menu

Touché Bab 10

Mode Malam
Bab 10

INDRA terus berkutat di depan layar komputernya, mengetik Budapest-Bucharest serta Dijon-Digoin mencoba mencari persamaannya. Tetapi semakin dicari dan semakin banyak data yang dia peroleh, dia semakin tak mengerti.

Bagaimana Pak Yunus memecahkan kode ini, batinnya. Dia melihat kamarnya yang berantakan penuh buku-buku berserakan. Dari ATLAS, buku Sejarah dunia sampai Ensiklopedia dia buka tapi hasilnya nihil.

Indra menghela napas, meregangkan tangannya. Saat dia hendak melanjutkan mencari, ponselnya berbunyi.

”Halo?”

”Ndra,” terdengar suara Dani di seberang. ”Temui aku di restoran cepat saji dekat sekolah kita.”

”Memangnya kenapa?”

”Kita makan malam,” jawab Dani. ”Ini sudah jam setengah sembilan dan aku yakin kau belum makan.”

Indra melirik jam dindingnya yang menunjukan pukul setengah sembilan lebih lima menit.

”Bagaimana kau...” ”Aku sudah cukup lama berteman denganmu,” desah Dani. ”Aku tahu sekarang pasti banyak buku berserakan di kamarmu dan dari tadi kau berkutat di depan komputer atau pikiranmu sibuk memecahkan kode itu.”

Indra tidak mengatakan apa-apa.

”Sudahlah,” lanjut Dani. ”Aku juga belum makan. Aku baru saja selesai dilatih spartan oleh Pak Fajar untuk persiapan olimpiade biologi dan itu membuatku hampir mati kelaparan. Bagaimana? Setuju?”

Indra terdiam sesaat. ”Terserah apa katamu saja.” ”Hehehehe sesekali kau memang harus menurut pada

temanmu ini,” kata Dani.

”Oh ya, aku tadi juga mengajak Riska,” kata Dani sebelum menutup teleponnya. ”Kuharap kau tak keberatan.” Indra tidak diberi kesempatan untuk memberikan reaksi karena Dani langsung menutup teleponnya. Indra menghela napas, dia sudah terbiasa dengan tabiat sahabatnya itu. Dia

mengambil kunci motornya lalu bergegas ke garasi.

Di restoran cepat saji yang dimaksud Dani, Indra melihat Riska duduk di meja paling ujung sedang mengutak-atik ponselnya. Indra langsung menarik kursi di depannya hingga membuat Riska kaget.

”Kau memang tidak pernah diajari sopan santun untuk menyapa, ya?” tanya Riska agak sebal.

”Hai,” Indra menatapnya dingin. Riska memutar bola matanya.

”Yah sudahlah...” desahnya. ”Kau pesan saja dulu, aku sudah pesan.”

Riska mengedikkan kepalanya ke burger dan kentang goreng di depannya. ”Aku akan menunggu Dani,” jawab Indra.

”Terserah kalau begitu,” Riska mengangkat bahu lalu sibuk dengan ponselnya lagi.

Setelah itu tak ada satu pun dari mereka yang bicara atau bahkan berusaha mencari topik pembicaraan. Keduanya seperti sedang berada di dunianya masing-masing hingga akhirnya Dani datang.

”Kau lama sekali sih, Dan...” kata-kata Riska terpotong melihat luka di sudut bibir Dani dan matanya yang lebam. ”Kau kenapa?”

Dani hanya meringis. ”Tadi aku ceroboh akibat buruburu datang ke sini dan terjatuh di tangga.”

Indra menatapnya tajam setengah tak percaya lalu melepas sarung tangannya.

”Jangan menyentuhku!” sergah Dani dengan nada tinggi yang membuat perhatian orang-orang di sekitar  mereka tertuju padanya. ”Sesekali percayalah apa yang kukatakan.” Indra terpaku sesaat, lalu memakai kembali sarung tangan-

nya. Dia bangkit dari kursinya.

”Aku akan pesan makanan,” katanya dingin dan pergi meninggalkan meja.

”Ah, aku pesan...” belum selesai Dani meneruskan kalimatnya, Indra sudah memotong.

”Seperti biasa, kan?”

Dani meringis. ”Yup! Seperti biasa!”

Dani duduk di kursi yang ditinggalkan Indra. Riska buru-buru mengambil tisu dan memberikannya pada Dani.

”Masih ada sedikit darah,” kata Riska sambil menunjuk sudut bibirnya. ”Terima kasih,” Dani mengangguk.

”Katakan padaku sejujurnya apa yang terjadi?” tanya Riska, kali ini wajahnya serius.

Dani terdiam sesaat lalu tersenyum.

”Masalah sepele,” katanya. ”Ada yang tidak suka padaku.”

”Eh?”

”Yah... tipe sepertiku kan memang tidak begitu disukai,” Dani mengangkat bahu. ”Tidak pernah belajar tapi selalu mendapat nilai bagus, murid kesayangan guru-guru dan banyak sekali cewek yang tergila-gila padaku walau yang terakhir lebih banyak karena bantuan Indra.”

”Aku tak tahu apakah aku harus bersimpati padamu atau sebal dengan kenarsisanmu,” kata Riska.

Dani tertawa. ”Pilih salah satu.” ”Lalu? Apa yang terjadi?” tanya Riska.

”Beberapa orang yang tidak menyukaiku yang sialnya salah satu ceweknya sedang kudekati ingin menunjukkan rasa tidak suka mereka secara frontal,” Dani menghela napas.

”Mereka mengeroyokmu?” ”Yeah.”

”Kau tidak apa-apa?”

”Seperti yang kau lihat, I’ll survive,” Dani meringis. ”Tapi kenapa kau tidak ingin kejadian ini diketahui oleh

Indra?” tanya Riska tak mengerti. Mendengar pertanyaan Riska, raut wajah Dani berubah.

”Karena aku tahu dia akan lepas kontrol,” katanya serius.

”Maksudnya?” ”Kau sudah pernah lihat sendiri kan bagaimana Indra sangat melindungiku?” Dani menatapnya.

Riska mengangguk, teringat kejadian saat Indra seperti orang kesurupan ketika ada yang memukul Dani.

”Dulu sering ada kejadian seperti ini,” jelas Dani. ”Aku tidak pernah menceritakannya tapi tentu saja dengan kemampuannya, Indra tahu dengan sendirinya. Semua anak yang melukaiku selalu berakhir dengan luka-luka yang jauh lebih berat dari yang kudapatkan. Indra sering sekali kena hukuman gara-gara ini. Bahkan pernah, saat ada yang melukaiku agak parah, aku merasa Indra benar-benar akan membunuhnya jika saja aku tidak menghentikannya.”

Riska menelan ludah.

”Sejak itu tidak ada lagi yang berani macam-macam denganku,” Dani mengambil kentang goreng milik Riska lalu memakannya. ”Ini pertama kalinya setelah dua tahun. Mungkin mereka belum mendengar tentang Indra.”

”Sampai segitunya?” tanya Riska tak percaya.

”Dia itu sangat melindungi orang-orang yang dia anggap penting dan menganggapnya penting,” jelas Dani.

”Tetapi memangnya harus sampai seperti itu?” Riska mengernyitkan kening.

Dani menghela napas. ”Seperti yang pernah kubilang dulu, tidak semua orang seberuntung dirimu. Selama ini, orang-orang yang dianggap penting oleh Indra termasuk keluarganya tidak menganggapnya sama penting bahkan mereka cenderung tidak memedulikannya.”

”Kenapa?”

”Karena mereka merasa terancam dengan kemampuannya,” jawab Dani. ”Pikiran adalah tempat paling pribadi seseorang. Tidak ada yang suka jika tempat pribadinya bisa dilihat orang lain.”

Riska terdiam sesaat. ”Kau menganggapnya penting?” ”Tentu saja,” jawab Dani mantap. ”Dia sahabatku.” ”Hanya karena itu dia melindungimu mati-matian?” ”Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya,” desah

Dani. ”Yang kutahu, memang itulah yang dia lakukan.”

”Jadi itu sebabnya kau tidak menceritakan kejadian sebenarnya pada Indra?” Riska mengangguk-angguk. ”Kau tidak ingin dia melakukan sesuatu yang membuatnya dihukum lagi. Dani mengalihkan tatapannya ke jalan, kali ini matanya menerawang.

”Bukan,” katanya. ”Aku melakukannya untukku sendiri. Aku merasa sudah terlalu sering dilindungi,” lanjutnya. ”Dilindungi oleh orang yang justru lebih memerlukan perlindungan daripada aku. Aku ingin Indra belajar untuk memikirkan dirinya sendiri.”

Riska tidak begitu paham arti kata-kata Dani dan dia tidak punya kesempatan untuk menanyakannya karena tak lama kemudian Indra datang dengan pesanannya.

”Cheeseburger tanpa acar dan Milo,” Indra menyerahkan nampan itu pada Dani.

”Kau tidak makan?” tanya Dani. ”Aku sudah kenyang,” jawab Indra. ”Aktingmu buruk.”

”Kode itu belum kuselesaikan, aku tidak punya nafsu makan.”

”Bagaimana kau akan menyelesaikannya?” tanya Riska. Indra mengangkat bahu. ”Aku pergi sebentar, ada urusan mendadak,” Indra menepuk bahu Dani. ”Sebentar lagi aku kembali.”

Indra lalu pergi keluar menuju tempat parkir. ”Dia mau pergi ke mana?” tanya Riska.

”Entah,” jawab Dani sambil menggigit cheeseburger-nya. Seakan menyadari sesuatu, Riska langsung terpaku. ”Ada apa?” tanya Dani lalu mengambil Milo-nya.

”Indra,” kata Riska pelan. ”Tadi dia menepuk bahumu tanpa menggunakan sarung tangan.

Dani tampak terkejut mendengar kata-kata Riska dan langsung menoleh ke tempat parkir, Indra sudah tidak ada di sana.

”SIAL!” umpatnya.

***

”Apa yang kaupikirkan?” tanya Mama saat Riska pulang dengan wajah yang agak aneh.

”Eh?” Riska menatapnya.

Mama menepuk sofa di sebelahnya, menyuruh Riska duduk. Dia mengangguk.

”Apa yang kaupikirkan?” ulang Mama.

Riska menghela napas lalu menceritakan tentang Indra minus kemampuan touché-nya. Tentang bagaimana Indra selalu melindungi mati-matian sahabat-sahabatnya.

”Kau bilang, keluarganya tidak menganggapnya penting?

Kenapa?” tanya Mama.

”Entahlah, mungkin dia punya sesuatu yang ditakuti keluarganya,” Riska setengah berbohong.

”Misalnya?” Mama mengerutkan kening. ”Penyakit menular, bau napas tidak enak, atau...” Riska mengangkat bahu. ”Kemampuan membaca perasaan sepertiku.”

Mama mengangguk-angguk.

”Kurasa Mama mengerti kenapa dia seperti itu,” Mama tersenyum sambil menatap Riska.

”Kenapa?”

”Coba kaubayangkan jika kau berada di posisinya,” kata Mama. ”Orang-orang terdekatmu yang kauanggap penting, tidak menganggapmu sama pentingnya. Bahkan mereka menjauhimu karena takut padamu. Ketika akhirnya datang seseorang yang membalas perasaanmu, menganggapmu penting sebagaimana kau menganggapnya, apa yang akan kaulakukan?”

Riska mencoba berpikir.

”Aku akan melindunginya mati-matian,” katanya kemudian.

”Karena...?” Mama tersenyum.

Riska tertegun dan menatap mamanya.

”Karena,” katanya. ”Jika tidak, aku takut tidak akan ada lagi yang tersisa.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊