menu

Touché Rosetta Epilog

Mode Malam
Epilog
”SAMMY sedang menyelidiki pembunuhan berantai itu?” tanya Hiro saat berjalan di lorong Universitas

Columbia.

”Sepertinya begitu,” jawab Karen di seberang telepon. ”Kau tertarik membantunya?”

”Dia belum meminta bantuanku, mungkin dia bisa menyelesaikannya sendiri,” balas Hiro kalem.

”Bukankah kau baru saja memintanya mengirimkan salinan laporan autopsi dan sampel DNA para korbannya?”

”Untuk penelitian,” jawab Hiro santai. ”Mungkin ayahku menunggumu menawarkan diri untuk membantunya.”

”Dia harus melakukannya sambil berlutut,” sahut Hiro.

”Hei, dia ayahku!” hardik Karen. ”Lalu?”

”Dan katamu kau menyukaiku,” suara Karen memelan, seperti tidak percaya ucapannya sendiri.

Langkah Hiro terhenti.

”Pertama, memangnya kenapa kalau dia ayahmu?” kata Hiro. ”Kedua, kapan aku bilang aku menyukaimu?”

”Bu-bukannya waktu itu kau bilang tidak suka ketidakpastian?” Karen tergagap.

”Benar, dan kapan aku bilang aku menyukaimu?’ ulang Hiro.

”Tapi bu... bukankah itu artinya...” ”Artinya apa?”

”Ah, sudahlah!”

Hiro tersenyum lalu melanjutkan berjalan. ”Nanti kutelepon lagi. Profesor Martin baru saja pulang dari Inggris. Ada hal penting yang harus kubicarakan dengannya sebelum dia pergi lagi.”

”Terserah kau saja!” ”Tunggu,” sergah Hiro. ”Apa?”

”Nanti malam kita jadi  nonton,  kan?”  tanya Hiro.

”Nonton apa?”

”Menyesuaikan dengan kapasitas otakmu, kita

nonton film komedi saja.”

Hiro bisa mendengar dengusan Karen.

”Kenapa mengajakku nonton kalau kau tidak menyukaiku?”

”Memangnya harus menyukaimu dulu sebelum mengajakmu nonton?” desah Hiro. ”Lagi pula, kapan aku bilang aku tidak menyukaimu?”

”Hah?”

”Aku tadi hanya bertanya ‘kapan aku bilang aku menyukaimu’?”

”Jadi...”

Hiro langsung menutup telepon sambil meringis. Berbicara dengan Karen selalu membuatnya merasa lebih baik. Dia sudah sampai di depan pintu ruang kerja Profesor Martin. Sebelum mengetuk pintu, Hiro terdiam sejenak menatap laporan yang dia pegang.

Dia perlu beberapa kali mengetuk pintu hingga terdengar suara dari dalam. ”Masuk.” Setelah masuk dan menutup pintu, Hiro menuju meja Profesor Martin.

”Ada apa, Morrison?” Profesor Martin bertanya sambil mempersilakan tamunya itu duduk.

”Ada yang ingin saya tanyakan tentang sampel yang Anda gunakan untuk penelitian,” jawab Hiro.

Profesor Martin mengangkat alis. ”Kau tidak mau menanyakan padaku bagaimana London lebih dulu?”

”Anda ingin saya menanyakannya?”

Profesor Martin tertawa. ”Tentu saja tidak. Seperti bukan kau saja kalau melakukannya.”

”Bisakah kita kembali ke masalah sampel?” tanya Hiro mulai tak sabar.

”Tentu saja,” jawab Profesor Martin.

Hiro menatap tajam ke arah Profesor Martin. ”Dari mana Anda mendapatkan sampel-sampel tersebut?”

Profesor Martin tampak terkejut, tapi berusaha mengendalikannya. Bukannya menjawab, dia berdiri lalu berjalan menuju meja kopi di dekat jendela. ”Kau mau kopi?” tanyanya.

”Anda belum menjawab pertanyaan saya.” ”Sekali ini, bersikaplah sopan,” kata Profesor Martin dingin. ”Jawab dulu tawaranku.”

”Baiklah,” jawab Hiro.

”Apa yang membuatmu mempertanyakan sampelsampel itu?” Profesor Martin menyelidiki sambil membuat dua cangkir kopi.

Hiro menaruh laporannya di meja dan terdiam agak lama. Hiro juga memiliki kemampuan melalui sentuhan, seperti edward. Dia seorang touché. Karena kemampuannya, Hiro mampu mengetahui struktur kimia setiap benda yang disentuhnya. Bahkan jika dia menyentuh lebih lama, dia bisa melihat struktur DNA manusia.

Setelah beberapa lama meneliti sendiri, Hiro menemukan bahwa DNA-nya berbeda dengan DNA manusia biasa. Dan sampel-sampel yang diberikan Profesor Martin mengenai objek penelitian rekayasa DNA yang sedang dikerjakannya, memiliki DNA yang sama persis dengan dirinya. Semua itu adalah DNA kaum touché.

Kecurigaan Hiro bahwa ada yang tidak beres dengan semua sampel itu dibuktikan oleh laporan yang dikirimkan Detektif Samuel Hudson, ayah Karen. Sampel-sampel DNA itu, yang merupakan sampel penelitian itu, ternyata berasal dari para korban pembunuhan berantai!

”Dari mana Anda mendapatkan sampel-sampel ini?” ulang Hiro.

”Mau tambah gula?” tanya Profesor Martin.

Hiro menggeleng. Profesor Martin menyerahkan kopi kepada Hiro lalu meminum kopinya sendiri.

”Kau menyadarinya ya?” tanya Profesor Martin. Nada suaranya dingin hingga bulu kuduk Hiro berdiri sesaat. Dia tidak sanggup meneguk kopi di tangannya. Ini pertama kalinya dia merasa diselimuti rasa takut.

”Aku melakukan semuanya sendiri demi memperoleh sampel-sampel itu.” Profesor berkata sambil berjalan perlahan, mengamati patung-patung marmer yang terpampang di rak.

Hiro menelan ludah.  ”Anda  yang...” ”Membunuh semua orang itu?” Profesor Martin

meneruskan kalimat Hiro. ”Ya.”

Saking terkejutnya mendengar  pengakuan Profesor Martin, Hiro menjatuhkan cangkir kopinya. Spontan dia mengambil pecahan cangkir yang berserakan di lantai dan saat tak sengaja menyentuh kopinya, Hiro tertegun. Nitro benzodiazepin, dia membaca dalam hati struktur kimia dari kopi yang disentuhnya. Itu artinya kopi itu sudah dicampur obat agar dia tidak sadarkan diri.

”Ah, kau sudah menyentuh kopi itu. Kau pasti sudah membacanya ya,” keluh Profesor Martin.

Membacanya? Bagaimana dia tahu aku bisa membaca dari sentuhan, batin Hiro. ”Bagaimana Anda...”

Saat Hiro hendak menoleh, sebuah patung marmer dihantamkan ke kepalanya dengan sangat keras hingga dia terjatuh dari kursi. Dia lengah.

Hiro mengerang dan darah mulai mengucur dari kepalanya. Dia menatap marah ke arah Profesor Martin.

Profesor Martin tersenyum. ”Aku tahu karena kita sama, Morrison. Kita memiliki kemampuan yang sama. Aku juga bisa melihat struktur kimia sampai dengan DNA-nya, dari setiap benda yang kusentuh. Bedanya darimu, aku sudah hidup lebih lama sehingga bisa melakukannya jauh lebih cepat. Hanya dalam waktu beberapa detik, aku bisa membaca DNA seseorang.”

Apa? Hiro tak percaya dengan informasi yang baru saja didengarnya. Bibirnya pun bergetar. Perasaan kesal, kaget, dan marah bercampur menjadi satu karena dia melewatkan hal ini setelah sekian lama berada di sekitar Profesor Martin. Kemudian kesadarannya pun menghilang.

Setelah memastikan Hiro tidak mampu bergerak lagi, Profesor Martin mengambil handphone miliknya.

”Halo? Ini Mitt Darren. Aku mau minta bantuanmu untuk membereskan sesuatu.”

Tamat
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊