Mati” jika menghilang di malam hari, memberi sapaan ramah di hadapan mereka (dan mencibir di belakang).

Hingga suatu hari seorang lelaki berniat memiliki sendiri sang putri, pelacur bernama Dewi Ayu itu. Ia bahkan berniat mengawininya. Tak seorang pun berani melawan kehendak lelaki tersebut, sebab ia konon tak bisa dikalahkan dengan cara apa pun. Lelaki itu bernama Maman Gendeng.

Kebahagiaan lelaki Halimunda tampaknya harus berakhir, dan senyum lebar untuk istri­istri dan kekasih­kekasih mereka.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊