menu

Touché Rosetta Bab 10

Mode Malam
Bab 10
SUDAH lewat jam dua belas malam tapi edward tidak bisa tidur. Dia masih berkutat dengan salinan

buku tua yang ditulis ellen di kertas. Laptop menyala karena sesekali ada yang harus dia cari di internet, berkaitan dengan Michelangelo, Leonardo da Vinci, dan Giambologna.

Tulisan itu menerangkan bahwa ”kau” memiliki rival yang kemudian meninggal lebih dulu. Sejarah mencatat bahwa Michelangelo dan da Vinci adalah rival, tapi bagaimana dengan Giambologna? Siapa tahu ada yang lupa dituliskan sejarah? Siapa tahu justru da Vinci dan Giambologa yang merupakan rival, atau Michelangelo dan Giambologna.

edward menggaruk-garuk kepala.

Tapi tunggu, dia bergegas mengetik sesuatu di laptop.

”Ah!” seru edward tanpa sadar. Da Vinci meninggal tahun 1519, Michelangalo meninggal tahun 1564, dan Giambologna meninggal tahun 1608. Karena da Vinci meninggal lebih dulu daripada dua yang lainnya, dia pasti bukan ”kau”, melainkan sang rival. Michelangalo bisa jadi ”kau” bagi da Vinci, tapi sang rival bagi Giambologna. Giambologna punya kemungkinan menjadi ”kau” karena yang lain meninggal lebih dulu. Berarti kemungkinan siapa ”kau” menyusut menjadi tinggal Michelangelo dan Giambologna.

Tanpa sadar senyum tersungging di bibir edward. Sekarang tinggal mencari siapa di antara dua itu yang merupakan identitas asli ”kau”.

Kenapa tidak terpikir dari tadi? batin edward, merasa sangat bodoh. Jadi tidak ada waktu yang tersia­sia­ kan hanya untuk mempelajari da Vinci.

edward membuka berbagai laman tentang Giambologna dan Michelangelo yang bisa dia dapatkan, dan membacanya. Semakin banyak artikel yang dibaca, pikirannya semakin berat hingga dia mulai mengantuk.

Jam dua pagi dia pun tertidur di atas laptop.

*  * *

ellen bolak-balik melihat ke arah jam tangan. Sudah hampir satu jam berlalu, namun orang yang ditunggunya masih belum tampak juga di lobi hotel. Ketika akhirnya dia melihat edward dengan rambut acak-acakan datang tergopoh-gopoh menemuinya, ellen tersenyum.

”Maafkan, aku terlambat,” kata Edward sambil

mencoba mengatur napas.

”Coba kutebak. Kau ketiduran saat mencari tahu siapa di antara ketiga orang itu yang merupakan ‘kau’,” ujar ellen.

”Bagaimana kau tahu?” tanya edward heran. ”Karena aku juga melakukannya.” ellen bangkit

dari kursi. ”Ayo sarapan.”

Mereka berjalan menuju restoran di hotel, lalu memilih meja yang paling terpencil. edward memesan menu sarapan lengkap, sedangkan ellen hanya menginginkan roti panggang. Tidak lama kemudian pesanan mereka diantar.

”Jadi, kau juga sudah tahu siapa kemungkinan pemilik identitas ‘kau’ di buku itu?” tanya edward setelah meneguk teh hangat.

”Tentu saja.” ellen tersenyum sombong lalu mengiris roti panggang di piringnya. ”Dan aku melakukannya lebih cepat darimu.”

”Oh, ya?” Mata edward menyipit.

”Aku tidak sampai kesiangan,” jawab ellen. edward tertawa. ”Jadi, siapa menurutmu?” ”Michelangelo dan Giambologna,” jawab ellen.

”Karena da Vinci meninggal lebih dulu.” Dia mencondongkan tubuhnya ke arah edward sambil berbisik. ”Benar, kan?”

edward tidak menjawab. Wajahnya datar, tapi ellen tahu pemuda itu kesal.

”Kau kesal?”

”Tentu saja,” gerutu edward. ”Kalau akhirnya kau bisa tahu sendiri, aku jadi tidak bisa meminta tambahan bayaran atas penemuanku.”

ellen memutar bola matanya lalu menegakkan tubuhnya lagi.

”Sekarang kita tinggal mencari tahu, siapa di antara keduanya, orang yang dimaksud di buku tua  itu,” lanjut ellen setelah menyelesaikan sarapan dan membersihkan remah roti di seputar bibirnya.

”Kau tidak berniat mengajak Yunus untuk mendiskusikannya?” tanya edward.

”Nanti saja,” jawab ellen lalu bangkit. ”Mau ke mana kita?”

”Ke kamarku. Kita tidak bisa mendiskusikannya dengan Yunus di sini.”

edward berjalan mengikuti gadis itu. ”Kenapa tidak ke kantornya saja?”

”Kau pikir orang seperti dia akan selalu duduk manis di kantor?”

ellen membuka pintu kamarnya lalu menaruh tas di meja. ”Mau teh?”

edward menggeleng. ”Aku masih kenyang.” Gadis itu mengambil handphone, mulai menelepon

Yunus King menggunakan pengeras suara. Setelah nada tunggu beberapa kali, barulah telepon diangkat.

”Halo?”

”Halo, Yunus?” tanya ellen. ”Sedang di mana kau?”

”Aku? Italia,” jawab Yunus King. ”Tunggu, jangan bilang kau sedang di florensia.” ellen dan edward berpandangan. ”Dan sedang mengamati hasil karya Giambologna dan Michelangelo.”

”Kalau kau sudah lulus kuliah sepertinya kau  bisa bekerja jadi cenayang.”

”Jadi kau juga sudah tahu?” sahut edward. ”Apakah itu suara edward?” tanya Yunus King. ”Aku meneleponmu dengan pengeras suara,” jelas

ellen. ”Sekarang edward sedang bersamaku.”

Terdengar Yunus King menghela napas. ”Aku kan sudah bilang, serahkan sisanya padaku.”

”Bagaimana bisa begitu?” gerutu ellen. ”Bukan ayahmu yang terbunuh gara-gara buku tua itu dan aku tidak yakin kau bisa memecahkannya sendirian.”

”Bukankah aku baru saja membuktikannya bahwa aku bisa?” jawab Yunus King enteng. ”Aku tinggal mencari tahu di antara dua itu, siapa yang dimaksud di dalam buku lewat hasil karya mereka.”

”Dan apa yang sudah kautemukan?” tanya ellen.

Tanpa menjawab pertanyaan ellen, Yunus King langsung memutus sambungan telepon.

”Sialan!” ellen membanting handphone ke lantai yang dialasi karpet tebal. edward menggenggam tangan ellen, membuat gadis itu terkejut dan jantungnya berdegup.

”Jangan khawatir. Kita bisa memecahkannya berdua,” kata edward menenangkan. ”Aku akan berusaha semaksimal mungkin...”

ellen terharu mendengarnya.

”Sesuai yang kau bayar,” sambung edward.

Raut muka ellen langsung berubah masam dan dia melompat ke arah edward, berpura-pura mencekik pemuda itu. ”Dasar!”

edward tertawa renyah.

*  * *

Yunus King memasukkan handphone ke saku baju dan melanjutkan mengamati patung The Rape  of the Sabine Women di Loggia dei Lanzi yang berada di Piazza della Signoria. Patung itu dulu dibuat Giambologna untuk francesco Medici.

Apakah ini patung yang dimaksud di dalam buku? batin Yunus King. Namun Giambologna tidak terkenal akan presisi anatomi tubuh dalam patungnya. Dia terke­ nal karena kesan aksi dan gerakan dalam patungnya.

Pria itu melirik jam tangannya. Berpikir apakah sempat mengunjungi semua hasil karya Giambologna dalam satu hari.

Giambologna, yang juga dikenal dengan Giovanni da Bologna atau Jean Boulogne, merupakan salah satu genius seni di zaman Renaissance, tapi namanya mungkin masih kalah di telinga masyarakat awam jika dibandingkan dengan Michelangelo, Raphael, dan Da Vinci. Dia menetap di florensia, kemudian kemampuannya itu menarik perhatian francesco de Medici. Banyak karya Giambologna yang dibuat atas dasar pesanan francesco de Medici. Salah duanya adalah patung Bacchus, yang sekarang ditempatkan di air mancur Borgo San Jacopo, dan patung Venus yang dibuat untuk ditempatkan di Villa di Castello, yang sekarang bisa dilihat di Villa la Petraia, dekat florensia.

Masih ada lagi patung Samson Slaying a Philistine. Selain itu, masih banyak karyanya yang tersebar di florensia, termasuk patung Hercules and Nessus, patung di Taman Boboli, di Pratolino, di Bargello, dan di pintu perunggu di Katedral Pisa.

Juga masih ada Michelangelo, Yunus King mengeluh dalam hati sambil mengambil handphone-nya kembali. ”Allan, kau sudah makan?” tanyanya pada sopirnya. ”Jika belum, makanlah sampai kenyang. Sepertinya kau harus lembur hari ini.”

”Saya sudah makan, Tuan King,” jawab  Allan. ”Ke mana Anda ingin diantar setelah ini?”

Yunus King berpikir sebentar. ”Apakah kau tahu di mana letak patung Appennino? Di internet hanya dikatakan patung itu diletakkan di taman Villa di Patrolino.”

”Akan saya antarkan Anda ke sana.”

*  * *

edward dan ellen sedang sibuk berkutat dengan riset masing-masing di salah satu sudut British Library ketika seseorang tiba-tiba menghampiri meja mereka lalu berdeham.

ellen mendongak dan melihat Profesor Martin tersenyum. ”Theodore!”

”Berapa kali kubilang agar memanggilku ‘Ted’?” ellen langsung bangkit dan memeluk pria itu. edward hanya mengangguk dan dibalas senyuman

oleh Profesor Martin.

”Kenapa kau belum pulang?” tanya ellen setelah mempersilakan Profesor Martin duduk di kursi kosong di depannya.

Kening Profesor Martin berkerut. ”Kau mengusirku?”

”Oh, tidak!” sergah ellen. ”Maksudku, pemakaman Papa sudah lewat lama sekali dan kau masih di sini? Bukankah ada penelitian yang semestinya tidak bisa kautinggalkan di Amerika?”

Profesor Martin mengedikkan bahu. ”Aku masih ada perlu di sini dan ada asisten yang sangat kupercaya yang bisa menggantikanku di sana.”

”Oh, iya.” ellen menoleh ke arah edward. ”Ini—” ”edward,” potong Profesor Martin. ”Kami sudah kenal. Dia bekerja untuk Gerard, teman mendiang

papamu juga.”

ellen mengangguk-angguk. ”Apa yang membawamu ke sini?”

”Ada literatur yang kucari.”

”Perpustakaan di Amerika tidak cukup lengkap?”

”Ada buku khusus yang hanya bisa ditemukan di perpustakaan ini,” jawab Profesor Martin lalu melihat buku-buku yang bertumpuk di meja. ”Kalian sendiri... mau menyusun disertasi?” ”Kami ada penelitian sendiri,” jawab ellen seadanya.

Profesor Martin membaca judul-judul buku yang dipinjam ellen dan edward. Semuanya berhubungan dengan Giambologna dan Michelangelo.

”Sejak kapan kau tertarik dengan zaman Renaissance, ellen?” tanya Profesor Martin. ”Atau edward yang mengambil buku-buku ini? Kupikir kau hanya tertarik dengan film.”

edward dan ellen berpandangan.

”Ah, itulah penelitiannya,” jawab edward. ”Ini ada hubungannya dengan tugas kuliah saya. ellen menawarkan diri untuk membantu menyelesaikannya.”

”Wow!” Profesor Martin menatap ellen dengan takjub. ”Kau menawarkan diri untuk membantunya? ellen yang keras kepala ini?”

”Aku tidak keras kepala!” protes ellen. Mendengar itu edward langsung terbatuk-batuk,

membuat ellen bertambah kesal.

”Mau bagaimana lagi?” ellen mengangkat bahu. ”Aku kan harus membantu pacarku jika ingin lulus kuliah.”

Batuk edward semakin keras hingga orang-orang di sekitar mereka memberikan tatapan tajam, tanda memaksa mereka untuk tenang.

Profesor Martin membelalak. ”Jadi kalian pacaran?”

ellen mengangguk malu-malu lalu meletakkan tangannya di atas tangan edward.

Profesor Martin tersenyum. ”Kalau begitu,” dia lalu bangkit, ”aku tidak mau mengganggu kalian. Aku permisi dulu.”

ellen dan edward tersenyum sopan, melepaskan Profesor Martin pergi.

”Sejak kapan kita pacaran?” bisik edward setelah Profesor Martin pergi.

”Hanya itu alasan yang terpikirkan olehku agar dia tidak mengganggu kita,” jawab ellen kalem. ”Kalau kau minta tambahan biaya karena status baru tadi, akan kubayar juga.”

edward menggeleng. ”Aku tidak keberatan dan tidak perlu tambahan biaya.”

”Syukurlah.” ellen melepaskan lengan edward lalu melanjutkan membaca buku di hadapannya. ”Aku pikir kau akan marah.”

”Tidak,” ujar edward. ellen tertegun lalu menoleh ke arah edward.

Pemuda itu tampak tersenyum.

*  * *

Di laboratorium Universitas Columbia, seorang lakilaki muda sedang mempelajari salinan laporan forensik kepolisian tentang pembunuhan berantai, yang baru saja dia terima lewat e-mail.

Dia tertegun. Matanya menerawang. Dengan segera dia mengambil telepon.

”Halo. Ya, Hiro?” jawab suara di seberang. ”Sammy, ada yang ingin kutanyakan.”

”Detektif Samuel Hudson,” ralat orang yang dia hubungi.

”Apakah salinan laporan yang kaukirimkan benar?” tanya Hiro, tidak peduli koreksi si pemilik nama.

”Tentu saja benar!” gerutu Detektif Hudson. ”Apa maksudmu? Aku bahkan mengirimkan laporan DNA-nya sesuai yang kau minta. Kau menghina kepolisian kota New York, ya? Kau kan tahu bagaimana kami bekerja.” ”Karena aku tahu bagaimana kalian bekerja, makanya aku menanyakannya,” desah Hiro.

”Bocah kurang ajar!” semprot Detektif Hudson. ”Tidak ada yang tertukar. Itu laporan yang sebenarbenarnya.”

Hiro terdiam.

”Hei, apa yang membuatmu meragukan laporan yang kukirim?” tanya Detektif Hudson.

Hiro tidak menjawab, justru menutup telepon. ”Ini tidak mungkin,” gumamnya.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊