menu

Touché Bab 11

Mode Malam
Bab 11

”EH, apa kau dengar gosip terbaru?” tanya Tari begitu Riska datang.

”Apa?”

”Ada orang tak dikenal yang memukuli anak kelas tiga sampai babak belur,” kata Tari dengan wajah dramatis.

”Berapa banyak yang dipukuli?” tanya Riska lalu duduk di kursinya.

”Sekitar empat orang.”

”Dan tak satu pun dari mereka yang melihat pelakunya?”

Tari mengangkat bahu. ”Kudengar mereka kompak menjawab tidak melihat. Dan tentang jumlah si pemukul, mereka memberi jawaban yang berbeda-beda, ada yang tiga, ada yang empat bahkan ada yang bilang mereka dikeroyok sepuluh orang. Tapi menurutku, mereka berbohong.”

”Kenapa kau berpikir begitu?”

”Entahlah,” jawab Tari. ”Sepertinya kejadian yang sebenarnya mungkin akan mempermalukan mereka, jadi mereka berbohong. Menurut perasaanku, pelakunya sih cuma satu tapi sangat hebat. Mungkin selevel dengan Indra.” Riska menatapnya. ”Instingmu bagus.” ”Hah?”

Bel berbunyi. Tari kembali ke tempat duduknya. Sepanjang pelajaran, pikiran Riska tertuju pada Indra. Dia sudah bisa menebak siapa pelaku pemukulan itu. Anak-anak kelas tiga yang sekarang babak belur, pastilah yang mengeroyok Dani semalam.

”Indra tidak ada,” kata Dani yang tiba-tiba datang ke kelas Riska saat jam istirahat pertama, wajahnya menegang.

”Apa maksudmu?” tanya Riska. Dani menyeretnya menjauhi keramaian.

”Tadi dia menyuruhku pergi ke kelas lebih dulu tapi sampai pelajaran berakhir, dia tidak kunjung datang,” jawab Dani. Wajahnya gusar. Keringatnya masih bercucuran, sepertinya dia baru saja mengelilingi sekolah ini.

”Bagaimana dengan tasnya?” tanya Riska yang mulai ikut panik. ”Atau sepeda motornya?”

”Itu dia! Tasnya dia bawa tapi saat aku ke tempat parkir, sepeda motornya masih ada di sana!”

Riska menelan ludah. ”Berarti mungkin dia masih ada di sekolah.”

”Aku sudah mencarinya dan dia tidak ada di mana pun!” ”Sekolah ini tidak selebar daun kelor,” sahut Riska.

”Mungkin dia berada di tempat yang luput  kau  cari.” Dani menghapus keringat di dahinya. ”Semoga saja.”

Sebenarnya Riska agak ragu dengan perkataannya sendiri tapi dia sangat tidak ingin membayangkan kemungkinan bahwa Indra diculik seperti Pak Yunus.

*** ”Bagaimana?” tanya Riska sepulang sekolah saat berpapasan dengan Dani. Dani menggeleng. Wajahnya tampak pucat.

”Dia masih belum juga datang,” katanya lemah. ”Aku akan menunggunya di tempat parkir. Siapa tahu dia muncul.”

Riska mengangguk. ”Biarkan aku menemanimu.”

Mereka duduk di bangku taman yang menghadap tempat parkir. Waktu berjalan dan tinggal beberapa sepeda motor yang masih ada di sana tapi Indra belum juga tampak.

Mata Dani menerawang.

”Kau benar-benar mengkhawatirkannya ya,” desah Riska. ”Pertanyaan bodoh,” kata Dani gusar. Riska tersenyum. Langit sudah memerah dan kini tinggal sepeda motor

Indra yang terparkir di sana.

”Kalau kau mau pulang, kau pulang saja,” kata Dani pada Riska.

”Aku sudah berkata akan menemanimu,” tegas Riska.

Dani tersenyum. ”Apakah aku sudah pernah bilang kau dan Indra itu mirip?”

”Apakah aku harus mengucapkan terima kasih?” ”Ucapkan saja,” kata Dani. ”Ini pujian.” ”Terima kasih.”

Dani tertawa.

Saat langit mulai gelap tiba-tiba mereka mendengar suara yang tidak asing lagi.

”Apa yang kalian berdua lakukan jam segini di sini?” Riska dan Dani menengok. Indra sudah berdiri di bela-

kang mereka dengan tatapan heran.

”Kau dari mana saja?” Riska bangkit dari tempat duduknya. ”Apa kau tahu! Kami...” Belum selesai Riska melanjutkan kalimatnya, Dani menerjang dan memukul Indra sekuat tenaga hingga jatuh tersungkur. Darah segar menetes di sudut bibirnya.

Baik Dani maupun Indra tidak mengatakan apa-apa setelahnya. Riska bergegas mengambil saputangan dari kantongnya lalu mencoba membantu Indra menghapus darah di bibirnya tapi ditolak dengan halus oleh cowok itu. Indra berdiri dan melepas sarung tangannya. Dia lalu mengulurkan tangannya pada Dani.

Dani masih menatap tajam dengan penuh kemarahan tapi dia menjawab uluran tangan Indra. Tepat saat tangan mereka bersentuhan, Riska memperhatikan wajah Indra seperti terkena hantaman benda yang tidak tampak selama sesaat.

”Maafkan aku,” kata Indra kemudian. ”Karena telah membuat kalian khawatir.”

Dani melepaskan tangannya tanpa mengatakan apa-apa. Riska akhirnya mengerti, inilah cara mereka berbaikan.

Semua kata-kata yang tak terucapkan oleh Dani bisa langsung dipahami oleh Indra. Sesaat Riska agak iri dengan persahabatan mereka.

”Jadi, dari mana saja kau?” tanya Riska setelah suasana agak tenang.

”Aku di perpustakaan,” jawab Indra. ”Dan sepertinya saat Dani mencariku di sana, aku sedang berada di ruang geografi. Aku memang bolak-balik di dua tempat itu.”

”Untuk apa?” tanya Dani.

”Ayo ikut aku,” Indra mengajak mereka kembali ke ruang geografi dan menghadap peta besar yang tergantung di sana.

”Kurasa...” kata Indra pelan. ”Pak Yunus memang ada di Surakarta, seperti kata Riska.” ”Tapi bukankah Surakarta di peta tidak terletak di bawah sungai Bengawan Solo?” tanya Dani bingung. ”Apa kali ini mereka menyalahi kode yang mereka buat sendiri?”

Indra menggeleng. ”Samping, kiri, kanan, atas, bawah kan sebenarnya tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Itulah yang dimaksud Pak Yunus saat mengatakan ceci n’est pas une pipe.”

Dani menggaruk-garuk kepalanya. ”Aku tak mengerti.” ”Idem ditto,” timpal Riska.

”Ceci n’est pas une pipe yang dimaksud Pak Yunus adalah lukisan karya Magritte,” Indra menatap mereka. ”Itu yang kutemukan setelah berjam-jam di perpustakaan.”

”Magritte?” Riska mengernyit karena nama itu terdengar asing di telinganya. ”Siapa itu?”

”René François Ghislain Magritte,” jelas Dani yang telah menyerap buku tentang orang-orang dan karya seni terkenal sesuai petunjuk Indra. ”Pelukis surealis kelahiran Belgia, 21 November 1898. Salah satu karyanya yang terkenal adalah The Treachery of Images yang menggambarkan pipa rokok atau cangklong dengan tulisan ceci n’est pas une pipe di bawahnya.”

”Yang artinya ’ini bukan pipa’ itu tadi ya?” Riska mengangguk-angguk. ”Tapi apa maksudnya tulisan itu? Bukankah yang tergambar memang pipa rokok? Lagi pula apa hubungannya dengan lokasi tempat yang kita cari?”

”Memangnya kau bisa merokok dengan pipa di gambar itu?” tanya Indra.

”Ha?”

”Memangnya pipa dalam gambar itu bisa kauisi tembakau?” ulang Indra. Riska terdiam, masih tak mengerti.

”Itu bukan pipa melainkan gambar pipa, itulah yang dimaksud Magritte dalam lukisan ceci n’est pas une pipe-nya,” lanjut Indra. ”Lalu apa hubungannya dengan pencarian tempat kita? Dengan begini kita tahu yang dimaksud ’di bawah’ bukan berarti terletak ’di bawah’ seperti yang sekarang kita lihat. Seperti halnya lukisan Le Bateau-nya Matisse.”

”Siapa lagi itu?” bisik Riska pada Dani.

”Henri Émile Benôit Matisse,” jawab Dani. ”Pemahat dan pelukis terkenal dari Prancis yang lahir pada tanggal 31 Desember 1869. Lukisannya yang terkenal adalah Woman with a Hat yang dipajang di Museum of Modern Art.”

”Lalu Le Bateu itu apa?” tanya Riska.

”Lukisan dari potongan kertas yang menggambarkan awan, kapal layar, dan laut,” Dani menjelaskan. ”Dibuat pada tahun 1953. Pada tahun 1961, Museum of Modern Art terbalik menggantungnya selama 47 hari. Baru ketika pialang saham bernama Genevieve Habert menyadari kesalahan itu dan memberitahu The New York Times, lukisan itu akhirnya digantung dengan benar.”

”Hah?” Riska menatapnya tak percaya. ”Kok bisa salah gantung?”

”Karena mereka tidak tahu yang mana yang atas dan yang mana yang bawah,” sahut Indra. ”Kalau kau melihat lukisannya, aku yakin kau pun sulit membedakan mana yang atas dan bawah. Faktanya, memang tidak kurang dari

116.000 orang yang datang pada 47 hari itu yang tidak bisa membedakannya. Begitu juga peta ini.”

Indra mengambil kursi di dekatnya lalu menaikinya. ”Sebelumnya kita hanya tahu Pak Yunus pergi ke Budapest dan Bucharest, lalu Digoin-Dijon,” katanya sambil melepas peta itu dari gantungannya. ”Tapi kita tidak pernah benar-benar tahu manakah tempat penculikan dan mana tempat persembunyian. Misalnya peristiwa di Prancis, tadi kita melihat bahwa yang berada di bawah Sungai Loire adalah Digoin tapi jika peta ini kugantung terbalik, 180 derajat, sekarang di mata kalian kota mana yang berada di bawah Sungai Loire?”

Riska dan Dani menelan ludah, menatap peta yang sudah digantung terbalik oleh Indra.

”Dijon,” kata mereka pelan.

”Sekarang jika peta ini kuputar 90 derajat,” katanya sambil menurunkan peta itu lagi lalu memutarnya. Melihat Indra agak kesulitan, Dani segera membantunya. Sekarang kedua kutub terletak di samping kiri-kanan secara horizontal.

”Apakah Surakarta masih tampak di samping Sungai Bengawan Solo?” tanya Indra.

”Di bawah,” Riska menatapnya kagum. ”Kalau dilihat dengan posisi seperti itu, Surakarta berada di bawah sungai Bengawan Solo!”

Indra dan Dani mengembalikan peta itu kembali ke posisi semula. Setelah mengembalikan kursi yang dia naiki, Indra menghampiri kedua temannya.

”Aku sudah tahu kalau kau hebat,” puji Dani. ”Tapi aku tak pernah tahu kau sehebat ini.”

Riska mengangguk lalu tersenyum. ”Mengagumkan.” Indra tidak menunjukkan ekspresi apa pun, dia tetap di-

ngin seperti biasanya.

”Tapi ini belum selesai,” katanya. ”Bahkan justru baru dimulai.” ***

”Riska,” Mama mengetuk pintu kamar. ”Kau dicari dua temanmu.”

Pasti Dani dan Indra, batin Riska.

”Mama tidak tahu ternyata kau laris juga,” Mama menyeringai saat Riska bergegas hendak keluar.

”Yah, berarti selama ini Mama meremehkan anak Mama sendiri,” Riska mengangkat bahu.

”Jadi, kau pilih yang mana?” tanya Mama. ”Yang paling kaya,” jawab Riska asal.

”Kalau Mama sih, pilih yang rambutnya dicat cokelat,” Mama meringis.

”Aku nggak mau punya Papa yang seumuran denganku,” dengus Riska. Mama tertawa.

”Tapi...” lanjut Mama. ”Yang tinggi itu...”

Riska menghentikan langkahnya. ”Kenapa dengan yang tinggi?”

”Sorot matanya,” Mama tampak serius.

”Kenapa dengan sorot matanya?” tanya Riska mulai tidak sabar.

Mama agak kaget dengan reaksi Riska, tapi kemudian tersenyum.

”Tidak apa,” kata Mama. ”Dia tadi tampak kaget melihat Mama.”

”Kenapa?”

Mama mengangkat bahu. ”Mana Mama tahu.” Riska mengerutkan kening.

”Jangan-jangan dia orang yang kaumaksud itu, ya?” Mama menatap Riska penuh selidik. ”Yang melindungi mati-matian orang yang dianggapnya penting.”

”Bu...bukan,” Riska berbohong. Firasat mamanya memang tajam.

”Kau ini tidak pandai berbohong,” Mama menyeringai. Dia lalu berjalan menuju pintu keluar.

”Kau lama sekali,” gerutu Dani. Indra yang berdiri di sebelahnya hanya diam tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.

”Sori, tadi ada interupsi,” kata Riska. ”Ada apa?”

”Kami akan berangkat ke Solo Senin depan, saat anak kelas 12 ujian,” jawab Dani. ”Saat itu kan anak-anak kelas 10 dan 11 diliburkan.”

”Lalu?”

”Kami berencana pergi berdua saja,” lanjut Dani. ”Kami tidak ingin menempatkanmu dalam bahaya.”

”Tidak bisa!” protes Riska. ”Aku ikut! Toh aku memang sudah dalam bahaya sejak aku punya kemampuan ini.”

”Tapi kami...”

”Jangan menganggapku anak kecil! Aku tidak akan merepotkan kalian!” tegas Riska.

Dani melirik Indra, mengharapkan dukungan.

Indra mendengus lalu menatap Riska. Riska sudah bersiap-siap melontarkan berbagai macam alasan jika Indra juga tidak setuju dirinya ikut.

”Pegang kata-katamu. Jangan membuat kami repot,” kata Indra dingin.

Dani dan Riska melongo.

”Kau serius?” tanya Dani sambil menatapnya tak percaya. ”Bukankah dia bilang dia bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri?”

”Tapi...”

”Apa pun yang terjadi padanya bukan urusan kita,” Indra lalu mengalihkan tatapannya lagi pada Riska. ”Begitu, kan?”

Riska kaget dengan jawaban dingin Indra tapi dia mengangguk keras. Dia ingin menunjukkan bahwa dia bukan tipe cewek yang tergantung pada orang lain. Dia memang bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

”Kalau begitu kami pulang dulu,” pamit Dani. Riska mengangguk. ”Oke.”

Indra tidak berkata apa-apa tapi dia mengacungkan tangannya saat berbalik. Ini sudah suatu kemajuan bagi hubungan persahabatan mereka.

***

”Benarkah tidak apa-apa mengajaknya?” tanya Dani sambil memakai helm.

Indra mengangguk lalu menyalakan mesin motornya. ”Karena kau pasti akan melindunginya, kan?” Dani me-

ringis.

Indra tidak menjawab. Motor pun melaju menjauhi rumah Riska.

Baru setengah jalan, belum keluar dari kompleks rumah Riska, tiba-tiba dari arah berlawanan mobil wagon hijau muda datang dengan kecepatan tinggi lalu berhenti menyamping di depan mereka. Kalau saja refleks Indra tidak bagus, pasti motornya sudah babak belur berikut penumpangnya. Pintu mobil terbuka dan empat orang selain sopirnya keluar. Mereka menarik Indra dan Dani dari motornya hingga jatuh. Saat Indra mencoba bangkit, perutnya ditendang hingga tersungkur lagi. Dua orang langsung memegangi kedua tangannya agar tak melawan.

”Bawa yang ini!” perintah pria bertubuh paling gempal dan satu-satunya orang yang memakai sarung tangan putih sambil menarik Dani. Dia lalu dibantu seorang lagi untuk memegangi Dani yang meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Sayang sekali, jalan yang mereka lalui termasuk sepi karena saat pulang mereka memilih jalan pintas yang kanan dan kirinya persawahan.

Indra memberontak, berusaha menolong Dani. Dia berhasil melepaskan tangan kirinya dari cengkeraman dan berupaya membuka sarung tangannya.

”Pegang tangannya! Jangan biarkan dia membuka sarung tangannya!” teriak pria gempal itu, suaranya sengau hingga hampir tidak jelas apa yang dia katakan. ”Ingat kata Bos!” Indra tertegun. Tangannya pun dicengkeram lagi oleh para penyerang. Dia tidak berdaya tanpa keahliannya membaca pikiran karena penyerangnya kali ini sepertinya juga menguasai ilmu bela diri. Tapi melihat Dani berhasil diseret mendekati mobil, mata Indra berkilat. Dia mengerahkan

semua tenaganya untuk melepaskan diri. ”UOOOOOOOGGGHHH...!!!!!”

Indra membanting dua orang yang memegangi tangannya lalu melepas sarung tangannya.

”Lepaskan dia!” geramnya.

”Dia sudah melepas sarung tangannya,” orang yang tadi dibanting Indra, melirik ke arah pria bersarung tangan putih. Berpikir sejenak, orang itu pun memberi isyarat pada anak buahnya untuk melepaskan Dani. Dani didorong kuatkuat hingga menubruk Indra dan para penculik menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.

”Kembali ke mobil!” perintah si pria gempal. ”Dia sudah melepas sarung tangannya, bahaya jika dia membaca pikiran kita! Lakukan perintah selanjutnya!”

Para penculik itu bergegas masuk ke mobil lalu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Indra dan Dani.

”Kurasa tebakanmu benar,” kata Dani sambil terengahengah, wajahnya masih pucat. ”Kau lihat plat nomornya? AD, Solo.”

Indra tidak mengatakan apa-apa, kepalanya penuh dengan ucapan-ucapan penyerang itu. Bagaimana mereka tahu dia bisa membaca pikiran? Bagaimana mereka bisa tahu fungsi dari sarung tangan yang dipakainya? Apakah mereka orang yang sama yang menculik Pak Yunus? Kenapa hanya Dani? Lalu... apa perintah selanjutnya?

”Dan, kau pulang duluan saja! Ambil jalan yang ramai!” Indra memberikan kunci motornya pada Dani. ”Aku masih ada urusan.”

Tanpa menunggu jawaban Dani, Indra berlari sekencangnya kembali ke rumah Riska. Dia cemas, jangan-jangan perintah selanjutnya adalah menculik Riska, apalagi karena mereka gagal menculik Dani. Merasa sekilas melihat wagon berwarna hijau muda menuju arah yang sama, Indra mempercepat larinya.

Sesampainya di depan rumah Riska dengan terengahengah, Indra memencet bel rumah itu. Wanita setengah baya membuka pintu. ”Lho, kamu yang tadi, kan?” sapa wanita itu ramah. ”Ri...Riska,” kata Indra susah payah karena napasnya

masih naik-turun.

”Oh, dia sedang keluar, ke mini market,” jawab wanita itu sambil tersenyum.

Indra membeku.

”Di...di mana mini marketnya?” tanya Indra setengah membentak.

”Di ujung jalan ini,” jawab ibu Riska. ”Kau masuk saja dulu, Tante buatkan teh. Sepertinya kau kelelahan dan... ” ”Permisi!” Tidak menggubris tawaran ibu Riska, Indra berlari keluar. Dia hampir seperti orang kesetanan, lari sekencang itu menuju mini market. Masih tersengal-sengal, dia masuk ke mini market dan berusaha mencari sosok Riska tapi tidak menemukannya. Dia mulai ketakutan telah

terlambat menyelamatkan gadis itu.

Setelah melihat wajah ibu Riska, Indra sadar bahwa Riska-lah anak yang waktu itu ditemuinya di festival kota saat dia berumur enam tahun. Anak yang kata-katanya menyelamatkan dirinya hingga saat ini. Riska-lah penyelamat kecilnya dan Indra bertekad tidak akan pernah membiarkan penyelamatnya itu terluka.

Setelah meyakinkan diri bahwa Riska tidak ada di tempat itu, dia keluar. Saat dia hampir putus asa, tiba-tiba terdengar suara yang sangat dikenalnya.

”Ndra? Ngapain kamu di sini?”

Indra menoleh dan melihat Riska dengan tangan penuh barang belanjaan. Melihat Riska baik-baik saja, Indra menghela napas panjang. Rasa lega menyelimutinya hingga dia berjongkok di tanah saking lemasnya. ”Hoi, kau tak apa-apa?” tanya Riska khawatir sambil berjongkok di sampingnya.

”Dari mana saja kau?” tanya Indra lemah.

”Aku disuruh belanja,” jawab Riska sambil mengacungkan tas belanjanya. ”Lalu tadi aku mampir sebentar ke warung bakso di sebelah, aku lapar.”

Indra mengusap keringatnya yang deras mengucur. Riska merogoh sakunya untuk mengambil saputangan lalu memberikannya pada Indra.

Indra menerimanya tanpa mengatakan apa-apa.

”Apa yang terjadi?” ulang Riska sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan tangan yang terbungkus sarung tangan karena dingin.

”Ayo pulang,” Indra bangkit.

”Kau belum menjawab pertanyaanku!” protes Riska. ”Sambil jalan,” Indra mengambil tas belanja di tangan

Riska. ”Aku saja.”

”Tadi, dalam perjalanan pulang dari rumahmu, kami dihadang van,” Indra mulai bicara saat dia merasa tidak akan ada yang mendengarkan mereka.

”Eh?” Riska menatapnya kaget. ”Mereka hendak menculik kalian?”

”Hanya Dani,” lanjut Indra. ”Anehnya, hanya Dani padahal mereka tahu aku juga touché. Mereka bahkan tahu kemampuanku adalah membaca pikiran.”

Riska tertegun. ”Tapi untunglah usaha penculikan itu gagal.”

Indra mengangguk.

”Sekarang di mana Dani?” tanya Riska.

”Aku menyuruhnya pulang dengan motorku.” ”Kenapa kau tidak ikut pulang dengannya?” tanya Riska heran. ”Keringatmu sampai seperti itu, jangan-jangan kau kembali ke rumahku dengan berlari?”

Indra tidak menjawab, hanya balas menatap Riska. ”Jangan-jangan kau...” Riska menghentikan langkahnya.

”Mengkhawatirkanku?”

”Sudahlah, ayo pulang, ibumu sudah menunggumu,” kata Indra dingin, dia tidak ikut berhenti tapi berjalan pelan.

Tidak mungkin dia akan mengakui bahwa dia memang mengkhawatirkan Riska. Indra sudah menganggap Riska sebagai orang yang penting, sama pentingnya seperti Dani. Bahkan mungkin lebih penting. Sekarang akhirnya dia memiliki dua orang penopang, dua orang yang membuatnya merasa dibutuhkan dan dihargai. Dua orang yang menerimanya apa adanya termasuk kemampuan yang dia miliki. Tidak mungkin dia akan membiarkan orang-orang ini terluka.

Indra masih dapat merasakan ketakutan yang tadi menyergapnya, saat Dani hampir berhasil dibawa pergi dan saat tidak menemukan Riska di rumahnya. Tubuh Indra bergidik, dia tidak sanggup membayangkan jika ketakutannya menjadi kenyataan. Jika dia kehilangan mereka, apa lagi yang tersisa. Kesepian yang dulu dia rasakan, akan datang kembali padanya. Rasa sepi, sedih, takut yang tidak bisa diungkapkan kepada orang lain, yang harus dia tanggung sendiri. Tak ada yang tahu bahwa selama ini dia hanya berpura-pura kuat.

”Tu...tunggu!” Riska menarik tangan Indra.

”Apa yang kau...” kata-kata Indra terhenti melihat air mata yang tiba-tiba mengalir dari sudut-sudut mata Riska. Indra menelan ludah, bingung dan terkejut.

”Jangan lagi berpura-pura kuat...” suara Riska bergetar.

Bagaimana mungkin dia...batin Indra tapi dia kemudian teringat kemampuan Riska.

”Jangan seenaknya memakai kemampuanmu untuk membaca perasaanku!” emosi Indra seketika meledak. Dia menepis tangan Riska dengan kasar lalu berjalan meninggalkannya. Indra tidak sadar Riska sedang memakai sarung tangan.
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊