menu

Cantik Itu Luka Bab 03

Mode Malam
3
Dewi Ayu lupa, bahwa tentara Jepang tak mungkin memenangkan perang tanpa mengetahui apa pun, termasuk fakta bahwa

ia anak keluarga Belanda. Tak hanya wajah dan kulitnya menandakan hal itu, tapi semua arsip penduduk kini mereka kuasai, dan mereka tak akan percaya begitu saja pada kebohongan bahwa ia seorang pribumi, tak peduli namanya Dewi Ayu.

”Yah, begitulah,” katanya. ”Seperti semua orang tahu Multatuli itu pemabuk dan bukan orang Jawa.”

Ia tengah bernostalgia seorang diri sambil mendengarkan gramofon yang memutar lagu­lagu favorit kakeknya, Unfinished Symphony Schubert dan Scheherazade Rimsky Korsakov, sekaligus memikirkan apa yang harus dikatakannya menjawab lamaran Mr. Willie. Bagaimanapun, setelah perkawinan yang berantakan dengan Ma Gedik, tak terpikirkan olehnya untuk kawin dengan siapa pun. Ia tahu Mr. Willie sangat baik, dulu ia bahkan berharap lelaki itu bisa kawin dengan bibinya, Hanneke. Mengecewakan lelaki baik seperti itu sama sulitnya dengan kenekatan untuk mengawininya.

Mr. Willie datang ke kota itu ketika kakeknya memesan mobil Collibri milik mereka dari Toko Velodrome di Batavia, untuk mengganti Fiat mereka yang sudah sangat tua. Kata orang, perusahaan itu milik seorang pengusaha bernama Brest van Kempen, seorang lelaki baik yang memperbolehkan orang membeli mobil dengan dicicil. Namun kakeknya datang ke toko itu bukan karena pembayaran yang dicicil, tapi promosi gratis yang dikatakan teman­temannya bahwa Velodrome menyediakan asuransi kecelakaan dan bengkel yang baik. Mereka bahkan menyediakan montir yang berpengalaman mengurusi mesin. Ia pulang dengan Mr. Willie, yang akan menjadi montir sekaligus sopir, terutama karena ia butuh seorang ahli mesin untuk beberapa peralatan perkebunan. Ia seorang lelaki berperawakan sedang, berumur sekitar tiga puluhan, pakaiannya nyaris selalu penuh minyak gemuk dan mengenakan rompi yang tak pernah dikancingkan. Di waktu­waktu terakhir ia juga sering menenteng senapan untuk menembak tikus dan terutama babi. Waktu itu Dewi Ayu masih seorang gadis sebelas tahun, lima tahun sebelum ia dilamar Mr. Willie.

”Pikirkanlah, Mister,” katanya. ”Aku ini perempuan yang sedikit gila.”

”Tak ada tanda­tanda kegilaan dalam dirimu,” kata Mr. Willie. ”Ketika ia mati, tiba­tiba aku menyadari bahwa aku mengawininya

karena kemarahan pada kenyataan bahwa Ted membuat cinta mereka berantakan. Aku pasti sudah gila.”

”Kau hanya irasional.” ”Itu artinya gila, Mister.”

Saat itulah penyelamatnya datang: ia bisa melarikan diri dari kewajiban menjawab lamaran lelaki tersebut. Waktu itu hari masih pagi dan piringan hitam belum menyelesaikan lagu terakhir. Ia melihat satu rombongan truk militer di jalanan yang membentang sepanjang pantai, ia telah menduganya, mereka akan mengangkut seluruh orang Belanda yang tersisa dan membawanya ke kamp tahanan. Sehari sebelumnya prajurit­prajurit itu telah mendatangi rumah­rumah mereka dan menyuruh berkemas. Semalaman, tanpa menceritakan apa pun kepada siapa pun, terutama pada Mr. Willie, Dewi Ayu telah berkemas. Ia tak membawa banyak barang, hanya satu kopor berisi pakaian, selimut, matras kecil, dan surat­surat kekayaan keluarga. Ia tak memasukkan uang dan perhiasan ke dalam kopor, sebab ia tahu mereka akan merampasnya. Ia telah menimbun beberapa kalung dan gelang milik neneknya di lubang toilet, mengguyurnya hingga masuk ke penampungan tai. Sebagian kecil ia masukkan ke dalam amplop­amplop kecil, akan ia berikan kepada semua pelayan di rumah itu, agar mereka bisa hidup dan mencari pekerjaan di tempat lain. Untuknya sendiri, ia akan menelan enam buah cincin bermata giok, pirus dan berlian. Mereka aman di dalam lambung, dikeluarkan bersama tai, dan ia akan menelannya kembali selama di dalam tahanan. Kini saatnya pergi, sebab salah satu truk itu berhenti di depan rumahnya, dan dua orang prajurit turun dengan bayonet di tangan, mendaki tangga menuju beranda tempat ia duduk menanti.

”Aku mengenal kalian,” kata Dewi Ayu, ”tukang foto di tikungan jalan.”

”Pekerjaan yang menyenangkan, kami punya foto seluruh orang Belanda di Halimunda,” balas salah satu prajurit.

”Bersiaplah, Nona.” Prajurit yang lain berkata. ”Nyonya,” kata Dewi Ayu. ”Aku seorang janda.”

Ia meminta waktu untuk bertemu sejenak dengan seluruh pelayan rumahnya. Mereka tampaknya juga tahu bahwa majikannya akan pergi, namun itu tak cukup untuk tidak membuat mereka bersedih. Ia melihat salah satu tukang masak itu, Inah, menangis. Ia pemilik dapur sejati, neneknya mempercayakan semua jamuan tamu keluarga kepadanya. Dewi Ayu tak akan pernah menikmati rijsttafel­nya lagi, mungkin selamanya. Tukang masak yang baik selalu merupakan kekayaan keluarga yang sangat penting, namun kini keluarga itu sendiri telah lenyap. Satu­satunya yang tersisa akan pergi jadi tahanan perang. Dewi Ayu mengenang semuanya ketika ia memberikan kalung emas dari dalam amplop kepadanya. Ketika kecil Inah mengajarinya memasak, membiarkannya menggerus bumbu, dan mengipasi bara api di dalam tungku. Ia mengalami guncangan kesedihan yang lebih hebat daripada ketika ia mendengar nenek atau kakeknya mati.

Di samping tukang masak, berdiri seorang jongos, anak Inah. Muin,

begitu namanya. Ia selalu berpakaian lebih rapi dari siapa pun, bahkan orang­orang Belanda kagum akan hal itu. Ia mengenakan blangkon, dan tugasnya berpusing di sekitar rumah, paling sibuk di waktu makan ketika ia harus membereskan meja. Ted Stammler mengajarinya bagaimana merawat gramofon dan piringan hitam, sering menyuruhnya mengganti dan mencari lagu. Ia selalu senang melakukannya, memutar piringan dan memindahkan jarum, seolah tak ada orang lain yang bisa melakukannya. Begitu sering ia berurusan dengan gramofon, membuatnya mengenal banyak lagu klasik, dan ia menyukainya begitu rupa.

”Kau boleh ambil semua itu,” kata Dewi Ayu kepadanya, sambil menunjuk rak piringan hitam dan gramofon. ”Tidak mungkin,” kata Muin. ”Itu milik Tuan.” ”Percayalah, orang mati tak mendengarkan musik.”

Bertahun­tahun setelah perang berakhir dan republik berdiri, ia melihat Muin di depan pasar. Waktu itu hampir tak tersisa keluargakeluarga Belanda, dan tak ada orang yang cukup kaya untuk memiliki banyak jongos di rumah. Ia tahu Muin tak bisa melakukan apa pun lagi selain membereskan meja dan memutar gramofon. Ia melihanya di depan pasar tengah memutar gramofon dengan piringan hitam peninggalan kakeknya, sementara seekor monyet yang tampaknya terlatih berlalu­lalang di depannya dengan gerobak kecil atau payung dan menari bersama suara musik. Sirkus monyet dengan lagu pengiring Symphony Nomor 9 dalam D Minor, dan orang­orang melemparkan uang recehan ke dalam blangkonnya yang digeletakkan terbalik. Dewi Ayu hanya melihatnya dari kejauhan, tersenyum untuk nasib baiknya.

Pekerjaannya yang lain adalah mengantar surat: waktu itu belum ada telepon di rumah, dan yang dimaksud dengan surat adalah papan sabak ganda. Ia sering berkirim desas­desus dengan teman­teman sekolahnya, menulis di sabak sebelah kanan. Muin akan berlari ke rumah temannya membawa sabak tersebut, dan sementara menunggu balasan di sabak sebelah kiri, ia akan disuguhi minuman dingin serta kue­kue yang sangat ia sukai. Ia pulang tak hanya membawa sabak, namun desas­desus lain dari para pelayan. Ia menikmati pekerjaannya, dan Dewi Ayu nyaris setiap hari mengirimnya. Hanya sekali, dan itu sabaknya yang terakhir, ia tak menyuruh Muin, yaitu ketika Mr. Willie dan seorang jawara membawa pesannya ke gubuk Ma Gedik.

”Sabak itu juga buatmu,” katanya.

Lalu ia menghadapi si tukang cuci, penguasa sumur, dan sabun tangan, Supi. Ketika kecil perempuan tua itu selalu menemaninya tidur, menyanyikan Nina Bobo, dan dongeng Lutung Kasarung. Suaminya bekerja sebagai tukang kebun, dengan golok di pinggang dan tangan menggenggam arit. Ia sering pulang secara tiba­tiba dengan bawaan yang mengejutkan: anak kucing hutan, telur ular, biawak, namun sesekali dengan bawaan menyenangkan: buah sirsak setengah matang, setandan pisang raja, sekantong manggis.

Ada beberapa jawara, begitulah mereka menyebutnya untuk para penjaga kandang kambing, penjaga rumah, dan penjaga kebun. Ia memeluk mereka semua, dan untuk pertama kali, mungkin setelah bertahun­tahun, Dewi Ayu menangis. Meninggalkan mereka seperti kehilangan sepotong badan. Dan terakhir ia berdiri memandang Mr. Willie. ”Aku gila dan hanya orang gila yang kawin dengan orang gila,” kata Dewi Ayu kepadanya. ”Tapi aku tak mau kawin dengan orang gila.” Ia menciumnya sebelum pergi bersama kedua prajurit Jepang yang tak sabar menunggu.

”Jagalah rumahku,” ia berkata untuk terakhir kalinya kepada mereka, ”kecuali orang­orang ini merampasnya.”

Ia naik ke bak truk yang telah menunggu di depan rumah, nyaris tak bisa memuatnya sebab di dalamnya telah berjejalan banyak perempuan dan anak­anak yang menangis menjerit­jerit. Ia melambai pada orangorang yang masih berdiri di beranda rumah. Selama enam belas tahun ia telah tinggal di sana, nyaris tak pernah meninggalkannya lebih jauh dari batas kota, kecuali beberapa kali liburan pendek ke Bandung dan Batavia. Ia melihat anjing­anjing Borzoi berlarian dari belakang rumah dan menyalak di halaman yang dipenuhi rumput Jepang, dengan bunga melati merambat di samping rumah dan bunga matahari tumbuh di dekat pagar. Itu daerah kekuasaan mereka, di rerumputan itu mereka suka berguling­guling, dan Dewi Ayu berharap Mr. Willie memelihara mereka dengan baik. Truk bergerak dan Dewi Ayu nyaris tak bisa bernapas karena desakan tubuh­tubuh perempuan lain. Ia masih melambai ke arah mereka, dan anjing­anjing Borzoi yang menyalak.

”Tak bisa dipercaya, kita meninggalkan rumah sendiri,” kata seorang

perempuan di sampingnya. ”Kuharap ini tak akan lama.” ”Berharaplah tentara kita bisa menangkap orang­orang Jepang,” kata

Dewi Ayu. ”Kita akan ditukar seperti beras dan gula.”

Di sepanjang jalan, orang­orang pribumi berjongkok di kiri­kanan jalan, memandang orang­orang yang berdesakan di atas truk dengan tatapan yang tak bisa ditebak. Tapi beberapa di antara mereka dibuat menangis demi melihat beberapa perempuan Belanda yang mereka kenal, dan saputangan mulai melambai­lambai di sela isak tangis. Dewi Ayu telah melap air matanya, dan tersenyum melihat pemandangan aneh tersebut. Mereka orang­orang lugu yang baik, sedikit pemalas, dan penurut. Dewi Ayu mengenal beberapa di antaranya, sebab ia sering menghilang dari rumah untuk masuk ke gubuk­gubuk mereka. Orang­orang pribumi sering mendongenginya banyak cerita, tentang wayang dan buta, dan ia suka karena mereka doyan tertawa. Ia sering berdandan menirukan perempuan­perempuan itu, dengan sarung yang melilit ketat dan kebaya serta rambut disanggul, sebagaimana dilakukan neneknya. Sebagian besar yang ia kenal bekerja di perkebunan cokelat milik kakeknya. Mereka begitu miskin, hanya boleh nonton bioskop dari belakang layar dengan gambar terbalik, dan tak pernah ada di rumah bola atau kamar dansa, kecuali untuk menyapu. ”Lihatlah,” katanya pada perempuan di sampingnya itu. ”Mereka dibuat bingung oleh dua negeri asing yang berperang di atas tanah mereka.”

Perjalanan itu terasa panjang, menuju penjara di daerah pantai barat, di sebuah delta anak Sungai Rengganis. Sebelum ini penjara itu diisi para kriminal berat: pembunuh dan pemerkosa, dan tahanan politik pemerintah kolonial, sebagian besar orang­orang Komunis sebelum dibuang ke Boven Digoel. Mereka dipanggang di bawah terik matahari tropis, tanpa payung dan tanpa minum. Di tengah perjalanan truk berhenti, bukan untuk mereka. Orang­orang itu tak memperoleh apa pun, makanan atau minum, kecuali truk yang memperoleh air bagi radiatornya.

Dewi Ayu, yang lelah membungkuk memandangi jalanan, berbalik dan menyandarkan punggungnya ke dinding truk, dan seketika ia menyadari beberapa perempuan di atas truk itu ia kenal dengan baik. Beberapa tetangganya, dan beberapa yang lain bahkan teman­teman sekolahnya. Mereka memiliki kehidupan sosial yang cukup akrab. Jika kau anak­anak, kau akan bertemu nyaris setiap sore di teluk untuk berenang. Jika kau telah remaja, kau akan bertemu di kamar dansa atau bioskop dan komidi. Jika kau orang dewasa, kalian akan bertemu di rumah bola. Dewi Ayu mengenali beberapa teman berenangnya, sesegera mengenali teman­teman dansanya. Mereka melempar senyum satu sama lain, terasa pahit, dan salah satu di antara mereka dengan konyol bertanya kepadanya, ”Apa kabar?”

Dengan penuh keyakinan Dewi Ayu menjawab, ”Buruk. Kita sedang menuju kamp tahanan.”

Itu cukup untuk membuat mereka bisa sedikit tertawa. Ia mengenali gadis konyol itu, namanya Jenny, temannya berenang waktu kecil. Itu waktu yang menyenangkan, dan ia bertanya­tanya apakah selama ditahan mereka diperbolehkan berenang atau tidak. Kini teluk dengan ombak yang lembut itu pasti dipenuhi bocah­bocah pribumi, yang tubuhnya penuh daki dan selalu bertelanjang kaki, dan menyingkir jika sinyo­sinyo dan noni­noni berenang. Ia punya bekas ban dalam mobil dan sering berenang mempergunakannya, bahkan sampai beberapa minggu lalu sebelum kegaduhan perang. Di pinggir pantai ia akan melihat beberapa pemuda, dan bahkan lelaki­lelaki tua dengan pipa tembakau di mulut, duduk di pasir di bawah payung, berada di sana lebih untuk melihat gadis­gadis dalam pakaian renang. Ia juga tahu apa yang mereka lakukan di kamar ganti. Apa yang disebut kamar ganti sebenarnya merupakan sumur umum di pinggir pantai, meskipun tempat lelaki dan perempuan terpisah, dindingnya hanya terbuat dari anyaman bambu. Ia sering memergoki mata yang mengintip dari celah anyaman. Ia akan balas mengintip dan berteriak, ”Oh Tuhan, kecil sekali punyamu!” Mereka biasanya akan sangat malu dan segera berlalu dari kamar ganti.

Kadang­kadang mereka akan digemparkan oleh kemunculan sirip

ikan hiu. Tapi tak pernah seorang pun diserangnya. Pantai Halimunda terlalu dangkal bagi ikan galak itu untuk mendekat, dan mereka biasanya hanya berenang di lepas pantai. Kadang hiu kecil terdampar atau tertangkap jala nelayan, tapi mereka selalu dilepaskan kembali sebab nelayan­nelayan itu tak pernah berani menangkap mereka. Kualat, mereka bilang. Ikan hiu bukan satu­satunya binatang yang mereka takuti saat berenang. Mereka tak pernah berani berenang di daerah muara, sebab di sana hidup buaya, dan tak tanggung­tanggung mereka doyan makan manusia.

”Berdoalah kita tak berjumpa buaya,” kata seorang perempuan setengah baya dengan seorang bayi di pangkuannya.

Itu beralasan. Untuk mencapai penjara di tengah delta, mereka harus menyeberangi sungai. Setelah tamasya yang tak menyenangkan di atas truk, kini mereka berhenti di pinggir sungai. Tentara­tentara Jepang tampak berkeliaran di sepanjang pesisir dan jalan masuk, meneriaki perempuan­perempuan yang turun dari truk­truk dengan bahasa mereka sendiri, yang tak seorang pun mengenalinya. Hanya sebagian kecil di antara mereka bisa berbahasa Melayu atau Belanda, atau bahasa Inggris. Sisanya hanya mempergunakan segumpal bunyi yang membuat bingung para tahanan tersebut.

Mereka mulai dijejalkan ke dalam kapal feri, dan itu jauh lebih menakutkan sebab taruhannya adalah tenggelam. Nasihat perempuan tua itu ada benarnya, buaya bisa muncul kapan saja dan semua orang tampaknya tak mungkin berenang lebih cepat dari binatang itu. Kapalnya bergerak sangat lambat, mengambil arah memutar untuk tidak terlalu melawan arus. Bising dengan cerobong asap dipenuhi jelaga hitam dan gumpalan gelap yang terbang memanjang. Beberapa ekor bangau terbang merasa terganggu, meskipun kemudian hinggap lagi di air yang dangkal: pemandangan itu jadi terasa tak indah ketika akhirnya mereka menemukan bangunan tua di balik semak­semak, tampaknya telah dikosongkan untuk para tahanan perang. Itu penjara Bloedenkamp, artinya penjara darah, bahkan para kriminal menakutinya. Sekali kau berada di sana, kecil kemungkinan untuk melarikan diri kecuali mampu berenang lebih dari satu kilometer melewati lebar sungai dan selamat dari kejaran buaya.

Tentara­tentara Jepang itu kembali berteriak­teriak dalam bahasa

yang tak dimengerti begitu kapal berlabuh, namun perempuan­perempuan itu berlompatan sesegera mungkin seolah mereka tahu orang­orang itu menuntut gerak yang cepat. Anak­anak mulai menangis, beberapa kekacauan terjadi, sebuah kopor terlempar ke air membuat pemiliknya basah kuyup mengejar, dan sebuah matras jatuh ke lumpur. Ada seorang ibu kehilangan anaknya, dan menemukannya terluka terinjak­injak. Mereka berjalan kaki sejauh seratus meter ke arah gedung penjara, dengan gerbang besi sebanyak tiga lapis dijaga beberapa prajurit. Sebelum masuk, mereka berbaris menghadapi meja dengan dua orang Jepang menggenggam daftar. Di samping mereka tergeletak sebuah keranjang untuk semua jenis uang, perhiasan dan apa pun yang berharga. Belum ada penggeledahan, tapi beberapa perempuan telah melemparkan barangbarang berharganya ke sana.

”Lakukan sebelum kami menggeledah,” kata salah satu prajurit da­

lam bahasa Melayu yang baik. ”Geledah saja taiku,” kata Dewi Ayu, dalam hati. Ia telah menelan cincin­cincin itu.

Penjaranya jauh lebih menjijikkan daripada kandang babi. Dinding dan lantainya kotor, bahkan beberapa tampak percikan darah seolah pernah ada perkelahian massal dan seseorang dibenturkan kepalanya ke sana. Tahanannya melimpah, namun masih kalah banyak dengan kutu, kecoa, dan bahkan lintah. Atapnya bocor dan lumut serta ilalang bahkan mulai tumbuh di retakan tembok. Masih ada tikus got yang sebesar paha anak kecil, berlarian dengan gila oleh kedatangan manusia, berzig­zag di antara kaki­kaki dan perempuan­perempuan itu berlompatan menjerit. Mereka harus menaklukkan itu semua sebelum menjadikannya tempat tinggal yang nyaman, berebutan menemukan daerah kekuasaannya sendiri­sendiri dan sesegera membatasinya dengan kopor, membersihkannya sambil menangis tersedu­sedu. Dewi Ayu memperoleh tempat kecil di tengah sebuah aula, segera menggelar matrasnya dan menjadikan kopornya sebagai bantal, ia segera berbaring kelelahan. Ia masih beruntung tak punya ibu atau anak yang mesti diurus. Dan ia tak melupakan tablet kina serta beberapa obat lainnya, sebab disentri dan malaria tampaknya akan mengancam: bahkan toiletnya tampak tak berfungsi.

Sore itu tak ada makanan. Bekal kecil yang mereka bawa sendiri­

sendiri telah habis untuk makan siang. Seseorang bertanya pada orang­orang Jepang itu tentang makanan, dan mereka menjawab, mungkin besok atau lusa. Malam itu mereka harus kelaparan. Dewi Ayu keluar dari aula menuju halaman. Gerbang penjara yang tiga lapis itu tak ditutup dan orang boleh berkeliaran ke luar benteng sekadar untuk berjalan­jalan. Ketika tadi datang, Dewi Ayu sempat melihat beberapa ekor sapi dipelihara. Pemiliknya mungkin para sipir pribumi atau petani­petani yang tinggal di delta. Ia telah mengumpulkan banyak lintah ketika membersihkan aula, menumpuknya di dalam kaleng bekas margarin Blue Band. Ia menemukan salah satu dari sapi­sapi itu tengah merumput, yang paling gemuk. Lintah­lintah itu ia tempelkan di kulit sapi, yang hanya menoleh sekilas tanpa merasa terganggu, dan Dewi Ayu duduk di sebuah batu menunggu. Ia tahu lintah­lintah tersebut tengah mengisap darah sapi, dan ketika kenyang, mereka akan berjatuhan seperti apel masak. Ia memungutinya dan mengembalikannya ke dalam kaleng. Kini mereka tampak gemuk­gemuk.

Dengan api unggun, ia merebus semua lintah di dalam kaleng, dengan air yang diambil dari sungai. Tanpa bumbu, ia segera membawanya pulang ke aula tempat tinggalnya. ”Kita punya makan malam,” katanya pada beberapa perempuan dengan anak­anak mereka yang tinggal di sekitarnya, bertetangga. Tak seorang pun tertarik memakan lintah, dan seorang ibu tampaknya mual­mual dengan hidangan mengerikan seperti itu. ”Bukan lintah yang kita makan, tapi darah sapi,” kata Dewi Ayu lagi menjelaskan. Ia membelah lintah­lintah tersebut dengan pisau kecil, mengeluarkan gumpalan darah sapi di dalamnya, menusuknya dengan ujung pisau dan melahapnya. Masih tak seorang pun berniat mengikuti selera primitifnya, sampai ketika malam datang dan rasa lapar tak lagi tertahankan. Mereka mulai mencobanya. Rasanya memang tawar, tapi lumayan mengenyangkan.

”Kita tak akan kelaparan,” kata Dewi Ayu. ”Selain lintah, masih

ada tokek, cicak dan tikus.”

”Terima kasih,” jawab mereka segera.

Malam pertama itu sungguh­sungguh merupakan horor yang mengerikan. Cahaya menghilang begitu cepat sebagaimana seharusnya di negeri tropis. Tak ada listrik di dalam tahanan, tapi hampir semua orang membawa lilin sehingga nyala kecil memenuhi ruangan dan dinding dipenuhi bayangan yang bergoyang­goyang membuat banyak anak kecil ketakutan. Mereka berbaring di lantai beralaskan matras, tampak menyedihkan, dan tak pernah sungguh­sungguh memperoleh tidur yang nyenyak. Tikus­tikus menyerang mereka di malam hari, dan nyamuk berdengung­dengung dari telinga yang satu ke telinga yang lain, dan codot beterbangan silang­menyilang. Hal ini diperparah oleh kunjungan mendadak tentara­tentara Jepang itu untuk melakukan pemeriksaan barang­barang bawaan. Mereka mencari orang yang masih menyembunyikan uang dan perhiasan. Pagi datang tanpa menjanjikan apa pun. Bloedenkamp dipenuhi sekitar lima ribu perempuan dan anak­anak, entah dari mana saja orang­orang Jepang itu mengumpulkan mereka semua, yang pasti tak semuanya orang Halimunda. Satu­satunya harapan datang dari seorang perempuan peramal kartu, yang memberitahu mereka pilot­pilot Amerika melemparkan bom ke barak­barak tentara Jepang sambil bercinta. Dewi Ayu yang terbiasa bangun pagi sekali untuk buang air segera bergegas ke toilet, namun antrian panjang telah menunggu. Cara terbaik adalah mengambil air dengan kaleng margarin Blue Band­nya, dan pergi ke halaman belakang sel. Di sana, di antara pohon ketela yang entah ditanam siapa, ia menggali tanah seperti seekor kucing, dan berak di lubangnya. Setelah cebok dengan menyisakan sedikit air, ia mengorek tainya untuk menemukan keenam cincinnya. Beberapa perempuan lain melihat cara beraknya yang buruk, dan menirunya dalam jarak yang cukup berjauhan: mereka tak tahu ia punya harta karun. Cincin­cincin tersebut ia cuci dengan sisa air, dan menelannya kembali. Ia tak tahu apa yang akan terjadi setelah perang. Mungkin ia akan kehilangan rumah dan kepemilikan atas sebagian perkebunan, tapi ia berjanji tak akan kehilangan cincin­cincinnya. Ia kembali ke aula tanpa tahu apakah hari itu ia bisa mandi atau tidak.

Pagi itu, para pendatang baru harus berdiri di lapangan, dipanggang

sinar matahari, menunggu komandan kamp. Anak­anak menangis, orang­orang nyaris pingsan, sebab tak seorang pun diperkenankan duduk. Sang Komandan bersama stafnya kemudian muncul, ia seorang lelaki dengan kumis lebat dan samurai terayun­ayun di pinggangnya. Sepatu boot­nya mengilau di bawah cahaya matahari. Melalui seorang penerjemah, ia mengajari para tahanan seni penghormatan dengan cara membungkuk dalam­dalam sampai melewati pinggang. Ia menjelaskan, mereka harus membungkuk seperti itu kepada semua prajurit Jepang secepat perintah diucapkan, Keirei!, dan baru boleh berdiri tegak kembali jika telah terdengar perintah Naore! ”Itu penghormatan pada Kekaisaran Jepang,” katanya menjelaskan, melalui sang penerjemah. Orang­orang yang tak mematuhi itu akan memperoleh hukuman yang pantas: dijemur jika tidak dicambuk dan memperoleh kerja tambahan. Beberapa mungkin terbunuh dengan cara seperti itu.

Di dalam ruangan, beberapa perempuan segera mengajari anak­

anak mereka perintah itu, didorong kekhawatiran mereka melakukan kesalahan yang tak perlu. Dalam beberapa saat, terdengar teriakanteriakan keirei dan naore dari mulut­mulut mereka, membuat Dewi Ayu dan beberapa gadis tertawa terpingkal­pingkal. ”Mereka lebih galak dari Jepang yang sungguhan,” katanya. Dan mereka ikut tertawa.

Tak banyak hiburan yang bisa diperoleh selama di dalam tahanan. Dewi Ayu mengumpulkan beberapa anak kecil, dan naluri calon gurunya keluar. Ia membuat sekolah kecil di pojok aula yang tak terpakai, mengajari mereka banyak hal: membaca, menulis, berhitung, sejarah, dan geografi. Bahkan di malam hari ia akan mendongeng untuk anakanak itu. Ia bisa mengulang banyak cerita dalam Alkitab sama baiknya dengan cerita­cerita wayang Ramayana dan Mahabharata yang ia dengar dari orang­orang pribumi. Ia juga mengetahui cerita­cerita rakyat, membaca banyak buku, dan anak­anak menyukainya seolah cerita dari mulutnya tak pernah kering. Ia akan mendongeng sampai waktunya anak­anak itu kembali ke ibu mereka untuk tidur.

Untuk urusan sehari­hari, mereka mulai mengatur diri mereka dalam kelompok­kelompok kecil dengan memilih seorang kepala kelompok. Mereka bekerja bergantian, sebab orang­orang Jepang itu menuntut sel­sel harus tetap bersih. Mereka membagi jadwal pekerjaan: memasak di dapur umum, mengisi bak air, mencuci perkakas, membersihkan halaman, bahkan mengangkuti karung­karung beras dan ketela serta kayu bakar dan hal lainnya dari truk ke dalam gudang. Dewi Ayu terpilih sebagai ketua kelompok, sebab ia seorang nyonya dan telah cukup dewasa untuk memimpin, dan tak punya siapa pun untuk direpotkan. Selain sekolah kecil yang dibuatnya di pojok aula, ia mencari beberapa teman dan kenalannya: ia menemukan seorang dokter dan di samping sekolah didirikan rumah sakit tanpa ranjang dan tanpa obat­obatan yang memadai. Beberapa perempuan menuntut pastor, tapi siapa pun tahu itu sulit sebab lelaki berada di tahanan yang berbeda, tapi ia menemukan seorang suster dan baginya itu cukup. ”Selama tak ada yang mau kawin, kita tak butuh pastor,” katanya pasti. ”Tapi kalau cuma khotbah dan mengajari doa, semua orang bisa melakukannya.”

Namun segala sesuatu tak berjalan semanis itu. Anak­anak lelaki

kecil, tumbuh jadi lebih liar di dalam tahanan. Mereka bergerombol bersama teman­teman satu blok mereka, kadang­kadang saling mengejek satu sama lain. Perkelahian anak­anak jadi lebih sering daripada seorang tentara Jepang marah­marah. Ibu­ibu mereka terpaksa mengambil jalan yang sama kerasnya, memukul anak­anak itu meskipun tak membuat mereka kapok. Orang­orang Jepang sama sekali tak ada niat melerai dan menghentikan perkelahian­perkelahian tersebut, dan sebaliknya, mereka tampak beberapa kali mencoba memanas­manasi, menganggapnya mainan baru.

Makanan adalah masalah lain. Jatah yang diberikan sama sekali tak mencukupi untuk ribuan tahanan yang berjejalan itu. Mereka hidup dengan cara makan ketat yang penuh kelaparan, hanya memperoleh bubur beras dengan bumbu garam untuk sarapan. Makan siang hanya dengan sayuran yang ditanam sendiri di belakang sel, dan di malam hari mereka memperoleh setangkup roti tawar. Tak pernah ada daging, dan mereka sendiri telah membuat banyak binatang di dalam Bloedenkamp punah. Awalnya tikus menjadi buruan, dan meskipun semula tak semua orang mau memakannya, lama­kelamaan tikus menjadi buruan semua orang hingga nyaris tak tersisa populasi tikus di dalam delta. Setelah tikus lenyap, cicak, dan tokek pun lenyap. Kemudian kodok menghilang. Kadang­kadang anak­anak pergi memancing, tapi karena mereka tak diperbolehkan pergi terlalu jauh, mereka seringkali harus puas dengan ikan­ikan kecil sebesar kelingking bayi atau anak katak. Yang paling mewah adalah jika datang pisang, tapi itu untuk bayi, dan orang­orang tua memperebutkan kulitnya.

Banyak bayi mulai mati, dan kemudian orang­orang tua. Dan penya­

kit juga membunuh ibu­ibu muda, anak­anak, gadis­gadis, siapa pun bisa mati mendadak. Halaman belakang sel tiba­tiba telah menjadi kuburan umum.

Waktu itu Dewi Ayu bersahabat dengan seorang gadis bernama Ola van Rijk. Ia ditahan bersama ibu dan adiknya. Sebenarnya ia telah mengenal mereka sejak lama, sebab ayahnya juga salah seorang pemilik perkebunan cokelat itu dan mereka sering berkunjung ke rumahnya, atau sebaliknya. Ola dua tahun lebih muda darinya. Suatu sore ia tibatiba menemuinya dengan air mata bercucuran.

”Ibuku sekarat,” katanya.

Dewi Ayu pergi melihatnya. Tampaknya memang begitu. Nyonya van Rijk menderita demam hebat, ia begitu pucat dan menggigil. Sama sekali tak ada harapan, sebab obat­obatan telah menghilang. Tapi ia tahu ada obat­obatan untuk prajurit­prajurit itu. Maka ia bilang pada Ola untuk pergi menemui Komandan Kamp dan meminta obat serta makanan. Ola merinding ketakutan harus berurusan dengan orangorang Jepang.

”Pergi atau ibumu mati,” kata Dewi Ayu.

Ia akhirnya pergi sementara Dewi Ayu mencoba mengompres perempuan sakit itu dan menenangkan si kecil adiknya Ola. Ia harus menunggu sekitar sepuluh menit sampai Ola kembali tanpa obat, sebaliknya, ia menangis lebih kencang. ”Biarlah ia mati,” katanya sambil sesenggukan. ”Apa kau bilang?” tanya Dewi Ayu. Ola menggeleng dengan lemah sambil melap air matanya dengan ujung lengan baju. ”Tak mungkin,” katanya pendek. ”Komandan itu mau memberiku obat jika aku tidur dengannya.” ”Biar kutemui sendiri,” katanya dengan geram. Dewi Ayu menemui Komandan Kamp di kantornya. Masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Sang Komandan tengah duduk di kursinya, menghadapi kopi dingin di atas meja dan radio yang mendengung tak menyiarkan apa pun. Lelaki itu menoleh dan terkejut dengan kelancangan tersebut, wajahnya memancarkan kemarahan orang yang sesungguh­sungguhnya. Namun sebelum ia meledak marah, Dewi Ayu telah melangkah berdiri di hadapannya hanya terpisah oleh meja. ”Aku gantikan gadis yang tadi, Komandan.

Kau tiduri aku tapi beri ibunya obat dan dokter. Dan dokter!”

”Obat dan dokter?” Ia telah mengenal beberapa kalimat Melayu. Kemarahannya menguap demi memperoleh anugerah luar biasa ini, di sore yang membosankan. Gadis ini sangat cantik, masih berumur tujuh atau delapan belas tahun, mungkin masih perawan, memberikan tubuhnya untuk seorang lelaki tua hanya untuk obat demam dan dokter. Ia tersenyum, begitu licik dan bengis, merasa dirinya sebagai lelaki tua yang sangat beruntung. Ia berjalan mengitari meja, sementara Dewi Ayu menantinya dengan ketenangan karakternya. Sang Komandan berdiri di sampingnya, meraba wajahnya dalam satu sentuhan, jarijarinya merayap bagai seekor cicak pada hidungnya, pada bibirnya, di dagunya ia berhenti sejenak untuk mengangkat wajahnya lebih tinggi. Jari­jarinya meneruskan perjalanan, menuruni lehernya dengan sapuan tangan kasar yang terlalu sering menggenggam samurai, pada lekukan tulangnya, dan terus sampai lingkar leher gaunnya. Tangannya menerobos masuk dan Dewi Ayu sedikit terkejut, tapi tangan lelaki itu telah menggenggam dada kirinya, dan sejak itu gerakannya jauh lebih cepat. Sang Komandan melepas kancing gaun Dewi Ayu secepat ia memeriksa jumlah pasukan, meremas dadanya, dan menciumi lehernya penuh berahi. Gerakannya memperlihatkan sejenis nafsu yang rakus, tangannya merayap ke sana­kemari seolah ia menyesali kenapa dilahirkan hanya dengan dua tangan.

”Cepatlah, Komandan, jika tidak perempuan itu segera mati.”

Sang Komandan tampaknya sepakat dengan gagasan itu dan tanpa berkata apa­apa segera menarik Dewi Ayu, mengangkat dan membaringkannya di atas meja setelah menyingkirkan gelas kopi dan radio. Dengan cepat menelanjangi gadis itu, dan menelanjangi dirinya sendiri, lalu melompat ke atas meja seperti seekor kucing mengincar ikan di meja makan. Ia menjatuhkan dirinya di tubuh Dewi Ayu. ”Jangan lupa, Komandan, obat dan dokter,” katanya meyakinkan. ”Ya, obat dan dokter,” jawab Sang Komandan. Kemudian orang Jepang itu mulai menyerangnya dengan ganas, langsung tanpa basa­basi, sementara Dewi Ayu memejamkan matanya, sebab bagaimanapun ini kali pertama seorang lelaki menyetubuhinya: ia agak sedikit menggigil namun bertahan melewati horor tersebut. Kenyataannya ia tak bisa sungguh­sungguh memejamkan matanya, karena Sang Komandan menggoncang tubuhnya demikian liar, bokongnya terus menghantam tanpa henti, menggoyangnya pula ke kiri ke kanan. Satu­satunya yang terus ia lakukan adalah menghindar jika lelaki itu mau mencium bibirnya. Permainan itu berakhir dalam satu ledakan dan Sang Komandan terguling ke samping tubuh Dewi Ayu, terkapar dengan napas tuanya yang putus­putus.

”Bagaimana, Komandan?” tanya Dewi Ayu.

”Mengagumkan, seperti diguncang gempa,” jawabnya. ”Maksudku obat dan dokter.”

Ia memperoleh seorang dokter lima menit kemudian, seorang dokter pribumi dengan kaca mata bulat dan sikap yang lembut. Dewi Ayu senang memperoleh dokter semacam itu, dan bersyukur tak perlu terlalu banyak berurusan dengan orang­orang Jepang lagi. Ia membawanya ke sel tempat keluarga van Rijk tinggal dan di pintu ia bertemu dengan Ola yang langsung bertanya kepadanya, ”Kau melakukan itu?” ”Ya.”

”Oh, Tuhan!” pekik gadis itu, menangis kembali sejadi­jadinya. Dewi Ayu mencoba menenangkan sementara si dokter segera masuk. ”Tak apa,” kata Dewi Ayu pada si gadis, ”anggap saja aku buang tai lewat lubang depan.” Tapi masalahnya tidak sesederhana itu, ternyata. Si gadis Ola tak bisa mengatakannya dalam keadaan hati yang terguncang, tapi dokter segera bisa memastikan.

”Perempuan ini sudah mati,” kata si dokter, pendek dan menyakitkan.

Sejak itu mereka tinggal bertiga: Dewi Ayu, Ola dan si kecil Gerda yang berumur sembilan tahun, seperti sebuah keluarga. Ayah mereka, Ola dan Gerda, pergi berperang dalam wajib militer yang sama sebagaimana Ted. Belum ada kabar apakah ia masih hidup, tertawan atau mati. Paskah dan Natal pertama mereka di kamp kemudian telah lewat, tanpa telur dan pohon cemara, dan lilin bahkan telah habis. Mereka mencoba bertahan bersama, saling menghibur, menghadapi satu­satunya ancaman serius yang bisa datang kapan saja: penyakit dan kematian. Dewi Ayu melarang si kecil Gerda untuk mencuri apa pun dari siapa pun, sebagaimana banyak dilakukan anak­anak lainnya. Ia mencoba terus memutar otaknya untuk memecahkan masalah makanan mereka tiap hari. Lintah­lintah telah menghilang dan sapi­sapi para sipir pun tak lagi berkeliaran di sekitar delta.

Suatu hari Dewi Ayu melihat seekor anak buaya di ujung delta, ia

tahu yang perlu dihindari dari seekor buaya di darat hanyalah ekornya, maka dengan sebuah batu besar ia menghantam kepala buaya itu. Matanya pecah tapi tidak cukup untuk membunuhnya. Binatang malang itu menggelepar dan mulai mengibaskan ekornya ke sanakemari, bergerak menuju sungai. Dengan sebuah bambu runcing tempat menambatkan tali perahu, Dewi Ayu dengan satu kenekatan yang ia sendiri tak bayangkan membunuh anak buaya itu dengan menusuk matanya yang satu lagi, dan kemudian perutnya. Ia mati setelah sekarat yang menyedihkan. Sebelum ibu dan teman­temannya datang, Dewi Ayu menyeret anak buaya itu ke dalam kamp dengan memegang ekornya. Kini mereka bisa pesta, sup daging buaya. Banyak orang memuji keberaniannya dan berterima kasih telah berbagi. ”Masih banyak di sungai,” katanya tenang, ”jika kalian mau.”

Ia telah diajari untuk tak pernah takut sejak kecil. Kakeknya beberapa kali mengajaknya berburu babi bersama para jawara. Ia bahkan berada di samping Mr. Willie ketika lelaki itu diseruduk babi yang membuat pincang kakinya seumur hidup. Ia tahu bagaimana menghadapi babi: jangan lari lurus sebab babi tak bisa berbelok. Para jawara telah mengajarinya hal itu, sebagaimana mereka mengajari bagaimana berhadapan dengan buaya, apa yang harus dilakukan jika tiba­tiba seekor ular pyton membelitnya, atau seekor ular berbisa menggigitnya, dan bagaimana menghadapi ajak liar, dan bagaimana jika lintah mengisap darahnya. Ia tak pernah menghadapi kasus di mana ia diancam binatang­binatang tersebut, tapi pelajaran dari para jawara itu tak pernah lenyap dari kepalanya.

Mereka juga mengajarinya beberapa mantra, pengusir setan, dan penjaga keselamatan. Ia tak pernah mempergunakannya, tapi dibuat senang mengetahuinya. Ia mengenal seorang pedagang Jawa yang datang jauh dari gunung, berjalan kaki sejauh lebih dari seratus kilometer, hanya untuk menjual buah­buahan dari kebunnya pada orang­orang Belanda. Ia menghabiskan empat hari perjalanan datang. Biasanya menginap semalam di gudang, dan neneknya akan memberinya makan malam, segelas kopi hangat, dan esoknya ia pulang dalam empat hari perjalanan lagi. Selain uang, kadang­kadang ia membawa pula beberapa pakaian bekas. Ia tak pernah takut menghadapi binatang apa pun di hutan. Dewi Ayu tahu mengapa, sebab ia membaca mantra.

Tapi ia tak juga pernah memercayainya, sebagaimana ia selalu dibuat bingung apa gunanya berdoa.

”Berdoalah, Amerika memenangkan perang,” katanya pada Gerda. Kontradiksinya, ia sering menyarankan orang lain untuk berdoa sementara ia tak sungguh­sungguh melakukannya.

Bagaimanapun, desas­desus tentang kemenangan Amerika dan kekalahan Jerman beredar dari mulut ke mulut di dalam kamp. Itu membuat mereka sedikit terhibur, tak peduli sesemu apa pun harapan tersebut. Kenyataannya, hari terus berganti, juga minggu dan bulan. Natal kedua akhirnya datang. Di luar kebiasaannya, Dewi Ayu merayakan Natal tahun itu untuk menghibur Gerda. Ia mencari ranting pohon beringin yang tumbuh di depan gerbang kamp, menghiasinya dengan potonganpotongan kertas, dan menyanyikan Jingle Bells. Ia sendiri dibuat heran dengan perilaku religiusnya, tapi ia sangat bahagia di waktu­waktu itu dengan memiliki Ola dan Gerda, tak peduli betapa tak menyenangkannya menghabiskan waktu di kamp tahanan.

Mereka mulai membicarakan rencana­rencana sekiranya perang berakhir, dengan cara apa pun, dan mereka bebas. Dewi Ayu bilang bahwa ia akan kembali ke rumahnya, membereskan segala sesuatunya, dan hidup kembali sebagaimana dulu. Mungkin tak sungguh­sungguh seperti dulu, sebab orang­orang pribumi mungkin memberontak dan mendirikan republik sendiri, tapi ia akan kembali ke rumah dan hidup. Ia akan senang jika Ola dan Gerda bisa ikut. Tapi Ola berpikir sedikit rasional, mungkin orang­orang Jepang telah merampas dan menjualnya pada seseorang. Atau orang­orang pribumi merampas dan memilikinya sendiri.

”Kita akan membelinya kembali,” kata Dewi Ayu. Ia membuka rahasia ini hanya untuk mereka berdua, bahwa ia punya harta karun peninggalan neneknya, meskipun ia tak mengatakan di mana tempatnya. ”Meskipun Jepang telah membomnya dan yang tersisa hanya sepetak ubin, kita akan membelinya.” Gerda sangat senang mendengar khayalan seperti itu. Kini umurnya sebelas tahun, namun tampak kolokan dan tubuhnya seperti tak lagi tumbuh sejak dua tahun lalu. Kecil dan kurus. Namun semua orang juga mengalami hal yang sama, sebagaimana Dewi Ayu yakin ia telah kehilangan sepuluh atau lima belas kilo daging di tubuhnya.

”Itu cukup untuk lima puluh mangkuk sup,” katanya sambil tertawa kecil.

Kegilaan baru datang, setelah hampir dua tahun di dalam tahanan, ketika tentara­tentara Jepang mulai mendaftar semua perempuan, terutama yang berumur tujuh belas sampai dua puluh delapan tahun. Dewi Ayu telah delapan belas tahun, sebentar lagi sembilan belas. Ola berumur tujuh belas. Awalnya mereka tak tahu untuk apa daftar semacam itu, kecuali bayangan kerja paksa yang sedikit lebih berat, sampai suatu pagi datang beberapa truk militer di seberang sungai dan beberapa perwira tentara datang dengan kapal feri menuju Bloedenkamp. Mereka telah beberapa kali datang, untuk inspeksi dan memberikan perintah atau peraturan baru, dan perintah kali ini datang untuk mengumpulkan semua gadis tujuh belas tahun sampai dua puluh delapan tersebut. Tiba­tiba kekacauan terjadi, sebab sesegera mungkin gadis­gadis itu menyadari bahwa mereka akan segera dipisahkan dari keluarga dan teman­teman mereka.

Beberapa gadis, Ola misalnya, mencoba berdandan seperti seorang perempuan tua, yang tentu saja sia­sia. Beberapa yang lain berlarian ke sana­kemari, bersembunyi di toilet atau naik ke atap dan mendekam di sana, tapi tentara­tentara Jepang selalu berhasil menemukan mereka. Seorang perempuan tua, mungkin ia segera akan kehilangan anak gadisnya, mencoba memprotes dan mengatakan, jika gadis­gadis itu harus dibawa pergi, ia meminta semua perempuan dibawa serta. Ia memperoleh pemukulan dari dua orang prajurit sampai babak­belur.

Akhirnya mereka berdiri berderet di tengah lapangan, gemetar ketakutan sementara ibu­ibu mereka berdiri melingkari di kejauhan. Dewi Ayu melihat Gerda memeluk sebuah pilar seorang diri sambil tercegukceguk menahan tangis, dan Ola di sampingnya tak berani memandang ke mana pun kecuali ujung sepatu jeleknya. Ia mendengar beberapa gadis itu menangis dan bergumam menyerupai doa yang tak terdengar. Para pejabat Jepang itu kemudian datang, memeriksa mereka satu per satu. Mereka berdiri di depan perempuan­perempuan itu, tertawa kecil sambil memperhatikan tubuh si gadis, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kadang­kadang mereka harus mengangkat wajah beberapa orang gadis dengan menekan dagunya dengan ujung jari. Mereka nyengir dan kembali memeriksa perempuan­perempuan yang lain. Beberapa orang gadis nyaris tak sadarkan diri oleh teror semacam itu.

Kemudian ada seleksi. Beberapa gadis disingkirkan dan tanpa me­

nyia­nyiakan waktu, mereka berlarian ke arah ibu mereka. Setiap kali seorang gadis dikirim pulang kembali, itu seperti anak panah melesat dari satu gerombolan gadis­gadis menuju gerombolan ibu­ibu. Kini tinggal separuh dari mereka masih berdiri di tengah lapangan, termasuk Dewi Ayu dan Ola. Mereka tampaknya tak akan pernah dikirim kembali, sebab pada seleksi kedua, keduanya tetap berada di tengah lapangan, tak berdaya dengan permainan konyol orang­orang Jepang. Mereka dipanggil satu per satu ke hadapan seorang pejabat, yang memeriksa jauh lebih teliti dengan mata kecil yang memicing. Seleksi itu kemudian hanya menyisakan dua puluh gadis, yang berdiri di tengah lapangan sambil berpegangan satu sama lain, namun tak seorang pun berani memandang wajah siapa pun. Bagaimanapun, merekalah gadis­gadis pilihan: muda, cantik, tampak sehat dan kuat. Mereka disuruh untuk segera berkemas, membawa semua milik mereka, dan berkumpul di kantor kamp, sebab truk telah menunggu untuk membawa pergi.

”Aku harus membawa Gerda,” kata Ola.

”Tidak,” kata Dewi Ayu. ”Jika kita mati, paling tidak ia masih hidup.” ”Atau sebaliknya?”

”Atau sebaliknya.”

Mereka kemudian menitipkannya pada sebuah keluarga yang telah dikenal Dewi Ayu sejak lama pula. Namun meskipun begitu Ola tampaknya tak mudah menerima keputusan tersebut begitu saja. Kedua kakak beradik itu duduk berlama­lama di pojok aula, saling berpelukan. Dewi Ayu mengemasi barang­barangnya tak tersisa, dan membantu memilah­milah mana yang akan dibawa Ola dan mana yang akan ditinggal untuk Gerda.

”Sudahlah, setelah dua tahun hidup membosankan, kita pergi cuma sekadar untuk tamasya,” kata Dewi Ayu kemudian. ”Nanti kubawakan oleh­oleh,” katanya lagi pada Gerda.

”Jangan lupa buku panduan wisata,” kata Gerda. ”Kau lucu, Nak,” kata Dewi Ayu.

Kedua puluh gadis itu berkerumun di samping gerbang, dan tampaknya hanya Dewi Ayu yang bersikap seolah itu tamasya yang menyenangkan. Gadis­gadis yang lain berdiri masih dengan kebingungan, dan terutama ketakutan, sambil sesekali menoleh pada orang­orang yang mereka tinggalkan. Mereka digiring beberapa prajurit, yang mendorongdorong dengan paksa, dan para perwira telah berjalan mendahului. Ketika mereka naik ke atas kapal feri, pintu gerbang masih terlihat dijaga beberapa prajurit, dan jauh di dalam, orang­orang berkerumun memandang kepergian mereka. Ada beberapa sapu tangan melambai, mengingatkan mereka pada waktu diangkut orang­orang Jepang dari rumah, kini perjalanan lain telah menunggu. Namun ketika feri mulai bergerak, pintu gerbang mulai ditinggalkan, dan pemandangan di dalam lenyap. Saat itulah ledakan tangis beberapa gadis dimulai, mengalahkan deru mesin kapal feri dan apalagi bentakan­bentakan tentara pengawal yang mulai jengkel oleh kecengengan mereka.

Kemudian mereka dinaikkan ke atas truk yang telah menunggu di seberang sungai. Duduk meringkuk di pojokan kecuali Dewi Ayu yang berdiri bersandar pada dinding truk dan matanya memandang tamasya Halimunda yang sangat dikenalnya, sementara dua prajurit Jepang bersenjata berjaga tak jauh darinya. Hampir semua dari gadis­gadis itu telah saling mengenal satu sama lain setelah hampir dua tahun bersama­sama di dalam tahanan, tapi mereka tampaknya tak berniat membicarakan apa pun, dan dibuat terheran­heran dengan sikap tenang Dewi Ayu. Bahkan Ola tak tahu apa yang dipikirkannya, dan menyimpulkan secara serampangan bahwa Dewi Ayu kenyataannya tak memiliki siapa pun untuk dikhawatirkan. Tak seorang pun ditinggalkannya dan tak seorang pun kehilangannya.

”Kita akan dibawa ke mana, Tuan?” tanya Dewi Ayu pada kedua prajurit itu, meskipun ia tahu truk berjalan menuju ujung lain kota, mungkin ke luar kota di bagian barat.

Mereka tampaknya telah diperintahkan untuk tak berkata apa pun kepada gadis­gadis itu, hingga secara acuh tak acuh mengabaikan pertanyaan Dewi Ayu, dan sebaliknya bicara di antara mereka sendiri dalam bahasa Jepang.

Mereka dibawa ke sebuah rumah besar, dulunya merupakan rumah peristirahatan sebuah keluarga Belanda dari Batavia, dengan halaman luas ditumbuhi banyak pepohonan, pohon beringin di tengah halaman, dan beberapa pohon palem berderet bergantian dengan kelapa Cina di dekat pagar. Ketika truk masuk ke halamannya, Dewi Ayu bisa menebak ada lebih dari dua puluh kamar di rumah berlantai dua tersebut. Gadisgadis itu turun dan dibuat terheran­heran dengan perubahan yang tak terkira: dari tahanan yang kumuh dan murung, tiba­tiba berada di rumah besar yang nyaman dan mewah. Sesuatu yang aneh pasti terjadi seolah ada kesalahan perintah atau semacamnya.

Selain dua prajurit yang mengawal mereka, ada beberapa prajurit lain yang menjaga rumah tersebut. Beberapa berkeliaran di halaman yang luas, beberapa yang lain duduk di beranda bermain kartu. Dari dalam rumah muncul seorang perempuan pribumi setengah baya, dengan rambut disanggul, ia mengenakan gaun longgar tanpa mengikatkan tali di pinggangnya. Ia tersenyum pada kemunculan gadis­gadis itu, yang masih berdiri di halaman, seperti orang­orang kampung yang ragu menginjakkan kaki di istana raja­raja.

”Rumah apakah ini, Nyonya?” tanya Dewi Ayu sopan.

”Panggil aku Mama Kalong,” katanya. ”Seperti kalong, aku lebih sering bangun di malam hari daripada siang.” Ia turun dari beranda dan menghampiri gadis­gadis itu, mencoba membangkitkan roman­roman muka yang tanpa semangat tersebut, dengan tersenyum dan mencandai. ”Ini rumah peristirahatan milik seorang pemilik pabrik limun di Batavia, aku lupa namanya, tapi tak ada bedanya, kini rumah ini milik kalian.”

”Untuk apa?” tanya Dewi Ayu.

”Kupikir kalian tahu. Kalian di sini jadi sukarelawan bagi jiwa­jiwa tentara yang sakit.”

”Semacam sukarelawan palang merah?” ”Kau pandai, Nak. Siapa namamu?” ”Ola.”

”Baiklah, Ola, ajak teman­temanmu masuk.”

Bagian dalam rumah tersebut jauh lebih memukau lagi. Ada banyak lukisan, terutama yang bergaya mooi indie tergantung di dindingnya. Propertinya masih lengkap, dari kayu yang diukir dengan sangat halus. Dewi Ayu melihat sebuah potret keluarga masih tergantung di dinding, beberapa orang yang berdesakan di kursi, tampaknya sebanyak tiga generasi berpotret bersama. Mereka mungkin berhasil melarikan diri, atau bahkan salah satu penghuni Bloedenkamp, dan bisa jadi telah mati. Potret Ratu Wilhelmina yang besar tergeletak di sudut, mungkin telah diturunkan orang­orang Jepang. Hal itu memberi kesadaran padanya bahwa ia kini tak lagi punya rumah: orang­orang Jepang pasti telah mempergunakannya, atau lenyap oleh peluru yang salah sasaran. Segala sesuatunya tampak terawat dengan baik, mungkin dikerjakan Mama Kalong, sehingga ketika ia masuk ke salah satu kamar, ia serasa masuk kamar pengantin. Ada tempat tidur besar dengan kasur yang begitu lembut dan tebal, kelambu warna merah jambu, dan udara beraroma mawar. Lemari­lemarinya masih dipenuhi pakaian­pakaian, beberapa milik seorang gadis, dan Mama Kalong berkata bahwa mereka boleh mempergunakan pakaian­pakaian itu. Ola bahkan berkomentar, setelah dua tahun di dalam tahanan, semua ini terasa seperti mimpi. 

”Apa kubilang, kita sedang tamasya,” kata Dewi Ayu.

Mereka memperoleh kamar sendiri­sendiri, dan kemewahan itu tak berakhir sampai di sana. Mama Kalong, dibantu seorang jongos, menjamu mereka makan malam dengan sajian rijsttafel yang lengkap, yang terbaik setelah menderita kelaparan berbulan­bulan. Satu­satunya hal yang membuat kebanyakan dari gadis­gadis itu tak menikmati kemewahan yang berlebihan tersebut adalah ingatan pada orang­orang yang ditinggalkan di dalam kamp.

”Seharusnya Gerda ikut,” kata Ola.

”Jika kita tak dikirim untuk kerja paksa di pabrik senjata, kita bisa menjemputnya.” Dewi Ayu mencoba menenangkan Ola.

”Ia bilang kita sukarelawan palang merah.”

”Apa bedanya, kau bahkan belum tahu bagaimana membalut luka, apalagi Gerda?”

Itu benar. Tapi bagaimanapun mereka telah dibuat terpesona oleh bayangan menjadi sukarelawan palang merah, tak peduli berada di pihak musuh. Paling tidak, itu lebih baik daripada di kamp tahanan dan mati kelaparan di sana. Mereka mulai meributkan beberapa perkara pertolongan pertama. Seorang gadis berkata bahwa ia anggota pandu, dan tahu bagaimana membalut luka, dan tak hanya itu, ia bahkan tahu bagaimana mengobati penyakit­penyakit ringan semacam sakit perut, demam dan keracunan makanan dengan tanaman obat.

”Masalahnya, prajurit Jepang tak butuh obat sakit perut,” kata Dewi Ayu. ”Mereka butuh orang yang bisa mengamputasi leher.”

Dewi Ayu pergi meninggalkan mereka, masuk ke kamarnya. Disebabkan ia satu­satunya yang paling tenang di antara mereka, meskipun ia bukan yang paling tua, mereka mulai menganggapnya sebagai pemimpin. Dengan kepergiannya, kesembilan belas gadis itu mengikutinya ke kamar, bergerombol di atas tempat tidur dan kembali membicarakan bagaimana mengamputasi leher prajurit Jepang seandainya kepala mereka terluka dan tak lagi berguna. Dewi Ayu tak memedulikan omongan mereka yang konyol itu, dan memilih menikmati tempat tidurnya yang baru, seperti anak kecil memperoleh mainan. Ia memijit­mijit kasurnya, mengelus selimutnya, berguling­guling dan bahkan melompat­lompat membuat tempat tidur bergoyang­goyang dan teman­temannya melambung.

”Apa yang kau lakukan?” tanya salah satu dari mereka.

”Aku hanya ingin tahu apakah tempat tidur ini akan ambruk atau tidak jika terguncang hebat,” jawabnya sambil terus melompat­lompat.

”Tak mungkin ada gempa,” kata yang lain.

”Siapa tahu,” katanya. ”Jika aku harus jatuh ke lantai saat tidur, aku lebih suka berbaring di lantai.”

”Gadis yang aneh,” kata mereka ketika satu per satu mulai pergi ke kamar tidur masing­masing.

Setelah semuanya pergi, Dewi Ayu berjalan ke arah jendela dan membukanya. Ada terali besi yang kukuh dan ia berkata pada diri sendiri, ”Tak ada kemungkinan untuk melarikan diri.” Ia menutup kembali jendela, dan naik ke atas tempat tidur, menarik selimut, tanpa berganti pakaian. Sebelum memejamkan mata, ia berdoa, ”Brengsek, kau tahu seperti inilah memang perang.”

Ketika pagi datang, Mama Kalong telah menyiapkan sarapan pagi: nasi goreng dengan telor mata sapi. Semua gadis­gadis itu telah selesai mandi, namun mereka masih mengenakan pakaian­pakaian lama mereka, yang sesungguhnya lebih menyerupai gombal setelah terlalu sering dicuci dan dijemur dan terutama terlalu sering dipakai. Mata mereka memperlihatkan bola mata yang tak pulas tidur, beberapa bahkan menyisakan tanda­tanda menangis semalam suntuk. Hanya Dewi Ayu yang tanpa malu­malu mengambil gaun dari lemari pemilik rumah, mengenakan gaun warna krem polkadot putih, berlengan pendek, dengan ikat pinggang bergesper bulat. Ia juga memoles wajahnya dengan pupur, bibirnya dengan lisptik tipis, dan sedikit bau lavender dari tubuhnya, semuanya ia temukan dari laci meja rias. Ia tampak anggun dan ceria, seolah ini hari ulang tahunnya, dan tampak aneh di antara kerumunan gadis­gadis itu. Mereka memandangnya dengan tatapan penuh tuduhan, bagaikan menangkap basah seorang pengkhianat, namun selesai sarapan pagi, mereka berlarian ke dalam kamar dan segera berganti pakaian, melemparkan pakaian lama ke dalam bak cucian, lalu saling mengagumi satu sama lain. Agak siang orang­orang Jepang baru datang, dengan suara sepatu boot memenuhi ruangan. Gadis­gadis itu segera menyadari, bagaimanapun mereka masih tahanan, dan merasa aneh telah merasa begitu bahagia. Gadis­gadis itu mundur membentur dinding, dan kembali menjadi gadis­gadis murung. Kecuali Dewi Ayu, yang segera menyapa salah satu dari tamu itu.

”Apa kabar?”

Ia hanya menoleh sekilas padanya, tak hirau dan pergi menemui Mama Kalong. Mereka berbicara sebentar, lalu ia kembali dan menghitung jumlah gadis­gadis tersebut sebelum pergi kembali bersama yang lain­lainnya. Rumah itu kembali sepi, hanya mereka dan Mama Kalong serta beberapa prajurit yang terus berkeliaran di luar rumah.

”Ia menghitung seolah kita gerombolan prajurit,” salah satu dari mereka mengomel.

”Sebab itulah pekerjaan seorang Komandan,” kata Mama Kalong. Sepanjang hari itu tak ada hal yang mereka kerjakan, kecuali ber­

kerumun di ruang tamu atau di salah satu kamar, dan tanda­tanda kebosanan mulai menyergap mereka. Bahkan mereka mulai kehilangan bahan untuk dibicarakan, setelah saling bernostalgia pada masa kecil yang menyenangkan, jauh sebelum perang. Mereka juga tak lagi membicarakan apa pun mengenai palang merah, sebab tak ada tanda­tanda bahwa mereka sungguh­sungguh akan jadi sukarelawan. Jepang­Jepang itu tak membicarakan apa pun mengenai hal itu, bahkan tidak juga hal lain. Mereka berpikir, seharusnya ada sedikit latihan untuk jadi sukarelawan, tapi kelihatannya mereka akan membusuk di rumah itu, dalam kemewahan yang tak masuk akal. Lagi pula pikirkan hal ini, kata salah satu dari mereka, front berada jauh entah di mana, mungkin di lautan Pasifik, mungkin di India, tapi jelas bukan di Halimunda. Tak ada prajurit terluka di kota ini, dan tak seorang pun membutuhkan palang merah. ”Mereka masih butuh tukang amputasi leher,” kata Dewi Ayu.

Kalimat itu tak lagi terasa lucu, terutama karena orang yang menga­

takannya tampak tak peduli dengan apa pun. Ia begitu menikmati segala sesuatunya, memakan apel­apel yang disediakan, serakus memakan pisang dan pepaya.

”Kau ini rakus atau kelaparan?” tanya Ola. ”Dua­duanya.” Sampai keesokan harinya, tak ada sesuatu terjadi atas mereka, menambah­nambah kebingungan. Ola mencoba menghibur diri, mungkin mereka akan ditukarkan dengan tawanan perang lainnya, dan untuk itu mereka diberi makanan yang baik, rumah serta pakaian, agar tak tampak menderita. Tak ada satu pun di antara gadis­gadis itu percaya. Kesempatan untuk bertanya datang ketika muncul kembali beberapa orang Jepang ke rumah itu, bersama tukang foto. Tapi tak satu pun di antara mereka bisa bicara Inggris, Belanda dan apalagi Melayu. Mereka hanya memberi isyarat untuk bergaya, sebab gadis­gadis itu akan difoto. Dengan enggan mereka berjejer di depan kamera, dengan senyum terpaksa, berharap Ola benar bahwa potret mereka akan dijadikan kampanye mengenai keadaan tawanan, dan setelah itu akan ada tukarmenukar tahanan perang.

”Kenapa kalian tidak tanya pada Mama Kalong?” tanya Dewi Ayu.

Dan mereka menemui perempuan itu, menuntutnya. ”Kau bilang kami sukarelawan palang merah?”

”Sukarelawan,” kata Mama Kalong, ”mungkin bukan palang merah.” ”Lalu?”

Ia memandangi gadis­gadis itu, yang balas memandangnya penuh harap. Wajah­wajah lugu yang nyaris tanpa dosa itu terus menunggu, sampai Mama Kalong menggeleng lemah. Ia pergi meninggalkan mereka dan mereka segera mengejarnya. ”Katakan sesuatu,” pinta mereka.

”Yang aku tahu, kalian tahanan perang.” ”Kenapa dikasih banyak makanan?”

”Supaya tidak mati.” Lalu ia menghilang di halaman belakang, pergi entah ke mana. Gadis­gadis itu tak bisa mengejarnya sebab prajurit­prajurit Jepang menghadang mereka dan membiarkan perempuan itu pergi. Kejengkelan mereka semakin bertambah­tambah ketika kembali ke dalam rumah dan menemukan teman mereka yang satu itu, Dewi Ayu, tengah duduk di kursi goyang sambil bersenandung kecil dan masih memakan buah­buah apelnya. Ia menoleh pada mereka, dan menyunggingkan senyum melihat wajah­wajah yang menahan kemarahan. Kalian tampak lucu, katanya, serupa boneka gombal. Mereka berdiri mengelilinginya, tapi Dewi Ayu tetap diam, hingga salah satu dari mereka

akhirnya berkata: ”Apakah kau tak merasakan sesuatu yang aneh?” tanyanya. ”Tidakkah kau mencemaskan sesuatu?”

”Kecemasan datang dari ketidaktahuan,” kata Dewi Ayu.

”Kau pikir kau tahu apa yang akan terjadi atas kita?” tanya Ola. ”Ya,” jawabnya. ”Jadi pelacur.”

Mereka juga tahu, tapi hanya Dewi Ayu yang berani mengatakannya.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊