menu

Touché Bab 09

Mode Malam
Bab 09

MEREKA bertiga sepakat untuk bertemu di ruang musik sepulang sekolah demi memecahkan kode yang ada dalam puisi yang ditinggalkan penculik Pak Yunus.

”You only have to look behind you, at who’s underlined you,” Riska membaca puisi yang dia tuliskan juga di papan tulis itu keras-keras. ”Dibaca berkali-kali pun aku tak mengerti apa maksudnya.”

”Apalagi aku,” Dani menghela napas.

”Bukannya kau ini juara kelas?” Riska mengerutkan kening.

”Berkat tanganku ini,” Dani meringis.

”Lalu siapa yang mungkin bisa memecahkannya?” desah Riska.

”Dia sepertinya bisa,” Dani tersenyum lalu mengedikkan kepalanya pada Indra yang tampak serius menelaah puisi yang ditulis Riska.

”Semoga saja,” harap Riska.

Selama beberapa saat, mereka bertiga berada dalam diam. Dani dan Riska tanpa kata-kata, sepakat untuk memberi ketenangan bagi Indra. Indra sendiri hanya berdiri mematung, tapi siapa pun bisa melihat dari matanya bahwa otaknya sedang bekerja.

”Mungkin...” kata Indra tiba-tiba. ”Mungkin apa?”

Indra terdiam lagi lalu menggeleng.

”Bukan... itu hanya perkiraanku dan aku sendiri tidak yakin.”

”Katakan pada kami apa perkiraanmu itu,” kata Dani tidak sabar. ”Berapa kali kubilang aku tidak punya kemampuan untuk membaca pikiranmu?”

Indra menatapnya lalu menghela napas.

”Ini karena aku belum yakin,” katanya. ”Mana bisa aku mengatakan pada kalian apa yang masih berupa dugaan.”

”Kalau itu masih berupa dugaan, kami bisa membantu membuktikannya apakah itu benar atau tidak,” kata Riska. ”Atau kau sudah berencana melakukan semuanya seorang diri?”

Indra tertegun mendengar kata-kata Riska tapi kemudian menatapnya sinis

”Kau ini memang cuma pandai bicara.” ”Ugh,” Riska tertohok.

”Baiklah, aku akan mengatakan apa dugaanku,” lanjut Indra. ”Tapi ini hanya agar kau bisa membuktikan bahwa kau cuma pandai bicara.”

Riska merengut lalu mengangguk keras.

Dani tersenyum, mungkin Riska tidak tahu bahwa sebenarnya baru saja Indra luluh dengan perkataannya.

”Pak Yunus pernah bilang, puisi ini adalah surat tantangan bagi kaum touché,” Indra mulai menjelaskan. ”Tantangan untuk menemukan tempat, jadi kata-kata ’You only have to look behind you, at who’s underlined you’ tidak bisa diterjemahkan seperti biasa. Pasti tiap kata adalah petunjuk ke suatu tempat.

”Jika kita mencari suatu tempat atau ingin pergi ke suatu tempat,” lanjutnya. ”Benda apakah yang kita butuhkan?”

”Peta,” jawab Dani.

Indra mengangguk. ”Betul. Dari kalimat ’at who’s underlined you’, kita diberi petunjuk kasar di mana tempat yang dimaksud. Menurut kalian, yang tampak seperti line atau garis di peta itu apa?”

Mata Dani dan Riska melebar. Riska terpaku. ”Sungai...”

”Tepat,” kata Indra. ”Kalimat terakhir puisi itu merujuk pada tempat di bawah sungai.”

”Lalu bagaimana dengan kalimat pertama?” tanya Dani. ”Aku masih belum mengerti,” jawab Indra. ”Sebenarnya

kalau saja kita tahu kota-kota mana saja di luar negeri tempat terjadinya penculikan para touché di sana, mungkin kita bisa mengerti polanya. Tapi karena kita sama sekali tidak punya petunjuk tempat terjadinya penculikan apalagi tempat mereka disekap seperti perhitungan Pak Yunus, aku hanya bisa menebak-nebak apakah itu maksudnya tempat persembunyiannya terletak di balik tempat penculikan atau letaknya berseberangan atau namanya hampir mirip, aku tak tahu. Aku bahkan mengira kata ’look behind you’ merujuk pada Rusia karena di sana ada patung The Motherland.”

”The Motherland?” tanya Riska.

”Itu patung berukuran 82 meter karya Yevgenyi Vuchetich yang dibuat untuk mengenang pertempuran bangsa Rusia pada saat Perang Dunia II di Stalingard,” jawab Indra. ”Patung itu berbentuk wanita yang mengacungkan pedang dan menoleh ke belakang. Tapi sepertinya dugaanku itu salah karena di Indonesia tidak ada patung yang mirip dengan The Motherland, lagi pula kata Pak Yunus setelah terjadi penculikan atas touché di bidang masak itu, kemungkinan besar mereka masih berada di pulau Jawa.”

”Lalu bagaimana?” Riska menatap Indra putus asa. ”Kita memang sudah punya satu petunjuk, tapi itu masih belum cukup.”

”Aku tahu,” Indra balas menatapnya, tapi kali ini pandangannya lembut seakan berusaha menenangkan Riska. ”Karena itu besok jam setengah enam kita bertemu lagi di ruang geografi. Kelas dimulai jam tujuh jadi sepertinya waktu satu setengah jam cukup.”

”Kenapa di ruang geografi?” tanya Dani.

”Karena ruangan yang memiliki peta dunia yang lengkap dan sangat besar hanya ruang geografi,” jawab Indra.

”Kenapa besok? Kenapa tidak sekarang saja?” tuntut Dani. ”Kalau begini, aku tidak akan bisa tidur malam ini.”

”Karena persiapan kita tidak cukup,” kata Indra tegas. ”Aku minta kita berkumpul lagi besok karena dengan begini kau bisa pergi ke toko buku dan menyerap sebanyak mungkin buku di sana. Saat inilah kemampuanmu diperlukan.”

Dani menatap temannya itu dengan kagum, Indra memang selalu memikirkan segalanya dengan matang.

”Serap sebanyak mungkin buku tentang sejarah dunia, orang-orang penting, karya seni, geografi, dan ensiklopedia,” perintah Indra.

”Lalu aku?” tanya Riska. Indra tampak berpikir sebentar. ”Kau punya laptop?” tanyanya.

”Aku punya netbook,” Riska mengangkat bahu.

”Itu malah lebih baik karena ringan dan tidak mencolok,” Indra mengangguk. ”Sekolah kita diselimuti wi-fi jadi kita bisa leluasa mencari info lewat internet.”

”Berarti sebenarnya kemampuanku tidak diperlukan?” tanya Dani kecewa.

”Bodoh!” Indra menatapnya tajam. ”Justru apa yang kauserap itulah yang paling kupercaya. Karena buku tetap lebih valid daripada internet. Aku membutuhkannya hanya jika hal yang kucari tidak tertulis di buku yang kauserap.

”Karena bagaimanapun,” lanjutnya, ”diakui atau tidak, internet telah terbukti berperan besar dalam menyebarkan informasi yang keliru.”

***

Indra mengamati dengan saksama peta besar di depannya. Merunut satu demi satu sungai yang ada di dunia.

Kira-kira sungai mana yang dimaksud? batinnya.

”Sedang apa kau di sini?” suara Pak Taufik, guru geografi, membuyarkan konsentrasinya. ”Pagi sekali kau datang.”

”Maaf, Pak, saya diberi tugas oleh Pak Yunus mencari letak kota-kota komponis dunia,” Indra berbohong. ”Saya ingin memastikan sendiri di mana tempat itu di peta.”

”Pak Yunus?” Pak Taufik menatapnya tak percaya. ”Bukankah dia izin tidak mengajar?”

Indra mengangguk. ”Tugas ini diberikan sebelum beliau izin, sepertinya saat itu beliau sendiri tidak merencanakan akan rehat mengajar.”

”Sepertinya begitu,” Pak Taufik mengangguk-angguk. ”Kudengar perusahaannya di Jakarta mengalami sedikit masalah karena krisis jadi dia harus cepat-cepat ke sana. Orang kaya memang beda.”

Indra tersenyum sopan.

”Jadi, bagaimana?” tanya Pak Taufik. ”Kau sudah menemukan tempat yang kaucari?”

”Ternyata jika hanya melihat dari peta, agak sulit membayangkan bagaimana tempat itu sebenarnya,” kata Indra.

”Kalau kau belum pernah ke luar negeri, pastinya seperti itu,” Pak Taufik tertawa. ”Tapi omong-omong, kau pernah ke luar negeri? Namamu Indra, bukan?”

”Saya belum pernah ke luar negeri,” jawab Indra. ”Bukankah kau jago judo itu? Belum pernah dikirim

untuk pertandingan di luar negeri?”

”Saya belum mendapat kesempatan besar itu.”

”Berarti Pak Yunus orang yang beruntung karena berkalikali mendapat kesempatan besar itu,” Pak Taufik mengalihkan pandangannya pada bentangan peta besar di ruangan itu.

”Kami pernah sedikit ngobrol saat pagi-pagi aku menemukannya sedang menatap peta dengan serius sepertimu,” katanya sambil tersenyum.

Jantung Indra berdegup kencang.

”Apakah Bapak memperhatikan kota mana yang sedang beliau lihat?” tanya Indra penuh harap.

Pak Taufik mengernyit. ”Untuk apa?” Indra berusaha keras menyembunyikan rasa kecewanya. ”Negara mana saja yang pernah dikunjungi Pak Yunus?”

Pak Taufik mencoba mengingat-ingat. ”Dia pernah bilang kalau dia baru saja terbang bolak-balik Rumania-Hongaria.”

”Hanya di negara-negara Semenanjung Balkan?” gumam Indra.

Sepertinya Pak Taufik mendengar gumaman Indra.

”Dia juga pernah ke Prancis,” katanya. ”Dia bilang, dia pernah tinggal di Dijon.”

”Dijon?”

”Dan sempat pergi ke Saône-et-Loire,” Pak Taufik mengangguk. ”Aku yakin dia sudah pernah mengelilingi hampir seluruh negara di dunia ini tapi hanya itu yang dia ceritakan padaku. Mungkin dia tidak ingin dianggap sombong.”

”Selamat pagi,” Riska dan Dani mengetuk pintu.

”Oh, kalian janjian, ya?” Pak Taufik mengangkat alis lalu melihat netbook yang dipegang Riska. ”Bagus... bagus... saya suka melihat murid yang antusias belajar bersama. Senin depan kalian kan libur karena anak-anak kelas 12 ujian, jadi kalian bisa maksimalkan kegiatan belajar kelompok kalian itu.”

Dani meringis. ”Terima kasih, Pak.”

Pak Taufik lalu pergi meninggalkan ruangan.

”Dan...” panggil Indra ketika akhirnya hanya mereka bertiga di ruangan itu. Sekarang matanya tidak lepas dari Benua Eropa di peta.

”Uhm?” sahut Dani.

”Beritahu aku nama sungai paling panjang di Eropa—ah, bukan! Di Uni Eropa yang melewati Hongaria dan Rumania,” perintahnya. ”Danube, Donau, Dunaj, Dunav, Tuna, Duna,” jawab Dani. ”Yah... sungai itu punya banyak nama.”

”Danube ya...” Indra merunut aliran sungai Danube di peta dengan jarinya.

”Bagaimana dengan Prancis?” tanyanya lagi. ”Sungai paling panjang di Prancis apa?”

”Loire,” jawab Dani. ”Panjangnya 1013 kilometer.”

Kali ini Indra berkonsentrasi pada Prancis dan merunut aliran sungai Loire. Dia tampak berpikir keras dan berkalikali mengurut matanya, lalu seperti teringat akan sesuatu tiba-tiba dia terpaku.

”Ris! Beritahu aku, kota mana saja yang termasuk dalam Saône-et-Loire!” perintah Indra. Untung saja Riska sudah siap dari tadi hingga dia hanya tinggal mengetik kata kuncinya di mesin pencari.

”Banyak sekaliiiiiiiiii...” Riska membaca nama-nama kota yang muncul di komputernya.

”Yang berhubungan dengan sungai Loire!”

Setelah membaca dengan saksama, Riska berseru. ”Digoin!

Yang dialiri sungai Loire adalah kota Digoin.” Indra menghela napas, lalu tersenyum.

Dia menoleh ke arah kedua temannya. ”Aku sudah memecahkan kode puisi itu.”

”EEEEEEEEEEEEHHHHHHH!!!!!” seru Dani dan Riska berbarengan.

”Seperti dugaan awal, kata ’underline’ berarti di bawah sungai,” Indra mulai menjelaskan. ”Ada banyak sungai di dunia ini jadi pastilah yang mencolok, entah itu terpanjang atau terlebar. Masalahnya kemudian, sungai di negara mana yang dimaksud? Untunglah tadi Pak Taufik sempat mengatakan tentang pembicaraannya dengan Pak Yunus. Pak Taufik memberi petunjuk negara-negara mana saja yang pernah dikunjungi Pak Yunus baru-baru ini, yang kupikir pasti berkaitan dengan penculikan para touché.”

”Negara mana saja yang pernah dikunjungi Pak Yunus?” tanya Riska tidak sabar.

”Pak Taufik bilang, Pak Yunus pernah bolak-balik Hongaria-Rumania,” jawab Indra. ”Lalu di Perancis beliau pernah tinggal Dijon lalu pergi ke Saône-et-Loire.”

”Dengan petunjuk seminimal itu, bagaimana kau bisa memecahkan kodenya?” tanya Dani.

”Inti pemecahan kode, ada pada kalimat awal puisi itu,” jelas Indra. ”’You only have to look behind you’. Jika aku bilang, kota-kota yang dimaksud adalah Budapest-Bucharest dan Dijon-Digoin, pola apa yang kalian dapatkan?”

Dani melongo.”Suku kata pertamanya...” ”Sama...” Riska tertegun.

Indra mengangguk.

”Kita hanya perlu melihat yang di belakang, karena yang di depan pasti sama, walau belum tentu satu suku saja, bisa dua atau tiga,” jelas Indra. ”Itulah maksud kalimat pertama puisi itu. Sekarang jika kita sudah punya pola bahwa kota tempat persembunyian berada di bawah sungai terpanjang dan suku kata depannya sama dengan kota tempat korban diculik, kita pasti bisa segera menemukan Pak Yunus.”

”Sungai terpanjang di Pulau Jawa,” Dani masih tak percaya mereka bisa memecahkan puisi itu. ”Bengawan Solo.” ”Lalu yang satu atau dua suku depannya sama dengan Surabaya dan dekat dengan sungai, itu berarti...” Riska maju

mendekati peta. ”Surakarta.” ”Pak Yunus disembunyikan di Surakarta!” pekiknya. ”Tunggu dulu!” potong Dani lalu mengamati letak Sura-

karta. ”Kota Surakarta nggak terletak di bawah sungai Bengawan Solo. Letaknya di samping!”

”Kau benar,” keluh Riska. Mereka terdiam.

”Bukankah masih ada satu petunjuk lagi?” kata Indra kemudian.

Riska dan Dani menoleh padanya.

”Ceci n’est pas une pipe,” lanjut Indra. ”Itu petunjuk yang diberikan Pak Yunus sebelum dia menghilang.”

”Ini bukan pipa,” sahut Dani. ”Hah?” Riska menatapnya bingung.

”Kalian kan pernah menyinggung agar aku membaca kamusnya dulu sebelum mengatakan kata-kata asing,” Dani menghela napas. ”Akhirnya aku menyerap kamus bahasa Prancis termasuk tata bahasanya. Ceci n’est pas une pipe artinya ’ini bukan pipa’.”

Mereka terdiam lagi.

”Aku tambah binguuung...” keluh Riska. ”Lalu kita harus mencari sungai yang bentuknya seperti pipa? Atau mencari kota yang bukan penghasil pipa? Aku menyerah...”

Dani mendudukkan diri di meja yang ada di ruangan itu. ”Aku juga menyerah.”

Hanya Indra yang masih belum menyerah. Matanya menunjukkan otaknya sedang bekerja keras. Tapi tidak lama kemudian dia menghela napas panjang, tampaknya dia sudah menyerah juga.

”Kurasa kita lanjutkan besok saja,” katanya. Dani dan Riska mengangguk. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊