menu

Touché Bab 19

Mode Malam
Bab 19

BANGUNLAH... aku mohon... bangunlah...

Suara siapa? batin Indra. Perlahan-lahan dia membuka mata dan melihat Riska berada di sebelah tempatnya tertidur sambil menggenggam tangannya. Air mata gadis itu masih menetes walau matanya sudah bengkak.

”Syukurlah...” Melihat Indra sadar, Riska spontan memeluknya.

”Hoi, semua pikiranmu terbaca...” kata Indra lemah. ”Aku tak peduli,” kata Riska serak tanpa melepaskan pe-

lukannya.

Aku pikir aku akan kehilanganmu.

Indra tersenyum mendengar suara hati Riska.

Dari menyentuh Riska juga Indra tahu apa yang terjadi sebelum dia tak sadarkan diri. Ternyata pil-pil yang diminumnya sebagian besar adalah vitamin dan ada satu butir yang merupakan obat tidur, ditambah stamina Indra yang memang sudah mencapai batas maka dia pun ambruk. Pistol yang ditodongkan ke mereka pun hanya pistol angin yang tak berbahaya. Pak Yunus tidak mengatakan apa-apa kecuali permintaan maaf setelah itu, sambil memberikan tiket pesawat untuk pulang ke Surabaya besok pagi. Vila yang sekarang mereka tempati ternyata milik keluarga Pak Yunus, begitu juga rumah bercat kuning gading di Jurug. Dia juga bisa membaca bahwa perasaan terakhir yang diserap Riska dari Pak Yunus adalah perasaan sedih dan lega, tak tahu apa sebabnya.

Setelah cukup lama, akhirnya Riska melepas pelukannya. ”Arman sudah menyiapkan makanan,” kata Riska. ”Mau

kuambilkan?”

Indra menggeleng. ”Terima kasih, tapi nanti saja.”

”Aku tidak mengerti kenapa Pak Yunus melakukan semua ini,” kata Dani tiba-tiba, dia duduk di sisi tempat tidur  yang berseberangan dengan Riska.

Indra berusaha untuk duduk, dibantu oleh Riska.

”Aku juga tak mengerti,” kata Indra. ”Aku rasa sejak semula dia tidak bermaksud jahat, dia hanya ingin membuktikan sesuatu dengan menyiapkan ’permainan’ ini.”

”Kenapa kau menyebutnya ’permainan’? Lalu, membuktikan apa?”

”Entah tapi kita semua memang bergerak sesuai dengan skenarionya,” jawab Indra. ”Sudah bisa ditebak dari bentuk dan warna mobil yang digunakan oleh orang-orang yang menculik kita.”

Dani mencoba mengingat-ingat. ”Wagon hijau muda?”

Indra mengangguk. ”Pelaku kejahatan biasanya tidak akan menggunakan kendaraan yang mencolok seperti itu dan kita semua tahu, Pak Yunus tidak bodoh. Dia sengaja memakai wagon hijau muda sebagai petunjuk agar kita mudah melacaknya. Lagi pula, apa kalian ingat, dari mana kita mendapat petunjuk untuk memecahkan kode puisi itu? Tentang tempat-tempat mana saja yang pernah dikunjungi Pak Yunus?”

”Pak Taufik?” Dani membelalakkan matanya.

”Pak Yunus sengaja memberitahu Pak Taufik karena dia guru geografi,” jelas Indra. ”Dia tahu kita akan pergi ke ruang geografi dan cepat atau lambat akan bertemu dengan Pak Taufik, itu sebabnya dia menitipkan petunjuk melalui Bapak itu. Semua sudah direncanakannya. Orang sepintar dia pasti tidak akan menyusun rencana hingga sedetail itu hanya untuk melenyapkanku.”

Dani manggut-manggut, ”Itukah sebabnya kau mau saja menelan semua pil itu? Karena kau tahu semua hanya permainan?”

”Belum,” jawab Indra. ”Aku menelan pil itu untuk mendapatkan jawabannya. Ternyata seperti yang kaulihat, aku tidak apa-apa.”

”Kau sedang berjudi dengan nyawamu sendiri,” Dani mendesah.

”Mungkin,” kata Indra. ”Tapi entah mengapa hati kecilku berkata Pak Yunus bukan orang jahat. Walau aku tak tahu apa tujuannya, aku sudah bisa memastikan satu hal: dia sama sekali tidak berniat membunuhku. Karena jika memang itu tujuannya, seperti yang baru saja kukatakan, dengan kecerdasannya dia pasti sudah melakukannya sejak awal menemukanku dan membuatnya tampak seperti kecelakaan. Sebaliknya, yang dia lakukan justru membuat permainan, menggunakan puisi sebagai hint, dan memaksa kita pergi ke sini.”

”Masuk akal,” gumam Dani. ”Tapi...” lirih Riska, ”kalau ternyata Pak Yunus serius ingin melenyapkanmu, dengan situasi yang sama, apakah kau akan benar-benar meminum semua pil itu?”

Indra tertegun lalu menatap Riska dalam-dalam. ”Ya,” jawabnya tegas.

***

”Benarkah tidak apa-apa begini?” tanya Arman saat mereka berdua berada di pesawat menuju Jakarta.

”It’s okay,” Pak Yunus menggeleng sambil tersenyum. ”Kekhawatiranku berlebihan.”

”Kau mengira Indra akan mempunyai pikiran yang sama dengan kakakmu?” tanya Arman lagi.

”Begitulah,” Pak Yunus menghela napas. ”Kakakku memutuskan untuk bunuh diri karena tidak tahu lagi arti hidupnya. Kemampuan yang semula dia sangka berkah berubah menjadi kutukan. Langsung dan tidak langsung, ternyata kemampuannya itu sudah melukai banyak orang. Kau pasti pernah mendengar kalimat ini kan: What is food to one is to others bitter poison. Lalu dia berpikir, sebelum dia berubah menjadi jahat dan menyalahgunakan kemampuannya, lebih baik secepatnya mengakhiri hidupnya demi keselamatan lebih banyak orang. Padahal dia tidak perlu sampai seperti itu. Seperti yang Indra bilang, manusia hidup untuk manusia yang lain. Kalau saja kakakku berpikir seperti itu mungkin dia tidak akan secepat itu mengambil hidupnya sendiri ”

Arman mengangguk-angguk.

”Semula kupikir, jika data absorber saja berpikir seperti itu apalagi mind reader,” lanjut Pak Yunus. ”Aku tidak bisa menolong kakakku, jadi aku ingin menebusnya dengan mencegah orang lain melakukan hal yang sama.”

”Untuk itu kau membuat permainan  itu?”

Pak Yunus mengangguk. ”Aku ingin tahu untuk apa atau siapa mind reader kita memberikan hidupnya dan seberapa erat hubungannya dengan orang-orang itu. Ternyata hasilnya seperti yang sudah kaulihat sendiri.”

”Sesuai perkiraanmu?”

”Kurang-lebih,” Pak Yunus tersenyum. ”Yang salah kuperkirakan adalah kecerdasan otak Indra karena kupikir akan butuh waktu yang lebih lama.”

”Apa yang akan kaulakukan jika rencanamu gagal?” tanya Arman ingin tahu. ”Bahwa ternyata Indra mengalami situasi yang mirip dengan kakakmu yang tidak punya siapa-siapa?”

Pak Yunus melepas kacamatanya. ”Aku akan membawa Indra ke USA dan menjaganya.”

Mereka terdiam selama beberapa saat, tapi pandangan Arman masih belum beralih dari Pak Yunus.

”Kau masih menyembunyikan sesuatu dariku, aku tahu alasanmu bukan hanya itu,” desak Arman. ”Kau bukan hanya mencari pegangan hidup Indra.”

”Jadi sekarang kau juga berniat menjadi mind reader?” Pak Yunus tersenyum.

”Okay, you win,” Pak Yunus mengangkat bahu. ”Kenapa hanya ada satu orang mind reader, satu orang empath dan satu orang track finder di tiap generasi? Itu pun selalu muncul hampir berbarengan. Aku selalu mencari tahu alasannya dan jawabannya baru kuketahui kemarin. Permainan ini kubuat untuk mencari jawaban itu. ”Sampai kapan pun, mind reader adalah pedang bermata dua,” jelas Pak Yunus. ”Kemampuan itu sangat berbahaya. Dia bisa membaca rahasia terdalam yang ingin disimpan manusia. Dalam A Study in Scarlet, Sherlock Holmes pernah bilang bahwa otak manusia seperti loteng kecil dengan banyak barang di dalamnya. Jadi jika kita bilang kita lupa, sebenarnya tidak sepenuhnya lupa, hanya saja kenangan itu tertumpuk di bawah kenangan-kenangan lain, atau mungkin di dalam laci di loteng yang juga sudah tertimbun dengan barang-barang lain. Mind reader punya kunci ke semua loteng, bahkan bisa mengambil kenangan dari laci paling dalam sekalipun.

”Jika dia bukan orang baik,” lanjut Pak Yunus, ”dia mungkin sudah menyalahgunakannya dan menjadi orang paling berbahaya di muka bumi ini. Itulah sebabnya, jika rencanaku gagal, aku akan membawa Indra dan menjaganya agar tidak bisa dipengaruhi oleh orang-orang yang berniat jahat.”

”Lalu apa hubungannya dengan empath dan track finder?” Arman masih tak mengerti.

”Seperti yang kubilang, mind reader seperti pedang bermata dua,” jelas Pak Yunus. ”Tapi jika mind reader adalah pedang, empath adalah sarungnya. Dia yang berperan mengontrol kemampuan mind reader. Kaulihat sendiri, bagaimana Riska bisa memasuki kehidupan Indra bahkan membuatnya mempertaruhkan nyawa. Track finder-lah yang bertugas mempertemukan empath dan mind reader, sarung dan pedangnya.”

”Bukankah itu menjadikan empath sebagai mata kaki Achiles bagi mind reader? Titik kelemahannya?” ”Kau benar, tapi itulah gunanya track finder,” jawab Pak Yunus. ”Dia bisa mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Entah itu melindungi empath maupun segera menjaga si mind reader.”

”Jadi maksudmu, kau bertugas sebagai penjaga mereka?” Arman mengangkat bahu.

”Kau tak setuju?”

Arman tersenyum lalu menyandarkan kepalanya ke kursi.

”Kalau itu orang lain mungkin aku tak setuju,” Arman mengaku. ”Tapi karena ini kau, aku setuju saja.”

”Aku tidak tahu kau memercayaiku sampai seperti itu,” Pak Yunus memakai kacamatanya lagi dan mulai membaca koran.

”Kalau aku tidak memercayaimu, aku tidak akan ikut permainanmu dari awal.” Arman memejamkan mata, mencoba untuk tidur. ”Kau orang baik.”

”Terima kasih,” Pak Yunus tersenyum. ”Tapi mestinya kau ingat, di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar baik.”

”Dan sebaliknya, tidak ada orang yang benar-benar jahat,” timpal Arman. ”Tapi aku masih tidak setuju dengan penggunaan stun gun itu.”

Pak Yunus tertawa. ”Aku tidak percaya kalimat itu keluar dari orang yang sudah menggunakannya dua kali pada bocah yang sama.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊