menu

Touché Rosetta Bab 12

Mode Malam
Bab 12
YUNUS KING langsung terbang kembali ke London setelah ellen meneleponnya dan bercerita

tentang Michelangelo. Mereka bertemu di fishers fish and Chips dan memilih meja yang berada di luar. edward bergabung tidak lama kemudian.

”Sungguh mengagumkan kalian bisa menebaknya secepat itu.” Yunus King memuji takjub sambil menggigit kentang goreng.

”Semua karena ingatan ellen.” edward menatap gadis di sebelahnya.

”Dan kepandaian edward,” sambung  ellen. Yunus King mengerutkan kening. ”Sepertinya ada yang kulewatkan. Sejak kapan kalian jadi  sedekat ini hingga saling melempar pujian?”

”Sejak kau mengusirku,” dengus ellen lalu meneguk teh.

”Kau masih marah padaku karena hal itu?” ”Tentu saja,” jawab ellen ketus. ”Lihat, kan?

Akhirnya kau tidak bisa memecahkannya sendirian.”

”Aku melakukannya demi kebaikanmu sendiri,” desah Yunus King. ”Aku takut kalau kau terlalu terlibat, bisa membahayakan nyawamu. Tapi karena sudah sampai di sini, yah sudahlah.”

”Aku bisa menjaga diriku sendiri,” ujar ellen keras kepala.

”Kita kan tidak tahu apa yang diinginkan Mitt Darren.” Yunus King menggeleng. ”Kita bahkan tak tahu siapa dia sebenarnya.”

edward tertegun. Makannya terhenti. ”Mitt Darren?” ulangnya.

ellen dan Yunus King menatap edward lalu mengangguk.

”Siapa dia?” tanya edward.

”Itu nama orang yang terakhir bertemu Papa, pada malam dia meninggal,” jawab ellen, suaranya bergetar.

Yunus King menggenggam tangan ellen. ”Dan pencuri yang mengambil laptop ellen, memesan kamar dengan nama itu.”

edward menelan ludah.

”Kau pernah dengar nama itu juga?” tanya Yunus King.

edward mengangguk. ”Beberapa waktu lalu ada kurir yang mengantarkan paket untukku, dari seseorang bernama Mitt Darren.”

”Lalu apa isinya?” ”Tidak ada.”

”Apa maksudmu ‘tidak ada’?” tanya ellen bingung.

edward mengangkat bahu. ”Kosong. Paketnya tidak ada isinya. Hanya kotak.”

Mereka bertiga pun terdiam. Ada rasa takut yang perlahan menyelimuti mereka. Jika sampai keberadaan edward saja diketahui, sebenarnya sudah sampai mana Mitt Darren tahu?

Yunus King berdeham untuk memecah keheningan. ”Bagaimana dengan puisi terakhir itu?” Ia mengambil laptop dari tas lalu membukanya. ”Di langit, diapit dua keluarga, dari sembilan, setelah bumi dan air dipisah dan sebelum munculnya belahan jiwa. Di situ dengan jelas petunjuk kaum kita kautinggalkan.”

”Tidak begitu jelas apakah yang dimaksud olehnya adalah patung atau lukisan,” kata edward mengangkat bahu.

”Atau lempengan, atau relief,” sahut ellen. ”Michelangelo juga membuat Taddei Tondo, kan? figur ibu dengan dua anaknya. Dua anak itu bisa disebut dua keluarga juga, kan?”

”Semakin dibaca, maksudnya jadi semakin samar,” keluh edward.

”Lalu kata-kata ‘bumi dan air dipisah’ artinya apa?” lanjut Yunus King.

”Apakah maksudnya The Last Judgment di Kapel Sistine?” mata ellen melebar. ”Ada gambar langit, bumi, dan air juga, kan?”

Yunus King memasukkan ”The Last Judgement” ke mesin pencari di internet. ”Mmm... bisa juga.  Tapi mana bagian ‘keluarga’ dan ‘belahan jiwa’?  Dan apa maksudnya ‘sembilan’?”

”Aku tidak merasa ini sebagai petunjuk,” kata edward sambil memperhatikan The Last Judgement dari handphone-nya. ”Bukankah di buku itu juga ditulis ‘hanya orang­orang seperti kita yang langsung menyadari petunjuk yang kautinggalkan’. Jadi seharusnya aku dan Yunus menyadarinya.”

”Tapi bisa juga karena ‘petunjuk’ itu sudah dibuat begitu lama, pesannya tidak secepat itu tersampaikan pada kaum touché beberapa generasi setelahnya seperti kita,” Yunus King menanggapi. Dia menghela napas. ”Mungkin aku perlu terbang ke sana lagi dan mengamatinya langsung.”

”Bukannya kau baru saja ke sana dan mengamati semua karya Michelangelo?” ellen mengerutkan kening.

”Aku hendak ke Kapel Sistine saat kau tiba-tiba menelepon dan menyuruhku kembali ke London,” Yunus King memutar bola mata.

”Sudah, sana pergi!” usir ellen. ”Lalu beritahu kami apa yang kautemukan.”

”Tunggu,” sergah edward sebelum Yunus King beranjak dari kursi. ”Bolehkah aku meminjam buku kuno itu?”

”Untuk apa?”

edward menggaruk-garuk dagu. ”Karena kupikir Tommaso, penulis buku itu, juga seorang touché yang memiliki kemampuan sama sepertiku. Jadi mungkin jika aku menyentuh tulisan di buku itu secara langsung dalam waktu agak lama, aku bisa menangkap pesan yang ingin dia sampaikan.”

”Yang kemarin saat kau menerjemahkannya itu kurang lama ya?” tanya Yunus King.

”Ayolah, Yunus, alasan ed kan masuk akal,” bela ellen.

”Buku ini bisa membahayakan nyawamu,” Yunus King memperingatkan. ”Kau tahu itu, kan? Buku ini bahkan sudah memakan korban.”

”Aku tahu,” jawab edward tegas. ”Aku sudah tahu konsekuensinya.”

”Lalu kenapa kau masih ngotot? Bukankah pada awal pertemuan kita, kau bahkan menolak bekerja sama karena takut nyawamu terancam?”

”Karena sekarang sudah bukan tentang aku lagi,” jawab edward sambil menatap ellen. ”Aku akan melakukan segalanya agar teka-teki ini cepat terungkap.”

Yunus King menghela napas panjang, namun bersedia mengambil buku kuno dari tas dan menyerahkannya pada edward. ”Jaga baik-baik.”

edward mengangguk sungguh-sungguh.

Setelah Yunus King pergi, ellen menatap edward khawatir. ”Apakah tidak apa-apa? Pembunuh Papa sepertinya sudah tahu tentangmu.”

edward tersenyum kemudian menggenggam tangan ellen, mencoba menenangkan. ”Aku bisa sedikit bela diri.”

ellen tersenyum, tapi rasa takutnya masih belum pergi.

Dua wanita tua tiba-tiba menghampiri meja mereka saat edward melanjutkan makan. Kedua wanita itu berwajah Asia dan mengatakan sesuatu dengan terbata-bata, yang terdengar seperti ”Nihon?”

”Sepertinya mereka mengira kita bisa bahasa Jepang,” kata ellen.

”Kau tidak bisa? Bukannya waktu itu kau bisa membaca kanji Jepang?” tanya edward heran.

”Aku hanya pernah membaca kamusnya,” jelas ellen.

”Punya pensil?” tanya edward.

”Tidak, tapi sepertinya restoran ini punya,” kata ellen. Tanpa disuruh dia berinisiatif meminjam pensil dari pelayan restoran.

edward menyerahkan pensil tersebut kepada salah satu wanita itu. Dengan isyarat tubuh, dia meminta wanita itu menuliskan pertanyaannya di tisu makan. Wanita itu mengerti.

Setelah wanita itu selesai menulis, edward mengambil tisu itu dan meraba tulisan di atasnya. Seketika dia mengangguk paham. Dengan masih menggunakan bahasa tangan, dia memberi  petunjuk mengenai arah jalan menuju tempat yang dimaksud kedua wanita itu.

Kedua wanita itu tampak sangat berterima kasih kepada edward. Mereka bergantian menjabat tangan pemuda itu. ellen tersenyum melihatnya.

”Apa yang mereka tanyakan?” tanya ellen ingin tahu, begitu mereka pergi.

”Mereka hanya ingin tahu arah ke Double Tree Hotel.” edward menjawab sambil berkemas.

”Kau mau ke mana?”

edward berpikir sebentar. ”Pulang.”

”Tapi kau baru saja tiba beberapa jam lalu.” edward menatap ellen. ”Memangnya kau mau

mengajakku ke mana?”

ellen terkejut mendengar pertanyaan edward. Dia tidak bisa menutupi rasa malunya. Wajahnya merah. ”Tidak ada,” jawabnya ketus. ”Kupikir kau mau ke British Library.” ”Tadinya aku juga berpikir begitu,” edward mengangguk-angguk. ”Tapi sepertinya aku lebih bisa memahami tulisan Tommaso jika sendirian.”

ellen tampak kecewa. ”Terserah kau saja.”

*  * *

”Bahwa beberapa tahun sebelum kita bertemu, kau sudah meninggalkan petunjuk yang memberi pesan pada orang­ orang ratusan tahun mendatang bahwa kau memiliki kemampuan dari sentuhan. Aku tidak tahu apakah ini ber­ bahaya, tapi kau sudah melakukannya. Aku sudah meli­ hatnya,” edward membaca tulisan di buku kuno itu saat berada di bus menuju Oxford. Tatapannya menerawang. Pesan apa yang ditinggalkan Michelangelo? Benarkah The Last Judgement? Apa yang tersirat dari The Last Judgement yang memberikan tanda adanya kaum touché?

Lalu siapa se­be­narnya Mitt Darre­n? Be­narkah dia yang membunuh Profesor Hamilton? batin edward. Lalu un­ tuk apa dia mengirimiku paket kosong? Dan ada perasaan yang masih mengganjalku, tapi aku tak tahu apa itu.

Pemuda itu membolak-balik halaman buku kuno itu, mencari tahu apa sebenarnya yang diinginkan Mitt Darren. Kenapa dia juga menginginkan petunjuk tentang keberadaan kaum touché? Apakah dia juga salah satu kaum touché? Sebenarnya apa persisnya yang dia inginkan?

Tapi kata-kata paling penting di buku itu sebenarnya adalah ”Lalu di surat terakhirmu, kau bilang kau sudah menulis semuanya dalam sebuah dokumen. Ten­ tang bukti­bukti keberadaan kaum kita. Buku yang kau tulis bersama rivalmu.” Ada dokumen lain yang ditulis Michelangelo dan da Vinci tentang kaum touché. Sayangnya buku ini tidak memberi petunjuk tentang tempat penyimpanan dokumen itu.

Tunggu, edward menegakkan punggung. Mungkin kalimat ”Di langit, diapit dua keluarga, dari sembilan, setelah bumi dan air dipisah dan sebelum munculnya be­ lahan jiwa” bukan hanya memberi petunjuk tentang ke­ beradaan kaum touché, tapi juga tempat dokumen itu disembunyikan.

edward merasa ada energi sangat kuat menusuk punggungnya. Ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang. edward menelan ludah lalu pelan-pelan menoleh. Ada banyak orang di bus itu, dia tidak bisa memastikan siapa yang memperhatikannya dari tadi. Sesampainya di Oxford, edward segera turun dari bus dan berjalan cepat. Dia bisa mendengar suara langkah di belakangnya ikut dipercepat, lalu tibatiba seseorang menarik tasnya dengan keras hingga edward hampir terpelanting.

”HeI!” edward berteriak sambil berusaha mengembalikan keseimbangan.

Setelahnya ia berlari mengejar si penjambret tasnya. Buku kuno itu ada di dalam tas. Hidup atau mati, dia harus mendapatkan kembali tas itu.

”PeNCURI!” teriak edward, berusaha mendapatkan perhatian orang-orang.

Si penjambret sangat gesit, tidak ada yang berhasil menghalanginya. Dia bisa meliak-liuk di antara orang-orang yang berlalu-lalang di jalan. Tapi edward tidak kalah gesit. Kini dia hanya beberapa meter di belakang penjambret itu.

Dengan kekuatan yang ada, edward menambah kecepatan larinya. Dia merentangkan tangan, berusaha keras menggapai kerah baju si penjambret. Saat akhirnya berhasil mencengkeram kerahnya, edward sekuat tenaga membantingnya ke tanah hingga si penjambret mengerang. ”Siapa yang menyuruhmu?” tanya edward, menindih si penjambret.

Penjambret itu terbatuk-batuk, tidak bisa menjawab. Orang-orang berkerumun di sekitar edward dan penjambret. Salah seorang memanggil polisi yang sedang berpatroli. Ketika polisi datang, edward masih berusaha mencari tahu siapa yang menyuruh penjambret itu mencuri tasnya.

”Tidak ada yang menyuruhku,” jawab penjambret itu saat tangannya diborgol.

”Apakah Mitt Darren yang menyuruhmu?” edward masih tak percaya.

Penjambret itu tampak bingung. ”Siapa  itu?” ”Dia penjambret lama, Nak,” kata salah satu

polisi. ”Dia sudah sering melakukan ini dan selalu mahasiswa yang menjadi korbannya. Kau sudah mendapatkan tasmu kembali, kan?”

edward mengangguk. Dia segera mengecek isinya lalu menghela napas lega saat melihat buku kuno masih ada di dalamnya. Mungkin dia hanya terlalu paranoid.

”Kau harus ikut ke kantor polisi,” kata polisi itu lagi, ”untuk memberi keterangan.” ”Ya,” jawab edward, berjalan mengikuti si  po lisi.

Tentu saja di kantor polisi, sekali lagi penjambret itu diinterogasi. Dia masih memberikan jawaban yang sama bahwa dia belum pernah mendengar sama sekali nama Mitt Darren. Dia menjadikan edward sebagai sasaran karena edward tampak linglung dan tidak fokus. Dia tidak berharap ada barang berharga dalam tas edward.

”Tapi setidaknya pasti ada barang yang bisa dijual untuk dijadikan uang,” jelas penjambret itu.

edward termangu sambil berjalan keluar kantor polisi. Dia terlalu khawatir. Dalam perjalanan pulang kembali ke flatnya, dia tidak sengaja bertemu Profesor fischer yang duduk di bangku taman sambil membaca koran. Profesor fischer melambai dan edward pun menghampirinya.

”Dari mana kau?”  tanya  Profesor  fischer. edward duduk di sebelahnya. ”Jalan-jalan. Anda

sendiri kenapa tidak ke British Museum?”

”Aku merindukanmu,” Profesor fischer bergumam sambil melipat koran.

”Maksud Anda, merindukan kemampuan saya?” ralat edward. ”Ada manuskrip yang harus diterjemahkan artinya?”

Profesor fischer terkekeh. ”Kau sudah sangat mengenalku.”

edward nyengir.

”Jadi kapan kau akan kembali bekerja?” lanjut si Profesor.

edward mengangkat bahu. ”Saya masih sibuk.” Profesor fischer mengerutkan kening. ”Sibuk apa?

Pasti bayarannya besar sekali ya?”

edward menggeleng. ”Hanya saja gadis itu—” ”Oooh...,” potong Profesor fischer sambil meng-

angguk-angguk seolah paham. ”Memang sudah waktunya kau memikirkan hal selain uang.”

”Sepertinya Anda salah paham, tapi yah, sudahlah,” kata edward lalu menyandarkan punggung ke bangku taman.

Profesor fischer hanya tersenyum.

”Ada yang menarik di koran hari ini?” tanya edward.

Profesor fischer menggeleng. ”Masih tentang Brexit dan segala kekacauannya. Walau tidak masuk berita utama, aku tertarik mengikuti pembunuhan berantai di Amerika. Sampai saat ini pelakunya masih belum tertangkap. Anehnya, tidak ada korban lagi sejak sekitar tiga-empat minggu lalu.”

”Kenapa Profesor tertarik?”

”Karena aku berpikir jangan-jangan pembunuhnya pindah ke Inggris,” jawab Profesor fischer. ”Dan dia memulai terornya dengan membunuh Leonidas.”

edward memutar bola matanya. ”Jack the Ripper bagian dua?”

”Siapa tahu...?”

Hening lagi di antara mereka. ”Prof...”

”Mm?”

”Menurut Anda, kemampuan seperti yang saya miliki ini sebaiknya disembunyikan atau tidak?”

Profesor fischer menggaruk-garuk dagu. ”Untuk kepentingan pribadiku sih sebaiknya disembunyikan.”

edward mendengus. Profesor fischer tertawa.

”Jika ternyata ada bukti tertulis atau apalah yang bisa menunjukkan keberadaan orang-orang seperti saya tapi belum ditemukan,” lanjut edward, ”kirakira siapa yang berkepentingan untuk menemukannya?”

Profesor fischer menatap edward, heran. ”Kau sedang menulis novel?”

edward mengangguk. ”Siapa tahu laku. Jadi pada suatu hari ditemukan sebuah buku kuno tentang keberadaan suatu kaum.”

”Kaum apa?” tanya Profesor fischer.

edward mengangkat bahu. ”Kaum berkemampuan khusus.”

”Bukan perkumpulan rahasia seperti freemason?” ”Itu juga boleh,” sahut edward. ”Kemudian tibatiba saja banyak yang berusaha mendapatkan buku

itu. Kira-kira untuk apa ya, Profesor?” Profesor fischer tampak berpikir keras.

”Oh, aku punya plot cerita yang bagus,” kata Profesor fischer kemudian.

edward menegakkan punggungnya lagi. ”Manusia itu pada dasarnya takut pada hal yang

tak mereka pahami,” Profesor fischer mulai menjelaskan. ”Seperti hantu, alien, atau kemampuan seper ti milikmu. Dengan ditemukannya bukti keberadaan orang-orang  sepertimu,  mereka  akan menganggap kalian musuh yang harus dilenyapkan dari muka bumi. Mereka akan berusaha mendeteksi keberadaan kalian, lalu memburu satu per satu, hingga tak ter­ sisa satu orang pun.”

Edward menelan ludah. Seperti film Jumper. ”Bagaimana? Ide bagus, kan?” tanya Profesor

Fischer dengan mata berbinar.

”Berarti yang punya kepentingan atas buku itu adalah kelompok yang ingin melenyapkan orang­ orang dengan kemampuan seperti saya?”

Profesor Fischer mengangguk, kemudian tertawa. ”Jangan tiba­tiba pucat seperti itu. Ini kan hanya ide novel.”

Edward memaksakan diri untuk tersenyum. ”Pro­ fesor benar.”

”Jadi bagaimana? Kapan kau akan kembali ke British Museum?” tanya Profesor Fischer lagi.

”Setelah ini selesai,” jawab Edward.

Profesor Fischer mengerutkan kening. ”Ini yang mana? Urusanmu dengan gadis yang kau sebut tadi atau penulisan novel ini?”

Edward mendongak, menatap langit. Profesor Fischer masih sabar menunggu jawabannya.

”Dua­duanya,” kata Edward. ”Karena saya belum tahu penutupnya. Saya harus tahu bagaimana akhir cerita novel itu.”

Profesor Fischer menghela napas. ”Baiklah.”

Lalu tak ada satu pun dari mereka yang bicara.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊