menu

Touché Bab 07

Mode Malam
Bab 07

”BAGAIMANA DIA TAHU APA YANG KUPIKIRKAN?”

”IPPON!”

Indra cepat-cepat melepaskan tangannya. Lawannya memandangnya dengan kagum bercampur heran karena baru kali ini dia menghadapi orang yang seakan bisa membaca pikirannya.

”Kau hebat,” puji lawannya. ”Sekolahmu beruntung mempunyai kau sebagai wakilnya.”

”Terima kasih.”

Lawannya mengulurkan tangan tapi Indra hanya menjawab dengan membungkukkan badan tanda hormat. Membaca pikiran lawan yang kalah adalah hal yang paling dihindarinya, karena dia tahu tidak pernah ada kata-kata bagus di dalamnya.

Hari ini adalah pertandingan persahabatan antara sekolahnya dan sekolah dari luar wilayah sebagai persiapan kejuaraan judo nasional tingkat SMA. Dari sejak pertama mengikuti perlombaan judo, rekor tidak pernah kalah Indra belum ada yang bisa mematahkan. Sambil mengusap keringatnya, Indra melirik pintu keluar. Dia melihat Riska sedang berdiri di sana. Sudah beberapa kali ini dia memergoki Riska mengamatinya latihan masih dengan seragam atletiknya.

”INDRAAAAAAA!!!!! HEBAAAAAAAATTTT!!!!!” teriak

Dani yang ternyata berdiri di belakang Riska. Riska sampai menutup telinga saking kerasnya suara Dani.

Indra menghela napas lalu menghampirinya.

”Hentikan, kau membuat malu dirimu sendiri,” kata Indra dingin.

”Jangan khawatir, kau tahu sendiri aku orang yang tidak peduli dengan pendapat orang lain,” jawab Dani sambil meringis.

”Bukannya justru sebaliknya?” Indra mendesah. ”Karena kau peduli makanya kau suka melakukan hal-hal yang menarik perhatian orang lain?”

Dani berdecak lalu menatap Riska. ”Saranku, jangan terlalu lama dekat-dekat orang ini atau dia akan bisa membaca pikiranmu walau tanpa menyentuh.”

Riska tertawa. ”Aku rasa itu hanya berlaku untukmu karena kepalamu yang paling transparan.”

Dani melotot lalu memandang Riska dan Indra bergantian. ”Kalian bersekongkol di belakangku ya!”

”Sudahlah...” Indra menghela napas. ”Kau sudah dihubungi Pak Yunus?”

”Belum,” Dani menggeleng. ”Bahkan sepertinya hari ini dia tidak masuk, sepertinya perusahaannya sedang gawat. Mungkin kena imbas krisis global.”

Indra mengangguk. ”Mungkin. King Group kan memang perusahaan multinasional.” ”Ah!” pekik Dani setelah melihat jam tangannya. ”Aku sudah ditunggu Pak Fajar!”

”Untuk apa?” tanya Riska.

”Aku ditunjuk untuk mewakili lomba biologi tingkat provinsi,” Dani meringis.

”Oke, kalau begitu aku pergi dulu,” dia bergegas. ”Karena aku harus mampir sebentar ke perpustakaan untuk ’belajar’.” ”Mungkin sebaiknya kau ’belajar’ di toko buku,” kata Indra.

”Ada lebih banyak buku yang bisa kauserap.”

Dani hanya mengacungkan jempol lalu berlari meninggalkan mereka. Riska dan Indra berpandangan tapi tak tahu apa yang harus dikatakan dan keadaan mulai canggung. Selama ini memang Dani-lah yang menjadi jembatan antara mereka berdua.

”Kau benar-benar hebat,” Riska mencoba memulai pembicaraan. ”Aku sudah berkali-kali melihatmu latihan dan merasa tidak ada judoka sehebat dirimu.”

”Itu karena ini,” Indra mengangkat kedua telapak tangannya.

”Tapi kurasa bukan hanya itu,” kata Riska.

”Aku tidak sepertimu,” kata Indra dingin. ”Kau hebat dalam atletik karena kekuatanmu sendiri. Lari tidak perlu menyentuh orang. Kalau tidak ada kemampuan touché, aku tidak ada apa-apanya dan aku tidak sedang bermaksud merendah.”

”Ternyata kau orang yang tidak bisa menghargai kemampuanmu sendiri ya,” Riska menatapnya. ”Kalau hanya mengandalkan kemampuan touché, aku yakin kau tidak akan sehebat itu. Judo kan bukan cuma masalah bisa atau tidak membaca pikiran jadi bisa dibilang kemampuan touché-mu cuma bonus.”

Indra balas memandang Riska dan mendapati kesungguhan tersirat di kedua mata cewek itu.

”Coba pikir, kalau memang kemampuan judomu itu hanya karena kemampuan touché tidak mungkin aku jadi tertarik untuk melihatnya lagi dan lagi,” lanjut Riska, sepertinya dia tidak sadar apa yang dikatakannya. ”Sejak pertama aku melihatmu membanting lawan, aku langsung merasa dirimu hebat bahkan setelah aku tahu kemampuanmu membaca pikiran. Gerakanmu seperti magnet yang menarik orang-orang untuk menontonnya. Indah dan aku yakin itu bukan karena touché, itu karena...”

Kata-kata Riska terhenti, akhirnya dia sadar telah kehilangan kendali. Dia berdeham, wajahnya memerah. Mereka terdiam lagi.

Indra menatap lurus ke depan, sebenarnya dia bingung harus memberikan jawaban seperti apa. Ini pertama kalinya ada seseorang yang mengatakan hal itu padanya. Pertama kalinya mendengar ada orang yang tulus mengaguminya terlepas dari kemampuan touché-nya dan pertama kalinya ada yang menganggap gerakannya ”indah”. Tapi ini bukan pertama kalinya ada yang menghargai kemampuannya. Dulu, dulu sekali saat dia masih kecil, sudah ada yang pernah melakukannya.

”Terima kasih,” kata Indra pelan. ”Eh?”

Riska menatapnya, tidak tampak ekspresi apa pun di wajah Indra. Hanya saja sekarang sorot matanya lebih lembut dan tidak sepekat sebelumnya. ”Sama-sama,” Riska tersenyum.

Indra membalas senyumannya. Walau samar, ini juga pertama kalinya dia tersenyum pada orang lain selain Dani.

***

Sudah hampir seminggu ini Pak Yunus tidak datang ke  sekolah. Saat Dani menanyakan hal ini pada guru-guru yang dikenalnya, mereka mengatakan tidak tahu apa-apa dan Pak Yunus maupun kerabatnya tidak memberikan pemberitahuan apa pun. Hal ini mulai membuat Riska khawatir.

”Sebaiknya kita ke rumahnya,” kata Indra saat istirahat, di depan kelas Riska.

Riska dan Dani mengangguk. ”Kapan?” tanya Dani.

”Hari minggu besok,” jawab Indra. ”Agak sulit jika ke rumahnya malam hari. Apalagi kalau ternyata dia memang harus bekerja di perusahaan ayahnya, malam hari pasti dia ingin istirahat.”

”Benar,” sahut Riska. ”Kuharap dia tidak apa-apa.” ”Kurasa...” Indra tampak berpikir keras.

”Hari ini kau pulang denganku, Dan?” Indra menoleh pada Dani.

Dani menggeleng. ”Pak Fajar ngotot memberiku pelajaran tambahan untuk persiapan lomba.”

Dani memasang tampang memelas hingga Riska tertawa. Saat mereka sedang bercakap-cakap tiba-tiba datang bola sepak yang mengarah ke kepala Riska jika saja Indra tidak menangkap bola itu tepat pada waktunya.

”HOI! JANGAN BERMAIN BOLA DI SINI! BERBAHAYA! DASAR BODOH!” bentak Dani kesal lalu menatap Riska khawatir. ”Kau tidak apa-apa?”

Riska menggeleng tapi wajahnya masih tampak pucat. Dia sampai jatuh terduduk. Melihat lajunya bola yang cepat, tadi sebenarnya dia sudah pasrah karena tidak sempat menghindar.

”Maaf... maaf...” kata anak yang tadi menendang bola sambil cengengesan. Dia hendak mengambil bola di tangan Indra ketika dalam kecepatan yang lebih tinggi, bola itu datang sendiri menerjang perutnya hingga dia jatuh tersungkur. Indra menendangnya.

Semua anak yang ada di tempat itu langsung terdiam dan menghentikan aktivitas mereka untuk melihat apa yang terjadi. Mereka semua terpaku. Riska bisa melihat mata Indra berkilat saat menatap anak yang dibuatnya jatuh tersungkur.

”Aku kembali ke kelas dulu,” kata Indra kemudian pada Dani dan Riska. Dia membelah kerumunan yang penuh tatapan kagum, takut, dan kaget. Setelah Indra menghilang masuk ke kelasnya, kericuhan dimulai. Beberapa menganggapnya keren, beberapa menganggapnya menakutkan, dan tidak sedikit anak laki-laki yang kemudian malah menjadikannya panutan.

”Aku tak tahu apa yang telah terjadi di antara kalian berdua,” Dani mendesah lalu tersenyum. ”Tapi kau sudah dianggap penting olehnya.”

”Eh?” Riska melongo.

Dani mengangguk. ”Kau lihat kan tadi? Dia marah.” ”Dia marah karena ada orang yang akan menyakitimu,”

lanjut Dani, mengulurkan tangan untuk membantu Riska berdiri. Riska tidak mengatakan apa-apa tapi jantungnya berdebar kencang. Entah itu sisa kejadian barusan atau karena sebab lain yang dia sendiri tidak mengerti.

***

Sepeda motor Indra tiba-tiba berhenti di depan Riska saat dia sedang berjalan keluar gerbang sekolah.

”Naiklah,” Indra menyodorkan helm padanya.

”Ha?” Riska menatapnya bingung tapi kemudian memutuskan menurutinya.

”Di mana Dani?” tanya Riska begitu motor Indra melaju. ”Kau dengar sendiri kan tadi, dia ada pelajaran tambah-

an,” jawab Indra. Setelah itu mereka berdua diam hingga sampai di depan rumah Riska.

Saat Riska hendak mengembalikan helm yang baru saja dipakainya, tetangga sebelahnya keluar rumah dan bergegas menghampirinya. Tetangganya itu tampak panik.

”Ris, aku titip rumahku ya,” kata tetangganya sambil menyerahkan segepok kunci.

”Ada apa, Om Pras?” tanya Riska.

”Aku baru datang dinas dari Solo dan sesampainya di rumah tiba-tiba aku dapat kabar istriku melahirkan,” jawabnya dengan terburu-buru. ”Aku mau segera ke sana.”

”Wah! Selamat ya, Om!” Riska mengulurkan tangannya. ”Laki-laki atau perempuan?”

”Perempuan,” senyum Om Pras melebar, matanya berbinar-binar. ”Akhirnya aku tetap menjadi yang paling ganteng di rumah.”

Riska tertawa. ”Salam buat Tante Nelly!” kata Riska saat Om Pras naik ke mobil. Om Pras membunyikan klakson satu kali dan melambaikan tangan lalu mobilnya bergerak menjauh.

”Kau tidak apa-apa?” tanya Indra. ”Ha?” Riska menatapnya bingung. ”Kau tadi menyentuhnya, kan?”

”Oh itu,” Riska tersenyum sambil mengamati telapak tangan yang tadi dia gunakan untuk menyalami Om Pras. ”Itu tadi namanya recharge energi. Aku kadang-kadang sengaja melakukannya,” lanjutnya. ”Saat mengetahui ada orang lain yang perasaannya sedang senang, kadang-kadang aku sengaja menyentuhnya agar memiliki perasaan yang sama. Rasanya menyenangkan.”

”Aku...” kata Indra pelan. ”Tak mengerti. Berarti kau bersyukur memiliki kemampuan touché-mu itu? Kalau kemampuan seperti milik Dani, aku mengerti tapi kemampuan sepertimu yang mirip dengan punyaku... apanya yang menyenangkan?”

Riska tampak bingung menjawab pertanyaan Indra

”Aku juga tak mengerti,” kata Riska. ”Tapi walau cukup sering aku merutuki kemampuanku ini terutama ketika harus mengalami perasaan-perasaan seperti sedih, frustrasi, iri, sakit hati yang dimiliki orang lain. Tidak jarang aku bersyukur bisa ikut merasakan perasaan positif mereka. Perasaan senang, bangga, puas, bahkan cinta.”

”Semakin dipikir, ternyata kemampuan ini tidak jelek juga. Apalagi saat tahu ternyata kemampuan ini bisa berguna bagi orang lain,” Riska tersenyum. ”Kemampuan ini diberikan pada kita, aku yakin pasti ada alasannya.”

Raut wajah Indra berubah menjadi dingin. Dia mengambil helm dari tangan Riska lalu pergi tanpa mengatakan apa-apa.

***

Dia tidak tahu apa-apa, batin Indra sambil membanting helmnya di tempat tidur. Apanya yang tidak jelek dari memiliki kemampuan ini! Aku bahkan rela menukar apa pun bahkan keahlian judoku asal kemampuan touché ini hilang!

Tok! Tok!

Pintu kamar diketuk.

”Masuk,” jawab Indra dari dalam kamarnya. Pintu terbuka dan ibunya berdiri di depan kamarnya.

”Ibu mau pergi ke bandara untuk menjemput teman  ibu,” kata ibunya agak canggung. ”Ayahmu dinas ke Pekanbaru jadi kau di rumah sendirian. Tidak apa-apa?”

Indra mengangguk.

”Kau mau Ibu belikan apa untuk oleh-oleh?” tanya Ibu. ”Tidak ada,” jawab Indra. Mereka terdiam cukup lama

hingga akhirnya Ibu menutup kamar Indra.

Sikap dingin ibunya itu sudah berlangsung bertahuntahun. Bahkan bukan hanya ibunya, ayah dan kakaknya yang sekarang di Jakarta pun memperlakukan Indra sama dinginnya. Ini bukan disebabkan karena perbuatan Indra karena dia anak baik, tampan, penurut, dan berprestasi. Tipe anak yang seharusnya menjadi kebanggaan orangtuanya. Indra juga hampir tidak pernah melakukan kesalahan apalagi kesalahan besar. Jika memang ada yang disebut kesalahan mungkin itu adalah saat di mana kemampuannya membaca pikiran disadari oleh orang-orang terdekatnya. Saat itu dia masih kecil dan dia bisa mengatakan apa pun yang ada dalam pikiran orang-orang yang menyentuhnya. Lambat laun Ibu, Ayah, dan kakaknya sedikit demi sedikit menjauhinya. Tidak ada yang menyentuhnya apalagi memeluknya. Sejak itu dia berhenti merasakan apa yang disebut kehangatan keluarga. Kakaknya memutuskan untuk kuliah ke Jakarta agar bisa jauh darinya, Ayahnya menerima tawaran dinas ke mana pun yang bisa membuatnya pergi dari rumah dan ibunya menyibukkan diri dengan arisanarisan. Walaupun tidak terkatakan, semua itu adalah bentuk ketakutan mereka. Di zaman di mana hampir tak ada rahasia lagi karena semua hal bisa dengan mudahnya diketahui publik, hanya pikiran satu-satunya tempat pribadi yang tersisa. Bayangkan apa yang akan terjadi jika tempat pribadi itu akhirnya bisa dibaca. Mungkin itulah yang dirasakan keluarganya.

”Apanya yang tidak jelek juga...” geram Indra. Dia menjatuhkan tubuhnya di kasur lalu memandangi langit-langit. Pikirannya terbang ke masa sepuluh tahun yang lalu saat dia pergi ke festival kota dan bertemu anak perempuan yang terpisah dari mamanya. Kata-kata ”Superman” dan wajah anak itu waktu mengatakannya masih terbayang hingga sekarang. Hari itulah untuk pertama kalinya dia merasa kemampuannya ternyata sangat berguna. Anak itu pula yang memberinya harapan bahwa masih akan ada lagi orangorang yang menghargai kemampuannya. Harapan yang membawanya bertemu dengan Dani dan juga Riska.

Dering ponselnya membuyarkan lamunan Indra. ”Halo?” jawab Indra.

”Ini aku,” kata suara di seberang. ”Riska.” ”Dari mana kau tahu nomorku?” tanya Indra dingin. ”Dani,” jawab Riska pelan, nada suaranya menunjukkan

kalau dia takut. ”Aku mau minta maaf karena sepertinya kata-kataku tadi membuatmu marah.”

Indra terdiam sesaat.

”Tidak,” katanya kemudian. ”Aku tidak apa-apa.” Terdengar helaan napas.

”Syukurlah...”

”Kau memang tidak bersalah,” lanjut Indra. ”Karena kau mungkin sedikit benar.”

”Eh?”

Indra termenung. ”Tidak apa.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊