menu

Touché Alchemist Epilog

Mode Malam
Epilog
”POKOKNYA  TIDAK  KUIZINKAN!”  Teriakan  Sam

menggelegar  sehingga  seluruh  polisi  di  ruangan  itu

menoleh kepadanya.

”Halo? Halo? Hiro!” Setelah sadar teleponnya sudah ditutup, Sam membanting gagangnya ke tempat semula.

”Ada apa?” tanya Matt yang sedari tadi memperhati­ kan Sam. ”Bukankah tadi kau bertanya pada Hiro, bagaimana dia bisa tahu William menculik Karen di Hell’s Kitchen? Lalu apa jawabannya?”

”Dia bilang, ini masih tentang diagram bintang,” dengus Sam. Wajahnya kesal. ”Jika kita menggambar bintang, titik akhir gambar bintang sama dengan titik mulanya. Jadi ketika bom diletakkan di East Village, gambar bintang belum selesai. Gambar tersebut baru selesai setelah bom kembali diledakkan di Theater District, tempat bom pertama diletakkan. William mengatakan, dia akan membakar Karen dengan api yang paling panas dari yang terpanas. Dapur adalah tempat paling panas di rumah karena tempat memasak. Sedangkan api yang paling panas pastilah api neraka, maka api yang superpanas pastilah api yang terletak di dapur neraka. Hell’s Kitchen. Begitu penjelasan Hiro.”

Matt manggut­manggut. ”Lalu kenapa kau marah­

marah?”

”Karena kebodohanku.” Sam menghela napas. ”Karena putus asa saat menyelesaikan kasus ini, aku memberinya janji akan mengabulkan apa pun permintaannya jika dia bisa memecahkan kasus ini.”

”Lalu?”

”Dia menagih janjinya,” geram Sam.

Matt mengerutkan kening. ”Memangnya apa permin­

taannya hingga membuatmu semarah itu?”

”DIA  INGIN  BERKENCAN  DENGAN PUTRIKU!”

Sam   menggebrak   meja.   ”DIA   BAHKAN   TIDAK PERNAH MENUNJUKKAN TANDA-TANDA SEBELUMNYA BAHWA DIA SUKA PADA KAREN!”

”Tidak pernah menunjukkan? Apa maksudmu?” Matt langsung terbahak­bahak mendengar protes part­ nernya itu. ”Hiro selalu meminta Karen yang menjemputnya dan tidak mau yang lain, memangnya kau pikir apa sebabnya? Lalu Hiro yang cuek dan tak mau repot selalu mau diganggu Karen dengan ditanya-tanyai untuk dibuat tulisan, kau pikir karena iseng? Dan terakhir saat Karen diculik, kau tahu sendiri dia seper ti kesetanan, padahal biasanya tenang. Pada Karen, Hiro cuma mulutnya yang tajam.”

Sam terdiam beberapa saat memikirkan kata-kata Matt. ”POKOKNYA AKU TAK AKAN MENGIZIN­ KANNYA!”

*  * *

Hiro menutup telepon, mendengus kesal. Dia masuk kembali ke restoran tempat dia makan siang dan mendekati mejanya.

”Kau menelepon Ayah?” tanya Karen sambil menyeruput teh. Hiro mengangguk sambil memasukkan sesuap spageti ke mulutnya.

”Tidak biasanya kau sampai harus keluar hanya untuk menelepon Ayah.” Karen menatap Hiro dengan curiga. ”Memangnya apa yang kalian bicarakan?”

”Bisnis,” jawab Hiro singkat.

Karen memutar bola mata. Jawaban singkat Hiro merupakan tanda dia tidak ingin ditanya-tanya lagi masalah itu. Dia hafal sifat Hiro.

Setelah itu mereka hanya membicarakan kasus pengeboman yang didalangi William hingga selesai makan. Hiro meninggalkan beberapa dolar di meja dan meninggalkan restoran bareng Karen.

”Hiro, aku ingin tahu,” kata Karen mencoba menjejeri langkah Hiro. ”Saat itu kau bilang, kau sebenarnya ingin pergi dan menyelamatkan diri, tapi tidak bisa melakukannya karena tidak suka ketidakpastian. Memangnya apanya yang tidak pasti?”

Hiro menatap Karen.

”Ada apa?” tanya Karen bingung.

Hiro terdiam, menggaruk-garuk rambutnya yang memang acak-acakan seperti biasa, lalu menjawab, ”Karena jika aku pergi dan membiarkanmu mati, aku tidak tahu bagaimana hidupku setelah itu. Hidup tanpa dirimu adalah ketidakpastian, aku tidak tahu bagaimana menjalaninya.” 

T A M A T
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊