menu

Touché Rosetta Bab 11

Mode Malam
Bab 11
ORANG biasa memang tidak mungkin bisa membuat patung yang tubuhnya mirip manusia. Letak tulang dan otot tubuhnya membuat takjub banyak orang, termasuk diriku.

Kata-kata itu memenuhi kepala Yunus King saat memandangi patung Bacchus di Museo Nazionale del Bargello. Bacchus adalah dewa anggur berdasarkan mitologi Yunani. Michelangelo menggambarkannya dengan posisi seperti orang mabuk yang memegang cangkir. Di belakangnya diperlihatkan faun—makhluk mitologi setengah manusia setengah kambing—sedang menikmati anggur. Anatomi tubuh yang sangat sempurna untuk patung. Seperti manusia yang dilumuri semen.

Giambologna juga membuat patung Bacchus dari perunggu, yang kemudian ditempatkan di air terjun di Borgo San Jacopo. Tapi dia menggambarkan  dewa anggur itu sedang mengangkat cangkir dengan tangan kanannya dan menggenggam apa yang tampak seperti anggur dengan tangan kirinya. Tubuhnya lebih ramping jika dibandingkan dengan buatan Michelangelo.

Jika memang orang yang dimaksud dalam buku itu adalah Michelangelo, siapa penulis buku itu? Bagaimana menghubungkannya dengan semua informasi yang ada? Yunus King bertanya-tanya dalam hati. Terutama lagi, petunjuk besar apa yang ditinggalkan Michelangelo? 

Yunus King mengambil buku kuno dari sakunya dan membaca bagian terakhir dalam hati. Aku sudah melihat mahakaryamu yang begitu sempurna yang kau buat dua puluh delapan tahun sebelum kau lari ke Roma. Kau bilang, kesempurnaan itu hanya bisa didapat dengan bantuan kemampuanmu itu.

”Dua puluh delapan tahun sebelum lari ke Roma?” gumam Yunus King. Dari internet, Yunus King mendapat informasi bahwa Bacchus adalah satu dari dua patung yang bertahan yang merupakan karya Michelangelo dalam periode pertamanya di Roma—satunya lagi adalah Pieta.

Namun Yunus King tidak mau mengambil kesimpulan terburu-buru. Ia memutuskan baru akan membuat kesimpulan setelah melihat semua karya Michelangelo.

”Setelah ini mau diantar ke mana, Tuan King?” tanya Allan.

”Basilika St. Peter.” Yunus King menjawab sambil masuk ke mobil.

”Kalau Anda tidak keberatan, bolehkah saya bertanya?” kata Allan dalam perjalanan ke St. Peter.

”Tanyakan saja, Allan.”

”Apa yang mau Anda cari di St. Peter?” ”Patung,” jawab Yunus King lugas.

Allan mengangguk-angguk. ”Memang banyak sekali patung bagus di St. Peter. Anda tidak akan kecewa. Saya paling suka patung St. Longinus buatan Bernini dan St. Veronica buatan francesco Mochi.”

”Aku tahu. Aku sudah beberapa kali ke St. Peter, walau tidak terlalu memperhatikan saat itu,” keluh Yunus King. ”Kali ini yang ingin kulihat cuma satu patung.”

”Cuma satu patung?” ulang Allan tak percaya. ”Patung apa?”

”Pieta buatan Michelangelo.”

Selesai berkata seperti itu, telepon Yunus King berbunyi. Tanda pesan masuk.

Yunus King membacanya. Dari edward. Hanya satu kalimat: Patung buatan siapa yang anatominya pa­ ling mendekati anatomi manusia?

edward tahu Yunus King sedang berada di florensia dan sepertinya menduga laki-laki itu sudah melihat karya kedua orang yang sedang mereka selidiki.

Yunus King tersenyum lalu berpikir sejenak. Dia mengingat semua patung buatan Giambologna dan Michelangelo yang sudah dia lihat, lalu mengetikkan jawaban: Michelangelo.

Sent.

*  * *

edward bangkit dari tempat tidur begitu membaca pesan yang dikirim Yunus King. Michelangelo?

edward mengangguk-angguk. Setidaknya jika sudah memiliki tersangka utama, penelusurannya jadi lebih mudah. Kalau salah, berarti kemungkinannya hanya tinggal Giambologna. Walau itu berarti akan butuh waktu lebih lama lagi.

Sudah hampir jam sembilan malam dan edward baru saja kembali dari London, tetapi tidak bisa tidur. Dia ingin cepat menyelesaikan teka-teki itu. Dia agak kesal karena sudah banyak menghabiskan waktu tanpa kemajuan yang berarti.

edward menatap sekeliling kamarnya yang penuh tempelan poster film, mencoba mencari inspirasi, tapi justru terganggu karena merasa ada yang aneh. Ada yang berubah, tapi dia tidak tahu apa. Matanya terhenti di rak buku, tapi kemudian dia menggeleng. Hanya perasaanku.

edward teringat kembali pada ellen. Dia merasa jika tidak segera diselesaikan, nyawa gadis itu akan terancam. Awalnya mungkin hanya laptop yang hilang. Setelah itu siapa yang tahu?

edward berjalan ke meja belajar, membuka coretan terjemahan buku kuno dan mulai menyimak kalimat. ”Aku sudah melihat mahakaryamu yang begitu sempurna yang kau buat dua puluh delapan tahun se­ belum kau lari ke Roma.”

Banyak sekali karya Michelangelo, tapi mana yang di­ sebut sempurna? batin edward. Dia bingung, dari patung mana dia harus memulai: patung Moses, patung David, patung Bacchus, patung Madonna, atau patung yang lain.

Saat kepala pemuda itu mulai pusing, handphonenya berdering. Melihat nama yang tertera di layar, senyumnya merekah.

”Halo?”

”Sedang apa?” tanya ellen.

”Sedang berpikir,” jawab edward. ”Kau sendiri?”

”Baru saja selesai membaca seluruh literatur tentang Giambologna dan Michelangelo,” sahut ellen. ”Kau sedang memikirkan mereka, kan?”

edward spontan mengangguk, tapi kemudian sadar bahwa ellen tidak bisa melihatnya. ”Ya. Aku ingin mulai dengan Michelangelo, sesuai saran Yunus.”

”Yunus?” ulang ellen dengan nada  tak  suka. ”Dia kan pergi ke florensia untuk melihat semua

karya   Giambologna   dan   Michelangelo,”  edward membela diri. ”Jadi pasti dia punya penilaian yang lebih bagus daripada aku, yang hanya bisa melihatnya dari buku atau internet.”

Sejenak tidak ada suara.

”Kau benar,” ellen akhirnya mengakui. ”Lalu apa yang akan kaulakukan?”

”Ingat bagian kalimat ‘Aku sudah melihat mahakarya­ mu yang begitu sempurna yang kau buat dua puluh de­ lapan tahun sebelum kau lari ke Roma’?” tanya edward. ”Aku ingin mulai dari sana. Patung yang dia maksud dibuat dua puluh delapan tahun sebelum dia pergi ke Roma. Tapi aku tidak tahu harus mulai dari patung yang mana.”

”Mmm...,” ellen bergumam.

edward mengetuk-ngetukkan jari ke meja. ”Tapi bagaimana jika... kita tidak memulainya dari mencari patung?”

”Maksudmu?”

”Mulai dari saat dia pergi ke Roma.” edward membuka laptop dengan tangan yang bebas. ”Saat dia pergi ke Roma adalah tahun...”

”Antara tahun 1530-1532,” lanjut ellen, mengingat apa yang dia telah baca.

”Dua puluh delapan tahun sebelumnya berarti 1502-1504,” sahut edward. ”Patung apa yang Michelangelo buat pada tahun itu?”

”David,” jawab ellen. ”Patung David.”

Kurasa aku tidak perlu internet jika sudah ada Ellen dan ingatan eidetik­nya, kata edward dalam hati sambil menutup laptop, lalu menyandarkan punggung ke kursi.

”Berarti yang dimaksud buku itu adalah Michelangelo!” seru ellen girang.

”Sebentar, jangan terburu-buru,” sergah edward, merunut kata-kata di kertas di depannya. ”Kita mulai dari ‘Hari ini adalah hari kelahiranmu’. Benarkah hari itu hari ulang tahun Michelangelo?”

”Masih ada petunjuk selanjutnya,” sahut ellen. ”’Tapi hingga kematianmu tiga minggu lalu.’ Artinya, hari kematiannya adalah tiga minggu sebelum hari kelahirannya.”

”Lalu kapan Michelangelo meninggal?” ”Michelangelo meninggal di Roma tahun 1564

pada usia 88, tiga minggu sebelum ulang tahunnya yang ke-89,” jawab ellen agak tercekat.

edward dan ellen sama-sama terdiam.

”Kau tahu semua hal itu, tapi kenapa butuh waktu lama menyadarinya?” tanya edward heran. ”Aku kan sudah bilang baru saja selesai membaca biografinya. Lagi pula, aku menghafal semua yang kubaca di luar kemauanku walau aku tak memahaminya,” gerutu ellen, kesal karena dipojokkan. ”Aku tidak bisa menyaringnya sesuai kebutuhanku.”

edward menghela napas. ”Kalau begitu kalimat ‘rivalmu yang ternyata juga memiliki kemampuan yang sama, yang sayangnya sudah meninggal terlebih dahulu,’ memang mengacu pada Leonardo da Vinci, yang meninggal lebih dulu darinya?”

”Benar,” kata ellen. ”Dan itu berarti Da Vinci juga seorang touché.”

”Wow!” edward melepas kacamata. Semua kenyataan  itu masih sulit dia percayai. Ini hampir seper­ ti salah satu plot film Robe­rt Langdon campur X-Me­n.

”Sebaiknya kau segera menghubungi Yunus King tentang hal ini,” saran edward.

”Untuk apa? Dia tak membutuhkan kita, kan?” ketus ellen.

”Semakin banyak kepala, akan semakin bagus,” jelas edward. ”Karena masih ada satu teka-teki lagi yang harus dipecahkan. Kau juga ingin ini cepat selesai, kan? Siapa tahu kita bisa menemukan pembunuh ayahmu.” edward bisa mendengar ellen menghela napas. ”Baiklah,” kata ellen akhirnya. ”Kita akan memba-

has teka-teki terakhir itu sekarang juga?”

”Aku akan menemuimu besok,” jawab edward. ”Kepala dan jantungku sudah tidak sanggup menerima kejutan lagi. Kalau bisa, kita bertemu di tempat sarapan.”

”Kenapa harus di tempat sarapan?”

”Kita butuh nutrisi ke otak sebelum mulai berpikir lagi,” tukas edward. ”Dan kau yang harus membayar makanannya.”

”Kenapa aku?” protes ellen.

”Karena aku tak punya uang,” jawab edward. ”Uang muka yang dari dulu kaujanjikan saja belum juga kaukirimkan!”

Terdengar tawa ellen. ”Hei, aku serius!”

”Baiklah. Besok kita bicarakan lagi tentang hal itu,” elak ellen.

”Oh iya, karena kita sudah tahu siapa ‘kau’ yang dimaksud dalam buku itu,” lanjut edward sambil memijit-mijit pangkal hidung, ”kira-kira siapa yang menulis buku itu?” ellen tidak menjawab selama beberapa saat, sepertinya berpikir keras.

”Mungkin petunjuknya ada di soneta dan madrigal di halaman-halaman sebelumnya,” kata gadis itu. ”Ditambah kalimat ‘aku sangat bersyukur diperkenalkan padamu saat musim gugur waktu itu di Roma’. Sejak  lari dari florensia, Michelangelo bekerja di  Macel  de’ Corvi di Roma. Di sana dia bertemu lagi dengan teman lamanya, sesama pematung, Pier Antonio Cecchini. Lewat Cecchini, Michelangelo berkenalan dengan seseorang yang kemudian dia tuliskan hampir tiga ratus soneta dan madrigal. Dalam sejarah, tidak ditulis kapan tepatnya mereka bertemu, tapi kemungkinan besar tahun 1532. Apakah musim gugur? Dari yang aku baca, tidak ada penjelasan tentang itu.”

edward manggut-manggut. ”Siapa nama orang itu?”

”Tommaso de’ Cavalieri.”

”Tommaso...,” ulang edward, ”de’ Cavalieri?” ellen   mengangguk.   ”Tapi  sejarah   tidak pernah

mencatatnya sebagai orang yang memiliki kemampuan  istimewa.  Dia  hanya  dikenal  sebagai  orang yang sangat dekat dengan Michelangelo dan bertukar soneta maupun madrigal.”

”Mungkin karena dia tidak pernah menunjukkannya,” tebak edward. ”Atau merasa tidak ada gunanya menunjukkannya. Mungkin pada zaman itu kemampuan seperti yang dia miliki itu tidak ada gunanya.”

edward menyangga handphone-nya dengan bahu, lalu mengangkat dan mengamati kedua tangannya. ”Aku saja sempat mengira kemampuanku ini tidak ada gunanya.”

”Tapi sekarang tidak lagi, kan?”

edward tertegun mendengar pertanyaan  ellen lalu dia tersenyum. ”Tidak. Tentu saja tidak.”

***

ellen menutup telepon dan tersenyum. Kepalanya masih pusing karena sudah beberapa malam dia hanya tidur sedikit. Waktunya tersita untuk membaca buku-buku dan artikel-artikel di internet tentang Giambologna dan Michelangelo. Sekarang lihatlah! Kamarnya berantakan. Kaleng-kaleng kopi, botolbotol minuman berenergi, serta bungkusan makanan ringan tersebar di penjuru kamar. Dia merebahkan kepalanya di antara buku-buku yang berserakan, mencoba memejamkan mata walau sejenak. Tapi ketika matanya memejam, yang terbayang malah wajah edward. Ada sesuatu dari edward yang melebihi apa yang terlihat mata.

Semula ellen mengira edward hanya laki-laki biasa yang akan melakukan segalanya demi uang. ellen juga awalnya memanfaatkan pemuda itu untuk keuntungannya saja. Tapi semakin lama mengenal edward, ellen bisa melihat ada hal istimewa yang dimiliki pemuda itu, selain kemampuan touchénya.

ellen bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia membuka mata dan memegang dada nya.

Kenapa ini? Kenapa setiap memikirkan Edward jan­ tungku jadi seperti ini? batinnya.

ellen bangkit dan duduk lalu meneguk air putih sebanyak-banyaknya. Dia berdiri lalu mengambil handuk.

Ini pasti karena aku kebanyakan minum kafein.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊