menu

Touché Rosetta Bab 07

Mode Malam
Bab 07
ELLeN beberapa kali melihat ke arah jam dinding. Sudah pukul sepuluh dan edward belum juga da-

tang. ellen kesal karena ternyata strateginya gagal. Biasanya jika dia menunjukkan dirinya seolah tidak perlu bantuan, orang yang pernah dia mintakan bantuannya justru akan  penasaran lalu  berbalik mengajukan diri untuk membantunya. Berkali-kali dia menggunakan strategi pasif-agresif seperti itu dan selalu berhasil. Ini pertama kalinya orang menolak permintaannya.

Bolak-balik gadis itu membuka halaman buku yang semula tersimpan di brankas ayahnya, mencoba menerjemahkanya sendiri, tapi kepalanya seperti mau pecah. Ditambah dengan rasa  kesal karena ditolak, plus janjinya pada Yunus untuk menerjemahkannya jika Yunus bersedia meminjamkan buku itu.

”Ah, bocah sialan!” ellen mengumpat kesal sambil memukul meja. Seketika semua pandangan orang di perpustakaan tertuju padanya dengan tajam. ellen segera menunduk, tanda meminta maaf. Yakin semua orang sudah tak melihat ke arahnya lagi, ellen menghela napas, melepas kacamata lalu menyurukkan kepalanya ke buku di meja. Bagaimana dia bisa melakukan semuanya, menerjemahkan tulisan di buku kuno itu, memecahkan teka-tekinya, dan menemukan pembunuh ayahnya? Bagaimana?

”Apakah sudah diterjemahkan semuanya?”

Suara itu, batin ellen. Dia langsung menegakkan tubuh dan melihat edward sudah berdiri di samping mejanya.

Tanpa disuruh, edward duduk di kursi di sebelah ellen lalu menaruh tasnya ke meja. ”Jadi mana bukunya?”

ellen masih tak percaya edward benar-benar datang, hingga dia tidak mendengar kata-kata pemuda itu.

”Nona Hamilton?” ulang edward. ”Mana bukunya?”

”Oh, ini... ini dia!” ellen memberikan buku itu pada edward yang langsung membuka halaman pertama dan mulai menyentuhnya untuk mencoba membacanya.

Senyum ellen mengembang. Strateginya memang belum pernah gagal!

*  * *

Maafkan aku, Yunus, aku tidak sanggup lagi hidup se­pe­rti ini. Maafkan aku...

Yunus King membuka mata. Napasnya tersengalsengal. Dia ketiduran di kursinya dan bermimpi. Mimpi tentang kakaknya. Akhir-akhir ini mimpi itu kerap datang, terutama sejak kematian Leonidas. Yunus King segera mengambil air minum dan menenggaknya hingga habis.

Apakah karena buku itu? batin Yunus King, kemudian teringat pada buku kuno yang sekarang berada di tangan ellen. Yunus King mengetuk-ngetuk meja kerjanya, mempertanyakan keputusannya meminjamkan buku penting itu pada ellen. Walaupun sekarang ellen hampir menyelesaikan kuliah, pada dasarnya umurnya baru enam belas tahun. emosinya masih seperti remaja pada umumnya. Namun, Yunus King tidak mau meremehkan gadis itu. Dia tahu kepandaian ellen jauh di atas rata-rata, apalagi ditunjang eidetic memory-nya. Tapi kalau mau jujur, menerjemahkan tulisan di buku itu hampir mustahil dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kemampuan istimewa seperti edward. Buku itu ditulis dengan berbagai macam tulisan, dan semuanya merupakan bahasa yang telah mati seperti akkadia, sanskerta, bahkan Yunani kuno—sepintas itulah yang Yunus King ketahui dari gambaran yang diberikan mendiang Profesor Hamilton. Buku yang hanya bisa ditulis oleh seorang touché yang memiliki kemampuan seperti Batu Rosetta!

Ellen tidak mungkin bisa melakukannya sendiri, batin Yunus King. Aku harus mencari touché yang memiliki kemampuan seperti Edward jika dia benar­benar tidak mau membantu.

Lelaki itu mengambil peta dunia dan membentangkannya di meja lalu mulai menyentuhnya. Dia memejamkan mata saat menyentuh peta London. Dia melihat ada lima puluh orang yang memiliki kemampuan touché di sana, tapi tak tahu orang  yang mana yang memiliki kemampuan seperti edward. Jika dia harus mendatangi mereka satu per satu, tentu akan menghabiskan waktu. Dia menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Sia­sia.

Saat Yunus merasa putus asa, pesan masuk ke handphone. Ia segera membacanya dan tersenyum. Pesan itu dari ellen.

Kim datang membantu.

*  * *

edward sudah hampir menerjemahkan tiga perempat buku ketika perutnya berbunyi.

ellen tersenyum, segera menutup laptop. ”Kita istirahat. Sampai di sini dulu saja. Kita teruskan besok.”

”Tapi...”

ellen tahu edward sudah sangat kelelahan dan lapar karena mereka melewatkan jam makan siang. Sepanjang hari edward membacakan apa yang tertulis di buku kuno itu, lalu ellen mengetiknya di laptop. edward membaca buku itu seperti orang buta membaca tulisan dari huruf Braille. Dia menyentuh kalimatnya satu per satu secara runtut lalu dari mulutnya keluar apa yang terbaca, seperti robot. Ini pertama kalinya ellen melihat orang yang memiliki kemampuan touché seperti edward bekerja. Dulu ayahnya sama sekali tidak memperbolehkan ellen masuk ke ruang kerja saat si Ayah sedang bekerja. ”Sudahlah, ayo kita makan dulu.” ellen membujuk sambil memasukkan laptop dan buku itu ke tas. ”Jika kau sakit karena kelaparan, aku juga yang su-

sah.”

edward sepertinya tak punya pilihan. Lagi pula dia memang sangat lapar.

”Kita ke Albertini.”

”Kenapa kita tidak makan di kafe perpustakaan ini saja?” usul edward.

”Kopinya tidak enak,” jawab ellen. ”Ah, tapi aku taruh laptop ini dulu ke hotel. Berat jika harus membawanya ke mana-mana.”

”Biar saya saja yang membawakannya, Nona Hamilton.” edward menyodorkan tangan, menawarkan diri. ”Tidak perlu, hotelnya dekat dari sini kok. Aku menginap di Pullman,” tolak ellen. ”Dan kau bisa memanggilku ellen, Kim.”

edward menggaruk-garuk kepala. ”ed. Panggil saja ed.”

ellen tersenyum.

Mereka berjalan ke arah pintu keluar British Library, kemudian menyusuri King’s Cross menuju hotel.

Benar, Pullman memang terhitung dekat dari British Library.

Setelah sampai di hotel, mereka masuk ke lift. Keduanya berjalan cepat keluar saat lift berhenti di lantai sembilan. ellen mengeluarkan kartu magnetik dari tas, baru setelahnya membuka kunci pintu kamar nomor 903.

”Kau mau masuk?” ellen menawarkan. ”Saya tunggu di luar saja,” jawab edward.

”Terserah.” ellen mengangkat bahu. ”Aku hanya menaruh laptop.”

Lalu untuk apa kau menawariku masuk? batin edward. ”Bukunya juga?”

”Tidak, bukunya tetap kubawa.” ellen tersenyum sambil menepuk tasnya. ”Akan kubawa sampai mati dan kujaga dengan nyawaku.”

Tidak lama kemudian ellen keluar lalu spontan menggandeng edward. ”Ayo.”

edward agak terkejut, tapi tidak menepisnya. Mereka keluar dari hotel dan kali ini berjalan me-

nuju Chalton Street. Albertini terletak di sudut jalan di belakang Premier Inn. Termasuk berjarak dekat juga. Sebentar saja mereka sudah sampai di tempat itu.

”Mau pesan apa?” tanya ellen begitu mereka duduk.

”Risotto pollo dan machiatto,” jawab edward.

ellen mengangguk-angguk. ”Kalau begitu aku

risotto rosso dan machiatto juga.”

”Sekarang ceritakan padaku bagaimana Profesor ficher tahu tentang kekuatanmu dan memintamu bekerja padanya?” tanya ellen selagi menunggu pesanan mereka diantar. ”Yunus sudah cerita sedikit tentangmu.”

edward mengangkat bahu, namun menceritakan dari awal pertemuannya dengan Profesor fischer. Katanya, saat itu dia iseng membaca prasasti yang ada di kantor si Profesor. Ternyata beberapa bulan kemudian Profesor mencarinya untuk meminta dia bekerja padanya.

”Profesor tidak pernah bertanya padamu dari mana kau mendapat kemampuanmu?”

”Tentu saja Profesor bertanya, ellen, tapi aku tak punya jawabannya,” jawab edward. Dia sudah merasa agak dekat dengan ellen, hingga tidak  perlu lagi bersikap formal.

”Lalu kenapa kau mau bekerja padanya?” tanya ellen heran. ”Di mataku, dia lebih seperti memanfaatkanmu. Dia mendapat pujian dan penghargaan atas jerih payahmu.”

edward tersenyum. ”Aku mendapatkan uang.” ”Uang sepenting itu untukmu ya?” tanya ellen. ”Aku yatim  piatu sejak kecil.” edward  menjawab

sambil memainkan botol garam dan merica di meja. ”Aku diasuh bibi dan pamanku, tapi mereka cukup kewalahan memenuhi kebutuhan hidup tiga anak mereka. Jadi aku belajar menghidupi diriku sendiri dari kecil. Aku kerja apa pun demi uang agar tak membebani Bibi dan Paman sepeser pun. Jadi ketika Profesor fischer menawariku, tanpa pikir panjang aku langsung menerimanya, bahkan aku bisa menyewa  flat dan membiayai  kuliahku sendiri. Dan di atas semua itu, yang paling membuatku senang...,” edward memandangi telapak tangannya, ”ternyata kemampuan ini ada gunanya.”

ellen tertegun. Ternyata sepedih begitu latar belakang kehidupannya… Itu sebabnya dia sampai mementingkan uang seperti itu.

”Maafkan aku,” kata Ellen. ”Seharusnya aku tidak menanyakan apa-apa... sampai-sampai jadi seperti ini... kau harus menceritakan tentang orangtuamu.”

”Kenapa harus minta maaf? Kan bukan kau yang membunuh mereka.” edward meringis. ”Lagi pula, bukankah kita berdua bernasib sama?”

”Sebenarnya bagaimana kerja kemampuanmu itu?” tanya ellen, mencoba membuka topik baru. ”Setiap kali Papa bekerja, aku tidak pernah diperbolehkan masuk ke ruang kerjanya, jadi aku tak pernah tahu.”

edward berpikir sebentar, lalu mengambil bolpoin dari tasnya. Dia menulis huruf kanji di atas tisu restoran: 女.

”Onna? Wanita?” tanya ellen setelah membacanya. Dia pernah membaca kamus kanji Jepang, yang otomatis terekam di ingatannya. ”Betul,” jawab edward, tak menyangka ellen tahu tulisan kanji. ”Jika menyentuh tulisan ini, langsung tertulis ‘wanita’ di kepalaku, tapi aku tak tahu bagaimana pengucapannya.”

”Tapi kau baru saja menunjukkan kau tahu cara menuliskannya.”

”Awalnya tidak.” edward menggeleng lalu mengeluarkan buku dari tasnya. ”Aku mencatatnya di buku lalu menghafalkannya.”

ellen membuka-buka buku itu. Ada berbagai macam tulisan di sana, dari Yunani kuno, kanji, hingga hieroglif, dengan arti masing-masing.

”Wow,” hanya itu yang bisa diucapkan ellen. ”Bagaimana kau bisa tahu tulisan itu harus dibaca dari kiri ke kanan atau harus dari kanan ke kiri?” tanyanya kemudian. ”Atau dengan sistem Boustrophedon Terbalik?”

”Sistem apa?”

”Sistem Boustrophedon Terbalik,” ulang ellen. ”Sistem membaca yang dimulai dari pojok kiri bawah dan seterusnya hingga akhir kalimat, lalu putar 180 derajat dan mulai membaca kalimat berikutnya dari kiri ke kanan juga. Seperti rongorongo di Pulau Paskah.” edward mengangkat bahu. ”Ketika aku menyentuh tulisannya, aku tahu begitu saja. Tapi aku tidak bisa melakukannya dengan alat perantara.”

”Alat perantara... apa maksudmu?”

”Tulisan di tablet atau handphone, bahkan hasil ketikan atau cetak printer, aku tidak bisa membacanya walau kusentuh,” jelas edward. ”Jadi kemampuanku ini kemungkinan besar hanya menyerap pikiran. Orang menulis untuk menyampaikan apa yang dipikirkannya, mengalirkannya melalui tangan, hingga terwujud dalam bentuk tulisan tinta atau pahatan. Aku menyerap hal yang ingin mereka sampaikan itu.”

”Jadi kalau tertulis secara digital dan tidak langsung, kau tidak bisa membacanya?” ulang ellen.

”Benar. Kalau aku bisa melakukannya sampai sehebat itu, aku tidak akan bekerja pada Profesor fischer di British Museum,” keluh edward. ”Aku akan bekerja sebagai penerjemah di perusahaan besar dengan gaji yang tidak sedikit.”

”Oh ya, tentu saja,” desis ellen.

”Tentang apa yang tertulis di buku itu,” lanjut edward, ”sepanjang yang sudah kuterjemahkan, hanya berisi sonata dan madrigal.” ellen mengangguk. ”Tapi cukup membantu dengan menginformasikan pada tahun berapa buku itu ditulis. Seperti—” Kata-kata ellen terpotong pelayan yang datang membawa pesanan mereka. Si pelayan menatanya dengan cekatan di hadapan kedua orang tersebut.

”Mungkin sebaiknya kita makan dulu,” ujar ellen bersiap meneguk machiatto.

edward setuju. Tidak ada dari mereka yang bicara setelahnya, bahkan hingga selesai makan.

”Kau mau langsung kembali ke Oxford?” tanya ellen setelah membayar tagihan.

edward mengangguk. ”Tapi aku akan mengantarmu dulu ke hotel.”

ellen memutar bola matanya. ”Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa pulang sendiri.”

edward bergeming. ”Aku tetap akan mengantarmu.”

”Terserah.” ellen mengedikkan bahu.

Mereka berjalan bersisian menuju Pullman. Sesampainya di depan Hotel Pullman, ellen berhenti dan bertanya pada edward, ”Kau mau mengantarku sampai ke depan kamar?”

”Kalau kau mau,” jawab edward. ”Tidak perlu.” ellen mengeluarkan handphone dari tas. ”Aku belum punya nomormu. Besok kita ketemu lagi di tempat dan jam yang sama ya.”

edward mengambil handphone ellen, lalu memencet nomornya hingga handphone yang berada di saku bajunya berdering.

”Simpan,” edward berkata sambil mengembalikan

handphone ellen.

”Lalu kenapa kau tidak pergi?” tanya ellen heran.

”Setelah kau masuk ke hotel, aku akan pergi,” jawab edward.

ellen mengangkat alis. ”Aku bukan—”

”Anak kecil lagi,” sahut edward. ”Tapi buku yang ada di tasmu itu... firasatku mengatakan ada yang mengetahui keberadaannya selain kita. Bukankah kau juga mengatakan bahwa kemungkinan keberadaan buku itulah yang menyebabkan ayahmu terbunuh? Aku hanya ingin memastikan tidak terjadi apa-apa padamu.”

”Sebaiknya kau lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri karena sekarang kau sudah terlibat,” kata ellen. ”Oh ya, boleh tahu kenapa akhirnya kau berubah pikiran? Bukannya kau takut nyawamu akan diincar juga?”

”Bukankah kau janji akan membayar berapa pun? Kukirim nomor rekeningku nanti,” jawab edward. ”Dan bukan aku yang membawa buku itu. Sebelum mengkhawatirkan orang lain, khawatirkan dirimu sendiri. Cepatlah masuk!”

”Baiklah,” gerutu ellen, bergegas berjalan memasuki hotel. Dia tahu seharusnya dia kesal diperlakukan seperti anak kecil, padahal dia sudah hampir menyelesaikan kuliahnya. Tapi entah mengapa dia senang edward memperlakukannya begitu, hingga tanpa sadar tersenyum.

Di kamar, ellen langsung merebahkan diri ke tempat tidur. Tinggal sedikit lagi tulisan di buku itu yang harus diterjemahkan. Semoga di dalamnya ada petunjuk tentang penulisnya dan benang merah yang menghubungkan isi buku tersebut dengan pembunuhan ayah angkatnya.

ellen bangkit untuk berjalan ke lemari, hendak mengambil laptop. Ketika dia membuka pintu lemari, dia merasa jantungnya berhenti berdetak. Laptop tidak berada di sana! Terlalu shock, tanpa sadar dia berjalan mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur dinding. Setelah berhasil menguasai diri, ellen mengambil handphone dari tas.

”Yunus, laptopnya hilang.”

*  * *

”Hai, James,” sapa edward saat berpapasan dengan temannya di depan flat. Temannya membawa koper besar. ”Libur semester ini kau mau pergi  ke  mana?”

”Hai, ed,” jawab James. ”Aku mau kembali ke Dublin.”

”Oke.”

”Oh, tadi ada paket untukmu,” kata James sebelum Edward menghilang ke dalam flat. ”Tadinya mau kuterima, tapi kurirnya bilang harus diberikan langsung kepadamu. Karena kau tidak ada, kusuruh dia menaruhnya di depan pintu kamarmu.”

”Kau menyuruhnya?”

James mengedikkan bahu. ”Lebih tepatnya dia memaksa menaruhnya di depan kamarmu. Untuk memastikan bahwa kau menerimanya, kuberitahu saja yang mana kamarmu.” ”Dari siapa?” tanya edward.

”Dari Mitt... Mitt Romney... oh, bukan,” jawab James sambil mencoba mengingat-ingat. ”Mitt Darren!”

edward mengerutkan kening karena merasa tidak pernah mendengar nama yang disebutkan James barusan. Dia masuk ke lobi flat dan naik ke tangga menuju kamarnya di lantai dua. Di depan pintu kamarnya memang tergeletak paket dengan nama dan alamat flatnya, tapi tak tertulis siapa pengirimnya.

Siapa tadi Jame­s bilang? Mitt Darre­n? edward merasa tidak pernah mengenal siapa pun dengan nama itu. Dia membawa paket itu ke kamar dan membukanya. Tidak ada apa pun di dalamnya. Hanya sebuah kotak kosong.

Bingung, dia membolak-balik kotak itu, tapi tidak menemukan apa-apa. Akhirnya dia menaruh kotak itu di meja belajar. Dia mencoba mengingat-ingat apakah mengenal pengirimnya, tapi tidak merasa pernah bertemu seseorang bernama Mitt Darren.

Aneh.

*  * * Seseorang sedang menunggu dengan tidak sabar di ruang tamu salah satu rumah di sudut kota London. Dia menggoyang-goyangkan kaki sambil sesekali melihat ke arah pintu.

Kenapa lama sekali? batinnya.

Saat dia mendengar suara gagang pintu digerakkan, dia tersenyum.

”Tuan Darren,” kata pria yang baru datang. ”Saya sudah dapat laptopnya.”

”Taruh di meja,” perintah orang yang dipanggil Darren. ”Aku mau lihat apakah itu laptop yang kuinginkan.”

Pria itu mengangguk lalu menaruh laptop yang dia bawa ke meja di tengah ruangan. Darren membuka laptop itu, langsung menyalakannya. Dia beruntung karena pemiliknya tidak menguncinya dengan password.

”Bisakah saya mendapatkan uang yang Anda janjikan?” tanya pria yang membawa laptop tadi, tampak gusar. ”Polisi kemungkinan besar akan menemukan saya dan sudah tahu tempat ini. Saya harus segera pergi dari sini!”

Darren tidak menjawab. Dia sibuk mencari file­ yang dia incar. Dia beri nama apa file itu? tanyanya dalam hati.

”Tuan Darren!”

”Kau berisik sekali!” Darren menarik pistol yang sudah dipasangi peredam dari balik jasnya, lalu menembak kepala pria itu dua kali hingga jatuh tersungkur. Dalam sekejap darah menggenangi karpet.

Darren berdecak pelan melihat mayat pria itu lalu mengalihkan pandangan ke laptop. Ketika akhirnya menemukan file­ yang dicarinya, dia menyeringai dan segera menutup laptop. Setelah mengemasi barangnya, dia mengelap semua tempat yang pernah dia sentuh lalu pergi seolah tidak terjadi apa-apa.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊