menu

Touché Rosetta Bab 13

Mode Malam
Bab 13
EDWARD membolak-balik halaman buku kuno sambil sarapan di salah satu tempat makan di dekat kampusnya.

Tommaso de’ Cavalieri? tanya edward dalam hati. Aku tak menyangka dia juga seorang touché yang me­ miliki kemampuan sama sepertiku. Mengapa tidak banyak informasi tentang dia selain bahwa dia adalah teman dekat Michelangelo? Perihal kedekatan mereka pun tidak jelas dasarnya. Selama ini ahli sejarah hanya berspekulasi bahwa Michelangelo tertarik pada Tommaso karena pe­ muda itu sangat tampan. Mereka tidak tahu bahwa dua orang itu sangat dekat karena mereka berdua sama­sama seorang touché. Bahkan Giorgio Vasari, orang yang me­ nulis biografi Miche­lange­lo pun tidak tahu te­ntang hal ini.

edward membuka laptopnya. Dari artikel yang dia baca di internet, edward menemukan bahwa Michelangelo bertemu dengan Tommaso pada tahun 1532 lalu keduanya menjalin hubungan pertemanan yang sangat dalam. Beberapa lukisan Michelangelo seperti Cleopatra dan The Dream, kabarnya dibuat dengan Tommaso sebagai inspirasinya. Tommaso adalah pemilik pertama lukisan Cleopatra sebelum kemudian dia sumbangkan ke Cosimo de’ Medici pada tahun 1562. Sekarang lukisan itu bisa dilihat   di Casa Buonarroti.

Saking dekatnya kedua orang itu, Michelangelo beberapa kali mengirim hadiah lukisan untuk Tommaso. Di antaranya Punishment of Titus dan  Rape of Ganymede, tentang laki-laki yang diserang oleh seekor elang. Lalu The Fall of Phaeton, Bacchanal of Children, dan The Dream sendiri, yang menurut beberapa ahli adalah gambaran Tommaso. The Dream bercerita tentang seorang laki-laki muda yang terbangun dari mimpi karena para roh.

Tommaso dan Michelangelo sering bertukar surat berisi puisi, soneta, ataupun madrigal. Dari surat-surat itulah para ahli sejarah berpendapat bahwa hubungan mereka bukan pertemanan biasa, karena salah satu kalimat dalam surat yang dikirim Michelangelo untuk Tommaso berbunyi seperti ini: ”Aku ingin menjadi kain yang menyelubungi tubuh­ mu.”

edward mengangguk-angguk. Di buku kuno yang sekarang dipegangnya, dia beberapa kali menemukan kalimat yang serupa. Sekarang dia paham kenapa Tommaso menulis buku hariannya itu dengan tulisan yang tidak bisa dibaca orang biasa. Dia tidak ingin ada yang tahu sedalam apa perasaan Michelangelo dan dirinya atas satu sama lain.

Telepon genggam edward tiba-tiba berbunyi. ”Ada apa, ellen?” jawabnya.

”Kau sudah menemukannya?” tanya ellen. ”Menemukan apa?”

”Menemukan jawaban atas teka-teki di buku itu,” gerutu ellen. ”Bukankah kemarin kau minta waktu menyendiri untuk mencoba mencari jawabannya?” ”Yah,” desah edward. ”Aku belum menemukan-

nya.”

”Nanti aku ke sana,” kata ellen. ”Ke mana?”

”Ke tempatmu,” jawab ellen. ”Aku sedang menunggu bus.”

”Memangnya kau tahu aku ada di mana?” ”Kalaupun tak tahu, aku bisa menunggu di de-

pan kamarmu,” tukas ellen. ”Kamarmu nomor berapa?”

”Lantai dua nomor 15,” jawab edward. ”Untuk apa kau ke—”

ellen sudah menutup telepon. edward menghela napas. Dia membolak-balik halaman buku kuno itu. Di langit?

edward mendongak dan menatap langit. Ada apa dengan langit?

Dia memejamkan mata lalu menyentuh buku itu lagi, tepat di bagian kalimat teka-teki itu. Apa yang terbaca di pikirannya masih sama.

Di langit, diapit dua keluarga, dari sembilan, setelah bumi dan air dipisah dan sebelum munculnya belahan jiwa. Di situ dengan jelas petunjuk kaum kita kauting­ galkan, bacanya. Ini tidak berhasil. Tapi bagaimana ka­ lau lebih lama lagi.

edward menghela napas. Beritahu aku, Tommaso, apa maksud tulisanmu? Samar-samar yang terlihat oleh edward bukan lagi sebuah tulisan, tetapi gambar buram.

Apa ini? Warnanya cokelat? Altar? Kenapa altar?

Lalu di atas itu...

”Kita bertemu lagi,” sebuah suara mengagetkan Edward.

”Profesor Martin!” seru edward. ”Anda masih di

sini?”

”Kau sepertinya tidak suka melihatku.” Profesor Martin mengerutkan kening.

”Bukan,” sergah edward. ”Hanya terkejut karena saya pikir Anda orang yang sangat sibuk.”

”Karena ada hal yang masih belum terselesaikan di sini,” jawab Profesor Martin. ”Aku mengganggumu?”

edward menggeleng. Profesor Martin tersenyum lalu memesan kopi.

”Apa yang sedang kaubaca?” tanya Profesor Martin. Matanya mengarah ke buku kuno di tangan edward.

”Oh, tidak penting,” jawab edward lalu memasukkan buku itu ke tas.

”Omong-omong, sepertinya kau sedang tertarik pada Michelangelo,” kata Profesor Martin setelah kopi pesanannya datang.

edward menatap curiga. ”Dari mana Profesor tahu?”

”Dari buku-buku yang kulihat bertumpuk di mejamu saat kita bertemu di British Library.”

Oh iya, tentu saja. edward mengangguk-angguk, merasa bodoh.

”Kalian sedang membuat penelitian apa?” tanya Profesor Martin.

”Tentang karya Michelangelo,” jawab edward. ”Yang berhubungan dengan langit.”

”Hah?”

”Itu tugas yang diberikan Profesor fischer,” tambah edward berbohong.

Profesor Martin tampak berpikir sambil bergumam. ”Yang berhubungan dengan langit? Apa yang sedang dipikirkan Gerard?”

Profesor Martin adalah profesor sains, tapi dia sendiri bilang punya ketertarikan pada bidang arkeologi dan artefak kuno, batin edward. Mungkin dia bisa sedikit membantu memperjelas teka­teki itu.

”Patung Atlas Slave?” tanya Profesor Martin. ”Yang berada di Accademia di Belle Arti di firenze. Dalam mitologi Yunani, diceritakan Atlas dihukum memanggul langit, kan?”

edward mengangguk. ”Bisa juga.”

”Atau The Last Judgement? Ada gambar langitnya, kan?”

”Itu juga bisa.”

”The Conversion of Saul, The Crucifixion of St. Peter di Capella Paolina, semua ada gambar langitnya, kan?” berondong Profesor Martin.

Ternyata banyak juga ya,  keluh  edward  dalam hati.

”Atau mungkin yang dimaksud langit di sini bukan langit yang seperti di atas kita sekarang?” tambah Profesor Martin.

edward menggeleng. Memangnya kalau bukan langit yang seperti itu, ada langit apa lag—

Dia menatap Profesor Martin dengan mata terbelalak hingga Profesor itu bingung. Kemudian tanpa ba-bi-bu, edward bergegas mengemasi barangbarangnya. Setelah menaruh beberapa lembar poundsterling di meja, dia pamit pergi.

”Saya baru ingat ada yang harus saya lakukan,” katanya buru-buru, meninggalkan Profesor Martin yang terbengong-bengong. Jadi itu maksudnya altar yang kulihat! edward menjerit dalam hati sambil berlari. Itu adalah kapel! edward lari menuju kamarnya dan langsung membuka laptop. Dia baru sadar ada satu langit lagi yang berhubungan dengan Michelangelo dan memang tidak seperti langit yang dia pikir. Itu langitlangit Kapel Sistine. Michelangelo melukis secara langsung di langit-langit Kapel Sistine—dengan mendongak di atas perancah, tentu saja—dari tahun  1508 hingga 1512, atas perintah Paus Julius II.

Setelah menemukan gambar lukisan di langitlangit Kapel Sistine, edward langsung mencetaknya. Dia kembali membuka buku kuno itu.

”Diapit dua keluarga, dari sembilan, setelah bumi dan air dipisah dan sebelum munculnya belahan jiwa,” edward mengulangi membaca bagian tersebut pelan-pelan.

Keluarga apa yang dimaksud? batinnya sebelum akhirnya memahami bahwa fragmen yang membingkai lukisan itu adalah gambar keluarga.

Pertanyaan pemuda itu berlanjut ke kata-kata ”dari sembilan”.

Sembilan apa yang dimaksud buku itu? Mata edward tertuju pada fragmen-fragmen di tengah lukisan itu. Ia menghitungnya.

”Ada sembilan!” Dia hampir menjerit.

Berarti yang dimaksud ”setelah bumi dan air dipisah dan sebelum munculnya belahan jiwa” adalah fragmen di antara The Separation of Land and Water dan The Creation of Eve, batin edward. Dan setelah melihat lukisan fragmen tersebut, dia tersenyum. Ah, tentu saja... inilah yang dimaksud Tommaso.

edward mengambil handphone. Setelah beberapa nada tunggu, barulah teleponnya diangkat.

”Halo?” jawab suara di seberang.

”Yunus, di mana kau sekarang?” tanya edward. ”Masih di Kapel Sistine, mengamati lukisan The

Last Judgement di dinding altar.”

”Aku sudah berhasil memecahkan teka-tekinya,” lapor edward penuh semangat.

”Benarkah?” Ada nada takjub dalam suara Yunus King.

”Jawabannya bukan berada di dinding Kapel Sistine,” ungkap edward. ”Tapi di langit-langitnya...”

Belum selesai edward meneruskan kalimatnya, dia mendengar pintu kamarnya diketuk. ”Nanti kutelepon lagi,” kata edward lalu mematikan sambungan telepon.

Sambil berjalan menuju pintu, pemuda itu meletakkan handphone di meja. Mengintip dari lubang intai, ia sempat ragu-ragu sesaat. Dari mana orang   itu tahu kamarku? Untuk apa dia ke sini?

”Ada barangmu yang ketinggalan,” teriak suara di balik pintu.

Mendengar suara itu, edward langsung membuka pintu kamar.

”Profesor Martin.”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊