menu

Touché Bab 17

Mode Malam
Bab 17

PELAN-pelan Indra mulai siuman. Tubuhnya terasa lemah sekali. Mungkin ini efek gabungan dari terkena stun gun dan belum makan dari kemarin. Dia mulai merutuki kebodohannya menolak makanan yang disodorkan oleh Arman padahal hal utama yang harus dia siapkan jika ingin melari-

kan diri adalah stamina.

Kali ini para penculik itu tidak menutup mulutnya dengan lakban, namun kaki dan tangannya masih terikat. Di kamar tempatnya disekap sekarang tidak ada apa pun. Tidak ada tempat tidur, tidak ada meja. Kosong. Hanya ada dua botol air mineral dengan sedotan di dekatnya. Indra yang merasa tenggorokannya kering langsung meneguk air itu lewat sedotan sebanyak mungkin. Sepertinya ini alasan mulutnya tidak lagi ditutup. Satu hal pasti yang bisa diketahui, para penculik itu tidak berniat membunuhnya. Setidaknya, tidak dalam waktu dekat.

Indra menyapu pandangan ke semua sudut kamar. Semua jendela ditutup dan dilapisi gorden. Lampu kamar tidak dinyalakan sehingga cahaya yang masuk hanya berasal dari sinar matahari yang samar-samar menembus jendela. Sekarang, apa yang harus kulakukan? tanya Indra dalam hati. Ponselnya sudah rusak dan karena para penculik itu mengambil risiko melepas penutup mulutnya, berarti sekarang dia pasti berada di suatu tempat yang bahkan berteriak minta tolong pun sepertinya akan menjadi tindakan yang sia-sia.

Indra memejamkan mata, mencoba berpikir keras bagaimana caranya menyelamatkan diri atau setidaknya memberi tanda bagi siapa pun agar bisa menolongnya.

Dengan kaki dan tangan masih terikat, dia beringsut ke jendela. Setelah agak lama dan menghabiskan cukup banyak tenaga, Indra berhasil juga sampai di bawah daun jendela. Dia melongokkan kepalanya dan mendapati lagi-lagi dia berada di lantai dua. Hanya saja kali ini, dia tidak bisa menghubungi siapa pun untuk memberitahu lokasinya.

Tunggu! serunya dalam hati saat melihat bahwa jendela itu bisa dilihat dari jalan yang dilalui oleh mobil.

Indra kembali beringsut menuju botol minumannya yang masih utuh. Dia menjepit botol itu dengan kakinya agar tidak tumpah lalu perlahan-lahan menuju jendela lagi. Dia mengangkat kakinya untuk melepaskan botol dan mengambilnya dengan tangan yang terikat ke belakang. Dengan cara yang sama yang dia lakukan di Jurug, dia menekan dinding dengan punggungnya untuk membantunya berdiri. Setelah menarik gorden menggunakan mulutnya, dia menaruh botol minuman itu ke sisi jendela yang terkena sinar matahari. Dia bermaksud menjadikan botol air itu sebagai pengganti cermin, sehingga begitu terpapar sinar matahari, air di botol akan memantulkannya dan tampak berkilat. Dia terduduk lagi. Tenaganya sudah hampir habis.

Semoga ini berhasil, harapnya dalam hati. Semoga ini bisa jadi petunjuk.

***

Mereka bertiga sudah mengitari kompleks itu hampir selama setengah jam dan belum mendapatkan hasil apa pun. Masalahnya, beberapa vila memiliki tembok pagar yang tinggi hingga mereka tidak bisa melihat mobil apa yang terpakir di sana.

Pak Yunus menghentikan mobilnya di sisi jalan salah satu sudut kompleks.

”Kita cari udara segar,” katanya sambil membuka pintu mobil. ”Siapa tahu bisa menjernihkan pikiran kita.”

Dani mengangguk lalu menoleh ke belakang kepada Riska yang dari tadi bungkam seribu bahasa.

”Ayo,” katanya.

Riska hanya mengangguk lemah.

Pak Yunus duduk di kap mobil, diikuti Dani. Riska berdiri di dekat mereka.

”Di Amerika, aku punya teman yang bekerja di FBI,” kata Pak Yunus tiba-tiba. ”Dia pernah berkata kepadaku bahwa setiap kali mereka menyelesaikan suatu kasus, mereka selalu berpikir out of the box.”

”Maksudnya?” tanya Dani tak mengerti.

”Mereka tidak berpedoman pada pelajaran yang telah mereka dapatkan atau kelaziman yang mereka peroleh selama ini,” jelas Pak Yunus. ”Mereka juga mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan di luar itu. Anomali. Seperti saat kita bermain hide and seek. Aku ingat benar, dulu saat aku masih kecil, tempat paling tepat untuk bersembunyi adalah di atas rak buku.”

Dani mengangkat alis.

Pak Yunus tersenyum. ”Saat itu, aku hanya mengikuti instingku dan memanjat ke tempat itu. Tapi bertahun-tahun kemudian, aku baru sadar bahwa sebagian besar manusia mencari setinggi pandangan matanya saja. Mereka jarang mencari di atas pandangan, karena ’biasanya’ tidak begitu. Itulah yang dinamakan berpikir out of the box.”

”Dan apa maksud Bapak menceritakan hal itu semua kepada kami?” tanya Dani.

”Mungkin dari tadi kita salah mencari petunjuk,” kata Pak Yunus. ”Mungkin, hal yang kita pikir bisa dijadikan petunjuk berdasar pengalaman malah tidak bisa diandalkan sama sekali. Sebaliknya, hal yang tidak terpikirkan atau bahkan terlewatkan malah merupakan petunjuk yang berharga. And we all know, Indra tidak sebodoh itu dengan tidak memberikan petunjuk.”

Riska paham maksud Pak Yunus dan mulai berjalan di sepanjang kompleks itu. Tapi kali ini matanya tidak hanya menyapu setinggi pandangannya, dia juga menengadah, mencari petunjuk yang mungkin terlewatkan. Saat matanya tertuju pada vila berlantai dua, Riska merasa silau. Seperti ada pantulan cahaya di sana. Dia berjalan menuju vila itu yang walau dari tempat dia tadi melihat tampak dekat, ternyata cukup jauh juga jika dilalui dengan berjalan kaki.

Sesampainya di gerbang vila, dia mendongak, ke tempat cahaya itu berasal, dan melihat botol minuman di pinggir jendela. ”Hanya botol minuman,” keluhnya. Saat akan berbalik kembali ke tempat Pak Yunus, dia melirik sekilas ke dalam vila dan mendapati mobil wagon hijau muda terparkir di sana. Jantungnya serasa berhenti berdetak, ditambah suara dering telpon genggamnya yang tiba-tiba berbunyi.

”Ha...halo?” jawabnya.

”Kau di mana?” tanya Dani gusar setengah membentak. ”Kami mencarimu dari tadi!”

”Se...sepertinya aku sudah menemukan vila yang kita cari.”

”Eh?” hening beberapa saat. ”Beritahu aku posisimu.”

Riska menjelaskan bagaimana dia sampai ke tempat itu dan tidak sampai lima menit, Pak Yunus dan Dani datang.

Dani mengintip di sela-sela pagar. ”Nomor polisinya... Ya, benar! Itu mereka!”

”Sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Dani pada Pak Yunus saat mereka menghampiri Riska.

”Kau bisa bela diri?” Pak Yunus bertanya balik pada Dani.

”Aku bisa memukul,” Dani mengangkat bahu.

”Tidak buruk,” lalu Pak Yunus mengangkat bahu. ”Sedangkan kau, bisa berlari dengan cepat.”

Riska mengangguk. ”Selama ini seperti itu.”

”Good,” Pak Yunus mengangguk. ”Kita masuk. Jika keadaan gawat, Riska, kau harus lari secepat mungkin dari sini untuk mencari bantuan.”

”Aku mengerti,” kata Riska.

”Bagaimana dengan Bapak sendiri?” tanya Dani. ”Bapak bisa bela diri?” ”Judo sabuk hitam, karate sabuk hitam, Aikido Dan IV,” jawab Pak Yunus kalem.

Dani mengangkat alis. ”Kenapa sampai bisa diculik?” ”Mereka memasukkan obat bius ke minumanku,” jawab

Pak Yunus.

”Tu...tunggu!” Riska mencegah tangan Pak Yunus saat dia hendak membuka pagar. ”Kita langsung masuk begitu saja?”

”Kau punya ide lain?” Pak Yunus balik bertanya.

Riska tidak menjawab, dia melepaskan tangannya dari tangan Pak Yunus. Sejenak dia tertegun, karena entah mengapa perasaan Pak Yunus yang diserapnya adalah perasaan senang.

Pintu pagar ternyata tidak terkunci sehingga Pak Yunus dengan mudah membukanya.

”Are you guys ready?” Pak Yunus bertanya kepada Dani dan Riska sebelum mengetuk pintu. Mereka berdua mengangguk.

Setelah beberapa kali ketukan, mereka mendengar jawaban dari dalam.

”Ya!”

Begitu pintu terbuka, Pak Yunus langsung melancarkan tendangannya tepat ke wajah orang yang pertama tampak. Orang itu terkapar seketika. Dani mengenalinya sebagai salah seorang yang pernah berusaha menculiknya. Mereka tidak salah tempat.

Mendengar kegaduhan yang terjadi, para penculik yang lain pun mulai berdatangan. Entah karena rasa terkejut atau kecepatan Pak Yunus, mereka semua dengan mudah dapat dilumpuhkan tanpa sempat memberikan perlawanan. Total empat orang tumbang. ”Masih ada seorang lagi,” kata Dani. ”Yang beraksen Prancis dan mengenakan sarung tangan putih, dan sepertinya pemimpin mereka.”

Pak Yunus mengangguk. ”Aku tahu siapa yang kaumaksud tapi sebaiknya kita tidak perlu pusing memikirkan di mana dia. Tujuan utama kita adalah menyelamatkan Indra. Kita harus mencarinya sesegera mungkin.”

”Dia di lantai dua,” seru Riska, lalu mencari tangga. ”Di kamar yang ada botol di jendelanya.”

”Hah? Botol di jendela?” gumam Dani bingung sambil mengikuti Riska dari belakang.

Di lantai dua ada beberapa kamar, tapi berdasarkan ingatan Riska akan posisi jendela dengan botol tadi, dia bisa memperkirakan di kamar yang mana. Belum sempat memutar daun pintu, samar-samar Riska mendengar namanya dipanggil dari dalam.

”Ris...ka?”

Itu suara Indra, pekik Riska dalam hati.

Dia memutar daun pintu, tapi ternyata pintu kamar itu terkunci. Dia menoleh ke arah Pak Yunus dan Indra.

”Terkunci.”

”Kita dobrak saja,” usul Dani.

”No need,” kata Pak Yunus, dia mengamati daun pintu itu dengan saksama termasuk lubang kuncinya. Dia lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil kawat dengan lengkungan di ujungnya.

”Aku mempelajarinya saat masih SD,” kata Pak Yunus sambil mengutak-atik lubang kunci dengan kawatnya. ”Sewaktu aku sering dihukum agar tidak keluar kamar. Untungnya tipe pintu ini tidak berbeda dengan pintu kamarku.”

Tidak lama, terdengar bunyi klik, dan begitu Pak Yunus memutar daun pintu, pintu pun terbuka.

Kamar di hadapan mereka sangat gelap. Cahaya remangremang hanya berasal dari jendela. Walau begitu, mereka semua bisa dengan mudah mengenali sosok yang terduduk di lantai dengan tangan dan kaki terikat.

Indra mengerjapkan matanya menyesuaikan diri dengan sinar dari pintu kamar. Melihat Riska dan Dani dia tersenyum karena akhirnya mereka bisa bertemu kembali, tapi saat matanya tertuju pada Pak Yunus raut mukanya berubah.

”PERGI!” teriaknya. ”PERGI DARI SINI! SECEPATNYA!

LARI!”

Riska dan Dani sangat terkejut dengan reaksi Indra. Apakah dia tidak senang dengan kedatangan mereka?

”Kami datang untuk menolongmu!” kata Dani agak gusar.

”Kalian tidak mengerti?” Indra mulai panik, baru kali ini dia seperti itu. ”Orang yang berada di balik ini semua adalah PAK YUNUS!”

Dani dan Riska membeku, secara otomatis mereka lalu mengalihkan tatapannya pada Pak Yunus yang sekarang hanya tersenyum.

”Aku sudah menduga, kau memang cerdas,” kata Pak Yunus kalem.

Jantung Riska langsung serasa berhenti berdetak. Berarti itu benar! Dia sudah bersiap-siap lari, tapi tiba-tiba di belakang mereka sudah berdiri Arman dengan mengacungkan pistol.

”Jangan berpikir kalian bisa lari dari sini,” kata Arman dengan suara sengau.

”Kenapa jadi begini...” keluh Dani pelan. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊