menu

Touché Bab 08

Mode Malam
Bab 08

”RUMAH Pak Yunus benar-benar besar, bahkan pagarnya pun sebesar ini,” gumam Riska sambil menatap kagum pagar kokoh di depannya.

”Tak ada waktu untuk kagum,” kata Indra lalu memencet belnya.

”Kediaman King, ada yang bisa saya bantu?” jawab suara dari pengeras suara di bel itu.

”Kami murid-murid Pak Yunus, bisakah kami bertemu dengan beliau?”

Tidak ada jawaban selama beberapa saat.

”Maaf, Pak Yunus sedang ke luar negeri dan tidak tahu kapan beliau kembali,” katanya kemudian.

Mereka bertiga berpandangan.

”Aneh,” kata Dani. ”Dia tidak memberitahu apa-apa tentang hal ini pada kita.”

”Mungkin keadaan perusahaannya begitu gawatnya,” sahut Riska mencari alasan yang masuk akal.

Indra tidak mengatakan apa-apa, dia tampak berpikir keras. Dia lalu memandang sekeliling dan matanya terhenti pada pos satpam tak jauh dari rumah Pak Yunus. Indra bergegas menuju tempat itu.

”Apa yang kaupikirkan?” tanya Dani sambil mengikuti langkah Indra.

Indra tidak menjawab, alih-alih melepas sarung tangannya.

”Hoi, aku tidak punya kemampuan sepertimu jadi tolong beritahu aku apa yang ada dalam pikiranmu!” protes Dani. Sebelum Dani mengatakan sesuatu lagi, Riska menarik bajunya dan menggeleng.

”Percaya saja pada temanmu itu,” katanya. Dani akhirnya mengangguk dan mereka berdua berjalan di belakang Indra.

”Maaf, Pak,” Indra menyapa satpam yang sedang berjaga di pos itu.

”Ya?” satpam itu mengernyit dan memandangnya dengan heran.

Indra mengulurkan tangannya. ”Saya Indra, murid Pak Yunus King.”

”Yunus King yang tinggal di rumah itu?” Satpam itu menunjuk rumah Pak Yunus sebelum menjawab uluran tangan Indra.

”Kami ingin menitipkan sesuatu pada Pak Yunus,” jelas Indra tanpa melepaskan jabatan tangannya. ”Tapi beliau tidak ada di tempat dan para pelayan di rumahnya tidak mau membukakan pintunya untuk kami. Kira-kira kami bisa menitipkannya pada Bapak?”

”Wah...” satpam itu menelengkan kepalanya. ”Saya nggak tahu ya. Setiap beliau lari pagi, kami memang sering berpapasan bahkan tidak jarang beliau mampir di pos saya, tapi akhir-akhir ini saya jarang, eh, malah nggak pernah melihatnya lagi.”

Satpam itu sepertinya ingin melepaskan tangannya dari genggaman Indra tapi Indra tidak mau melepaskannya begitu saja.

”Kapan Bapak terakhir melihatnya?” tanya Indra. Satpam itu tampak berusaha mengingat-ingat. ”Seminggu yang lalu...” katanya agak ragu. ”Tidak... Jumat

minggu lalu! Benar! Itu terakhir kalinya saya melihatnya.” ”Setelah  itu  Bapak  tidak  pernah  bertemu   dengannya

lagi?”

”Tidak,” satpam itu menggeleng.

”Bapak tahu di mana saya bisa menemui sopirnya?” tanya Indra.

Raut wajah satpam itu berubah, rahangnya agak menegang.

”Saya tidak tahu,” jawabnya.

Mereka terdiam selama beberapa saat sampai Indra menarik tangannya. Dia menghela napas.

”Terima kasih,” katanya. ”Kalau begitu akan kami pikirkan bagaimana sebaiknya kami menyerahkan tugas sekolah ini.”

”Oh ya... ya... maaf juga saya nggak bisa bantu,” satpam itu tersenyum. Dani dan Riska membalas senyumannya dengan sopan lalu mereka undur diri.

”Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Dani tidak sabar di dalam taksi yang mereka tumpangi. Dia menggoncanggoncang bahu Indra yang duduk di depan.

Riska memberi tanda agar Dani diam dulu, dia melihat dari kaca spion wajah Indra memucat. ”Kau tidak apa-apa?” tanya Riska khawatir.

Indra menggeleng. ”Aku hanya terlalu banyak membaca pikirannya karena aku tidak bisa memilah yang kuserap. Kita bicarakan hal ini di rumahmu saja.”

Riska dan Dani mengangguk.

Sesampainya di rumah Riska, Indra langsung menuju garasi mencari motornya yang tadi dia titipkan di sana.

”Tunggu sebentar!” cegah Dani. ”Kesabaranku sudah mulai habis! Setidaknya katakan dulu kau mau ke mana dan bukankah kau sudah berjanji memberitahu kami apa yang terjadi?”

Indra menatapnya lalu menepis tangan Dani dengan halus.

”Aku ingin memastikan sesuatu, aku berjanji akan segera mengatakannya padamu,” katanya sambil menyalakan mesin lalu melaju menjauhi rumah Riska.

”Aku sudah sering mendengar kata-kata itu,” desah Dani.

Dia menoleh pada Riska.

”Jadi, apa yang kita lakukan sekarang?” tanyanya. Riska mengangkat bahu. ”Menunggunya?”

”Kau mau minum apa?” tanya Riska sembari mereka menunggu Indra di kamarnya.

”Pina Collada,” jawab Dani sambil nyengir.

”Ooooh...” Riska manggut-manggut lalu mengambil komik di dekatnya dan mulai membaca.

”Lho, kau tidak membuatkannya untukku?”

”Aku kan hanya bertanya,” kata Riska datar. ”Siapa yang bilang aku akan membuatkannya untukmu?”

Dani tergelak. ”Dalam satu dan lain hal, kau dan Indra itu mirip. ”Mungkin itu sebabnya aku juga merasa cocok berteman denganmu,” tambah Dani, dia memandang Riska dengan lembut hingga Riska merasa agak salah tingkah.

”Kau...” Riska menutup komiknya, ”...sudah lama berteman dengannya, ya?”

”Sejak kami kecil,” jawab Dani. ”Sejak SD sepertinya.” ”Dari dulu dia seperti itu?”

”Seperti itu bagaimana?” tanya Dani bingung. ”Muram, gelap, dan pendiam.”

”Saat aku mengenalnya, dia sudah seperti itu,” Dani mencoba mengingat-ingat. ”Aku ingat, dia satu-satunya anak yang tidak pernah dijemput orangtuanya sama sekali. Berangkat dan pulang sekolah sendiri. Bahkan saat penerimaan rapor pun, ibunya pulang terlebih dahulu. Selalu seperti itu.”

”Kau berteman dengannya karena kasihan?”

Dani menggaruk-garuk kepalanya. ”Aku ini tidak sebaik itu. Mana mungkin aku punya empati sebesar itu. Aku berteman dengannya justru karena dia mau berteman denganku.”

”Hah?” Riska menatapnya bingung.

”Kau tahu sendiri, aku ini tanpa belajar pun selalu mendapat nilai bagus,” Dani tersenyum. ”Tidak sedikit temanteman yang tidak suka padaku. Padahal aku juga tidak minta diberi kemampuan ini. Aku lebih memilih hidup normal dengan nilai biasa-biasa saja daripada menjadi orang dengan kemampuan aneh walaupun mendapat nilai luar biasa, karena toh nilaiku itu bukan karena kepandaianku yang sebenarnya. Apa yang orang lihat dariku bukanlah diriku yang sebenarnya. Baru Indra saja yang mau berteman denganku karena diriku sendiri. ”Aku tahu, mungkin itu karena dia bisa membaca pikiranku,” lanjut Dani. ”Tapi aku sangat menghargainya.”

Hening di antara mereka. Riska menyentuh pundak Dani. Rasa haru dan senang menjalar ke tubuhnya, seperti desakan untuk tersenyum.

”Aku tahu,” kata Riska. ”Aku bisa merasakannya.” Dani menatapnya.

”Itu kan memang kemampuanmu,” katanya sambil meringis.

Sekitar hampir dua jam kemudian Indra datang. Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya dan kali ini napasnya mulai terengah-engah.

”Ada apa?” tanya Dani khawatir dan segera merangkul sahabatnya itu, takut sewaktu-waktu Indra roboh. Riska mengambil air dan cepat-cepat memberikannya pada Indra.

Indra duduk di kasur, mencoba mengatur napasnya. ”Pak Yunus menghilang,” kata Indra akhirnya.

Dani dan Riska langsung melongo.

”Aku tadi menemui sopirnya,” kata Indra setelah menghabiskan air dengan sekali tegukan.

”Bagaimana kau bisa menemukan sopirnya? Bukankah satpam itu bilang dia tidak tahu alamatnya?” tanya Dani heran.

”Satpam itu berbohong,” jawab Indra. ”Aku membaca pikirannya. Sopir Pak Yunus yang memintanya merahasiakan alamatnya.”

”Untuk apa?”

”Karena Pak Yunus diculik,” jawab Indra. ”Sopirnya takut si penculik akan mengincarnya juga sebagai orang terdekat Pak Yunus saat terjadi penculikan.” ”Orang terdekat saat terjadi penculikan?” Riska mengernyit.

Indra mengangguk. ”Pak Yunus menghilang hari Jumat lalu saat sopir itu ditugaskan untuk menjemputnya karena Pak Yunus harus segera ke perusahaan di Jakarta. Sopir itu sudah menunggunya berjam-jam tapi Pak Yunus tidak juga nampak. Sesampainya di rumah, ternyata Pak Yunus juga belum pulang. Pelayannya berinisiatif menelepon ke perusahaan di Jakarta karena siapa tahu Pak Yunus sudah berangkat sendiri ke sana tapi hasilnya juga nihil. Keesokan harinya datanglah surat itu.”

Riska tertegun. ”Surat itu?”

”You only have to look behind you, at who’s underlined you,” Indra mengulang kata-kata yang tertulis di surat itu. ”Sampai di situ saja apa yang bisa kubaca dari pikiran sopir Pak Yunus karena sejujurnya tadi dia hampir tidak menceritakan apa pun kecuali kapan Pak Yunus menghilang.”

”Jumat lalu...” Dani mencoba mengingat-ingat. ”Bukankah itu saat kita disuruh berkumpul di ruang musik dan Pak Yunus tiba-tiba harus pergi setelah menerima telepon?”

”Benar!” seru Riska. ”Berarti terakhir kali kita melihatnya adalah saat penculikannya! Tapi bagaimana mereka menculiknya, dan yang lebih penting: di mana mereka menyembunyikannya?”

Indra menggeleng.

”Apa kata polisi?” tanya Dani.

”Sepertinya mereka tidak melaporkannya kepada polisi,” jawab Indra. ”Mungkin untuk mencegah kegemparan dan jatuhnya harga saham dan mungkin juga disebabkan oleh hobi Pak Yunus yang sering pergi berlibur tanpa kabar.” ”Hah?”

Indra mengangguk. ”Dari yang kubaca dari sopirnya, Pak Yunus sering pergi tanpa memberi kabar. Seperti sebelum pergi ke Indonesia, beliau pergi ke Rumania, Prancis, dan beberapa negara lain. Awal-awal dia menghilang, keluarganya sempat melapor pada polisi tapi karena dia berkali-kali melakukannya, situasi dia ’menghilang’ akhirnya dianggap biasa. Jadi secarik kertas bertuliskan potongan puisi itu pun pasti dianggap iseng belaka.”

”Jika memang dianggap biasa, kenapa sopirnya sampai ketakutan?” tanya Riska tak habis pikir.

”Sopirnya tidak tahu kebiasaannya itu,” jawab Indra. ”Dia baru datang ke Indonesia setelah sekian tahun, apa kau ingat?”

Dani dan Riska terdiam.

”Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Dani kemudian.

”Pak Yunus bilang dia sudah bisa memecahkan kode puisi itu,” Indra menatap kedua temannya. ”Aku yakin masih ada sedikit catatan yang bisa dijadikan petunjuk di kamarnya atau pada barang-barangnya. Hal pertama yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana mendapatkan izin untuk bisa masuk ke kamarnya atau minimal mendapat akses ke komputernya.”

Dani dan Riska mengangguk.

”Aku sependapat denganmu,” kata Dani. ”Tapi sekarang masalahnya, bagaimana kita bisa masuk ke kamar Pak Yunus kalau masuk ke rumahnya saja tidak bisa? Apa kita mau mulai latihan jadi maling?”

”Terlalu sulit,” Indra menggeleng. ”Ada sekitar sepuluh CCTV yang terpasang sepanjang pagar rumahnya dan mereka punya lima anjing yang dilepas setiap malam. Belum lagi ditambah dua orang satpam yang menjaga rumah itu

24 jam. Aku mengetahuinya saat membaca pikiran sopir Pak Yunus.”

Mulut Dani ternganga.

”Aku tak menyangka hal itu benar-benar sempat terpikir olehmu,” katanya tak percaya.

”Di meja Pak Yunus di ruang guru sepertinya ada komputer,” kata Riska tiba-tiba hingga Dani dan Indra menatapnya.

”Pak Yunus tidak pernah tampak membawa laptop jadi kemungkinan besar dia menyimpan datanya di komputer itu,” lanjut Riska. ”Semoga saja itu termasuk data lokasi dimana kaum touché di luar negeri diculik.”

”Tapi memangnya kita, para murid, boleh mengotak-atik komputernya?” tanya Dani agak ragu.

Riska menyeringai. ”Kalau murid biasa seperti aku mungkin tidak, tapi kalau kalian kurasa bisa.”

”Hah?” Dani melongo.

Setelah terdiam sesaat, Indra mengangguk. ”Kurasa aku mengerti maksudmu.”

***

”Minggu yang lalu sebelum Pak Yunus izin, beliau memberi kami soal untuk diselesaikan selama beliau tidak mengajar,” kata Dani dengan tegas pada Pak Marjoko, wakil kepala sekolah sekaligus penanggung jawab bidang akademik.

”Lalu?” tanya Pak Marjoko. ”Beliau meminta saya mengambil sendiri soal itu di komputernya,” jawab Dani. ”Di dalam file TUGAS MURID.”

Pak Marjoko menatap Dani lekat-lekat. ”Benarkah itu? Pak Yunus tidak mengatakan apa-apa pada saya tentang itu.”

”Benar, Pak,” Indra yang dari tadi di belakang Dani, maju menghadap Pak Marjoko. ”Saya ada di sana saat Pak Yunus meminta Dani mengambil soal itu dari komputernya, tampaknya saat itu Pak Yunus terburu-buru hingga lupa memberitahu Bapak karena keesokan harinya Pak Yunus langsung mengajukan izin tidak bisa mengajar.”

Pak Marjoko mengangguk-angguk. Kata-kata dan keteguhan wajah Indra seperti menegaskan kebenaran hal itu. Lagi pula mana mungkin juara kelas seperti Dani sampai harus berbohong.

”Baiklah,” Pak Marjoko lalu menunjuk meja Pak Yunus. ”Mejanya ada di sana, kalian cari sendiri file-nya.”

Indra dan Dani mengangguk. ”Terima kasih, Pak.”

”Kau layak dapat Oscar,” bisik Dani sambil menuju meja Pak Yunus.

”Sepertinya aku berbagi kemenangan itu denganmu,” jawab Indra datar. ”File ’tugas murid’? Aku hampir mati tertawa.”

Dani meringis.

Untunglah komputer Pak Yunus tidak diberi password hingga mereka bisa masuk dengan leluasa. Anehnya, komputer itu tampak seperti komputer yang baru saja di-install ulang, hampir kosong. Hanya beberapa file berisi partitur serta sejarah para komponis. Kalau ada yang bisa dikatakan rahasia, mungkin hanya nilai para murid warisan dari Bu Mitha. ”Tidak ada apa-apa,” gumam Dani. ”Apa mungkin dia menyembunyikannya di suatu tempat tapi masih di komputer ini?”

”Komputer ini tidak dipartisi,” kata Indra, masih mencoba mengutak-atik. ”Dan itu berarti what you see is what you get.”

Dani mendesah. ”Semuanya sia-sia.”

”Kita harusnya tahu Pak Yunus bukan orang bodoh yang membiarkan informasi tentang penculikan para touché tersimpan dalam komputer tanpa password seperti ini.”

”Sekarang bagaimana?” tanya Dani putus asa.

Indra menggeleng. ”Sekarang kita hanya bisa mengandalkan otak kita sendiri untuk memecahkan kode puisi itu.”

”Rasanya aku sakit perut,” keluh Dani. 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊