menu

Touché Bab 15

Mode Malam
Bab 15

”KE MANA kita harus mencari?” Riska memandang sekelilingnya. Hari sudah hampir malam dan mereka sudah berkeliling Pasar Klewer selama dua jam tanpa hasil.

”Aku juga tak tahu,” Dani menggeleng, napasnya naikturun. ”Bahkan mobilnya pun tak terlihat sama sekali. Bukankah mestinya mobil wagon dengan warna seperti itu cukup mencolok?”

”Kurasa sebaiknya kita mencari penginapan lebih dulu,” usul Dani kemudian sambil terus berjalan. Rasanya Riska sudah hampir menangis saat tiba-tiba ponsel Dani berdering. Dani melihat nama yang tertera di layarnya dan spontan berseru.

”INDRA!”

Riska mengambil ponsel itu dari tangan Dani.

”Halo? Halo? Indra! Kau di mana sekarang?” tanya Riska tapi tak ada jawaban. Riska mengembalikan ponsel itu pada Dani.

”Halo? Ndra?” tanya Dani. Sekali lagi hening tapi telepon masih menyala. ”Apa dia tidak apa-apa?” tanya Riska khawatir.

”Sssst...” Dani memberi tanda agar Riska diam, dia sedang mendengarkan dengan saksama. Kali ini dia hanya mendengar suara tuts yang ditekan-tekan. ”Mungkin sebaiknya kita menyingkir ke tempat yang agak sepi.”

Mereka berjalan menuju lorong pasar yang agak sepi. Dani menekan pengeras suara ponselnya hingga Riska bisa ikut mendengar. Satu dua orang yang berlalu lalang menatap mereka dengan aneh karena bunyi suara yang keluar dari ponsel Indra hanyalah suara tuts. Pendek. Pendek Panjang. Panjang. Panjang. Panjang. Panjang. Entah apa maksudnya.

”Ndra? Kamu di sana? Kamu baik-baik saja? Tolong jawab,” pinta Riska, suaranya mulai bergetar.

Tidak ada jawaban selain suara tuts lagi. Riska benarbenar putus asa.

”I-M-O-K,” kata Dani tiba-tiba. ”I’m okay.” ”Eh?”

Dani menatap Riska, matanya berbinar. ”Ini Morse!” ”Inilah sebabnya sebelum berangkat Indra menyuruhku

menyerap buku panduan Pramuka.” Dani buru-buru mengambil kertas dari dalam tasnya lalu berjongkok dan meletakkan ponselnya di depan mereka.

”Aku sudah paham, Ndra, sekarang di mana posisimu?” tanya Dani. Bunyi tuts terdengar lagi dan Dani mulai menulis di kertasnya.

.—/..-/.-./..-/--.

”J-U-R-U-G.” Dani membacanya untuk Riska.

.-./..-/--/.-/..../-../..-/.-/.-../-

”Apa bacanya?” tanya Riska. ”R-U-M-A-H-D-U-A-L-T.”

”Rumah Dua Lt,” ulang Riska. ”Rumah dua lantai? Dia dibawa ke rumah bertingkat dua!”

-.../.-/.-./.-/”B-A-R-A-T.”

”Maksudnya rumahnya di sebelah barat?” tanya Riska. ”Mungkin.”

-.-/..-/-./../-./--./--./.-/-../../-./--.

”K-U-N-I-N-G-G-A-D-I-N-G,” Dani membaca sandi morse itu. ”Mungkin ini warna cat rumahnya. Ada lagi, Ndra?”

Tuts terdengar lagi

-.

”N? No?” tanya Dani. Tak ada jawaban.

”Sepertinya cuma ini petunjuk yang bisa dia sampaikan,” Dani menoleh pada Riska, ternyata gadis itu sedang menangis.

”Syukurlah...” isak Riska. ”Syukurlah kau tidak apa-apa...” Dani terdiam dan tiba-tiba tuts berbunyi lagi.

-../—/-./-/-.-./.-./-.--/

”Apa katanya?” tanya Riska. Belum sempat Dani menjawab, tuts berbunyi lagi.

../--/—/-.-

Sekali lagi.

../--/—/-.-

”Don’t cry, I’m okay,” kata Dani pelan. ”I’m okay.”

Air mata Riska menetes lagi, tapi kali ini dia cepat-cepat menghapusnya. Riska mengangguk. ”Umh.”

Dia bergegas berdiri. ”Ayo ke Jurug!”

Dani mengambil ponselnya. ”Tunggu kami, Ndra!” lalu memasukkannya ke saku baju tanpa mematikannya. Takut jika dia melakukannya, akan sulit baginya untuk menghubungi Indra lagi. Mereka pun keluar dari lorong itu.

***

Indra menghela napas lega karena akhirnya tahu Riska selamat dan dua sahabatnya itu akan segera menjemputnya. Lengah karena kelegaan itu, Indra tidak menyadari bunyi langkah kaki yang mendekati kamarnya. Tiba-tiba saja dia mendengar suara kunci dibuka dan Arman masuk.

”Ya Tuhan! Kau benar-benar tidak bisa dianggap remeh, garçon,” gelegar suara Arman saat melihat Indra di lantai dengan ponsel di tangannya yang terikat ke belakang.

”Aku tak tahu bagaimana kau bisa melakukannya,” Arman menghampiri Indra dengan marah. ”Tapi kau telah melakukan kesalahan besar, garçon.”

Arman mengambil ponsel di tangan Indra lalu membantingnya.

”Pantas saja tiba-tiba temanmu bergerak ke arah sini.” Indra menatapnya heran.

Arman yang menyadari tatapan Indra tersenyum sinis. ”Kau heran bagaimana aku tahu?” katanya sambil menarik

keras tangan Indra hingga dia berdiri. Indra mengerang kesakitan. ”Percayalah, tidak ada yang tidak kami ketahui. Sebenarnya tak perlu kami ikat seperti ini pun, kau tidak akan bisa lari. Ke ujung dunia pun kami bisa menemukanmu.”

Indra meronta. Sekuat tenaga dia berusaha melepaskan diri hingga Arman hampir terjungkal. Teman-temannya akan datang, dia harus bertahan. Arman mengeluarkan lagi stun gun dari saku celananya. ”Sebenarnya aku tidak suka melakukan ini tapi kau memaksaku, garçon.”

Indra berusaha menghindar tapi tidak berhasil karena ruang geraknya yang terbatas akibat tangan dan kaki yang terikat. Dia langsung ambruk begitu stun gun menyengat punggungnya.

Arman mengambil teleponnya. ”Cepat ke sini dan bantu aku!”

Tidak lama kemudian, dua anak buah Arman datang. ”Bawa anak ini ke mobil, kita harus segera membawanya

pergi dari sini.”

Kedua orang itu tanpa banyak bicara langsung membopong tubuh Indra keluar dari kamar.

***

Riska dan Dani sudah sampai di depan Taman Jurug. Di seberangnya memang banyak sekali rumah yang berderet. Mereka terus menyusur, mencari rumah berlantai dua, bercat kuning gading dan terletak di ujung barat. Matahari sudah menghilang dan tergantikan cahaya lampu jalan.

”Ini sudah di ujung barat,” kata Dani, Matanya menyapu rumah-rumah di depannya. Tidak sulit mencari rumah yang dimaksud Indra, karena di situ hanya ada satu rumah bertingkat dua yang bercat kuning gading.

”Tapi aku tidak melihat mobilnya,” Riska menelan ludah.

Perasaannya tidak enak.

”Indra menutup teleponnya,” Dani mengambil ponsel dari sakunya. ”Dia yang menutupnya atau orang lain?” tanya Riska cemas.

”Entah,” Dani mengangkat bahu. ”Ayo!”

Dani menarik tangan Riska hingga Riska bisa menyerap kegalauan dan ketegangan dalam hati Dani. Sangat berbeda dengan ketegaran yang coba ditampilkan laki-laki itu. Riska pun tersenyum. Dani sudah berusaha keras agar Riska tenang bahkan sampai menutupi perasaannya yang sebenarnya.

”Apa rencanamu?” tanya Riska, lalu dia menengadah. ”Sebentar lagi malam.”

Dani tidak mengatakan apa pun, sejujurnya dia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukan. Saat ini dia hanya bisa bertindak sesuai instingnya dan itu berarti: maju terus, pikir belakangan.

Mereka berdua berdiri tepat di depan pagar rumah itu. Pagar besinya tidak terlalu tinggi sehingga mereka bisa melihat halaman di dalamnya dan memang tidak ada apa-apa. Masih ada jejak ban mobil yang berarti kemungkinan besar, para penculik Indra baru saja pergi dari tempat itu.

”Pertanyaannya sekarang, apakah Indra ikut bersama mereka,” kata Dani pada Riska, menatap rumah di hadapannya.

Riska tidak bisa menjawab.

”Yang bisa kita lakukan hanya mencari tahu secepatnya,” Dani membuka pagar rumah yang ternyata tidak terkunci itu.

”Kau berniat masuk?” tanya Riska panik sambil menarik tangan Dani. Dia merasakan ketakutan yang amat sangat, tapi kali ini dia tidak mengerti apakah ini ketakutan Dani atau ketakutannya sendiri. ”Bagaimana jika di dalam masih ada komplotan penculik itu?”

”Makanya, kita tidak akan tahu jika tidak melihatnya sendiri.” Dani menipis tangan Riska lalu masuk.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Dani mengetuk pintu beberapa kali namun tidak mendapat jawaban. Rumah itu hampir bisa dipastikan sudah kosong. Riska langsung lemas, mereka sudah kehilangan jejak Indra.

Dani duduk di kursi teras depan. Langit sudah mulai gelap.

”Kita sudah kehilangan Indra,” kata Dani  lemas. ”Tidak!” jerit Riska tiba-tiba. ”Kita tidak boleh kehilangan

dia!”

Dani tampak kaget melihat reaksi Riska.

”Oi, ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba marahmarah seperti itu?”

”Aku juga nggak tahu!” kata Riska lalu pergi meninggalkan Dani.

Riska sendiri tidak tahu kenapa dia jadi emosi mendengar kata-kata Dani. Mungkin karena hati kecilnya tidak rela jika dia tidak bisa lagi bertemu Indra. Membayangkannya saja sudah membuat tubuhnya gemetar.

Riska berjalan mengitari rumah itu berusaha mencari petunjuk, tetapi sayang, selain jejak ban mobil yang masih baru tidak ada lagi yang bisa didapatkan. Tidak lama kemudian Dani menyusulnya.

”Dapat sesuatu?’ tanya Dani. Riska menggeleng lemah.

Dani menghela napas, lalu tampak berpikir. ”Jejak mobil itu masih baru, lalu pintu pagar rumah ini tidak terkunci. Mereka pasti pergi dari sini dengan terburu-buru. Mungkin mereka sudah tahu akan kedatangan kita.”

”Bagaimana mereka bisa mengetahuinya?” tanya Riska tak percaya.

”Cara yang sama dengan bagaimana mereka bisa menemukan kita di keraton,” jawab Dani.

”Yaitu?”

Dani mengangkat bahu. ”Analisisku berhenti sampai di situ.”

”Tapi...” Dani berjalan mendekati jendela yang tampaknya merupakan jendela kamar di ujung bangunan. ”Jika mereka terburu-buru, aku yakin masih ada yang tertinggal selain pagar yang tak terkunci.”

Tepat setelah Dani selesai mengatakannya, tiba-tiba mereka mendengar suara gedebuk seperti benda yang jatuh.

Riska dan Dani berpandangan.

”Masih ada sesuatu di dalam!” kata Riska setengah berbisik.

”Atau seseorang,” sahut Dani. Dia meraba pinggir jendela dan mendorongnya. Ternyata jendela itu pun tidak terkunci. Tanpa berpikir panjang, Dani masuk ke kamar itu.

”Apa yang kaulakukan?” Riska menarik kaus Dani sambil melotot.

”Sudah kubilang,” Dani menepis tangan Riska. ”Saat ini aku hanya bisa mengandalkan instingku. Kalau kau tidak mau, kau bisa menunggu di luar.”

”Tidak!” tegas Riska. ”Aku ikut bersamamu!”

Dani mendesah. ”Kau keras kepala juga.” Dia lalu membantu Riska masuk melalui jendela. Begitu masuk, mereka terpana dengan barang-barang di kamar itu. Semuanya barang-barang mahal dan terawat dengan baik.

”Yang bisa dipastikan sekarang, rumah ini bukan rumah kosong,” kata Dani. ”Ada yang mendiaminya.”

”Si penculik?” tanya Riska. Dani mengangkat bahu.

”Sekarang kita cari sumber suara tadi.” Dani berjalan menuju pintu diikuti Riska. Dia memutar kenop sambil berdoa semoga pintu itu tidak dikunci dan doanya terkabul. Sekarang mereka berdua berjalan menuju ruang yang tampak seperti ruang keluarga. Dani memberi isyarat pada Riska untuk diam dan mendengar dengan saksama. Lamatlamat mereka mendengar erangan dan desahan dari kamar tepat di sebelah kamar yang tadi mereka masuki.

”Apakah mereka penculiknya?” bisik Riska. ”Apakah ini jebakan?”

”Kurasa tidak,” jawab Dani. ”Mereka pergi dengan terburu-buru. Kau sendiri melihat jejak ban mobilnya kan?”

Mereka mengendap-endap menuju kamar tersebut. Dani memutar kenop pintu kamar itu sepelan mungkin sambil menelan ludah. Begitu pintu terbuka, Dani dan Riska membeku. Mereka melihat sesosok pria dengan tangan dan kaki terikat serta mulut yang tertutup lakban sedang merontaronta di lantai. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊