menu

Touché Rosetta Bab 09

Mode Malam
Bab 09
”KeNAPA mereka tidak memperbolehkanku menemuimu?” ellen protes kesal sambil melempar tasnya

ke sofa di ruang kerja Yunus King.

”Mereka hanya menjalankan tugasnya, ellen,” jawab Yunus King kalem. ”Lagi pula, aku memang sedang tidak ingin diganggu.”

”Tapi aku sudah bilang ‘penting’ dan meminta resepsionis di bawah mengatakannya padamu!”

”Mereka tahu apa akibatnya jika menggangguku.” Yunus King menjawab ringan sambil membuat teh. ”Dan bukankah kau tinggal meneleponku? Mau teh?” edward mengangguk, namun ellen masih bersungut-sungut.

”Jadi, apa hal penting yang kalian maksud itu?” tanya Yunus King saat menyerahkan secangkir teh pada edward.

”Kami sudah menerjemahkan semua tulisan di buku itu,” jawab edward setelah berterima kasih.

”Lalu apa isinya? Siapa yang  membuatnya?” ellen mengambil laptop dari tas, langsung mem-

bukanya di meja. ”Itu sebabnya kami ke sini.” ”Sepertinya  kita  harus  menemukan  dulu  siapa

yang menuliskan buku ini,” kata edward. ”Baru kita paham mengapa buku ini diincar.”

Yunus King mengangguk-angguk, membenarkan usul pemuda itu. ”Coba bacakan.”

ellen memutar laptop ke arah Yunus King. ”Baca saja sendiri.”

”Mulai dari mana?” Yunus King menghela napas. ”Semuanya?”

”Mulai dari huruf yang kuwarnai merah,” jawab ellen. ”Kalau bisa, baca dengan suara keras agar edward bisa mendengarnya dan ikut berpikir.”

Yunus King mulai membaca. ”Aku tak pernah me­ ngatakan padamu sebelumnya bahwa aku sangat bersyu­ kur diperkenalkan padamu saat musim gugur waktu itu di Roma. Jika kota Florensia tidak jatuh dan Medici mem­ peroleh kekuasaan, kau tidak akan kemari dan kita tidak akan pernah bertemu. Hari ini adalah hari kelahiranmu dan aku ingin kau tahu sejak pertama melihatmu, aku tahu kita berdua sama. Aku juga tahu kau langsung me­ nyadari itu. Kita memiliki kemampuan yang tidak biasa lewat tangan kita. Aku bisa membaca tulisan apa pun yang kusentuh walaupun tidak pernah kulihat sebelum­ nya, dan kau bisa tahu apa yang ada di dalam tubuh manusia hanya dengan menyentuhnya. Kau bisa tahu letak posisi tulang secara tepat dan semua bagian tubuh manusia yang tak terlihat mata. Itu sebabnya semua karya senimu begitu sempurna.”

Yunus berhenti sejenak, seperti berpikir, lalu melanjutkan membaca. ”Aku sudah melihat mahakaryamu yang begitu sempurna yang kau buat dua puluh delapan tahun sebelum kau lari ke Roma. Kau bilang, kesem­ purnaan itu hanya bisa didapat dengan bantuan kemam­ puanmu itu. Orang biasa memang tidak mungkin mam­ pu membuat patung yang tubuhnya semirip manusia. Letak tulang dan otot tubuhnya, membuat takjub banyak orang, termasuk diriku.

”Lalu kau mengatakan padaku,” lanjut Yunus King, ”bahwa beberapa tahun sebelum kita bertemu, kau sudah meninggalkan petunjuk yang memberi pesan pada orang­ orang ratusan tahun mendatang bahwa kau memiliki ke­ mampuan dari sentuhan. Aku tidak tahu apakah ini ber­ bahaya, tapi kau sudah melakukannya. Aku sudah melihatnya. Sangat indah dan mungkin hanya orang­ orang seperti kita yang langsung menyadari petunjuk yang kautinggalkan.”

Yunus King mendongak. ”Seseorang dari masa lalu sudah meninggalkan tanda bahwa dia kaum touché?”

ellen mengangguk. ”Teruskan membacanya.”

”Di langit,” lanjut Yunus King, ”diapit dua keluar­ ga, dari sembilan, setelah bumi dan air dipisah dan sebe­ lum munculnya belahan jiwa. Di situ dengan jelas petun­ juk kaum kita kautinggalkan.”

Yunus King menelan ludah sebelum kembali meneruskan. ”Lalu di surat terakhirmu, kau bilang kau sudah menulis semuanya dalam sebuah dokumen. Ten­ tang bukti­bukti keberadaan kaum kita. Buku yang kau­ tulis bersama rivalmu, yang ternyata juga memiliki ke­ mampuan yang sama, yang sayangnya sudah meninggal terlebih dahulu. Kau bilang kau akan menerbitkan buku itu jika sudah waktunya dunia tahu tentang keberadaan orang­orang seperti kita. Tapi hingga kematianmu tiga minggu lalu, kau masih belum juga menerbitkannya. Mungkin akhirnya kau pikir beginilah sebaiknya. Dunia tidak perlu tahu, agar orang seperti kita bisa tetap hidup bagai orang biasa. Kau pasti menyadari betapa beratnya menjadi orang yang berbeda.

”Akhirnya aku hanya bisa menuliskannya di sini, tan­ pa pernah bisa mengirimkannya karena kau sudah berada  di dunia berbeda.” Yunus King sudah sampai di paragraf terakhir. ”Suatu saat nanti aku yakin akan ada yang menyadari tanda yang kautinggalkan, dan semoga itu baik bagi kaum seperti kita. Sampai saat itu tiba, te­ nanglah di sana. Anggap kau telah melakukan hal besar dan benar.”

Yunus King menghela napas panjang dan suasana menjadi hening.

”Jadi ternyata ada tanda keberadaan kaum touché yang ditinggalkan oleh entah siapa ini,” edward membuka suara. ”Petunjuk atas tanda itu ada dalam kata-kata ‘di langit, diapit dua keluarga, dari sembilan, setelah bumi dan air dipisah dan sebelum munculnya belahan jiwa’.”

”Selain itu ternyata masih ada dokumen lain yang ditulis rivalnya,” sambung ellen. ”Dan disimpan entah di mana.”

”Ini seperti mencoba memecahkan Da Vinci Code.” edward meneguk teh. ”Sayangnya aku bukan Robert Langdon.”

”Yang pertama harus dilakukan,” Yunus King bangkit dari duduk lalu berjalan menuju meja kerja, ”kita temukan dulu siapa penulis buku itu. Dengan begitu kita bisa menemukan siapa ‘kau’ yang dimaksud. Setelah tahu siapa ‘kau’, kita bisa memecahkan petunjuk tentang tandanya.”

”Bagaimana menemukannya?”  tanya  ellen. Yunus King duduk kembali. ”Pulanglah. Istirahat-

lah dulu.”

”Apa?” ellen langsung bangkit. ”Atau kau mau menginap di sini?”

”Kalau begitu aku akan diskusikan sendiri dengan ed!” ellen berkata gemas sambil cepat-cepat mengemasi barangnya.

”Terserah kau saja, tapi tinggalkan laptop itu dan bukunya di sini,” sergah Yunus King saat ellen hendak mengambil laptopnya. ”Kedua benda itu milikku.”

”Bagaimana kalau aku menolak?” tantang ellen. ”Jangan memaksaku menggunakan kekerasan,” balas Yunus King. ”Aku memang tidak akan menyentuhmu secara langsung, tapi bisa meminta orang lain melakukannya dengan paksa.”

Raut wajah ellen berubah. Dia tampak sangat terkejut dengan perubahan sikap Yunus King.

”Aku akan mengganti laptopnya.” Akhirnya ellen berkata sambil meletakkan buku yang dimaksud di meja.

”Aku tidak mau. Dan bukankah kau sudah hafal isinya?” Yunus King menatap gadis itu, serius.

”Kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini?” tanya edward, heran dengan perubahan sikap Yunus King.

Yunus King mengalihkan tatapan pada edward. ”Ini untuk kebaikan ellen sendiri.”

”Terserah!” ellen mengambil tasnya lalu berjalan keluar dengan kesal. ”Ayo, ed!”

edward mengikuti gadis itu tepat di belakangnya.

*  * * Yunus King mengetuk-ngetukkan jari di meja. Dia masih diselimuti rasa bersalah atas kematian Profesor Hamilton. Pikiran bahwa Profesor Hamilton meninggal akibat buku hijau miliknya, tidak pernah pergi dari pikirannya.

Dengan begini, kurasa nyawa Ellen dan Edward tidak akan terancam lagi. Akan kupikirkan semuanya sendiri. Aku tidak mau melibatkan mereka lebih jauh lagi.

Yunus King mulai membaca ulang tulisan di layar laptop di depannya. Ada beberapa petunjuk yang tampaknya bisa membantu menemukan identitas si pemilik buku. Ada florensia, Roma, dan Medici.  Dan ”kau” di tulisan ini bisa dipastikan orang yang bergerak di bidang seni. Dia telah membuat patung yang sepertinya memiliki presisi anatomi tubuh yang sempurna.

Ada banyak sekali pematung yang hidup di Florensia dan Roma, batin Yunus King. Jika melihat ini adalah zaman Medici berkuasa, berarti ”kau” adalah genius seni zaman Renaissance. Kemungkinannya tetap saja banyak. ”Ada petunjuk apa lagi?” gumam Yunus King, kepada dirinya sendiri. Dia menulis ulang petunjuk-

petunjuknya:

”Kau” dari Florensia. Medici berkuasa.

”Kau” lari ke Roma.

”Kau” bertemu X pada musim gugur.

”Kau” membuat patung 28 tahun sebelumnya.

”Kau” memiliki rival.

Rival ”kau” meninggal lebih dulu.

”Kau” meninggal tiga minggu sebelum hari ulang tahunnya.

Yunus King berhenti dan menghela napas. Ini  akan menjadi hari yang panjang. Kemudian dia mengambil gagang telepon dan menelepon sekretarisnya. ”Miriam,” katanya. ”Besok aku mau pergi ke florensia, Italia. Tolong urus transportasi dan akomodasinya.”

*  * *

ellen membuka pintu kamar hotel. ”Kita bahas di sini saja. Kamu mau minum apa?”

”Apa saja,” jawab edward yang sudah duduk di lantai.

ellen membuka pintu lemari es, mengambil dua kaleng soda, lalu menyerahkan salah satunya pada edward.

”Bagaimana caranya kita diskusi kalau laptopnya tidak ada?” tanya edward. ”Kalau hanya kau yang ingat, percuma saja aku di sini.”

ellen mengambil notes hotel, lalu mulai menulis. ”Akan kutulis ulang bagian yang penting itu.”

”Apa kau yakin cuma bagian ini yang  penting dan ada petunjuknya?” tanya edward.

ellen mengangguk. ”Sisanya hanya pujian-pujian dan penggambaran kota Roma dan florensia.”

Setelah selesai menulis semuanya, ellen menyodorkan notes itu pada edward.

”Sepertinya daripada mencari tahu siapa penulis buku itu,” kata edward dengan mata masih mendalami tulisan ellen, ”lebih mudah mencari identitas ‘kau’ dengan petunjuk sebanyak ini. Oh iya, bukankah kau punya eidetic memory? Seharusnya mudah bagimu memecahkannya.”

ellen memutar bola matanya. ”Ya, jika aku sudah membaca semua buku di dunia.”

”Kalau begitu kita mulai dengan Medici saja,” desah edward. ”Kau pernah membaca tentang Dinasti Medici? Tahun berapa keluarga mereka berkuasa?” ”Medici mulai disebut di dokumen pada tahun 1230,” jawab ellen. ”Dan mereka berkuasa dari  akhir abad 14 hingga 18. Dalam kurun empat abad itu, mereka pernah jatuh-bangun juga.”

edward mengangguk-angguk. ”Sekarang kita tinggal mencari tahu nama-nama orang terkenal di bidang seni dari akhir abad 14 hingga 18.”

ellen menarik napas panjang. ”Brunelleschi, Ghiberti, Masolino, Nanni di Banco, Donatello, fra Angelico, Uccello, Masaccio, filippo Lippi, Piero della francesca, Andrea del Castagno, Gentil—”

”Tunggu! Tunggu!” potong edward, tak menyangka akan sebanyak itu. ”Bagaimana kalau dipersempit menjadi orang terkenal di bidang seni dari akhir abad 14 sampai dengan 18, serta pernah tinggal di florensia dan Roma?”

”Baiklah,” ellen mengangguk. ”Masolino, fra Angelico, Botticelli, Perugino, Ghirlandaio, Giovanni Bellini, Leonardo da Vinci, filippino Lippi, Michelangelo, Raphael, Giambologna, Parmigiani...” ”Rasanya aku mau muntah,” keluh edward lalu merebahkan tubuhnya. ”Tak kusangka akan seberat ini. Aku tak mau melakukannya dengan gratis, jadi

tolong segera transfer uang mukanya.” ellen tertawa. *  * *

Sudah hampir jam sepuluh malam dan mereka sudah menyaring nama-nama tersebut menjadi tinggal tiga berdasarkan petunjuk bahwa ”kau” adalah pematung. Tiga nama itu adalah Leonardo da Vinci, Michelangelo, dan Giambologna. Membaca literatur tentang ketiga nama besar itu tidak bisa dilakukan dalam waktu semalam. ellen dan edward sudah kelelahan, padahal baru sampai mempelajari Leonardo da Vinci.

”Aku mulai merasa ini seperti plot salah satu novel Dan Brown.” ellen berkata sambil makan sandwich yang mereka pesan dari layanan kamar hotel.

”Atau plot film National Treasure,” timpal edward. ”Kalau saja teka-teki ini berujung pada penemuan harta karun.”

”Oh iya, sepertinya kau sudah harus pulang. Kita lanjutkan besok saja.”

ellen terdiam sejenak, tapi kemudian berkata, ”eh, apa kau tidak mau menginap di sini saja?” ellen bertanya sambil membersihkan sofa. ”Aku punya dua selimut.” ”Boleh, tapi aku yang tidur di tempat tidur dan kau yang tidur di sofa,” jawab edward asal lalu mengemasi barang-barangnya.

”enak saja. Kan aku yang memesan kamar ini,” elak ellen.

”Tapi kau yang memintaku tidur di sini,” balas edward. ”Kalau kau mau aku tidur di sofa, ada tambahan biayanya.”

ellen sebenarnya agak berat membiarkan edward pergi, namun tidak bisa memaksanya juga. Dia merasa ingin ditemani malam itu.

”Tapi,” edward menghentikan langkah, ”jika kau takut sendirian, aku bisa menemanimu...”

ellen tertegun.

”Dengan tambahan biaya,” lanjut edward. ”Sudah, sana keluar!” usir ellen.

edward tersenyum lalu membuka pintu. ”Aku akan ke sini besok pagi.”

ellen mengangguk.

”Atau di British Library saja seperti biasanya?” ”Di sini saja supaya kita bisa sarapan dulu,” ja-

wab ellen.

”Ide bagus.” edward mengangguk. ”Setidaknya aku tidak perlu keluar uang untuk membeli makanan.”

”Pernahkah di pikiranmu tidak terlintas sama sekali hal yang tidak berhubungan dengan uang?” desah ellen.

edward berpikir sebentar. ”Aku baru sadar dua hari ini ada hal lain yang mengganggu pikiranku selain uang.”

”Oh, ya?” ellen mengangkat alis, takjub. ”Apa?” edward mengerutkan kening. ”Touché, buku tua

itu, dan...”

”Dan?” ulang ellen cepat,  penuh  rasa  ingin  tahu.

edward menatap ellen lalu tersenyum. ”Dan apa?” tanya ellen penasaran.

”Mau bayar berapa untuk mendapatkan jawabannya?” edward meringis.

”Oke, selamat malam dan hati-hati di jalan,” dengus ellen lalu menutup pintu kamar.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊