menu

Touché Rosetta Bab 08

Mode Malam
Bab 08
”ELLeN,” panggil Yunus King begitu sampai di kantor polisi dan langsung memeluk ellen. ”Kau tak

apa-apa?”

ellen menggeleng. ”Hanya laptopnya yang hilang, diriku tak apa-apa. Polisi sudah mendapatkan identitas pelaku dari rekaman CCTV dan sedang bergerak mencarinya. Ternyata dia residivis. Kalau tidak salah namanya Martin Owen. Jadi sepertinya akan mudah menemukannya.”

”Residivis? Kau sudah melihat CCTV-nya?” tanya Yunus. ”Ya,” jawab ellen. ”Aku belum pernah melihat wajahnya.”

Yunus King menghampiri salah satu polisi yang ada di situ, memintanya untuk menunjukkan rekaman CCTV dari hotel tempat ellen menginap. Awalnya sang polisi menolak, tapi setelah Yunus King menghubungkannya dengan Komisaris Polisi lewat telepon, polisi itu langsung mengarahkan Yunus King ke ruangan lain.

”Tunggu di sini,” perintah Yunus King pada ellen sebelum dia pergi mengikuti polisi itu.

Pelaku pencurian laptop itu memang tampak profesional. Semuanya dia lakukan dalam waktu kurang dari lima menit, tanpa kesan mencurigakan sedikit pun. Dari wajah pelaku yang tampak asing, berbagai pertanyaan muncul: Apakah ini pencurian biasa atau terencana? Jika terencana, bagaimana si pencuri bisa tahu di kamar mana ellen menginap? Apa motifnya?

”Ada peta London di sini?” tanya Yunus King.

Polisi yang mengantarnya menunjuk ke dinding di belakang Yunus King. Peta London terbentang di sana. Yunus King sudah melihat wajah pelaku, jadi mudah baginya mencari jejak laki-laki itu dengan kemampuan touché yang dimilikinya.

Yunus King mulai meraba peta sambil memejamkan mata. Polisi-polisi di ruangan itu hanya bertatapan heran.

Ah, ketemu, Yunus King membuka mata. Dia di Frederick Street. Tapi kenapa tidak bergerak? Apakah dia sudah mati?

Yunus King kembali menemui ellen. Wajahnya muram. ”Sepertinya si pelaku sudah mati.”

”Benarkah?” tanya ellen terkejut. ”Kita tunggu saja,” kata Yunus King.

Dua jam kemudian sekelompok polisi datang dan langsung menemui ellen. Ketika melihat Yunus King, salah satu dari polisi itu langsung menyodorkan tangan.

”Tuan King, saya Henry David,” polisi itu memperkenalkan diri. ”Saya detektif yang menangani kasus Nona Hamilton. Saya sudah mendapat telepon dari Komisaris.”

Yunus King mengangguk. ”Apakah pelakunya sudah tertangkap?”

”Nama pelaku Martin Owen.” Detektif David menggaruk-garuk dagu. ”Kami sudah menemukannya. Hanya saja...”

”Hanya saja?” ulang ellen.

”Dia sudah dalam keadaan tak bernyawa dengan luka tembak di kepala,” jawab Detektif David. ”Kami tidak menemukan laptop Anda, kemungkinan dibawa orang yang menembaknya. Kasus ini akan kami dalami lebih lanjut karena sudah berkembang dari pencurian biasa ke pembunuhan.”

”Jadi dia memang mengincarku?” tanya ellen. ”Kami masih belum tahu tentang hal itu.” Detek-

tif David menggeleng. ”Apakah ini hanya pencurian acak, atau Anda memang diincar. Ada file­ penting di laptop tersebut?”

ellen terdiam sesaat. ”Aku masih bisa menuliskannya lagi sih, karena mengingat semuanya. foto dan materi kuliah juga sudah aku cadangkan. Tapi...”

”Satu pertanyaan lagi,” Yunus menyela. ”Bagaimana Martin si pencuri bisa mengelabui keamanan hotel dan masuk ke lantai sembilan?”

”Dia memang menginap di hotel itu,” jawab Detektif David. ”Dia memesan kamar di lantai sembilan, kebetulan satu lantai dengan kamar Nona Hamilton, dan dia menginap menggunakan nama samaran.”

Hotel tempat menginap Ellen tidak murah. Tidak mungkin dia sengaja menginap hanya demi mendapatkan laptop, pikir Yunus King.

”Dan siapa nama samarannya?” tanya Yunus King.

”Mitt Darren.”

Yunus King menelan ludah lalu menoleh ke arah ellen yang wajahnya langsung memucat. Ini bukan pencurian acak.

*  * *

”Aku tidak apa-apa, Yunus.” ellen menjawab sambil mengetik lagi hasil terjemahan edward yang dia ingat, pada laptop barunya yang dibelikan Yunus King.

”Jangan keras kepala!” sembur Yunus King di seberang telepon. ”Kau masih membawa buku itu, jadi mereka masih mengincarmu.”

”Aku akan membawa buku ini ke mana pun aku pergi.”

”Itu yang kutakutkan.” ellen menghela napas. ”Jika mereka harus membunuhku demi mendapatkan buku ini, mereka pasti sudah melakukannya.”

Tidak ada suara selama beberapa saat.

”Aku akan pesan kamar di sana juga,” kata  Yunus kemudian.

ellen memutar bola matanya. ”Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

”Atau aku akan menyuruh orang untuk menjadi pengawalmu.”

”Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!” ”Karena kau akui atau tidak, kau memang masih

kecil!” sahut Yunus King. ”Aku tidak ingin kau bernasib sama seperti ayahmu!”

Kemarahan ellen memuncak. ”Jika kau ngotot melakukannya, aku tidak akan mengembalikan buku ini padamu.”

”ellen!”

ellen langsung mematikan telepon. Pandangannya beralih ke buku tua di dekat laptopnya. Aku tidak akan bernasib seperti Papa.

*  * * edward sudah menunggu di meja yang kemarin mereka pakai, saat ellen datang.

”Kau datang jam berapa?” ellen bertanya sambil meletakkan laptop ke meja.

”Jam setengah sepuluh,” jawab edward lalu pandangannya beralih ke laptop ellen. ”Laptopmu baru?”

ellen hanya mengangguk. ”Di mana yang lama?”

”Hilang,” jawab ellen agak enggan.

edward langsung mencengkeram tangan gadis itu. ”Ada yang mencurinya?”

”Jangan khawatir, aku masih ingat kok semua tulisan yang ada di laptop itu,” jawab ellen. ”Aku sudah menulis ulang semuanya.”

”Bukan itu masalahnya!” nada suara edward meninggi hingga orang-orang di sekitar mereka menoleh. ellen memberi isyarat agar edward merendahkan suaranya.

”Kau tak apa-apa?” tanya edward, suaranya merendah.

ellen menghela napas. ”Kau bisa lihat sendiri.” ”Bagaimana laptopnya bisa dicuri?”

”Akan kujawab setelah kau melepaskan cengkeramanmu. Tanganku sakit,” pinta ellen. edward melepaskan tangannya dan ellen mulai menceritakan apa yang terjadi kemarin. Raut wajah edward seketika berubah. Tatapannya menerawang, seperti memikirkan sesuatu.

”Apa yang kaupikirkan?” tanya ellen.

”Apakah akan berbahaya jika melanjutkan ini semua?” edward balik bertanya.

ellen terdiam sejenak. ”Kalau kau ingin berhenti, tidak apa-apa. Aku tidak ingin membahayakan nyawamu.”

edward menatap ellen lekat-lekat. ”Bagaimana dengan nyawamu sendiri?”

”Sejak kapan kau peduli dengan nyawaku?” ellen mengangkat alis.

edward tertegun. entah sejak kapan dia tidak memedulikan lagi uang yang didapat dari membantu ellen. Dia hanya memedulikan gadis itu.

ellen mengambil buku tua yang harus mereka terjemahkan dari tas, lalu mengacungkannya. ”Setelah kasus pencurian itu, aku menjadi yakin bahwa semuanya, termasuk pembunuhannya, ada hubungannya dengan ini. Jika kita sudah mengetahui apa yang ada di dalam buku ini, mungkin kita bisa menemukan pelakunya dan mencegah semua hal buruk yang akan terjadi.”

edward mengangguk-angguk. ”Ayo kita lanjutkan.”

”Terima kasih,” kata ellen, bersiap membuka laptop. edward yang sedang membalik-balik halaman buku, mendongak.

”Hah?”

”Telah mengkhawatirkanku.”

”Kau belum membayarku, tentu saja aku khawatir,” desah edward.

ellen menendang kaki edward hingga  pemuda  itu mengernyit kesakitan. ”Dasar!”

Namun setelah itu ellen tersenyum.

*  * *

Setelah sekitar tiga jam berkutat dengan tulisan-tulisan di dalam buku tua, akhirnya mereka selesai menerjemahkan semuanya. edward langsung menyurukkan kepalanya ke meja karena merasa sangat lelah. ellen melepas kacamatanya dan memejamkan mata. Dia sudah terlalu lama menatap monitor. ”Apakah akan kita bahas sekarang juga isi buku yang baru kita bereskan?” tanya edward lemas.

”Bagaimana kalau kita makan dulu?” usul ellen. ”Kupikir kau tidak akan pernah menanyakannya,”

kata edward, langsung menegakkan badan.

ellen meringis lalu mengemasi barang-barangnya.

”Biar aku yang bawa tasmu,” tawar edward, namun ellen menggeleng. ”Makan di mana kita?”

”Bagaimana kalau Karpo?” usul ellen.

edward mengangguk. Mereka berjalan menyusuri euston Road menuju Karpo. Pilihan jatuh ke meja paling ujung, di dekat dinding yang penuh tanaman. Mereka merasa butuh melihat pemandangan yang hijau-hijau agar mengurangi kepenatan. ellen memesan chicken caesar salad sementara edward memilih marke­t fish.

Sembari menunggu pesanan diantar, ellen membuka laptop. ”Dua pertiga isi buku itu, menurutku tidak penting. Dia hanya menuliskan ulang soneta maupun madrigal yang dikirimkan padanya dan balasan yang dia tulis ke temannya itu. Memasuki sepertiga halaman terakhir, barulah aku mulai sedikit paham kenapa buku ini diincar.” edward meminum soda dingin yang baru saja diletakkan pelayan di hadapannya. ”Bisa kaubacakan lagi? Aku sudah lupa.”

”Mmm... mulai dari sini saja.” ellen mencoba memilah-milah isi buku yang ada dalam ingatannya. ”Aku tak pernah mengatakan padamu sebelumnya bahwa aku sangat bersyukur diperkenalkan padamu saat musim gugur waktu itu di Roma. Jika kota Florensia tidak jatuh dan Medici memperoleh kekuasaan, kau tidak akan kemari dan kita tidak akan pernah bertemu.

”Hari ini adalah hari kelahiranmu, dan aku ingin kau tahu sejak pertama melihatmu, aku tahu kita berdua sama,” lanjut ellen. ”Aku juga tahu kau langsung me­ nyadari itu. Kita memiliki kemampuan yang tidak biasa lewat tangan kita. Aku bisa membaca tulisan apa pun yang kusentuh walaupun tidak pernah kulihat sebelum­ nya, dan kau bisa tahu apa yang ada di dalam tubuh manusia hanya dengan menyentuhnya. Kau bisa tahu letak posisi tulang secara tepat dan semua bagian tubuh manusia yang tak terlihat mata. Itu sebabnya semua kar­ ya senimu begitu sempurna.”

”Apakah kita sedang membicarakan salah seorang genius seni?” potong edward. ”Mungkin,” jawab ellen. ”Petunjuknya seperti itu dan dia pernah berada di florensia lalu pergi ke Roma.”

”Jika membicarakan genius seni yang pernah tinggal di florensia dan Roma, daftarnya bisa panjang,” keluh edward. ”Ada Michelangelo, Da Vinci, Raphael...”

Percakapan mereka terhenti ketika pelayan datang mengantarkan makanan, dan tak ada pembicaraan sedikit pun setelah itu hingga keduanya selesai makan.

”Kita teruskan di sini atau kembali ke British Library?” tanya edward.

ellen berpikir sebentar. ”Kita diskusikan bertiga.”

”Dengan Tuan King?”

”Kurasa kau bisa mulai memanggilnya Yunus.” ellen berkata saat bangkit dari kursi.

edward mengangguk. ”Setelah ini kau bagaimana?”

”Bagaimana apanya?” tanya ellen bingung. edward  menggaruk-garuk  kepalanya.  Dia heran

kenapa ellen seperti tidak khawatir akan hidupnya sendiri. Jika pencuri laptopnya sudah tahu di mana dia tinggal, entah apa lagi yang bisa dilakukannya. Kening edward berkerut.

”Apa yang kaupikirkan?” tanya ellen. edward menggeleng.

”Uang lagi?”

edward meringis. ”Yang itu sih sudah masuk  alam bawah sadar.”

”Lalu apa?”

”Aku berpikir, bagaimana..,” kata edward lalu diam sejenak.

”Bagaimana apa?” tanya ellen tak sabar. ”Bagaimana caranya melindungimu.” ellen tertegun. Pipinya memerah.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊