menu

Touché Rosetta Bab 06

Mode Malam
Bab 06
YUNUS KING membuka-buka halaman buku di tangannya. ”Aku mendapatkan buku ini di pasar

gelap, bersamaan dengan Histoire de Ma Vie milik Casanova.”

”Tunggu! Bukankah Histoire de Ma Vie sudah beredar luas dan mudah kita dapatkan?” potong edward. ”Untuk apa Anda membelinya di pasar gelap?”

”Karena yang beredar luas sekarang bukanlah buku yang utuh.” Yunus King tersenyum.

edward menatap lelaki itu, bingung.

”Casanova sama seperti kita,” Yunus King mulai menjelaskan, lalu menatap ellen. ”Seperti papamu. Casanova adalah seorang touché.”

ellen tidak berkomentar selain hanya balik memandang sambil menyimak.

”Kemampuan touché­nya adalah menyerap pikiran orang yang disentuhnya,” lanjut Yunus. ”Itu sebabnya dia mudah sekali menaklukkan para wanita, karena bisa membaca pikiran mereka. Casanova menuliskan semuanya di buku karyanya, tetapi editornya memotong bagian itu karena merasa rahasia tersebut justru akan membahayakan Casanova. Pada zaman apa pun, manusia akan selalu takut terhadap hal-hal yang tidak bisa dijelaskan, seperti kemampuan kita ini.”

edward mengangguk-angguk.

”Sekalipun demikian, Casanova tetap menyimpan naskah aslinya,” kata Yunus King.

”Tunggu,” ellen menyela. ”Bagaimana kau tahu buku Casanova dan buku yang bahkan tak ada namanya itu mengandung penjelasan tentang kemampuan touché?”

Yunus King melepas kacamata lalu mengambil saputangan dari saku baju. ”Bermula dari keberuntungan.” ”Maksudmu?”

”Kau kan tahu sendiri, aku senang mengoleksi barang-barang kuno yang tidak ada di pasaran.” Yunus menjawab sambil mengelap lensa kacamata. ”Aku tak sengaja membeli jurnal harian milik Jeanfrançois Champollion yang sebelumnya diberitakan hilang. Kedua buku ini disebutkan di dalamnya. Dan ketika aku mendengar ada dua buku yang diduga sebelumnya dimiliki Champollion akan dijual di pasar gelap, aku tahu pasti buku-buku itulah yang dimaksud tulisan di jurnalnya.”

”Champollion yang Anda bilang seorang touché

juga?” edward ternganga.

Yunus King mengangguk.

edward menyandarkan tubuhnya. Semua penjelasan yang dia dengar hari ini membuatnya seperti dilempar ke dunia lain. Dunia yang tidak dia ketahui sebelumnya. Persis seperti film-film dan novelnovel fiksi ilmiah yang dia baca, hanya saja kali ini dia menjadi salah satu tokohnya.

”Lalu apa hubungannya dengan Papa?” Suara ellen terdengar memecah keheningan.

”Buku ini ditulis dengan aksara kuno, kemungkinan besar dari bahasa yang telah mati.” Yunus menjawab sambil mengacungkan buku. ”Satu-satunya orang yang kukenal yang bisa membacanya hanya ayahmu. Aku memintanya untuk mengartikan tulisan yang ada di dalamnya. Aku menduga ada rahasia touché di dalamnya. Champollion tidak menulis dengan jelas, hanya menulis bahwa buku itu sangat penting. Casanova juga memberi petunjuk kecil tentang keberadaan buku ini. Dia mengatakan di Histoire de Ma Vie bahwa dia tahu dirinya tidak sendirian. Dia tahu kemampuan ini sudah diturunkan lama dan mengatakan semua itu sudah dituliskan dalam buku yang menggunakan bahasa yang aneh, tapi dia tidak menjelaskan apa-apa lagi setelahnya. Kemungkinan dia tidak sengaja menyentuh touché pemilik buku itu sebelum Champollion.”

”Jadi buku itu selama ini hanya berpindah tangan dari satu touché ke touché lain?” tanya edward, menegakkan punggungnya kembali. ”Touché yang berkemampuan menyerap bahasa seperti Profesor Hamilton?”

”Dan sepertimu juga,” ellen menatap edward. ”Inilah bantuan yang  kuharapkan darimu.”  Yunus

King berkata sambil menyodorkan buku itu kepada edward. ”Tolong terjemahkan tulisan di buku ini.” ”Kenapa harus saya?” tanya edward.

Yunus King membuka buku itu dan memperlihatkan isinya pada edward. Semua tulisannya berasal dari aksara yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.

”Karena hanya kau yang bisa.”

”Ini seperti Voynich Manuscript.” ellen memperhatikan isi buku itu dengan saksama.

”Tapi bukan.” Yunus King menggeleng. ”Voynich Manuscript masih tersimpan rapi di bagian buku langka perpustakaan Yale University.”

”Kira-kira apa isinya?” tanya edward.

Yunus King mengangkat bahu. ”Perkiraanku, isinya berkaitan erat dengan bukti keberadaan kaum touché. Karena pasti ada yang ingin keberadaan kita diketahui, ada juga yang ingin bukti-buktinya dimusnahkan. Jika yang mengincar buku ini sampai melakukan pembunuhan, pasti isinya sepenting itu.”

Setelah berpikir beberapa saat, edward bangkit berdiri. ”Saya menolak.”

”Apa?” seru ellen tak percaya. ”Apa kau tidak ingin tahu isinya?”

”Tidak,” jawab edward lalu berjalan menuju pintu. ”Saya sudah terlambat kuliah.” ”Berapa yang kau minta?” tanya ellen. ”Berapa pun akan kubayar!”

edward mengeluarkan lempengan Harihara dari tas lalu mengacungkannya pada Yunus King. ”Ini sudah cukup untuk biaya membuka brankas. Anda tidak perlu mengirimkan yang dua lagi, karena saya tidak jadi membantu.”

”Apa kau tidak ingin membantu ellen menemukan pembunuh ayahnya?” tanya Yunus King.

Langkah edward terhenti. Ia menghela napas panjang.

”Jika saya membantunya,” kata edward, ”bukankah ada kemungkinan saya akan mengalami nasib serupa? Uang berapa pun tidak akan ada gunanya jika saya mati.”

Tanpa menunggu jawaban, edward pergi.

*  * *

edward sedang sibuk menulis di kafe dekat kampusnya, ketika seorang pria tiba-tiba menduduki kursi di depannya.

Pria itu tampak tak asing baginya. ”Anda Profesor Martin?” tanya edward, raguragu.

Profesor Martin mengangguk. ”Kau bisa memanggilku Ted atau Richard.”

edward tersenyum lalu meletakkan pensil. ”Anda sendirian? Saya tidak menyangka bisa bertemu Anda di sini.”

”Aku sendirian,” jawab Profesor Martin sebelum memanggil pelayan. ”Aku ada perlu sebentar dengan seorang teman di Oxford dan kebetulan melihatmu di sini. Tapi jika kau keberatan, aku akan pindah meja.”

edward menggeleng.

Si Profesor memesan sarapan lengkap untuk dua orang, yang terdiri atas telur mata sapi, kacang merah rebus, sosis, roti panggang, dan black pudding. Ia minta pada si pelayan agar minumannya segera diantar.

”Tapi saya tidak...” sergah edward.

”Aku yang traktir,” Profesor Martin mengabaikan penolakan pemuda di hadapannya itu.

edward menggumamkan terima kasih sembari menepikan buku-bukunya, menyediakan ruang di meja bagi makanan dan minuman yang baru saja dipesan Profesor.

”Kau tahu, kau mengingatkanku pada salah satu muridku,” kata Profesor Martin saat bersiap meneguk teh. ”Namanya Morrison.”

”Oh, yang Profesor fischer bilang waktu itu?” edward teringat pada murid berumur delapan belas tahun yang dijadikan anggota tim penelitian oleh Profesor Martin. ”Mungkin karena kami seumuran.”

”Ya. Itu.” Profesor Martin mengangguk-angguk. ”Dan sebab lain.”

Pesanan mereka datang dan tak ada satu pun  yang bicara setelahnya. Profesor Martin yang kelihatannya lapar memilih menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu. Ia makan dengan nikmat. Dan cepat. Sebentar saja makanan di piringnya sudah tandas.

”Sebenarnya untuk pekerjaan macam apa Gerard menggajimu?” tanya Profesor Martin sambil mengelap mulut dengan tisu.

edward langsung tersedak. Buru-buru ia meneguk teh hingga habis dan memutuskan tidak melanjutkan makan. ”Hanya pekerjaan kecil,” jawabnya setelah tenggorokannya terasa lega. ”Saya membantu mengetik ulang laporan Profesor fischer karena beliau tidak terlalu familier menggunakan komputer.”

”Mmm...” Profesor Martin mengangguk-angguk seakan bisa menerima penjelasan edward. ”Selama kau membantunya, apakah kau menemukan sesuatu yang menarik?”

”Maksud Anda?”

”Aku, walaupun ahli di bidang rekayasa biologi, punya ketertarikan khusus pada artefak-artefak kuno,” jelas Profesor Martin. ”Itu salah satu sebab pertemananku dengan Gerard. Kesamaan minat.”

edward diam saja.

”Apakah ada benda-benda kuno yang sepertinya menarik bagimu?” Profesor Martin mengulangi pertanyaannya.

”Oh, itu. Banyak sekali,” jawab edward. ”Terutama manuskrip-manuskrip kuno yang menceritakan...”

edward terhenti. Dia sadar jika dia meneruskan percakapan, ada kemungkinan dia keceplosan mengatakan tentang kemampuannya membaca tulisan kuno. Bisa-bisa rahasia yang dia serta Profesor fischer simpan akan terbongkar. ”Maaf, saya harus buru-buru.” edward berkata sambil memasukkan buku-buku ke tas. ”Sekali lagi, terima kasih atas makanannya.”

”Apakah aku bisa minta tolong padamu jika aku ingin menerjemahkan sesuatu?” tanya Profesor Martin ketika edward sudah bangkit dari kursi.

”Ilmu saya belum sebanyak Profesor  fischer. Anda minta tolong saja pada beliau.” edward mengangguk singkat, memberi hormat. ”Permisi.” Ia berjalan meninggalkan Profesor Martin yang masih menikmati teh sambil mengamati orang yang lalulalang di jalan.

edward merogoh-rogoh tas untuk mengambil handphone. Dia lupa membalas pesan Profesor fischer yang menanyakan kenapa kemarin dia tidak datang ke kantornya.

Ah, sial. edward menghela napas. Dia baru ingat handphone-nya tertinggal di tempat tidur. Dia segera berbalik arah dan berlari menuju flatnya.

Di depan gedung flat, ternyata sudah berdiri Ellen

Hamilton. Menunggu dirinya.

Bagaimana dia bisa dapat alamatku? Oh ya, pasti dari Yunus King, batin edward.

edward berpura-pura tidak melihat gadis itu. Dia berjalan cepat dan masuk ke gedung dengan kepala menghadap lurus ke depan.

”Kim,” ellen menyergah dengan menarik lengan edward.

”Saya sudah bilang, saya menolak,” kata edward ketus.

”Memangnya kau tahu aku mau bilang apa?” tanya ellen mengangkat alis.

edward menghela napas, menatap ellen. ”Anda akan minta saya menerjemahkan  isi  buku  itu, kan?”

ellen tersenyum. ”Kemampuanmu kan bukan membaca pikiran orang. Aku ke sini karena kemarin lupa mengatakannya,” katanya. Kedua mata cokelat tuanya menatap lurus ke manik mata edward. entah kenapa kesan menyebalkan yang sempat tertanam di benak edward akan ellen, sudah tak  ada lagi.

”Mengatakan apa?”

”Terima kasih,” jawab ellen. ”Terima kasih telah membantu menemukan password brankas Papa. Kepandaianmu cukup mengejutkan dan mengagumkan.”

edward tertegun, tidak menyangka ellen bisa mengatakan sesuatu seperti itu dengan nada yang terdengar sangat tulus.

”Oke, karena aku sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan,” ellen menghela napas, ”aku pulang dulu ya.”

”Tunggu dulu!” sergah edward, karena sekarang jadi bingung. ”Hanya itu yang mau Anda katakan?”

ellen mengangkat bahu, bersiap pergi.

”Anda tidak meminta saya menerjemahkan buku itu?” tanya pemuda itu lagi. ”Memangnya Anda sendiri bisa melakukannya?”

”entah,” jawab ellen. ”Biar itu jadi urusanku. Aku akan cari tahu sendiri. Aku tidak ingin melibatkanmu lebih jauh dalam masalah yang mungkin bisa membahayakan nyawamu.”

”Tunggu!” edward mengejar lalu menarik tangan ellen. ”Apa Anda punya kenalan touché lain seperti saya?”

ellen menggeleng kuat-kuat. ”Hanya kau.” ”Lalu bagaimana cara menerjemahkannya?”

ellen tersenyum kemudian menepis pelan cengkeraman edward. ”Rencananya besok aku mau seharian berada di British Library. Siapa tahu aku bisa menerjemahkannya dengan menggunakan bantuan buku-buku yang ada di sana.”

Gadis itu berjalan meninggalkan edward yang hanya bisa diam membatu sambil memegangi dada. Ada yang tidak beres.

*  * *

edward duduk di lantai seperti biasa, menyelesaikan laporan untuk Profesor fischer, tapi pikirannya penuh tentang ellen dan apa yang dikatakan  gadis  itu.

Profesor mengambil cangkir teh lalu memandang ke luar jendela. ”Yunus King sepertinya penasaran denganmu.”

”Saya tidak tahu,” jawab edward.

”Jangan-jangan dia tahu tentang kemampuanmu,” Profesor fischer curiga.

edward tidak menjawab. Dia menutup laptop, bangkit berdiri,  memberikan  flashdisk  kepada Profesor fischer.

”Maaf, saya tidak sempat mencetaknya.” ”Baiklah, tidak apa-apa,” jawab Profesor fischer,

mengambil flashdisk dari tangan edward. edward tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya berkata. ”Karena saya sudah selesai ujian, saya mau minta izin libur juga.”

”Libur?”

edward mengangguk. ”Libur dari membantu Anda. Ada yang harus saya lakukan.”

Profesor fischer mengerutkan kening. edward hampir tak pernah meminta libur kecuali Profesor sendiri yang menyuruh pemuda itu, tapi dia tak punya alasan untuk menolaknya.

”Baiklah,” Profesor fischer menghela napas. ”Toh belum ada yang perlu diterjemahkan lagi dalam waktu dekat ini. Tapi kau tidak dapat bayaran selama libur.”

edward tersenyum. ”Ya, saya paham. Terima kasih, Profesor.”

Handphone edward berbunyi setelah dia keluar dari ruangan Profesor fischer.

”Halo?” jawabnya.

”ed, bagaimana kabarmu?”

”Baik-baik saja, Bibi Kate,” jawab edward. ”Ada apa?”

”Memangnya harus ada apa-apa jika mau meneleponmu?” gerutu Bibi Kate. edward tersenyum. ”Tentu tidak, bagaimana kabar Paman George?”

”Seperti biasa, masih sibuk di bengkelnya,” jawab Bibi Kate. ”Oh ya, ed...”

”Ya?”

”Kau tidak perlu mengirimi kami uang lagi.” edward terdiam.

”Bibi tidak suka?” tanyanya kemudian.

”Bukan begitu,” sergah Bibi Kate segera. ”Tapi aku dan Paman George merasa sebaiknya kau pakai saja uang hasil kerja sampinganmu di British Museum itu. Kau lebih membutuhkannya daripada kami.”

”Tapi...”

”Maafkan kami, Ed,” lanjut Bibi Kate dengan  nada pelan. ”Kami tidak bisa membiayai kuliahmu sehingga kau harus mencari uang sendiri.”

”Bibi lupa? Bibi yang merawatku sejak kecil,” sahut edward. ”Uang yang kuberikan itu tidak ada apa-apanya dibanding semua yang telah Bibi Kate dan Paman George berikan untukku. Biarkan aku membalas budi.”

”ed,” kata Bibi Kate lembut. ”Kau anak kakakku. Sudah kewajibanku merawatmu. Melihatmu hidup, tumbuh, dan menjadi dirimu yang sekarang sudah merupakan kebahagiaan bagiku. Cukup hiduplah dengan tenang dan jauhi masalah, itu sudah merupakan bentuk balas budi darimu.”

edward menelan ludah. Jauhi masalah?

”ed, kau mau berjanji, kan?”

”Ya, Bibi Kate,” jawab edward. ”Aku berjanji.” ”Syukurlah,” desah Bibi Kate. ”Aku senang men-

dengarnya. Lain kali aku akan suruh Paman George meneleponmu. Dia juga merindukanmu.”

”Baiklah.”

”Salam dari Thomas, Maggie, dan Joan,” kata Bibi Kate sebelum menutup telepon.

edward menaruh teleponnya lagi ke dalam tas lalu menyandarkan punggungnya ke dinding. Maaf­ kan aku, Bibi, sepertinya aku akan melanggar janjiku.  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊