menu

Touché Bab 06

Mode Malam
Bab 06

”KENAPA wajah kalian seperti itu?” tanya Pak Yunus heran, ketika mereka bertemu di Kafe Pelangi. Ketakutan di wajah Riska masih belum hilang sepenuhnya begitu juga hawa gelap Indra yang lebih pekat. Hanya Dani yang tidak menunjukkan perubahan.

”Ceritanya panjang,” jawab Dani.

”Kalau begitu persingkat,” kata Pak Yunus sambil memanggil pelayan.

”Kami bertemu preman,” jelas Dani. ”Lalu?”

”Bapak minta versi singkat, kan?” balas Dani. ”Itu versi singkatnya.”

Pak Yunus mendengus lalu tersenyum. ”Smart.”

”Untuk apa Bapak memanggil kami ke sini?” tanya Dani setelah mereka selesai memesan makanan dan minuman.

”Pertama-tama aku harus bertanya dulu,” Pak Yunus memasang wajah serius dan memandang mereka bertiga secara bergantian. ”Apakah kalian tahu akhir-akhir ini mulai banyak penculikan terhadap kaum touché?” ”EEEEEEEEHHHH?” Dani dan Riska spontan berteriak tapi kemudian cepat-cepat membekap mulut masingmasing.

Pak Yunus mengangguk. ”Tapi mereka adalah touché yang berada di luar negeri, jadi tidak heran jika kalian tidak mengetahuinya.”

”Semuanya berasal dari luar negeri?” tanya Indra, akhirnya membuka suara.

”Sepanjang pengetahuanku,” jawab Pak Yunus. ”Iya.” ”Menurut Bapak, apakah orang yang melakukan pen-

culikan-penculikan itu adalah orang yang sama?” tanya Indra lagi.

Pak Yunus mengangguk mantap. ”Tentu saja.” ”Dari mana Bapak tahu?”

”Setiap melakukan penculikan itu, mereka selalu meninggalkan sepucuk surat untuk keluarga korban.”

”Meminta tebusan?” tanya Dani.

Pak Yunus menggeleng. ”Salah satu sumber kepolisian di sana yang juga kenalanku mengatakan isi surat itu hanya dua baris dari puisi kuno. Dari situlah aku bisa menarik kesimpulan.”

”Puisi?” ulang Riska.

”Aslinya berasal dari bahasa Latin,” jelas Pak Yunus. ”You only have to look behind you, at who’s underlined you.”

Dani mengerutkan kening. ”Lalu apa hubungannya dengan kaum touché? Bukankah itu berarti yang menculik mereka adalah orang-orang terdekat mereka? Kata-katanya saja ’look behind you’.”

”Lanjutan puisi itu,” jawab Indra.

Dani dan Riska langsung menoleh ke arahnya. Pak Yunus menatap Indra kagum. ”Pengetahuanmu memang di atas anak-anak seumurmu.”

”Apa lanjutannya?” tanya Riska penasaran.

”Destroy everything you touch today, destroy me this way,” kata Indra.

”Touch... Touché...” gumam Dani. Mereka terdiam.

Tidak lama kemudian pesanan mereka datang. Setelah pesanan selesai diantar, mereka mulai berbicara lagi.

”Tapi penculikan itu belum sampai ke Indonesia, kan?” Riska menatap Pak Yunus, khawatir.

”Belum...” jawab Pak Yunus, ”...hingga kemarin. Penculik itu sudah sampai ke kota ini.”

Saking kagetnya, mereka sampai tidak bisa mengatakan apa pun.

”Apa yang terjadi?” tanya Indra.

”Koki terkenal yang pernah menimba ilmu di Prancis dan sekarang menjadi koki di salah satu hotel berbintang empat di Surabaya diculik dari rumahnya,” jelas Pak Yunus. ”Dia adalah touché yang memiliki kemampuan bisa mengetahui komposisi bahan pembuat makanan, baik jenis maupun ukuran hingga gram terkecil hanya dengan menyentuhnya.

”Hari Jumat pagi dia pamit dari rumahnya untuk pergi ke hotel tempatnya bekerja dan hingga hari ini belum kembali. Ketika dihubungi di tempat kerjanya, hari Jumat itu ternyata dia bahkan tidak datang bekerja.”

”Apa kata polisi?” tanya Riska.

”Polisi menganggapnya kabur dari rumah,” jawab Pak Yunus sambil menuang air mineral ke gelas. ”Mereka tidak paham dengan maksud puisi itu, lagi pula mereka juga tidak tahu telah terjadi penculikan dengan modus yang sama di luar negeri.”

”Payah,” cibir Dani.

”Bagaimana dia bisa tahu?” tanya Indra tiba-tiba. ”Apa maksudmu?” tanya Dani bingung.

”Bagaimana penculik itu bisa mengenali kaum touché?” jelas Indra, menatap tajam Pak Yunus. ”Apa seperti Bapak mengenali kami? Apa karena semua kaum touché tanpa sadar selalu menyembunyikan tangannya seperti aku dan Riska? Tapi bukankah yang melakukan ini hanya touché yang kemampuannya berhubungan dengan manusia?”

Riska dan Dani langsung melongo karena apa yang dikatakan Indra tidak terpikirkan oleh mereka.

”Ternyata bukan hanya kemampuan touché-mu yang mengagumkan,” Pak Yunus tersenyum. ”Otakmu pun sepertinya akan diperebutkan banyak pihak.”

Indra hanya diam, tak menunjukkan ekspresi apa pun. ”Apakah kalian ingat ketika aku menjelaskan tentang

touché, aku menyebut bahwa ada beberapa orang dengan pengecualian?” Pak Yunus mulai menjelaskan. ”Salah satunya, aku menyebutnya sebagai track finder. Orang yang dari sentuhannya bisa mendeteksi keberadaan orang lain atau minimal kaum touché yang lain.” 

”Track finder?” Riska mengernyit. ”Apa yang dia sentuh?”

Pak Yunus mengangkat bahu. ”Mungkin peta, globe, atau apa pun yang menunjukkan wilayah.”

”Kekuatan seperti yang dimiliki Profesor X di X-Men

dengan mesin Cerebro-nya?” tanya Dani.

”Yah mungkin semacam itu,” Pak Yunus meneguk minumannya. ”Ini baru teoriku saja, tapi kupikir hanya inilah alasan yang masuk akal.”

”Berarti ada kemungkinan sebentar lagi kami yang diincar?” tanya Indra datar.

Riska dan Dani menelan ludah.

Pak Yunus mengangguk. ”Sebaiknya mulai sekarang kalian saling menjaga.”

”Bukankah berkumpul seperti ini justru membuat kita lebih mudah ditangkap?”

”Aku bilang saling menjaga,” Pak Yunus mengambil garpu dan pisaunya. ”Tidak mengharuskan kita untuk selalu berkumpul. Let’s eat!”

Mereka bertiga makan dengan tidak tenang. Apa yang telah dikatakan Pak Yunus sudah mulai memengaruhi mereka. Menyadari telah membuat ketiga muridnya tidak nyaman, setelah selesai makan Pak Yunus memainkan lagu dengan piano di kafe itu.

”Indah sekali ya,” celetuk pelayan restoran itu. ”Memangnya belum pernah ada yang memainkannya?”

tanya Indra.

Pelayan itu mencoba mengingat-ingat. ”Seingat saya belum, tapi jangan percaya dengan ingatan saya. Soalnya piano sebelum ini sudah memainkan banyak sekali lagu yang saya nggak tahu hingga saya lupa.”

”Piano sebelum ini?”

Pelayan itu mengangguk. ”Sudah rusak, karena tua dan terlalu sering dimainkan. Piano ini baru datang tadi pagi, berarti bapak itu yang melakukan premier. Bagus ya suaranya.”

Indra mengangguk. ”Apa judul lagu yang dimainkannya?”

”Hana’s Eyes,” jawab Indra setelah terdiam sesaat.

Setelah selesai, Pak Yunus dijemput sopirnya dan dia pulang lebih dulu. Dani, Riska, dan Indra masih di kafe itu selama beberapa saat sebelum memutuskan beranjak.

”Kalian berdua pulanglah dulu,” kata Indra. ”Masih ada yang ingin kupastikan.”

Dani mengangguk.

”Dia tidak berbahaya,” kata Dani pada Riska dalam perjalanan pulang. ”Indra tadi hanya kehilangan kendali dan itu hanya terjadi jika orang-orang yang penting baginya disakiti.”

Riska menatapnya. ”Tapi aku baru pertama kali ini melihat orang seperti itu.”

Dani tersenyum. ”Kalau kau lebih mengenalnya, kau akan tahu orang sebaik apa dia. Walau tampak dingin seperti itu, tapi sebenarnya dia adalah orang yang paling peduli pada sekelilingnya.”

”Bagaimana aku bisa mengenalnya kalau dia saja tidak mau membiarkan orang lain mendekatinya?” tanya Riska, mengingat betapa dinginnya Indra.

Dani menghela napas. ”Tak bisa disalahkan. Kau sendiri, apa yang akan kaulakukan jika orang yang paling dekat denganmu, keluargamu, tidak mau mendekatimu.”

”Jadi keluarganya seperti itu? Tidak mungkin! Ibuku saja tidak mempermasalahkan kemampuanku.” Riska tertegun.

Dani tersenyum. ”Tidak semua orang seberuntung dirimu yang memiliki ibu seperti itu dan tidak semua orang sehebat ibumu, yang mau saja dibaca perasaannya.”

”Itukah sebabnya tadi dia marah padaku?” gumam Riska. ”Dia tidak marah padamu,” kata Dani. ”Itu bukan bentuk kemarahan, buktinya kau masih utuh. Kau kan sudah lihat sendiri bagaimana dia marah.”

Riska tersenyum.

***

”Aku tidak menyangka ruang kelas kita ternyata berdekatan,” kata Dani saat menghampiri kelas Riska di jam istirahat.

”Surprise,” Riska mengangkat bahu. ”Ada apa?”

”Pak Yunus minta kita berkumpul di ruang musik,” kata Dani.

”Untuk?”

”Mendengarkan konser tunggalnya,” jawab Dani asal. ”Mana kutahu.”

”Dan, sudah waktunya masuk kelas,” Indra menepuk bahu Dani. Dia tidak mengatakan apa-apa pada Riska tapi mengangguk saat mata mereka bertatapan.

Setelah Dani dan Indra pergi, hampir semua murid perempuan di kelas Riska bergegas menghampirinya.

”Apa yang terjadi?” jerit Tari.

”Sejak kapan kalian akrab?” tanya Pipit. ”Kenalkan aku pada mereka!” teriak Jena.

Riska sampai harus menutup kedua telinganya. Kericuhan itu baru berhenti begitu Bu Rita, guru matematika masuk. ”Kalian berniat membunuhku, ya?” keluh Riska, ketika Dani dan Indra menjemput di kelasnya begitu bel pulang berbunyi. Dia bisa merasakan punggungnya panas karena

tatapan tajam teman-temannya. ”Hah?” Dani mengernyit.

”Lupakan,” Riska menggeleng. ”Ke mana kita?” ”Ruang musik.”

Mereka mengarah ke gedung utara. Di ujung gedung itu, di dekat tangga terdapat satu ruangan besar dengan berbagai macam alat masuk dari yang tradisional sampai kontemporer. Dari ukulele, banjo, grand piano sampai drum tersedia di sana. Pak Yunus sedang memainkan Mozart’s Twinkle Twinkle Little Star saat mereka bertiga datang.

”Kalian sudah datang,” Pak Yunus menghentikan permainan pianonya.

”Ada apa, Pak?” tanya Dani.

Pak Yunus beranjak dari kursinya.

”Aku mendapat informasi bahwa si track finder sudah mencium keberadaan kita,” kata Pak Yunus sambil menatap koleksi flute di lemari kaca.

”HAAAAAAHHH?” teriak Dani dan Riska berbarengan. ”Kita harus meningkatkan kewaspadaan,” Pak Yunus menatap mereka. ”Kita masih tidak tahu apa sebenarnya yang diinginkan penculik ini tapi ada baiknya kita berhati-hati, walaupun sepertinya tidak mungkin kita bisa bersembunyi

tanpa diketahui track finder.”

Riska dan Dani terdiam, mereka tampak shock. Hanya Indra yang tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

Pak Yunus berjalan lagi ke deretan biola dan mengambil yang terkecil yang terletak di ujung lemari. Dia mengambil biola paling baru di situ yang bentuknya kecil. Biola hibahan violis internasional. Pak Yunus menggeseknya lalu memainkan Bengawan Solo karya Gesang.

”Cepat sekali,” kata Indra tiba-tiba. ”Apa maksudmu?” Pak Yunus menurunkan penggesek biolanya.

”Saya merasa semuanya terlalu cepat,” kata Indra, tatapan matanya dingin. ”Dimulai sejak kedatangan Bapak, penjelasan tentang kaum touché, lalu tiba-tiba penculikan ini. Semua itu berlangsung dalam waktu kurang dari satu bulan. Rasanya seperti...”

Indra menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap lurus Pak Yunus. ”Sudah direncanakan sebelumnya.”

Pak Yunus membalas tatapannya. Baik Dani maupun Riska tak ada yang berani bersuara. Tapi kemudian Pak Yunus tersenyum.

”Ini kesalahanku,” katanya. ”Seharusnya aku datang lebih awal untuk memperingatkan kalian. Kedatanganku ini memang bisa dikatakan terlambat sehingga semuanya tampak datang bertubi-tubi. If you look at the big picture, semuanya tidak berlangsung sesingkat itu. Apa yang terjadi tidak bisa dihitung sejak aku datang ke Indonesia tapi sejak kalian memiliki kemampuan itu.”

Indra terdiam.

”Lagi pula, bukan hanya kalian yang dalam bahaya di sini,” Pak Yunus menatap mereka bergantian. ”Aku juga.”

Setelah hening sejenak, Dani membuka suara.

”Apa yang terjadi dengan touché-touché yang diculik itu?” tanyanya. ”Apakah mereka selamat?”

”Aku tidak tahu,” aku Pak Yunus. ”Karena tidak ada kabar dari mereka setelah itu.”

”Berarti dibunuh?” muka Riska memucat.

”Belum tentu juga,” Pak Yunus mencoba menenangkan. ”Lagi pula aku juga tidak yakin touché yang di Surabaya ini akan dibawa ke luar negeri. Sekarang ini agak sulit keluarmasuk suatu negara. Jadi mungkin dia akan dibawa ke suatu tempat di dalam negara ini.”

”Jadi menurut Bapak, touché itu masih berada di Indonesia?” tanya Dani, dia mulai antusias.

Pak Yunus mengangguk. ”Bahkan aku menduga dia masih di Pulau Jawa.”

”Dari mana Bapak tahu?” Dani mengerutkan kening. ”Surat itu,” jelas Pak Yunus. ”Kalian pasti masih ingat

bagaimana bunyi puisi itu: You only have to look behind you, at who’s underlined you. Destroy everything you touch today, destroy me this way.”

”Ada apa dengan puisi itu?” tanya Riska bingung.

”Sejak awal aku tahu tentang surat itu, aku sudah menduga ini bukan penculikan biasa,” kata Pak Yunus sambil mendentingkan satu dua nada di piano. ”Dia memberikan petunjuk dalam puisi itu. Petunjuk tempat mereka menculik para touché.”

”Kenapa mereka harus memberikan petunjuk setelah susah payah menculik?” tanya Dani tak mengerti.

”Apa kau tak mengerti? Surat itu adalah tantangan untuk kita,” jawab Pak Yunus. ”Mereka ingin adu kepandaian dengan kita.”

”Lalu kenapa Bapak tidak bisa menyelamatkan para touché yang diculik di luar negeri itu?” tanya Indra dingin. ”Bukankah Bapak sudah berhasil memecahkan kodenya?”

Raut muka Pak Yunus berubah tegang.

”Aku terlambat,” katanya dengan suara tertahan. ”Ketika akhirnya polisi tiba di tempat itu, sudah tidak ada siapasiapa di sana. Tapi ada beberapa tanda bahwa tempat itu pernah ditinggali dan ada petunjuk berupa barang-barang kaum touché yang diculik. Jadi mungkin mereka memberi batas waktu, hanya waktunya sampai kapan aku tidak tahu atau lebih tepatnya belum tahu. Mungkin dalam dua baris puisi itu ada lebih banyak petunjuk.”

”Berarti,” gumam Riska. ”Kita harus cepat-cepat menyelamatkan touché yang baru saja diculik itu, sebelum terlambat...”

Pak Yunus mendentingkan piano lagi. ”Atau sebelum ada korban lagi.”

Mereka terdiam lagi. Pertemuan kali ini membuat mereka lebih sering terdiam karena banyaknya berita yang mengejutkan. Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan mereka alami.

”Lalu bagaimana Bapak memecahkan kode itu?” tanya Indra. Di antara mereka bertiga, mungkin memang hanya Indra yang tidak membiarkan emosinya mengambil alih hingga tetap berkepala dingin.

Pak Yunus mengangguk tapi saat hendak menjelaskan, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Setelah menjawab telepon itu, dia meminta maaf karena harus mengakhiri pertemuan itu karena ada sedikit masalah di perusahaan ayahnya.

”Aku akan jelaskan besok,” kata Pak Yunus.

Sebelum pergi, dia menatap Indra dan tersenyum. ”Kata kuncinya ceci n’est pas une pipe.” 
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊