menu

Cantik Itu Luka Bab 01

Mode Malam
1
Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian. Seorang bocah gembala dibuat terbangun dari tidur siang di bawah pohon kamboja, kencing di celana pendeknya sebelum melolong, dan keempat dombanya lari di antara batu dan kayu nisan tanpa arah bagaikan seekor macan dilemparkan ke tengah mereka. Semuanya berawal dari kegaduhan di kuburan tua, dengan nisan tanpa nama dan rumput setinggi lutut, tapi semua orang mengenalnya sebagai kuburan Dewi Ayu. Ia mati pada umur lima puluh dua tahun, hidup lagi setelah dua puluh satu tahun mati, dan kini hingga seterusnya tak ada orang yang tahu

bagaimana menghitung umurnya.

Orang­orang dari kampung sekitar pemakaman datang ke kuburan tersebut begitu si bocah gembala memberitahu. Mereka bergerombol di balik belukar ceri dan jarak dan di kebun pisang, sambil menggulung ujung sarung, menggendong anak, menenteng sapu lidi, dan bahkan berlepotan lumpur sawah. Tak seorang pun berani mendekat, hanya mendengarkan kegaduhan dari kuburan tua itu bagaikan mengelilingi tukang obat sebagaimana sering mereka lakukan di depan pasar setiap hari Senin. Menikmatinya penuh ketakjuban, tak peduli itu merupakan horor yang menakutkan seandainya mereka sendirian saja. Bahkan mereka berharap sedikit keajaiban daripada sekadar kegaduhan kuburan tua, sebab perempuan di dalam tanah itu pernah jadi pelacur bagi orang­orang Jepang sejak masa perang dan para kyai selalu bilang bahwa orang­orang berlepotan dosa pasti memperoleh siksa kubur. Kegaduhan itu pasti berasal dari cambuk malaikat penyiksa, dan mereka tampak bosan, dan berharap sedikit keajaiban yang lain.

***

Keajaiban, ia datang dalam bentuknya yang paling fantastis. Kuburan tua itu bergoyang, retak, dan tanahnya berhamburan bagaikan ditiup dari bawah, menimbulkan badai dan gempa kecil, dengan rumput dan nisan melayang dan di balik hujan tanah yang bagaikan tirai itu sosok si perempuan tua berdiri dengan sikap jengkel yang kikuk, masih terbungkus kain kafan seolah ia dan kain kafannya dikubur semalam saja. Orang­orang histeris dalam teriakan serempak yang menggema oleh dinding­dinding bukit di kejauhan, berlari lebih semrawut dari kawanan domba. Seorang perempuan meleparkan bayinya ke semaksemak, dan seorang ayah menggendong batang pisang. Dua orang lelaki terperosok ke dalam parit, yang lainnya tak sadarkan diri di pinggir jalan, dan yang lainnya lagi berlari lima belas kilometer tanpa henti.

Menyaksikan itu semua, Dewi Ayu hanya terbatuk­batuk dan terpukau menemukan dirinya di tengah­tengah kuburan. Ia telah melepaskan dua ikatan teratas kain kafan dan melepaskan dua ikatan lagi di bagian kaki untuk membebaskannya berjalan. Rambutnya telah tumbuh secara ajaib, sehingga ketika ia mengeluarkannya dari selimut kain mori itu, mereka berkibaran diterpa angin sore, menyapu tanah, seperti lumut berwarna hitam mengilau di dalam sungai. Wajahnya putih cemerlang, meskipun kulitnya keriput, dengan mata yang begitu hidup dari dalam rongganya, menatap orang­orang yang bergerombol di balik belukar sebelum separuh dari mereka melarikan diri dan separuh yang lain tak sadarkan diri. Ia mengomel entah pada siapa, bahwa orang­orang telah berbuat jahat menguburnya hidup­hidup.

Hal pertama yang ia ingat adalah bayinya, yang tentu saja bukan lagi seorang bayi. Dua puluh satu tahun lalu, ia mati dua belas hari setelah melahirkan seorang bayi perempuan buruk rupa, begitu buruk rupanya sehingga dukun bayi yang membantunya merasa tak yakin itu seorang bayi dan berpikir itu seonggok tai, sebab lubang keluar bayi dan tai hanya terpisah dua sentimeter saja. Tapi si bayi menggeliat, tersenyum, dan akhirnya si dukun bayi percaya ia memang bayi, bukan tai, dan berkata pada si ibu yang tergeletak di atas tempat tidur tak berdaya dan tak berharap melihat bayinya, bahwa bayi itu sudah lahir, sehat, dan tampak ramah.

”Ia perempuan, kan?” tanya Dewi Ayu.

”Yah,” kata si dukun bayi, ”seperti tiga bayi sebelumnya.”

”Empat anak perempuan, semuanya cantik, seharusnya aku punya tempat pelacuran sendiri,” kata Dewi Ayu dengan nada jengkel yang sempurna. ”Katakan padaku, secantik apa si bungsu ini?”

Si bayi terbungkus rapat oleh belitan kain dalam gendongan si dukun bayi, kini mulai menangis dan meronta. Seorang perempuan keluar masuk kamar, mengambil kain­kain kotor penuh darah, membuang ari­ari, selama itu si dukun bayi tak menjawab pertanyaannya, sebab ia tak mungkin mengatakan bayi yang menyerupai onggokan tai hitam itu sebagai bayi yang cantik. Mencoba mengabaikan pertanyaan itu, ia berkata, ”Kau perempuan tua, aku tak yakin kau bisa menyusui bayimu.”

”Itu benar. Sudah habis oleh tiga anak sebelumnya.” ”Dan ratusan lelaki.”

”Seratus tujuh puluh dua lelaki. Yang paling tua berumur sembilan puluh dua tahun, yang paling muda berumur dua belas tahun, seminggu setelah disunat. Aku mengingat semuanya dengan baik.”

Si bayi kembali menangis. Si dukun bayi berkata bahwa ia harus menemukan ibu susu untuk si kecil itu. Jika tak ada, ia harus mencari susu sapi, susu anjing, atau susu tikus sekalipun. Ya, pergilah, kata Dewi Ayu. Gadis kecil yang malang, kata si dukun bayi sambil memandang wajah si bayi yang menyedihkan. Ia bahkan tak mampu mendeskripsikannya, hanya membayangkannya sebagai monster kutukan neraka. Seluruh tubuh bayi itu hitam legam seperti terbakar hidup­hidup, dengan bentuk yang tak menyerupai apa pun. Ia, misalnya, tak begitu yakin bahwa hidung bayi itu adalah hidung, sebab itu lebih menyerupai colokan listrik daripada hidung yang dikenalnya sejak kecil. Dan mulutnya mengingatkan orang pada lubang celengan babi, dan telinganya menyerupai gagang panci. Ia yakin tak ada makhluk di dunia yang lebih buruk rupa dari si kecil malang itu, dan seandainya ia Tuhan, tampaknya ia lebih berharap membunuh bayi itu daripada membiarkannya hidup; dunia akan menjahatinya tanpa ampun.

”Bayi yang malang,” kata si dukun bayi lagi, sebelum pergi mencari

seseorang untuk menyusuinya.

”Yah, bayi yang malang,” kata Dewi Ayu sambil menggeliat di atas tempat tidur. ”Segala hal telah kulakukan untuk mencoba membunuh­

nya. Seharusnya kutelan sebutir granat dan meledakkannya di dalam perut. Si kecil yang malang, seperti para penjahat, orang­orang malang juga susah mati.”

Pada awalnya si dukun bayi mencoba menyembunyikan wajah bayi itu dari siapa pun, termasuk perempuan­perempuan tetangga yang berdatangan. Tapi ketika ia berkata bahwa ia memerlukan susu bagi si bayi, orang­orang itu berebutan ingin melihat si bayi. Bagi siapa pun yang mengenal Dewi Ayu, adalah selalu menyenangkan melihat bayi­bayi perempuan mungil yang dilahirkannya. Si dukun bayi tampak tak berdaya menghadapi serbuan orang­orang yang menyibakkan kain penutup wajah si bayi, namun ketika mereka telah melihatnya dan menjerit dalam horor yang tak pernah mereka hadapi sebelumnya, si dukun bayi tersenyum dan mengingatkan mereka, bahwa ia telah berusaha untuk tidak memperlihatkan wajah neraka itu.

Mereka masih berdiri setelah pekikan sesaat itu, dengan wajahwajah idiot kehilangan ingatan, sebelum si dukun bayi segera pergi.

”Semestinya ia dibunuh saja,” kata seorang perempuan, yang pertama terbebas dari amnesia mendadak itu.

”Aku sudah mencobanya,” kata Dewi Ayu bersamaan dengan kemunculannya. Ia hanya mengenakan daster kusut dan kain yang melilit pinggangnya. Rambutnya tampak kacau sekali, serupa orang yang bebas dari pertarungan dengan banteng.

Orang­orang memandangnya dengan iba. ”Ia cantik, kan?” tanya Dewi Ayu.

”Ehm, yah.”

”Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi­bayi perempuan cantik di dunia laki­laki yang mesum seperti anjing di musim kawin.”

Tak seorang pun menanggapi, kecuali memandangnya masih dengan iba atas dusta tentang gadis kecil yang cantik itu. Rosinah, si gadis gunung bisu yang telah melayani Dewi Ayu selama bertahun­tahun menggiring perempuan itu ke kamar mandi. Ia telah menyediakan air hangat di bak, dan di sanalah Dewi Ayu berendam bersama sabun wangi bersulfur, dibantu si gadis bisu yang mengeramasi rambutnya dengan minyak lidah buaya. Hanya gadis bisu itulah yang tampaknya tak terguncang

oleh apa pun, meskipun bisa dipastikan ia telah mengetahui tentang gadis kecil buruk rupa tersebut sebab hanya Rosinah yang menemani si dukun bayi selama ia bekerja. Ia menggosok punggung majikannya dengan batu gosok, menyelimutinya dengan handuk, membereskan kamar mandi sementara Dewi Ayu melangkah keluar.

Seseorang mencoba menghidupkan kemurungan itu dan berkata pada Dewi Ayu, ”Kau harus memberinya nama yang baik.”

”Yah,” kata Dewi Ayu. ”Namanya Cantik.”

”Oh,” orang­orang itu menjerit pendek, mencoba menolak dengan cara yang memalukan.

”Atau Luka?”

”Demi Tuhan, jangan nama itu.” ”Kalau begitu, namanya Cantik.”

Mereka memandang tak berdaya sebab Dewi Ayu telah melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk berpakaian, kecuali memandang satu sama lain dengan sedih membayangkan seorang gadis dengan colokan listrik di wajah yang sehitam jelaga kelak dipanggil orang dengan nama Cantik. Sebuah skandal memalukan.

Bagaimanapun, adalah benar bahwa Dewi Ayu telah mencoba membunuhnya. Ketika tahu bahwa ia bunting, tak peduli setengah abad ia telah hidup, pengalaman telah mengajarinya bahwa ia bunting lagi. Sebagaimana anak­anaknya yang lain, ia tak tahu siapa ayahnya, namun berbeda dengan yang lain, ia sama sekali tak mengharapkannya hidup. Maka ia menelan lima butir parasetamol yang ia peroleh dari seorang mantri, diminum dengan setengah liter soda, cukup untuk nyaris membuatnya mati tapi tidak bayi itu, ternyata. Ia memikirkan cara lain, memanggil si dukun bayi yang kelak mengeluarkan anak itu dari rahimnya, memintanya membunuh bayi itu dengan memasukkan tongkat kayu kecil ke dalam perut. Ia mengalami pendarahan selama dua hari dua malam, kayu kecilnya keluar telah terkeping­keping, tapi si bayi terus tumbuh. Ia melakukan enam cara lain untuk menaklukkan bayi itu, semuanya sia­sia, sebelum ia putus asa dan mengeluh:

”Ia petarung sejati, ia ingin memenangkan pertarungan yang tak

pernah dimenangkan ibunya.”

Maka ia membiarkan perutnya semakin besar, menjalankan ritual

selamatan pada umur tujuh bulan, membiarkannya lahir, meskipun ia menolak untuk melihat bayinya. Ia telah melahirkan tiga anak perempuan lain sebelumnya, semuanya cantik seperti bayi­bayi kembar yang terlambat dilahirkan satu sama lain; ia telah bosan dengan bayi­bayi semacam itu, yang menurutnya seperti boneka­boneka manekin di etalase toko, jadi ia tak ingin melihat si bungsu itu, sebab ia yakin ia tak akan berbeda dari ketiga kakaknya. Ia salah, tentu saja, dan ia belum tahu betapa buruk rupanya si bungsu. Bahkan ketika perempuanperempuan tetangga diam­diam berbisik mengatakan bayi tersebut seperti hasil persilangan ngawur antara lutung, kodok, dan biawak, ia tak menganggap mereka tengah membicarakan bayinya. Juga ketika mereka bercerita bahwa tadi malam ajak­ajak melolong di hutan dan burung­burung hantu berdatangan, ia sama sekali tak menganggapnya sebagai firasat buruk.

Setelah berpakaian, ia kembali berbaring dan segera menyadari

betapa melelahkannya semua itu: melahirkan empat bayi dan hidup lebih dari setengah abad. Dan kemudian ia sampai pada kesadaran spiritual yang menyedihkan, bahwa jika bayinya tak mau mati, kenapa bukan ibunya yang harus mati, dengan begitu ia tak perlu melihatnya tumbuh menjadi seorang gadis. Ia bangkit dan berjalan sempoyongan, berdiri di pintu menatap perempuan­perempuan tetangga yang masih bergerombol mendesas­desuskan bayinya. Rosinah muncul dari kamar mandi, berdiri di samping Dewi Ayu sebab ia tahu bahwa majikannya akan mengatakan sesuatu yang harus ia lakukan.

”Belikan aku kain kafan,” kata Dewi Ayu. ”Telah kuberikan empat anak perempuan bagi dunia yang terkutuk ini. Saatnya telah tiba keranda kematianku lewat.”

Perempuan­perempuan itu menjerit dan memandang Dewi Ayu dengan wajah idiot mereka. Melahirkan seorang bayi buruk rupa adalah kebiadaban, dan meninggalkannya begitu saja jauh lebih biadab. Tapi mereka tak mengatakannya, hanya membujuk untuk tak berharap mati secara konyol. Mereka bercerita tentang orang­orang yang hidup lebih dari seratus tahun, dan Dewi Ayu masihlah terlampau muda untuk mati. ”Jika aku hidup sampai seratus tahun,” katanya dengan ketenangan intensional, ”maka aku akan melahirkan delapan bayi. Itu terlampau

banyak.”

Rosinah pergi dan membelikannya selembar kain mori putih bersih yang segera dikenakannya, meskipun itu tak cukup untuk segera membuatnya mati. Maka sementara si dukun bayi berkeliling kampung mencari perempuan bersusu (yang segera diketahui bahwa itu sia­sia dan berakhir dengan memberi si bayi air cucian beras), Dewi Ayu berbaring tenang di atas tempat tidurnya berselimut kain kafan, menanti dengan kesabaran ganjil malaikat pencabut nyawa datang menjemputnya.

Ketika masa air cucian beras sudah lewat dan Rosinah memberi bayi itu susu sapi yang dijual di toko dengan nama susu Beruang, Dewi Ayu masih berbaring di atas tempat tidurnya, tak mengizinkan siapa pun membawa si bayi bernama Cantik itu ke kamarnya. Namun cerita tentang bayi buruk rupa dan ibunya yang tidur berselimut kain kafan dengan segera menyebar bagai wabah mematikan, menyeret orang­orang tak hanya dari kampung­kampung sekitar namun juga dari desa­desa yang terjauh di distrik itu, untuk datang melihat apa yang mereka sebut menyerupai kelahiran seorang nabi, di mana mereka memperbandingkan lolongan ajak sebagai bintang yang dilihat orang Majusi ketika Yesus lahir dan si ibu yang berselimut kain kafan sebagai Maria yang letih. Perumpamaan yang mengada­ada.

Dengan sikap takut­takut seperti seorang gadis kecil yang membelai anak macan di kebun binatang, mereka berdiri di depan tukang foto keliling bersama si bayi buruk rupa, itu setelah mereka melakukannya bersama Dewi Ayu yang tetap berbaring dengan ketenangan yang misterius dan sama sekali tak terganggu oleh kegaduhan tanpa ampun itu. Beberapa orang dengan penyakit­penyakit parah tak tersembuhkan datang berharap menyentuh bayi itu, yang segera ditolak Rosinah yang khawatir semua benih penyakit mereka akan menyiksa si bayi, dan sebagai gantinya ia menyediakan berember­ember air sumur yang telah dipergunakan untuk mandi Si Cantik; beberapa yang lain datang untuk memperoleh petunjuk­petunjuk berguna memperoleh keuntungan bisnis, atau sedikit keberhasilan di meja judi. Untuk itu semua, si bisu Rosinah yang mengambil tindakan cepat sebagai pengasuh si bayi, telah menyediakan kotak­kotak sumbangan yang segera dipenuhi oleh uanguang kertas para pengunjung. Gadis itu telah bertindak bijaksana mengantisipasi kemungkinan bahwa Dewi Ayu akhirnya sungguh­sungguh

mati, untuk memperoleh uang dari kesempatan langka semacam itu, sehingga ia tak perlu mengkhawatirkan susu Beruang dan masa depan mereka berdua di rumah itu, sejauh ketiga kakak Si Cantik sama sekali tak diharapkan akan muncul di sana.

Namun dengan cepat kegaduhan itu harus segera berakhir, secepat polisi­polisi datang bersama seorang kyai yang melihat semua itu sebagai bidah. Ia, kyai itu, bahkan mulai menggerutu dan menyuruh Dewi Ayu menghentikan tindakan memalukannya itu, serta memaksa ia untuk menanggalkan kain kafan tersebut.

”Karena kau meminta seorang pelacur membuka pakaiannya,” kata Dewi Ayu dengan tatapan mengejek, ”kau harus punya uang untuk membayarku.”

Si kyai segera berlalu, berdoa meminta ampun dan tak pernah datang lagi.

Sekali lagi, hanya si gadis Rosinah yang tak terguncang oleh kegilaan Dewi Ayu dalam bentuk apa pun dan tampaknya semakin jelas bahwa hanya gadis itulah yang bisa memahami dengan baik perempuan itu. Jauh sebelum ia mencoba membunuh bayi di dalam kandungannya, Dewi Ayu telah berkata bahwa ia merasa bosan punya anak, dan Rosinah tahu jika ia mengatakan itu, berarti Dewi Ayu bunting dan segera punya anak. Dan memang begitulah. Seandainya Dewi Ayu mengatakan hal itu pada perempuan­perempuan tetangga, yang kegemaran berdesasdesusnya mengalahkan kebiasaan anjing­anjing melolong, mereka akan mencibir dalam senyum penuh ejekan dan berkata itu semua omong kosong. Berhentilah jadi pelacur maka kau tak akan pernah bunting, kata mereka. Ini hanya di antara kita: katakan hal itu pada pelacur lain tapi tidak pada Dewi Ayu. Ia tak pernah menganggap ketiga (kini empat) anaknya sebagai kutukan pelacuran. Jika mereka tak berayah, katanya, itu karena mereka sungguh­sungguh tak berayah, bukan karena ayahnya tak dikenal dan apalagi bukan karena ia tak pernah pergi ke depan penghulu bersama seorang laki­laki. Ia bahkan lebih percaya mereka sebagai anak­anak setan.

”Sebab setan tak kurang iseng daripada dewa dan Tuhan,” katanya.

”Seperti Maria melahirkan anak Tuhan dan kedua istri Pandu melahirkan anak­anak dewa, rahimku jadi tempat setan membuang anak­anak mereka dan aku melahirkan anak­anak setan. Aku bosan, Rosinah.”

Sebagaimana sering terjadi, Rosinah hanya tersenyum. Ia tak bisa bicara kecuali suara menggerundel tanpa arti, tapi ia bisa tersenyum dan ia suka memberi senyum. Dewi Ayu sangat menyukainya, terutama karena senyum itu, sehingga suatu ketika ia pernah menyebutnya sebagai si anak gajah, sebab semarah­marahnya gajah, mereka selalu tersenyum sebagaimana kau bisa lihat mereka di sirkus yang datang ke kota itu hampir di setiap akhir tahun. Dengan bahasa isyaratnya yang tak bisa dipelajari di sekolah orang­orang bisu kecuali mempelajarinya langsung dari Rosinah, si gadis memberitahu Dewi Ayu, mengapa harus merasa bosan. Ia belum juga punya dua puluh anak, sedangkan Gandari melahirkan seratus anak Kurawa. Itu cukup membuat Dewi Ayu tertawa terbahak­bahak, ia menyukai selera humor Rosinah yang kekanakkanakan dan tetap tertawa meskipun ia bisa membantah bahwa Gandari tak melahirkan seratus anak sebanyak seratus kali, ia hanya melahirkan segumpal daging yang kemudian jadi seratus anak.

Demikianlah, tanpa merasa terganggu sedikit pun, Rosinah terus

bekerja. Ia mengurus bayi itu, pergi ke dapur dua kali sehari, mencuci setiap pagi, sementara Dewi Ayu berbaring nyaris tak bergerak, sungguh­sungguh menyerupai mayat yang menunggu orang­orang selesai menggali kuburnya. Tentu saja tak selalu begitu. Jika ia lapar, ia bangun dan makan. Setiap pagi dan sore ia juga pergi ke kamar mandi. Tapi ia akan kembali menyelimuti dirinya dengan kain kafan, berbaring dengan sikap tegak lurus dan kedua tangan diletakkan di atas perutnya, matanya terpejam, dan bibirnya bahkan sedikit tersenyum. Ada beberapa tetangga yang mencoba mengintipnya dari jendela terbuka, Rosinah berulangkali mencoba mengusir mereka namun selalu tak berhasil, dan orang­orang itu akan bertanya, mengapa ia tak memilih untuk bunuh diri saja. Di luar kebiasaannya yang selalu menjawab dengan kalimatkalimat sarkasme, Dewi Ayu tetap tak bergerak.

Kematian yang ditunggu­tunggu itu akhirnya datang pada hari kedua

belas kelahiran Si Cantik yang buruk rupa, setidaknya begitulah semua orang merasa yakin. Tanda­tanda kematiannya telah muncul sejak pagi (ia mati sore hari), ketika ia berkata pada Rosinah bahwa jika ia mati, jangan tulis namanya di kayu nisan, tapi ia menginginkan sebuah epitaf, dengan kalimatnya sendiri, ”Aku melahirkan empat anak, dan

aku mati.” Pendengaran Rosinah sangatlah baik, dan ia bisa menulis maupun membaca, maka ia menuliskan pesan itu dengan lengkap, namun permintaannya segera ditolak oleh imam masjid yang menjadi pemimpin upacara pemakaman yang menganggapnya sebagai upaya gila menambah dosa, dan memutuskan bahwa perempuan itu tak akan memperoleh tulisan apa pun di kayu nisannya.

Ia ditemukan sore itu oleh seorang tetangga yang mengintip dari jendela, dalam tidur yang begitu sentosa sebagaimana mereka lihat di hari­hari terakhir. Tetapi ada yang berbeda: ada bau boraks di udara kamarnya. Rosinah telah membelinya di toko roti dan Dewi Ayu melumuri dirinya dengan pengawet mayat tersebut meskipun orangorang kadang mempergunakannya untuk campuran bikin mie bakso. Rosinah telah membiarkan perempuan itu melakukan apa pun dengan obsesi kematiannya, bahkan seandainya ia disuruh menggali kubur dan menguburnya hidup­hidup, ia akan melakukannya dan melewatkan itu semua sebagai kemeriahan selera humor majikannya, tapi tidak dengan si pengintip yang jahil itu. Si perempuan tetangga melompat masuk dengan keyakinan Dewi Ayu telah berbuat kelewatan.

”Dengarlah, pelacur yang telah tidur dengan semua lelaki kami,” katanya dengan sedikit dendam. ”Kalau kau mau mati, maka matilah, tapi jangan awetkan tubuhmu, sebab hanya mayat busuk yang tidak kami cemburui.” Ia mendorong tubuh Dewi Ayu, namun ia hanya berguling tanpa terbangun.

Rosinah masuk dan memberi isyarat bahwa ia pasti sudah mati. ”Pelacur ini mati?”

Rosinah mengangguk.

”Mati?” Ia menampakkan sifatnya yang sejati, perempuan cengeng itu, menangis seolah yang mati adalah ibunya, dan berkata dengan sedikit sedu sedan, ”Delapan Januari tahun lalu adalah hari terindah dalam keluarga kami. Itu hari ketika lakiku menemukan uang di kolong jembatan dan pergi ke rumah pelacuran Mama Kalong dan tidur dengan pelacur yang mati di depanku ini. Ia pulang dan itu adalah satu­satunya hari di mana ia begitu ramah dan tak memukuli salah satu di antara kami.”

Rosinah memandangnya dengan tatapan mengejek, seolah hendak

berkata, betapa cengengnya kau, membuat semua orang berharap memukulmu. Ia mengusir si cengeng itu untuk memberitahu orang­orang bahwa Dewi Ayu telah mati. Tak perlu kain kafan sebab ia telah membelinya dua belas hari yang lalu; tak perlu memandikannya, sebab ia telah mandi sendiri; ia bahkan telah mengawetkan tubuhnya sendiri. ”Jika bisa,” kata Rosinah dengan isyarat pada seorang imam masjid terdekat, ”ia berencana menyembahyangkan dirinya sendiri.” Sang imam masjid memandang gadis bisu itu dengan kebencian, dan berkata bahwa ia tak sudi salat bagi sebongkah mayat pelacur dan apalagi menguburkannya. ”Sejak ia mati,” kata Rosinah (masih dengan isyarat), ”ia bukan lagi seorang pelacur.”

Kyai Jahro, imam masjid itu, akhirnya menyerah dan memimpin upacara pemakaman Dewi Ayu.

Sampai kematiannya yang tak diyakini banyak orang akan datang secepat itu, ia sungguh­sungguh tak pernah melihat si bayi. Orang­orang berkata bahwa ia sangat beruntung, sebab ibu mana pun akan sedih tak terkira melihat bayinya lahir demikian buruk rupa. Kematiannya tak akan tenang, dan akan menjadi pengacau kecil di alam kubur. Hanya Rosinah yang tak yakin bahwa Dewi Ayu akan bersedih melihat bayi itu, sebab ia tahu yang dibenci perempuan itu adalah bayi perempuan yang cantik. Ia akan sangat berbahagia seandainya tahu betapa buruk rupa si bungsu itu, betapa berbeda dengan ketiga kakaknya; tapi ia tak tahu. Hanya karena si gadis bisu nyaris selalu patuh pada majikannya, maka selama sisa hari­hari menjelang kematiannya, ia pun tak memaksakan diri untuk memperlihatkan si kecil kepada ibunya. Padahal jika ia tahu seperti apa tampang si bayi, Dewi Ayu mungkin menunda waktu kematiannya, paling tidak beberapa tahun ke depan.

”Omong kosong, kematian itu urusan Tuhan,” kata Kyai Jahro.

”Ia ingin mati sejak dua belas hari lalu dan ia mati,” gerak tangan Rosinah berkata, mewarisi kekeraskepalaan majikannya.

Atas wasiat si orang mati, Rosinah kini menjadi wali bagi si bayi malang. Ia pulalah yang kemudian menyibukkan diri dalam satu usaha sia­sia mengirim telegram ke tiga anak Dewi Ayu bahwa ibu mereka mati, dikubur di pemakaman umum Budi Dharma. Tak satu pun di antara mereka datang, dan upacara pemakaman dilakukan esok paginya dengan

kemeriahan yang tak tersaingi bertahun­tahun setelah dan sebelumnya di kota itu. Terutama hampir semua lelaki yang pernah tidur dengan sang pelacur melepas kepergiannya dengan kecupan ringan di kuncup bunga melati yang mereka lemparkan di sepanjang jalan keranda kematiannya lewat. Dan para istri lelaki­lelaki itu, atau kekasih mereka, juga berjejalan sepanjang jalan di belakang pantat mereka, memandang dengan kecemburuan yang tersisa, sebab mereka yakin orang­orang mesum itu masih akan berebut seandainya diberi kesempatan menidurinya kembali, tak peduli Dewi Ayu telah jadi sebongkah mayat.

Rosinah berjalan di belakang keranda yang dibawa empat lelaki kampung. Si bayi tertidur pulas di pelukannya, dilindungi ujung kerudung hitam yang dikenakannya. Seorang perempuan, si cengeng itu, berjalan di sampingnya dengan sekeranjang kelopak bunga. Rosinah meraih bunga­bunga itu, melemparkannya ke udara beserta uang­uang logam yang segera menjadi rebutan anak­anak kecil yang berlari di bawah keranda, terjungkal ke selokan, atau terinjak para pengiring jenazah yang mendendangkan shalawat nabi.

Ia dikubur di satu sudut bersama kuburan orang­orang celaka lainnya; itulah kesepakatan Kyai Jahro dan penggali kubur. Di sana pernah dikubur perompak jahat dari masa kolonial, juga seorang pembunuh gila, dan beberapa orang komunis, dan kini seorang pelacur. Orangorang celaka itu dipercaya tak akan mati dengan tenang, kuburan mereka akan ribut oleh siksa kubur, dan adalah bijaksana menjauhkannya dari kuburan orang­orang saleh, yang ingin mati dengan tenang, digerogoti cacing, dan membusuk dengan tenang, dan bercinta dengan para bidadari tanpa keributan.

Secepat upacara yang meriah itu selesai, secepat itu pula orang­orang melupakan Dewi Ayu. Sejak hari itu, bahkan tidak pula Rosinah dan Si Cantik, tak seorang pun datang ke kuburannya. Membiarkannya porak­poranda dilanda badai laut, ditumpuki sampah daun kamboja, dan ditumbuhi rumput gajah liar. Hanya Rosinah yang punya alasan meyakinkan mengapa ia tak membersihkan kuburan Dewi Ayu. ”Sebab kita hanya membersihkan kuburan orang mati,” katanya pada si bayi buruk rupa (dengan isyarat dan tentunya tak dimengerti si bayi).

Mungkin benar bahwa Rosinah memiliki kemampuan untuk menge­

nali hal­hal yang akan terjadi di masa datang, sedikit kemampuan yang diwariskan dari orang­orang bijak di masa lalu. Ia datang pertama kali bersama ayahnya yang tua dan menderita oleh rematik parah, seorang penambang pasir di gunung, sewaktu ia masih berumur empat belas tahun, lima tahun lalu. Mereka muncul di kamar Dewi Ayu di rumah pelacuran Mama Kalong. Pada awalnya si pelacur sama sekali tak tertarik dengan si gadis kecil, melainkan pada ayahnya, seorang lelaki tua dengan hidung menyerupai paruh kakak tua, berambut keriting keperakan, kulitnya yang keriput segelap tembaga, dan terutama cara berjalannya yang sangat hati­hati seolah semua tulang­belulangnya akan lepas berhamburan begitu ia menghentaknya sedikit saja. Dewi Ayu segera mengenalinya, dan berkata:

”Kau ketagihan, Pak Tua,” katanya, ”Kita bercinta dua malam lalu.” Lelaki itu tersenyum malu, bagaikan bocah kecil berjumpa dengan kekasihnya, dan mengangguk. ”Aku ingin mati di pelukanmu,” katanya. ”Aku tak akan membayarmu, tapi kuberikan anak bisu ini. Ia anakku.” Dewi Ayu memandang si gadis kecil dengan bingung. Rosinah berdiri tak jauh darinya, tenang dan tersenyum ramah kepadanya. Waktu itu ia masih begitu kurus dengan gaun penuh renda yang tampak terlalu besar untuknya, tanpa alas kaki, dan rambut ikalnya hanya diikat dengan karet gelang. Kulitnya halus sebagaimana kebanyakan gadis gunung, dengan wajah sederhana, bulat dengan mata yang cerdas, hidungnya pendek dengan bibir lebar, dan dengan bibir itulah ia dengan mudah memberi semua orang senyum yang menyenangkan. Dewi Ayu sama sekali tak tahu

untuk apa gadis semacam itu dan ia kembali memandang si lelaki tua. ”Aku sendiri punya tiga anak perempuan, jadi untuk apa bocah ini

buatku?” tanyanya.

Ia bisa membaca dan menulis, meskipun tak bisa bicara, kata ayahnya. Ketiga anakku bisa membaca dan menulis, dan mereka bicara, kata Dewi Ayu sambil tertawa mencandai. Tapi lelaki tua itu bersikeras untuk tidur dan mati di pelukannya dan membayarnya dengan gadis bisu itu. Ia bisa jadikan bocah itu apa saja. ”Kau bisa jadikan ia pelacur dan ambil uangnya seumur hidup,” kata lelaki tua itu. ”Bahkan jika tak ada lelaki yang mau dengannya, kau bisa mencincangnya dan menjual dagingnya di pasar.”

”Aku tak yakin ada orang mau memakan dagingnya,” kata Dewi Ayu. Si lelaki tua tampak pantang menyerah dan lama­kelamaan ia mu­

lai merengek serupa anak­anak kecil tak tahan ingin buang kencing. Dewi Ayu bukannya tak ingin berbaik hati memberikan beberapa jam yang indah di atas tempat tidur untuk si lelaki tua, namun ia sungguhsungguh kebingungan atas transaksi aneh tersebut, hingga berkali­kali ia memandang si lelaki tua bergantian dengan si bocah bisu. Sampai kemudian si bocah meminta kertas dan pensil dan menulis:

”Tidurlah dengannya, sebentar lagi ia mati.”

Jadi ia tidur dengan lelaki tua itu, bukan karena sepakat dengan transaksi gilanya, tapi lebih karena sugesti yang dikatakan si bocah bahwa ia akan mati. Mereka bertarung di atas tempat tidur, sementara si gadis bisu duduk di kursi di bagian luar pintu kamar, mendekap tas kecil berisi pakaiannya yang tadi dibawa si ayah, menunggu. Kenyataannya, Dewi Ayu tak memerlukan waktu yang begitu lama, dan sejujurnya ia mengaku tak merasakan apa pun kecuali sesuatu yang menggelikan di tengah selangkangannya. ”Seperti seekor capung mencakar lubang udel,” kata si pelacur. Lelaki itu menyerangnya dengan ganas, nyaris tanpa basa­basi, seolah satu batalion tentara Belanda tengah mendekat dengan misi menghancurkan mereka, bergerak dan melupakan rematiknya. Ketergesa­gesaannya segera berbuah ketika ia melenguh pendek dengan tubuh menghentak; awalnya Dewi Ayu menganggapnya sebagai hentakan seorang lelaki yang memuntahkan isi buah pelirnya, tapi ternyata lebih dari itu, si lelaki tua juga memuntahkan nyawanya. Ia mati tergeletak dalam pelukannya dengan tombak masih teracung basah.

Mereka menguburnya secara diam­diam di sudut yang sama tempat

Dewi Ayu kelak juga dikuburkan. Meskipun tak pernah membersihkan kuburan majikannya, Rosinah selalu menyempatkan diri mengunjungi kuburan ayahnya, di setiap akhir bulan puasa, menyiangi rumputnya dan berdoa dengan tak yakin. Dewi Ayu membawa pulang gadis bisu itu, bukan karena gadis itu sebagai pembayaran malam yang menyedihkan tersebut, tapi karena si bisu itu tak lagi punya ayah dan ibu dan tak ada sanak famili yang lain pula. Paling tidak, pikirnya ketika itu, ia bisa menjadi temannya di rumah, mencari kutu di rambut setiap sore, menunggu rumah sementara ia pergi ke rumah pelacuran. Di luar dugaan­

nya, Rosinah sama sekali tak menemukan rumah yang ribut, melainkan sebuah rumah sederhana yang begitu hening. Cat temboknya berwarna krem dan tampaknya tak pernah dicat kembali selama bertahun­tahun, kaca yang berdebu, tirai yang lapuk, bahkan dapurnya nyaris tak pernah dipakai kecuali untuk memasak seceret kopi. Satu­satunya yang tampak terurus hanyalah kamar mandi dengan bak besar yang ditiru dari bak mandi orang­orang Jepang serta kamar tidur si tuan rumah. Beberapa hari pertama di rumah tersebut, Rosinah menampakkan dirinya sebagai gadis yang layak untuk dibawa pulang dan dipertahankan. Sementara Dewi Ayu tidur sepanjang siang, Rosinah mencat rumah, membersihkan lantai dan menggosok kaca jendela dengan serbuk gergaji yang ia peroleh dari tempat pemotongan kayu, mengganti tirai dan mulai membereskan halaman yang segera dipenuhi berbagai bunga. Ketika sore datang, untuk pertama kali Dewi Ayu terbangun dan menemukan aroma rempah­rempah dari dapur, dan mereka makan malam bersama sebelum Dewi Ayu harus pergi. Rosinah sama sekali tak terganggu oleh keadaan rumah yang membutuhkan begitu banyak penanganan, namun ia dibuat penasaran oleh fakta bahwa hanya mereka berdua yang tinggal di sana. Waktu itu Dewi Ayu belum belajar isyarat tangan si gadis bisu, maka Rosinah kembali menulis.

”Kau bilang punya tiga anak?” tanyanya.

”Benar,” kata Dewi Ayu. ”Mereka pergi begitu tahu bagaimana membuka kancing celana lelaki.”

Rosinah segera mengenali kembali kalimat tersebut ketika beberapa tahun setelahnya, Dewi Ayu berkata bahwa ia tak ingin lagi bunting (padahal ia telah bunting), dan bilang bahwa ia bosan punya anak. Mereka sering bercakap­cakap di sore hari, duduk di pintu dapur sambil memandang ayam­ayam yang mulai dipelihara Rosinah mengais­ngais tanah, dan seperti seorang Scheherazade, Dewi Ayu mengisahkan begitu banyak cerita fantastis, sebagian besar merupakan kisah tentang gadisgadis cantik yang pernah dilahirkannya. Mereka menjalin persahabatan yang penuh pengertian tersebut dengan cara itu, sehingga ketika Dewi Ayu mencoba membunuh si bayi di dalam perut dengan berbagai cara, Rosinah sama sekali tak mencoba menghalanginya. Bahkan ketika Dewi Ayu mulai menampakkan tanda­tanda keputusasaannya, ia menam­

 pilkan dirinya sebagai si gadis bijak itu dan memberi isyarat pada si pelacur.

”Berdoalah minta bayi buruk rupa.”

Dewi Ayu menoleh dan menjawab, ”Telah bertahun­tahun aku tak lagi percaya doa.”

”Tergantung pada siapa kau berdoa,” Rosinah tersenyum. ”Beberapa tuhan memang terbukti pelit.”

Dengan tak yakin, Dewi Ayu mulai berdoa. Ia akan berdoa kapan pun ia ingat; di kamar mandi, di dapur, di jalan bahkan ketika seorang laki­laki gembrot berenang di atas tubuhnya dan ia teringat, ia akan segera berkata, siapa pun yang mendengar doaku, Tuhan atau iblis, malaikat atau jin Iprit, jadikanlah anakku buruk rupa. Ia bahkan mulai membayangkan segala hal yang buruk. Ia memikirkan setan bertanduk, dengan taring mencuat seperti babi, dan betapa menyenangkan sekali memiliki bayi seperti itu. Suatu hari ia melihat colokan listrik, dan membayangkannya sebagai hidung bayinya. Juga membayangkan telinganya sebagai telinga panci, dan mulutnya sebagai mulut celengan, dan rambutnya yang menyerupai sapu. Ia bahkan melonjak kegirangan ketika menemukan betapa menjijikkan tai yang teronggok di toilet dan bertanya­tanya, tak bisakah ia melahirkan bayi semacam itu; dengan kulit serupa komodo dan kaki serupa kura­kura. Dewi Ayu terbang dengan imajinasinya yang semakin liar dari hari ke hari sementara bayi di dalam kandungannya terus tumbuh.

Puncaknya terjadi di malam purnama ketujuh kehamilannya, ketika

ditemani si gadis Rosinah, ia mandi air kembang. Itu adalah waktu kau bisa mengharapkan seperti apa anakmu kelak, dan Dewi Ayu, tampaknya yang pertama di dunia dan karenanya ia tak pernah yakin bahkan sampai hari kematiannya datang, mengharapkan seorang bayi buruk rupa. Ia menggambar sosok bayi jelek itu di kulit kelapa, dengan arang hitam, nyaris tak menyerupai siapa pun. Ia seharusnya menggambar wajah Drupadi, atau Shinta, atau Kunti, atau siapalah tokoh wayang yang cantik, sebab begitulah setiap ibu mengharapkan anaknya, paling tidak di kota itu. Kau akan menggambar Yudistira, Arjuna, atau Bima, jika kau berharap anak lelaki. Tapi tidak Dewi Ayu. Ia tak mengharapkan anaknya seperti siapa pun yang ia kenal, kecuali menyerupai seekor babi

hutan, atau lutung, atau tidak seperti apa­apa. Maka menggambarlah ia, sosok monster menakutkan yang tak sempat ia lihat ketika orang­orang menguburkan mayatnya.

Namun kemudian ia melihatnya juga, setelah dua puluh satu tahun itu, di hari kebangkitannya.

Waktu itu hari menjelang malam, hujan tiba­tiba turun dengan deras disertai topan badai pertanda musim segera berganti. Ajak­ajak melolong di bebukitan, dengan suara melengking mengalahkan muadzin memanggil­manggil orang untuk salat Magrib bersama di masjid, yang tampaknya tak terlampau berhasil. Orang­orang tak suka keluar di waktu hujan deras senjakala, terutama dengan suara lolongan ajak, dan apalagi dengan sosok hantu berkain kafan berjalan ringkih melintasi jalan desa dalam keadaan basah kuyup.

Jarak dari tempat pemakaman umum ke rumahnya bukanlah jarak yang pendek, tapi tukang ojek lebih suka membanting motornya ke parit dan segera melarikan diri daripada mengantarkannya. Mobil angkutan tak ada yang mau berhenti. Bahkan warung­warung dan tokotoko di sepanjang jalan memilih untuk tutup, dan pintu serta jendela rumah­rumah terkunci rapat. Tak ada orang di jalanan, bahkan tidak ada pula gelandangan dan orang­orang gila, kecuali si perempuan tua yang hidup dua kali itu. Hanya kalong­kalong yang terbang susah­payah dibanting badai bergerak di langit, dan kain gorden yang sesekali dibuka menampakkan wajah pucat orang­orang ketakutan.

Ia menggigil kedinginan, dan lapar juga. Beberapa kali mencoba mengetuk pintu­pintu rumah orang yang sekiranya masih ia kenal, tapi penghuni rumah lebih suka diam jika tak semaput. Maka betapa gembiranya ketika dari kejauhan ia bisa mengenali rumahnya yang masih seperti hari sebelum orang­orang menguburnya. Bunga kembang kertas berderet sepanjang pagar, dengan krisan di bagian luarnya, tampak damai di balik tirai hujan, dengan lampu beranda yang hangat. Ia sangat merindukan Rosinah dan sangat berharap hidangan makan malam sedang menunggunya. Bayangan itu membuatnya sedikit tergopoh seperti orang­orang di stasiun dan terminal, membuat kain kafannya nyaris terlepas dan dilemparkan badai menampakkan tubuhnya yang telanjang, namun tangannya segera meraih kain mori tersebut, me­

lilitkannya kembali di tubuhnya serupa gadis­gadis berselimut handuk selepas mandi. Ia juga merindukan anaknya, yang keempat itu, berharap melihatnya seperti apa pun dirinya. Benar kata orang, tidur yang lama bisa membuat orang berubah pikiran, terutama jika itu dua puluh satu tahun.

Gadis itu tengah duduk di kursi beranda seorang diri tempat dulu ia dan Rosinah sering menghabiskan waktu sore dengan berburu kutu, di bawah bola lampu yang remang, duduk seperti menanti seseorang. Awalnya Dewi Ayu menganggapnya Rosinah, tapi secepat ia berdiri di depannya, ia segera tahu bahwa ia belum mengenalnya. Ia bahkan nyaris menjerit melihat sosok mengerikan itu, seolah ia menderita luka bakar yang sangat parah, dan pikiran jahatnya bicara bahwa ia tak kembali ke dunia, tapi tersesat di neraka. Tapi ia cukup waras untuk segera mengenali monster buruk itu tak lebih dari seorang gadis malang; ia bahkan bersyukur akhirnya menemukan manusia yang tak lari melihat perempuan tua berselimut kain kafan melintas di tengah hujan deras. Tentu saja ia belum tahu itu anaknya, sebagaimana ia belum tahu dua puluh satu tahun telah berlalu, maka untuk menuntaskan semua kebingungannya, Dewi Ayu mencoba menyapa gadis itu.

”Ini rumahku,” katanya menjelaskan. ”Siapa namamu?”

”Cantik.”

Ia sungguh­sungguh meledak dalam tawa yang kurang ajar, sebelum segera berhenti dan memahami segala sesuatunya. Ia duduk di kursi yang lain, terpisah oleh sebuah meja dengan taplak kuning dan secangkir kopi milik si gadis.

”Bagaikan seekor sapi yang melihat anaknya tiba­tiba telah bisa berlari,” katanya dengan bingung sambil dengan sopan meminta kopi di atas meja tersebut, meminumnya. ”Aku ibumu,” katanya lagi, penuh kebanggaan, terutama oleh kenyataan bahwa anak gadisnya persis sebagaimana yang ia inginkan. Seandainya hari tak turun hujan, dan ia tak kelaparan, dan bulan bersinar cemerlang, ingin sekali ia berlari naik ke atap rumah dan menari untuk merayakannya.

Si gadis tak menoleh, dan tidak pula berkata apa­apa.

”Apa yang kau lakukan malam­malam di beranda?” tanyanya. ”Menanti Pangeranku datang,” kata si gadis akhirnya, meskipun tetap tak menoleh. ”Untuk membebaskanku dari kutukan wajah buruk rupa.”

Ia telah terobsesi dengan Pangeran tampan itu, paling tidak semenjak ia menyadari bahwa orang lain tak seburuk rupa dirinya. Rosinah telah mencoba membawanya ke rumah­rumah tetangga, bahkan sejak ia masih seorang bayi dalam gendongan, tapi tak seorang pun menerima, sebab anak­anak akan menjerit dan menangis sepanjang hari dan orangorang jompo akan segera demam dan mati dua hari kemudian. Mereka menolaknya di mana pun, dan begitu pula ketika waktu sekolah tiba, tak satu sekolah pun menerima Si Cantik. Pernah juga Rosinah mencoba memohon­mohon pada seorang kepala sekolah yang tampaknya lebih tertarik pada si gadis bisu daripada si gadis kecil buruk rupa, yang dengan kurang ajar mencumbunya di ruangan kantor tertutup. Rosinah yang bijak, berpikir, selalu ada cara untuk segala sesuatu. Jika ia harus kehilangan keperawanan untuk memasukkan Si Cantik ke sekolah, ia akan memberikannya dengan cara apa pun. Maka pagi itu ia telanjang di kursi putar milik si kepala sekolah, bercinta di bawah dengung kipas angin selama dua puluh tiga menit, namun kali ini ia keliru: Si Cantik tetap ditolak masuk sekolah, sebab jika ia masuk, anak­anak yang lain tak akan masuk.

Tanpa kenal putus asa, akhirnya Rosinah berencana mengajarinya

sendiri di rumah, paling tidak berhitung dan membaca. Namun sebelum ia sempat mengajarinya apa pun, Rosinah tercengang oleh kenyataan bahwa gadis itu telah bisa menghitung suara tokek dengan benar, dan lebih terkejut ketika suatu sore ia menemukannya tengah mengeluarkan timbunan buku peninggalan ibunya dan membacanya keras­keras. Ada sesuatu yang tidak beres dengan keajaiban itu, bermula dari keheranannya bertahun­tahun sebelum si gadis bisa membaca, yakni ketika si gadis tanpa Rosinah tahu siapa yang mengajarinya, bisa bicara. Ia mencoba memata­matai si kecil itu, namun semuanya sia­sia. Ia tak pernah pergi lebih jauh dari pagar rumah, dan tak seorang pun pernah datang, ia tak pernah bertemu siapa pun kecuali dirinya sendiri, yang bisu dan bicara dengan tangan. Tapi kenyataannya si kecil itu bisa menyebutkan semua benda, yang terlihat maupun tidak, dengan benar, dan bahkan memberi nama untuk kucing dan cicak dan ayam dan bebek yang berkeliaran di rumah mereka. Kini keajaiban itu muncul kembali: ia membaca buku tanpa seorang pun mengajarinya mengenali huruf­huruf.

Di luar semua keajaibannya, ia tetaplah seorang gadis buruk rupa yang malang, dan menyedihkan. Rosinah sering melihatnya berdiri di balik tirai jendela, mengintip orang­orang di jalanan, atau memandangnya ketika ia harus keluar untuk membeli sesuatu, seolah meminta untuk diajak. Tentu saja Rosinah tak pernah keberatan mengajaknya, ia bahkan berharap melakukannya, tapi si kecil sendiri yang akan menolaknya, dan berkata dengan suara yang mengibakan itu, ”Tidak, orangorang akan kehilangan selera makan sepanjang sisa hidup mereka.”

Ia akan keluar di waktu dini hari ketika orang­orang belum terbangun, kecuali para penjual sayur yang bergegas pergi ke pasar, atau petani yang bergegas pergi ke ladang, atau nelayan yang bergegas pulang, berjalan kaki atau meluncur dengan sepeda­sepeda jengki mereka, namun orang­orang itu tak akan melihatnya di keremangan fajar. Itulah waktu baginya berkenalan dengan dunia, dengan kelelawar yang pulang kandang, dengan burung pipit yang terbangun di pucuk pohon ketapang, dengan ayam yang berkukuruyuk nyaring, dengan kupu­kupu yang menetas dari kepompong dan terbang hinggap di kelopak bunga sepatu, dengan kucing yang menggeliat di keset, dengan aroma yang dibawa dari dapur tetangga, dengan kebisingan mesin­mesin yang mulai dinyalakan di kejauhan, dengan suara khotbah radio dari suatu tempat, dan terutama dengan Venus yang berpijar di timur yang akan dinikmatinya sambil duduk di ayunan yang tergantung pada dahan pohon belimbing. Rosinah bahkan tidak tahu bahwa cahaya kecil yang berpijar terang itu bernama Venus, tapi Si Cantik mengenalnya dengan baik, sebaik persahabatannya dengan rasi­rasi bintang penunjuk nasib.

Setelah terang datang, ia akan menghilang ke dalam rumah, seperti

kepala kura­kura yang malu pada para pengganggu. Sebab anak­anak sekolah selalu berhenti di depan gerbang pagar, berharap melihatnya, memandang pintu dan jendela dengan keingintahuan mereka. Orangorang tua telah menceritakan kisah­kisah menakutkan tentang Si Cantik yang mengerikan, tinggal di rumah tersebut, siap memenggal kepala mereka untuk sekali kebandelan, siap memangsa mereka hidup­hidup untuk setiap kecengengan: semua cerita tersebut cukup untuk menghantui mereka, sekaligus membangkitkan minat mereka, untuk sungguhsungguh bertemu dan membuktikan bahwa momok menakutkan itu sungguh­sungguh ada. Mereka tak pernah menemukannya, sebab Rosinah akan segera muncul dengan gagang sapu terbalik, dan mereka akan berlarian sambil berteriak­teriak mengejek si gadis bisu. Dan sesungguhnya tak hanya anak­anak yang akan berhenti di depan gerbang pagar berharap melihatnya, sebab ibu­ibu yang melintas di dalam becak juga akan menengokkan wajahnya sejenak, begitu pula orang­orang yang berangkat bekerja, dan para gembala yang menggiring domba.

Ia juga akan keluar malam hari, ketika anak­anak dilarang keluar rumah, dan orang tua sibuk mengawasi anak­anak mereka, kecuali para nelayan yang bergegas ke laut memanggul dayung dan jaring. Ia akan duduk di kursi beranda, duduk ditemani segelas kopi. Ketika Rosinah bertanya apa yang ia lakukan malam­malam di beranda, Si Cantik menjawab sebagaimana ia berkata kepada ibunya, ”Menanti Pangeranku datang, untuk membebaskanku dari kutukan wajah buruk rupa.”

”Gadis yang malang,” kata ibunya malam itu, malam pertama mereka berjumpa. ”Kau seharusnya menari dengan riang karena anugerah tersebut. Masuklah.”

Dewi Ayu kembali memperoleh keramahan ala Rosinah di mana si gadis bisu dengan segera telah menyiapkan air hangat di bak mandinya yang lama, lengkap dengan sulfur dan batu gosok serta potongan kayu cendana dan daun sirih yang membuatnya tampak segar di meja makan. Rosinah dan Si Cantik memandangi cara makannya yang rakus, seolah membalas tahun demi tahun yang lenyap tanpa makan. Ia menghabiskan dua potong ikan tongkol utuh, termasuk duri­durinya, dan semangkuk sup, serta dua piring nasi. Minumannya sejenis larutan bening dengan potongan­potongan kecil sarang burung walet. Ia makan lebih cepat dari kedua perempuan yang menemaninya itu. Seusai makan yang membuat perutnya bergemuruh dan berkali­kali mengeluarkan bunyi bercerucut di lubang pantatnya, sejenis kentut yang tertahan, ia bertanya sambil melap mulutnya dengan kain lap:

”Berapa lama aku mati?”

”Dua puluh satu tahun,” kata Si Cantik.

”Maaf terlalu lama,” katanya penuh penyesalan, ”tak ada jam weker di dalam kubur.” ”Lain kali jangan lupa membawanya,” kata Si Cantik penuh perhatian, dan menambahkan, ”jangan lupa pula kelambu.”

Dewi Ayu mengabaikan kata­kata Si Cantik, yang diucapkan dengan suara kecil melengking serupa menyanyi soprano, dan berkata lagi, ”Ini pasti membingungkan, aku bangkit kembali setelah dua puluh satu tahun, sebab bahkan si gondrong yang mati di tiang salib pun hanya memerlukan waktu tiga hari kematian sebelum bangkit kembali.”

”Sangat membingungkan,” kata Si Cantik, ”lain kali kirim dulu telegram sebelum datang.”

Bagaimanapun, ia tak bisa mengabaikan suara tersebut. Setelah lama memikirkannya, Dewi Ayu mulai merasakan nada permusuhan dalam komentar­komentar anak gadisnya. Ia memandang ke arahnya, tapi bahkan si gadis buruk rupa itu memberinya senyum, atau sesungguhnya lebih menyerupai seringai barongsai, seolah mengatakan bahwa apa yang dikatakannya tak memiliki maksud apa pun kecuali sungguh­sungguh mengingatkannya agar lain kali jangan berlaku sembrono. Tapi Dewi Ayu tak perlu waktu lama untuk memahami aroma kemarahan di balik senyum yang jelek itu. Ia memandang pada si gadis Rosinah, seolah mencari seorang pendukung, tapi bahkan si gadis bisu hanya tersenyum, tanpa makna sama sekali, lalu berkata kepadanya:

”Kau tiba­tiba telah berumur empat puluh tahun. Sebentar lagi tua dan keriput.” Sambil berkata begitu, Dewi Ayu tertawa kecil, mencoba membuat meja makan jadi meriah bagi mereka bertiga.

”Seperti kodok,” kata Rosinah dengan bahasa isyarat. ”Seperti komodo,” kata Dewi Ayu lagi.

Mereka berdua memandang Si Cantik, menantinya mengatakan sesuatu, dan penantian tersebut tidaklah lama.

”Sepertiku,” katanya. Pendek dan mengerikan.

Selama beberapa hari, Dewi Ayu bisa mengabaikan kehadiran monster menjengkelkan di rumahnya itu, disibukkan oleh kunjungankunjungan sahabat lama yang berharap memperoleh cerita tentang dunia orang­orang mati. Bahkan sang kyai yang bertahun­tahun lampau memimpin pemakamannya dengan keengganan dan memandang dirinya dengan rasa jijik seorang gadis atas cacing tanah, berkunjung kepadanya dalam kesopansantunan orang­orang saleh di hadapan para wali, dan dengan tulus mengatakan bahwa kebangkitannya sebagai sebuah mukjizat, dan tak seorang pun akan memperoleh mukjizat jika ia bukan orang suci.

”Tentu saja aku orang suci,” kata Dewi Ayu dengan riang, ”Sebab tak seorang pun menyentuhku selama dua puluh satu tahun.”

”Seperti apakah rasanya mati?” tanya Kyai Jahro.

”Sebenarnya menyenangkan. Itulah satu­satunya alasan kenapa orang mati tak ada yang kembali.”

”Tapi kau bangkit kembali,” kata sang kyai. ”Aku kembali untuk mengatakan itu.”

Itu hal yang bagus buat khotbah di Jumat siang, dan sang kyai pergi dengan wajah berseri­seri. Ia tak perlu merasa malu berkunjung ke rumah Dewi Ayu, meskipun bertahun­tahun lalu ia akan berteriak bahwa haram hukumnya mengunjungi rumah pelacur itu, bahkan hanya dengan menyentuh pagarnya kau bisa dipanggang di neraka, sebab sebagaimana dikatakan perempuan itu, ia bukan lagi seorang pelacur setelah dua puluh satu tahun tak disentuh siapa pun, dan percayalah kini dan seterusnya tak ada seorang pun mau menyentuhnya lagi.

Yang paling menderita dari semua keributan tentang perempuan tua yang bangkit dari kematiannya, tak lain adalah Si Cantik yang harus mengunci dirinya di kamar. Beruntunglah bahwa kunjungan­kunjungan mereka tak pernah lebih lama dari beberapa menit, sebab orang­orang itu akan segera merasakan teror mengerikan dari pintu kamar yang tertutup. Angin yang jahat, hitam, dan mengerikan serasa menerpa mereka, dengan bau asing yang memualkan, meluncur dari celah­celah pintu dan lubang kunci serta kisi­kisi, dingin menusuk jauh bahkan sampai sumsum tulang­belulang mereka. Banyak orang belum pernah melihat Si Cantik, kecuali ketika ia masih kecil saat orang­orang membantu ibunya melahirkan dan saat si dukun bayi berkeliling kampung mencari ibu susuan. Tapi gambaran itu cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri dan sekujur tubuh gemetaran begitu mata membentur pintu kamar yang mereka percayai bahwa di sanalah monster itu tinggal, begitu aroma jahat yang dibawa angin sampai di ujung hidung mereka, dan bunyi keheningan ribut di telinga. Itu adalah waktu mulut mereka mengeluarkan kata­kata basa­basi, dan melupakan keinginan mereka untuk mendengar apa pun dari Dewi Ayu yang menakjubkan, orangorang akan segera berdiri setelah dipaksa meminum setengah gelas teh pahit, dan pamit pulang untuk bercerita pada orang­orang.

”Sebesar apa pun rasa penasaranmu pada Dewi Ayu yang bangkit dari kematiannya,” kata mereka setelah kunjungan yang penuh teror tersebut pada siapa pun, ”kusarankan untuk tak masuk ke rumahnya.”

”Kenapa?”

”Kau akan mati diteror rasa takut yang datang dari dirimu sendiri.” Ketika orang­orang tak lagi berkunjung, Dewi Ayu mulai merasakan keganjilan­keganjilan dari Si Cantik, di luar kebiasaannya untuk duduk di beranda menunggu Pangeran tampan dan meramal nasib melalui bintang­bintang. Di tengah malam, ia mendengar keributan dari kamar tidurnya, membuatnya turun dari tempat tidur dan berjalan dalam gelap menuju pintu kamar tidur Si Cantik. Keributan itu begitu nyata, maka ia berdiri di depan pintu dengan penuh keraguan, dan semakin kebingungan oleh suara­suara yang muncul dari mulut si gadis buruk rupa itu. Ia masih berdiri tanpa keinginan membuka pintu sampai Rosinah

muncul dengan lampu senter menerpa wajah majikannya.

”Aku mengenal baik suara­suara gaduh ini,” kata Dewi Ayu setengah berbisik pada Rosinah. ”Di kamar­kamar pelacuran.”

Rosinah mengangguk mengiyakan.

”Ini suara orang bercinta di atas tempat tidur,” kata Dewi Ayu lagi. Rosinah kembali mengangguk.

”Pertanyaannya, dengan siapa ia bercinta, atau siapa yang mau bercinta dengannya?”

Rosinah menggeleng. Ia tak bercinta dengan siapa pun. Atau ia bercinta dengan seseorang, tapi kau tak akan tahu, sebab kau tak akan melihatnya. Dewi Ayu tampak terpesona dengan ketakacuhan si gadis bisu itu, membuatnya teringat pada tahun­tahun kegilaan di mana hanya gadis itulah yang memahami dirinya. Mereka duduk berdua di dapur, malam itu, di depan tungku yang masih dipergunakan sejak kematiannya, menjerang air dan menunggunya panas untuk secangkir kopi. Dan dengan hanya diterangi cahaya dari api yang menyala memakan ujung kayu bakar kering berupa potongan­potongan ranting pohon cokelat serta dahan kelapa kering dan serabut buahnya, mereka berbincang­bincang sebagaimana dulu sering mereka lakukan.

”Apakah kau mengajarinya?” tanya Dewi Ayu. ”Apa?” tanya Rosinah, hanya bentuk mulut tanpa suara. ”Masturbasi.”

Rosinah menggeleng. Si Cantik tidak masturbasi, ia bercinta dengan seseorang tapi kau tak tahu siapa.

”Mengapa?”

Sebab aku tak tahu, Rosinah menggeleng.

Ia bercerita mengenai semua keajaiban tersebut, bahwa ketika ia masih kecil, gadis itu bicara tanpa seorang pun mengajarinya. Ia bahkan mulai membaca dan menulis pada umur enam tahun. Rosinah akhirnya tak pernah mengajarinya apa pun, karena bahkan ia mulai bisa melakukan banyak hal yang Rosinah sendiri tak bisa. Menyulam pada umur sembilan tahun, menjahit pada umur sebelas tahun, dan jangan tanya ia bisa memasak makanan apa pun yang kau inginkan.

”Seseorang pasti mengajarinya,” kata Dewi Ayu dengan bingung. ”Tapi tak seorang pun datang ke rumah ini,” kata Rosinah dengan

isyarat.

”Aku tak peduli dengan cara apa ia datang, atau dengan cara bagaimana ia datang tanpa kau dan aku tahu. Tapi ia datang dan mengajarinya segala hal, dan bahkan ia mengajarinya bercinta.”

”Ia datang dan mereka bercinta.” ”Rumah ini berhantu.”

Rosinah tak pernah berpikir bahwa rumah ini berhantu, namun Dewi Ayu memiliki alasan untuk percaya bahwa rumah ini berhantu. Tapi itu hal lain, Dewi Ayu tak ingin mengatakan apa pun tentang itu pada Rosinah, paling tidak malam itu. Ia berdiri dan segera pergi kembali ke tempat tidurnya, melupakan air yang dijerang dan cangkir berisi kopi.

Perempuan tua itu, di hari­hari berikutnya, mencoba memata­matai si gadis buruk rupa, untuk penjelasan paling masuk akal atas segala keajaibannya, sebab ia tak ingin percaya bahwa hantulah yang melakukan semuanya, meskipun hantu itu sungguh­sungguh ada di rumahnya.

Suatu pagi, ia dan Rosinah menemukan seorang lelaki tua duduk di depan tungku yang menyala, menggigil kedinginan oleh hawa pagi. Ia berpenampilan serupa gerilyawan, dengan rambut yang kacau balau, gimbal dengan ikat kepala dari janur kuning layu. Gambaran itu dipertegas oleh wajah yang tirus, seperti kelaparan selama bertahun­tahun, serta pakaian gelap yang dipenuhi noda lumpur dan darah kering, dan bahkan ada belati kecil terayun­ayun di pinggangnya, terikat pada sabuk kulit. Ia mengenakan sepatu serupa milik pasukan Gurka semasa perang, terlalu kebesaran untuk kakinya.

”Siapa kau?” tanya Dewi Ayu,

”Panggil aku Shodancho,” kata si lelaki tua. ”Aku kedinginan, izinkanlah sejenak di depan tungkumu.”

Rosinah menilainya dengan sedikit rasional. Mungkin ia benarbenar seorang Shodancho, di masa lalu memimpin sebuah Shodan, mungkin di Daidan Halimunda, dan ia memberontak pada Jepang sebelum melarikan diri ke hutan. Ia mungkin terjebak di sana selama bertahun­tahun, dan tak pernah tahu bahwa Jepang dan Belanda telah lama pergi dan kita punya republik dengan bendera dan lagu kebangsaan sendiri. Rosinah memberinya sarapan pagi dengan pandangan penuh rasa haru, sedikit penghormatan yang berlebihan.

Tapi Dewi Ayu memandangnya dengan sedikit kecurigaan, bertanyatanya apakah ia Pangeran yang ditunggu anak gadisnya setiap malam, dan boleh jadi laki­laki inilah yang mengajarinya bercinta. Laki­laki itu tampaknya lebih dari tujuh puluh tahun, telah impoten bertahuntahun lalu, dan dengan begitu Dewi Ayu menepis pikiran buruknya. Ia bahkan mengundangnya untuk tinggal di rumah itu, sebab masih ada kamar kosong, dan laki­laki itu tampaknya telah kehilangan hubungan dengan dunia yang sesungguhnya.

Sang Shodancho yang memang kebingungan dengan keadaan dirinya, menurut. Itu adalah hari Selasa, tiga bulan setelah kebangkitan Dewi Ayu dari kematian, hari ketika mereka menemukan Si Cantik terkapar di kamarnya dalam keadaan menyedihkan. Ibunya dibantu Rosinah mencoba membantunya berdiri, membaringkannya di atas tempat tidur. Sang Shodancho tiba­tiba muncul di belakang mereka dan berkata:

”Lihat perutnya, ia hamil, hampir tiga bulan.”

Dengan tak percaya, Dewi Ayu memandang Si Cantik dengan tatapan yang bukan lagi menampilkan kebingungan namun kemarahan yang tak terkendali oleh ketidaktahuannya, lalu bertanya, ”Dengan cara apa kau hamil?”

”Seperti bagaimana kau hamil empat kali,” kata Si Cantik, ”Buka pakaian dan bercinta dengan lelaki.”
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊