menu

Touché Bab 13

Mode Malam
Bab 13

DANI melirik jam tangannya. Masih setengah jam lagi hingga kereta mereka datang. Dia dan Indra mencari tempat duduk dekat pintu masuk stasiun agar bisa melihat saat Riska datang.

”Kau yakin, tidak apa-apa mengajaknya?” tanya Dani sambil menawari roti isi ayam.

Indra menolaknya dengan halus. ”Tidak apa-apa.”

”Sepertinya akan berbahaya baginya,” lanjut Dani sambil mengunyah. ”Tadi saja jika aku tak salah lihat, di tempat parkir stasiun ini ada mobil wagon hijau muda yang hampir menculikku malam itu.”

”Kau yakin?” Indra menatapnya.

Dani mengangguk. ”Mereka langsung pergi melihat kita datang. Aku cukup yakin karena warna hijau seperti itu lumayan langka jadi gampang mengingatnya. Lagi pula plat nomornya AD.”

Indra terdiam.

”Mereka sudah membuntuti kita hingga sejauh ini,” Dani membuka kaleng minuman. ”Aku jadi agak khawatir dengan Riska.”

”Tidak apa-apa,” kata Indra yakin. ”Dia tidak akan apaapa.”

Dani meneguk minumannya lalu menoleh menatap sahabatnya itu. Rahang Indra mengeras, tatapannya lurus ke depan. Dani tahu arti wajah itu.

”Dia tidak akan apa-apa karena kau akan melindunginya, kan?” Dani tersenyum.

”Kau ini bicara apa?” dengus Indra. ”Bukankah aku sudah bilang dia harus melindungi dirinya sendiri?”

Dani tertawa.

”Aku mungkin tidak punya kemampuan membaca pikiran sepertimu,” katanya. ”Tapi aku tidak bodoh dan apa kau lupa berapa tahun kita berteman?”

Indra tidak menjawab.

Lima belas menit sebelum pukul 06.00 barulah Riska datang.

”Maaf, aku terlambat,” katanya dengan terengah-engah, dia sampai lupa membawa jaket dan memakai sarung tangan. Dani menunjuk tempat duduk di sebelahnya.

”Tidak apa,” katanya. ”Keretanya toh belum datang.”

Riska duduk di sebelahnya dan melirik ke arah Indra tapi laki-laki itu diam saja. Dingin seperti biasanya.

Setelah kereta akhirnya datang, mereka bergegas menuju gerbong mereka.

”Gerbong berapa?” tanya Indra.

Dani mengeluarkan tiketnya. ”Gerbong 3, kursi 6A, 6B, dan 7A.”

Di dalam kereta, belum sempat Riska bertanya bagaimana pembagian tempat duduknya, Indra sudah duduk di kursi 7A sehingga mau tak mau Riska dan Dani duduk di depannya.

Wajah Riska langsung merengut karena mengira Indra masih marah dan tidak mau dekat-dekat dengannya.

”Dia itu memang begitu,” kata Dani tiba-tiba seakan bisa membaca pikiran Riska.

”Eh?”

”Sebenarnya di antara kita bertiga, dialah yang paling peduli dengan keselamatan teman-temannya,” ujar Dani setengah berbisik agar Indra tidak mendengarnya. ”Dia tidak ingin kau duduk sendirian dan bermaksud mengawasi kita berdua dari belakang. Kau kan tahu sendiri, dalam urusan bela diri dia lebih bisa diandalkan daripada aku.”

Riska terdiam.

”Jadi itu maksudnya,” gumamnya. ”Maksud apa?”

”Kemarin aku bertanya kepadanya kenapa dia memilih judo,” jelas Riska. ”Dia menjawab karena judo yang paling cocok dengan kemampuannya dan...”

”Dan?”

”Karena dia ingin jadi kuat,” lanjut Riska. ”Tapi dia tidak menjelaskan kenapa dia ingin jadi kuat.”

Dani mengangguk-angguk. ”Sekarang kau mengerti?” ”Ya, kurasa aku tahu jawabannya.”

”Aku sudah lama tahu,” Dani merebahkan kursinya lalu mencoba untuk tidur. Peluit di stasiun berbunyi dan kereta pun mulai berjalan.

Riska memandang ke arah jendela. Dari jendelanya, dia bisa melihat bayangan Indra yang sedang mengutak-atik ponselnya. Sekarang dia tahu kenapa Indra ingin jadi lebih kuat. Laki-laki itu ingin lebih kuat agar bisa melindungi orang-orang yang penting baginya. Tanpa sadar Riska tersenyum, karena dia tahu di antara orang-orang itu, ada namanya.

***

Dani meregangkan ototnya begitu mereka sampai di Stasiun Solo Balapan.

”Sekarang ke mana kita?” tanyanya.

”Kita keluar dulu saja,” ujar Indra sambil berjalan, tapi langkahnya terhenti tiba-tiba saat dia melihat tempat parkir.

”Ada apa?” tanya Riska. ”Mobil itu...”

Riska dan Dani mengikuti arah pandang Indra dan melihat mobil wagon berwarna hijau muda tampak bergerak menuju pintu keluar.

”Ya Tuhan! Mereka sudah sampai di sini!” Dani setengah terpekik.

”Memangnya itu mobil siapa?” Riska menatap mereka berdua dengan bingung.

”Itu mobil yang hendak menculikku malam itu,” jawab Dani.

Indra memperhatikan sekeliling mereka, lalu berlari menuju taksi di luar stasiun.

”Ayo!” serunya. Riska dan Dani menurut dan mengikutinya dari belakang.

Mereka bertiga langsung masuk ke taksi hingga mengagetkan pak sopir yang sedang membaca koran. ”Ikuti mobil itu, Pak!” perintah Indra. Pak sopir itu masih tampak bingung, tapi mengangguk saja. Taksi melaju mengikuti mobil wagon hijau muda yang tidak jauh di depan mereka.

”Kira-kira mereka mau pergi ke mana?” tanya Dani. ”Entah.” Mata Indra menatap lurus ke depan, tidak ingin

kehilangan jejak.

Mobil hijau itu berputar-putar, untung saja sopir taksi yang mereka tumpangi cukup lihai sehingga mampu mengikutinya. Tetapi begitu masuk ke keramaian, mobil itu menghilang.

”Sial!” umpat Dani lalu membuang muka ke jendela. Riska  mengempaskan  punggungnya  ke  kursi, kecewa.

Tinggal sedikit lagi. Hanya Indra yang ekspresinya tidak

berubah. Dia sibuk mengutak-atik ponselnya lalu dengan tenang bertanya pada sopir taksi itu.

”Apakah Keraton Surakarta Hadiningrat berada di dekat sini, Pak?”

”Iya, di depan sana, Dik,” jawab sopir itu. Indra mengangguk. ”Antarkan kami ke sana.” Riska dan Dani berpandangan.

”Kenapa ke sana?” tanya Riska.

”Aku hanya menduga saja,” jawab Indra kalem. Riska dan Dani menyerah. Perjalanan kali ini Indra pemimpinnya.

Dugaan Indra tidak meleset. Di tempat parkir objek wisata Keraton Surakarta, mereka melihat mobil wagon hijau muda itu terparkir di sana.

”Habis berapa?” tanya Dani pada Indra begitu mereka keluar dari taksi. ”Aku akan mengirimkan tagihannya sepulang kita ke Surabaya,” jawab Indra. Dani hanya meringis.

”Kau membuatku ingin berdoa yang jelek-jelek untukmu,” katanya sambil terkekeh.

Riska mencondongkan badannya pada Indra. ”Bagaimana kau tahu mereka akan ke sini?”

Indra menatapnya tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia malah berkata, ”Perutku lapar, ayo kita makan dulu.”

Dia lalu berjalan meninggalkan Riska.

”Kadang-kadang rasanya aku ingin bertukar kemampuan dengannya,” dengus Riska.

Dani terkikik. ”Aku sudah sering merasakannya.” ”Ayo!” Dani lalu menarik tangan Riska.

Mereka lalu berhenti di warung nasi liwet tak jauh dari tempat itu. Dani memesan dua porsi nasi liwet dengan lauk ayam, tempe, dan pindang. Riska hanya geleng-geleng melihatnya.

”Sebaiknya setelah ini kita jangan terpisah,” kata Indra sambil menyesap teh panasnya.

”Ama maknyutmou?” tanya Dani dengan mulut penuh. ”Kau ini mau bicara atau makan? Pilih salah satu,” kata

Indra.

Dani langsung menelan makanannya. ”Apa maksudmu?” ”Karena aku tahu kenapa mereka berada di sini. Mereka ingin menjebak kita,” Indra mulai menjelaskan. ”Mereka tidak bisa melakukannya di stasiun karena stasiun tidak begitu ramai. Jika mereka nekat mau membawa kita dengan paksa, akan ketahuan. Jadi mereka sengaja menunggu kita

melihat mereka di lapangan parkir stasiun.” ”Untuk apa?” tanya Riska. Dia kehilangan nafsu makan. ”Tentu saja agar kita mengikuti mereka ke sini,” jawab

Indra.

”Berarti kita terjebak?” tanya Dani selesai menghabiskan makanannya.

”Begitulah yang mereka pikirkan,” jawab Indra kalem. ”Yang mereka pikirkan?” Dani mengerutkan kening

”Bukankah kita memang terjebak?”

”Dari awal aku sudah sadar ini jebakan.” Ekspresi Indra datar. ”Karena kalau tidak, mereka tidak mungkin sengaja menunggu kita dan memakir mobilnya di tempat yang bisa dilihat banyak orang.”

Dani dan Riska langsung melongo.

”Jadi maksudmu kita sengaja datang ke perangkap mereka?” Riska hampir berteriak histeris. ”Aku benar-benar tak tahu apa yang ada dalam pikiranmu.”

”Untuk menyelamatkan ayam yang disembunyikan oleh ular, kita harus masuk sarang ular,” jelas Indra. ”Apakah yang naik mobil itu orang yang sama dengan yang berniat menculik Dani? Untuk apa mereka menjebak kita ke sini? Jika memang mereka hendak menculik kita, bagaimana mereka akan melakukannya di tengah keramaian seperti ini? Lalu ke mana mereka akan pergi?”

Dani menghela napas. ”Kau mengatakannya seakan hal itu adalah hal biasa. Aku sungguh iri dengan ketenanganmu.”

Mereka terdiam.

”Sejujurnya aku tidak tenang,” Indra kemudian mengaku sambil membayar pesanan mereka. ”Itulah sebabnya aku ingin kita jangan terpisah.” Dani bangkit dari kursinya. ”Kau mengkhawatirkan keselamatan kita?”

”Tidak,” mata Indra menatap lurus. ”Aku mengkhawatirkan keselamatan kalian.”

Dani menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu lalu merangkulnya. Riska yang berjalan di belakang mereka tersenyum. Wajahnya memerah.

***

Dapat dikatakan saat itu adalah musim liburan karena selain murid-murid kelas 6, 9, dan 12, murid-murid lain diliburkan. Keraton Surakarta pun tampak penuh sesak dengan pengunjung. Riska menelan ludah melihat pemandangan itu. Dia lupa membawa jaket maupun sarung tangan. Dia bahkan tak sanggup membayangkan terjangan bermacammacam perasaan manusia yang menjadi satu.

Tiba-tiba Indra melepas jaketnya dan memberikannya pada Riska.

”Eh?”

”Kau membutuhkannya,” jawab Indra datar. ”Bagaimana denganmu?”

Indra tidak menjawab, hanya mengacungkan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan lalu berjalan menuju pintu masuk keraton.

Riska memakai jaket itu dan memasukkan kedua tangannya ke kantong. Dia lalu mengikuti Indra dari belakang bersama Dani. Hatinya berdebar-debar. Mereka masuk melalui alun-alun di sebelah utara yang disebut Alun-alun Lor di mana di tengahnya ada dua pohon beringin besar. Indra membeli tiket untuk mereka bertiga. Ada yang menawarkan diri untuk menjadi pemandu tapi dia menolaknya dengan halus. Mereka masuk ke bangunan yang disebut Sasono Semowo yang dulu digunakan oleh Raja Surakarta sebagai tempat untuk memberi perintah dan menerima laporan dari patihnya.

Mata Indra menyapu sekeliling, mencari wajah yang tidak asing baginya. Dia tidak akan melupakan wajah orang-orang yang hendak menculik Dani malam itu. Dia bahkan ingat setiap detailnya.

”Kau melihat mereka?” bisik Dani. Indra menggeleng.

Mereka melangkah lagi ke selatan tempat terdapat bangunan yang letaknya lebih tinggi dari bagian lainnya dan disebut Siti Hinggil.

Mereka bertiga terus berjalan mengikuti arus, bertingkah selayaknya turis. Bahkan Dani yang sudah menyerap buku tentang sejarah Keraton Surakarta serta brosur yang tadi dia dapat, mampu bertindak seperti pemandu.

”Dua pintu ini, disebut Kori Renteng dan Kori Mangu,” jelas Dani saat mereka keluar dari Siti Hinggil dan melewati dua pintu. ”Renteng artinya pertentangan hati dan Mangu artinya ragu-ragu. Kemudian pintu raksasa di depan kita ini dinamakan Kori Brodjonolo Lor. Kata Brodjo berarti gaman atau senjata yang sangat tajam dan Nolo berarti berpikir. Jadi kalau kita mau melewati pintu ini kita diminta agar segala sesuatu harus dipikirkan dalam-dalam dulu.”

Riska manggut-manggut. Walau mereka bertiga tampak menikmati bendabenda bersejarah di tempat itu, pandangan mereka tetap waspada. ”Eh, anu...” kata Riska pelan saat mereka di pelataran Sri Manganti, di belakang Kori Kamandungan.

”Ada apa?” tanya Dani.

”Aku mau ke toilet sebentar, boleh nggak?” tanyanya. Dani memandang Indra.

”Kami akan mengantarmu,” jawab Indra. ”Kalian juga ikut masuk?”

Dani terkekeh. ”You wish. Kami akan berjaga di depan.” Mereka mengikuti Riska ke toilet. Begitu Riska masuk, mereka berdua menunggu depan untuk berjaga-jaga. Saat itulah tiba-tiba Dani melihat wajah yang dia kenal, yang

pernah berusaha menculiknya dengan mobil wagon hijau. ”Itu dia!” dikendalikan oleh emosi, Dani spontan me-

ngejar orang itu. ”Aku melihatnya!”

”Tunggu, Dan!” teriak Indra, tapi kata-katanya tidak dipedulikan. Sekarang dia harus memilih antara menjaga Riska dan mengejar Dani. Punggung Dani mulai menghilang hingga tanpa pikir panjang Indra pun meninggalkan Riska.

Dani berjalan cepat sambil memusatkan pandangan pada orang yang pernah berusaha menculiknya itu. Berlari hanya akan tampak terlalu mencolok. Mereka masuk ke museum keraton dan menuju pelatarannya. Pelataran keraton dipenuhi hamparan pasir dan pohon sawo kecik sehingga pengunjung harus melepas alas kakinya. Saat harus melepas alas kaki di pelataran keraton itulah Dani kehilangan jejaknya. Serombongan turis mancanegara menutupi pandangannya. Setelah rombongan itu melewatinya, dia sudah tak tahu lagi ke mana perginya penculik itu. Dani berjalan menuju menara yang disebut Panggung Songgobuwono lalu dari tempat itu menyapu pandangan ke semua sudut pelataran. ”Dan!” Indra mencengkeram bahunya.

Dani menoleh. ”Aku hampir berhasil mengejarnya! Tinggal sedikit lagi!”

Indra memperkuat cengkeramannya. ”Lalu jika kau berhasil mengejarnya apa yang akan kaulakukan? Mengajaknya minum lalu bertanya di mana Pak Yunus? Kau ini bodoh atau apa? Kau tahu, aku bahkan harus meninggalkan  Ris...”

Indra menelan ludah lalu berbalik.

”Aku harus kembali ke tempat Riska!” serunya pada Dani sambil berlari. ”Kau harus secepatnya keluar dari tempat ini! Lalu hubungi aku!”

Karena tidak mungkin terus berlari di dalam keraton, dia berjalan cepat. Mendekati toilet tempat dia meninggalkan Riska, dia sedikit lega karena melihat gadis itu di sana dengan wajah gusar. Kemudian hatinya langsung kecut karena tak jauh dari Riska berdiri, salah satu penculik itu sedang berjalan mendekatinya. Indra baru ingat, Riska tidak pernah melihat wajah penculik itu. Dia tidak tahu dirinya dalam bahaya.

Riska yang melihat kedatangan Indra langsung mengajukan protes. ”Ke mana saja kalian? Aku sudah...”

Indra mempercepat langkahnya dan tepat saat penculik itu hendak menyapa Riska, Indra menarik tangan gadis itu dan membawanya pergi menjauh.

”A...aduh...” erang Riska karena cengkeraman Indra di tangannya sangat kuat, bahkan dia serasa diseret. ”Kenapa? Ada apa?”

Indra tidak menjawab, dia bahkan tidak menoleh. Satusatunya hal yang ada di pikirannya adalah membawa Riska ke tempat yang aman. Akhirnya mereka menemukan tempat seperti itu di belakang salah satu pendopo. Setelah merasa tak akan ada yang mengikuti mereka, barulah Indra melepaskan tangan Riska.

”Sekarang bolehkah aku meminta penjelasan?” tanya Riska sambil mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah.

Indra menghela napas lalu menatapnya.

”Kelemahan terbesarmu adalah kau tidak pernah melihat wajah para penculik itu.”

”Hah?”

”Tadi salah satu dari mereka sudah tinggal selangkah lagi darimu.”

Riska langsung membeku. ”Apa kita perlu menelepon polisi?”

”Untuk apa? Mereka tidak melakukan apa-apa,” jawab Indra datar.

”Mereka sudah menculik Pak Yunus dan mencoba menculik Dani,” Riska hampir berteriak. ”Mereka sudah melakukan sesuatu.”

”Kita tidak punya bukti.”

”Biar polisi saja yang mencarinya,” Riska masih tidak mau mengalah.

”Jangan gegabah,” kata Indra tenang. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu menghubungi Dani

”Halo?” jawab Dani. ”Di mana kau?”

”Aku di Masjid Agung.” ”Baik, tunggu kami di sana.” Indra menutup teleponnya. ”Sekarang bagaimana?” Riska menyandarkan punggungnya di tembok pendopo. ”Kita sudah masuk ke sarang ular, belum menemukan petunjuk tentang keberadaan ayam, dan sekarang malah ganti dikejar ular.”

Indra terdiam sejenak lalu menghela napas. ”Kau pernah bertanya kenapa aku bisa menduga bahwa mereka akan datang ke tempat ini, kan?

”Karena tempat ini dekat dengan aliran Sungai Bengawan Solo,” dia mulai menjelaskan. ”Surakarta terhubung dengan kota-kota di Jawa Timur seperti Gresik dan Tuban melalui Sungai Bengawan Solo. Karena ’hubungan sungai’ inilah Pakubuwono II memilih tempat ini saat mereka memutuskan pindah dari Kartosuro yang sudah diduduki musuh. Penculikan yang terjadi ini adalah penculikan simbolis yang dikhususkan untuk kaum touché. Jadi kupikir tempat yang mereka pakai pastilah tempat-tempat yang memiliki unsur simbolis seperti ini dan masih berhubungan dengan puisi kuno itu, yaitu berdekatan dengan sungai.”

Riska ternganga mendengar penjelasan Indra. ”Berarti Pak Yunus ada di sekitar sini?”

”Aku tak tahu,” Indra menggeleng. ”Bisa iya, bisa juga tidak. Mungkin mereka memang hanya ingin menjebak kita saja karena ternyata masih ada dua objek lagi yang berada di dekat aliran Sungai Bengawan Solo.”

”Di mana itu?”

Belum sempat Indra menjawabnya, tiba-tiba tiga orang pria yang dikenal Indra sebagai orang-orang yang pernah berusaha menculik Dani sudah berdiri di hadapan mereka. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊