menu

Touché Alchemist Bab 13

Mode Malam
Bab 13
HIRO turun dari taksi di Hell’s Kitchen yang terletak di Theater District. Dia memandangi gedung-gedung

itu dengan putus asa. Dia tak tahu di gedung mana Karen disekap.

Tidak lama kemudian mobil mewah buatan Italia berhenti di dekat tempat Hiro berdiri. Pria berwajah setengah Asia dan berkacamata keluar dari mobil itu, menghampiri Hiro. ”Kau menyuruhku menemuimu, tapi tidak mengatakan tempatnya.” Yunus menghela napas.

”Aku tahu kau bisa menemukanku,” jawab Hiro. Yunus mendengus, tapi tersenyum. ”Jadi, apa yang bisa kubantu?”

”Kau tahu gadis yang selalu bersamaku?” Yunus mengangguk. ”Karen? Kenapa dia?”

”Aku ingin kau menemukannya di antara gedunggedung ini.”

”Kenapa?” tanya Yunus tak mengerti. ”Memangnya apa yang terjadi?”

”Dia diculik karena kesalahanku,” kata Hiro lirih. ”Aku harus menemukannya karena yakin nyawanya dalam bahaya.”

Yunus menatap mata Hiro, lalu mengangguk. ”Aku mengerti.” Dia memberi isyarat pada sopirnya untuk mengambil peta New York dari jok belakang. Setelah menerimanya, Yunus menggelar peta itu di jalan untuk menemukan letak Hell’s Kitchen, lalu mulai menyentuhnya.

”Bagaimana?” tanya Hiro tak sabar.

”Sssssst...” Yunus memejamkan mata. ”Menemukan orang biasa lebih sulit daripada menemukan kaum kita.”

”Apa maksudmu dengan kaum kita?”

Mata Yunus terbuka. ”Aku akan menjelaskannya padamu, tapi nanti, karena saat ini kita harus menemukan temanmu. Aku sudah menemukannya.”

Yunus berlari melewati bangunan-bangunan di antara gang-gang di Hell’s Kitchen, diikuti Hiro.

Mereka sampai di gedung tak terpakai di ujung gang. Gedung itu bobrok dan berlumut.

”Di sini,” kata Yunus.

Hiro mengambil ponsel, mencoba menghubungi Sam, tapi tak ada sinyal sama sekali di tempat itu. ”Sial!” gerutu Hiro.

Yunus membuka pintu gedung yang sudah berkarat dan melangkah waspada ke dalamnya. Gedung itu sepertinya sudah bertahun-tahun tak terpakai karena debu dan sarang laba-laba menyelimutinya di mana-mana.

”Karen!” teriak Hiro yang berjalan di belakang Yunus.

Tiba-tiba terdengar suara erangan dari lantai dua setelah Hiro berteriak. Yunus dan Hiro berlari menaiki tangga, menuju sumber suara.

Di tengah-tengah ruangan di lantai dua itu, Hiro melihat Karen yang mulutnya ditutup lakban,  diikat di kursi dengan bom yang menempel di perutnya dengan timer yang menunjukkan waktu tinggal setengah jam lagi. Hiro membuka lakban di mulut Karen.

”Hiro ,” isak Karen. Dia lega akhirnya Hiro datang

menolongnya.

”Kita harus menghubungi Sam,” kata Hiro melihat waktu yang semakin berkurang di timer. ”Tapi sayangnya di daerah ini tak ada sinyal.”

”Berikan ponselmu, biar aku yang meneleponnya,” Yunus menyodorkan tangan. ”Aku akan ke luar gedung ini secepatnya dan mencari lokasi yang terjangkau sinyal. Kautemani Karen.”

Hiro menyerahkan ponsel ke Yunus yang langsung berlari menuruni tangga dan keluar dari gedung.

Sekarang tinggal Karen dan Hiro yang ada di dalam gedung itu dengan bom yang semakin mendekati waktu meledak. Hiro duduk di lantai di depan Karen, hanya diam menatap gadis itu. Baru dia sadar, ini pertama kalinya dia merasa khawatir atas keselamatan orang lain. Hiro yang biasanya tak peduli dan tenang, bisa sampai sepanik itu.

”Apa kau tidak bisa menjinakkannya?” tanya Karen masih terisak.

Hiro menggeleng.

”Bukankah kau tinggal memotong kabel merah atau kabel biru?” ”Kau terlalu banyak nonton film,” jawab Hiro. ”Jika memang semudah itu, buat apa polisi punya tim penjinak bom?”

Karen menangis lagi.

”Bagaimana kau bisa diculik?” tanya Hiro.

”Saat aku ke asramamu untuk mengambil baju,” jawab Karen terbata-bata. ”Di depan kamarmu tahutahu ada yang membekapku. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.”

Hiro mengangguk­angguk. ”Maafkan aku,” katanya

kemudian. ”Ini salahku.”

Tangis Karen menjadi keras. ”Kita pasti akan mati,” isaknya beberapa saat kemudian. ”Kau tiba-tiba minta maaf, berarti sebentar lagi kita pasti benar-benar mati. Tuhan sudah memberi pertanda.”

”Kau ini…,” desah Hiro.

Tak terasa sepuluh menit telah berlalu dan Yunus maupun tim penjinak bom masih belum datang juga. ”Aku punya kekuatan aneh,” kata Hiro memecah kebekuan. ”Aku bisa mengetahui identitas kimia apa pun dari benda yang kusentuh. Itu sebabnya aku bisa mengetahui banyak hal ketika terjadi kasus hanya dengan menyentuhnya. Bahkan jika menyentuh lebih lama, aku bisa tahu komposisi DNA yang ada di benda itu. Seperti misalnya…”

”Tidak! Tidak! Aku tak mau dengar!” jerit Karen. ”Kau kenapa?” tanya Hiro, bingung bercampur ke-

sal.

”Kau pernah bilang bahwa kau baru akan menjelaskan kemampuan anehmu itu kalau kau akan mati,” kata Karen serak. ”Berarti kau merasa kita  akan  mati.”

Hiro tak mengatakan apa-apa.

”Kenapa kau tidak pergi saja?” tanya Karen. ”Kalau tidak bisa menjinakkan bom ini, setidaknya kau bisa menyelamatkan diri. Kau tak perlu mati bersamaku di sini, Hiro. Pergi saja.”

Hiro terdiam beberapa saat, lalu menatap lurus ke mata Karen. ”Aku tidak mau mati bersamamu di  sini,” katanya. ”Aku juga berpikir untuk pergi  dari sini dan menyelamatkan diri. Tapi… tapi aku tidak bisa melakukannya.”

”Kenapa?” tanya Karen bingung. Hiro termenung.

”Karena aku tidak suka ketidakpastian.”

Ketika timer menunjukkan waktu tinggal lima belas menit lagi, terdengar teriakan dari bawah. ”KAREEEEEEN! KAU DI ATAS?”

Hiro bangkit berdiri, lalu membalas teriakan itu. ”Dia baik-baik saja, Sammy!”

Sam naik diikuti tim penjinak bom dan Yunus. Jantungnya hampir berhenti berdetak melihat putrinya diikat di kursi dengan bom waktu menempel di perut.

Dengan sangat berhati-hati, tim penjinak bom berusaha melepaskan bom itu dari tubuh Karen. Tak ada suara yang terdengar. Sepertinya semua orang di ruangan itu berhenti bernapas saking tegangnya. Embusan napas panjang terdengar berbarengan saat tim penjinak bom berhasil melepaskan bom dari tubuh Karen dan dengan hati-hati membawanya ke luar gedung untuk diledakkan.

Karen memeluk erat ayahnya sambil menangis keras-keras. Sam mencium kening Karen dan mengucapkan syukur berkali-kali.

Hiro yang melihat adegan itu hanya tersenyum lega. Ibunya benar, dia sekarang mengerti perasaan ayahnya.

*  * * ”Terima kasih,” kata Hiro pada Yunus yang baru selesai diambil kesaksiannya di kantor polisi atas penculikan Karen.

”Bukan masalah,” Yunus tersenyum.

”Sebenarnya bagaimana cara kerja kekuatan kita?” tanya Hiro.

Yunus melihat sekeliling, lalu memberi isyarat pada Hiro untuk mengikutinya ke luar kantor. Hiro menuruti dan berjalan di belakangnya.

”Kekuatan kaum kita bekerja lewat sentuhan,” jawab Yunus setelah mereka berada di luar.

”Kaum kita?” Hiro mengerutkan kening.

”Touché,” kata Yunus. ”Itu nama kaum kita, atau setidaknya itu nama yang diberikan Casanova.”

”Touché? Itu bahasa Prancis, ya? Artinya ’menyentuh’, kan?”

Yunus mengangguk.

”Dan Casanova seorang touché?” ulang Hiro. ”Coba kutebak, dia pasti pembaca pikiran. Bisa menaklukkan begitu banyak wanita pasti karena tahu pasti isi pikiran mereka.”

”Kau memang genius,” desah Yunus, lalu membetulkan letak kacamatanya.

”Touché bekerja melalui sentuhan,” Yunus mulai menjelaskan. ”Dan cara kerja kaum touché pada umumnya adalah menyerap apa yang disentuh. Ada yang bisa menyerap buku, menyerap data digital, atau seper ti kau yang menyerap identitas kimia dari benda yang kausentuh.”

”Bagaimana kau tahu tentang kekuatanku?” tanya Hiro.

Yunus tersenyum. ”Aku mungkin tidak segenius kau, tapi aku tidak bodoh. Aku hanya menghubunghubungkan keping puzzle yang ada.”

”Lalu kau sendiri? Apa kekuatanmu?”

Yunus mengangkat telapak tangan kanan. ”Aku bisa menemukan siapa pun hanya dengan menyentuh peta.”

”Menemukan sesama kaum touché lebih mudah daripada menemukan orang biasa,” lanjut Yunus. ”Karena ketika aku menyentuh peta, kaum touché punya ’warna’ yang berbeda, sedangkan orang biasa tidak. Itu sebabnya jika harus menemukan orang biasa, aku harus tahu wajahnya dulu. Untung saja saat kau minta bantuanku untuk menemukan Karen, aku pernah melihat wajahnya.”

”Tunggu!” Hiro tampak berpikir keras. ”Kau bilang cara kerja kekuatan kita itu menyerap, tapi kenapa kekuatanmu berbeda? Apa yang kauserap?”

”Aku bilang ’pada umumnya’,” ralat Yunus. ”Jadi pasti ada pengecualian. Dalam hal ini aku. Aku pencari jejak.”

Hiro termenung sejenak.

”Berapa banyak orang yang memiliki kekuatan seperti kita?” tanya Hiro. ”Dan berapa banyak yang sudah kautemui?”

”Cukup banyak,” jawab Yunus. ”Kuperkirakan, dari seratus ribu ada satu orang yang merupakan kaum touché. Aku menemui beberapa dari mereka, yang bisa menyerap data digital, menyerap tulisan, menyerap ingatan mesin, membaca perasaan, bahkan membaca pikiran.”

”Dan menyerap identitas kimia,” tambah Hiro merujuk pada dirinya sendiri. ”Lalu apa yang akan kaulakukan setelah menemukan kami semua?”

Yunus  tersenyum, lalu mengangkat bahu.

”Kau ingin membentuk organisasi kaum touché semacam the Avengers?”

Yunus tertawa. ”Akan kupikirkan.”

”Hiro, kau bilang bahwa kau ingin berbicara dengan William sebelum dia kami bawa ke penjara,” Thomas tiba-tiba datang dan memotong pembicaraan mere ka.

”Aku segera ke sana,” kata Hiro, lalu kembali menoleh pada Yunus sembari menyodorkan tangan. ”Senang bertemu denganmu.”

”Aku juga.” Yunus menjabat tangan Hiro erat. ”Setelah ini kau akan ke mana?”

”Aku punya rencana untuk kembali ke Indonesia,” jawab Yunus.

Hiro mengangguk. ”Semoga kita masih bisa bertemu lagi.”

”Jangan kuatir.” Yunus tersenyum. ”Aku akan selalu bisa menemukanmu.”

*  * *

Hiro menatap tajam William yang duduk di depannya. William membalas dengan tatapan tak kalah menusuk. Tak ada satu pun dari mereka yang bicara.

”Kau pasti senang bisa mengalahkanku,” kata William akhirnya dengan sinis.

”Tidak,” jawab Hiro. ”Aku tidak senang mengalahkan orang yang levelnya di bawahku. Seperti yang kubilang, levelmu stratosfer dan aku ionosfer.” ”Lalu untuk apa kau ke sini?” dengus  William. ”Aku hanya ingin melihat,” Hiro tersenyum meren-

dahkan, ”orang bodoh mana yang menghabiskan energi, waktu, dan pikirannya hanya untuk membuktikan bahwa dia pintar, padahal pada akhirnya ternyata dia tidak sepintar yang dia kira.”

”Sialan!” William bangkit dari kursi, tapi tertahan karena kedua tangannya diborgol ke meja.

”Seharusnya kau sadar saat Profesor Martin lebih memilihku daripada kau.” Hiro menghela napas. ”Saat itulah dia memberitahumu bahwa aku lebih pintar daripada kau. Tak perlu berusaha membuktikan sebaliknya. Sampai membunuh orang segala.”

Wajah William merah padam.

Hiro berdiri, sekali lagi memandang William. Mungkin untuk terakhir kalinya. Kemudian dia beranjak mendekati pintu sambil berkata, ”Sejak awal aku tidak pernah berminat dengan permainan yang kaubuat. Kau yang membuat permainan ini. Kau yang menyebabkan banyak orang mati. Orang-orang itu mati dan terluka karena kesalahanmu, bukan kesalahanku.”  
Bagikan Novel ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊