menu

Cantik Itu Luka Bab 02

Mode Malam
2
Sesuatu yang aneh pasti telah terjadi, sebab suatu malam ia dipaksa untuk mengawini Dewi Ayu. Ia tengah tidur mendengkur ketika sebuah mobil Collibri berhenti di depan rumahnya, dan suara mesinnya yang mendengus­dengus di tengah malam buta cukup untuk membuatnya terbangun. Lelaki tua itu, Ma Gedik, belum juga terbebas dari rasa terkejut, ketika kejutan berikutnya datang seperti topan badai: seorang jawara turun dari mobil itu, dengan golok terayun­ayun di pinggangnya, menendang anjing kampung peliharaan si lelaki tua yang tidur tepat di depan pintu membuat si anjing memberontak dan menggonggong nyaring siap bertarung, tapi usahanya segera sia­sia sebab seorang lelaki lain, tampaknya pengemudi Collibri itu, menembaknya dengan senapan. Anjing itu melolong sebentar sebelum mati, nyaris pada saat yang sama si jawara menendang pintu papan sengon

gubuk rumah si lelaki tua yang segera terkulai pada sebuah engsel.

Gubuk itu sangat gelap, dihuni lebih banyak codot dan cicak daripada manusia. Di sana hanya ada dua ruangan yang terlihat samar­samar dengan cahaya bulan dari pintu yang terbuka: sebuah kamar tidur dengan seorang lelaki tua duduk di ujung dipan kebingungan dan sebuah dapur di mana sebuah tungku dengan abu nyaris memenuhi rongganya berada. Sarang laba­laba malang­melintang di sana­sini, hanya meninggalkan sedikit ruang yang merupakan rute si lelaki tua pergi ke tungku dan tempat tidur dan pintu keluar. Si jawara yang kemudian dibuat terbatuk­batuk oleh bau pesing yang melebihi bau apa pun di kandang kuda dan babi menjumput segenggam daun kelapa kering dari tumpukan di dekat tungku, melipatnya dan membakar ujungnya dengan korek gas menjadikannya obor. Seketika ruangan jadi benderang dengan bayang­bayang segala benda yang bergoyang­goyang, dan codot­codot mulai berhamburan. Lelaki tua itu masih di ujung dipannya, memandang si tamu tak diundang dengan kebingungan yang sama.

Kejutan berikutnya: si jawara memperlihatkan papan sabak yang ditulisi dengan rapi, tampaknya oleh seorang gadis. Ia tak bisa membacanya, si jawara juga tidak, tapi si jawara tahu apa yang ditulis di sana.

”Dewi Ayu ingin kawin denganmu,” katanya.

Ini pasti lelucon, sebab impian paling liar pun tak pernah sampai sejauh itu. Ia harus tahu diri, ia lelaki tua, telah hidup lebih dari setengah abad, bahkan janda­janda tua yang ditinggal mati suami­suami di tanah Deli atau dibuang ke Boven Digoel pun lebih suka menimbun amal saleh bekal akherat daripada berpikir untuk kawin dengan seorang penarik cikar seperti dirinya. Masih untung jika ia bisa memberi seorang perempuan makan, ia bahkan nyaris lupa bagaimana menyetubuhi mereka, sebab terakhir kali ia pergi ke tempat pelacuran adalah bertahuntahun lalu, dan terakhir kali ia melakukannya sendiri, dengan tangan, juga bertahun­tahun lalu. Maka dengan keluguan lelaki kampungannya, ia berkata pada si jawara itu:

”Aku bahkan tak yakin bisa memerawaninya.”

”Tak masalah apakah kau atau kontol anjing yang akan memerawaninya, ia ingin kawin denganmu,” kata si jawara galak. ”Jika tidak, Tuan Stammler akan jadikan kau sarapan pagi ajak­ajak.”

Itu cukup untuk membuatnya menggigil. Orang­orang Belanda banyak memelihara ajak teman mereka berburu babi, dan bukan cerita bohong jika ada pribumi yang mereka tak suka, akan diadu hidup­mati dengan ajak­ajak. Tapi kalaupun berita itu benar, kawin dengan Dewi Ayu bukanlah masalah yang sederhana. Paling tidak, ia tak mengerti kenapa ia harus kawin dengannya. Masalah yang lebih serius, ia telah berjanji untuk tak kawin dengan siapa pun, demi cinta abadinya pada seorang perempuan yang terbang lenyap ke langit bernama Ma Iyang. Perempuan itu adalah cerita lain, semacam cinta yang tak jadi kenyataan. Mereka tinggal bersama di perkampungan nelayan, bertemu setiap hari, berenang di muara yang sama, memakan ikan yang sama, dan tampaknya hanya waktu yang menghalangi mereka untuk segera mengawini satu sama lain, sebab tak lama kemudian mereka telah jadi seorang pemuda dan seorang gadis. Berbeda dari kebanyakan bocah seumurnya, Ma Gedik masih membawa tabung berisi air susu ibunya ke mana pun pergi, terus begitu semenjak ia bisa berjalan dan pergi meninggalkan ibunya. Hingga suatu hari, didorong oleh kebingungannya, Ma Iyang bertanya kenapa ia masih meminum susu itu, bahkan tak peduli jika susu itu sudah basi, di umur yang kesembilan belas tahun.

”Sebab ayahku terus meminum susu ibuku sampai tua.”

Ma Iyang mengerti. Di balik rumpun belukar pandan, ia membuka pakaiannya dan menyuruh lelaki itu mengisap puting susunya, yang tengah tumbuh begitu mungil. Tak ada air susu keluar, tapi itu cukup untuk membuat Ma Gedik berhenti meminum susu ibunya dari tabung bambu dan jatuh cinta sampai mati pada gadis itu. Begitulah segalanya terjadi, hingga suatu malam Ma Iyang dijemput sebuah kereta kuda, didandani bagai penari sintren, begitu cantik namun menyakitkan. Ma Gedik yang selalu terlambat mendengar apa pun berlari sepanjang pantai mengejar kereta kuda itu, dan ketika ia mencapainya, ia berlari di samping kereta sambil berseru, bertanya pada si gadis cantik yang duduk di belakang kusir.

”Ke mana kau pergi?”

”Ke rumah Tuan Belanda.”

”Untuk apa? Kau tak perlu jadi jongos orang Belanda.”

”Memang tidak,” kata si gadis. ”Aku jadi gundik. Kelak kau panggil aku Nyai Iyang.”

”Tai,” kata Ma Gedik. ”Kenapa kau mau jadi gundik?”

”Sebab jika tidak, Bapak dan Ibu akan jadi sarapan pagi ajak­ajak.” ”Tahukah kau bahwa aku mencintaimu?”

”Tahu.”

Ia terus berlari di samping kereta kuda, mereka berdua, pemuda dan gadis itu, menangis bersama oleh perpisahan yang menyakitkan itu, disaksikan kusir yang memandang mereka dengan kebingungan. Sikapnya yang bijak berusaha membuat keduanya untuk berpikir sedikit tenang, dan kegilaannya membuatnya bicara kelewatan:

”Cinta tak perlu saling memiliki.”

Hal ini sama sekali tak menghibur, malahan membuat Ma Gedik terjatuh di pinggir jalan yang berpasir, menangis meraung­raung meratapi kemalangan dirinya. Si gadis menyuruh kusir berhenti sejenak, mundur, dan ia turun berdiri di depan lelaki itu. Disaksikan si kusir tua, kudanya, kodok yang bernyanyi, burung hantu, nyamuk, dan ngengat, si gadis membuat perjanjian.

”Enam belas tahun yang akan datang, Tuan Belanda itu akan bosan denganku. Tunggulah di puncak bukit cadas jika kau masih mencintaiku, dan terutama jika masih menginginkan sisa­sisa orang Belanda.”

Setelah itu mereka tak pernah bertemu, dan tak pernah ada kabar berita pula. Ma Gedik bahkan tak pernah tahu siapa Tuan Belanda yang penuh berahi menginginkan kekasihnya yang tengah mekar di umur lima belas tahun itu. Ia sendiri berumur sembilan belas tahun, bersumpah akan tetap mencintainya meskipun pulang telah tercincang­cincang.

Namun kepergian seorang kekasih bukanlah perkara sederhana. Ia memulai hari­hari penantiannya dengan menjadi laki­laki yang lebih gila dari orang­orang gila, lebih idiot dari orang­orang idiot, dan terutama lebih menyedihkan daripada orang­orang yang tengah berkabung. Teman­temannya, waktu itu ia telah jadi penarik cikar dan kuli angkut di pelabuhan, mencoba menghibur dengan menyuruhnya kawin dengan perempuan lain, namun ia lebih suka menghabiskan upah dan waktunya dengan berjudi dan pulang dalam keadaan mabuk arak. Menyerah untuk menyuruhnya mengawini perempuan lain, temantemannya yang baik mulai membujuknya pergi ke tempat pelacuran, paling tidak mereka berharap tubuh perempuan bisa mengurangi nafsu kesedihannya. Waktu itu hanya ada satu tempat pelacuran di ujung dermaga, sebenarnya dibangun untuk memenuhi kebutuhan tentaratentara Belanda yang tinggal di barak­barak, namun setelah penyakit sipilis berjangkit banyak tentara­tentara itu tak lagi muncul ke sana dan mereka lebih suka memelihara gundik­gundiknya sendiri, hingga tempat pelacuran itu kemudian mulai didatangi buruh­buruh pelabuhan.

”Kawin atau ke tempat pelacuran, itu sama­sama pengkhianatan,”

kata Ma Gedik keras kepala. Namun satu minggu kemudian, dalam keadaan mabuk dan setengah sadar teman­temannya menyeret lelaki itu ke tempat pelacuran tersebut dan ia menghabiskan upah satu harinya untuk tempat tidur dan seorang perempuan gembrot dengan lubang kemaluan sebesar liang tikus, dan dengan segera lelaki itu, terpana oleh pesona pelacuran, meralat ucapannya: ”Ngentot pelacur bukanlah pengkhianatan, sebab mereka dibayar dengan uang dan tidak dengan cinta.” Masa­masa setelah itu adalah waktu­waktu ketika ia menjadi pelanggan sejati tempat pelacuran di ujung dermaga, menyetubuhi perempuan­perempuan di sana sambil menggumamkan nama gadis yang meninggalkannya itu. Ia melakukannya hampir di setiap akhir pekan, berombongan bersama sahabat­sahabatnya yang tetap baik. Kadang­kadang mereka menyetubuhi seorang pelacur untuk masingmasing di waktu­waktu uang cukup melimpah, namun di waktu­waktu penuh penghematan mereka bisa meniduri seorang perempuan berlima sekaligus. Hingga di tahun­tahun kemudian, teman­temannya mulai kawin satu per satu. Itu adalah waktu yang sangat menyulitkan, sebab tak banyak di antara teman­temannya punya waktu pergi ke tempat pelacuran, lebih dari itu mereka punya istri­istri yang bisa ditiduri dengan cinta, tidak dengan uang. Masa­masa yang sulit sebab pergi ke tempat pelacuran seorang diri adalah hal paling menyedihkan di dunia. Ketika ia mulai kesepian seorang diri, ia mulai melatih kemampuan tangannya untuk urusan itu, dan di saat­saat yang tak tertahankan, ia akan menyelinap sendiri di tengah malam buta ke ujung dermaga dan

pulang sebelum nelayan berdatangan dari laut.

Lalu ia jadi orang aneh, jika bukan musuh masyarakat, sebab kerap kali ia dipergoki membuat keributan di kandang ternak tetangga, dan ternyata ia tengah memerkosa seekor sapi betina, atau ayam sampai ususnya keluar. Kadang ia memukul seorang bocah gembala, lalu menangkap seekor domba dan menggarapnya di tengah padang rumput, membuat seorang perempuan setengah baya dengan keranjang penuh daun ketela berlari­lari sepanjang pematang sawah dengan histeris oleh teror nafsu berahi yang tak terkendali itu. Semua orang mulai menjauhinya, sebab ia pun mulai tak pernah mandi. Ia mulai tak suka makan nasi atau apa pun, kecuali tainya sendiri dan tai orang­orang yang ditemukan di kebun pisang. Keluarganya, dan teman­temannya yang sangat khawatir, segera memanggil seorang tabib, atau dukun, datang dari jauh hanya karena reputasinya mampu menyembuhkan segala penyakit. Ia seorang India, tabib itu, dengan jubah putih dan janggut yang melambai­lambai, tampak bijak dan lebih menyerupai seorang wali daripada seorang dukun, memeriksanya di kandang kambing sebab selama sebulan terakhir Ma Gedik akhirnya dipasung di sana, hidup hanya dengan makan kotoran kandang. Dengan tenang, sang tabib berkata pada orang­orang cemas tersebut:

”Hanya cinta yang bisa menyembuhkan orang gila.”

Itu hal yang sangat sulit, sesulit mengembalikan Ma Iyang kepadanya. Mereka akhirnya menyerah dan membiarkannya terpasung selama tahun­tahun penantian itu.

”Mereka bikin perjanjian selama enam belas tahun,” kata ibunya dengan jengkel, ”ia akan membusuk sebelum hari itu datang.” Perempuan inilah yang memutuskan untuk memasungnya, dibuat marah setelah dipaksa menyembelih enam ekor ayam sekarat dengan usus terjulur dari lubang anus mereka.

Tapi ia tak membusuk, bagaimanapun. Lebih dari itu, ia tampak begitu sehat dengan pipi kemerahan, seiring dengan meluruhnya harihari dan waktu penantiannya semakin dekat. Anak­anak sekolah tanpa alas kaki akan bergerombol di luar kandang kambing itu pada siang hari sebelum mereka sampai di rumah dan menggembalakan ternak, mencandainya sementara ia akan mengajari mereka bagaimana memanjakan kemaluan sendiri dengan menggosoknya mempergunakan air liur: hal ini membuat guru sekolah melarang siapa pun dari bocah­bocah itu dekat­dekat dengannya. Namun sudah jelas anak­anak sekolah itu mencoba apa yang diajarkannya, sebab tengah malam beberapa di antara mereka mendatangi kandang kambing tersebut secara diam­diam dan berbisik padanya bahwa mereka baru tahu ada cara kencing yang lebih nikmat daripada sekadar kencing biasa.

”Akan lebih menyenangkan jika mencobanya dengan kemaluan

anak­anak perempuan.”

Ketika suatu siang seorang petani menemukan dua orang bocah sembilan tahun bercinta di semak­semak pandan, orang­orang kampung dengan kejam menutup kandang kambing tersebut dengan papanpapan. Ma Gedik terkurung di dalamnya tanpa seorang pun bicara kepadanya, dan tanpa cahaya tentu saja.

Hukuman itu sama sekali tak menghancurkan semangatnya. Sementara tubuhnya dipasung di kandang yang terkurung, mulutnya mulai menyanyikan lagu­lagu cabul yang membuat merah muka para kyai, dan di tengah malam membuat banyak orang tak bisa tidur. Hal ini berlangsung selama berminggu­minggu, semacam pembalasan dendam yang membuat banyak orang menggigil dalam penderitaan. Namun ketika orang­orang kampung sampai pada satu kesepakatan bahwa mereka akan menyumpal mulutnya dengan beluruk, buah kelapa muda, keajaiban datang secara tiba­tiba. Pagi itu ia tak lagi menyanyikan lagulagu cabul, sebaliknya, ia menyanyikan kidung­kidung cinta yang indah, yang membuat banyak orang menangis karena mendengarnya. Betapa indahnya kidung tersebut sehingga semua orang dari ujung kampung ke ujung yang lainnya berhenti bekerja, terpana seolah menanti para bidadari turun dari langit. Mereka tak segera menyadari keajaiban tersebut sampai seseorang mengerti apa yang terjadi: itu adalah hari terakhir penantiannya. Itu hari di mana ia akan bertemu dengan kekasihnya di puncak bukit cadas.

Mereka, hampir semua orang yang mengenalnya, segera mengeru­

bungi kandang kambing tersebut, mulai membongkar papan­papan penutup. Ketika cahaya menerangi kandang kambing yang baunya telah menyerupai liang tikus disebabkan lembab yang menyengat, mereka menemukan laki­laki itu masih berbaring dalam pasungannya menyanyikan kidung cinta. Mereka membongkar pasungnya dan membawanya ke parit, memandikannya beramai­ramai seolah ia bayi yang baru lahir, atau lelaki tua yang baru mati. Tubuhnya dilumuri berbagai wewangian, dari minyak mawar sampai lavender, dan ia diberi pakaian hangat yang begitu baik, sebuah kemeja dan pantalon sisa­sisa orang Belanda, mendandaninya bagaikan ia sebongkah mayat orang Kristen yang hendak dimasukkan ke dalam peti mati. Hingga ketika segalanya selesai, beberapa teman lamanya berkomentar penuh kekaguman:

”Kau begitu tampan,” kata mereka, ”membuat khawatir istriku dibuat jatuh cinta kepadamu.”

”Tentu saja,” katanya, ”sebab domba dan buaya pun jatuh cinta kepadaku.”

Benar juga kata tabib India itu, cinta bisa menyembuhkan penyakitnya, bahkan penyakit apa pun. Tak seorang pun dibuat khawatir dan semua orang melupakan kelakuan buruknya di masa lalu. Bahkan gadis­gadis muda berdiri di sampingnya begitu dekat, tanpa ketakutan tangannya melayap kurang ajar, dan orang­orang saleh menyapanya dengan ramah tanpa dibuat cemas telinga mereka dijejali hal­hal tak senonoh. Ibunya membuat semacam pesta kecil atas kesembuhan yang mendadak tersebut, berupa nasi kuning tumpengan dengan seonggok ayam yang disembelih secara baik­baik, tanpa usus menjulur dari liang anus, dan seorang kyai didatangkan untuk mengucapkan doa­doa keselamatan. Itu pagi yang semarak di perkampungan nelayan tersebut, di salah satu sudut Halimunda yang masih berkabut, pagi yang tak akan pernah dilupakan orang­orang sampai bertahun­tahun kemudian ketika mereka menceritakan kisah cinta sepasang kekasih pada anak keturunan, yang sampai beberapa generasi merupakan kisah cinta abadi. Namun penantian selama enam belas tahun itu berakhir tragis. Tak lama setelah matahari mulai menyengat, mereka mendengar orangorang berlarian dengan mobil dan terutama kuda, mengejar seorang gundik yang melarikan diri ke bukit cadas, yang tak diragukan itu adalah Ma Iyang. Ma Gedik, dengan seekor keledai yang ditemukannya di kandang seorang penarik pedati mengejar orang­orang Belanda dan juga kekasihnya, dan di belakangnya, orang­orang kampung berlarian dalam barisan seperti seekor ular raksasa mendaki bukit. Mereka sampai di sebuah lembah tempat orang­orang Belanda akhirnya berhenti, dan

Ma Gedik meraung­raung memanggil­manggil nama kekasihnya.

Ma Iyang tampak begitu kecil di puncak bukit cadas. Tak akan tercapai oleh mobil atau kuda, dan apalagi keledai. Orang­orang Belanda memandangnya dengan penuh kemarahan, berjanji akan menyeretnya ke kandang ajak jika perempuan itu bisa ditangkap. Ma Gedik mencoba mendaki bukit cadas tersebut, dengan kesulitan yang tak terampuni, yang membuat banyak orang bertanya­tanya bagaimana perempuan itu bisa mendaki sampai puncak. Setelah perjuangan yang nyaris siasia, Ma Gedik telah berdiri di samping kekasihnya, meluap­luap dalam kerinduan.

”Apakah kau masih mengharapkanku?” tanya Ma Iyang. ”Seluruh tubuhku telah dijilati dan dilumuri ludah orang Belanda, dan kemaluanku telah ditusuk kemaluannya sebanyak seribu seratus sembilan puluh dua kali.” ”Aku telah menusuk dua puluh delapan kemaluan perempuan sebanyak empat ratus enam puluh dua kali, dan menusuk tanganku sendiri dalam jumlah tak terhitung, belum termasuk kemaluan binatang, apakah kita berbeda?”

Seolah dewa cabul merasuki mereka, keduanya berlari mendekat dan berpelukan begitu erat, saling mencium di bawah kehangatan matahari tropis. Dan demi melampiaskan hasrat­hasrat prasejarah mereka yang terpendam, mereka menanggalkan seluruh pakaian yang melekat di tubuh, melemparkannya hingga pakaian­pakaian itu melayang menuruni bukit, berputar­putar dipermainkan angin bagai bunga­bunga mahoni. Orang­orang yang dibuat terkejut memandang hal itu nyaris tak percaya, beberapa orang terpekik, dan orang­orang Belanda dibuat merah mukanya. Hingga ketika, tanpa sungkan, keduanya bercinta pada sebuah batu cadas ceper ditonton orang­orang yang memenuhi lembah bagaikan menonton film di bioskop, perempuan­perempuan saleh menutup wajah mereka dengan ujung kerudung dan para lelaki dibuat ngaceng tanpa berani saling memandang, dan orang­orang Belanda berkata satu sama lain:

”Apa kubilang, inlander itu monyet, belum juga manusia.”

Tragedi yang sesungguhnya baru terjadi ketika mereka selesai bercinta, ketika Ma Gedik mengajak kekasihnya menuruni bukit cadas dan pulang ke rumah, hidup saling mencintai dan saling mengawini. Itu tak mungkin, kata Ma Iyang. Sebelum mereka menjejak kaki di lembah, orang­orang Belanda akan melemparkan mereka ke kandang ajak.

”Aku lebih suka terbang.”

”Itu tak mungkin,” kata Ma Gedik, ”kau tak punya sayap.” ”Jika kau yakin bisa terbang, maka kau bisa terbang.”

Untuk membuktikan ucapannya, Ma Iyang yang telanjang dengan tubuh berkeringat memantulkan cahaya matahari seperti butir­butir mutiara melompat terbang menuju lembah. Ia lenyap di balik kabut yang mulai turun. Orang­orang hanya mendengar suara teriakan Ma Gedik yang menyedihkan, berlari menuruni lereng bukit mencari kekasihnya. Semua orang mencari, bahkan orang­orang Belanda, dan ajak­ajak. Semua sudut lembah itu mereka jamah, namun Ma Iyang tak pernah ditemukan, baik hidup maupun mati, hingga semua orang akhirnya percaya bahwa perempuan itu sungguh­sungguh terbang. Orang­orang Belanda juga percaya, termasuk juga Ma Gedik. Kini yang tertinggal hanya bukit cadas itu, orang­orang menamainya sebagaimana nama perempuan yang terbang ke langit tersebut: bukit Ma Iyang.

Sejak hari itu ia pergi ke daerah rawa­rawa tempat orang­orang Belanda tak tahan dengan serangan malaria di bulan­bulan basah dan mendirikan sebuah gubuk di sana. Di siang hari ia menarik cikar berisi kopi, biji cokelat dan kadang kopra dan ketela ke pelabuhan, dan di malam hari ia mengurung diri di guanya yang abadi. Kecuali pembicaraan singkat dengan sesama penarik cikar, ia lebih banyak bicara sendiri jika bukan dengan jin pengiringnya. Orang­orang mulai menganggap kegilaannya kambuh, meskipun ia tak lagi memerkosa sapi dan ayam betina dan tidak pula makan tai.

Dengan segera rawa­rawa itu mulai didatangi orang sejak gubuk pertama berdiri, dan gubuk­gubuk baru bermunculan menjadikannya perkampungan baru. Orang­orang Belanda tak pernah peduli dengan status kepemilikan maupun pajaknya, sejauh serangan malaria di sana masih tetap ganas. Satu­satunya orang Belanda yang pernah datang ke sana hanyalah seorang kontrolir yang bertugas untuk melakukan sensus, dan ia merupakan satu­satunya tamu yang pernah muncul ke rumah Ma Gedik. Pengalaman pertamanya di rumah itu merupakan sesuatu yang ajaib. Ia menemukan seorang lelaki yang beranjak tua, dan kebisingan tanpa bentuk seolah di sana hidup sebuah keluarga dengan anak yang begitu banyak.

”Aku tinggal dengan istri dan sembilan belas anak,” kata Ma Gedik. Ia mencatatnya dengan baik dan melanjutkan pekerjaan ke rumah tetangga. Orang­orang di kampung itu bersumpah demi kematian bahwa lelaki yang tinggal di gubuk jelek itu hanya hidup seorang diri. Tak ada seorang istri dan apalagi sembilan belas anak. Sang Kontrolir yang dibuat penasaran datang kembali ke rumahnya. Sebagaimana semula ia hanya menemukan seorang lelaki dengan kebisingan tanpa bentuk: seorang perempuan meninabobokan anaknya dari kamar yang gelap,

dan beberapa anak lain terdengar suaranya entah dari mana.

”Aku tinggal dengan istri dan sembilan belas anak,” kata Ma Gedik lagi. Sang Kontrolir tak pernah datang lagi sebab seminggu kemudian ia ditemukan mati di kamar penginapannya oleh demam malaria. Peristiwa tersebut telah terjadi bertahun­tahun lampau, dan ia merupakan orang terakhir dan satu­satunya yang mengunjungi rumah Ma Gedik hingga malam ketika anjing kampungnya terbunuh oleh letusan senapan pengemudi mobil Collibri dan seorang jawara menendang pintu rumahnya. Mereka datang secara tiba­tiba untuk membawa kabar yang lebih mengejutkan, bahwa Dewi Ayu ingin kawin dengannya. Ia tak tahu kenapa ia ingin mengawininya, maka prasangka buruknya kemudian muncul. Gadis itu tentunya telah bunting, dan ia dipaksa mengawininya untuk menutupi aib keluarga Belanda tersebut. Maka, masih dengan tubuh menggigil ia bertanya pada si jawara itu:

”Apakah ia tengah bunting?” ”Siapa?”

”Dewi Ayu.”

”Jika ia ingin kawin denganmu,” kata si jawara, ”itu pasti karena ia tak mau bunting.”

Dewi Ayu menerima calon mempelainya dengan suka cita, meskipun Ma Gedik menerimanya lebih seperti malapetaka. Ia menyuruhnya mandi, memberinya pakaian yang bagus, sebab penghulu sebentar lagi datang, katanya. Namun itu tak juga membuat Ma Gedik bergembira, sebaliknya, semakin dekat waktu perkawinan mereka, wajahnya tampak semakin murung.

”Tersenyumlah, Sayang,” kata Dewi Ayu, ”Jika tidak ajak­ajak akan menyantapmu.”

”Katakan padaku, kenapa kau ingin kawin denganku?”

”Sepanjang pagi kau menanyakan hal yang sama,” kata Dewi Ayu dengan sedikit jengkel. ”Kau pikir orang lain punya alasan kenapa mereka saling mengawini?”

”Paling tidak mereka saling mencintai.”

”Sebaliknya, kita tidak saling mencintai,” kata Dewi Ayu. ”Alasan yang bagus, bukan?”

Gadis itu baru berumur enam belas tahun, tampak elok sebagai peranakan campuran. Rambutnya hitam bercahaya, dengan mata kebiruan. Ia mengenakan gaun pengantin dari kain tulle, dengan mahkota kecil yang membuatnya menyerupai peri di buku cerita anak­anak. Kini ia penguasa satu­satunya rumah tangga Stammler, setelah seluruh keluarga mengemasi barang dan berbondong­bondong dengan keluarga lain pergi ke pelabuhan, untuk kabur ke Australia. Tentara Jepang sudah menduduki Singapura, mungkin telah sampai pula ke Batavia, tapi belum ke Halimunda. Meskipun begitu mereka telah dibuat ketakutan dan kabur selama ada kesempatan.

Desas­desus tentang perang sesungguhnya telah datang sejak beberapa bulan sebelumnya, ketika mereka mendengar di radio perang telah meletus di Eropa. Waktu itu Dewi Ayu sudah masuk ke Sekolah Guru Fransiscan, sekolah yang bertahun­tahun kemudian menjadi sekolah menengah dan Rengganis si Cantik cucunya diperkosa seekor anjing di toiletnya. Ia ingin jadi guru, dengan alasan yang sangat sederhana: ia tak ingin jadi perawat. Ia akan berangkat sekolah bersama Tante Hanneke yang mengajar di taman kanak­kanak, dengan mobil Collibri yang sama yang beberapa waktu kemudian menjemput Ma Gedik, dengan sopir yang sama yang menembak anjing si lelaki tua.

Ia memiliki guru­guru terbaik di Halimunda: para biarawati yang mengajarinya musik, sejarah, bahasa, dan psikologi. Pada saat­saat tertentu mereka akan dikunjungi pastor­pastor Jesuit dari seminari yang akan mengajarkan pendidikan agama, sejarah gereja dan teologi. Mereka dibuat kagum oleh kecerdasan alamiahnya, namun dibuat khawatir oleh kecantikannya, hingga beberapa biarawati mulai membujuknya untuk meneruskan karier sebagai biarawati dan mengambil sumpah kemiskinan, keheningan, dan kesucian. ”Itu tak mungkin,” katanya, ”Jika semua perempuan mengambil sumpah semacam itu, umat manusia akan punah seperti dinosaurus.” Cara bicaranya yang mengejutkan adalah hal lain yang lebih mengkhawatirkan. Bagaimanapun, satu­satunya hal yang ia sukai dari agama hanyalah cerita­cerita fantastisnya, dan satu­satunya yang ia suka dari gereja hanyalah dentang lonceng Angelus yang bunyinya merdu terdengar, selebihnya ia tak begitu religius dan bahkan memperlihatkan tanda­tanda akan kehilangan iman.

Saat itulah, saat ia berada di tahun pertama Sekolah Guru Fran­

siscan, perang meletus di Eropa. Radio yang dipasang Suster Maria di depan kelas dengan gempar melaporkan, pasukan Jerman memasuki negeri Belanda dan mereka hanya butuh waktu empat hari untuk mendudukinya. Anak­anak sekolah dibuat terpana, atau terkagum­kagum, bahwa perang ternyata sungguh­sungguh ada dan bukan sekadar omong kosong cerita di buku sejarah. Lebih dari itu, perang tersebut melanda negeri leluhur mereka, dan Belanda ternyata kalah.

”Setelah Prancis, kini Jerman mendudukinya,” kata Dewi Ayu. ”Benar­benar negeri yang malang.”

”Dewi Ayu, apa maksudmu?” tanya Suster Maria.

”Maksudku, kita punya terlalu banyak pedagang daripada tentara.” Ia memperoleh hukuman membaca Mazmur karena komentarnya yang kurang ajar. Bagaimanapun, di antara banyak teman sekolahnya, Dewi Ayu merupakan satu­satunya anak yang menikmati berita perang dan membuat ramalan yang mengerikan: perang akan sampai ke Hindia Belanda, dan bahkan ke Halimunda. Meskipun begitu ia ikut doa bersama yang diadakan para suster untuk keselamatan keluarga­keluarga mereka yang tinggal di Eropa, tak peduli Dewi Ayu merasa tak memiliki

siapa pun di sana.

Kecemasan terhadap perang juga melanda rumah, terutama karena kakek dan neneknya, Ted dan Marietje Stammler, punya banyak keluarga di Belanda. Mereka terus­menerus bertanya soal surat­surat dari Belanda, yang tak juga muncul. Dan terutama, mereka mengkhawatirkan ayah dan ibu Dewi Ayu, Henri dan Aneu Stammler, yang melarikan diri kemungkinan besar ke Eropa. Mereka pergi begitu saja di suatu pagi enam belas tahun lalu, tanpa pamit, hanya meninggalkan Dewi Ayu yang masih orok. Meskipun apa yang mereka lakukan sungguhsungguh membuat keluarga itu berang, kenyataannya mereka tetap mengkhawatirkannya.

”Di mana pun mereka berada, kuharap mereka bahagia,” kata Ted Stammler.

”Dan jika Jerman membunuh mereka, keduanya akan hidup bahagia di sorga,” kata Dewi Ayu. Ia kemudian membalasnya sendiri: ”Amin.” ”Setelah enam belas tahun, kemarahanku telah dibuat reda,” kata Marietje. ”Berharaplah kau bisa bertemu dengan mereka.” Kalimatnya

ditujukan untuk Dewi Ayu. ”Tentu saja, Oma. Mereka berhutang enam belas hadiah Natal dan enam belas kado ulang tahun. Itu belum termasuk enam belas telur Paskah.”

Ia telah mendengar kisah tentang kedua orang itu, Henri dan Aneu Stammler. Beberapa jongos dapur menceritakannya sambil berbisik, sebab jika Ted atau Marietje tahu bahwa mereka membocorkan cerita tersebut pada gadis itu, kemungkinan besar mereka akan dicambuk. Tapi lama­kelamaan Ted dan Marietje tampaknya tahu bahwa Dewi Ayu telah mendengar ceritanya, termasuk bahwa suatu pagi mereka menemukannya tergeletak di dalam keranjang di depan pintu. Ia tidur nyenyak dalam balutan selimut, ditemani secarik kertas bertuliskan namanya, serta tulisan pendek yang menyatakan kedua orang tuanya telah berlayar dengan kapal Aurora menuju Eropa.

Sejak awal ia memang telah dibuat heran kenapa ia tak punya orang tua, dan hanya punya opa dan oma dan tante. Tapi ketika ia mengetahui bahwa ayah dan ibunya kabur di suatu pagi, bukannya marah, sebaliknya ia sedikit mengagumi keduanya.

”Mereka petualang­petualang sejati,” katanya pada Ted Stammler. ”Kau terlalu banyak baca buku cerita, Nak,” kata kakeknya. ”Mereka orang­orang religius,” katanya lagi. ”Di dalam kitab suci

diceritakan seorang ibu membuang anaknya ke Sungai Nil.” ”Itu berbeda.”

”Ya, memang. Aku dibuang di depan pintu.”

Itu benar­benar skandal memalukan, sebab bagaimanapun, baik Henri maupun Aneu keduanya anak Ted Stammler. Keduanya telah hidup serumah sejak mereka masih orok, dan tak seorang pun menyadari kalau keduanya jatuh cinta satu sama lain. Henri dua tahun lebih tua dari Aneu, dilahirkan dari rahim Marietje, sementara Aneu anak Ted dari seorang gundik pribumi bernama Ma Iyang. Meskipun Ma Iyang tinggal di rumah yang berbeda dan dijaga oleh dua orang jawara, Ted telah memutuskan untuk membawa Aneu tinggal bersamanya sejak ia dilahirkan, meskipun untuk itu ia harus bertengkar hebat dengan Marietje. Tapi apa boleh buat, kebanyakan lelaki memelihara gundik dan anak­anak haram jadah mereka. Marietje akhirnya sepakat bocah itu tinggal serumah dengan mereka, memberinya nama keluarga, agar tidak jadi gunjingan orang­orang di rumah bola. Mereka tumbuh bersama­sama, hingga waktunya cukup bagi keduanya untuk jatuh cinta satu sama lain. Henri pemuda yang menyenangkan, pandai berburu babi bersama anjing­anjing Borzoi yang didatangkan langsung dari Rusia, pemain bola yang baik, pandai berenang sebagaimana berdansa. Sementara Aneu telah tumbuh jadi gadis cantik, menghabiskan waktu dengan main piano dan bernyanyi dengan suara sopranonya. Ted dan Marietje melepaskan mereka untuk pergi ke pasar malam dan ke rumah dansa, sebab telah waktunya bagi mereka untuk berhura­hura, dan mungkin menemukan kekasih yang cocok. Itu merupakan awal malapetaka, sebab selepas berdansa sampai tengah malam dan pesta minum limun di restoran, mereka tak pulang ke rumah. Ted dibuat khawatir sebab mereka seharusnya telah pulang, dan bersama dua orang jawara mereka mencarinya ke pasar malam. Mereka hanya menemukan komidi putar yang gelap dan tak bergerak, rumah hantu yang telah dikunci rapat­rapat, rumah dansa yang kosong, kios­kios penjual makanan yang telah tutup, serta beberapa petugas yang tergeletak tidur kelelahan di emperan kios­kios. Tak ada tanda­tanda mereka masih di sana, hingga Ted akhirnya harus menelusuri keberadaan mereka melalui teman­teman sebayanya, dan seseorang berkata:

”Henri dan Aneu pergi ke daerah teluk.”

Tak ada apa­apa di teluk pada malam hari kecuali beberapa penginapan. Ted memeriksa satu per satu penginapan itu dan menemukan keduanya di satu kamar. Telanjang dan tampak terkejut. Ted tak pernah bicara apa pun pada mereka dan keduanya tak pernah pulang ke rumah. Tak ada yang tahu di mana mereka tinggal setelah itu. Mungkin di beberapa penginapan dan hidup dengan kerja serampangan, jika bukan dari uang pinjaman atau sedekah teman­teman mereka. Kemungkinan lain mereka pergi ke hutan di daerah tanjung dan hidup dengan makan buah­buahan dan daging rusa di sana. Seseorang yang lain mengatakan bahwa mereka pergi ke Batavia dan salah satu dari mereka bekerja di perusahaan kereta api. Ted dan Marietje tak pernah tahu keberadaan mereka sampai suatu pagi Ted menemukan seorang bayi dalam keranjang di depan pintu.

”Bayi itu adalah kau, mereka memberimu nama Dewi Ayu,” kata

Ted. ”Dan mereka membuat lebih banyak anak di atas Aurora, semoga di Eropa ada banyak keranjang dan pintu rumah,” kata si gadis.

”Ketika tahu hal itu, nenekmu menjadi histeris seperti orang gila. Ia lari dari rumah dan tak terkejar bahkan oleh kuda dan mobil sampai kami menemukannya di puncak bukit cadas. Ia tak pernah turun, tapi terbang dari sana.”

”Oma Marietje terbang?” tanya Dewi Ayu. ”Bukan, Ma Iyang.”

Gundik itu, neneknya yang lain. Kata kakeknya, jika ia duduk di beranda belakang dan memandang ke utara, ia akan melihat dua bukit cadas kecil. Bukit yang di sebelah barat adalah tempat Ma Iyang terbang dan lenyap di langit, dan orang­orang di kampung­kampung sekitar kemudian menyebut bukit itu seperti namanya: Ma Iyang. Itu mengagumkan, sekaligus menyedihkan. Dewi Ayu sering duduk sendirian di sore hari dan memandang bukit itu, berharap melihatnya masih melayang­layang seperti seekor capung. Hanya perang yang kemudian mengalihkan perhatiannya, dan Dewi Ayu mulai lebih sering duduk di depan radio mendengar laporan­laporan dari garis depan daripada menghabiskan waktu memandangi bukit tersebut.

Meskipun masih jauh, namun akhirnya pengaruh perang mulai terasa sampai Halimunda. Bersama beberapa orang Belanda lainnya, Ted Stammler memiliki perkebunan cokelat dan kelapa, yang terbesar di wilayah tersebut. Perdagangan dunia yang porak­poranda karena perang membuat bisnis mereka seperti tanpa harapan, dan itu berakibat pada penghasilan mereka. Penghematan­penghematan yang ketat mulai diberlakukan di keluarga tersebut. Marietje hanya belanja kebutuhan dapur dari penjual­penjual kelontong yang berkeliling dari rumah ke rumah. Hanneke menghentikan kebiasaannya pergi ke bioskop dan membeli piringan hitam. Bahkan Mr. Willie, lelaki indo yang bekerja untuk mereka di perkebunan sebagai penjaga dan sebagai pengurus kendaraan, harus mengurangi jatah peluru bagi senapannya serta bahan bakar bagi mobil Collibri. Sementara Dewi Ayu harus mengungsi ke asrama sekolah.

Para biarawati Fransiscan mencoba membantu mereka di masa pe­

rang dengan cara itu. Mereka membuka pintu asrama lebar­lebar tanpa biaya apa pun. Itu waktu­waktu ketika semua pelajaran sekolah hanya berisi cerita tentang perang, yang diceritakan dengan penuh khawatir bahwa perang itu akhirnya sungguh­sungguh sampai di kota ini, di halaman depan rumah mereka. Dewi Ayu yang tak sabar dengan pembicaraan tanpa henti itu kemudian berdiri dan berkata dengan lantang:

”Daripada duduk kebanyakan bicara, kenapa kita tidak belajar menembak dengan senapan dan meriam?”

Untuk kata­katanya, dengan sangat terpaksa para biarawati itu kemudian mengirimnya pulang ke rumah. Mereka menghukumnya selama seminggu dan hanya karena perang kakeknya tak memberi hukuman tambahan. Ia kembali ke sekolah meskipun tak tinggal di biara pada hari yang sama ketika bom jatuh di Pearl Harbor, dan Suster Maria yang mengajar sejarah dengan muka berseri­seri berkomentar, ”Saatnya Amerika turun tangan.”

Tiba­tiba mereka mulai menyadari bahwa perang sudah demikian dekat, merayap bagaikan seekor kadal di rerumputan, perlahan­lahan namun pasti mulai menutupi permukaan bumi dengan darah dan mesiu. Ramalan Dewi Ayu tampaknya segera akan terbukti. Memang bukan pasukan Jerman yang tengah mendekat, tapi Jepang. Bagaikan seekor harimau mengencingi daerah kekuasaannya, bendera­bendera matahari merah mulai berkibar di Filipina, dan tiba­tiba sudah berkibar pula di Singapura.

Di rumah, hal itu menjadi masalah yang lebih besar lagi dan nyaris tak bisa dipecahkan. Sebagaimana semua lelaki dewasa, Ted Stammler yang belum termasuk golongan orang tua jompo memperoleh panggilan untuk masuk wajib militer. Ini sungguh­sungguh keadaan yang jauh lebih menyusahkan daripada penghematan­penghematan uang belanja. Hanneke memberinya beberapa jimat sambil menangis dan Dewi Ayu memberinya nasihat bagus, ”Tertawan musuh jauh lebih menguntungkan daripada tertembak mati.”

Ted akhirnya pergi tanpa seorang pun tahu ia akan ditempatkan di mana. Kemungkinan besar di Sumatera untuk menghadang laju tentara Jepang menuju Jawa. Bersama lelaki­lelaki lain, sebagian besar merupakan keluarga orang­orang perkebunan, Ted berangkat meninggalkan Halimunda dan keluarga. ”Sumpah mati, ia bahkan belum pernah menembak babi dengan tepat,” kata Marietje sambil menangis ketika melepasnya di alun­alun kota. Kini perempuan itu menjadi kepala keluarga menggantikan suaminya, tampak menyedihkan sehingga anak dan cucunya mencoba terus menghibur. Mr. Willie datang hampir tiap hari untuk membantu mereka melakukan beberapa pekerjaan lelaki. Ia tak ikut memperoleh panggilan wajib militer karena beberapa hal: ia seorang indo dan tak pernah mencatatkan diri sebagai warga negara Belanda, kakinya sedikit cacat ketika suatu hari diseruduk seekor babi liar. ”Tenanglah, Oma, mata orang­orang Jepang terlalu kecil untuk melihat nama Halimunda di dalam peta,” kata Dewi Ayu. Tentu saja ia sekadar ingin menghibur, namun Marietje sama sekali tak bisa dibuat

tersenyum.

Kemurungan melanda hampir seluruh kota. Pasar malam tak lagi diadakan, dan rumah bola tak lagi dikunjungi orang. Tak ada acara dansa dan kantor perkebunan hanya dijaga beberapa orang perempuan dan lelaki­lelaki tua. Orang­orang hanya bertemu di kolam renang, berendam dan tak berkata satu sama lain. Hanya orang­orang pribumi yang tak terganggu oleh apa pun. Mereka tetap melakukan apa yang mereka lakukan. Para penarik cikar tetap berbondong­bondong menuju pelabuhan, sebab perdagangan terus berjalan dan kapal­kapal pengangkut terus bergerak. Petani­petani masih mengerjakan sawah mereka dan nelayan­nelayan pergi ke laut setiap malam. Kemurungan mereka sangat beralasan, sebab sebelumnya ada beberapa orang Jepang tinggal di Halimunda, beberapa di antara mereka hidup sebagai petani, pedagang dan bahkan tukang foto, beberapa lagi pemain akrobat di sirkus. Pada waktu­waktu itu mereka tiba­tiba menghilang, dan semua orang segera menyadari selama ini mereka tinggal bersama mata­mata musuh.

Tentara­tentara reguler berdatangan ke Halimunda, yang tampak­

nya akan menjadi gerbang pengungsian besar­besaran ke Australia. Bagaimanapun, pelabuhan kapal Halimunda merupakan satu­satunya yang terbesar di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa. Pada awalnya tak lebih sebagai pelabuhan ikan kecil biasa, di muara Sungai Rengganis yang besar, sebab letaknya di luar tradisi pelayaran. Orang berkumpul di pelabuhan tersebut hanya untuk tukar­menukar barang, antara orangorang sepanjang pesisir dengan orang­orang pedalaman. Para nelayan menjual ikan, garam, dan terasi, dan mereka menukarnya dengan rempah­rempah, beras, dan sayuran.

Jauh sebelum itu Halimunda hanyalah sebuah hamparan rawa­rawa dan hutan berkabut luas tanpa pemilik. Seorang putri dari generasi terakhir Pajajaran melarikan diri ke daerah itu, memberinya nama, dan beranak­pinak menjadikannya perkampungan­perkampungan. Sementara itu Kerajaan Mataram memperlakukannya lebih sebagai tempat pembuangan pangeran­pangeran pembangkang. Dan orangorang Belanda sama sekali tak tertarik dengan wilayah itu, terutama karena serangan ganas malaria di daerah berawa­rawa, banjir yang tak terkendali, dan jalan yang masih buruk. Sampai pertengahan abad delapan belas, satu­satunya kapal besar yang pernah singgah di sana hanyalah kapal Inggris bernama Royal George, yang datang bukan untuk berdagang, tapi sekadar ambil air tawar. Bagaimanapun, itu cukup untuk membuat penguasa Kompeni sedikit berang dan mencurigai orang­orang Inggris telah membeli kopi dan nila, bahkan mungkin mutiara. Mereka bahkan curiga Inggris menyelundupkan senjata melalui Halimunda untuk pasukan Diponegoro. Akhirnya ekspedisi pertama orang­orang Belanda datang, sekadar untuk melihat, dan membuat peta.

Orang Belanda pertama yang tinggal di sana adalah seorang letnan

tentara bersama dua sersan dan dua kopral. Mereka ditemani sekitar enam puluhan prajurit bersenjata senapan, dan sebuah garnisun kecil resmi membuka posnya di Halimunda. Itu setelah perang Diponegoro berakhir, dan ketika sistem Tanam Paksa mulai diberlakukan. Sebelum itu, hasil pertanian, terutama kopi dan nila yang melimpah di pedalaman Halimunda sebelum orang­orang Belanda juga menanam cokelat, dibawa melalui jalan darat membelah Pulau Jawa menuju Batavia. Banyak risiko yang harus diambil: barang membusuk dan terutama perompak di sepanjang jalan. Saat itulah pelabuhan laut Halimunda mulai dibuka dan hasil pertanian bisa langsung diangkut kapal ke Eropa untuk dijual. Mereka mulai membangun jalan­jalan yang lebih lebar untuk lalu­lalang pedati dan cikar. Kanal­kanal dibuat untuk menghindari banjir, dan di sekeliling pelabuhan gudang­gudang mulai didirikan. Meskipun tak pernah terlalu berarti dibandingkan pelabuhan mana pun di laut utara, Halimunda tampaknya mulai diperhitungkan pemerintah kolonial, hingga akhirnya pelabuhan itu dibuka untuk perusahaan swasta.

Perusahaan pertama yang beroperasi di kota itu tentu saja Nederlandsch Indisch Stoomvaartmaatschappij, yang mengoperasikan beberapa kapal layar. Beberapa perusahaan pergudangan juga berdiri. Terutama setelah pembukaan jalan kereta api yang melintang ke barat dan ke timur. Namun sejak berdirinya garnisun pertama di Halimunda, dan kenyataan perdagangan yang tak pernah sungguh­sungguh mencapai masa keemasan, pemerintah kolonial mengembangkan kota itu lebih sebagai kantong militer. Mereka melihat alasan yang jauh lebih strategis, bahwa kota itu merupakan satu­satunya pelabuhan besar di pantai selatan, seperti pintu belakang tempat mereka bisa melakukan evakuasi ke Australia tanpa melalui Selat Sunda dan Bali jika perang besar meletus.

Mereka mulai membangun benteng­benteng, dan memasang meriam pantai untuk melindungi pelabuhan dan kota. Menara pengintai didirikan di puncak bukit di hutan daerah tanjung tempat bertahuntahun sebelumnya putri keturunan raja Pajajaran itu tinggal, dan seratus orang pasukan artileri didatangkan untuk mengisi tangsi. Persenjataan mereka diperbaharui dua puluh tahun setelah itu dengan menempatkan dua puluh lima Kanon Amstrong ukuran dua puluh empat sentimeter. Rencana pertahanan itu memuncak dengan dibangunnya perumahan militer, barak­barak, di awal abad kedua puluh. Itu mengawali banyak hal di Halimunda: tempat pelacuran, rumah sakit, upaya pemberantasan malaria, rumah bola, hingga para pengusaha Belanda mulai tumpah di kota itu dan beberapa di antara mereka mendirikan perkebunan cokelat yang masih ada sampai bertahun­tahun kemudian. Ketika perang meletus dan Belanda diduduki tentara Jerman, semua fasilitas militer diperbaiki dan prajurit­prajurit semakin banyak berdatangan ke kota itu. Kemudian radio memberitahu bahwa dua kapal perang Inggris Prince of Wales dan Repulse berhasil ditenggelamkan Jepang dan Malaya jatuh ke tentara musuh. Kemenangan Jepang tak hanya sampai di sana. Tak lama setelah Malaya direbut, Letjen Arthur Percival, Panglima Besar Pertahanan Inggris, menandatangani naskah penyerahan Singapura, benteng pertahanan Inggris yang konon merupakan yang terkuat. Segalanya tampak semakin memburuk, sampai pagi ketika seorang kontrolir datang ke rumah­rumah penduduk Halimunda dan mengatakan hal yang paling mengerikan, ”Surabaya telah dibom Jepang.” Para buruh pribumi meninggalkan pekerjaan mereka dan semua urusan perdagangan beku. ”Kalian harus mengungsi, Nyonya,” katanya pada Marietje Stammler, yang tak berkata apa­apa ditemani Hanneke dan Dewi Ayu.

Dengan cepat kota itu disesaki oleh pengungsi, yang datang dengan kereta atau kendaraan keluarga. Mobil­mobil bergeletakan begitu saja di luar kota, memenuhi parit­parit sementara pemiliknya antri bermalammalam untuk memperoleh kesempatan naik ke atas kapal. Sekitar lima puluh kapal militer datang ke pelabuhan untuk membantu evakuasi. Segalanya tampak kacau dan kekalahan Hindia Belanda sepertinya telah dipastikan. Keluarga Stammler yang hanya tersisa tiga orang segera berkemas setelah memperoleh kepastian kapan mereka bisa berangkat, namun dikejutkan oleh keputusan Dewi Ayu yang tiba­tiba, ”Aku tak akan pergi.”

”Jangan tolol, Nak,” kata Hanneke. ”Jepang tak akan melewatkanmu.”

”Bagaimanapun, seorang Stammler harus tetap di sini,” katanya keras kepala. ”Dan kelak, kalian tahu siapa yang harus dicari.”

Marietje dibuat menangis menghadapi kekeraskepalaannya, dan berkata, ”Mereka akan jadikan kau tawanan.”

”Oma, namaku Dewi Ayu dan semua orang tahu itu nama pribumi.” Setelah Surabaya digempur bom Jepang, mereka meneruskan sasarannya ke Tanjung Priok. Beberapa pejabat tinggi pemerintah kolonial mulai berdatangan dan mereka adalah orang­orang pertama yang kabur. Marietje dan Hanneke Stammler akhirnya naik kapal Zaandam yang tergolong sangat besar tanpa pernah mengetahui nasib Ted di medan perang, meninggalkan Dewi Ayu yang bersikeras menunggui rumah. Kapal itu telah bolak­balik mengangkut penumpang, dan sesungguhnya itu merupakan pelayarannya yang terakhir. Bersama sebuah kapal lainnya, keduanya berpapasan dengan kapal penjelajah Jepang. Zaandam ditenggelamkan tanpa perlawanan dan Dewi Ayu, ditemani Mr. Willie

dan beberapa jongos serta jawara, memulai hari berkabung mereka. Sebuah infanteri Jepang dari divisi keempat puluh delapan, mendarat di Kragan setelah bertempur di Bataan, Filipina. Separuh dari mereka bergerak ke Malang melalui Surabaya, dan separuhnya lagi tiba di Halimunda, menamakan diri mereka sebagai Brigade Sakaguci. Pesawat­pesawat terbang Jepang telah beterbangan di langit dan menjatuhkan bom untuk kilang­kilang minyak milik Mataafsche Petrolium Maatschappij, pabrik minyak kelapa Mexolie Olvado dan perumahan buruh serta kantor perkebunan cokelat dan kelapa. Brigade Sakaguci hanya membutuhkan waktu dua hari pertempuran dengan tentara KNIL yang masih bertahan di luar kota sebelum Jenderal P. Meijer menerima kabar Belanda telah menyerah di Kalijati. Seluruh Hindia Belanda telah runtuh dan diduduki. Jenderal P. Meijer akhirnya menyerahkan kekuasaan Halimunda kepada Jepang, di pendopo balaikota.

Dewi Ayu menyaksikan dan mendengar semua peristiwa tersebut,

namun selama masa berkabung ia tak bicara pada siapa pun. Ia lebih sering duduk di beranda belakang rumah mereka, memandang bukit yang disebut Ted bernama Ma Iyang. Suatu sore ia melihat Mr. Willie muncul di halaman belakang, ditemani seekor anjing Borzoi yang konon peranakan anjing yang dulu dipelihara ayahnya, Henri. Untuk pertama kali sejak masa berkabung, ia akhirnya berkata:

”Yang satu terbang, yang lain tenggelam.” ”Ada apa, Nona?” tanya Mr. Willie.

”Aku hanya mengenang kedua nenekku,” katanya.

”Berbuatlah sesuatu, Nona, pelayan­pelayan tampak kebingungan.

Bukankah kau sekarang pemilik keluarga ini?”

Ia mengangguk. Maka senja itu ia menyuruh Mr. Willie mengumpulkan semua pelayan rumah tersebut: tukang masak, tukang cuci, pembantu di perkebunan, para jawara. Ia berkata pada mereka, bahwa sekarang ia tuan tunggal di rumah tersebut. Semua perintahnya harus dipenuhi, dan tak seorang pun diperbolehkan membangkang. Ia tak akan mencambuk siapa pun, tapi jika Ted Stammler pulang, ia akan mencambuk semua pembangkang, dan memasukkan mereka ke kandang ajak. Perintah pertamanya sama sekali tak memberatkan siapa pun, tapi itu membuat mereka terguncang dan kebingungan.

”Malam ini juga, seseorang harus menculik seorang lelaki tua bernama Ma Gedik di perkampungan daerah rawa­rawa,” katanya. ”Sebab esok pagi aku akan kawin dengannya.”

”Jangan bercanda, Nona,” kata Mr. Willie. ”Maka tertawalah jika kau anggap itu bercanda.”

”Tapi bahkan para pastor sudah menghilang dan gereja roboh oleh bom,” kata Mr. Willie lagi.

”Masih ada penghulu.”

”Nona bukan seorang Muslim, bukan?” ”Juga bukan Katolik, sudah lama.”

Itulah awal dari perkawinan antara Dewi Ayu dengan Ma Gedik. Seorang lelaki tua yang menyedihkan mengawini seorang gadis cantik: berita itu dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok kota, dan orangorang Jepang yang mulai berdatangan bahkan mempergunjingkannya. Sementara orang­orang Belanda yang tak sempat melarikan diri, mengirimkan surat melalui pembantu­pembantu mereka, menanyakan kebenaran berita itu. Beberapa di antaranya mulai mengungkit kembali skandal memalukan ayah dan ibunya.

”Apa yang akan terjadi jika aku tak mau kawin denganmu?” tanya Ma Gedik akhirnya, beberapa saat sebelum penghulu datang.

”Kau akan jadi santapan ajak.” ”Berikan aku pada mereka.”

”Dan bukit Ma Iyang akan diratakan.”

Itu ancaman yang lebih menakutkan, maka tanpa berdaya ia akhirnya kawin dengan Dewi Ayu di pagi itu, sekitar pukul sembilan ketika tentara Jepang memulai upacara pertama mereka menandai pendudukan kota. Tak ada seorang pun diundang untuk merayakan perkawinan mereka, kecuali jongos dan jawara rumahnya. Mr. Willie menjadi saksi perkawinan, dan selama itu Ma Gedik lebih banyak menggigil dan mengucapkan banyak kesalahan saat bersumpah. Ia akhirnya ambruk tak sadarkan diri, tak lama setelah penghulu mengesahkan perkawinan mereka, ketika ia menyadari telah menjadi suami Dewi Ayu tanpa pernah mengetahui apa yang terjadi.

”Lelaki yang malang,” kata Dewi Ayu. ”Seharusnya ia kakekku seandainya Ted tak jadikan Ma Iyang gundiknya.”

Ketika Ma Gedik tersadar menjelang sore, ia tak mau menyentuh Dewi Ayu dan memandangnya dengan tatapan seolah ia melihat iblis betina. Ia menjerit­jerit ketika Dewi Ayu memaksa untuk mendekatinya, dan melemparkan benda apa pun yang teraih tangannya. Jika Dewi Ayu berhenti, ia akan meringkuk di pojok ruangan sambil menggigil, dan menangis seperti bayi dalam buaian. Dewi Ayu dengan sabar menunggunya, duduk tak jauh darinya masih mengenakan baju pengantinnya. Sesekali ia membujuknya, untuk mendekat, menyentuhnya, dan bahkan ia boleh menyetubuhinya sebab ia istrinya. Tapi jika Ma Gedik mulai menjerit­jerit, ia akan berhenti merayu, dan kembali diam sambil melemparkan senyum, dalam usaha tanpa akhir untuk melumpuhkan kegilaan mendadak lelaki tua itu.

”Kenapa kau takut padaku? Aku hanya ingin disentuh olehmu, dan

tentu saja disetubuhi, sebab kau suamiku.” Ma Gedik tak menjawab apa pun.

”Pikirkanlah, kita kawin dan kau tak menyetubuhiku,” katanya lagi. ”Aku tak akan pernah bunting dan orang­orang akan bilang kemaluanmu tak lagi berfungsi.”

”Kau iblis betina perayu,” kata Ma Gedik akhirnya.

”Si Cantik yang menggoda,” Dewi Ayu menambahkan. ”Kau tak lagi perawan.”

”Tentu saja itu tak benar,” kata Dewi Ayu sedikit tersinggung. ”Setubuhilah aku maka kau tahu bahwa kau salah.”

”Kau tak perawan dan kau bunting dan kau akan jadikan aku kambing hitam.”

”Itu juga tak benar.”

Perdebatan mereka berlangsung sampai tengah malam, bahkan dini hari, dan tak seorang pun mengubah pendapat mereka. Hingga ketika hari baru datang dan cahaya masuk ke kamar pengantin mereka, Dewi Ayu yang dibuat lelah dan putus asa menghampirinya tak peduli lelaki tua itu menjerit­jerit menggemparkan. Ia menanggalkan seluruh pakaiannya, pakaian pengantin dan mahkota, melemparkannya ke atas tempat tidur. Dengan telanjang bulat, ia berdiri di depan si lelaki tua yang tetap histeris dan berkata keras di telinga lelaki itu:

”Lakukanlah, dan kau akan tahu aku perawan.”

”Demi iblis, aku tak akan melakukannya sebab aku tahu kau tak perawan.” Lalu Dewi Ayu memasukkan ujung jari tengah tangan kanan ke dalam lubang kemaluannya, jauh masuk ke dalam, tepat di depan hidung Ma Gedik. Gadis itu meringis sedikit kesakitan, setiap kali jarinya bergerak di selangkangan, hingga ia mengeluarkan dan memperlihatkannya pada Ma Gedik. Setetes darah mengucur di ujung jari, dioleskannya memanjang dari ujung dahi sampai ujung dagu Ma Gedik, membuat lelaki itu bergetar karena kengerian yang tanpa ampun.

”Kau benar,” kata Dewi Ayu. ”Sekarang aku tak lagi perawan.”

Ia pergi meninggalkan lelaki itu untuk mandi dan selepas itu tidur di ranjang pengantinnya, seolah tak peduli pada seorang lelaki tua yang tetap menggigil ketakutan di pojok ruangan. Tak tidur selama sehari semalam, sungguh­sungguh membuat tidurnya sangat lelap, meskipun beberapa jongos mencoba membangunkannya untuk makan siang. Ia terbangun di sore hari dan langsung pergi ke ruang makan, masih tak menghiraukan Ma Gedik. Makannya sangat lahap, dan tanpa diselingi bicara apa pun, meskipun beberapa jongos menunggu perintahnya. Ketika ia kembali ke kamar, baru ia menyadari lelaki itu tak ada di tempatnya semula. Ia mencoba mencarinya ke kamar mandi, ke halaman dan ke dapur, tapi ia tak juga menemukan. Dewi Ayu akhirnya bertanya pada salah satu dari jawara yang berjaga di depan rumah.

”Ia kabur sambil menjerit­jerit bagai lihat setan, Nyonya.” ”Tidak kalian tangkap?”

”Larinya begitu kencang, seperti Ma Iyang enam belas tahun lalu,” jawab sang jawara. ”Tapi Mr. Willie mengejarnya dengan mobil.”

”Tertangkap?” ”Tidak.”

Ia berlari ke istal, dan bersama dua jawara lain, mereka ikut mengejar dengan kuda. Dewi Ayu menebak, meskipun sedikit meleset, bahwa lelaki itu lari menuju tempat Ma Iyang terjun dari puncak bukit cadas dan hilang di dalam kabut. Ma Gedik ternyata tak lari ke bukit tersebut, namun ke bukit lain yang terletak di sebelah timurnya. Mereka menemukan jejak mobil Collibri setelah bertanya pada beberapa orang di pinggir jalan, dan menuntun mereka ke kaki bukit tersebut. Dewi Ayu menghampiri Mr. Willie yang duduk di belakang kemudi mobil, ia tampaknya tak bisa membawa kendaraan tersebut lebih naik. ”Ia tengah bernyanyi di puncak bukit itu,” kata Mr. Willie.

Dewi Ayu mendongak dan melihatnya, pada sebuah batu, seperti seorang artis di atas panggung. Lagunya terdengar sayup­sayup dan ia sama sekali tak mengetahui bahwa itulah lagu yang dinyanyikan Ma Gedik bertahun­tahun lalu di hari terakhir penantiannya selama enam belas tahun menunggu Ma Iyang.

”Ia pasti melompat seperti kekasihnya,” kata Mr. Willie lagi. ”Dan hilang lenyap di balik kabut, terbang ke langit.”

”Tidak,” kata Dewi Ayu. ”Ia akan terhempas ke bebatuan dan wajahnya babak­belur seperti daging cincang.”

Itulah yang terjadi: Ma Gedik melompat ke udara terbuka menuju lembah begitu lagu selesai dinyanyikan. Ia tampak melayang, begitu bahagia, hal yang tak pernah terlihat oleh siapa pun di tahun­tahun terakhir hidupnya. Tangannya mencoba bergerak, mengepak seperti sayap­sayap burung, namun itu tak juga membuat tubuhnya terbang meninggi, sebaliknya ia terus meluncur dengan kecepatan yang semakin bertambah. Bahkan meskipun ia tahu akhir dari lompatannya, ia masih tersenyum dan berteriak penuh kegirangan. Ia terhempas di bebatuan, dengan tubuh tercincang­cincang tak karuan, persis sebagaimana diramalkan Dewi Ayu.

Mereka membawa pulang sisa­sisa tubuhnya, yang lebih menyerupai adonan kaldu daripada sebongkah mayat, dan menguburkannya dengan baik­baik. Dewi Ayu memberi nama bukit itu Ma Gedik, bersanding dengan bukit Ma Iyang, dan memutuskan untuk berkabung selama seminggu. Di akhir masa berkabung ia memperoleh kabar bahwa Ted Stammler, gugur di dalam perang terakhir mempertahankan Batavia sebelum Belanda menyerah. Mayatnya tak pernah datang, tapi Dewi Ayu memutuskan untuk berkabung kembali selama satu minggu ke depan. Di akhir masa berkabungnya yang kedua, terpesona karena tak memperoleh kabar duka lainnya, ia melemparkan semua pakaian berkabungnya dan menggantinya dengan pakaian meriah. Ia merias dirinya dengan baik­baik, dan pergi ke pasar seolah tak sesuatu pun terjadi. Namun sepulang dari pasar, ia memperoleh hal yang jauh lebih mengejutkan dari kabar kematian mana pun.

Mr. Willie, dengan jas dan dasi dan sepatu kulit mengilap, datang menghampirinya dan berkata bahwa ada urusan yang sangat penting. Dewi Ayu berpikir bahwa lelaki itu akan mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan berangkat ke Batavia untuk cari kerja. Atau mungkin bergabung dengan tentara Jepang. Semua anggapannya sama sekali tak benar. Roman muka Mr. Willie yang kemerahan karena sikap malumalu tak menunjukkan apa­apa tentang semua itu, sampai Mr. Willie sendiri akhirnya berkata, pendek dan menyesakkan: 

”Nyonya,” katanya. ”Menikahlah denganku.”
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊