menu

Touché Rosetta Bab 14

Mode Malam
Bab 14
YUNUS   KING  mengerutkan   kening menatap handphone­nya.  Langit­langit?  Langit­langit  apa  yang dia maksud? Langit­langit Kapel Sistine?

Dia menuju langit-langit Kapel Sistine yang terkenal dengan lukisannya lalu mendongak.

”Diapit dua keluarga, dari sembilan, setelah bumi dan air dipisah dan sebelum munculnya belahan jiwa,” gumamnya. Dan di atas sana Yunus King melihat semuanya. Dia langsung paham petunjuk yang ditinggalkan Michelangelo tentang keberadaan kaum touché. The Creation of Adam, batinnya. Detail The Creation of Adam menggambarkan manusia pertama yang diberi kehidupan melalui sentuhan tangannya. Michelangelo bisa saja menggambarkan pemberian kehidupan seperti pada patung The ecstasy of Saint Teresa buatan Bernini  yaitu menancapkan panah atau interpretasi ”sebuah kekuatan” ke dadanya. Tapi tidak. Michelangelo menggambarkannya melalui jari-jari yang hampir bersentuhan.

Yunus King ternganga. Kenapa selama ini aku tidak menyadarinya? Dia sudah berkali-kali melihat lukisan itu, tapi baru hari ini memahami maknanya. Hanya seorang touché yang akan menggambarkan pemberian ”kehidupan” dengan gambar sentuhan tangan seperti itu. Inilah pesan yang sengaja ditinggalkan Michelangelo bagi generasi-generasi setelahnya, untuk memberitahu bahwa dia adalah kaum touché.

Sekarang jika isi buku kuno itu tersebar dan orang­ orang tahu tentang The Creation of Adam, semua orang akan tahu touché sudah ada sejak dulu, batin Yunus King. Tapi apakah perlu membunuh orang hanya untuk rahasia seperti ini? Pasti ada sesuatu yang lebih besar di baliknya yang aku belum tahu. Seketika ingatan tentang dokumen yang ditulis Michelangelo bersama Leonardo da Vinci melintas di benak Yunus King. Dia mendongak lagi, mencoba mencari tahu apakah ada petunjuk lain tentang hal itu di lukisan ini. Jika ada, dia harus segera menemukannya. Dia yakin ini bukan tentang membuktikan bahwa touche sudah ada sejak dulu, tapi lebih dari itu.

Tahu-tahu saja perasaan dingin menyelimuti tubuhnya. Yunus King menelan ludah. Ada yang salah.

Yunus King mengambil teleponnya lagi. ”Halo? ellen?”

”Ada apa, Yunus?” tanya ellen. ”Kau sedang ada di mana?”

”Di bus. Aku mau ke tempat ed,” jawab ellen. ”Ada apa? Kenapa suaramu bergetar?”

Yunus King menghela napas. ”Tidak apa. Syukurlah kalau kau tidak apa-apa.”

”Ada apa?” Sekarang suara ellen terdengar khawatir.

”Tidak apa, hanya saja tiba-tiba perasaanku tidak enak,” jawab Yunus King jujur. ”Mungkin hanya perasaanku saja. Oh, kalau kau sudah bertemu ed, telepon aku lagi ya.” ”Oke,” jawab ellen.

Telepon ditutup, tapi perasaan tidak enak yang mengganjal Yunus King belum hilang.

Ini perasaan yang sama seperti waktu itu, batin Yunus King, teringat hari ketika kakaknya meninggal.

*  * *

”Profesor Martin, ada perlu apa Anda mencari saya?” tanya edward bingung. ”Dan dari mana Anda tahu tempat tinggal saya? Anda mengikuti saya?”

”Di flat ini, hanya tinggal kau seorang, kan?” kata Profesor Martin sambil mengamati kamar edward. ”Semua temanmu sedang liburan.”

”Bagaimana Anda ta...” edward tercekat. Dia teringat perkataan Profesor Martin saat bertemu dirinya di British Library tentang kamarnya yang penuh poster film.

”Anda pernah datang ke sini.” Tangan edward mengepal, bersiap-siap melawan. ”Anda pernah memasuki kamar saya. Dari mana Anda tahu kamar saya?”

Ingatan edward terbang ke paket kosong yang dikirim beberapa waktu lalu. Ah, paket itu hanya  kuda Troya. Dia hanya ingin tahu letak kamarku. Itu sebabnya di paket tidak tertulis lengkap alamatku sehing­ ga harus diantar sampai di depan kamar. Apakah ini artinya Profe­sor Martin adalah Mitt Darre­n?

Melihat sikap edward, Profesor Martin mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan mengarahkannya ke edward. ”Aku tahu kau bisa bela diri. Tapi aku tidak akan mencoba bertingkah jika jadi kau. Pistol  ini sudah kupasangi peredam suara, jadi tidak akan ada yang mendengarnya.”

edward memundurkan langkahnya. ”Apa yang Anda inginkan?”

Mata Profesor Martin mengarah ke buku kuno di meja belajar edward. ”Buku itu. Berikan padaku.”

”Itu buku dari Profesor fischer yang harus saya terjemahkan,” kata edward berbohong. ”Untuk apa Anda menginginkannya?”

Profesor Martin tersenyum. ”Kau tidak perlu berbohong padaku, Nak, aku sudah tahu semuanya. Kau bahkan sudah memecahkan teka-tekinya.”

Profesor berjalan mendekati rak buku edward. Dia menarik sebuah buku di rak ketiga dan menunjukkan pada edward alat sadap yang tertempel di sana. ”Aku sudah mendengar semuanya hingga ke bagian langit-langit Kapel Sistine. The Creation of Adam, kan?”

”Kalau begitu, apa gunanya buku itu bagi Anda?” tanya edward.  ”Apakah Anda  juga  seorang touché?”

Profesor Martin hanya tersenyum. ”Bagaimana Anda tahu tentang buku itu?”

”Sebagai orang yang sebentar lagi mati, kau terlalu banyak bertanya, Nak,” desah Profesor Martin.

edward masih berusaha berbicara dengan nada setenang mungkin. ”Anda akan membunuh saya?” ”Karena kau sudah terlalu banyak tahu,” jawab

Profesor Martin.

”Anda tidak takut dipenjara?”

”Mereka tidak akan bisa menangkapku.”

”Anda meremehkan kemampuan Scotland Yard.” Profesor Martin tertawa. ”Jika mereka memang sehebat itu, saat ini aku pasti sudah dipenjara kare-

na membunuh Leon.”

Be­rarti be­nar dialah Mitt Darre­n. The­odore­ Richard Martin... The­o... Te­d... R... Martin... Mitt Darre­n adalah anagram dari Ted R Martin!

Mata edward membelalak. ”Jadi Anda yang—” Dua peluru langsung ditembakkan Profesor Martin dari pistolnya dan mengenai perut edward. edward jatuh tersungkur. Darah perlahan menggenangi lantai kamarnya. Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat Profesor Martin mengambil buku kuno dari meja.

Sebelum pergi, Profesor Martin berjongkok menatap edward yang mulai kehabisan napas. Mata Profesor Martin berkilat.

”Seperti yang kubilang, Nak,” katanya. ”Kau terlalu banyak tahu.”

Profesor Martin memastikan tak ada bukti yang tersisa tentang dirinya di kamar itu lalu menutup pintu, meninggalkan edward tergeletak tak berdaya di lantai.

edward berusaha berdiri untuk mengambil handphone. Dia harus menghubungi ellen dan mencegahnya datang kemari. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika Profesor Martin bertemu ellen. Dia tidak bisa membiarkan gadis itu terluka, tapi rasa sakit di perutnya membuatnya jatuh lagi. Kepalanya mulai pusing.

”ell... ell... en...,” igau edward. edward memejamkan mata, mencoba menahan rasa sakit.

Aku tidak boleh mati! tekadnya dalam hati. Tidak se­ belum aku memberitahu Ellen tentang Profesor Martin.

Dengan tersengal-sengal edward mencoba menulis pesan kematian dengan darahnya. Tapi matanya mulai berat. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia tergeletak, tapi waktu seperti berjalan sangat lambat.

Samar-samar dia mendengar suara langkah. Ellen! Apakah Profesor Martin sudah pergi? Apakah Ellen tidak apa­apa?

Pintu kamarnya diketuk. ”ed!” panggil ellen.

Aku harus memberitahu Ellen, batin Edward. Saat penglihatannya menjadi gelap, dia teringat lagi akan janjinya pada bibinya untuk menjauhi bahaya. Maaf­ kan aku, Bibi Kate.

edward mendengar ellen memanggil namanya beberapa kali lalu pelan-pelan membuka pintu dan menjerit. Setelah itu hening. edward tidak bisa mendengar apa-apa lagi.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊