menu

Touché Bab 18

Mode Malam
Bab 18

PAK YUNUS menarik Riska lalu mendekapnya hingga Riska merasa sesak.

”Pak Guru...uhuk...uhuk...lepas...” pinta Riska sambil berusaha melepaskan diri, tapi Pak Yunus jauh lebih kuat dibanding dirinya. Riska menyentuh tangan Pak Yunus dan seketika dia merasakan jantungnya berdegup sangat kencang. Adrenalinnya terpacu. Inilah yang dirasakan Pak Yunus sekarang.

”Lepaskan mereka,” pinta Indra. ”Hanya kemampuan saya yang Bapak inginkan, bukan?”

Pak Yunus tersenyum. ”Kau tidak tahu apa yang kuinginkan.”

Suasana tegang. Dani berpikir keras untuk bisa meloloskan diri dari tempat itu dan meminta bantuan. Tapi keberadaan Arman dengan pistol teracung padanya menggagalkan semua rencana.

Pantas saja Pak Yunus tidak mau ada polisi yang terlibat, batinnya.

”Jawab pertanyaanku,” kata Pak Yunus. ”Bagaimana kau akhirnya tahu tentangku?” ”Jika saya jawab, Bapak akan melepaskan mereka?” tanya Indra, dia menatap Pak Yunus dengan tajam.

”Nope,” jawab Pak Yunus santai, lalu mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya dan mengacungkannya ke wajah Riska. ”Jika kaujawab, aku tidak akan melukainya... untuk sementara.”

Melihat wajah Riska yang pucat dan ketakutan, Indra menyerah.

”Saya mulai merasa curiga saat Bapak memainkan Hana’s Eyes dari Maxim di restoran itu,” Indra mulai menjelaskan. ”Bapak bilang, Bapak adalah touché yang berkemampuan menyerap ingatan dari alat musik yang Bapak sentuh. Tapi piano yang Bapak gunakan di restoran itu adalah piano baru yang baru diantar ke restoran itu siang harinya dan belum ada yang sempat memainkannya. Jadi ingatan mana yang Bapak serap?

”Lalu saat Bapak memainkan Bengawan Solo di ruang musik sehari setelahnya,” lanjut Indra. ”Biola itu dihibahkan oleh violis dari Rusia dan saya sudah memeriksanya bahwa dia belum pernah memainkan Bengawan Solo, bahkan dia belum pernah sekali pun mendengar lagu ciptaan Gesang itu. Kesimpulan saya, Bapak memang ahli memainkan berbagai macam alat musik dan berbohong tentang kemampuan touché Bapak. Pertanyaan yang kemudian muncul, untuk apa Bapak berbohong?”

”Apakah saat kau memutuskan untuk mengejarku sampai ke Solo,” potong Pak Yunus, ”kau sudah tahu bahwa aku adalah otak di balik ini semua?”

”Belum,” jawab Indra. ”Saya masih mengira Bapak benarbenar diculik oleh orang-orang yang memburu kaum touché dan itu membuktikan bahwa Bapak memang touché walau saat itu saya tidak tahu kemampuan asli Bapak. Hanya saja, ada satu kebohongan Bapak lagi yang saya ketahui. Tidak pernah ada touché yang berhubungan dengan kuliner yang diculik di Surabaya. Yang ada justru sebaliknya, juru masak hebat asli Indonesia baru saja pulang dari Prancis dan langsung terbang ke Surabaya. Belakangan baru saya tahu namanya Arman.”

Pak Yunus berdecak. ”Kau memang mengagumkan.” ”Juru masak yang memiliki kemampuan touché pastilah

juru masak yang hebat,” lanjut Indra. ”Di Indonesia, berita kehilangannya pasti akan muncul di koran atau setidaknya di internet, tapi nihil. Sedangkan berita kedatangan juru masak Indonesia dari Prancis dan pergi ke Surabaya, bisa dengan mudah didapatkan dari hampir 100 situs di internet. Lagi pula, Arman selalu mengenakan sarung tangan padahal seperti Bapak bilang, mind reader dan empath hanya satu orang. Alasannya pasti hanya satu, karena pekerjaannya membutuhkan kemampuan touché-nya. Lalu, walaupun sudah berusaha keras, karena sudah lama tinggal di Prancis, aksen sengaunya masih tampak. Dia pun pernah tersinggung saat saya tidak menyentuh makanannya. Apakah kesimpulan saya salah?”

”Sejauh ini belum,” kata Pak Yunus.

”Saya mulai mencurigai Bapak saat Arman mengatakan hanya menerima perintah,” kata Indra. ”Orang yang memberinya perintah entah mengapa bisa dengan mudah melacak jejak kami semua. Kemudian saya ingat, pertemuan pertama kita di UKS itu bukan karena kebetulan. Bapak memang tahu kami semua ada di sana. Bapak juga pernah pergi ke Prancis, saya bertaruh di sanalah Bapak bertemu dengan Arman. Jadi, pemberi perintah selama ini adalah Bapak dan kemampuan touché Bapak yang sebenarnya adalah track finder.”

Dani dan Riska ternganga. Pantas saja selama ini posisi mereka selalu ketahuan!

Pak Yunus menggeleng sambil tersenyum. ”Kau memang tidak bisa diremehkan, tapi aku yakin bukan itu saja,  kan?”

”Kedatangan Bapak bersama mereka memastikan semuanya,” aku Indra. ”Si pemberi perintah bukan orang bodoh. Dia bahkan tahu perihal kedatangan Riska dan Dani menuju rumah di Jurug, jadi tidak mungkin dia meninggalkan seseorang yang sudah susah payah mereka dapatkan. Orang yang tertinggal pasti digunakan untuk membawa dua orang lainnya ke sini. Sekarang, saya akan bertanya pada Riska, siapa yang memberitahumu bahwa aku dibawa ke sini?”

”Pak... Yunus...” jawab Riska terbata-bata. ”Dia bilang, dia mendengar para penculik itu berteriak.”

”Tidak mungkin,” kata Indra. ”Karena perintah membawaku ke sini baru diberikan saat berada di dalam mobil, aku masih bisa mendengar walau saat itu kesadaranku mulai menghilang.”

”Semua penjelasanmu tidak ada yang salah,” Pak Yunus mengangguk-angguk. ”Aku memang track finder. Kemampuan touché-ku bisa mendeteksi keberadaan siapa pun, cukup dengan menyentuh peta. Tepat seperti kemampuan Cerebro yang dikatakan Dani. Tentang bagaimana aku dan Arman bertemu pun sesuai dengan penjelasanmu. Kami bertemu di Prancis.” ”Berarti cerita tentang hilangnya satu per satu kaum touché semuanya bohong?” tanya Dani tiba-tiba. Pak Yunus menoleh ke arahnya lalu tersenyum.

”Tidak semua. Beberapa benar-benar menghilang tapi mereka diculik oleh orang-orang yang berbeda, yang menyadari tentang kemampuan touché,” jawab Pak Yunus. ”Sisanya hanya rekaanku.”

”Tapi ada satu hal yang masih saya tak mengerti,” lanjut Indra. ”Untuk apa Bapak melakukan ini semua?”

Terdiam sesaat, Pak Yunus akhirnya menjawab. Kali ini tidak ada lagi senyum yang tersungging.

”Kau pasti sudah tahu tentang kematian kakakku.” Indra mengangguk.

”Dia bunuh diri di depan mataku,” lanjut Pak Yunus. Semua yang berdiri di tempat itu langsung terpaku mendengarnya. ”Kemampuannya adalah data absorber. Kemampuan yang sangat penting di zaman digital seperti sekarang ini. Setebal apa pun lapisan pengamanan komputer, bisa dibobolnya dengan mudah hanya dengan sate sentuhan. Awalnya, dia sangat senang dengan kemampuannya itu. Dia bisa membantu banyak orang, pikirnya. Dia menjadi konsultan di Pentagon dan CIA. Membobol komputerkomputer milik jaringan teroris dan memecahkan kode-kode yang sangat sulit. Tapi kemudian, dia bunuh diri.”

”Ke...kenapa?” tanya Riska.

”Ketika USA memutuskan membombardir Irak, dia tahu itu didasarkan data yang diserapnya,” lanjut Pak Yunus, kali ini sorot matanya muram. ”Begitu juga di Afghanistan. Dengan kemampuannya, dia telah merusak keseimbangan. Di satu sisi, dia memang telah membantu negaranya, tapi di sisi lain dia juga memberi penderitaan bagi orang-orang di belahan bumi yang lain. Akhirnya, karena tak sanggup menanggung rasa bersalah, dia bunuh diri. Musuh kaum touché yang sebenarnya bukan berwujud manusia, tapi kegelapan hati.”

”Lalu apa yang Bapak ingin lakukan terhadap saya?” tanya Indra lagi walau sebenarnya dia sudah bisa menduga jawabannya.

”Melenyapkanmu.”

Pak Yunus menatapnya dalam-dalam. ”Kemampuanmu adalah kemampuan touché yang sangat berbahaya. Kau bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak baik, kau bahkan bisa menghancurkan suatu negara hanya dengan bersalaman dengan pemimpinnya. orang dengan kemampuan touché sepertimu memang sebaiknya tidak ada di dunia ini, demi kebaikan kita semua. Tidakkah kau berpikir seperti itu?”

”HENTIKAAAAAAAAAN!” jerit Riska. ”Bukan Bapak yang berhak memutuskan itu semua!”

”Jika memang itu yang Bapak inginkan, bukankah Bapak tidak perlu melibatkan mereka?” kata Indra tajam.

”Perlu,” Pak Yunus tersenyum lalu menoleh pada Arman, memberi isyarat. Arman mengambil sesuatu dari kantongnya lalu melemparkannya ke hadapan Indra. Sebungkus pil berbentuk bulat dan berwarna kekuningan.

”Minum itu,” perintah Pak Yunus.

Arman mendorong Dani. ”Buka ikatannya, tapi jika kau macam-macam, aku tidak akan segan-segan menembakmu.”

Dani membuka ikatan Indra, begitu terlepas, Indra langsung ambruk. Badannya lemas. ”Oi! Oiii!” pekik Dani panik.

Indra menggeleng. ”Tidak apa-apa.”

Dia mengambil bungkusan pil di hadapannya.

”Jadi Bapak ingin agar kematianku tampak seperti bunuh diri?”

”Yes,” jawab Pak Yunus tegas. ”Ini juga sebabnya aku membutuhkan kedua temanmu ini. Jika kau tidak melakukannya, aku akan melukai mereka dengan perlahan-lahan dan menyakitkan. Lagi pula bukankah ini keinginanmu sejak lama? Untuk apa kau hidup di dunia yang bahkan keluargamu saja tidak mau menyentuhmu?”

”Hentikaaaaaaan...” pinta Riska, entah kenapa dia bisa merasakan perihnya hati Indra mendengar kata-kata itu.

”Bapak benar,” kata Indra setelah terdiam beberapa saat. ”Saya memang pernah ingin menghilang dari dunia ini. Berat memiliki kemampuan touché seperti saya. Sangat berat, karena pikiran adalah hal paling pribadi dari manusia bahkan cerminan hati dan saya bisa dengan leluasa memasukinya.

”Tapi itu dulu, sebelum saya bertemu dengan Dani dan Riska,” lanjutnya. ”Sejak bertemu mereka, saya jadi mencintai diri saya sendiri dan bersyukur hidup di dunia ini. Saya percaya manusia itu hidup demi manusia yang lain. Kita jadi lebih kuat jika menyangkut orang yang penting bagi kita. Bapak juga percaya itu, kan? Itu sebabnya Bapak menyandera Riska, karena Bapak tahu saya akan melakukan apa pun untuknya.”

Indra menatap Riska lalu tersenyum. ”Terima kasih.” Riska menggeleng, air matanya mulai menetes. Indra me-

noleh ke Dani dan menggenggam erat tangan sahabatnya itu, dia bisa mendengar jeritan hati Dani yang memintanya untuk tidak melakukan itu semua tapi Indra hanya tersenyum.

Indra membuka bungkusan pil itu dan memuntahkan semua isinya ke tangannya. Dia meminta tolong Dani untuk mengambil botol air yang berada di jendela. Dani sempat menolak melakukannya, tapi tatapan teguh Indra melunakkan hatinya.

”HENTIKAAAAAAAAAAAANN,” jerit Riska, air matanya tumpah. ”Aku tidak mau! Aku tidak mau! Jika tidak bisa bertemu denganmu lagiiii!!!!”

”Kau benar-benar akan melakukannya?” tanya Pak Yunus hampir tak percaya. Riska bisa merasakan, sekarang justru panik bercampur sedih yang dirasakan Pak Yunus.

”Saya sudah bilang,” tegas Indra. ”Saya akan melakukan apa pun untuk mereka. Jadi sebaiknya Pak Yunus menepati janji untuk melepaskan mereka.”

Setelah berkata begitu, Indra meminum semua pil yang berada di tangannya. Satu menit kemudian, dia terjatuh. Tak bergerak.

”TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK...!” jerit Riska.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊