menu

Touché Bab 14

Mode Malam
Bab 14

”DI MANA teman kalian, garçon?” tanya pria yang bertubuh paling gempal, dia masih mengenakan sarung tangan putih.

Indra bungkam. Dia menarik Riska ke belakang punggungnya.

Pria itu tersenyum sinis. ”Kau tidak menjawab pun, kami akan menemukannya dengan mudah. Kau bisa lihat sendiri kan bagaimana kami bisa menemukanmu di sini, garçon?”

Indra tidak menjawab. Sorot matanya menunjukkan perlawanan. Rahangnya mulai mengeras.

Sepertinya pria itu bisa melihat perubahan ekspresi Indra hingga dia sedikit melunak dan melembutkan suaranya.

”Tidak... tidak... selama kalian patuh dan tidak melawan, kami juga tidak akan menggunakan kekerasan,” kata pria itu masih dengan suara sengau. ”Ah... dan melepas sarung tangan, aku anggap sebagai bentuk perlawanan lho, garçon, atau mungkin sebaiknya kupanggil Dik Indra.”

Indra terkejut bagaimana pria itu bisa tahu namanya tapi dia berhasil menutupinya dengan baik. Lain dengan Riska yang spontan bertanya. ”Bagaimana kau bisa tahu namanya?”

Pria itu mengalihkan tatapannya ke balik punggung Indra. ”Kau tidak perlu tahu, Dik Riska. Kalian hanya perlu ikut dengan kami.”

Dua pria di samping pria gempal itu langsung maju dan menarik tangan Indra dan Riska. Riska mengerang kesakitan.

”Lepaskan dia!” geram Indra. ”Kami bisa jalan sendiri.”

Pria gempal itu menatap Indra lalu memberi isyarat pada dua anak buahnya untuk melepaskan tangan mereka.

”Kau tidak apa-apa?” tanya Indra.

Riska mengangguk tapi wajahnya memucat. Dua pria tadi berjalan di belakang mereka berdua dan si gempal memimpin jalan menuju mobil. Mereka telah memindahkan mobil mereka ke tempat yang lebih sepi.

”Mereka akan membawa kita ke mana?” bisik Riska. ”Entah,” jawab Indra. ”Tapi jika kita mencoba kabur seka-

rang, kita akan disetrum dengan stun gun yang dia simpan di saku celananya.”

Tiba-tiba si gempal tertawa. ”Penglihatanmu tajam juga,

garçon.”

”Begitu juga pendengaranmu,” balas Indra.

Indra melirik ke arah Riska. Dia bisa melihat sebersit ketakutan di wajah gadis itu walau Riska berusaha tampak tegar.

”Ris...” bisik Indra kemudian. ”Uhm?”

”Saat aku menyetujui kepergianmu bersama kami ke kota ini, dalam hati aku berjanji untuk melindungimu,” akunya. ”Eh?” Riska menatapnya. ”Dan aku akan menepatinya.”

Selesai mengucapkan kalimat itu, Indra menendang kaki kanan pria di belakangnya dengan tumitnya sambil menarik lengan pria itu lalu membantingnya. Secepat mungkin, dia melepas ranselnya dan menghantamkannya ke wajah pria di belakang Riska.

”LARI!” perintahnya pada Riska. Perubahan situasi yang begitu cepat membuat Riska bingung tapi dia menurut apa kata Indra dan berlari menjauhi tempat itu. Lengan Indra berhasil ditarik oleh si gempal saat dia berusaha menyusul Riska.

”Kau memaksaku melakukan ini, garçon,” geram si gempal sambil menyetrumkan stun gun ke tengkuk Indra sebelum dia bisa melawan.

”AAARRRGHH...” erang Indra lalu dia terjatuh. Sayupsayup dia mendengar penculik-penculik itu berbicara.

”Gadis itu melarikan diri, apa kita perlu mengejarnya?” ”Terlalu mencolok, sementara ini dia saja. Sial, ada orang

datang. YA AMPUUUN BARU SEGINI SUDAH MABUK SAMPAI PINGSAN! HARUS SEGERA KEMBALI KE HOTEL!”

Indra masih bisa merasakan tubuhnya dipanggul masuk ke mobil. Mengetahui setidaknya untuk sementara Riska aman, Indra tanpa sadar tersenyum sebelum kesadarannya menghilang.

***

Riska berlari dan terus berlari tanpa memedulikan pandangan aneh orang-orang. Setelah merasa sudah cukup jauh, dia berhenti, menoleh ke belakang untuk melihat apakah ada yang mengejarnya. Lama ditunggu, tak ada yang datang. Termasuk Indra. Air matanya menetes dan dia jatuh terduduk. Dia menangis tanpa suara di pinggir trotoar tapi tidak lama dia bangkit lagi. Riska merasa tidak boleh seperti ini terus, dia harus melakukan sesuatu untuk menolong Indra.

Dia mengusap kedua matanya lalu berlari menuju Masjid Agung. Sambil berlari, dia berusaha menghubungi Dani.

”Halo?” jawab Dani.

”Dan, Indra diculik!” kata Riska dengan suara serak. ”APA! SERIUS?! SEKARANG KAU DI MANA?”

”Aku sedang menuju tempatmu,” jawab Riska dengan terengah-engah.

”Baik, aku akan menunggumu di pintu masuk.”

Dari jauh, Riska bisa melihat Dani berdiri di dekat pintu masuk masjid. Wajahnya tampak cemas. Dani baru menunjukkan kelegaan begitu melihat Riska menghampirinya. ”Kau tak apa-apa?” tanya Dani, menatapnya khawatir.

”Apa yang terjadi?”

Riska mencoba menceritakan apa yang baru saja dia dan Indra alami. Sesekali ceritanya terpotong karena tenggorokannya tercekat. Matanya pun mulai berkaca-kaca.

”Begitu?” Dani manggut-manggut selesai mendengar cerita Riska. ”Kau sudah mencoba menghubunginya?”

Riska tampak terkejut dan menggeleng. ”Aku tidak berpikir sampai ke sana.”

Dani mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi Indra. Telepon yang anda tuju sedang tidak aktif.

”Sial!” umpat Dani. ”Mereka pasti mematikannya. Kita tidak punya pilihan lain selain terus bergerak untuk menyelamatkan Indra dan Pak Yunus. Hanya saja sekarang pertanyaannya adalah ke mana?”

Riska langsung teringat percakapan mereka di keraton sebelum kedatangan ketiga penculik tadi.

”Indra mengatakan, selain keraton sebenarnya masih ada dua tempat lagi yang dia duga sebagai tempat persembunyian Pak Yunus,” kata Riska.

”Di mana itu?” Dani mengangkat alisnya.

Riska mengangkat bahu. ”Dia belum sempat mengatakannya. Para penculik itu keburu datang.”

Dani mendesah. ”Gawat... otak kita kan tidak sehebat otaknya.”

”Tapi...” lanjut Riska. ”Kata Indra, petunjuknya terletak pada aliran Sungai Bengawan Solo. Ketiga tempat itu terletak di aliran Sungai Bengawan Solo.”

”Ada banyak tempat di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo!” kata Dani mulai putus asa.

”Penculikan ini adalah penculikan simbolik, pastinya tempat yang dijadikan persembunyian bukan tempat biasa,” kata Riska. ”Begitu yang dikatakan Indra.”

Dani tiba-tiba tampak serius menatap layar ponselnya. ”Apa yang kaulakukan?” tanya Riska bingung.

”Mencari informasi lewat internet,” jawab Dani sambil mengutak-atik ponselnya. ”Objek wisata apa di sini yang berada di dekat aliran Sungai Bengawan Solo.”

”Objek wisata?” Riska mengerutkan kening.

”Hanya itu yang terpikir sebagai tempat simbolik,” jawab Dani asal. ”Berapa kali harus kubilang kalau aku tidak segenius Indra.” Riska tersenyum.

Tidak lama kemudian raut wajah Dani berubah. Dia menyeringai senang.

”Sepertinya aku menemukannya!” serunya. ”Di mana?”

”Pasar Klewer dan Taman Jurug,” jawab Dani. ”Menurutmu kita pergi ke mana dulu?”

Riska berpikir sebentar. ”Kurasa Pasar Klewer dulu.” ”Karena?” tanya Dani. ”Bukankah Pasar Klewer tempat

yang ramai? Tidak mungkin ada yang menyekap orang di sana. Pasti akan sangat mencurigakan.”

”Tempat yang paling aman adalah tempat yang paling berbahaya,” jelas Riska sambil mulai berjalan. ”Penjahat yang pintar pasti menerapkan prinsip membasuh muka dengan batu dan tidur beralaskan aliran air.”

”Maksudnya?” Dani berjalan mengikutinya.

”Mereka melakukan hal yang tidak lazim,” jelas Riska. ”Kata-kata itu berasal dari Soseki Natsume, aku membacanya di komik Conan.”

Dani mengangguk-angguk. ”Pemikiran bagus, tapi kurasa para penculik itu tidak membaca komik.”

***

Indra mulai bisa merasakan kesadarannya kembali. Dia pelan-pelan membuka matanya. Dia berada di kamar. Kaki dan tangannya diikat dan mulutnya ditutup lakban. Dia memandang sekeliling berusaha mencari petunjuk keberadaannya.

Kamar itu tidak terlalu besar tapi juga tidak bisa dikatakan kecil. Hanya ada meja, dua kursi, dan satu tempat tidur tempat dia dibaringkan. Di atas meja di sudut ruangan, ransel dan ponselnya diletakkan. Mereka telah mematikannya. Ada jendela sejajar dengan tempat tidur dan gordennya tidak tertutup. Langit sore tampak terpapar masuk ke kamar. Jantung Indra serasa berhenti berdetak ketika tibatiba pintu terbuka. Ternyata si gempal yang menculiknya yang masuk.

”Kau sudah sadar?” tanya pria itu. Di tangannya terdapat senampan makanan dan minuman. ”Aku tahu selain berbagai macam pertanyaan yang ingin sekali kaulontarkan, kau pasti lapar sekali.”

Indra menatapnya tajam.

”Sudahlah, kau tidak perlu menatapku seperti itu,” pria itu tersenyum sambil meletakkan nampan di depan Indra. Dia membantu Indra duduk lalu membuka lakban yang menutupi mulut Indra.

”Akh!” erang Indra saat lakban itu ditarik paksa.

”Kau bisa berteriak, tapi aku tahu kau cukup pintar untuk tidak melakukannya,” kata pria itu.

Dia menatap tangan Indra yang diikat ke belakang. ”Maaf, aku tidak bisa melepas ikatan yang itu. Karena tanganmu terlalu berbahaya, seperti kotak Pandora.”

Indra hanya diam.

”Aku akan menyuapimu, kau mau yang mana lebih dulu,

garçon?” tanyanya.

Indra tetap bungkam.

”Namaku Arman, selama di sini aku penanggung jawabmu,” pria itu memperkenalkan diri dengan aksen yang aneh, seperti bukan orang Indonesia. ”Siapa yang menyuruh kalian?” Akhirnya Indra membuka suara. ”Lalu kenapa kalian ingin menculik kami?”

Arman mengangkat bahu. ”Aku hanya menjalankan perintah. Tentang mengapa, kautanyakan saja pada orang yang memberi perintah.”

”Siapa?” ulang Indra.

”Makan saja makananmu ini,” Arman menunjuk nampan yang berisi sepiring nasi goreng dan air putih.

Arman menyendok nasi goreng dengan telur lalu mendekatkannya ke mulut Indra. ”Buka mulutmu.”

Indra tidak bergerak, bahkan mengeraskan rahangnya. Raut wajah Arman berubah menjadi masam.

”Kau membuatku kesal, garçon,” geramnya. ”Selama ini belum pernah ada yang menolak masakanku.”

Dia kembali menutup mulut Indra dengan lakban lalu beranjak sambil membawa nampan makanan menuju pintu.

”Aku tak peduli lagi kalau kau sampai mati kelaparan,” katanya, lalu membanting pintu.

Indra menghela napas. Sekarang dia harus segera mencari cara agar bisa menghubungi Dani dan Riska. Dia melirik ponselnya di atas meja. Tapi bagaimana dia bisa mengambilnya sedangkan kedua kakinya diikat? Bahkan tangannya pun diikat ke belakang. Kalau berhasil mengambil pun, bagaimana dia bisa berbicara kalau mulutnya ditutup lakban. Lebih penting lagi, dia harus berhasil mencari tahu terlebih dahulu di mana posisinya sekarang sebelum menghubungi dua sahabatnya itu. Indra menoleh ke jendela, melihat bayangan yang dihasilkan.

Matahari sore terpapar masuk dari sana, batinnya. Berarti kamar ini menghadap ke barat. Dia menutup mata dan mendengarkan deru kendaraan yang lalu lalang. Rumah ini dekat dengan jalan raya.

Indra sekali lagi memperhatikan sekeliling kamar itu. Temboknya kuning gading dan sepertinya rumah ini baru dibangun. Satu petunjuk lagi bisa dia dapat di ponselnya.

Indra menjatuhkan guling dan bantal ke lantai dengan kakinya. Untunglah lantai kamar itu terbuat dari keramik sehingga tidak terlalu menimbulkan suara. Setelah bantal dan guling tergeletak di lantai, dia menjatuhkan badan ke atasnya.

”Mmmmh..,” erangnya. Ternyata walaupun sudah menyiapkan alas, dia tetap masih merasakan kerasnya lantai.

Masih dengan tangan dan kaki terikat, Indra menggerakkan tubuhnya perlahan mendekati meja. Ponsel miliknya sudah di depan mata tapi dia kesulitan untuk mengambilnya karena mejanya terlalu tinggi. Indra menempelkan punggungnya ke dinding dan menekan dinding itu kuat-kuat hingga tekanan dinding dan tubuhnya membuatnya berdiri. Dia mempelajari hal ini saat outbond dengan anggota klub judo beberapa bulan yang lalu. Setelah berhasil berdiri, dia mengambil ponselnya dengan tangan terikat di belakang. Dia juga akhirnya tahu dari jendela di hadapannya, bahwa dia berada di lantai dua rumah tingkat yang terletak di ujung sebelah barat jalan karena Indra tidak melihat ada bangunan lain di sebelah rumah ini.

Indra menyandarkan punggungnya lagi ke dinding dan perlahan-lahan menjatuhkan diri. Dia hanya bisa mengandalkan perasaan saat mencoba menyalakan ponselnya karena dia harus melakukannya tanpa melihat. Untunglah Indra hafal letak tombolnya sehingga dia tidak kesulitan. Suara pembuka terdengar, tanda ponselnya sudah berhasil dihidupkan. Indra meletakkan telepon itu ke lantai lalu membalikkan badan dan membaca tulisan di bawah tulisan provider yang dia gunakan yang biasanya menandakan tempat dimana dia berada. JURUG.

Sudah kuduga, batinnya. Indra spontan tersenyum. Masalah baru muncul ketika harus menghubungi Dani. Bagaimana mungkin dia bisa menemukan nama Dani dalam phonebook-nya tanpa melihat layar. Apakah dia harus membolak-balikkan badannya hingga menemukan nama Dani?

Indra membalikkan badannya lagi kemudian memejamkan mata dan menghela napas.

Bodoh...umpatnya dalam hati sambil membentur-benturkan kepalanya sendiri ke dinding dengan pelan. Kemudian dia tiba-tiba teringat telepon terakhir yang dia lakukan sesaat sebelum tertangkap.

Dia menelepon Dani! Indra menegakkan badannya lagi. Sekarang dia tinggal memencet tombol call dan nama Dani pasti muncul di urutan paling atas. Karena dia tidak bisa berbicara, berarti satu-satunya cara untuk bisa berkomunikasi dengan Dani adalah memakai itu. Indra meraba-raba lalu memencet tombol call dua kali. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊