menu

Touché Bab 12

Mode Malam
Bab 12

”HEI, kenapa tas belanjamu ada pada temanmu?” tanya Mama heran saat Riska pulang.

”Ceritanya panjang,” desah Riska. ”Dia langsung pulang setelah mengantar tas itu?”

”Dia langsung pamit sih,” Mama mengangkat bahu. ”Tapi diam-diam Mama lihat dia terus berdiri di depan pagar dan baru pergi setelah melihatmu datang.”

”Benarkah?” Riska tertegun.

Mama mengangguk. Tanpa sadar Riska tersenyum.

”Apa yang terjadi?” tanya Mama sambil menepuk kursi di sebelahnya. Riska menurut lalu duduk di sebelah mamanya.

Riska menghela napas panjang, mamanya menunggu dengan sabar. Riska sedang mencoba mengingat lagi apa yang baru saja terjadi. Tadi untuk pertama kalinya Riska dapat memahami perasaan orang lain tanpa menyentuhnya. Dia sendiri tidak mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi. Seolah sikap Indra, kekhawatirannya yang berlebihan, raut wajahnya yang dingin membuat Riska bisa memahami hebatnya rasa kesepian cowok itu. Termasuk perasaan terbuang yang dirasakan Indra saat belum bertemu Dani. Semua perasaan itu entah mengapa bisa dirasakan Riska hingga dia menitikkan air mata.

Riska mengangkat kedua tangannya, memperhatikan dengan saksama.

”Tadi tiba-tiba saja,” kata Riska akhirnya, ”aku bisa memahami perasaan orang lain tanpa menyentuhnya.”

”Benarkah?” tanya Mama tak percaya.

Riska mengangguk. ”Aku sendiri tak mengerti.” ”Temanmu tadi yang bisa kaubaca perasaannya tanpa

harus menyentuh?” tanya Mama lagi. ”Namanya Indra.”

”Lalu bagaimana perasaan yang kaubaca?”

Mata Riska menerawang, dia mencoba mengingatnya lagi. ”Aku bisa merasakan kesepiannya, rasa takut kehilangan, sedikit kemarahan. Aku bahkan bisa tahu selama ini dia hanya berpura-pura kuat. Itu semua membuatku sedih, bahkan dadaku rasanya sakit sekali hingga tiba-tiba saja air mataku keluar.

”Apakah itu berarti kemampuanku meningkat atau mengalami evolusi?” tanyanya.

Mama tampak berpikir sejenak lalu tersenyum.

”Itu memang kemampuanmu,” kata Mama. ”Tapi yang ini, datangnya bukan dari tangan. Kemampuanmu ini datangnya dari hati.”

”Apa maksudnya?” Riska mengerutkan kening.

”Sebentar lagi juga kau akan tahu,” Mama mengalihkan tatapannya ke televisi di depan mereka.

”Kenapa Mama tidak langsung memberitahuku saja?” protes Riska. ”Itulah jalan menuju kedewasaan,” Mama tersenyum nakal.

Riska mendesah, menyerah.

”Oh iya, Ma,” kata Riska agak ragu. ”Aku lupa bilang lusa aku berencana pergi ke Solo dengan dua temanku  itu.”

Mama menoleh dan menatap tajam Riska. ”Untuk apa?” ”Mencari teman lama,” jawab Riska.

”Mencari teman lama?”

Riska mengangguk mantap, toh dia tidak sedang berbohong. Dia memang sedang mencari Pak Yunus, teman yang dikenalnya kurang-lebih dua bulan yang lalu. Dua bulan adalah waktu yang cukup lama bagi sebagian orang. Mama masih menatapnya, tapi kali ini tanpa mengatakan apa-apa. Sepertinya dia ingin mencari tahu apakah Riska tengah berbohong atau tidak. Kemudian mamanya menghela

napas dan mengangguk. ”Berhati-hatilah.”

Riska tersenyum. ”Jangan khawatir.”

”Yah, setidaknya Mama tahu ada orang yang akan melindungimu mati-matian,” jawab mamanya.

”Hah? siapa?”

***

”Jadi besok kita berkumpul di Stasiun Gubeng jam 06.00, aku sudah membeli tiket,” terang Dani. ”Mengerti?”

Sepulang sekolah, mereka bertiga berkumpul di ruang geografi untuk merencanakan kepergian ke Solo.

Riska mengangguk lalu melirik Indra yang dari tadi hanya diam. Sejak kejadian waktu itu, Indra terkesan menjauhinya.

”Baiklah!” Dani maju ke papan tulis. ”Apa saja menurut kalian yang harus dipersiapkan selain baju dan uang?”

”Pisau Swiss yang serbaguna,” usul Riska.

”Boleh,” Dani lalu menulisnya di papan. ”Lalu? Hmm bagaimana kalau laptop dan modemnya?”

”Setuju,” jawab Riska. ”Tupperware.” ”Kamera.” ”Handycam.”

Dani dan Riska bersemangat sekali mendaftar barangbarang yang harus dibawa hingga tanpa sadar barang-barang di daftar itu terlalu banyak sampai mereka berpikir untuk membawa koper.

”Kita bukan mau liburan,” kata Indra tajam. Dani dan Riska berpandangan, lalu Dani meringis.

”Seberapa canggih handphone kalian?” tanya Indra lagi. ”Punya fitur GPS? 3,5G? Wifi? Peta? Kamera? Perekam video?”

”Semua yang kausebut ada di ponselku,” jawab Dani. ”Kalau aku, mungkin hanya kamera, video, peta, dan

3,5G,” kata Riska.

”Itu sudah cukup,” lanjut Indra. ”Ditambah dengan kemampuan Dani, kurasa kita tidak butuh laptop. Pulang dari sekolah, aku sarankan kau ke toko buku dan serap peta Surakarta, buku panduan pramuka, dan objek wisata Solo.”

Dani mengangguk.

”Lalu barang lain yang wajib dibawa,” Indra tampak berpikir. ”Senter, pisau lipat, pensil, buku agenda, spidol, tali, dan benda-benda P3K.

”Masing-masing harus membawanya,” katanya tegas. ”Ada pendapat lain?”

Dani dan Riska menggeleng.

Indra mengambil tasnya. ”Ayo, Dan, aku masih ada latihan judo.”

”Dia hebat,” gumam Riska kagum. ”Kau baru tahu?” Dani menyeringai. Riska menghela napas.

”Kenapa?” tanya Dani melihat perubahan raut wajah Riska.

”Sepertinya Indra membenciku.”

”Mana mungkin?” Dani mengangkat alis. Riska kemudian menceritakan apa yang terjadi. Dani mengangguk-angguk.

”Dia tidak sadar kau memakai sarung tangan saat kau menyentuhnya?” ulang Dani.

Riska mengangguk. Dani tersenyum lalu mengusap-usap rambut Riska.

”Dia tidak membencimu,” katanya lembut. ”Dia hanya sedikit merajuk. Mungkin karena kau sudah mengatakan kebenaran yang tidak ingin dia dengar.”

”Hanya karena apa yang kukatakan?” Riska tak mengerti.

Dani mengambil tasnya lalu berjalan ke pintu keluar. ”Lebih tepatnya bukan apa yang dikatakan, tapi siapa

yang mengatakannya,” katanya sambil meringis lalu hilang

di balik pintu.

Riska mengerutkan kening. Kenapa sepertinya semua orang akhir-akhir ini senang berteka-teki. Setelah mamanya, sekarang Dani.

***

Riska memegangi lututnya dengan terengah-engah. Dia sudah berusaha sekuat tenaga tapi entah mengapa masih belum cukup. Hari sudah sore, padahal ini adalah hari terakhir latihannya sebelum libur karena anak kelas 12 ujian. Minggu depan, pertandingan tingkat kotamadya sudah dimulai.

Pak Joni berjalan mendekatinya. ”Hmmm... 13,4 detik. Bagus, Ris, tapi masih belum cukup kalau kau ingin menang.”

”Sekali lagi, Pak,” Riska mendongak. Keringatnya mengalir deras.

Pak Joni menggeleng. ”Berapa kali pun dicoba, hasilnya tidak akan lebih dari ini.”

”Lalu...” Riska menatap lurus pada Pak Joni, napasnya masih terengah-engah. ”Saya harus bagaimana?”

Pak Joni balas menatapnya lalu menghela napas. ”Hanya kau yang tahu jawabannya.”

Lagi-lagi! Lagi-lagi teka-teki yang harus kujawab sendiri!

umpat Riska dalam hati.

”Satu hal yang kurang darimu adalah motivasi,” lanjut Pak Joni. ”Apakah motivasimu, kau sendiri yang tahu. Jika kau punya motivasi, jangankan juara pertama, Bapak yakin kau bahkan bisa membuat rekor baru.”

”Motivasi saya, saya ingin jadi juara,” jawab Riska tegas. ”Benarkah? Kenapa Bapak tidak pernah bisa melihatnya?” Pak Joni lalu berbalik. ”Manfaatkan waktu liburmu untuk memikirkan ulang motivasimu. Jika ternyata kau mendapati kau tidak punya motivasi, carilah.”

Riska berjalan lemah menuju ruang ganti. Saat melewati aula, seperti sebelumnya, langkahnya tanpa sadar terhenti. Matanya tertuju pada sosok di sudut yang membanting lawan dengan akurat dan cepat. Rasa kagum bercampur iri memenuhi dadanya.

Bagaimana Indra bisa sebegitu hebatnya? tanya Riska dalam hati. Dia tahu itu bukan hanya karena kemampuan cowok itu membaca pikiran. Ada hal lain yang membuatnya sehebat itu.

Riska melihat Indra sedang bersiap-siap bertarung lagi. Matanya berkilat. Dengan cepat dia menjegal kaki kiri lawannya dan membantingnya. Indra menegakkan badan lagi lalu berjalan ke tasnya untuk mengambil handuk. Saat itulah matanya dan mata Riska tak sengaja beradu. Menyadari hal itu, Riska mengangguk lalu pergi meninggalkan aula.

”Hei!” Seseorang memanggil Riska saat dia sampai di pintu gerbang.

Riska menoleh. Indra dengan sepeda motornya, berhenti di belakangnya.

”Aku antar,” kata Indra sambil menyodorkan helm pada Riska.

Riska mengangguk.

”Maaf, aku membentakmu waktu itu,” kata Indra saat Riska naik di belakangnya. ”Aku sudah mendengarnya dari Dani, aku tidak sadar kau memakai sarung tangan.”

”Tidak apa,” kata Riska. Dia lega akhirnya kesalahpahaman itu berakhir. Motor pun melaju. ”Lalu kenapa kau menangis waktu itu? Dan...” Indra berhenti sejenak. ”Bagaimana kau bisa mengucapkan kata-kata itu?”

”Aku sendiri tak tahu,” jawab Riska jujur. ”Akhir-akhir ini banyak sekali pertanyaan yang aku tak tahu jawabannya.”

”Aku heran kenapa kau baru menyadarinya sekarang,” kata Indra sinis.

Riska sudah mulai terbiasa dengan ketajaman dan kesinisan kata-kata Indra hingga dia merasa tidak perlu menggubrisnya.

”Kenapa kau tidak pernah mengunci lawanmu?” tanya Riska.

”Maksudmu?’

”Bukankah dalam judo, selain bantingan juga ada teknik kuncian?”

Indra terdiam sejenak. ”Aku sudah pernah melakukannya.

Hanya satu kali dan itu yang terakhir.” ”Eh?”

”Dengan mengunci, kau pikir berapa lama aku harus menyentuhnya?”

Riska tertegun.

”Terlalu banyak pikiran yang diserap dan semuanya bukan kata-kata yang ingin kudengar,” lanjut Indra dingin.

Jadi itu sebabnya Indra memilih teknik membanting, batin Riska. Dengan begitu, dia tidak perlu menyentuh lawannya terlalu lama.

”Kenapa kau memilih judo?” tanya Riska lagi. ”Di antara semua olahraga yang ada, kenapa memilih judo?”

Indra diam saja. Merasa tidak enak, Riska buru-buru menambahkan. ”Tentu saja jika tidak ingin, kau tak perlu menjawabnya.”

”Pertama, karena judo adalah olahraga yang paling cocok untuk orang yang bisa membaca pikiran sepertiku,” jawab Indra kemudian. ”Kedua, karena aku ingin lebih kuat.”

”Lebih kuat?” Riska mengernyit. ”Untuk apa?”

Indra tidak menjawab, Riska pun urung untuk mendesaknya. Setelahnya tak satu pun dari mereka yang bicara hingga sampai di depan rumah Riska.

”Sampai besok,” kata Indra lalu melajukan motornya. ”Sampai besok...” Riska tercenung, dia mendapat satu lagi

pertanyaan yang harus dia jawab sendiri. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊