menu

Touché Bab 16

Mode Malam
Bab 16

”PAK YUNUS!” pekik Riska dan Dani hampir berbarengan.

Pak Yunus menatap mereka dengan wajah lega. Secepatnya Dani dan Riska melepaskan semua ikatan Pak Yunus.

”Bisa tolong kalian ambilkan aku a glass of water?” tanya Pak Yunus begitu lakban di mulutnya dilepas. Riska mengangguk. Dia keluar dari kamar dan setelah kebingungan selama beberapa saat akhirnya menemukan dapur rumah itu. Dia mengambil gelas, mengisinya dengan air yang anehnya terisi penuh di lemari es, lalu kembali ke kamar dan menyerahkan gelas itu ke Pak Yunus.

”Terima kasih,” kata Pak Yunus sambil tersenyum lalu menghabiskan air itu dalam beberapa teguk.

”Bisa tolong ambilkan kacamataku?” pintanya kemudian.

”Di mana?”

”There,” Pak Yunus menunjuk meja di dekat jendela. ”Maaf, aku masih belum sanggup berdiri.”

”Tidak masalah,” kata Dani lalu mengambil kacamata Pak Yunus. Pak Yunus memakai kacamatanya lalu memandang Dani dan Riska bergantian.

”Jadi, bagaimana kalian bisa sampai di sini?’ tanyanya. Riska dan Dani duduk di lantai mengitarinya. Riska memandang Dani, berharap cowok itu yang menceritakannya. Dani mengangguk tanda mengerti, lalu menceritakan semuanya pada Pak Yunus. Dari saat Indra berhasil memecahkan kode puisi itu hingga dia diculik dan sempat memberi petunjuk bahwa dia disekap di rumah ini.

Pak Yunus mengangguk-angguk selesai mendengar penjelasan Dani.

”Dia memberi kalian petunjuk dengan morse karena tidak bisa bicara? Genius...” gumam Pak Yunus.

”Pak, sekarang bukan saatnya untuk kagum,” pinta Riska cemas. ”Kita harus segera menyelamatkan Indra.”

”Aku tahu di mana mereka,” kata Pak Yunus. ”HEEEEEEEE...” Dani dan Riska setengah terpekik. ”Mereka menuju Temanggung, more specific place di air

terjun Grojogan Sewu,” kata Pak Yunus. ”Mereka meneriakkannya saat akan meninggalkan tempat ini. Aku tidak sengaja mendengarnya. Aku tidak tahu they took Indra with them.”

”Kenapa mereka lupa dengan Bapak?” tanya Dani heran. Pak Yunus mengangkat bahu. ”Aku juga tidak tahu,

mungkin mereka sangat terburu-buru dan menganggapku less important than Indra. Jadi daripada repot, aku ditinggal saja.”

”Berarti sekarang kita harus secepatnya ke Tawangmangu!” Riska langsung berdiri, tapi sebelum dia sempat pergi Dani menarik tangannya. ”Tunggu!” sergah Dani. ”Sekarang sudah malam, lebih baik kita tidur di sini dulu dan baru berangkat  besok  pagi!”

”Tidak!” Riska menepis tangan Dani. ”Kita harus secepatnya menolong Indra atau semuanya akan terlambat!”

”Kurasa benar kata Dani,” kata Pak Yunus.

”Kita sampai ke sana pun pasti sudah larut,” lanjut Pak Yunus saat Riska hendak melancarkan protesnya. ”Dan kita tidak bisa mencari tahu rumah mana tempat Indra disekap dan akan percuma saja. Nevertheless, kurasa untuk sementara mereka tidak akan berani macam-macam pada Indra.”

”Kenapa?” tanya Riska pelan.

”Because he’s special,” kata Pak Yunus. ”Much more special than all of us. Believe me.”

Riska menatap Pak Yunus dengan tajam lalu menghela napas. ”Aku percaya kata-kata Bapak, tapi jika terjadi apaapa pada Indra, aku akan membenci Bapak sebesar aku membenci penculik-penculik itu.”

Pak Yunus tersenyum.

Riska lalu pergi menuju pintu. ”Kau mau ke mana?” seru Dani.

”Mandi,” jawab Riska singkat lalu menghilang dari balik pintu.

”Memangnya kita boleh seenaknya menginap di rumah ini?” tanya Dani pada Pak Yunus.

”Aku tidak melihat seorang pun yang akan melarang kita,” jawab Pak Yunus santai. ”Lagi pula kupikir para penculik itu tidak akan kembali ke rumah ini hanya untuk menagih biaya penginapan. Don’t you think so?”

Dani meringis. ”Apakah kita perlu melapor polisi?’ tanya Dani lagi.

Pak Yunus menggeleng. ”Terlalu banyak pihak yang terlibat, tidak menjamin masalah akan selesai. Lagi pula aku takut jika kita lapor polisi, justru akan membuka kemampuan touché kita.”

Dani manggut-manggut. ”Jadi, Pak Yunus sudah punya rencana apa yang akan kita lakukan besok?”

Pak Yunus menggeleng lemah. ”I have no idea.”

***

”Aku sudah menelepon tempat persewaan mobil dan mereka akan mengantarnya besok pagi-pagi sekali,” kata Pak Yunus saat mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi.

”Memangnya Bapak membawa uang?” tanya Dani. ”Nope,” Pak Yunus menggeleng. ”Tapi aku selalu mem-

bawa credit card-ku yang untungnya sama sekali tidak disentuh para penculik itu.”

Dani meringis sambil mengacungkan jempol.

”Kenapa Indra?” tanya Riska tiba-tiba. Matanya lurus ke televisi walau bisa dipastikan pikirannya berada di tempat lain.

”Apa maksudmu?” Dani mengerutkan kening.

”Kenapa dia diculik? Kenapa dia harus dikejar-kejar seperti itu? Indra tidak memilih untuk mendapatkan kemampuan itu!” kata Riska mulai emosi. ”Ini tidak adil.” Matanya mulai berkaca-kaca.

Pak Yunus mengangguk-angguk.

”Tak satu pun dari kita memilih untuk mendapatkan kemampuan ini. Apa kau tahu, sebenarnya targetnya bukan hanya Indra, but all of us,” kata Pak Yunus dengan kalem, mencoba menenangkan. ”Semua kaum touché.

”Walau memang, Indra yang paling spesial,” lanjutnya. ”Indra, like all of us here, tidak memilih untuk mendapatkan kemampuan ini tapi kenyatannya, kita memilikinya. Hanya itu yang ada dalam pikiran orang-orang yang mengejar kita.”

”Kenapa Indra yang paling spesial?” tanya Dani.

”Karena di antara semua kemampuan touché, kemampuan membaca pikirannyalah yang paling dicari.”

”Karena?”

”Karena dia bisa mendeteksi kebohongan.” ”Bukankah ada lie detector?” tanya Dani lagi.

”Setiap barang yang dibuat manusia, pasti tidak ada yang sempurna,” jawab Pak Yunus. ”Apa kalian tahu, kalau lie detector bisa diakali dengan menusukkan jarum ke jempol kita? Lie detector mendeteksi penyimpangan denyut nadi, dan rasa sakit akibat tertusuk jarum cukup ampuh untuk mengelabuinya.”

”Jadi Indra dan kemampuan membaca pikirannya dikejar agar bisa digunakan untuk mencari kebenaran?”

”Kalau saja bisa that simple,” desah Pak Yunus. ”FBI, CIA, KGB, bahkan lembaga peradilan kita mungkin menginginkan kemampuannya untuk itu, tapi bagaimana dengan lawan mereka? Para penjahat? Teroris?”

Pak Yunus mengambil remote TV lalu mengganti salurannya ke stasiun yang sedang menayangkan konflik antara KPK, kepolisian, dan kejaksaan.

”You see? Masing-masing memiliki versinya sendiri,” jelas Pak Yunus. ”Kita tidak tahu siapa yang berbohong dan siapa yang tidak. Indra bisa dengan mudah mengetahuinya. Tapi karena hal itu pula, ada dua pihak yang berbeda yang akan mengejar Indra. Pihak pertama adalah pihak yang menginginkan kebenaran itu terungkap dan pihak kedua sebaliknya, tidak ingin kebenaran itu terungkap.”

Dani menelan ludah. ”Berarti jika pihak yang tidak ingin kebenaran terungkap yang pertama kali mendapatkan Indra, kemungkinan besar dia akan...”

Pak Yunus mengangguk. ”Aku yakin dia sendiri tidak tahu sebesar apa bahaya yang mengintainya.”

Riska menutup kedua telinganya sambil memejamkan mata. Dia tidak ingin mendengar lebih jauh lagi. Malam harinya, tidak ada seorang pun yang bisa memejamkan mata.

***

Keesokan paginya setelah mobil sewaan diantar, ketiganya secepatnya berangkat ke Tawangmangu.

”Bapak tahu tujuan mereka?” tanya Dani sambil mengutak-atik ponselnya, mencari titik-titik tempat yang mungkin digunakan sebagai tempat Indra disekap lewat internet.

”Menurutku mereka menyekapnya dalam rumah seperti sebelumnya,” jawab Pak Yunus, dia yang memegang kemudi. ”Atau mungkin di vila. Ada banyak vila di sekitar air terjun itu.”

”Tapi bagaimana kita bisa mencari vila yang ’benar’?” Dani menyandarkan kepalanya ke kursi. ”Seperti mencari jarum di tumpukan jerami.” ”More than that,” sahut Pak Yunus. ”Ini seperti mencari jarum yang ’benar’ di antara tumpukan jarum. Karena jarum dan jerami memiliki bentuk berbeda.”

Riska yang duduk di jok belakang hanya diam dan memandang keluar jendela. Matanya menerawang, mengkhawatirkan keselamatan Indra.

Setelah sekitar dua jam, akhirnya mereka sampai di Tawangmangu. Pak Yunus langsung mengemudikan mobilnya menuju kompleks vila di dekat tempat itu. Sekarang di depan mereka ada deretan vila tapi mereka tidak bisa mengetahui yang mana yang menjadi tempat persembunyian para penculik itu.

”Sekarang bagaimana?” desah Dani. Pak Yunus menggeleng. ”I don’t know.”

Tak ada satu pun dari mereka bertiga yang bicara hingga tiba-tiba Riska membuka mulut.

”Mobil,” katanya.

Dani dan Pak Yunus menengok ke belakang. ”Apa maksudmu?” Dani mengernyit.

”Mobil wagon hijau muda,” jelas Riska. ”Mobil wagon berwarna mencolok seperti itu termasuk jarang. Kita tinggal mengelilingi kompleks ini dan mencari vila yang terdapat wagon hijau muda terparkir di sana. Atau kita bisa bertanya pada orang-orang di sini tentang mobil itu.”

Pak Yunus tersenyum.”You’re right, kenapa aku tidak terpikir sampai di situ.”

Dia lalu memasukkan gigi mobil dan membawa mobil melaju mengelilingi kompleks vila itu. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊