menu

Touché Rosetta Bab 05

Mode Malam
Bab 05
”PERTAMA, karena lukisan itu yang paling berbeda dari lukisan-lukisan lainnya,” edward mulai

menjelaskan. ”Kedua, Profesor Hamilton membuat brankas secara khusus. Kalau dia ingin brankas tidak bisa dibuka oleh orang selain dirinya, dia mungkin akan memakai suaranya sebagai pembuka kunci.”

Yunus King mengangguk-angguk. ”Atau pindai retina dan sidik jari.”

”Justru kalau pindai retina atau sidik jari, akan sangat mudah membukanya,” kata edward datar. ”Pelaku tinggal membunuh Profesor Hamilton, memotong tangannya atau mengeluarkan bola matanya.” ellen langsung bergidik.

”Berarti Profesor Hamilton ingin brankas itu bisa dibuka juga oleh orang lain,” lanjut edward. ”Itu sebabnya dia memasang lukisan aksara aneh itu, selain sebagai pengingat. Orang awam memang masih bisa menerjemahkannya, tapi akan butuh waktu lama, bahkan mungkin bertahun-tahun karena tidak tahu dari bahasa apa tulisan itu diambil. Profesor Hamilton membuat brankas mungkin untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini. Dia ingin brankas itu dibuka oleh orang yang memang dia inginkan untuk membukanya. Seseorang yang seperti dirinya...”

edward mendongak, menatap Yunus King dan ellen bergantian. ”...Seseorang seperti saya.”

Mereka bertiga terdiam beberapa saat. ”Analisismu masuk akal,” kata Yunus King. edward menaruh lukisan itu di meja kerja.

ellen memperhatikan lukisan itu dengan cermat. ”Ini bukan aksara Cina, bukan pula Mesir atau  Arab. Ini seperti huruf-huruf Cypriot.”

”Tidak masalah memakai huruf apa, selama bisa dibaca edward,” kata Yunus King.

edward menarik napas lalu mulai menyentuh tulisan yang terlukis di sana dan sekejap sebuah tulisan terproyeksi di kepalanya.

”Aku mengasihani manusia dalam semua penderitaan mereka, dan sebenarnya benci menyebarkan wabah penjahat,” kata edward, menatap ellen dan Yunus King. Keduanya tampak bingung.

”Apa maksudnya? Sepertinya aku pernah membaca kalimat seperti itu,” tanya Yunus King lebih ke dirinya sendiri, lalu mengambil handphone dari saku bajunya. ”Kita cari di internet.”

”Tidak perlu,” potong ellen. ”Kalimat itu diambil dari Faust karangan Goethe.”

”Oh... pantas saja terasa familier.” Yunus King ingat dia pernah membaca Faust beberapa tahun lalu.

”Jadi kata kuncinya faust? Atau Goethe?” tanya edward yang sama sekali belum pernah membaca buku itu.

ellen mendekati brankas kemudian menekan tombol hijau hingga di layar tertulis INSERT PASSWORD dan muncul keyboard QWeRTY tanpa angka.

”Bukan faust, juga bukan Goethe.” ellen berujar sambil menyentuh huruf di layar, dimulai dengan huruf ”M”. ”Kalimat itu berasal dari adegan saat Tuhan berdialog dengan iblis,” jelas ellen. ”Dan Tuhan bertanya ‘Apakah tidak ada yang pernah benar di bumi?’ Iblis menjawab, ‘Tidak, Tuanku. Aku menemukan di sana, seperti biasa, seluruhnya memuakkan. Aku mengasihani manusia dalam semua penderitaan mereka, dan sebenarnya benci menyebarkan wabah penjahat.’ Dan nama iblis itu...”

MePHISTOPHeLeS

Setelah ellen selesai menulis kata itu dan menekan tombol enter, layar berubah warna dan tiba-tiba muncul tulisan PASSWORD ACCEPTED. Pintu brankas terbuka.

Yunus King, ellen, dan edward menghela napas lega.

”Bagaimana Anda bisa hafal sampai seperti itu?” tanya edward. ”Anda pasti sudah membacanya hingga beratus-ratus kali.”

ellen menggeleng. ”Aku juga punya kemampuan spesial sendiri.”

”Anda juga seorang touché?”

”Bukan,” jawab  ellen. ”Aku punya  ingatan  eidetic.

Seperti  ingatan  fotografis,  tapi  untuk  tulisan. Aku bisa mengingat semua tulisan dalam buku walau hanya membacanya sekali.”

edward menatap gadis itu dengan takjub.

Analisis Edward sepertinya benar. Leonidas pasti me­ nyadari kemampuan Ellen, dan membuat brankas ini bisa dibuka salah satunya oleh kemampuan anak angkatnya, batin Yunus King.

Yunus King mengeluarkan semua barang yang ada di brankas. Terdapat beberapa koin emas dan uang yang jumlahnya tidak sedikit, beberapa perkamen, lempengan kuno, dan sebuah buku kecil.

”Sekarang uang-uang ini jadi milikmu, ellen,” kata Yunus King.

”Aku tidak butuh,” jawab ellen dingin. ”Aku  akan mendonasikannya atas nama Papa.”

Mata edward tertuju pada buku kecil yang sepertinya sudah sangat tua. Sampulnya dari kulit yang sudah kusam dan kertasnya sudah kecokelatan. Yunus King mengambilnya.

”Buku itu yang kalian cari?” tanya edward. Yunus King mengangguk.

”Apa yang spesial dari buku itu?”

”Kau akan tahu sebentar lagi,” jawab Yunus  King. ”Sepertinya pembunuh Papa juga mengincar buku ini, jadi siapa tahu kita bisa mendapat petunjuk dari sini,” sambung ellen.

”Polisi berpikir seperti itu?” tanya edward. ”Tidak. Polisi bahkan tidak tahu tentang keberada-

an buku ini,” jawab ellen.  ”Itu  hipotesisku.” edward  tidak  bertanya  lebih  lanjut. Dia mengalih-

kan tatapannya pada Yunus King, meminta penjelasan.

Yunus King tersenyum lalu menyuruh ellen dan edward duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Ia memandang ke arah edward. ”Akan kujelaskan padamu apa yang sudah kujelaskan pada ellen,” katanya. ”Tentang sepenting apa buku ini.”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊